Foto karya fotografer muda berbakat Perancis, Erell Hemmer. Foto: istimewa.
Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya dan Jayanata mempersembahkan pameran fotografi karya fotografer muda berbakat asal Perancis, Erell Hemmer di Snow White Ballroom – Jayanata Beauty Plaza Surabaya.
Penanggungjawab Budaya dan Komunikas IFI Surabaya, Pramenda Krishna A di Surabaya mengatakan, karya Erell Hemmer sangat unik karena hanya menggunakan kamera analog.“Berbekal kamera analog, Erell Hemmer mencermati hal-hal menarik, momen-momen unik, dan hasilnya tidak akalh dengan kamera digital,” katanya seperti dikutip Jatim News Room.
Menurutnya, Pameran Fotografi “La Galerie des Glaces Behind The Scenes of Paris Fashion Week” ini akan berlangsung 3-17 Februari 2018.“Snow White Ballroom – Jayanata Beauty Plaza itu terletak di Jl Mawar No. 4 – 6 lantai 3 Surabaya, silahkan datang tidak dipungut biaya,” tuturnya.
Selain pameran, penggemar seni fotografi, akan dihibur penampilan musik DJ RMD13 (@rmd13th) dan karya visual VJ Ivan Agiltio (@iagiltio) dari Legasy (@legasydealer). “Acara bakal makin seru dengan penampilan musik sayang kalau tidak hadir,” kata Krishna mengingatkan.
Krishna menambahkan, Erell Hemmer akan hadir pada pembukaan pameran. dan selama berlangsungnya pameran, ia akan memberi dua workshop fotografi pada 8 dan 14 Februari.”Workshop tidak dipungut biaya, masyarakat bisa banyak belajar dari Erell Hemmer,” harapnya. (jnr)
Puti terlihat luwes mengikuti gerakan penari Gandrung. Foto: Liputan6.com.
Puti Guntur Soekarno yang maju Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, disambut meriah di kampung adat suku Osing, di Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi. Ia bahkan tertarik ikut menari Gandrung.
“Selamat datang Mbak Puti di kampung kami. Kami senang dikunjungi. Semoga selalu ingat dengan kami,” kata tetua kampung menyambut, akhir Januari lalu.
Banyuwangi memang memelihara kampung adat Osing. Pemerintah Daerah setempat membantu anggaran pada warga yang mempertahankan model rumah adat.
“Nanti kalau Gus Ipul dan Mbak Puti terpilih, saya harap ada dukungan anggaran Pemprov Jawa Timur untuk pelestarian budaya,” kata Made Cahyana, Ketua DPRD Banyuwangi, yang mengiringi Puti, seperti dilaporkan Liputan6.com.
Saat tiba, Cucu Bung Karno itu disambut ramah. Gamelan khas Banyuwangi pun ditabuh meriah. Mereka juga dijamu dengan makanan khas kampung adat, yang disajikan berjejer di atas tikar di tengah jalan.
Pasangan Calon Gubernur Saifullah Yusuf itu juga berkesempatan untuk melihat kehidupan di kampung Osing, Jawa Timur. Beberapa peralatan tradisional tersedia di tempat itu, seperti lesung alat penumbuk padi, untuk menyambut tamu.
Beberapa penari cantik ke luar dan memainkan tarian Gandrung, diiringi irama gamelan dan lagu ‘Umbul-Umbul Blambangan’.
Puti pun tak tahan, ia ikut nimbrung menari. Berbaur dengan penari, Puti menggerak-gerakkan tangan dengan selendang. Kelihatan luwes. Tepuk tangan pun meriah.
“Kita harus bangga dengan kepribadian kita, Bangsa Indonesia. Sebagai angkatan muda, saya tidak ingin meninggalkan adat tradisi dan kebudayaan kita sendiri. Dalam kebudayaan bangsa Indonesia itu, Bung Karno menggali dasar negara kita, Pancasila,” tutur Puti.
Puti menyampaikan, semua punya tugas untuk melestarikan budaya, yang menjadi bagian jiwa Indonesia. “Seperti tertulis dalam lagu nasional kita ‘Indonesia Raya’: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Saya ingin masyarakat Jawa Timur hidup bahagia dengan budayanya,” kata Puti
Puti mengutip ajaran Trisakti, yang diwariskan Bung Karno, kakeknya. “Yakni, berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan,” ujar Puti. (ist)
Sebuah perjalanan pastinya meninggalkan kenangan yang membekas dan tidak terlupakan. Hal ini dirasakan pula oleh Antonius Kho. Pengalaman yang didapat dari perjalanannya ke berbagai kota di Indonesia dan negara lain menjadi penyemangat dan mendorongnya untuk terus aktif berkaya.
Segudang inspirasi yang didapat dituangkan dalam karya lukis yang kemudian dipersembahkan dalam pameran bertajuk “Remembering” di Galeri House of Sampoerna (HoS) Surabaya, mulai 3 Februari – 3 Maret 2018.
Pameran Remembering merupakan bentuk refleksi dari renungan serta kenangan mengenai catatan perjalanan Antonius Kho selama setahun terakhir.
Kesan mendalam yang ditangkap dituangkannya ke dalam 25 karya lukis dengan berbagai tema, seperti pada karya berjudul Cambodia Young Girl yang merupakan visualisasi wajah-wajah gadis Kamboja yang dijumpainya selama menyelenggarakan pameran disana.
Tak hanya berupa goresan, karya yang diciptakannya pun bercerita tentang suasana hatinya seperti yang nampak pada karya berjudul “Melancholy”. Disamping itu, ingatan masa kecil pada tanah kelahirannya di Klaten dan tempat-tempat yang biasa dia kunjungi seperti candi Prambanan dan Borobudur juga menginspirasinya untuk menghasilkan suatu karya.
Kekagumannya pada keindahan relief-relief yang dijumpainya telah membawanya melahirkan karya berjudul Daydreaming.
Bagi Antonius Kho, kekuatan karya-karyanya bertumpu pada penggunaan warna yang lembut seperti jingga, putih, coklat atau hijau muda yang dihasilkan dari kombinasi pewarna akrilik, pastel dan juga pensil warna.
Dipika Rai, seorang Kritikus Seni dari India, juga mengakui hal tersebut, kombinasi warna hasil goresan tangan Anthonious Kho memang sangat asli, beragam dan mampu menghipnotis setiap mata yang melihatnya.
Selain itu karakter kuat dari setiap karyanya dari dulu hingga kini adalah memunculkan beragam bentuk wajah dengan mimik dan karakter yang sangat unik.
Wajah-wajah tersebut baginya merupakan wujud dari beragamnya karakter orang-orang yang dia jumpai di setiap perjalanan seni dan budayanya ke berbagai negara termasuk di Indonesia. “Sketsa wajah-wajah itulah kekuatan Anthonious Kho” ujar Agus Dermawan T Kritikus seni dari Jakarta.
Antonius Kho adalah sosok pelukis kontemporer berbakat yang terlahir di Klaten pada 1958, berhasil menyelesaikan pendidikan seninya di Academy of Fine art Bandung dan FH Cologne, Jerman.
Sang pelukis kini lebih banyak berkarya dari studio miliknya di Ubud yang telah mengantarkannya mengikuti berbagai pameran seni dan budaya di berbagai negara dari Asia hingga Afrika.
Perjalanan panjangnya dalam berkesenian turut melambungkan namanya hingga meraih penghargaan seperti 1st prize di “Mask in Venice” Itallia dan “Malen auf Liegestuehien” Jerman.
Namun itu semua tak lantas mengikis ciri khasnya dalam berkarya , justru beragam pengalaman dan perjalanan tersebutlah yang turut memperkaya hasil goresan tangannya.
“Berkarya apapun itu bentuknya haruslah jujur terhadap diri sendiri, karena kejujuran itu nantinya akan terpancar dalam setiap karya-karya kita, perjalanan dan pengalamanpun jangan lantas membuat kita lupa akan jati diri, menjaga kualitas dan ciri khas akan membuat karya-karya kita dikenang dan diapresiasi” tutur Antonius Kho. (ita)
Peserta berkostum Sriwijaya di Jember Fashion Carnaval ke-16 di Jember. Foto: Antara Foto/Seno.
Di awal tahun 2018 ini, ada beberapa agenda nasional yang bisa dicatat bagi Anda yang ingin melewatkan liburan di acara festival budaya dari berbagai daerah di Nusantara.
Sepanjang tahun 2018 diperkirakan tiga ribu even diselenggarakan, yang dikelola oleh berbagai kalangan, menurut Menteri Pariwisata RI Arief Yahya dalam sambutannya di buku “100 Wonder Calender of Event”.
“Seratus Wonder Event serta sepuluh top even yang diseleksi oleh tim kurator, telah ditentukan sebagai event pilihan tahun ini. Wisatawan dapat menggunakan sebagai rujukan, sementara para pemangku kepentingan dapat menggunakan sebagai panduan untuk menyusun program,” jelasnya seperti dikutip tirto.id.
Selain itu, tahun 2018 ditetapkan sebagai Tahun Visit Wondefull Indonesia. Dengan terbitnya 100 Wonder Calender of Event ini merupakan undangan terbuka untuk Visit Wonderfull Indonesia 2018.
Berikut 10 festival budaya nasional yang akan digelar sepanjang 2018 dari seluruh penjuru tanah air, dikutip dari buku “100 Wonder Calender of Event”:
Java Jazz
Java Jazz bisa dikatakan salah satu festival musik jazz terbesar di Indonesia yang digelar di JI Expo Kemayoran, Jakarta. Dihadiri oleh berbagai genre musik berbalut jazz, festival ini senantiasa menampilkan para legenda, pemula hingga bintang yang sedang bersinar.
Diselenggarakan secara rutin pada minggu pertama Maret, festival ini menjadi perayaan musik jazz para pecintanya lintas generasi. Di tahun 2018 ini, Java Jazz akan digelar pada 2 Maret 2018, bagi Anda yang berminat bisa menyiapkan diri, untuk info lebih lanjut tentang even ini bisa dilihat di http://www.jakarta-tourism.go.id.
Pesta Kesenian Bali
Pesta Kesenian Bali sering disebut sebagai festival seni terlama, terpanjang dan paling meriah dalam tradisi festival di Indonesia. Berlangsung selama sebulan penuh, melibatkan ribuan seniman dari seluruh penjuru Bali.
Berjenjang melalui kecamatan, kabupaten hingga propinsi. kompetisi tingkat desa, festival ini terkenal dengan karnaval pembukaan yang megah. Selama empat puluh tahun selalu dihadiri oleh Presiden RI. Tahun ini, Pesta Kesenian Bali akan digelar pada 16 Juni nanti yang mewakili puncak kerja seni sepanjang tahun.
Jember Fashion Carnaval
Jember Fashion Carnaval (JFC) terkenal sebagai jawaban terhadap festival dunia, baik Rio Carnaval, Noting Hill dan Venesia. Acara berlangsung empat hari dengan kategori anak, beragam adat, pameran dan konvensi fashion.
Dirintis oleh Dynand Fariz, seorang seniman dan pendidik yang menginspirasi munculnya gelombang karnaval di berbagai kota di Indonesia. JFC akan digelar pada 7 Agustus 2018 nanti sebagai ajang Fashion Extravagansa yang ditampilkan sepanjang lebih dari tiga kilometer. Berkat JFC, kota tenang Jember di Jawa Timur ini masuk dalam peta kota karnaval dunia.
Iron Man 70.3 Bintan
Diselenggarakan di Bintan, Ironman 70.3 adalah lomba berlari, berenang dan bersepeda sambil menjelajah keindahan alam daerah itu. Acara yang digelar pada 19 Agustus 2018 ini secara regular diikuti oleh atlet dunia dan telah masuk kualifikasi tingkat dunia.
Festival Payung Indonesia
Festival ini menampilkan para maestro pengrajin dari desa payung Indonesia, pameran lukisan payung, rajut payung kreatif, fashion wastra nusantara hingga bazar seni payung. Karya instalasi dan arsitektur bercitra payung, menghiasi arena festival dan memindahkannya kehebohan di instagram dan sosial media.
Dipamerkan secara reguler delegasi tradisi payung dari beberapa negara Asia seperti Thailand, Jepang, Brunei, Malaysia dan Cina.
Di bawah tema Sepayung Indonesia, pertunjukan ikonik dari para maestro tari ditampilkan bersamaan dengan karya kontemporer seniman muda pada 20 Agustus hingga 8 September 2018.
Sanur Village Festival
Sanur Village Festival mem-branding “village” menjadi acuan dari kegiatan. Ini yang menjadi daya tarik bahwa Sanur Village Festival memiliki nilai lebih untuk dikunjungi sebagai festival yang berbeda dengan daerah lainnya.
Village Festival terus tumbuh dan berkembang dengan meletakkan pondasi kuat “the new spirit of heritage” sebagai jati dirinya. Acara ini akan digelar di Desa Sanur, Kota Denpasar pada 24-28 Agustus 2018.
Karnaval Kemerdekaan
Karnaval Kemerdekaan adalah parade budaya tahunan yang diselenggarakan secara bergilir di kota dan atau destinasi terpilih di Indonesia. Pontianak (2015), Danau Toba (2016) dan Bandung (2017). Selama sepuluh tahun pertama sejak 2005 diselenggarakan secara tetap di depan Istana Negara, Jakarta.
Festival ini digelar pada 25 Agustus 2018 memamerkan kekayaan budaya visual dan busana Nusantara yang megah dan semarak, selalu dirangkaikan dengan perayaan Kemerdekaan Indonesia.
Grand Karnaval Indonesia
Karnaval puncak yang menghimpun berbagai ragam karnaval di Indonesia, yang di koordinasi oleh JFC. Diselenggarakan setiap tiga tahun sekali dengan tempat yang berpindah pindah dengan tematik pilihan.
Untuk pertama kalinya diselenggarakan di Jakarta berkenaan dengan penyelenggaraan ASIAN Games 18 pada Agustus 2018. Grand Karnaval ini akan digelar di Jakarta pada 27 Agustus 2018.
Banyuwangi Ethno Carnival
Karnaval etnik ini digelar di Sunrise of Java, menyajikan keanggunan busana etnik nusantara. Etnik Jawa, Madura, Padalungan, Bali dan Osing berkolaborasi menyusun ekspresi seni yang unik. Dengan alunan suara dan gerak Gandrung Sewu, yang menjadi ikon Banyuwangi, karnaval mengalir di sepanjang jalan. Karnaval ini akan digelar 10 November 2018.
Borobudur Marathon
Berlari melewati desa tradisi dan hutan lokal, sambil mengelilingi Borobudur, menjadikan Borobudur Marathon memori tak terlupakan bagi para pesertanya. Jalur yang dipilih tidak linear tetapi sirkular dengan tujuan agar peserta mengikuti maraton yang menghormati raga dan memuliakan rasa. Festival ini digelar pada 18 November 2018 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. (ist)
Generasi Z, generasi yang kesehariannya menyatu dengan internet. Foto: Inovasiunsrat.id.
MEMBICARAKAN strategi kebudayaan, seharusnya kita sendirilah yang sanggup mengarahkan, mengembangkan dan menciptakan kembali secara baru, menyumbangkan nilai-nilai dan bentuk tingkah laku yang barangkali tidak dikenal atau bahkan ditolak dalam warisan budaya yang semula kita terima.
Berbicara tentang strategi kebudayaan, berarti menegaskan diri kita sebagai agen kebudayaan, bukan hanya sebagai penerima warisan (resipien) kebudayaaan saja, tetapi sekaligus pencipta warisan baru dalam kebudayaan di mana kita hidup. Secara singkat, kalau kebudayaan sebagai warisan cenderung bersifat normatif, maka kebudayaan sebagai strategi hauslah bersifat kreatif.
Tanpa kemampuan untuk melakukan kreativitas, kecenderungan kita terhadap perubahan kebudayaan akan menghasilkan involusi kebudayaan. Involusi kebudayaan akan mengakibatkan meningkatnya usaha untuk mempertahankan salah satu segi dari kebudayaan itu, sementara segi yang lain sudah berubah.
Involusi kebudayaan, pada dasarnya adalah kemandegan kebudayaan, kelumpuhan kebudayaan, atau “pembusukan budaya”. Dan orang yang mengalami involusi kebudayaan adalah orang yang hanya akan memuja kebudayaan secara estetik dan tidak mampu melihatnya sebagai bagian dari kerja kreatif progresif.
Agen Kebudayaan
Dengan bersepakat, bahwa kita adalah agen kebudayaan (bukan pewaris kebudayaan), seharusnya kita yang menciptakan kebudayaan itu. Setidak-tidaknya mengarahkan dan mengembangkannya. Meskipun yang diarahkan, dikembangkan, atau diciptakan bertentangan dengan budaya lama. Itulah konsekuansinya.
Nenek moyang kita adalah agen-agen kebudayaan yang sangat hebat. Salah satu indokator untuk mengukur kreativitas peradaban suatu bangsa atau etnis adalah kekayaan kosa kata dan bahasanya. Saat itu, kreativitas warga mampu menciptakan jenis barang apa saja yang berbahan dasar dari alam. Misalnya, tikar dari daun pandan; payung dari kayu; peralatan rumah tangga dari kaleng bekas, bambu, atau kayu, dan sebagainya.
Bagaimana soal makanan? Dalam menciptakan makanan, mereka juga kreatif. Dari bahan singkong saja, puluhan jenis makakan dapat diciptakan, mulai getuk, keripik, sawut, tiwul, utri, mentho, hingga ceriping.
Demikian pula aneka jenis sambal. Ada sambal korek, bajak, jenggot, terasi, bawang, dan seterusnya. Aneka minuman yang dicipkan juga luar biasa banyaknya. Ada wedang jahe, ronde, bajigur, kolak, dawet, sekoteng, cao, dan sebagainya.
Berbagai ragam kreativitas itu, kini digilas oleh kapitalisme global. Kreativitas masyarakat Jawa, sesungguhnya memperlihatkan keunggulan budaya mereka atas budaya asing. Kekayaan budaya tersebut menunjukkan tingginya mutu peradaban mereka. Masalahnya, peradaban itu kini redup dan urung membawa kejayaannya.
Pertanyaan berikutnya, dari manakah kita dapat mengembangkan kreativitas sebagai modal budaya, jika misalnya agen-agen kebudayaan semacam mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi, kini hanya berhenti pada status resipien kebudayaan? Di negeri ini, amat sunyi karya-karya tulis intelektual. Indikatornya, tampak dari rendahnya buku yang diterbitkan.
Asa Kebudayaan Jatim
Kebudayaan Jawa, khususnya Jawa Timur merupakan salah satu bagian dari kebudayaan yang ada di Indonesia. Kebudayaan Jawa Timur dengan keanekaragamannya banyak mengilhami masyarakat Jawa dalam tindakan maupun perilaku keberagamaannya.
Masyarakat Jawa memiliki keunikan tersendiri. Dalam segala tindakannya biasanya tidak lepas dari mengikuti tradisi atau kebiasaan yang dianut oleh para leluhurnya. Keunikannya dapat dilihat mulai dari kepercayaan masyarakat, bahasa, kesenian, dan tradisinya. (Clifford Geertz, 1989:13).
Clifford Geertz, peneliti The Religion of Java, yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia, khususnya di Jawa. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi –abangan, santri, dan priyayi– di dalam masyarakat Jawa, ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis, baik tentang hubungan antara agama dan budaya, ataupun hubungan antara agama dan politik.
Menurut Geertz, tiga tipe kebudayaan –abangan, santri, dan priyayi– merupakan cerminan organisasi moral kebudayaan Jawa, dimana ketiganya ini merupakan hasil penggolongan penduduk Mojokuto berdasarkan pandangan mereka, yakni kepercayaan keagamaan, preferensi etnis dan ideologi politik.
Selain itu, di Mojokuto ini juga terdapat lima jenis mata pencaharian utama –petani, pedagang kecil, pekerja tangan yang bebas, buruh kasar dan pegawai, guru atau administratur– yang kesemuanya mencerminkan dasar organisasi sistem ekonomi kota ini dan darimana tipologi ini dihasilkan.
Berdasarkan penelitian Geertz, betapa semerbaknya keanekaragaman budaya di Jawa Timur. Keanekaragaman budaya adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia, adalah sesuatu yang tidak dapat di pungkiri keberadaanya.
Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia. Terdiri atas berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada di daerah tersebut.
Dengan jumlah penduduk Jawa Timur, lebih kurang 40 juta juta orang, mereka mendiami wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan.
Hal ini berkaitan dengan tingkat peradaban masyarakat Jawa Timur yang berbeda. Pertemuan-pertemuan dengan budaya luar Jawa Timur, mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan. Kemudian berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia, khususnya Jawa Timur turut mendukung perkembangan kebudayaan sehingga mencerminkan kebudayaan agama tertentu.
Dapat dikatakan, bahwa Jawa Timur adalah salah satu provinsi dengan tingkat keanekaragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman budaya kelompok sukubangsa, namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradisional hingga ke modern, dan kewilayahan.
Dengan keanekaragaman kebudayaan di jawa Timur, dapat dikatakan mempunyai keungulan di bandingkan dengan provinsi lainya. Jawa Timur mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tidak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat Jawa Timur mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang di rangkai sejak dulu.
Interaksi antar kebudayaan di jalin tidak hanya meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia. Hubungan antar pedagang di luar Indonesia dan pesisir Jawa, khususnya Jawa Timur juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar peradaban yang ada.
Singgungan-singgungan peradaban ini, pada dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia, khususnya Jawa Timur dalam berinteraksi dengan perbedaan. Di sisi yang lain bangsa Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal di tengah-tengah singgunagn antar peradaban itu.
Untuk itulah, para pelaku dan pemangku kebijakan juga sudah harus mulai berpikir transformatif. Dengan pola pikir transformatif, para pelaku budaya lokal akan bisa bersifat apropriatif terhadap perkembangan-perkembangan terbaru. Mereka tetap memiliki kesadaran untuk terus menegosiasikan dan mewacanakan makna-makna sosio-kultural dalam proses kreatifnya.
Sementara, para pemangku kebijakan juga harus peka terhadap perkembangan zaman, baik dalam hal kreativitas maupun teknologi media yang bisa digunakan untuk memfasilitasi para pelaku dalam berkarya dan menyebarluaskan karya, baik dalam lingkup regional, nasional, maupun internasional.
Memang, sekali lagi, dibutuhkan ‘kesadaran anggaran’ yang tidak kecil, tetapi itu masih lebih baik dari pada hanya bisa me-nina-bobo-kan para pelaku budaya lokal dengan gelar penjaga, pengawal, dan pahlawan tradisi, dan pada kesempatan yang sama menutup mata terhadap kerumitan hidup yang mereka alami.
Generasi Z
Di usia Kemerdekaan ke 72 ini, banyak yang belum tahu adanya generasi milenial dan generasi Z. Jadi di negeri ini ada generasi milenial, ada generasi Z. Dan kini generasi Z sudah mengucapkan selamat tinggal kepada generasi milenial. Generasi Z adalah generasi yang dalam kesehariannya bergelut dan menyatu dengan internet. Karena memang mereka lahir setelah ada internet.
Mereka pun biasa disebut generasi internet, dan cenderung tidak begitu suka nonton TV apalagi baca koran. Mereka punya akun tapi bukan Facebook dan Twitter. Dua akun ini dianggap medsosnya orang tua, sudah ketinggalan zaman. Mereka biasanya punya akun Instagram, Path, atau Line.
Dari ketiga medsos inilah mereka mendapat banyak informasi dan berita terbaru. Yang paling mereka suka platform Instagram untuk mencari informasi. Biasanya lewat video-video singkat atau gambar-gambar infografik yang berisi pengetahuan baru.
Jumlah populasi generasi Z di Indonesia diprediksi BPS pada 2010 mencapai 28,8 persen. Saat ini, mungkin generasi Z ada sekitar 75 sampai 100 juta orang. Jumlah ini akan terus membengkak, tak ada yang bisa menghentikan. Lalu, kita dan para penyelenggara negara, sudah siapkah dengan kehadiran mereka? Ya harus siap. Banyak yang bisa dilakukan.
Yang penting, jangan menganggap mereka sebagai generasi yang membebani, tetapi aset utama negara untuk menjadikan Indonesia maju dan kuat di tengah percaturan dunia internasional. Karena generasi Z terdiri orang-orang terdidik yang berprestasi, biasa berpikir pragmatis dengan sikap selalu berpandangan optimis.
Tidak perlu terlalu jauh mempertanyakan apa yang akan terjadi dengan generasi Z di tahun 2045 nanti, ketika Indonesia satu abad. Tapi apa yang perlu dilakukan bagi mereka mulai sekarang dalam menapaki tahun-tahun berjalan yang tersisa 27 tahun ini.
Menjadi penting, karena mereka generasi Z yang lahir setelah medio 1990-an ini memiliki ciri khasnya: pragmatis dan optimis. Itulah karakter mereka, yang tidak lahir dari ruang kosong. Tetapi dari pergulatan keseharian mereka di tengah masyarakat.
Epilog
Berdasar atas strategi kebudayaan, sudah siapkah Jawa Timur menghadapi booming Generasi Z? Dengan asumsi dilahirkan pada tahun 1995, maka generasi pertama dari generasi ini sudah berusia 23 tahun ketika Focus Group Discussion ini “berdemokrasi” hari ini.
Anggota generasi pertama ini bisa jadi telah melakukan terobsan-terobosan baru dalam strategi kebudayaan dengan kapabelitas dan integritas mereka, yakni “doing the right thing when no-one is watching”.
Frasa yang sederhana, namun memiliki makna yang mendalam, menggambarkan kebiasaan yang melekat dalam diri seseorang, ketulusan yang mendalam, dan tanpa pamrih, dengan tingkat kesadaran diri yang tinggi.
Dengan integritas, mampu mengingatkan dan melindungi kita dari berbagai tindakan pelanggaran yang dapat merugikan pihak lain, nama baik kita, dan kepercayaan orang yang diberikan kepada kita. (Tulisan Soetanto Soepiadhy, Staf Pengajar di Fakultas Hukum UNTAG Surabaya dan Pendiri ‘RUMAH DEDIKASI’. Terbit di situs Duta.co)
Fatikh, Dalang Cilik asal Ponorogo suka lagu nostalgia. Foto: Detik.com/Charolin Pebrianti.
Menjadi dalang merupakan pilihan besar yang dipilih Muhammad Fatikh Assegaf (10). Bagaimana tidak, dengan usia yang masih belia ia malah memilih menjadi dalang dari pada hobi kebanyakan anak seusianya.
Beruntung dukungan dari orang tuanya pun mengalir. Bahkan demi menunjang penampilannya, Fatikh sapaannya, memiliki peralatan dalang komplit. Mulai dari tokoh-tokoh wayang, geber (layar), kotak perkakas wayang dan peralatan gamelan lengkap. Semua peralatan ini didapatkan dari para dalang yang sudah meninggal.
“Awalnya saya ikut kakek melihat wayang, terus tertarik,” tuturnya kepada detikcom saat ditemui di kediamannya, Jalan Brigjen Katamso, Ponorogo, Rabu (24/01).
Fatikh mengaku berlatih dalang sejak kelas 3 SD. Meski baru setahun berlatih dengan rasa percaya diri, dia pernah tampil menjadi dalang saat pementasan HUT Pramuka di Kecamatan Ponorogo.
“Sejak kecil memang suka wayang, salah satu mbah Buyut saya juga dalang. Darah seni memang sudah ada di keluarga kami,” terangnya.
Dalam satu minggu, Fatikh berlatih dua kali yang dipandu langsung seorang dalang. Bahkan dilengkapi juga dengan penabuh gamelan serta penabuh kendang. “Dalangnya bawa dua orang lagi buat nabuh kendang dan gamelan,” jelasnya.
Fatikh yang mengidolakan dalang Ki Anom Suroto ini menerangkan sebelum latihan, dia harus sudah menghafal tokoh-tokoh yang terkenal di pewayangan serta alur ceritanya. Kemudian dipraktekkan saat berlatih. “Untuk cerita mengikuti pewayangan karena ceritanya sudah pakem (aturan),” tegasnya.
Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Agus Hartono dan Sri Ikawati, ini pernah memenangkan ajang pemilihan Thole-Gendhuk Ponorogo 2017, karena memiliki talenta sebagai dalang cilik.
Dari pantauan detikcom di rumahnya, tampak Fatikh yang berlatih dalang memiliki ruangan khusus. Berbagai perlengkapan dalang sudah tertata rapi. Mulai dari berbagai macam tokoh wayang kulit lengkap tersedia dalam kotak, geber, kelir, gamelan, cemala dan blencong.
Pelajar SDN Mangkujayan 1 Ponorogo, ini menambahkan meski ia rutin latihan terkadang juga menemui kesulitan saat menghidupkan tokoh agar seperti hidup. Bahkan dia pernah kehabisan suara pasca berlatih selama empat jam. “Karena sudah suka jadi dalang jadi tidak masalah, semua kesulitan bisa teratasi,” imbuhnya.
Saat ditanya siapa idola dalam pewayangan, pelajar kelas 4 SD ini mengaku menyukai Kumbokarno. Baginya, meski Kumbokarno merupakan seorang raksasa dan buruk rupa, namun ia merupakan seorang pahlawan yang rela mati demi negaranya.
Fatikh pun tak pelit bagaimana membedakan antara wayang jahat dan baik. Jika wajahnya dingkluk (menunduk) itu menandakan wayang baik. Namun bila wajah wayang itu dangak (mendongak) maka bisa dipastikan jahat. “Ciri lainnya warna wajah yang biasa itu satria tapi kalau warna wajahnya merah menggambarkan keganasan,” paparnya.
Uniknya, meski memiliki hobi menjadi dalang, Fatikh juga memiliki hobi menarik lainnya. Seperti mendengarkan lagu-lagu nostalgia dan lagu tembang Jawa. “Saya berharap ingin melestarikan budaya yang hampir punah dan tetep kukuh agar dikenal orang,” pungkasnya. (dtc)
Perkebunan kopi De Karanganjar Koffie Plantage di Nglegok, Blitar. Foto: Beritasatu.com/Chairul Fikrie.
Kabupaten Blitar yang terletak di wilayah selatan Provinsi Jawa Timur ternyata punya banyak lokasi wisata yang patut dikunjungi wisatawan.
Selain memiliki wisata budaya dan sejarah, yakni berupa Candi Penataran, Blitar juga dikenal sebagai penghasil kopi robusta berkualitas yang patut diperhitungkan dibanding kopi dari wilayah Indonesia yang lain.
Perkebunan kopi De Karanganjar Koffie Plantage di daerah Karanganyar Timur, Kecamatan Nglegok, Blitar ini jadi salah satu perkebunan kopi tertua yang ada di wilayah Blitar. Ini merupakan perkebunan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda.
Selain terdapat perkebunan Kopi, daerah yang memiliki luas 300 hektare ini juga terdapat beberapa lokasi museum tempat barang-barang sejarah peninggalan mulai dari zaman Kerajaan yang ada di wilayah Jawa, peinggalan pemerintah Kolonial Belanda hingga jaman perjuangan Bangsa.
Di tengah perkebunan kopi yang mengusung konsep agrohistori cofee itu terdapat beberapa bangunan bergaya Eropa bekas peninggalan Belanda salah satunya adalah bangunan Kantor perkebunan yang diberinama “De Karananjar Koffieflantage Blitar”‘ yang dimiliki oleh perusahan bernama Harta Mulia.
“Jadi kebun kopi ini ada sejak zaman Belanda, sekitar tahun 1874. Lalu diteruskan pemegang HGU yakni PT Harta Mulia tahun 1960. Tapi untuk destinasi wisata baru saya buka Desember 2016 lalu dengan mengusung konsep wisata agro sambil menikmati kopi yang dipetik dan diolah langsung dari perkebunan,” ungkap Direktur Utama Keboen Kopi, Karanganyar, Wima Brahmntya, Minggu (21/1) seperti dilaporkan BeritaSatu.com.
Selain dapat menikmati kopi di areal tersebut, wisatawan yang datang ke sana juga dapat berkunjung ke beberapa museum yang ada di sana.
Di sini ada beberapa lokasi museum seperti museum Pusaka, museum Blitaran, dan museum Purnabakti. Museum Blitaran berisi lukisan-lukisan koleksi pribadi pengelola kebun kopi. Dimana di museum-museum itu ada beberapa benda pusaka berisi keris-keris kuno berbagai jenis.
Misalnya keris omyang, keris tilam, keris keleng luk 7, dan keris junjung drajat. Ada juga lukisan karya seniman kawakan Nusantara, Basoeki Abdullah. Ada pula hasil goresan tangan Lim Wasim, Rustamaji, dan Asrofil Huda dan yang menarik ada lukisan yang digubah dari ampas-ampas kopi.
“Di sini ada pula Rumah Loji yang dahulunya di huni oleh pemilik Kebun Kopi, dan di dalamnya ada pula sebuah kamar yang pernah disinggahi bapak Proklamator kita, Soekarno. Dimana Barang-barang yang ada di dalamnya itu berasal dari sebuah kamar di Hotel Indonesia, Jakarta. Dan barang-barang tersebut memang di beli langsung dari sana,” tambahnya.
Yang paling menarik dari perkebunan kopi ini, Wisatawan juga bisa menjadi relawan dan belajar meracik kopinya sendiri. Dimana pihak perkebunan juga membuat sebuah program khusus untuk wisatawan asing. Para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kebun diperkenankan menjadi pengelola kebun, mulai dari petani hingga penyeduh kopi.
Dimana setiap wisatawan mancanegara yang datang akan bekerja sebagai karyawan di pabrik kopi tanpa dibayar. Umumnya yang tertarik mengikuti program volunteer selama dua minggu. Jadi wisatawan yang datang disana akan merasakan sensasi dilayani oleh para wisatawan mancanegara yang menjadi voulenter.
Untuk bisa menikmati sensasi di perkebunan kopi itu, Wisatawan dapat masuk keperkebunan Kopi dengan membayar tiket Rp 15.000 saja. Dalam perkebunan itu, selain menimati kopinya, wisatawan juga dapat berbelanja oleh-oleh kopi yang asli diproduksi oleh perkebunan kopi tersebut. (ist)
Aktivitas penambangan di area Situs Melek. Foto: suarajatimpost.com.
Minimnya penelitian kecagarbudayaan di Kabupaten Situbondo, membuat situs-situs bersejarah di wilayah tersebut hampir tak terjamah maupun rusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Hal itu disampaikan Koordinator DANG ACARYA (Dewan Perjuangan dan Advokasi Cagar Budaya) Mansur Hidayat kepada suarajatimpost.com, Selasa (23/1).
Salah satu situs yang terbengkalai menurut Mansur Hidayat adalah Situs Melek. Sebuah situs yang berasal dari masa klasik dan terkubur oleh tanah berpasir. Berada di Dukuh Melek, Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo.
“Situs ini diperkirakan merupakan sebuah situs pemukiman yang kaya akan temuan seperti batu bata besar berupa pondasi, gerabah, maupun temuan lepas lainnya,” ungkap Mansur.
Beberapa waktu lalu, Situs Melek sudah diregistrasi oleh BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Timur.
Namun saat ini, kata Mansur situs ini mendapat ancaman serius ketika dibuldoser untuk kepentingan penambangan pasir. Melihat perkembangan di lapangan tersebut, terdapat kerusakan parah dengan terangkatnya struktur situs yang disinyalir dilakukan oleh penambang liar (illegal).
“Maka hal perusakan ini telah melanggar dua Undang Undang sekaligus yaitu Undang Undang Cagar Budaya maupun Undang Undang Minerba,” terang Mansur.
Dalam pers rilis yang dikirim DANG ACARYA yang merupakan lembaga advokasi para pegiat Cagar Budaya se-Kawasan Tapal Kuda, memberikan pernyataan sikap, yaitu:
1. Mengutuk keras tindakan biadab penambang karena telah melanggar UU Cagar Budaya
2. Memproses hukum penambangan pasir yang bersifat illegal tanpa dilengkapi Ijin Usaha Pertambangan (IUP), yang nyata-nyata telah melanggar UU Minerba pasal 158 dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda 10 milyar.
3. Sesuai dengan Rekomendasi Pansus Pertambangan DPRD Jatim yang kemudian dicantumkan dalam Rekomendasi Tematik Poin C, Pansus Pembahas Pertambangan DPRD Jawa Timur pada 16 Mei 2016, yakni Pemerintah Propinsi Jawa Timur perlu membuat kebijakan lokal yang melarang aktifitas pertambangan di Kawasan yang secara sosiologis dan kultural masuk dalam Situs Cagar Budaya, Kawasan Konservasi dan ekosistem khusus.
4. Meminta kepada Pemerintah Kabupaten Situbondo untuk melakukan langkah-langkah nyata pelestarian Cagar Budaya dengan memulai adanya penelitian dan penulisan sejarah sehingga semakin dikenal di kalangan generasi muda Situbondo. (sjt)
Puti Guntur Soekarno bersama pemilik Warung Pecel Bu Yatin. Foto: Pdiperjuangan-jatim.com.
Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno menyempatkan diri menikmati pecel khas Ponorogo di Jalan Ketabangkali, Surabaya, Senin (22/01). Pecel ini lebih dikenal dengan sebutan Pecel Ketabangkali Bu Yatin.
Dengan antusias, cucu Bung Karno itu melahap pecel legendaris yang telah dikenal sejak 1950 tersebut. Puti pun mengangkat dua jempol sebagai tanda mengakui kelezatan pecel tersebut.
”Enak tenan. Rasanya khas, membuat lidah menari,” kata Puti yang tampak energik meski beberapa hari terakhir ini keliling ke berbagai daerah hingga dinihari.
Cucu Presiden pertama RI Ir Soekarno ini memilih paket sayuran lengkap, mulai bayam, kubis, sawi, kacang panjang, kembang turi, hingga kerahi rebus yang merupakan sayuran mirip mentimun. Tak ketinggalan, ada daun kemangi, biji lamtoro, dan peyek kacang.
”Aktivitas saya luar biasa padat, maka harus banyak makan sayur biar terus sehat,” kata Puti yang dikenal suka olahraga.
Dosen tamu di Kokushikan University Jepang itu memilih sambal pecel yang cukup pedas. ”Saya sebenarnya suka pedas, tapi kemarin makan bebek songkem Madura yang sangat pedas, jadi sekarang dikurangi sedikitlah pedasnya,” ujar ibu dua remaja, Rakyan Ratri Syandriasari Kameron dan Rakyan Daanu Syahandra Kameron, itu.
Puti mengaku kagum dengan kekayaan kuliner Jawa Timur yang luar biasa beragam. Dari dulu, dia menggemari sate Madura, bahkan Puti punya langganan soto lamongan di daerah Jakarta Selatan sejak zaman dia remaja.
Puti juga menggemari bumbu sambal khas Madura yang biasa dipadukan dengan bebek atau ayam goreng.
Kekayaan kuliner ini, imbuh Puti, kalau dioptimalkan, bisa menjadi bagian dari city branding yang kokoh. Menurutnya, yang paling pertama diingat orang dari suatu daerah itu hampir pasti kulinernya.
“Ingat Lamongan, orang ingat soto atau tahu campur. Ingat Madiun atau Ponorogo, ingat pecel. Ingat Madura, ingat sate. Ingat Banyuwangi, ingat rujak soto. Ingat Gresik, ingat nasi krawu. Dan seterusnya,” ujar Puti.
“Nah, tugas pemerintah provinsi ini untuk merajutnya menjadi satu kekuatan merek yang kuat bagi Jatim dan kabupaten/kota di dalamnya yang ujung-ujungnya adalah pergerakan ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya. (sak)
Turis asing mengikuti acara Banyuwangi Ethno Carnival. Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur baru saja meluncurkan 50 top event wisata dan budaya sepanjang 2018. Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Minggu (21/01) mengatakan sektor pariwisata memang sangat menjanjikan di Jawa Timur.
Hal ini dibuktikan dengan kontribusinya terhadap PDB yang mencapai Rp106 triliun. “Hampir setiap kabupaten dan kota membuat event kelas internasional. Diharapkan semakin banyak event yang ditampilkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisman dan wisnu di Jawa Timur,” ungkap Saifullah Yusuf.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Jarianto juga mengatakan, sebanyak 10 event di Jawa Timur masuk dalam 100 event Wonderfull Indonesia yang ditetapkan oleh Kemenpar. Dari 10 event nasional yang masuk 2 event, yakni Jember Fashion Carnival dan Banyuwangi Ethno Carnival.
Jarianto menjelaskan, dalam satu tahun ini Jatim akan menggelar 482 event, terdiri dari 108 festival dan 374 non-festival yang tersebar di 38 kabupaten dan kota, semuanya termuat dalam buku Kalender Wisata Jawa Timur 2018.
“Dari 482 event ini dipilih 50 top event yang hari ini diluncurkan. Selama satu tahun penuh di Jatim selalu ada event pariwisata dan kebudayaan yang dapat disaksikan wisatawan, ” kata Jarianto.
Dalam rangka mendukung program Kementerian Pariwisata, Jatim telah menyiapkan 10 event terpilih dalam 100 premier event (CoE WI). Dikemas berskala internasional sehingga mampu banyak mendatangkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnu).
Berkaitan penyelenggaraan Top Festival, bisa dilihat dari bagaimana sebuah event mendatangkan wisatawan, berapa lama kegiatan sudah berlangsung, serta banyak penilaian lain yang dilakukan terkait keberlangsungan sebuah festival.
Kesepuluh event yang masuk dalam Top 100 Event adalah Jember Fashion Carnival, Banyuwangi Ethno Carnival, Yadnya Kasada dan Eksotika Bromo, Malang Flower Carnival, Kemilau Madura, Pasar Seni Lukis Indonesia, Gandrung Sewu, International Tour de Banyuwangi Ijen, Festival Keraton Nusantara, dan Festival Malang Kota Tua.
“Masing-masing kegiatan sudah dibuatkan buku yang akan dibagikan kepada pelaku bisnis pariwisata,” ungkap Jarianto.
Catatan Kemenpar mengungkap, pada 2017 jumlah kunjungan wisman ke Jatim mencapai 625.729 orang dan 58,65 juta pergerakan wisnu, sementara kontribusi sektor pariwisata Jatim terhadap PDRB pada triwulan III /2017 sebesar Rp 86,73 triliun atau tumbuh 10,53 persen. (ist)