Suasana Asri Nan Rindang Candi Tegowangi Kediri

foto
Suasana Candi Tegowangi di Plemahan Kabupaten Kediri. Foto: Arfika.com.

Hampir setiap hari cagar budaya Candi Tegowangi berada di Dusun Candirejo, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur ini selalu ramai didatangi pengunjung. Kawasan Candi Tegowangi itu menempati lahan hijau milik negara seluas 2.200 hektare.

Hingga saat ini candi peninggalan masa Kerajaan Majapahit berumur 650 tahun itu masih terjaga keasliannya. Meski pembangunan candi pada masanya itu belum tuntas ada ketertarikan tersendiri bagi orang untuk mengunjungi tempat ini.

Banyak pohon yang berjejer di sekitar candi membuat suasanya menjadi asri. Biasanya, pengunjung menghabiskan waktunya di bawah pohon yang sudah dilengkapi fasilitas tempat duduk tersebut.

Meski tempat duduk sederhana terbuat dari bambu itu cukup nyaman untuk dibuat bersantai. Biasanya, tempat ini ramai dikunjungi sejumlah pelajar dari Kampung Inggris, Tulungrejo, Pare. Tak jarang di lokasi itu sering dipakai pelajar sebagai tempat berdiskusi bersama.

Seorang pengunjung bernama Fani mengeluhkan fasilitas yang ada di lokasi ini. Ia sempat kebingungan saat akan menunaikan ibadah salat. “Kalau tempat wudhunya sih ada. Tapi musala yang nggak ada,” terang Fani kepada SURYA.co.id. Menurut Fani, sudah lima kali ini ia mengunjungi tempat ini.

Untuk masuk ke dalam area candi Tegowangi tidak dikenakan biaya, namun hanya diminta mengisi daftar tamu. Kendati gratis ia sadar kalau cagar budaya itu harus dirawat khususnya fasilitas disekitar area candi.

“Ya terkadang kasih uang semampunya. Meski sudah ada dana dari pemerintah terkait cagar budaya tidak ada salahnya toh kasih uang untuk perawatan sarpras,” tuturnya.

Sedangkan, penjaga candi Tegowangi bernama Nur Ali membenarkan kalau di tempat itu tidak ada musala. Namun terkadang apabila pengunjung akan salat bisa memakai bangunan kecil yang berada di samping toliet. Biasanya, bangunan sederhana dari kayu itu ia pakai untuk istirahat.

Kata Nur Ali, ada rencana dari pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri akan memberikan tiga buah gazebo. Apabila itu terwujud ia akan menaruh gazebo itu di bawah pohon untuk bisa dimanfaatkan pengunjung. “Kalau terealisasi ya satu gazebo bisa dimanfaatkan untuk musala darurat,” ungkap Nur Ali.

Menurut dia, Candi Tegowangi merupakan Pendharmaan Raja Bhrematahun yang meninggal pada 1388 M. Candi itu memiliki panjang dan lebar yang sama, yaitu 11,20 meter dan tinggi 4,35 meter. Daya tarik candi ini pada reliaef dinding Sudalama yang menceritakan terkait ruwatan Bethari durga menjadi Dewi Uma.

Ukiran relief pada dinding sudamala Candi Tegowangi mempunyai arti tersendiri. Apabila diurut mulai dari gambar relief awal akan bercerita tentang ruwatan Bethari Durga menjadi Dewi Uma.

Singkat cerita sosok Dewi Uma adalah wanita berparas ayu. Namun karena kesalahan fatal ia dikutuk menjadi seorang raksasa yang buruk rupa. Dibuang ke lembah gondomayit.

“Meski pembangunanan candi yang belum sempurna kala itu. Candi ini mempunyai keistimewaan yakni pada Yoni terindah se Jawa Timur terdapat diatas candi,” pungkasnya. (ist)

Karapan Sapi Piala Presiden di Madura 29 Oktober

foto
Karapan Sapi Piala Presiden RI 2017 di Pamekasan ditunggu banyak orang. Foto: Pulaumadura.com.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Akhmad Sjaifuddin menjelaskan, Festival Karapan Sapi yang memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI digelar 29 Oktober 2017.

“Jadwal karapan sapi ini sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh penyelenggara karapan sapi 2017,” katanya di Pamekasan seperti dikutip Antara Jatim, pekan lalu.

Tahapan seleksi pasangan sapi karapan telah dilakukan di berbagai kecamatan di empat kabupaten di Pulau Madura sejak 29 Agustus 2017.

Di Bangkalan seleksi dilakukan di empat kecamatan, yakni Kecamatan Tanah Merah, Blega, Sepuluh, Kecamatan Socah dan Kecamatan Arosbaya.

Di Kabupaten Sampang seleksi di empat kecamatan, yakni Torjun, Kedungdung, Ketapang dan Kecamatan Kota, Sampang. “Di Pamekasan juga di empat kecamatan, yakni Kecamatan Waru, Pegantenan, Kecamatan Galis dan Kecamatan Kota, Pamekasan,” ujar Sjaifuddin.

Sedangkan di Kabupaten Sumenep, seleksi pasangan sapi kerap di tingkat kecamatan digelar di enam kecamatan, yakni Kecamatan Bluto, Batuputih, Pasongsongan, Guluk-guluk, Kecamatan Gayam dan Kecamatan Kota, Sumenep.

Seleksi pasangan sapi kerap di tingkat kabupaten, menurut Akhmad Sjaifuddin, digelar serentak pada 15 Oktober 2017. “Pasangan sapi kerap yang menjadi pemenang di empat kabupaten ini yang nantinya akan memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI,” ujarnya.

Jumlah pasangan sapi yang akan bersaing memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI 2017 sebanyak enam pasang di masing-masing kabupaten.

Jumlah pasangan sapi kerap yang akan bersaing sebanyak 24 pasangan, yakni 12 pasangan sapi dari bagian menang dan sebanyak 12 pasangan sisanya dari bagian kalah.

Menurut Kepala Disparibud Akhmad Sjaifuddin, yang dimaksud pasangan sapi bagian kalah, yakni pasangan sapi yang kalah di tingkat kabupaten dan diadu kembali memperebutkan juara 1 hingga 3. “Hanya ada di Madura dan Festival Karapan Sapi yang seperti itu,” ujarnya.

Festival Karapan Sapi memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI 2017 yang digelar di Stadion R Soenarto Hadiwidjojo Pamekasan juga akan dirangkai dengan sejumlah kegiatan lain di Pamekasan.

Antara lain pentas seni budaya bertajuk “Semalam di Madura” dan festival kecantikan sapi atau “Sapi Sonok”. Festival Sapi Sonok digelar pada 22 Oktober 2017, sedangkan pementasan seni budaya Madura bertema “Semalam di Madura” pada malam pelaksanaan karapan sapi. (ant)

Mereka Saling Sabet Demi Turunnya Hujan

foto
Penari ujung berupaya saling menyabet punggung lawannya. Foto: Koran Jawa Pos.

Muali sudah menunggu kami di halaman Balai Desa Tarik. Kakek berusia 99 tahun itu duduk di dipan. Bersebelahan dengan sepeda kayuhnya. Begitu melihat kami memasuki gerbang balai desa, dia langsung menyapa dan bersalaman.

“Mulai jam empat (16.00 Red) saya di sini,” ujarnya kepada Koran Jawa Pos. Kami pun menceritakan hambatan yang membuat kami tiba di Balai Desa Tarik pukul 17.00. Padahal, jaraknya hanya sekitar 15 kilometer dari Bendungan Lengkong Baru, titik kami berangkat.

Mobil yang kami tumpangi harus berputar dua kali untuk mencari jalan alternatif menuju balai desa. Sebab, ada pesta pernikahan warga yang menutup jalan.

Dari balai desa, kami langsung menuju ke rumah Sudjari, 64, di RT 7, RW 2, Dusun Balongmacekan, Desa Tarik, Kecamatan Tarik. Kabupaten Sidoarjo. Muali sudah mengatur tempat untuk bertemu dengan seniman tari ujung.

Sudjari adalah koordinator Padepokan Tari Ujung Tarik. Menurut penuturan petugas kecamatan dan warga sebelumnya, hanya ada satu Padepokan Tari Ujung di Kecamatan Tarik. Nah, padepokan itulah yang kami datangi. Pembesarnya saat ini adalah Sudjari dan Muali.

Sudjari tidak sendiri saat kami jumpai di rumahnya. Ada Abas, 60, penari ujung lainnya. Kami sangat beruntung. Mereka berkenan menampilkan tari ujung. Seni tari itu mereka geluti sejak anak-anak. Sore itu Sudjari dan Abas yang tampil. Muali memilih istirahat di sekitar kediaman Sudjari.

Ikut menyimak
Langit mulai berwarna keemasan saat Sudjari dan Abas memperagakannya. Mengenakan celana panjang hitam dan udeng di kepala, masing-masing memegang kayu menjalin (rotan). Tarian tersebut dibuka dengan serangkaian gerakan. Lebih mirip gerakan melemaskan otototot. Terutama pada pergelangan tangan, bahu, dan pundak.

Sejurus kemudian, Sudjari mulai mencambukkan kayu menjalin itu pada Abas. Mereka berjibaku. Namun, Abas menangkisnya dengan memblokade pukulan tersebut. Dua kayu menjalin yang mereka pegang beradu. “Plas”. Terdengar suara yang nyaring.

Sesaat kemudian, giliran Abas yang memukul. Dia, tampaknya, mengincar bagian pundak Sudjari. Dengan gesitnya, Abas meloncat sembari mencambukkan kayu menjalin itu. Meski sudah berupaya menangkis cambukan itu dengan kayu menjalin-nya, Sudjari masih terkena.

Belasan kali mereka saling bergantian memukul. Pundak dan punggung keduanya sudah banyak balur yang memerah. Ketika terdengar lamat-lamat suara azan magrib, mereka menyudahi pertempuran itu.

Menurut Sudjari, untuk menampilkan tari ujung secara komplet, diperlukan beberapa persyaratan. Salah satunya, ada penengah atau wasit. Fungsinya membagi pukulan setiap penari. Jika satu penari selesai memukul, kesempatan memukul selanjutnya diberikan pada penari lain. Wasit pula yang membatasi jam menari.

Syarat berikutnya adalah hadirnya lebih dari dua penari. Idealnya, tari ujung dipertontonkan sekitar 15 menit. Para penari yang terlibat di dalamnya akan saling memukul. Tentu butuh waktu untuk istirahat sebelum kembali berjibaku.

Perlengkapan lainnya adalah iringan musik gamelan, beras kuning, kemenyan, dan pisang hijau. Gamelan akan memeriahkan suasana tari. Beras kuning mewakili harapan pada Yang Mahakuasa agar para penari dan masyarakat di sekitarnya makmur.

Kemenyan berfungsi untuk menghormati roh leluhur yang hadir menyaksikan pementasan tari tersebut. Sementara itu, pisang hijau berfungsi sebagai penghilang luka atau lecet pada kulit.

Muali merupakan mantan Kasun di era 80-an. Menurut dia, dulu banyak remaja yang mempraktikkan tradisi ujung. Kini hanya segelintir orang yang masih mau melakoninya. Dia mengetahui tari itu dari gurunya, sesepuh desa setempat. Bagi Muali, tradisi tersebut harus dilestarikan sekalipun ayah dan ibunya bukan penari ujung.

Menurut Sudjari, tarian itu dipentaskan sebagai bentuk pengharapan agar hujan turun. Meski Tarik dilewati Kali Porong, wilayah itu tidak sepanjang waktu cukup air. Adakalanya terjadi kemarau panjang. Pada saat itulah leluhur mereka akan menari ujung. Dengan begitu, sumur serta ladang akan teraliri banyak air.

Seiring berjalannya waktu, tari ujung juga menjadi sebuah kesenian. Para penarinya sering tampil dalam beberapa acara. Misalnya, peringatan HUT kemerdekaan atau menyambut tamu yang datang ke Tarik. Bahkan, kini mereka lebih sering menari dalam sebuah pementasan seni daripada menari sebagai upaya mendatangkan hujan.

Tidak setiap tahun mereka menari untuk mendatangkan hujan. Namun, permasalahan seriusnya adalah penerus. Tidak banyak anak muda di sekitar Tarik yang mau melanjutkan kesenian tersebut.

Dari empat anak Sudjari, hanya satu yang mau. Bahkan, keturunan Muali dan Abas memilih total di dunia usaha. Sudjari menuturkan, dirinya terakhir menari untuk mendatangkan hujan sekitar dua tahun lalu.

Saat itu terjadi kemarau panjang. Begitu panas. Orang-orang sekitar memintanya untuk menari dan mendatangkan hujan. “Langsung hujan hari ke-2 setelah menari,” kata petani itu. (jpg)

Jadikan Pendapa Madiun Museum Cagar Budaya

foto
Pendapa Muda Graha milik pemerintah Kabupaten Madiun. Foto: Bloggerpurworejo.com.

Bupati Madiun Muhtarom memiliki rencana tersendiri untuk menjaga Pendapa Muda Graha agar tak termakan usia. Dia menjadikannya sebagai museum cagar budaya setelah seluruh kantor organisasi perangkat daerah (OPD) migrasi menjadi satu di Pusat Pemerintahan (Puspem) Mejayan. “Itu untuk melindungi aset,” tuturnya.

Menurut Tarom, sapaan Muhtarom, jika membutuhkan renovasi, pendapa tidak boleh diubah secara total. Kondisi asli bangunan harus tetap terjaga. Dengan begitu, sejarah bangunan tetap terbaca dan tergambarkan dengan jelas sampai kapanpun. Meski direnovasi, bangunan asli tetap lestari.

“Di Puspem sekarang ada pendapa. Jadi, seluruh kegiatan bisa dilangsungkan di utara atau selatan karena punya dua istana,” urainya kepada Koran Jawa Pos.

Namun, untuk bangunan kantor yang ditinggalkan, Tarom menyerahkan pemanfaatannya kepada bupati yang baru. Sebab, masa kepemimpinan Muhtarom-Iswanto berakhir tahun depan.

Sudah semestinya eks kantor OPD yang ditinggal boyongan ke Puspem itu tetap dimanfaatkan dengan melibatkan pihak ketiga. “Kalau disewakan memang tidak mudah. Tawar-menawarnya yang lama,” ungkapnya.

Masa sewa tersebut pun tak boleh lebih dari 25 tahun. Dengan demikian, Pemkab bisa mengirit biaya perawatan aset yang ditinggalkan. Misalnya, kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) dan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) yang harus boyongan ke Puspem bulan depan. “Sebab, sarana prasarana sudah ada,” terangnya.

Meski pemanfaatan dua kantor yang segera ditinggalkan itu belum jelas, perpindahan ke Puspem tak bisa ditawar. Mebel untuk dua OPD tersebut pun sudah disiapkan. Jika tidak ditempati, mebel bisa rusak. Begitu juga dengan bangunan fisik.

“Karena sudah dibangun, ya harus segera ditempati. Tunggu apa lagi?” tutur Tarom. Dia mengakui, saat ini progres perpindahan Puspem dari wilayah administrasi Kota Madiun ke Kabupaten Madiun mencapai 70 persen. (jpg)

150 Warisan Budaya Takbenda Indonesia Terbaru

foto
Yogyakarta, provinsi terbanyak mendapat Sertifikat Warisan Budaya Takbenda. Foto: Kemdikbud.go.id.

Sebanyak 150 budaya takbenda dari berbagai daerah telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2017. Penetapan tersebut ditandai dengan pemberian Sertifikat Warisan Budaya Takbenda oleh Mendikbud Muhadjir Effendy kepada sembilan gubernur dan 25 kepala dinas dari 34 provinsi di Indonesia.

Pemberian sertifikat berlangsung di Gedung Kesenian, Jakarta, Selasa (4/10) malam. Kegiatan penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia telah berlangsung sejak tahun 2013.

Dengan ditetapkannya 150 Warisan Budaya Takbenda pada tahun ini, total sebanyak 594 Warisan Budaya Takbenda Indonesia telah ditetapkan.

Warisan Budaya Takbenda yang ditetapkan pada tahun ini antara lain Wayang Garing dari Banten, Musik Gambang Dano Lamo dari Jambi, Tenun Serat Gamplong dari Yogyakarta, Gawai Dayak dari Kalimantan Barat, Minyak Kayu Putih dari Maluku, dan Mansorandak dari Papua Barat.

Pada tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan penghargaan kepada Provinsi DIY sebagai provinsi yang paling banyak mendapatkan Sertifikat Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Mendikbud Muhadjir Effendy memberikan langsung penghargaan tersebut kepada Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada malam pemberian Sertifikat Warisan Budaya Takbenda tersebut.

Pemberian penghargaan kepada Provinsi DI Yogyakarta itu dilakukan agar pemerintah provinsi lain, sebagai pemilik kebudayaan daerah, terpacu untuk mengusulkan kekayaan budayanya untuk ditetapkan, dan melakukan pelestariannya.

Kegiatan Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia dilakukan sebagai upaya untuk pelindungan warisan budaya takbenda yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, melalui inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, penyelamatan dan publikasi objek pemajuan kebudayaan yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas dan akademisi.

Pada tahun 2017 ini ditetapkan sebanyak 150 Warisan Budaya Takbenda dari 416 usulan yang masuk melalui Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Sidang tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 21-24 Agustus 2017 di Jakarta.

Pemberian status Budaya Takbenda menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia diberikan Mendikbud berdasarkan rekomendasi Tim Ahli yang meliputi lima domain sesuai dengan Konvensi 2003 UNESCO tentang Safeguarding of Intangible Cultural Heritage.

Konvensi tersebut sudah diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 2007 melalui Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2007 tentang Pengesahan Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage.

Dalam Perpres tersebut, disebutkan ada lima kategori Warisan Budaya Takbenda, yaitu Tradisi dan Ekspresi Lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda; Seni Pertunjukan; Adat Istiadat, Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-perayaan; Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta; dan Kemahiran Kerajinan Tradisional.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memiliki tugas pokok untuk memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia melalui langkah strategis berupa upaya Pemajuan Kebudayaan dalam bentuk Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Sejalan dengan itu, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, melakukan apresiasi negara terhadap objek dan sumber daya manusia kebudayaan melalui salah satunya melalui Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid berharap kegiatan ini tidak berhenti pada apresiasi terhadap objek pemajuan kebudayaan dan sumber daya manusia kebudayaan saja, tetapi harus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis kebudayaan. Daftar lengkap 150 Warisan Budaya Takbenda tersebut ada disini. (sak)

Remaja Putri, Para Penjaga Mata Air Jolotundo

foto
Remaja Putri ‘Penjaga’ Mata Air Jolotundo. Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan.

Sebanyak 33 remaja putri di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur berjalan kaki sejauh tiga kilometer menuju situs petirtaan Jolotundo. Mereka menggenggam erat kendi berisi air suci.

Terlihat, mereka juga diriingi oleh arak-arakan gunungan hasil bumi dan jajanan pasar yang digotong secara bergantian oleh ribuan warga setempat.

Siang itu, Kamis, 28 September 2017, warga Desa Seloliman menggelar ritual yang sudah turun temurun dari zaman nenek moyang, yakni ritual ruwat sumber mata air Jolotundo. Ritual ini, dilakukan dengan cara menyatukan 33 jenis air suci yang diambil dari empat penjuru mata angin di sekitar gunung Penanggungan.

“Setiap tahun di bulan Suro, ini dilakukan ritual Kebumi Sumber Suci Petirtaan Jolotundo,” tutur sesepuh Desa Seloliman Djari seperti dilaporkan Liputan6.com.

Dia menjelaskan, ritual ini harus tetap dilakukan agar sumber mata air di situs peninggalan Kerajaan Majapahit, serta sumber mata air di kecamatan Trawas tidak mengering. Pasalnya, warga sekitar pernah dilanda kekeringan pada tahun 2008 silam, tak terkecuali di sumber air Jolotundo.

“Pernah kejadian tahun 2008, seluruh sumber air mengering karena saat itu warga tidak melakukan ritual ruwat ini,” kata dia.

Dalam prosesi ruwat tersebut, sesepuh Desa Seloliman terlebih dahulu melakukan pengunduhan 33 jenis air suci yang tersebar di empat penjuru mata angin yang mengelilingi gunung Penagngungan. Pengunduhan air suci tersebut dilakukan saat malam satu Suro lalu. Kemudian air itu ditampung dalam wadah berupa kendi yang sudah didoakan.

Ke-33 air suci lantas dikumpulkan dan dibacakan doa di depan situs. Setelah selesai, semuanya langsung disatukan atau dicampur menjadi satu dengan air Jolotundo dalam gentong khusus. “Ritual ini harus terus dilakukan setiap bulan Suro agar bisa tetap memberi manfaat kepada masyarakat,” ucap Djari.

Ritual ditutup dengan rebutan hasil bumi dan jajanan pasar yang sebelumnya telah diarak. Ratusan wisatawan yang memadati area petirtaan pun rela berdesakan untuk ikut berebut.

Sementara itu, Camat Trawas M Iwan Abdillah menuturkan, sumber air di Petirtaan Jolotundo sempat dikaji oleh sejumlah ilmuwan. Penelitian itu menunjukkan, bahwa air tersebut menjadi sumber mata air terjernih nomor dua di dunia setelah air zam-zam di Arab Saudi.

Oleh karena itu, masyarakat harus melakukan perawatan dan pelestarian agar mata air ini tidak kering. “Kita tetap harus melestarikan budaya dan tradisi nenek moyang. Sebab, sumber air merupakan hal pokok yang ada dikehidupan kita,” katanya.

Iwan berharap, ritual yang dilakukan tersebut bukan hanya sebagai acara seremonial, melainkan juga dijadikan jati diri warga lokal. “Semoga ini menjadi langkah konkrit, untuk melestarikan tradisi dan menjaga sumber airnya,” ujarnya. (ist)

Peran Medang dalam Perjalanan Nusantara

foto
Peta wilayah dan kekuasaan Kerajaan Medang di Pulau Jawa. Foto: Wikimedia.org.

Untuk memperingati 1.285 tahun berdirinya kerajaan Medang, Masyarakat Pecinta Warisan Medang (Medang Heritage Society) bekerja sama dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada akan menyelenggarakan Seminar Nasional Peran Medang Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara.

Seminar diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya, pada akhir pekan lalu dengan menghadirkan pembicara, diantaranya Prof Dr Timbul Harjono, Prof Dr Bambang Hidayat, Dr Niken Wirasanti MSc, Dr Budiono Santoso PhD, Dra Ania Nugrahani, Drs Marsis Sutopo MSi, Drs JSE Yuwono MSc, dan Dr Djoko Dwianto MHum.

Dr Budiono Santoso MSc, selaku ketua Medang Heritage Society mengatakan seminar digelar dengan tujuan untuk memahami peran Medang dalam perjalanan sejarah Nusantara, terutama dalam perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan dan peradaban Nusantara.

Disamping itu, guna melakukan demistifikasi untuk meyakinkan bahwa peninggalan era Medang yang berupa bangunan candi dan bangunan kuno lain adalah karya teknologi dan ilmu pengetahuan di zamannya.

“Dengan seminar ini diharapkan bisa meningkatkan kepedulian para pemangku kepentingan dan masyarakat umum akan pentingnya melindungi dan melestarikan peninggalan kerajaan Medang,” ujarnya di Joglo Fakultas Kedokteran UGM.

Budiono seperti dilaporkan Humas UGM menjelaskan Medang merupakan kerajaan kuno di Jawa Tengah yang berjaya antara abad kedelapan sampai kesebelas dan didirikan oleh Raka I Mataram Sang Ratu Sanjaya pada 6 Oktober tahun 732 Masehi.

Peradaban Medang meninggalkan berbagai peninggalan arsitektur kuno, terutama candi, dan terdapat lebih dari 150 candi dari berbagai ukuran tersebar di Jawa Tengah dan sebagian di Jawa Timur.

Peninggalan peradaban Medang tersebut, diantaranya candi Borobudur dan Prambanan dan diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.

Selain peninggalan bangunan fisik yang berupa candi, kata Budiono, peradaban Medang juga telah meninggalkan banyak warisan non fisik di berbagai bidang yang masih relevan dan dipakai sampai saat ini.

Seperti tata sosial dan pemerintahan, sistem pertanian dan irigasi, sistem kesejahteraan, arsitektur dan teknologi, sistem hari pasaran, peramalan iklim (pranata mangsa), sistem perpajakan dan sebagainya. Tidak berlebihan bila era Medang dapat dianggap sebagai awal kebangkitan teknologi, ilmu pengetahuan dan peradaban Nusantara.

“Sayangnya kebesaran peradaban Medang ini kurang banyak diketahui oleh generasi masa kini. Dengan begitu, sedikit banyak akan memengaruhi perlindungan dan pelestariannya,” jelasnya.

Budiono menambahkan masyarakat Pecinta Warisan Medang (Medang Heritage Society) adalah himpunan multidisiplin yang beranggotakan individu-individu yang mempunyai minat, kepedulian, dan keterikatan (commitment) untuk melakukan pengkajian ilmiah secara multidisiplin, menghimpun dan menyebarluaskan informasi serta melakukan penyuluhan dalam upaya pelestarian warisan budaya dan peninggalan peradaban Medang.

Oleh sebab itu, di tahun 2017, 1285 tahun sejak berdirinya kerajaan Medang menjadi momentum penting untuk menggali dan mengingatkan kembali akan kebesaran peradaban Medang dan peranannya dalam perjalanan sejarah Nusantara.

“Pemahaman mengenai kebesaran nenek moyang di masa lalu kita harapkan dapat memberikan sumbangan positif dalam memupuk rasa cinta warisan leluhur, serta memberikan motivasi dan percaya diri untuk menghadapi tantangan ke depan bangsa Indonesia, terutama menyangkut pluralisme dan etos budaya, disiplin dan kerja keras,” tambahnya. (sak)

Ribuan Wisman Naik Kapal Pesiar Kunjungi Probolinggo

foto
Kapal pesiar saat berlabuh di perairan Probolinggo. Foto: Timesindonesia.co.id.

Ribuan wisatawan mancanegara yang menumpang kapal pesiar Princess Cruises “Come Back New” mengunjungi sejumlah objek wisata di Kota Probolinggo, Jawa Timur, akhir September lalu.

“Mereka mengunjungi Pelabuhan, Klenteng, Alun-alun, Gereja Merah, Museum Probolinggo dan Traditional Market (Pasar Baru),” kata Kabid Promosi Wisata Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo Suciati Ningsih di Probolinggo seperti dikutip Republika.co.id.

Kapal Princess Cruises berkapasitas 2.272 penumpang yang berangkat dari Australia pada 20 September 2017 dengan tujuan akhir ke Lombok, sebelum kembali ke Australia pada 4 Oktober 2017.

Dari jumlah kapasitas penumpang, sebanyak 1.500 di antaranya berkunjung ke Kota Probolinggo dan 80 orang memilih ke Gunung Bromo, namun tidak semua mengambil paket tour dan sekitar 100 orang saja yang ikut tour guide lokal Kota Probolinggo.

“Di Museum Probolinggo, mereka disuguhi penampilan seni budaya tradisional Kota Probolinggo karena kami menggandeng sanggar lokal untuk menghibur para turis, agar lebih mengenal salah satu budaya di Indonesia di antaranya tari Jaran Bodhag, Musik Patrol dan Reog,” tuturnya.

Menurutnya Princess Cruises bukanlah kapal pesiar pertama yang bersandar dan menjadikan Kota Probolinggo sebagai salah satu destinasi wisata, sehingga pihak Disbudpar terus berupaya agar wisatawan kapal pesiar tetap memilih Kota Probolinggo dalam tujuan mereka berwisata.

“Kami harus bisa mengembangkan paket wisata dalam mempromosikan wisata di Kota Probolinggo. Sebenarnya, ada wisata sapi brujul, tetapi peminatnya masih belum banyak dan pengembangan wisata tidak bisa ujug-ujug, tapi butuh proses, dan inilah yang sedang kami lakukan,” katanya.

Membentuk destinasi wisata baru, lanjut dia, bukan menjadi hal mudah karena harus menciptakan hal baru yang diimbangi dengan komitmen semua pihak karena adanya wisata yang menarik akan memudahkan promosi ke pihak luar.

“Selain wisata alam, para turis itu sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan umum seperti Museum dan Gereja Merah. Alhamdulillah, setiap kunjungan wisata dari kapal pesiar di tahun 2017 ini meningkat di setiap kunjungan karena sekarang saja sudah 100 paket, belum turis yang independen atau jalan-jalan sendiri di Kota Probolinggo,” ujarnya.

Ia mengatakan kehadiran para turis itu selain menguntungkan agen travel, sektor ekonomi riil pun ikut bergerak meningkat seperti becak pariwisata, UKM penjual barang hasil daur ulang, pasar modern lokal hingga toko-toko pakaian di sekitar Jalan Panglima Sudirman karena tidak sedikit turis yang membelanjakan uangnya di Kota Probolinggo.

Salah seorang wisatawan asal Australia Cloe mengaku tertarik dan ingin mengetahui seperti apa Kota Probolinggo, sehingga memilih paket wisata tour lokal Kota Probolinggo. “Saya rasa Kota Probolinggo cukup bagus dan masyarakatnya ramah, sehingga saya senang di sini,” katanya dalam bahasa Inggris. (rep)

Agustus 2017, Wisman ke Jatim Naik 12,88 Persen

foto
Sejumlah wisata mancanegara tengah jalan-jalan naik becak. Foto: Suaramedianasional.co.id.

Kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Jawa Timur pada Agustus 2017 sebesar 26.365 kunjungan, naik sebesar 12,88 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 23.357 kunjungan.

Data ini cukup menggembirakan mengingat pada beberapa bulan sebelumnya, jumlah wisman yang datang ke Jawa Timur berada di bawah kisaran dua puluh ribu wisman/bulan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono di kantornya Senin (9/10) seperti dikutip Kominfo Jatim online mengatakan, Jatim memiliki banyak potensi pariwisata yang tidak kalah dengan provinsi lain di Indonesia yang siap untuk dikunjungi.

Beberapa di antaranya adalah kawasan deretan pantai di wilayah Malang Selatan, Kepulauan Gili Labak dan Gili Iyang di Pulau Madura, serta pegunungan Bromo yang terkenal akan keindahan alamnya yang siap memikat para pengunjungnya.

Selain objek wisata alam, terdapat banyak objek wisata bertema taman rekreasi, seperti Taman Safari di Kabupaten Pasuruan, Jatim Park di Kota Batu, atau Wisata Bahari kabupaten Lamongan. Jatim juga mempunyai Kota Malang dan Kota Batu sebagai kota wisata yang terlengkap.

Negara-negara asal wisatawan mancanegara terbanyak yang mendominasi kunjungan ke Jatim pada Agustus 2017 adalah negara Malaysia, Singapura, Tiongkok, Thailand, Taiwan, Jepang, India, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Hongkong.

Wisatawan mancanegara tersebut mencakup adalah 55,73 persen dari total kedatangan wisman. Dari negara tersebut, wisatawan mancanegara berkebangsaan Malaysia menempati posisi tertinggi, yaitu sebesar 21,13 persen dari total kunjungan ke Jatim. Di posisi kedua dan ketiga adalah wisatawan Singapura 9,90 persen dan Tiongkok 5,86 persen.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) merupakan salah satu indikator yang dapat merefleksikan tingkat produktivitas usaha jasa akomodasi. Jika TPK membesar dan cenderung mendekati 100 persen, maka dapat diartikan bahwa sebagian besar kamar laku terjual, dibandingkan dengan kondisi bulan sebelumnya.

Sedangkan TPK hotel berbintang Agustus 2017 sebesar 56,53 persen atau turun 2,10 poin (58,63 poin pada Juli 2017). Angka TPK ini berarti pada Agustus tahun 2017 dari setiap 100 kamar yang disediakan seluruh hotel berbintang di Jatim, setiap malamnya sebanyak 56 hingga 57 kamar diantaranya telah terjual.

Sementara Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) untuk hotel bintang pada Agustus 2017 adalah 1,77 hari. Ini berarti bahwa pada umumnya lama tamu menginap, baik tamu asing maupun Indonesia, di hotel berbintang berkisar antara satu sampai dua hari. Kondisi ini terjadi di selama Agustus 2016.

Adapaun Angka RLMT tamu asing yang berkunjung ke Jatim tercatat 2,43 hari. Hal ini dapat diartikan rata-rata tamu asing yang menginap di hotel berbintang yang ada di Jatim tercatat selama 2 hingga 3 hari. Sedangkan untuk tamu Indonesia mempunyai angka RLMT selama 1,73 hari, atau rata-rata lamanya tamu Indonesia yang menginap di seluruh hotel yang ada di Jatim selama 1 hingga 2 hari. (ist)

Wayang Gandrung Kediri, Unik dan Mistis

foto
Hanya ditampilkan di bulan Suro, Wayang Gandrung menjadi unik dan bearoma mistis. Foto: Iiekafitri.blogspot.co.id.

Nama Wayang Gandrung bagi orang Kediri dan sekitarnya dianggap wayang mistis. Selain selalu dijamas dan hanya ditampilkan di bulan Suro atau kepentingan lain misalnya bagi mereka yang punya ujar (nazar).

Wayang Gandrung menurut kisahnya terlahir dari sebuah bongkahan kayu yang terdampar di sungai pada saat terjadi banjir di daerah Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri sekitar abad 17.

Bahkan tentang keunikan wayang ini, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia di era SBY, Jero Wacik pernah memberikan penghargaan khusus kepada Mbah Kandar (almarhum) sang dalang, sebagai maestro seni tradisi.

Beberapa keunikan yang berhasil ditelusuri berdasarkan penuturan ahli warisnya antara lain, wayang ini terlahir dari bongkahan kayu jati yang hanyut saat terjadi banjir, seperti dituturkan secara turun temurun oleh Lamidi (60) sang pewaris ketujuh Wayang Gandrung dari kakek buyutnya Ki Demang Proyosono.

Kayu jati yang terdampar itu dibelah oleh orang misterius setelah penduduk Pagung, gagal membelahnya.

“Wayang ini adalah peninggalan kakek buyut saya yakni Demang Proyosono, tokoh spiritual dari Surakarta yang sedang topo (bertapa) di Gunung Wilis. Wayang ini hanya boleh dibuka saat pementasan saja selain itu tidak boleh,” tutur Lamidi, Senin (9/10) kepada beritajatim.com.

Pertunjukkan Wayang Mbah Gandrung digelar di Balai Desa Pagung, Kecamatan Semen. Agenda rutin setiap bulan Suro atau Muharram dalam kalender Islam dihadiri beberapa orang warga. Aparat keamanan juga hadir menyaksikan sekaligus menjaga keamanan.

Lamidi menambahkan, kemana saja ketika masih bisa dijangkau, mulai wayang, kenong, gong, rebab, kendang, gambang, dipikul/diangkut dengan jalan kaki. Pilihan dengan jalan kaki ini lantaran pernah pada suatu ketika peralatan pentas pagelaran wayang diangkut dengan gerobak, gerobaknya tidak bisa jalan. Demikian pula ketika diangkut mobil, mobil itu pun mogok.

Ketiga, saat penentuan alur cerita dalam pagelaran wayang, sang dalang seperti Mbah Kandar tidak memiliki otoritas menentukan lakon. Semua hanya berdasarkan wangsit yang diterima Lamidi, keturunannya, setelah dirinya melakukan laku ritual.

Peran kuat Lamidi dalam pengaturan proses ‘mungel’ (proses pementasan) merambah ke seluruh aspek aktualisasi Wayang Gandrung, baik fisik maupun psikis. Hal ini membangun kerangka mistik yang terstruktur bagi menguatnya mitos masyarakat terhadap Wayang Gandrung.

Wayang Gandrung kali pertama ditemukan di dalam kayu ada empat yakni Wayang Mbah Gandrung Kakung (Panji Asmorobangun), Wayang Mbah Gandrung Putri (Galuh Candrakirono), Wayang Joko Luwar dan Wayang Raden Sedono Popo, namun setelah disimpan dalam kotak keempat wayang tersebut membawa teman-temanya kurang lebih 40 buah.

Gamelan mulai ditabuh, pertanda pagelaran dimulai, dengan gendhing jejer (adegan yang mengawali pertunjukan wayang), sang dalang menundukkan kepala membaca mantra kemudian mulai melantunkan sulukan.

Sulukan yang dilantunkan bernada sangat miring bahkan sliring (sliring dalam pemahaman nada tembang di Jawa berarti tidak sesuai dengan nada gamelan) seperti pada lantunan kidung Bali.

Dalang memainkan gunungan dengan menggerakkan ke kiri dan ke kanan kemudian ke tengah, gunungan ditancapkan persis di tengah gawangan.

Kemudian dikeluarkan sosok wayang bercat hitam, profil tubuh dan wajahnya mirip tokoh Semar, gerakan yang dilakukan dalam memainkan tokoh ini berakar pada pola gerakan ulat-ulat dan tancepan dalam sabet wayang kulit. Tokoh ini hanya dimainkan sebentar kemudian dimasukkan kembali ke dalam sarung.

Adegan berikutnya adalah berdasarkan wangsit sang pewaris dalam setiap pertunjukan yang akan dilakoni oleh sang dalang. Dalam setiap pementasan lakon selalu berubah-ubah sesuai wangsit. Beberapa lakon tersebut antara lain Barong Skeder, Bagawan Mintuno, Kuda Sembrani, Naga dan lain sebagainya.

Estetika dan Etika
Pagelaran seni Wayang Gandrung, menurut laporan Merdeka.com sebenarnya mengajarkan manusia untuk memiliki rasa seni estetika dan etika serta mengandung ajaran moral. Dalam Wayang Gandrung tentunya banyak mengandung ajaran moral yang bisa kita terapkan dalam kehidupan normal biasa.

Ajaran moral Wayang Gandrung bisa dikupas secara sederhana dari kata gandrung itu sendiri. Gandrung dalam bahasa Jawa berarti senang, cinta atau suka. Orang yang mengalami gandrung bisa saja seperti orang yang lupa akan hal lain kecuali satu hal yakni yang dicintainya. Hal yang dicintai itu bisa seseorang, sesuatu ataupun perilaku kehidupan yang baik di dunia ini.

Menurut Lamidi, dalam perkembangannya untuk memberikan ajaran kepada anak cucunya, maka Ki Demang Raden Proyosono pertama memberikan sebutan ‘Gandrung’ berarti suka atau cinta untuk berbuat kebaikan dan suka menolong sesama umat manusia atau sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Ungkapan senada juga disampaikan sang dalang Mbah Kandar, menurutnya sesuai pemberian nama oleh Ki Demang Raden Proyosono, kata gandrung di sini berarti suka akan menolong orang lain yang mengalami musibah atau segala permasalahan yang mereka hadapi. Sehingga Wayang Mbah Gandrung ini ada sebagai sarana untuk mengatasi segala kesulitan hidup.

Keberadaan Wayang Mbah Gandrung menjadi simbol atau ikon ‘Wayang Pangayoman’, karena wayang tersebut memiliki kekuatan magis yang dapat memberikan pemecahan dalam kehidupan warga Desa Pagung dan sekitarnya. Sehingga Wayang Gandrung bisa bertahan secara turun temurun hingga lebih dari 300 tahun sampai saat ini. (ist)