Saatnya Konservasi Lanskap Budaya

foto
Keberadaan lanskap budaya yang sangat melimpah belum banyak digali. Foto: Whenonearth.net.

Tulisan hasil karya dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya (FMIPA-UB), Dr Luchman Hakim berhasil masuk pada salah satu buku yang diterbitkan Springer. Mengangkat judul “Landscape Ecology in Asian Cultures”, buku ini diterbitkan pada Januari 2011.

Dimuat dalam bab pertama mengenai “Understanding Asian Cultural Landscapes”, dalam tulisannya Luchman mengangkat tentang “Cultural Landscapes of the Tengger Highland, East Java”.

Melalui email kepada Prasetya Online, Luchman menerangkan, melalui tulisan tersebut ia mencoba menjelaskan status lanskap budaya Tengger sebagai salah satu representasi lanskap budaya Indonesia.

Luchman menyampaikan bahwa konservasi pada level lanskap saat ini telah menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan biosfer. Fokus utama konservasi lanskap ini adalah mengurangi berbagai ancaman terhadap bentang alam dan meningkatkan peran bentang alam bagi kesejahteraan manusia.

Pendekatan konservasi lanskap, menurutnya sangat penting karena permasalahan lingkungan hidup saat ini semakin kompleks dan melibatkan banyak komponen yang saling terkait.

“Pendekatan ini memungkinkan lahirnya desain-desain dan skenario bagi pemanfaatan lestari sumberdaya alam dimana aspek-aspek dan kepentingan ekonomi, lingkungan hidup dan kepentingan sosio-kultural masyarakat terakomodir,” ujarnya seperti dikutip Prasetya.ub.ac.id.

Hal ini mengingat pendekatan lanskap melingkupi semua proses ekologis dan faktor sosiokultural sehingga sangat relevan dengan krisis global yang saat ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan kehidupan di biosfer.

“Lanskap adalah potensi suatu bangsa, dimana pengelolaan yang tepat akan mendorong kuatnya daya saing bangsa,” katanya.

Di Indonesia, Luchman menambahkan, salah satu potensi yang belum digali adalah keberadaan lanskap budaya (cultural landscape) yang sangat melimpah.

Lanskap budaya adalah salah satu menifestasi dari pengelolaan alam terkait budaya masyarakat setempat yang terbukti lebih berkesinambungan dan tahan terhadap krisis.

Studi tentang lanskap budaya ini bersifat interdisipliner, dimana berbagai ilmu pengetahuan saling terkait di dalamnya. “Di berbagai kawasan di dunia, kajian-kajian konservasi lanskap budaya saat ini sedang digalakkan,” kata dia.

Namun demikian, penelitian tentang lanskap budaya di Indonesia sangat rendah dan bahkan jarang. Akibatnya, pemahaman tentang arti, peran, manfaat dan struktur lanskap budaya sangat kurang.

Lebih lanjut disampaikan, lanskap budaya merupakan manifestasi dari pengelolaan lahan dan sumberdaya dengan pendekatan kultural untuk menjamin keberlangsungan hidup komunitas masyarakat setempat.

Lanskap budaya ini berperan penting dalam penyediaan sumberdaya pangan bagi masyarakat lokal.

“Karena tingkat hayatinya yang tinggi, banyak lanskap budaya berperan dalam penyimpanan cadangan diversitas genetik bagi pemuliaan tanaman dan hewan masa depan,” kata dia.

Selain peran tersebut, lanskap budaya juga mempunyai potensi dalam pengembangan wisata desa yang sampai saat ini belum banyak dikaji secara mendalam. Hal ini, menurut Luchman, terutama tampak pada lanskap budaya Tengger.

“Pendekatan kultural dalam pengelolaan tidak saja ditujukan kepada pemenuhan nilai-nilai spiritual dan kultural masyarakat, namun juga diarahkan untuk menjamin kesinambungan sumberdaya di alam agar tetap mampu dimanfaatkan masyarakat,” Luchman melanjutkan.

Teknik-teknik pengelolaan ini telah dikenal luas sebagai indigenous knowledge, ethnoecology, ethnobiology atau istilah-istilah lain yang merujuk pada peran pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya.

“Dengan memperhatikan aspek-aspek budaya dalam pengelolaan lanskap, diharapkan kedepan dapat disusun strategi pengelolaan lanskap yang lebih dapat diterima oleh masyarakat,” katanya.

Sehingga partisipasi publik dapat muncul secara aktif, mencirikan karakter lokal dan dengan demikian bersifat adaptif, dan mempunyai keaslian yang tinggi sehingga berdaya saing dalam pengembangan wisata desa, pungkasnya. (ist)

Promosikan Candi Lewat Goresan Sketsa

foto
Para seniman membuat sketsa Candi Tawang Alun dari posisi yang paling cocok di hatinya masing-masing. Foto: JawaPos.com.

PULUHAN pelukis sketsa berkumpul di Candi Tawang Alun. Candi di Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo itu menjadi objek utama para perupa.

Mereka berasal dari sejumlah komunitas di Jawa Timur. Ada komunitas Perupa Delta (Komperta), Sketsapora, serta Komunitas Pelukis (Kopi) Gresik dan Kopi Jombang.

Sejumlah seniman muda dari STKW Surabaya, SMK Penerbangan, dan SMK Senopati juga berpartisipasi.

Tampak pula perwakilan Dewan Kesenian Jawa Timur Taufik Hidayat dan juru kunci Candi Tawang Alun yang juga pelaku seni di Sidoarjo Saiful Munir.

Karya yang mereka hasilkan bakal dipamerkan bersama sketsa di titik lain. Misalnya, Candi Pari, Candi Dermo, dan lokasi tanggul lumpur.

”Sketsa itu kuncinya adalah realis, asli, nyata, ada,” kata Juniarto, Ketua Komperta, seperti dikutip JawaPos.com beberapa waktu lalu.

Menurut dia, sebuah karya sketsa diharapkan tidak hanya merekam visual fisik objek, namun juga segi spiritualnya.

”Sekaligus buat memperkenalkan keberadaan candi dan kampanye (promosi kepada masyarakat, Red) supaya mau berkunjung,” lanjut pria 45 tahun itu.

Meski sama-sama memotret bangunan candi, sudut pandang yang digunakan para seniman cukup beragam. Sebagian besar perupa dari Kopi Gresik dan Jombang, misalnya, menerapkan gaya realis.

Sementara itu, Juniarto, Taufik, dan Munir lebih memilih gaya ekspresionis. Sebagian yang lain menambahkan unsur imajinasi ke dalam karya sketsanya.

Alhasil, ada sketsa yang menggambarkan bangunan candi secara utuh. (ist/JPG)

Museum Mpu Tantular Pindah ke Virtual

foto
Dr Suryo Sumpeno ST MSc, dosen ITS. Foto: Surya.co.id.

Penelitian unik dilakukan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dr Surya Sumpeno ST MSc tengah memindahkan Museum Mpu Tantular ke wujud virtual.

Dengan museum virtual ini, pengalaman baru belajar sejarah dan berkunjung ke museum akan dapat dirasakan oleh masyarakat.

Menurut dosen Jurusan Teknik Multimedia dan Jaringan (TMJ) itu, museum virtual memungkinkan masyarakat menikmati berbagai artefak di Museum Mpu Tantular secara panoramik atau interaksi multimedia tiga dimensi.

Pengunjung bisa melihat bentuk tiga dimensi berbagai artefak 360 derajat hanya dengan membuka situs web atau dengan situs youtube.

Sedangkan jika menggunakan interaksi multimedia, pengunjung seolah akan dibawa ke masa lampau untuk melihat artefak, bangunan dan aktivitas orang jaman dahulu.

“Bahkan, pengunjung juga bisa berinteraksi dengan tampilan yang dibuat mendekati riil tersebut,” ungkap Surya, sapaan akrabnya.

Namun, teknik penyajian untuk interaksi 3D memerlukan perangkat khusus, seperti Head Mounted Display (HMD) yang memerlukan perangkat Google Carboard plus peranti telpon pintar berbasis Android atau monitor 3D.

Menyaksikannya pun juga butuh kacamata 3D baik pasif maupun aktif. “Namun penyajian ala panoramik dapat dinikmati di situs web biasa, demikian pula nantinya video youtube 360,” ujar pria yang menamatkan magisternya di Tohoku University ini.

Jebolan Jurusan Teknik Elektro ini berharap gaung program digitalisasi warisan budaya akan melebar, beresonansi, bersinergi. “Dan tentunya, program ini dapat bermanfaat dan menjangkau lebih banyak komunitas masyarakat,” pungkasnya. (sak)

Candi-Candi di Mojokerto Inspirasi Tren 2017

foto
Aneka baju batik bermotif Suryo Mojopahit rancangan Owens Joe. Foto: Koran-Sindo.com.

MOTIF dan corak batik khas Indonesia sangat kaya dan beragam. Dari ribuan motif batik, salah satu yang digadang-gadang akan menjadi tren adalah batik dengan motif Suryo Mojopahit yang digagas oleh Desainer Satrio Juli Wiyoto atau yang lebih dikenal dengan sebutan Owens Joe.

Pria paruh baya ini sengaja mengusung tren 2017 dengan konsep batik Suryo Mojopahit karena kecintaannya terhadap batik dan segala keunikannya.

Bahkan beberapa tahun terakhir, Owens Joe tertarik menggali sejarah lokal, khususnya candi-candi yang ada di wilayah Mojokerto. Kemudian dari pengamatan itu, tercetuslah ide untuk merancang motif Suryo Mojopahit.

Motif yang dituangkannya jadi batik bukan sembarangan karena ia memilih motif berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Motif yang ada pada batik Suryo Mojopahit, di antaranya kawung, truntum Majapahit, tirto tedjo Gajah Mada, selobok, selarak, dan perpaduan garis.

“Motif yang ada pada Suryo Mojopahit ini bukan asal ada begitu saja, tetapi saya meneliti dulu hingga ke candi dan perkampungan di Mojokerto sana, apa yang khas dan menarik untuk dikembangkan. Motif Suryo Mojopahit inilah yang sangat mewakili kekhasan itu,” kata Satrio saat dijumpai di Grand City Mall Surabaya, seperti dikutip Koran-Sindo.com, belum lama ini.

Motif Suryo Mojopahit menggambarkan sebuah matahari yang berbentuk lancip pada beberapa bagian. Umumnya gambar ini terdapat pada dinding candi-candi di Mojokerto. Bentuknya lebar dan besar.

Soal warna juga tidak sembarangan, Satrio menggunakan warna-warna tanah, seperti merah bata dan cokelat yang identik dengan warna candi. Selain itu, batik Suryo Mojopahit rancangannya memiliki ciri khas tersendiri dari unsur warna. Sebagian kain batik warnanya juga mirip warna gula Jawa sehingga terlihat indah dan cantik.

Warna dan motif yang ada pada batik Suryo Mojopahit juga menggambarkan kearifan lokal. Soal busana, tentu saja desainer ramah ini juga mendesain batik Suryo Mojopahit ini menjadi busana ready to wear (siap pakai).

Beragam model diusungnya terutama untuk gaya palaso dan celana komprang. Menurutnya, dua jenis celana itu termasuk menjadi tren pada 2017 sehingga ia pun mendesainnya dengan kain batik kreasinya.

“Supaya motifnya kelihatan menarik, rata-rata busana dengan bahan batik Suryo Mojopahit ini saya desain lebih longgar atau oversize, tapi tetap ada kesan seksi pada beberapa bagian, sekadar untuk mempermanis tampilan,” ujar Satrio.

Meski rata-rata didesain dengan tampilan longgar, kesan feminin juga ditonjolkan. Terlihat pada beberapa busana untuk atasannya terdapat perpaduan garis tegas.

Busana ini menurutnya tak harus dikombinasikan seperti yang dikenakan oleh para model, melainkan bisa dipadupadankan sesuai dengan selera tiap orang. Busana yang terkesan elegan tersebut tak hanya cocok digunakan untuk pesta ataupun pergi menghadiri acara resmi. Busana tersebut juga cocok dikenakan untuk jalan-jalan ke mal. (sak)

UNESCO Kenalkan Batik Bermotif Relief Candi

foto
Batik bermotif candi diperkenalkan UNESCO di Jogja. Foto: Aktual.com.

United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Jakarta memperkenalkan batik bermotif relief candi sebagai situs warisan dunia di atrium Galeria Mal Yogyakarta.

Batik-batik itu ditampilkan dalam pameran bertajuk ‘Crossroad of Cultures: Bamiyan and Borobudur’, mengaitkan warisan budaya UNESCO yaitu Candi Borobudur di Indonesia dan Lembah Bamiyan di Afganistan. Pameran berlangsung 10-15 Januari 2017. Pameran yang sama juga akan digelar di Museum Kamawibhangga Candi Borobudur pada 20 Januari-2 Februari 2017.

Indonesia punya empat situs budaya dan empat situs alam yang masuk dalam daftar warisan dunia. Dalam pameran itu, pembatik menorehkan malam (tinta batik) pada kain batik menggunakan canting dalam pameran itu.

Ada juga batik bermotif relief dekoratif Candi Borobudur, Pawon, dan Mendut produksi perajin. Motif relief ada yang berupa gambar gajah. Mereka yang ikut pameran merupakan perajin binaan UNESCO yang tinggal di sekitar candi.

Siti Rahayu, satu di antara anggota Kelompok Rumah Batik Borobudur yang mendapat pelatihan dari UNESCO. Setahun lalu, ia dan delapan anggota kelompok memperoleh modal dan pelatihan hingga menghasilkan produksi batik tulis bermotif relief candi.

“Kami produksi kain batik motif relief Candi Mendut dan Pawon,” kata Siti seperti dikutip Tempo.co, Rabu (11/).

Batik-batik tulis produksi mereka dibawa ke sejumlah pameran dan galeri. Harganya paling murah Rp 400 ribu per kain. Produksi batik tulis memakan waktu yang lama dan prosesnya lebih rumit ketimbang batik cap. Kelompok Rumah Batik Borobudur per bulan hanya menghasikan dua kain.

Siti berujar, hasil pendampingan itu cukup membantu ekonomi warga yang tinggal di sekitar Candi Borobudur. Semula mereka tak punya kemampuan membatik atau bukan perajin.

Setiap setengah tahun mereka bisa menghasilkan rata-rata 20 kain batik di showroom yang berdiri di dekat Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Batik motif relief candi itu digemari turis asing dari banyak negara yang mampir berwisata di Candi Borobudur.

Fasilitator lapangan yang menjadi mitra UNESCO, Veronika Fajarwati, mengatakan ada empat kelompok perajin batik yang mendapat pendampingan dari UNESCO. Tiga di antaranya batik dan satu untuk jumputan.

Selain Rumah Batik Borobudur, kelompok perajin lain yang didampingi yakni batik tulis Dewi Wanu dari Desa Borobudur dan Wanurejo Kecamatan Borobudur, Magelang. Ada pula batik tulis Sojiwan di Kadipaten Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Juga ada kelompok Lapak Jumputan Candi Ijo di Sambirejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. “Kami fokus di kelompok perajin di Candi Borobudur dan Prambanan sebagai warisan dunia,” kata Veronika.

Mereka dilatih untuk manajemen organisasi dan marketing. Misalnya bagaimana memasarkan batik di pameran-pameran. Lewat batik tulis itu, mereka berharap kekayaan relief situs warisan dunia bisa lestari, terjaga, dan dikenal luas oleh publik di berbagai belahan dunia. (ist)

Intip Budaya Gresik Lewat Aplikasi ITrip

foto
Karina Pradinie Tucunan (kanan) bersemangat menunjukkan Itrip Budaya bersama mahasiswanya, Wahyu Septiana. Foto: JawaPos.com.

KEDUA mata Karin, panggilan akrab Karina, terlihat sembap. Sambil menikmati bandeng bakar, perempuan 32 tahun itu sibuk mengutak-atik ponselnya. Senyumnya mengembang.

”Setelah susah payah, akhirnya jadi. Aplikasi ini belum sempurna,” ujar Karin semringah seperti dikutip JawaPos.com. Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu memamerkan karyanya: sebuah aplikasi Android bernama Itrip Budaya.

Isinya produk tentang objek-objek wisata di Kota Pudak. Karin mengaku dirinya sebagai penggagas program tersebut. Namun, dia tidak sendirian menggarapnya. Ibu satu anak itu dibantu Tim Cagar Budaya Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITS.

“Program ini hasil penelitian tahun 2016. Untuk survei, saya juga dibantu anak-anak kesayangan,” kata Karin. Dia lantas menoleh ke arah salah seorang mahasiswanya, Wahyu Septiana.

ITrip Budaya diluncurkan pada pertengahan Desember 2016 lalu. Aplikasi itu mengupas objek-objek wisata di Kota Pudak. Selain makam-makam Islam sebagai wisata religius, program tersebut memuat peta jalur kunjungan ke Kampung Kemasan dan pantai-pantai di Gresik.

Muatan materi lain akan ditambahkan. Sebab, ITrip Budaya masih dikembangkan. Misalnya, tambahan daftar penginapan di sekitar objek wisata. Termasuk tarif kunjungan. Karin dan teman-temannya tiada berhenti berkreasi.

Dia menambahkan pula fitur macam-macam kuliner. Acara penting yang diagendakan pemkab juga di-update. Dengan begitu, pangakses program tidak sulit berselancar di seputar dunia wisata Kota Giri.

“Mungkin aplikasi lain banyak. Namun, tetap ada yang membedakan,” imbuh Karin. Putri pertama di antara tiga bersaudara itu menjelaskan, ITrip dilengkapi kotak saran dan pertanyaan secara online.

Peselancar bisa menemukan informasi yang tak tersaji dalam aplikasi. Karin girang. Berdasar pengamatannya, program itu mulai diburu. Pengunduhnya semakin banyak.

Tentu, dosen pengajar bidang perencanaan kota di ITS tersebut belum puas. Dia optimistis minat masyarakat untuk berkunjung ke Gresik terus bertambah. Termasuk warga asing.

“Saya bermimpi, objek wisata jadi pusat ekonomi masyarakat. Jadi, pelaku usaha bisa merasakan manisnya keberadaan cagar budaya,” ujar Karin.

Mengapa ngotot ingin mengembangkan wisata Gresik? Karin menilai Kota Pudak sebagai daerah unik. Gresik memiliki banyak objek wisata berupa makam Islam. Selain itu, cagar budaya Kampung Kemasan berdiri kukuh.

Karin melihat potensi itu belum tergarap maksimal. Keinginan Karin juga tidak terlepas dari kehidupannya sewaktu kecil. Perempuan yang murah senyum tersebut masih ingat betul saat tinggal di Kampung Kemasan.

Tingkah laku dan pengalaman main petak umpet masih menggoda memorinya. “Sebenarnya saya masih ada hubungan darah dengan salah satu masyarakat pemilik rumah di Kampung Kemasan. Meski, jauh,” imbuhnya.

Banyak cerita di objek wisata tersebut. Dia ingin cagar budaya itu semakin termasyhur. Anak Sri Priyantini tersebut ingin potensi wisata di kota kelahirannya semakin berkembang. Gresik kaya budaya.

Kota unik yang masih memiliki adat-adat kerukunan di masyarakat. “Sekarang sudah lahir batik Gajah Mungkur. Saya ingin masyarakat lain berkreasi,” ujar penghobi membaca tersebut.

Karin ingin setiap cagar budaya ditata ulang. Wisata harus memberikan spot untuk pelaku usaha. Harapannya, di masing-masing lokasi rekreasi tumbuh pusat oleh-oleh khas Gresik. ”Produk pelaku usaha akan kami masukkan ke aplikasi ITrip,” ucapnya, lantas tersenyum. (ist/JP)

Wisata Religi Masih Andalan Jatim 2017

foto
Banyak obyek wisata religi bersejarah di Jawa Timur, termasuk Makam Sunan Sendang Duwur di Lamongan. Foto: beritahu.net.

KEPALA Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Jarianto mengemukakan bahwa destinasi wisata religi tetap menjadi andalan pada tahun 2017 karena Jawa Timur memiliki banyak lokasi bersejarah.

“Mayoritas kawasan wisata religi di Jatim tetap menjadi destinasi favorit karena salah satu faktornya memiliki penduduk dan budaya yang masih dikenal agamis,” ujar Jarianto kepada wartawan di Surabaya, seperti dikutip AntaraJatim, Rabu (11/1).

Berdasarkan data di Pemprov Jatim, wisata religi menjadi destinasi besar penyumbang wisatawan sekaligus menjadikan sesuatu yang positif bagi dunia pariwisata.

Sesuai data 2015, objek wisata religi terlaris di Jatim adalah Makam Sunan Bonang di Tuban yang per tahun jumlah pengunjungnya mencapai 2.078.453 orang.

Sedangkan di Surabaya, tempat wisata religi yang banyak dikunjungi adalah Kawasan Religi Ampel dengan jumlah wisatawan nusantara mencapai 2.040.365 orang.

Menurut dia, data pada 2016 tak berbeda jauh dari sebelumnya karena minat masyarakat Indonesia terhadap spiritual tetap yang utama.

Tak hanya sunan lima wali (Sunan Ampel, Sunan Giri, Maulana Malik Ibrahim, Sunan Bonang dan Sunan Drajat), namun kompleks pemakaman dua mantan Presiden RI, yaitu Soekarno di Blitar dan Gus Dur di Jombang menjadi daya tarik pengunjung, mulai yang berziarah atau sekadar jalan-jalan.

Selain itu, berbagai festival yang berpotensi mendatangkan banyak pengunjung masuk Jatim akan digelar, termasuk mempertahankan even-even sebelumnya.

Mantan Penjabat Bupati Trenggalek itu memisalkan Majapahit Travel Fair yang setiap tahunnya rutin digelar dan sukses mempengaruhi tingkat kunjungan, baik dari Tanah Air maupun mancanegara.

“Ada lagi festival-festival baru, salah satunya Jatim sebagai tuan rumah Festival Panji Nasional. Nanti juga ada lagi acara-acara yang berpengaruh,” ucapnya.

Tak itu saja, terobosan dan inovasi juga menjadi sebuah kewajiban agar tingkat kunjungan bertambah, seperti fasilitas sistem online atau dalam jaringan dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai media promosi.

Pejabat eselon II kelahiran Trenggalek itu optimistis setahun ini tingkat wisatawan bertambah hingga lima persen dari tahun ini yang jumlahnya yakni sekitar 55 juta lebih wisatawan domestik. (ist)

Dibuka, Museum Sejarah & Budaya Unair

foto
Universitas Airlangga kini memiliki Musem Sejarah & Budaya. Foto: Unair News.

Museum Sejarah & Budaya Universitas Airlangga (Unair) Surabaya secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor III Prof Ir Moch Amin Alamsjah MSi PhD dan Direktur Sumber Daya Manusia Dr Purnawan Basundoro MHum, Kamis (1/12).

Diresmikannya Museum Sejarah & Budaya Unair ini menambah daftar museum yang ada di Unair. Museum Sejarah & Budaya Unair ini dikelola Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair sebagai bagian dari pembelajaran akademik sekaligus wisata museum.

Nama ‘Museum Sejarah & Budaya’ seperti dirilis Unair News, diambil karena sebagai identitas sekaligus mewakili koleksi-koleksi yang ada di dalam museum yang merupakan warisan benda-benda sejarah dan budaya.

Dalam sambutanya, Prof Amin mengutip kata-kata Bung Karno ‘Jasmerah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah’. Karena di dalam sejarah, terdapat peristiwa masa lalu yang dapat diterapkan sebagai pembelajaran di masa kini.

“Peresmian Museum Sejarah & Budaya ini mengingatkan kembali urgensi perkataan Presiden pertama RI Ir Soekarno yaitu Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah atau disingkat Jas Merah,” kata Prof Amin.

“Pembelajaran dari sejarah masa lalu salah satunya diwakili dengan keberadaan museum. Oleh karena itu harapannya, museum ini dapat menjadi media pembelajaran kita bersama untuk menjadi manusia yang lebih baik,” tambahnya.

Museum ini dibagi menjadi dua ruangan. Ruangan pertama berisi berbagai buku kuno dan arsip-arsip penting dalam penelitian sejarah. Bagian kedua berisi benda dan foto-foto lama yang merepresentasikan kegiatan sehari-hari manusia pada masa lalu, seperti proyektor kuno, keris, pedang, tombak, dan wayang.

Sebagian besar koleksi disumbangkan oleh pengelola Museum Kesehatan Surabaya dr Haryadi Suparto secara bertahap sejak tahun 2007.

Museum yang terletak bersebelahan dengan ruang Departemen Ilmu Sejarah ini memiliki total koleksi benda kuno sekitar 102 buah, arsip lebih dari 200 buah, dan beberapa jurnal serta majalah lama.

Peresmian museum juga dihadiri segenap pimpinan dekanat, kasubbag, ketua prodi dan sekretaris prodi di lingkungan FIB. Dengan hadirnya Museum Sejarah & Budaya di FIB ini, sekaligus sebagai media pembelajaran utama mata kuliah Museologi.

Sebelumnya di Unair, beberapa museum sudah lebih dulu berdiri, seperti Museum Etnografi (FISIP) dan Museum Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran (FK).

Museum Sejarah & Budaya ini terbuka untuk umum, khususnya mahasiswa Unair sebagai media belajar alternatif selain dari perpustakaan dan ruang koleksi yang terdapat di setiap fakultas dan prodi. (sak)

Belanda Kembalikan 1.500 Artefak Indonesia

foto
PM Belanda saat menyerahkan keris kepada Presiden Jokowi. Foto: Biro Setpres Setkab.

Kedatangan Perdana Menteri Kerajaan Belanda Mark Rutte ke Indonesia beberapa waktu lalu tidak hanya untuk kunjungan kerja dan membahas kerja sama dengan Pemerintah Indonesia.

Dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, PM Rutte juga menyampaikan rencananya untuk mengembalikan ribuan benda-benda bersejarah Indonesia yang selama ini tersimpan di Belanda.

PM Rutte menjelaskan, ada 1.500 artefak di The Nusantara Collection yang berada di Delft Museum. Semuanya akan dikembalikan ke Indonesia.

Artefak-artefak itu memang tersimpan di Museum Nusantara di Delft, Belanda. Namun kabarnya Museum itu akan segera ditutup.

Mengawali penyerahan benda bersejarah ini, secara simbolis, dia memberikan sebuah keris berusia ratusan tahun kepada Jokowi.

“1.500 Artefak akan dikembalikan ke Indonesia. Keris ini adalah simbol pertama,” kata PM Mark Rutte saat konferensi bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/11) lalu.

Sebelum Indonesia merdeka, Belanda sudah berada di Tanah Air selama 350 tahun. Makanya banyak peninggalan budaya nusantara yang diambil dan dibawa ke Negeri Kincir, termasuk 1.500 benda bersejarah Indonesia yang dipajang pada museum di Delft, Belanda.

Pengembalian ribuan artefak ini seakan memulihkan luka lama bangsa Indonesia yang selama ratusan tahun pernah berada di bawah kekuasaan Belanda. Langkah ini diharapkan bisa lebih memperkokoh hubungan kerja sama Indonesia dan Belanda ke depannya.

Mendikbud Muhadjir Effendi secara terpisah mengapresasi niat pemerintah Belanda mengembalikan artefak. Benda-benda tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi.

“Saya belum dapat info yang cukup, tapi itu suatu hal yang bagus, memang banyak artefak yang disimpan di sana,” kata Muhadjir.

Meski hal ini berkaitan dengan Ditjen Kebudayaan yang ada di bawah Kemdikbud, tetapi Muhadjir belum tahu bagaimana teknis nantinya. Dia akan melakukan kunjungan ke Belanda dahulu untuk pembahasan lebih lanjut.

“(Disimpan) di museum nantinya, museum yang sesuai dengan artefaknya. Misal di Perpustakaan Nasional kalau itu dalam bentuk buku-buku lama, kan banyak sekali dari Leiden segala itu,” kata Muhadjir.

Pada 1987 lalu, pemerintah Belanda pernah mengembalikan Patung Ken Dedes, yang ditemukan tahun 1818. Sososk Ken Dedes adalah tokoh penting bagi perjalanan bangsa ini. Tanpa dirinya, takkan lahir raja-raja besar yang memimpin kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Tapi masih banyak benda bersejarah lainnya yang tersimpan di museum Belanda. Selain patug, seperti patung Ganesha dan Anusupati, juga belasan prasasti penting dan bersejarah. Misalnya Prasati Sangsang dan Wujakana di Museum Tropen, Prasasti Guntur di Rotterdam, serta sekitar 6 buah lagi ada di Museum Leiden.

Selain ratusan keris dan senjata-senjata para raja, juga ada naskah kuno yang sangat penting bagi sejarah Indonesia. Sekitar dua tahun lalu, pemerintah kota Solo ingin Belanda mengembalikan beberapa peninggalan penting Keraton Kasunanan Surakarta. Salah satunya adalah naskah kuno yang isinya jejak-jejak para leluhur.

Naskah kuno dimaksud mendiami salah satu museum di Belanda. Tak hanya itu, ada satu barang penting Keraton Surakarta yang katanya juga dibawa Belanda. Benda ini adalah sebuah mobil kuno milik sang raja yang dikatakan sebagai mobil pertama yang ada di Indonesia. (sak)

Teknologi Nuklir Identifikasi Benda Cagar Budaya

Tiga peneliti masing-masing pakar arkeometalurgi UGM Prof Timbul Haryono, pakar nuklir dari BATAN Prof Samin Prihatin dan motivator Surabaya Johan Yan memanfaatkan teknologi nuklir untuk mengindetifikasi keaslian benda cagar budaya.

“Penelitian kali pertama di dunia menggunakan teknologi nuklir untuk mengidentifikasi benda cagar budaya,” ujar Johan Yan di sela peluncuran buku tentang penelitiannya berjudul ‘Maha Nandi Dalam Perspektif Arkeometalurgi dan Teknologi Nuklir’ di Tugu Pahlawan Surabaya, 11 November 2016 lalu.

Seperti dikutip Antara, menurut dia, banyak pihak yang mendengar kata nuklir adalah senjata pemusnah massal dan penghancur peradaban, padahal teknologi nuklir di tangan ahlinya bisa untuk mengidentifikasi sebuah peradaban yang telah punah.

Pihaknya berharap penelitian tersebut dapat mengantisipasi pelaku atau mafia cagar budaya yang sengaja memalsukan benda bersejarah, termasuk pencurian untuk selanjutnya dibawa ke meja lelang di luar negeri.

Komisaris Total Quality Indonesia tersebut juga membuktikan benda cagar budaya itu asli atau tidaknya dapat dilakukan dengan cara ini hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk mengetahui komposisi logamnya.

“Kalau dibandingkan dengan metode konvensional seperti C14 atau ‘sampling’ memerlukan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-berbulan, dan yang pasti destruktif,” katanya.

Penelitian pertama, kata dia, dilakukan terhadap Maha Nandi, yakni merupakan arca lembu dari abad IX atau setidaknya abad X yang berukuran sekitar 30 centimeter dan sudah diteliti dengan ‘CT-Scan, MRI’, serta teknologi nuklir.

Peneliti asal Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof Samin Prihatin mengakui metode ini merupakan hal relatif baru dan pertama kali di dunia teknologi nuklir.

“Hal ini akan mampu mendorong kalangan akademisi terutama yang bergerak dalam bidang arkeologi untuk terus berinovasi dalam penggunaan nuklir sebagai upaya menyelematkan serta melestarikan benda-benda cagar budaya di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengapresiasi penemuan dan penelitian menggunakan metode tenaga nuklir ini sebagai wujud menjaga keaslian benda cagar budaya.

“Saya akui kurang paham tentang metode apa yang paling tepat, tapi melihat perkembangan ilmu tekonologi seperti sekarang ini, penemuan apapun dalam rangka memastikan cagar budaya asli atau tidak patut itu sangat layak diapresiasia,” kata Gus Ipul, sapaan akrabnya. (ist)