Paguyuban Senopati Eksis Beratribut Tempo Dulu

foto
Komunitas Senopati pada sebuah acara di Surabaya. Foto: Sepedakuno.weebly.com.

Keberadaan komunitas maupun paguyuban sepeda ontel di Surabaya semakin banyak. Mulai dari sepeda balap maupun sepeda tua. Salah satu paguyuban sepeda tua yang masih eksis sampai saat ini adalah Paguyuban Senopati atau Sepeda Koeno Patriot Sedjati.

Paguyuban yang diketuai Amirullah ini berdiri pada 20 Mei 2001. Mempunyai moto, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, Kesetiakawanan Sosial, Jer Basuki Mowo Beo, serta Kerukunan dan Persaudaraan. Paguyuban Senopati tetap mempertahankan atribut tempo dulu seperti zaman Belanda.

Totalitas anggota menjadikan paguyuban ini banyak meraih berbagai penghargaan dari kompetisi yang mereka ikuti. Terbukti Paguyuban Senopati hingga saat ini mampu mengumpulkan tropi kejuaraan sekitar 183 piala.

“Kota Surabaya merupakan ikon Kota Pahlawan, sehingga kami mendongkrak bagaimana ikon Kota Pahlawan ini tidak punah. Salah satunya dengan memegang teguh dan tetap mempertahankan atribut tempo dulu yang identik dengan perjuangan Kota Pahlawan,” kata Amirullah saat ditemui Bhirawa di acara Car Free Day Kodam V Brawijaya, Minggu (1/7).

Beranggotakan 70 orang, Amirullah mengaku para anggota Senopati tidak hanya berasal dari Kota Surabaya saja. Melainkan ada yang dari Sidoarjo dan Gresik. Dengan anggota dari kalangan pengusaha, ABRI, Denpom dan pelindung dari Senopati yakni Puspom Jakarta. Kegiatan rutin Paguyuban Senopati yakni mengikuti acara car free day dan berkumpul di eks Museum Mpu Tantular Surabaya.

Kukuhnya mempertahankan atribut tempo dulu yang identik dengan nuansa perjuangan Kota Pahlawan, diakui Amrullah sebagai wujud mempertahankan nuansa tempo dulu. Bagi generasi muda yang hobi dengan sepeda kuno, Amirullah mengajak generasi muda untuk bergabung dengan Senopati. Karena Paguyuban Senopati bukan hanya bersepeda saja, namun memiliki kegiatan beragam.

“Kita juga ada kegiatan fotografi, teatrikal, mocopat (komunitas Jawa), pameran sepeda kuno dan berbagai kegiatan positif,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, Amirullah mengaku, Senopati akan mengadakan kegiatan Kirab Kemerdekaan pada 17 Agustus mendatang. Dengan mengambil start di Denpom V/4 Surabaya dan finish di Taman Budaya Jawa Timur atau Gedung Cak Durasim. “Kami juga mengadakan pameran di Gedung Cak Durasim. Yakni pameran sepeda tua, motor tua dan foto-foto perjuangan,” ucapnya.

Paguyuban yang beralamatkan (kantor sekretariat) di Jl Mastrip Gogor III No 8 B Kelurahan Jajar Tunggal Kecamatan Wiyung Surabaya ini berharap generasi muda maupun masyarakat Kota Surabaya mempertahankan budaya di Kota Pahlawan. Pihaknya juga mengharapkan kepada pemerintah hendaknya ikon Kota Pahlawan lebih ditonjolkan.

“Selain sebagai daya tarik wisatawan. ditonjolkannya ikon Kota Pahlawan ini agar siapapun yang mengunjungi Surabaya akan langsung melihat dan merasakan bahwa mereka sedang berada di kota yang dulu banyak para pahlawan gugur dalam mempertahankan kota ini,” pungkasnya. (hbh)

Pentingnya Digitalisasi Manuskrip Keagamaan

foto
Dosen Unhasy Agus Sulton menunjukkan manuskrip Alquran di Ponpes Tebuireng, Jombang. Foto: Republika.co.id.

Aceh merupakan tempat lahirnya pujangga penulis naskah-naskah keagamaan. Nama-nama besar seperti Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdurrauf al-Singkili merupakan tokoh-tokoh yang lahir dan bermukim di Aceh.

Karya-karya tokoh tersebut menginspirasi para ulama di Nusantara. Bahkan karya-karyanya mengininspirasi para ulama di Asia Tenggara. Karya para tokoh tersebut tidak sedikit yang menjadi referensi ulama Hijaz Timur Tengah.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badang Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan dari Kemenag RI, Dr Muhammad Zain mengatakan, ironis karya-karya besar para tokoh sebagian besar masih tersimpan dan berserakan di masyarakat.

Ia menyampaikan, bersama tim dari Puslitbang LKKMO pada April 2018 mengunjungi tempat-tempat penyimpanan manuskrip keagamaan di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Tim mengunjungi seorang pemuda yang menyimpan 400 manuskrip.

Manuskrip yang dikoleksinya berjenis mushaf Alquran dari abad ke-16 masehi dan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama. Seperti kitab fiqih, tasawuf, ilmu falaq, ilmu tajwid, sejarah Aceh, obat-obatan dan azimat serta tabir gempa. Tapi manuskrip-manuskrip tersebut belum dikatalogisasi dan digitalisasi.

“Pada umumnya naskah-naskah (manuskrip) tersebut diproduksi antara abad ke-17 sampai 19 masehi, kondisi naskah-naskah ini masih belum mendapatkan perawatan yang baik, keadanannya sudah rusak bahkan terpisah dari jilidan dan koyak-koyak,” ujarnya kepada Republika.co.id.

Dr Zain melanjutkan, kemudian tim menemui seseorang yang memiliki 600 manuskrip. Orang tersebut menyimpan sejumlah karya-karya besar dan penting seperti karya Abdurrauf al-Singkili, Miratut Tullab dan karya-karya pertama Nuruddin Ar-Raniri. Selain itu banyak juga kitab-kitab penting lainnya.

Ia menjelaskan, kondisi manuskrip tersebut sebagian sudah disortir, tapi belum membuat katalog dan didigitalisasi. Meski demikian orang tersebut menjaga baik manuskrip-manuskrip itu. Juga terbuka memberikan kesempatan kepada pengkaji dan penelaah manuskrip. Orang itu juga membuka pintu kerjasama penyelamatan manuskrip dengan lembaga Pemerintah Indonesia.

“Namun dia tidak memberikan fisik atau kopi digital manuskripnya kepada lembaga-lembaga dari luar negeri, baik dalam bentuk kerjasama, menjual menyimpan di lembaga-lembaga tertentu di luar negeri,” jelasnya.

Dr Zain menegaskan, langkah konkret yang mendesak dan harus dilaksanakan segera adalah katalogisasi dan digitalisasi manuskrip. Supaya penyelematan dapat dilakukan setahap demi setahap. Berikutnya melakukan kerjasama dengan lembaga restorasi seperti Perpustakaan Nasional. Kemudian melakukan kajian untuk menelaah isi manuskrip dan melahirkan buku-buku.

“Naskah-naskah yang berbentuk petuah dan sejarah perlu dicetak ulang dan dikemas secara sederhana dan menarik untuk dipersembahkan kepada masyarakat, agar mereka paham dan melek sejarah kekayaan leluhurnya,” ujarnya.

Menurutnya, manuskrip-manuskrip warisan bangsa tersebut perlu menjadi bahan kurikulum muatan lokal di sekolah. Supaya generasi sekarang dan akan datang dapat melek sejarah dan paham pengetahuan masa lampau. (rep)

Budaya Makan ’Ampo’ di Tuban yang Terlupakan

foto
AMPO yang sudah jadi, ditampung dalam suatu cawan. Foto: Dok PKM-PSH.

Mengangkat kembali budaya lama yang semakin dilupakan, yakni geofagi, yaitu kebiasaan masyarakat dan atau hewan di pedesaan daerah tropis untuk makan tanah di Kabupaten Tuban, Jatim, menarik perhatian Kemenristekdikti untuk memberikan dana hibah penelitian dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2018 kepada tim terdiri tiga mahasiswa Universitas Airlangga (Unair).

Tim PKM Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) Unair itu seperti dirilis PIH Unair adalah Hendra Setiawan (ketua), Calvin Nathan Wijaya, dan Lia Agustina Subagyo, dari Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair.

Mereka menyusun penelitian dengan judul ”Fenomena Unik Geofagi pada Masyarakat di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kabupaten Tuban”.

Dijelaskan oleh Hendra Setiawan, kebiasaan geofagi itu umumnya ditemukan pada masyarakat pedesaan di daerah tropis. Di Jawa Timur antara lain bisa ditemukan di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kabupaten Tuban. Disini, kebiasaan makan tanah yang disebut ampo itu dilakukan oleh beberapa masyarakat.

Menurut masyarakat setempat, memakan tanah liat yang diolah menjadi ampo, memiliki efek membuat perut menjadi nyaman (rasa enak), dan biasanya wanita yang sedang hamil selalu mencari ampo untuk memenuhi hasrat nyidam-nya.

Dihimpun dari berbagai kisah di masyarakat setempat, awal mula kebiasaan makan ampo pada masyarakat Trowulan di Kab. Tuban ini karena keadaan yang sulit pada kolonial Belanda.

Awalnya Tuban sebagai kota pelabuhan merupakan daerah yang sangat kaya. Disini menjadi salah satu jalur pedangangan yang penting pada masa itu. Pedagang dari berbagai penjuru dunia, termasuk Eropa dan Tiongkok, datang di Tuban.

Penjajahan itu kemudian membawa Tuban menjadi daerah yang sangat sulit akibat sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Masyarakat menjadi hidup dalam garis kemiskinan, kesulitan pangan dan masalah kelaparan.

Akhirnya perdagangan dikuasai oleh elit-elit asing, yang tidak jarang menerapkan harga barang sangat mahal, khususnya beras. Keadaan itu membuat masyarakat harus memutar otak dan mencari cara agar dapat bertahan hidup.

Alternatif itu adalah ampo. Ampo pada awalnya dibuat dari endapan lumpur dari air di tepi sungai Bengawan Solo. Endapan lumpur itu merupakan tanah aluvial yang berbahan lempung. Sehingga endapan lumpur halus itu ditunggu dahulu hingga mengering untuk dapat dimakan.

Namun lambat laun masyarakat disini menemukan tiruan ampo yang dibuat dari endapan air tanah sawah dengan bahan dasar lempung di Desa Bektiharjo. Perbedaannya, tanah lempung yang sudah dikumpulkan itu diolah dahulu dengan cara diasapkan (dengan api).

Hingga saat ini di Tuban tinggal seorang saja produsen ampo yang masih aktif berproduksi, yaitu bernama Sarpik. Ia membuat ampo di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo. Sehari-hari ia membuat ampo dan menjualnya ke pasar.

Menurut Sarpik, ampo memiliki banyak kegunaan, yaitu bisa untuk obati sakit maag, melancarkan pencernaan, untuk wanita hamil yang sedang nyidam, untuk menghilangkan rasa pahit pada daun pepaya, dan untuk sekedar camilan sebagai teman minum kopi.

Selain dikonsumsi, ampo digunakan oleh masyarakat Tuban sebagai salah satu unsur dalam cok bakal yang biasa digunakan sebagai sesajen bagi leluhur dalam perayaan-perayaan tertentu. Ampo dimasukkan dalam salah satu unsur cok bakal karena masyarakat Tuban percaya bahwa para leluhur dahulu juga suka makan ampo.

Proses Pembuatan
Cara membuat ampo itu diawali dengan menyiapkan berbagai alat dan bahan yang diperlukan. Peralatan itu antara lain ganden (pemukul), seseh (pengikis), obongan (tungku), hirik (tempat mengasapkan bahan ampo), glangsing (alas yang digunakan untuk membentuk ampo), arit (penggali tanah), jarik (tempat membawa tanah dari sawah).

Bahan dasar ampo itu diambil dari tanah sawah hasil galian dengan kedalaman sekitar 20 cm menggunakan arit. Lalu tanah yang didapat dimasukkan ke dalam jarik.

Tanah sawah tersebut kemudian digelar di sebuah glangsing. Tanah harus dalam kondisi lembab. Jadi bila tanah terlalu kering maka harus diberi air, dan jika terlalu basah harus dijemur.

Tanah yang lembab itu kemudian dibentuk hingga berbentuk kotak dan dihaluskan dengan cara dipukul menggunakan ganden. Kemudian tanah yang sudah berbentuk kotak itu didiamkan minimal sehari dan dibungkus plastik agar kelembabannya terjaga.

Setelah didiamkan, tanah berbentuk kotak itu dikikis menggunakan seseh, sehingga berbentuk gulungan. Hasil tanah yang sudah dikikis itu kemudian dimasukkan dalam hirik untuk diasapkan diatas obongan.

Pengasapan itu menggunakan api dari kayu bakar selama kurang lebih satu jam. Barulah ampo siap untuk digunakan, baik konsumsi maupun keperluan ritual.

Saat ini banyak generasi muda di Tuban yang sudah tidak mengenali ampo, karena kebiasaan lama ini sudah banyak ditinggalkan. Dalam bertahan hidup masyarakat tidak perlu lagi harus makan tanah (ampo), karena bahan pangan sudah kembali berlimpah.

Namun, tentu sangat sayang apabila fenomena yang membudaya ini menjadi punah, sebab ampo sudah menjadi ciri khas bagi masyarakat Tuban, terutama Desa Bektiharjo. Sehingga sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten Tuban memberikan perhatian lebih untuk melestarikan budaya tersebut agar tidak punah ditelan kemajuan. (ita)

Epos Ramayana Lewat Busana Etnik Futuristik

foto
Elgana bersama empat karya busananya. Foto: Istimewa.

Berbagai karya kriya tekstil dan keramik yang indah buah hasil usaha dan totalitas mahasiswa Prodi Kriya menghiasi Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Rabu (6/6).

Karya-karya tersebut merupakan tugas akhir yang menjadi prasyarat kelulusan untuk sekitar 30 mahasiswa Prodi Kriya. Setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk menjelaskan hasil karyanya kepada pengunjung yang datang ke booth seluas 3×3 meter persegi milik mereka sendiri.

Dikutip dari situs itb.ac.id, karya yang mendominasi adalah produk fashion. Salah satu karya yang memikat mata pengunjung pameran ini adalah karya milik Elgana.

Untuk tugas akhirnya yang berjudul “Pengembangan Kostum Karakter Epos Ramayana dengan Teknik Utama Reka Latar”, terdapat 4 buah kostum megah dan indah untuk menghidupkan 4 karakter yang paling kuat dan menonjol dalam Epos Ramayana.

Seluruh kostum menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh pewayangan dalam Epos Ramayana. Kostum milik Hanoman dibuat dengan warna putih untuk menggambarkan kesetiaan, kejujuran, dan keberanian.

Berbeda dengan kostum milik Dewi Shinta yang menceritakan tekanan yang dialami Dewi Shinta melalui pemilihan warna merah keunguan.

Sedangkan untuk kostum Rama, dipilih warna biru untuk memberikan kesan elegan, baik, jujur, dan pemimpin yang dingin.

Kostum yang terakhir, yaitu kostum Rahwana sang antagonis, memancarkan rasa mistik, haus akan kekuasaan, dan kemegahan dalam balutan warna gelap seperti hitam, merah tua, dan jubah keemasan.

Dalam proses pembuatan keempat kostum ini Elgana banyak melakukan riset, penggalian ide, pembuatan corak, dan eksplorasi sekitaran Bandung selama 6 bulan lamanya.

Kostum megah yang mengolaborasikan etnis dengan sentuhan futuristik ini tidak hanya indah dilihat, tetapi juga sangat memerhatikan kenyamanan penggunanya.

Elgana mendesain keempat kostum ini dengan baik sehingga kostum-kostum tersebut sangat mudah digunakan dan menggunakan bahan inner seperti katun untuk menghindari ketidaknyamanan pemakainya. Bahkan dalam proses produksinya, kostum-kostum tersebut menggunakan teknik yang sangat mudah sehingga tahap produksi tidak memakan waktu lama, sekitar 2 minggu.

Melalui karya ini Elgana berharap dapat mengubah visual ramayana yang terkesan kolot dan monoton dengan suasana yang baru sehingga meningkatkan minat anak muda terhadap budaya bangsa.

Elgana percaya bahwa terdapat banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam kisah-kisah serupa Epos Ramayana untuk diterapkan pada hari ini dan di masa depan nanti.

Karya ini selanjutnya akan didaftarkan dalam lomba seperti karya lainnya dari Elgana yang pernah menjadi finalis 20 Besar pada Indonesia Fashion Week 2018. Adapun karya tersebut merupakan karya yang mengangkat tenun toraja yang terkesan kolot dan konvensional menjadi fashion item anak muda yang simple dan elegan. (sak)

Pameran Koleksi Tentang GBK di Museum Balai Kirti

foto
Buku, arsip sejarah, dokumen, maket dan foto pembangunan Gelora Bung Karno dipamerkan. Foto: Kemdikbud.go.id.

Menyambut kemeriahan perhelatan olahraga akbar Asian Games yang jatuh pada Agustus mendatang, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menggelar pameran temporer bertemakan “Dua Presiden RI Tuan Rumah Asian Games 1962-2018”.

Tidak tanggung-tanggung, museum yang berlokasi di kawasan Istana Bogor ini menghadirkan puluhan koleksi yang terdiri dari buku, arsip sejarah, dokumen, maket, foto-foto terkait pembangunan Gelora Bung Karno.

Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dalam rangka menggelorakan kemeriahan Asian Games 2018, sekaligus memperingati empat tahun berdirinya museum pada Oktober mendatang.

Museum yang dikenal sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah makin memperluas fungsinya sebagai tempat menimba ilmu ke masyarakat luas.

Oleh karena itulah, pameran temporer ini digelar agar masyarakat menjadikan museum sebagai sarana belajar yang menyenangkan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, melalui pameran ini setidaknya mampu menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap Asian Games yang pernah digelar di Indonesia pada tahun 1962.

“Bahwa ini memang upaya kecil dari Kemendikbud untuk menggemakan Asian Games 2018 ini. Dan pameran ini mengingatkan kembali di masa itu orang bergotong royong mempersiapkan Asian Games,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Museum Kepresidenan RI Balai Kirti ingin terus mengedukasi para pengunjung dengan melihat langsung bagaimana proses kreatif Presiden Soekarno dan Presiden RI Joko Widodo dalam menyuguhkan sebuah karya seni yang apik di ajang olahraga bertaraf Internasional.

Pemikiran dua Presiden RI inilah yang menjadi objek pameran tersebut, tercermin dari desain-desain dan arsitektur yang dihadirkan.

Yuke Ardianti, Kurator Pameran Temporer Asian Games mengatakan, penampilan GBK saat ini sesuai arahan presiden yang dibuat lebih futuristik.

Sehingga memberi semangat baru GBK sebagai pusat stadion olahraga yang juga sebagai monumen nasional. Koleksi-koleksi proyek revitalisasi GBK pun dideskripsikan dalam bentuk gambar dan rekaman masa lalu.

Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menampilkan berbagai koleksi-koleksi foto hingga arsip sejarah. Diantaranya foto, dokumen, patung, maket hingga buku-buku yang mengulas tentang Gelora Bung Karno.

Oleh karena itu, perkaya pengetahuan sejarah dengan datang langsung ke pameran yang dilaksanakan sejak Mei hingga 31 Agustus 2018. (ist)

Pemprov Jatim Beri Apresiasi 500 Seniman

foto
Gubernur Jatim di panggung bersama perwakilan seniman. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Sebagai wujud terimakasih dan bentuk kepedulian, Gubernur Jatim Dr H Soekarwo MHum kembali memberikan apresiasi kepada 500 seniman dan budayawan Jatim berprestasi.

Pemberian apresiasi pada seniman dan budayawan berprestasi dari berbagai daerah di Jatim, dilaksanakan di Graha Wisata, Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, Selasa (5/6) pagi.

“Para budayawan dan seniman telah banyak memberikan kontribusi dalam mengembangkan seni budaya di Jatim secara luar biasa. Mereka inilah yang membuat Jatim selama hampir 10 tahun saya memimpin, menjadi tenang, aman dan nyaman,” terang Dr H Soekarwo MHum.

Menurutnya, kebudayaan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Budaya mampu membuat manusia berbeda dari makhluk yang lain, budaya mampu menghaluskan sesuatu yang kasar, serta budaya mampu membangun peradaban.

“Seorang ahli mengatakan bila suatu negara ingin makmur dan maju maka basis pembangunanya adalah kebudayaan. Maka basis pembangunan Jatim selain spiritual adalah budaya yang menghaluskan peradaban,” kata Pakde Karwo, sapaan lekatnya.

Tidak hanya itu, kebudayaan juga mampu menjadi alat penangkal atau solusi terhadap kekerasan, termasuk masalah terorisme. Masalah terorisme ini harus terus dilawan salah satunya melalui pendekatan budaya dan pendekatan hati.

“Banyak orang-orang yang merasa sepi di tempat ramai, kelihatannya banyak orang tapi mereka disingkirkan dari komunitas. Disingkirkan karena lemahnya budaya dan peradaban. Orang-orang seperti inilah yang harusnya dirangkul,” tegasnya.

Dalam kesempatan sama, Soekarwo juga menyinggung terorisme atau ekstrimisme, yang disebutnya sebagai subyektifitas sangat berlebihan menganggap orang lain sangat ekstrim.

“Disinilah ciri budaya yakni merangkul kemudian menyapa. Ada sentuhan, pundaknya ditepuk-tepuk, hatinya yang disapa. Bila ingin Jatim lebih damai maka doronglah seniman dan budayawan untuk terus berkarya,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Ditambahkannya, budaya juga mampu membuat perilaku menjadi egaliter. Kebudayaan pula yang membuat suasana lebih damai dan saling menghargai, dimana kritikan disampaikan lebih lunak.

“Tidak sopo siro sopo ingsun, tapi membuat orang merasa sama. Seperti nonton wayang semua orang sama-sama duduk sehingga tidak emosional,” katanya.

Di akhir sambutannya, Gubernur Jatim berpamitan karena masa jabatannya akan berakhir pada Februari 2019 mendatang.

“Saya menyampaikan maaf dan juga terimakasih kepada bapak ibu semua. Semoga Bulan Ramadhan ini membawa keberkahan untuk kita semua,” pungkasnya.

Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Dr H Jarianto MSi mengatakan, acara pemberian apresiasi ini rutin dilakukan setiap tahun, untuk membangun tali silaturahmi pemerintah dengan seniman dan budayawan, mendorong semangat dan motivasi seniman untuk terus berkarya dan melestarikan seni budaya.

Serta sebagai wujud penghargaan atas dedikasi dan loyalitas para seniman dan budayawan yang telah mengembangkan seni budaya di Jatim.

“Ini hanya salah satu acara, masih ada penghargaan-penghargaan lain yang diberikan terhadap seniman. Pak Gubernur sendiri selalu memberi apresiasi tinggi terhadap teman-teman seniman di Jatim,” katanya.

Dalam acara ini Pakde Karwo secara simbolis memberikan tali asih berupa uang pembinaan dan sembako kepada 10 orang perwakilan seniman dan budayawan berprestasi.

Kesepuluh seniman berprestasi tersebut diantaranya Dian Nova Saputra dari Trenggalek (seni tari), Martina Saraswati dari Banyuwangi (teater) dan Nihayah dari Ponorogo (reog). (ita)

Peduli Pemajuan Kebudayaan di OMJ Blitar

foto
Acara Obralan Malam Jemuah di Dewan Kesenian Kabupaten Blitar. Foto: Istimewa.

Pasca terbitnya UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, hampir bisa dipastikan perspektif pembangunan kebudayaan di Indonesia akan makin berkembang.

Untuk mempersiapkannya butuh ekosistem kebudayaan yang melibatkan berbagai sektor masyarakat untuk membahas bagaimana peradaban masyarakat dapat terbangun secara terintegrasi.

Dewan Kesenian Kabupaten Blitar menginisiasi program baru dengan tajuk OMJ (Obrolan Malam Jemuah). Program tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem kebudayaan yang mampu mempertemukan lintas sektor dan lintas generasi.

Ketua Acara OMJ Rahmanto Adi menyatakan OMJ hadir dalam menjawab problem kenapa Kebudayaan di Kabupaten Blitar sulit berkembang. Ada Ritual Jamasan Gong Kyai Pradah, Reyog Bulkiyo, Larung Sesaji Desa Tambakrejo, dan masih banyak kebudayaan di Kabupaten Blitar yang hanya sekedar menjadi destinasi.

“Belum lagi problem lintas generasi, dimana anak-anak muda saat ini belum peduli dengan hadirnya kebudayaan sebagai bagian dari proses pembangunan. Semacam ada keterputusan antara generasi pewaris dengan generasi yang akan mewarisi kebudayaan tersebut. Untuk itulah OMJ hadir dengan format diskusi setiap satu bulan sekali di Sekretariat Dewan Kesenian Kabupaten Blitar ini,” kata Rahmanto Adi.

Dalam launching OMJ, hadir sebagai pemantik diskusi, Rangga Bisma Aditya, Direktur PKBM Tunas Pratama. Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJ) 2014-2016 ini memaparkan materi ‘Mau Kemana Kebudayaan Kita?’.

Dalam materinya, Rangga memaparkan tentang problem utama tantangan perubahan kebudayaan global yang memang mengerucutkan kepada kebutuhan terhadap Pokok Pemikiran Kebudayaan Derah di Kabupaten Blitar. “Salah satu amanah UU dalam memajukan kebudayaan daerah adalah dengan merumuskan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah (PPKD),” tutur Rangga.

Kedepan menurut Rangga, PPKD inilah yang dijadikan acuan dalam merumuskan Strategi Kebudayaan Nasional dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, objek kebudayaan serta membina SDM Kebudayaan. “Nantinya Strategi Kebudayaan Nasional dapat menciptakan ekosistem kebudayaan seperti di Korea Selatan dengan Korean Wave atau Amerika Serikat dengan Industri Budaya Pop-nya,” tegasnya.

Lebih lanjut Rangga menjelaskan bahwa Pemkab Blitar harus membentuk Tim Perumus PPKD, dimana tim tersebut harus melibatkan akademisi, budayawan, seniman, dewan kesenian, perwakilan komunitas dan organisasi seni budaya, pemangku adat, serta orang yang kompeten dalam kajian pemajuan kebudayaan.

“Karena hanya dengan hal tersebut, tantangan pembangunan kebudayaan di Kabupaten Blitar Dapat diwujudkan dengan beberapa gagasan seperti pembentukan desa budaya, perumusan teknis implementasi kurikulum berbasis kebudayaan masyarakat, hingga pembaharuan tampilan kebudayaan melalui paradigma millennial,” papar Rangga.

Acara yang digelar, Kamis (24/05) malam itu juga dihadiri Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Blitar Hartono, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar Wima Brahmantya, Ketua Umum ASIDEWI Andi Yuwono, serta beberapa komunitas lintas sektor.

Seperti D’Traveller, ICB Korwil Kanigoro, BPK OI Kabupaten Blitar, Komunitas Beatbox, Komunitas Pelestari Candi Mleri, Sanggar Teater Waseso Nugroho, dan UKM Teater Unisba Tali Usil.

Mayoritas para peserta mengapresiasi acara tersebut dan diharapkan dengan perumusan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah akan mengurai problem utama kebudayaan kabupaten blitar seperti keterputusan antar generasi dapat menjadikan kebudayaan sebagai Way Of Life di lingkungan masyarakat. (ist)

Serial Film Grisse, Kolaborasi Timur dan Barat

foto
Salah satu adegan di film serial Grisse. Foto: Dok HBO Asia.

Berangkat dari sejarah Kota Gresik, serial Grisse menyelesaikan proses shooting di Infinite Studios, Batam. Serial ini menghadirkan ensambel pemain dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Jepang. Dikemas dalam delapan episode, Grisse merupakan produksi orisinal HBO Asia. Direncanakan, Grisse akan tayang akhir 2018 nanti.

Sutradara dan showrunner Grisse Mike Wiluan di Infinite Studios, Senin 14 Mei 2018 mengungkapkan, serial ini tidak akan tercipta tanpa dukungan HBO. Lewat Grisse, Mike ingin mengkolaborasikan budaya barat dan timur.

Pasalnya hal ini berkaitan dengan perspektif global tentang sejarah Indonesia. Untuk Grisse, Mike juga menulis skenario bersama Rayya Makarim.

“Judul Grisse merupakan nama Kota Gresik, dekat Surabaya di Jawa Timur. Orang Belanda dulu menyebut Gresik dengan Grisse. Serial ini tentang gerakan revolusi lewat karakter perempuan yang kuat,” tutur Mike, seperti dikutip pikiran-rakyat.com.

Di Infinite Studios, tim produksi membangun set yang detail untuk Grisse. Selama enam minggu, mereka membuat suasana perkampungan Indonesia di era 1800-an. Tak hanya dalam bentuk bangunan, tapi juga kostum, dan unsur artistik lainnya.

Cerita Grisse berlatar belakang dari era 1800-an atau ketika masa kolonial Hindia Belanda. Serial ini berkisah tentang sekelompok masyarakat dalam penindasan yang memberontak melawan gubernur bengis. Mereka berhasil mengambil alih kendali di markas tentara Belanda bernama Grisse.

Didukung sejumlah karakter unik, mereka bersatu dengan latar belakang dan keyakinan berbeda. Tujuan mereka sama, yaitu untuk memperbaiki keadaan dan nasib mereka dari penjajahan.

Para pemain yang memperkuat Grisse di antaranya Adinia Wirasti, Marthino Lio, Michael Wahr, Edward Akbar, Jamie Aditya, Toshiji Takeshima, Joanne Kam, Zack Lee, Tom Dejong, Ully Triani, Rick Paul Van Mulligen, Alexandra Gottardo, Hossan Leong, dan Jimmy T.

Salah seorang aktor asal Jepang, Toshiji Takeshima yang berperan sebagai Ryuichi mengungkapkan, dia sangat antusias bisa terlibat dalam Grisse. Pasalnya, baru kali ini dia bekerja sama dengan aktor asal Indonesia.

Menurut Toshiji, salah satu alasan dia mau bergabung dengan Grisse adalah tim produksi dan pemain yang berasal dari berbagai bangsa. Hal ini membuat dia bisa mengenal aneka budaya. “Buat saya, kisah Grisse sangat kaya dan sarat konflik. Ini adalah sebuah cerita sejarah Indonesia. Saya belajar lagi sejarah Indonesia di era ini,” ungkap Toshiji.

Menurut Toshiji, karakter yang dia mainkan adalah seorang samurai yang sadis. Sebelum shooting, dia belajar intensif menggunakan pedang. Dia juga memasukan elemen Jepang pada karakter Ryuichi. “Selama shooting banyak hal yang tak terduga. Saya juga melakukan semua adegan tanpa stunt man,” ujar Toshiji.

Aktor asal Indonesia Marthino Lio yang berperan sebagai Maran mengaku, tidak menemukan kesulitan selama shooting. Dengan dasar taekwondo yang dia punya, Lio cepat berlatih koreografi laga untuk Grisse.

“Sosok Maran adalah seseorang yang nasionalis. Dia kaku dan menjadi pemimpin kelompok pemberontak. Menurut saya, cerita yang disajikan Grisse sangat relate dengan situasi Indonesia saat ini,” ujar Lio.

Sementara pemain asal Malaysia, Joanne Kam yang berperan Chi mengatakan, naskah sangat membantu dia untuk mengeksplorasi karakter. Menariknya, kata Joanne, sebagai pemain, dia juga harus mengerti karakter setiap lawan mainnya. Menurut Joanne, sangat menyenangkan bisa kolaborasi dengan aktris Indonesia, Adinia Wirasti.

“Saat pertama datang ke lokasi shooting, hanya ada saya dan Zack Lee. Kami langsung menyelesaikan adegan laga selama tiga jam. Ini berat untuk saya, tapi saya berusaha profesional dan tak ingin menyerah,” ujar Joanne. (ist)

Kutuk Teror, Puti: Rakyat Jatim Tidak Takut!

foto
Puti Guntur Soekarno saat berdoa di acara Festival Sholawat Bunda Sahto. Foto: Istimewa.

Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno mengutuk keras aksi terorisme yang menyerang sejumlah tempat ibadah di Surabaya, Minggu (13/5)lalu.

“Warga Jawa Timur tidak takut pada terorisme. Masyarakat Jatim adalah masyarakat pemberani yang sejak era penjajahan selalu berdiri di garis terdepan membela republik ini,” kata Puti.

Saat menghadiri Festival Sholawat Bunda Sahto di Ngantru Tulungagung, Puti mengajak ratusan ibu-Ibu anggota Muslimat dan Fatayat peserta festival menundukkan kepala untuk mendoakan korban teror Surabaya.

Selain itu, untuk berdoa agar kejadian yang mengoyak perikemanusiaan ini tidak terulang kembali.

“Tundukkan hati, untuk mengetuk langit dengan sholawat, berdoa kepada Allah SWT untuk mereka dan keselamatan kita semua,” tuturnya.

“Meski para korban beda keyakinan, tapi mereka adalah saudara-saudara sebangsa kita,” tambah Puti.

Islam, kata dia, tak menoleransi segala bentuk aksi kekerasan. “Justru Islamlah yang harus merangkul, dan memberi rasa aman bagi umat lain,” tuturnya.

Teror yang diluncurkan para teroris hari ini, jelas Puti, tidak akan membuat masyarakat Jawa Timur mundur sejengkal pun untuk terus berjuang mewujudkan bangunan masyarakat yang makmur dalam keberagaman dan bahagia dalam harmoni.

Puti mengajak seluruh warga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk mendukung seluruh kekuatan negara guna memberantas segala bentuk aksi terorisme yang merongrong persatuan Indonesia.

“Para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat selalu bersama dan mendukung penuh semua kebijakan negara untuk melawan segala bentuk terorisme,” ujarnya.

Kepada para korban dan keluarga, Puti menyampaikan duka dan empati yang mendalam. “Kita berdoa sepenuh hati untuk mereka. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk korban dan keluarga,” ucapnya.

Pendamping Cagub Saifullah Yusuf ini mengatakan, negara harus memastikan bahwa kejadian di Surabaya adalah peristiwa menyedihkan terakhir yang terjadi berkaitan dengan tindakan terorisme.

Ke depan, Puti mengajak seluruh warga masyarakat mempererat tali solidaritas untuk tidak memberi ruang bagi tumbuhnya gerakan radikal. Sikap gotong royong dan saling memiliki harus terus dijaga dan ditumbuhkan di seluruh jiwa masyarakat.

“Satu warga Jatim terluka, kita semua merasa sakit,” ucap dia. (ist)

Masih Ada Suwuk yang Eksis di Era Modern

foto
Pengobatan dengan suwuk di Desa Jatiarjo, Pasuruan. Foto: Prasetya.ub.ac.id.

Masyarakat di Desa Jatiarjo, Pasuruan, Jawa Timur, masih menggunakan suwuk sebagai salah satu pilihan pengobatan. Padahal, di desa dimana Taman Safari II berada ini, fasilitas kesehatan serta tenaga medis telah memadai.

Suwuk merupakan pengobatan tradisional dengan menggunakan mantra dan rapalan doa-doa dari dukun yang diletakkan di air putih maupun ramuan dari tumbuh-tumbuhan. Suwuk tidak hanya digunakan untuk mengobati manusia, bahkan benda-benda seperti undangan pernikahan hingga surat lamaran pekerjaan pun dapat disuwuk.

Fenomena tersebut menarik perhatian kelima mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) yang diketuai Miftakhul Iftita, dengan anggota Hanifati Alifa Radhia, Annise Sri Maftuchin, Helmawati dan Luaiyibni Fatimatus Zuhra untuk meneliti suwuk melalui perspektif ilmu Antropologi.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) dibawah bimbingan Siti Zurinani MA ini melakukan penelitian lapangan selama kurang lebih dua bulan.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, pengobatan tradisional suwuk di Jatiarjo dilakukan melalui dua tahap. Pertama-tama, dukun akan memeriksa penyakit si pasien melalui beberapa teknik deteksi.

Teknik tersebut meliputi pijatan diruas-ruas jari kaki dan tangan, penggunaan pusaka (misal keris), analisis riwayat kesehatan sebelumnya dari penuturan pasien, hingga komunikasi batin antara dukun dengan penunggu desa tempat pasien berasal.

Setelah dilakukan teknik deteksi, tahap selanjutnya adalah penerapan dari metode pengobatan suwuk. Pengobatan suwuk di Jatiarjo dilakukan dengan kombinasi teknik pengobatan lain seperti pijat dan pemberian ramuan herbal. Setelah diketahui penyakit yang diderita, pasien dapat disembuhkan melalui teknik pijat dengan menggunakan minyak whisik.

“Ada pula pasien yang diberi ramuan berbahan tumbuhan obat yang diracik si dukun maupun diracik sendiri. Selain ramuan herbal tersebut dikonsumsi oleh pasien, ramuan tersebut juga dapat diusapkan (bobok) dibagian tubuh yang sakit. Seluruh proses pengobatan baik pijat maupun pemberian ramuan berbahan alami tersebut dilakukan sembari ditiupkan rapalan doa-doa oleh sang dukun. Rapalan doa-doa pun juga diberikan pada pasien dalam bentuk fisik yakni berupa tulisan-tulisan arab yang ditulis dilembaran kertas,” papar Miftakhul Iftita.

Ia melanjutkan, pengobatan tradisional suwuk yang masih bertahan di Jatiarjo ini terjadi disebabkan beberapa faktor sosial-budaya. Kepercayaan masyarakat pada hal-hal magis, mempengaruhi adanya penyakit-penyakit tidak wajar serta tidak dapat disembuhkan melalui pengobatan medis.

“Adanya kepercayaan akan penyakit tidak wajar inilah yang menjadikan suwuk masih digunakan sebagai metode penyembuhan masyarakat Jatiarjo,” katanya.

Selain itu, faktor lain yang membuat pengobatan suwuk tetap bertahan di Jatiarjo adalah akibat pola pengobatan masyarakat yang lebih bersifat turun temurun serta pencarian pengobatan yang bersifat cocok-cocokan.

“Penjabaran mengenai faktor sosial budaya tersebut menjelaskan bahwa metode penyembuhan suwuk di Desa Jatiarjo, Prigen, Pasuruan masih bertahan ditengah era modern, meskipun pengobatan medis sudah cukup memadai,” pungkas Miftakhul. (sumber)