Nyadran, Warisan Budaya Leluhur Tengger di Jetak, Sukapura, Probolinggo. Foto: Happy LT/TIMES Indonesia.
Suku Tengger di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kaya akan budaya turun temurun. Salah satunya, adalah nyadran yang digelar setiap tahun, ketika hari raya Karo.
Nyadran sendiri, merupakan kegiatan mengunjungi makam kerabat maupun sanak saudara yang sudah meninggal. Atau dalam muslim, lazim disebut ziarah kubur. Ada beberapa rangkaian dalam Nyadran suku Tengger ini. Mulai dari doa bersama di punden, lalu berkumpul di tengah desa.
Sabtu (1/9/2018), TIMES Indonesia berkesempatan mengikuti tradisi nyadran di Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Dalam nyadran ini, seluruh warga desa bersama-sama pergi ke kuburan. Cara mengumpulkannya pun cukup unik.
Yakni dengan menggunakan musik dari seruling dan gendang yang ditabuh pengiring dukun pandita. Begitu seluruh warga berkumpul, rombongan langsung menuju pemakaman desa. Seluruh elemen masyarakat, mulai dari tua hingga muda, turut serta dalam tradisi Nyadran ini.
Salah satu gadis desa setempat, Lilia Widyani Putri (23) mengatakan, tradisi ini merupakan salah satu kekayaan budaya dan kebanggan warga Tengger. “Harus terus dijaga kelestariannya sehingga bisa terus dinikmati oleh anak cucu kita kelak,” katanya, Sabtu sore.
Di dalam pemakaman, seluruh warga menggelar doa bersama dan meletakkan sesaji untuk para leluhur dan kerabat yang telah meninggal dunia. Setelah itu, seluruh warga kemudian berputar ke seluruh makam. Untuk berdoa dan memberikan sesaji serta penghormatan.
Terkait tradisi nyadran dari suku Tengger ini, Camat Sukapura, Yulius Christian menyatakan, pihaknya akan memfasilitasi setiap kebudayaan yang ada. Agar bisa terus eksis dan dilestarikan. (ist)
Workshop Seni Tradisi tahun 2018 dengan tema “Seni Arak-Arakan Jawa Timur” di Sumenep. Foto: Istimewa.com.
Menyongsong kegiatan Jatim Specta Night Carnival yang akan dilaksanakan 20 Oktober 2018 mendatang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur menggelar Workshop Seni Tradisi 2018 bertema “Seni Arak-Arakan Jawa Timur” di Sumenep selama dua hari.
“Kemarin, selama dua hari kami menggelar workshop Seni Arak-Arakan Jawa Timur di Sumenep,” kata Kepala Seksi Pengembangan Kelembagaan Budaya Disbudpar Jatim, Pramuka Atmaji di Surabaya, Rabu (5/9), seperti dilaporkan Jatimnews Room.
Dikatakannya, acara ini dimaksudkan agar karnaval yang akan diselenggarakan di Sumenep dapat terlaksana dengan baik sesuai konsep penyelenggaraannya.
Sebagaimana diketahui, karnaval telah dilaksanakan untuk kali keempat ini berlangsung malam hari sehingga dibutuhkan kiat khusus bagi peserta agar dapat tampil maksimal.
Sebanyak 4 (empat) narasumber dihadirkan dalam workshop kali ini untuk memberikan wawasan tentang Seni Arak-Arakan Jawa Timur.
Materi yang disampaikan narasumber yaitu “Penataan Arak-arakan (Teknik Penyajian) oleh Heri Lentho Prasetyo; “Penataan Artistik” dengan narasumber Nanang Moechsinin alias Nanang Gabus.
Materi ketiga “Desain Tata Rias dan Busana” oleh Subari Sofyan, dan materi keempat adalah “Estetika Keraton/kadipaten dalam Perspektif Kesejarahan Jawa Timur” dengan narasumber sejarawan Adrian Perkasa. (jnr)
Warga Tawun, Kasreman, Kabupaten menggelar tradisi Keduk Beji. Foto: Antaranews.com.
Warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menggelar tradisi atau upacara adat Keduk Beji di Taman Wisata Tawun guna melestarikan budaya daerah setempat.
“Upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon berdasarkan penghitungan tanggal Jawa Islam. Tujuannya adalah untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu,” ujar sesepuh Desa Tawun yang juga selaku Juru Silep, Mbah Wo Supomo, kepada wartawan, pekan lalu.
Menurut Mbah Pomo, panggilan akrab Mbah Wo Supomo, inti dari upacara Keduk Beji adalah penyilepan dan penggantian kendi yang disimpan di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut ada di dalam gua yang terdapat di dalam sumber.
“Setiap tahunnya, kendi di dalam sumber air Beji diganti melalui upacara ini. Hal itu dimaksudkan agar sumber air Beji tetap bersih,” kata dia, seperti dikutip Antaranews.com.
Adapun, sumber air Beji yang berada di Taman Wisata Tawun merupakan sumber air yang sangat penting bagi warga sekitar. Air dari sumber itu digunakan untuk minum, pengairan sawah, dan sumber air di taman Tawun sendiri.
Karena itu, kebersihan sumbernya harus terus dijaga agar tidak mati. Terlebih saat musim kemarau seperti ini, keberlangsungan air di sumber Beji sangatlah penting.
Adapun, upacara Keduk Beji dimulai dengan melakukan pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh warga Desa Tawun yang berjenis kelamin laki-laki, baik tua, muda, maupun anak-anak turun ke sumber air untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.
Selama proses pembersihan, para kaum laki-laki yang berada di sumber air Beji menari dan melakukan tradisi saling pukul dengan ranting sambil diiringi tabuhan gendang.
Setelah itu, upacara dilanjutkan dengan penyilepan dan penggantian kendi di dalam pusat sumber. Yang berhak menyelam dan mengganti kendi di sumber air adalah keturunan dari Eyang Ludro Joyo yakni tokoh sesepuh desa yang dulunya dipercaya jasadnya menghilang di sumber Beji saat bertapa.
Upacara dilanjutkan dengan penyiraman air legen ke dalam sumber Beji, dan penyeberangan sesaji dari arah timur ke barat sumber. Kemudian, ditutup dengan selamatan dan makan bersama berkat dari Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon yang telah disediakan bagi warga untuk mendapatkan berkah.
Bupati Ngawi Budi Sulistyono mengatakan, selain melestarikan sumber air, upacara Keduk Beji juga merupakan ikon wisata budaya Pemkab Ngawi.
“Keduk Beji telah menjadi salah satu budaya yang khas di Ngawi. Selain itu, agenda Keduk Beji sudah menjadi identitas daerah Ngawi. Kewajiban kita untuk melestarikanya,” kata Bupati Ngawi Budi.
Sementara, setiap tradisi itu digelar, ribuan wisatawan selalu berkunjung ke Taman Tawun, Ngawi, tempat dimana upacara tersebut dilakukan. Mereka berasal dari wilayah Ngawi, Madiun, Magetan dan daerah sekitarnya. (ant)
Delegasi Yayasan Karya Cipta Indonesia di Tiongkok. Foto: Kemlu.go.id.
Mei Li De Suo Luo He, Wo Wei Ni Ge Chang! (Bengawan Solo, riwayatmu ini). Sepenggal lagu Bengawan Solo versi Mandarin itu didendangkan dengan penuh penghayatan oleh Wakil Sekjen Asosiasi Musisi Tiongkok dan pencipta lagu ternama, Xiong Wei, dihadapan delegasi Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) yang berkunjung ke kantor Asosiasi tersebut di Beijing, pekan lalu.
Delegasi Indonesia dipimpin Dharma Oratmangun selaku Ketua Umum Yayasan KCI dan didampingi Tedjo Baskoro (Sekretaris Jenderal), Christiena Sopacua (General Manager), Bagus Novantri Baskhoro (Divisi Digital) beserta perwakilan dari KBRI Beijing.
Hadir dalam pertemuan adalah Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Musisi Tiongkok Wang Jianguo dan Xiong Wei yang didampingi oleh Wakil Direktur bidang Pelayanan Hak Cipta, Federasi Seni dan literatur Tiongkok, Li Yulong beserta perwakilan Divisi Kerja Sama Luar Negeri Asosiasi Musisi Tiongkok, Cheng Guichao dan Liu Tianyu.
Sebagai Lembaga Manajemen Kolektif di bidang Karya Cipta Musik, Yayasan KCI menggalang kerja sama dengan lembaga terkait di Tiongkok dalam bidang proteksi karya cipta, baik untuk lagu Indonesia di Tiongkok maupun lagu Tiongkok di Indonesia.
“Indonesia dan Tiongkok adalah dua negara besar yang bersahabat. Persahabatan itu akan semakin kuat jika people-to-people contact antara kedua negara dapat terjalin erat,” ungkap Dharma Oratmangun, dikutip RRI.co.id.
Dari pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan bersahabat, kedua delegasi memperoleh banyak ide kerja sama antara lain pertukaran lagu, penerjemahan lagu-lagu Indonesia ke dalam Bahasa Mandarin dan sebaliknya, serta festival musik.
Saat ini, Yayasan KCI telah mempersiapkan sekitar 50 buah lagu yang siap diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, untuk dipilih sesuai dengan selera penikmat musik Tiongkok.
Keakraban yang terjalin bahkan menjadi inspirasi bagi Dharma Oratmangun untuk menciptakan sebuah lagu bersama Xiong Wei berjudul Xin Yu Xin (dari hati ke hati). Lagu ini akan menjadi simbol persahabatan yang erat bagi masyarakat kedua negara.
Musik adalah bahasa universal yang tak mengenal batasan negara maupun bahasa. Kerja sama yang terjalin erat antar para seniman Indonesia dan Tiongkok adalah wujud nyata diplomasi Indonesia yang dilakukan oleh masyarakat.
Kerja sama ini juga menjadi salah satu elemen penting penguatan people-to-people contact yang mendorong terjalinnya saling pemahaman dan memperkokoh persahabatan antar masyarakat kedua negara. (ist)
Belasan tarian daerah Indonesia saat pembukaan Asian Games 2018. Foto: Asiangames2018.id.
Pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno menjadi ajang memperlihatkan kekayaan budaya Nusantara. Salah satunya saat segmen Earth. Di segmen ini 19 tarian dari Sabang hingga Merauke ditampilkan secara menakjubkan.
Kolaborasi besar ini mampu menarik perhatian saat #OpeningCeremonyAsianGames2018. Koreografer segmen ini telah diakui kehebatannya di kancah dunia. Namanya Eko Supriyanto. Namun ia lebih akrab disapa Eko Pece.
Keindahan koreografi Eko ini sudah dirasakan sejumlah diva papan atas dunia. Salah satunya Madonna. Eko bukan hanya menjadi koreografer buat show Madonna. Tetapi juga menjadi dancer-nya.
Lewat tangan dingin pria asal Solo ini, pembukaan Asian Games 2018 menjadi sangat berwarna. #PesonaAsianGames2018 menjadi tidak terbantahkan.
Tarian yang saat segmen Earth pun sangat merata. Dari Sumatera, ada Sipitu Cawan, Gending Sriwijaya, Tari Piring, Zapin, dan Tarian Transisi Bunga.
Sebagai wakil Pulau Jawa, Eko memilih mementaskan Lenong Betawi, Jaipongan, Sisingaan, Tarian Padang Bulan, dan Tari Gandrung Lanang Banyuwangi yang di-support langsung Bupati.
Tari Janger terpilih mewakili Bali. Kemudian, ada Tari Belian Bawo Katim, Tari Enggang, Tari Hudog. Dari Sulawesi, hadir Tari Maengket Modero Sulut dan Tari Kabasaran.
Sedangkan Tari Soya Soya menjadi wakil Maluku Utara. Aksi Tari Likurai Belu mewakili NTT, dan Tari Yospan memperlihatkan kekayaan Papua.
Total, Eko Supriyanto menyertakan 467 penari dalam segmen ini. Sedangkan kostum, dipercayakan kepada Rinaldi Yunardi.
Pujian datang dari Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurutnya kekayaan Indonesia disajikan secara utuh.
“Selurun kontingen dan wisatawan yang menyaksikan pembukaan Asian Games, baik langsung di stadion maupun dari layar kaca, bisa melihat kekayaan budaya Indonesia,” paparnya seperti dilansir Tribunnews.com.
Menurutnya, konsep yang disajikan saat pembukaan pun sangat dahsyat. “Bukan hanya culture yang disajikan, nature pun diperlihatkan. Gambaran gunung dan air terjun sangat luar biasa,” katanya.
Asal tahu saja, gunung yang ditampilkan di Stadion Gelora Bung Karno memiliki lebar 130m dan tinggi 27m. Gunung ini dikerjakan oleh 350 orang asli Indonesia. Utamanya oleh Urang Bandung.
Sedangkan air terjun yang menghiasi gunung, memiliki tinggi 17m dari tanah, dengan lebar 12m. Beban air mencapai 60 ton. Bobotnya setara dengan 140.000 liter air. Jika satu mobil tangki bisa mengangkut 5.000 liter air, berarti 28 mobil tangki hilir mudik ke Stadion GBK untuk mendukung atraksi yang wah tersebut. (ist)
Tarian Ratoh Jaroe saat pembukaan Asian Games 2018. Foto: Asiangames2018.id.
Pembukaan Asian Games 2018 berlangsung gegap gempita. Pujian pun banyak mengalir. Karena konsep yang diusung sangat luar biasa. Apalagi #OpeningCeremonyAsianGames2018 juga menghadirkan banyak budaya Indonesia. Salah satunya Tari Ratoh Jaroe asal Aceh.
Atraksi Tari Ratoh Jaroe ditampilkan secara kolosal. Koreografer tarian ini adalah Denny Malik, mantan dancer dan penyanyi yang pernah bikin heboh dengan lagu Jalan-Jalan Sore (JJS). Kemegahan tarian ini bisa dilihat dari jumlah penari yang dilibatkan. Mencapai 1.600 penari yang terdiri dari siswa SMA se-DKI Jakarta.
Di tangan Denny Malik, penampilan 1.600 dancer ini benar-benar memukau. Berbagai gerakan dan tarian yang disajikan mampu membentuk koreografi indah. Kekompakan para penarinya juga menawan. #PesonaAsianGames2018 memang luar biasa.
Tari Ratoh Jaroe mirip dengan Tari Saman yang lebih dikenal luas. Gerakannya pun serupa. Namun, ada perbedaan mendasar dari kedua tarian asal Aceh ini.
Umumnya Tari Saman dilakukan pria dalam jumlah ganjil. Tarian ini mengkombinasikan tepukan tangan dan tepukan dada. Selain itu, penari Saman dipimpin oleh beberapa penari yang duduk di tengah. Saman adalah tarian yang murni diiringi oleh syair yang dilantunkan para penarinya.
Sedangkan Tari Ratoh Jaroe pada umumnya dilakukan oleh perempuan dalam jumlah genap. Gerakan Tari Ratoh Jaroe tak banyak melibatkan tepukan dada. Selain itu, Tari Ratoh Jaroe dikendalikan oleh dua orang yang duduk di luar formasi penari. Sedangkan Tari Ratoh Jaroe mendapatkan iringan musik eksternal, atau di luar para penarinya.
Terlepas dari hal tersebut, keberhasilan menyajikan Tari Ratoh Jaroe dalam balutan kolosal membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya bangga. Menurutnya, tarian tersebut mempromosikan kekayaan budaya Indonesia.
“Tarian ini sangat luar biasa. Dibawakan dengan sangat indah dan kompak. Dan menjadi cermin kekayaan budaya Indonesia yangan sangat beragam. Tarian Ratoh Jaroe menjadi pembuka yang luar biasa. Apalagi kemudian tarian-tarian lain ikut ditampilkan,” paparnya.
Menurut Menpar, dalam kegiatan akbar seperti ini, Indonesia harus mampu menggerakkan semua sektor. “Termasuk pariwisata. Sebab, inilah saatnya menjual, mempromosikan kekayaan pariwisata Indonesia ke pentas dunia,” paparnya. (sak)
Sidang penetapan WBTB Tahun 2018 di Jakarta. Foto: Wartabromo.com.
Sebanyak 8 (delapan) warisan karya budaya yang berasal dari Jawa Timur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Hal ini diputuskan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2018 yang dilaksanakan di Hotel Millenium Sirih Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya masing-masing provinsi melakukan presentasi dihadapan dan dinilai oleh 15 Tim Ahli berbagai bidang dan 3 Narasumber yang dipimpin langsung oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dr Najamudin Ramli.
Acara yang digelar Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya tersebut diikuti oleh 31 dari 34 provinsi di Indonesia. Dalam keputusan sidang yang dibacakan oleh Ketua Tim Ahli WBTB Indonesia Pudentia MPSS, sebanyak 225 karya budaya berhasil ditetapkan dari 264 karya budaya yang lolos administrasi.
Sedangkan jumlah karya budaya yang diusulkan sebanyak 416 karya budaya.
Hasil penilaian ini setelah melewati tahap seleksi administrasi, rapat penilaian oleh Tim Ahli, kunjungan verifikasi ke daerah-daerah dan pemaparan oleh masing-masing provinsi.
Sedangkan 39 karya budaya yang tidak lolos atau ditangguhkan disebabkan tidak layak secara administrasi dan substansi serta perbaikan yang tidak tepat waktu.
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dalam sambutan penutupannya menyatakan bahwa jumlah penetapan karya budaya pada tahun ini mengalami peningkatan. Dengan hadirnya berbagai elemen dalam sidang penetapan ini menunjukkan bahwa hal ini semakin berwibawa.
“Penetapan ini bukan sekadar membuat daftar tetapi bagaimana tindak lanjutnya itu yang penting. Hasil-hasil penetapan ini akan menjadi dokumen penting untuk merumuskan strategi kebudayaan,” kata Hilmar Farid seperti dilaporkan Brangwetan.com.
Adapun 8 Warisan Budaya Tak Benda asal Jawa Timur tersebut adalah:
– Janger Banyuwangi
– Clurit (Are’) Madura
– Rawon Nguling Probolinggo
– Upacara Adat Manten Kucing Tulungagung
– Reog Cemandi Sidoarjo
– Sandur Bojonegoro – Tuban
– Wayang Thengul Bojonegoro
– Wayang Topeng Jatiduwur Jombang
Selama berlangsungnya sidang penetapan, Provinsi Jawa Timur diwakili Hari Tunariono (Kasi Pelestarian Tradisi Disbudpar Jatim), Sujito (Dinas Parporabud Kab Probolinggo) yang didampingi pemilik Rumah Makan Rawon Nguling, H Rofiq Ali Pribadi.
Juga hadir Kartini (Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab Sidoarjo), Suparno (Disbudpar Kab Jombang) yang mengajak Mochamad Ya’ud (dalang Wayang Topeng Jatiduwur), Susetyo dan Adi Sutarto (Disbudpar Kab Bojonegoro), Choliq Ridho (Disbudpar Kab Banyuwangi), Heru Santoso (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Tulungagung) yang didampingi Ariani (Kepala Bidang Nilai Budaya dan Kesenian Disbudpar) dan narasumber Muhamad Reyhan Florean.
Juga hadir Henri Nurcahyo, pengurus Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur selaku stakeholder Disbudpar Jawa Timur. Disamping itu juga didampingi Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, dimana Jatim, Jateng dan DIY berada dalam wilayah kerjanya.
Pada 10 Oktober mendatang hasil penetapan kali ini akan dikukuhkan di Gedung Kesenian Jakarta secara formal oleh Mendikbud.
Penetapan 8 warisan budaya asal Jatim ini melengkapi daftar WBTB Jatim yang sudah diakui secara nasional sejak 2013, sehingga berjumlah total 36 karya budaya. (ist)
Tari Langen Putri Gandasari di Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta. Foto: Tribunnews.com.
Bismillah. Rahayu; slamet saka kersa neng Allah (Atas nama Allah. Berkah keselamatan sebab kehendak Allah). Membaca karya tari Langen Putri Gandasari, adalah membaca budaya Jawa yang bersifat ’momot’ (serba memuat; mengisi).
Berbagai ornamen budaya yang dipengaruhi tradisi keagamaan ditampilkan secara sakral, dan cukup menarik. Tarian ini tampil sebagai pembuka acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, beberapa waktu lalu.
Seperti dilaporkan Tribunnews.com, Langen Putri Gandasari, seakan menjelaskan teks historik budaya Jawa yang banyak menyerap nilai-nilai Hinduisme-Budhaisme, melalui proses akulturasi dan sinkretisme; penyatuan nilai-nilai agama, yang menjadi falsafah hidup.
Menggambarkan pandangan hidup orang Jawa yang mengarah pada pembentukan kesatuan numinous (suci), antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap kramat.
Dirilisnya putri Raja pewaris takhta Kahuripan, Kerajaan Airlangga, Dewi Kilisuci, dalam cerita ini, sekaligus menggambarkan Raja dan Keraton adalah simbol puncak peradaban pada masa itu.
Sang Dewi digambarkan melakukan ritual dengan mengadakan sesaji agar masyarakat di sekitar lereng gunung Kelud , terhindar dari malapetaka alam. Bersama rakyat beliau mengadakan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Inilah manifestasi agama yang diintegrasikan dalam kepentingan kekuasaan, dengan konsep; raja-dewa (titising dewa).
Rakyat harus tunduk pada raja untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Agama dijadikan alat legitimasi bagi kekuasan (Kerajaan). Era Wali Songo, budaya Nusantara ini kemudian bergeser dan banyak diwarnai nilai-nilai dan budaya ke-Islam-an.
Jadilah repertoar karya tari; Langen Putri Gandasari ini penuh warna. Ada sesaji, anglo tempat membakar dupa, yang dipersembahkan para gadis-gadis cantik yang menjadi wiraga.
Serta mantra yang dilafazkan sosok pria yang membawa ‘Gunungan’ (wayang) sebagai simbol kehidupan. Persembahan ini menggambarkan bersatunya (akulturasi) budaya Islam dan budaya sebelumnya.
Percampuran kebudayaan ini kemudian diserap menjadi pandangan, pemikiran, amalgamasi, falsafah hidup, dan budaya Nusantara.
Simaklah mantra ini, Bismillah; kalawan nyebut asmaning Allah, kang Maha Welas lan Maha Asih (Dengan menyebut nama Allah; yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Siro-lah, zat Allah, sifat Allah, sifat langgeng, langgeng awit kersaneng Allah. (Engkau-lah, zat Allah, sifat Allah, sifat kekal, kekal selamanya dari yang maha berkehendak, yaitu Allah).
Ingsun nenuwun kersaneng Gusti (Kami memohon kerindhaan-Mu ya Allah). Rahayu, slamet saka kersa neng Allah (Berkah keselamatan sebab kehendak Allah).
“Dengan berpondasikan budaya penuh filosofi, estetika dan etika ini, mari kita gunakan sebagai pijakan untuk menciptakan ayem tenteram, Kediri masyhur, gemah ripah loh jinawi,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Patarina SHut menyampaikan sambutan.
Duta Seni Kabupaten Kediri menampilkan 5 repertoar, tiga diantaranya utuh karya tari; Langen Putri Gandasari, Suran Pamenang, dan Gagahan Topeng Panji Alus.
Kemudian disusul satu penampilan dalam bentuk musik dan lagu, Kediri Lagi yang dibawakan secara kolaboratif. Diakhiri dengan penampilan drama tari bertajuk, Panji Asmarantaka Badar.
Tari Langen Putri Gandasari, menggambarkan upacara sesaji sebagai rasa syukur kepada Tuhan. Sementara Tari Suran Pamenang, merupakan ritual arak-arakan yang kerap diadakan pada 1 Suro (bulan Muharram), simbol kemasyhuran Sri Aji Jayabaya dengan anugerah Jangka Jayabaya. Ritual tersebut sebagai upaya reresik diri (menyucikan diri), ngalab berkah (mencari keberkahan), serta sejahtera dalam hidup.
Tari Gagahan Topeng Panji Alus menggambarkan ketangkasan para prajurit Panji dalam bela Negara. Terampil, sigap, cakap, tegas, dan berwibawa, merupakan karakter dari prajurit Panji.
Selanjutnya duta seni Kabupaten Kediri ini menyajikan dramatari Panji Asmarantaka Badar sebagai tema utama pergelaran.
Dikisahkan, ketika kedua bersaudara Galuh Ajeng dan Galuh Candrakirana berebut boneka emas yang berakhir dengan Galuh Candra Kirana diusir dari kerajaan. Candrakirana selanjutnya menyamar menjadi pria.
Menguasai ilmu perang dan beladiri yang tangguh, dengan nama samaran Panji Asmarantaka. Panji Asmarantaka sengaja melakukan kekacauan untuk memancing perhatian.
Namun hal ini dapat diatasi Panji Inukertapati, sehingga berujung terbongkarnya penyamaran Panji Asmarantaka yang sebenarnya adalah Galuh Candrakirana. Galuh Candrakirana akhirnya menikah dengan Panji Inukertapati dan hidup bahagia.
Hadir di acara ini Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Bapenda Provinsi Jatim Samad Widodo SS MM. Juga pengurus Pawarta Jatim dan jajaran pejabat Pemkab Kediri.
Seniman yang terlibat adalah Eko Priatno TSS (Penulis Cerita) Nur Setyani SSn (Sutradara), Rama Panji SSn (Asisten Sutradara), Sugeng SSn (Penata Musik), Agmarila May Rizki (Penata Tari), Sandhi Tyas (Artistik), Dinar Ringgit (Penata Kostum dan Penata Rias), serta puluhan pengrawit, penyanyi dan penari.
Para Juri Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur adalah Suryandoro SSn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Dra Nursilah MSi (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), dan Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII). (ist)
Warga melakukan kenduri masal ritual ruwatan Alas Kandung di Rejotangan, Tulungagung. Foto: Antara Jatim/Destyan Sujarwoko.
Ratusan warga tampak bersuka cita saat mengikuti kenduri masal dan purak (rebutan) tumpeng besar berisi aneka hasil bumi dalam acara ruwatan bumi di tengah hutan lindung (alas) Kandung, Desa Tanen, Kabupaten Tulungagung.
Warga yang sudah lama mengantre langsung bersimpuh saling berhadapan dengan puluhan ambengan makanan (takir) berjajar siap hidang.
Di penghujung lokasi kenduri, sebuah tumpeng berukuran sangat besar (jumbo) berisi aneka makanan dan hasil bumi diletakkan menunggu dipurak atau diperebutkan warga.
“Tradisi ruwatan ini memang masih baru empat tahunan ini jalan. Selain menyambung tradisi yang sudah lama tenggelam, kami ingin membangun kesadaran bersama warga dan pengunjung untuk mencintai dan melestarikan alam Kandung agar tetap rimbun dan memberi sumber (air) kehidupan sepanjang masa,” kata tokoh warga Desa Tanen, Suhasto dikonfirmasi Antara Jatim usai acara.
Nyadran atau ritual sedekah itu diharap warga mampu menjauhkan segala bencana ke Desa Tanen, pemukiman yang terletak persis di bawah hutan lindung perbatasan Tulungagung bagian timur-selatan dengan wilayah Kabupaten Blitar itu.
Kegiatan sengaja digelar di dekat telaga dan sumber air Kandung yang jernih, karena dianggap menjadi cikal bakal kelestarian dan kemakmuran penduduk desa setempat.
“Sungguh tidak terbayang andai hutan rusak dan sumber air mati. Warga Tanen akan sangat kesulitan,” ujarnya.
Selain menghidupkan lagi tradisi sedekah bumi yang sempat tenggelam karena pertentangan/gesekan budaya, ritual tahunan dengan kemasan purak tumpeng dan kenduri masal tersebut diharapkan juga bisa menarik wisatawan.
Menurut Suhasto maupun sejumlah pemuda desa Tanen, selama ini objek wisata Alas Kandung yang memiliki air terjun indah kurang mendapat perhatian daerah maupun perhutani selaku pemangku wilayah.
“Pelan-pelan nilai-nilai luhur budaya khas daerah kami lestarikan lagi. Selain menjaga kearifan lokal dan menjaga kelestarian alam, ritual budaya ini tentu menarik dari sisi pariwisata,” kata Dedi, pemuda Desa Tanen menimpali.
Menariknya, tekad warga Tanen menghidupkan kembali budaya ruwatan Alas Kandung yang sudah ada sejak beratus tahun itu diinisiasi para pemuda Desa Tanen dengan cara patungan atau swadaya. Tidak ada bantuan uang sepeserpun dari desa, perhutani apalagi pemerintah daerah. (ant)
Bagi masyarakat Sasak, padi adalah berkah dari langit dan sekaligus bumi. Foto: Dilombok.com.
Padi dalam pandangan masyarakat modern biasanya dipahami sebagai sumber makanan pokok dan entitas fisik semata. Implikasinya, padi hanya dikaji dengan pendekatan inderawi seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam bidang ilmu biologi dan pertanian.
Sementara dalam masyarakat tradisional, padi adalah budaya material yang sangat penting sehingga diperlakukan sebagai tumbuhan istimewa. Bahkan, keistimewaan padi diinterpretasikan melalui kompleksitas bahasa yang melabelinya.
Dalam budaya masyarakat Sasak Lombok, padi biasa disebut dengan nama Pare. Bagi mereka padi adalah berkah dari langit sekaligus bumi. Ia bersifat transendental perwujudan dunia atas yang sakral dengan dunia bawah yang profan.
Banyaknya satuan kebahasaan leksikon padi yang dipakai untuk melabeli padi dalam bahasa Sasak menunjukkan bahwa padi merupakan spesies tumbuhan yang memiliki kekhususan sangat penting dalam budaya masyarakat Sasak-Lombok.
Penelitian kajian linguistik yang dilakukan oleh mahasiswa program doktoral Fakultas Ilmu Budaya UGM, Saharudin SS MA, ditemukan tiga fungsi padi dari sisi linguistik, yakni padi sebagai penghasil bahan makanan, padi untuk keperluan ritual, magis, penyembuhan dan kosmetik serta padi yang digunakan untuk aktivitas sosial keagamaan.
“Padi dalam pandangan masyarakat Sasak adalah diri. Selanjutnya ada tiga klasifikasi padi lokal yang dijadikan sebagai simbol,” katanya Saharudin dalam ujian terbuka promosi doktor di FIB UGM, beberapa waktu lalu seperti dirilis Humas UGM.
Ia menyebutkan klasifikasi padi dikelompokan lagi menjadi tiga, yakni pare beaq atau padi merah sebagai simbol ketinggian, pare puteq (padi putih) sebagai simbol kerendahan dan pare bireng atau padi hitam sebagai simbol perantara.
Adapun bentuk ritual adat yang dilakukan dengan mengaitkan tanaman padi, menurutnya, dilakukan dalam rangka untuk memperoleh keselamatan alamiah. Ritual yang dilakukan masyarakat Sasak juga dilakukan oleh suku bangsa lain di dunia yang menjadikan padi sebagai sumber makanan pokok dan dikenal sejak zaman nenek moyang.
“Mereka mengenal itu sejak lama dan melakukan beragam ritual terkait dengan padi,” kata Dosen Universitas Mataram (Unram) NTB ini.
Pandangan kesakralan akan padi di masyarakat tradisional menumbuhkan sosok yang muncul dalam cerita legenda yang dianggap berjasa menumbuhkan padi, seperti sosok Dewi Sri sebagai dewi padi yang ada dalam cerita masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, Sanghyang Pohaci di Jawa Barat, Inak Sriti di Lombok, dan Sinang Sari di Minangkabau.
“Sosok yang dianggap berjasa ini biasa dipanggil dan disapa dalam upacara ritual untuk selalu menjaga dan mengaruniai manusia dengan limpahan padi,” katanya. (sak)