Dua wisman berswafoto dengan latar belakang penampilan kelompok musik “ul-daul” di Sumenep. Foto: Dok Antarajatim.com.
Tiga bulan pertama di tahun 2018 ini, sebanyak 246.446 wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara mengunjungi objek wisata di Kabupaten Sumenep.
“Itu sesuai data dari pengelola 25 objek wisata yang kami pantau pergerakan kunjungan wisatawannya, baik di wilayah daratan maupun kepulauan,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep Sufiyanto dikutip Antara Jatim, Jumat (13/4).
Rinciannya sebanyak 246.004 wisatawan nusantara dan 442 wisatawan mancanegara (wisman) dari sejumlah negara.
Sesuai data di Disparbudpora Sumenep, objek wisata yang dikunjungi wisman hanya sembilan tempat, di antaranya Pantai Gililabak di Pulau Gililabak, Kecamatan Talango, Pantai Sembilan di Pulau/Kecamatan Giligenting dan Pantai Lombang di Batang Batang.
Sementara objek wisata di Sumenep yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan nusantara adalah Asta Tinggi di Desa Kebun Agung, Kecamatan Kota.
Asta Tinggi adalah kawasan pemakaman khusus para raja, kerabat, dan keturunannya yang berada di dataran tinggi dan dibangun pada 1750-an.
Jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Asta Tinggi pada triwulan pertama tahun ini sebanyak 55.695 orang.
“Objek wisata yang dikelola oleh warga/swasta di Sumenep makin banyak. Ini tentunya harus kami apresiasi. Kami pun harus bersinergi dengan pengelolanya agar memberikan pelayanan maksimal kepada wisatawan,” kata Sufiyanto.
Jumlah objek wisata yang dipantau Disparbudpora Sumenep pada 2016 sebanyak 20 tempat, 2017 sebanyak 22 tempat, dan tahun ini sebanyak 25 tempat.
Hingga sekarang hanya tiga objek wisata yang dikelola secara resmi oleh Pemkab Sumenep, yakni Museum dan Keraton Sumenep di Kecamatan Kota, Pantai Lombang di Batang Batang, dan Pantai Slopeng di Dasuk. (*)
Pembukaan festival dalang bocah di Surabaya. Foto: Istimewa.
Festival Dalang Bocah se-Jawa Timur 2018 kembali berlangsung 10-12 April lalu di Pendopo Jayengrono Taman Budaya, Jl Genteng Kali Surabaya.
Sebanyak 24 peserta turut serta dalam festival tersebut. Di antaranya dari Surabaya, Ponorogo, Kediri, Pacitan, Ngawi, Malang, Trenggalek, Madiun, Jember, Mojokerto, Tulungagung, Gresik dan Batu.
“Peserta tiap tahun memang kita batasi, antara 24 sampai 25 peserta. Maksimal kabupaten kota bisa mengirimkan dua delegasinya,” kata Kepala UPT Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Jawa Timur Efie Widjajanti, dikutip TribunNews.
Hasil Festival Dalang Bocah:
– Dalang Hangabehi: Gandang Gondo W (Pacitan, Yudakala Tresna)
– Penyaji Mumpuni: Muhammad Rafi N (Tulungagung, Aji Narantaka)
Teater Sanggar Lidi mementaskan lakon ‘Aktivsm’ di Cak Durasim Surabaya. Foto: Antara Jatim/Didik Suhartono.
Kelompok teater Sanggar Lidi asal Kota Surabaya mementaskan lakon berjudul ‘Aktivsm’ di Gedung Kesenian Cak Durasim Jalan Gentengkali Surabaya, pekan lalu.
Pementasan tersebut diawali dengan adegan yang memaksa penonton mengenang berbagai pergerakan yang pernah terjadi di tanah air.
Mulai dari pergerakan menentang pembunuhan massal yang terjadi di era 1965 – 1966, demonstrasi Malari 1974, hingga terakhir aksi reformasi yang berhasil menggulingkan pemerintahan Orde Baru di era Presiden Soeharto tahun 1998. Adegan selanjutnya menggambarkan pergerakan di Indonesia yang stagnan di era kini.
“Naskah Aktivsm berangkat dari berbagai pergerakan dari masa ke masa yang pernah terjadi di Indonesia hingga masa sekarang pasca reformasi,” ujar penulis naskah yang juga sutradara Sanggar Lidi, Totenk Mahdasi Tatang Rusmawan kepada wartawan usai pementasan, seperti dikutip Antara Jatim.
Dia menilai banyak aktivis yang di masa lalu berhasil memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia, di era sekarang justru menjual idealismenya kepada penguasa yang memiliki kepentingan tertentu.
“Meski ada juga aktivis yang sampai sekarang masih mempertahankan ideologinya namun nasibnya justru penuh dengan kesengsaraan. Untuk menghidupi keluarganya saja susah,” ucap pegiat teater asal Bandung itu.
Pementasan lakon ‘Aktivsm’ ini, lanjut pria yang telah banyak menimba ilmu dari Bengkel Teater asuhan mendiang dramawan WS Rendra itu, merupakan ungkapan epilog darinya untuk masyarakat secara luas.
Kelompok teater Sanggar Lidi terbentuk sejak 12 Oktober 2012, yang digagas oleh Totenk bersama sejumlah seniman senior di Surabaya, yaitu Ndindy Indiati dan almarhum Wiek Herwiyatmo.
Para aktornya banyak melibatkan para mahasiswa dan pelajar dari berbagai sekolah dan kampus di Kota Surabaya. Lakon ‘Aktivsm’ merupakan produksi pementasan teater ke- 11 dari Sanggar Lidi Surabaya. (ant)
Pengobatan dengan suwuk di Desa Jatiarjo, Pasuruan. Foto: Prasetya.ub.ac.id.
Masyarakat di Desa Jatiarjo, Pasuruan, Jawa Timur, masih menggunakan suwuk sebagai salah satu pilihan pengobatan. Padahal, di desa dimana Taman Safari II berada ini, fasilitas kesehatan serta tenaga medis telah memadai.
Suwuk merupakan pengobatan tradisional dengan menggunakan mantra dan rapalan doa-doa dari dukun yang diletakkan di air putih maupun ramuan dari tumbuh-tumbuhan. Suwuk tidak hanya digunakan untuk mengobati manusia, bahkan benda-benda seperti undangan pernikahan hingga surat lamaran pekerjaan pun dapat disuwuk.
Fenomena tersebut menarik perhatian kelima mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) yang diketuai Miftakhul Iftita, dengan anggota Hanifati Alifa Radhia, Annise Sri Maftuchin, Helmawati dan Luaiyibni Fatimatus Zuhra untuk meneliti suwuk melalui perspektif ilmu Antropologi.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) dibawah bimbingan Siti Zurinani MA ini melakukan penelitian lapangan selama kurang lebih dua bulan.
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, pengobatan tradisional suwuk di Jatiarjo dilakukan melalui dua tahap. Pertama-tama, dukun akan memeriksa penyakit si pasien melalui beberapa teknik deteksi.
Teknik tersebut meliputi pijatan diruas-ruas jari kaki dan tangan, penggunaan pusaka (misal keris), analisis riwayat kesehatan sebelumnya dari penuturan pasien, hingga komunikasi batin antara dukun dengan penunggu desa tempat pasien berasal.
Setelah dilakukan teknik deteksi, tahap selanjutnya adalah penerapan dari metode pengobatan suwuk. Pengobatan suwuk di Jatiarjo dilakukan dengan kombinasi teknik pengobatan lain seperti pijat dan pemberian ramuan herbal. Setelah diketahui penyakit yang diderita, pasien dapat disembuhkan melalui teknik pijat dengan menggunakan minyak whisik.
“Ada pula pasien yang diberi ramuan berbahan tumbuhan obat yang diracik si dukun maupun diracik sendiri. Selain ramuan herbal tersebut dikonsumsi oleh pasien, ramuan tersebut juga dapat diusapkan (bobok) dibagian tubuh yang sakit. Seluruh proses pengobatan baik pijat maupun pemberian ramuan berbahan alami tersebut dilakukan sembari ditiupkan rapalan doa-doa oleh sang dukun. Rapalan doa-doa pun juga diberikan pada pasien dalam bentuk fisik yakni berupa tulisan-tulisan arab yang ditulis dilembaran kertas,” papar Miftakhul Iftita.
Ia melanjutkan, pengobatan tradisional suwuk yang masih bertahan di Jatiarjo ini terjadi disebabkan beberapa faktor sosial-budaya. Kepercayaan masyarakat pada hal-hal magis, mempengaruhi adanya penyakit-penyakit tidak wajar serta tidak dapat disembuhkan melalui pengobatan medis.
“Adanya kepercayaan akan penyakit tidak wajar inilah yang menjadikan suwuk masih digunakan sebagai metode penyembuhan masyarakat Jatiarjo,” katanya.
Selain itu, faktor lain yang membuat pengobatan suwuk tetap bertahan di Jatiarjo adalah akibat pola pengobatan masyarakat yang lebih bersifat turun temurun serta pencarian pengobatan yang bersifat cocok-cocokan.
“Penjabaran mengenai faktor sosial budaya tersebut menjelaskan bahwa metode penyembuhan suwuk di Desa Jatiarjo, Prigen, Pasuruan masih bertahan ditengah era modern, meskipun pengobatan medis sudah cukup memadai,” pungkas Miftakhul. (sumber)
Nasi Aron cocok bagi penderita diabetes. Foto: Timesindonesia.co.id.
Indonesia memiliki peluang besar dengan memperkuat masyarakat untuk mencintai kuliner lokal, sehingga dalam bersaing kuliner lokal bisa lebih siap dan setara di era global sekarang ini.
Selain berkontribusi memperkuat ketahanan pangan dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, masa depan bisnis kuliner dengan menu-menu tradisi yang beragam dari seluruh wilayah Indonesia diprediksi terus berkembang, mampu bersaing dan cukup diminati oleh konsumen di pasar global.
Konsep kuliner tradisional atau kuliner lokal juga menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki kedaulatan pangan. Jadi ketika terjadi krisis pangan, masyarakat adat tidak merasakan itu karena mereka memiliki pangan khas untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Melalui kuliner lokal, seperti dilaporkan Jawatimuran.net, masyarakat adat ingin meneguhkan pesan bahwa diversifikasi pangan menjadi bagian penting untuk menjamin kedaulatan pangan masyarakat adat.
Berkembangnya bisnis kuliner lokal di berbagai wilayah di Indonesia secara langsung dan tidak langsung menjadi pendorong terciptanya lapangan kerja yang pada akhirnya mendorong pula pertumbuhan ekonomi masyarakat dan akan berpengaruh pada ketahanan pangan masyarakat secara keseluruhan.
Menurut pakar kuliner William Wongso tidak ada yang bernama makanan Indonesia, yang ada hanyalah masakan atau makanan daerah. Hal ini disebabkan tidak adanya makanan yang bisa dijadikan simbol kuliner Indonesia, karena perbedaan antara makanan di satu daerah dengan daerah lain begitu jauh. Adanya keberagaman itulah yang menjadi kekuatan khasanah kuliner Indonesia.
Salah satu kekuatan khasanah kuliner Indonesia adalah kuliner lokal yang ada di masyarakat etnis Tengger. Survei lapangan dilakukan tim Universitas Negeri Malang pada Februari-Mei 2017 di Desa Ngadas dan Gubugklakah (Malang), Desa Argosari dan Ranupani (Lumajang), Desa Ngadisari dan Wonokerto (Probolinggo) serta Desa Tosari dan Wonokitri (Pasuruan).
Beberapa kuliner lokal etnis Tengger berdasarkan klasifikasi makanan pokok, hidangan sayuran, lauk-pauk, kondimen, jajanan (snack) dan minuman ada sekitar 105 jenis masakan etnis Tengger. Terdiri atas 5 jenis makanan pokok, 29 jenis hidangan sayuran, 14 jenis lauk-pauk, 14 jenis kondimen (sambal), 37 jajanan, 2 sepinggan dan 4 minuman.
Nasi aron, gerit, gerit kering dan ampok/empok sebagai makanan pokok pada dasarnya merupakan istilah untuk produk-produk yang dihasilkan dari rangkaian proses pembuatan nasi aron.
Nasi Aron diolah dari jagung putih yang tumbuh di kawasan Bromo. Jagung ini panen 4-5 bulan sekali. Dibandingkan jagung lain yang berkisar tiga bulan, masa panen jagung putih ini lebih lama. Dalam proses pembuatannya, jagung putih ini dipipil terlebih dahulu. Kemudian ditumbuk sampai setengah halus dan direndam ke air selama kurang lebih empat hari, lalu dijemur hingga kering.
Selanjutnya, jagung itu ditumbuk lagi hingga halus dan disaring. Kemudian dikukus 30 menit, setelah itu diangkat dan disiram dengan air panas serta diuleni atau diaroni. Selesai diaroni, dikukus lagi tiga puluh menit lamanya hingga matang.
Nasi aron dapat berbentuk balok atau gumpalan padat dan dapat diiris untuk dimakan bersama-sama sayur semen (semian tanaman kubis setelah dipanen), ikan asin atau kulupan lainnya.
Sedangkan Gerit merupakan istilah untuk nasi aron yang telah diratakan (dipesar). Gerit biasanya dijual dalam bentuk kering dan dapat disimpan lama. Gerit kering yang dibasahi dengan air panas (didoni) kemudian dikukus disebut Ampok atau Empok yang berupa nasi halus atau nasi jagung.
Walaupun sebagai makanan pokok, nasi aron kering maupun gerit kering tidak selalu dibuat sendiri oleh masyarakat Tengger, tetapi dipasok dari daerah lain yang memproduksi secara komersial, seperti Desa Duwet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Selain nasi aron, masyarakat Tengger juga mengonsumsi nasi dari beras, yang kadang-kadang sebagai campuran nasi ampok.
Pada saat paceklik, sebagian masyarakat Tengger juga memanfaatkan umbi-umbian sebagai makanan pokok, seperti misalnya nasi ganyong.
Hidangan sayuran masyarakat etnis Tengger didominasi oleh sayuran yang ada di lingkungan sekitar mereka. Salah satu sayuran yang cukup populer adalah sayur semen dengan berbagai variasinya mulai dari kulup semen (direbus saja), sayur bening sampai dibuat campuran sayur jawa (jangan jawa).
Demikian juga hidangan sayuran yang berbahan dasar kentang, kubis, labu siam, buncis (ucet) yang cukup bervariasi, walaupun tidak terlalu banyak ragam olahannya.
Bahkan ada beberapa jenis sayuran daun yang tidak ditemukan di daerah lain, tetapi menjadi menu makanan sehari-hari masyarakat Tengger antara lain hidangan sayuran dari daun ranti, daun ketirem, daun lobak, daun bekuka, daun lounghsiem. Jamur khas Tengger yang biasa dibuat hidangan sayuran adalah jamur grigit dan jamur pasang. (ist/Sumber: Buku Inovasi Belajar Responsif Budaya Lokal)
Lampu dengan budaya lokal pada kemasannya. Foto: Renesola.
Menjadi negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tentunya memiliki keanekaragaman kultur dan budaya. Indonesia juga memiliki berbagai suku bangsa yang membawa keberagaman adat, budaya, hingga bahasa daerah. Sebagian besar masyarakat di dunia juga telah mengetahui Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam.
Bicara mengenai budaya, Renesola sebagai merek global mengangkat budaya-budaya lokal yang ada di Indonesia. Citarasa lokal Renesola selain diimplentasikan dalam bentuk Kemasan lampu yang menggambarkan kearifan budaya lokal dengan motif batik parang, adalah juga menunjukkan bahwa produk-produk Renesola secara spesifikasi teknisnya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.
Citarasa lokal Renesola tersebut ditandai dengan diluncurkannya tiga Jenis lampu hemat energi (LHE) yang mewakili tiga daerah yang berbeda di Jawa Timur, yaitu Malang, Ponorogo dan Madura. Peluncuran lampu Malang, Ponorogo dan Madura tersebut dilakukan di tiga tempat sekaligus yaitu di Malang, Surabaya, dan Madiun.
Lokasi peluncuran produk ini sengaja dilakukan langsung di area pusat penjualan lampu di wilayah tersebut. Untuk area Malang dipusatkan di Toko Hwatt/Surya Citra Elektronik, pada 28 Maret 2018 lalu.
Turut hadir Noor Miftah Bakry selaku Country Director Renesola Indonesia, Eko Pujiono selaku owner Distributor area Malang Raya, dan Karniawan Afandi selaku Sales Manager Indonesia Timur. Adapun untuk Surabaya dilakukan di Toko Heri elektrik dan di Madiun di Toko Sumber Subur Jaya (SSJ).
Menurut Miftah, lampu bercitarasa budaya lokal di ketiga kota tersebut awal dari langkah Renesola untuk mewujudkan visi dari Renesola untuk menjadi lampunya orang Indonesia, setelah menggunakan tambahan motif batik parang di produk sebelumnya.
Seperti di Jawa Timur, khususnya di Banyuwangi, Renesola sudah memiliki posisi yang kuat di pasar. Lampu hemat energi (LHE) dengan produk Full Spiral berwarna kuning (warm white) yang digunakan masyarakat untuk pencahayaan perkebunan buah naga, dan sudah terbukti mampu untuk meningkatkan produktifitas perkebunan buah naga di Banyuwangi. Dengan peluncuran LHE bercitarasa lokal di 3 kota tersebut diharapkan mampu untuk lebih memperkuat posisi Renesola di Jawa Timur.
Sementara di Malang, kemasan lampu sangat bercitarasa lokal dengan gambar bertuliskan “Kera Ngalam”, yang berarti adalah Arek Malang, lampu Ponorogo dengan reog Ponorogonya dan lampu Madura dengan karapan sapinya.
Saat ini, kondisi kelistrikan di Indonesia saat ini relatif masing sering terjadi lonjakan fluktuasi tegangan, dan di daerah-daerah juga banyak yang masing memiliki kecenderungan listrik dengan tegangan yang rendah.
LHE Renesola pada umumnya memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap lonjakan tegangan listrik, dan dalam kondisi tegangan rendah (di bawah 100 volt) masih bisa menyala dengan terang yang optimal, dan tentunya tetap aman dan juga hemat listrik.
Keunggulan lainnya dari lampu hemat energi (LHE) yang berbentuk Spiral ini adalah memiliki distribusi cahaya yang lebih baik, karena spiralnya Renesola adalah “Full Spiral”, sedangkan kebanyakan adalah “Half Spiral”. Selain Distribusi cahaya yang lebih baik, dengan full Spiral akan lebih hemat listrik dan juga lebih terang. Maka tak heran jika dikatakan lampu hemat energi (LHE) Renesola “Full Spiralnya – Full Terangnya”. (sumber)
Agus Koecink bersama I Made Somadita di House of Sampoerna. Foto: Koleksi HoS.
Pelukis yang juga kurator seni rupa Agus Koecink Sukamto mendorong konektivitas antarseniman asal Jawa Timur dengan seniman dari daerah lain, sehingga selalu tercipta ide-ide baru dalam berkarya, yang nantinya terbuka akses berpameran ke luar negeri.
Pria kelahiran Tulungagung 1967 itu sedang menggelar pameran “The Color of Life” bersama pelukis asal Denpasar, Bali, I Made Somadita, di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya, 6 – 28 April 2018.
“Saya bertemu dengan Somadita saat pameran bersama di Korea beberapa tahun lalu dan sejak itu tertarik untuk mengagendakan pameran bersama di beberapa kota di Indonesia, yang dimulai dari Galeri House of Sampoerna Surabaya ini,” ujarnya saat ditemui Antara Jatim di sela mempersiapkan pamerannya di Galeri House of Sampoerna Surabaya.
Proses pertemuannya dengan I Made Somadita di Korea yang terus berlanjut sampai sekarang itulah yang dia sebut sebagai konektivitas antarseniman. Keduanya pun saat itu berpameran ke Korea atas ajakan dari seniman senior asal Ubud, Bali, Antonius Kho.
“Ada banyak seniman dari berbagai daerah di Indonesia yang waktu itu diajak Antonius Kho berpameran di Korea. Sampai sekarang dengan banyak seniman dari berbagai daerah itu kami masih terhubung satu sama lain,” ujarnya.
Bagi Agus Koecink, Korea adalah negara kedua dia berpameran, setelah sebelumnya juga pernah berpameran di Prancis atas koneksi dari Pusat Kebudayaan Prancis atau “Institut Francais d`Indonesie” (IFI) di Surabaya.
Sedangkan I Made Somadita telah mengikuti pameran bersama di banyak negara. Selain di Korea, pria kelahiran Tabanan, Bali, tahun 1982 itu, telah berpameran di Malaysia, Thailand, Filipina dan Jerman.
Somadita menilai ada kesamaan nasib antara seniman Bali dan Jawa Timur, yaitu sama-sama kesulitan akses untuk menggelar pameran di luar negeri.
“Beda dengan seniman Jogja dan Bandung yang telah terbentuk sistem sehingga terbuka akses yang lebih mudah untuk bepameran ke luar negeri,” katanya dikutip Antara Jatim.
Sedangkan seniman Bali, lanjut dia, diuntungkan dengan banyaknya turis asing. “Tinggal cara kita menggiring para turis asing untuk datang menyaksikan karya-karya kita yang tersimpan di studio. Kalau beruntung, terbukalah akses untuk berpameran ke luar negeri,” ujarnya.
Sepakat dengan Agus Koecink, Somadita menyebut intinya adalah memupuk konektivitas antarseniman dan dia meyakini dari situlah nantinya terbuka akses untuk berpameran di luar negeri.
Agus Koecink menandaskan, seniman memang tidak bisa berdiam diri di rumah. Dia harus bergaul dengan seniman lainnya dari berbagai daerah, berproses bersama-sama, dan menggalang pameran bersama.
Dosen seni rupa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini menambahkan, yang jauh lebih penting dari itu adalah seniman harus berkarya.
“Karena tugas seniman adalah berkarya dan karyanya tidak boleh ikut-ikutan berpolitik. Seleksi untuk berpameran ke luar negeri salah satunya selalu dilihat dari karyanya terlebih dahulu,” tuturnya. (ant)
Spanduk pementasan 10 dalang wayang Thengul di jalan masuk objek wisata Kayangan Api. Foto: Antara.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Jawa Timur, akan menggelar workshop atau lokakarya dan pergelaran Wayang Thengul yang diikuti 10 dalang untuk meningkatkan kemampuannya dalam menggelar pementasan, pada 13-15 April.
Kepala Bidang Budaya Disbupar Bojonegoro Taufiq Amrullah, di Bojonegoro menjelaskan workshop dan pergelaran Wayang Thengul akan diikuti 10 dalang dengan mendatangkan nara sumber dosen pedalangan asal Surabaya Darmono.
Dalam workshop, lanjut dia, nara sumber akan memberikan materi terkait pengembangan mendalang agar bisa semakin menarik masyarakat. “Usai acara akan dilanjutkan pergelaran bersama 10 dalang Wayang Thengul selama dua hari di objek wisata Kayangan Api,” jelas Taufiq Amrullah pekan lalu, dikutip Antara Jatim.
Hanya saja, kata dia, pementasan bersama itu waktunya dibatasi untuk seorang dalang masing-masing 1 jam dengan mengacu pementasan perkeliran padat.
Sesuai daftar 10 dalang Wayang Thengul yang mengikuti workshop dan pergelaran yaitu Sudarno, Dasari, Ponidi, Suntoro, Parwito, Suwarno, Sutopo, Santoso, Lasmijan, dan Sumardji.
“Jumlah dalang Wayang Thengul cukup banyak, tetapi yang menekuni dan sering pentas di masyarakat sekitar enam dalang. Dalang yang paling laris Mardji Marto Deglek, selain Sudarno, Ponidi dan Suntoro,” ucapnya menjelaskan.
Ia menambahkan adanya workshop dan pergelaran bersama itu akan semakin menambah wawasan dalang Wayang Thengul di daerahnya, sehingga semakin diminati masyarakat. “Saat ini minat masyarakat menanggap pergelaran Wayang Thengul terus meningkat,” ucapnya menegaskan.
Dalang Wayang Thengul di Bojonegoro Mardji Marto Deglek, menjelaskan pesanan pentas ditanggap masyarakat rata-rata dalam sebulan sekitar delapan kali, dengan penanggap tidak hanya lokal, tapi juga luar daerah.
“Biaya menanggap Wayang Thengul lengkap, mulai perlengkapan Wayang Thengul, gamelan juga penabuhnya berkisar Rp 5-Rp 7 juta/semalam,” ucap dalang lainnya Ponidi, dibenarkan Mardji Marto Deglek.
Kisah cerita Wayang Thengul, yang diminati masyarakat, antara lain, sejarah Kerajaan Majapahit, sejarah Minak, juga masuknya Agama Islam ke Tanah Jawa. “Kebanyakan masyarakat menanggap Wayang Thengul untuk ‘ruwatan’, karena memiliki anak satu,” ucap Mardji menambahkan. (ant)
Presiden Joko Widodo bersama budayawan di Istana Merdeka. Foto: Setkab.go.id.
Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dengan sejumlah budayawan di beranda Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (6/4) sore. Tampak di antara para budayawan tersebut ialah Radhar Panca Dahana, Butet Kertaradjasa, Toety Herati N Rooseno, Mohammad Sobary dan pelukis Nasirun.
Di beranda itu, Presiden sempat menuliskan “Indonesia Maju” pada sebuah kanvas yang disediakan di sana. Tulisan Presiden itu selanjutnya diselesaikan Nasirun dan juga Wayan Kun Adnyana hingga tampak apik. Juga terlihat hadir Putu Wijaya, Nasirun, Lesik Keti Ara, Olga Lidya, dan Olivia Zalianty.
Ramah tamah antara Presiden dengan para budayawan dilanjutkan di taman yang berada di halaman tengah Kompleks Istana Kepresidenan. Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan pentingnya upaya pelestarian seni budaya Tanah Air sebagai investasi sumber daya manusia di masa mendatang.
Menurut Presiden, kebudayaan menjadi fondasi sebuah bangsa yang ikut menentukan daya saing dan kompetisi yang dimiliki sebuah negara. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran yang disampaikan oleh salah satu budayawan Indonesia, Radhar Panca Dahana, seperti dikutip dari rilis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin.
“Artinya nilai-nilai yang kita miliki ini akan menentukan bangsa ini bisa berkompetisi, bisa bersaing dengan negara lain atau tidak,” ujar Presiden.
Presiden juga menyampaikan pemikirannya terkait revolusi mental. Sejalan dengan budayawan Putu Wijaya, Presiden mengajak para budayawan untuk memberikan contoh yang baik kepada masyarakat terkait nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
“Revolusi mental itu bukan jargon yang saya kira kayak masa-masa lalu yang perlu diteriak-teriakan terus atau perlu diiklan-iklankan terus, saya kira bukan itu. Saya kira contoh lebih baik dari pada kita berteriak. Memberikan contoh adalah lebih baik daripada kita berteriak,” ucap Presiden.
Sore itu Presiden juga mendapat hadiah berupa pembacaan puisi dari seorang budayawan Aceh, Lesik Keti Ara. Puisi ini berisi tentang ucapan terima kasih karena Jokowi telah membangun Bandara Rembele di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. “Sebagai ucapan terima kasih kami orang Gayo, terhadap peluncuran (bandara) Rembele, saya akan bacakan puisi pendek,” kata Lesik Keti Ara.
Bandara Rembele untuk Jokowi
Kepakkan sayapmu lalu terbanglah, katanya
Orang-orang memandang ke tubuhnya yang dibalut kopo ulen-ulen, kain adat Gayo
Orang-orang juga memandang senyumnya yang tulus
Hari ini ku resmikan Bandara Rembele, katanya
Itulah tanda cinta pada kampung kedua
Orang-orang rindu pada ucapan itu karena telah lama terasa dipinggirkan, bahkan diabaikan
Buka mata dan layangkan pandang ke tempat paling jauh ke wilayah tak tersentuh
Di sana kita bertemu, memadu cinta untuk negeri tercinta
Pada kesempatan tersebut Jokowi menyampaikan pentingnya pembangunan infrastruktur yang dalam 3,5 tahun ini dilakukan oleh pemerintah. “Karena kita ini sebagai negara besar sudah terlalu jauh ditinggal oleh kanan kiri kita, sehingga ini yang perlu dikejar terlebih,” katanya.
Setelah fokus pembangunan infrastruktur, Jokowi meyakinkan bahwa pada tahapan besar yang kedua akan masuk ke tahapan investasi di bidang sumber daya manusia yang didalamnya sebagaimana telah disampaikan oleh Radhar Panca Dahana, bahwa kebudayaan itu menjadi sebuah pondasi.
“Artinya, nilai-nilai yang kita miliki ini akan menentukan bangsa ini bisa berkompetisi, bisa bersaing dengan negara lain atau tidak. Baik yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya, baik yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter yang kita miliki, nilai-nilai budi pekerti yang kita miliki,” kata Jokowi.
Kemudian, lanjut Jokowi, juga berkaitan dengan etos kerja, yang berkaitan dengan produktivitas, yang berkaitan dengan integritas. “Saya kira larinya nanti akan ke sana,” tegasnya.
Karena itu, Presiden Jokowi mengutip pendapat penyair Putu Wijaya, bahwa memang revolusi mental itu bukan jargon yang seperti masa-masa lalu yang perlu diteriak-teriakkan terus atau perlu diiklan-iklan terus.
“Saya kira bukan itu. Saya kira contoh lebih baik daripada kita berteriak. Memberikan contoh akan lebih baik daripada kita berteriak. Bagaimana bekerja yang baik, bagaimana integritas yang baik, bagaimana nilai etos kerja yang baik saya kira itu yang nanti ke depan akan kita gerakan,” tutur Jokowi.
Dalam kesempatan itu, Jokowi menyampaikan kesediaannya untuk bertemu dengan para budayawan secara rutin setiap 3-4 bulan sekali. (sak)
Puti Guntur Soekarno bersama Soimah diatas panggung Padepokan Seni Kirun. Foto: Istimewa.
Acara mangayu bagyo di peringatan ulang tahun ke-32 Padepokan Seni Kirun (PadSKi), Rabu (5/4) malam, dimanfaatkan Cawagub Jatim Puti Guntur Soekarno untuk sejenak melepas kepenatan setelah seharian kampanye keliling Ponorogo.
Di acara yang dipadati ribuan warga Desa Bagi, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun dan sekitarnya ini, Puti ikut berbaur dengan para maestro bintang panggung kesenian Jawa yang rata-rata telah berusia di atas 60 tahun, menari di atas panggung.
Saat sesi penampilan tari Gambyong dengan iringan lagu ‘Perahu Layar’ oleh para mantan primadona panggung, tuan rumah yakni pelawak kondang Kirun menjemput Puti Guntur yang duduk bersebelahan dengan Cagub Saifullah Yusuf.
Puti diminta untuk ikut menari tarian khas Jawa itu. Soimah yang juga hadir, diminta Kirun ikut menemani cucu Presiden pertama RI tersebut. Keduanya pun mengikuti alunan musik dengan gemulai menari bersama para maestro.
Tak pelak, tampilnya Puti disambut aplaus meriah dari undangan dan penonton yang hadir di gedung pentas seni yang cukup luas tersebut.
Selain lagu ‘Perahu Layar’ yang merupakan lagu kesukaan mantan anggota DPR RI dua periode itu, Puti dan Soimah serta para maestro masih melanjutkan tariannya dengan iringan tembang ‘Ojok Diplerok-i’ hingga usai.
Di saat tengah mereka menari, Gus Ipul diminta untuk naik ke panggung. “Saya senang sekali menari. Sejak kecil saya sudah bisa menari,” ucap Puti usai acara.
Baginya, ikut memeriahkan ultah padepokan milik Kirun yang juga dihadiri dalang Ki Manteb Sudarsono serta para pelawak kondang itu untuk sejenak melepas kepenatan. “Malam ini buat rileks dulu, setelah mulai pagi sampai sore aktivitas padat,” ujarnya.
Kehadiran Puti Guntur menemani Gus Ipul di tengah itu menjadi pusat perhatian ribuan warga yang hadir. Puti datang didampingi Bupati Ngawi Budi ‘Kanang’ Sulistyono, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim Sri Untari, serta Cabup Magetan Miratul Mukminin.
Pada acara ini sejumlah seniman senior juga hadir. Seperti Marwoto, Cak Yudho, Sasmitho, Cak Hunter dan beberapa seniman ludruk lainnya. Juga ada beberapa seniwati berskala nasional, mulai dari Yati Pesek hingga Soimah.
Di acara itu, Kirun menyatakan dukungannya terhadap pasangan Gus Ipul-Mbak Puti. Menurut seniman yang memiliki nama asli Muhammad Syakirun ini, Gus Ipul telah dianggap sebagai sahabat oleh para seniman Jawa Timur.
Dia optimistis, pasangan nomor urut dua ini dapat membawa kemakmuran untuk rakyat Jawa Timur. “Yen seduluran karo Gus Ipul, Insya Allah tentrem uripe, Jawa Timur makmur apa-apane. (Kalau mau bersahabat dengan Gus Ipul, tentram hidupnya, makmur semuanya),” ujar Kirun. (ist)