Pementasan wayang kulit Bali di Kennedy Center Amerika. Foto: istimewa.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC bekerjasama dengan komunitas gamelan Raga Kusuma yang dipimpin Andy McGraw (Richmond University) menampilkan pergelaran wayang kulit Bali dengan lakon Sutasoma di Kennedy Center, Washington DC Amerika Serikat.
Pagelaran ini menurut laporam Ristekdikti.go.id, dibawakan oleh dalang Gusti Sudarta, seorang master wayang dari Konservatorium Seni Indonesia dan staf pengajar ISI Denpasar. Kisah ini menceritakan calon Buddha (Bodhisattva) dilahirkan kembali sebagai Sutasoma.
Pertunjukan diawali dengan penampilan tari Cendrawasih yang dibawakan oleh Tim kesenian Bank Indonesia (BI) yang hadir di Washington DC dalam rangka mempromosikan ‘The 2018 Annual Meetingof the International Monetory Fund (IMF) and the World Bank Group’ yang akan diselenggarakan di Bali pada tahun 2018.
“Kami akan terus kenalkan publik Amerika Serikat dengan kekayaan budaya Indonesia yang berkualitas. KBRI bekerja sama dengan komunitas Seni Indonesia di Amerika Serikat, seperti Raga Kusuma ini untuk mengenalkan Indonesia”, demikian ditegaskan Ismunandar, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington DC.
Pertunjukan di Kennedy Center ini juga tampilkan di kanal Kennedy Center Youtube : https://youtube.com/watch?v=_5GC3vGzZOg. “Pementasan karya seni Indonesia di AS, khususnya di lokasi bergengsi seperti the Kennedy Center, kami harapkan semakin memperkuat diplomasi Indonesia di AS” lanjut Ismunandar.
Setelah pertunjukan, penonton melihat dan memainkan langsung wayang serta berdiskusi dengan dalang dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan.
Banyak yang menyatakan kekaguman atas kepiawaian dalang memainkan berbagai karakter wayang dan menyuarakan beragam karakter. Apresiasi yang tinggi juga disampaikan atas pelestarian tradisi membawakan cerita dengan cara-cara tradisional.
The Kennedy Center merupakan salah satu pusat kegiatan seni di AS, khususnya Washington DC. Didirikan sejak jaman Presiden Dwight D Eisenhower hingga selanjutnya dinamakan untuk menghormati Presiden Kennedy atas berbagai jasanya dalam mengembangkan seni. (sak)
Situs Banyu Kuning di Gondang Bojonegoro bisa menjadi obyek wisata. Foto: Wisatabojonegoro.com.
Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mendukung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro yang mengusulkan penetapan sejumlah geosite sebagai cagar alam geologi berdasarkan kajian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNV) Yogyakarta.
Kepala Badan ESDM Pemkab Bojonegoro Darmawan, di Bojonegoro kepada Antara Jatim menjelaskan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo sudah mengirimkan surat permohonan kepada Menteri ESDM terkait usulan penetapan sejumlah geosite di daerahnya sebagai cagar alam geologi.
“Pemkab sudah berkoordinasi dengan Badan Geologi dan pihak UPNV Yogyakarta, karena Gubernur Jatim, Soekarwo kepada Menteri ESDM,” kata dia menegaskan.
Di dalam surat Gubernur Jatim, Soekarwo, tertanggal 13 Oktober 2017 itu, lanjut dia, menindaklanjuti surat yang disampaikan Bupati Bojonegoro Suyoto tertanggal 27 April 2017 yang berisi usulan penetapan kawasan cagar alam geologi di daerahnya.
Surat yang disampaikan kepada Menteri ESDM itu, tebusannya juga disampaikan kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Menteri Dalam Negeri, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Menteri Agratia dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Di dalam surat itu juga disebutkan bahwa dalam lampiran UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, sub urusan geologi, kewenangan Penetapan Kawasan Lindung Geologi dan warisan geologi (geo-heritage) adalah kewenangan Kementerian ESDM.
Sesuai Pertauran Menteri ESDM No. 32 tahun 2016 tentang Pedoman Penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG), Pemkab Bojonegoro bekerjsama dengan UPNV Yogyakarta dan telah berkoordinasi dengan Badan Gologi Kementerian ESDM melakukan kajian bersama tentang KCAG atau “geoheritage” Bojonegoro.
Sesuai data geosite yang diusulkan masuk cagar alam geologi dan “petroleum geopark yaitu “petroleum geoheritage” Wonocolo di Kecamatan Kedewan, geosite “antiklin” Kawengan, juga di Kecamatan Kedewan dan geosite Kahyangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.
Selain itu, geosite Kedungmaor, di Kecamatan Temayang, geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, geosite gigi hiu, dan geosite undak Bengawan Solo.
Lainnya geosite Gunung Watu, Watu Gandul, Selo Gajah dan Banyu Kuning, semuanya di Kecamatan Gondang, sedangkan yang masuk “geopark” yaitu Sendang Gong di Desa Gunung Sari, Kecamatan Baureno, Gunung Pegat, Gua Soka, dan makam orang Kalang.
“Badan Geologi Nasional sudah sepakat, bahkan sudah ke lokasi geosite di Bojonegoro yang akan diusulkan untuk ditetapkan sebagai cagar alam geologi,” ucap Peneliti UPNV Yogyakarta Dr. Jatmika Setiawan, menambahkan. (sak)
Stan komunitas seniman Bengkel Muda Surabaya di Pasar Seni Lukis Indonesia 2017. Foto: Antara Jatim/ Hanif Nashrullah.
Komunitas seniman “Bengkel Muda Surabaya” mengais dana untuk menghidupkan kembali aktivitas produksi keseniannya dari penyelenggaraan Pasar Seni Lukis Indonesia 2017, yang berlangsung di Gedung JX International Convention Exhibition Surabaya, 13 – 22 Oktober 2017.
Komunitas yang melahirkan sejumlah seniman nasional seperti dramawan Basuki Rahmat dan Akhudiat itu akan berulang tahun ke- 45 pada 20 Desember mendatang dan sedang memproduksi sejumlah pementasan kesenian untuk merayakannya.
“Tapi sejumlah ‘stakeholder’ yang dulu selalu menyokong biaya produksi kesenian Bengkel Muda sekarang sudah menganaktirikan kami,” ujar Rokim Dakas, salah seorang seniman Bengkel Muda Surabaya, saat ditemui Antara Jatim di Surabaya.
Pernyataan Rokim Dakas itu sekaligus menjelaskan kenapa dalam satu dasa warsa terakhir Bengkel Muda Surabaya mati suri.
Produksi kesenian terakhir Bengkel Muda Surabaya adalah pementasan teater lakon “Pesta Pencuri” di tahun 2007. Setelah itu menggarap lakon “Bui” pada bulan Juli lalu, yang diproduksi hanya untuk memenuhi undangan Festival Drama Jawa Timur 2017 di Surabaya yang bertema “Membaca Akhudiat”.
Menurut Rokim, untuk menyambut ulang tahun Bengkel Muda Surabaya ke- 45 pada Desember mendatang, para seniman yang tergabung dalam komunitas ini telah menggelorakan semangat “reborn” dan bertekad menyiapkan sejumlah produksi pementasan untuk merayakannya.
Tapi semangat “reborn” itu hampir luntur setelah beberapa kali menggelar proses latihan untuk memenuhi konsumsinya saja tidak mampu. “Lalu kami melihat bulan Oktober ini ada agenda Pasar Seni Lukis Indonesia 2017, yang ketua penyelenggaranya, M. Anis, adalah anggota Bengkel Muda Surabaya juga,” ujarnya.
Rokim pun melobi Anis agar menyedekahkan satu stan sebagai tempat penggalangan dana dengan cara menjual lukisan karya seniman-seniman Bengkel Muda Surabaya, agar semangat “reborn” untuk menggelar sejumlah produksi pementasan pada ulang tahunnya yang ke- 45 pada Desember mendatang bisa terealisasi.
Maka jadilah satu stan berukuran sempit, sekitar 2 x 3 meter, diberikan Anis sebagai ruang untuk menggugah kepedulian masyarakat terhadap komunitas seniman Bengkel Muda Surabaya, agar setidaknya bisa menggelar pentas memperingati ulang tahunnya yang ke- 45 pada 20 Desember mendatang.
Stan itu diisi oleh sejumlah lukisan karya seniman Bengkel Muda Surabaya, yaitu Rokim Dakas, Widodo Basuki, Poerono Sambowo, Endang Perca, Nasar Bathati, dan Hermin Munif. Keenam pelukis itu sepakat menyisihkan 30 persen penjualan lukisannya demi terselenggaranya pementasan pada perayaan ulang tahun Bengkel Muda Surabaya ke- 45.
Selanjutnya Rokim berharap dari ajang Pasar Seni Lukis Indonesia 2017 ini seniman Bengkel Muda Surabaya benar-benar “reborn”, tak hanya sampai pada perayaan ulang tahunnya yang ke- 45 pada Desember mendatang, melainkan menjadi titik pijak untuk kembali bangkit dan turut meramaikan kancah kesenian nasional seperti pada masa jayanya dulu di era 70 hingga 90-an. (ant)
Wayang Potehi dimainkan pada ajang Festival Tantular. Foto: Kominfo Jatim.
Festival Tantular 2017 yang diselenggarakan UPT Museum Negeri Mpu Tantular Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim mementaskan wayang Potehi dari Sanggar Gubuk Wayang Kota Mojokerto. Wayang Potehi bukan hanya sekadar seni pertunjukan, tetapi bagi etnik Tionghoa memiliki fungsi sosial serta ritual.
Dalang Wayang Potehi dari Sanggar Gubuk Wayang Kota Mojokerto, Doni Mariyono disela-sela Pementasannya di Festival Tantular dihalaman Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, Kamis (19/10) kepada Kominfo Jatim mengatakan, keberadaan wayang potehi di Jawa Timur cukup berkembang seperti didaerah Surabaya, Tulungagung, Jombang dan Kota Mojokerto sendiri.
Pertunjukan wayang Potehi dulunya hanya dipentaskan acara keagamaan di Klenteng-klenteng saja, tetapi sekarang kesenian ini telah dipopulerkan kemasyarakat bisa dipentaskan dihajatan-hajatan kemanten, sunatan dan festival-Festival seperti Festival Tantular 2017 di Sidoarjo.
Di Festival Tantular ini wayang Potehi selain mengadakan pertunjukan juga memberikan sosialisasi kepada para penontonya khususnya para pelajar mulai dari tingkat SD, SMP, SMK, SMA, mahasiswa dan masyarakat pecinta kesenian wayang.
Wayang Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantong) dan hi (wayang). Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. Kesenian ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun dan berasal dari negeri Tiongkok.
Menurut sejarah, diperkirakan jenis kesenian ini sudah ada pada masa Dinasti Jin (265-420 Masehi) dan berkembang pada Dinasti Song (960-1279). Wayang Potehi masuk ke Indonesia (dulu Nusantara) melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke Nusantara pada sekitar abad 16 sampai 19.
Data yang berupa catatan awal tentang wayang Potehi di Indonesia, berasal dari seorang Inggris bernama Edmund Scott. Dia pergi ke Banten 2 kali, antara 1602 dan 1625. Ia menyebutkan, pertunjukan sejenis opera, yang diselenggarakan bila jung-jung akan berangkat ke atau bila kembali ke Tiongkok.
Dulunya Wayang Potehi hanya memainkan lakon-lakon yang berasal dari kisah klasik Tiongkok seperti legenda dinasti-dinasti yang ada di Tiongkok, terutama jika dimainkan di kelenteng. Akan tetapi saat ini Wayang Potehi sudah mengambil cerita-cerita di luar kisah klasik seperti novel Se yuu dengan tokohnya Kera Sakti yang tersohor Sun Go Kong.
Pada masa masuknya pertama kali di Nusantara, wayang potehi dimainkan dalam dialek Hokkian. Seiring dengan perkembangan zaman, wayang ini pun kemudian juga dimainkan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu para penduduk non-Tionghoa pun sekarang bisa menikmati cerita yang dimainkan.
Menariknya, sekarang ternyata lakon-lakon yang kerap dimainkan dalam wayang ini sudah diadaptasi menjadi tokoh-tokoh di dalam ketoprak. Seperti misalnya tokoh Si Jin Kui yang diadopsi menjadi tokoh Joko Sudiro. Penggemar berat ketoprak, mestinya tidak asing dengan tokoh Prabu Lisan Puro yang ternyata diambil dari tokoh Li Si Bin, kaisar kedua Dinasti Tong abat (618-907).
Alat musik Wayang Potehi terdiri atas gembreng/lo, kecer/simbal, cheh dan puah, suling/phin-a, gitar/gueh-khim, rebab/hian-a, tambur/kou, terompet/ai-a dan piak-kou. Alat terakhir ini berbentuk silinder sepanjang 5 sentimeter, mirip kentongan kecil penjual bakmi. (ist)
Dalang Ki Kasmani Mujianto tengah menggelar wayang Thengul. Foto: Kominfo Jatim.
Wayang Thengul Bojonegoro mampu menghibur peserta dan pengunjung Festival Tantular 2017 yang diselenggarakan UPT Museum Negeri Mpu Tantular Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur di Sidoarjo. Pengenalan wayang ini diharapkan bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang kesenian tradisional di Indonesia.
Dalang Wayang Thengul, Ki Kasmani Mujianto dari Kabupaten Bojonegoro di sela-sela pementasan di Festival Tantular di halaman Museum Mpu Tantular Sidoarjo, Jumat (20/10) kepada Kominfo Jatim mengatakan, Wayang Thengul merupakan ikon kesenian tradisi wayang golek asli Kabupaten Bojonegoro dan sudah memperoleh pengakuan nasional. Kesenian ini masih eksis dan tumbuh kembang di Bojonegoro.
Wayang Thengul berasal dari Kata Thengul dalam penuturan masyarakat berasal dari kata “methentheng” dan “methungul” yang artinya karena terbuat dari kayu berbentuk tiga dimensi, maka “dhalang” harus “methentheng” (tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar “methungul” (muncul dan terlihat penonton).
Teng (”methentheng”) dan Ngul (“menthungul ”), sampai pada saat ini di kabupaten Bojonegoro pertunjukan wayang Thengul didukung oleh pelaku aktif oleh 14 orang dalang yang tersebar di wilayah Kapas, Balen, Padangan, Sumberrejo, Kedungadem. Kemudian di Sukosewu, Bubulan, Margomulyo, dan kecamatan kanor yang berjarak ± 30-45 Km dari Kota Bojonegoro.
Pertunjukan wayang Thengul Bojonegoro dipentaskan dalam acara yang berkaitan erat dengan hajat orang banyak seperti ritual upacara tradisional, ruwata dan nadzar serta hajatan..
Wayang Thengul ini berbentuk 3 dimensi, biasanya dimainkan dengan diiringi gamelan pelog/slendro. Wayang Thengul ini memang sudah jarang dipertunjukkan lagi, namun keberadaannya tetap dilestarikan di Bojonegoro.
Para dalang muda belajar secara otodidak dengan cara nyantrik alias membantu sambil mempelajiri setiap pentas pada dalang senior, dan saling mengapresiasi permainan sesama dhalang wayang Thengul.
Wayang Thengul Bojonegoro cenderung menggelar lakon-lakon wayang gedhog, bahkan beberapa lakon terkait dengan Serat Damarwulan yang sering dilakonkan dalam pertunjukan wayang Klithik.
Tradisi pertunjukan wayang Thengul di Bojonegoro nampaknya lebih dekat dengan ceritera Gedhog, Bangun Majapahit yaitu cerita yang bersumber pada babad Majapahit, babad Demak.
Dilihat dari perupaan dan visualisasi karakter tokoh dalam wayang Thengul memiliki kedekatan karakter dengan tipologi yang tertuang dalam wayang Gedhog dan wayang Menak. Sehingga sangat wajar, wayang Thengul lebih dekat dengan lakon wayang Menak, lakon-lakon Panji serta ceritera para wali pada masa kerajaan Demak. (ist)
Gus Ipul dan Anas saat rakor pengumuman calon gubernur dan wakil gubernur di Kantor DPP PDI Perjuangan. Foto: Antara.
Pasangan bakal calon kepada daerah Jawa Timur yang diusung PDI Perjuangan dan PKB, Saifullah Yusuf dan Abdullah Azwar Anas akan berkampanye dengan materi-materi inspiratif dan inovatif dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jawa Timur 2018.
Anas, menemui pengurus PDIP untuk merancang kampanye inspiratif serta inovatif, Jumat malam, 20 Oktober 2017. “Kami membicarakan kampanye yang inspiratif dan kreatif, tanpa menjelek-jelekkan pihak lain,” ujar Anas kepada wartawan seusai rapat tertutup dengan pengurus PDIP di Sekretariat PDIP Jawa Timur di Surabaya.
Menurut dia, saat ini masyarakat tidak menginginkan kampanye yang mengarah ke fitnah dan tak santun, namun lebih ke kegiatan menarik sehingga menjadi perhatian orang banyak. “Sekarang ada paradigma baru, trennya yaitu good news is good news, bukan lagi bad news is good news.”
Informasi yang disampaikan dalam kampanye, seperti dilansir Bisnis.com, juga akan diusahakan menyejukkan sehingga mudah dibaca dan dimengerti. Bukan berita “sampah” yang justru akan ditinggalkan.
Ketua DPD PDIP Jawa Timur Kusnadi setuju dengan rancangan kampanye inspiratif agar menimbulkan kesan positif bagi masyarakat. “Kami akan terus berkonsolidasi untuk membuat pasangan Saifullah-Anas menang di Pilkada Jatim,” kata Wakil Ketua DPRD Jatim itu.
Bupati Banyuwangi itu juga melaporkan hasil safari politiknya bertemu dengan tokoh-tokoh PDIP di kawasan “Mataraman”, seperti Blitar, Ngawi, Tulungagung, Ponorogo, hingga Trenggalek. “Saya bertemu para tokoh untuk menyamakan persepsi,” ujar Anas. (ist)
Pembukaan Festival Tantular 2017 oleh Sekda Prov Jatim. Foto: Humas Pemprov Jatim.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Timur Akhmad Sukardi membuka secara resmi Festival Tantular 2017 di Museum Empu Tantular di Sidoarjo, Kamis (19/10) lalu. Festival Tantular 2017 yang berlangsung 19 – 22 Oktober 2017 mengangkat tema “Menelusuri keberadaan sejarah Jawa Timur melalui keanekaragaman Wayang”.
Dalam sambutannya, Sukardi seperti dilaporkan Kominfo Jatim, mengatakan, Festival Tantular 2017 yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, seniman, pelajar dan mahasiswa mengangkat kebesaran sejarah Jawa Timur melalui keanegaragaman wilayah.
Seni budaya Indonesia khususnya Jawa Timur merupakan karya anak bangsa sungguh luar biasa indahnya khususnya wayang yang merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.
Wayang selain merupakan sebuah tontonan tekaligus sebagai tuntunan yang baik bagi masyarakat pecinta wayang. Wayang yang telah lama ada di Jawa terus dilestarikan agar anak cucu kita bisa melhat kesenian kesenian wayang dengan utuh.
Sebenarnya barang-barang yang disimpan di Museum ini merupakan barang bersejarah yang sekarang sudah tidak ada lagi tetapi telah diangkat oleh Dinas Pariwisata melalui sebuah kegiatan tahunan Festival Tantular 2017 ini.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwsata Jawa Timur Jarianto mengatakan, dimuseum Empu Tantular ini telah tersimpan sepuluh koleksi dari berbagai corak seni dan kebudayaan khususnya dari Jawa Timur. Seperti keleksi wayang kulit yang populer keberadaannya sampai saat ini.
Selain wayang kulit di Museum ini juga dilestarikan berbagai jenis koleksi wayang yang hampir punah keberadaannya dan jarang sekali masyarakat melihat secara langsung pagelarannya.
Diantaranya wayang Beber dari Pacitan, wayang Tengul, wayang Thimplong, wayang Potehi, wayang Krusil, wayang Wong dan wayang Suluh.
Wayang yang merupakan maha karya bangsa Indonesia yang mempunyai kearifan budaya lokal serta memiliki peran penting dari seni budaya.baik seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur dan seni sastra serta seni pahat sebagai simbol. Wayang juga dapat digunakan sebagai media dakwan dan media pendidikan.
Sedangkan museum sendiri sebagai literasi penyimpan benda-benda koleksi yang menempatkan museun sebagai pusat informasi strategis kekayaan kebudayaan sejarah bangsa masa lalu. Dengan informasi tersebut masyarakat bisa mengetahui, mempelajari dan memahami budaya sehingga mencintai warisan busaya tersebut. (ist)
Satria Dharma, Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Surabaya. Foto: Merdeka.com.
Dua dekade lalu, sastrawan Taufik Ismail pernah diminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Wardiman Djojonegoro meneliti kewajiban membaca siswa-siswa sekolah setingkat SMA di 13 negara dunia. Hasilnya, setiap negara mewajibkan siswanya membaca buku sastra selama tiga tahun masa pendidikan.
Dimulai dari yang terbanyak, Amerika Serikat. Negeri Paman Sam itu mewajibkan siswa SMA membaca 32 judul buku selama tiga tahun.
Berikutnya Belanda dan Perancis sebanyak 30 judul, Jerman Barat sebanyak 22 judul, Swiss dan Jepang sebanyak 15 judul. Sementara Indonesia berada di urutan paling buncit, sebab sama sekali tidak mewajibkan muridnya membaca buku sastra.
Bahkan, menurut Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Surabaya, Satria Dharma, kondisi yang demikian rupanya sudah terjadi sejak 1943. Lalu terus terjadi puluhan tahun setelahnya. “Sebenarnya Indonesia pernah ada kewajiban membaca itu. Tepatnya, pada masa penjajahan Belanda,” kata Satria kepada Merdeka.com beberapa waktu lalu.
Pada zaman malaise itu, dia menjelaskan, para pelajar di negeri jajahan Belanda pernah diwajibkan membaca buku-buku. Misalnya bagi murid-murid Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda Yogyakarta (25 judul) dan AMS Hindia Belanda Malang (15 judul).
Latar belakang sejarah literasi di Indonesia yang seperti itu, menurut Satria, berakibat pada menurunnya budaya membaca generasi milenial sekarang ini. “Karena kita tidak mengajarkan kebiasaan membaca kepada anak-anak,” ujar Satria.
Gerakan Indonesia Membaca
Berangkat dari keprihatinan itu, Satria lantas terjun menggeluti dunia literasi, salah satunya mendirikan Gerakan Literasi Sekolah. Disusul gerakan berikutnya, ‘Gerakan Indonesia Membaca’. Gerakan-gerakan itu dijalankan bersama kawan-kawannya selama beberapa tahun.
Gerakan literasi ini baru benar-benar terasa saat Menteri Pendidikan dijabat oleh Anies Baswedan. Singkat cerita, Satria dikenalkan temannya kepada Anies Baswedan. Ketika Anies diangkat menjadi Menteri Pendidikan, ide dan gagasannya tentang literasi diakomodir dan dijadikan sebuah gerakan oleh kementerian; Gerakan Literasi Sekolah.
Gerakan tersebut dituangkan dalam Permendikbud No 23 Tahun 2015. Dalam Permen itu setiap sekolah diwajibkan mengalokasikan waktu 15 menit untuk para siswanya membaca buku (selain buku pelajaran) tiap harinya sebelum jam pelajaran pertama. “Sekarang malah dinaikkan menjadi Gerakan Literasi Nasional,” ujarnya.
Masalahnya sekarang, dia melanjutkan, tidak semua Dinas Pendidikan di setiap daerah peduli dengan kewajiban ini. “Juga Kemendikbud, belum punya tim monitoring dan evaluasi untuk program ini,” katanya menambahkan.
Terlebih, sampai sekarang masih banyak pemimpin bangsa yang belum paham betapa pentingnya budaya membaca bagi bangsa. “Ketika pemimpin-pemimpin itu ditanya apakah budaya membaca itu penting? Jawabannya, pasti penting. Tapi, ketika ditanya apa yang Anda lakukan? Ya, tidak ada. Jadi menurut saya karena mereka tidak benar-benar paham,” katanya.
Contoh lainnya soal penghargaan kepada penulis buku. Baru beberapa saat ini dua penulis Indonesia, Tere Liye dan Dee Lestari, memprotes keras tarif pajak royalti yang diminta pemerintah sebesar 15 persen kepada penulis.
Padahal, royalti yang diberikan penerbit ke penulis cuma 10 persen dari penjualan buku. “Ini juga merupakan salah satu bentuk ketidakpahaman para pemimpin,” ujarnya.
Ia merujuk ke pemerintahan India. Di sana, buku sangat murah lantaran disubsidi. Buku dibuat sangat murah. Pemerintahnya bekerja sama dengan penerbitnya. Semisal, mencetak sendiri dengan kertas yang lebih murah. Sehingga, harga buku lebih murah. “Karena pemerintah ikut campur. (Penulis buku) kita bukannya malah disubsidi, malah dipajaki. Ini kan aneh,” katanya.
Dia juga menceritakan rencana besar Uni Emirat Arab (UEA) terhadap literasi. Negeri padang pasir itu akan mengeluarkan UU yang akan memaksa warganya membaca. Dan ini merupakan proyek jangka panjang. Targetnya 10 tahun kemudian warga UEA akan memiliki budaya baca tinggi.
“Seluruh sarana dan prasarana yang merangsang budaya membaca diberi kemudahan,” ujarnya. Satria lalu mengakhiri perbincangan, “Kalau tidak membaca, mau tidak mau kita akan ketinggalan.” (mdk)
Saat Tim Puslit Arkenas Kemendikbuddi Candi Banjarsari Nganjuk. Foto: Bangsaonline.com.
Temuan situs dan sejumlah benda bersejarah di Nganjuk akhirnya mendapat perhatian dari pusat. Tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan meneliti sejumlah situs di Nganjuk. Mereka melakukan ekskavasi Candi Banjarsari, Kecamatan Ngronggot.
Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum, dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk Amin Fuadi seperti diberitakan Koran Jawa Pos mengatakan, tim dari Puslit Arkenas dan BPCB Trowulan berada di Nganjuk hingga Rabu (11/10).
“Mereka meneliti sejumlah situs dan benda purbakala yang ditemukan di Nganjuk beberapa tahun terakhir,” kata Amin yang hingga kemarin menemani tim berkeliling ke sejumlah situs di Nganjuk.
Amin menambahkan, dalam lima hari berada di Nganjuk, tim Arkenas mengunjungi sejumlah situs. Mulai kampung kuno di Pesudukuh, Kecamatan Bagor, hingga kampung kuno di Dusun Tempuran, Desa Banarankulon, Kecamatan Bagor.
Tim juga mengunjungi kampung kuno di tiga lokasi. Yaitu, Dusun Awar-Awar, Desa Mancon, Kecamatan Wilangan; Dusun Banjarsari, Desa/Kecamatan Wilangan; dan di Dusun Plading, Desa Ngumpul, Kecamatan Bagor.
“Tim juga mendatangi beberapa candi dan petilasan bersejarah yang ada di Nganjuk. Termasuk petilasan Gajahmada di Lambang Kuning, Kertosono,” lanjut Amin.
Di antara beberapa lokasi itu, tim Arkenas memutuskan untuk mengekskavasi Candi Banjarsari di Desa Banjarsari, Kecamatan Ngronggot, yang ditemukan akhir Januari 2016. Mereka menggali lebih dalam untuk mengetahui struktur dan bentuk candi. (jpg)
Ritual adat di Banyuwangi, ada peran kerbau dan petani. Foto: Detik.com.
Suasana Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, pagi itu tidak seperti biasa. Seluruh sudut kampung itu dibanjiri ribuan manusia yang akan menyaksikan upacara adat yang rutin digelar setiap tahun saat Suro (dalam kalender Jawa).
Ribuan warga berlalu-lalang memenuhi hampir di setiap jalanan dan sudut dusun. Suasana pecah dan berubah menjadi riuh tatkala rombongan upacara ritual adat kebo-keboan mulai berjalan.
Kondisi jalan mulai basah dan dibanjiri air dari arah selokan. Puluhan pasang kerbau jadi-jadian (kebo-keboan) yang diperankan warga setempat tampak mengamuk dan terkendali. Mereka seolah mengamuk dan menyeruduk setiap penonton yang menyaksikan ritual adat tersebut.
Setelah gerombolan kebo-keboan berjalan, di belakangnya disusul kereta kencana yang diiringi puluhan petani laki-laki dan perempuan. Para petani laki-laki membawa cangkul dengan berpakaian serbahitam. Sedangkan petani perempuan menggendong wadah berisi tangkai padi yang sudah diikat.
Ikatan tangkai bulir padi itu dianggap sakral dan selalu ditunggu masyarakat untuk diperebutkan dalam setiap ritual kebo-keboan. ”Bulir padi ini harus dijaga, tidak boleh diambil sebelum benarbenar ditebar Dewi Sri,” ungkap Untung, 55, salah seorang pemeran petani kepada Koran Jawa Pos.
Masyarakat yang menyaksikan ritual adat tersebut tidak hanya datang dan menonton. Mereka mengharap berkah dalam ritual adat yang digelar setiap Suro itu.
Biasanya, bagi yang meyakini, mereka dipastikan akan menunggu waktu hingga ritual ngurit dan menyebar benih padi. Penonton harus rela belepotan lumpur hingga berkejar-kejaran dengan kebo-keboan demi mendapatkan bulir padi keramat.
Betapa tidak, bagi mereka yang meyakini, bulir padi tersebut akan mendatangkan keberkahan. Salah satunya jika bulir padi itu dicampur dengan bulir padi saat musim tanam. Hasil panen tanaman padi akan melimpah dan terhindar dari serangan hama penyakit.
”Kalau zaman dulu, di era 1980 sampai 1990, yang berebut bulir padi kebanyakan asli petani dari desa sekitar Alasmalang,” ujar Untung.
Perbedaannya, pada era 1980 hingga 1990, bulir padi yang diperebutkan adalah jenis padi unggul. Yakni, padi jenis Jawa Genjah Arum. Namun, karena saat ini varietas padi tersebut jarang ditemukan, jenisnya diganti dengan bulir padi berkualitas bagus dan unggul.
Bukan hanya bulir padi yang disemai pemeran Dewi Sri yang sakral dan kerap menjadi rebutan penonton dalam ritual adat kebo-keboan tersebut. Beras Kuning pitung tawar yang dibawa rombongan petani itu juga menjadi buruan penonton.
Beras kuning pitung tawar tersebut diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tidak sedikit penonton yang menyaksikan langsung membawa wadah dan mengambil beras kuning pitung tawar tersebut. (jpg)