Renesola Angkat Budaya Lewat Lampu LHE

foto
Lampu dengan budaya lokal pada kemasannya. Foto: Renesola.

Menjadi negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tentunya memiliki keanekaragaman kultur dan budaya. Indonesia juga memiliki berbagai suku bangsa yang membawa keberagaman adat, budaya, hingga bahasa daerah. Sebagian besar masyarakat di dunia juga telah mengetahui Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam.

Bicara mengenai budaya, Renesola sebagai merek global mengangkat budaya-budaya lokal yang ada di Indonesia. Citarasa lokal Renesola selain diimplentasikan dalam bentuk Kemasan lampu yang menggambarkan kearifan budaya lokal dengan motif batik parang, adalah juga menunjukkan bahwa produk-produk Renesola secara spesifikasi teknisnya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

Citarasa lokal Renesola tersebut ditandai dengan diluncurkannya tiga Jenis lampu hemat energi (LHE) yang mewakili tiga daerah yang berbeda di Jawa Timur, yaitu Malang, Ponorogo dan Madura. Peluncuran lampu Malang, Ponorogo dan Madura tersebut dilakukan di tiga tempat sekaligus yaitu di Malang, Surabaya, dan Madiun.

Lokasi peluncuran produk ini sengaja dilakukan langsung di area pusat penjualan lampu di wilayah tersebut. Untuk area Malang dipusatkan di Toko Hwatt/Surya Citra Elektronik, pada 28 Maret 2018 lalu.

Turut hadir Noor Miftah Bakry selaku Country Director Renesola Indonesia, Eko Pujiono selaku owner Distributor area Malang Raya, dan Karniawan Afandi selaku Sales Manager Indonesia Timur. Adapun untuk Surabaya dilakukan di Toko Heri elektrik dan di Madiun di Toko Sumber Subur Jaya (SSJ).

Menurut Miftah, lampu bercitarasa budaya lokal di ketiga kota tersebut awal dari langkah Renesola untuk mewujudkan visi dari Renesola untuk menjadi lampunya orang Indonesia, setelah menggunakan tambahan motif batik parang di produk sebelumnya.

Seperti di Jawa Timur, khususnya di Banyuwangi, Renesola sudah memiliki posisi yang kuat di pasar. Lampu hemat energi (LHE) dengan produk Full Spiral berwarna kuning (warm white) yang digunakan masyarakat untuk pencahayaan perkebunan buah naga, dan sudah terbukti mampu untuk meningkatkan produktifitas perkebunan buah naga di Banyuwangi. Dengan peluncuran LHE bercitarasa lokal di 3 kota tersebut diharapkan mampu untuk lebih memperkuat posisi Renesola di Jawa Timur.

Sementara di Malang, kemasan lampu sangat bercitarasa lokal dengan gambar bertuliskan “Kera Ngalam”, yang berarti adalah Arek Malang, lampu Ponorogo dengan reog Ponorogonya dan lampu Madura dengan karapan sapinya.

Saat ini, kondisi kelistrikan di Indonesia saat ini relatif masing sering terjadi lonjakan fluktuasi tegangan, dan di daerah-daerah juga banyak yang masing memiliki kecenderungan listrik dengan tegangan yang rendah.

LHE Renesola pada umumnya memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap lonjakan tegangan listrik, dan dalam kondisi tegangan rendah (di bawah 100 volt) masih bisa menyala dengan terang yang optimal, dan tentunya tetap aman dan juga hemat listrik.

Keunggulan lainnya dari lampu hemat energi (LHE) yang berbentuk Spiral ini adalah memiliki distribusi cahaya yang lebih baik, karena spiralnya Renesola adalah “Full Spiral”, sedangkan kebanyakan adalah “Half Spiral”. Selain Distribusi cahaya yang lebih baik, dengan full Spiral akan lebih hemat listrik dan juga lebih terang. Maka tak heran jika dikatakan lampu hemat energi (LHE) Renesola “Full Spiralnya – Full Terangnya”. (sumber)

Gerakkan Budaya Baca ala Perpus Trotoar Malang

foto
Seorang pelajar memilih koleksi buku koleksi Purpustakaan Trotoar di Alun-Alun Kota Malang. Foto: JatimTimes.com.

Perpustakaan umum dan sekolah sudah banyak kita jumpai. Perpustakaan keliling juga sudah tidak asing lagi. Mungkin yang belum akrab dengan kita adalah perpustakaan trotoar.

Nah, perpustakaan trotoar sudah bisa dijumpai di Malang. Namanya Perpustakaan Trotoar Malang. Komunitas sosial ini biasanya buka di Alun-Alun Kota Malang.

Di tempat ramai itu, Perpus Trotoar Malang membeber buku-buku bacaan. Mereka mengajak masyarakat gemar dan sadar akan budaya baca.

Menurut Hasbi, sang koordinator kepada JatimTimes.com mengaku, empat bulan sudah aktivitas itu berjalan di kawasan Alun-Alun Kota Malang.

Sampai saat ini, respons masyarakat sangat baik walaupun hanya Sabtu banyak kalangan pelajar dan mahasiswa serta Minggu masyarakat umum menikmati ide kreatif Perpus Trotoar Malang ini.

Donasi berupa buku dan uang terus mengalir. Dan tentunya itu berdampak pada perkembangan eksistensi komunitas ini agar lebih baik. Selain di alun-alun, para pecinta buku juga bisa berkunjung keb sekretariat Perpus Trotoar Malang di Jl Teluk Cendrawasih 58 B Arojasri Malang.

Hasbi berharap semoga Indonesia, khusunya Kota Malang, semakin bertambah baik kesadaran akan budaya membaca, karena buku adalah jendela informasi dunia. (ist)

IFI Pamerkan Karya Fotografer Perancis

foto
Foto karya fotografer muda berbakat Perancis, Erell Hemmer. Foto: istimewa.

Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya dan Jayanata mempersembahkan pameran fotografi karya fotografer muda berbakat asal Perancis, Erell Hemmer di Snow White Ballroom – Jayanata Beauty Plaza Surabaya.

Penanggungjawab Budaya dan Komunikas IFI Surabaya, Pramenda Krishna A di Surabaya mengatakan, karya Erell Hemmer sangat unik karena hanya menggunakan kamera analog.“Berbekal kamera analog, Erell Hemmer mencermati hal-hal menarik, momen-momen unik, dan hasilnya tidak akalh dengan kamera digital,” katanya seperti dikutip Jatim News Room.

Menurutnya, Pameran Fotografi “La Galerie des Glaces Behind The Scenes of Paris Fashion Week” ini akan berlangsung 3-17 Februari 2018.“Snow White Ballroom – Jayanata Beauty Plaza itu terletak di Jl Mawar No. 4 – 6 lantai 3 Surabaya, silahkan datang tidak dipungut biaya,” tuturnya.

Selain pameran, penggemar seni fotografi, akan dihibur penampilan musik DJ RMD13 (@rmd13th) dan karya visual VJ Ivan Agiltio (@iagiltio) dari Legasy (@legasydealer). “Acara bakal makin seru dengan penampilan musik sayang kalau tidak hadir,” kata Krishna mengingatkan.

Krishna menambahkan, Erell Hemmer akan hadir pada pembukaan pameran. dan selama berlangsungnya pameran, ia akan memberi dua workshop fotografi pada 8 dan 14 Februari.”Workshop tidak dipungut biaya, masyarakat bisa banyak belajar dari Erell Hemmer,” harapnya. (jnr)

Sumbangsih Arsip Indonesia untuk Dunia

foto
Saat Presiden Jokowi mengunjungi objek wisata Candi Borobudur di Magelang. Foto: Setkab.go.id.

Pada 2017, sebanyak tiga warisan dokumenter Indonesia yakni arsip konservasi Borobudur, arsip tsunami Samudra Hindia serta naskah Cerita Panji telah diakui sebagai ingatan kolektif dunia (Memory of the World/MoW) oleh UNESCO.

Warisan dokumenter ini seperti ditulis Antaranews.com sebagai catatan Akhir Tahun Arsip Nasional RI (ANRI), menjadi bukti penting dalam sejarah umat manusia, dokumen-dokumen yang diajukan adalah sebagai warisan budaya yang bersifat global dan memiliki keterkaitan dengan bangsa lain.

Arsip konservasi Borobudur digagas oleh Balai Konservasi Borobudur di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Alasan Balai Konservasi Borobudur mengajukan arsip konservasi Borobudur tersebut karena itu merupakan proyek konservasi terbesar pada abad 20 yang didanai dunia internasional dan merupakan proyek pertama yang menggunakan teknik modern untuk konservasi monumen.

Pengakuan internasional terhadap arsip konservasi Borobudur ini mempunyai peranan penting bagi pengembangan ilmu konservasi terkini dan dapat digunakan untuk menemukan solusi bagi permasalahan konservasi yang ada.

Sementara itu naskah cerita Panji diusulkan oleh Perpustakaan Nasional RI secara nominasi bersama dengan negara Malaysia, Kamboja, Belanda dan Inggris.

Cerita Panji merupakan karya sastra dari abad ke-13 dan menjadi salah satu perkembangan sastra Jawa tanpa dibayangi oleh epos India Ramayana dan Mahabharata.

Kemudian arsip tsunami Samudera Hindia diusulkan oleh Arsip Nasional RI sebagai nominasi bersama dengan Sri Lanka.

Warisan dokumenter ini terdiri atas satu set arsip dalam berbagai media yang mencatat kejadian tsunami Samudra Hindia, tanggap bencana serta sebagian besar tentang rehabilitasi dan rekonstruksi.

Sejauh ini Indonesia telah memiliki beberapa warisan documenter yang diakui internasional sebagai ingatan dunia antara lain naskah La Galigo pada 2011, naskah Nagarakertagama pada 2013, naskah Babad Diponegoro pada 2013 dan arsip Konferensi Asia Afrika pada 2015.

Dokumen-dokumen yang telah diakui tersebut akan dijaga kelestariannya serta dilakukan alih media dan disebarluaskan kepada publik.

Renacananya tahun depan Indonesia akan mengajukan dua dokumen yang memiliki nilai sebagai ingatan dunia, yaitu arsip Gerakan Non Blok dan dokumen Sukarno.

Pengajuan dokumen tersebut digagas oleh ANRI, lembaga tersebut menilai dokumen Sukarno karena pemikiran-pemikirannya yang luas terkait internasionalisme, kemanusiaan dan juga ideologi bangsa, itu sangat penting dan harus diketahui masyarakat, tidak hanya masyarakat Indonesia tetapi juga masyarakat internasional.

Saat ini ANRI bersama beberapa pakar dan sejarawan sedang menyusun dokumen-dokumen apa saja yang akan disertakan dalam Sukarno Papers tersebut. Selain itu, ANRI juga akan menelusuri arsip-arsip mengenai Sukarno ke beberapa negara seperti Serbia, Amerika dan Aljazair.

ANRI optimistis dokumen tersebut dapat diterima sebagai ingatan kolektif dunia. Selain dokumen Sukarno, Indonesia juga akan mengajukan kembali arsip Gerakan Non Blok (GNB) yang sebelumnya telah diajukan namun belum berhasil mendapat pengakuan.

Gerakan Non Blok adalah lanjutan dari Konferensi Asia Afrika, arsip Konferensi Asia Afrika sudah mendapatkan pengakuan sebagai ingatan kolektif dunia. Oleh sebab itu Indonesia berupaya arsip agar Gerakan Non-Blok juga mendapat pengakuan dari UNESCO.

Gerakan Non Blok dibentuk di Yugoslavia (sekarang Serbia) oleh lima pemimpin dunia pada 1961, salah satunya presiden pertama Indonesia Sukarno. Agar dokumen ini diterima oleh UNESCO, Indonesia berencana melengkapi arsip-arsip yang akan diajukan, sebelumnya arsip Gerakan Non-Blok hanya diajukan oleh Indonesia dan Serbia.

ANRI akan berupaya mencari dokumen-dokumen pendukung dari negara-negara lain. Kesulitannya adalah arsip-arsip tersebut tidak disimpan di arsip nasional mereka, tetapi di simpan di Kementerian Luar Negeri negara tersebut.

Jika cara itu tidak berhasil, Indonesia dan Serbia tetap akan mengajukan dokumen Gerakan Non Blok tersebut hanya pada periode awal terbentuknya Gerakan Non-Blok saja.

Selain dokumen-dokumen yang diakui sebagai ingatan dunia tersebut, pada tahun ini Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Pinisi, seni pembuatan perahu di Sulawesi Selatan (Art of boatbuilding in South Sulawesi) sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO melalui Sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage-ICH) UNESCO di Pulau Jeju, Korea Selatan.

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia juga sudah banyak yang diakui UNESCO, mulai dari wayang, keris, batik, pelatihan batik, angklung, noken Papua, hingga tari Saman dan Tari Bali. Secara nasional Indonesia telah mencatat hampir 600 warisan budaya tak benda yang dimiliki negara ini.

CHEADSEA, lembaga pusat evolusi
Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UN for Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) mengesahkan pendirian pusat kategori 2, Pusat untuk Evolusi, Adaptasi dan Penyebaran Manusia di Asia Tenggara (Center for Human Evolution, Adaptation and Dispersal in South-East Asia/CHEADSEA) dalam salah satu acara di Sidang Umum ke-39 UNESCO.

CHEADSEA telah diusulkan Indonesia sejak 2014, namun baru dapat disahkan di tahun ini. CHEADSEA tersebut akan berdiri di bawa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang akan menjadi wadah kerja sama antara peneliti di dunia di bidang evolusi.

Lembaga itu nantinya akan memuat berbagai kegiatan seperti pertukaran ahli, penelitian, publikasi , konferensi dan lainnya, sehingga para ahli evolusi manusia dari berbagai disiplin ilmu dapat bertemu.

Indonesia mengusulkan untuk membangun CHEADSEA karena negara ini memiliki potensi luar biasa sebagai tempat yang memiliki situs-situs evolusi manusia seperti di Sangiran. Indonesia pun menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti Georgia di bidang evolusi manusia.

Tahun ini Indonesia-Georgia menggelar pameran bersama yaitu “Prehistoric Heritage” yang menampilkan Homo Erectus dari Dminasi, Georgia dan fosil Indonesia yang berasal Sangiran, Trinil, Ngandong serta Mojokerto.

Tak hanya menggelar pameran kedua negara berencana saling bertukar duplikasi manusia purba, dan berencana akan mengadakan pertukaran peneliti dibidang evolusi manusia. (ant)

ANTV Sabet Penghargaan Televisi Peduli Budaya Lokal

foto
Menteri Perdagangan Enggartiarso Lukita menyerahkan penghargaan kepada ANTV. Foto Viva.co.id.

Stasiun televisi ANTV berhasil meraih penghargaan seni budaya dari masyarakat pekerja seni budaya Nasional, Komunitas Seniman Celaket di Jawa Timur.

Penghargaan sebagai Televisi Peduli Budaya Lokal untuk ANTV tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Perdagangan RI, Enggartiarso Lukita, dalam perhelatan ‘International Celaket Cross Cultural Festival’ (ICCCF) ke 6 di Kota Malang, Jawa Timur.

Ajang festival dan perhargaan Internasional tersebut dimeriahkan di tiga panggung depan kantor Balaikota Malang dengan melibatkan 1.500 seniman lokal dan Nasional pada akhir pekan minggu lalu.

Erick Tohir selaku Direktur Utama ANTV menyampaikan apresiasinya atas inisiatif positif Komunitas Seniman Celaket Indonesia yang mengembangkan budaya Nasional melalui sebuah ajang festival budaya bertaraf Internasional.

“Selain sangat menghargai kiprah nyata penggiat-penggiat seni budaya nasional yang terlibat dalam ICCCF, saya juga mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada ANTV,” kata Erick Tohir dalam rilis yang diterima tim VIVA, Selasa (28/11).

“Ini tentu bentuk perhatian positif untuk ANTV yang dapat menjadi inspirasi bagi saya dan Tim ANTV agar selalu terus berupaya mengembangkan ide-ide kreatif anak bangsa melalui layar kaca nasional. Terima kasih atas semangatnya bersama ANTV untuk saling mendukung perkembangan seni budaya kreatif Indonesia,” tambah Erick Thohir.

International Celaket Cross Culture Festival (ICCCF) merupakan salah satu festival budaya terbesar di Malang, Jawa Timur. Dalam ajang yang telah berlangsung 6 kali dalam kurun waktu 7 tahun terakhir ini, ANTV masuk menjadi salahsatu penerima penghargaan sebagai media yang memiliki kepedulian terhadap budaya lokal.

Penghargaan tersebut diberikan atas upaya ANTV mendukung dan memperkenalkan budaya Nasional, baik melalui program pemberitaan, program hiburannya, hingga beberapa siaran langsung spesial ANTV yang mengangkat cerita-cerita legenda budaya nasional, seperti siaran langsung: Mahabharata Show, Indonesia Keren 1, Indonesia Keren 2, hingga pertunjukkan Mahabharata Kembali.

“ANTV secara konsisten terus berupaya mengangkat konsep kreatif dan cerita budaya nasional melalui berbagai kemasan program spesialnya. Mulai dari komunikasi lintas budaya dengan negara sahabat yang disajikan melalui cerita serial, hingga ide-ide dengan muatan yang sarat akan local wisdom Indonesia selalu menjadi perhatian ANTV untuk berkembang sejalan dengan tumbuhnya ANTV saat ini,” tulis Otis Hahijary selaku Vice President Director ANTV.

“Keberhasilan ANTV meraih posisi terbaik tahun ini dalam persaingan industri penyiaran nasional tentu tak terlepas dari inspirasi-inspirasi budaya lokal yang disisipkan melalui program-program hiburan dan informasi ANTV tersebut,” kata Otis Hahijary. (ist)

Remaja Jatim Menangi Gelar Batik Nusantara 2017

foto
Pemenang Putra Putri Batik Nusantara 2017 di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata. Foto: Jawapos.com.

Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara 2017 sukses digelar pada Sabtu (25/11) malam. Berlokasi di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, pihak Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) sebagai penyelenggara akhirnya menemukan pemenang untuk tahun ini.

Gelar Putra Putri Batik Nusantara 2017 dinobatkan kepada Steven Valerian dari Jawa Timur (Putra Batik) dan Agisha Febila dari Jawa Barat (Putri Batik) sebagai Juara 1. Sementara Juara 2 ditempati Abdy Azwar Sahi dari Banten dan Yasmin Oktavia dari Jawa Timur, ditambah Juara 3 yakni Dika Fadlika dari Jawa Tengah dan Tita Oxa Anggrea dari Jawa Timur.

Steven Valerian dan Agisha Febila seperti dilaporkan JawaPos.com, berhasil menang dari 26 peserta putra dan putri lainnya. Mereka juara setelah melewati seleksi cukup ketat pada tahap audisi yang diikuti sekitar 74 semifinalis.

Kemenangan dinilai langsung oleh para juri yang terdiri dari Tantie Koestantia (Pembina IPBN), Musa Widyatmodjo (desainer senior), Titiek Djoko (Yayasan Batik Indonesia) dan lainnya.

Ketua Umum Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) Ayu Dyah Pasha mengataian bahwa kegiatan ini diadakan dalam rangka melestarikan batik Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2009.

“Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara 2017, adalah sebagai wahana regenerasi untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan dikalangan anak muda sebagai pewaris budaya bangsa,” kata Ayu Dyah Pasha di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.

Wanita yang mencintai seni ini menambahkan, seluruh finalis Putra Putri Batik Nusantara 2017 telah menampilkan aksi terbaik selama audisi hingga malam puncak. Pada malam grand final pun menurutnya sudah tampil maksimal dengan balutan busana batik dari para perancang seperti Raden Surait, Danjyo Hijyoji dan Ambah Batik.

“Semoga Putra dan Putri Batik Nusantara 2017 bisa ikut ambil bagian mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia melalui berbagai kegiatan di dalam maupun luar negeri,” ucap Ayu Dyah Pasha.

Penyelenggaraan Putra Putri Batik Nusantara 2017 mendapat dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif RI dan Kementrian Pariwisata RI. Tahun ini ajang tersebut mengangkat tema yang Pesona Batik Peranakan. (jpg)

Filosofi Serba Hitam di Hari Jadi Kabupaten Malang

foto
Tampilan busana adat Malangan yang dikenakan Bupati Malang aat Upacara Hari Jadi Ke-1257 Kabupaten Malang. Foto: Humas for MalangTIMES.

Jangan kaget apabila di Hari Jadi Kabupaten Malang, seluruh aparat sipil negara (ASN) mengenakan busana warna hitam setiap tahunnya. Warna yang identik dan dikesankan sebagai perwakilan suasana muram dan duka oleh sebagian orang.

Padahal, pemaknaan warna hitam yang disimbolisasikan sebagai lambang dari tanah tidak sekedar dilihat dari permukaannya saja.

Tapi, di tingkat filosofinya warna hitam merupakan warna yang diidentikkan dengan lambang kebijaksanaan. Serupa tanah yang tabah dengan kesadaran memangku segala beban yang dianugerahkannya.

“Karena itu busana adat Malangan lebih didominasi warna hitam. Warna kebijaksanaan yang diharapkan menjadi bagian pribadi seluruh masyarakat di Kabupaten Malang,” kata Bupati Malang Dr H Rendra Kresna, yang mengenakan busana adat Malangan warna hitam dengan motif bunga kuning emas yang tersemat dari bagian kerah sampai bawah, Selasa (28/11) setelah acara upacara Hari Jadi Ke-1257 Kabupaten Malang.

Baju adat Malangan berwarna hitam merupakan bagian dari nilai-nilai budaya masa lalu yang kini dipertahankan sampai kini. Sebagaimana diketahui bahwa dalam rentang sejarah Jawa Timur (Jatim), riwayat kesejarahannya didominasi oleh tiga kerajaan besar. Yaitu Kerajaan Kediri, Kerajaan Singosari, dan Kerajaan Majapahit.

Barulah pada era Jawa Baru, masuklah pengaruh budaya dari Kerajaan Mataram Islam dari Jawa Tengah. Proses akulturasi budaya dalam berbusana inilah yang kini terlihat dari busana adat Malangan yang tiap tahun dikenakan oleh seluruh pejabat Pemerintahan Kabupaten Malang.

“Pemakaian baju adat dalam berbagai perayaan ini bukan untuk memperlihatkan strata, tapi malah sebaliknya. Seluruh dari kita menjadi satu dalam warna yang satu. Tidak ada strata dalam kebijaksanaan. Inilah filosofi dari baju adat yang kita kenakan,” terang Rendra kepada Jatimtimes.com.

Selain baju adat warna hitam, baik berkerah maupun tidak, biasanya juga dilengkapi dengan blangkon atau udeng. Di Malang sendiri, udeng khas Malangan adalah udeng kemplengan.

Walaupun tentunya saat ini banyak sekali modifikasi terhadap penutup kepala ini. Tapi, secara umum ada empat filosofis dari udeng Malangan ini. Yaitu gunungan, jeprakan, puteran dan tali wangsul.

Dari berbagai sumber yang ada, gunungan yang terdapat pada bagian belakang udeng melambangkan kekuatan rakyat Jawa yang kukuh bagai gunung dan juga merupakan lambang harapan yang tinggi.

Sedangkan jeprakan yang pada sisi kanan dan kiri memiliki tinggi yang sama, melambangkan keseimbangan pada hidup. “Yang berarti kita harus adil atau seimbang dalam melakukan sesuatu,” ujar Rendra yang juga sangat fasih dalam persoalan budaya jawa ini.

Puteran pada bagian depan melambangkan keterkaitan pada hal-hal yang berkebalikan itu tidak bisa dipisahkan. Misalnya siang-malam, baik-buruk, tua-muda, dan lainnya. Sedangkan tali wangsul adalah lambang orang Jawa yang saat meninggal nanti akan wangsul atau pulang ke Sang Pencipta.

Ikatan yang dihadapkan ke atas juga bermakna harus ingat kepada Tuhan. “Begitu dalamnya nilai filosofi dari sebuah busana masa lalu. Karena itu, kita terus lestarikan dalam kehidupan saat ini,” pungkas Rendra. (sak)

Menelusuri Cerita Rakyat dari Jawa Timur

foto
Menikmati suara pasir berbisik di Bromo yang menenangkan. Foto: Bromowisata.co.id.

Buku berjudul Walansendow mendokumentasikan beragam cerita rakyat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti Asal Mula Nama Gunung Bromo dan Putri Nglirip, dua cerita dari daerah Jawa Timur, Patih Senggilur dari daerah Sumatera Selatan, Putri Dara Nante dari Kalimantan Barat, sampai Walansendow, cerita dari daerah Sulawesi Utara.

Cerita Asa Mula Nama Gunung Bromo seperti ditulis penulisnya, YB Suparlan mengisahkan sepasang suami istri Jaka Seger dan Rara Anteng yang hidup bahagia di lereng sebuah gunung.

Namun, seperti ditulis Satelitpost.com, suatu hari Rara Anteng mengeluh karena sudah lama tak dikaruniai anak. Jaka Seger memberi nasihat istrinya agar lebih banyak berdoa pada para dewa. Kemudian, mereka melakukan ritual doa dengan menghadap gunung.

Tak lama kemudian, sebuah suara muncul menggelegar dari arah gunung dan menyatakan keinginan mereka memiliki anak bisa terkabul asalkan mereka berjanji. “Kami berdua berjanji kalau dikaruniai anak banyak, kami merelakan salah satu anak kami menjadi kurban untukmu,” kata Jaka Seger.

Berbulan-bulan kemudian, Rara Anteng melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan diberi nama Kaki Ireng. Setelah kelahiran anak pertama, lahir anak ke dua, ketiga, keempat, dan seterusnya sampai 25 anak. Jaka Seger dan Rara Anteng sangat bahagia memiliki banyak anak.

Di antara 25 anak tersebut, ada 1 anak yang sangat mereka sayangi, yakni Dewa Kusuma. Ia anak lelaki yang rajin dan patuh. Ia menghormati kakak-kakaknya dan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Namun, suatu hari Dewa Kusuma hilang dibawa gulungan api saat menggembalakan kambing bersama adik-adiknya di lereng gunung.

Kisah dalam buku terbitaan Kanisius setebal 186 halaman itu seperti memberi pesan akan pentingnya menepati janji. Ketika apa yang kita inginkan sudah kita dapatkan, bukan berarti kita lantas bisa bersenang-senang dan melupakan semuanya.

Meski cerita rakyat berasal dari leluhur atau orang zaman dahulu, namun pesan-pesannya masih penting untuk dihayati sampai sekarang. Cerita rakyat merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang wajib kita jaga.

Terlebih, di tengah gempuran budaya modern yang cenderung tidak sesuai dengan buyaya bangsa kita, nilai-nilai dan pesan yang terkandung dalam cerita rakyat akan bisa mengingatkan kita kembali pada identitas dan tradisi kita. (ist/Peresensi: Al-Mahfud)

Upaya Melestarikan Budaya Tedak Siten

foto

Tak ingin tradisi Jawa punah di tanah asalnya sendiri Nanik Purwanti pemilik katering KitaKita menggelar upacara Tedak Siten bagi cucu pertamanya Nalendra Darren Ananka di rumahnya Graha Famili Surabaya.

Tradisi Jawa sengaja diusung ibu tiga anak, yang tidak ingin budaya Jawa luluh ditengah gencarnya globalisasi di Indonesia. “Supaya masyarakat tahu, jika tradisi budaya Jawa itu sangat agung dan sarat makna,” terang pemilik Hadiningrat Resto itu.

Saat putra dari sulungnya dr Caryr Nurina Sari dan dr Anugerah Wahyu Wicaksono berusia 7 bulan, menggelar upacara tradisional mengundang kenalan dan tetangga sekitar.

Tedak siten memaknai rasa syukur jika cucunya sudah mulai belajar berjalan. Tedak siten yang dimaknai memperkenalkan lingkungan sekitar pada sang cucu terbagi dalam beberapa tahapan.

Awalnya, Alend dituntun ibunya berjalan di atas 7 jadah makanan terbuat dari beras ketan dicampur kelapa, garam dikukus dan dihaluskan. Jadah yang dicetak diberi warna-warni sebagai lambang warna kehidupan.

Injakan pertama dilakukan pada jadah berwarna gelap menuju terang (putih). Maknanya setiap permasalahan yang dihadapi akan ada jalan keluarnya. Angka 7 melambangkan pitulungan atau pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

Menyusul Alend dituntun menaiki tangga terbat dari tebu. Pilihan tebu dalam Jawa dimaknai antebing kalbu (mantapnya hati).

Menyusul dituntun diatas pasir dan anak akan mengais dengan kedua kakinya. Harapannya, kelak jika besar sang anak mampu mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhannya.

Setelah itu barulah Alend dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang isinya berbagai macam benda, mulai dari buku,mainan, makanan, alat musik dan lain sebagainya. Alend ternyata memilih Al Qur’an kecil. Sesuai benda yang diambil, pranata acara menyebutkan semoga kelak Alend bisa mewujudkan apa yang ada dalam isi kitab suci Al Qur’an.

Tahapan terakhir, pemberian uang logam dicampur dengan bunga dan beras kuning oleh sang ayah dan sang kakek Heru. Ini merupakan simbol agar kelak rejeki Alend berlimpah namun bersifat dermawan.

Barulah sang bayi dimandikan dengan air bunga setaman sebagai simbol sang anak membawa nama harum keluarga. Setelah itu Alend diberi baju bagus dengan harapan akan menjalani hidup yang baik pula

Tahapan demi tahapan Tedak Siten menarik untuk disimak. Pastinya tradisi yang mulai jarang dilakukan itu melambangkan kayanya budaya Jawa. (sak)

Bangkalan Kurang Serius Garap Wisata Budaya

foto
Pengerap bersiap memacu sapi kerapnya di Alun-Alun Kota Bangkalan beberapa waktu lalu. Foto: Jawapos.com/Badri Stiawan.

Kerapan sapi salah satu wisata budaya di Bangkalan yang potensial untuk dikembangkan. Buktinya, wisatawan dalam negeri dan mancanegara selalu hadir saat event tradisi Madura itu digelar. Karena itu DPRD Bangkalan mendesak pemerintah untuk menggenjot potensi tersebut.

Anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman berharap ada pengelolaan serius dari pemerintah dalam mengembangkan wisata budaya. Utamanya, dalam memberikan daya tarik kepada wisatawan yang berkunjung ke Kota Salak. Apalagi, setiap tahunnya pengunjung wisatawan ke Bangkalan terus mengalami penurunan.

”Bisa dengan membuat paket kunjungan. Misal mengunjungi wisata A dan B bisa mendapat bonus pertunjukan budaya,” sarannya seperti dikutip Jawapos.com, pekan lalu.

Jika sektor wisata bisa dikelola dengan baik, kata Abdurrahmanmaka akan sangat membantu dari segi pendapatan asli daerah (PAD). ”Sangat besar pendapatan yang bisa didapatkan kalau diperhatikan dengan serius. Kami harap bisa dikelola dengan baik,” harapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Lily Setiawaty Mukti berencana melakukan terobosan. Salah satunya dengan memberikan sambutan kepada pengunjung dengan menghadirkan wisata budaya.

”Bisa juga dengan menghidupkan wisata budaya. Seperti halnya Bali. Jadi bukan hanya tempat wisatanya saja yang jadi daya tarik, tradisi dan budayanya juga,” papar Lily kemarin.

Pihaknya juga sempat menghadirkan wisata budaya kerapan sapi beberapa waktu lalu bagi para tamu kunjungan. Untuk itu, sangat memungkinkan untuk mengolaborasikan wisata budaya dengan potensi kunjungan lainnya.

”Jadi ketika ada pergelaran kerapan sapi, beberapa masakan kuliner dijejer di lokasi yang sama. Untuk pengunjung dengan paket perjalanan tertentu, bisa mendapatkan pelayanan kunjungan wisata ke tempat lain,” paparnya.

Menurut Lily, untuk merealisasikan rencana tersebut memerlukan tahapan. Semua pihak juga harus ikut berperan. ”Kami akan coba bicarakan dengan semua pihak nanti,” pungkasnya. (sak)