Ningrum Pamer Tari Topeng Klana di Korea

foto
Peserta acara 4th International Cultural Exchange di Korea. Foto: PIH Unair.

Tak disangka, kecintaan pada seni membawa mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini terbang ke Korea Selatan. Ialah Anindya Endah Cahyaningrum atau yang akrab dengan sapaan Ningrum. Mahasiswa semester tujuh ini berkesempatan mengikuti program yang diselenggarakan oleh ISCEF (Indonesian Student Cultural and Eduaction Foundation), 10-14 Juli 2018 di Seoul National University.

Dalam acara kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan bertajuk 4th International Cultural Exchange : Immersing the Culture and Experiencing the Exchange ini, Ningrum membuktikan kepiawaiannya dalam menari. Menampilkan tari Topeng Klana asal Cirebon, gadis asli Surabaya ini membuat peserta terpukau dengan kebolehannya menari.

Selain Ningrum, ada 6 mahasiswa lain yang menjadi wakil dari Indonesia dalam acara ini. Dua mahasiswa asal Bali, empat mahasiswa asal Merauke, dan satu mahasiswa asal Surabaya yaitu Ningrum.

“Audience-nya sangat apresiatif. Mereka sangat memperhatikan penampilan yang disuguhkan di sana. Mereka sangat excited menyaksikan kesenian-kesenian tradisional Indonesia,” ungkapnya.

Tarian yang Ningrum bawakan menceritakan tentang amarah, keserakahan, dan keburukan-keburukan yang ada dalam diri manusia. Tarian ini merefleksikan kondisi manusia yang didominasi oleh sisi buruk yang ada dalam diri.

“Biasanya saya membawakan tarian yang menceritakan tentang keindahan atau kecantikan, seperti kecantikan perempuan atau keindahan alam. Tapi untuk kali ini, saya ingin menampilkan sesuatu yang lebih punya moral value yang bisa disampaikan kepada audience,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, delegasi Indonesia menampilkan kesenian tradisional Indonesia, story telling, puisi, dan tari tradisional. Acara ini disaksikan oleh mahasiswa dan dosen dari Departemen Musik, Seoul National University.

Usai penampilan kesenian Indonesia, dilanjutkan dengan penampilan kesenian musik tradisional oleh mahasiswa Seoul National University. Selain penampilan seni, dalam kegiatan ini juga dilakukan tour ke beberapa tempat ikonik serta mengenal budaya Seoul.

Meski terbiasa menari, Ningrum sempat nervous karena membawakan tarian yang mulanya tidak biasa ia bawakan. Kepiawaiannya berbuah manis karena mendapat respon positif dari mahasiswa-mahasiwa yang ada di sana.

Bagi Ningrum, pengalaman yang tak kalah menarik selama di Seoul adalah membawakan tarian Topeng Klana menggunakan topeng. Hal ini berlangsung sejak durasi pertengahan hingga menjelang akhir tarian, dari yang awalnya ditutupi kain , dan ketika dibuka audience kaget setelah melihat topeng dibalik kain yang ternyata menyeramkan.

Selain itu, di Seoul, Ningrum berkesempatan membagi ilmu tari nya pada wisatawan yang berkunjung ke sana.

“Sepulang dari Seoul, saya berharap semangat untuk belajar dan mendalami kesenian tradisional Indonesia semakin bertambah, memiliki kesempatan untuk membawa kesenian tradisional Indonesia ke negara lain, serta semakin banyak anak Indonesia yang mendalami kebudayaan Indonesia,” tambah Ningrum. (ita)

Arzu Muradova, Jatuh Cinta pada Budaya Indonesia

foto
Arzu Muradova, Jatuh Cinta pada Budaya Indonesia Sejak di Banyuwangi IDN Times/Vanny El Rahman.

Sudah tentu hal yang biasa bila anak muda asal Indonesia bermain gamelan dan menari khas Nusantara. Tapi bagaimana jika yang melakukan hal itu adalah seorang warga negara asing?

Bisa dikatakan, dia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia. Arzu Muradova salah satunya. Wanita berusia 23 tahun asal Azerbaijan ini merupakan peserta Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.

Menetap selama tiga bulan di Banyuwangi, Jawa Timur, Muradova kepada IDN Times mengaku terkesan dengan kebudayaan Indonesia.

Siapapun yang bercengkrama dengannya pasti akan terkejut. Sebab, dia mampu berbahasa Indonesia dengan lancar.

“Sebelumnya, aku belajar bahasa Indonesia di Azerbaijan. Aku juga belajar Kajian Kawasan Indonesia. So, aku sangat jatuh cinta sama budaya Indonesia,” ujarnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Selama di ujung pulau Jawa, banyak hal yang dipelajari oleh Muradova. Sebagai pecinta kebudayaan Nusantara, mempelajari tarian dan alat musiknya adalah kebanggaan tersendiri bagi wanita yang baru saja menuntaskan studi sarjananya itu.

“Di Banyuwangi aku belajar Tari Jejer Gandrung dan Gamelan. Kalau menarinya sih gampang ya, tapi gamelan agak susah,” terangnya dalam bahasa Indonesia yang begitu lancar.

Setelah mempelajari sekitar 90 hari lamanya, Muradova bersama 72 peserta BSBI dari 44 negara lainnya menampilkan tarian dengan alat musik secara kolosal. Terlihat jelas dari parasnya, betapa perasaan lega menyelimutinya setelah dia berhasil menuntaskan penampilannya.

Muradova juga menyukasi makanan khas Indonesia. Salah satu yang menjadi favoritnya adalah mi goreng, nasi goreng, pecel petik, dan dadar gulung. “Indonesia sangat menarik. Indonesia just amazing,” ungkapnya yang kala itu masih menggunakan pakaian adat khas Banyuwangi.

Selama berada di Bayuwangi, kedatangan Muradova bertepatan dengan diselenggarakannya Festival Seblang. Melalui festival tersebut, Muradova mengaku takut namun tertarik melihat wanita yang hilang kesadaran dalam keadaan menari.

“Di Banyuwangi ada Festival Seblang. Itu ada ritual, ruh masuk ke dalam tubuh cewek muda. Dia menari dan dia undang orang lain, jadi dia kesurupan. Itu menarik. Saya mau kembali ke Banyuwangi, tapi takut melihat festivalnya, hahaha,” ucapnya sembari melepas tawa.

Kesempatan di Banyuwangi tidak hanya digunakan untuk mempelajari budaya Indonesia. Muradova turut menikmati keindahan alam dari puncak Gunung Ijen.

Dari ketinggian 2.799 meter di atas permukaan laut, Muradova menyaksikan betapa indahnya matahari terbit dan fenomena api biru yang hanya ada di Banyuwangi dan Islandia.

“Iya, saya mendaki 12 kilometer. Susah banget, tapi bagus. Berangkat dari jam 12.00 sampainya jam 16.00. Lihat Blue Fire tapi cuma sedikit, kami juga liat sunrise, indah sekali,” ceritanya.

Selain Ijen, Banyuwangi juga terkenal dengan keindahan pantainya. Beruntung bagi Muradova, karena pesona pantai Banyuwangi menjadi tempat pertamanya untuk menikmati keindahan bawah laut.

“Pengalaman menarik aku di Banyuwangi itu pas snorkling. Aku belum pernah sebelumnya, jadi menarik sekali. Aku berenang sama baby shark, deket banget. Takut tapi menarik,” celotehnya.

Kecintaan Muradova terhadap Indonesia seakan menopang masa depannya. Setelah menunaikan studinya di Azerbaijan, Muradova tertarik mengambil program master di Indonesia.

“Aku rencananya mau ambil S2 di Bandung atau di Yogyakarta, di Surabaya juga bisa. Nanti mau ngambil hubungan intenasional, karena aku di Azerbaijan belajar itu juga. Aku rasanya gak ingin kembali ke negeriku,” ujarnya.

Sementara, Direktorat Diplomasi Publik Kemlu sebagai salah satu pihak penyelenggara, mengaku lega setelah menuntaskan kegiatan pertukaran pelajar dan budaya ini.

Direktur Diplomasi Publik Azis Nurwahyudi berharap, sekembalinya para peserta ke negaranya masing-masing, mereka akan menjadi duta Indonesia di tempat kelahiran mereka.

“Saya merasa bangga dengan hasil belajar teman-teman BSBI. Hasilnya luar biasa, mereka serius belajar apa yang bisa dipelajari di Indonesia. Saya bangga dengan mereka. Kami berharap mereka semua akan menjadi duta Indonesia di negaranya masing-masing,” kata dia. (ist)

In Memoriam: Dalang Nyentrik Ki Enthus Susmono

foto
Almarhum bisa menciptakan karakter wayang kontemporer. Foto: Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho.

Ki Enthus Susmono, bupati petahana Kabupaten Tegal yang juga dalang nyentrik, tutup usia pada Senin malam, 14 Mei 2018, sekitar pukul 19.15 WIB di RSUD Soeselo Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Setelah menjabat bupati saat periode pertamanya pada 2014-2018, saat ini suami dari Nur Laela itu mencalonkan diri kembali bersama wakilnya, Umi Azizah, dalam Pilkada Kabupaten Tegal.

Seperti dilaporkan Liputan6.com, pasangan Enthus-Umi diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan didukung empat partai lain, yakni Gerindra, PKS, PAN, dan Hanura. Dengan gabungan lima partai itu, artinya Enthus-Umi membawa gerbong partai yang memiliki jumlah 25 kursi di DPRD Kabupaten Tegal.

Berdasarkan dokumen pencalonan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tegal, ayah empat anak itu lahir di Tegal pada 21 Juni 1966. Maka itu, usianya kini nyaris 52 tahun.

Enthus menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Tegal. Pada kurun waktu 1983- 1986, dia duduk di bangku SMA Negeri 1 Tegal.

Enthus juga aktif mengikuti berbagai organisasi. Dia pernah menjadi Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tegal, dan Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PBNU. Ki Enthus juga pernah aktif di lembaga bela diri Inkai dan Perisai Diri Kabupaten Tegal.

Wayang dalam hidup Ki Enthus sudah mendarah daging. Ia merupakan anak satu-satunya Soemarjadihardja, yang merupakan dalang wayang golek Tegal, dengan istri ketiga bernama Tarminah.

Dari garis keturunan ayah, kakek moyang Ki Enthus juga dikenal sebagai dalang ternama bernama RM Singadimedja yang sering dipercaya tampil pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram.

Gemblengan sang ayah dan konsistensinya mendalami wayang tecermin dalam karyanya yang dikenal kreatif, inovatif, serta eksplorasi yang tinggi. Tak heran bila murid dari dalang kondang Ki Manteb Sudarsono itu dinilai sebagai salah satu dalang terbaik yang dimiliki Indonesia.

Buktinya pada 2005, dia terpilih menjadi dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia yang diselanggarakan di Taman Budaya Jawa Timur. Kemudian pada 2008, Ki Enthus mewakili Indonesia dalam Festival Wayang Internasional di Denpasar, Bali.

Gaya sabetannya yang khas, kombinasi sabet wayang golek dan wayang kulit membuat pertunjukannya berbeda dengan dalang-dalang lainnya. Ki Enthus juga memiliki kemampuan dan kepekaan dalam menyusun komposisi musik, baik modern maupun tradisional.

Selain banyolan dan kecakapannya menampilkan cerita pewayangan, Ki Enthus juga mahir menghidupkan suasana menjadi lebih atraktif dan bersemangat. Kekuatannya mengintrepretasi dan mengadaptasi cerita serta kejelian membaca isu-isu terkini membuat gaya berceritanya menjadi hidup dan interaktif.

Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artistik kelir menjadikannya lakon-lakon yang ia bawakan bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual, dan menghibur.

Sebagai dalang, ia selalu membawakan dua karakter wayang golek yang melegenda, Lupid dan Slentenk. Di mana pun ia tampil, ia selalu membawa dua ikon itu untuk menyampaikan beragam pesan, termasuk berbagai program pemerintah, kepada masyarakat seperti kampanye anti-narkoba, anti-HIV/AIDS, HAM, pemanasan global hingga pemilu damai.

Bagi Ki Enthus, mendalang bukan hanya media komunikasi isu-isu terkini, tapi juga sarana dakwah. Maka itu, ia aktif mendalang di beberapa pondok pesantren melalui media Wayang Wali Sanga.

Dikutip dari buku Ki Enthus Susmono, kemahiran dan kenakalannya mendesain wayang-wayang baru atau kontemporer seperti wayang George Bush, Saddam Hussein, Osama bin Laden, Gunungan Tsunami Aceh, Gunungan Harry Potter, Batman, wayang alien, wayang tokoh-tokoh politik, dan lain-lain membuat pertunjukannya selalu segar, penuh daya kejut, dan mampu menembus beragam segmen masyarakat.

Deretan kreasi wayang Ki Enthus terwujud dalam berbagai bentuk sajian wayang, seperti wayang planet (2001-2002), Wayang Wali (2004-2006), Wayang Prayungan (2000-2001), Wayang Rai Wong (2004-2006), dan Wayang Blong (2007). Museum Rekor Dunia Indonesia-pun (MURI) menganugerahi dirinya sebagai dalang terkreatif dengan kreasi jenis wayang terbanyak, yakni 1.491 wayang.

Tak hanya itu, beberapa wayang kreasinya telah dikoleksi oleh beberapa museum besar di dunia, antara lain Tropen Museum di Amsterdam Belanda, Museum of Internasional Folk Arts (MOIFA)New Mexico, dan Museum Wayang Walter Angts Jerman. Semuanya tak lain dimuarakan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat luas terhadap wayang, penajaman pasar, dan membumikan kembali wayang kulit di Tanah Air. (ist)

Lewat Danglung, Zainul Inisiasi Desa Wisata

foto
Zainul Arifin, penerima program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016. Foto: Tempo.co.

“Jadilah orang Indonesia yang berkearifan lokal, sehingga Anda tahu bahwa nusantara memang benar-benar Bhinneka Tunggal Ika. Yang sama jangan dibedakan, yang beda jangan disamakan,” kata Zainul Arifin di masa penjurian program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016.

Zainul adalah salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards dalam upayanya menanam serta menumbuhkan rasa nasionalis dan cinta kekayaan bangsa melalui seni budaya serta kearifan lokal.

Pria muda asal Lumajang, Jawa Timur ini memiliki gagasan dalam sebuah program yang bertajuk “Pengenalan Pendidikan Kearifan Lokal melalui Sadar Wisata dan Musik Tradisional Daerah.”

Sejak tanggal 10 November 2007, ia bersama warga desa tempat kelahirannya membentuk program desa wisata. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana berbagi kearifan lokal, namun juga menumbuhkan usaha ekonomi baru dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat sekitar.

Tidak mudah bagi Zainul untuk meyakinkan warga setempat tentang program yang ia miliki. Awalnya mengenalkan musik Danglung sebagai musik khas Lumajang sempat ditolak oleh warga karena dinilai sesat.

Perlahan tapi pasti, Zainul pun berhasil mendapatkan kepercayaan warga, bahkan banyak dari warga pun akhirnya mengikuti program gagasannya.

Setelah menerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016, Zainul pun semakin jauh mengembangkan program ini. Ia memanfaatkan dana yang diberikan untuk pembinaan ke kelompok sadar wisata dan pembinaan masyarakat, serta pelestarian seni budaya.

Sejumlah kegiatan pun dilakukan oleh Zainul, antara lain Peluncuran Kampung Kreatif Dingklik Pasinan serta lomba yel budaya anti narkoba yang bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional di Lumajang dan sekitarnya.

Bahkan, Zainul pun melanjutkan kerjasama pengembangan dan pelestarian budaya dengan Raja Ubud Dr Ir Tjokorda Oka, yang telah terjalin sejak tahun 2013.

Kepedulian Zainul Arifin terhadap pengenalan budaya serta pemberdayaan masyarakat desa di tempat asalnya adalah satu di antara banyak cerita para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards.

Pemuda pemudi seperti Zainul masih banyak lagi tersebar di seluruh pelosok tanah air Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut lagi tentang generasi muda kreatif lain dalam program SATU Indonesia Awards, silakan kunjungi website http://www.satu-indonesia.com. (ist)

Mbok Temu Misti, Sang Maestro Tari Gandrung

foto
Maestro tari, Temu Misti di kediamannya Desa Kemiren, Banyuwangi, Foto: Kompas.com/Ira Rachmawati.

Temu Misti (65), warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah maestro tari Gandrung yang tetap melestarikan tari Gandrung selama 50 tahun lebih. Perempuan sederhana tersebut sudah menjadi Gandrung sejak tahun 1968 ketika berusia 15 tahun.

Kepada Kompas.com, Jumat (21/4/2018), perempuan yang terkenal dengan panggilan Gandrung Temu tersebut bercerita jika dia terlahir dengan nama Misti dan dibesarkan oleh Khatijah, bibinya yang tidak memiliki anak.

Saat usianya 1 tahun, Misti menderita sakit panas dan dibawa ke rumah seorang dukun untuk disembuhkan. Sepulang dari dukun, Misti kecil dan ibu angkatnya mampir ke rumah Mak Tiah, seorang juragan Gandrung dan saat itu memberi makan Misti dengan nasi panas.

“Saat itu Mak Tiah bilang kalau saya sembuh harus diganti nama dengan Temu dan jika besar akan jadi penari Gandrung. Karena sembuh, akhirnya nama saya menjadi Temu Misti. Saat saya kelas 5 SD, Mak Tiah datang ke rumah untuk meminta saya menjadi penari Gandrung. Tapi ibu menolak karena saya masih kecil,” kata Gandrung Temu.

Perempuan kelahiran 20 April 1953 tersebut pertama kali tampil sebagai Gandrung ketika Sutris, seorang juragan Gandrung memintanya untuk bergabung.

Temu pun akhirnya luluh setelah dibujuk oleh Mak Tijah, kakak ipar ibunya yang juga tukang rias Gandrung. Temu yang selama ini belajar secara otodidak dengan memperhatikan penari Gandrung di dekat rumahnya akhirnya tampil di hadapan penonton sebagai Gandrung profesional untuk pertama kalinya. “Saat itu saya nari tanpa pamitan ke ibu,” ceritanya sambil tertawa.

Pada tahun 1970-an, menurut Gandrung Temu, adalah puncak kejayaan kesenian Gandrung. Hampir tiap malam, dia selalu tampil untuk menghibur para penonton.

Bahkan pernah hampir dua bulan lamanya dia tidak pulang dan berkeliling menari bersama grup Gandrung-nya. Bukan hanya di sekitar rumahnya, bahkan hingga ke wilayah Banyuwangi Selatan dan luar kota Banyuwangi. Dalam satu bulan, jadwal menari Gandrung Temu minimal 20 malam.

“Waktu itu dikenal dengan grup Gandrung Temu. Ya itu namanya. Belum ada nama kayak sekarang. Saya pernah tampil sampai ke selatan sana. Jalan kaki terus naik perahu. Ya alat-alatnya dibawa. Dulu kan masih sederhana alatnya dan nggak banyak kayak sekarang,” ceritanya.

Bahkan pada zaman dulu, Gandrung Temu saat menyanyi tidak menggunakan pengeras suara, hingga dia memaksimalkan suaranya. Bahkan untuk melatih napas, dia berendam dan tenggelamkan kepala dalam beberapa menit.

“Jika nggak dilatih gitu, suara saya ya kalah sama panjak atau pemain musik dan penontonnya nggak akan dengar. Pertama nyanyi, besoknya suaranya habis,” kenangnya sambil tertawa.

Pada tahun 1980-an, suara emas Gandrung Temu direkam oleh Smithsonian Folkways, Amerika Serikat dan album “Song before Dawn” yang berisi suara Gandrung Temu dirilis pada tahun 1991. Penari Gandrung asal Jakarta, Bali dan Semarang saat acara meras gandrung di Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur.

Menurutnya, ada 11 lagu Gandrung yang saat itu direkam antara lain Delimoan, Chandra Dewi dan Seblang Lukinto. Dia mengaku hanya dibayar Rp 250.000 tanpa ada kontrak kerja sama. Selain itu, dia hanya mendapatkan sampul album Songs Before Dawn yang di pigura dan sempat dipajang di dinding rumahnya.

Selama bertahun-tahun, dia tidak mengetahui jika suara emasnya dijual di sejumlah situs bisnis di Amerika dan Eropa.

“Saya nggak mau bahas itu. Biar saja. Dulu janjiannya direkam untuk kegiatan penelitian tapi saya sempat dengan katanya dijual. Yang penting saya bisa menghibur banyak orang. Saya nggak masalah nggak dapat apa-apa. Tuhan tidak tidur,” jelasnya.

Gandrung Temu sempat berhenti menjadi Gandrung ketika dia menikah di usia 18 tahun. Namun pernikahan itu hanya bertahan selama dua tahun. Dia kembali menikah pada tahun 1977 namun kembali lagi bercerai karena suami keduanya cemburu dan suka memukul.

Suaminya yang ketiga bernama Adis dan mereka menikah pada tahun 2014. Mbok Temu sendiri tidak memiliki anak, namun dia mengasuh keponakannya yang saat ini duduk di SMA Luar Biasa Banyuwangi.

“Tidak semua orang bisa punya anak tapi saya seneng bisa ngangkat anak dan menyekolahkan hingga SMA. Dia tuna wicara, tapi saya pernah menganggap dia anak angkat,” katanya.

Pada tahun 1982 dia membuka toko kelontong kecil di depan rumahnya dan akhirnya tutup pada tahun 2006 karena penghasilannya sebagai Gandrung berkurang dan modal tidak berputar. Masa kejayaannya meredup awal tahun 2000-an.

Semakin lama, panggilan tanggapan untuk menari semakin sepi karena kalah dengan dangdut electone. Bahkan Gandrung Temu pernah tidak mendapatkan job sama sekali dalam sebulan. Ia kemudian banting setir mengurusi sawah dan memelihara ayam di belakang rumahnya yang sederhana untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Ayam-ayam peliharaannya tersebut dijual jika ada warga yang akan membuat pecel pitik untuk selamatan. Namun saat ini ayam kampung peliharaannya tinggal 25 ekor karena banyak yang mati karena diserang penyakit.

“Kalau dulu kan buat pecel pitik hanya selamatan atau lebaran sekarang hampir tiap hari ada yang buat karena banyak wisatawan yang datang. Jadi belinya ke saya. Walaupun nggak banyak ya disyukuri saja,” ceritanya.

Selain itu, dia juga mengajari anak-anak menari Gandrung di halaman rumahnya setiap hari Minggu. Bahkan dia juga telah melatih dan mencetak para penari Gandrung profesional seperti dirinya.

Pada tahun 2015, Gandrung Temu sempat menari dan tampil di Jerman mewakili budaya Banyuwangi dan sempat beberapa kali tampil di Jakarta untuk misi kebudayaan.

“Menjadi Gandrung itu nggak gampang. Kita harus bisa jaga diri karena tampil di hadapan orang. Kalau dulu jarak penari dengan penonton bisa satu meter bukan kayak sekarang yang deket-deketan malah kadang saya risih melihatnya,” katanya.

Pada tahun 2015, rumah Gandrung Temu juga menjadi jujugan 15 pelajar dari seluruh Indonesia belajar tari Gandrung pada maestro. Mereka mendaftar secara online pada Kegiatan Belajar bersama Maestro di Program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Selain Gandrung Temu, ada 10 maestro tari di Indonesia yang menjadi tempat belajar para pelajar. Penari nasional Didik Nini Thowok juga pernah belajar menari Gandrung ke Mbok Temu, maestro tari Gandrung asal Banyuwangi, Jawa Timur.

Didik berkunjung ke rumah Mbok Temu yang berada di Desa Kemiren, Desa Glagah, Banyuwangi pada Mei 2017. Walaupun usianya sudah tidak lagi muda, Gandrung Temu masih tetap menerima orderan untuk tampil sebagai Gandrung dan telah memiliki grup Gandrung dengan nama “Sopo Ngiro”.

Namun dia tidak menari sendiri tapi mengajak minimal dua orang Gandrung muda untuk tampil dengannya.

“Gandrung itu bukan hanya bisa menari tapi juga harus bisa bernyanyi serta menghibur penonton semalam suntuk tanpa harus merendahkan diri kita sendiri. Kalau ditanya sampai kapan saya jadi Gandrung ya sampai saya nggak kuat lagi. Menjadi Gandrung itu sudah takdir dan saya nggak mau nanti Gandrung hilang dari Banyuwangi. Semampu saya akan terus saya ajarkan Gandrung ke generasi muda di bawah saya. Biar mereka yang nanti meneruskan jika saya meninggal,” katanya. (ist)

Agus Koecink Dorong ‘Konektivitas’ Seniman

foto
Agus Koecink bersama I Made Somadita di House of Sampoerna. Foto: Koleksi HoS.

Pelukis yang juga kurator seni rupa Agus Koecink Sukamto mendorong konektivitas antarseniman asal Jawa Timur dengan seniman dari daerah lain, sehingga selalu tercipta ide-ide baru dalam berkarya, yang nantinya terbuka akses berpameran ke luar negeri.

Pria kelahiran Tulungagung 1967 itu sedang menggelar pameran “The Color of Life” bersama pelukis asal Denpasar, Bali, I Made Somadita, di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya, 6 – 28 April 2018.

“Saya bertemu dengan Somadita saat pameran bersama di Korea beberapa tahun lalu dan sejak itu tertarik untuk mengagendakan pameran bersama di beberapa kota di Indonesia, yang dimulai dari Galeri House of Sampoerna Surabaya ini,” ujarnya saat ditemui Antara Jatim di sela mempersiapkan pamerannya di Galeri House of Sampoerna Surabaya.

Proses pertemuannya dengan I Made Somadita di Korea yang terus berlanjut sampai sekarang itulah yang dia sebut sebagai konektivitas antarseniman. Keduanya pun saat itu berpameran ke Korea atas ajakan dari seniman senior asal Ubud, Bali, Antonius Kho.

“Ada banyak seniman dari berbagai daerah di Indonesia yang waktu itu diajak Antonius Kho berpameran di Korea. Sampai sekarang dengan banyak seniman dari berbagai daerah itu kami masih terhubung satu sama lain,” ujarnya.

Bagi Agus Koecink, Korea adalah negara kedua dia berpameran, setelah sebelumnya juga pernah berpameran di Prancis atas koneksi dari Pusat Kebudayaan Prancis atau “Institut Francais d`Indonesie” (IFI) di Surabaya.

Sedangkan I Made Somadita telah mengikuti pameran bersama di banyak negara. Selain di Korea, pria kelahiran Tabanan, Bali, tahun 1982 itu, telah berpameran di Malaysia, Thailand, Filipina dan Jerman.

Somadita menilai ada kesamaan nasib antara seniman Bali dan Jawa Timur, yaitu sama-sama kesulitan akses untuk menggelar pameran di luar negeri.

“Beda dengan seniman Jogja dan Bandung yang telah terbentuk sistem sehingga terbuka akses yang lebih mudah untuk bepameran ke luar negeri,” katanya dikutip Antara Jatim.

Sedangkan seniman Bali, lanjut dia, diuntungkan dengan banyaknya turis asing. “Tinggal cara kita menggiring para turis asing untuk datang menyaksikan karya-karya kita yang tersimpan di studio. Kalau beruntung, terbukalah akses untuk berpameran ke luar negeri,” ujarnya.

Sepakat dengan Agus Koecink, Somadita menyebut intinya adalah memupuk konektivitas antarseniman dan dia meyakini dari situlah nantinya terbuka akses untuk berpameran di luar negeri.

Agus Koecink menandaskan, seniman memang tidak bisa berdiam diri di rumah. Dia harus bergaul dengan seniman lainnya dari berbagai daerah, berproses bersama-sama, dan menggalang pameran bersama.

Dosen seni rupa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini menambahkan, yang jauh lebih penting dari itu adalah seniman harus berkarya.

“Karena tugas seniman adalah berkarya dan karyanya tidak boleh ikut-ikutan berpolitik. Seleksi untuk berpameran ke luar negeri salah satunya selalu dilihat dari karyanya terlebih dahulu,” tuturnya. (ant)

Wayang Kulit Kekinian, Menyesuaikan Zaman Now

foto
Heppy menunjukkan wayang kulit kreasinya menyesuaikan zaman. Foto: Radar Jember/Dwi Siswanto.

Ternyata, di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan Jember ada perajin wayang kulit yang kerap menerima pesanan dari dalang top. Inovasi baru Heppy Firman Handika inilah yang membuat wayang ‘kekinian’ ciptaannya itu mendapatkan hati dari para pemesannya.

Nama perajin wayang kulit ini adalah Heppy Firman Handika. Usianya baru 26 tahun, namun inovasinya dalam dunia pewayangan tak diragukan lagi.

Pria ini biasa membuat wayang di samping rumahnya. Bangunan sederhana itu sengaja dipakai sebagai ‘pabrik wayang’ oleh pemiliknya. Sekaligus, sebagai tempatnya menyimpan semua koleksinya. ”Saya hampir tiap hari ada di bengkel wayang ini,” seloroh laki-laki berperawakan tinggi besar ini, dikutip Jawapos.com.

Saat ditemui, laki-laki yang akrab disapa Heppy ini kebetulan sedang mengerjakan kerajinan wayang. Beberapa di antaranya sudah rampung. Namun, masih banyak tumpukan wayang setengah jadi yang belum dia apa-apakan. ”Alhamdulillah, sekarang lagi kebanjiran pesanan,” jelasnya.

Saat ini, dia memang sedang mendapat pesanan wayang dari salah satu dalang terkemuka di Jawa Tengah. Dia enggan menyebutkan namanya. “Tidak boleh disebut mas,” katanya sembari membereskan wadah cat yang sebelumnya dia gunakan untuk mewarnai wayang hasil kreasinya itu.

Namun yang berbeda, wayang kulit bikinannya tidak seperti wayang umumnya yang lebih menonjolkan tokoh pewayangan pada zaman kerajaan dulu. Wayang ciptaan Heppy lebih ke karakter zaman now yang ada di lingkungan sekitar.

Seperti tokoh Pak Haji, Satpam, sampai figur ibu-ibu rumah tangga. Wayang ini lebih mencolok dengan corak pakaian seperti yang digunakan manusia pada umumnya. Heppy menyebut, wayangnya itu adalah wayang kontemporer.

“Ini gaya kontemporer. Saya buat sesuai dengan apa yang diminta pemesan,” ujarnya. Beberapa memang sengaja dimodifikasi sendiri. Seperti tokoh pemuda desa yang dia buat seperti karakter seorang santri yang lengkap dengan sarung dan kopiah.

Selain karakter itu, rupanya Heppy pernah menciptakan wayang kulit berbeda lainnya. Seperti menaruh wajah si pemesan dalam karakter wayang. Bukan hanya ditempel, namun wajah si pemesan juga diukir menjadi karakter wayang. Semisal, dipasang di badannya Gatot Kaca.

”Konsep itu bisa dikatakan konsep kekinian,” selorohnya. Namun, belakangan Heppy jarang memproduksi wayang jenis itu. Alasannya, butuh waktu lebih lama. Apalagi, sekarang dia lebih konsentrasi pada wayang kulit kontemporer dan wayang kulit kreasi. ”Wayang kulit kreasi itu sama seperti wayang kulit pada umumnya, hanya saja dikreasikan dengan banyak warna,” jelasnya.

Heppy mengaku, tidak terkonsentrasi pada seni wayangnya saja. Dia lebih tertarik pada seni ukir dan menggambar karakter wayang itu sendiri. “Sebenarnya ketertarikan saya pada wayang itu ada pada seni ukir dan pewarnaan. Karena selain membuat wayang saya juga hobi melukis,” akunya. Tidak heran jika wayang kulit buatannya terlihat lebih berwarna.

Heppy mengakui, perkembangan zaman saat ini memang cenderung meninggalkan budaya wayang. Minimnya anak muda yang intensif mempelajari wayang juga jadi penyebabnya. Hanya sepersekian persen saja yang mau melestarikan wayang. Apalagi, di Kabupaten Jember hampir bisa dibilang tidak ada penerus perajin wayang kulit yang sedianya menekuni wayang dari hulu sampai ke hilirnya.

Bahkan, beberapa di antaranya hanya mengetahui secuil saja tentang seni membuat wayang. “Istilahnya hanya gaya-gaya saja,” ungkapnya.

Membuat wayang kulit tidak bisa dilakukan asal jadi saja. Perlu teknis khusus untuk mengukir dan memberi warna pada wayang itu sendiri. “Apalagi jika membuat wayang klasik, semua dilakukan dengan sangat detail,” tambahnya.

Baginya, wayang kulit saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Para Dalang sekalipun sudah banyak berubah. Mereka menginginkan karakter wayang yang diterima oleh banyak kalangan. Sehingga, perajin seperti dirinya harus berani berubah agar tidak termakan zaman.

“Kalau persaingan sih minim ya. Tapi perajin wayang seperti saya ini perlu melakukan inovasi baru agar wayangnya tetap diminati oleh masyarakat,” ungkapnya. (jpr)

Gelar Wayang Beber Dua Dalang Muda di Pacitan

foto
Dua dalang wayang beber yang masih muda, Kuncoro dan Adhi (kanan) di Pacitan. Foto: Lppkesenian.org.

Pergelaran wayang beber di pendopo Kabupaten Pacitan Senin (26/3) berlangsung unik karena dilakukan oleh dua dalang di atas pentas. Yang menarik, satu dalang sudah senior, yaitu Rudhi Prasetya, sedangkan dalang satunya adalah anak muda, Handika Adi Kuncoro, siswa SMK kelas XII (tiga).

Acara diselenggarakan UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPP Kesenian) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur dengan nama program ‘Pergelaran Revitalisasi Kesenian Daerah Wayang Beber 2018’.

Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, dalam acara tersebut dihadirkan penonton dari beberapa sekolah Sekolah Dasar (SD) hingga SMA/K.

Sebelum gelar wayang beber, acara diawali seni pertunjukan berjudul ‘Sekartaji, Sekartaji’ oleh siswa SMKN 1 Pacitan yang pernah menjadi Juara Pertama Apresiasi Seni Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) di Surabaya tahun lalu.

Cerita yang disajikan adalah fragmen dari cerita Jaka Kembang Kuning pada saat adegan di pasar, ketika Raden Panji mencari Dewi Sekartaji dan sempat saling melihat namun tidak sempat bertemu. Karya ini digarap penata tari Iswinedar dan penata musik Tri Gangsar Wicaksono serta sutradara Pandu Sadeka.

Dalang muda yang tampil pergelaran wayang beber itu adalah Handika Adi Kuncoro, lahir 21 Juli 1999 siswa kelas XII SMK Negeri Kebonagung, Pacitan.

Anak pertama dari empat bersaudara ini mengaku tidak berasal dari keturunan seniman. Ayahnya petani. Dia mengaku baru belajar dalang belum genap satu tahun. Sebelum pentas di pendopo kali ini Kuncoro, panggilannya, latihan serius di sekolah seharian penuh.

Tetapi Kuncoro pentas pertama kali di desanya sendiri, yaitu lapangan Ketro saat acara Agustusan tahun lalu. Belajar mendalang dilakukannya di Sanggar Lung asuhan Rudhi Prasetya atas dorongan kepala sekolahnya.

“Saya mendapat dukungan dari guru-guru dan kepala sekolah serta dorongan dari Rudhi sendiri dan juga orangtua,” jelas anak muda yang tinggal di Dusun Wonojoyo, Desa Ketro, Kecamatan Kebonagung ini, dikutip LPPKesenian.org.

Dalam pergelaran itu Kuncoro duduk sejajar dengan Rudhi. Kuncoro hanya membawakan cerita dua gulungan, selanjutnya diteruskan Rudhi. Pola ini sengaja dibuat agar diketahui sejauh mana Kuncoro mampu melakukan perpindahan gulungan yang ternyata belum sepenuhnya trampil. Kuncoro mengaku tidak bisa bermain gamelan, masih belajar. Saat pergelaran pun masih membaca catatan, meski tidak semuanya.

Ditanya pendapatnya soal anak didiknya, Rudhi mengaku bangga dengan Kuncoro, karena mau menjadi dalang wayang beber dan serius belajar tentang Panji dalam wayang beber. “Yang penting dia mau terus berlatih menjadi dalang wayang beber untuk meneruskan generasi pewaris budaya bangsa,” katanya.

Kuncoro adalah satu-satunya siswa Sanggar yang sudah berani pentas dalang Wayang Beber, sementara masih ada 5 siswa lainnya yang siap menjadi generasi muda dalang wayang beber. (ist)

Pengalaman Duta Budaya Jatim Saat ke Jepang

foto
Abraham Deddy Gagola, Mahasiswa UB Delegasi Duta Budaya Raka-Raki Jatim ke Jepang. Foto: Istimewa.

Sudah mengikuti berbagai ajang kontes dan kompetisi berbakat, Abraham Deddy Gagola menyabet banyak prestasi. Terpilih sebagai 10 besar Raka-Raki Jawa Timur tahun 2014, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang itu menjadi salah satu duta budaya yang dikirim ke Jepang. Seperti apa pengalamannya di Negeri Sakura?

Duta Brawijaya, finalis AFI, Duta Pangan Jatim, hingga Putra Batik Nasional adalah sebagian di antara ajang yang pernah dimenangi mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional UB ini. Piagam dan trofi pun disimpan rapi di rumahnya sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengembangkan bakat-bakatnya.

”Mohon maaf saya masih di luar kota saat ini. Setelah pulang dari Jepang, kegiatan saya memang cukup padat,” ujar pemuda yang akrab disapa Bram itu yang ramah saat dihubungi RadarMalang via telepon .

Bram menceritakan, meski menjadi finalis Raka-Raki Jatim tahun 2014, dia terpilih menjadi salah satu duta budaya ke Tokyo, Jepang. Duta budaya ini mengikuti kegiatan malam Cinta Indonesia yang diadakan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo.

”Jadi, kedutaan besar Republik Indonesia mengundang Raka-Raki Jawa Timur untuk mengikuti kegiatan pertukaran budaya di Tokyo selama 9 hari,” ucap pemenang Putra Batik Nasional 2017 ini.

Finalis AFI Junior 2005 itu terpilih menjadi perwakilan Raka-Raki Jawa Timur untuk memperkenalkan budaya Indonesia di event yang digelar dua tahun sekali oleh PPI.

”Saat seleksinya dulu, banyak mengulas wawasan budaya dan pariwisata. Kebetulan sekali saya juga sering mempromosikan pariwisata ke berbagai daerah,” imbuhnya.

Begitu mendapat kepastian bakal berangkat ke Jepang pada 31 Desember 2017, dia langsung menyiapkan semuanya. ”Termasuk nanti lagu apa yang akan saya nyanyikan saat di Tokyo,” terang ketua Bidang Sosial Raka-Raki Jawa Timur ini.

Selama mengikuti kegiatan di Tokyo, Bram mendapat banyak pengalaman baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Setelah menyanyikan tiga buah lagu dengan judul Lajeungan, Rek Ayo Rek, dan Dung Andung, Bram mendadak dihampiri produser Jepang yang menawarkannya untuk bergabung di perusahaan musiknya di Jepang.

”Habis saya perform itu langsung didatangi produser dari GKK Production InK Corperation Madam Coy Yamasaki. Dia datang bersama ajudan menghampiri saya dan menawari bergabung di manajemenya,” ucap first winner Duta Pangan Jawa Timur 2016 ini.

Bahkan, Bram juga langsung mendapatkan undangan untuk kembali lagi ke Tokyo Juli 2018. ”Saya diminta mengisi acara dalam rangka memperingati 60 tahun diplomasi Indonesia-Jepang,” papar runner-up Mister Teen Indonesia 2015 tersebut.

Tawaran bergabung dengan manajemen GKK Jepang tersebut cukup beralasan. Lantaran, Bram yang bakat menyanyinya sudah dipupuk sejak di bangku SD ini pernah mengikuti beragam kompetisi lokal hingga nasional. Bahkan, Bram juga menjadi salah satu finalis 12 besar AFI tahun 2005.

”Meskipun akhirnya harus tereliminasi, saya senang bisa tampil di televisi mengikuti ajang bergengsi saat itu,” ucap Duta Brawijaya 2013 ini.

Selain itu, dia memiliki pengalaman mendapatkan undangan mengisi acara pada HUT RI di Istana Negara. Saat itu, dia berduet dengan penyanyi beken.

”Waktu Presidennya Pak Susilo Bambang Yudhoyono, saya mendapat kesempatan bernyanyi di Istana Negara bareng Gita Gutawa,” imbuh winner Icon of Change Bandung Sport 2012 tersebut.

Saat ini, kesibukan pemuda kelahiran Blitar ini lebih banyak digunakan untuk menyelesaikan kuliahnya di UB. Rupanya, Bram mengaku bisa kuliah di UB juga karena prestasinya di ajang pencarian bakat.

”Jadi, waktu itu saya ikut ajang Pemilihan Duta Brawijaya pada 2013. Di situlah saya terpilih dan mendapatkan kesempatan kuliah bebas memilih jurusan dan dibebaskan dari pembayaran uang gedung dan lain-lain,” ucap peraih Putra Iptek Bahari Indonesia 2014 ini. (jpg)

Perjuangan Kukuh Lestarikan Jaran Kepang

foto
Kukuh Santoso tetap setia sebagai pengrajin perlengkapan pentas jaran kepang. Foto: BisnisKini/Ayu Citra SR.

Kesenian jaran kepang atau sering disebut warga Kediri dan sekitarnya, kuda lumping memang tak pernah lekang oleh waktu. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa maupun lanjut usia kerapkali gemar menonton warisan budaya leluhur itu.

Untuk menangkap besarnya potensi inilah, Kukuh Santoso, warga Dusun Sentul, Desa Karangrejo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri tetap setia sebagai pengrajin produk perlengkapan pentas jaran kepang.

Usaha ini dimulainya sejak tahun 1997. Pekerjaan itu dilakoninya, setelah dia merasa bahwa mata pencaharian pertamanya yakni bertani kurang menghasilkan pundi-pundi keuangan yang cukup bagi keluarganya.

“Awalnya dulu hanya mencari orderan saja, lalu pekerjaan dibagi-bagi ke para pengrajin lain. Tapi karena produk yang dihasilkan kurang sama, akhirnya saya kerjakan sendiri sehingga ada kesamaan antara produk satu dan lainnya,” kata Kukuh Santoso seperti dilaporkan bisniskini.com.

Pria ulet ini mengaku, permintaan pasar terhadap produk kuda lumping tersebut tak pernah sepi. Bahkan dalam satu bulan, pihaknya bisa membuat hingga 5.000 buah kuda lumping berbagai ukuran.

Dari usahanya inilah, Kukuh berhasil mempekerjakan tujuh karyawan yang dengan setia ikut melestarikan budaya lewat tangan-tangan kreatif mereka. Alhasil, sampai sekarang hasil inovasi mereka sukses dikirim ke beragam penjuru Nusantara.

“Mulai dari Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, dan berbagai daerah lain di Provinsi Jawa Timur. Kemudian, juga kami kirim ke Semarang, Kudus, Palembang, Jambi, hingga ke Papua,” katanya.

Ketertarikan para pembeli, mayoritas dikarenakan produk jaran kepang kreasi Kukuh Santoso memiliki keunikan tersendiri. Bahkan dari sisi harga juga relatif terjangkau.

Untuk kuda lumping ukuran kecil biasanya dijual seharga Rp 100.000 per kodi atau 20 buah. Lalu ukuran sedang seharga Rp 125.000 per kodi sedangkan ukuran besar dijual dengan harga Rp 190.000 per kodi.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Karena dukungan dan bantuan Pemda setempat, jangkauan pemasaran produk ini semakin meluas,” katanya.

Hal ini, lanjut dia, juga terlihat ketika Pemkab Kediri menggelar Festival 1.000 Jaranan tahun 2013. Saat perhelatan Hari Jadi Kabupaten Kediri, maka pihaknya memperoleh pesanan 1.000 buah kuda lumping.

“Kami berharap, ke depan terus mendapatkan dukungan dari Pemda setempat serta masyarakat di seluruh Indonesia. Dengan demikian, warisan budaya leluhur tetap bertahan sampai kapan pun,” katanya. (ist)