Tengkorak kuno yang kembali ke Indonesia. Foto: Kemdikbud.go.id.
Australia membantu mengembalikan lima buah benda cagar budaya ke Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di kantor Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta (29/8/2018).
Kelima benda tersebut terdiri dari tiga buah tengkorang Suku Asmat dan dua buah tengkorak Suku Dayak.
Mendikbud Muhadjir Effendy menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Australia serta Kemenlu dan Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia. Karena atas usaha dan kerja kerasnya, lima artefak yang tak terhingga nilainya tersebut telah kembali ke tanah air.
“Terima kasih kepada Bu Menlu dan jajaran yang telah berhasil mengembalikan artefak, cagar budaya yang tak ternilai harganya ke Indonesia. Ini adalah bentuk komitmen yang tak terniai nilainya antar dua negara, yaitu Pemerintah Indonesia dan Australia,” ucapnya.
Ia pun menyampaikan bahwa semenjak Undang-undang Pemajuan Kebudayaan diresmikan, Kemendikbud memiliki payung hukum yang kuat untuk melindungi, melestarikan, dan memelihara berbagai macam artefak dan nilai budaya, baik yang benda maupun yang tak benda.
“Mudah-mudahan kita semakin tumbuh menjadi bangsa yang menghargai cipta karsa dan karya dari pendahulu kita yang telah membangun Indonesia,” tutur mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Menlu Retno Marsudi dalam kesempatan yang sama, juga turut menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah Australia. Karena ini merupakan hasil dari komitmen kerja sama antara Indonesia dan Australia, salah satunya dalam bidang penegakan hukum antara dua negara.
Sebelumnya kelima artefak tersebut diselamatkan dari penyelundupan dan perdagangan ilegal di Australia. Selanjutnya melalui Ministry for The Arts, Pemerintah Australia menyerahkan benda-benda cagar budaya tersebut ke Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia di Canberra.
Kemudian, oleh Duta Besar Indonesia untuk Australia Yohanes Legowo, kelimanya dibawa langsung kelimanya ke Indonesia melalui Kemenlu untuk diserahkan kepada Kemendikbud. (sak)
Warga Tawun, Kasreman, Kabupaten menggelar tradisi Keduk Beji. Foto: Antaranews.com.
Warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menggelar tradisi atau upacara adat Keduk Beji di Taman Wisata Tawun guna melestarikan budaya daerah setempat.
“Upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon berdasarkan penghitungan tanggal Jawa Islam. Tujuannya adalah untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu,” ujar sesepuh Desa Tawun yang juga selaku Juru Silep, Mbah Wo Supomo, kepada wartawan, pekan lalu.
Menurut Mbah Pomo, panggilan akrab Mbah Wo Supomo, inti dari upacara Keduk Beji adalah penyilepan dan penggantian kendi yang disimpan di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut ada di dalam gua yang terdapat di dalam sumber.
“Setiap tahunnya, kendi di dalam sumber air Beji diganti melalui upacara ini. Hal itu dimaksudkan agar sumber air Beji tetap bersih,” kata dia, seperti dikutip Antaranews.com.
Adapun, sumber air Beji yang berada di Taman Wisata Tawun merupakan sumber air yang sangat penting bagi warga sekitar. Air dari sumber itu digunakan untuk minum, pengairan sawah, dan sumber air di taman Tawun sendiri.
Karena itu, kebersihan sumbernya harus terus dijaga agar tidak mati. Terlebih saat musim kemarau seperti ini, keberlangsungan air di sumber Beji sangatlah penting.
Adapun, upacara Keduk Beji dimulai dengan melakukan pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh warga Desa Tawun yang berjenis kelamin laki-laki, baik tua, muda, maupun anak-anak turun ke sumber air untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.
Selama proses pembersihan, para kaum laki-laki yang berada di sumber air Beji menari dan melakukan tradisi saling pukul dengan ranting sambil diiringi tabuhan gendang.
Setelah itu, upacara dilanjutkan dengan penyilepan dan penggantian kendi di dalam pusat sumber. Yang berhak menyelam dan mengganti kendi di sumber air adalah keturunan dari Eyang Ludro Joyo yakni tokoh sesepuh desa yang dulunya dipercaya jasadnya menghilang di sumber Beji saat bertapa.
Upacara dilanjutkan dengan penyiraman air legen ke dalam sumber Beji, dan penyeberangan sesaji dari arah timur ke barat sumber. Kemudian, ditutup dengan selamatan dan makan bersama berkat dari Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon yang telah disediakan bagi warga untuk mendapatkan berkah.
Bupati Ngawi Budi Sulistyono mengatakan, selain melestarikan sumber air, upacara Keduk Beji juga merupakan ikon wisata budaya Pemkab Ngawi.
“Keduk Beji telah menjadi salah satu budaya yang khas di Ngawi. Selain itu, agenda Keduk Beji sudah menjadi identitas daerah Ngawi. Kewajiban kita untuk melestarikanya,” kata Bupati Ngawi Budi.
Sementara, setiap tradisi itu digelar, ribuan wisatawan selalu berkunjung ke Taman Tawun, Ngawi, tempat dimana upacara tersebut dilakukan. Mereka berasal dari wilayah Ngawi, Madiun, Magetan dan daerah sekitarnya. (ant)
Delegasi Yayasan Karya Cipta Indonesia di Tiongkok. Foto: Kemlu.go.id.
Mei Li De Suo Luo He, Wo Wei Ni Ge Chang! (Bengawan Solo, riwayatmu ini). Sepenggal lagu Bengawan Solo versi Mandarin itu didendangkan dengan penuh penghayatan oleh Wakil Sekjen Asosiasi Musisi Tiongkok dan pencipta lagu ternama, Xiong Wei, dihadapan delegasi Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) yang berkunjung ke kantor Asosiasi tersebut di Beijing, pekan lalu.
Delegasi Indonesia dipimpin Dharma Oratmangun selaku Ketua Umum Yayasan KCI dan didampingi Tedjo Baskoro (Sekretaris Jenderal), Christiena Sopacua (General Manager), Bagus Novantri Baskhoro (Divisi Digital) beserta perwakilan dari KBRI Beijing.
Hadir dalam pertemuan adalah Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Musisi Tiongkok Wang Jianguo dan Xiong Wei yang didampingi oleh Wakil Direktur bidang Pelayanan Hak Cipta, Federasi Seni dan literatur Tiongkok, Li Yulong beserta perwakilan Divisi Kerja Sama Luar Negeri Asosiasi Musisi Tiongkok, Cheng Guichao dan Liu Tianyu.
Sebagai Lembaga Manajemen Kolektif di bidang Karya Cipta Musik, Yayasan KCI menggalang kerja sama dengan lembaga terkait di Tiongkok dalam bidang proteksi karya cipta, baik untuk lagu Indonesia di Tiongkok maupun lagu Tiongkok di Indonesia.
“Indonesia dan Tiongkok adalah dua negara besar yang bersahabat. Persahabatan itu akan semakin kuat jika people-to-people contact antara kedua negara dapat terjalin erat,” ungkap Dharma Oratmangun, dikutip RRI.co.id.
Dari pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan bersahabat, kedua delegasi memperoleh banyak ide kerja sama antara lain pertukaran lagu, penerjemahan lagu-lagu Indonesia ke dalam Bahasa Mandarin dan sebaliknya, serta festival musik.
Saat ini, Yayasan KCI telah mempersiapkan sekitar 50 buah lagu yang siap diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, untuk dipilih sesuai dengan selera penikmat musik Tiongkok.
Keakraban yang terjalin bahkan menjadi inspirasi bagi Dharma Oratmangun untuk menciptakan sebuah lagu bersama Xiong Wei berjudul Xin Yu Xin (dari hati ke hati). Lagu ini akan menjadi simbol persahabatan yang erat bagi masyarakat kedua negara.
Musik adalah bahasa universal yang tak mengenal batasan negara maupun bahasa. Kerja sama yang terjalin erat antar para seniman Indonesia dan Tiongkok adalah wujud nyata diplomasi Indonesia yang dilakukan oleh masyarakat.
Kerja sama ini juga menjadi salah satu elemen penting penguatan people-to-people contact yang mendorong terjalinnya saling pemahaman dan memperkokoh persahabatan antar masyarakat kedua negara. (ist)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan akan mulai merancang kurikulum muatan lokal (mulok) bahasa daerah untuk berbagai daerah di Indonesia.
Mengingat hingga saat ini kurikulum mulok bahasa daerah belum terbentuk, dan penyerapan bahasa daerah dinilai bisa mempermudah perancangan kurikulum tersebut.
“Ya, sebetulnya memang sama (tanggungjawab) daerah, tapi kan soal kurikulum itu memang diatur oleh Puskurbuk sebagai Lembaga yang diberi mandat,” jelas Muhadjir di Gedung A Kemendikbud seperti dilansir Republika.co.id, pekan lalu.
Dia mengklaim, penyerapan bahasa daerah juga langkah tepat untuk melestarikan bahasa minor -bahasa daerah yang memiliki kosa kata kurang dari seribu dan ruang lingkupnya terbatas- agar tidak punah.
Terlebih bahasa minor yang ada di Indonesia sangat banyak sehingga tidak bisa dibiarkan berjalan secara alamiah, namun juga harus dirancang by design.
“Penyerapan bahasa itu tidak hanya by nature harus ada design, apalagi maaf kalau saya sebut wilayah di Indonesia Timur itu sangat banyak bahasa lokal (minor), yang kalau tidak dirancang secara sungguh-sungguh agar ada proses saling menyerap ini maka dikhawatirkan punah,” kata dia.
Selain merancang kurikulum, Muhadjir juga meyakini proses penyerapan bahasa itu akan bisa membentuk bahasa daerah Papua. Mengingat, hingga saat ini di Papua tidak memiliki bahasa daerah.
“Jadi kan nanti diajarkan kepada peserta didik, jadi walau beda bahasa minornya tetapi karena sudah (melalui proses penyerapan bahasa) ada bahasa induknya, mereka (siswa) bisa saling memahami sehingga nanti bisa berkomunikasi,” kata Muhadjir.
Dia mengatakan, perancangan kurikulum Mulok bahasa daerah tidak bisa sembarangan karena harus melibatkan berbagai pihak mulai dari ahli bahasa, akademisi, hingga masyarakat penutur bahasa lokal (minor) yang ada.
Karena itu, dalam Semiloka dan Deklarasi Pengutamaan Bahasa Negara yang diselenggarakan Badan Bahasa Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerjasama dengan Universitas Sebelas Maret, Mendikbud meminta agar akademisi dan pihak-pihak yang bersangkutanuntuk merumuskan hal-hal tersebut.
“Ini sangat vital, karena jika kita ingin membangun negara apalagi wilayah Timur, tidak mungkin jika kita tidak mengembangkan bahasa juga. Jadi kita selama ini jangan beranggapan yang dibangun itu harus infrastruktur, harus diikuti juga pembangunan nonfisik, yaitu budaya dan salahsatu budaya itu adalah bahasa,” tegas Muhadjir.
Namun begitu, Ketua Program Studi Sastra Daerah untuk Sastra Jawa Universitas Indonesia (UI) Dwi Puspitorini menilai wacana penyerapan Bahasa daerah tidak tepat.
Karena menurut dia, penyerapan bahasa terjadi secara alamiah dan tidak bisa diatur ataupun direkayasa.
Dwi juga menjelaskan, penyerapan bahasa lokal terjadi bergantung pada faktor-faktor yang memengaruhinya. Misalnya tergantung pada kebutuhan penutur, pengaruh bahasa satu dan lainnya, hingga bergantung kontak bahasanya.
“Titik pangkalnya kan bahasa itu bukan benda mati. Jadi dia tidak bisa diatur bahasa itu harus di sini, harus di sana, kalau misalnya harus dikumpulkan dalam satu bahasa induk pun saya rasa tidak bisa mengumpulkan disatu wilayah begitu ya. Intinya tidak bisa direkayasa,” jelas Dwi. (rep)
Tim PPKD Kabupaten Blitar saat memberi laporan ke Bupati Blitar. Foto: Istimewa.
Deadline pengumpulan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kota/Kabupaten Se-Indonesia akan berakhir pada 31 Agustus 2018.
Mendekati deadline, tim penyusun PPKD Kabupaten Blitar berhasil menyusun laporan yang diserahkan langsung Bupati Blitar kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi di Jakarta.
Yang menjadikan istimewa dalam PPKD tersebut, Kabupaten Blitar akan mengusung sesanti ‘Hurub Hambangun Praja’ sebagai tagline yang merangkum seluruh Kebudayaan Blitar.
Dimana dalam maknanya, ‘Hurub Hambangun Praja’ sendiri memiliki arti semangat yang menyala-nyala yang terbingkai dalam satu kesatuan gerak kerjasama, bahu membahu, dan gotong royong dalam membangun masyarakat.
Rangga Bisma Aditya, salah satu tim penyusun PPKD Kabupaten Blitar, mengatakan ‘Hurub Hambangun Praja’ yang juga merupakan sesanti Kabupaten Blitar, digunakan sebagai tagline yang merangkum seluruh objek kebudayaan yang berada di Kabupaten Blitar.
“Hurub Hambangun Praja juga mencakup berbagai peristiwa yang ada di Blitar, termasuk diantaranya tertulis dalam prasasti yang ada di Blitar,” kata Rangga Bisma Aditya.
“Dalam prasasti yang kesemuanya merupakan hadiah sima, menyatakan bahwa masyarakat Blitar merupakan masyarakat yang memiliki kepribadian adi luhung serta memiliki keteladanan yang patut diperhitungkan keberadaannya,” imbuhnya.
Kabupaten Blitar merupakan salah satu dari 13 Kota/Kabupaten se-Indonesia yang menyerahkan PPKD kepada Mendikbud di Jakarta (29/8) lalu.
Saat menerima Laporan PPKD dari Tim Penyusun, Bupati Blitar H Rijanto mengapresiasi setinggi-tingginya kepada tim yang terdiri dari Suwandito, Luhur Sejati, Khusna Lindarti, Hartono, Rangga Bisma Aditya, Maryani, Indah Iriani, Purwanto, Imam Riyadi, Ferry Riyandika, dan Rahmanto Adi tersebut.
Buoati Bitar mengapresiasi Tim Penyusun yang sejak dua bulan lalu mencurahkan tenaga untuk mengerjakan PPKD. Rijanto juga mengucapkan terima kasih atas dijadikannya ‘Hurub Hambangun Praja’ yang juga merupakan sesanti Blitar, dijadikan tagline dalam Laporan PPKD.
“Nantinya akan dijadikan landasan penyusunan Strategi Kebudayaan Nasional serta Acuan RPJP dan RPJMD Kabupaten Blitar,” jelas Rijanto.
PPKD merupakan amanah UU No 5 Thn 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Perpres No 65 Thn 2018 tentang Tata Cara Penyusunan PPKD dan Strategi Kebudayaan.
Setiap Kota/Kabupaten dan Provinsi di seluruh Indonesia wajib menyusun PPKD sebagai bahan untuk merangkum Strategi Kebudayaan Nasional yang akan dirumuskan Desember 2018 di Jakarta. (rba)
Akbar Wiyana, salah satu pendiri Byek memeriksa Instagramnya. Foto: Beritagar.id.
Jangan santen ono kemangine
Jagung bakar ono olese
Nahan kangen raino bengine
Bingung cupar nono putuse
Dalam bahasa Indonesianya kira-kira artinya begini:
Sayur bersantan dihiasi kemangi
jagung bakar diberi olesan
menanggung rindu setiap hari
dibakar cemburu tiada putusnya.
Basanan, salah satu jenis puisi tradisional berbahasa daerah Using itu diunggah oleh @Byekbanyuwangi di Instagram 10 Juni lalu.
Basanan itu memantik keriuhan warganet, disukai 1.771 akun dan dikomentari puluhan pengikutnya dengan bahasa daerah yang sama.
Sejak membuat akun di Instagram pada 2016, @Byekbanyuwangi seperti dilaporkan Beritagar.id, telah mengunggah 1.646 foto, gambar dan video yang bermuatan basanan dan keragaman budaya lokal.
Karena dikemas ringan dan visual menarik, Byek Banyuwangi cukup berhasil menarik minat generasi milenial. Pengikutnya yang menembus angka 47 ribuan, saling berbalas obrolan daring berbahasa Using dengan cair.
Byek adalah salah satu komunitas di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang aktif mempopulerkan bahasa lokal Using lewat media sosial.
Komunitas itu digawangi empat pemuda berusia di bawah 30 tahun: Akbar Wiyana (25), Onky Reno (26), Aditya Catur Ginanjar (25) dan Holipah (23).
Keempatnya mewakili generasi milenial yang akrab dengan dunia digital, lulusan kampus ternama di sejumlah kota serta kini bekerja di berbagai bidang mulai jurnalis radio, desain grafis, pegawai pemerintah dan guru.
Keragaman latar belakang itu, kini disatukan oleh satu hal: tak ingin bahasa daerahnya terpuruk.
Bahasa Using dituturkan oleh kelompok etnis Using di kabupaten paling timur Pulau Jawa. Corak kebudayaan mereka adalah agraris yang memiliki adat, tradisi dan kesenian khas seperti gandrung, seblang, kebo-keboan, barong, angklung, hadrah kuntulan dan sebagainya.
Akbar Wiyana, salah satu pendiri Byek, menjelaskan, komunitasnya berawal dari keresahan setelah menyaksikan banyak generasi muda di daerahnya yang tidak lagi menggunakan bahasa Using untuk berkomunikasi.
Fenomena itu semakin nampak pada generasi muda Using yang sedang menempuh pendidikan ke luar kota. “Dulu saat kuliah di Malang, sering bertemu sesama anak Using, namun mereka tidak lagi memakai bahasa daerahnya. Mereka malu akan dianggap kampungan,” kata dia kepada Beritagar.id.
Byek sendiri berasal dari bahasa Using yang artinya “wah”. Menurut Akbar, mereka memilih Instagram karena sedang populer dan banyak dipakai anak muda —sesuai target utama yang ingin mereka bidik. Sebab, bahasa daerah hanya bisa berumur panjang apabila dituturkan oleh generasi muda.
Karena dikelola oleh generasi yang sezaman, maka Byek pun tak kesulitan memproduksi konten-konten berkarakter anak muda masa kini.
Hasilnya, lebih dari separuh pengikutnya (54 persen) berusia 18-24 tahun, dan 25 persen berusia 25-34 tahun. Followernya tak hanya tinggal di Banyuwangi, melainkan juga dari Surabaya, Jember, Denpasar, dan Malang.
Akbar mencatat banyak hal menggembirakan dari interaksi di Instagram itu. Generasi muda akhirnya dapat berekspresi menggunakan bahasa Using. Mereka juga belajar sejumlah kosakata yang sebelumnya asing.
Di jagat Facebook, grup paling awal terbentuk yakni Gesah Cara Using Banyuwangenan Aselai. Sejak dibuat tahun 2009, anggotanya hampir 16 ribuan.
Salah satu admin, Hasan Sentot, menjelaskan, penggagas grup tersebut sebelumnya intens berdiskusi via website http://www.lareosing.org. Namun karena anggota website tersebut terlalu umum, mereka kemudian membuat grup khusus di Facebook.
Menurut Hasan, Facebook dipilih karena saat itu sedang naik daun. Segmennya pun menjangkau lebih banyak kalangan, mulai anak muda, generasi tua hingga mereka di perantauan seperti tenaga kerja Indonesia.
“Mungkin saat tinggal di Banyuwangi, mereka malu berkomunikasi dengan bahasa Using. Tetapi saat melihat di Facebook, mereka mengaku senang dan mengobati rasa kangen dengan kampung halaman,” kata Hasan yang tinggal di Surabaya ini.
Berbeda dengan @Byekbanyuwangi yang riuh oleh generasi muda, anggota aktif grup Gesah Cara Using Banyuwangenan Aselai didominasi berusia di atas 30 tahun.
Menurut Hasan, anggota muda lebih pasif karena grup sering membahas topik-topik ‘berat’ seperti sejarah, budaya dan bahasa daerah. Sering pula berdiskusi ilmiah dengan sajian data dan literatur.
“Itulah yang membuat anak muda sering tidak nyambung dengan isi diskusi. Jadi grup kami terkesan eksklusif,” kata Hasan.
Menembus Banyak Hambatan
Antariksawan Jusuf, mengunggah gambar wadah nasi dari anyaman bambu ke grup Pelajaran Bahasa Using di Facebook, 4 Agustus 2018. Ia memberi keterangan, bahwa dalam bahasa Using, wadah nasi tersebut bernama kemarang.
Lain waktu, dia mengunggah perbedaan kata “reweg” dan “rewek”. Dalam bahasa Using, reweg berarti menggerai rambut. Sedangkan rewek berarti sibuk karena banyak anak.
Demikianlah cara Antariksawan Jusuf memperkenalkan kosakata bahasa Using kepada publik. Grup yang dibuat 2016 tersebut dikelola oleh paguyuban Sengker Kuwung Belambangan, komunitas penggiat Bahasa Using yang diketuai oleh Antariksawan, perantau yang kini tinggal di Jakarta.
Grup itu dibuat khusus bagi mereka yang ingin belajar bahasa Using sesuai kaidah yang baku. Termasuk pula sebagai tempat tanya jawab bagi siswa, wali murid, dan guru yang kesulitan dengan pelajaran Bahasa Using di sekolahnya.
Di Facebook, Sengker Kuwung Belambangan juga membuat grup Cerpen Using dan akun organisasi. Menurut Antariksawan, media sosial menjadi strategi mereka untuk menjangkau generasi milenial agar lebih akrab dengan bahasa daerahnya.
“Medsos sangat membantu kampanye kami terkait penggunaan bahasa tulis yang baku,” kata Antariksawan dalam surat elektroniknya.
Paguyuban Sengker berdiri 2013 dengan 14 anggota dari pelbagai usia dan profesi. Mereka tergerak membuat organisasi karena prihatin dengan bahasa daerahnya yang kian terpinggirkan di kampungnya sendiri.
Menurut Antariksawan, makin banyak keluarga yang meninggalkan bahasa Using untuk bercakap sehari-hari sehingga tidak terwariskan ke anak-anak.
Tak hanya aktif berkampanye di media sosial, Sengker Kuwung Belambangan juga telah menerbitkan 24 buku berbahasa Using berbagai genre mulai dari kumpulan cerpen, kumpulan cerita anak, kumpulan puisi, kumpulan artikel populer, buku musik, novel, penunjang pelajaran sekolah, dan permainan kuartet muatan lokal.
Bahkan salah satu novel bahasa Using yang mereka terbitkan, Agul-agul Belambangan, mendapatkan penghargaan Satra Rancage tahun 201. Meski dimasukkan ke kategori Bahasa Jawa, karya Mohammad Syaiful itu mengalahkan 19 karya sastra lainnya.
Tanpa dukungan media tulis, kata Antariksawan, bahasa tutur akan cepat memudar. Apalagi pelestarian bahasa Using memiliki banyak hambatan di ‘rumahnya’ sendiri, meski telah dilindungi melalui Perda No 5 Thn 2007 tentang Pembelajaran Bahasa Daerah pada Jenjang SD.
Lewat perda tersebut, bahasa Using sebelumnya wajib diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Namun pengajaran di SMP terhenti setelah Pemerintah RI memberlakukan Kurikulum 2013, yang mewajibkan guru mengajar sesuai bidang keilmuannya. Sementara, belum ada guru sarjana Bahasa Using.
“Sehingga Bahasa Using saat ini hanya diajarkan di tingkat SD oleh guru kelasnya. Itupun tanpa didukung oleh ketersediaan buku baru sehingga siswa tidak memiliki buku pengayaan.”
Hambatan paling berat, kata dia, adalah terbitnya Pergub No 19 Thn 2014 tentang Mata Pelajaran Bahasa Daerah Sebagai Muatan Lokal Wajib di Sekolah/Madrasah.
Dalam Pergub tersebut, Pemerintah Provinsi hanya mengakui muatan lokal Bahasa Jawa dan Madura di sekolah.
Di tengah kurangnya dukungan pemerintah itulah, paguyuban Sengker Kuwung Belambangan, bergerak indie menggelar pelatihan menulis dan lomba. “Supaya pengajaran bahasa Using kepada anak-anak SD tidak mati sia-sia,” kata Antariksawan, berharap.
Dian Hariyono, guru kelas IV SDN IV Penganjuran Banyuwangi, mengatakan, dia sangat mengandalkan internet untuk memperkaya materi Bahasa Using di kelas.
Selama ini materi ajar muatan lokal Bahasa Using sangat kurang, karena hanya bersumber dari lembar kerja siswa.
“Sementara buku materi ajar yang diterbitkan tahun 2007 sudah rusak dan tidak ada terbitan baru. Jadi saya sering meminta siswa untuk mencari referensi di internet,” katanya yang sudah 12 tahun mengajar Bahasa Using.
Di tingkat SD, muatan lokal Bahasa Using diberikan di kelas 4,5 dan 6 dengan durasi 2 jam setiap pekan.
Peneliti Balai Bahasa Jawa Timur, Oktavia Vidiyanti, menuturkan, hadirnya internet sangat mendukung pelestarian bahasa daerah, karena dapat menjangkau generasi muda.
Melalui diskusi dan literasi yang intens di media sosial, kata dia, dengan sendirinya dapat mempertahankan eksistensi bahasa daerah. “Media sosial itu bisa membuat bahasa daerah bertahan,” kata dia.
Namun karena sifat media sosial yang terlalu bebas, kata dia, harus diimbangi oleh hadirnya komunitas-komunitas pengampu, seperti di Banyuwangi.
Komunitas pengampu itu yang harus melakukan edukasi bagaimana pemakaian bahasa daerah secara baku.
Balai Bahasa Jawa Timur mencatat ada empat bahasa daerah di Provinsi Jawa Timur yakni Jawa, Madura, Using dan Pendhalungan. Dari jumlah itu, bahasa Using dan Pendhalungan tergolong terpinggirkan.
Bahasa Using saat ini dituturkan oleh warga di 9 kecamatan dari total 25 kecamatan. Kondisinya pun, kata Okta, makin terdesak oleh bahasa daerah lain seperti Jawa dan Madura, terlebih setelah terbitnya Peraturan Gubernur Nomor 19 Tahun 2014.
Dalam penelitiannya, Vitalitas Bahasa Using Banyuwangi Berhadapan dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur No 19 Tahun 2014: Kisah Penyudutan Bahasa Using Banyuwangi (2016), Okta menulis, bahwa pergub tersebut dapat memunculkan benih-benih persaingan linguistik di Banyuwangi.
Dampaknya, bahasa Jawa menjadi lebih dominan, sedangkan bahasa Using tersisihkan di tempatnya sendiri.
Padahal, dari hasil penelitian Okta tersebut, bahasa Using punya vitalitas lingusitik yang tinggi bagi para pemakainya serta memiliki kamus, ejaan, dan tata bahasa yang dilindungi melalui Perda Banyuwangi No 5 Thn 2007.
Maka, kata dia, pelestarian bahasa daerah seperti Using tidak cukup dilakukan oleh komunitas-komunitas di media sosial saja. Melainkan juga harus didukung oleh pemerintah daerah, salah satunya dengan meninjau ulang Pergub No 19 Thn 2014. (ist)
Belasan tarian daerah Indonesia saat pembukaan Asian Games 2018. Foto: Asiangames2018.id.
Pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno menjadi ajang memperlihatkan kekayaan budaya Nusantara. Salah satunya saat segmen Earth. Di segmen ini 19 tarian dari Sabang hingga Merauke ditampilkan secara menakjubkan.
Kolaborasi besar ini mampu menarik perhatian saat #OpeningCeremonyAsianGames2018. Koreografer segmen ini telah diakui kehebatannya di kancah dunia. Namanya Eko Supriyanto. Namun ia lebih akrab disapa Eko Pece.
Keindahan koreografi Eko ini sudah dirasakan sejumlah diva papan atas dunia. Salah satunya Madonna. Eko bukan hanya menjadi koreografer buat show Madonna. Tetapi juga menjadi dancer-nya.
Lewat tangan dingin pria asal Solo ini, pembukaan Asian Games 2018 menjadi sangat berwarna. #PesonaAsianGames2018 menjadi tidak terbantahkan.
Tarian yang saat segmen Earth pun sangat merata. Dari Sumatera, ada Sipitu Cawan, Gending Sriwijaya, Tari Piring, Zapin, dan Tarian Transisi Bunga.
Sebagai wakil Pulau Jawa, Eko memilih mementaskan Lenong Betawi, Jaipongan, Sisingaan, Tarian Padang Bulan, dan Tari Gandrung Lanang Banyuwangi yang di-support langsung Bupati.
Tari Janger terpilih mewakili Bali. Kemudian, ada Tari Belian Bawo Katim, Tari Enggang, Tari Hudog. Dari Sulawesi, hadir Tari Maengket Modero Sulut dan Tari Kabasaran.
Sedangkan Tari Soya Soya menjadi wakil Maluku Utara. Aksi Tari Likurai Belu mewakili NTT, dan Tari Yospan memperlihatkan kekayaan Papua.
Total, Eko Supriyanto menyertakan 467 penari dalam segmen ini. Sedangkan kostum, dipercayakan kepada Rinaldi Yunardi.
Pujian datang dari Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurutnya kekayaan Indonesia disajikan secara utuh.
“Selurun kontingen dan wisatawan yang menyaksikan pembukaan Asian Games, baik langsung di stadion maupun dari layar kaca, bisa melihat kekayaan budaya Indonesia,” paparnya seperti dilansir Tribunnews.com.
Menurutnya, konsep yang disajikan saat pembukaan pun sangat dahsyat. “Bukan hanya culture yang disajikan, nature pun diperlihatkan. Gambaran gunung dan air terjun sangat luar biasa,” katanya.
Asal tahu saja, gunung yang ditampilkan di Stadion Gelora Bung Karno memiliki lebar 130m dan tinggi 27m. Gunung ini dikerjakan oleh 350 orang asli Indonesia. Utamanya oleh Urang Bandung.
Sedangkan air terjun yang menghiasi gunung, memiliki tinggi 17m dari tanah, dengan lebar 12m. Beban air mencapai 60 ton. Bobotnya setara dengan 140.000 liter air. Jika satu mobil tangki bisa mengangkut 5.000 liter air, berarti 28 mobil tangki hilir mudik ke Stadion GBK untuk mendukung atraksi yang wah tersebut. (ist)
Makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil di Kediri. Foto: nu.or.id.
Keberadaan pemakaman kuno layaknya sebuah kode yang mengandung banyak informasi baru atau menyisakan sebuah misteri. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penemuan baru terkait makam kuno, entah itu makam kuno dari pejabat penting, buruh, atau bayi.
Berikut deretan makam-makam kuno di Indonesia, seperti dilaporkan Sindonews.com, yang hingga detik ini masih menyimpan teka-teki.
Makam kuno sejarah Islam di Kudus
Makam kuno yang diperkirakan berusia ribuan tahun ditemukan di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Panjang kuburan itu masing-masing berukuran 1,5 x 2 meter, terbuat dari batu bata berbentuk kerucut.
Makam ini diperkirakan merupakan peninggalan sejarah Islam. Selain dari tumpukan batu batanya, model pengukubarannya dihadapkan ke barat atau arah kiblat.
Makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil
Makam ini berada di Kabupaten Kediri, tepatnya di komplek pemakaman Setana Gedong. Makam ini berada di sebelah barat laut Masjid Setana Gedong.
Menurut penelitian Prof Dr Habib Mustopo, guru besar UIN Malang mengatakan bahwa tokoh Syaikh Syamsuddin adalah seorang ulama besar yang hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa kerajaan Kediri.
Makam Fatimah binti Maimun
Makam Fatimah binti Maimun binti Habatallah ini berada di Dusun Leran, Desa Pesucian, Kecamatan Manyar, Gresik. Pada batu nisannya menunjukkan angka 475 H/ 1082 M.
Makam kuno Kerajaan Islam Lamuri di Aceh
Ratusan makam kuno ditemukan di kawasan perbukitan Kreung Raya, Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.
Di perbukitan yang diduga sebagai pusat Kerajaan Islam Lamuri di masa lampau itu, para arkeolog menemukan sekitar 474 makam kuno dengan batu nisan berukir tulisan Arab Jawi.
Saat ditelisik, di batu nisan itu tertulis nama-nama tokoh penting pada Kerajaan Islam Lamuri masa lampau.
Makam Sultan Malikus Saleh
Di Aceh Utara terdapat sebuah peninggalan makam kuno yang bertanggalkan 696 H/1297 M. Nama sang empunya makam tersebut adalah Sultan Malikus Saleh.
Beliau adalah Raja Pasai pertama yang mempunyai peranan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara.
Makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim
Di Gresik terdapat salah satu makam Islam tertua di Indonesia, yaitu makam salah satu waliyullah yang dikenal dengan sebutan Walisongo.
Tepatnya di kampung Gapura di dalam Kota Gresik terdapat makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau dikenal dengan nama Sunan Gresik. Makam ini bertuliskan angka 882 H/ 1419 M.
Makam kuno berusia 500 tahun di Sumenep
Sebanyak tujuh makam kuno yang diperkirakan berusia 500 tahun ditemukan di Dusun Kampung Baru, Desa Pandian, Sumenep Jawa Timur.
Di salah satu nisan makam kuno ditemukan tulisan dalam bahasa Arab yaitu Syeh Sayyid Abdullah, dia berjuluk Maha Pati Raja Anggadipa. Diperkirakan makam-makam tersebut terkait dengan makam raja-raja keraton Sumenep Asta Tinggi. (ist)
Pepaosan merupakan kesenian asli Lombok Barat. Foto: Netralnews.com.
Menurut dokumen berjudul “Pokok-Pokok Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Lombok Barat Tahun 2018”, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), bertekad untuk memajukan kesenian Pepaosan. Pepaosan sendiri menjadi simbol kebanggaan di Lombok Barat.
Kebulatan tekad tersebut diprakarsai langsung oleh Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid. Bersama tim PPKD, kajian dan diskusi terbuka telah dilakukan beberapa kali dalam rangka memantapkan PPKD 2018.
Pada 8 Juli 2018, forum diskusi PPKD menghasilkan rumusan bahwa Pepaosan merupakan kesenian asli Lombok Barat. Namun, generasi muda di Lombok Barat kurang tertarik untuk belajar seni Pepaosan. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan tindakan riil untuk mempertahankannya.
Forum tersebut, seperti dikutip dari Netralnews.com, dihadiri lintaskalangan, baik seniman, akademisi, dinas kebudayaan, dinas pendidikan, dan lain-lain. Mereka sepakat akan menggiatkan pementasan seni Pepaosan di setiap kecamatan di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Sebenarnya, seperti apakah kesenian Pepaosan?
Asal usul
Kesenian Pepaosan diperkirakan sudah berumur ribuan tahun. Pepaosan sebenarnya merupakan tradisi membaca manuskrip berbahasa Kawi yang ditulis di atas daun lontar yang berasal dari pohon tal atau pohon siwalan (Borassus flabellifer).
Manuskrip berbahasa Kawi sebenarnya merupakan pengembangan Bahasa Jawa Kuno yang mendapat pengaruh Bahasa Sansekerta. Jadi, kesenian ini lahir pada era animisme-dinamisme dan berkembang seiring penyebaran Hindu-Budha di Nusantara.
Istilah Kawi mempunyai arti “penyair”. Karya sastra dengan menggunakan Bahasa Kawi biasa disebut Kakawin, yang berupa rangkaian puisi dengan pola tertentu. Sedangkan Bahasa Jawa Kuno berasal dari rumpun Melayu-Polinesia yang dituturkan di seluruh Pulau Jawa, Madura, dan Bali.
Salah satu bukti tulisan Bahasa Jawa Kuno dapat kita lihat dalam Prasasti Sukabumi (804 M) yang ditemukan di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tulisan dalam prasasti tersebut menceritakan tentang sebuah empangan di terusan Sungai Sri Harinjing (kini Sungai Srinjing).
Tulisan dalam prasasti tersebut menggunakan Huruf Pallawa. Sementara, tulisan-tulisan selanjutnya menggunakan tulisan Jawa atau biasa disebut Hanacaraka.
Suku Sasak yang menjadi leluhur masyarakat Lombok Barat, kemudian menerima penyebaran bahasa dari Jawa, lalu disesuaikan dengan budaya setempat. Penyebaran Hindu-Budha hingga Islam (termasuk penggunaan Bahasa Arab) di Lombok Barat, ikut pula mempengaruhi.
Budaya setempat yang dipengaruhi budaya luar selanjutnya melahirkan karya sastra campuran, tetapi khas Suku Sasak. Dalam karya sastra itu terkandung tata nilai, norma, adat istiadat, dan tradisi mereka. Maka, dengan kata lain, Pepaosan adalah salah satu media transmisi kearifan budaya lokal.
Simbol keberagaman
Di Lombok Barat, naskah sastra yang ditulis di atas daun lontar biasa disebut Takepan. Jumlah keseluruhan tak kurang dari 3.700 buah dengan beragam aksara dan bahasa. Naskah tersebut merupakan simbol keberagaman budaya yang berpadu menjadi satu.
Namun bila dipetakan, bahasa yang digunakan dalam Pepaosan lebih banyak menggunakan Bahasa Jawa Kuno, Bahasa Sasak, dan Bahasa Sansekerta. Contoh naskah tua berbahasa Jawa Kuno antara lain Serat Menak, Purwadaksina, Jatiswara, dan Prudaksina.
Untuk naskah berbahasa Sasak antara lain Kitab Monye, Megantaka, Mandalika, dan Cupak Gurantang. Naskah ini ditulis menggunakan Aksara Hanacaraka lengkap dengan kaidah-kaidah tembang yang pada prinsipnya sama dengan tembang Sunda, Jawa, Madura, dan Bali.
Secara fisik huruf atau tulisan Sasak hampir sama dengan huruf yang ada di Jawa. Orang Sasak biasa menyebut Huruf Sasak dengan nama Huruf Jejawan.
Naskah sastra tersebut umumnya bercerita tentang kisah para raja, kajian agama, petunjuk ritual, petunjuk pergaulan muda-mudi, dan nasihat-nasihat kehidupan. Naskah itu dibacakan (Pepaosan) untuk mengiringi ritual pernikahan, khitanan, ritual menanam padi (selamat dowong), dan lain-lain.
Jadi, melalui kesenian Pepaosan, masyarakat Lombok Barat secara langsung dan tidak langsung telah mengaktualisasikan budaya tulis, tradisi lisan, pelestarian manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, seni, dan bahasa. Lalu, bagaimanakah Pepaosan dilangsungkan?
Kesenian ini dimainkan oleh empat orang dengan mengenakan pakaian adat Suku Sasak. Orang pertama dinamakan pemaos (penembang). Orang kedua disebut piteges (penerjemah). Orang ketiga disebut penyarub (penyambung), dan keempat disebut pemboa (pendengar).
Seperti halnya kesenian lain yang lahir sebelum era Hindu-Budha, ada unsur animisme-dinamisme. Dalam Pepaosan, unsur tersebut masih bisa dilihat dengan adanya sesajen yang ditempatkan dalam sebuah wadah dari kuningan. Sesajen itu menemani proses acara Pepaosan.
Tembang yang disenandungkan dalam Pepaosan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa, yang diatur dalam pola baris dan bait. Tembang dalam Pepaosan sangat terikat dengan kaidah dan ketentuan yang bersifat baku dan tidak bisa diubah menurut keinginan sendiri.
Tiap tembang memiliki pola guru wilangan atau wicala (jumlah suku kata atau huruf setiap larik) dan guru lagu (suara akhir pada setiap larik). Dalam sastra Kawi, dikenal sebelas jenis tembang yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari masa prenatal hingga kematian.
Namun dalam kesenian Pepaosan di Lombok Barat, biasanya hanya menggunakan enam tembang. Keenam tembang tersebut adalah Asmarandana, Sinom, Pangkur, Durma, Dangdang atau Dhandanggula, dan Kumambang atau Maskumambang. (ist)
Launching event Festival Keraton Nusantara 2018 di Sumenep. Foto: Indopos.co.id.
Sumenep yang berada di Pulau Madura, mempunyai banyak destinasi indah. Keindahan tersebut akan diperkenalkan raja-raja di Nusantara.
Caranya melalui Festival Keraton Nusantara dan Masyarakat Adat ASEAN (FKMA). Sumenep dipercaya menjadi tuan rumah event yang akan diselenggarakan 27-31 Oktober 2018.
Penetapan Sumenep sebagai tuan rumah, berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara.
Festival ini dilaksanaka untuk menjaga tali silaturahmi antar keraton serta meningkatkan peran sebagai warisan budaya bangsa.
Menteri Pariwisata Arief Yahya, seperti dilansir Indopos.com, menyambut gembira rencana Festival Keraton Nusantara (FKN).
Menurutnya, penguatan cultural value dari Keraton Sumenep akan memberikan dampak terhadap commercial value. Semua harus menghasilkan kombinasi yang serasi.
“Memang, pelestarian budaya ini dirasa sangat perlu. Misinya, apalagi kalau bukan untuk mengenalkan adat tradisi dan budaya keraton yang bernilai luhur. Ini juga sekaligus melestarikan benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala sebagai aset serta sebagai daya tarik pariwisata,” ujar Menpar Arief Yahya, awal pekan.
Jadi, bukan hanya pada bangunan saja. Pengembangan dan pemanfaatan budaya juga ikut disentuh sehingga ada nilai-nilai yang bermanfaat.
“Peninggalan bangunan kesultanan atau keraton menjadi bagian dari atraksi dan menjadi tarik bagi wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman). Serta, untuk dikenalkan kembali sejarah dan budaya kita. Silahkan datang ke Sumenep sebagai satu-satunya Kabupaten Di Jawa Timur yang masih memiliki peninggalan sejarah keraton. Apalagi keratonnya masih original sesuai dengan aslinya,” papar Arief Yahya.
Akan ada beberapa pagelaran seni dan budaya bernuansa keraton dalam FKN ke-12 ini. Seperti Kirab Agung Prajurit Keraton, Pagelaran Kesenian Keraton, Pagelaran Upacara Adat Keraton, Pagelaran Busana Keraton, Pameran Benda-Benda Pusaka Keraton, Pertemuan Raja atau Sultan Nusantara.
Bupati Sumenep A Busyro Karim mengatakan, penyelenggaraan FKN 2018 bakal berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Dia menegaskan unsur pariwisata akan lebih menonjol dalam upaya mempromosikan Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia.
“Kami sangat bersyukur dengan ditetapkan Sumenep menjadi tuan rumah di event tahunan ini. Dan kami sudah menyiapkan. Para tamu dan delegasi juga dipersilakan untuk coba menginap di Pulau Gili Yang. Pulau dengan kadar oksigen terbaik ke dua di dunia,” tutur Busyro Karim, juga dewan pakar sekaligus dewan pembina FKMA.
Selain itu, lanjut Bupati, festival ini sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam menyongsong visit Sumenep Tahun 2018, sehingga diharapkan berdampak baik bagi perekonomian serta mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sumenep.
Festival Keraton Nusantara 2018 yang juga diikuti 50 keraton se Indonesia itu akan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sumenep.
Sehingga para seniman, budayawan, sejarawan dan seluruh warga Sumenep bisa memanfaatkannya untuk ajang silaturahmi dan berbagi ilmu.
“Termasuk bagi mahasiswa, dan siswa dari mulai SD sampai SLTA juga bisa ikut belajar, sejarah, budaya dan seni dari seluruh Indonesia,” tambahnya.
Sebagai tuan rumah, Sumenep akan menjamu para tamu peserta keraton dan masyarakat luas dengan menyajikan kesenian, benda keraton, situs, kuliner dan obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi, sedangkan para undangan keraton/kesultanan akan menyajikan budaya dan kesenian masing-masing.
Dalam rangkaian acara tersebut, juga diselenggarakan seminar serta kegiatan musyawarah anggota FSKN yang saat ini memiliki anggota sebanyak 58 keraton/ kesultanan dan 196 pemangku adat.
Untuk informasi, penyelenggaraan festival ini didahului road show di lima Keraton; yaitu Solo, Medan, Mempawah, Ternate, dan Denpasar. Lalu ditutup dengan acara puncak yang digelar di Sumenep, Pulau Madura.
Puncak festival dimeriahkan dengan berbagai acara, mulai musyawarah keraton nusantara, kirab budaya keraton, pentas seni, pameran pusaka, dan pameran kebudayaan keraton, sambungnya.
Ketua CoE Kemenpar, Esthy Reeko Astuty menambahkan, Indonesia pemilik keraton terbanyak hingga saat ini di ASEAN maupun di dunia. Diharapkan keraton sudah saatnya kembali diangkat menjadi satu potensi besar memajukan pariwisata Indonesia, sehingga bisa membantu perekonomian rakyat.
“Keraton Indonesia jadi yang terbanyak saat ini di dunia. Harusnya bisa jadi sumber ilmu, sumber dan pusat budaya, sumber ekonomi, juga destinasi wisata budaya yang datang ke keraton,” ujar Esthy didampingi Kepala Bidang Pemasaran I Regional II (Jawa) Wawan Gunawan.
Esthy mengatakan, Kemenpar mengapresiasi penyelenggaraan FKMA-V Tahun 2018 di Sumenep untuk meningkatkan peran dan fungsi keraton sebagai warisan budaya bangsa serta meningkatkan perekonomian daerah dari sisi pariwisata.
“Keraton sebagai warisan budaya bangsa menjadi aset pariwisata sehingga kegiatan FKMA tidak lepas dari kegiatan kepariwisataan. Sumenep sebagai tuan rumah FKMA ke-V mempunyai kesempatan untuk mempromosikan potensi pariwisatanya di antaranya tahun ini meluncurkan 36 event berskala tingkat kabupaten, provinsi, nasional, dan regional maupun internasional,” paparnya.
Sebanyak 50 Keraton se-Nusantara dan 100 peninjau dari 150 Keraton dipastikan hadir dalam FKN 3018 di Sumenep ini. Diperkirakan, jumlahnya menurut perkiraan mencapai 10 ribu orang.
Di kabupaten paling ujung Madura ini juga menyimpan beberapa tempat wisata yang begitu luar biasa. Ada banyak alternatif cara untuk pergi ke sana.
Dari Bandara Juanda, Surabaya, ada pesawat menuju Sumenep yang jadwalnya sehari sekali. Bila milih jalur darat, bisa naik Bis Damri Bandara – Terminal Bungur, lanjut bis AKAS menuju Sumenep. Ongkos sekitar Rp 40-50 ribu. Jika dari pelabuhan Tj. Perak, silakan menunggu bis AKAS yang akan menuju Sumenep.
Bagaimana dengan penginapannya? Ini penting, tapi tenang di Sumenep banyak hotel atau penginapan. Harga paling rendah ada yang di bawah Rp 50 ribu. Tapi juga ada hotel kelas Melati yang menawarkan rate Rp 200-300 ribu. (ist)