Angkat Derajat Tempe Hingga Mendunia

foto
Oleh-oleh tempe goreng kering. Foto: TEMPO/Gilang M Ramdani.

Tempe sebagai salah satu produk olahan kedelai paling membumi di Indonesia ternyata telah dikenal di lebih dari 20 negara dunia. Sayang, di Indonesia sendiri memandang tempe sebagai produk kelas menengah ke bawah. Baik petani kedelai maupun konsumen tempe justru menjadi representasi kelompok masyarakat tidak mampu.

Keyakinan tersebut sedang berusaha di ubah Forum Tempe Indonesia (FTI) melalui Lokakarya Internasional tentang Tempe yang diadakan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) di Hotel Shangri-La, pekan lalu. Dalam forum tersebut, tempe diusulkan sebagai warisan budaya dunia.

“Sudah layak menjadi warisan dunia, karena konsumennya tidak hanya orang Indonesia tapi juga di dunia. Meski di Indonesia sendiri tidak terlalu memperhatikan nasib tempe maupun kedelai,” tutur pemerhati budaya UKWMS Prof Agustinus Ngadiman usai menjadi narasumber lokakarya tersebut, dikutip Bhirawa.co.id.

Ngadiman mengungkapkan, tanah Indonesia sangat subur untuk ditanam kedelai. Dan tempe bisa dikembangkan menjadi produk yang lebih menarik dan menjual. Tempe dan petani kedelai, kata dia, seolah justru hanya milik orang yang tidak mampu secara ekonomi.

Padahal dari segi budaya, Indonesia, khususnya masyarakat Jawa tidak bisa lepas dari tempe. “Yang masih sangat kuat saat ini di Jogja dan Solo. Untuk Jawa Timur tempe sebagai simbol persatuan yang dibungkus daun masih kuat di wilayah mataraman,” terang dia.

Selain kurang diperhatikan, pemerintah diakuinya belum memiliki kemauan yang tinggi terhadap masa depan tempe. Hal ini dapat dilihat dari nasib kedelai yang justru impor dari luar negeri. “Tanah kita yang subur habis untuk dibangun rumah-rumah. Makanya, sampai sekarang tanah warisan saya itu masih saya tanami kedelai,” ungkap dia.

Sementara itu, Ketua FTI Prof Made Astawan di tempat yang sama mengaku tengah menyiapkan dokumen-dokumen untuk mengajukan tempe sebagai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage of humanity) ke UNESCO. Salah satu bukti dokumen kuat adalah munculnya kata-kata tempe di Serat Centhini. Hal itu menunjukkan bahwa tempe telah dikenal sejak abad ke 16.

Made mengatakan, Serat Centhini terbit tahun 1815. Namun, manuskrip tersebut mendeskripsikan kehidupan tahun 1600. Dengan begitu, tempe diyakini sudah dikenal dan dikonsumsi masyarakat Jawa ratusan tahun lalu.

“Kita punya bukti yang kuat yakni Serat Centhini. Itu tidak bisa dimungkiri. Katakanlah Negara-negara lain ikut mengajukan, mereka akan kekurangan bukti,” katanya.

Dia menjelaskan, selain bukti dokumen, syarat lain yang dibutuhkan untuk maju ke UNESCO ialah pengakuan dari Pemerintah Indonesia bahwa tempe merupakan warisan budaya nasional. Pengakuan itu sudah diberikan pada Oktober 2017 lalu.

“Bayangkan, kita sudah makan tempe sejak ratusan tahun yang lalu, tapi baru saja ditetapkan pemerintah sebagai warisan budaya,” ujar guru besar bidang pangan, gizi, dan kesehatan di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Made mengungkapkan, sebelumnya memang belum ada yang mengajukan tempe sebagai warisan budaya nasional. Pengajuan FTI ke pemerintah tak lepas dari persyaratan untuk bisa maju ke UNESCO.

Tempe harus diterima dulu di Indonesia, setelah itu diajukan ke UNESCO. Lokakarya ini, lanjut dia, merupakan bentuk selebrasi atas pengakuan Pemerintah Indonesia. “Mudah-mudahan tahun 2021 bisa maju ke UNESCO untuk mendapat pengakuan,” terangnya.

Menurut Made, keuntungan dari pengakuan UNESCO atas tempe diharapkan seperti pada batik. Batik ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tahun 2009. Setelah itu semua orang memakai batik, baik tua dan muda.

“Sebelum itu orang pakai batik saat kondangan. Sekarang semua pakai, meski bawahan jin atas batik, ya tidak masalah. Nah, diharapkan tempe juga seperti itu. Tempe dikonsumsi semua kalangan, bisa di restoran, hotel, untuk ekspor, dan lain-lain,” ungkapnya.

Apalagi, lanjut dia, tempe bukan sembarang pangan. Di balik kesederhanaannya ada manfaat yang kaya bagi tubuh manusia bila dikonsumsi.

Meski demikian, Made tetap mengingatkan kepada perajin tempe untuk berbenah dalam teknik pembuatan. Apalagi, dewasa ini tempe sudah diterima di lebih 20 negara.

“Kedepannya, supaya kita bisa ikut terlibat percaturan tempe dunia, mau tidak mau, sebagai negara yang punya budaya itu harus lebih memperbaiki cara produksi,” ungkapnya.

Diakuinya, sejumlah produsen tempe di Indonesia telah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan standar mutu tempe internasional (codex). Codex tersebut, kata dia, lebih banyak mengadopsi ke SNI.

“Membuat tempe itu gampang, tapi yang higienis dan supaya memenuhi standar itu yang sulit. Terutama menyangkut kebiasaan membuat tempe,” pungkas dia. (ist)

Wisata Situs Purbakala Baru di Sidoarjo

foto
BPCB Jawa Timur memastikan situs di Desa Kedung Bocok, Sidoarjo bagian peradaban Majapahit. Foto: Detikcom/Suparno.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo siap membuka situs purbakala di Desa Kedung Bocok sebagai destinasi wisata baru setelah mendapatkan izin dari instansi terkait lainnya.

“Asalkan sudah mendapatkan izin dari Balai Pelestarian Cagar Budaya seperti halnya situs sejarah lainnya di Sidoarjo, yakni Candi Pari dan Candi Pamotan,” kata Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Sidoarjo, Djoko Supriyadi, awal pekan.

Djoko lanjut mengatakan sejak ditemukan pada awal Februari kemarin, hingga saat ini sejumlah penelitian masih terus dilakukan di sana.

“Sambil menunggu penelitian di sana usai dan pihak berwenang memberi izin, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo saat ini tengah berkonsentrasi untuk melakukan pembangunan destinasi wisata di kawasan Sidoarjo bagian Selatan,” ucap Djoko, dikutip CNN Indonesia.

Di lokasi tersebut, kata Djoko, terdapat beberapa tujuan wisata yang berpotensi dikembangkan seperti Lumpur Sidoarjo, Wisata Belanja Tanggulangin Sidoarjo dan Hutan Bakau Tlocor.

“Tlocor merupakan wisata khusus peminat saja, yang pasti wisata tersebut dikhususkan bagi mereka yang berminat untuk menggali informasi lebih jauh tentang bakau, karena lokasinya memang berada di muara Sungai Porong,” kata Djoko.

“Kami optimistis jika dikembangkan dengan baik, objek wisata ini akan banyak meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di Sidoarjo yang selama ini masih belum tergarap secara maksimal,” pungkas Djoko.

Seorang warga Desa Kedung Bocok menemukan situs purbakala yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit itu saat sedang menggali tanah untuk menanam ketela.

Saat mengayunkan cangkul ke tanah, ia merasa cangkulnya mengenai benda keras, yang kemudian diketahui merupakan batu bata bersusunan rapi.

Kepala Seksi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Cagar Budaya BPCB Jawa Timur, Widodo, mengatakan kalau penelitian yang dilakukan untuk merunutkan masa kehidupan yang terjadi di situs purbakala tersebut. “Penelitian butuh waktu tersendiri, karena setiap 10 sentimeter harus dilakukan pencatatan lengkap,” kata Widodo. (ant)

Cerita Panji yang Jadi Warisan Budaya Dunia

foto
Drama tari bertajuk Labuh Tresno Sejati di TMII Jakarta. Foto: Beritasatu.com.

Kisah-kisah masa lalu dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi, selain mengandung nilai sejarah, dan pesan moral. Apalagi Indonesia secara geografis luas, yang menyebabkan budaya masyarakatnya sangat beragam. Salah satu kisah masa lalu itu, adalah Cerita Panji yang cukup mendapat perhatian para ahli.

“Namun sayangnya, Cerita Panji ini banyak dilupakan,” ujar Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro, kepada wartawan, usai menyaksikan Pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Kota Kediri Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, beberapa waktu lalu, dikutip Beritasatu.com.

Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (Unesco), secara resmi mencantumkan Cerita Panji adalah salah satu rangkaian cerita tentang karakter kesatria Raden Panji Asmorobangun yang berlatar di Jawa Timur, resmi sebagai ‘ingatan dunia’ atau disebut ‘Memory of the World’ (MoW). Usulan penetapan Cerita Panji sebagai MoW Unesco tersebut sudah dilakukan sejak 2016.

Acara apresiasi budaya yang rutin digelar setiap minggu oleh Badan Penghubung Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini, menampilkan drama tari bertajuk, ‘Labuh Tresno Sejati.’ Drama tari ini dibawakan oleh grup kesenian dari Kota Kediri, dan disutradarai Guntur Tri Kuncoro, dengan Penata Tari Yolanda Putri Probosekar.

‘Labuh Tresno Sejati’ yang ditulis Ety Kusumaningtyas merupakan representasi Cerita Panji, yang mengetengahkan tokoh-tokohnya, seperti Raden Inu Kertapati dan Panji Semirang. Atau Dewi Sekartaji, Klana Sewandana, Ragil Kuning / Dewi Onengan, Tumenggung Pakencanan, dan karakter peran lainnya.

Selain Wardiman Djojonegoro, ikut menyaksikan pertunjukan ini, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Kediri Sunawan dan Kasubid Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Jatim Samad Widodo.

Hadir di acara tersebut, Suryandoro (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Munarno (Praktisi, Analis Kesenian dan Budaya Daerah Bapenda Jatim di Jakarta), serta Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII).

Para budayawan ini secara rutin bertindak sebagai tim pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, yang digelar setiap hari Minggu, di Anjungan Jawa Timur TMII.

Menurut Wardiman, banyak orang tidak tahu bahwa Cerita Panji, adalah karya sastra dan budaya Indonesia, yang pengaruhnya hingga ke luar negeri. Cerita Panji memiliki banyak versi, dan telah menyebar ke seluruh jazirah Nusantara; Jawa, Bali, Kalimantan

“Saya minta ke Pemerintah Kota Kediri, agar anak-anak SMP dan SMA didorong mulai memviralkan cerita Panji, bisa melalui tulisan, lukisan atau kreasi kartun. Dengan begitu cerita Panji akan eksis, termasuk budaya lainnya,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan IV pada masa Presiden Soeharto ini.

Sunawan menjelaskan, cerita Panji, adalah kumpulan cerita masa Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri.

Isinya mengenai kepahlawanan dan cinta, terkait dengan tokoh utamanya, Raden Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana). Beberapa cerita rakyat seperti ‘Keong Mas’, ‘Ande-ande Lumut,, dan ‘Golek Kencana’ juga merupakan turunan dari cerita ini.

“Kita ingin terus menggali seni budaya Panji ini. Salah satu bukti cerita ini dapat dilihat di situs kuno peninggalan abad 14-15 Masehi di desa Gambyok, yang disebut-sebut sebagai awal naskah utuh asli Panji Sumirang,” terang Sunawan.

Selain itu, kata dia, Kediri juga memiliki khasanah budaya lain, di antaranya seni Jemblung, dan seni Jaranan. “Jemblung adalah kesenian tradisional sebagai sarana penyebaran Islam pada masa lalu. Kesenian Jemblung menampilkan musik gamelan Jawa yang diselingi dakwah Islam,” ujarnya.

Sementara Seni Jaranan, adalah tarian tradisional khas Kediri yang memiliki ciri tersendiri, baik dari tarian, pakaian yang dikenakan, serta irama musik yang mengiringi.

“Kami memandang seni Jaranan memerlukan kreator supaya dapat tampil lebih inovatif. Walau kota Kediri relatif kecil, namun potensi seni jaranan luar biasa. Ada sekitar 120 grup seni jaranan potensial yang belum sepenuhnya tergali dan dikembangkan,” ujar Sunawan. (ist)

Karya Seniman STKW Pukau Pengunjung Prabangkara

foto
Salah satu karya patung yang menghiasi sudut Galeri Prabangkara. Foto: SiagaIndonesia.com.

Tampilan lukisan dan patung menghiasi seluruh sudut Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur. Pengunjung tak henti mengagumi karya seniman Kota Pahlawan ini. Ada yang berdecak kagum juga ada yang mengabadikan dalam sebuah foto.

Memang, guna meningkatkan kreatifitas dan produktifitas daya saing seniman, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim melalui UPT Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) menggelar pameran seni rupa bertema “Mind Showcase” di Galeri Prabangkara, Gentengkali, Surabaya, 19–23 Maret 2018.

Peserta pameran merupakan 25 orang dosen dan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Mereka memamerkan 45 karya pilihan yang terdiri dari karya grafis, keramik, lukisan, patung, instalasi dan drawing.

Antara lain karya Asmiati Sihite, Dessy Rachma, Diah Kurnia Itsnani, Khotibul Umam, Kusdian Purnomo, Loyong Budi Harjo, Makhrus Priyo Darmawan, Totok Priyo Leksono, Nuzurlis Koto, Sigit Tamtomo, serta Agus Sukamto. Sebagai kurator yakni Bramantijo, Hari Prajitno dan Mufi Mubarok.

Selain itu, ajang ini merupakan bukti kesiapan STKW yang Juli nanti bakal didapuk sebagai tuan rumah Festival Kesenian antar Perguruan Tinggi se- Indonesia.

“Kita anggap ini sebagai gladi kotor, semoga sukses penyelenggaraan maupun kualitasnya,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, Dr H Jarianto MSi, dikutip SiagaIndonesia.com.

Jarianto menambahkan, regenerasi seniman muda produktif telah mampu memberi penyegaran pada karya seni yang terus berkembang. Sehingga pameran tersebut diharapkan mampu meningkatkan jaringan berkesenian antar pelaku seni maupun kolektor, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni rupa. “Selain itu sebagai upaya memacu tumbuhnya infrastruktur dan suprastruktur seni rupa,” pungkasnya. (ist)

Upaya Ponpes Melestarikan Manuskrip Jawa Kuno

foto
Naskah-naskah kuno yang disimpan di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Foto: Jawa Pos/Debora Danisa Sitanggang.

Di Pamekasan ternyata ‘tersimpan’ banyak naskah kuno. Anehnya, kebanyakan berhuruf pegon, Arab gundul dengan bahasa Jawa lama. Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan pun tergerak melestarikan ‘harta karun’ peninggalan nenek moyang ratusan tahun silam itu.

KITAB-KITAB itu sudah tidak keruan bentuknya. Sebagian sobek-sobek di bagian tepi, dimakan rayap. Bahkan, ada yang bolong di tengah. Ada juga yang lengket. Warnanya sudah lusuh, kuning kecokelatan. Mungkin dulu berwarna putih.

Untung, huruf-huruf di atasnya masih bisa terbaca dengan jelas Hanya, kebanyakan manuskrip ditulis dengan aksara Arab gundul (pegon), sebagian dalam huruf Jawa (hanacaraka). Juga, hampir semua berbahasa Jawa.

Karena itu, selain harus tahu sistem penulisan huruf pegon dan hanacaraka, pembacanya mesti menguasai bahasa Jawa bila ingin tahu makna manuskrip tersebut.

Itulah tantangan yang dihadapi para pengasuh dan santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, ponpes yang tergerak untuk menerjemahkan dan melestarikan naskah-naskah kuno tersebut.

Sebab, kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Jawa. Meski begitu, mereka mengaku ingin sekali mempelajari manuskrip yang belum diketahui tahun pembuatannya dan peninggalan siapa itu.

Naskah-naskah tersebut kini memang disimpan di salah satu sudut ponpes yang terletak di Desa Panaan, Palengaan, Pamekasan tersebut. Tak tanggung-tanggung, demi mengetahui makna naskah kuno itu, sebagian santri dikirim ke Indramayu, Jawa Barat.

“Karena di sana (Indramayu, Red) kami kenal dengan seorang ahli manuskrip Jawa kuno,” kata Kepala Pendidikan Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata Ahmadi saat ditemui di aula pesantren, akhir pekan lalu.

Ahli manuskrip itu bernama Ki Tarka Sutarahardja. Tarka diperkenalkan kepada pengurus ponpes oleh pemerhati manuskrip kuno di Pamekasan, KH Ilzamuddin. Tarka kemudian membantu Ilzam menerjemahkan naskah kuno yang dia simpan.

Tentu saja, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk bisa menerjemahkan naskah kuno. Menurut Ilzam, untuk bisa mengerti naskah kunonya secara utuh, biaya yang dikeluarkan bisa jutaan rupiah. Hitungannya per lembar.

“Tinggal dikalikan saja dengan jumlah lembarnya,” tutur Ilzam dikutip Jawapos.com sambil menunjukkan naskah terjemahannya yang sudah berbentuk buku ukuran A4. Buku setebal 90 halaman itu berjudul Hikmah yang Tersembunyi. Bukan hanya satu, melainkan dua jilid (buku).

Yang pertama merupakan penulisan ulang naskah dari huruf Jawa kuno Gagrak Surakarta di manuskrip aslinya ke huruf Latin. Sementara itu, buku kedua adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Isinya dialog antara Samun Ibnu Salam dan Muhammad SAW. Naskah tersebut ditulis oleh Kiai Bendara Dellegan pada 1749.

Ilzam menjelaskan, usia manuskrip bisa dilihat dari jenis tulisan yang terpampang dan jenis media yang digunakan. Manuskrip dengan daun lontar sudah pasti berusia paling tua.

Manuskrip dengan bahan kulit kayu berusia lebih muda. Namun, untuk lebih pastinya, harus melalui penelitian lebih lanjut. “Biasanya, dilakukan uji karbon. Nah, itu biayanya tidak murah juga,” tuturnya.

Manuskrip-manuskrip tua yang kini disimpan di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata umumnya didapat dari masyarakat. Menurut Ahmadi, sebenarnya banyak warga yang menyimpan manuskrip kuno itu. Ada yang mengaku warisan dari nenek moyang mereka, tapi ada juga yang hasil penemuan di gedung-gedung tua di Pamekasan.

Belum diketahui bagaimana bisa naskah-naskah kuno berbahasa Jawa tersebut sampai di tangan masyarakat Madura. Ahmadi sendiri menyatakan keheranannya.

Pengurus ponpes kemudian menunjukkan salah satu naskah dari daun lontar milik warga. Jumlahnya 72 lembar. Setiap lembarnya lalu difoto untuk dokumentasi. Bila ada yang ingin melihat atau meneliti, tinggal melihat di file foto.

Naskah aslinya masih tersimpan di rumah pemiliknya di Buju’ Gheru’, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan. Agak jauh dari lokasi pondok.

Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata sampai saat ini sudah berhasil mengumpulkan 33 manuskrip kuno. Semua disimpan di sebuah lemari kaca dan dipajang di depan ruang administrasi. “Beberapa waktu lalu, peneliti dari Malaysia dan Jepang sampai ke sini untuk melihat langsung naskah-naskah kuno ini,” terang Ahmadi.

Pihak pesantren melakukan perawatan semampunya pada manuskrip-manuskrip tersebut. Misalnya, seperti dituturkan Ahmadi, debu-debu di lembar naskah itu dibersihkan dengan kain. “Padahal, kalau orang luar, memperlakukan naskah lama itu sangat hati-hati,” ujarnya, lantas tertawa kecil.

Menurut Kepala Badan Otonom Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata Wahyudi Effendi, tingkat kesulitan membaca huruf Jawa kuno sangat tinggi. Karena itu, santri yang diberi kesempatan belajar hingga ke Indramayu harus santri yang ber-IQ tinggi.

Untuk saat ini, baru enam orang yang dikirim. “Anak-anak butuh waktu sebulan untuk menguasai cara membaca huruf Jawa kuno,” terang Wahyudi.

Metode belajarnya senyaman pribadi mereka masing-masing. Misalnya, Subyan, santri paling senior. Dia biasanya belajar membaca sejak pagi. “Kalau sudah pusing, berhenti dulu. Puyengnya hilang, belajar lagi sorenya,” tuturnya.

Membaca huruf Jawa kuno juga cukup rumit menurut Mohammad Faizin, santri lain. Karena hurufnya ditulis tangan semua, tentu agak repot jika harus membaca gaya tulisan tangan yang berbeda-beda. “Karakternya itu lain-lain,” ujar Faizin.

Setelah enam santri itu pulang, rencananya Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata membuka semacam klub baru. Klub untuk belajar membaca naskah kuno.

Selama ini kelas khusus yang dimaksud itu lebih banyak mempelajari bahasa asing. Yakni, bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, Jerman, hingga Mandarin.

Nah, kelas membaca naskah Jawa kuno tersebut akan menjadi kelas pertama yang mempelajari bahasa lokal. “Jadi, nanti para santri ini yang mengajar adik-adik kelas mereka cara membaca manuskrip Jawa kuno,” tandas Wahyudi. (jp)

Bangkalan Siapkan Paket Wisata Terintegrasi

foto
Tempat Pemandian Goa Pote di Bukit Jedih, Bangkalan. Foto: Antaranews/Abd Aziz.

Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, tahun ini menyiapkan paket wisata terintegrasi dengan tiga kabupaten di Pulau Madura, yakni Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep, guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke wilayah itu.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Lily Setiawaty Mukti di Bangkalan, Sabtu, paket wisata integratif itu dilakukan, karena masing-masing kabupaten di Pulau Madura, memiliki potensi wisata yang berbeda.

“Kalau Sumenep, potensi wisata kuat di bidang maritim dan kelautan dengan banyaknya pulau-pulau kecil yang ada di sana, Pamekasan makanan khas, Sampang alam, dan Bangkalan juga kuat di alam dan situs sejarah,” katanya, dikutip Antara Jatim.

Jika potensi wisata di masing-masing kabupaten itu dipromosikan secara paket, ia yakin, wisatawan pasti akan banyak yang tertarik untuk datang ke Pulau Madura. Lily menjelaskan, program paket wisata terintegratif ini juga dimaksudkan untuk mendukung program kunjungan tahun wisata yang kini dicanangkan oleh Pemkab Sumenep.

“Harapannya, agar wisatawan yang datang ke Sumenep tidak hanya di sana, akan tetapi juga bisa menikmati tempat-tempat wisata lain yang ada di Pulau Madura, baik di Pamekasan, Sampang ataupun yang ada di Bangkalan ini,” katanya, menjelaskan.

Untuk Kabupaten Bangkalan, sambung Lily, nantinya akan memprioritaskan objek wisata di daerah pantai utara (pantura). Ia menjelaskan, penentuan rute paket wisata itu nantinya akan melibatkan instansi yang membidangi kepariwisataan di Madura. Pihaknya kini juga mempersiapkan wisata yang akan dimasukkan dalam rute paket tersebut.

“Sekitar April ini akan ditentukan rutenya. Kalau yang paket wisata Madura, kami ajukan wisata di pantura, seperti Siring Kemuning,” katanya, menjelaskan.

Khusus untuk paket wisata Bangkalan, Lily menyatakan, akan mempersiapkan pergelaran karapan sapi dengan sistem carter atau pesanan. Pergelaran kegiatan itu, kata dia, memang dikhususkan bagi kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik yang datang ke Bangkalan. “Paket wisata yang kami masukkan yakni wisata Guwa Pote Jaddih, Makam Aer Mata Ebu Arosbaya, dan beberapa objek yang lain,” ujar Lily. (ant)

Ini Daftar 19 Bangunan Kuno di Kota Madiun

foto
Gedung kompleks Bakorwil Madiun terlihat megah. Foto: Thecolourofindonesia.com.

Sebanyak 19 bangunan kuno peninggalan zaman penjajahan Belanda yang tersebar di Kota Madiun akan diusulkan sebagai benda cagar budaya. Dengan demikian, bangunan-bangunan tersebut akan terjaga keasliannya.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kota Madiun, Agus Purwowidagdo, mengatakan bangunan-bangunan kuno di Kota Madiun sebagian besar adalah peninggalan era kolonial. Bangunan itu mayoritas bercorak Eropa, Jawa, dan Tionghoa.

Menurut dia, bangunan-bangunan kuno tersebut bakal dirawat dan bisa menjadi daya tarik wisatawan. “Kota Madiun layak dijadikan destinasi wisata sejarah. Di sini banyak bangunan kuno,” jelas dia, dikutip Solopos.com

Belasan bangunan kuno tersebut tersebar di tiga kecamatan yang ada di Kota Madiun. Berikut 19 bangunan kuno yang akan diusulkan sebagai benda cagar budaya :

Kecamatan Manguharjo :
1. Gereja Protestan Indonesia Barat Gamaliel Madiun. Gereja ini beralamat di Jl Mawar 10, Kelurahan Madiun Lor. Bangunan yang berdiri di lahan seluas 643,4 meter persegi ini diperkirakan didirikan pada 30 Agustus 1908.

2. Kompleks Bakorwil Madiun. Bangunan ini berada di Jl Pahlawan, Kelurahan Madiun Lor. Pada masa Hindia Belanda, rumah megah bergaya Indische Empire tersebut menjadi rumah dinas Residen Madiun.

3. Kompleks Gereja Santo Cornelius. Bangunan ini berada di Jl Pahlawan, Kelurahan Pangongangan. Madiun merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang sejak lama menjadi tempat bagi komunitas pemeluk Katolik. Pada tahun 1859, kota ini merupakan bagian dari stasi baru yang dibentuk di Ambarawa.

4. Kompleks Santo Bernardus. Berada di Jl Ahmad Yani No 7, Kelurahan Pangongangan. Keberadaan biara ini bermula pada tahun 1914. Saat itu seorang pastor bernama BG Schweitz SJ berkeliling dan membawa anak-anak telantar ke Madiun. Dia sana mereka ditempatkan dekat pastoran dan diasuh oleh Ny CH Van Zwieten dan Ny BD Haenens.

5. Rumah Kapitan Cina. Bangunan seluas 781,9 meter persegi ini berada di Jl Kolonel Marhadi, Kelurahan Nambangan Lor.

6. SDN 05 Madiun Lor. Bangunan ini berada di Jl Jawa No 20, Kelurahan Madiun Lor.

7. SMP 1 Kota Madiun. Bangunan seluas 6.660 meter persegi itu berada di Jl Mastrip No 19, Kelurahan Manguharjo.

8. SMP 3 Kota Madiun. Bangunan yang berdiri di lahan seluas 742,6 meter persegi ini ada di Jl RA Kartini No 6, Kelurahan Madiun Lor.

9. SMP 13 Kota Madiun. Bangunan di lahan seluas 7.365 meter persegi ini berada di Jl Sumatera No 13, Kelurahan Madiun Lor.

10. Stasiun Madiun. Bangunan ini berada di Jl Kompol Sunaryo, Kelurahan Madiun Lor.

Kecamatan Kartoharjo :
11. Balai Kota Madiun. Bangunan berdiri di lahan seluas 1.267,3 meter persegi di Jl Pahlawan No 37, Kelurahan Kartoharjo.

12. SDN 01 Kartoharjo, berdiri di lahan seluas 353,4 meter persegi dengan alamat Jl Jawa No 20, Kelurahan Kartoharjo.

13. SDN 02 Kartoharjo. Bangunan ini berdiri di lahan seluas 1.518 meter persegi di Jl Sulawesi No 20, Kelurahan Kartoharjo.

Kecamatan Taman:
14. Klenteng Hwie Ing Kiong. Bangunan yang berdiri di lahan seluas 372,2 meter persegi ini berada di Jl HOS Tjokroaminoto No 16, Kelurahan Kejuron.

15. Kompleks Pabrik Gula Rejoagung. Bangunan ini berada di Jl Yos Sudarso, Kelurahan Kepatihan.

16. Menara Air Sleko. Bangunan ini berada di Jl Kapuas No 62, Kelurahan Pandean.

17. Rumah Keluarga Andi Wibisono. Bangunan berdiri di lahan seluas 648,6 meter persegi di Jl Pandean, Kelurahan Taman.

18. Kompleks Rumah Dinas Pabrik Gula Rejoagung di Jl Yos Sudarso, Kelurahan Kepatihan. Di kompleks ini ada sembilan rumah dinas.

19. SMA 1 Kota Madiun berada di Jl Mastrip No 19, Kelurahan Mojorejo. (ist)

Kompak Kenalkan Budaya Malangan pada Wisatawan

foto
Siswa SMK PGRI 3 Malang tengah membatik di lobi hotel Swiss-bel Inn. Foto: Antara Jatim.

Kristi Novita dan Ali Rezza, siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang tengah asyik mewarnai topeng berkarakter Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji. Dua karakter yang lekat dengan topeng Malangan. Mereka berdua tengah mengikuti kegiatan Demonstrasi Kerajinan Tangan Batik dan Topeng Malang di lobby Hotel Swiss-belinn Malang.

Tak hanya mewarnai topeng, ada pula beberapa siswa yang tengah membatik dengan ragam hias Malangan. Dengan piawai, mereka melukiskan canting berisi lilin panas ke atas kain berpola. Juga ada beberapa siswa SMK Prajna Paramitha yang tengah unjuk kebolehan mengolah panganan ringan berjenis pastry.

Pembimbing pelatihan bidang wirausaha batik dan suvenir topeng SMK PGRI 3 Malang, Hiannanta mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan program terusan dari Dinas Pendidikan Jawa Timur. “Kegiatan ini rangkaian Program SMK Potensial untuk anak-anak latihan berwirausaha. Salah satu yang diberikan adalah latihan marketing,” ujar Hiannanta pekan lalu dikutip JATIMTimes.com.

Untuk bisa mengetahui market atau pasar, pihak sekolah mengarahkan siswa menganalisa peluang pasar. Misalnya menyasar ke hotel dan instansi pemerintah maupun tempat pariwisata untuk menjual produknya. “Kebetulan ada peluang dipamerkan di sini. Hotel menyambut baik. Siswa mendapat tempat praktek sekaligus hotel bisa menambah daya tariknya,” papar guru mata pelajaran seni budaya itu.

Sementara itu, Assisten Sales Manager Swiss-Belinn Malang, Erwinda Moonica mengatakan bahwa saat ini industri perhotelan dituntut untuk semakin kreatif demi menarik minat kunjungan tamu. Tidak hanya terkait promo, namun kegiatan yang bisa menarik pengunjung pun diharapkan bisa dilakukan secara rutin.

Hal itu tidak lain bertujuan untuk meningkatkan revenue (pendapatan) hotel. “Dalam event kali ini kami menggandeng sektor pendidikan. Ada dua SMK yang kami ajak bekerja sama melakukan demo membatik, membuat suvenir topeng dan juga patissiere (membuat kue pastry),” ujar Winda, sappaan akrabnya.

Dia menerangkan, pihak hotel ingin menambah point of interesting dengan digelarnya acara ini. “Kan biasanya tamu hanya datang nginep terus keluar hotel. Nah, kami ingin memberikan kegiatan berbeda. Yakni dengan membatik dan lukis topeng,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan tersebut sekaligus mengangkat budaya yang ada di Malang. “Kami ingin angkat budaya khas Malang seperti batik dan topeng. Tamu juga bisa tanya-tanya dan praktek langsung ” terangnya. Bahkan, hasil praktek tersebut juga bisa dijadikan souvenir untuk dibawa pulang.

Dia mengatakan, kegiatan ini diharapkan bisa menarik perhatian para tamu, khususnya tamu dari luar kota. “Biar menambah wawasan tamu yang datang,” imbuhnya.

Winda mengungkapkan, kegiatan ini akan dilakukan secara rutin, yakni setiap hari Sabtu sekitar pukul 14.00-18.00 berlokasi di area lobi hotel. Dia menyampaikan, dengan event ini diharapkan bisa menambah okupansi hotel. Jika pada hari biasa berada di angka 75 persen, diharapkan pada akhir pekan bisa mencapai 98 persen. (ist)

Institut Francais Kepincut Seni Budaya Sumenep

foto
Foto bersama rombongan IFI dengan Bupati Sumenep A Busyro Karim dan Kadsibudparpora. Foto: PortalMadura.com.

Institut Francais Indonesia (IFI) ‘kepincut‘ dengan seni-budaya yang dimiliki warga Kabupaten Sumenep, Madura. Lembaga dibawa kendali Kedutaan Besar Prancis di Indonesia itu mengajak kerjasama dan menjadwalkan tampil bareng (kolaborasi) seni budaya, Mei 2018 di Kabupaten Sumenep.

Keinginan pihak IFI tersebut disampaikan langsung oleh Direktur IFI Benoit Bavausel pada Bupati Sumenep A Busyro Karim, di rumah Dinas Bupati Sumenep, pekan lalu.

“Saya bersama rombongan bertemu dengan bapak Bupati untuk membicarakan kolaborasi seni dan budaya Sumenep dengan Prancis. Intinya, kami ke Sumenep untuk memadukan kedua gaya seni dan budaya dua negara Indonesia yakni Sumenep dan Prancis,” kata Benoit Bavausel, usai bertemu dengan orang nomor satu di Sumenep, dikutip PortalMadura.com.

Ia mengaku senang bisa bertemu dengan Bupati dan sangat terbuka. “Terima kasih,” ujarnya. Dan pihaknya yakin, kolaborasi seni budaya yang digarap seniman Sumenep dengan Prancis akan menarik dan menajubkan.

Bupati Busyro Karim menyambut baik kedatangan dan rencana IFI tersebut. “Ini bagus dan saya merespon baik. Insyaallah digelar bulan Mei ini. Sumenep sendiri kan banyak even,” kata Busyro.

Menurutnya, yang sangat mungkin dalam pertunjukan kolaborasi tersebut, yakni seni bela diri (pencak silat) dan topeng. “Dua seni itu yang kayaknya bisa dipadukan,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora), Sufiyanto, menjelaskan, usai pertemuan antara pihak IFI dengan Bupati, rombongan IFI langsung melakukan survie lokasi. “Ini sedang survei lokasi,” jelasnya.

Pihaknya akan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan kolaborasi seni-budaya Prancis dengan Sumenep. “Kami akan berusaha maksimal agar kolaborasi itu benar-benar ada dampak positif bagi masyarakat Sumenep,” pungkasnya. (pmc)

Galang Dana Kampanye, Pamerkan Lukisan Affandi

foto
Singky Suwaji (depan) bersama lukisan ‘Papua’ karya Affandi tahun 1974. Foto: Istimewa.

Sebagai wujud dukungan kepada pasangan calon gubernur-wakil gubernur Jatim pasangan nomer dua yakni Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno, kelompok relawan Surabaya berencana menggalang dana kampanye dengan cara menggelar pameran lukisan.

Tak tanggung-tanggung, sepertinya acara ini bakal menjadi pameran lukisan paling spektakuler di tahun 2018, karena disamping menggelar hasil karya 30 pelukis ternama, panitia juga bakal memamerkan sekaligus melelang dua lukisan karya sang maestro Affandi Koesoema (alm).

“Sebenarnya ini ide dari Bang Saleh Ismail Mukadar dengan tujuan menggalang dana untuk kampanye pasangan calon nomer dua (Gus Ipul-Puti), sesuai rencana, pameran akan digelar pada Minggu 25 Maret di Hotel Bumi Surabaya,” ucap relawan Gus Ipul-Puti, Singky Soewadji saat berada di kereta api, dalam perjalanannya dari Jogja menuju Surabaya, pekan lalu dikutip SuaraPublikNews.

Singky menerangkan bahwa tujuannya ke Kota Gudeg untuk menemui keluarga sang Maestro Affandi, terkait rencana pameran lukisan yang bakal digelar untuk penggalangan dana kampanye paslon Gus Ipul-Puti.

“Alhamdulilah kami diterima langsung Ibu Kartika Affandi, dan yang paling menggembirakan, ternyata beliau merespon baik acara pameran ini. Karena bakal menurunkan 10 lukisan keluarga, dan 2 diantaranya adalah karya sang maestro Affandi,” terang pengusaha dan penggiat serta pecinta satwa ini.

Dua lukisan karya Affandi itu, lanuut Singky, yang satu dibuat tahun 19974 dan lainnya pada 1976, yakni lukisan berjudul ‘Petarung Sejati’ nilainya mencapai Rp 10 miliar dan lukisan berjudul ‘Papua’ nilainya sekitar Rp 25 miliar.

“Hasil perbincangan kami selama tiga jam, ternyata beliau sekelurga yakni istri anak dan cucu Affandi bersedia hadir langsung di lokasi pameran, yang nantinya juga disertai demo melukis oleh keluarga Affandi,” tuturnya.

Saleh Ismail Mukadar menambahkan munculnya ide pameran lukisan untuk tujuan penggalangan dana kampanye ini karena melihat potensi budaya bangsa yang sangat kuat, terutama di bidang seni lukis.

“Besarnya sebuah bangsa tergantung kekuatan budayanya, maka hal-hal yang seperti ini menyangkut karakter sebuah bangsa, karena kami ini kaum nasionalis yang pecinta seni, dan Bung karno juga menyukai seni terutama seni lukis, maka harus bisa menghargai sekaligus menghidupkan para seniman lukis, karena hasil karyanya tak ternilai harganya,” jelasnya.

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan bahwa seluruh hasil lelangnya akan disumbangkan seluruhnya kepada paslon Gus Ipul-Puti untuk dana kampanye. “Ini merupakan wujud keseriusan dukungan kami tidak lebih dan tidak mencari keuntungan, apalagi embel-embel lainnya,” pungkasnya.

Kini panitia yang terlibat pameran lukisan akbar ini semakin disibukkan dengan berbagai persiapan, karena menyangkut pengamanan dan tranportasi angkutan untuk beberapa lukisan maha karya Affandi dari Jogja, karena harus memberikan jaminan asuransi.

“Saat pameran nanti, kami tidak hanya mendatangkan pasangan calon Gus Ipul dan Mbak Puti, tetapi kami juga sedang berusaha untuk menghadirkan Ibu Megawati Soekarnoputri,” tutup Singky. (ita)