Pertapaan Banoclono di Gunung Lawu. Foto: Merdeka.com.
Gunung Lawu bukanlah tempat asing bagi masyarakat Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Terletak di perbatasan antara Jawa Tengah di Kabupaten Karanganyar dan Jawa Timur, di Kabupaten Magetan.
Gunung Lawu tak hanya memiliki panorama alam yang indah, tetapi juga menyimpan obyek sakral bersejarah. Sehingga tak sedikit turis datang mendaki dan menikmati keindahan alam, atau berziarah.
Gunung yang konon dijaga kekuatan gaib Sunan Lawu ini menyimpan kisah misteri yang hingga kini belum terkuak. Salah satunya adalah tempat pertapaan Bancolono, yang kabarnya merupakan petilasan Raja Majapahit terakhir, Raja Brawijaya V.
Pertapaan ini berada di wilayah Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, atau tepatnya di bawah jembatan Bancolono, merupakan tapal batas antara Jawa tengah dan Jawa Timur.
Menurut Mbah Sarju (91), juru kunci pertapaan Bancolono, setelah tumbangnya Kerajaan Majapahit, maka Raja Brawijaya V dan pengawalnya lari hingga lereng Gunung Lawu. Sebelum naik ke puncak Gunung Lawu, raja, kerabat, dan para pengawalnya bersuci (mandi) di sebuah sendang (sumur).
“Para kerabat raja yang putri bersuci di Sendang Wedok (sendang putri) di sebelah timur. Dan yang putra bersuci di Sendang Lanang (putra). Mereka juga diwajibkan minum air suci yang mengalir,” ujar Mbah Sarju, saat ditemui Merdeka.com di lokasi pertapaan.
Mbah Sarju melanjutkan, setelah bersuci, Brawijaya V dan pengawalnya lantas mendaki Gunung Lawu hingga puncak. Sesampainya di sana, mereka mendirikan kerajaan.
Tempat mandi Raja Brawijaya V itu saat ini dikenal sebagai Pertapaan Bancolono. Pertapaan ini masih dianggap keramat oleh banyak orang. Konon, mereka yang tirakat di pertapaan ini, hampir semua permohonannya terkabul.
Sebagai juru kunci, Mbah Sarju sudah sering melihat banyak orang berkunjung ke Bancolono buat berdoa, bersemadi meminta keselamatan, jodoh, kesehatan, pangkat, dan kelancaran rezeki. Bahkan menurut dia, tak sedikit para pejabat datang untuk melakukan meditasi.
Di antaranya Ir Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, Bibit Waluyo sebelum maju sebagai Gubernur Jawa Tengah, serta sejumlah bupati dan wali kota.
“Pak SBY dulu pernah ke sini, tapi yo enggak rame-rame. Bu Megawati, Pak Harto (Soeharto) juga pernah. Terus Pak Bibit Waluyo, sebelum pemilihan gubernur, dan para calon-calon pimpinan daerah lain juga banyak. Tidak hanya dari Jawa, dari luar Jawa juga banyak,” ucap Mbah Sarju.
Sarju menambahkan, kebanyakan para pengunjung melakukan ritual saban malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Selain itu, mereka juga bertapa pada bulan Sura atau saat persembahan, dan Dukutan setiap tujuh bulan sekali. “Setiap 7 bulan sekali, masyarakat di sini ada ritual Dhukutan, ada ayam ingkung dan persembahan lainnya,” ujarnya. (mer)
Dijamin ingat mati bila masuk museum ini. Foto: Hilda Meilisa Rinanda/Detikcom.
Memasuki museum ini, hawa seram akan langsung menyergap karena adanya berbagai jenis makam dan kerangka. Untuk menambah suasana, dupa pun dibakar hingga aromanya memenuhi ruangan.
Tak hanya itu, ada pula suara-suara hantu dan jangkrik yang bersahutan. Dijamin pengunjung akan mengingat kematian saat memasuki museum ini.
Ternyata ini adalah salah satu museum yang berada di dalam kawasan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang terletak di area kampus B.
Namun keberadaan museum yang dikelola Departemen Antropologi, Universitas Airlangga ini bukanlah untuk acara jurit malam semata tetapi untuk alasan ilmiah. Ini bisa terlihat dari namanya, Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian.
Hanya saja di mata publik, nama Museum Kematian lebih melekat dan lebih populer karena banyaknya replika makam lengkap dengan ‘penghuninya’ di sana.
Salah satu pengurus museum, Desi Bestiana mengatakan museum ini memperlihatkan berbagai replika bentuk makam yang ada di Indonesia. Misalnya makam Islam, makam Belanda, Tionghoa, Nasrani, sampai makam-makam khas beberapa suku di Toraja hingga Bali.
“Di sini ada makam Islam, Belanda, Tionghoa, Nasrani, Sulawesi Utara, Bali, Toraja,” kata Desi saat ditemui detikcom di lokasi, Selasa (4/9).
Namun ‘penghuni’ makam dijamin bukan replika lho, melainkan kerangka manusia betulan yang diperoleh pengelola dari kepolisian. Dengan kata lain, kerangka-kerangka itu adalah milik jenazah tanpa identitas.
Desi menegaskan, sejak awal didirikan di tahun 2006, museum ini memang bertujuan untuk media pembelajaran kepada mahasiswa. Maklum saja saat Praktek Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa antropologi biasanya akan ke luar kota dan melihat berbagai kebudayaan, salah satunya budaya saat memakamkan jenazah.
Dari situlah muncul gagasan untuk merangkum budaya memakamkan jenazah yang unik-unik yang ada di penjuru Indonesia.
Akan tetapi Desi menambahkan, dengan adanya museum ini, mahasiswa bisa memahami bagaimana tubuh manusia saat meninggal nanti. Sebab menurutnya, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Namun jika dipelajari, kematian bisa dihadapi dengan lebih enjoy.
“Jadi museum ini juga mengingatkan mahasiswa tentang kematian. Bagaimana tubuhnya nanti, dan diharapkan bisa menghadapi kematian dengan lebih enjoy ya,” harapnya. (dtc)
Daluang, ini kertas asli Indonesia. Foto: Istimewa.
Ada yang menyebutnya deluang atau orang Jawa menyebut deluwang adalah lembaran tipis yang dibuat dari kulit pohon daluang (Broussonetia papyrifera) atau mulberry. Sehingga daluang sering disebut juga paper mulberry. Daluang bukanlah kertas, namun fungsinya sama seperti kertas yaitu sebagai media menulis.
Dahulu orang menggunakan daluang untuk menulis naskah atau melukis. Bahkan kulit pohon daluang dapat dibuat pakaian seperti dikenakan sejumlah etnis Polinesia yang disebut kain tapa.
Seperti dilaporkan Siedoo.com, masyarakat Indonesia hingga Kepulauan Lautan Teduh (Samudera Pasifik) di zaman kuno telah memiliki keterampilan mengolah daluang menjadi pakaian dan berbagai peralatan sehari-hari. Hal ini terbukti beberapa artefak kuno yang ditemukan ditulis di atas daluang.
Keberadaan daluang bisa dilihat dalam naskah kuno Kakawin Ramayana yang berasal dari abad ke-9. Dalam naskah itu disebutkan daluang sebagai bahan pakaian pandita (sebutan untuk orang yang bijaksana).
Pada abad ke-18, daluang dipergunakan bukan hanya sebagai pakaian pandita, tetapi juga kertas suci, ketu (mahkota penutup kepala), dan pakaian untuk menjauhkan dari ikatan duniawi.
Memang tidak banyak yang tahu bila daluang merupakan cikal bakal kertas asli Indonesia. Ratusan tahun lalu penduduk di kepulauan Indonesia telah mengenal budaya menulis, sehingga mereka memiliki cara bagaimana membuat media menulis yang lebih praktis dan mudah digunakan. Maka diciptakannya daluang.
Sebelum Islam datang ke Indonesia, daluang digunakan sebagai bahan wayang beber, salah satu jenis wayang di Jawa yang memanfaatkan lembaran atau gulungan daluang untuk merekam kisah atau cerita pewayangan dalam bentuk bahasa gambar.
Kemudian daluang banyak digunakan oleh para sastrawan, pelukis, dan juga digunakan oleh para santri untuk menulis ayat-ayat Alquran hingga pemanfaatannya untuk keperluan administrasi di zaman kolonial hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Daluang sebagai bagian dari tradisi tulis di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14. Hal ini tertuang pada naskah Undang-Undang Tanjung Tanah di Gunung Kerinci yang diteliti oleh Dr. Uli Kozok dari Hawaiian University pada 2003. Adapun dalam khazanah naskah Sunda dapat ditelusuri melalui naskah Sunda kuno dari abad ke-18 koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Proses Pembuatan
Untuk membuat kertas daluang, kulit pohon daluang dikuliti, dicuci, dan dikeringkan. Setelah kering, kulit tersebut direndam selama 24 jam. Kulit kemudian mengalami proses tempa, yaitu dipukul bolak-balik hingga lebarnya mencapai 2-3 kali lebar asal.
Pada tahap ini kulit disebut belibaran. Kulit lantas dicelupkan ke dalam air beberapa saat, lalu diperas. Belibaran dilipat untuk mendapat hasil yang lebih lebar.
Bahan kemudian dibungkus dengan daun pisang selama 5-8 hari hingga berlendir. Daluang kemudian digelar pada batang pisang. Batang pisang dipilih agar daluang memiliki tekstur yang licin. Setelah itu, daluang diikat dengan serat batang pisang agar tidak jatuh saat kering. Setelah kering, daluang digosok dengan kerang untuk mendapatkan tekstur halus pada permukaannya.
Dari segi pembuatannya, daluang memiliki beberapa kelebihan dibanding kertas biasa. Daluang yang dibuat dengan cara tradisional diyakini akan dapat bertahan lama karena proses pembuatannya tanpa bahan kimia sintetis. Residu tertinggal pada lembaran daluang, seiring waktu akan mengalami proses kimiawi lanjutan yang akan mendegradasi kekuatan lembaran daluang itu sendiri.
Sementara kertas biasa diproduksi menggunakan teknik pulping (pembuburan) dan teknik forming sheet (pembuatan lembaran), umumnya menggunakan bahan-bahan kimia sintetis dalam proses pembuatannya. Proses demikian berakibat residu bahan kimia yang tertinggal secara langsung akan menjadi penyebab penurunan ketahanan kertas ketika terjadi reaksi kimia lanjutan, seperti oksidasi ataupun hidrolisis.
Daluang di daerah Sunda disebut saeh, di luar Jawa dinamai fuya atau tapa. Sementara di Jepang juga memiliki kertas khas Jepang yang disebut washi, Korea punya hanji, dan Mesir memiliki papyrus.
Sekitar tahun 1950an, daluang menjadi komoditas ekspor Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Daluang dijadikan sebagai bahan kertas Gedog. Konon oleh seorang pedagang dibawanya kertas gedog ke negeri Belanda. Di sana digunakan sebagai bahan dasar pembuatan uang kertas.
Tradisi pembuatan daluang di Indonesia dinyatakan punah sejak tahun 1960-an. Namun, penyebarluasan benih kembali dilakukan sejak 1997 oleh Kelompok Bungawari, komunitas anak muda Bandung yang peduli budaya lingkungan.
Pohon daluang kini sudah langka, sehinga melestarikan pembuatan daluang diikuti pula dengan pelestarian pohon daluang. Di pulau Jawa pohon ini masih dapat dijumpai di beberapa daerah seperti di Jawa Barat, Pacitan dan Ponorogo (Jawa Timur) dan Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta). Juga ditemukan di Madura, Bali, dan Lombok.
Secara alamiah, pohon ini banyak terdapat di Sulawesi, terutama di Lembah Bada, Donggala, dan di Taman Nasional Lore Lindu. Di pulau ini, keberadaan pohon deluang di beberapa tempat terkait dengan adanya budaya pembuatan pakaian kulit kayu (fuya) di mana salah satunya menggunakan bahan baku pohon mulberry.
Beberapa pelestari daluang dapat dijumpai di daerah. Seperti di Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Faris Wibisono, warga Dusun Sumberalit, Desa Sedayu, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri.
Selain itu, kini terdapat pula penanaman yang dilakukan perorangan seperti yang dilakukan oleh Ahmad Mufid Sururi dan Asep Nugraha di Bandung (Jawa Barat), Budi di Soreang (Jawa Barat), dan Edi Dolan di Salatiga (Jawa Tengah).
Sejak 2014, daluang sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) di Kemdikbud yang disahkan pada Oktober 2014 dengan SK Mendikbud Nomor 270/P/2014. (Ditulis Narwan SPd)
Ilustrasi Sunan Kalijaga dan pesan yang disampaikan saat berdakwah. Foto: Istimewa.
Raden Said dipercaya pernah bertapa di Gua Langsih di bukit Surowiti, Desa Surowiti, Kecamatan Panceng, Gresik, beberapa tahun sebelum dia menjadi wali bernama Sunan Kalijaga. Kini, tempat pertapaan tersebut yang berada di Gresik, Jawa Timur, masih terjaga dan menjadi tempat destinasi wisata religi.
Menurut cerita yang dipercayai warga sekitar, Raden Said pernah dua kali bertapa di sana. Pertama, saat ia masih belum menjadi wali. Kedua, ia kembali lagi setelah menyandang gelar wali.
“Bertapa dengan Mbah Sloko yang makamnya ada di sekitar petilasan. Pada pertapaan pertama, Raden Said menemukan petunjuk. Sehingga beliau turun. Sementara Mbah Sloko masih di sana sampai Sunan Kalijaga kembali,” kata juru kunci petilasan Sunan Kalijaga di Surowiti, Abdul Mun’im, seperti dikutip Tribunnews.com.
Mun’im adalah keturunan ke-15 Mbah Sloko. Itu sebabnya, tak ada detail waktu kapan terjadinya peristiwa tersebut. Saat ini, warga sekitar memanfaatkan Gua Langsih sebagai tempat wisata.
Akses untuk masuk ke dalam gua cukup sulit, terutama saat musim hujan. Jalan menuju dalam gua berupa tumpukan bebatuan dengan kemiringan curam. Sisanya sudah mengalami pemugaran. Tempat ini, kata dia, dulu digunakan sebagai tempat berdakwah oleh Sunan Kalijaga.
Mun’im mengisahkan, Sunan Kalijaga sering menggelar dakwah berupa pengajian untuk warga sekitar di sana. Salah satu murid terbaik Sunan Kalijaga di sana adalah Raden Bagus Mataram. Benda itu berupa dua Alquran yang tulisan tangan. Salah satunya ditulis dengan tinta emas.
Dua benda ini terakhir kali disimpan di rumah kepala desa beberapa periode sebelumnya. Ia menerangkan, kedua Alquran tersebut lebih tebal dibanding Alquran pada umumnya. Dengan kedua tangannya, Mun’im memeragakan ketebalan kitab tersebut: kurang lebih sekitar 40 sentimeter.
“Pernah mau dibuatkan museum untuk tempat dua peninggalan itu, tapi belum kesampaian sampai sekarang,” ujar dia. Saat ditanya siapa penulis dua Alquran itu, sang juru kunci tidak bisa memastikan. Dari cerita yang ia dapat dari para sesepuhnya, Alquran itu merupakan peninggalan Raden Said alias Sunan Kaligaja.
Namun, ia tak bisa memastikan murid Sunan Bonang itu yang menulis ayat-ayat di Alquran tersebut. “Ada juga sebuah pusaka yang saat ini sudah hilang,” tambahnya, menjelaskan tentang peninggalan yang lain. Dikenal sebagai seorang seniman, toh tidak ada peninggalan benda-benda seni, terutama seni musik di petilasan itu.
Mun’im mengatakan, peninggalan Sunan Kalijaga di bidang seni musik tidak tercatat dalam cerita yang disampaikan leluhurnya. Saat Sunan Kalijaga tinggal di sana, para penduduk sekitar belum mengenal agama Islam. Mun’im menjelaskan, beberapa di antara mereka bahkan ada yang menyembah pepohonan.
Kebudayaan Jawa yang berkutat dengan benda-benda seperti menyan dan kembang-kembang pun melekat. Menurut kisah, Sunan Kalijaga menyebarkan Islam di sana dengan cara yang halus tanpa menghilangkan adat warga sekitar.
Itu sebabnya, di tempat yang dipercaya warga sebagai Makam Sunan Kalijaga – meski sejarah terang mencatat makam Sunan Kalijaga berada Kadilangu, dekat Kota Demak – ada dupa dan kembang yang ditaruh di pintu masuk makam. “Pengaruh siar dakwah beliau sampai ke semua daerah di Panceng,” kata dia. (ist)
Nyadran, Warisan Budaya Leluhur Tengger di Jetak, Sukapura, Probolinggo. Foto: Happy LT/TIMES Indonesia.
Suku Tengger di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kaya akan budaya turun temurun. Salah satunya, adalah nyadran yang digelar setiap tahun, ketika hari raya Karo.
Nyadran sendiri, merupakan kegiatan mengunjungi makam kerabat maupun sanak saudara yang sudah meninggal. Atau dalam muslim, lazim disebut ziarah kubur. Ada beberapa rangkaian dalam Nyadran suku Tengger ini. Mulai dari doa bersama di punden, lalu berkumpul di tengah desa.
Sabtu (1/9/2018), TIMES Indonesia berkesempatan mengikuti tradisi nyadran di Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Dalam nyadran ini, seluruh warga desa bersama-sama pergi ke kuburan. Cara mengumpulkannya pun cukup unik.
Yakni dengan menggunakan musik dari seruling dan gendang yang ditabuh pengiring dukun pandita. Begitu seluruh warga berkumpul, rombongan langsung menuju pemakaman desa. Seluruh elemen masyarakat, mulai dari tua hingga muda, turut serta dalam tradisi Nyadran ini.
Salah satu gadis desa setempat, Lilia Widyani Putri (23) mengatakan, tradisi ini merupakan salah satu kekayaan budaya dan kebanggan warga Tengger. “Harus terus dijaga kelestariannya sehingga bisa terus dinikmati oleh anak cucu kita kelak,” katanya, Sabtu sore.
Di dalam pemakaman, seluruh warga menggelar doa bersama dan meletakkan sesaji untuk para leluhur dan kerabat yang telah meninggal dunia. Setelah itu, seluruh warga kemudian berputar ke seluruh makam. Untuk berdoa dan memberikan sesaji serta penghormatan.
Terkait tradisi nyadran dari suku Tengger ini, Camat Sukapura, Yulius Christian menyatakan, pihaknya akan memfasilitasi setiap kebudayaan yang ada. Agar bisa terus eksis dan dilestarikan. (ist)
Lewat PLN Peduli, PT PLN Distribusi Jatim mengembangkan Desa Wisata Budaya. Foto: Kabargress.com.
PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur mulai membantu warga Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, dalam upaya mengembangkan potensi wisata budaya dan adat disana sehingga bisa dikenal masyarakat luas.
Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN Distribusi Jatim, Pinto Raharjo, di kantor Surabaya, Selasa (28/8), mengatakan kampung tersebut memiliki adat istiadat sangat kuat yang dilestarikan sampai saat ini.
Sehingga dibutuhkan usaha untuk mempertahankannya. “Karena itulah PLN datang kesana, memberikan bantuan untuk pembangunan sarana dan prasarana kampung wisata Sendi ini menjadi lebih baik lagi,” tandas Pinto seperti diaporkan kabargress.com.
Pada tahap awal, PLN menggelontorkan anggaran sebesar Rp150 juta, untuk pembangunan tempat ibadah, gapura, jalan setapak, dan tempat ber swafoto berbentuk balon udara, dengan latar belakang pemandangan gunung. “Ada branding PLN di balon udara tersebut,” ujarnya.
Desa Wisata Sendi, bukan Desa Wisata pertama yang mendapat suport dari PLN Distribusi Jatim, sebelumnya ada Pantai Cacalan, Banyuwangi. Pinto mengatakan, bentuk suport tersebut, diharapkan dapat memberdayakan masyarakat setempat.
Dijelaskan Pinto, Desa Sendi menjual wisata pemandangan lereng pegunungan. Lokasi ini masih asri, karena belum banyak terjamah oleh kehidupan moderen. Untuk itu, PLN berupaya membangun kampung ini untuk wisata Budaya.
“Kalau sudah berhasil dan tertata rapi, PLN nanti akan merencanakan penghijauan beberapa petak tanah di kawasan tersebut dengan tanaman produktif sehingga bisa untuk peningkatan perekonomian warga,” ungkapnya.
Untuk diketahui Sendi adalah “desa adat” di Jatim. Desa harus diberi tanda kutip karena sampai sekarang eksistensi mereka sebagai desa belum sepenuhnya diakui.
Sendi yang terletak di antara dua destinasi populer di Jatim, Pacet, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Batu, itu dahulu sebuah desa sendiri. Tapi, mendadak “hilang” dari peta Kabupaten Mojokerto pada 1989.
Saat ini Sendi masih tergabung dengan Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Padahal, kedua desa itu terpisah jarak sekitar 7 kilometer.
Pemkab Mojokerto sebenarnya sudah turun tangan. Mengajukan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) agar Sendi bisa jadi desa sendiri. Tapi, Kemendagri melalui Pemprov Jatim menolaknya sekitar sepekan menjelang Idul Fitri tahun ini.
Dengan alasan, berdasar UU Desa, jumlah penduduk di kampung tersebut kurang dari standar sebuah desa. Untuk bisa diakui sebagai desa, kampung itu harus memiliki 1.200 KK (kepala keluarga) atau 6 ribu jiwa. Padahal, jumlah warga Sendi saat ini tak sampai separonya. Hanya 668 jiwa atau 323 KK.
Namun, penolakan itu sama sekali tak menyurutkan semangat warga desa yang mengklaim sebagai keturunan pendiri Majapahit, kerajaan terbesar Nusantara yang berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, itu.
Menurut Pj Kades Sendi Sucipto, seharusnya Sendi ditetapkan sebagai desa berdasar Permendagri No 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat. “Kami kan masyarakat khusus,” kata Sucipto ketika itu.
Sendi memang memiliki sejumlah adat khas yang berbeda dengan desa-desa lain di Kabupaten Mojokerto. Di antaranya, ngangsu banyu kahuripan.
Ritual itu dilakukan dengan mengambil air dari Bhabakan Kucur Tabud. Dilakukan secara bersama-sama oleh warga masyarakat adat Sendi. Baik laki-laki maupun perempuan. Mulai tua-muda hingga anak-anak. Semuanya turut terlibat.
Dengan menggunakan peralatan timba tradisional yang terbuat dari bambu petung (cukil). Ritual itu dilakukan tiap bulan. Persisnya tiap Jumat Legi.
Sucipto menjelaskan, tujuan dilakukan kegiatan itu adalah perwujudan rasa syukur kepada Tuhan. Atas limpahan keberkahan yang dirasakan dan dinikmati warga masyarakat adat Sendi. “Melalui sumber air dan Babhakan Kucur Tabud,” terangnya.
Aksi rutin itu kerap mencuri perhatian warga. Banyak sekali para pengunjung dan untuk mangambil air tabud setelah kunjungan yang ketiga baru mendapatkan kesembuhan.
Kucur Tabud juga dipakai untuk memandikan seorang perempuan yang sedang hamil ketika mencapai usia kandungan 3 bulan dan 7 bulan. Warga yakin, ritual itu mampu memberikan keberkahan bagi ibu dan anak yang akan dilahirkan.
Warga Sendi juga memiliki aturan sendiri dalam menyelesaikan persoalan. Urun rembuk masih menjadi budaya yang melekat dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi di lingkungannya. Mereka juga punya Satriyo Wayah. Organisasi anak-anak muda yang turut bertugas menjaga pelestarian tradisi di Sendi. (ist
Pesarean Makam Eyang Kudo Kardono di Jalan Cempaka 25, Surabaya. Foto: Dhimas Prasaja/Liputan6.com.
Sudut di Jalan Cempaka 25, Kota Surabaya ternyata menjadi peristirahatan terakhir Eyang Kudo Kardono. Ia adalah Panglima Perang Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Jayanegara atau Kalagemet.
Sri Poniati selaku juru kunci pesarean atau kompleks makam pun membenarkan bahwa Eyang Kudo Kardono adalah panglima perang di zaman Kerajaan Majapahit. Nama asli sang panglima adalah Raden Kudo Kardono.
“Panglima saat Majapahit diperintah Jayanegara, raja kedua setelah Raden Wijaya, pada masa tahun 1309-1328,” ucap Sri Poniati, saat ditemui Liputan6.com.
Menurut dia, Raden Kudo Kardono merupakan komandan perang kepercayaan Raja Jayanegara atau Kalagemet. Konon, Kudo Kardono merupakan saudara sepupu dari Mahapatih Majapahit, Gajah Mada.
Pada masa pemerintahan Jayanegara ini, sering terjadi pemberontakan di beberapa wilayah kekuasaan Majapahit. Tak ketinggalan di Surabaya, yakni pemberontakan Ra Kuti pada 1319 Masehi.
Jayanegara kemudian mengirim Pangeran Kudo Kardono untuk menumpas pemberontakan yang dipimpin Kuti. Adapun kawasan makam tersebut merupakan daerah di mana Panglima Perang Kerajaan Majapahit itu mendirikan pertahanan untuk melawan pemberontak.
Sementara, penyebutan Panglima Perang Eyang Yudho Kardono sendiri menurut Mbah Poniati adalah sebutan masyarakat setempat sejak pesarean dipugar dahulu pada 1960-an.
“Masyarakat ambil gampangnya, saat itu teringat perang besar yang disebut Bharata Yudha. Akhirnya, ya itu, nama eyang disebut di depannya, Yudho,” tutur Poniati.
Ia pun meyakini tempat yang disinggahi Kudo Kardono alias Yudho Kardono adalah berupa tanah tegal dan banyak tumbuhan gading putih yang dijadikan pertahanan saat perang Majapahit. “Menurut cerita turun-temurun orangtua saya, di sini banyak sekali tumbuh pohon juwet, sawo, dan gading putih kala itu,” katanya.
Hanya saja, seiring berjalannya waktu makam Panglima Perang Kerajaan Majapahit ini dipugar. “Sama Pak Soedjono Hoemardani, asisten Pak Soeharto pada tahun 1960,” ujar Poniati. (ist)
Anggota DPRD Kab Banyuwangi saat sidak lokasi. Foto: Detikcom.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyayangkan pembongkaran cagar budaya di sebuah bangunan lama Kantor Pengadilan Agama (PA), Jalan Jaksa Agung Suprapto. Cagar budaya seluas sekitar 3.000 meter persegi itu direnovasi menjadi kantor PA.
Anas mengaku sesuai kesepakatan sebelumnya, hanya bangunan bagian belakang saja yang akan dibongkar sehingga Izin Mendirikan Bangunan (IMB) diberikan Pemkab Banyuwangi. Namun praktiknya bangunan depan atau bangunan utama turut dibongkar, tidak disisakan seperti yang telah disepakati bersama.
“Saya kecewa, karena kita sudah sampaikan sejak awal bahwa itu bagian dari jejak cagar budaya masa lalu. Jangan-jangan kontraktornya. Saya tidak yakin kepala pengadilannya tahu, jangan-jangan tidak tahu,” kata Anas kepada detikcom, Selasa (4/9/2018).
Anas menyangkan pembongkaran bangunan bersejarah tersebut. Karena beberapa cagar budaya sudah ditetapkan tidak boleh dibongkar. Anas meminta DPRD melakuan sidak terhadap pembangunan gedung pengadilan itu. “Boleh melakukan renovasi tapi tidak membongkar semuanya seperti ini.”
Selang beberapa lama, Ketua Komisi II DPRD Banyuwangi Handoko dan 2 anggotanya, Punjul Ismuwardoyo, dan Andik Purwanto, mendatangi lokasi pembangunan.
Dari pantauan di lapangan, sebagian besar bangunan di bagian belakang sudah berubah menjadi bangunan baru 2 lantai. Sementara bangunan depan batu bata di sebagian besar tembok terlihat karena semen lapisan luarnya telah terkelupas.
Sementara pelaksana pembangunan, PT Rakata Pandu Nusa tampak memperkuat beberapa bagian tembok dengan material cor tegak, kusen jendela baru dan tembok baru di sekeliling kusen. Sementara pintu depan yang memiliki gawang melengkung bagian atas, yang menjadi ciri bangunan lama, terlihat belum dibongkar.
Punjul mengatakan bangunan yang termasuk cagar budaya itu tidak boleh dirubah, sesuai ketentuan dalam Peraturan Daerah (Perda) Cagar Budaya. Dia mengimbau Pemkab Banyuwangi membentuk tim khusus yang bertugas mengawasi pembangunan gedung pengadilan agama tersebut.
“Intinya yang penting jangan ada yang berubah dari bangunan ini, harus dikembalikan seperti semula. Dan kalau ada penambahan, penambahan itu jangan sampai merubah bentuk visual dari depan. Bentuk gentingnya, ornamennya, walaupun sudah tidak bisa lagi memakai genting yang sama,” kata Punjul.
Sementara Mita sang pengawas mengatakan semua proses pembangunan telah mengikuti draft yang menjadi acuan proses pengawasannya. Dia menjelaskan 3 pintu melengkung akan tetap dipertahankan, hanya saja ditambah 4 pilar sebagaimana ciri khas semua kantor pengadilan.
“Kan bisa dilihat sendiri, kan nggak ada (perubahan) kan. Untuk perubahannya filosofinya Mahkamah Agung kan harus ada. Kita kan juga mengikuti draft yang ada. Kalau genting kita menyesuaikan dengan bangunan yang baru, kan nggak nyambung kalau seperti yang lama. Bentuknya sama seperti yang dulu,” kata Mita.
“Temboknya kita bongkar separuh, kan nggak mungkin, kayak penggantian kusen kan nggak mungkin utuh kan bapaknya lihat sendiri. Banyak kusen yang diambil, batanya runtuh. Berarti itu nggak mungkin bangunan Belanda kan, berarti kan harus ditambah lagi, tebal-tebalnya kita mengikuti yang lama,” papar Mita. (dtc)
Workshop Seni Tradisi tahun 2018 dengan tema “Seni Arak-Arakan Jawa Timur” di Sumenep. Foto: Istimewa.com.
Menyongsong kegiatan Jatim Specta Night Carnival yang akan dilaksanakan 20 Oktober 2018 mendatang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur menggelar Workshop Seni Tradisi 2018 bertema “Seni Arak-Arakan Jawa Timur” di Sumenep selama dua hari.
“Kemarin, selama dua hari kami menggelar workshop Seni Arak-Arakan Jawa Timur di Sumenep,” kata Kepala Seksi Pengembangan Kelembagaan Budaya Disbudpar Jatim, Pramuka Atmaji di Surabaya, Rabu (5/9), seperti dilaporkan Jatimnews Room.
Dikatakannya, acara ini dimaksudkan agar karnaval yang akan diselenggarakan di Sumenep dapat terlaksana dengan baik sesuai konsep penyelenggaraannya.
Sebagaimana diketahui, karnaval telah dilaksanakan untuk kali keempat ini berlangsung malam hari sehingga dibutuhkan kiat khusus bagi peserta agar dapat tampil maksimal.
Sebanyak 4 (empat) narasumber dihadirkan dalam workshop kali ini untuk memberikan wawasan tentang Seni Arak-Arakan Jawa Timur.
Materi yang disampaikan narasumber yaitu “Penataan Arak-arakan (Teknik Penyajian) oleh Heri Lentho Prasetyo; “Penataan Artistik” dengan narasumber Nanang Moechsinin alias Nanang Gabus.
Materi ketiga “Desain Tata Rias dan Busana” oleh Subari Sofyan, dan materi keempat adalah “Estetika Keraton/kadipaten dalam Perspektif Kesejarahan Jawa Timur” dengan narasumber sejarawan Adrian Perkasa. (jnr)
Walikota Bandung Ridwan Kami dan Mendikbud. Foto: Kemdikbud.go.id.
Sebayak dua belas kepala daerah maupun perwakilannya hadir di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta untuk menyerahkan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.
Menteri Muhadjir mengpresiasi peran kepala daerah atas komitmennya yang telah menyelesaikan dan menyerahkan dokumen PPKD. Di mana kelengkapan dokumen-dokumen tersebut akan menjadi dasar penyusunan strategi kebudayaan Indonesia.
“Terima kasih atas kehadiran dan sekaligus menunjukkan komitmennya yang sangat tinggi untuk segera mewujudkan terselenggaranya sebuah strategi kebudayaan nasional kita,” tuturnya saat menyampaikan sambutan di depan perwakilan daerah.
Ia pun mengharapkan akan semakin banyak daerah yang menyerahkan hasil PPKD-nya agar semakin sempurna pula cetak biru Strategi Kebudayaan Nasional. Karenanya Menteri Muhadjir mengimbau kepada daerah yang belum menyerahkan agar mempercepat prosesnya.
Dalam laporannya, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Hilmar Farid menjelaskan bahwa ini merupakan bagian dari upaya Kemendikbud untuk menyusun Strategi Kebudayaan. Di mana menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017, penyusunan strategi kebudayaan nasional dimulai dari kabupaten/kota dan dilanjutkan ke tingkat provinsi.
Selanjutnya untuk perumusan di tingkat provisi ditargetkan selesai pada 5 Oktober tahun ini dan puncaknya di tingkat nasional akan diserahkan langsung kepada Presiden pada Kongres Kebudayaan tanggal 1-2 Desember 2018.
Hingga saat ini, sudah ada 89 kabupaten/kota atau dua puluh persen dari total 516 kabupaten kota di 34 provinsi yang telah menyerahkan dokumen PPKD.
Empat kepala daerah yang hadir langsung untuk menyerahkan dokumen adalah Walikota Bandung Ridwan Kamil, Walikota Tidore Kepulauan Captain Ali Ibrahim, Wakil Bupati OKU Selatan Sholehien Abusir, dan Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa.
Sedangkan sisanya, Kota Ternate, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Sintang, Kota Tegal, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Muna diwakili oleh sekretaris daerah, pelaksana tugas, atau kepala dinas. (sak)