Ubaya Hadirkan Peradaban Multikultural Majapahit

foto
Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD saat peresmian Museum Temporary of Ubaya. Foto: Suarasurabaya.net.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 lalu, Universitas Surabaya (Ubaya) meresmikan museum temporary of Ubaya yang bekerjasama dengan Museum Gubug Wayang Yensen di gedung Perpustakaan Ubaya.

Mengusung konsep ‘Spirit of Majapahit’, Museum Temporary of Ubaya ingin mengajak kembali masyarakat maupun mahasiswa untuk melihat peradaban Indonesia yang pernah berjaya pada masa kerajaan Majapahit dengan multikultural yang tumbuh dalam kerajaan tersebut.

Diungkapkan Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Cyntia Handy bahwa Kerajaan Majapahit dulunya dikenal sebagai kerajaan yang menyatukan Nusantara. Pihaknya menilai jika sudah seharusnya generasi muda maupun masyarakat luas belajar dari nenek moyang yang sudah memiliki keberagaman budaya maupun agama sejak dulu.

“Kerajaan Majapahit banyak sekali keberagamannya mulai dari India, China, Persia bahkan percampuran yang akhirnya membentuk suatu identitas itu. Mereka bahkan memiliki jangkauan wilayah lebih luas karena mereka memiliki ‘Spirit of Majapahit’ yaitu berbudaya, berbangsa dan beragama,” paparnya, seperti dikutip Harian Bhirawa.

Sehingga, lanjut dia mereka memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sekaligus tentu saja mereka mempunyai arahan dari Tuhan yang Maha Esa.

Cynthia Handy yang juga Mahasiswa Psikologi Ubaya ini juga menilai jika apa yang dijaga kerajaan Majapahit waktu itu, sangat linier dengan visi misi Ubaya saat ini. Hal tersebut bisa terlihat dari tag line Ubaya yang sangat menjaga multikultural.

“Dengan adanya Spirit of Majapahit dengan berbagai keberagaman dari Ubaya ini tentu menjadi ikatan yang kuat bagi warga Ubaya,” imbuhnya

Selain itu, tambahnya pihaknya juga ingin mengajak mahasiswa mempunyai spirit kesatuan dan persatuan yang tinggi sehingga bersinergi untuk berinovasi dan berkreasi untuk kedepannya.

Dalam Museum Temporary of Ubaya, mereka menampilkan sebanyak 774 koleksi terakota dari masa Kerajaan Majapahit. Terakota yang terpajang menurut panitia berusia 500 hingga 700 tahun. Selain itu, terakota tersebut di temukan sekitar abad ke 14 dan 15.

“Kenapa terakota? Karena ini adalah pondasi awal mula kita menyelamatkan terakota tertua peninggalan Majapahit. Setelah itu kita akan bergerak ke arah selanjutnya, yaitu wayang, topeng dan sebagainya,” urai Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia.

Ia berharap dengan adanya museum temporary of Ubaya yang mengusung ‘Spirit of Majapahit’ bisa menjadi e-memory bagi generasi muda bangsa maupun masyarakat, untum menjaga keharmonisan dan kesatuan NKRI. “Dengan multikultural yang dimiliki Ubaya salah satunya, saya berharap Ubaya bisa menjadi batu oenhuru untuk menjaga multikuktural bangsa,” pungkasnya.

Ditemui di tempat yang sama, Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD menuturkan jika peresmian museum temporary of Ubaya sebagai bentuk dari kebijakan pemerintah tentang Pengembangan karakter pendidikan.

“Salah satu upaya yang kita lakukan adalah dengan mempelajari budaya asli bangsa Indonesia. Kita bisa belajar dari sejarah bangsa dalam pengembangan karakter ini,” sahutnya.

Prof Joniarto Parung berpesan bahwa setiap masyarakat dari berbagai kalangan harus menghargai budaya asli bangsa Indonesia.

Pihaknya menghimbau agar masyarakat juga belajar mengenai apa yang diperolehnya saat ini yang merupakan hasil dari alkulturasi berbagai budaya yang dimiliki bangsa.

“Jaman dulu bangsa kita aktif berinteraksi dengan berbagai bangsa yang ada di dunia. Kita harus terbuka, hati dan pikiran kita untuk melihat perubahan dunia dan menjalin kerjasama dengan mereka,” tandasnya.

Secara keseluruhan terdapat 774 terakota yang ada di Museum Temporary of Ubaya. Sebanyak 767 terakota asli berasal dari zaman Kerajaan Majapahit.

Sedangkan 7 terakota merupakan hasil replika. Meskipun hanya sebuah replika, namun proses pembuatannya dibuat sama persis oleh pengrajin batu bara yang disebut Linggan dengan terakota yang asli.

Selain menampilkan berbagai artefak, museum temporary of Ubaya juga mendatangkan para Linggan asal Trowulan yang disebut merupakan pusat Kerajaan Majapahit pada zaman dahulu.

Pada Museum temporary of Ubaya, para Linggan menunjukkan keahliannya sebagai pengarajin batu bara dalam mengukir logo Universitas Surabaya (Ubaya)

Adapun berbagai bentuk terakota yang pajang dalam museum temporary of Ubaya adalah kendi air, celengan babi, koin-koin, pondasi sumur, tungku, gerabah, candi, hiasan rumah dan lainnya.

“Harapan saya, museum ini kan seperti media bagi kita untuk refleksi, bagaimana sih keadaan yang terjadi saat masa lalu. Melalui ini kita bisa belajar bersama dan kemudian melestarikan sejarah yang ada. Ubaya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia sama-sama mencari jati diri kita dahulu seperti apa,” ulas Ketua Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Ubaya Aluisius Hery.

Rajut Kembali Multikultural
Kondisi Indonesia yang sedang diguncang isu multikultural secara terus menerus, dinilai beberapa kalangan mengalami penurunan dalam peradaban bangsa.

Penilaian tersebut salah satunya datang dari ketua tim arkeolog Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Christiawan. Menurut Christiawan peradaban bangsa saat ini mengalami penurunan dari berbagai aspek. Misalnya dalam kehidupan beragama, sosial masyarakat, sosial politik dan sebagainya

“Kalau kita membangun mental kita, dan merubah paradigma kita dalam menerima keadaan multikultural bangsa dan mau belajar tentang peradaban bangsa waktu itu, perubahan akan terjadi,” ungkapnya.

Di mana, lanjut dia peradaban bangsa pada masa itu sangat menjaga keseimbangan antar manusia dengan alam.

“Prinsip mengelola alam dan prinsip peradaban sangat dijunjung pada waktu itu. Konteksnya selalu dikembalikan ke alam. Bagaimana ada prosesi yang diperuntukkan oleh alam. Oleh karenanya keseimbangan antara manusia dengan alam, itu yang perlu kita tanamkan pada generasi saat ini,” imbuhnya.

Salah satu media tersebut, katanya adalah artefak. Di mana dalam sebuah artefak masyarakat bisa belajar dan memahami tentang keberagaman bangsa Indonesia pada waktu peradaban kerajaan maupun manusia purba.

Christiawan menjelaskan bahwa banyak hal yang diambil dari sebuah artefak, baik dari sisi sejarah maupun arsitektural. “Beberapa artefak justru menunjukkan harmoni pada abad itu,” tambahnya.

Sebagai arkeolog Christiawan menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia perlu belajar dari ‘Spirit Majapahit’ untuk mengembalikan multikultural yang sudah mulai hilang dalam kehidupan masyarakat.

“Kita bisa belajar dari spirit Majapahit yang menunjukkan semangat dan energi multikultural pada zaman dulu yang cukup substansi dan sederhana terutama dalam perbedaan beragama,” pungkasnya. (bhi)

Artefak Kalpataru Sunan Bonang, Simbol Kurukunan

foto
Kalpataru peninggalan Sunan Bonang yang berada di Museum Kembang Putih. Foto: SuaraBanyuurip.com/Ali Imron.

Raden Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, bukanlah sosok ulama biasa. Pada masa hidupnya, Sunan Bonang dikenal sebagai pecinta seluruh umat. Tidak hanya dari kaumnya, melain juga mereka yang berbeda keyakinan dengannya.

Sunan Bonang merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, yang dilahirkan pada tahun 1465 Masehi. Salah satu peninggalan yang tak patut lagi diragukan keabsahannya yakni keberadaan Kalpataru. Benda ini menujukan keberagaman yang diajarkan selama hidupnya.

Artefak ini menjadi bukti sejarah yang sudah pernah diuji dengan Karbon-14. Kayu berukir dengan empat cabang pohon ini terbukti dibuat pada masa kehidupan Sunan Bonang, pada rentang waktu 1445 sampai 1525. Benda tersebut kini disimpan di Museum Kambang Putih Tuban.

Secara harfiah Kalpataru berarti pohon keinginan atau pengharapan. Bisa juga Kalpataru diartikan sebagai pohon yang dapat mengabulkan segala keinginan manusia yang memujanya.

Pohon berukir ini merupakan penggambaran kerukunan umat beragama pada masa kehidupan sang wali. Islam, Hindu, Budha, dan Kristen, hidup dalam satu lingkungan damai. Tetap memiliki satu tujuan utama yang sama, yaitu menyembah dzat yang satu, Tuhan Maha Esa.

Pengunjung memadati makam waliullah yang hidup pada masa 1445-an, siang itu. Makam yang dilindungi cungkup kayu berukir itu, menjadi magnet bagi pengunjung. Tak jarang dari mereka yang berasal dari Jawa Timur bahkan luar pulau Jawa.

Sunan Bonang, begitu para peziarah mengenalnya. Salah satu dari sembilan wali Allah yang diperintah untuk menyebarkan syiar Islam di bumi Ronggolawe.

Nuansa multi kultural jelas terlihat sejak pertama kali memasuki area makam. Arsitektur yang digunakan dalam pembangunan makam, seperti halnya pembangunan pura atau tempat peribadatan agama Hindu.

Bangunan ini memiliki tiga halaman utama, dan masing-masing halaman dipisahkan gapura Paduraksa. Bangunan yang menyerupai candi ini merupakan ciri khas bangunan lama pada masa Hindu-Budha.

Sementara pada halaman kedua terletak Masjid Astana dan dipisahkan oleh gapura serupa. Bedanya, pada gapura III yang memisahkan halaman kedua dan halaman ketiga terdapat hiasan dinding berupa keramik.

Keramik yang menempel di dinding ini diperkirakan benda peninggalan jauh setelah masa Sunan Bonang, atau pada masa kependudukan Inggris di tanah di Jawa. Tidak ada catatan pasti siapa yang menempel keramik tersebut di dinding gapura III.

Pada Gapura III pun terdapat Rana yang berfungsi sebagai penghalang pandang. Bangunan semacam ini semakin mencolok mengadopsi bangunan pura.

Pada halaman terakhir, makam sang Wali Allah megah berdiri didampingi empat makam pemangku tahta Kabupaten Tuban pada masa itu. Mereka adalah Adipati Kyai Ageng Gegilang, Adipati Kyai Ageng Botoabang, Adipati Kyai Ageng Ngraseh, dan Adipati Balewod.

Selain itu, benda-benda yang ditemukan di sekitar makam, semakin menguatkan multi kultural di atas tanah yang diberkati sang Wali Allah ini.

Seperti dilaporkan Kumparan.com, Koordinator Juru Pelihara (Jupel) Badan Pelindungan Cagar Budaya (BPCB), Endang Sri Wuryani, saat dijumpai di kantornya, menjelaskan banyak benda-benda cagar budaya yang ditemukan di sekitar area makam.

Beberapa benda ditemukan di sekitar makam yang masuk dalam lindungan BPCB antara lain Rana Gapura III, Gapura III, Pendapa rante barat, Pendapa Rante Timur, Gapura II, Pendapa Barat, Pendapa Timur, dan Gapura I.

Terkait temuan lepas di komplek makam meliputi, Lapik Arca, Batu Dakon, dan dua buah Lingga tanpa pasangannya. Ketiga benda ini tentu merupakan bagian dari alat upacara.

Ada pula 20 fragmen bangunan berbeda, fragmen bangunan berelief, fragmen batu bergores kompleks, dan umpak. Terkahir ditemukan sebuah bak sebagai wadah air.

Sekian banyak artefak yang ditemukan di area makam menunjukkan betapa Sunan Bonang mau menerima perbedaan antar sesama dalam memeluk keyakinan, namun hanya Kalpataru lah satu-satunya benda yang menguatkan keberagaman yang diajarkan oleh Sunan Bonang.

Di lain sisi, bagian Bimbingan dan Edukasi Museum Kambang Putih, Rony Firman Firdaus, mengatakan, tidak semua benda yang ditemukan di sekitar area adalah peninggalan SunanBonang.

Beberapa benda yang ditemukan di area makam memang jauh sebelum ataupun sesudah masa kehidupan sang wali. Justru inilah yang memunculkan warna historis yang indah dalam keberagaman dalam ajaran beliau.

Seperti halnya Lingga-Yoni yang ditemukan di area makam. Kalau benda tersebut dianggap peninggalan Sunan Bonang tentu salah kaprah. Dalam agama Hindu, Lingga yang menyerupai alat kelamin lelaki itu merupakan perwujudan dari Dewa Siwa.

Sementara pasangannya, Yoni adalah bentuk perwujudan Dewi Pavarti atau lebih dikenal dengan sebutan Dewi Sati. “Sebagai tradisi dalam agama tersebut Lingga-Yoni digunakan sebagai tempat menaruh sesaji pada acara keagamaan,” ungkap pria yang hobi membaca buku ini.

Menurut angka tahunnya, setelah dites Karbon 14 kalpatarulah yang mendekati masa hidup beliau. Jadi bisa dipastikan peninggalan Sunan Bonang adalah pohon harapan.

Melalui keberagaman yang ditemukan di area makam Sunan Bonang, dapat dikatakan jika beliau adalah seorang ulama yang pluralis. Artinya orang yang mau menerima keberadan yang lainnya. (aim)

Napak Tilas, Puti Ingatkan Pesan Bung Karno

foto
Puti Guntur Soekarno saat mengunjungi kawasan Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Foto: Istimewa.

Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Puti Guntur Soekarno napak tilas di Mojokerto. Cucu Soekarno ini mengingatkan supaya generasi muda tidak lupa terhadap sejarah-sejarah yang ada di Indonesia.

“Saya selalu ingat kata-kata Bung Karno, Jas Merah ‘jangan sekali-kali meninggalkan sejarah’. Itulah pesan beliau,” kata Puti dalam kunjungannya ke Mojokerto bersama rombongan, Minggu (27/5).

Puti menuturkan, dalam kunjungan ke Mojokerto memilik kesempatan untuk jalan-jalan melihat situs-situs Majapahit. Hal ini dilakukan sembari menunggu buka puasa yang dilakukan di Mojokerto.

Bagi Puti, Mojokerto memiliki nilai historis yang sangat luar biasa menuju berdirinya Indonesia. Negara Indonesia, ujar Puti merupakan negara yang unik dengan berbagai suku, etnis, bahasa yang merupakan tarikan kesejarahan yang tidak bisa dilupakan dahulu kala.

Nusantara Majapahit telah menancapkan dasar negara dengan adanya ‘sumpah amukti palapa’ yang diucapkan Gajah Mada. Sebuah sumpah kesetiaan yang dimiliki Gajah Mada untuk kerajaan Majapahit kala itu.

Dari sebuah sejarah itu, Bung Karno menarik ke dalam sebuah negara ke dalam Negara Indonesia. Keberadaan simbol-simbol Indonesia dan nilai-nlai yang terkandung didalam Pancasila sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, Majapahit.

Dimana nilai-nilai sudah tertuang dan tertulis didalam kitab ‘negarakertagama’. “Masa lalu merupakan kaca benggala masa depan. Indonesia mempunyai peradaban tinggi, buktinya Majapahit,” ujar Puti.

Majapahit, lanjut dia, merupakan negara maritim yang menguasai wilayah kelautan. Fakta ini kembali akan diwujudkan dengan menghidupkan Negara Indonesia sebagai negara Maritim. Kemaritiman ini nantinya akan membuat Indonesia semakin jaya, dan disegani negara-negara lain.

Indonesia ungkap Puti bak negara terpendam, ketika dipoles dengan baik maka negara ini akan bergeliat menjadi negara besar. Karena sejarah membuktikan bagaimana Majapahit mampu menjadi kerajaan besar yang sudah menguasai nusantara. “Seni dan budaya Indonesia juga sangat luar biasa. Tinggal bagaimana kita mempertahankan dan melestarikan seni dan budaya itu,” tuturnya.

Untuk itu, sebagai bentuk tanggung jawab bersama, para seniman dan tokoh budaya harus berupaya untuk terus melestarikan kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Karena seni dan kebudayaan merupakan warisan leluhur yang harus dipertahankan hingga penghabisan.

“Maka adalah tanggung jawab kewajiban kita semua para tokoh, seniman dalam menjaga seni budaya lokal dan kearifan. Ini pencerminan trisakti Bung Karno ke dalam tiga pembangunan karakter yang didasari kebudayaan Bangsa Indonesia,” ucap Puti. (arf)

Keindahan Budaya di ‘Blitar Goes to Los Angeles’

foto
Bupati Blitar Rijanto bersama Livi Zheng. Foto: Istimewa.

Blitar hanyalah salah satu kota kecil, yang terletak sekitar 167 kilometer barat daya Kota Surabaya, Jawa Timur di Indonesia. Namun, karena sejarahnya, potensi keindahan pariwisata, keragaman agama, dan budaya serta seninya, kabupaten ini dikenal hingga ke luar Indonesia. Bahkan, hingga Los Angeles, Amerika Serikat.

Melalui kemampuan sutradara berbakat Hollywood, Livi Zheng, yang berasal dari Blitar, sejarah, keindahan, keragaman agama, budaya dan seni kota yang dijuluki ‘1000 Candi’ itu, ditampilkan dalam sebuah karya film-nya berjudul ‘Blitar’.

Film yang mengangkat ‘Triangle Diamond’ atau tiga sudut pandang Berlian di kabupaten Blitar, yang terdiri dari Pantai Serang, Perkebunan Teh Sirah Kencong, juga Candi Penataran, premiernya ditayangkan di Los Angeles, Amerika Serikat, Rabu (2/5) malam pukul 19.00 waktu setempat.

Tayangan film ‘Blitar’ ini seperti dilaporkan Balipost.com, melengkapi sebuah konser, pentas seni dan budaya dari tim kesenian Pemerintah Kabupaten Blitar, yang bertajuk ‘Amazing Blitar’.

Tim kesenian Pemkab Blitar ini tidak hanya mementaskan seni dan budaya masyarakat setempat, tetapi juga membawa pengunjung dan penonton di LA, AS, seolah ikut dan merasakan ritual, estetika dan keindahan panorama serta penghormatan sebuah bangsa atas sejarah kota yang pernah ditinggalkan oleh bangsa asing yang pernah menduduki Blitar.

Secara khusus, konser, pentas seni dan film premiere ‘Blitar’ memiliki nilai tersendiri karena langsung dihadiri oleh Bupati Blitar, Drs Rijanto yang membawa tim keseniannya sebanyak 17 orang. Mereka langsung membawa ‘oleh-oleh’ kisah dari tanah perjuangan, ritual, keindahan dan estetika serta keragaman kultur dan budaya Blitar yang menjadi ciri sebuah wilayah.

Salah satu seni budaya itu berupa sejumlah tarian di antaranya Tari Emprak, Tarian Remo dan Tari Jaranan di antara sejumlah tarian yang akan ditampilkan dalam Amazing Blitar. Tari Emprak yang dibawakan secara kolosal sebelumnya tercatat pernah dipentaskan di Eropa.

Sedangkan Tari Jaranan biasanya ditampilkan sebagai bagian dari kegiatan ritual atau upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat. Tarian ini melambangkan jiwa yang tangguh.

Tari ini dilaksanakan sampai para penari dalam keadaan ‘trance’, berjalan dan berguling di atas pecahan kaca tanpa terluka sedikit pun. Tarian Remo merupakan tarian selamat datang yang menyambut kedatangan para tamu di awal acara.

Uniknya, konser, pentas seni dan film premiere ‘Amazing Blitar’ dilaksanakan tepat pada tanggal 2 Mei lalu, yang di Indonesia diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Pada tanggal tersebut, seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang terus berjuang dan memberdayakan bangsa Indonesia yang terbelakang akibat penjajahan kolonial untuk berpikir maju dan memiliki ilmu dan pengetahuan.

Kebetulan juga, Bupati Blitar Rijanto merupakan mantan Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten Blitar yang kemudian dipercaya menjadi Wakil Bupati, dan akhirnya menjadi Bupati Blitar.

Meskipun jauh dari Blitar, Livi dan Julia serta Bupati Rijanto ikut memberikan pendidikan mengenai sejarah dan seni mengenai sebuah kota bersejarah dan kaya dengan berbagai potensi alam, pariwisata dan seni budaya.

Kehadiran Bupati Blitar juga tak hanya sekadar menemani Tim Kesenian dan memimpin rombongan Pemkab Blitar ke LA, AS. Bupati Rijanto juga mendampingi Livi dan seorang bankir di AS, yang berasal dari Jawa Timur, Julia Gouw, menjadi dosen tamu di University of California Los Angeles (UCLA) bagian Asian Languages and Cultures.

Dalam kesempatan menjadi dosen mereka berbagi tentang keunggulan Blitar dan Indonesia, mulai dari potensi alam sampai potensi sumber daya manusianya.

Tak ketinggalan Livi Zheng juga menampilkan film garapannya yang berjudul ‘Blitar’. Mahasiswa yang diajarkannya itu berasal dari berbagai negara.

Saat sesi dialog, para mahasiswa sangat antusias mengetahui lebih jauh mengenai Blitar dan Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya berencana juga untuk berkunjung ke Blitar.

Selanjutnya, Bupati Rijanto dan Livi Zheng juga memenuhi undangan untuk menjadi narasumber di salah satu kelas musik ethnomusicology UCLA.

Topik pembahasan Livi dan Bupati adalah tentang kebudayaan dan kesenian Indonesia yang sebetulnya sudah mendunia. Contohnya, gamelan Indonesia sudah dipakai dalam film Star Trek, Avatar, dan Akira.

Konser, pentas seni dan film premiere Amazing Blitar juga semakin lengkap karena selain Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, juga hadir di LA, AS, mantan Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyo Dino Patti Djalal. Kedua tokoh ini bahkan mendukung Amazing Blitar dengan memberikan sambutan dan promosi.

Gubernur Anies yang pernah membuka premiere film Livi ‘Brush with Danger’ di Jakarta–film layar lebar Livi, yang masuk dalam seleksi nominasi Piala Oscar 2015– menyampaikan rasa bangganya atas karya tim kesenian Blitar.

Menurut Anies, pentas Amazing Blitar adalah salah satu upaya promosi budaya Indonesia di luar negeri yang sangat menakjubkan.

Ia berharap agar pentas dan premiere film ini bisa menjadi jembatan persahabatan antara Indonesia dan AS. Adapun Dino Patti Djalal yang merupakan Founder Indonesian Congress of Diaspora menyatakan bahwa Livi Zheng adalah salah satu sutradara favoritnya dan yakin bahwa penonton akan menikmati acara ‘Amazing Blitar’, termasuk film ‘Blitar’-nya.

Lebih jauh, acara ‘Amazing Blitar’ selain diisi dengan sejumlah tarian nusantara, yang menunjukan kekayaan budaya Indonesia dan sekaligus menunjukan Bhinneka Tunggal Ika atau Unity in Diversity, juga sambutan oleh Julia Gouw, selaku sponsor acara konser, pentas seni dan film premiere. Sambutan lainnya dilakukan oleh Konsul Jenderal RI di LA serta Bupati Rijanto. (balipost)

Tenda Rusak, Situs Pemukiman Majapahit Ditutup

foto
Tenda rusak membuat situs pemukiman Majapahit ditutup. Foto: Detikcom/Enggran Eko B.

Bangunan tenda raksasa yang menaungi situs pemukiman Majapahit di Museum Majapahit, Trowulan, Mojokerto rusak cukup parah. Akibatnya, para wisatawan tak bisa melihat situs tersebut.

Selain itu, struktur bata kuno di situs ini terancam rusak tergerus air hujan. Situs yang terletak di sisi selatan area Museum Majapahit ini dinaungi 5 tenda raksasa. Di setiap tenda terdapat tangga dari kayu dengan kerangka besi untuk wisatawan menuju ke lantai dua.

Lantai 2 merupakan balkon yang sengaja dibuat agar wisatawan lebih leluasa melihat situs pemukiman dari ketinggian, selain berfungsi sebagai pelindung situs dari panas dan hujan.

Namun, situs yang biasanya ramai dikunjungi itu kini sepi. Sebab tangga untuk melihat situs dari ketinggian di masing-masing tenda ditutup oleh pengelola Museum Majapahit karena banyaknya konstruksi tenda yang rusak.

Kondisi tangga dari kayu juga berlubang lantaran kayu pijakannya banyak yang lepas dan rapuh. Begitu juga kondisi lantai kayu di bagian atasnya. Kerusakan ini terjadi pada kelima tenda.

Atap salah satu tenda di situs pemukiman Majapahit telah terlepas sehingga struktur bata kuno di bawahnya tak terlindungi. Bahkan situs purbakala tersebut hanya ditutupi dengan lembaran seng seadanya.

Kepala Unit Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) Muhammad Ichwan mengatakan, kerusakan 5 tenda pelindung situs pemukiman Majapahit terjadi sejak awal 2017. Lepasnya pijakan kayu pada tangga maupun lantai dua terjadi akibat terpaan hujan dan panas matahari. Sementara lepasnya atap tenda akibat diterjang angin kencang.

“Kami tutup untuk keamanan wisatawan, selain kami tutup juga kami beri tulisan peringatan agar pengunjung tak nekat menerobos,” katanya kepada Detikcom.

Ichwan mengakui, lepasnya atap tenda berpotensi merusak struktur bata kuno situs pemukiman Majapahit. Untuk meminimalisir kerusakan, pihaknya saat ini hanya bisa menutup situs dengan lembaran seng. “Situs di bawahnya kami beri pengamanan sementara dengan seng. Kurang maksimal memang,” tambahnya.

Kerusakan tenda ini, lanjut Ichwan, sudah disurvei dan didata untuk dilaporkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun sampai saat ini belum ada alokasi anggaran untuk perbaikan. “Sudah saya laporkan ke atasan saya. Insya Allah juga sudah dilaporkan ke pusat (Kemendikbud, red),” tandasnya. (dtc)

Minimnya Fasilitas di Candi Kedaton Probolinggo

foto
Candi Kedaton, salah satu peninggalan kerajaan Majapahit di Probolinggo. Foto: Detikcom/M Rofiq.

Keberadaan Candi Lawang Kedaton atau yang lebih akrab disebut Candi Kedaton ini sungguh memprihatinkan. Salah satunya karena cagar budaya peninggalan kerajaan Majapahit itu tidak dilengkapi fasilitas pendukung bagi wisatawan.

Bahkan sisi samping candi di mana batu reruntuhan candi disimpan juga terlihat tak terawat. Beberapa atap dan kayu penyangga ruang penyimpanan itu sudah tidak layak lagi. Dinding kayunya pun keropos.

Niman (49) salah satu penjaga Candi Kedaton mengatakan, candi tersebut memang banyak dikunjungi, namun fasilitas pendukungnya masih belum tersedia.

“Terutama belum ada pembangunan toilet sehingga kalau ada wisatawan yang berkunjung mereka kesulitan dengan fasilitas tersebut,” katanya saat ditemui Detikcom di lokasi candi, Rabu (18/4).

Tak hanya fasilitas toilet yang perlu untuk dibangun namun juga pos penjagaan untuk keamanan candi. Bagian kaca di pos tersebut sudah mulai hancur berikut langit-langit di pos tersebut.

Niman mengaku sudah mengusulkan penambahan fasilitas tersebut kepada pengelola candi, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Mojokerto. “Kami sudah usulkan untuk ada penambahan fasilitas tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Andung Biru Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo, Sam mengatakan pihaknya sangat mendukung jika sektor pariwisata alam dikembangkan di wilayahnya, di mana Candi Kedaton termasuk di dalamnya.

“Untuk tahun kemarin akses jalan menuju Candi Kedaton sudah ada perbaikan meski hanya 1,5 meter,” ujarnya.

Namun baginya, ini akan mempermudah akses bagi wisatawan menuju ke lokasi candi. “Sebab lokasi candi ini berada di bawah tebing sehingga wisatawan harus turun dengan berjalan kaki menuju ke tempat tersebut,” tutupnya.

Candi Kedaton sendiri berdiri pada abad ke 14, tepatnya pada zaman kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Menurut Niman, candi yang terletak di Desa Andung Biru Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo merupakan tempat persinggahan Dewi Rengganis.

Dewi Rengganis merupakan sepenggal legenda yang tersiar di masyarakat sekitar. Konon, saat dilamar raja Majapahit, ia meminta syarat dibangunkan candi yang sekarang dikenal dengan Candi Kedaton ini serta taman hidup yang ditumbuhi bunga-bunga yang indah, sebagai syarat untuk memiliki Dewi Rengganis yang terkenal akan kecantikannya. (dtc)

Ada Batu di Ponorogo Tak Bisa Dihancurkan

foto
Mbah Sikin memperlihatkan batu yang katanya tak bisa dihancurkan. Foto: Detikcom/Charolin Pebrianti.

Seorang kakek di Ponorogo menemukan batu yang tak lazim di pekarangan rumahnya. Siapa sangka, batu itu ternyata tak bisa dihancurkan. Batu itu ditemukan saat sang kakek yang bernama Mbah Sikin (75) akan membangun rumah. Saat meratakan tanah, ia menemukan sebuah batu.

“Awalnya saya kira batu biasa, tapi dihancurkan tidak bisa. Dilinggis pun tidak rusak, karena kuat saya simpan,” terang Mbah Sikin kepada detikcom saat dijumpai di rumahnya, Jumat (14/4).

Bukan hanya pria berusia 75 tahun itu saja yang dibuat kebingungan. Suatu ketika, ada tetangga yang bermaksud mengambil batu bata itu.

“Dulu ada tetangga yang ingin mengambil batu bata ini, tapi malah sekeluarga sakit. Saat dikembalikan ke tempatnya, keluarganya sembuh,” papar Mbah Sikin.

Tidak hanya itu, bapak dua anak ini mengaku 8 ternaknya mati secara mendadak. Kata Mbah Sikin, ada 8 ekor sapi miliknya yang mati tanpa diduga-duga.

“Kata orang sepuh (tua, red) karena saya bakar batu bata menghadap ke tumpukan batu yang tadi, jadinya sapi saya yang mati,” lanjutnya.

Akibat kejadian aneh tersebut, Mbah Sikin dan warga sekitar pun tak berani mengutak-atik tumpukan batu bata sekaligus batu yang ditemukan pria ini. Bahkan mereka menganggap benda-benda itu keramat.

Mbah Sikin mengaku menemukannya sejak tahun 1968. Namun karena tak bisa dihancurkan itulah, ia hanya menyimpan batu berbentuk kubus berukuran 40 cm x 40 cm x40 cm itu di rumahnya.

Selama itu pula batu ini dijadikan sebagai penyangga tempat penampungan air oleh warga warga Dusun Tumpuk, Desa Kemiri, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo tersebut.

Tak hanya itu, bapak dua anak ini juga mengungkapkan di sekitar tempat penemuan batu tersebut juga ada tumpukan batu bata. Mbah Sikin dan warga sempat menduga jika tumpukan batu bata adalah bebatuan dari zaman kerajaan.

Hal ini juga terlihat dari bentuknya yang tampak berbeda dari batu bata masa kini karena batunya lebih besar dan tebal.

Namun tumpukan batu bata itu kini juga hanya dibiarkan begitu saja di halaman rumah Mbah Sikin. Sejak ditemukan, baik Mbah Sikin maupun warga di sekitarnya memang tak berani mengutak-atik batu-batu itu karena sama-sama tak bisa dihancurkan.

Sejak saat itu Mbah Sikin menjadikannya penyangga tempat penampungan air. Hingga sekitar sepekan yang lalu, ada seorang pemerhati sejarah dari Madiun bernama Anto Purbo yang mendatangi rumahnya.

Anto mengungkapkan jika batu yang disimpan Mbah Sikin selama bertahun-tahun sebenarnya adalah batu Yoni, salah satu simbol kesuburan pada era kerajaan Hindu kuno.

Anto memaklumi jika Mbah Sikin tak tahu sama sekali jika itu adalah batu bersejarah. “Karena ketidaktahuan Mbah Sikin ini, makanya batunya hanya disimpan begitu saja. Padahal ini batu sejarah,” tandas Anto.

Namun semenjak pertemuan itu, Anto meminta agar Mbah Sikin merawat dan membersihkan batu berbentuk kubus dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm tersebut.

“Setelah didatangi mas Anto itu, saya akhirnya membersihkan batu yoni ini. Tidak saya pakai untuk menyangga tempat air lagi,” tutur Mbah Sikin.

Salah satu petugas dari Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, Wicaksono Dwi Nugroho ketika dimintai pendapatnya juga meyakini bahwa benda tersebut adalah batu Yoni.

Kendati belum melihat secara langsung, namun ia meyakini hal itu sebab sebelum ini timnya pernah menemukan sebuah prasasti di Desa Jenangan, Kecamatan Jenangan. “Kalau nggak salah didirikan lagi (prasastinya, red) tahun lalu,” pungkasnya. (dtc)

Batu Purba Bentuk Tak Lazim di Kediri

foto
Batu oktagonal yang ditemukan di Semanding, Kecamatan Pagu, Kediri. Foto: Kompas.com/M.Agus Fauzul Hakim.

Benda purbakala yang diduga struktur candi ditemukan di Kediri, Jawa Timur. Temuan tersebut dianggap tidak lazim karena benda itu bentuknya oktagonal atau segi delapan. Benda tersebut terbuat dari batu andesit dengan lubang pada bagian tengahnya.

Ada 2 batu dengan model sejenis namun berbeda ukuran. Masing-masing batu itu mempunyai ukuran tinggi 53 centimeter, lebar bawah 44 centimeter, lebar atas 35 centimeter, diameter lubang bawah 21 centimeter, kedalaman lubang bawah 12 centimeter, serta diameter lubang atas 13 centimeter.

Sedangkan batu ke dua berukuran tinggi 57 centimeter, lebar bawah 35 centimeter, lebar atas 33 centimeter, kedalaman lubang bawah 13 centimeter, diameter lubang atas 11 centimeter, kedalaman lubang atas 10 centimeter, serta diameter lubang bawah 13 cenimeter.

Kepala Seksi Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Eko Priatna mengaku baru pertama kalinya mengetahui adanya benda berbentuk oktagonal itu meski sudah kerapkali di Kediri ditemukan benda purbakala. “Kalau untuk jenis purbakala bentuk oktagon ini saya belum ada referensi,” ujar Eko Priatna saat ditemui Kompas.com, awal pekan.

Lebih jauh Eko mengatakan, pihaknya sudah berupaya mengontak beberapa koleganya yang berkecimpung di bidang arkeologi dan kepurbakalaan, namun juga belum ada kesamaan identifikasi. Beberapa menurutnya berspekulasi sebagai batu umpak penyangga tiang hingga doorpel atau ambang pintu.

Oleh sebab itu, dia menunggu tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian itu diharapkan dapat mengungkap fungsi dan latar belakang fase sejarah penggunaan benda tersebut. “Tim BPCB besok datang ke Kediri,” imbuhnya.

Batu berbentuk oktagonal itu ditemukan bersama beberapa benda purbakala lainnya. Diantaranya batu balok andesit berelief dengan ukuran panjang 80 centimeter x lebar 42 centimeter serta tebal 21 centimeter.

Penemuan itu terjadi saat para pekerja melakukan pengerukan tanah sawah seluas sekitar 1 hektar milik Zainudin, warga setempat. Penggalian yang berlangsung dalam sebulan ini bukan bagian dari ekskavasi benda purbakala, melainkan keperluan pengambilan tanah bahan bangunan.

Ironisnya, penggalian itu menyebabkan batu bata kuno menjadi banyak yang rusak, bahkan serpihannya berserakan. Ini diduga karena ketidaktahuan mereka atas penanganan benda purbakala itu.

Pengungkapan benda tersebut, menurut Eko, memerlukan penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto. Dari penelitian itu juga nantinya akan turun rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan terhadap kawasan temuan dan benda purbakala itu.

Di Kediri, terutama di Kecamatan Pagu dan Kecamatan Gurah, kerap ditemukan penemuan benda purbakala. Itu tidak lepas dari sejarah panjang Kediri yang dikenal sebagai bekas wilayah kerajaan tua. Hingga saat ini, hampir setiap tahun, ada eskavasi yang dilakukan oleh para ahli untuk meneliti situs-situs tersebut.

Hanya saja, kalau dilihat dari konteks lokasi, lanjut dia, kebetulan di wilayah Kecamatan Pagu dan Kecamatan Gurah kerap ditemukan benda purbakala. Di wilayah itu pula terdapat dua situs besar yang telah ditemukan lebih dulu, yaitu situs Adan-adan dan Tondowongso.

Situs Tondowongso yang berisi struktur bangunan suci berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi penemuan benda purbakala itu. Situs tersebut terhampar luas sekitar 12 kilometer yang diyakini sebagai kompleks permukiman Hindu kuno yang diduga pada masa kekuasaan Sindok (929 M) hingga Kertajaya (1222 M).

Situs Tondowongso yang ditemukan pada 2006 dan situs Adan-adan yang diekskavasi pada 2016 hingga saat ini masih kerap dijadikan obyek penelitian oleh para ahli. “Sehingga, diduga kuat temuan tersebut berkaitan dengan struktur dua situs besar itu,” tambah Eko. (kmp)

Ketika Komunitas dan Pegiat Budaya Berkumpul

foto
Ketika Komunitas dan Pegiat Budaya Berkumpul di Lamongan. Foto: Detik.com/Eko Sudjarwo.

Beberapa koleksi artefak cagar budaya ditampilkan di ruang pameran. Yoni, genta dan uang gobok, serta potongan candi dan juga foto situs dipamerkan puluhan komunitas pegiat sejarah dan budaya se-Jatim.

Kegiatan bertajuk ‘Jambore Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Jawa Timur’ di Lamongan ini menelurkan sejumlah deklarasi kebudayaan Jatim. Apa isinya?

Para pegiat budaya dan sejarah se-Jatim ini selama 2 hari ini membicarakan sejarah dan budaya sebagai wujud kepedulian, keprihatinan serta perjuangan budaya Jawa Timur.

“Kami berasal dari lebih dari 20 komunitas di Jatim, jadi yang berkumpul di sini lebih dari 140 pegiat budaya dan sejarah dari seluruh Jatim,” kata Supriyo, panitia lokal dari Lamongan yang juga menyebut pertemuan ini agenda rutin tahunan pegiat budaya Jatim, awal pelan.

Priyo mengatakan pegiat budaya ini juga berkumpul untuk membangun sinergi dan langkah konkret dalam perjuangan melestarikan cagar budaya Jawa Timur yang masih terserak.

“Kegiatan ini untuk merumuskan konsep advokasi dan mendorong pelestarian Cagar Budaya di Jatim,” tuturnya, dikutip Detik.com.

Dalam kegiatan ini, lanjut Priyo, untuk Lamongan didukung oleh sejumlah pihak. Beberapa pihak diantaranya LPAPS, Pikulan, Laskar Airlangga dan Dahanapura serta Pemkab Lamongan.

Bahkan, selain diskusi mengenai sejarah dan budaya, lokasi acara yang berada di gedung Sasana Budaya Lamongan juga dijadikan tempat pameran sekaligus tempat Lokakarya dan Seminar.

“Beberapa koleksi artefak cagar budaya kami tampilkan di ruang pameran, ada yoni, genta dan uang gobok, serta potongan candi dan juga foto situs di Lamongan dan beberapa kota lain,” kata Priyo sambil menunjukkan kalau mereka juga memamerkan tosan aji atau keris dari berbagai daerah.

Sementara isi deklarasi di antaranya pegiat budaya dan sejarah siap melestarikan warisan budaya dan berkomitmen membangun sinergitas antara pemerintah dan masyarakat dalam pelestarian cagar budaya.

“Ini adalah berkumpulnya pegiat budaya dari generasi jaman old dan zaman now, guyup rukun dan berbekal semangat yang sama datang dari seluruh penjuru Jawa Timur,” tukasnya.

Sementara salah seorang pesrta, Nafis mengungkapkan, kegiatan ini untuk merumuskan konsep advokasi dan mendorong pelestarian cagar budaya. Nafis yang menjadi ketua panitia jambore ini mengaku diupayakan jambore ini menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang akan disampaikan ke pusat.

“Kerelaan menyisihkan waktu, tenaga, pikiran bahkan dana, mereka secara konsisten telah bekerja baik sendiri-sendiri maupun bersama komunitasnya untuk berkomitmen melestarikan cagar budaya,” pungkas Nafis. (dtc)

Petani Tulungagung Temukan Arca Dewa

foto
Warga menunjukkan situs arkeologi berbentuk arca di desa Ngrejo, Tanggunggunung, Tulungagung. Foto: Ist.

Seorang petani di Desa Ngrejo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur tak sengaja menemukan benda bersejarah berbentuk arca dewa saat membersihkan ladang jagung miliknya di kawasan bekas hutan lindung yang sudah gundul.

Sebagaimana keterangan resmi Kasi Pelestarian Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung Winarto, arca berukuran 50 x 80 centimeter itu ditemukan Surani dalam kondisi terpendam dalam ranah.

“Pak Surani dan beberapa petani sedang duduk-duduk saat tak sengaja melihat ada struktur batu menyerupai kepala manusia tersembul di atas tanah,” kata Winarto menceritakan kronologi penemuan situs, akhir pekan lalu, dikutip Antara Jatim.

Tak menunggu lama, Surani dibantu beberapa petani lain kemudian melakukan penggalian dan mendapati struktur batu berbentuk patung arca dewa. Kabar temuan situs arkeologi itu dengan cepat beredar luas sehingga warga lain, termasuk penggiat Pokdarwis (kelompok sadar wisata) Ngrejo datang dan melakukan penyisiran area temuan benda purbakala itu.

Ada beberapa struktur batuan lain kemudian ditemukan tak jauh dari titik lokasi temuan arca, di antaranya berbentuk `umpak` (fondasi tiang bangunan), sumuran atau petirtan kecil serta sejumlah gerabah kuno. “Kemarin kami dari Dinas Budpar bersama bagian Litbang Bappeda Tulungagung melakukan verifikasi lapangan guna mendata awal temuan tersebut,” ujar Winarto.

Namun ia belum memastikan jenis maupun usia arca yang kini disimpan di rumah Surani di Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung tersebut. Pihak Pemkab Tulungagung masih akan berkoordinasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan guna meneliti lebih lanjut arca dewa itu, sekaligus melakukan eskavasi di sekitar lokasi temuan.

“Semula kami menduga ini jenis arca agastya (dewa agastya) karena strukturnya mirip. Tapi setelah kami diskusikan dengan teman-teman arkeologi, dugaan awal mengerucut ke arca Nandiswara,” kata staf BPCB Trowulan yang bertugas sebagai pengelola Museum Wajakensis Tulungagung, Hariyadi.

Namun ia menegaskan kesimpulan tersebut masih bersifat dugaan awal. Kepastian mengenai jenis arca dan apakah ada situs lain di sekitar lokasi akan diteliti lebih lanjut oleh tim ahli arkeologi dari BPCB Trowulan, seperti sudah dikoordinasikan oleh pihak Pemkab Tulungagung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.

“Sementara menunggu tim BPCB Trowulan ini kami, melalui dinas pariwisata dan pemerintah desa telah meminta Pokdarwis dan warga Desa Ngrejo untuk membantu pengamanan lokasi dari kemungkinan terjadi perusakan ataupun penjarahan benda purbakala yang masih tertinggal,” kata Hariyadi.

Tim pelestari benda Cagar Budaya Kabupaten Tulungagung akhirnya mengevakuasi patung kuno berbentuk menyerupai arca Nandiswara tersebut. Menurut Kasi Pelestarian Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung Winarto, penyerahan situs arca dewa itu dilakukan secara sukarela.

Surani selaku pihak penemu arca mempercayakan penyimpanan patung bersejarah diduga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit itu ke Museum Wajakensis, Tulungagung.

Sebelum dievakuasi, Surani dan perwakilan dinas kebudayaan dan pariwisata lebih dulu menandatangani surat pernyataan bermaterai. Dalam surat itu, Surani menyatakan sukarela menyerahkan benda purbakala hasil temuannya itu ke pihak museum.

“Namun nantinya pemerintah daerah akan tetap memberikan kompensasi atas jasa Pak Surani menemukan benda purbakala ini, jika arca itu asli,” kata Winarto. (ant)