Dijamin Ingat Mati Bila Masuk Museum Ini

foto
Dijamin ingat mati bila masuk museum ini. Foto: Hilda Meilisa Rinanda/Detikcom.

Memasuki museum ini, hawa seram akan langsung menyergap karena adanya berbagai jenis makam dan kerangka. Untuk menambah suasana, dupa pun dibakar hingga aromanya memenuhi ruangan.

Tak hanya itu, ada pula suara-suara hantu dan jangkrik yang bersahutan. Dijamin pengunjung akan mengingat kematian saat memasuki museum ini.

Ternyata ini adalah salah satu museum yang berada di dalam kawasan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang terletak di area kampus B.

Namun keberadaan museum yang dikelola Departemen Antropologi, Universitas Airlangga ini bukanlah untuk acara jurit malam semata tetapi untuk alasan ilmiah. Ini bisa terlihat dari namanya, Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian.

Hanya saja di mata publik, nama Museum Kematian lebih melekat dan lebih populer karena banyaknya replika makam lengkap dengan ‘penghuninya’ di sana.

Salah satu pengurus museum, Desi Bestiana mengatakan museum ini memperlihatkan berbagai replika bentuk makam yang ada di Indonesia. Misalnya makam Islam, makam Belanda, Tionghoa, Nasrani, sampai makam-makam khas beberapa suku di Toraja hingga Bali.

“Di sini ada makam Islam, Belanda, Tionghoa, Nasrani, Sulawesi Utara, Bali, Toraja,” kata Desi saat ditemui detikcom di lokasi, Selasa (4/9).

Namun ‘penghuni’ makam dijamin bukan replika lho, melainkan kerangka manusia betulan yang diperoleh pengelola dari kepolisian. Dengan kata lain, kerangka-kerangka itu adalah milik jenazah tanpa identitas.

Desi menegaskan, sejak awal didirikan di tahun 2006, museum ini memang bertujuan untuk media pembelajaran kepada mahasiswa. Maklum saja saat Praktek Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa antropologi biasanya akan ke luar kota dan melihat berbagai kebudayaan, salah satunya budaya saat memakamkan jenazah.

Dari situlah muncul gagasan untuk merangkum budaya memakamkan jenazah yang unik-unik yang ada di penjuru Indonesia.

Akan tetapi Desi menambahkan, dengan adanya museum ini, mahasiswa bisa memahami bagaimana tubuh manusia saat meninggal nanti. Sebab menurutnya, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Namun jika dipelajari, kematian bisa dihadapi dengan lebih enjoy.

“Jadi museum ini juga mengingatkan mahasiswa tentang kematian. Bagaimana tubuhnya nanti, dan diharapkan bisa menghadapi kematian dengan lebih enjoy ya,” harapnya. (dtc)

Jejak Kebesaran Lamajang Tigang Juru

foto
Kawasan situs Biting di Sukodono Lumajang. Foto: Hipwee.com.

Kerajaan Majapahit dengan pendirinya Raden Wijaya selama ini masyhur dalam penulisan sejarah Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Namun, tak banyak yang mengenal sosok Arya Wiraraja, dengan Lamajang Tigang Juru-nya yang jejaknya masih kukuh di Lumajang. Padahal, peran Arya Wiraraja sangat strategis dalam perpolitikan Nusantara pada masa itu.

Menempuh jarak puluhan kilometer, tak tampak kelelahan di wajah rombongan itu. Dipimpin Rina Rohmawati, rombongan tersebut merupakan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Jember.

Mereka sengaja datang ke kawasan situs Biting, sebuah situs arkeologis seluas sekitar 135 hektare yang ada di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang.

“Agar mereka lebih mengenal realitas sejarah, termasuk yang ada di sekitarnya. Karena kalau Cuma membaca di kelas, perpustakaan, atau laboratorium sejarah, pemahamannya menjadi utuh,” tutur Rina Rohmawati, dosen pembimbing para mahasiswa tersebut kepada Jawa Pos Radar Jember.

Rina merupakan dosen yang mengampu mata kuliah Sejarah Nasional di Prodi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Jember.

Bersama seorang rekannya, Rina membawa beberapa mahasiswa bimbingannya untuk terjun langsung ke kawasan situs Biting, termasuk berdiskusi dengan kalangan aktivis LSM yang fokus melakukan advokasi kawasan situs Biting.

Rina menuturkan, dari segi bangunan, kawasan situs Biting memiliki keistimewaan tersendiri. Selain karena luasnya, benda-benda arkeologis seperti candi dan reruntuhannya memiliki identitas pembeda dan menunjukkan kemajuan masyarakat setempat pada masa itu.

“Di sini ada 12 jenis motif yang beragam ukurannya. Candi-candi ini bisa kokoh hingga ratusan tahun,” tutur alumnus Jurusan Sejarah FIB Universitas Jember ini.

Ada perbedaan motif yang mencolok antara candi di Jawa Tengah dengan di Jawa Timur. Di Jawa Tengah, kebanyakan candi peninggalan zaman klasik terbuat dari batu andesit.

“Ini karena di sana banyak gunung berapi. Berbeda dengan di Jawa Timur, candinya terbuat dari tanah liat. Dengan kunjungan seperti ini, mahasiswa bisa melihat secara langsung,” jelas Rina.

Kawasan Situs Biting sejatinya merupakan benteng yang mengelilingi sebuah kawasan pusat pemerintahan kerajaan pada masa itu. Tak heran, jika luasnya mencapai ratusan hektare.

“Yang menarik, benteng ini bentuknya melekuk sesuai arah aliran sungai Bondoyudo yang merupakan sungai kuno. Dan di setiap lekukan, terdapat menara pengintai, untuk mengamankan kawasan di dalamnya,” ujar alumnus Magister Sejarah Undip ini.

Hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1982-1991, Kawasan Situs Biting memiliki luas 135 hektare yang mencakup 6 blok/area merupakan blok keraton seluas 76,5 ha, blok Jeding 5 ha, blok Biting 10,5 ha, blok Randu 14,2 ha, blok Salak 16 ha, dan blok Duren 12,8 ha.

Dalam Babad Negara Kertagama, kawasan ini disebut Arnon lalu dalam perkembangan pada abad ke-17 disebut Renong, dan dewasa ini masuk dalam desa Kutorenon yang dalam cerita rakyat identik dengan “Ketonon” atau terbakar.

Nama Biting sendiri merujuk pada kosakata Madura bernama “Benteng”, karena daerah ini memang dikelilingi oleh benteng yang kukuh.

Arti penting kawasan situs Biting ini dikonfirmasi oleh Mansur Hidayat, penggiat sejarah yang juga Ketua Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMT). MPPMT merupakan LSM yang fokus pada advokasi pelestarian peninggalan Kerajaan Majapahit Timur, termasuk kawasan Situs Biting.

Situs tersebut tak bisa dilepaskan dari nama Arya Wiraraja yang merupakan penguasa di wilayah tersebut.

“Kawasan Situs Biting ini diperkirakan merupakan ibu kota Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang wilayah kekuasaannya meliputi daerah di sebelah Gunung Semeru sampai selat Bali atau kalau sekarang disebut Tapal Kuda, ditambah wilayah Madura,” tutur Mansur.

Menurut Mansur, Arya Wiraraja merupakan tokoh besar, bahkan disebut paling jenius pada masanya. Sayangnya, kebesaran dan kiprahnya justru terlupakan dalam penulisan sejarah di Indonesia. Bahkan, nama Arya Wiraraja seolah-olah kalah dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.

“Hubungannya, Arya Wiraraja ini merupakan semacam penasihat politik bagi Raden Wijaya. Kalau zaman sekarang, ibaratnya Arya Wiraraja ini adalah Megawati, dan Raden Wijaya adalah Jokowinya. Jadi, seperti King Maker,” tutur penulis buku Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru ini.

Tak hanya sebagai penasihat politik, Arya Wiraraja juga menjadi donatur saat Raden Wijaya melarikan diri ke Madura usai kalah dari Prabu Jayakatwang, Raja Kediri.

“Yang membuka Hutan Tarik, itu sebenarnya bukan Raden Wijaya, karena dia saat itu masih di Kediri. Yang membuka itu adalah Pasukan Madura atas perintah Arya Wiraraja yang saat itu menjadi Adipati Sumenep,” jelas Mansur.

Salah satu kiprah terbesar dari Arya Wiraraja adalah saat dia merencanakan strategi bagi Raden Wijaya untuk “mengarahkan” Pasukan Mongol mengalahkan Kerajaan Singosari.

“Itu semua strategi dari Arya Wiraraja yang diberikan kepada Raden Wijaya. Karena saat itu Majapahit masih berupa desa dan belum memiliki pasukan sendiri. Jadi, yang dipakai pasukan dari Madura,” tutur mantan dosen sejarah di IKIP PGRI Jember ini.

Dalam penulisan sejarah ditulis, setelah menghancurkan pasukan Jayakatwang, pasukan dari Mongol itu justru dipukul mundur melalui jebakan oleh pasukan Raden Wijaya selaku penguasa Majapahit.

“Sebenarnya, itu yang merencanakan adalah Arya Wiraraja. Dengan iming-iming rampasan perang dan putri-putri cantik sebagaimana kelaziman pada masa itu, pasukan Mongol bersedia melepaskan senjata. Setelah tidak bersenjata, pasukan Mongol justru dipukul mundur oleh pasukan Arya Wiraraja,” tutur penulis buku Membangkitkan Majapahit Timur ini.

Secara resmi, Mansur bersama LSM Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMT) aktif melakukan advokasi kawasan advokasi situs Biting sejak tahun 2010.

“Sayangnya memang di bawah Bupati Lumajang saat ini, perhatian pemerintah amat kurang. Saya harap, di bawah bupati yang baru, kawasan situs Biting ini bisa lebih diperhatikan kelestariannya,” pungkas Mansur. (ist)

11 Bahasa Daerah Ternyata Sudah Punah

foto
Ucapan terima kasih dalam berbagai bahsa di Indonesia. Foto: Victorynews.id.

Sejumlah bahasa daerah di Indonesia mulai terancam. Bahkan sudah ada yang dinyatakan punah. Perlu mendokumentasikan dan merevitalisasi.

Kepala Bidang Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ganjar Harimansyah mengatakan, dari data terakhir tahun 2017, sebanyak 11 dari 625 bahasa daerah telah dinyatakan punah.

“Ada 11 bahasa yang punah, di antaranya bahasa Tandia dan Mawes di Papua,” ujar Ari di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (13/8), seperti dilaporkan jawapos.com.

Selain dua bahasa daerah Papua, beberapa bahasa daerah Maluku juga punah. Di antaranya yakni Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila.

Ganjar menuturkan, punahnya bahasa daerah bisa diakibatkan oleh beberapa alasan. Seperti meninggalnya kelompok yang menggunakan bahasa itu.

Selain itu, ada pula faktor gengsi karena tidak mau menggunakan bahasa daerah seperti di kota-kota besar. “Banyak penyebabnya, misal meninggal, bencana alam, pindah tempat tinggal, ada juga persilangan kawin, ada pula gengsi,” lanjutnya.

Bahasa-bahasa daerah besar seperti Jawa, Sunda hingga Melayu pun terancam mulai ditinggalkan dalam 200 tahun ke depan jika tidak dilestarikan dengan baik.

“Kami memperkirakan bahasa besar seperti Jawa, Sunda, Aceh, Melayu dalam hitungan 200 tahun bisa terancam,” imbuh Ganjar.

Sementara itu langkah yang telah diambil oleh Kemendikbud dalam pelestarian bahasa agar tidak ada lagi yang punah yaitu dengan cara mendokumentasikannya. Atau melakukan revitalisasi bahasa daerah dengan sejumlah metode.

“Jadi, bahasa yang kritis kita dokumentasikan. Kalau yang terancam punah kita segera revitalisasi seperti dengan sample model keluarga. Atau bisa juga sekolah kita jadikan model untuk konservasi dan revitalisasi bahasa daerah,” pungkasnya. (jp)

Pentingnya Visualisasi Agar Sejarah Menarik

foto
Visualisasi sejarah di Museum Tugu Pahlawan. Foto: Ulinulin.com.

Timur Lawu adalah komunitas Nirlaba yang bergerak dalam bidang penyadaran serta penguatan identitas kebudayaan, sejarah, lingkungan, dan sosial.

Tujuannya adalah menjaga kelestarian alam dan budaya yang ada di dalamnya untuk masa depan yang lebih baik. Komunitas itu didirikan alumni Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Bertempat di Auditorium Museum 10 November di Jalan Pahlawan Kota Surabaya, komunitas tersebut mengadakan kegiatan bertema ‘Lokakarya Visualisasi Sejarah’.

Sejumlah pakar sejarah dihadirkan. Misalnya, Ikhsan Rosyid, sejarawan Unair; Rojil Nugroho Bayu Aji, sejarawan Unesa; Ayos Purwoaji, penulis dan kurator; serta Yogi Ishabib videografer dan filmaker.

Kegiatan itu dihadiri 39 peserta dari berbagai macam latar belakang. Di antaranya, pelajar, mahasiswa, karyawan, peneliti, dan pegiat kebudayaan.

Sebelum memulai kegiatan, Ardi selaku anggota komunitas mengajak seluruh peserta mengelilingi Museum Tugu Pahlawan. Hal itu bertujuan peserta memndapatkan gambaran maket, patung, dan infografis tentang sejarah di Surabaya.

”(Sambil menunjuk gambar) Ini Oude Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (Rumah Sakit Simpang, Red) sebuah rumah sakit yang paling tua di Surabaya. Pada tahun 1945, pernah menjadi saksi bisu pertempuran 10 November,” katanya, melalui PIH Unair.

Berikutnya, dalam sambutannya, Rian salah seorang founder (pendiri) komunitas tersebut mengatakan banyak yang menganggap sejarah saat ini sangat membosankan. Dengan mengikuti kegiatan ini, pandangan tersebut diharapkan bisa sedikit berubah.

”Sekaligus membantu ilmu kita untuk bisa menyesuaikannya dengan zaman. Agar sejarah tidak lagi membosankan dan menarik untuk semua khalayak,” tuturnya.

Acara dilanjutkan dengan materi yang disampaikan Ikhsan Rosyid. Dosen mata kuliah pengantar teknologi infomasi itu memberikan paparan berjudul ‘Pentingnya Visualisasi Sejarah’.

Bagi dia, sejarah tidak hanya mengenai sebuah peristiwa yang direkonstruksi menjadi sebuah tulisan. Namun, sejarah juga ditujukan untuk bisa digambarkan melalui media visual.

”Hari ini kita akan belajar bagaimana output (luaran, Red) sejarah bukan lagi tulisan. Akan tetapi visual. Dengan syarat, tetap menggunakan metode sejarah seperti heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), interpretasi (penulisan), dan historiografi (penulisan sejarah),” ungkapnya.

Di sisi lain, memberikan materi berjudul ‘Memasyarakatkan Sejarah Melalui Visualisasi Sejarah’, Rojil menjelaskan tantangan sejarah pada masa depan.

Meliputi minat dan ketertarikan terhadap sejarah; perkembangan serta kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi; serta menjadikan sejarah menjadi sebuah kajian akademis dan media edukasi yang menyenangkan bagi siapa saja.

Menurut Rojil, bentuk visualisasi sejarah terbagi menjadi tiga hal. Yakni, film (movie) yang merupakan serangkaian gambar diam, yang ketika ditampilkan pada layar akan menciptakan ilusi gambar bergerak.

Soal itu, Rojil membaginya lagi menjadi dua macam. Yaitu, film dokumenter yang mengisahkan kehidupan seseorang dan kejadian nyata serta film sejarah yang merekonstruksi peristiwa sejarah yang syarat akan perdebatan objektif dan subjektif.

Kemudian, fotografi, yakni suatu proses atau metode menghasilkan gambar atau foto dari objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut di media yang peka cahaya. Dan, terakhir adalah infografik. Yakni, representasi visual informasi atau data atau ilmu pengetahuan secara grafis dengan keterangan gambar yang singkat dan jelas.

Sementara itu, di temui pada sela-sela acara, Yehuda Abiel mengungkapkan sangat senang dan turut mendukung kegiatan tersebut. Bagi dia, mengemas sejarah Indonesia agar bisa dikonsumsi Kids Jaman Now (pemuda sekarang) perlu didorong. Sebab, sejarah sangat penting.

”Contohnya kalau bilang NKRI harga mati, kita tidak harus ikut berperang, tapi mengikuti kegiatan seperti ini. Hal itu merupakan salah satu wujud nyata kita dalam merealisasikan anggapan tersebut,” ujar staf perpustakaan di salah satu kampus swasta di Surabaya itu.

Perlu diketahui, acara De Grote Postweg tersebut adalah serangkaian kegiatan Komunitas Timur Lawu kepada masyarakat untuk mengenalkan warisan budaya dan sejarah di sepanjang Jalan Pos Daendels Jawa Timur.

Kegiatannya, antara lain, Lokakarya Visualisasi Sejarah pada Minggu (29/7); Jelajah Sejarah Jalan Pos Pantai Utara Jawa Timur Sabtu–Minggu (11–12/8); Lomba Fotografi dan Video Rabu–Jum’at (1–3/8); Pameran Foto dan Video Sabtu–Sabtu (6–13/10); dan Seminar Sejarah Kamis (15/11). Acara itu didanai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (sak)

ITS Bakal Hidupkan Budaya Maritim Nusantara

foto
Dr R Cecep Eka Permana saat menyampaikan perkembangan peradaban maritim Nusantara Pra Majapahit. Foto: Humas ITS.

Bermaksud merekonstruksi ulang kebudayaan maritim nusantara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berencana dirikan Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUI) yang terkait dengan budaya kemaritiman Indonesia. Hal ini selaras dengan keinginan bangsa Indonesia untuk membangun kembali nilai kemaritiman.

Pembahasan ini sempat tercuat dalam Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas yang digelar oleh Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS di Ruang Sidang Rektorat ITS, pekan lalu.

Sejak dahulu, Indonesia memang dikenal sebagai negara maritim yang hebat. Bahkan, transportasi air memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia pada masa tersebut.

Terkait hal tersebut, PSKBPI LPPM ITS sempat melakukan penelitian peninggalan kerajaan majapahit tentang budaya kemaritiman yang ditemukan di Sidoarjo. Penemuan ini berupa candi di tepian Kali Brantas.

Menurut Dr Ir Amien Widodo M Si, Ketua Kelompok Kajian Bencana PSKBPI, penelitian ini diharapkan dapat merekonstruksi ulang budaya maritim yang pernah ada di Indonesia, utamanya di tanah Jawa. “Untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, Indonesia harus membangun budaya maritim ini,” tuturnya, seperti dilansir Humas ITS.

Tidak hanya di tepian kali Brantas, penelitian ini juga dilaksanakan di sepanjang tepian Kali Porong. Ia menuturkan, penelitian ini akan memberi gambaran besar budaya maritim yang ada di Indonesia pada jaman dahulu. Letak garis pantai, pelabuhan, dan bentuk kapal menjadi pokok bahasan yang nantinya akan dikembangkan.

“Penelitian yang ada tidak hanya sebatas Surabaya-Sidoarjo saja, persebarannya bahkan dapat mencapai Blitar, ujungnya di Wonorejo,” papar pria paruh baya ini. Harapannya, dengan mengetahui persebaran budaya maritim tersebut, ITS mampu membuat gambaran (virtualisasi) kebudayaan maritim yang pernah ada di Indonesia.

“Tidak hanya dari kerajaan Majapahit saja, kerajaan lain seperti Medang, Kediri, Singosari juga akan ditelisik sejarahnya,” sambungnya. Amien menuturkan, ITS akan secara serius menggarap penelitian melalui terbentuknya PUI. Dengan adanya PUI tersebut, ITS berharap bisa membuat sebuah museum sebagai bahan edukasi bagi generasi saat ini.

Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas ini menghadirkan Staf Ahli Kemaritiman Sosio-Antropologi Dr Ir Tukul Rameyo MT, arkeolog dari Universitas Indonesia Dr Ir Cecep Eka Permana, arkeolog Universitas Negeri Malang Drs Dwi Cahyono M Si, wakil dari komunitas Laskar Nusantara 6 Tri Kiswono Hadi, dan dosen Teknik Geofisika ITS Firman Syaifuddin ST MT.

Amien menuturkan, narasumber dalam diskusi ini adalah komponen pendukung dalam penelitian yang berlangsung sejak tahun 2017. “Kami hanya mampu mempelajari bentuk fisiknya, untuk sejarahnya, butuh ahli arkeologi,” pungkasnya. Ia menganggap, penelitian perihal budaya memang butuh banyak sumber. (ita)

Kemendikbud Petakan 652 Bahasa Daerah di Indonesia

foto
Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah. Foto: Istimewa.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud) telah memetakan dan memverifikasi 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut tidak termasuk dialek dan subdialek.

“Dari tahun 1991 sampai 2017 kami telah memetakan dan memverifikasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Jumlahnya saat ini 652 bahasa daerah, yang tentunya bisa berubah seiring waktu,” kata Dadang Sunendar, dalam acara Lokakarya Pengelolaan Laman dan Media Sosial di Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Senin (23/7/2018).

Penghitungan jumlah itu diperoleh dari hasil verifikasi dan validasi data di 2.452 daerah pengamatan. Bahasa-bahasa di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat belum semua teridentifikasi.

Dadang Sunendar seperti dikutip laman Kemendikbud.go.id, mengatakan salah satu tugas Badan Bahasa Kemendikbud adalah melindungi dan melestarikan bahasa-bahasa daerah tersebut.

Dikutip dari laman Badan Bahasa, beberapa lembaga internasional pun telah ikut memetakan bahasa di Indonesia.

Summer Institute of Linguistics (SIL) Internasional dengan proyek Ethnologue dan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) dengan program Atlas of the World’s Languages in Danger adalah contohnya.

Namun, karena perbedaan metodologi, jumlah bahasa hasil pemetaan lembaga-lembaga itu pun berbeda-beda.

Summer Institute of Linguistics menyebut jumlah bahasa di Indonesia sebanyak 719 bahasa daerah dan 707 di antaranya masih aktif dituturkan. Sementara itu, Unesco baru mencatatkan 143 bahasa daerah di Indonesia berdasarkan status vitalitas atau daya hidup bahasa. (sak)

Mengusir Seram di Museum Mpu Purwa Malang

foto
Museum Mpu Purwa dilengkapi teknologi QR Code. Foto: Liputan6.com/Zainul Arifin.

Museum dengan sebagian besar koleksinya berupa artefak maupun arca tak selalu tampak suram. Museum bisa dikemas lebih milenial, dilengkapi teknologi modern. Penampilan seperti itulah yang kini bisa dijumpai di Museum Mpu Purwa di Kota Malang, Jawa Timur.

Salah satu museum di Kota Malang ini terlihat cerah dengan tata cahaya, memupus kesan suram. Museum Mpu Purwa mengoleksi 136 artefak sampai arca. Meski hanya 56 koleksi masterpiece yang dipajang. Koleksi itu peninggalan masa Kerajaan Kanjuruhan hingga Majapahit.

Banyak koleksi bernilai sejarah tinggi yang hanya bisa dijumpai di Museum Mpu Purwa. Misalnya, sebuah arca ganesha mengendarai tikus. Arca berukuran sekitar 40 cm x 60 cm ini hanya satu–satunya yang ditemukan di Indonesia. Hanya di India arca serupa bisa dijumpai.

Pengunjung, seperti dilaporkan Liputan6.com, dimudahkan untuk mendapat informasi tiap koleksi itu meski tanpa pemandu. Sebab museum menggunakan teknologi QR Code atau sistem scaning. Pengunjung bisa mendapat informasi berbentuk digital sekaligus langsung mengunduhnya di telepon cerdas miliknya.

Di dalam museum seluas 1.200 meter persegi ini juga terdapat ruang multi media. Pengunjung bisa menikmati film tentang sejarah Kerajaan Singasari yang diputar di ruangan ini. Seluruh fasilitas itu disediakan agar kita bisa menikmati museum dengan cara berbeda.

“Museum ini sangat bagus untuk sarana pendidikan dan rekreasi. Bisa mengembangkan imajisasi dan kreatifitas pengunjung,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi saat meresmikan Museum Mpu Purwa di Malang, Sabtu (18/7) lalu.

Keberadaan museum ini cukup penting. Apalagi di Malang kerap ditemukan berbagai peninggalan purbakala. Dengan segala kekayaan sejarah masa lalu, masih banyak peninggalan purbakala yang belum dieksplorasi di wilayah ini.

Sejak 1980-2000, Gedung Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa berpindah-pindah tempat. Dari Kantor DPU Jl. Halmahera, Tawira, Rumah Makan Cahyaningrat hingga Perpustakaan Umum Kota Malang.

Tahun 2000 Perpustakaan Umum direnovasi, dan Pemkot Malang memberikan gedung bekas SDN 2 Mojolangu sebagai tempat penyimpanan benda cagar budaya dengan nama Balai Penyelamatan Cagar Budaya.

Pegiat seni dan budaya di Kota Malang diharapkan juga memanfaatkan museum ini untuk berbagai kepentingan. Mulai kegiatan ilmiah hingga pertunjukan untuk promosi seni dan budaya. Agar semua produk budaya tak hanya tersimpan di museum atau jadi dokumen semata.

“Ke depan harus banyak museum yang ditata dengan tema tertentu. Akan ada alokasi anggaran khusus untuk museum, apalagi sekarang sudah ada perundangan kemajuan budaya,” ujar Muhadjir. (ist)

Artefak Menakjubkan dari Bangkai Kapal Laut Jawa

foto
Model bangkai kapal laut Jawa dimasa kejayaannya. Foto: The Field Museum/John Weinstein.

Menurut sebuah penelitian baru dari sebuah bangkai kapal laut jawa yang ditemukan oleh nelayan pada tahun 1980-an adalah sebuah kapal dagang yang diduga telah tenggelam pada akhir tahun 1200-an lebih mungkin tenggelam pada paruh kedua tahun 1100-an.

Salah satu kunci yang menunjukkan bahwa bangkai kapal laut jawa tersebut berasal dari tahun tersebut adalah adanya tulisan dibagian bawah kotak keramik yang ditemukan di dalam reruntuhan.

Seperti ditulis Blog Mahessa83, prasasti itu menyebutkan Jianning Fu, sebuah wilayah administratif di China selatan yang hanya digunakan dari tahun 1162 hingga 1278 dan setelah tahun 1278, wilayah ini diubah menjadi Jianning Lu.

Sebuah mangkuk keramik berglasir memberikan petunjuk lain bahwa Bangkai Kapal Laut Jawa yang karam lebih awal dari yang diyakini sebelumnya. Mangkuk jenis ini juga ditemukan di Sarawak, Malaysia yang berasal dari suatu tempat dari abad ke-10 hingga abad ke-12.

Beberapa mangkuk keramik Cina dari Bangkai Kapal Laut Jawa kini telah dibersihkan dan dimiliki oleh Field Museum. Untuk langkah berikutnya para peneliti akan menganalisis unsur-unsur dalam keramik untuk membandingkannya dengan situs arkeologi di China.

Tujuannya adalah untuk mengetahui dimana keramik-keramik ini di produksi dan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang jaringan perdagangan yang menghubungkannya dengan Asia Tenggara pada tahun 1100-an.

Dengan menggunakan metode mutakhir, para peneliti radiokarbon yang dilakukan pada resin aromatik yang ditemukan di kargo kapal karam.

Ketika kulit luar yang mengkilap terkelupas, resin berwarna gelap ditemukan dibawahnya masih menyimpan bau yang samar bahkan setelah berabad-abad tenggelam. Penanggalan radiokarbon memberikan bukti lebih lanjut bahwa bangkai kapal laut Jawa tenggelam sebelum tahun 1200-an.

Diantara muatan yang terdapat di Bangkal Kapal Laut Jawa ini ada sekitar 16 buah gading gajah yang dua diantaranya telah di uji radiokarbon.

Tanggal-tanggal pada gading gajah ini juga menunjukkan waktu yang lebih awal untuk kapal yang karam ini. Para peneliti juga berencana akan menguji urutan DNA gading gajah untuk mencari tahu dari mana artefak ini berasal.

Beberapa dari banyak mangkuk keramik yang ditemukan di Bangkai Kapal Laut Jawa di foto di dasar lautan. Bangkai kapal ini diselamatkan pada tahun 1996 oleh perusahaan swasta Pasific Sea Resources.

Perusahaan di diwajibkan untuk menyerahkan setengah artefak yang terdapat pada bangkai kapal kepada pemerintah Indonesia. Sementara setengahnya lagi secara suka rela disumbangkan ke Chicago’s Field Museum untuk memberikan tampilan yang lebih lengkap pada kecelakaan dari era Asia Tenggara.

Sementara tempat penyimpanan yang ditemukan di Bangkai Kapal Laut Jawa seperti Guci pada gambar di atas, menyimpan barang-barang yang mudah rusak seperti acar sayuran, rempah-rempah, daun teh atau kecap ikan.

Selain keramik, barang tahan lama yang terdapat di bangkai kapal adalah gading gajah dan resin. Bangkai Kapal Laut Jawa juga membawa sekitar 200 ton barang besi cor. (ist)

Warga Mojokerto Temukan Benda Peninggalan Majapahit

foto
Warga menunjukkan benda yang diduga peninggalan Majapahit. Foto: Antaranews.com.

Warga Desa Tegalsari, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto menemukan benda-benda yang diduga sebagai benda purbakala peninggalan situs Kerajaan Majapahit, saat menggali tanah yang akan digunakan untuk resapan tanah.

Salah seorang warga Wahyudin seperti dikutip Antaranews mengatakan, saat itu dirinya akan menggali lubang yang akan digunakan untuk resapan air di depan rumahnya, tetapi pada kedalaman sekitar tiga meter dirinya menemukan benda-benda yang diduga sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit.

“Saya sendiri kurang mengerti seperti fungsi benda tersebut. Bentuknya melingkar dengan diameter sekitar 75 centimeter dengan ketinggian sekitar 50 centimeter serta memiliki ketebalan sekitar 3 centimeter,” katanya saat dikonfirmasi di Mojokerto.

Wahyudin mengemukakan, benda-benda tersebut jumlahnya tidak satu karena setelah terus dilakukan penggalian kembali ditemukan benda sejenis yang berada di bawahnya.

“Kami meyakini di dalam lubang yang sedang digali itu masih banyak tersimpan benda-benda sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit,” katanya.

Bahkan, kata dia, sejak semalam warga yang mulai berdatangan untuk melihat juga turut membantu untuk melakukan penggalian lagi di lubang yang sama.

“Dan memang terbukti, kami kembali menemukan kembali benda serupa sebanyak tiga buah. Namun, untuk yang kedua sampai keempat ketinggiannya hanya sekitar 30 centimeter, saja,” kata Wahyudin.

Selama proses penggalian itu, lanjut dia, pihaknya juga menemukan beberapa serpihan batu yang mungkin juga masih manjadi satu rangkaian penemuan benda-benda purbakala itu.

“Kami juga melaporkan kejadian penemuan benda-benda ini kepada pihak pemerintah desa untuk selanjutnya dilaporkan kepada pihak lainnya,” katanya.

Saat ini, di lokasi penemuan sudah banyak didatangi warga yang ingin melihat dari dekat perihal penemuan benda-benda tersebut. (ant)

Ingat: 30 Juni Puncak Yadnya Kasada 2018

foto
Prosesi Yadna kasada di Gunung Bromo. Foto: lampungpro.com.

Perayaan Yadnya Kasada tahun ini jatuh pada Sabtu (30/6) mendatang. Itu, sesuai dengan kalender masyarakat Hindu Suku Tengger.

Untuk tahun ini, Yadnya Kasada dipastikan bakal diwarnai prosesi pelantikan Dukun Tengger. Hal itu diungkapkan langsung oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang S.

Menurut Bambang, pihaknya telah lama membuka pendaftaran calon dukun. “Tahun ini ada pelantikan dukun. Yang daftar masih satu orang,” ujarnya saat dikonfirmasi Jawapos.com, Jumat (8/6).

Bambang mengatakan, sejatinya pembukaan pendaftaran dukun telah dibuka sejak penetapan perayaan Yadnya Kasada. Namun, meskipun sejak lama sudah dibuka, masih sedikit yang mendaftar.

Hal itu bukan berarti tidak ada peminat untuk mendaftar. Namun, disebutkan Bambang, lebih dikarenakan dukun di daerahnya masih ada. Sehingga, tidak membutuhkan pengganti.

“Kalau satu itu, ya pasti di daerahnya tidak ada dukun yang akan diganti. Jadi, tidak memerlukan pendaftaran. Itu seperti tahun lalu, kan setiap desa masih memiliki dukun. Jadi, tidak ada pelantikan dukun pada Kasada tahun lalu,” tandasnya.

Lebih lanjut, untuk menjadi dukun salah satunya harus hafal terhadap sejumlah mantra. Itu, nanti akan diuji saat pelaksanaan Yadnya Kasada.

Jika calon dukun itu hafal melafalkan mantra secara fasih, maka akan diangkat menjadi dukun di daerahnya. “Untuk dukun itu ada ujiannya. Ujiannya salah satunya yaitu menghafal mantra pada saat pelaksanaan Kasada nanti,” terangnya.

Khusus calon dukun pandita juga harus memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya, harus lulus ujian dukun atau mulunen, punya guru nabe, mengusai mantra, serta beragama Hindu.

Sedangkan untuk syarat administrasi, yakni sehat jasmani, rohani, tidak sedang dicabut haknya. Serta tidak sedang berurusan dengan hukum. “Usia minimal 25 tahun dan yang terakhir tidak melakukan mo limo (perbuatan yang dilarang),” jelasnya. (jp)

Rangkaian Ritual Yadna Kasada 2018:
– 24 Juni – Nancep Karya
– 25 Juni – Semeninga Medhak Tirta (Goa Widodaren, Ranu Pani, Watu Klosot, Air Terjun Madakaripura)
– 26 Juni – Pemasangan Penjor dan Umbul-Umbul Upoacara – Ngaturi Suguhan di 25 Punden Utama Tengger
– 28 Juni – Pembejian (Melasti)
– 29 Juni – Piodalan / Pawedalan Pura Leluhur Poten Bromo – Resepsi Yadna Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari Kec Sukapura Kab Probolinggo dan Pendopo Agung Desa Wonokitri Kec Tosari Kab Pasuruan
– 30 Juni – (Pukul 01.00 WIB ) Pemberangkatan Sesaji dan Ongkek dari 4 Pintu Masuk Laut Pasir Tengger yaitu Cemara Lawang (Prob), Pakis Bincil (Pas), Jemplang (Mlg) dan Puncak Sangalikur / Jantur (Lmj)
– 30 Juni – (Pukul 03.00 WIB) :
a. Puncak Karya Yadna Kasada di Utama Mandala Pura Luhur Poten Bromo
b. Puja Stuti Dukun Pandita Tengger
c. Pembacaan Sejarah oleh Lurah Dukun
d. Mulunen / Dhiksa Widhi
e. Mekakat
f. Melarung Sesaji Ongkek ke Kawah Gunung Bromo
g. Sukun Pandhita Tengger Melayani Umat
i. Pujan Kasada