Dalang Cilik Ponorogo yang Suka Lagu Nostalgia

foto
Fatikh, Dalang Cilik asal Ponorogo suka lagu nostalgia. Foto: Detik.com/Charolin Pebrianti.

Menjadi dalang merupakan pilihan besar yang dipilih Muhammad Fatikh Assegaf (10). Bagaimana tidak, dengan usia yang masih belia ia malah memilih menjadi dalang dari pada hobi kebanyakan anak seusianya.

Beruntung dukungan dari orang tuanya pun mengalir. Bahkan demi menunjang penampilannya, Fatikh sapaannya, memiliki peralatan dalang komplit. Mulai dari tokoh-tokoh wayang, geber (layar), kotak perkakas wayang dan peralatan gamelan lengkap. Semua peralatan ini didapatkan dari para dalang yang sudah meninggal.

“Awalnya saya ikut kakek melihat wayang, terus tertarik,” tuturnya kepada detikcom saat ditemui di kediamannya, Jalan Brigjen Katamso, Ponorogo, Rabu (24/01).

Fatikh mengaku berlatih dalang sejak kelas 3 SD. Meski baru setahun berlatih dengan rasa percaya diri, dia pernah tampil menjadi dalang saat pementasan HUT Pramuka di Kecamatan Ponorogo.

“Sejak kecil memang suka wayang, salah satu mbah Buyut saya juga dalang. Darah seni memang sudah ada di keluarga kami,” terangnya.

Dalam satu minggu, Fatikh berlatih dua kali yang dipandu langsung seorang dalang. Bahkan dilengkapi juga dengan penabuh gamelan serta penabuh kendang. “Dalangnya bawa dua orang lagi buat nabuh kendang dan gamelan,” jelasnya.

Fatikh yang mengidolakan dalang Ki Anom Suroto ini menerangkan sebelum latihan, dia harus sudah menghafal tokoh-tokoh yang terkenal di pewayangan serta alur ceritanya. Kemudian dipraktekkan saat berlatih. “Untuk cerita mengikuti pewayangan karena ceritanya sudah pakem (aturan),” tegasnya.

Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Agus Hartono dan Sri Ikawati, ini pernah memenangkan ajang pemilihan Thole-Gendhuk Ponorogo 2017, karena memiliki talenta sebagai dalang cilik.

Dari pantauan detikcom di rumahnya, tampak Fatikh yang berlatih dalang memiliki ruangan khusus. Berbagai perlengkapan dalang sudah tertata rapi. Mulai dari berbagai macam tokoh wayang kulit lengkap tersedia dalam kotak, geber, kelir, gamelan, cemala dan blencong.

Pelajar SDN Mangkujayan 1 Ponorogo, ini menambahkan meski ia rutin latihan terkadang juga menemui kesulitan saat menghidupkan tokoh agar seperti hidup. Bahkan dia pernah kehabisan suara pasca berlatih selama empat jam. “Karena sudah suka jadi dalang jadi tidak masalah, semua kesulitan bisa teratasi,” imbuhnya.

Saat ditanya siapa idola dalam pewayangan, pelajar kelas 4 SD ini mengaku menyukai Kumbokarno. Baginya, meski Kumbokarno merupakan seorang raksasa dan buruk rupa, namun ia merupakan seorang pahlawan yang rela mati demi negaranya.

Fatikh pun tak pelit bagaimana membedakan antara wayang jahat dan baik. Jika wajahnya dingkluk (menunduk) itu menandakan wayang baik. Namun bila wajah wayang itu dangak (mendongak) maka bisa dipastikan jahat. “Ciri lainnya warna wajah yang biasa itu satria tapi kalau warna wajahnya merah menggambarkan keganasan,” paparnya.

Uniknya, meski memiliki hobi menjadi dalang, Fatikh juga memiliki hobi menarik lainnya. Seperti mendengarkan lagu-lagu nostalgia dan lagu tembang Jawa. “Saya berharap ingin melestarikan budaya yang hampir punah dan tetep kukuh agar dikenal orang,” pungkasnya. (dtc)

Bilal, Sang Jagoan Pembuat Kepala Barong

foto
Bilal membuat barong di Lingkungan Karangasem, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Foto: Antara.

SIANG itu cuaca di kawasan Lingkungan Karangasem, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, terlihat mendung. Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangat Mustaqbilal untuk memahat kayu balok menjadi kerajinan kepala Barong Oseng.

Barong Oseng merupakan kesenian adat asli Suku Oseng khas Banyuwangi yang sangat digemari masyarakat setempat. Di depan rumahnya yang berada di dalam gang cukup sempit, Mustaqbilal tampak lihai memahat.

Tangan kanannya yang tidak utuh dan tidak memiliki jari-jari itu diikat pada palu. Untuk mengikat palu itu, dia menggunakan tangan kiri dan mulutnya.

Sementara tangan kirinya memegang berbagai jenis pahat. Lempengan besi berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 20 hingga 30 sentimeter itu digunakan untuk memahat dan mengukir.

Laki-laki berusia 33 tahun itu duduk di depan pintu rumahnya tanpa dibantu siapa pun, meski ia juga tidak memiliki kedua kaki. Kondisi kekurangan fisik itu merupakan bawaan sejak lahir.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dia mencoba untuk belajar memahat secara otodidak dari kakak ketiganya yang bernama Mustakim. Kini, Mustakim juga bekerja sebagai pemahat di Desa Cemetuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.

Seiring berjalannya waktu, laki-laki yang biasa dipanggil Bilal tersebut semakin mengembangkan bakatnya memahat. Dia rajin mencari karakter dari media sosial, kemudian diterapkannya dalam bentuk karya seni pahat hingga sekarang.

Tidak hanya pandai membuat kepala Barong Oseng, Bilal juga dapat membuat beragam kepala Barong Bali, Barong Rejeng, hingga kepala Macan-macanan yang biasa digunakan dalam rangkaian seni jaranan.

Bilal mengaku, saat ini pemasaran hasil karyanya tersebut hanya di area Banyuwangi saja. Itu pun, kata dia, pemasaran hanya sesuai pemesanan. ”Saya hanya mengerjakan kepala barong sesuai pesanan. Karena saat ini pasaran barong sepi yang meminati,” ujar Bilal kepada Jawa Pos.

Dia baru melakukan aktivitas memahat sesuai keinginan pemesan. Selain itu, untuk membeli bahan-bahan, Bilal meminta uang muka terlebih dahulu kepada pemesan karena dia memiliki keterbatasan modal.

Bilal berharap, banyak pihak yang memberikan modal, serta membantu memasarkan karya kerajinannya itu hingga ke luar Banyuwangi. Sementara untuk harga kepala barong berukuran kecil dipatok harga Rp 300 ribu. Sedangkan barong yang berukuran besar bisa mencapai Rp 9 juta, dan itu pun pemesannya hanya para pelaku kesenian dan kelompok kesenian di beberapa desa di Banyuwangi.

Hasil penjualan pahatan kepala barong itu digunakan Bilal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama ibunya, Suniyah. Sedangkan bapaknya, Sutaman sudah meninggal dunia.

Bilal menjelaskan, beberapa tahun silam dirinya telah memahat kayu untuk dibentuk Ogoh-ogoh, semacam kesenian adat masyarakat Bali. Ogoh-ogoh itu kini disewakan kepada masyarakat yang punya hajat seperti khitanan.

Di mana anak yang bersangkutan naik ke atas punggung Ogoh-ogoh sebelum disunat untuk diarak keliling kampung. ”Dan harga sekali sewa sebesar Rp 300 ribu per hari, jika sekalian dengan tenaga pemanggulnya bisa mencapai Rp 750 ribu,” ucap bungsu dari empat bersaudara itu.

Bilal berharap bantuan dari pemerintah atau pihak lainnya untuk memberikan modal. Dia juga mengaku butuh dukungan pemasaran hasil kerajinan kepala barong, supaya seni barong lebih dikenal masyarakat. (jpg)

Bantu Ramal Masa Depan Sesuai Tanggal Lahir

foto
Turin mengerjakan rumusan kalender tahun baru 2018. Foto: Dedy Jumhardiyanto/Jawapos.

Membuat kalender hingga 170 tahun bukan perkara mudah. Hal itu dilakukan, Turin, 55, seorang warga Dusun Sukorejo, RT 02/RW 01, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi. Menariknya, rumusan kalender itu ditulis tangan sendiri dalam sebuah buku folio bergaris.

Waktu menunjukkan pukul 13.00. Hujan rintik-rintik mengguyur sejak pagi. Seorang lelaki paruh baya dengan tenang dan santai duduk di balai bengong (gazebo). Lelaki itu tampak serius menulis di atas kertas bergaris. Segelas kopi hitam bersanding tepat di samping kirinya.

Sesekali lelaki itu membuka lembaran kertas yang diletakkan di lantai persis di depan tempatnya duduk. Lelaki itu adalah Turin. Warga Dusun Sukorejo, RT 02 RW 01, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi itu sehari-hari bertugas sebagai juru kunci petilasan Syeh Siti Jenar.

Dibalik kepolosannya sebagai juru kunci, Turin ternyata juga menyimpan bakat yang sungguh luar biasa. Betapa tidak, dengan penuh kesabaran, Turin membuat rumusan kalender. Padahal, rumusan kalender itu juga tidak pernah dicetak untuk kepentingan umum.

Turin mengatakan, menulis rumusan kalender itu dimulainya sejak tahu 2002 silam. “Awalnya saya hanya ingin belajar tentang ilmu menghitung hari dan pasaran jawa,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Dia belajar menghitung hari, bulan, dan pasaran pada sesepuh desa setempat yang bernama (alm) Esdi. Karena ingat manusia terbatas, dia memutuskan untuk menulis ilmu yang dipelajari tersebut dengan menggunakan bolpoin dan kertas. “Jadi saya membuat rumusan kalender ini dipandu oleh guru saya, (alm) Kek (sebutan kakek) Esdi itu,” ujarnya.

Sepeninggal Esdi, dia mulai meneruskan rumusan kalender sejak tahun 1901 tersebut. Kini rumus kalender lengkap dengan hitungan pasaran Jawa itu sudah memasuki tahun 2070.

Pembuatan rumusan kalender itu juga cukup rumit. Yakni menggunakan ilmu Jawa kuno berupa pawukon atau wuku (waktu). Satu wuku umurnya tujuh hari. Sedangkan wuku jenisnya ada 30, mulai Sinto sampai Prabu Watu Gunung.

Berbekal buku pawukon atau wuku itulah, rumusan kalender umum dan Jawa itu bisa dibuat beserta dengan pasaran limo yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Rumusan kalender yang ditulis tangan itu berbentuk lembaran. Satu lembar kertas folio bergaris itu terdapat 12 kolom yang mencantumkan tahun, nama bulan, pasaran, tanggal dan wuku. ”Tanggalnya saya buat berdasarkan hitungan satu wuku atau tujuh hari,” terang suami Susiana ini.

Dia tidak menyangka, niat memperdalam ilmu menghitung hari itu kini justru mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Salah satu manfaatnya adalah membantu seseorang yang lupa hari, tanggal, bulan lahirnya.

“Kalau orang dulu, biasanya hanya ingat hari lahirnya bersamaan dengan momen tertentu. Dari petunjuk awal itu, saya bisa membantu dengan melihat di rumusan kalender dan kebanyakan ketemu hari lahirnya tanggal, bulan apa,” jelas bapak dua anak ini.

Dengan hitungan wuku tersebut, rumusan kalender itu juga bisa membantu meramal atau membuka tabir rahasia seseorang sesuai tanggal lahirnya. Misalnya dalam hal kesehatan, jenis pekerjaan, termasuk mengetahui sejak dini hari nahas atau sial.

Bahkan, dalam buku pawukon dan rumusan kalender tersebut juga bisa mengetahui tentang karakter dan bakat seseorang hanya dari tanggal lahir dan pasaran. Serta dapat mengetahui sejak dini menangkal tolak balak.

“Hitungan kalender wuku ini hanya membantu mengarahkan bakat, pekerjaan, serta untuk lebih waspada dengan hari sial. Tapi segala sesuatunya tergantung dari kehendak Yang Maha Kuasa,” beber pria berkacamata ini.

Salah satu bukti rumusan kalender yang ditulisnya sangat jitu adalah Tahun Baru 2018, jatuh pada hari Senin, pasaran Legi. Jumlah wuku-nya 21, masuk wuku medangkuan. Pada tanggal tersebut baik untuk melaksanakan pernikahan, membangun rumah.

Namun, nahasnya atau sialnya tidak boleh marah dan mudah tersinggung. Jika marah bisa saja terjadi pertengkaran hebat dan bisa timbul peperangan.

Turin menambahkan, jika tahun 2018 ini adalah tahun dengan simbol kas uang. Artinya meski tahun politik, tetapi tahun ini akan terbuka lapangan pekerjaan baru yang memberdayakan masyarakat untuk lebih makmur dan lebih sejahtera.

Berbeda dengan tahun 2017 lalu dengan simbol telepon. Tak heran, jika selama tahun 2017 lalu banyak beredar kabar yang tidak benar sumbernya, alias berita hoax. “Jika dibanding tahun 2017 lalu, tahun 2018 ini akan lebih baik. Masyarakat lebih makmur karena simbolnya adalah kas uang,” tandasnya. (jpg)

Rustuty Rumagesan, Satu-Satunya Ratu di Tanah Papua

foto
Ratu Rustuty Rumagesan mengenakan hiasan Burung Cendrawasih pada sebuah acara. Foto: Istimewa.

Tanah Papua punya sembilan kerajaan yang eksis hingga saat ini. Salah satunya Kerajaan Sekar. Di kerajaan itulah, Rustuty menjadi ratu. Hampir lima tahun dia mengayomi puluhan ribu warga di 23 kampung di wilayah Kerajaan Sekar.

“Mama mati baru anak-anak bisa jadi raja.” Pernyataan sikap warga Kerajaan Sekar pada 2013 itu membuat Rustuty Rumagesan terhenyak. Dia merasa tidak mungkin menjadi raja. Sebab, raja haruslah laki-laki.

Namun, warga tetap mendesak agar dia mau bertakhta. Rustuty tetap pada keputusannya Dia menolak menjadi ratu Kerajaan Sekar. Karena terus didesak, Rustuty akhirnya mengambil jalan tengah. Dia meminta dicarikan gelar baru.

Masyarakat akhirnya menyepakati Rustuty diberi gelar ratu petuanan tanah rata kokoda. Dia pun menerimanya. Sedangkan raja Kerajaan Sekar dipegang keponakannya.

Rustuty berbagi peran dengan keponakannya dalam mengelola kerajaan. Dengan kedudukan tersebut, dia menjadi ratu pertama dan satu-satunya di tanah Papua saat ini.

Dia menjadi representasi Kerajaan Sekar yang hadir dalam audiensi raja-raja Nusantara dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Mengenakan pakaian kebesaran plus mahkota cenderawasih, Rustuty hadir bersama 87 raja maupun sultan dari berbagai kerajaan di tanah air.

Rustuty merupakan putri Raja Al Alam Ugar Pik-Pik Sekar Kokas. Dia adalah anak tunggal. “Tapi, saudara satu ayah ada enam di atas saya (kakak). Saudara satu ibu ada enam di bawah saya (adik),” terangnya saat berbincang dengan Jawa Pos.

Dia menuturkan, sang ayah yang pada 1950-an datang ke Makassar bersama Presiden Soekarno disambut tari-tarian adat. Salah satu penarinya adalah ibunya, Janiba, yang saat itu masih berusia 17 tahun.

Raja Al Alam yang waktu itu sudah sepuh, sekitar 90 tahun, tertarik dan melamarnya. Saat Rustuty masih kanak-kanak, ayahnya menikahkan ibunya dengan laki-laki lain sehingga dia punya adik enam orang.

Kerajaan Sekar merupakan satu di antara sembilan kerajaan yang masih eksis di tanah Papua. Delapan kerajaan lainnya adalah Ati-Ati, Patipi, Rumbati, Papagar, Argumi, Wertuar, Namatota, dan Penisi. Kerajaan Sekar berkedudukan di Kecamatan Kokas, Kabupaten Fak-Fak, Papua Barat.

Meski lebih sering disebut entitas budaya, raja-raja di sembilan kerajaan tersebut tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat. Mereka tetap mendapat penghormatan layaknya seorang raja meski tidak bisa sama dengan saat Indonesia belum merdeka.

Sebagai ratu, aktivitas Rustuty cukup banyak. Dia berkunjung ke kampung-kampung di wilayahnya, ke berbagai daerah, bahkan ke berbagai negara. Baik dalam rangka silaturahmi antar kerajaan maupun untuk pameran dan ekshibisi. Beberapa negara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, hingga Prancis pernah dikunjungi ratu kelahiran 5 Mei 1953 itu.

“Kalau di luar, saya bawa hasil kerajinan tangan warga untuk dijual. Hasilnya saya serahkan tidak dalam bentuk uang, melainkan barang-barang yang mereka butuhkan,” tuturnya.

Di kerajaan, dia berlaku layaknya seorang pemimpin. Rustuty berupaya mendorong rakyatnya agar berdaya secara ekonomi. Tidak hanya mendorong, dia juga membantu mengupayakan permodalan dan pelatihan keterampilan.

Peran lain Rustuty adalah juru damai bila ada warganya yang berkonflik. Peran ayahnya dalam perebutan kembali Irian Barat dari tangan Belanda membuat Rustuty yakin bahwa Indonesia adalah takdir Kerajaan Sekar.

Karena itu, Rustuty aktif menyosialisasikan cara hidup ber-Pancasila kepada warganya. “Kalau mereka berkonflik, saya marah. Kalian itu tidak Pancasila. Jangan mau diadu domba,” tuturnya.

Suatu ketika dia mendapat kabar warganya diserang sejumlah orang dari Ambon dan hendak membalas serangan tersebut. Rustuty langsung mendatangi warganya dan melarang mereka untuk membalas. Dia memerintahkan, begitu ada niat untuk berperang, mereka harus kembali bertafakur sesuai agama dan keyakinan masing-masing.

Diharapkan, dengan bertafakur, niat berperang itu bisa hilang. Bila memang sudah terdesak, lebih baik menghubungi kepolisian. “Biar aparat yang selesaikan, jangan kalian,” lanjutnya.

Lewat perintah tersebut, Rustuty hendak mengajarkan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Bila ada konflik, penyelesaiannya lewat jalur hukum, bukan dengan berperang atau main hakim sendiri. Sebab, bagaimanapun, yang diperangi adalah saudara sendiri.

Dengan cara tersebut, warga pun semakin menghargai tindakan-tindakan yang dilakukan Rustuty. Apalagi, dia kerap memotivasi warga agar melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menopang ekonomi supaya dapur tetap mengepul.

Bila warga hanya mampu membuat koteka, dia meyakinkan bahwa koteka itu bermanfaat. Setiap kali ada tamu datang, koteka akan laris. Saat tamu datang itu pula, dia meminta warganya menyambut secara adat. Itu dilakukan untuk memperke­nalkan daerah tersebut sehingga makin banyak yang ingin berkunjung.

Untuk memberikan contoh, Rustuty pun hidup dari hasil usahanya sendiri. Itu sedikit berbeda dengan para raja lainnya yang masih mendapat bantuan dari pemerintah. Dia membuka salon, tempat menjahit, dan mengajari beberapa warganya untuk ikut berwirausaha. Meski, bukan perkara mudah membuat warga mau berwirausaha.

Saat ini Rustuty menyerahkan hidupnya secara total kepada warga. Empat anaknya sudah dewasa dan bekerja di luar kampung. Ada yang bekerja di perusahaan asal Jepang, di Pertamina Sorong, dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, dan yang terakhir menjadi Kasatpolair Polres Raja Ampat. Dua laki-laki dan dua perempuan.

Sementara itu, sang suami Sri Harijanto Tjitro Soeksoro telah meninggal pada 2006. Rustuty punya kenangan tak terlupakan bersama suaminya, terutama mengenai asal usulnya.

Sebab, sejarah itulah yang membuat putra putri mereka saat ini bergelar raden mas dan raden ayu. Ya, sang suami merupakan keturunan raja di Jawa, Mangkunegara III. “Itu laki-laki Jawa yang paling berani,” kenangnya.

Sebelum menikah, Tjitro menyembunyikan identitasnya sebagai pangeran. Dia langsung jatuh cinta saat kali pertama bertemu dengan Rustuty. Awalnya, pihak keluarga Rustuty menolak karena terikat dengan aturan kerajaan.

Namun, perjuangan yang gigih dari seorang Tjitro meluluhkan hati Rustuty. Dia pun mengiyakan dengan syarat bercerai setelah setahun.

“Tapi, nggak jadi cerai karena begitu nikah, langsung hamil,” ucap perempuan kelahiran Makassar itu. Putra pertamanya baru berusia empat bulan, dia sudah hamil lagi, dan seterusnya.

Rustuty juga baru mengetahui bahwa Tjitro adalah bangsawan setelah datang ke Jawa. Saat itu dia sudah pasrah karena dalam bayangannya, ketika di Jawa, dia akan bertani sebagaimana umumnya masyarakat Jawa kala itu.

Ternyata, mereka disambut secara adat dengan begitu meriah. Marahlah Rustuty karena sang suami menyembunyikan identitasnya. Namun, di luar itu, bagi Rustuty, Tjitro adalah orang yang sangat sabar.

Rustuty punya harapan bagi kelangsungan kerajaan-kerajaan di Nusantara. “Budaya harus kita angkat kembali. Karena lewat budaya, etika akan terbangun kembali,” tuturnya.

Dengan begitu, generasi muda tidak sampai terbawa arus peradaban yang negatif. Mulai tawuran hingga korupsi. Dia yakin, praktik korupsi bisa hilang bila setiap orang mengingat kembali ajaran luhur budayanya.

Sebagai produk budaya, manusia akan berpikir ulang bila hendak berbuat buruk. Sebab, sejak kecil ditanamkan budaya yang luhur bahwa manusia tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain.

“Indonesia kaya akan budaya, dan itu indah, seperti terlihat tadi kita hadir semua,” ujarnya. Kekayaan itulah yang menjadi keunggulan Indonesia, dan harus dijaga.

Mendikbud Muhadjir Effendy menambahkan, sebelum raja-raja tersebut bertemu presiden, Kemendikbud berdialog dengan mereka. Mereka diharapkan bisa memberikan masukan kepada pemerintah tentang bagaimana membangun kebudayaan. “Insya Allah apa yang telah disampaikan kepada kami akan kami tindak lanjuti,” ucapnya. (jpg)

Mengenal Sosok Puti Guntur Soekarno

foto
Putri, putri sulung Guntur Soekarnoputra. Foto: Istimewa.

Cucu Presiden RI Pertama Ir Soekarno, Hj Puti Guntur Soekarno SPol resmi menjadi calon wakil gubernur Jawa Timur berpasangan dengan Drs H Saifullah Yusuf. Resmi dicalonkan PKB, PDI Perjuangan, PKS dan Gerindra untuk Pilkada 2018, sosok putri sulung Guntur Soekarnoputra ini kurang dikenal masyarakat Jawa Timur. Siapa Puti Guntur Soekarno?

Puti saat ini sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X yang meliputi (Kabupaten Kuningan, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Pangandaran dan Kota Banjar) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Sebelum memasuki kancah politik nasional, Puti aktif belajar dan menjadi relawan budaya melalui Kelompok Swara Mahardhikka serta peduli pada aktifitas pendidikan bagi generasi muda melalui Yayasan Fatmawati Soekarno, bidang-bidang yang saat ini terus diperjuangkannya melalui Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan kebudayaan serta pemuda dan olah raga, pariwisata, ekonomi kreatif serta perpustakaan.

Bagi penikmat dan penggiat lukisan, tari dan musik ini aktif berpolitik di kancah publik tak harus meninggalkan kodratnya sebagai perempuan Indonesia, tetap menjaga harmoni keluarga juga silaturahmi dengan teman dalam persaudaraan demikian ia tak pernah melupakan darimana ia berasal dan apa yang diperjuangkannya.

Berjiwa Muda & Mandiri
Puti tumbuh dalam keluarga terpandang di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Ayahnya adalah Guntur Soekarno putra sulung pendiri negara sekaligus presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno.

Meski tumbuh sebagai cucu presiden pertama Puti diajarkan hidup sederhana dan mandiri sejak kecil. Misalnya untuk kegemarannya membaca buku ia harus menabung dari uang jajan dan membeli buku.

Guntur Soekarno sangat peduli pada nasib dan eksistensi kaum muda dalam berpolitik, meski ia sendiri pada akhirnya tidak dapat terus berpolitik karena keadaan yang membuatnya demikian. Kesadaran untuk pendidikan dan egaliter menghargai kaum muda untuk maju tertanam dalam diri Puti.

Hidup Guyup Rukun
Kelembutan bertutur dan menghormati sikap hidup guyup rukun menjadi ciri khas budaya masyarakat Sunda yang diajarkan kepadanya oleh ibunya Henny Guntur (Henny Emilia Handayani) yang sempat menjadi Ratu Kebaya pada jamannya mewakili Jawa Barat.

Latar belakang tersebut turut membentuk karakternya yang sangat menghargai seni dan tradisi Sunda. Berkepribadian budaya nasional menjadi kepedulian perjuangannya.

Selalu Bersyukur
Masa kecil Puti cukup dekat dengan Ibu Fatmawati Soekarno yang selalu mengajarinya mengaji dan agar jangan meninggalkan sholat fardhu sebagai seorang muslimah. Ibu Fatmawati pintar mengaji. Ia memanggil Sang Nenek dengan panggilan Mbu (baca: embu). Menurutnya suara lantunan saat mengaji Ibu Fat begitu merdu ia selalu menyimaknya saat Magrib tiba.

Dari Sang Nenek ia diajarkan hidup sederhana dan pintar mensyukuri nikmat Allah SWT agar hidup senantiasa bahagia. Neneknya memang berangkat dari keluarga besar Muhammadiyah di Bengkulu, bahkan konon diberikan kehormatan sebagai Anggota Kehormatan KOHATI (Korps HMI-Wati seumur hidup).

Mengabdi Untuk Rakyat

Bagi Puti, berpolitik harus punya prinsip. Prinsip politiknya adalah ideologi dari Bung Karno untuk memperjuangkan masyarakat kecil yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di dalam praktek politik bernegara harus berpegang pada ideologi negara sekaligus Dasar Negara Pancasila.

Terkait pemikiran Bung Karno ia dapatkan langsung dari ayahnya Guntur Soekarno dan kadang juga teman-teman ayahnya sesama alumni GMNI (Gerakan mahasiswa nasional Indonesia). Ayahnya Guntur Soekarno adalah mentor ideologinya.

Apresiasi Terhadap Seni
Sejak SMP perempuan yang memiliki nama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri aktif mengikuti kegiatan kesenian dan budaya termasuk mementaskan tari-tarian. Ia juga seringkali mengiringi paduan suara di SMA 1 Budi Utomo Jakarta dengan memainkan piano. Melukis juga merupakan kegiatan yang disukainya.

Dukungan Keluarga
Usai menyelesaikan kuliahnya di Universitas Indonesia jurusan Administrasi Negara tahun 1994, Puti menikah dengan Joy Kameron pria yang hobi fotografi yang kini menjadi ayah dari kedua anaknya yaitu Rakyan Ratri Syandriasari Kameron dan adiknya Rakyan Danu Syahandra Kameron.
Dukungan keluarga sangat penting dalam politik. Ia sangat peduli pada keluarga dan anak-anak. Hal yang membuatnya semakin bersemangat melakukan perjuangan politik bahwa politik bukan semata diwakili hal-hal besar tetapi keluarga sebagai unsur terkecil politik juga penting.

Pendidikan anak dan kaum perempuan
Ia meyakini pendidikan adalah jembatan untuk membangun manusia Indonesia sebagai modal utama investasi pembangunan Bangsa Indonesia. Untuk itu ia selalu memperhatikan pendidikan anak dan khususnya perempuan di daerah pemilihannya. Keberpihakan pada perempuan dan anak-anak menjadi bumbu penyedap perjuangan politiknya.

Ia selalu bersemangat diantara kaum perempuan dan anak. Baginya perempuan Indonesia bisa memiliki peran perjuangan politik tanpa harus meninggalkan kodratnya, itulah feminisme Indonesia yang ia fahami dari Buku Sarinah karya kakeknya.

Kegemarannya banyak membaca buku membuatnya familiar dengan tokoh-tokoh pemimpin perempuan seperti Ratu Sima, Dyah Pitaloka, Tri Buana Tunggadewi, Indira Gandhi, Aung San Suu Kyi, Bunda Teresa, Siti Khadijah, RA Kartini, Dewi Sartika, hingga sosok politik kontempores seperti Angela Merkel dan Megawati Sukarno Putri bibinya. Penggemar film India ini juga mencermati perkembangan sastra di tanah air.

Tak segan ia tampil dalam sebuah perhelatan membawakan musik regae atau The Beatles yang disukai anak muda. Sosoknya luwes dan ramah bergaul kepada siapapun. (sumber: putiguntursoekarno.org)

Widji, Guru Tari yang Gemulaikan Anak Tengger

foto
Widji Utami, sang pelatih tari di Sidoarjo. Foto: Jawapos.

Gending Jawa Timuran memenuhi seisi aula SD Hang Tuah 10. Alunan langgamnya halus. Saat itu terdapat sembilan anak mulai kelas IV hingga VI menari dengan luwesnya. Tangan mereka bergerak gemulai. Mereka menirukan gerakan sang pelatih, Widji Utami.

“Ayo, mendak yang cantik. Kalau jelek, tidak dipakai lagi lho,” ucap Widji memberikan arahan. Para penari pun berupaya menyuguhkan aksi terbaiknya ketika membawakan tari Wasis. Tari karya Widji yang bermakna pintar itu berisi ajakan agar anakanak rajin belajar. “Latar ceritanya tentang sekolah, ya keseharian anakanak lah,” lanjut dia kepada Jawapos.

Tari itulah yang dalam event Sidoarjo Education Expo (Siedex) lalu menyabet juara I kategori Tari Tradisional Tingkat SD. Kemahiran Widji dalam menciptakan tari sudah tidak diragukan lagi. “Berapa ya, sudah lebih dari 50 (tari) mungkin,” katanya.

Lingkungan keluarga sebagai pengelola sanggar seni membuat Widji tidak asing lagi dengan aktivitas mencipta tari. “Saya cuma lulusan SMA. Tetapi, sejak kecil saya ikut Ibu (Muntiana, Red) menari. Jadi, waktu SD ya sudah mengajar buat teman seumuran,” terangnya. Sedangkan sang ayah, Bambang Sumitra, pengelola Sanggar Seni Patrialoka di Blitar.

Bahkan, berkat menari juga, Widji bertemu dengan lelaki yang kini menjadi suaminya, Sapto Hari Utomo. Laki-laki 51 tahun tersebut melatih karawitan di SD Hang Tuah 10.

Bisa dibilang mereka sepaket, satu tim soal mengajar seni. Berawal dari melatih di sanggar swasta sejak 1966, keduanya dipercaya memegang kelas seni untuk sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Hang Tuah di wilayah Sidoarjo. Itu berlangsung sejak 2008.

Prestasi seni di sekolah tersebut melesat. Sebut saja di SD Hang Tuah 10. Dalam berbagai kejuaraan tari, karawitan, dan campur sari, tim dari sekolah tersebut meraih juara.

Misalnya, juara 1 Lomba Tari Kreasi Baru Tingkat Provinsi Jawa Timur 2015 serta juara Lomba Karya Seni Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) Tingkat SD-MI pada 2016.

Saking seringnya ikut lomba dan menang, Widji pernah diprotes oleh koleganya sesama pelatih. “Pernah ada lomba, saya tidak diberi tahu. Padahal, kalau ikut lomba, pesertanya bukan itu-itu saja,” lanjutnya.

Dedikasi pasutri yang menikah pada 1997 itu tidak hanya di sekolah. Mereka juga melatih tari untuk anakanak suku Tengger. Permintaan tersebut datang dari teman kuliah Sapto. “Medannya memang susah. Apalagi, tidak ada bayarannya,” kata Widji. “Tetapi, melihat antusiasme anak-anak berlatih, kami terpanggil untuk melatih,” imbuhnya.

Ada seratus anak yang dilatih. Semua masih kaku. Tidak bisa menari atau karawitan sama sekali. “Kuncinya, telaten,” ungkap ibu empat anak itu.

Dua tahun dia melatih, Pemkab Pasuruan lantas memberikan dukungan penuh. Mereka sama sekali tidak berbakat. Namun, Widji berhasil menggembleng mereka hingga meraih juara tari terbaik dalam event Peningkatan Prestasi Apresiasi Seni (PSST) Jawa Timur 2015.

Cerita legenda asal muasal suku Tengger dibawakan mereka dalam judul tarian Sang Kusuma. Dari event tersebut, terpilih 25 penari terbaik yang dikirim ke Lampung untuk tampil di acara Duta Seni Pelajar Nasional pada tahun yang sama. Berkolaborasi dengan SMPN 6 Kediri, mereka menampilkan drama tari Sangga Langit Patemboyo.

“Itu kali pertama anak-anak Tengger naik pesawat. Mereka takut banget sampai berkali-kali tukar tempat duduk,” kisah Widji, lantas tertawa mengingat memori paling berkesan itu. (jpg)

Anugerah Sutasoma untuk Meditasi Kimchi

foto
Tengsoe Tjahjono penerima Anugerah Sutasoma. Foto: Jawapos.

KAU titipkan kepala pada pelukis wajah/petikan gitar mencuri senja abu-abu/di panggung-panggung kecil//Ayo menari, katamu//Ah, aku telah berubah jadi merpati/ di tangan pesulap tampan Kimchi.

Puisi berjudul ‘Hongdae Street’ itu adalah salah satu karya dalam kumpulan puisi Meditasi Kimchi. ”Kebetulan tentang Korea,” ujar Tengsoe Tjahjono, sang empunya karya.

Sudah hampir setahun Tengsoe Tjahjono balik ke tanah air. Dia kembali mengajar sastra di Universitas Negeri Surabaya. Selama tiga tahun, sejak 2014 hingga Januari 2017, Tengsoe mengajar di Korea.

Laki-laki kelahiran Jember itu mengajar di Hankuk University of Foreign Studies. Tepatnya di Department of Malay-Indonesian Studies. Tengsoe mengajar S-1 hingga S-3 ”Jadi dosen tamu. Rata-rata mahasiswa Korea,” katanya kepada Jawapos.

Kebetulan, universitas tersebut mencari tenaga pengajar sastra sekaligus native speaker. Nama Tengsoe pun direkomendasikan untuk bisa mengajar di universitas itu. ”Mereka lalu googling saya. Track record saya dilihat,” katanya.

Korea yang jauh dari kampung halaman Indonesia sempat menjadikan Tengsoe berpikir ulang untuk berangkat. ”Awang-awangen (bimbang, Red),” kenangnya. Namun, dari beberapa nama yang disodorkan, pihak kampus tetap meminta Tengsoe datang.

Tiga tahun berselang, Tengsoe merasa sudah saatnya kembali pulang. Dia memang tercatat sebagai dosen di Unesa. Semakin lama di negeri orang, tentu semakin lama dia meninggalkan tugas.

Menurut Tengsoe, para mahasiswa di Korea punya motivasi tinggi. Terutama untuk belajar tentang Indonesia. Sebab, era saat ini kian terbuka. Tidak tertutup kemungkinan kelak mereka ingin bekerja di Indonesia. ”Saya mengajar tiga kelas. Satu kelas bisa 45 mahasiswa,” jelasnya.

Mengajar di Korea adalah pengalaman tersendiri bagi Tengsoe. Dia bisa melihat dari sudut pandang positif. Mahasiswa Korea bisa mengenal budaya Indonesia. ”Kita juga tidak bisa menghindari untuk tidak bersinggungan dengan bangsa lain,” katanya.

Berinteraksi dengan orang asing, bahasa, budaya, dan alam di Korea membuat Tengsoe juga semakin memperkaya rasa. Di negara itu, dia hadir sebagai orang asing. Dia pun menjadi tahu bagaimana posisi bangsa Indonesia dari kacamata mereka.

Suami Sri Mumpuni itu menyebut, hidup di negeri empat musim tersebut menjadi pengalaman yang asyik. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia sastra, Tengsoe juga makin memperkaya rasa dan kosakata. Tak heran, 80 puisi pun lahir.

”Saya lebih banyak menerima pengalaman menarik daripada tidak menarik,” jelasnya. Puisi-puisi itu dikemas dalam buku berjudul Meditasi Kimchi.

Atas karyanya itulah, ayah tiga putri tersebut mendapat penghargaan Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur. Anugerah itu diterima ketika Bulan Bahasa Oktober 2017.

Meditasi Kimchi berisi pikiran kritis tentang Korea. Baik dari segi alam, sosial, maupun budaya. Di dunia puisi, Tengsoe tidak ingin menulis dengan teks yang biasa digunakan. Dia ingin menciptakan sesuatu yang baru meski tak benar-benar baru. Yakni, lebih naratif dan berkisah.

Sosialisasi Pentigraf
Tengsoe memang dikenal lewat puisi-puisinya. Namun, sebenarnya tak melulu puisi. Dia juga penggagas pentigraf alias cerpen tiga paragraf. Dia kini getol mengenalkan pentigraf kepada masyarakat.

Rangga segera mendorong pintu Coffee Bay. Ditutupnya payungnya lalu diletakkan di tempat yang tersedia di dekat pintu. Hujan mengguyur Seoul sejak tadi malam. Bahkan weather forecast dalam smartphone menunjukkan hujan bakal turun selama seminggu ini. Aneh, musim panas, namun hujan jatuh tiap hari.

Sambil menunggu Americano pesanannya, diambilnya posisi meja paling sudut. Dua orang mahasiswi Korea asyik berbincang. Mungkin saja mereka sedang mengerjakan tugas dari profesornya. Memandang gadis-gadis yang berambut pirang itu ia ingat Riou Seung Hee, gadis yang memikat hatinya. Gadis Korea yang sederhana yang tak tergoda untuk melakukan oplas di Gangnam. Namun, ingatannya bukan pada kebersahajaan Seung Hee. Ia tak bisa melupakan kata-kata Seung Hee seminggu lalu di kantin mahasiswa. ”Rangga, jika kamu bisa meyakinkan aku bahwa Tuhan itu sungguh ada, aku mau jadi pacarmu.” Hujan di luar, namun hujan yang lebih lebat sedang bergemuruh dalam dirinya.

”Sungguh, aku meyakini bahwa Tuhan itu ada. Aku sungguh mengalami penyertaan Tuhan dalam hidupku, tapi bagaimana aku menjelaskan konsep Tuhan kepada Seung Hee,” Rangga terpekur. Dipandangnya lagi gadis berambut pirang itu. Siapa yang membuat gadis itu berambut pirang. Tentu saja cat rambut. Siapa yang membuat cat rambut? Tentu pabrik-pabrik kosmetik. Siapa yang menciptakan kosmetik? Tentu saja orang-orang yang digerakkan oleh pikiran-pikirannya. Siapa yang menggerakkan pikiran orang-orang? Tiba-tiba Rangga berdiri. Bergegas menembus hujan. Menemui Seung Hee.

Karya berjudul Hujan di Luar, Hujan di Dalam itu adalah salah satu karya pentigraf Tengsoe. Konsep pentigraf menjadi menarik karena bentuknya hanya tiga paragraf. Yang tidak bisa menulis pun jadi tertarik. Terutama ketika ada kerinduan dan keinginan menulis, namun tidak mampu menulis panjang. ”Dokter, ibu rumah tangga, pensiunan, semua bisa melakukannya,” ujar penulis kumpulan puisi Kisah Kopi yang Menunda Gerimis Reda itu.

Pada 2016, sudah dua antologi pentigraf yang diluncurkan. Yakni, Pedagang Jambu Biji dari Pnom Penh dan Dari Robot Sempurna sampai Alea Ingin ke Surga. ”Sekarang kami sedang menyiapkan konsep yang sama tahun ini,” katanya.

Tengsoe menyatakan, pentigraf bisa membangun budaya literasi. Mengajak masyarakat untuk membaca dan menulis. Pentigraf, kata dia, merupakan bagian dari cerpen pendek.

Sebenarnya, cerpen pendek lebih dahulu ada. Namun, polanya tidak tiga paragraf. ”Kalau tiga paragraf, memang pola yang saya gulirkan. Setengah prosa, setengah puisi. Masuk kategori flash fiction,” tuturnya.

Tentu saja, unsur-unsur narasi dalam pentigraf tetap ada. Ada alur, tokoh, latar, dan tema. Bersama komunitas digital di media sosial, Tengsoe menggagas Kampung Pentigraf Indonesia. Dalam komunitas itu, mereka belajar dan berkarya bersama. Kopi darat juga dilakukan.

Kini literasi melalui cerpen dan puisi terus berkembang. Tak melulu melalui kertas, tapi juga paperless melalui digital. Menurut dia, generasi muda memiliki semangat literasi tinggi.

Bagi laki-laki kelahiran 3 Oktober 1958 itu, menulis adalah rekreasi paling murah. ”Kalau sedang galau, larinya menulis. Daripada ke luar kota atau ke Korea lebih mahal lagi,” katanya.

Menulis juga membuat jiwa menjadi senang. Gembira. Kadang-kadang bisa jadi terapi jiwa. Itu membuat Tengsoe senang menulis. Dia juga jadi punya banyak teman dan jejaring.

Tengsoe tidak menulis puisi untuk komersial, cari uang, apalagi ketenaran. Dia hanya meyakini kalau puisi baik, puisi itu tidak akan lupa pada tuannya. ”Kalau saya dikenal orang, itu bukan saya. Tapi, puisi saya,” ujarnya. Karena itu, imbuh dia, tulislah puisi yang baik. Supaya puisi tersebut selalu ingat kamu.

Supaya baik, harus cinta dan setia. Ya, dua hal itu menjadi kunci menulis yang baik ala Tengsoe. Setiap saat sebaiknya tidak pernah capek menulis. ”Ini harus dijaga. Menumbuhkan kecintaan,” katanya. Dia mengibaratkan, orang yang sungguh-sungguh cinta tentu tidak akan menyerah untuk mendapatkannya.

Kalaupun ada yang bilang puisi Tengsoe jelek, ujar dia, itu tidak jadi masalah. Dia akan membuat lagi yang lebih baik. ”Kalau memang jelek, ya diperbaiki. Jadi santai. Tidak beban,” jelas laki-laki yang menekuni sastra sejak 1978 itu.

Tengsoe tentu mengajak para mahasiswanya menjadi sastrawan. Sebab, sastra itu pilihan. Namun, jika ada yang menjadi guru kelak, dia ingin mereka menjadi guru yang nyastra. Pun demikian insinyur, pengacara, dokter, dan sebagainya. Dokter yang bisa menulis sastra. ”Menyenangi sastra itu penting untuk menghaluskan rasa. Karena sastra itu ibarat cermin dan jendela,” ujarnya. (jpg)

Rektor ITN Prakarsai Batik Bernuansa Candi

foto
Rektor ITN Dr Ir Lalu Mulyadi MT menggagas batik bernuansa candi. Foto: Itnmalangnews.com.

Rektor ITN Dr Ir Lalu Mulyadi MT, baru saja menandatangani MoU tentang Technology and Innovation Support Center (TISCH). Kerja sama ini dilakukan antara Kementerian Hukum dan HAM dengan 17 universitas di Indonesia, salah satunya ITN Malang.

MoU dilakukan dalam rangkaian kegiatan Pasar Inovasi dan Kreativitas 2017, yang digelar Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Hukum dan HAM. Bertempat di Graha Pengayoman, Gedung Sekretariat Jenderal kementerian Hukum dan HAM, Jakarta Selatan, 31 Oktober-2 November.

Lalu Mulyadi mengungkapkan, ada ide besar yang kini disiapkannya pasca MoU tersebut. Yakni sebuah aksi nyata untuk melahirkan icon batik khas Malang berbasis riset candi. Motif batik bernuansa candi ini diteliti Rektor dan tim pada 2010 lalu.

“Waktu di pasar inovasi itu, saya melihat stand pameran batik Tangerang yang menjual batik dengan sejarahnya. Hal ini mengingatkan dengan karya riset saya tentang relief candi sebagai ide motif batik,” ungkapnya seperti dilaporkan Malang Post.

Rektor kelahiran Lombok, NTB ini menuturkan, dari riset yang kemudian ditulisnya dalam buku itu, ada ratusan motif batik yang bisa dibuat dengan memakai relief yang ada di candi. Sehingga, ia memiliki gagasan untuk menyosialisasikan hasil risetnya itu kepada UKM batik dan juga siswa SMK.

“Saya ingin mengundang siswa SMK terutama yang memiliki jurusan batik untuk sosialisasi hasil riset ini, dan bisa dilombakan untuk membuat motifnya. Kemudian akan mengundang home industri untuk produksinya,” ujarnya bersemangat.

Apalagi, lanjutnya, riset yang ditulisnya tersebut sudah mendapatkan izin hak cipta. Selanjutnya diharapkan bisa melahirkan motif batik baru khas Malangan.

Risetnya sendiri dilakukan selama dua tahun di empat candi yakni Kidal, Jago, Singosari dan Jawi. Di Candi Jago yang disebut sebagai perpustakaan, Lalu mendokumentasikan sejumlah motif menarik.

Di tempat yang menjadi perdarmaan Tunggul Ametung itu ada relief yang bercerita tentang surga dan neraka. Banyak motif indah yang berkisah tentang kerajaan dan juga perilaku manusia di sana. Di Candi Kidal pun demikian, ada motif Medalion yang muncul sebagai hiasan arsitektur pada beberapa masa sesudahnya.

“Riset saya ini sudah memiliki hak cipta, bahkan waktu itu reviewer sempat kagum karena justru yang tertarik meneliti candi untuk motif batik adalah saya yang bukan asli orang Jawa,” imbuhnya.

Ketua Sentra Kekayaan Intelektual ITN Malang Dr Dimas Indra Laksmana yang ikut hadir kemarin menegaskan, MoU DJKI dan ITN Malang ini memberi arti penting. Terutama dalam menyuarakan tentang paten kepada peneliti maupun investor.

Sementara itu, dalam waktu dekat, ITN Malang akan menggelar Rector Cup di kampus 2 Karanglo. Ada lebih dari 100 tim siap berkompetisi dalam lomba sepak bola ini. Kompetisi melibatkan siswa dari SD hingga SMA dan juga perguruan tinggi. (sak)

Sastra Membuat Ratna Belajar Realita Kehidupan

foto
Sri Ratnawati, dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Foto: Unair News.

“Rasa bahasa yang hadir pada karya sastra selama ini sering menghipnotis pembaca-pembacanya. Rekam jejak sejarah yang dimunculkan dalam karya fiksi membuat orang lain paham tentang apa yang telah terjadi pada masa lampau.”

Begitulah penuturan Sri Ratnawati, dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga saat menjelaskan betapa pentingnya seseorang untuk belajar sastra.

Ratna sapaan karibnya adalah salah satu dosen di FIB yang begitu cinta dengan sastra. Baginya, sastra adalah representasi kehidupan di dunia ini. Apapun yang terjadi pada kehidupan manusia, telah digambarkan jelas dalam karya sastra.

Menurut dosen yang pernah menerbitakn jurnal ilmiah dengan judul Dialektika Hindu-Jawa Islam dalam Serat Mi’raj ini, jika menyinggung perihal sastra, maka perlu untuk diketahui bahwa akan ada sebuah karya dimana sastra mengemas tiga budaya dalam satu wadah, karya itu adalah sastra pesisiran. Akan didapatkan budaya Hindu, Jawa, dan Islam di dalamnya.

Proses penyiaran Islam yang dilakukan di masa silam salah satunya melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk penyiaran agama Islam. Ratna menuturkan, melalui karya-karya sastra pesisiran, penyebaran agama Islam menjadi lebih efektif.

“Apalagi sastra pesisiran lebih kepada membungkus Islam dengan tradisi sebelumnya,” tambah Ratna seperti dilaporkan Unair News.

Dosen asal Madura ini mengatakan bahwa Islam bukanlah anti tradisi, tetapi lebih pada toleransi terhadap tradisi yang hadir sebelum Islam datang. Tentu, adaptasi tradisi itu dengan menggunakan gaya-gaya yang baru.

Dikatakan Ratna, tokoh yang ditulis dalam sastra pesisiran sudah mengarah pada nama-nama Islam. Namun, beberapa masih menyinggung tradisi Hindu dan Budha. Misalnya, nama dewa dan dewi, tokoh khayangan, dan tradisi yang lainnya. Oleh karena itu sastra pesisiran adalah salah satu alat yang digunakan untuk merepresentasikan orang-orang zaman dahulu dalam hal toleransi terhadap sesama.

“Terlihat jelas, orang terdahulu lebih luwes pandangannya terhadap dunia luar dibandingkan orang-orang modern sekarang ini,” tutur dosen yang sedang melakukan penelitian mengenai dongeng Madura ini.

Ratna menambahkan, saat Islam mulai mewarnai agama di Nusantara, tradisi Hindu-Budha tidak serta merta langsung dihapuskan. Namun tetap dibungkus dengan apik agar Islam dapat lebih mudah disebarkan dan diterima oleh masyarakat umum.

“Islam tidak pernah menafikkan tradisi yang lebih tua. Sejarah semacam ini perlu dipelajari oleh setiap orang, tidak hanya orang-orang yang bergelumit di bidang budaya saja, agar setiap pribadi mampu menghargai setiap perbedaan yang ada di muka bumi ini,” ujar Ratna.

“Sastra itu tidak pernah berbohong. Apapun yang dituliskan itu adalah riil. Walaupun memang sastra dikemas dalam bentuk fiksi, namun berangkatnya dari realitas,” tambahnya.

Ratna berujar, sastra pesisiran tidak membicarakan hitam putih atau benar dan salah. Namun, sastra ini menggambarkan bagaimana konsekuensi bagi orang baik dan orang jahat, maupun perbuatan benar dan salah.

Sebagai seorang akademisi, Ratna memiliki harapan kepada masyarakat umum, khususnya kalangan pemuda, agar lebih mencintai sastra. Karena dari sastra, dunia dapat dilihat dalam sekejap.

“Sastra selalu memberikan pelajaran moral untuk bekal hidup, serta memberi tahu kita bagaimana orang-orang terdahulu dalam mengatasi masalah dengan tidak emosional,” tandasnya. (pih)

Satria: Masa Penjajahan, Budaya Baca Lebih Baik

foto
Satria Dharma, Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Surabaya. Foto: Merdeka.com.

Dua dekade lalu, sastrawan Taufik Ismail pernah diminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Wardiman Djojonegoro meneliti kewajiban membaca siswa-siswa sekolah setingkat SMA di 13 negara dunia. Hasilnya, setiap negara mewajibkan siswanya membaca buku sastra selama tiga tahun masa pendidikan.

Dimulai dari yang terbanyak, Amerika Serikat. Negeri Paman Sam itu mewajibkan siswa SMA membaca 32 judul buku selama tiga tahun.

Berikutnya Belanda dan Perancis sebanyak 30 judul, Jerman Barat sebanyak 22 judul, Swiss dan Jepang sebanyak 15 judul. Sementara Indonesia berada di urutan paling buncit, sebab sama sekali tidak mewajibkan muridnya membaca buku sastra.

Bahkan, menurut Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Surabaya, Satria Dharma, kondisi yang demikian rupanya sudah terjadi sejak 1943. Lalu terus terjadi puluhan tahun setelahnya. “Sebenarnya Indonesia pernah ada kewajiban membaca itu. Tepatnya, pada masa penjajahan Belanda,” kata Satria kepada Merdeka.com beberapa waktu lalu.

Pada zaman malaise itu, dia menjelaskan, para pelajar di negeri jajahan Belanda pernah diwajibkan membaca buku-buku. Misalnya bagi murid-murid Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda Yogyakarta (25 judul) dan AMS Hindia Belanda Malang (15 judul).

Latar belakang sejarah literasi di Indonesia yang seperti itu, menurut Satria, berakibat pada menurunnya budaya membaca generasi milenial sekarang ini. “Karena kita tidak mengajarkan kebiasaan membaca kepada anak-anak,” ujar Satria.

Gerakan Indonesia Membaca

Berangkat dari keprihatinan itu, Satria lantas terjun menggeluti dunia literasi, salah satunya mendirikan Gerakan Literasi Sekolah. Disusul gerakan berikutnya, ‘Gerakan Indonesia Membaca’. Gerakan-gerakan itu dijalankan bersama kawan-kawannya selama beberapa tahun.

Gerakan literasi ini baru benar-benar terasa saat Menteri Pendidikan dijabat oleh Anies Baswedan. Singkat cerita, Satria dikenalkan temannya kepada Anies Baswedan. Ketika Anies diangkat menjadi Menteri Pendidikan, ide dan gagasannya tentang literasi diakomodir dan dijadikan sebuah gerakan oleh kementerian; Gerakan Literasi Sekolah.

Gerakan tersebut dituangkan dalam Permendikbud No 23 Tahun 2015. Dalam Permen itu setiap sekolah diwajibkan mengalokasikan waktu 15 menit untuk para siswanya membaca buku (selain buku pelajaran) tiap harinya sebelum jam pelajaran pertama. “Sekarang malah dinaikkan menjadi Gerakan Literasi Nasional,” ujarnya.

Masalahnya sekarang, dia melanjutkan, tidak semua Dinas Pendidikan di setiap daerah peduli dengan kewajiban ini. “Juga Kemendikbud, belum punya tim monitoring dan evaluasi untuk program ini,” katanya menambahkan.

Terlebih, sampai sekarang masih banyak pemimpin bangsa yang belum paham betapa pentingnya budaya membaca bagi bangsa. “Ketika pemimpin-pemimpin itu ditanya apakah budaya membaca itu penting? Jawabannya, pasti penting. Tapi, ketika ditanya apa yang Anda lakukan? Ya, tidak ada. Jadi menurut saya karena mereka tidak benar-benar paham,” katanya.

Contoh lainnya soal penghargaan kepada penulis buku. Baru beberapa saat ini dua penulis Indonesia, Tere Liye dan Dee Lestari, memprotes keras tarif pajak royalti yang diminta pemerintah sebesar 15 persen kepada penulis.

Padahal, royalti yang diberikan penerbit ke penulis cuma 10 persen dari penjualan buku. “Ini juga merupakan salah satu bentuk ketidakpahaman para pemimpin,” ujarnya.

Ia merujuk ke pemerintahan India. Di sana, buku sangat murah lantaran disubsidi. Buku dibuat sangat murah. Pemerintahnya bekerja sama dengan penerbitnya. Semisal, mencetak sendiri dengan kertas yang lebih murah. Sehingga, harga buku lebih murah. “Karena pemerintah ikut campur. (Penulis buku) kita bukannya malah disubsidi, malah dipajaki. Ini kan aneh,” katanya.

Dia juga menceritakan rencana besar Uni Emirat Arab (UEA) terhadap literasi. Negeri padang pasir itu akan mengeluarkan UU yang akan memaksa warganya membaca. Dan ini merupakan proyek jangka panjang. Targetnya 10 tahun kemudian warga UEA akan memiliki budaya baca tinggi.

“Seluruh sarana dan prasarana yang merangsang budaya membaca diberi kemudahan,” ujarnya. Satria lalu mengakhiri perbincangan, “Kalau tidak membaca, mau tidak mau kita akan ketinggalan.” (mdk)