Sumenep Fokus Kembangkan ‘Desa Keris’

foto
Perajin keris di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, Sumenep. Foto: Istimewa.

Pemerintah Kabupaten Sumenep akan fokus mengembangkan Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi atau ‘Desa Keris’ sebagai objek wisata minat khusus.

“Desa Aeng Tong Tong memang akan diformat sebagai objek wisata minat khusus. Di desa ini terdapat ratusan perajin yang memproduksi keris setiap hari,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep, Sufiyanto di Sumenep, Selasa.

Aeng Tong Tong adalah salah satu desa di Sumenep yang selama ini terkenal sebagai sentra pembuatan atau produksi keris.

Sekitar 450 warga Desa Aeng Tong Tong menjadi perajin keris dan jumlahnya terbanyak di Sumenep dan Indonesia.

Aktivitas ratusan perajin keris di Desa Aeng Tong Tong itu merupakan pemandangan lazim sehari-hari dan sejak beberapa tahun lalu telah menjadi salah satu objek yang dikunjungi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.

Pemerintah daerah pun serius melirik potensi tersebut guna dikembangkan sebagai objek wisata minat khusus.

Pada 2017, Pemkab Sumenep memfasilitasi perajin dan warga setempat untuk menggelar jamas keris dan kirab pusaka keraton 2017.

Tahun ini, pemerintah daerah menetapkan Desa Aeng Tong Tong sebagai Desa Keris sebagai bentuk penghormatan sekaligus harapan agar semua elemen masyarakat setempat mempertahankan pelestarian keris.

Pemerintah daerah pun memfasilitasi terbentuknya kelompok sadar wisata (pokdarwis) di desa tersebut guna mempercepat tumbuhkembangnya kesadaran, pemahaman, dan budaya wisata bagi warga setempat.

Selama ini, warga Desa Aeng Tong Tong sudah terbiasa menerima atau melayani wisatawan yang datang ke desanya untuk melihat aktivitas pembuatan keris.

“Alhamdulillah, warga Desa Aeng Tong Tong memiliki pemahaman sama untuk mengembangkan potensi khas desanya sebagai objek wisata. Pokdarwis bisa menjadi tempat berhimpun mereka,” kata Sofi, sapaan Sufiyanto, menerangkan. (ant)

Kota Surabaya Bakal Miliki Wisata Bunker

foto
Benteng Kedung Cowek dalam kondisi masih tak terurus. Foto: Humas Pemkot Surabaya.

Pemkot Surabaya melalui Dinas Pariwisata Kota Surabaya terus menggali potensi destinasi wisata baru di Kota Surabaya. Bahkan, Pemkot Surabaya berencana menggandeng Kodam V Brawijaya mengembangkan dan menghidupkan Wisata Bunker atau Benteng Kedung Cowek atau disebut pula bekas gudang peluru Kedung Cowek.

Setidaknya, ada 9 benteng atau bunker di Kelurahan Kedung Cowek yang merupakan bekas peninggalan Belanda. Benteng itu masih terlihat kokoh dengan bangunan cor yang tebal.

Lumutnya yang mulai menghitam juga menghiasi bangunan tersebut. Coretan tulisan yang dilakukan oleh warga yang tidak bertanggung jawab, juga banyak terlihat di benteng bersejarah itu.

Benteng yang berada di pinggir pantai itu seakan tak terawat, karena tumbuh-tumbuhan menjalar seakan menyelimuti benteng itu. Bahkan, pohon-pohon yang menjulang tinggi juga tumbuh di kawasan itu, sehingga daerah itu seperti hutan yang masih hijau. Namun, panorama laut dan indahnya Jembatan Suramadu, masih terlihat jelas dari kawasan itu.

Memasuki beberapa benteng itu perlu hati-hati, sebab beberapa ruangan sangat gelap gulita meskipun siang hari. Di beberapa ruangan juga ada kelelawar yang menghuni benteng tersebut.

Beberapa ruangan benteng berbentuk lingkaran, segiempat dan ada pula yang memanjang. Di ruangan itulah, dulu berbagai peluru TNI disimpan.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Irvan Widyanto mengatakan jika flashback, sebenarnya sebagian besar warga Surabaya sudah tahu kalau di daerah Kedung Cowek itu ada benteng atau gudang penyimpanan peluru. Namun, dulu tidak bisa masuk karena dijaga oleh TNI, sehingga tidak semua orang bisa memasuki benteng itu.

“Namun, bagaimana itu nanti bisa menjadi destinasi wisata baru di Surabaya, itu perlu dipikirkan bersama-sama. Sebab, ini bukan hanya tugas Dinas Pariwisata, tapi juga tugas semua stakeholder,” kata Irvan yang juga menjabat sebagai Kasatpol PP ini.

Irvan juga berencana membawa pemikiran itu di tingkat kota, sehingga semua dinas bisa bersinergi untuk sama-sama menghidupkan destinasi ini. Irvan juga mengaku akan berusaha menggandeng Kodam V Brawijaya selaku pemilik lahan di kawasan benteng-benteng itu.

“Saat ini kami memang tengah fokus untuk menggali potensi destinasi wisata baru di Surabaya, jika sudah ada gambaran, maka akan dikoordinasikan untuk sama-sama membangun atau menghidupkannya,” kata dia.

Irvan menambahkan, langkah awal untuk menghidupkan benteng di Kedung Cowek itu harus betul-betul ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang harus dilestarikan.

Selanjutnya, kawasan itu harus dibersihkan dengan mengkoordinasikan kepada semua stakeholder. “Baru selanjutnya bisa dilakukan pembenahan infrastrukturnya,” tegasnya.

Namun begitu, Irvan mengaku masih akan meminta petunjuk dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk langkah-langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Tapi yang pasti, ketika dia bersama tim cagar budaya meninjau lokasi, sudah dipastikan bahwa benteng-benteng itu sangat layak untuk dijadikan cagar budaya dan layak dijadikan destinasi wisata baru di Surabaya.

“Jika ini bisa direalisasikan, maka akan menjadi wisata bunker pertama di Indonesia dan akan menambah destinasi wisata baru di Surabaya, sehingga di pesisir Surabaya ternyata tidak hanya ada wisata pantainya, tapi ada satu lagi potensi wisata bunker atau benteng yang viewnya langsung laut. Semoga bisa terealisasi,” harapnya. (ita)

Arek Mojokerto Zaman Now Lestarikan Ludruk

foto
Ludruk Anak bertajuk ‘Legenda Watu Blorok’ pukau pengunjung TMII. Foto: Beritasatu.com.

Panggung Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur di TMII Jkaarta tampak berbeda dari biasanya. Sebab ajang apresiasi ini diisi para seniman muda.

Penonton terpukau dan terharu menyaksikan kreativitas anak-anak generasi gadget melek internet ini — melalui ungkapan (ekspresi), dan keunikan individu -dalam interaksi pentas Ludruk Anak, bertajuk ‘Legenda Watu Blorok’.

“Saya berharap kemampuan ini dapat menginspirasi anak-anak lain. Seni Ludruk lestari, bertahan, dan tetap ada. Tidak hanya dikenal dan berkembang di Mojokerto dan Jawa Timur. Tapi bisa mendunia seperti Kabuki, seni teater klasik Jepang,” ungkap inisiator pertunjukan, Kukun Triyoga, kepada BeritaSatu.com di Anjungan Jawa Timur, TMII, Jakarta, Minggu (08/04).

Di saat kesenian berpredikat warisan budaya bangsa ini dipandang miskin pewaris, justru sekelompok anak dari SD Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto, Jawa luar biasa memukau mementaskan Ludruk. Tak satu pun pemain orang dewasa. Dari mulai pelakonnya; aktor, aktris, pengrawit (pemusik), sinden (penyanyi), hingga pembawa acaranya semuanya anak-anak.

Menurut Kukun, tak banyak kelompok teater anak yang menekuni seni Ludruk. Di Mojokerto, di Jawa Timur atau di Indonesia, bahkan dunia, mungkin cuma ada satu grup yang ada di Mojokerto ini. “Kami berharap Pemerintah konsisten mendukung, agar kesenian Ludruk tidak punah, seperti nasib kesenian tradisional lainnya,” harap Kukun.

Sejarah menunjukkan, Ludruk menjadi alat perjuangan bangsa. Pada masanya Ludruk dijadikan sebagai alat perlawanan terhadap penjajah Belanda dan Jepang. Ludruk juga tak lepas dari perkembangan kondisi politik. Sarana menyampaikan kritik sosial.

Penampilan Ludruk Anak yang diusung Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mojokerto ini, sekaligus menjawab bahwa kesenian Ludruk tidak akan pernah mati. Walau panggung atraksi untuk mereka sulit dicari. Para seniman bahkan mengaku kerap ‘ngos-ngosan’ mempertahankan warisan syarat nilai-nilai luhur ini.

“Alhamdulillah di Mojokerto masih ada Ludruk Arek (anak-anak). Kita memang tidak cukup mengatakan lestarikan-lestarikan, tapi harus berbuat. Kehadiran kami di Anjungan Jawa Timur TMII, sebagai bukti bahwa Pemerintah Daerah mendukung kesenian Ludruk,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mojokerto, Subambihanto.

Selanjutnya, Sub Bidang Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, telah menyiapkan penampilan kesenian dari daerah lainnya. Tampil Duta Seni Budaya dari Pasuruan (15 April 2018) dan Bondowoso (22 April 2018). Selain itu, ada pergelaran paket khusus Tari Jawa Timuran ‘Sang Guru’ dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia (28 April 2018), serta penampilan duta seni dari Tuban (29 April 2018) mendatang.

Pergelaran Ludruk Anak ‘Legenda Watu Blorok’ melibatkan lebih dari 50 anak-anak sekolah dasar. Ide cerita dan skenario, ditulis Agus dan Tanti. Penata Musik, Adang, Penata Tari Ari, Setting Panggung dan Artistik, Sasmito, dan Darmaji. Sementara penyutradaraan dipercayakan kepada Kukun Triyoga.

‘Legenda Watu Blorok’ menceritakan istri Sinuwun Brawijaya dari Kraton Majapahit, yang sedang hamil dan ‘ngidam’ hati Kijang Kencono. Raden Brawijaya selanjutnya mengutus Wiro Bastam untuk berburu mencari hati Kijang Kencono, dengan dibekali Pusaka Tombak Kiyai Gobang.

Malang bagi Wiro Bastam, tombak yang tertancap di tubuh Kijang justru terbawa lari karena hewan buruan tersebut tidak langsung mati. Akibatnya Wiro Bastam tidak berani kembali ke Kraton Majapahit.

Cerita ini sangat menarik ditampilkan dengan kemasan sendratari (seni drama, dan tari) dengan iringan musik dan lagu. Semua dilakukan pelajar kelas III hingga kelas VI SD Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto.

Penampilan mereka sekaligus membuktikan bahwa mereka bukanlah kids zaman now yang hanya hobi nyinyir, dan bersolek, atau sekadar narsis di media sosial. Mereka adalah generasi penyangga budaya, yang membuat kesenian Ludruk lebih fenomenal, sebagai kesenian Indonesia yang mendunia. (ist)

Puti: Dorong Wisata Candi, Manfaatkan Teknologi

foto
Puti Guntur Soekarno bersama warga saat mengunjungi Candi Pari di Sidoarjo. Foto: Istimewa.

Puti Guntur Soekarno yang berlaga di Pilgub Jawa Timur terus mendorong tumbuhnya desa wisata. Calon Wakil Gubernur nomor urut 2 itu mengajak generasi milenial mengangkat wisata yang berbasis situs masa lalu.

“Salah satunya candi atau bangunan pubakala lain. Jawa Timur menyimpan banyak situs sejarah, karena pada masa lalu di provinsi ini pernah berjaya kerajaan-kerajaan seperti Kahuripan, Singasari, Majapahit, Blambangan dan sebagainya,” kata Puti, Minggu (22/4)

Menurut dia, desa wisata biasanya diangkat dengan basis situs bangunan masa lalu, seni kebudayaan, kehidupan adat istiadat dan daya tarik alam. “Kemarin saya mengunjungi Candi Pari di Sidoarjo, peninggalan Majapahit di era Raja Hayam Wuruk. Kawasan itu bisa tumbuh menjadi desa wisata,” ujarnya, dikutip BeritaJatim.com.

Salah satu perhatian mantan anggota DPR RI Komisi membidangi Pariwisata ini, setiap kampanye ke daerah adalah mengenali potensi wisata. Ia juga aktif bertemu dengan kelompok-kelompok sadar wisata.

“Generasi milenial menyukai travelling, eksplorasi dan road trip. Candi-candi di Jatim bisa dirangkai menjadi paket perjalanan. Di Blitar ada Candi Penataran. Di Malang masih terawat sejumlah candi. Begitu pula di Trowulan Mojokerto, pusat Majapahit. Juga di beberapa daerah lain,” ungkapnya.

Dengan mengunjungi candi, kata Puti, generasi milenial dan masyarakat pada umumnya tidak hanya mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga mengenali falsafah, sejarah dan kebijaksanaan nenek moyang. “Karena candi di masa lalu dibangun oleh pemerintah kerajaan, dengan tujuan atau momentum tertentu, termasuk kepentingan spiritual,” tutur cucu Bung Karno ini.

Bersama Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Puti telah menyusun program kerja ‘Seribu Dewi’ atau Seribu Desa Wisata. Program ini disusun untuk mengangkat potensi wisata lokal dan mengungkit ekonomi baru di masyarakat.

“Salah satu isinya, kita bikin model gaya baru membantu pemasaran desa wisata. Misalnya candi, kita bisa manfaatkan teknologi augmented reality atau AR berbasis aplikasi interaktif, yang memadukan obyek virtual berupa teks, gambar, animasi ke dunia nyata. Ini mudah untuk menyasar kaum milenial. Bisa juga untuk pembelajaran di sekolah,” ujar dosen tamu di Kokushikan University Jepang ini.

Gus Ipul-Puti memimpikan desa-desa wisata akan terhubung dengan pusat-pusat ekonomi sekitarnya. Sejumlah desa wisata, misalnya, begitu areanya dibuka dan dipopulerkan, akan mengungkit pergerakan ekonomi warga setempat.

“Sekarang dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, media sosial, social messenger, desa-desa wisata bisa cepat dikabarkan dan diketahui masyarakat luas. Tentu fasilitas dan kapasitas kelompok warga pengelolanya juga kita tingkatkan,” tegas putri tunggal Guntur Soekarnoputra ini.

Candi Pari yang dikunjungi Puti Guntur terletak di Porong, Sidoarjo. Candi ini peninggalan Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit. Bersama warga setempat, Puti mendiskusikan pengembangan Candi Pari sebagai destinasi wisata di Sidoarjo. “Bisa juga ditunjang dengan mengungkit tumbuhnya pelaku UMKM di sekitar sini, jika tingkat kunjungan masyarakat signifikan,” pungkasnya. (ist)

Boyongan, Tradisi Mengenang Kejayaan Nganjuk

foto
Plt Bupati Nganjuk KH Abdul Wachid Badrus menyerahkan pusaka tombak di prosesi Boyongan. Foto: BangsaOnline/Bambang.

Guna mengingat kembali dan mengenang kejayaan Kabupaten Nganjuk, Pemkab setempat menggelar tradisi boyongan. Acara ini sekaligus dalam rangka memperingati hari kelahiran Nganjuk yang saat ini sudah menginjak usia ke-1081 tahun.

Budaya boyongan, seperti dilaporkan BangsaOnline, menjadi bukti sejarah dan berdirinya pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Di mana sebelumnya berada di Kecamatan Berbek, kemudian beralih atau pindah di Kecamatan Nganjuk sebagai kota pemerintahan.

Proses pemindahan dari Berbek ke Nganjuk dan masih terjaga kelestarian hingga saat ini, yaitu iring-iringan gunungan berupa nasi dan lauk pauk, diikuti dengan berbagai hasil bumi berupa palawija dan sayuran dalam satu rangkaian.

“Jaman sekarang sudah jaman berubah, saya pesan tiga hal yang harus dilakukan, yaitu bagaimana melakukan pemerintahan yang bersih dan berwibawa dengan menghilangkan bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme,” kata Plt Bupati Nganjuk KH Abdul Wachid Badrus.

Tiga hal ini menurut Abdul Wachid, yang perlu diingat agar di usia yang ke 1081 Nganjuk menjadi panutan dan contoh yang lebih baik. “Pemindahan dari Berbek ke Nganjuk tidak hanya pindah begitu saja, tapi itu menjadi gagasan dan pemikiran para pemimpin terdahulu,” ujarnya. (ist)

Aksi Bule Australia Pamer Tarian Turonggo Yakso

foto
Mahasiswa Australia menarikan tarian Turonggo Yakso. Foto: Suarasurabaya.net/Totok.

Aksi mahasiswa Queeensland University of Technology Australia ini bikin bangga warga Indonesia, terutama Jawa Timur. Awal pekan lalu, bule pria ini menampilkan tarian tradisional Turonggo Yakso sebagai bagian belajar budaya Indonesia sekaligus mempromosikan tarian tradisional tersebut.

Para mahasiswa yang sedang mengikuti summer program itu mengikuti pembelajaran ‘the Essential of Indonesian Property Market’ dan budaya Indonesia.

“Mereka kami perkenalkan kekayaan budaya Indonesia, dan pada kesempatan ini kami ajak mereka belajar tari tradisional Turonggo Yakso. Mereka menari dan menikmati tarian tersebut,” terang Adi Prasetyo Tedjakusuma, Manajer Kerjasama Kelembagaan Luar Negeri Universitas Surabaya (Ubaya) kepada Suarasurabaya.net.

Nantinya, lanjut Adi, para mahasiswa ini dijadwalkan juga akan mempromosikan tarian tradisional Jawa Timur, Turonggo Yakso ini ke negara asal mereka di Australia khususnya di Brisbane.

“Mereka juga akan memperkenalkan dan mempromosikan tarian yang mereka tarikan sekarang, lengkap dengan busana yang mereka kenakan pada penampilannya hari ini,” tambah Adi.

Alasan memilih tarian tradisional Turonggo Yakso, menurut Adi, karena tarian ini sendiri sudah mulai jarang dipentaskan. Ubaya punya kesempatan untuk menampilkannya bersama delapan mahasiswa asal Australia ini.

“Turonggo Yakso adalah satu diantara budaya tradisi asli negeri ini yang mulai jarang ditemui. Semoga dengan penampilan para mahasiswa Australia ini, nantinya akan banyak orang yang menyaksikan dan mengenal tarian tradisional yang hampir tidak lagi dimainkan ini,” ujar Adi.

Para mahasiswa summer program Queensland University of Technology (QUT) Australia ini selain belajar tentang budaya Indonesia, juga akan melihat sejumlah objek wisata yang ada di Jawa Timur. (ist)

Barisan Soekarnois Jatim Menangkan Gus Ipul-Puti

foto
Acara Barisan Soekarnois Jawa timur di Hotel Narita Surabaya. Foto: Istimewa.

Pendukung Soekarno terus bergerak cepat untuk memenangkan pasangan calon (Paslon) Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno. Mereka bertemu di Surabaya untuk melakukan konsolidasi memenangkan paslon nomor urut dua.

“Kita melakukan pertemuan untuk konsolidasi seluruh Soekarnois se-Jawa Timur,” kata Ketua Barisan Soekarnois Surabaya, Ali Yuddin kepada Merdeka.com di Hotel Narita, Surabaya, Rabu (18/4) malam.

Ali mengatakan, dalam pertemuan kali ini hadir perwakilan dari kabupaten/kota, mulai Jombang, Tuban, Lamongan, Bojonegoro, dan Surabaya.

Dalam pertemuan ini, banyak elemen-elemen yang datang untuk ikut konsolidasi memenangkan Gus Ipul-Mbak Puti, mereka adalah GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), dan Alumni GMNI se-Jawa Timur.

Pertemuan ini sebagai langkah awal untuk melakukan konsolidasi lebih lanjut. Sesuai dengan rencana, konsolidasi akbar lanjutan akan dilakukan di wilayah Mataraman, di antara daerah yang memastikan ikut adalah Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Blitar, Ngawi, dan Madiun.

“Kita agendakan pertemuan berikutnya di Mataraman, kita semakin optimis dalam memenangkan Gus Ipul-Mbak Puti,” ujarnya.

Ali menuturkan, saat ini Soekarnois terus bergerak untuk memenangkan pemilihan gubernur Jawa Timur. Keberadaan Puti Guntur Soekarno sebagai keturunan Soekarno menjadi motivasi tersendiri untuk memenangkannya. Perwujudan Puti merupakan titisan Soekarno untuk mewujudkan ideologi di pemerintah.

Barisan Soekarnois yakin Puti merupakan pimpinan amanah yang akan mewujudkan kakeknya untuk mensejahterakan marhaen. Kemunculan kekuatan Barisan Soekarnois ini, lanjut Ali merupakan kekuatan yang tersembunyi.

Soekarnois bakal diperhitungkan jika memutuskan terjun ke dunia politik. Karena kekuatan massa Soekarnois sangat besar di Jawa Timur. “Kami memutuskan untuk memenangkan Mbak Puti sebagai pendamping Gus Ipul dalam pemilihan Gubernur,” ucap Ali.

Ketua Panitia Pertemuan Barisan Soekarnois Jawa Timur, Edy Wahyudi menambahkan dalam konsolidasi yang dilakukan antar kader Soekarnois tidak berlandaskan asal partai. Dalam pertemuan ini, seluruh pengikut Soekarno menginginkan keturunannya bisa ikut memimpin Jawa Timur menjadi lebih baik.

“Kita tidak melihat partai tetapi Mbak Puti yang masih keturunan Bung Karno,” katanya.

Untuk bisa mewujudkan kemenangan bersama Puti, Dosen Untag Surabaya ini mengaku telah mengundang kader GMNI, GSNI, maupun alumni GMNI. Undangan ini bersifat pribadi, bukan membawa organisasi. Karena dalam keanggotaan GMNI, misalnya juga terdapat kader-kader yang masuk ke partai yang tidak mendukung Puti Guntur Soekarno.

Edy menyatakan, saat ini banyak kader yang menyatakan nasionalis. Tetapi mereka kehilangan arah dukungan yang tepat, dan menyalurkan dukungan kepada calon lain yang bukan kader nasionalis. “Kita tidak memaksa untuk memilih Mbak Puti. Tetapi cek nemene mengaku nasionalis yang dicoblos Khofifah,” ucap dia. (mer)

Farah Quinn Puji Kuliner Ayam Kesrut Banyuwangi

foto
Farah Quinn saat hadir di Festival Kuliner di Banyuwangi. Foto: Istimewa.

Koki kenamaan Farah Quinn menegaskan bahwa kuliner ayam kesrut khas Banyuwangi merupakan makanan yang sehat karena tidak melalui proses menggoreng.

“Selain itu, ayam kesrut ini sangat mudah dibuat,” katanya saat hadir dalam Festival Banyuwangi Kuliner (Bakul) dengan masakan ayam kesrut yang berlangsung meriah Tamab Blambangan, Banyuwangi, Kamis (12/4).

Saat itu, Farah melakukan demo masak dengan gayanya yang lincah bersama dengan Dani Azwar Anas, istri Bupati Abdullah Azwar Anas. Saat masakan matang, Farah pun langsung mencicipi. “Ini dia, pedasnya excellence. Rasa asamnya segar,” katanya, dikutip Antara Jatim.

Farah kemudian menyarankan agar rakyat Indonesia bangga terhadap potensi kekayaan Nusantara, khususnya kuliner. “Kegiatan semacam ini bisa menaikkan kuliner lokal kita. Bila kita sudah bangga, kebanggan itu pasti akan terekam dalam piring makanan kita,” katanya.

Pemkab Banyuwangi menggelar festival kuliner yang diangkat tahun ini mengangkat kekayaan kuliner ayam kesrut. Festival yang digelar rutin tiap tahun sejak 2013 itu selalu mengangkat kuliner tradisional yang berbeda saban tahunnya.

Sebanyak 200 peserta, mulai koki hotel berbintang, penjual makanan tradisional, hingga ibu rumah tangga berlomba menyajikan ayam kesrut terlezat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan Festival Bakul menjadi cara daerah untuk mempromosikan ragam kuliner lokal. Cara ini dinilai ampuh untuk meningkatkan kualitas makanan lokal sekaligus menaikkan pamornya.

“Kami ingin makanan ayam kesrut naik kelas, baik kualitasnya maupun hiegenitas penyajiannya. Warga Banyuwangi juga semakin bangga untuk menyajikan makanan tradisional ini, mulai hotel berbintang hingga warung-warung rakyat,” katanya.

Ayam kesrut adalah makanan tradisional Banyuwangi berbahan daging ayam kampung muda yang dimasak dengan kuah segar. Rasa gurih kaldu ayam berpadu dengan rasa pedas dan asamnya belimbing wuluh, membuat makanan ini terasa nikmat. Makanan ini biasanya dihidangkan saat panas bersama dengan nasi dan sepotong tempe tebal yang digoreng garing.

Fastival Bakul ini, lanjut Anas, adalah bagian diplomasi pariwisata Banyuwangi untuk mengundang kedatangan banyak orang melalui “food and fashion”.

“Food and fashion menjadi cara diplomasi pariwisata yang jangkauannya tanpa batas. Ini melengkapi kekuatan pariwisata kami yang terkenal dengan objek wisata alamnya. Cara ini terbukti ampuh mendongkrak kunjungan wisatawan,” ujar Anas. (ant)

Suku Tengger Ritual Grebeg Tirto Aji di Wendit

foto
Tradisi Ritual Grebeg Tengger Tirtoaji di mata air Widodaren, Wendit, Malang. Foto: Antara Jatim/Ari Bowo Sucipto.

Selain upacara Kasada dan Upacara Adat Karo yang selama ini lekat dengan masyarakat Suku Tengger, juga terdapat Upacara Tirto Aji. Upacara Grebeg Tirto Aji merupakan upacara pengambilan air suci yang dilaksanakan masyarakat Suku Tengger di Sendang Widodaren di Wendit, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Sendang itu berada di komplek Taman Wisata Air Wendit yang berada di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal.

Tradisi tahunan tersebut dihadiri kurang lebih 500 orang perwakilan dari suku Tengger dari tujuh desa. Mereka terlihat sejak pagi sudah berbondong-bondong memenuhi pemandian Wendit dengan mengenakan pakian adat berwarna hitam dan batik, yang menjadi ciri khas Suku ini.

Acara pada Kamis (12/4) lalu itu diawali dengan pemakaian selendang adat, yang dilakukan pemangku adat kepada Wakil Bupati Malang HM Sanusi yang selanjutnya diiringi masyarakat Suku Tengger dengan membawa puluhan sesaji berjalan menuju Pendopo Pemandian Wendit.

Dalam sambutannya, HM Sanusi mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang memiliki tekad menjadikan kekayaan budaya yang dimiliki ini tidak hanya lestari namun juga menjadi produk pusaka yang akan menjadi kekuatan riil dalam memberikan kemakmuran rakyat.

Sebab, industri kepariwisataan merupakan salah satu sektor yang dinamis dan cukup strategis dalam menciptakan multiplier effect atau efek ganda dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di era globalisasi budaya asing dan persaingan dunia wisata yang sangat ketat.

“Tradisi masyarakat Tengger secara nasional terkenal memiliki daya tarik tersendiri. Dengan acara hari ini diharapkan mampu memperkuat image adat suku Tengger yang memberikan kontribusi maksimal kepada masyarakat Kabupaten Malang,” tegas Sanusi, dikutip MalangVoice.

Terpisah, Kepala Desa Ngadas, Mujianto mengatakan upacara adat Grebeg Tirto Aji memiliki banyak makna sesuai dengan pemahaman dan keyakinan Suku Tengger, diantaranya untuk penyembuhan, penanggulangan hama dan penyubur tanaman.

Selain itu juga bertujuan memupuk rasa persaudaraan di antara pemeluk agama dan melestarikan adat Tengger yang sudah dikenal sampai mancanegara.

Masyarakat suku Tengger meyakini sumber air Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal yang berada di tempat wisata pemandian Wendit ini dapat membawa berkah dan manfaat untuk bercocok tanam dalam kehidupan masyarakat Tengger.

“Selain itu juga merupakan proses awal dari rangkaian Upacara Yadnya Kasada yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 Kasada atau saat bulan purnama (purnamasidhi),” pungkas Mujianto.

Upacara Tengger Tirto Aji, biasanya diadakan di Goa Gunung Widodaren yang berada sekitar 1 km dari Gunung Bromo. Namun pada tahun 2013 ini sesuai dengan kesepakatan para sesepuh masyarakat Suku Tengger, diadakan di sumber mata air atau Sendang Widodaren yang berada di Taman Rekreasi Wendit.

Masyarakat suku Tengger biasanya mengambil air dari Sumber Air Mbah Kabul ini, dibawa pulang dengan kepercayaan yang sama seperti di Pulau Sempu, yaitu untuk kesembuhan dan kesehatan. Menurut mereka khasiatnya sama dengan Air Widodaren dari Gunung Bromo yang merembes ke arah Wendit. (sak)

Seniman India Ramaikan Malang Artnival 2018

foto
Pembukaan Malang Artnival tahun 2017 lalu. Foto: Humas.malangkota.go.id.

Pemkot Malang kembali menggelar Malang Artnival. Acara kesenian yang menjadi wadah berbagai aliran kesenian itu bakal digelar 21 April mendatang. Tak hanya menampilkan kesenian lokal saja, penyelenggara kegiatan ini juga menghadirkan kesenian luar negeri.

Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Malang, Achmad Supriadi, SE MM mengatakan delegasi kesenian asal luar negeri yang sudah memastikan hadir yakni dari India.

“Kegiatan ini sudah digelar sebanyak tiga kali. Pada tahun 2016 gabungan seniman Thailand dan Jepang. Tahun 2017 seniman dari Cina,” jelasnya kepada Malang Post.

Sesuai tujuannya, Malang Artnival digelar sebagai bagian dari diplomasi budaya. Sehingga kebudayaan dan seni Malang dikenal hingga ke luar negeri.

Lantas mengapa India? Supriadi menjelaskan awal mulanya Kota Malang menerima undangan dari Kedubes India untuk mengirimkan perwakilannya ke India mempromosikan sektor pariwisata dan budaya. Ternyata mereka sangat tertarik dengan apa yang ditampilkan.

“Kemudian kita minta agar mereka (India) datang kesini menampilkan kebudayaannya dan ternyata disanggupi,” jelasnya.

Bahkan negara yang terkenal akan Taj Mahalersebut menjadikan kunjungan budayanya selama satu pekan.

“Oleh karenanya acara tersebut dinamai Pekan Budaya India,” ucapnya. Terkait kunjungan India, pihaknya tidak menggunakan anggaran dari APBD Kota Malang.

“Kita hanya fasilitasi untuk akomodasi dan penginapan saja bagi seniman yang turut serta pada 21 April, untuk di luar tanggal tersebut ditanggung India,” jelasnya.

Yang menarik adalah nantinya Malang Artnival 2018 akan diadakan di tempat yang berbeda. Yaitu di Simpang Balapan.

Pada tahun-tahun sebelumnya digelar di Taman Krida Budaya Jawa Timur dan depan Balai Kota Malang. “Kita ingin ada suasana baru,” katanya.

Pada acara tersebut rencananya seniman India dan seniman lokal Kota Malang akan berkolaborasi bersama. “Ada sekitar 12 hingga 15 seniman India dan 200 seniman lokal,” paparnya.

Untuk kolaborasinya, dia mengatakan tidak ada masalah. “Terkait permasalahan bahasa sudah diatasi karena mereka (India) juga membawa penerjemah,” tandas dia.

Ia mengajak masyarakat Kota Malang menyaksikan acara spektakuler tersebut. Acara yang sama pun baru akan digelar tahun depan. “Jadi sayang sekali untuk dilewatkan,” katanya. (mp)