Gerakan Literasi di Jatim Lewat Mobil Kaca

foto
UMM meluncurkan Mobil Kaca sebagai media menyebarkan gerakan literasi. Foto: umm.ac.id.

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki program untuk menggaungkan gerakan literasi pada masyarakat Indonesia terutama di Jawa Timur (Jatim). Salah satu program uniknya, yakni dengan Mobil Pintar yang baru-baru ini diluncurkan.

Kepala Humas UMM, Joko Susilo menjelaskan mobil pintar berjenis OB Van ini pemberian Bank Jatim lewat program CSR-nya. Melalui tangan-tangan terampil, mobil ini telah dikreasikan UMM menjadi mini perpustakaan.

Tidak tangung-tanggung, mobil tersebut menampung 456 buku yang terdiri dari ensiklopedia, buku bertema entrepreneurs, IT, hobi, peternakan, pertanian, Muhammadiyah dan Islam Umum.

Mengacu pada konsepnya, Mobil Pintar UMM ini disebut dengan Mobil Kaca alias Kamis Membaca. Menurut Joko, Mobil Kaca UMM akan berkelana ke sekolah-sekolah, utamanya di Jawa Timur.

“Harapannya, Mobil Kaca UMM dapat meningkatkan budaya baca pelajar Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA),” ujar Joko melalui keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Dengan adanya Mobil Kaca, Joko menilai, ini menjadi salah satu bukti UMM memiliki target untuk terus mendidik anak-anak Indonesia. Hal ini serupa dengan misi UMM, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, ini sesuai juga dengan semangat Alquran yang tertulis pada wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT.

Dalam perjalanannya, Mobil Kaca mencerna baik slogan UMM dari Muhammadiyah untuk Bangsa. “Terbukti melalui program K-A-N-C-A-N-E yaitu Kepo (Ketahui Potensimu), Ayo Dolanan, Coto (Konco Cerito) Babad, Aku Jurnalis, Nonton, dan EYL, UMM berupaya hadir memberdayakan pelajar,” kata dia.

Kepo (Ketahui Potensimu) merupakan program yang digagas dengan Bimbingan Konseling (BK) UMM untuk memfasilitasi konseling gratis serta mini tes psikologi bagi siswa, khususnya remaja. Sementara Ayo Dolanan berkaitan dengan pengenalan berbagai macam permainan tradisional sebagai upaya melestarikan kebudayaan Indonesia.

Kemudian Coto (Konco Cerito) Babad untuk mendidik dan menginspirasi melalui dongeng maupun hikayat, Aku Jurnalis untuk mengedukasi cara menulis dan program English for Young Learner (EYL) untuk belajar bahasa Inggris.

Selain mengusung program yang lengkap, mobil ini juga dilengkapi fasilitas LED monitor. Kemudian dilengkapi juga dengan audio dan full soundsystemyang dapat digunakan untuk menampilkan film-film edukatif.

Joko menambahkan, Mobil Kaca telah menebarkan gerakan literasi ke wilayah Madura. Beberapa wilayah yang dituju di pulau tersebut, seperti Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan.

Salah satu pengunjung Mobil Kaca, Siti Aminah mengaku kegiatan ini merupakan yang pertama di Madura. “Enak ini karena bisa baca-baca di sini, nggak perlu ke toko. Seperti saya yang mondok gini kan jarang keluar nggak tahu toko buku di mana, dengan ini jadi mudah membaca dan tahu berbagai macam buku lain,” tutur Siti siswi kelas XII SMA Al Islah Sumenep Madura itu. (ist)

Ukiran Khas Sumenep Laris Manis di Mancanegara

foto
Proses pembuatan ukiran di desa Karduluk Sumenep Madura. Foto: VIVA/Veros Afif.

Sumenep merupakan kabupaten di ujung timur Pulau Madura, Jawa Timur, dengan ragam budaya dan tradisi yang unik dan menarik. Tepatnya di Desa Karduluk, salah satu daerah di Kabupaten Sumenep, sekitar 90 persen penduduknya bekerja sebagai perajin ukiran atau pengukir.

Hampir setiap rumah warga mendirikan usaha mebel ukiran yang memproduksi perabotan rumah, seperti lemari, ranjang kayu, dan beberapa hiasan meja ukiran.

Dalam perhelatan ‘Sumenep Mengukir’, puluhan pengukir asal Desa Karduluk unjuk kreativitas berupa karya terbaiknya. Acara tersebut digelar oleh pemerintah Kabupaten Sumenep, untuk mengapresiasi dedikasi para perajin ukiran dari Desa Karduluk, karena telah melestarikan warisan budaya mengukir.

Selain itu, ajang tersebut dalam rangka memperkenalkan ukiran Sumenep, yang tak kalah unik dan indah yang mampu bersaing dengan ukiran dari daerah lain. Hasil kerajinan ukiran Sumenep itu kini memiliki pangsa pasar tak hanya di kota-kota besar dalam negeri, tapi negara Jepang dan Hong Kong juga kerap memesannya.

Menurut salah satu pengukir, Jupri, sejak kecil dirinya telah mengukir, mewarisi tradisi dari orangtua dan sesepuhnya yang telah mengukir sejak zaman Kerajaan Sumenep di masa lampau. Saat ini, Kabupaten Sumenep telah berusia 748 tahun.

Awalnya, Jupri diajari teknik mengukir, sehingga lama-kelamaan berkembang dengan sendirinya. Hal yang sama berlaku juga pada warga pengukir di Desa Karduluk lainnya.

“Ini merupakan warisan tradisi dari keluarga saya, begitu juga dengan warga Karduluk lainnya, jadi secara sejarah warga Desa Karduluk telah ratusan tahun mengukir kayu, yang digunakan sebagai hiasan perabot rumah yang bernilai seni tinggi,” ungkapnya kepada viva.co.id.

Jupri juga menjelaskan bahwa ukiran khas Sumenep ini sangat unik, dengan corak yang lebih berani dan khas dengan motif klasiknya, sehingga banyak diminati oleh pasar dan para kolektor ukiran kayu.

Jumlah permintaan pasar untuk ukiran Sumenep cukup tinggi, biasanya berasal dari Bali, Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta. Ketika ditanya tentang penghasilan yang didapat, Jupri mengaku harganya sangat relatif menyesuaikan dengan tingkat kerumitan motif. Namun, Jupri mengaku sering menerima pesanan dalam jumlah banyak, sehingga penghasilannya pun cukup besar.

Sementara itu, menurut Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, event Sumenep mengukir ini merupakan aksi pelestarian budaya mengukir karena seiring dengan kemajuan teknologi, budaya, dan tradisi juga harus tetap dilestarikan. Hal itu bertujuan untuk merangsang regenerasi pegiat seni ukir Sumenep agar tidak punah.

Event ini sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan seni ukir khas Sumenep, sehingga dapat menopang nilai pasar dalam jangka panjang yang akan berdampak pada perkembangan perekonomian.

“Warisan budaya harus tetap dilestarikan, karena budaya mengukir di Desa Karduluk memiliki ciri khas tersendiri dan nilai sejarah yang tinggi. Sehingga untuk jangka panjangnya seni ukir Karduluk dapat menguasai pasar seni ukir di Indonesia, dan dapat menumbuhkan perekonomian di kalangan perajin sendiri,” ujar Achmad Fauzi.

Achmad Fauzi juga menuturkan bahwa dirinya pernah beberapa kali bertemu dengan para kolektor seni ukir di Indonesia yang memiliki hasil karya dari Desa Karduluk Sumenep. “Silakan datang langsung ke Sumenep, karena ukiran khas Kardulu Sumenep, hanya bisa didapatkan di Sumenep,” tutur Achmad Fauzi. (ist)

Kepiawaian Mahasiswa STKW Pukau Penguji

foto
Mahasiswa jurusan karawitan STKW saat tampil pada sebuah acara. Foto: Dok STKW.

Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya telah melangsungkan ujian pembawaan bagi mahasiswa semester V jurusan Karawitan di kampus setempat. Berlokasi di pendapa kampus, beberapa waktu lalu, satu persatu mahasiswa diuji dan tampil dengan luar biasa.

Para mahasiswa yang sudah terbagi dalam satu kelompok untuk empat orang ini langsung menuju alat musik karawitan. Ketika memainkan musik karawitan ini, mereka juga dibantu seniman dari daerah.

Perpaduan harmonis dari gamelan dan merdunya suara sinden menyatu membentuk alunan indah, sesekali juga ada penari yang mengiring seperti tari topeng malangan. Apalagi ada musik karawitan rancak Banyuwangian.

Salah satu dosen penguji, Sabar MSn mengatakan, kepiawaian mahasiswa yang mengikuti ujian pembawaan sudah tidak.diragukan lagi. Apalagi rata-rata dari mereka juga pernah berpengalaman mengikuti event besar. “Namun kami berharap, ujian pembawaan ini tidak lagi ditempatkan di sekolah ini, namun bisa keliling ke daerah,” harapnya seperti dilaporkan Harian Bhirawa.

Dosen Pengajar Karawitan Suyadi MSn yang juga Wakil Ketua III STKW Surabaya didampingi Kajur Seni Karawitan Joko Susilo MSn mengatakan, mata kuliah pembawaan adalah salah satu mata kuliah praktek yang wajib ditempuh mahasiswa S1 termasuk berapa mata kuliah praktek yang telah ditempuh mulai dari semester 1 sampai semester 5.

Adapun ujian pembawaan ini di dalamnya ada praktek karawitan Jawa Timur, praktek karawitan Madura, karawitan Banyuwangi dan praktek karawitan dari Jawa Timur. Pada prosesnya ujian pembawaan melalui beberapa tahapan yaitu satu evaluasi dosen pembimbing, di mana mahasiswa peserta uji diwajibkan menguasai 8 materi yang diambil dari masing-masing mata kuliah.

Pada tahap ini tuntutan materi difokuskan pada tingkat hafalan dan penguasaan pada instrumen pokok mahasiswa peserta uji melakukan proses pelatihan dengan didampingi oleh dosen pembimbing.

Berikutnya masing-masing materi diuji oleh masing-masing dosen pembimbing dan bisa mengerjakan pada tahap berikutnya. Bila materi ujian telah dinyatakan 10 titik lulus. Tahap tes awal tes jurusan mahasiswa peserta uji ini menyajikan empat material dari evaluasi dosen pembimbing. Tuntutan penguasaan pada tahap ini yakni, pada kualitas dan totalitas penyajian dari tiap-tiap materi uji.

Atas pertimbangan dewan penguji dan persetujuan dosen pembimbing dari masing-masing mahasiswa menyajikan 2 materi yang diujikan di hadapan tim penguji yang ditentukan oleh jurusan.

Tes tahapan penentuan setelah peserta dinyatakan lulus pada tahap awal, mahasiswa masing-masing peserta uji mempersiapkan dua materi uji untuk dipergelarkan dihadapan tim penguji. Tuntutan penguasaan pada tahap ini yakni pada kualitas dan totalitas penyajian dari tiap-tiap materi uji.

Sebelumnya, materi sajian yang ditampilkan para mahasiswa tersebut yaitu Gendhing Semarangan Slendro Pathet 8, Gendhing Puspa Slendro Pather sembilan koma Tari Topeng Ragil Kuning, Arasemen Lagi Gerajagan Banyuwangi, Gendhing Tallang Slendro Pathet 9, Karawitan Tari Topeng Patih,Gendhing Sekar Cindhe Slendro Pathet 8, dan Arrasemen Lagu Tanah Kelahiran.

Selaku dosen penguji ada Sabar MSn, Drs Suwarmin MSn, Joko Susilo MSn, Drs Sunarto MSn, Suwandi Widianto MSn, Hari Wirawan MSn, dan Yuddan Fijar Sugma MSn.

Kepala UPT Lembaga Seni “Wilwatikta”, Drs Arif Rofiq MSn mengatakan, kegiatan ujian pembawaan ini memang sudah lama dan penting untuk diikuti. “Dalam ujian pembawaan ini, turut mengundang kehadiran orang tua untuk mengetahui progress pendidikan anak mereka,” katanya.

Turut hadir Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Sukatno SSn MM yang mengapresiasi kepiawaian masing masing mahasiswa yang tengah mengikuti ujian pembawaan. “Tidak perlu diragukan lagi, karawitan di STKW ini lebih maju dan luar biasa bagi mahasiswa yang bisa mempelajarinya. Belajar karawitan memang tidak gampang,” katanya. (ist)

Perjuangan Kukuh Lestarikan Jaran Kepang

foto
Kukuh Santoso tetap setia sebagai pengrajin perlengkapan pentas jaran kepang. Foto: BisnisKini/Ayu Citra SR.

Kesenian jaran kepang atau sering disebut warga Kediri dan sekitarnya, kuda lumping memang tak pernah lekang oleh waktu. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa maupun lanjut usia kerapkali gemar menonton warisan budaya leluhur itu.

Untuk menangkap besarnya potensi inilah, Kukuh Santoso, warga Dusun Sentul, Desa Karangrejo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri tetap setia sebagai pengrajin produk perlengkapan pentas jaran kepang.

Usaha ini dimulainya sejak tahun 1997. Pekerjaan itu dilakoninya, setelah dia merasa bahwa mata pencaharian pertamanya yakni bertani kurang menghasilkan pundi-pundi keuangan yang cukup bagi keluarganya.

“Awalnya dulu hanya mencari orderan saja, lalu pekerjaan dibagi-bagi ke para pengrajin lain. Tapi karena produk yang dihasilkan kurang sama, akhirnya saya kerjakan sendiri sehingga ada kesamaan antara produk satu dan lainnya,” kata Kukuh Santoso seperti dilaporkan bisniskini.com.

Pria ulet ini mengaku, permintaan pasar terhadap produk kuda lumping tersebut tak pernah sepi. Bahkan dalam satu bulan, pihaknya bisa membuat hingga 5.000 buah kuda lumping berbagai ukuran.

Dari usahanya inilah, Kukuh berhasil mempekerjakan tujuh karyawan yang dengan setia ikut melestarikan budaya lewat tangan-tangan kreatif mereka. Alhasil, sampai sekarang hasil inovasi mereka sukses dikirim ke beragam penjuru Nusantara.

“Mulai dari Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, dan berbagai daerah lain di Provinsi Jawa Timur. Kemudian, juga kami kirim ke Semarang, Kudus, Palembang, Jambi, hingga ke Papua,” katanya.

Ketertarikan para pembeli, mayoritas dikarenakan produk jaran kepang kreasi Kukuh Santoso memiliki keunikan tersendiri. Bahkan dari sisi harga juga relatif terjangkau.

Untuk kuda lumping ukuran kecil biasanya dijual seharga Rp 100.000 per kodi atau 20 buah. Lalu ukuran sedang seharga Rp 125.000 per kodi sedangkan ukuran besar dijual dengan harga Rp 190.000 per kodi.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Karena dukungan dan bantuan Pemda setempat, jangkauan pemasaran produk ini semakin meluas,” katanya.

Hal ini, lanjut dia, juga terlihat ketika Pemkab Kediri menggelar Festival 1.000 Jaranan tahun 2013. Saat perhelatan Hari Jadi Kabupaten Kediri, maka pihaknya memperoleh pesanan 1.000 buah kuda lumping.

“Kami berharap, ke depan terus mendapatkan dukungan dari Pemda setempat serta masyarakat di seluruh Indonesia. Dengan demikian, warisan budaya leluhur tetap bertahan sampai kapan pun,” katanya. (ist)

Arsitektur Cina di Masjid Agung Sumenep

foto
Masjid Agung Sumenep memadukan arsitektur khas Cina, India dan lokal. Foto: istimewa.

Berkunjung ke Pulau Madura tak akan lengkap jika tidak singgah ke Sumenep. Di tempat ini, Anda bisa menemukan masjid bersejarah dengan gaya arsitekturnya yang cukup unik.

Masjid itu bernama Masjid Agung Sumenep. Masjid ini memiliki gerbang utama yang menjadi landmark bagi Pulau Madura.

Gerbang tersebut memiliki bentuk layaknya sebuah kastil. Warna yang mendominasinya adalah paduan warna kuning dan putih. Dari bentuk gerbang tersebut terlintas adanya pengaruh gaya arsitektur Cina, India, dan corak lokal.

Khusus arsitektur gaya Cina, hal ini tecermin dari pilihan warna kuning. Dalam sebuah literatur disebut, kuning itu merupakan warna kerajaan pada kekaisaran Cina.

Seperti dilaporkan Republika.co.id, pengaruh yang begitu dominan tersebut tak lepas juga dari sang arsitek yang ternyata berdarah Cina. Namanya Lauw Piango. Ia adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang menjadi satu dari enam orang Cina yang pertama menetap di Sumenep.

Mengintip video tentang Masjid Sumenep yang diunggah di laman Youtube, masjid ini memiliki atap berbentuk limas persegi empat. Atap limas bertumpang dua.

Model atap semacam ini menjadi salah satu ciri dari gaya arsitektur Jawa yang tecermin melalui atap joglo. Pada bagian ujung atap tersebut terpasang mastaka berbentuk tiga bulatan yang menjadi identitas sebuah masjid lokal.

Layaknya masjid tua di negeri ini, bagian selasar atau arcade masjid dibuat secara luas. Di antara tiang-tiang penghubungnya itu, dibuatkanlah bentuk lengkungan layaknya masjid-masjid yang ada di wilayah India.

Sementara, pengaruh budaya lokal tecermin dari ukiran yang menghiasi sepuluh bagian jendela dan bagian sembilan pintu besar. Bagian jendela dan pintu tersebut terbuat dari material kayu.

Ukiran-ukiran yang menghiasi kayu ini mengambil bentuk flora. Ini dapat dimaklumi karena dalam Islam sangat tidak dianjurkan untuk menempatkan bentuk binatang ataupun manusia di dalam masjid.

Ukiran bunga ini dihiasi dengan pilihan warna hijau dan kuning. Dalam sebuah situs ditulis ukiran yang ada di pintu utama masjid ini sangat kental pengaruh budaya Cina.

Situs tersebut menulis, ukiran yang tersaji pada Masjid Agung Sumenep ini memiliki kemiripan dengan ukiran yang jumpai di daerah Palembang yang notabene dipengaruhi cukup kuat oleh budaya Cina. (ist)

Cagar Budaya yang Tertimbun Air Telaga

foto
Tlogo Watu di Desa Keben Kec Turi Kab Lamongan. Foto: detikcom.

Kabupaten Lamongan selama ini dikenal menyimpan benda-benda cagar budaya. Baru-baru ini, sebuah telaga desa ternyata menyimpan prasasti. Prasasti ini berada di tengah telaga sehingga warga di Desa Keben, Kecamatan Turi, menyebut prasasti ini sebagai Tlogo Watu (Telaga batu).

Kepala Seksi Museum Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Miftah Alamudin mengatakan batu prasasti di tengah telaga tersebut diduga batu yang dipasang orang pintar pada zaman dahulu sebagai tolak bala atau batu tumbal.

Tujuannya, agar warga desa tersebut tidak terserang pagebluk atau wabah penyakit. Warga, kata Udin, juga jarang mendekat karena lokasinya yang berada di tengah telaga.

Apalagi untuk menelusuri dan menggali prasasti tersebut. Pihaknya pun akan bekerjasama dengan pemerintah Desa Keben mengembangkan lokasi Telaga Batu menjadi salah satu potensi desa.

“Warga mengenalnya sebagai telaga talak bala. Tapi dinas dan pemdes merencanakan akan melestarikan situs ini sebagai lokasi cagar budaya di Lamongan dan juga akan diarahkan sebagai kawasan wisata desa setempat,” kata Udin kepada detikcom saat di lokasi prasasti Keben, pekan lalu.

Sementara seorang pemerhati budaya Lamongan, Supriyo mengaku prasasti ini belum diketahui pasti sejak kapan berada. “Tapi prasasti di tengah desa dan terendam air telaga, ini pernah tercatat dalam register Belanda tahun 1906,” jelasnya.

Dari data register Belanda tersebut, terang Priyo, diketahui jika prasasti ini berhuruf Jawa kuno dengan tinggi 132 cm dan lebar 105 cm dengan ketebalan 10 cm.

“Mengingat lokasi prasasti ini sekarang berada di sebuah genangan air, hingga sekarang belum dapat dilakukan pemotretan, pengukuran dan pemantauan ulang sehingga bentuk fisik prasasti belum dapat ditampilkan,” jelas Priyo.

Meski beraksara Jawa kuno, jelas dia, namun tulisan yang ada di prasasti sulit dibaca. “Dugaan sementara, aksara di prasasti batu ini satu zaman dengan prasasti-prasasti lain yang ditemukan di Lamongan, yakni saat masa Erlangga,” papar Priyo yang juga ketua Lesbumi (Lembaga seniman budayawan muslimin Indonesia) Lamongan. (dtc)

Ada 77 Festival Wisata di Banyuwangi

foto
2018, Banyuwangi memiliki 77 agenda wisata dan budaya. Foto: Istimewa.

Memasuki tahun 2018, Banyuwangi merilis ‘Top 77 Calender of Event Banyuwangi Indonesia Festival 2018’ di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), awal bulan ini.

Berbagai acara tersebut akan menjadi wisata atraktif yang mengeksplorasi seni budaya, keindahan alam, olahraga hingga beragam potensi daerah yang bisa jadi pilihan menarik untuk wisatawan.

Calender of Event tersebut dilaunching langsung oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Menpar mengapresiasi konsistensi Banyuwangi yang aktif mengemas acara dalam rangka mempromosikan dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Banyuwangi, tiap tahunnya.

“Banyuwangi jadi kota kecil yang diambil paling banyak event-nya buat jadi 100 event terbaik Indonesia. Dua masuk top 100, dan satu masuk top 10 yaitu Banyuwang Etno Carnival,” tuturnya saat pidato pembukaan acara, seperti ditulis Kompas.com.

Anas mengatakan 77 acara tersebut diharapkan akan mendongkrak kunjungan pariwisata di Kota Banyuwangi. Selain itu juga untuk mendukung program Kemenpar Visit Indonesia Wonderfull Indonesia, dengan target 17 juta wisatawan mancanegara di 2018.

Menurutnya agenda Banyuwangi Festival yang telah digelar rutin sejak 2012 bisa menjadi panduan bagi wisatawan yang ingin menikmati beragam potensi wisata Banyuwangi.

”Banyuwangi Festival kami yakini sebagai cara ampuh untuk meningkatkan awareness orang pada Banyuwangi. Dan sudah terbukti, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara menikmati aneka atraksi wisata di Banyuwangi Festival,” kata Anas.

Ia juga menambahkan, Banyuwangi Festival tahun ini lebih istimewa dengan berbagai atraksi wisata baru berbasis potensi dan kearifan lokal.

Atraksi primadona wisatawan juga bakal dikemas lebih menarik, seperti Festival Banyuwangi Kuliner dan Art Week (12-15 April), Jazz Pantai Banyuwangi, (12-13 Mei), Banyuwangi Ethno Carnival (29 Juli), Ijen Summer Jazz (22 September), dan Festival Gandrung Sewu (20 Oktober).

Sejumlah atraksi baru dihadirkan, seperti Festival Tahu-Tempe (9-13 Februari) untuk memperkenalkan kampung pembuatan tahu dan tempe di Banyuwangi dan Festival Imlek yang akan menampilkan tradisi khas warga Tionghoa (17 Maret).

Selain itu, ada Festival Karya Tari (31 Maret), Fishing Festival (7 April), Festival Cokelat (12 Mei), dan Festival Kuntulan (3-6 Oktober).

“Atraksi-atraksi baru kami harapkan semakin memperkaya dan memperkuat posisi Banyuwangi dalam peta persaingan pariwisata. Seperti Fishing Festival, akan kami padukan dengan paket-paket wisata memancing yang kini sedang tren. Juga Festival Cokelat untuk mengangkat kakao kami yang sudah rutin diekspor ke berbagai negara,” kata Anas.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata MY Bramuda menambahkan, pendekatan sport tourism tetap mewarnai pergelaran Banyuwangi Festival 2018. Mulai dari Banyuwangi Underwater Festival (4-6 April), International Ijen Green Run (8 April), Banyuwangi International BMX (30 Juni), dan Tour de Ijen (26-29 September).

”Khusus sport tourism ini memang kami mengambil pasar yang sangat segmented, tak banyak tergarap daerah lain. Secara konsisten ini mulai membuahkan hasil, di mana komunitas-komunitas BMX se-Indonesia, misalnya, rutin berlatih di Banyuwangi karena kami punya sirkut berstandar internasional,” ujarnya di sela acara Bramuda.

Ada juga berbagai atraksi fesyen, seperti Green and Recycle Fashion Week (24 Maret), Banyuwangi Fashion Festival (14 Juli), Banyuwangi Batik Festival (17 November), dan Festival Kebaya (5 Desember).

“Kini aja juga festival untuk menumbuhkan empati sosial masyarakat seperti Festival Anak Berkebutuhan Khusus (10 Februari) dan Festival Anak Yatim (13-15 September),” tutup Bramuda. (ist)

Kota Karismatik, City Branding Kota Madiun

foto
City branding kota Madiun: Kota Karismatik. Foto: istimewa.

Kota Madiun yang terkenal sebagai Kota Pecel, telah resmi menancapkan nama “Kota Karismatik Madiun” sebagai city branding.

Penobatan ini bersamaan dengan peluncuran pakaian (menggunakan udeng/pengikat kepala dan jarit/kain panjang untuk pria) dan tarian adat khas Kota Madiun (solah mediunan) di Alun-Alun Kota dengan disaksikan ribuan masyarakat Madiun.

Dengan brand ini diharapkan memberikan semangat baru bagi masyarakat maupun Pemerintah Kota Madiun. Apalagi, brand Kota Karismatik Madiun, sudah mewakili segala unsur. Mulai dari kuliner, seni, budaya, wisata dan pelayanan publik.

Penegasan tentang brand Kota Karismatik Madiun, dipertegas dengan gelar jumpa pers oleh Dinas Kominfo. Dengan begitu, dipastikan semua masyarakat sudah tahu tentang brand tersebut. Tak hanya warga Kota Madiun, tapi juga masyarakat luar kota.

Wali Kota Madiun H Sugeng Rismiyanto mengatakan, Kota Madiun wajib memiliki brand legendaris yang mudah diingat oleh siapapun.

“Jadi tidak hanya mewakili masyarakat Kota Madiun, tapi juga harus menarik perhatian warga luar kota. Ini penting agar tujuan branding dapat dicapai secara maksimal dan optimal,” kata walikota seperti dikutip Beritalima.com.

Branding yang menarik dan mudah diingat, lanjutnya, menjadi pertimbangan awal sebelum seseorang memutuskan datang sekaligus memudahkan masyarakat luar mencari hal yang diinginkan di Kota Madiun.

“Dengan persepsi yang baik, branding dapat mengangkat daya tarik dan nilai jual suatu daerah. Dengan begitu, kunjungan wisatawan meningkat, masuknya investasi, serta daerah akan lebih maju dengan banyaknya industri. Artinya, akan terbuka peluang kerja baru, perekonomian meningkat dan sebagainya,” tambahnya.

Menurutnya lagi, ada masa penerapan otonomi daerah serta meluasnya tren globalisasi saat ini. Yakni daerah harus saling berebut satu sama lain dalam berbagai hal. Mulai perhatian, pengaruh, pasar, investasi, wisatawan, tempat tinggal penduduk, orang-orang berbakat, hingga pelaksanaan kegiatan atau event.

“Di Kota Madiun, kata karismatik dinilai sudah mewakili segala unsur. Karismatik mewakili kekayaan sumber daya manusia yang memiliki kepercayaan diri, lembut, kuat, berani, juga tegas. Masyarakat Kota Madiun juga cinta damai dan mampu bertahan pada setiap ancaman yang datang. Ini merupakan sifat pendekar yang dimiliki mayoritas masyarakat Kota Madiun sejak dulu,” paparnya.

Sementara itu, Ardiansyah, dari Universitas Brawijaya Malang, menjelaskan, Kota Madiun memiliki posisi istimewa secara geografis dengan latar belakang sejarah yang besar. Kota Madiun juga memiliki sejumlah unggulan. Diantaranya bidang komunikasi dan informasi, perdagangan, industri olahan, serta seni budaya pencak silat yang kuat.

“Kami mencoba memasukkan unsur-unsur potensial ini dalam logo Kota Karismatik Madiun,” terang Ardiasyah yang menjadi salah satu konseptor city branding Kota Karismatik Madiun.

Logo Kota Karismatik Madiun pun tampil ikonis dan simpel, tapi sarat makna. Berangkat dari unsur hewan, kilatan api, gerakan efek pencat silat, senjata kerambik khas pencak silat, sampai alam Kota Madiun.

Harimau dan banteng dinilai sebagai hewan yang dapat mewakili kota ini. Garis loreng serta mata harimau diimplementasikan dalam logo yang mewakili kultur masyarakat Kota Madiun yang percaya diri, berani, juga tegas.

Sedangkan dari sisi sejarah, Aji Prasetyo, yang juga dari Universitas Brawijaya, menjelaskan, logo tak terlepas dari sejarah sosok Sentot Prawirodirjo, salah seorang panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro saat melawan penjajah Belanda itu dikenal gagah dan berani.

Dialah ‘harimau’ asal Madiun yang menjadi inspirasi logo Kota Karismatik Madiun. “City branding ini mengajak kita terus berbenah, memperbaiki diri dan menunjukkan inilah orang Madiun yang berkarismatik,” terang Aji Prasetyo.

Menurutnya lagi, sebagai kota yang terus berbenah dan berkembang, Kota Madiun wajib terus menancapkan budaya dan tradisi sebagai salah satu akar pembangunan.

Apalagi dengan letak geografisnya yang berada di bagian barat Provinsi Jawa Timur, kota ini menyimpan potensi pengembangan salah satu tradisi budaya asli bumi Nusantara, yakni pencak silat.
Tak kurang dari 11 perguruan silat ada di Kota Madiun. Karena itu, Madiun juga dikenal dengan Kampung Pesilat.

Bahkan ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Madiun, Moerdjoko HW, menaruh harapan besar agar pencak silat dapat menjadi ikon wisata. Apalagi pencak silat menjadi salah satu pertunjukan budaya, yang ditampilkan dalam puncak acara budaya, yang berlangsung setiap bulan Suro di kota ini.

“Pencak silat jangan hanya dilihat dari satu sisi. Selain sebagai bela diri dan olahraga, menjadi seni yang dapat dinikmati,” kata Murdjoko HW.

Bukan hanya pencak silat, Kota Madiun juga memiliki makanan khas pecel Madiun dan madumongso serta tarian solah mediunan yang diluncurkan saat pesta rakyat bersamaan dengan peluncuran city branding.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Madiun, Agus Purwowidakdo, mengatakan, gerakan tari mengambil dasar pencak silat yang menjadi kekayaan budaya dan ciri khas Kota Madiun.

“Pencak silat sudah menjadi ciri Kota Madiun sehinga wajib semakin dikuatkan. Salah satunya dikemas dalam bentuk lain seperti tarian. Tarian ini akan dipatenkan melalui peraturan wali kota dan didaftarkan di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia,” terang Agus.

Selain tarian, Kota Madiun juga memiliki pakaian khas daerah. Penyusunan pakaian khas ini melibatkan akademikus hingga harus bertolak ke Jakarta dan Belanda demi mencari referensi. Referensinya, antara lain kaum bangsawan, priyayi serta pelajar.

Seperti tarian, pakaian adat yang dibuat dengan menggandeng akademisi Universitas Gadjah Mada ini juga akan dipatenkan dengan peraturan wali kota dan didaftarkan di Kementerian Hukum. “Ini sebagai salah satu identitas Kota Madiun, wajib dilestarikan. Harapannya, pakaian adat dapat digunakan dalam event-event tertentu,” pungkas Agus. (ist)

Cagar Budaya Nasional Banyak yang Dirusak

foto
Petugas memeriksa situs Kumitir di Kabupaten Mojokerto. Foto: jawapos.com.

Proses hukum untuk pelestarian cagar budaya nasional harus terus dilakukan. Meski ada satu dua yang sudah mulai diproses, namun masih banyak yang tidak ditindaklanjuti.

Koodinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) Jhohannes Marbun atau yang akrab dengan panggi­lan Joe Marbun menyampaikan, seperti yang saat ini terjadi dalam kasus Kumitir di Trowulan yang memasuki proses persidangan, dan tersangkanya ditahan, mestinya untuk kasus lainnya juga diproses hukum juga.

“Dari kasus Kumitir ini teringat kasus SMA 17 Satu Yogyakarta dan kasus Pasar Cinde Palembang. Kita meminta diusut secara hukum,” tuturnya seperti dikutip RMOL.

Joe menerangkan, kasus Kumitir ini merupakan kasus kedua yang berakhir di meja hijau, setelah pada 2015 lalu kasus SMA 17 ‘1’ Yogyakarta disidangkan dan saat ini telah incraht setelah terdakwa melakukan kasasi.

Dia menerangkan, Majelis Hakim MA yang diketuai Artijo Alkostar pada 23 April 2016 mengadili Terdakwa YT(Kasus SMA ’17’ Yogyakarta) dengan Hukuman Badan 2 Tahun Penjara dan Denda Rp 500 juta.

“Namun sampai kini putu­san tersebut belum dieksekusi. Bahkan pertengahan 2016 terpidana terendus terlibat kasus narkoba di Sleman dan hanya menjalani rehabilitasi. Ada apa dengan Kejaksaan yang belum mengeksekusi? Begitu pula BPCB Yogyakarta sebagai pihak yang melakukan penyelidikan?” ujarnya.

Demikian pula Kasus Pasar Cinde di Palembang, menurut Joe, yang sebenarnya modusnya sama dengan yang ter­jadi terhadap Kasus Kumitir dan Kasus SMA17 ‘1’ Yogyakarta.

Pasar Cinde Palembang sudah jelas ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada April 2017, dan selanjutnya pada September 2017 dirusak dan pertengahan Januari 2018 ini diketahui telah rata dengan tanah.

Jika ditelusuri, kata dia, sejak September 2017, sesaat setelah dihancurkan tahap pertama, Kasus Pasar Cinde tersebut sudah dilaporkan kepada Kepolisian setempat, Pemkot Palembang, dan dilaporkan pula BPCB Jambi.

“Namun proses penyelidikan terhadap Kasus Pasar Cinde tidak dilakukan sampai saat ini. Ada apa dengan BPCB Jambi?” ujarnya.

Demikian pula, kata dia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RIsebagai penanggungjawab tertinggi dalam Pelestarian Cagar Budaya Nasional belum menentukan sikap terhadap kasus Pasar Cinde tersebut.

“Mungkinkah BPCB Jambi tidak bergerak karena tidak adanya Restu dari ‘atasan’nya? Untuk itu, tanggapan dan sikap dalam menindaklanjuti kasus ini sangat diperlukan,” ujarnya.

Sebelumnya, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur di Trowulan memproses secara hukum seorang warga yang telah melakukan perusakan terhadap salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Bahkan, FA(24), warga yang merusak bangunan kuno di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto itu pun kini ditahan.

FA dinilai bertanggung jawab atas rusaknya bangunan kuno peninggalan Kerajaan Majapahit di areal persawahan milik Tuminah di Dusun Bendo, Desa Kumitir. Bangunan kuno yang terbuat dari batu bata itu rusak saat lahan sewaan tersebut dilakukan penggalian tanah untuk urukan. Bahkan, batu bata kuno hasil pembongkaran itu dihancurkan.

Kasus perusakan situs ini terjadi pada 9 April 2017. Terjadinya perusakan bangunan kuno ini diketahui setelah salah satu warga mengunggah pembongkaran bangunan kuno tersebut melalui media sosial.

“Kami cek ke lokasi ternyata benar terjadi perusakan situs. Ini langsung kita laporkan ke Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BPCB Jawa Timur,” ungkap Kasi Pemeliharan Perlindungan dan Pelestarian BPCB Jatim Edy Widodo, Senin (22/1).

Laporan itu lantas ditindaklanjuti dengan melakukan penyidikan. Beberapa saksi, kata Edy, juga sempat dimintai keterangan. Ia juga menyebut kasus ini juga telah digelar perkara bersama kepolisian beberapa waktu lalu.

“Dan hasil perkara menyimpulkan bahwa FA bertanggung jawab atas perusakan itu. Lalu, kita menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka tunggal,” tambah Edy. (ist)

Gus Ipul Apresiasi Omah Jaman Now

foto
Gus Ipul saat peresmian Omah Jaman Now. Foto: Istimewa.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengapresiasi berdirinya Omah Jaman Now di Jalan Bali Nomor 24 Surabaya, sebagai sebagai tempat bertemunya anak muda, untuk berdiskusi, kongkow, dan saling berkolaborasi untuk meningkatkan kreativitas.

“Omah Jaman Now adalah contoh nyata bahwa kreativitas dan kolaborasi adalah sepasang kaki yang berjalan beriringan,” kata Gus Ipul saat menghadiri soft launching Omah Jaman Now, akhir pekan lalu.

Anak muda atau generasi milenial adalah tonggak ekonomi kreatif yang harus diberi tempat untuk menyalurkan kreativitasnya. “Saya, meski dalam umur termasuk ke generasi old, tapi memiliki semangat zaman now,” ujar Gus Ipul sambil tersenyum.

Gus Ipul mengaku, akan terus mendukung dan akan mengembangkan semangat kreativitas dan kolaborasi khususnya anak muda untuk memajukan ekonomi kreatif Jawa Timur.

Omah Jaman Now, awalnya diinisiasi Gus Ipul,lantas diterjemahkan beberapa kelompok anak muda, sehingga tempat ini disulap jadi sebuah lokasi yang sangat nyaman bagi anak muda untuk mengembangkan diri.

“Saya tadi sempat tanya ke beberapa anak di depan, apa kita perlu tempat seperti ini. Katanya sangat perlu dan saya akan mendukung penuh keberadaan tempat ini,” ungkap Gus Ipul seperti dikutip Jatim News Room.

Untuk diketahui, ide awal mendirikan Omah Kaman Now untuk membuat pusat kegiatan bagi para pemuda khususnya bagi pegiat ekonomi kreatif. Di Surabaya, saat ini banyak berdiri ruang kerja. Sayangnya yang ada sangat eksklusif dan malah berbayar, sehingga tidak bisa memfasilitasi kegiatan komunitas yang ada.

Omah Jaman Now ini dibuka setiap hari mulai pukul 09.00-21.00 WIB. Omah ini memiliki empat unit ruangan yang dapat diakses secara gratis yakni lorong inspirasi, rusng kolaborasi, ruang produktif serta selasar kreatif. Omah ini nantinya akan dihuni atau digunakan sebagai kantor bersama bagi kelompok-kelompok kreatif. (jnr)