Patirtan Jolotundo, Konon Airnya Bikin Awet Muda

foto
Pengunjung mengambil air di Patirtan Jolotundo. Foto: Kompas.com/Achmad Faizal.

Tiga jeriken berkapasitas 10 liter air milik Suheri sudah penuh terisi. Merasa kurang, dia turun ke tempat pedagang di pintu masuk dan membeli 2 jeriken lagi dengan kapasitas yang sama.

“Mumpung lagi di sini, sekalian saja. Mumpung ada waktu ke sini,” kata warga Desa Wonokalang, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo itu kepada Kompas.com, akhir pekan lalu.

Sore itu, Suheri bersama kakaknya mengunjungi pemandian atau petirtaan Jolotundo, situs candi pemandian bersejarah yang sumber airnya dipercaya keramat dan memiliki khasiat.

Sebanyak 5 jeriken air yang diambil Suheri untuk mengobati sepupunya yang sedang sakit menahun. “Yang mengobati minta kakinya direndam air Jolotundo. Sebagian lagi diminum. Jadi saya siapkan,” ujarnya.

Suheri sendiri tidak terlalu sering pergi ke pemandian Jolotundo. Dia tidak tahu persis mengapa air sumber dari pemandian Jolotundo dianggap begitu keramat. Kepercayaan tentang khasiat air Jolotundo didapatnya dari informasi masyarakat dan kabar turun temurun dari nenek moyang.

Khasiat air pemandian Jolotundo juga diyakini Dewi Maharani. Ibu satu anak berusia 30 tahun asal Kota Pasuruan itu mengaku rutin pergi ke Jolotundo setahun sekali bahkan sampai 3 kali. Dia mempercayai, air Jolotundo bisa mengencangkan kulit dan membuat wanita semakin cantik. “Katanya sih biar awet muda kalau mandi di Jolotundo,” ucapnya.

Dewi bersama 2 orang temannya sore itu memang terlihat usai segar karena mandi di tempat khusus yang airnya bersumber dari lokasi pemandian Jolotundo. Tidak hanya mandi, Dewi juga membawa beberapa botol air mineral kosong untuk diisi dengan air Jolotundo sebagai oleh-oleh.

Tidak hanya Dewi dan Suheri saja yang memanfaatkan air dari Jolotundo sore itu. Ratusan pengunjung terlihat juga bergentian menadahkan botol atau tempat air lainnya dari sejumlah pipa kecil di situs Jolotundo.

Sebagian mereka juga menaruh sesaji dan membakar dupa tepat di samping kolam pemandian. Ritual itu dilakukan untuk maksud tujuan tertentu. Aroma menyengat dupa seakan menambah suasana mistis di sekitar kolam.

Pengunjung anak-anak nampak bermain air di kolam besar pemandian yang berisi banyak ikan. Sementara di bagian atas kolam ada kolam berukuran kecil yang kedalamannya 1,5 meter. Biasanya digunakan pengunjung dewasa untuk berendam secara bergantian.

Dikutip dari berbagai sumber catatan sejarah, Candi Jolotundo merupakan bangunan petirtaan peninggalan Raja Udayana dari Bali, diperuntukan bagi Raja Airlangga, puteranya, setelah dinobatkan menjadi Raja Sumedang Kahuripan.

Secara geografis Candi Jolotundo berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut tepatnya di bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan, gunung suci bagi umat Hindu aliran Siwa.

Dari gunung, air dialirkan melalui jaringan bawah tanah menuju Candi Jolotundo. Air menjadi salah satu bagian penting dalam ritual masyarakat saat itu, apalagi bersumber dari gunung yang dianggap suci.

Candi Jolotundo memiliki sendang atau tempat air berdindingkan batu, di sisi kiri dan sisi kanan, berukuran 2×2 meter menghadap ke Barat. Air sumber keluar dari lubang di tengah batu dinding di sisi timur.

Sementara di tengah ada kolam bertingkat, dan di bawahnya terdapat kolam berukuran sekitar 6×8 yang dipenuhi banyak ikan. Pada malam-malam tertentu, Candi Jolotundo banyak didatangi warga yang menggelar ritual-ritual dengan maksud dan tujuan tertentu.

Kepala Dinas Olahraga Dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto, Djoko Wijayanto, mengatakan, situs Candi Jolotundo didesain untuk dikembangkan menjadi wisata religi, karena di situs tersebut memang memiliki nilai budaya yang cukup kental.

Pihak Pemkab Mojokerto kata dia sudah berkoordinasi dengan pihak PT Perhutani untuk mengembangkan dan memperluas kawasan wisata budaya tersebut menjadi 7,3 hektare dari 1,8 hektare luas saat ini. “Kita sedang ajukan kepada tim anggaran untuk memperluas lahan wisata Jolotundo,” ucapnya.

Sayangnya pihaknya belum bisa membocorkan rencana konsep pengembangan Candi Jolotundo kepada media termasuk rencana fasilitas apa saja yang akan dibangun.

Catatan pihaknya, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Jolotundo terus meningkat setiap tahunnya. Tahun 2016, tercatat lebih dari 20.000 pengunjung yang datang ke Candi Jolotundo. Tahun sebelumnya tercatat hanya 17.000. “Sebagian besar wisatawan dalam negeri. Kalau wisatawan mancanegara masih sangat sedikit, belum sampai 5 persen,” tutupnya. (kmp)

Pentingnya Pelestarian Nilai Budaya Adiluhung

foto
Jokowi saat meresmikan Festival Keraton Nusantara XI di Istana Maimun, Medan, Minggu (26/11) malam. Foto: BPMI.

Presiden Joko Widodo mengajak para pemangku adat keraton nusantara untuk menjaga, merawat, dan melestarikan nilai-nilai budaya adiluhung yang telah membentuk karakter bangsa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang besar.

Ajakan tersebut disampaikan Kepala Negara saat menghadiri Peresmian Pembukaan Festival Keraton Nusantara XI, yang digelar di Istana Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara, Minggu (26/11) malam.

“Saya mengajak para raja, sultan, pangeran sebagai pemangku adat keraton-keraton nusantara untuk terus menjaga, merawat, melestarikan warisan nilai-nilai budaya adiluhung,” ujar Presiden.

Apalagi menurut Presiden, Indonesia dikenal dunia internasional sebagai negara yang memiliki jejak sejarah yang gemilang di masa lalu yang mencatat kebesaran kerajaan-kerajaan nusantara.

Sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi, Presiden selalu menyempatkan diri untuk hadir dalam setiap festival keraton nusantara yang diadakan di seluruh Tanah Air.

“Ini merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi saya, serta kecintaan dan kebanggaan kita semua pada seluruh warisan adat dan budaya bangsa kita yang memang sangat kaya, yang memang sangat beragam,” ungkap Kepala Negara.

Lebih lanjut, Presiden juga menyatakan kekagumannya terhadap beragam kebudayaan dan adat istiadat yang dimiliki bangsa Indonesia. Mengingat setiap prosesi adat terkandung pesan, filosofi, dan makna untuk saling menjunjung tinggi tata krama dan memperkuat tali persaudaraan.

“Saya semakin kagum dengan kekayaan budaya yang kita miliki karena di setiap prosesi bukan hanya memiliki keindahan estetika yang tinggi, tapi terkandung pesan-pesan simbolik, filosofi-filosofi yang sangat bermakna yang bisa menjadi landasan etik dalam kehidupan kita sehari-hari,” tutur Presiden.

Dalam sambutannya, Presiden juga mengingatkan kepada para pemangku adat keraton nusantara untuk menjadikan warisan kebudayaan Tanah Air sebagai modal untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.

Guna mewujudkan hal tersebut, dalam waktu dekat Presiden akan mengundang para pemangku adat keraton nusantara untuk mendiskusikan masalah tersebut

“Nanti mungkin awal Desember atau pertengahan Desember, saya ingin mengundang tapi tidak semuanya untuk berbicara masalah keraton yang ada di nusantara,” ucap Presiden.

Terakhir, Presiden tak lupa menitipkan pesan kepada para pemangku adat keraton nusantara untuk bersama-sama dengan pemerintah menjaga persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia sebagaimana yang diamanahkan para raja terdahulu.

“Saya yakin para sultan, raja, pangeran, dan pemangku adat keraton mendapatkan amanah dari para pendahulu atau raja-raja terdahulu untuk menjadi pengayom bagi seluruh warga, penjaga kerukunan di tengah keragaman, dan perekat di tengah kebinekaan,” ujar Presiden. (sak)

Menelusuri Cerita Rakyat dari Jawa Timur

foto
Menikmati suara pasir berbisik di Bromo yang menenangkan. Foto: Bromowisata.co.id.

Buku berjudul Walansendow mendokumentasikan beragam cerita rakyat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti Asal Mula Nama Gunung Bromo dan Putri Nglirip, dua cerita dari daerah Jawa Timur, Patih Senggilur dari daerah Sumatera Selatan, Putri Dara Nante dari Kalimantan Barat, sampai Walansendow, cerita dari daerah Sulawesi Utara.

Cerita Asa Mula Nama Gunung Bromo seperti ditulis penulisnya, YB Suparlan mengisahkan sepasang suami istri Jaka Seger dan Rara Anteng yang hidup bahagia di lereng sebuah gunung.

Namun, seperti ditulis Satelitpost.com, suatu hari Rara Anteng mengeluh karena sudah lama tak dikaruniai anak. Jaka Seger memberi nasihat istrinya agar lebih banyak berdoa pada para dewa. Kemudian, mereka melakukan ritual doa dengan menghadap gunung.

Tak lama kemudian, sebuah suara muncul menggelegar dari arah gunung dan menyatakan keinginan mereka memiliki anak bisa terkabul asalkan mereka berjanji. “Kami berdua berjanji kalau dikaruniai anak banyak, kami merelakan salah satu anak kami menjadi kurban untukmu,” kata Jaka Seger.

Berbulan-bulan kemudian, Rara Anteng melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan diberi nama Kaki Ireng. Setelah kelahiran anak pertama, lahir anak ke dua, ketiga, keempat, dan seterusnya sampai 25 anak. Jaka Seger dan Rara Anteng sangat bahagia memiliki banyak anak.

Di antara 25 anak tersebut, ada 1 anak yang sangat mereka sayangi, yakni Dewa Kusuma. Ia anak lelaki yang rajin dan patuh. Ia menghormati kakak-kakaknya dan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Namun, suatu hari Dewa Kusuma hilang dibawa gulungan api saat menggembalakan kambing bersama adik-adiknya di lereng gunung.

Kisah dalam buku terbitaan Kanisius setebal 186 halaman itu seperti memberi pesan akan pentingnya menepati janji. Ketika apa yang kita inginkan sudah kita dapatkan, bukan berarti kita lantas bisa bersenang-senang dan melupakan semuanya.

Meski cerita rakyat berasal dari leluhur atau orang zaman dahulu, namun pesan-pesannya masih penting untuk dihayati sampai sekarang. Cerita rakyat merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang wajib kita jaga.

Terlebih, di tengah gempuran budaya modern yang cenderung tidak sesuai dengan buyaya bangsa kita, nilai-nilai dan pesan yang terkandung dalam cerita rakyat akan bisa mengingatkan kita kembali pada identitas dan tradisi kita. (ist/Peresensi: Al-Mahfud)

Dharma Pusaka Indonesia Luncurkan Batik Tulis Sutra

foto
Motif batik asli Banyuwangi ini tercatat dalam Museum Budaya Banyuwangi. Foto: Tempo/Aris Novia Hidayat.

Seiring dengan meningkatnya apresiasi batik dan usaha batik sebagai penggerak ekonomi rakyat, PT Dharma Pusaka Indonesia resmi meluncurkan penjualan batik di sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.

Peluncuran ini seperti dilaporkan Tempo.co, ditandai dengan pembatikan gambar gunungan yang merupakan logo batik Dharma Pusaka menggunakan canting yang dilakukan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf yang didampingi Komisaris Dharma Pusaka Ryan Hartono dan Direktur Dharma Pusaka Singgih Handoyo.

Direktur Dharma Pusaka Singgih Handoyo mengatakan, seiring perkembangan industri batik yang semakin baik, banyak orang yang mulai bangga menggunakan batik sebagai busana sehari-hari.

Oleh karena itu, batik tak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kreatif. “Kami ingin menggerakkan bisnis usaha batik untuk menggerakkan ekonomi dan pelestarian budaya,” katanya di sela-sela peluncuran batik Dharma Pusaka.

Dari sisi perekonomian nasional, tambahnya, jumlah tenaga kerja yang dapat diserap dalam usaha batik telah mencapai 600 ribu orang, termasuk didominasi oleh tenaga kerja wanita. Sementara pelaku usahanya kini mencapai angka sekitar 56 ribu, sebagian besar usaha mikro. “Hari ini Dharma Pusaka resmi menambah angka jumlah pelaku usaha di bidang batik,” katanya.

Dharma Pusaka sendiri resmi berdiri pada September 2017 dan telah membuka gerai batik di Menara Bidakara dan selanjutnya di Hotel Sari Pan Pacific serta Hotel Grand Sahid Jaya.

Dalam memproduksi batik, PT Dharma Pusaka Indonesia bermitra dengan para perajin batik di daerah Pekalongan, Sragen dan terus dikembangkan dengan perajin batik di wilayah lain.

Saat ini Dharma Pusaka menghadirkan batik premium, yaitu batik tulis berbahan sutra dan sutra prada. Selain itu, juga menyediakan batik tulis dengan motif klasik berbahan sutra, sehingga tampilan kain batik tersebut menjadi lebih bersinar dan tampak mewah. “Biasanya batik tulis hanya diterapkan pada bahan katun, kami mencoba dengan kain sutra,” ujarnya. (tmp)

Melestarikan Angklung sebagai Warisan Budaya Dunia

foto
Instruktur mengajari bermain angklung bagi pengunjung di Predator Fun Park, Batu. Foto: Kompas.com/Andi Hartik.

Bunyi angklung menggema mengalun memenuhi kompleks Saung Angklung di Predator Fun Park, Kota Batu, pekan lalu. Suaranya bersahutan, membentuk irama dan menjadi harmoni. Di sela alunan itu, terdengar gelak tawa sejumlah bocah yang sedang memainkannya.

Saat itu, tepat pada hari peringatan angklung, 16 November 2017, sebanyak 120 siswa sekolah dasar (SD) secara bersama-sama memainkannya. Mereka berasal dari SDN Junrejo 1 Kota Batu, SDN Junrejo 2 Kota Batu, SDN Tlekung 1 Kota Batu dan SDN Tlekung 2 Kota Batu.

Seperti dilaporkan Kompas.com, lagu-lagu khas daerah mengiringi suara yang dikeluarkan oleh alat musik yang terbuat dari bambu itu. Seperti lagu Yamko Rambe Yamko asal Papua dan Sue Ora Jamu asal Jawa.

Angklung merupakan alat musik tradisional yang berkembang di masyarakat Sunda. Pada tahun 2010, United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan angklung sebagai warisan budaya.

Angklung dimainkan dengan cara digoyang dan digetarkan supaya menghasilkan suara dan dapat membentuk nada. “Mendengar bunyinya senang,” kata Noval Aditya Pratama, salah satu siswa sambil menggetarkan angklung yang ada ditangannya.

Saat ini, sejumlah sekolah di Kota Batu mulai menerapkan kegiatan ekstrakuler yang fokus pada pembelajaran memainkan angklung. Seperti di SDN Junrejo 1 Kota Batu.

Suli Wahyudi, salah satu staf pengajar di sekolah tersebut mengatakan, kesenian angklung sudah menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Apalagi, Pemerintah Kota Batu mendukung pelestarian kesenian angklung di setiap sekolah. “Karena seluruh Kota Batu sudah disubsidi angklung oleh Dinas Pendidikan. Terutama sekolah model,” katanya.

Dalam pembelajaran ekstrakurikuler itu, siswa pertama-tama diperkenalkan dengan angklung. Setelah itu, para siswa diajari cara memainkan alat musik itu. “Agar mencintai budayanya. Karena angklung adalah salah satu pembelajaran karakter yang harus dimiliki oleh siswa,” katanya.

Lain halnya dengan SDN Tlekung 2 Kota Batu. Di sekolah itu belum memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang fokus pada seni musik angklung. Minimnya infrastruktur dan alat menjadi kendala pembelajaran musik angklung kepada para siswanya.

“Karena kita, satu pelatih belum ada. Dana untuk membeli angklung juga belum ada,” katanya. Namun demikian, pihaknya menerima pihak dari luar sekolah yang bermaksud memberikan pelajaran bermain angklung untuk para siswanya.

Operasional Manager Predator Fun Park, Samuel Dwi Agus mengungkapkan kepeduliannya terhadap musik angklung. Bahkan, pengelola di lokasi wisata itu sudah menyediakan wahana bagi pengunjung untuk belajar angklung. “Kami memang punya fasilitas khusus untuk belajar angklung. Edukasi gratis di sini. Karena angklung ini kan warisan budaya,” katanya. (kmp)

Ini Pemenang Anugerah Wisata Jawa Timur 2017

foto
Sekda Prov Jatim memberikan penghargaan kepada yang terbaik. Foto: Kominfo Jatim.

Destinasi pariwisata dewasa ini memiliki arti strategis dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebagai industri telah mendorong sektor ini tumbuh dan berkembang menjadi andalan dalam menambah devisa negara.

Secara ekonomi, wisatawan mancanegara memiliki peran besar dalam menambah devisa negara dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Mereka berkunjung ke Indonesia tidak hanya menikmati keindahan destinasi wisata di negeri ini, tetapi juga membeli produk souvenir, menyewa travel agent, menggunakan jasa perhotelan untuk akomodasi serta yang tidak kalah penting adalah kuliner, dimana semuanya itu disediakan oleh masyarakat.

Hal itu disampaikan Sekda Provinsi Jatim Dr H Akhmad Sukardi MM mewakili Gubernur Jatim pada malam Anugerah Wisata Jawa Timur di Surabaya, Senin (20/11) malam.

Sementara Kepala Disbudpar Jatim Dr H Jarianto MSi mengatakan, Anugerah Wisata Jatim untuk mendorong pemerintah Kabupaten/Kota mengelola daya tarik wisata dan komunitas pariwisata lainnya untuk terus menerus mengembangkan pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta memberdayakan masyarakat setempat .

Anugerah Wisata Jatim diberikan kepada sembilan pengelola daya tarik wisata yang terdiri dari tiga kategori, yaitu daya tarik wisata alam, daya tarik wisata budaya dan daya tarik wisata buatan. Serta lima pemerintah daerah yang mempunyai komitmen dan kepedulain tinggi dalam mengembangkan sektor pariwisata.

Untuk kategori Pengelola Daya Tarik Wisata Alam, Terbaik I diraih Kab Malang (Ekowisata CMC Tiga Warna), Terbaik II Kab Sumenep (Pantai Sembilan Gili Genting), dan Terbaik III Kab Magetan (Mojosemi Forest Park).

Kategori Pengelola Daya Tarik Wisata Budaya, Terbaik I diraih Kab Jombang (Makam Gus Dur), Terbaik II Kab Jember (Kampung Wisata Belajar Tanoke) dan Terbaik III Kab Ngawi (Desa Wisata Grayudan).

Selanjutnya, kategori Daya Tarik Wisata Buatan Terbaik I diraih Kota Batu (Bukit Batu Flower Garden), Terbaik II Kab Pasuruan (Saygon Waterpark) dan Terbaik III Kab Madiun (Umbul Square).

Pemprov Jatim juga memberikan anugerah karya tulis jurnalistik untuk meningkatkan peran serta insan pers memotivasi pemerintah daerah/stake holder, mempromosikan dan mengangkat potensi pariwisata di Jatim melalui media cetak maupun online. (sak)

Jumlah kunjungan wisman ke Jatim 2016 mencapai 618.615 orang atau naik 1,01% dibanding 2015 sebanyak 612.412 orang.

Sedang pergerakan wisnus terus mengalami kenaikan, tahun 2015 mencapai 51.466.969 orang, dan tahun 2016 jumlah Wisnus mencapai 54.465.000 orang atau naik 6,02%.

Kontribusi pariwisata terhadap perekonomian nasional mengalami peningkatan dengan penghasilan devisa tahun 2015 489.07 juta USD, tahun 2016 513.84 juta USD meningkat 5,1 % dan kontribusi langsung terhadap PDRB ADHB 2015 Rp 92.683,27 miliar dan tahun 2016 Rp 106.274,57 miliar atau naik 14,66%. (ita)

DAFTAR PEMENANG

Pengelola Daya Tarik Wisata Alam:

1. Kab Malang (Ekowisata CMC Tiga Warna)
2. Kab Sumenep (Pantai Sembilan Gili Genting)
3. Kab Magetan (Mojosemi Forest Park)

Pengelola Daya Tarik Wisata Budaya:

1. Kab Jombang (Makam Gus Dur)
2. Kab Jember (Kampung Wisata Belajar Tanoke)
3. Kab Ngawi (Desa Wisata Grayudan)

Daya Tarik Wisata Buatan:
1. Kota Batu (Bukit Batu Flower Garden)
2. Kab Pasuruan (Saygon Waterpark)
3. Kab Madiun (Umbul Square)

Mengenal Pemangku Adat Pernikahan Kahiyang-Bobby

foto
Pandapotan Nasution, pemangku adat Mandailing di Jakarta. Foto: Wisnu Agung Prasetyo/Beritagar.id.

Peribahasa “Lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya” tampaknya paling pas menggambarkan keanekaragaman budaya di Indonesia. Banyaknya suku di Indonesia turut memengaruhi adat budaya yang ada.

Karenanya, di setiap daerah harus ada sosok pemimpin, sosok yang bertanggung jawab untuk mengatur kelestarian budaya serta masyarakat sekitarnya. Biasanya mereka disebut pemangku adat atau kerap disebut juga juru adat.

Salah satu pemangku adat yang belakangan ini namanya sedang banyak disebut adalah Pandapotan Nasution. Ya, ia merupakan pemangku adat yang akan memimpin jalannya upacara pernikahan adat Mandailing untuk Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution.

Pandapotan Nasution yang memiliki gelar Patuan Kumala Pandapotan ini merupakan generasi ke-16 Nasution. Selain aktif menjabat sebagai pemangku adat, lelaki yang akrab disapa Pandapotan ini pun merupakan pendiri tabloid Sinondang Mandailing yang edisi perdananya terbit pada 2007.

Tabloid yang kini berganti format menjadi majalah tersebut fokus mengupas soal adat budaya, bahasa, pertuturan, kuliner hingga masyarakat Mandailing terkini, yang terbit di Medan, Sumatra Utara. “Majalah ini sudah cukup lama. Dulunya tabloid, tapi ndak lagi, sekarang sudah ganti jadi majalah,” jelasnya dalam wawancara dengan Beritagar.id.

Lelaki berusia 80 tahun ini juga pernah aktif dalam dunia politik. Dulunya ia menjabat sebagai salah satu anggota DPR dari fraksi Golkar mulai 1992 hingga era reformasi sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali menetap di Medan.

Kini ia tengah membantu Pemkab Mandailing Natal dan Dinas Pendidikan & Kebudayaan untuk melaksanakan acara pelatihan terhadap guru-guru tingkat sekolah menengah, khususnya guru sejarah.

Kepada mereka Pandapotan mengajarkan tentang adat budaya Mandailing Natal sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah. Tujuannya agar generasi muda tak buta dan kehilangan arah akan adat budaya daerahnya sendiri.

Di pernikahan Kahiyang dan Bobby nanti, lelaki yang memiliki empat orang anak dan 12 cucu ini akan memimpin jalannya upacara adat. Mulai dari penyambutan Kahiyang (haroan boru), pemberian marga (mangalehan marga), pemotongan kurban (manalpokkon lahan ni horja) hingga ke acara puncak berupa penyambutan ayah dari Kahiyang Ayu, Presiden Joko Widodo.

Di beberapa daerah di Indonesia, peran pemangku adat memang masih begitu penting. Contohnya di Bali. Pemangku adat di sini memiliki tugas yang cukup beragam; mulai dari menjaga hubungan antara masyarakat adat dan Sang Pencipta, masyarakat dengan sesamanya, hingga menjaga benda-benda pusaka adat.

Di Bali, para pemangku atau disebut pinandita juga dituntut untuk memberikan tuntunan tata susila kepada umatnya.

Di Kampung Naga, Jawa Barat, pemimpinnya disebut kuncen. Meskipun menjabat sebagai pemangku adat, tetapi di masyarakat kuncen tetap akan bermusyawarah dengan ketua RT, RW dan sebagainya untuk menghasilkan keputusan yang dapat diterima semua warga, demokratis, dan terbuka.

Mirip seperti yang berlaku di beberapa daerah lainnya, pengangkatan pemangku adat di Mandailing dilakukan dengan pengukuhan. Acara pengukuhan ini biasanya dilakukan oleh raja dan dihadiri oleh raja-raja dari seluruh nusantara.

Adapun alasan seseorang diangkat menjadi pemangku adat diangkat ialah karena ia dianggap dapat bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kelak.

Dalam menjalankan tugasnya, pemangku adat pun nantinya akan berkoordinasi dengan lembaga adat, menerima tanggung jawab tertinggi pada hal-hal yang berhubungan dengan pengaturan harmonisasi kehidupan sosial dan religius, sehingga kehidupan warga masyarakatnya dapat berlangsung dengan tertib. (ist)

Buku Potret Budaya Tengger Tampilkan Keindahan

foto
Bromo dan Suku Tengger pikat fotografer bikin “A Country Above the Clouds”. Foto: lensautama.com.

Begitu banyak keindahan alam beserta budaya dan kearifan lokal yang tersebar di nusantara tercinta ini. Setiap daerah memiliki tradisi, budaya dan adat istiadat yang berbeda, namun perbedaan serta keragaman itu menjadi nilai yang sangat tinggi bagi bangsa ini.

Seperti Gunung Bromo dan kehidupan Suku Tengger di Jawa Timur yang telah memikat tiga orang jurnalis foto untuk menelusuri lebih dalam seluk beluknya hingga menciptakan buku fotografi Bromo dengan judul “A Country Above the Clouds”.

Adalah Hasiholan Siahaan, Ali Masduki dan Sakib yang telah memiliki segudang pengalaman, mereka menjelajahi Bromo dan menggali lebih dalam tentang suku Tengger.

Hasiholan siahaan dalam jumpa pers peluncuran buku fotografi Bromo di IFI Wijaya, Kebayoran Baru, Jaksel, pekan lalu mengatakan adanya transformasi budaya hingga melatarbelakangi diangkatnya budaya lokal di Bromo kedalam buku yang ke-5 ini bersama tim Toba.

“Memotret menurut saya adalah cara paling sederhana untuk melestarikan budaya Indonesia, yang hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat dari seluruh dunia, pada generasi sekarang dan yang akan datang. Saya percaya hasil fotografi ini dapat menjadi salah satu karya abadi dan kelak dapat menjadi bukti otentik sejarah,” ungkap Hasiholan seperti dikutip Lensautama.com.

“Melalui peluncuran buku ini, saya juga mengajak anak-anak muda Indonesia untuk turut peduli dan berpartisipasi untuk melestarikan kebudayaannya, setidaknya dari masing-masing daerahnya. Mulai dari daerah sendiri saja akan berdampak besar bagi bangsa, untuk dijadikan fondasi yang kuat untuk kelestarian budaya kita,” lanjutnya.

“Dari sisi manapun, Bromo selalu menarik untuk didalami, pasirnya pun seakan akan mengajak kita untuk selalu datang kesana. Warga suku Tengger pun sangat luar biasa menggambarkan lokailtas Bromo,” tutur Ali Masduki, jurnalis foto asal Surabaya.

Astragraphia Document Solution turut serta lestarikan kekayaan alam dan budaya Indonesia melalui dukungan pada pencetakan buku fotografi “Bromo”, karya Hasiholan Siahaan XIV.

Pencetakan buku fotografi “Bromo” dilakukan menggunakan mesin Fuji Xerox Versant 80 Press. Mesin ini merupakan solusi all-in-one yang dirancang untuk operasional cetak digital. Fuji Xerox Versant 80 Press mampu mencetak lebih cepat (80 ppm) pada beragam jenis media pada ukuran 52 gsm hingga 350 gsm.

Peluncuran buku fotografi Bromo “A Country Above The Clouds”, sekaligus secara resmi menandai pembukaan pameran fotografi “Mengintip Bromo Melalui Mata Kamera” kolaborasi antara tiga jurnalis foto Indonesia dan Travel Fotografer asal Perancis Jean Jaques Kelner yang digelar selama sebulan penuh di IFI Wijaya. (ist)

Banyuwangi Poros Utama Ajang Kreasi ‘Ikkon’

foto
Bekraf menunjuk Banyuwangi poros utama kegiatan Ikkon di Jatim. Foto: Bisniskini.com/Japrax.

Berupaya menumbuhkan geliat ekonomi kreatif, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) kembali menggelar ajang Inovatif dan Kreatif Kolaborasi Nusantara (Ikkon) untuk kedua kalinya. Menunjuk Kabupaten Banyuwangi sebagai poros utama kegiatan Ikkon di Jawa Timur, Bekraf bertugas memoles dan menghargai potensi daerah melalui kapasitas generasi muda yang beragam.

“Sehingga manfaat Ikkon ini bisa dirasakan masyarakat secara luas. Bekraf menunjuk satu mentor, kemudian membentuk tim yang di dalamnya berisi pemuda-pemudi kreatif dan profesional di bidangnya. Lalu berkegiatan dan membuat produk yang bisa dipasarkan, sehingga bisa mendapatkan nilai ekonomis,” kata Business Advisor Ikkon Banyuwangi, Seven kepada Bisniskini.com, pekan lalu.

Kegiatan ini, lanjut Seven, juga tersebar di beberapa wilayah se-nusantara. Selain di Banyuwangi (Jawa Timur) juga di Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Belu (Nusa Tenggara Timur) dan Toraja Utara (Sulawesi Selatan).

“Bekraf melalui Ikkon ini mendatangkan bebagai profesi dan disiplin ilmu yang beragam, yakni antroplog, desainer, fotografer dan videografer Indonesia. Insan-insan tersebut kemudian terpilih mendatangi daerah yang telah ditentukan dan berkolaborasi dengan pelaku industri kreatif lokal,” lanjutnya.

Masih dikatakan Seven, produk yang telah dihasilkan bersama kawan-kawan satu timnya, yang juga bekerja sama dengan para pelaku industri kreatif lokal sangat beragam. Mulai kerajinan tangan, hingga kain batik.

“Semua produk ini, mulai dari kriya atau kerajinan tangan, hingga kain batik adalah marchandise tradisional khas Banyuwangi. Dan hasil kerja langsung para pelaku industri kreatif lokal ini dapat lebih terapresiasi dengan nilai ekonomis yang didapat dari produk-produk tersebut,” tuturnya.

Ia menambahkan, ke depan, dengan semakin banyak daerah yang terlibat di kegiatan Ikkon ini semoga berdampak juga pada meningkatnya industri kreatif di seluruh Indonesia.

“Negara-negara maju saat ini justru lebih fokus pada pengembangan industri kreatif, karena value atau nilai ekonominya tidak terbatas. Potensi perekonomian melalui industri kreatif ini sangat besar. Terlebih di Indonesia, yang memiliki ragam budaya, ragam suku, dan ragam wisata,” pungkasnya. (ist)

PDIP Surabaya Targetkan Pilgub Menang 80 Persen

foto
Gus Ipul dan Mas Anas kompak hadiri Rakorcab DPC PDIP Surabaya. Foto: ngopiae.net.

Ketua DPC PDI Perjuangan Wisnu Sakti Buana dihadapan ratusan pengurus anak cabang dan ranting meminta kesiapan kembali untuk mengamankan suara PDI Perjuangan dalam Pilgub Jatim 2018 mendatang.

“Sebagai partai pemenang di Kota Surabaya, PDIP ingin mengulang kejayaannya di kontestasi Pilgub Jatim dengan target perolehan suara di atas 80 persen,” kata Wisnu saat acara seperti dikutip Ngopiae.net.

Wisnu juga mengatakan jika Rakorcab ini sebagai pemanasan awal setelah melakukan konsolidasi partai untuk menjaga suara kader tetap utuh dalam pemenangan Gus Ipul dan Anas pada pilgub Jatim 2018 mendatang.

“Bayangkan jika anak rating semua hadir, maka gedung ini tidak akan muat, hari ini sekitar 1500 pengurus anak rating hadir, ini sebagai bukti untuk memenangkan pemilu gubernur tahun depan, target kita menang besar lha, karena Surabaya menjadi barometer Jawa Timur, sejauh ini Surabaya menjadi kandangnya PDI Perjuangan,” ungkapnya.

Oleh karenanya, pada Pilgub Jatim 2018 mendatang, Wisnu mengaharapkan bisa mendulang suara sebanyak-banyak seperti pada pemilu 2014 dan pilwali 2015 lalu.

“Sebagai wujud kongkrit pemenangan kita akan bentuk tim bappilu dan bersama badan saksi akan bergerak, artinya dari struktur sudah dua kali kuota TPS, kita tidak akan kebingungan akan cari saksi serta penggerak, karena menggerakan pengurus itu lebih dari cukup, ditambah relawan-relawan dan simpul lainya sudah terbentuk,” ujarnya.

Sementara itu, Abdullah Azwar Anas mengatakan jika dirinya ingin menampilkan suasana kampanye yang menggembirakan dan tidak akan melakukan kampanye negatif, tetapi berusaha membangun politik dengan rasa gembira tanpa menyela siapapun termasuk lawan di Pilgub Jatim.

“Menjalankan masukan dari partai terkait langkah ke depan, kami juga ingin membangun politik dengan fun, tidak semata-mata fanatisme dukungan, karena dengan membangun politik dengan rasa gembira ini, maka kita akan senang mengerjakan, tidak ada kampanye yang menafikkan dan menjelekkan orang lain,” tandasnya.

Bahkan, Anas mengaku sudah mempraktekkan kampanye atau praktek politik dengan rasa gembira, terutama ketika dia keliling di Jawa Timur. “Saya sudah memulainya saat mengunjungi 32 kab/kota, alhamdulillah direspon dengan baik,” tuturnya. (ita)