Ajang Budaya Plus Bisnis di Festival Indonesia Moskow

foto
Festival Indonesia Moscow, gabungan ajang pentas budaya dan kepentingan bisnis. Foto: RMOL.co.

Festival Indonesia kedua akan digelar di Hermitage Garden Moscow, Rusia pada 4-6 Agustus 2017 mendatang. FI Moskow 2017 ini tidak hanya sebagai ajang pentas budaya, tetapi juga ada kepentingan ekonomi.

Demikian disampaikan Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI bidang Diplomasi Ekonomi, Ridwan Hassan, dalam pertemuan persiapan FI Moskow 2017 di kantor Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, kemarin, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima sesaat lalu.

“Hubungan Indonesia dengan Rusia meningkat dari waktu ke waktu. Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia tahun 2016 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, termasuk nilai ekspor Indonesia ke Rusia,” jelasnya seperti dikutip RMOL.co.

Pertemuan di Kemlu itu sekitar 165 orang yang merupakan perwakilan dari berbagai kalangan, baik Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah/Kabupaten/Kota, pelaku usaha dan asosiasi pengusaha yang akan berpartisipasi pada FI Moskow 2017.

Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia M. Wahid Supriyadi mengatakan potensi besar Rusia dapat dimanfaatkan oleh Indonesia, antara lain melalui pelaksanaan Festival Indonesia.

“Tema Festival, yaitu ‘Visit Wonderful Indonesia-Enjoy its Diversity’ difokuskan pada potensi daerah-daerah Indonesia di bidang Pariwisata, Investas dan Perdagangan,” kata M Wahid Supriyadi yang khusus hadir dalam pertemuan tersebut dari Moskow.

Rangkaian kegiatan FI Moskow 2017 berupa forum bisnis, pameran produk Indonesia, fashion show, kuliner, pertunjukan seni dan budaya, dan layanan informasi tentang Indonesia. Selain itu, direncanakan juga peluncuran Paviliun Indonesia di Food City Moscow sebagai tempat Permanent Display untuk komoditas ekspor industri pangan Indonesia di Rusia.

Tiga hari pelaksanaan FI Moskow 2017 pada musim panas dengan keindahan Hermitage Garden Moscow yang dipadukan dengan nuansa Indonesia akan diikuti oleh sekitar 500 peserta dari Indonesia dan diharapkan dikunjungi oleh sekitar 100 ribu orang Rusia dan dari negara-negara di sekitarnya. Pada FI Moskow 2016 yang dilaksanakan selama dua hari, diikuti oleh sekitar 400 peserta dari Indonesia dan dikunjungi oleh sekitar 70 ribu orang.

Sejumlah daerah di Indonesia, baik Pemerintah Daerah, Kota maupun Kabupaten, termasuk KADIN Daerah dan para pelaku usaha akan turut serta menyukseskan FI Moskow 2017.

Daerah-daerah tersebut seperti Aceh, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Bogor, Tengerang Selatan, Jawa Tengah, Semarang, Boyolali, Jawa Timur, Surabaya, Malang, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Bali dan Papua. Selain itu, Menteri Perdagangan RI direncanakan juga akan hadir pada Festival tersebut.

“Pemerintah Kabupaten Boyolali akan mendukung kesuksesan FI Moskow 2017 dengan pengiriman delegasi bisnis dan tim kesenian, antara lain Krakatau Band,” kata Bayu Sahid dari Pemkab Boyolali. Rusia merupakan negara yang memiliki potensi besar dalam kerja sama dengan Indonesia, khususnya di bidang perdagangan, investasi dan pariwisata. (rmol)

Perjuangan Komunitas Perupa Jatim Menuju Texas

foto
Perjuangan Komunitas Perupa Jawa Timur untuk menembus pasar dunia sedang diuji. Foto: Jawapos.com.

Para perupa Jawa Timur punya gawe. Karya-karya terus dilontarkan bak amunisi untuk berperang. Lewat karya, 40 perupa Jawa Timur yang tergabung dalam Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati) siap berperang di negeri orang. Bukan sebagai ajang adu kepiawaian menggambar. Tapi, untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia ke dunia.

Tak ada karya yang sempurna. Itulah yang dibahas saat diskusi di sekretariat Koperjati beberapa waktu lalu. Diskusi tersebut berisi agenda evaluasi karya dari 40 seniman yang akan mengikuti pameran Art Culture (@rtcult) di Dallas, Texas.

Artcult merupakan event kerja sama antara Koperjati dan Artists Showplace Gallery, Dallas. Kerja sama terjalin dari relasi yang dibangun antara para seniman di Indonesia, khususnya Jawa Timur, dan galeri tempat acara plus komunitas masyarakat Indonesia di Dallas. Pameran akan dihelat pada 9–23 September 2017.

Sebanyak 40 pelukis sudah melalui tahap seleksi internal yang dilakukan Koperjati. Di antaranya, para pelukis dari Surabaya, Sidoarjo, Singosari (Kabupaten Malang), Malang, Batu, Bondowoso, Ponorogo, dan Lumajang. Mereka merupakan hasil saringan dari sekitar 200 pelukis Jawa Timur yang tergabung dalam komunitas tersebut.

Event tersebut diharapkan bisa menjadi promosi wisata, khususnya tentang seni dan kebudayaan Jawa Timur. ”Masyarakat Indonesia di sana sangat menanti kedatangan kami,” terang Ketua Koperjati Muit Arsa kepada Jawapos.com beberapa waktu lalu.

Pelukis kelahiran 17 Agustus 1971 itu sedang mengupayakan pengajuan dukungan untuk memberangkatkan karya-karya para pelukis Jawa Timur ke Dallas. ”Yang paling berat adalah biaya akomodasi. Kami sedang mengupayakan pengajuan bantuan dari pemerintah kota maupun provinsi. Semoga ada kepedulian,” paparnya.

Selain itu, lanjut dia, Koperjati mengharapkan bantuan dari Dinas Kebudayaan Jawa Timur (Disbudpar Jatim) untuk mengirim delegasi penari guna ditampilkan pada saat acara pembukaan.

Hingga kini persiapan yang telah dilakukan selama empat bulan mulai terlihat. Sembari menyeruput kopi, para seniman berdiskusi. Atas kesadaran diri sendiri, satu per satu mempresentasikan karya. Para seniman yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur itu terlihat sangat antusias mempersiapkan karya terbaik.

”Persiapan terkait bahan yang akan dipamerkan sudah hampir 90 persen,” ujar Muit Arsa. Sebagian karya yang sudah jadi secara fisik dibawa dan didiskusikan. Karya yang masih dalam proses pembuatan dipresentasikan secara digital.

Karya-karya tersebut tentu punya aliran, konsep, dan media yang beragam. Setiap perupa diminta untuk mempresentasikan dua karya. Setelah itu, tim dari komunitas akan menyeleksi dan memilih satu lukisan untuk dikirim ke Dallas. Para pelukis membawa rancangan atau lukisan yang sudah jadi dalam ukuran yang sudah ditentukan.

”Ukuran disesuaikan dengan dimensi ruang pameran. Jadi, para perupa tidak bisa memilih ukuran,” jelasnya. Meski demikian, tema yang diusung harus seragam. Yakni, tentang kebudayaan atau kehidupan di Jawa Timur.

Selain menjadi ketua Koperjati, Muit merupakan pelukis spesialisasi model perempuan. Aliran yang diusungnya adalah exotic art atau exo art. Objeknya perempuan. Hampir semua karyanya mengeksplorasi berbagai sudut pandang tentang perempuan. Termasuk keindahan tubuhnya.

Tak meninggalkan jati diri, dia membawa karya yang berjudul Welcome to Indonesia. Sosok perempuan manis berbalut kostum wayang tampak tersenyum ramah di kanvas berukuran 110 x 140 sentimeter. Mirip sosok Sinta pada kisah pewayangan Ramayana. Sosok tersebut merupakan gambaran seorang dewi dengan keramahannya yang sedang menyambut kehadiran wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

Karya yang lain datang dari Agus Desoe. Lukisan tersebut diberi judul Langit Kembali Biru. Pada kanvas berukuran 90 x 120 sentimeter, tampak sosok elok Patung Liberty. Uniknya, patung kebanggaan Amerika Serikat itu dilukis dengan mengenakan batik parang. Ya, Agus memang terkenal dengan lukisan surealisme yang banyak menghasilkan kejutan.

Patung itu membawa buku yang berjudul Buku Pintar. Judul tersebut multitafsir. Agus membebaskan siapa saja yang melihat untuk mengartikannya. ”Misalnya, buku pintar bisa saja ditafsirkan sebagai buku seribu mimpi, primbon, buku pelajaran, bahkan kamasutra,” papar pria 44 tahun tersebut.

Melalui lukisannya, perupa asal Kota Batu itu bermimpi kelak Indonesia bisa maju seperti Amerika. Itu adalah mimpi yang dia dapatkan ketika tidur. Mimpi tersebut kemudian menjadi inspirasi untuk membuat lukisan itu. ”Kalau toh mimpi itu terlalu jauh, setidaknya kita bisa menjalin relasi dengan baik,” tambahnya, lalu tersenyum.

Sementara itu, pelukis asal Surabaya, Dewi Ulantina, menghadirkan karya dengan karakternya yang khas. Warna-warna ceria tergores di atas kanvas hitam. Dewi menyebut karya-karyanya memiliki aliran naif. Sesuai penafsirannya, dia kerap menghadirkan sosok anak kecil. Pribadi yang dikenal masih lugu dan apa adanya menjadi daya tarik di setiap karya yang dibuat Dewi.

Pada saat diskusi beberapa waktu lalu, karya Dewi masih setengah jadi. Namun, sudah terlihat sosok anak perempuan yang mengenakan kebaya. ”Ini rencananya saya mau bikin si anak membawa mainan tradisional di tangan,” jelasnya. Sebagai seorang seniman, Dewi berharap proyek itu dapat menjadi batu pijakan untuk melangkah lebih jauh. Bukan hanya membawa nama pribadi, yang terpenting mem-branding Indonesia sebagai negara yang kaya budaya di mata dunia. (jpg)

Perbaiki Administrasi Pengelolaan Cagar Budaya

foto
Rumah Radio Bung Tomo yang sudah rata dengan tanah. Foto: istimewa.

Peristiwa pembongkaran bangunan bekas tempat siaran Radio Bung Tomo, masih menjadi perbincangan serius. Maklum, bangunan itu sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemkot Surabaya sebagai salah satu bukti pertempuran arek-arek Suroboyo dalam memperjuangkan kemerdekaan RI.

Kala itu, Radio Bung Tomo merupakan sarana komunikasi vital sebagai alat perjuangan. Radio ini mulai mengudara pada tanggal 15 Oktober 1945, tiga hari sesudah PPRI berdiri (Soeara Rakjat, diakses pada 15 Oktober 1945).

Bangunan tersebut berdiri tahun 1935 yang juga masuk dalam daftar Cagar Budaya sesuai SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04 tahun 1998. Namun faktanya bangunan tersebut kini sudah rata dengan tanah.

”Itulah yang mendorong kami mahasiswa FISIP Universitas Airlangga melakukan penelitian tentang fenomena pembongkaran Bangunan Cagar Budaya Radio Bung Tomo itu,” kata Leny Yulyaningsih, ketua kelompok peneliti, seperti dirilis PIH Unair. Selain dia juga ada Parlaungan Iffah Nasution, dan Lisda Bunga Asih.

Mereka kemudian menuangkan penelitiannya ini ke dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-SH) dengan judul “Fenomena Pembongkaran Bangunan Cagar Budaya Radio Bung Tomo Terkait UU No 11 Tahun 2010 dan Perda Kota Surabaya No 5 Tahun 2005”.

Setelah diseleksi Kemenristekdikti, proposal PKM-SH pimpinan Leny Yulyaningsih ini berhasil lolos, sehingga berhak memperoleh dana penelitian dari Dirjen Dikti dalam program PKM 2016-2017.

Berdasarkan UU No 11 Tahun 2010, kriteria bangunan cagar budaya adalah yang berusia minimal 50 tahun. Namun berdasarkan wawancara dengan tim Ahli Cagar Budaya di Surabaya, tahun 1997 bangunan tersebut pernah dipugar, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai bangunan Cagar Budaya.

Hal tersebut senada dengan penjelasan Prof Ir Johan Silas, Tim Ahli Cagar Budaya bahwa si pemilik bangunan itu mengajukan ijin untuk memugar. Kemudian tim cagar budaya dengan pertimbangan itu mengijinkan pemugaran. Tetapi terjadi kekosongan atau kaget dengan undang-undang. Sehingga pengertian pembongkaran itu kemudian terjadi salah interpretasi.

“Bila ada ijin, maka menurut Perda itu, si pemilik bangunan bisa membongkar bangunan. Jadi, dia membongkar bangunan itu karena tidak ada undang-undang yang secara spesifik melarang. Nah itu yang terjadi. Jadi ijin pemugaran itu tidak mengaitkan dengan ijin membongkar, oleh karena itu dipersoalkan juga yang membuat Perda itu,” kata Johan Silas.

Jadi kalau dibaca kata-kata dalam Perda tersebut, bahwa “Seseorang dapat mengajukan ijin bukan merusak”. Sehingga dia membongkar. Artinya pada Perda itu ada kelemahan. Akhirnya menjadi salah kaprah semua.

“Makanya ketika digugat ke pengadilan, hal itu dianggap sebagai pelanggaran ringan, karena tidak ada artikel Undang-undang yang spesifik melanggar,” tambah ahli tata-kota ITS itu.

Namun, proses kasus pemugaran tersebut hanya dapat ditindaklanjuti dengan Perda Kota Surabaya No 5 Tahun 2005. Alhasil, PT Jayanatha (selaku pemugar Bangunan tersebut) dikenai denda Rp 15 juta dan menawarkan diri untuk membangun kembali bangunan Radio Bung Tomo.

“Jadi menurut tim kami, terhadap persoalan ini perlu adanya perbaikan administrasi dalam pengelolaan cagar budaya di Kota Surabaya,” kata Leny.

Solusi yang ditawarkan oleh Tim PKM-SH Leny Dkk ini, agar tidak terjadi kasus yang serupa pada cagar budaya lainnya, yaitu adanya policy brief berupa membentuk model jaringan koordinasi antara pihak terkait untuk mencegah kesalahan komunikasi.

Juga merevisi beberapa bagian Perda Kota Surabaya No 5 Tahun 2005 agar sesuai dengan kebijakan yang baru yaitu UU No 10 Tahun 2011. Dan menyusun kembali struktur tim cagar budaya Kota Surabaya untuk mendukung pemeliharaan cagar budaya di kota surabaya. (sak)

Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat

foto
Simposium Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat. Foto: Kemdikbud.go.id.

Situasi kehidupan kebangsaan yang bergerak ke arah mencemaskan serta ujian kebangsaan atas ancaman perbedaan membuat UGM menginisiasi simposium tentang kebangsaan.

Simposium Budaya Kebangsaan tentang “Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” diselenggarakan pekan lalu di Auditorium Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Pada simposium yang dibuka oleh Rektor UGM Prof Panut Mulyono, Ditjen Kebudayaan yang diwakil Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menjadi pembicara kunci yang membahas tentang kebudayaan dan kebangsaan.

Pendekatan budaya dianggap dapat menjadi strategi meredam dan memediasi konflik, baik yang bersifat vertikal maupun horisontal. Simposium ini merupakan kerja sama Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Pusat Studi Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

Dirjen Kebudayaan juga menyampaikan tentang bagaimana strategi kebudayaan terkait dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Dirjen Kebudayaan menjelaskan hal ini dalam pernyataannya: “Tidak banyak strategi kebudayaan di masa dahulu, namun UU Pemajuan Kebudayaan yang dibahas selama lebih dari 30 tahun merupakan buah dari olah pikir tentang strategi kebudayaan”.

Pada simposium yang dihadiri sekitar 200 peserta yang terdiri dari akademisi, praktisi kebudayaan, mahasiswa dan masyarakat umum ini menitik beratkan tentang kehadiran pemerintah dalam kebudayaan dan kebangsaan.

UU No 5 Tahun2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjelaskan bahwa praktek kebudayaan begitu tersebar dan beragam. Titik singgung atas berbagai interaksi tersebut dapat terjadi dengan kehadiran negara yang mengembangkan platform tersebut.

“Yang terpenting dalam UU Pemajuan Kebudayaan ialah metode atau cara untuk memobilisasi pikiran menjadi kekuatan dan strategi yang konkrit” ujar Hilmar Farid.

“Kita adalah kita hari ini, dan kita harus membangun berdasarkan sesuatu yang apa yang kita miliki saat ini” merupakan ujaran yang tepat dalam menghadapi tantangan bangsa, ditekankan oleh Hilmar Farid, sekaligus kesimpulan dari simposium ini. (sak)

Jam Matahari, Penanda Waktu Salat dan Kiblat

foto
Melihat penanda waktu salat dan kiblat dengan jam matahari. Foto: Detik.com.

Perkembangan teknologi modern tidak serta merta menggeser ilmu pengetahuan dan teknologi sederhana yang ada sejak ratusan tahun silam. Salah satu buktinya adalah jam matahari atau kompas matahari yang hingga kini masih digunakan untuk menentukan waktu salat bagi umat Islam.

Jam matahari atau yang biasa disebut jam bencet ini berada di komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Babul Ulum, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Tidak seperti penunjuk waktu pada umumnya, jam matahari tersebut berbentuk cekungan setengah lingkaran dari tembaga dengan satu jarum yang tepat berada di tengahnya.

Pada bagian setelah lingkaran tertera sejumlah angka yang menunjukkan jam serta waktu salat. Jam kuno itu diletakkan di tanah lapang yang ada di lingkungan pesantren, sehingga bisa mendapatkan sinar matahari yang bagus, mulai pagi hingga sore hari.

Pengasuh Ponpes Babul Ulum, KH Fattah Mu’in mengatakan, untuk mengetahui waktu salat, cukup dengan melihat bayangan dari jarum yang terkena paparan sinar matahari. “Bayangan itu akan menunjukan ke angka sesuai waktunya. Kalau waktunya salat asar maka akan bayangannya juga akan menunjukkan ke jam itu,” katanya kepada Detik.com, pekan lalu.

Menurutnya, keberadaan jam kuno tersebut telah ada sejak tahun 1965 yang lalu. Jam buatan salah satu perusahaan di Bandongan, Magelang, Jawa Tengah itu hingga kini masih tetap digunakan.

“Kalau jam ini sama sekali tidak membutuhkan baterai, karena mengandalkan sinar matahari. Sebelum bentuknya setengah lingkaran ini, dulu ada jam matahari yang bentuknya segi delapan dengan satu jarum yang tegak lurus, tapi tanpa angka,” ujarnya.

Fattah Mu’in menjelaskan, jam kuno itu sebetulnya bernama Bin Jarot. Nama tersebut diambil dari nama penemunya yakni Abdullah Bin Jarot. Namun di tanah Jawa sebutan Bin Jarot berubah menjadi Bencet.

Meski terkesan sederhana, proses pemasangan jam ini membutuhkan keahlian khusus, karena harus benar-benar presisi dan sesuai dengan pergerakan matahari, mulai terbit hingga terbenam. “Karena selain penunjuk waktu, di situ juga terdapat garis sebagai petunjuk arah kiblat,” imbuhnya. (dtc)

DKJT: Bantuan ke Seniman Dorong Kualitas

foto
Ketua DKJT Taufik Monyong bersama Gubernur Soekarwo. Foto: Antarajatim.com.

Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menilai bantuan Gubernur Jawa Timur terhadap 500 seniman yang dinilai berprestasi dapat mendorong peningkatan kualitas bagi para seniman yang menerimanya.

Ketua DKJT Taufik “Monyong” Hidayat menyatakan apresiasi setinggi-tingginya terhadap Gubernur Jawa Timur yang telah rutin setahun sekali memberi bantuan kepada ratusan seniman setempat sejak era Gubernur Imam Utomo.

“Sekarang tradisi itu masih diteruskan oleh Gubernur Soekarwo,” ujarnya kepada wartawan, di sela menghadiri penyerahan bantuan terhadap 500 seniman Jawa Timur berprestasi di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu Gubernur Soekarwo menyerahkan uang tunai senilai Rp 1,5 juta dan paket sembilan bahan kebutuhan pokok kepada masing-masing 500 seniman terpilih tersebut.

“Penghargaan dari seorang kepala daerah terhadap seniman di wilayahnya yang digelar rutin setahun sekali seperti ini adalah satu-satunya di Indonesia. Saya sudah survei, dari 34 provinsi dan 514 kota/ kabupaten di Indonesia, baru Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur yang mengapresiasi para senimannya,” katanya seperti dikutip Antara Jatim.

Dia menilai, yang dilakukan Gubernur Jawa Timur tidak sekadar memberi dana segar kepada para senimannya. “Lebih dari itu, melalui pemberian bantuan seperti ini, pemerintah telah memberikan kekuatan besar untuk mendorong seniman meningkatkan kualitas sumber daya manusianya,” ujarnya.

Bagi Taufik, negara harus hadir memberi penghargaan kepada para seniman yang telahmelestarikan kebudayaan dan kearifan lokal Indonesia di daerahnya masing-masing .

“Seniman memang harus mendapat penghargaan dari negara. Hingga sekaran, sebelum negara memberikan sertifikasi, Jawa Timur sudah memberi ‘report’. Saya rasa ini bisa menjadi percontohan bagi daerah lain dan ‘report’ terhadap seniman yang telah diapresiasi oleh Gubernur Jawa Timur bisa dikirim ke Jakarta sebagai usulan memberi penghargaan ‘masterpiece’ dari negara,” tuturnya.

Selain bantuan rutin setahun sekali terhadap ratusan seniman oleh Gubernur di setiap bula Ramadhan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah rutin memberi penghargaan terhadap 10 seniman terbaik yang diserahkan Gubernur di setiap perayaan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur, bulan Oktober.

Taufik mengusulkan agar Gubernur Jawa Timur dapat menambah jumlah penerima bantuan maupun penghargaan seniman terbaik tahun pada tahun yang akan datang.

“Semisal jumlah seniman penerima bantuan yang tahun ini berjumlah 500 orang, tahun depan bisa diupayakan menjadi dua kali lipat yang menerimanya, yaitu menjadi 1.000 orang. Sedangkan jumlah penerima penghargaan seniman terbaik, yang biasanya diberikan kepada 10 orang, bisa menjadi 15 seniman,” katanya.

Karena bantuan dan penghargaan dari gubernur tersebut, menurut Taufik, sekaligus sebagai subsidi bagi biaya produksi dalam proses kreatif para seniman di Jawa Timur, yang sekaligus sebagai pelestarian kebudayaan di wilayahnya. (ant)

Naskah UU Pemajuan Kebudayaan RI

foto
Usai Rapat Paripurna pengesahan UU Pemajuan Kebudayaan di DPR RI. Foto: Kemdikbud.go.id.

Dalam rangka melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia, pemerintah bersama dengan Komisi X DPR RI akhirnya mengeluarkan UU Pemajuan Kebudayaan RI.

Sebelumnya, setelah melewati pembahasan yang memakan waktu selama dua tahun, RUU Pemajuan Kebudayaan akhirnya disahkan dalam rapat Paripurna Pembicaraan tingkat II/Pengambilan Keputusan pada akhir April lalu di Gedung DPR RI, Jakarta.

Sebulan kemudian, tepat pada tanggal 24 Mei 2017 RUU pemajuan Kebudayaan RI tersebut disahkan oleh Presiden RI Joko Widodo, di Jakarta, dengan Nomor 5 Tahun 2017.

UU Pemajuan Kebudayaan merupakan gagasan antar-kementerian, yang dipimpin oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Penunjukan Kemendikbud sebagai koordinator atau pimpinan antar-kementerian tersebut berdasarkan surat Presiden RI nomor R.12/Pres/02/2016, tanggal 12 Februari 2016, perihal Penunjukan Wakil untuk Membahas RUU tentang Kebudayaan.

Kementerian lain yang masuk dalam tim tersebut adalah Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Agama, dan Kementerian Hukum dan HAM.

Naskah UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan RI bisa didownload disini. (sak)

Saat Goresan Dullah Menyempurnakan Garuda

foto
Lambang Garuda Pancasila beberapa kali direvisi. Foto: ist.

Rekaman cerita lahirnya Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 1945 membubuhkan peristiwa yang tidak biasa. Termasuk hadirnya goresan tinta Dullah, sang pelukis pribadi Presiden Soekarno, yang turut andil dalam pengembangan konsep garuda sebagai lambang negara.

Lewat pulasan tintanya ia mempertegas gambar Garuda pertama yang dibuat oleh Sultan Hamid II, putra sulung Sultan Pontianak ke-6.

Lambang Garuda muncul sekitar tahun 1950, usai pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda dalam Konferensi Meja Bundar di Den Hagg. Dari situlah pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) menggelar sayembara desain lambang negara.

Setelah melalui tahap seleksi yang panjang, terpilihlah desain karya Sultan Hamid II yang dirasa cukup mempresentasikan keutuhan Indonesia lewat Garuda.

Desain Garuda yang disuguhkan Sultan Hamid II seperti dilaporkan Kemdikbud.go.id menghadirkan Garuda tunggangan suci dewa Wisnu yang mengacu pada arca dan relief di candi-candi kuno. Sebut saja Prambanan, Mendut, Penataran, Sukuh dan sebagainya.

Secara ringkas, sosok Garuda berdiri di atas bunga teratai, dengan dada terlindung oleh perisai. Dikelilingi kata-kata bertuliskan ‘Republik Indonesia Serikat’ dan belum ada pencantuman ‘Bhinneka Tunggal Ika’ di dalamnya.

Di sana tak ada gambar bintang maupun rantai, yang ada hanya keris, kepala banteng, tiga batang padi dan pohon beringin.

Secara keseluruhan, Sultan Hamid II pun berkonsultasi dengan Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Muhammad Hatta untuk meninjau kembali tentang sosok Garuda yang sudah ia gambarkan.

Hasilnya, Bung Karno pun mengusulkan untuk adanya perbaikan. Diantaranya pencantuman lima lambang negara dan dibuatkan tangan garuda seolah-olah ia tengah memegang perisai.

Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan oleh Sultan Hamid II. Berbagai masukan yang diterima Soekarno juga mengantarkan ia meminta bantuan Dullah.

Kemudian Soekarno meminta pada Dullah mendesain ulang buatan Sultan Hamid II dengan mengubah posisi cakar yang semula mencengkram dari belakang helai kain menjadi tampak depan.

Demikian dengan bentuk kepala yang semula botak ditambahkan jambul sehingga garuda terlihat gagah seperti yang digambarkan cerita-cerita Nusantara.

Tak luput, Sultan Hamid II pun ambil bagian menyelaraskan warna dan skala agar lambang garuda semakin indah dipandang mata. Setelah rampung, Soekarno pun mengesahkan desain yang telah diperbaiki oleh Dullah dan Sultan Hamid II pada Maret 1950. (sak)

Mahasiswa AS Belajar Seni dan Budaya Indonesia

foto
Bla Bla Bla. Foto: Kampoengilmu.com.

Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) menyambut 28 mahasiswa Amerika Serikat dalam program Critical Language Scholarship (CLS), Senin (12/6) lalu.

CLS adalah program yang didanai Departemen Luar Negeri AS untuk memperkuat pengetahuan, keamanan, dan kesejahteraan melalui pembelajaran bahasa dan budaya dari negara yang penting bagi Amerika Serikat.

“Program CLS di UM sudah tahun kedelapan. Peserta akan belajar bahasa dan budaya Indonesia selama 2 bulan mulai Juni sampai Agustus 2017,” jelas Dr Gatut Susanto, Direktur BIPA UM kepada Suryamalang.com.

Peserta akan belajar bahasa dengan topik Pemberdayaan Ekonomi dan Lingkungan. “Peserta bisa memilih untuk mendalami enam seni budaya Indonesia, antara lain batik, karawitan, kuliner, pencak silat, tari, dan dangdut,” katanya.

Dangdut sengaja dimasukkan untuk menjadikan dangdut sebagai identitas Indonesia. “Jadi Dangdut akan goes to America,” guraunya.

Setiap peserta dari berbagai universitas dan jenjang pendidikan itu akan didampingi dua mahasiswa UM. “Kami juga menyediakan empat guru dalam setiap kelas. Jadi peserta dapat belajar secara cepat. Peserta pada tahun lalu sudah cukup mahir berbahasa meski hanya belajar dua bulan,” tuturnya. (ist)

Menghidupkan ‘Kampung Majapahit’ untuk Masyarakat

foto
Program pemberdayaan masyarakat Kampung Majapahit di Trowulan. Foto: PIH Unair.

Dibangunnya duplikat rumah khas kampung Majapahit di tiga desa di sekitar situs Kerajaan Majapahit di Desa Sentonorejo, Bejijong dan Jati Pasar, di Trowulan, Kabupaten Mojokerto diharapkan menjadi destinasi wisata dan menjadi barometer kunjungan wisatawan.

Harapan lebih jauh, hidupnya arena wisata itu akan mendongkrak perekonomian masyarakat setempat dengan tumbuhnya usaha kreatif yang menyertainya. Sayangnya, fakta yang ada, hingga saat ini tidak ada program lanjutan yang dapat mendukung adanya ‘Kampung Majapahit’ tersebut, dengan demikian harapan perekonomian baru pun terhambat.

Terdorong adanya problema inilah mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (Unair) menerjunkan diri dan menawarkan suatu inovasi dalam pengabdian masyarakat guna mendukung lanjutan program ‘Kampung Majapahit’ berupa pemberdayaan masyarakat melalui suatu pelatihan.

Seperti diterangkan Leny Yulyaningsih, mewakili tiga temannya yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM), bahwa cagar budaya Trowulan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional.

Ini sesuai Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 260/M/2013 tentang Penetapan Satuan Ruang Geografis Trowulan Sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional. Tujuannya untuk mendukung pelestarian The Spirit Of Majapahit di kawasan Trowulan.

”Dari keadaan seperti itu kami memilih mengadakan pengabdian di Kampung Majapahit itu,” kata Leny, mewakili tiga anggota PKMM-nya yang lain, yaitu Piping Tri Wahyuni, Dian Rizkita Puspitasari, dan Dwi Viviani. Keempatnya adalah mahasiswa FISIP Unair.

Dengan persoalan yang memerlukan sentuhan itu, maka proposal PKMM Leny Dkk memperoleh persetujuan dan bantuan dana dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tahun 2016. Proposal Leny Dkk ini berjudul ‘MERICA (Majapahit Heritage Education): Program Pemberdayaan Masyarakat Kampung Majapahit Sebagai Upaya Meningkatkan The Spirit Of Majapahit di Kecamatan Trowulan Mojokerto’.

Dalam pengabdian tersebut, program pelatihan yang diberikan, pertama tentang ‘menghidupkan’ kembali sajian makanan ala Majapahit. Yang kedua, edukasi mengenai home stay, dan selanjutnya pelatihan promosi wisata.

Dalam ‘menghidupkan’ kembali penyajian makanan khas era Majapahit, yaitu ikan Wader, keempat mahasiswa FISIP Unair ini memberikan sosialisasi mulai dari bagaimana mencuci ikan wader secara higienis dan memperhatikan sanitasinya. Kemudian cara penyimpanan makanan yang sudah masak.

”Makanan wader yang sudah masak hendaknya ditutup dengan tudung makan agar tidak terkontaminasi bakteri dan atau dimasuki hewan dari luar,” tambah Dian Rizkita Puspitasari, ketua PKMM ini.

Pada edukasi home stay, antara lain diajarkan bagaimana melakukan greeting atau salam, memperkenalkan diri kepada tamu, membawa barang bawaan tamu, gerakan 3-S (Senyum, Sapa dan Salam).

”Ucapkan maaf untuk memperhalus permintaan, menanggapi complain dengan bijaksana serta responsive setelah mengetahui keluhan tamu,” tambah Dian.

Sedangkan pelatihan promosi wisata diajarkan menggunakan Website, kartu nama, juga brosur yang dapat digunakan untuk menjamu wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kepada peserta pengmas masing-masing juga diberikan brosur untuk home stay mereka.

Di dalam brosur itu juga bisa menuliskan nomor kontak (telepon atau Handphone) yang bisa dihubungi jika sewaktu-waktu ada wisatawan asing atau lokal yang membutuhkan home stay atau penginapan di ‘Kampung Majapahit’ tersebut. (sak)