Merawat Kebhinekaan Lewat Bahasa dan Sastra

foto
Bahasa dan sastra bisa menjadi media merawat kebhinekaan Indonesia. Foto: Kemendikbud.go.id.

Peran bahasa dan sastra Indonesia melalui re-identifikasi kebhinekaan bangsa menjadi hal yang menarik untuk menjadi salah satu solusi dalam permasalahan sosial saat ini.

Keragaman bahasa daerah yang dimiliki Indonesia turut berperan besar dalam perkembangan dunia sastra Indonesia. Bahasa daerah dan nilai-nilai lokalitas pun mengambil andil besar dalam pengembangan bahasa Indonesia yang untuk merawat kebhinekaan dan kebangsaan.

Pakar bahasa Bambang Kaswanti Purwa mengatakan, bahasa Indonesia berkembang sesuai dengan konteks lokalitas di daerah yang terdekat dengan masyarakat. Keragaman bahasa dan sastra daerah yang memperkaya bahasa dan sastra Indonesia merupakan perjalanan kultur yang terwujud dalam kebhinekaan.

Bambang mencontohkan, tegur sapa budaya dalam merajut kebhinekaan tercermin dalam salah satu puisi karya Chairil Anwar yang berjudul ‘Cerita Buat Dien Tamaela’.

Chairil Anwar yang seorang sastrawan asal Minang, Sumatera Barat, menulis puisi dengan bahasa Maluku. “Puisi itu seperti sebuah perjalanan kultur Chairil Anwar,” ujarnya dalam acara Bincang-Bincang Kebangsaan di Gedung D Kemendikbud, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terkait pembelajaran bahasa Indonesia dan sastra di sekolah, pakar sastra Suminto A Sayuti mengatakan, anak-anak harus bisa membedakan berbahasa dengan bersastra. Siswa tidak hanya belajar tentang teori, melainkan juga bagaimana terjun langsung untuk mendalami sastra dan menghasilkan suatu karya sastra.

“Anak-anak harus bisa langsung masuk ke sana (karya sastra), dan mempraktekkannya. Misalnya novel Ayat-Ayat Cinta karya Kang Habiburrahman El Shirazy. Di novel itu siswa bisa melihat adanya keragaman budaya Indonesia, adatnya, ada juga nilai-nilai lokalitas dan nasionalitas di situ. Jadi bukan lagi mengajarkan definisi novel adalah, atau plot adalah…,” katanya.

Untuk sistem pembelajaran di sekolah, Sayuti lalu memberikan saran agar pembelajaran berbahasa dan bersastra di sekolah bisa fokus kepada tiga hal, yaitu membaca, menulis, dan mengapresiasi karya sastra. Dengan melakukan apresiasi sastra, siswa bisa mendalami keragaman budaya yang terkandung melalui kegiatan literasi.

“Literasi Indonesia berbeda jika dilihat dari sisi kebudayaan. Model literasi yang dikembangkan harus yang berbasis nusantara,” tutur Sayuti.

Acara Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan mengambil tema “Merawat Kebhinekaan Melalui Bahasa dan Sastra”. Dalam acara tersebut hadir juga pembicara lain, yaitu Habiburrahman El Shirazy (sastrawan/novelis), Tedy K Sumantri (wartawan, Forum Bahasa Media Massa), dan Puji Santosa (peneliti senior dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud).

Di akhir diskusi, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Bahasa, Hurip Danu Ismadi, membacakan kesimpulan dan rekomendasi dari hasil Bincang-Bincang Kebangsaan.

Beberapa kesimpulan itu antara lain, merawat kebhinekaan melalui bahasa dan sastra adalah suatu proses yang harus dijalankan terus menerus oleh berbagai pemangku kepentingan yang beragam.

“Penguatan pendidikan bahasa dan sastra harus diupayakan sebagai proses yang berangkat dari kebutuhan bangsa yang faktual, dan menunjukkan peran bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa,” ujarnya. (sak)

Dorong Daerah Buat Film Sejarah dan Budaya

foto
Daerah didorong membuat film bertema sejarah dan budaya. Foto: Kemendikbud.go.id.

Lembaga Sensor Film (LSF) mendorong sineas di daerah membuat film-film berbasis lokal yang mengandung nilai sejarah dan budaya. Kemendikbud akan membantu pembuatan film-film tersebut bagi yang memenuhi kriteria.

Menurut Ketua Komisi III LSF Mukhlis Paeni film adalah media transformasi yang sangat cepat. Karenanya, harus dimanfaatkan untuk membuat suatu film dokumenter yang mengangkat tentang sejarah, budaya, dan kearifan lokal daerah.

“Ini dibiayai oleh Kemendikbud. Dan, sekarang ada 25 judul film yang disiapkan,” kata Mukhlis saat menjadi pembicara dalam acara Sosialisasi Penyerapan Kearifan Budaya Lokal yang digelar oleh LSF di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Seperti di Kalimantan Timur misalnya, Mukhlis percaya di daerah ini memiliki banyak sejarah yang bisa diangkat menjadi film. Ada sejarah kerajaan Hindu tertua dari abad 5 yakni Kutai.

Atau, kisah kepahlawanan Sultan Muhammad Idris, seorang pejuang dari Kalimantan Timur yang gugur di Sulawesi Selatan. “Kalau digali pasti ada kisah-kisah bernilai sejarah yang menarik,” kata Mukhlis seperti dikutip Republika.co.id.

Menurut Mukhlis, daerah yang sudah mengangkat banyak film bertema sejarah, budaya, dan kearifan lokal adalah Sulawesi Selatan. Di mana, dalam satu tahun, sineas di daerah ini bisa memproduksi sebanyak 12 film. Atau, di Jawa Timur yang bisa memproduksi sebanyak 80 film dalam setahun.

Menurut Mukhlis, film-film yang memenuhi kriteria itu akan dibeli Kemendikbud. Kemudian, bisa menjadi bahan ajar untuk konten lokal di daerah.

Anggota anggota Komisi I LSF, Sudama Dipawikarta menambahkan saat ini Pusat Pengembangan (Pusbang) Perfilman Kemendikbud sedang gencar-gencarnya membantu komunitas dalam memproduksi film. “Segera saja jika sudah memiliki bahan untuk diajukan ke Kemendikbud,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua DPD Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Samarinda, Henri Hermawan mengatakan, dia bersama dengan rumah produksinya sudah membuat 80 judul film dokumenter yang mengangkat kearifan lokal sejak 2010.

Namun, yang menjadi kendala adalah, film-filmnya itu tidak bisa ditayangkan ke siaran publik seperti TVRI daerah ataupun televisi swasta daerah. Ini karena belum mendapatkan tanda lulus sensor dari LSF.

Di mana, sebuah tayangan publik harus mendatkan tanda lulus sensor dari LSF. “Nah, saya patuh pada peraturan untuk ditayangkan ke publik harus ada lulus sensornya. Tapi apakah ini berarti saya harus ke Jakarta,” kata Henri.

Menanggapi hal itu, Mukhlis Paeni menjelaskan pihaknya memang sejak 2014 lalu tengah memproses pembentukan perwakilan LSF di daerah. Pada awalnya, ada 10 daerah yang akan dibentuk, termasuk Kalimantan Timur.

Namun, karena pada 2016 lalu ada pemotongan anggaran dari pemerintah pusat, Kalimantan Timur ditunda. “Tapi saya yakin nanti pasti terbentuk perwakilan LSF Kalimantan Timur,”kata Mukhlis.

Dengan adanya perwakilan LSF daerah ini, lanjut Mukhlis, maka ada beberapa kemudahan yang didapat. Selain tidak perlu mengurus ke Jakarta, juga LSF setempat bisa lebih mengetahui karakter budaya setempat.

Sedangkan Sekretaris Komisi III LSF, Wahyu Tri Hartati, menyarankan, jika LSF daerah belum ada, sineas di daerah diminta untuk mencari mitra sebanyak-sebanyaknya agar bisa membantu pengurusan sensor LSF di Jakarta.

“Pemerintah daerah juga harus turun tangan membantu karya anak-anak daerah ini ke Jakarta ke tingkat nasional. Saya kira kita bisa bersinergi dengan baik. Dan kepada para pembuat film jangan pernah putus asa,” kata Wahyu. (ist)

Berkat Tangan Terampil Para Konservator

foto
Tangan terampil para konservator menentukan kualitas koleksi museum. Foto: Dok Museum Nasional.

Banyak orang hampir selalu mengagumi koleksi museum, baik dalam ruang pameran tetap maupun dalam ruang pameran temporer. Ada yang menyebutnya luar biasa karena berkilau. Ada yang menyebutnya bagus sekali karena bersih. Entah, sebutan-sebutan apa lagi yang menandakan kekaguman mereka.

Benda-benda koleksi itu mampu “disulap” sedemikian rupa berkat orang-orang di belakang layar museum. Mereka bekerja dalam sunyi, bukan dalam hiruk-pikuk kemewahan. Di Museum Nasional upaya perawatan benda-benda koleksi menjadi tanggung jawab Bidang Konservasi.

Konservasi merupakan istilah teknis, mengacu pada upaya pemeliharaan dan perawatan benda-benda cagar budaya, termasuk koleksi museum. Tujuannya memberi sentuhan pada koleksi agar lebih bagus, lebih tahan lama, atau untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Sebagai bahan alami, memang suatu koleksi tidak mampu bertahan lama, apalagi yang terbuat dari bahan organik. Namun dengan teknik konservasi, suatu koleksi mampu diperpanjang umurnya melalui tangan-tangan terampil para konservator.

Di Museum Nasional benda-benda koleksi yang biasanya dikonservasi adalah benda yang akan dipajang dalam pameran temporer. Memang sesuai prosedur di Museum Nasional, benda yang sudah dipilih kurator, ditangani terlebih dulu oleh konservator.

Di luar itu benda-benda koleksi lainnya tetap diberikan penanganan. Menurut Kepala Bidang Konservasi Museum Nasional, Dani Wigatna, langkah awal melakukan konservasi adalah observasi.

Pada tahap ini kurator memeriksa benda koleksi. Setelah itu dinyatakan tingkat kerusakan suatu koleksi, misalnya utuh, rusak sedikit, hancur, dan lain-lain.

Dari sini kurator mengeluarkan rekomendasi, antara lain pembersihan, pengendalian lingkungan, dan restorasi. Untuk koleksi yang sudah amburadul, konservator tidak segan-segan memberikan rekomendasi “tidak layak dipamerkan”.

Dalam tahap observasi, konservator meneliti kerusakan koleksi sekaligus meneliti penyebabnya. Maka tindakan yang dilakukan sesuai hasil observasi tersebut. Perawatan dan pengawetan merupakan upaya utama untuk menangani koleksi.

Menurut Dani Wigatna, koleksi-koleksi batu dan perunggu relatif lebih mudah perawatannya. Yang lebih sulit adalah benda koleksi terbuat dari bahan organik, seperti kayu, kain, kertas, kulit, bambu, dan ijuk. Selain serangga, termasuk rayap, faktor penyebab utama biasanya jamur.

Yang paling repot, kata konservator Dian Novita Lestari, adalah kain yang sudah rusak tapi langka. Karena itu kain tersebut dibuatkan alas khusus dan tidak dipamerkan. Jadi kalau mau diangkat, bukan kainnya secara langsung tetapi alasnya. Dian sendiri berlatar disiplin Kimia.

Konservator lain, Dyah Sulistiyani, mengatakan untuk perawatan kayu dilakukan dengan berbagai cara. Tergantung tingkat kerusakan koleksi. Ada yang menggunakan vacum cleaner khusus, ada pula menggunakan bahan kimia untuk membersihkan noda. “Kalau penyebabnya serangga, biasanya dilakukan fumigasi,” kata Dyah yang berlatar disiplin Biologi.

Dulu fumigasi dilakukan dengan cara tradisional: membakar kayu. Seperti orang memasak dengan kayu bakar. Karena asap, bagian atap rumah menjadi hitam. Sesungguhnya, pada bagian hitam itu membuat serangga enggan datang.

Tapi kini fumigasi menggunakan peralatan modern. Dalam melakukan fumigasi, prinsip yang paling utama adalah aman bagi manusia, benda, dan lingkungan.

Masalah utama dalam konservasi koleksi adalah kelembaban. Tiap jenis koleksi mengalami kelembaban berlainan. Untuk mengurangi uap air, langkah yang sering dilakukan adalah menaruh silika gel.

Banyak sedikitnya silika gel tergantung volume vitrin. Jika silika gel sudah penuh uap air, kemudian dikeringkan dengan oven sehingga bisa dipakai kembali.

Menurut Dani, seharusnya pendingin udara atau AC dinyalakan 24 jam. Hal itu akan memberikan rasa aman pada koleksi. Saat ini AC menyala sesuai jam kantor. Gonta-ganti suhu justru merusak benda koleksi.

Agar kain umur panjang, Dian menyarankan, disimpan dengan cara digulung. Dengan demikian lipatan kain tidak terbentuk. Saat ini beberapa museum memiliki koleksi kain atau tekstil. Tidak ada salahnya mengikuti petunjuk Dian.

Museum Nasional selalu melakukan perputaran koleksi lebih cepat pada koleksi yang terbuat dari bahan organik. Setiap museum yang memiliki koleksi berlebih memang selalu mengganti koleksi yang dipajang setiap periodik.

Saat ini Museum Nasional agak kewalahan menangani sekitar 140.000 koleksi. “Target dalam setahun mengonservasi 20.000 koleksi. Sementara tenaga yang ada cuma 15 orang,” kata Dani.

Dalam bidang manapun, perawatan memang jauh lebih sulit daripada pekerjaan apapun. Padahal merawat koleksi museum, ibarat merawat segudang ilmu pengetahuan atau kearifan-kearifan nenek moyang. Tentu saja perlu peran pemerintah yang lebih arif, ataupun masyarakat, termasuk generasi muda yang peduli. (ist/Djulianto Susantio)

Komunitas Sejarah di Tapal Kuda Dideklarasikan

foto
Komunitas Sejarah Tapal Kuda Dideklarasikan di Situs Duplang Jember. Foto: Tribunenews.com.

PEGIAT sejarah ujung timur Pulau Jawa mendeklarasikan Komunitas Pegiat Sejarah Tapal Kuda, Minggu (5/2) di Situs Duplang, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember.

Saat matahari masih mengintip di balik pohon, karpet sudah disiapkan. Aneka penganan rebus, dari ubi ungu, singkong, pisang, aneka buah, dan air disiapkan panitia. Peserta mulai berdatangan sambil mengisi absen, saling berkenalan, ngobrol santai, ada pula beberapa keamanan dari masyarakat maupun polisi bertugas di sana.

Dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember beserta instansi pemerintah terkait, beberapa dosen sejarah dan delegasi dari komunitas pegiat sejarah dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember dan Lumajang.

Hari Wijayadi, Kepala Disparbud Jember mengatakan, banyak situs yang perlu digali. Ke depannya semoga banyak yang lebih perhatian pada Jember. Dengan adanya perda baru, menjadi penyemangat untuk saling bersinergi membangun situs sejarah, harapnya seperti ditulis Moh Imron (Pegiat Literasi di Komunitas Penulis Muda Situbondo) di TribuneNews.com.

Menjelang siang, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh perwakilan kota, diteruskan dengan orasi sejarah dan pembacaan deklarasi bersama dengan tema ‘Bersatu Tekad Melakukan Perjuangan Bersama untuk Melindungi Aset Sejarah se-wilayah Tapal Kuda’ dalam sembilan butir kesepakatan demi terjaganya aset budaya Indonesia khususnya di timur Jawa.

Peserta kemudian bersama-sama melihat tiga situs peninggalan masa megalitikum, yakni kuburan batu, menhir atau batu tegak yang digunakan sebagai benda pemujaan terhadap arwah leluhur, dan batu kenong, berupa batu persembahan kepada arwah atau roh leluhur.

Situs batu ini ditata secara rapi dalam lahan sekitar 10×10 meter dengan menggunakan pagar gedung, di atasnya terdapat tali kawat berjajar. Di dalamnya terdapat tanaman hias, pohon yang membuat tempat ini menjadi teduh.

Di sekitar situs Duplang saat ini banyak pepohonan, persawahan, sungai kecil yang jernih, dan tempat salat. Kegiatan berikutnya dilanjut dengan makan nasi tumpeng bersama. Pada acara inti sekaligus acara terakhir, diskusi sejarah masa kerajaan hingga kolonial khususnya di bagian timur.

Masing-masing perwakilan kota saling memberikan argumen terkait informasi yang dibutuhkan dalam diskusi. Mereka sadar akan pentingnya aset dan pengetahuan sejarah untuk diwariskan kepada generasi muda. (sak)

UU Kebudayaan, Menjaga Jati Diri Bangsa

foto
Seminar Nasional Kebudayaan membahas Rancangan Undang-Undang Kebudayaan. Foto: Republika.co.id.

RANCANGAN Undang-Undang (RUU) Kebudayaan telah memasuki tahap akhir, yaitu pembahasan antara tingkat II Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan Pemerintah melalui Panitia Kerja atau Panja. Sebagai masukan terhadap RUU Kebudayaan, Kemendikbud berpartisipasi di dalam Seminar Nasional Kebudayaan yang diselenggarakan di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Saat menghadiri Seminar Nasional RUU Kebudayaan, Direktur Jendreral Kebudayaan (Dirjenbud) Kemdikbud Hilmar Farid menggarisbawahi fokus perhatian dari pembahasan Seminar RUU Kebudayaan tersebut.

Pertama, persoalan terkait jati diri atau identitas, seperti anak-anak yang sudah tidak mengenal sejarahnya sendiri, kalangan muda yang tidak terlalu peduli terhadap tradisi, lebih senang mencontoh keadaan diluar.

“Kita sekarang di dalam in limbo, artinya yang dituju belum dicapai yang mau ditinggalkan sudah lewat, jadi kita berada ditengah-tengah ini mengambang saja, yang membuat kita tidak tahu arah mau kemana,” ujarnya seperti dirilis situs Kemdikbud.

Kemudian, kedua, segi ekonomi, lanjut Dirjen Hilmar, seperti kata Presiden RI dalam sidang bersama rektor-rektor Indonesia, kita ini susah sekali untuk menjadi negara industri yang hebat dalam manufaktur, teknologi tinggi dan lain sebagainya. Tetapi kalau dilihat seni budaya, kita ini mungkin tidak ada tandingannya, mungkin DNA kita ini adalah DNA kebudayaan.

Selanjutnya, ketiga, fokus mengenai ketahanan. “Jaman sekarang ini bukan sekedar perang senjata, perang sekarang adalah perang pengaruh dan pengaruh itu salah satu jalannya melalui kebudayaan. Jika dilihat sehari-hari, mengapa anak-anak sekarang pintar bahasa Korea?” jelasnya.

Menurutnya, fenomena tersebut terjadi karena kegemaran anak Indonesia untuk menonton Film Korea dibandingkan dengan film dengan bahasa daerahnya sendiri.

Ferdiansyah, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, mengungkapkan harapan akan pembahasan RUU. DPR menurutnya mengharapkan bahwa UU ini dapat menyelesaikan permasalahan bangsa.

“Termasuk diantaranya adalah pedesaan, jika kita melihat, guyup di masyarakat desa juga mulai berkurang, seperti kegotong-royongan, kepedulian dan kepekaan antar sesama. Untuk itu kebudayaan menjadi daya tawaran cara untuk melalui saat genting ini, mudah-mudahan terselesaikan.” ungkapnya.

Semangat pembahasan RUU ini adalah untuk melaksanakan amanat Pasal 32 ayat (1) UUD 1945, yaitu mengenai peran Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Dirjen Hilmar berharap, usai disahkan, UU ini dapat mampu berinovasi berbasis pengetahuan dan identitas, adaptif tentang khas dalam menghadapi perubahan-perubahan, membangun komunitas lintas budaya, berpikir terbuka dan kritis, serta menumbuhkan jiwa kolaborasi.

“UU ini dibuat memang karena ada relevan dengan tujuan negara ini, sangat jelas di dalam alinea terakhir pembukaan UUD 1945; negara dibentuk untuk melindungi segenap bangsa dan tanah air, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut menjaga tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” tutupnya. (sak)

Menyelamatkan dan Mengemas Budaya ala Kitab

foto
Cindera mata terkait budaya Indonesia bisa disajikan dengan apik oleh Kitab. Foto: Surabaya.tribunnews.com.

SEKILAS terdengar unik mendengar nama Kitab, produk yang lahir dari tangan kreatif alumnus Universitas Ciputra, Lutfi Ariefiandi. Kitab, produk cindera mata berbahan dasar kayu jati.

Berbentuk kemasan berdesain elegan, berisikan benda yang berhubungan langsung dengan budaya Indonesia, seperti batik, wayang, dan topeng.

Uniknya, pengemasannya layaknya buku dan ketika pembeli membukanya di sisi kanan-kirinya dinding kemasan menyertakan kisah atau cerita dan petunjuk tentang produk yang terdapat di dalam kemasan.

Lutfi seperti dikutip Tribunnews menuturkan, redaksi (penjelasan) yang dimuat di dalam kemasan Kitab berisi tentang beberapa hal yang berhubungan langsung dengan sejarah maupun filosofi dari produk yang dimuat. Hal tersebut merupakan instrumen edukasi budaya yang melekat pada produk Kitab.

“Kami tidak sembarangan dalam menuliskan redaksi, bahkan untuk penulisan sejarah wayang Arjuna saja kami menggunakan translator bahasa Inggris berbayar karena memang konsepnya ada redaksi bahasa Inggris dan bahasa Jawa standarnya,” terang Lutfi saat ditemui di Kantor Kitab, Jalan Ngagel Jaya Selatan I/26 Surabaya.

Lutfi menambahkan alasan diberi nama Kitab sendiri karena secara harfiah “kitab” merupakan sesuatu yang memuat tentang informasi ataupun pengetahuan. “Ya dan juga saat kita menyebutkan kitab secara terbalik akan menjadi batik, salah satu warisan budaya indonesia,” tambahnya.

Dalam proses produksi Kitab dibantu tenaga ahli, yakni perajin wayang tiga hingga lima orang dan perajin rakit sebanyak lima hingga tujuh orang. Dengan jumlah perajin tersebut, mereka mampu membuat Kitab sebanyak 50 hingga 100 buah.

Sekarang Kitab tidak hanya berisi wayang, namun juga ada batik, dan topeng. Untuk satu unit Kitab dibanderol harga fantastis Rp 670.000.

Menawarkan konsep unik dan cemerlang, tidak heran bila konsumen penikmat Kitab adalah kalangan menengah atas dan sebagian besar adalah bule. Lutfi menambahkan, produk Kitab biasa dijadikan suvenir untuk tamu-tamu penting di kedutaan besar. (ist)

Kemendikbud Bangun 19 Rumah Budaya

foto
Tahun ini Kemendikbud akan bangun 19 Rumah Budaya Indonesia di luar negeri. Foto: Antara.com.

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan berencana membentuk 19 Rumah Budaya Indonesia (RBI) di sejumlah negara pada tahun ini.

Adapun, negara-negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Australia, Arab Saudi, Belanda, Filipina, dan China. Program ini merupakan lanjutan dari 10 unit RBI yang sudah terbentuk di 10 negara berbeda.

“Anggaran yang disiapkan sekitar Rp 5 miliar untuk membangun RBI itu. Untuk tahun lalu, anggaran sedikit lebih besar yakni Rp 10 miliar. Kami mengharapkan RBI bisa menjadi acuan informasi warga negara lain mengenai Indonesia,” kata Pejabat Fungsional Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Wahyu Warsita kepada Bisnis.com.

Sebagai embrio RBI, Kemendikbud mulai merintis Indonesia Corner dengan alternatif lokasi di KBRI/KJRI setempat, universitas dan sekolah. Nantinya, masyarakat setempat akan disuguhkan beragam informasi mengenai Indonesia mulai dari koleksi buku bacaan, pemutaraan film, festival budaya, dan festival kuliner.

Setidaknya pada tahun ini, Kemendikbud memprioritaskan target tujuan diplomasi budaya ke 46 negara. Diplomasi budaya tersebut akan diupayakan melalui pembentukan RBI, kerja sama internasional, pengiriman misi budaya, dan keikutsertaan delegasi RI ke Festival Europalia Indonesia.

Menurutnya, diplomasi budaya tersebut merupakan salah satu cara pemerintah untuk memperkuat citra Indonesia, menjalin jejaring budaya, tukar menukar informasi mengenai budaya dengan negara lain, dan branding mengenai potensi pariwisata Indonesia.

Tak hanya itu, diplomasi budaya itu akan diperkuat dengan penempatan guru Bahasa Indonesia untuk mengajarkan Bahasa Indonesia secara gratis kepada masyarakat setempat.

“Di beberapa negara, misalnya Afghanistan sudah ada permintaan mengenai Indonesia Corner. Belum bisa segera kami layani karena keterbatasan soal administrasi dan anggaran,” ucapnya.

Lebih lanjut, Kemendikbud akan menindaklanjuti sejumlah kesepakatan, perjanjian, dan dan letter of intent yang sudah diteken pemerintah dengan negara mitra.

Sampai dengan Desember 2016, terdapat 57 negara mitra Indonesia terkait perjanjian kebudayaan dengan komposisi Asia Pasifik dan Afrika (28 negara), serta Amerika dan Eropa (29 negara). (ist)

Event Seni dan Budaya 2017 di Banyuwangi

foto
Banyuwangi Festival (B-Fest) 2017 dilaunching di bawah kaki Gunung Ijen. Foto: KompasTravel.

SELAMA tahun 2017 ada 72 event yang digelar di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ada event seni, budaya, olahraga dan musik dan wisata. Banyuwangi Festival (B-Fest) 2017 di-launching, Rabu (25/1) di Desa Banjar, Kecamatan Licin yang berada di bawah kaki Gunung Ijen.

Pada launching tersebut juga diresmikan festival sedekah oksigen dengan penanaman pohon trembesi oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan dikuti oleh forum pimpinan daerah Banyuwangi di sepanjang jalan utama Desa Banjar.

Banyuwangi Festival (B-Fest) tetap menyajikan agenda yang telah menjadi ikon daerah, seperti Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September), Banyuwangi Ethno Carnival (11 November), Festival Gandrung Sewu (8 Oktober), Banyuwangi Beach Jazz Festival (2 September), dan Jazz Ijen (6-7 Oktober).

Selain itu, ada deretan acara anyar yang akan menjadi magnet baru pariwisata Banyuwangi seperti Banyuwangi Sail Yacht Festival (15 September) dan Festival Bambu (12-13 Mei).

“Selain di Desa Banjar nanti kita juga akan launching di Jakarta difasilitasi Kementerian Pariwisata dan Banyuwangi juga akan hadir di Fashion Week yang menjadi rangkaian B-Fest 2017 digelar di Convention Centre, Jakarta, 4 Februari nanti. Jadi di Indonesia Fashion Week, akan mengusung tema Banyuwangi,” jelas Abdullah Azwar Anas kepada KompasTravel, Rabu (25/1).

Anas mengatakan, Banyuwangi Festival digelar setiap tahun bukan hanya untuk mendongkrak sektor wisata, tetapi sekaligus upaya untuk mewadahi dan menumbuhkan kreativitas komunitas-komunitas yang ada di Banyuwangi seperti Festival Sastra yang akan digelar pada 26-30 April 2017.

“Selain festival sastra, ada juga Festival Teknologi Inovatif yang tujuannya tak lain untuk merangsang minat anak muda pada sastra dan inovasi teknologi. Kalau difestivalkan, tumbuh perhatian pada dua bidang tersebut,” ujar Anas.

Menurut Anas, B-Fest 2017 akan menjadi ajang istimewa bagi industri fashion daerah. Tahun ini ada 5 agenda untuk memamerkan potensi desainer daerah, mulai dari ajang Indonesia Fashion Week (4 Februari), Green & Recycle Fashion Week (25 Maret), Kebaya Festival (22 April), Banyuwangi Batik Festival (29 Juli), dan Banyuwangi Fashion Festival (14 Oktober).

Pada B-Fest 2017 mewadahi sektor ekonomi kreatif seperti Festival Video Kreatif (26 Juli) yang menampilkan potensi tiap desa dan Festival Dandang Sewu (4-5 Agustus) yang menyajikan kreasi di sentra produksi alat masak yang sentranya berada di Kecamatan Kalibaru.

Sejumlah tradisi asli Banyuwangi juga masuk dalam B-fest 2017 antara lain Barong Ider Bumi (26 Juni), Seblang (30 Juni dan 5 September), Tumpeng Sewu (24 Agustus), Kebo-keboan (14 September dan 1 Oktober), hingga Petik Laut (4 dan 23 Oktober).

”Kami juga menggelar Agro Expo (13-20 Mei), Festival Durian (20 Mei), dan Fish Market (3 Oktober) untuk menguatkan dan mempromosikan produk pertanian seperti durian merah yang menjadi buah khas Banyuwangi,” ujar Anas.

Dari sisi sport tourism, selain International Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September), ada Banyuwangi International Ijen Green Run (23 Juli), Banyuwangi International BMX (22-23 April), dan Kite and Wind Surfing Competition di Pulau Tabuhan (26-27 Agustus).

Selain itu, B-Fest masih diwarnai Festival Toilet Bersih, Festival Sedekah Oksigen, dan Festival Sungai Bersih yang digelar sepanjang tahun. Tak lupa ada Festival Banyuwangi Kuliner (12 April) dan Festival Kopi (18 Oktober).

“Tahun ini Festival Kuliner mengangkat pecel pithik, salah satu kuliner khas masyarakat Suku Osing Banyuwangi. Jadi tahun ini lebih beragam mulai dari pecel pitik sampai batik,” pungkas Anas. (ist/Kompas)

Berbagai Hal Menarik Jika Kuliah Sejarah

foto
Ada hal-hal menarik jika kuliah Sejarah. Foto: Unair NEWS.

Sebagian dari kita, mungkin, menganggap bahwa mempelajari sejarah adalah hal yang membosankan. Hal itu disebabkan oleh banyak hal, salah satunya yakni metode pembelajaran sejarah yang kita terima di bangku sekolah tidak cukup efektif untuk membuat siswa menyenangi ilmu yang sesungguhnya penting ini.

Betapa tidak, ilmu sejarah mengajak kita mempelajari rekaman peristiwa masa lalu dari semua dimensi kehidupan yang bisa menjadi penentu langkah kebijakan di masa depan.

Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Gayung Kasuma SS MHum kepada UnairNEWS mengulas tentang beberapa hal menarik jika anda kuliah di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Unair sebagai berikut:

1. Dari Penulisan Kreatif, Membuat Film, Hingga Interpretasi Kebenaran

Pada Prodi Ilmu Sejarah Unair, ada mata kuliah Penulisan Kreatif yang mengajarkan mahasiswa untuk menulis opini, feature, artikel, puisi, hingga menulis di media massa. Karya tulis yang dihasilkan dalam mata kuliah ini kemudian diterbitkan ke dalam sebuah buku. Tentunya, topik Penulisan Kreatif ini tetap dengan nuansa sejarah.

Ada juga mata kuliah Visualisasi Sejarah. Karya yang dihasilkan mata kuliah ini yaitu film dokumenter yang berkaitan dengan peristiwa sejarah. Film merupakan media yang cukup efektif dalam penyampaian pesan, utamanya sebuah peristiwa sejarah.

Departemen Ilmu Sejarah Unair pada tahun 2011 lalu, mendapat dana dari Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI) untuk sarana prasarana untuk perlengkapan membuat video oleh mahasiswa.

“Ini mata kuliah yang saya kira mendukung. Apalagi ada wacana jangka panjang, syarat lulus tidak harus berupa skripsi yang dicetak, tapi bisa jadi seseorang yang punya kemampuan merekam masa lalu melalui sebauh film,” ujar Gayung.

Selain itu, mahasiswa diajak menginterpretasi peristiwa melalui matakuliah Metodologi dan Praktik Penelitian Sejarah yang di dalamnya terdapat kritik sumber. Seringkali, peristiwa sejarah memiliki beragam versi. Melalui kritik sumber, mahasiswa diajak untuk menafsirkan peristiwa sejarah dari beragam sumber.

“Ada ucapan di kalangan akademisi bahwa sejarah itu milik orang yang menang, milik orang yang berkuasa. Kita tidak bisa menampik itu. Bisa jadi itu benar. Karena ditonjolkan untuk kepentingan tertentu. Bisa jadi ada relasi dengan kekuasaan, politik, dan beberapa kepentingan. Oleh karena itu ada kritik sumber,” ujar Gayung.

2. Peristiwa Sejarah Itu Tidak Pernah Titik

“Perlu dicatat bahwa peristiwa sejarah itu tidak pernah titik, dia koma. Tidak akan berakhir sebuah peristiwa menjadi absolut,” ujar Gayung.

Apa artinya? Selama proses temuan sumber yang baru, akan ada klarifikasi atau pelurusan sejarah. Di dalam prinsip sejarah ada istilah subjektifitas dan objektifitas. Selama penulisan sejarah hanya ditemukan sumber sebatas itu, ya hanya sebatas itu sejarah tercatat. Seperti kata Gayung, selama ada sumber-sumber sejarah yang baru, maka sejarah akan ditulis ulang.

3. Menerima Keberagaman Versi

Melalui kritik sumber, mahasiswa diajak menelaah sebuah peristiwa sejarah yang bersumber dari beragam versi. Mahasiswa harus memperhatikan beberapa hal, seperti siapa penulis sejarah dan dari mana sumber sejarah itu ditulis.

“Oleh karena itu, dalam sejarah bangsa kita ada berbagai peristiwa-peristiwa yang menjadi kontrovesi. Akhirnya, belajar sejarah itu kita menerima beragam versi. Nanti kita akan menentukan terhadap Kritik Sumber,” kata Gayung.

Misalnya saja, materi sejarah di buku sekolah mengatakan bahwa Indonesia dijajah Belanda hingga 350 tahun lamanya. Namun, ketika masuk perguruan tinggi dan mempelajari sejarah, akan kita temukan fakta-fakta yang beragam.

Sebab ternyata, Belanda membutuhkan waktu 300 tahun untuk menguasai wilayah-wilayah di Indonesia.

Hal itu seperti yang dituturkan Gj Resink dalam bukunya Bukan 350 Tahun Dijajah (2012), dan Jos Wibisono dalam artikelnya di Majalah Historia berjudul Mitos 350 Tahun Penjajahan (13/09/2011).

Hal itu adalah contoh kecil betapa peristiwa sejarah di masa lalu, memiliki beragam versi sesuai kepentingan penulisnya. Pemahaman mahasiswa menjadi banyak dan beragam.

Pada peristiwa G30S/PKI misalnya, kita tidak hanya mendapatkan cerita dari satu sumber saja. Namun bisa beragam sumber seperti versi pemerintah, versi tentara, versi pelaku, hingga versi korban.

4. Belajar dengan Berkunjung Langsung ke Sumber Sejarah

Semua mata kuliah yang ditawarkan pada prodi Ilmu Sejarah, mengharuskan mahasiswa untuk berkunjung di tempat-tempat bersejarah. Misalnya, pada mata kuliah Musiologi mahasiswa berkunjung ke museum.

Sehingga, belajar sejarah tidak melulu duduk di bangku dan membaca buku. Tapi berkunjung langsung ke objek peristiwa sejarah tersebut.

5. Museum Sejarah dan Budaya Adalah Satu-satunya di Indonesia

Sejak Desember 2016 lalu, telah resmi dibuka Museum Sejarah dan Budaya Unair yang dikelola oleh Departemen Ilmu Sejarah. Museum ini menjadi musem ketiga di Unair setelah Museum Etnografi (FISIP) dan Museum Pendidikan Dokter (FK).

Museum Sejarah dan Budaya Unair ini menyimpan benda-benda seperti buku kuno dan arsip penting dalam penelitian sejarah, serta foto dan benda yang merepresentasikan kegiatan sehari-hari manusia pada masa lalu, seperti proyektor kuno, keris, pedang, tombak, dan wayang.

6. Ilmumu Berguna Dimanapun Kamu Bekerja

Dari beragam ilmu yang diberikan itu, mahasiswa sejarah memiliki bekal kreatifitas dan softskill yang bisa diaplikasikan di tempat ia bekerja usai lulus kuliah. Gayung mengatakan, sebaran lulusan Ilmu Sejarah bekerja pada bidang yang beragam.

“Lulus tidak harus kerja di bidang sejarah, tapi ekspresi diri berangkat dari sejarah. Di perusahaan misalnya, mahasiswa sejarah bisa menjadi orang yang melihat rekam perusahaaan di masa lalu. Mengapa mengalami kemunduran maupun kemajuan? Analisis itu untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan perusahaan,” ujarnya.

Jika bekerja di bidang yang linier dengan bidang sejarah, salah satu pilihannya yaitu bekerja di bidang musiologi, bekerja di permusiuman dengan menjadi kurator. (sak)

Meniti Pawitra, Menginterpretasi Penanggungan

foto
Lukisan tentang Gunung Penanggungan. Foto: ist.

Keinginan terus aktif menggelar pameran seni rupa dengan mengangkat tema lokal sebagai langkah mempertahankan identitas kota yang lekat dengan tradisi, serta memupuk kepedulian untuk turut serta melestarikan peninggalan sejarah, mendorong 10 seniman Pasuruan dalam komunitas Bolo Kulon membuat lukisan bertema ‘Meniti Pawitra’.

‘Meniti Pawitra’ merupakan event ketiga dari rangkaian proyek bernama ‘Pasuruan Berkisah #3’, yang digagas Komunitas Bolo Kulon sebagai upaya memperkenalkan kota Pasuruan melalui karya seni.

Berbeda dengan ‘Pasuruan Berkisah #1’ (2014) maupun ‘Pasuruan Berkisah #2’ (2015) dimana para perupa bebas merespon kota, maka pada ‘Pasuruan Berkisah #3’ ini para perupa ditantang menerjemahkan Gunung Penanggungan, dahulu bernama Gunung Pawitra ke dalam karya seni.

Gunung Penanggungan yang merupakan salah satu gunung suci di Jawa dan memiliki ratusan peninggalan purbakala penegas adanya akulturasi budaya antara Jawa Kuno, Hindu-Budha, dan Islam dirasa mempunyai daya tarik yang kuat untuk diangkat.

Seperti terlihat pada karya Agung Prabowo, menampilkan karya lukis relief Gunung Penanggungan yang dibuat bersusun dan diberi judul ‘Under Contruction of Pawitra’ bercerita tentang sebuah gunung yang menyimpan banyak bukti mengenai tingginya peradaban dan etos kerja leluhur di Nusantara yang kini seolah telah pudar.

Begitu pula halnya dengan ‘Para Rsi’ karya Hafidz Ramadhan S, yang memvisualisasikan jejeran para Rsi atau kaum pertapa yang mengasingkan diri dari dunia ramai di lereng–lereng bukit gunung Pawitra gunung yang dianggap suci dan merupakan sumber kebaikan.

Tak kalah menarik karya berjudul ‘iSelfie’, karya dari Nofi Sucipto, sebuah petualangan kekinian dalam menyampaikan adanya gunung pawitra melalui foto diri.

Seniman lain yang turut melengkapi 20 karya adalah Achmad Toriq, Afif AF, Hasan Saifudin, Karyono, M. Medik, Toni Ja’far dan Yunizar Mursy.

Menghasilkan karya seni rupa dengan melibatkan kondisi sekitar sebagai materi karya merupakan cikal bakal hadirnya komunitas Bolo Kulon. Komunitas Bolo Kulon merupakan basis seni rupa yang terletak pada Pasuruan bagian Barat.

“Tercapainya interaksi antara karya dan pengunjung atau apresiator adalah inti dari pameran ini, dengan menghadirkan pengetahuan dan sudut pandang menjadi tawaran komunitas Bolo Kulon” ungkap Agung Prabowo selaku Ketua Komunitas Bolo Kulon kepada media saat pameran beberapa waktu lalu di Galeri Seni House of Sampoerna, Surabaya. (sak)