Bicara Seni Mbak Puti Selalu Bersemangat

foto
Puti Guntur Soekarno menghadiri acara Formasi Jatim. Foto: PDI Perjuangan Jatim.

Calon Wakil Gubernur Jatim Puti Guntur Soekarno bertemu dengan kalangan seniman dan budayawan Jawa Timur di Hotel Ibis, Jl Basuki Rahmat Surabaya, Sabtu (24/2) lalu.

Dihadapan para seniman yang tergabung dalam Forum Masyarakat Seni Indonesia (Fomasi), Puti berbagi cerita tentang dunia kesenian. Turut hadir Ketua Fomasi Jatim, Nonot Sukasmono. “Kalau sudah bicara seni, saya selalu bersemangat,” kata Puti yang dikenal piawai melukis dan bermain piano ini.

Puti mengaku tak asing dengan dunia kesenian. Sejak kecil, dia sudah diperkenalkan dengan seni. Keluarga besar Presiden pertama Ir Soekarno (Bung Karno) memang dikenal menggandrungi dunia seni.

Puti mengatakan, Soekarno punya darah seni yang kuat. “Bagi beliau, kesenian adalah wujud adab manusia, respons penuh cita rasa manusia dalam menghargai ciptaan Yang Maha Kuasa. Dan kini seni harus menjadi jalan bagi kita untuk memuliakan peradaban,” ujar cucu Bung Karno tersebut.

Berkat kecintaan kepada seni, setiap anak Soekarno dan cucu-cucunya diwajibkan bisa menari, paling tidak satu tarian tradisional.

Puti mencontohkan sang ayah, Guntur Soekarno, yang piawai menari dengan memainkan peran sebagai tokoh Gatotkaca. Adapun Megawati luwes ketika memainkan tari Srimpi. Dan Sukmawati andal dalam tarian Bali.

“Semuanya wajib hafal satu tarian daerah. Tante dan om saya, punya keahlian minimal satu tarian. Apalagi Om Guruh Soekarnoputra, hafal hampir semua tari-tarian,” ujar Puti.

Puti sendiri hafal dengan tarian Jawa dan Tari Gambyong. Di akun Instagram-nya, @puti_soekarno, Puti kerap mengunggah saat memainkan tarian di masa kecilnya. Bahkan, ketika bertemu sejumlah komunitas seniman, Puti tak canggung menunjukkan keterampilannya.

Bagi Puti, kesenian dan budaya salah satu karakter yang bisa membangun peradaban. Jatim harus menjadi contoh provinsi dengan pembangunan berbasis kebudayaan. “Mari bangun Jawa Timur melalui kesenian dan kebudayaan.” ujarnya.

Puti berjanji akan membawa seni-budaya turut andil membangun Jawa Timur. Salah satunya, dengan merevitaisasi gedung-gedung kesenian. Dia dan Gus Ipul sepakat untuk merevitalisasi gedung kesenian yang ada di Jatim, agar menjadi ruang ekspresi yang haliki pelaku seni.

“Gedung kesenian sebagai jantung pengembangan nilai-nilai seni berbasis kearifan lokal,” ujar mantan anggota Komisi X DPR yang membidangi kebudayaan itu. Puti juga menyiapkan program pemberdayaan para pelaku seni, mulai dari pelatihan, beasiswa, ruang berekspresi yang luas, hingga asuransi bagi pelaku seni tradisi. (ist)

Pendopo Ronggohadinegoro Menebar Virus Budaya

foto
Sanggar Pendopo Ronggohadinegoro Blitar Tebarkan Virus Budaya. Foto: Erliana Riady.

Pendopo Ronggohadinegoro Blitar tak hanya sebagai destinasi wisata. Dari tempat ini pula, virus budaya ditularkan ke generasi muda. Melalui olah tubuh, pikir dan rasa, sebuah sanggar kesenian terbentuk sebagai wadah kreasi generasi muda. Sesuai tempatnya berlatih, namanya Sanggar Pendopo.

Setiap hari Minggu, sebanyak 210 anak muda berlatih tari. Dengan 6 pelatih, mereka terdiri pelajar SD dari tiga kecamatan sebanyak 120 anak. Pelajar SMP SMA penari putri 50 anak dan putra 20 anak.

Tak hanya pelajar sekolah, namun Sanggar Pendopo juga membuka pintu lebar bagi masyarakat umum yang ingin berlatih menari bersama. Setidaknya ada 20 pelajar dari kalangan masyarakat umum ikut berlatih menari sepekan sekali.

Menari di sanggar ini, hanya mempelajari berbagai tari tradisional. Baik itu tari dari Jawa Barat, Jawa Tengah atau tari karya seniman Jawa Timur. Animo generasi muda mempelajari tradisi daerah ini sangat positif. Apalagi di tengah gempuran budaya asing, masuk ke Indonesia tanpa filter.

Seorang pelajar yang memanfaatkan Sanggar Pendopo, Septi Krismonarisa (19). Dia mengaku ikut sanggar sejak SMA. Gadis yang sekarang kuliah di jurusan seni tari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini banyak mendulang prestasi di seni tari.

“Saya suka menari sejak kecil. Walaupun sekarang banyak jenis tari kontemporer masuk, tapi tari tradisional tetap lebih bagus. Karena gerakannya tertata, ada maknanya dan alurnya jelas,” aku Septi ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Pariwisata Budaya dan Olah Raga Pemkab Blitar, Luhur Sejati mengatakan Sanggar Pendopo salah satu fungsinya untuk pendidikan karakter dengan basic kesenian.

“Tidak hanya seni tari, ada seni karawitan, pedalangan, lukis, teater dan musik. Artinya kita akan mengolah itu semua. Karena kami tahu, potensi yang dimiliki seseorang itu tidak hanya dari segi akademis, tapi dari kompetensi yang dimiliki seperti kesenian dan olah raga,” jelas Luhur ditemui detikcom di kantornya Jalan A Yani Kota Blitar, pekan lalu.

Menurut Luhur, jumlah seniman atau pelaku seni atau orang yang suka dengan seni di Indonesia semakin sedikit. Dengan adanya Sanggar Pendopo ini, merupakan upaya membangun eksistensi seni agar tidak dipandang sebelah mata. “Inilah bentuk edukasi kami. Alhamdulillah Pemkab ada biaya, sehingga semua peserta tidak mengeluarkan biaya,” ungkapnya.

Sanggar di bawah binaan Disparbudpora Pemkab Blitar ini dirintis sejak 2006 lalu. Banyak prestasi gemilang skala nasional telah diraih. Di antaranya, pentas dalam kegiatan APKASI di Jakarta, Tahun 2016 dan 2017. Tim Produksi dan Pemantasan terbaik pawai budaya Jatim Specta Night carnival tahun 2015 sampai tahun 2017. Dan peserta terbaik dalam Festival Karya Tari Jawa Timur di Surabaya Tahun 2008, 2015, 2016 dan 2017. (dtc)

Kemeriahan Bolo Srewu Jaranan Barong Jember

foto
Performing Art Bolo Srewu Jaranan Barong di Pantai Payangan. Foto: Obsessionnews.com.

Puncak pertunjukan Bolo Srewu Jaranan Barong II (BSJB) di Pantai Panyangan (Teluk Love) Ambulu Jember pekan lalu, berjalan meriah.

Pertunjukan yang digelar Dewan Kesenian Jember (DKJ) dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispemasdes) ini merupakan ajang kreativitas dan silaturahmi bagi para seniman jaranan, ta’-buta’an, barongsai, can-macanan kaduk, reog dan para seniman dari beberapa kabupaten di Jawa Timur.

Kesenian Jaranan dipilih sebagai kesenian ikonik yang jadi sentral dalam gelaran, karena kesenian ini merupakan salah satu kesenian tertua di Jatim dan Indonesia”, demikian disampaikan Ketua DKJ Jember, Eko Suwargono seperti dikutip Majalah Gempur.

“Sejumlah 750 penari yang mewarnai pagelaran Seni Budaya Bolo Srewu jaranan barong II dari berbagai daerah yang ada di Jawa Timur diantaranya dari Kabupaten Pasuruan, Malang, Banyuwangi dan dari Surabaya serta daerah lainya.” kata Eko Suwargono.

Hal senada disampaikan Sekretaris DKJ Iwan Kusuma bahwa Jaranan adalah kesenian yang bisa diterima oleh komunitas Jawa, Madura dan etnis-etnis lain.

Tidak salah jika kesenian jaranan dalam berragam bentuknya yang menjadi idola ini merupakan salah satu pembentuk budaya lokal Jawa Timur.

“Kesenian ini bisa memberikan warna dan kekuatan spiritual serta memperkuat lokalitas dan kedirian masyarakat di tengah-tengah proyek modernitas dan globalisasi dewasa ini,” kata pria yang akrab disapa Cak Endut ini.

BSJB menjadi bagian dari Festival Berdesa, sebuah event besar dari bermacam rangkaian aktivitas kultural untuk mengembangkan dan memberdayakan kehidupan masyarakat desa. Festival Berdesa ini berimplikasi pada konsep acara yang semakin beragam dan meriah serta pelibatan banyak seniman dan warga.

Untuk itu acara ini digelar, disampaing untuk memberdayakan masyarakat desa juga untuk mempromosikan tempat wisata d Jember. “Guna mempopulerkan tempat wisata dan melestarikan budaya kesenian tradisional, dengan konsep hiburan rakyat dengan kolosal,” pungkasnya. (ist)

Angkat Budaya Wayang Krucil Ereng-Ereng Gunung Katu

foto
Anggota DPR RI, Kresna D Prosakh (kacamata tengah) bersama komunitas di Malang. Foto: Imam Syafii/MalangTIME.

Malang memiliki segudang kesenian dan budaya yang harus dilestarikan agar tak diterpa masuknya budaya modern. Salah satunya budaya Malang yang harus dilestarikan yaitu Wayang Krucil yang berada di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Masyarakat sekitar menganggap wayang krucil sebagai budaya yang sakral. Setiap awal bulan syawal masyarakat setempat melaksanakan pagelaran Wayang Krucil yang dilakukan oleh pemiliknya yaitu Mbah Saniyem. Sekarang ini, generasi Mbah Saniyem sudah beralih ke generasi ketujuh.

Wayang Krucil ini merupakan salah satu jenis wayang yang diciptakan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya. Sumber lain menyebutkan wayang yang terbuat dari kayu pule ini ciptaan dari para Wali yang ada di Jawa Timur.

Untuk melestarikan budaya Wayang Krucil Malang, para komunitas walkingalam dan malangdjagonganpenak membahas tentang seluk beluk Wayang Krucil dengan tema Wayang Krucil Ereng Ereng Gunung Katu.

Acara yang dihadiri Anggota Komisi II DPR RI, Kresna Dewanata Phrosakh, Kades Gondowangi, Danis Setya Budi Nugroho, dan pengkarya buku Wayang Krucil, Fariza Wahyu Arizal, akhir pekan lalu.

Anggota Komisi II DPR RI, Kresna Dewanata Phrosakh menjelaskan kegiatan ini bertujuan sebagai gerakan untuk mengembalikan budaya agar tidak luntur dengan masuknya budaya modernisasi khususnya di Malang Raya.

“Caranya seperti ini jagongan atau bertatap muka dengan berkomunikasi membahas uri-uri budaya Wayang Krucil yang ada di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Wagir,” kata Dewa saat ditemui MalangTIMES usai acara tersebut.

Menurutnya, perkembangan era digitalisasi sekarang ini adanya media sosial akan terpecah komunikasi melalui tatap muka secara langsung. Melalui jagongan ini akan memberikan mamfaat bagi masyarakat salah satunya mengangkat budaya Wayang Krucil melalui visual dari komunitas walkingalam.

“Dari komunitas fotografi ini akan mendokumentasikan budaya Wayang Krucil agar tidak didokumentasikan oleh orang yang tak bertanggungjawab. Jadi orang Malang sendiri yang harus mendokumentasikannya, wayang ini warisan budaya yang harus dilestarikan kepada generasi penerus,” tegasnya.

Dewa menyampaikan melalui acara ini semangat anak muda yang hadir sangat antusias, minimal mereka mau mendengarakan dan mengugemi budaya yang ada di Malang Raya.

“Kami berpesan pemerintah daerah harus bertanggungjawab untuk melestarikan budaya. Disambud harus memproteksi dan berkomunikasi dengan pihak Desa Gondonwangi mengangkat budaya Wayang Krucil,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan, Kades Gondowangi, Danis Setya Budi Nugroho menyampaikan keberadaan Wayang Krucil di Dusun Wiloso sudah ada mulai tahun 800 an oleh Mbah Saniyem pemilik Wayang Krucil.

“Jadi sekarang generasi pemilik Wayang Krucil sudah turun temurun ke generasi ketujuh. Sempat vakum 2006 lalu, akhirnya kami menggerakkan masyarakat disana untuk menghidupkan kembali budaya wayang itu,” paparnya.

Lanjut Danis lambat laun budaya Wayang Krucil akhirnya kembali bangkit dan antusias masyarakat untuk menguri-uri budaya dalam pembangunan Desa Gondowangi semakin membaik.

“Jadi mulai kegotongroyongan, saling menghormati dan kritis masyarakat akan budaya itu sangat kental,” paparnya.

“Dulunya basis wayang ini berada di wilayah Wilayoso di area Gunung Katu adalah tempat hiburan terakhir sebekum para raja bertapa di Gunung Katu. Kalau umurnya Wayang Krucil saat ini hampir 300 tahunan,” ujarnya.

Sementara itu, Pengkarya Buku Wayang Krucil, Fariza Wahyu Arizal menambahkan buku ini nantinya akan menjadi trigger untuk masyarakat untuj mengangkat budaya di Malang.

“Banyak budaya yang masih belum terangkat di Malang, dengan melakukan penelitian seperti ini, kami akan lebih kaya mengetahui budaya yang ada di Malang Raya. Semoga buku ini nantinya bermanfaat bagi masyarakat luas tentang budaya Malang,” ujarnya. (jts)

Pengalaman Duta Budaya Jatim Saat ke Jepang

foto
Abraham Deddy Gagola, Mahasiswa UB Delegasi Duta Budaya Raka-Raki Jatim ke Jepang. Foto: Istimewa.

Sudah mengikuti berbagai ajang kontes dan kompetisi berbakat, Abraham Deddy Gagola menyabet banyak prestasi. Terpilih sebagai 10 besar Raka-Raki Jawa Timur tahun 2014, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang itu menjadi salah satu duta budaya yang dikirim ke Jepang. Seperti apa pengalamannya di Negeri Sakura?

Duta Brawijaya, finalis AFI, Duta Pangan Jatim, hingga Putra Batik Nasional adalah sebagian di antara ajang yang pernah dimenangi mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional UB ini. Piagam dan trofi pun disimpan rapi di rumahnya sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengembangkan bakat-bakatnya.

”Mohon maaf saya masih di luar kota saat ini. Setelah pulang dari Jepang, kegiatan saya memang cukup padat,” ujar pemuda yang akrab disapa Bram itu yang ramah saat dihubungi RadarMalang via telepon .

Bram menceritakan, meski menjadi finalis Raka-Raki Jatim tahun 2014, dia terpilih menjadi salah satu duta budaya ke Tokyo, Jepang. Duta budaya ini mengikuti kegiatan malam Cinta Indonesia yang diadakan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo.

”Jadi, kedutaan besar Republik Indonesia mengundang Raka-Raki Jawa Timur untuk mengikuti kegiatan pertukaran budaya di Tokyo selama 9 hari,” ucap pemenang Putra Batik Nasional 2017 ini.

Finalis AFI Junior 2005 itu terpilih menjadi perwakilan Raka-Raki Jawa Timur untuk memperkenalkan budaya Indonesia di event yang digelar dua tahun sekali oleh PPI.

”Saat seleksinya dulu, banyak mengulas wawasan budaya dan pariwisata. Kebetulan sekali saya juga sering mempromosikan pariwisata ke berbagai daerah,” imbuhnya.

Begitu mendapat kepastian bakal berangkat ke Jepang pada 31 Desember 2017, dia langsung menyiapkan semuanya. ”Termasuk nanti lagu apa yang akan saya nyanyikan saat di Tokyo,” terang ketua Bidang Sosial Raka-Raki Jawa Timur ini.

Selama mengikuti kegiatan di Tokyo, Bram mendapat banyak pengalaman baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Setelah menyanyikan tiga buah lagu dengan judul Lajeungan, Rek Ayo Rek, dan Dung Andung, Bram mendadak dihampiri produser Jepang yang menawarkannya untuk bergabung di perusahaan musiknya di Jepang.

”Habis saya perform itu langsung didatangi produser dari GKK Production InK Corperation Madam Coy Yamasaki. Dia datang bersama ajudan menghampiri saya dan menawari bergabung di manajemenya,” ucap first winner Duta Pangan Jawa Timur 2016 ini.

Bahkan, Bram juga langsung mendapatkan undangan untuk kembali lagi ke Tokyo Juli 2018. ”Saya diminta mengisi acara dalam rangka memperingati 60 tahun diplomasi Indonesia-Jepang,” papar runner-up Mister Teen Indonesia 2015 tersebut.

Tawaran bergabung dengan manajemen GKK Jepang tersebut cukup beralasan. Lantaran, Bram yang bakat menyanyinya sudah dipupuk sejak di bangku SD ini pernah mengikuti beragam kompetisi lokal hingga nasional. Bahkan, Bram juga menjadi salah satu finalis 12 besar AFI tahun 2005.

”Meskipun akhirnya harus tereliminasi, saya senang bisa tampil di televisi mengikuti ajang bergengsi saat itu,” ucap Duta Brawijaya 2013 ini.

Selain itu, dia memiliki pengalaman mendapatkan undangan mengisi acara pada HUT RI di Istana Negara. Saat itu, dia berduet dengan penyanyi beken.

”Waktu Presidennya Pak Susilo Bambang Yudhoyono, saya mendapat kesempatan bernyanyi di Istana Negara bareng Gita Gutawa,” imbuh winner Icon of Change Bandung Sport 2012 tersebut.

Saat ini, kesibukan pemuda kelahiran Blitar ini lebih banyak digunakan untuk menyelesaikan kuliahnya di UB. Rupanya, Bram mengaku bisa kuliah di UB juga karena prestasinya di ajang pencarian bakat.

”Jadi, waktu itu saya ikut ajang Pemilihan Duta Brawijaya pada 2013. Di situlah saya terpilih dan mendapatkan kesempatan kuliah bebas memilih jurusan dan dibebaskan dari pembayaran uang gedung dan lain-lain,” ucap peraih Putra Iptek Bahari Indonesia 2014 ini. (jpg)

12 Negara Sahabat Belajar Budaya Lokal di Jatim

foto
Gubernur Jatim Soekarwo bersama peserta Lemhannas. Foto: Humas Pemprov Jtm.

Peserta Program Pendidikan Reguler (PPR) Angkatan 57 dan 58 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, 12 diantaranya peserta dari negara sahabat, belajar budaya lokal di Jawa Timur.

12 peserta dari Australia, Bangladesh, Fiji, Zimbabwe, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Arab Saudi, Singapura, Timor Leste, Laos, Sri Lanka itu, mendapat paparan dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo tentang kondisi budaya lokal di Jatim.

“Keberadaan budaya lokal di Jawa Timur ini beragam. Ada budaya Arek, Mataraman, Madura, serta Osing,” ujar Gubernur Jatim Soekarwo saat memaparkan kondisi budaya lokal Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, awal pekan lalu.

Kata Soekarwo, masing-masing budaya tersebut memiliki tokoh panutan dan pendekatan kultural yang berbeda pada masyarakat.

“Saya kira pendekatan kepada masyarakat di masing-masing budaya ini berbeda. Pendekatan kultur seperti ini menjadi utama dalam melakukan apa saja, khususnya pelaksanaan program pemerintah,” tuturnya, seperti dikutip detikcom.

Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini menjelaskan, budaya arek memiliki banyak kaum intelektual dan lingkungannya terdidik. Sebanyak 20 persen masyarakat Jatim menggunakan pendekatan budaya arek, yang berada di Kota Surabaya, Kab. Gresik, Kab. Sidoarjo, Kab. Lamongan, Kab Jombang, Kab/Kota Malang.

Dengan kondisi tersebut, lanjut dia, tokoh masyarakat, tokoh agama dan intelektual menjadi tokoh panutan pada budaya arek. Dalam budaya ini, sebagian besar masyarakat mengembangkan industri dan UMKM.

“Masyarakat dengan budaya arek itu sangat rasional dan terdidik. Mereka bisa menyampaikan apa saja dengan data yang lengkap dan contoh yang jelas,” terangnya.

Untuk budaya Mataraman, kata Gubernur Jatim 2 periode ini, menggunakan birokrasi, tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai pendekatannya. Budaya mataraman berada di daerah seperti Kab. Tuban, Kab/Kota Madiun, Kab Ngawi. Daerahnya agraris, di antaranya menghasilkan tebu dan padi.

“Kultur budaya mataraman seperti di Solo dan Yogya. Ada sebanyak 45 persen masyarakat Jatim menggunakan pendekatan Budaya Mataraman,” jelasnya.

Berbeda dengan budaya mataraman dan arek, terdapat sebanyak 30 persen masyarakat masuk dengan pada budaya Madura. “Peranan ulama sangat penting dalam budaya ini,” ujarnya.

Budaya lokal lainnya yang ada di Jatim, jelasnya, yakni budaya Osing yakni sekitar 5 persen dari populasi masyarakat Jatim.

“Budaya Osing ini dengan birokrasi, tokoh masyarakat, dan tokoh agama sebagai panutannya. Daerah agrarisnya dan terutama menghasilkan padi,” katanya.

Melihat kondisi budaya masyarakat yang ada di Jatim, Pemprov Jatim menggunakan paradigma pembangunan dengan pendekatan partisipatoris. Artinya, masyarakat dilibatkan untuk merumuskan keputusan dan kebjakan.

“Pendekatan partisipatoris inilah yang menyebabkan suasana aman dan nyaman di Jatim. Selain itu, konflik di Jatim juga paling kecil,” jelasnya.

13 Calon peserta Program Pendidikan Reguler (PPR) Angkatan 57 dan 58 Lemhannas RI yang dipimpin Laksamana Pertama Budi Setiawan akan belajar tentang budaya lokal di Jatim. Mereka akan mengunjungi berbagai objek instansi seperti dari pemerintah, militer maupun objek wisata lainnya. (dtc)

Padukan Gerakan Paskibra dan Budaya Jawa Timur

foto
Penampilan salah satu peserta PASSION 2018. Foto: Lensaindonesia.com.

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paskibra STIE Perbanas Surabaya menggelar lomba PASSION (Paskibra STIE Perbanas Competition) 2018 pada Minggu (18/2) lalu. Yang menarik, tak sekedar lomba baris berbaris namun memadukan dengan budaya Jawa Timuran.

Bertempat di Kampus 2 Jalan Wonorejo Utara, Rungkut Surabaya, kompetisi ini diikuti ratusan siswa mulai jenjang SMP hingga SMA sederajat.

Manajer UKM Paskibra, Herlina Ika menuturkan kegiatan ini rutin diselenggarakan setiap tahun. Pada tahun kedelapan ini, PASSION mengangkat tema menciptakan generasi muda cinta budaya sebagai ajang unjuk kreativitas dan rasa nasionalisme terhadap bangsa.

”Tema ini diusung karena kami ingin melestarikan budaya daerah khususnya di wilayah Jawa Timur dan diperkenalkan kepada generasi muda, utamanyabagi siswa SMP dan SMA ini,” papar Herlina seperti dikutip LensaIndonesia.com.

PASSION 2018 ini merupakan lomba Pasukan Baris-Berbaris (PBB) Dasar,Lomba PBB Musik, Variasi, Formasi, dan Kreasi. Adapun jumlah pleton dalam kompetisi ini, yakni 12 pleton dari siswa SMP dan 23 pleton dari siswa SMA/SMK/MA sederajat.

Mereka memperebutkan sejumlah kejuaraan, di antaranya: Juara umum SMA (piala bergilir Dispora Jatim), Juara Umum SMP (Piala Angkatan Laut), Juara 1, Juara 2, Juara 3, Juara 1 madya, Juara 2 madya, Juara 3 madya, Juara 1 Bina, Juara 2 Bina, Juara 3 Bina, Best Kostum SMP-SMA, Best Variasi SMP-SMA, dan Best Danton SMP-SMA.

Setiap pleton pasukan paskibra ini terdiri atas 15 anggota dan 1 orang komandan pleton (danton). Mereka menampilkan 2 jenis gerakan, pertama gerakan resmi baris berbaris dan kedua gerakan variasi.

Dalam menampilkan gerakan variasi, setiap pleton dituntut untuk memunculkan budaya yang dimiliki oleh daerah Jawa Timur, mulai dari tari tradisional, modern dance, aksi teatrikal, hingga busana daerah. Setiap pleton juga boleh diiringi musik-musik daerah hingga modern sehingga makin memeriahkan gerakan variasi.

Peserta lomba dari SMA Negeri 8 Surabaya kali ini menampilkan budaya asli Madura. Devi Putri, salah satu anggota pleton SMA setempat mengaku persiapan untuk latihan ini hampir sebulan. Pihaknya mengangkat budaya Madura karena banyak siswa berasal dari Madura sehingga memudahkan dalam proses latihan.

“Lomba ini sangat serusekali, kemarin kami berhasil meraih Juara 2. Harapannya, tahun ini kita bisa meraih Juara 1 atau setidaknya sama dengan tahun kemarin,” harap siswi Kelas XI IPA3 ini.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Dr Sasongko Budisusetyo MSi berpesan kepada segenap peserta agar senantiasa menjaga kekompakan dan sportivitas dalam berkompetisi.

Pihaknya menyampaikan kegiatan ini juga bisa dijadikan sebagai ajang untuk mempererat rasa kekeluargaan serta menumbuhkan jiwa disiplin bagi siswa yang ikut dalam lomba Paskibra. (lic)

Saat Puti Guntur Soekarno Baca Puisi

foto
Puti Guntur Soekarno, Calon Wagub Jatim. Foto: Istimewa.

Kemampuan pidato Bung Karno yang ulung turun juga pada cucunya, yaitu Puti Guntur Soekarno. Pada pidato saat Rapat Pleno KPU dengan agenda pengundian dan pengumuman nomor urut pasangan calon pada Pilgub Jawa Timur 2018, pekan lalu, Puti menggubah puisi yang pernah dibaca dan ditulis Bung Karno dalam buku Sarinah.

Sebelumnya, Puti mengajak semua yang hadir dan mendengarkan pidatonya, untuk menyadari pentingnya arti persaudaraan yang mewariskan Indonesia yang besar.

Puti pun mengajak semua orang menyambut pesta demokrasi dengan politik beretika, politik berkeadaban, politik dengan moral, dan politik berkebudayaan.

“Karena kita berpolitik dengan berkebudayaan, dengan berbahagia, dengan bergembira,” ujarnya.

Puisi yang didendangkannya diambil dari buku Sarinah, yang di dalamnya mencerminkan persamaan antara perempuan dan laki-laki. Puti menegaskan komitmennya bersama Saifullah Yusuf untuk menjadi pengayom rakyat Jawa Timur.

Berikut Puisi yang diserukan oleh Puti;

Kami berdua, bagai kepak sayap burung garuda,

yang kanan dan yang kiri.

Ketika kami beruda mengepak dengan kuatnya,

maka kami bisa terbang setinggi-tingginya.

Menukik, menyentuh rakyat Jawa Timur.

Sayap kami berdua, akan mengayomi rakyat Jawa Timur

Sehingga kemenangan kami berdua,

kami yakinkan adalah kemenangan untuk seluruh rakyat Jawa Timur

Maka itu, kabeh sedulur kabeh makmur.

Pidato dan puisi Puti Guntur Soekarno yang mantap dan penuh ekspresi mendapat sambutan meriah dari pendukung serta semua yang hadir.

Usai berpidato, pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno disambut yel-yel pendukungnya. “Kabeh sedulur, sak Jawa Timur, kabeh sedulur, kabeh makmur,” seru pendukung pasangan nomor urut 2. (ist)

Peran Desa dan Vandalisme Situs Majapahit

foto
Perusakan di situs Kemitir Kabupaten Mojokerto. Foto: VIVA.co.id.

Belakangan ini, publik dihebohkan dengan insiden vandalisme situs Majapahit. Melalui media sosial, seorang warga Mojokerto mengunggah sebuah foto yang menunjukkan aktivitas penjarahan batu bata dari struktur bangunan bersejarah di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Kegiatan destruktif ini merupakan pelanggaran hukum yang dapat dikenai sanksi pidana. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Pasal 66 Ayat (1), “Setiap orang dilarang merusak cagar budaya baik seluruh maupun bagian-bagiannya”.

Adapun Pasal 105 undang-undang ini menuturkan, “Pelaku perusakan terancam hukuman penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 15 tahun dan/atau denda sebesar Rp 500 juta hingga Rp 5 miliar”.

Ironisnya, meski pengambilan batubata kuno secara ilegal telah berlangsung sejak lama, namun pemerintah setempat mengaku tidak mengetahuinya. Hal ini mengindikasikan bahwa perhatian terhadap keberadaan desa sangat rendah.

Padahal, rusaknya situs purbakala dalam suatu desa rentan meluluhlantakkan semangat hidup warga desa. Betapa warisan historis turut melekatkan identitas kultural bagi orang desa yang terkenal ulet dan tangguh.

Dari satu generasi ke generasi selanjutnya, situs purbakala mampu menularkan kepribadian dan keperkasaan para leluhur pada masa silam. Itulah mengapa, meski kerap terbelit dengan urusan perut, mereka tetap mampu menjalani hidup dengan tegar.

Kesadaran Berdesa
Saat Majapahit masih berjaya, pemerintah memiliki perhatian besar terhadap eksistensi desa beserta kekayaan kultural di dalamnya. Sikap ini berangkat dari fakta bahwa desa merupakan embrio negara.

Cikal-bakal Majapahit bermula dari sebuah desa di sebelah timur Sungai Brantas yang pada tahun 1292 mengalami pembangunan. Dengan pembukaan hutan Tarik oleh Nararya Sanggramawijaya, desa yang telah direnovasi diberi nama Majapahit.

Para penduduknya adalah orang-orang Madura dan Singasari yang menaruh simpati kepada Nararya Sanggramawijaya selaku kepala desa. Menurut Tafsir Sejarah Nagarakretagama, setelah nekat memecundangi Raja Jayakatwang serta berhasil mengusir tentara Tartar, Nararya Sanggramawijaya mengambil alih kekuasaan Kediri.

Ia kemudian mengatrol “status” Majapahit menjadi ibu kota kerajaan dengan terlebih dahulu memperluas wilayahnya. Pada saat inilah, Majapahit berubah dari desa menjadi negara sekaligus pusat kerajaan.

Kesadaran berdesa dipegang teguh oleh raja-raja Majapahit. Dengan mendaulat beberapa orang menjadi buyut, raja melimpahkan tanggung jawab penuh bagi para pemimpin lokal tersebut dalam mengurus kesejahteraan masyarakat di wilayah pedalaman. Undang-undang pratigundala dijadikan pedoman untuk mengatur pemerintahan dan kehidupan desa.

Perhatian para pembesar kerajaan terhadap keamanan desa antara lain ditunjukkan oleh Hayam Wuruk yang percaya bahwa demi membentuk negara yang digdaya, kelestarian desa merupakan prasyarat utama. Lebih jauh, ia meyakini bahwa kerusakan desa berarti kerusakan negara.

Perjalanan Hayam Wuruk ke sejumlah daerah menggambarkan rasa simpati terhadap desa serta bangunan suci di dalamnya. Di samping memeriksa realisasi tugas pejabat pemerintahan pusat, lawatan sang prabu yang disambut hangat oleh para warga tersebut juga dimaksudkan untuk menyaksikan kondisi kehidupan rakyat di desa-desa kekuasaan Majapahit.

Tentu ia belum merasa puas dengan cukup mendengar laporan bawahannya tentang nasib wong cilik. Tujuan lain perjalanan Hayam Wuruk yaitu supaya semua durjana lenyap dari wilayah kerajaan.

Itulah sebabnya semua desa dikunjungi, ditelusuri, diteliti, meski berada di tepi pantai laut (Slamet Muljana, 2005: 96). Fakta ini menunjukkan, penguasa berupaya menjauhkan desa dari segala bentuk kriminalitas dan aksi vandalisme.

Primary Actor
Penyelamatan nasib desa beserta apa yang dikandungnya merupakan hal yang urgen dan mendesak. Insiden perusakan situs purbakala di Mojokerto harus segera ditangani secara serius.

Seiring dengan semakin tergerusnya bukti kebesaran nenek moyang, masa depan bangsa seolah tergadaikan. Guna mengatasi vandalisme batubata bersejarah, dua langkah berikut mesti segera ditempuh.

Pertama, aparat kepolisian bergerak cepat dengan mengusut tuntas insiden tersebut. Demi memberikan efek jera, mereka yang terbukti sebagai pelaku layak menerima hukuman setimpal.

Ringannya sanksi pidana hanya akan memancing tindakan serupa di masa mendatang. Apalagi, kasus semacam ini genap terjadi berulang kali. Betapa tahun demi tahun menjadi saksi atas keberingasan para penjarah benda-benda bernilai historis.

Pengusutan meniscayakan penggalian informasi secara mendalam terhadap kemungkinan adanya “otak” di balik tindakan perusakan situs kuno. Sehingga, sanksi hukum bukan saja menjerat oknum lokal, melainkan juga jaringan regional dan nasional.

Kedua, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur meminta bantuan pemerintah desa dalam upaya menguak vandalisme. Selama ini, muncul asumsi bahwa para elite lokal jarang dilibatkan dalam menyelesaikan kriminalitas dengan aset historis sebagai sasarannya.

Lemahnya pengawasan terhadap peninggalan purbakala antara lain dikarenakan minimnya kontribusi pemerintah desa. Padahal, semestinya mereka menjadi primary actor (aktor utama) yang senantiasa memelihara, mempertahankan, serta menjunjung tinggi warisan bersejarah.

Ketetapan mengenai hal ini terpampang dengan jelas dalam peraturan legislasi. Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 Pasal 26 Ayat (2) menyebutkan bahwa aparatur desa berwenang mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat desa. (ditulis oleh: Riza Multazam Luthfy, Peneliti Desa. Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum UII Yogyakarta. Dimuat di Harian Bhirawa)

The Waroeng, Paduan Budaya dan Kearifan Lokal

foto
Batik tulis merek Sumbersari hanya diproduksi satu buah setiap modelnya. Foto: Friska Kalia /Beritagar.id.

Apa yang terlintas dalam benak saat mendengar atau melihat kain batik? tentu saja Indonesia. Bukan menjadi hal baru bahwa batik merupakan salah satu budaya serta kekayaan bangsa Indonesia.

Keindahan yang terlukis dalam lembaran kain, membentuk sebuah harmoni indah yang menyatukan antar satu daerah dengan daerah lain. Batik merupakan sebuah mahakarya anak bangsa, yang menjelma menjadi identitas luhur yang dijaga hingga kini.

Berbicara tentang batik, kini ada beberapa tempat wisata yang menjadikan batik sebagai magnet utamanya, termasuk di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. The Waroeng namanya. Berlokasi tepatnya di Desa Sumbersari, Kecamatan Maesan.

Seperti dilaporkan Beritagar.id, objek wisata ini memadukan keindahan alam, batik, serta ragam kuliner tradisional khas Indonesia. mengusung konsep eduwisata batik dengan tatanan dan desain khas pedesaan, The Waroeng menjadi alternatif wisata murah meriah dan berkesan untuk dikunjungi.

Letaknya sekitar 15 km dari pusat kota Bondowoso, tepat di perbatasan antara Kabupaten Jember dan Bondowoso. Jika dari Jember bisa ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit dan dari kota Bondowoso sekitar 20 menit.

The Waroeng relatif mudah ditemui. Dari pusat kota Bondowoso ada beberapa alternatif transportasi yang bisa dicoba, di antaranya bus antar kota menuju Jember, angkutan kota menuju Kecamatan Maesan, serta ojek daring (online) yang kini telah menjamur.

Hal yang sama jika pelancong datang dari Kabupaten Jember. Ojek online sepertinya menjadi alternatif terbaik.

Sesaat setelah memasuki lokasi wisata, pengunjung akan disambut dengan rimbunnya tumbuhan hijau di segala sisi, dengan beragam tanaman dan bunga indah di sepanjang taman. Serta ornamen khas Jawa Timuran seperti ukiran, wayang dan tentu saja kain batik.

Perhatian pengunjung akan langsung tertuju ke sebuah galeri batik yang terletak di lobi. Di pintu depan, pengunjung akan disambut beberapa pekerja yang tengah mengerjakan proses melukis batik tulis dengan canting yang khas.

Aroma malam basah, akan berpadu dengan suasana rindah serta sejuk di sekitar lokasi wisata. Masuk ke dalam, pengunjung akan melihat sejumlah saung yang bisa digunakan untuk beristirahat sembari menikmati berbagai menu makanan tradisional khas The Waroeng.

Ada beberapa saung yang bisa anda pilih. Saung yang langsung menghadap sawah, saung yang dibawahnya dialiri aliran air sungai, atau menuju ke saung yang dipenuhi dengan ukiran kayu.

Gemericik air, ditemani suasana tenang layaknya di pedesaan, akan menjadi paduan tepat untuk bersantai bersama keluarga. Taman dengan beragam bunga dan rumput hijau juga akan menyambut anda di sepanjang lokasi The Waroeng.

Yang juga menarik serta unik dari wisata ini adalah pengunjung bisa ikut dan turut serta melihat berbagai proses pembuatan kain batik dari awal proses hingga pengemasan.

Ada beberapa tahap yang bisa dilihat yakni proses menggambar, membatik dengan malam, mewarnai, mencuci hingga proses akhir di mana kain batik dikemas untuk dipajang di galeri. Semua bisa dinikmati secara gratis sembari anda menunggu kudapan yang dipesan datang.

Lokasi pembuatan batik letaknya sedikit ke belakang area taman. Para pekerja, berkumpul di satu tempat untuk mengerjakan beberapa proses. Ada yang membuat batik cap dan banyak juga batik tulis. Pengunjung bisa ikut mencoba proses melukis batik dengan canting disini.

Yang membedakan batik tulis dengan merek Sumbersari ini adalah desainnya yang unik dan hanya dibuat satu kali saja. Jadi setiap desain batik tulis hanya dibuat untuk satu kain. Sehingga, jika membeli batik disini, takkan mungkin ada desain serupa di pasaran.

Proses pembuatan batik di The Waroeng ini bisa dinikmati setiap hari Senin hingga Sabtu mulai pukul 07.00 hingga15.00 WIB.

Harga yang dibandrol untuk sehelai kain batik tulis Sumbersari berkisar antara Rp400 hingga jutaan rupiah. Selain kain, di galeri batik ini juga tersedia berbagai macam baju batik, tas kulit dengan ornamen batik serta produk hilir batik lainnya.

Untuk makanan, ada beberapa kudapan khas The Waroeng yang bisa dipesan. Jika datang bersama empat teman, ada paket Pandawa Lima seharga Rp270.000 yang bisa dicoba.

Isi paket tersebut meliputi gurami bakar madu, lele, garang asem ayam kampung, pepes peda, lodeh labu kepala ikan asin, tumis pokak ikan teri, tahu tempe kuah kuning, dilengkapi Sambal Terasi, Urap, dan Minuman Es Klamud.

Tak kalah menggoda adalah Paket Sego Sawah di mana nasi serta lauk pauknya, dibungkus daun pisang layaknya makanan tradisional petani. Cukup membayar Rp 75.000, bisa menikmati paket ini untuk 4 orang. Kudapan khas Bondowoso lain yang bisa dinikmati di sini tentu saja tape dan kopi arabika lereng Gunung Ijen. (ist)