Gus Ipul : Karya Seniman Muda Jatim Sangat Potensial

foto
Wagub Jatim membuka Biennale Jatim ke-7 di Taman Budaya Jawa Timur. Foto: Kominfo Jatim.

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur, H Saifullah Yusuf resmi membuka Biennale Jatim ke-7 di Taman Budaya Jawa Timur, Senin (9/10) malam. Pada kesempatan ini, Wagub menyebut Jatim patut berbangga karena memiliki seniman -seniman muda dengan karya sangat potensial.

“Kita punya potensi yang luar biasa, terutama perupa-perupa dan seniman yang masih muda, berbakat dan sudah memiliki karya. Mereka adalah masa depan Jawa Timur,” tutur Wagub yang akrab disapa Gus Ipul seperti dilaporkan Kominfo Jatim online.

Gus Ipul mengapresiasi semangat para seniman yang tiada henti berkarya meski dalam kondisi terbatas. Menurutnya, hal itu yang membuat Taman Budaya Jawa Timur selalu penuh acara, mulai dari pementasan, pameran dan kegiatan seni lainnya.

Lebih lanjut diungkapkannya, peluang yang harus dimanfaatkan di masa mendatang adalah industri kreatif. Seniman-seniman dapat mengambil peran untuk mengoptimalkan segala potensinya. “Seniman, pelukis, kurator adalah komunitas yang diharapkan untuk mendukung industri kreatif,” tandasnya.

Pameran besar seni rupa yang berlangsung dua tahunan ini dimulai 9-22 Oktober 2017 dengan mengusung tema “Word Is A Hoax”. Tema tersebut ingin mengampanyekan selektif dan cerdas dalam menerima informasi.

Selain Wagub, tampak hadir Direktur Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Restu Gunawan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Jarianto dan Ketua Dewan Kesenian Jatim, Taufik.

Kemendikbud Terkesan
Secara terpisah Direktur Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Restu Gunawan menyatakan terkesan dengan kualitas karya seniman Jawa Timur. Seniman telah konsisten berproses kreatif melestarikan, menggali potensi, dan mengembangkan kesenian.

“Terima kasih perupa Jatim yang selalu bersemangat berkarya. Saya mengamati kualitas karya-karya pelukis asal Jawa Timur semakin bagus,” tuturnya.

Restu mengatakan, pihaknya mendukung penuh Biennale Jatim sebagai wujud hadirnya Pemerintah dalam kegiatan kesenian yang diinisiasi oleh masyarakat yang bertujuan untuk memetakan perkembangan seni rupa di Indonesia, sekaligus meningkatkan apresiasi seni oleh masyarakat sebagai media pendidikan karakter bangsa.

Seperti diketahui, Biennal Jatim pertama kali diinisiasi oleh para seniman yang disambut baik, dan difasilitasi Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Timur.

Kepala Disbudpar Jatim Jarianto mengatakan Biennale Jatim telah rutin digelar sejak 2005 atau ketujuh kalinya. Tahun ini terselenggara berkat kerja sama Disbudpar Jatim dan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud.

“Kami berharap dari ajang ini dapat menumbuhkan daya apresiasi masyarakat terhadap seni rupa,” tandasnya. Sejak dilaksanakan pada 2005, perbaikan selalu dilakukan untuk menampilkan sebuah pameran yang tidak hanya meningkatkan kreatiftas perupa, tapi juga memberikan informasi dan ide kepada masyarakat penikmatnya. (ist)

Bahas Pilgub, Sekjen PDIP Kunjungi Risma

foto
Hasto Kristiyanto saat menemui Tri Rismaharini di Rumah Dinas Wali Kota. Foto: Biacarasurabaya.com.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berpeluang maju menjadi Calon Gubernur Jatim pada Pilgub Jatim 2018 mendatang. Hal ini disampaikan Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto sesuai menemui Risma secara khusus di Rumah dinasnya Jalan Sedap Malam, Senin (9/10) lalu.

“Ya ini kan pemilu rakyat, rakyat kan mengapresiasi terhadap kepemimpinan Bu Risma yang berhasil, maka Bu Risma menerima penghargaan dimana-mana, itu kan artinya rakyat memberikan apresiasi,” kata Hasto seperti diberitakan bicarasurabaya.com usai pertemuan itu.

“Ketika rakyat memberikan apresiasi, tentu saja setiap pemimpin memiliki peluang untuk terus diperjuangkan rakyat untuk menjadi pemimpin,” imbuhnya.

Bahkan, hasil survei di internal partai PDI Perjuangan, Wali Kota Risma hasilnya selalu tinggi. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat sangat mengapresiasi terhadap kinerja Wali Kota Risma.

“Survei kami ini kan Bu Risma tinggi, itu apresiasi dari masyarakat dan menunjukan bahwa berpolitik itu bergerak ke bawah, politik itu dengan hasil karya yang membangun peradaban, berpolitik itu bukan main di tingkat elit, bukan main berbagai isu dan kemudian mencurigai rakyatnya sendiri, itu bukan berpolitik, yang namanya pemimpin tidak boleh mencurigai rakyatnya sendiri, dikatakan ekstrem kiri, dikatakan ekstrem kanan, itu namnya mencurigai rakyatnya,” kata dia.

Menurut Hasto, yang dikatakan pemimpin itu yang bisa menyatukan rakyat, bergerak ke bawah. Contohnya seperti Bu Risma yang telah berhasil menyatukan rakyat Surabaya. “Tentu saja kalau ditanya soal peluang, peluang sangat besar,” ujarnya.

Terkait koalisi dengan partai lainnya, PDI Perjuangan masih belum memutuskan menunggu pengumuman pada tanggal 15 Oktober mendatang.

“Partai pengusung kan pemerintahan ada banyak, PDI Perjuangan, ada Nasdem, PAN, PKB, Hanura, PPP, Golkar tentu saja kami membuka ruang dialog dengan partai-partai tersebut, sehingga setelah kami mengumumkan pada tanggal 15 Oktober itu, sesuai dengan arahan dari Ibu Megawati, kita kemudian membuka ruang kerjasama itu semakin fokus, siapa calonnya nanti akan disampaikan oleh ketua umum,” pungkasnya.

Risma: Tunggu Tanggal Mainnya
Namun, ketika Wali Kota Risma diminta untuk menjelaskan hasil dari pertemuan itu dan apabila ditunjuk untuk maju di Pilgub Jatim, Wali Kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu hanya menjawab bercanda. “Tunggu tanggal mainnya,” kata Risma.

Risma enggan menjawab lebih detail pertanyaan wartawan tentang Pilgub Jatim itu. Sebab, dia khawatir salah.

“Gak eroh aku. Nanti aku jawab keliru maneh. Aku tidak bisa ngomong, saya tidak ngomong siap. Karena itu berat, berkali-kali saya ngomong. Sudah dapat rekom itu saya tidak berani bilang siap. Coba cek rekamanmu yang dulu,” tegasnya.

Pada saat itu, Wali Kota Risma memastikan bahwa pada saat pengumuman pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jatim di Jakarta 15 Oktober 2017, ia mengaku akan pergi ke Jepang untuk menjadi pembicara dan sekaligus menerima penghargaan.

“Aku tanggal 12 disuruh presentasi soal kota dalam bidang Inovation of happines, ada PBB-nya, kota-kota yang berafiliasi terdahap lingkungan ,” ujarnya.

Terpilihnya Kota Surabaya berkat progam-progamnya dan kebijakan pemerintahannya yang dinilai membuat semua warganya menjadi bahagia. “Semua kebijakan yang kita buat untuk menyenangkan warga kota, itu yang menjadi salah satunya,” ungkapnya.

Namun begitu, siapapun yang akan mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan untuk calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, Risma mengaku siap memenangkannya. “Iya lha, aku lho jadi jurkam sampai Papua rek, iya siapun itu,” ungkapnya. (bs)

Situs Karobelah Mirip Peninggalan Era Majapahit

foto
Situs Karobelah diduga mirip peninggalan Majapahit. Foto: Enggran Eko Budianto/Detik.com.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim telah meninjau struktur bata merah kuno yang ditemukan warga di Desa Karobelah, Mojoagung, Jombang. Struktur bata merah ini mirip dengan peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto.

“Itu batanya mirip sama peninggalan di Trowulan,” kata Kepala Unit Humas dan Kesekretariatan BPCB Jatim Sudaryanto saat dihubungi Detikcom, pekan lalu.

Peninggalan Majapahit di Trowulan mayoritas tersusun dari bata merah yang berukuran besar. Seperti Candi Brahu, Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Gentong dan situs purbakala lainnya.

Sudaryanto menjelaskan, pihaknya telah meninjau langsung penemuan situs Karobelah. Namun, peninjauan itu sebatas dokumentasi dan pendataan terhadap situs tersebut.

Menurut dia, dimungkinkan struktur bangunan dari bata merah itu cukup panjang. Pasalnya, di bekas galian warga yang membuat parit di lokasi, juga ditemukan struktur serupa yang diduga sebelumnya tersambung. Hanya saja struktur yang lainnya sudah rusak.

“Struktur yang utuh hanya sepanjang 8 meter, lainnya hancur sehingga sulit dideteksi bentuk bangunan aslinya,” ujarnya.

Struktur bangunan ini ditemukan pada kedalaman sekitar 50 cm dari permukaan tanah. Ketinggian bangunan sendiri sekitar 60 cm dengan ketebalan sekitar 40 cm. Struktur ini tersusun dari bata merah kuno. “Kami belum bisa memastikan bentuk bangunan itu apa, tak ada bukti pendukung sama sekali, hanya tumpukan bata merah,” terang Sudaryanto.

Pecahan gerabah yang banyak ditemukan di situs Karobelah ini, tambah Sudaryanto, juga tak bisa dijadikan petunjuk bentuk bangunan asli dan era pembuatannya. Pasalnya, sebagian besar artefak dalam kondisi hancur. “Dalam watu dekat kami terjunkan tim arkeolog ke lokasi, saat ini arkeolog kami masih bertugas di tempat lain,” tandasnya.

Struktur bangunan itu ditemukan oleh Slamet (40) di sawah Dusun/Desa Karobelah, Mojoagung, Jombang pada 24 September 2017 lalu. Saat sore itu dirinya sedang menggali tanah uruk untuk pembangunan jalan lingkungan. Lokasi situs hanya sekitar 200 meter dari permukiman penduduk. (dtc)

Arkeolog Temukan Arca Dwarapala di Kediri

foto
Arkeolog menemukan Arca Dwarapala di Kediri. Foto: Andhika Dwi/Detik.com.

Benda purbakala berupa arca Dwarapala ditemukan di area Candi Gempur, Desa Adan adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Arca setinggi 180 Cm itu diduga peninggalan Kerajaan Kadiri.

Arca Drawapala ditemukan Tim Penelitian Arkeologi Nasional, pada 22 September 2017 lalu. Saat ini tim melakukan ekskavasi di area Candi Gempur, setelah menemukan arca Dwarapala di kedalaman 80 Centimeter.

Kondisi Arca Dwarapala terlihat pada posisi rebahan. Adapun kerusakan tampak pada hidung, jari kelingking patah dan jempol tangan kiri patah.

Arca yang terbuat dari batu andesit ini sangat berbeda dengan arca Dwarapala yang ditemukan oleh tim Arkenas di daerah Jawa Tengah, pada lengan dan bahu arca ini terlihat membawa tali tambang.

Sayangnya, penggalian belum rampung sehingga membuat tangan kiri belum terlihat seluruhnya. Biasanya, pada tangan kiri arca Dwarapala membawa gada atau pentungan.

Dwarapala merupakan patung dengan ketinggian 180 centimeter, gambaran penjaga sebuah bangunan suci atau penting dimasa itu, atau bisa juga penjaga pintu masuk candi. Menurut petugas, arca ini merupakan peninggalan Kerajaan Kadiri yang berusia sekitar 650 tahun.

Melihat temuan itu tim puslit arkenas juga melakukan eskavasi di tanah sekitarnya. Hasilnya 10 meter ke arah selatan dari arca tersebut juga ditemukan lapik atau sebuah batu yang digunakan untuk meletakkan arca.

Sukmawati Susetyo, Ketua Tim Pusat Penelitian Arkenas mengatakan, patung Dwarapala di Kediri ini terbilang ukuran sedang, namun Makaranya, merupakan terbesar di Jawa Timur, 2,3 Meter.

Makara merupakan perpaduan sejumlah binatang mistis yang biasa berada di pinggir bibir tangga sebelum masuk candi. Makara ini sebelumnya ditemukan pada April 2016 kemarin oleh tim.

“Selain berbeda dengan Dwarapala lainnya, Makaranya terbilang cukup besar, paling besar malah di Jawa Timur semoga meskipun waktu kami terbatas, tapi dalam waktu dekat tim dapat segera mengungkap sejarah arca yang kami duga pada masa Hindu,” ucap perempuan yang sebelumnya juga melakukan ekskavasi pada tahun 2016 lalu saat ditemui Detikcom di lokasi situs.

Sementara itu pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan (BPCB) Jawa Timur akan berkoordinasi dengan pihak pemda setempat terkait pelestarian temuan dari para peneliti tersebut.

BPCB Trowulan berharap pemerintah Kabupaten Kediri dapat menyediakan tempat sementara untuk menyimpan temuan benda purbakala itu.

“Ini yang punya gawe tim puslit Arkenas, kalau kami BPCB nantinya bertugas melestarikan setelah diekspos, kami juga berharap peran pemerintah kabupaten agar juga menyediakan tempat untuk menyimpan dan merawat temuan ini,” jelas Andi Muhammad Said, kepala BPCB Jawa Timur, yang kebetulan datang dan melihat jalannya ekskavasi.

Ekskavasi yang dilakukan oleh tim puslit Arkenas rencananya akan berakhir pada tanggal 4 oktober mendatang. Tim akan kembali melakukan penelitian di lokasi tersebut pada tahun 2018 mendatang. (dtc)

Warga Blitar Temukan Koin Kuno Berhuruf China

foto
Warga Blitar temukan koin kuno berhuruf China. Foto: Erliana Riady/Detik.com.

760 Koin kuno atau seberat 3kg ditemukan warga Blitar. Koin kuno berhuruf China warna kombinasi hijau dan merah, ditemukan Marianto (48) warga RT 2 RW 1 Dusun Parang, Desa Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.

Marianto menemukan koin-koin itu tercecer saat mencari jamur di pekarangan belakang rumahnya. Di titik tempat berkumpulnya beberapa koin, Marianto yang penasaran, lalu menggali lubang tanah dengan kedalaman 50 cm, diameter 30 cm.

“Di dalam lubang itu, ditemukan ratusan koin lainnya berjumlah 760 keping. Kondisinya sudah berkarat dan saat ditimbang beratnya mencapai 3 kg,” kata Kapolres Blitar, AKBP Slamet Waluyo saat dihubungi Detikcom, Senin (2/10).

Temuan itu lalu dilaporkan ke Babinkamtibmas desa setempat dan meneruskan ke polisi. Petugas Polsek Gandusari yang datang ke lokasi, lalu memasang police line. “Kami langsung pasang police line untuk menjaga keamanan lokasi dan mencegah terjadinya aksi pencurian di tempat ini,” jelas kapolres.

Sementara ratusan koin kuno itu, telah diamankan di Mapolres Blitar. Selanjutnya untuk mengidentifikasi koin tersebut, polisi berencana melibatkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan.

“Melalui Disporbudpar Kabupaten Blitar, kami telah berkoordinasi dengan pihak BPCB Trowulan untuk mengidentifikasi koin kuno itu,” pungkasnya. (ist)

Rekor MURI Bikin 20.400 Onde-Onde di Mojokerto

foto
Komunitas Pelaku Usaha Mojokerto kompak membuat 20.400 onde-onde. Foto: Dian Kurniawan/Liputan6.com.

Komunitas Pelaku Usaha Mojokerto (KPUM), Jawa Timur kompak membuat jajanan onde-onde sebanyak 20.400 buah. Mereka pun sukses mencatatkannya di buku Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan nama Sajian Onde-onde Terbanyak.

Sedikitnya 50 pelaku usaha terlibat dalam pembuatan jajanan khas Kota Mojokerto tersebut. Jumlah onde-onde yang mereka produksi melampaui target yang direncanakan yakni sebangak 20 ribu buah.

“Jumlah ini memecahkan rekor yang juga dibuat di Kota Mojokerto sebelumnya sebanyak 14.603 onde-onde pada 14 Februari 2010 lalu,” kata Senior Manager Muri Sri Widayati kepada Liputan6.com, Sabtu (30/9) lalu.

Sebelum MURi menghitung jumlahnya, seluruh onde-onde itu terlebih dulu diarak oleh panitia mengelilingi Kota Mojokerto. Hingga kemudian dikumpulkan dan menjadi rebutan warga di lapangan Raden Wijaya, jalan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon.

Sri menjelaskan, sebelum prestasi bernomor rekor 8116/R.MURI/IX/2017 itu tercapai, MURI telah beberapa kali mencatatkan pencapaian warga Mojokerto yang bertajuk onde-onde. Untuk rekor pertama pada tahun 2004, dengan kategori Sate Onde-onde terpanjang 491 meter dan penggorengan onde-onde sebanyak 464 wajan.

“Sebelum rekor ini, Mojokerto sudah beberapa kali membuat rekor unik berbagai kategori. Total keseluruhan sudah ada 11 rekor, termasuk saat ini,” katanya.

Sementara itu, Tokoh KPUM Abdul Rachman menjelaskan, pihak yang terlibat dalam pembuatan jajanan berbentuk bulat kecil itu bukan hanya dari pelaku usaha saja, namun masyarakat umum khususnya ibu PKK juga ikut berpartisipasi.

“Karakter masyarakat Mojokerto tidak lepas dari DNA Majapahit. Mau tidak mau budaya yang tinggi itu akan selalu ada, seperti budaya gotong royong,” ucapnya.

Menurut Rachman, kebersamaan dan kekompakan yang tercermin dalam proses pembuatan onde-onde adalah representasi kondisi masyarakat yang guyub dan sejahtera. Untuk itu, kekompakan inilah yang menjadi rahasia kesuksesan setiap aktivitas masyarakat di Kota Mojokerto.

“Ini adalah bagian istimewa yang dipersembahkan masyarakat untuk kota tercinta, yakni pemecahan Rekor Muri Onde-onde terbanyak,” ujarnya. (ist)

Kesenian dan Budaya Khas Tengger di Festival Semeru

foto
Festival Semeru 2017 menampilkan kesenian dan budaya Suku Tengger. Foto: Liputan6.com.

Gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur tidak hanya menyuguhkan keindahan alam, sejumlah kesenian dan budaya warga Suku Tengger yang tinggal di Gunung Api tertinggi di Pulau Jawa ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan.

Dalam peringatan Hari Raya Karo atau Hari Kelahiran Suku Tengger, ribuan warga di Desa Ranupani Kecamatan Senduro Lumajang menggelar Festival Semeru 2017.

“Festival Semeru yang dilaksanakan pada tahun ini adalah pelaksanaan yang kedua, yang bertepatan dengan Hari Raya Karo Suku Tengger,” tutur Kabid Kesenian dan Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lumajang, Indrijanto, akhir pekan lalu kepada Liputan6.com.

Rangkaian acara Festival Semeru yang dimulai dengan mengarak sejumlah hasil bumi, kesenian dan kebudayaan khas Suku Tengger mengelilingi desa setempat dan berakhir dilapangan desa setempat.

“Festival Semeru ini sebetulnya mengangkat kearifan lokal dari masyarakat Suku Tengger yang sudah dilaksanakan secara turun temurun. Kami dari Pemerintah Lumajang hanya memfasilitasi saja tapi kegiatannya murni dari Suku Tengger baik ritualnya dan adat istiadatnya,” katanya.

Festival Semeru yang menampilkan sejumlah kesenian khas Suku Tengger seperti kesenian Jaranan, Bentengan, Tayub hingga Remong ini diharapkan mampu melestarikan budaya lokal dan mampu menarik para wisatawan yang mendaki ke Gunung Semeru.

“Kami berharapan Festival Semeru ini tidak hanya melestarikan adat dan budaya Suku Tengger tetapi ini juga menjadi suatu daya tarik karena Ranupani ini pintu gerbang menuju puncak semeru,” ucapnya.

Festival Semeru ini disambut antusias oleh warga Lumajang maupun warga luar Kabupaten Lumajang, mereka ramai-ramai menyaksikan acara ini.

Mereka juga saling berebut gunungan hasil bumi dan saling berdesak desakan untuk saling mendapatkan hasil bumi berupa sayur mayur dan buah buahan. “Saya tadi ikut rebutan gunungan, dapat kentang, kubis dan cabe,” ujar salah satu wisatawan, Supriyati. (ist)

Tiga Seniman Surabaya Pameran di Singapura

foto
Satu lukisan yang bakal ikut dipamerkan di Singapura. Foto: JPNN.com.

Tiga seniman Surabaya, Jenny Lee, Woro Indah, dan Agus Sukamto alias Agus Koecink akan berpartisipasi pada Imago Mundi Three Nations Art Show, yang dihelat di Singapura pada 6–8 Oktober 2017. Pameran seni tersebut menggandeng 200 pelukis dari tiga negara. Yakni, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Ketiga seniman tersebut sudah siap dengan karya masing-masing. Sebelum berangkat ke Singapura, mereka mengirimkan karya terlebih dahulu. Uniknya, pameran tersebut memiliki tradisi memamerkan karya dengan ukuran seragam. Yakni, 30 x 30 cm. Tiap-tiap seniman mengirimkan dua karya.

Ada kurator yang menyeleksi karya-karya dari ketiga negara. Dari Indonesia, ada Antonius Kho, pelukis sekaligus pemilik Wina Gallery, Bali. Dia memilih pelukis dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali. “Untuk pelukis yang diundang, sudah dipertimbangkan kapasitas dan kemampuannya di bidang seni kontemporer,” jelas Agus Koecink seperti dilaporkan jpnn.com.

Pameran tersebut merupakan ajang pertukaran seni budaya dalam wilayah Asia Tenggara. Karena itu, setiap seniman wajib membawakan karya dengan tema budaya nasional. Misalnya, pada karya milik Woro Indah. Woro berkreasi dengan karya yang memvisualkan pohon. Tak melepaskan karakternya, Woro masih bermain dengan lukisan batik parang yang juga dia sematkan di karya-karya sebelumnya.

Dalam lukisannya, Woro ingin mengambil filosofi pohon yang terus tumbuh dalam diam. “Diam bukan mati,” katanya. Lukisan berjudul Growing in Silence itu dibuat dengan menggunakan cat akrilik di atas kanvas.

Sementara itu, Jenny lebih memilih mengambil sosok perempuan yang divisualkan dengan wayang. Jenny merupakan pelukis yang kerap menyajikan karya figuratif. Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta tersebut membuat lukisan berjudul A Lady and Wings.

Sesuai dengan judulnya, dia menceritakan sosok perempuan yang sedang mengejar mimpi. Ada dua jenis lukisannya. Pertama, perempuan yang belum mencapai mimpinya. Itu digambarkan dengan sosok wayang yang sedang berusaha meraih sayap-sayap. Kedua, yang sudah mencapai mimpinya. Lukisannya menggunakan cat akrilik dengan pemilihan warna-warna tersier. Yakni, pencampuran beberapa warna dasar yang membentuk kesan lebih gelap atau deep. Beberapa lukisannya juga menampakkan warna pastel. (jpg)

Batik, Dari Diklaim Malaysia Hingga Diakui Unesco

foto
Workshop Membatik di Hotel Aston Marina. Foto: Rieska Virdhani/JawaPos.com..

Masyarakat Indonesia harus bangga memakai kain batik. Rasa cinta terhadap kain Nusantara ini harus terus digelorakan dengan cara memadukannya di kegiatan sehari-hari.

Batik adalah sebuah teknik atau proses menuliskan atau menegaskan kain bergambar dengan menggunakan malam atau lilin yang pengolahannya diproses sehingga memiliki ciri khas.

Sejarah panjang perjalanan batik hingga kini akhirnya batik diakui organisasi dunia Unesco sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009.

Karena itulah, sejak saat itu, Indonesia memperingati hari batik nasional setiap 2 Oktober. Setiap sekolah, kelembagaan, dan perusahaan mewajibkan penggunaan pakaian batik satu hari dalam sepekan.

Sebetulnya proses meraih pengakuan itu bukan hal yang mudah. Semula perjuangan diawali karena perlawanan Indonesia karena tak mau batik diklaim oleh negera tetangga Malaysia.

Karena itu sejak tahun 2008, pemerintah Indonesia mendaftarkan batik ke dalam deretan representatif budaya tak benda warisan manusia Unesco atau Representative List of Intangible Cultural Heritage-Unesco. Kemudian diterima resmi oleh Unesco pada 9 Januari 2009 untuk diproses. Barulah pada 2 Oktober 2009 Unesco mengakui batik.

“Hampir semua provinsi, daerah di Indonesia punya batik. Karena batik itu adalah teknik atau proses. Awalnya batik diklaim punya Malaysia. Namun setelah diakui Unesco lalu perkembangan batik menjadi pesat saat ini,” kata Pengajar Teknik Batik di Museum Tekstil, Sugeng Riadi dalam workshop membatik di Hotel Aston Marina Jakarta seperti dikutip Jawapos.com, Minggu (1/10).

Dalam rangka memeringati Hari Batik Nasional, hotel Aston Marina Ancol menggelar workshop membatik kepada para pengunjung. Kegiatan itu tentu menjadi salah satu rangkaian pengenalan dan pelestarian terhadap batik, bahwa batik adalah warisan budaya yang sangat relevan diperkenalkan kepada generasi milenial.

“Kami juga merasa terpanggil untuk memperkenalkan warisan budaya batik kepada masyarakat dengan konsep yang berbeda namun tujuannya sama. Karena itu kami berkolaborasi dengan Museum Tekstil,” jelas Marketing Communication Hotel Aston Marina, Paundra Hanutama.

Dilansir dari laman Pemprov Jawa Barat resmi, sejarah perjalanan batik dari sebelum akhirnya diklaim Malaysia dan diakui Unesco, melalui proses yang sangat panjang. Dimulai sejak zaman kerajaan Majapahit, ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulungagung.

Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit.

Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan di daerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit.

Saat itu petugas-petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau Tulungagung membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Di luar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang.

Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri.

Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, di mana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual.

Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini.

Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang adalah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut.

Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas.

“Saat ini, lilin atau malamnya hanya bisa dibeli di daerah Pekalongan atau Solo dan Jogjakarta. Sejarah batik begitu panjang, dan hal itu akan mempengaruhi setiap tekniknya. Setiap daerah saat ini membuat batik. Proses membatiknya sama. Pewarnaannya sama. Tapi tiap daerah punya ciri sendiri dan yang membedakan adalah keindahan motifnya,” tutup Pengajar Teknik Batik Museum Tekstil, Sugeng Riadi. (jpg)

Hadi: Sang Penerus Kakek, Segera Pentas di Amerika

foto
Hadi Purwoko saat mengerjakan pesanan gamelan di rumahnya. Foto: Median DD/JawaPos.

Gamelan seperti demung, saron, dan peking biasa dibuat dari bahan logam tembaga atau kuningan yang dicetak. Berbeda dengan Hadi Purwoko. Dia membuat gamelan dari bahan per bekas truk.

Awan berwarna cokelat, diiringi dengan angin yang berembus semilir dingin melewati jalan lurus dan panjang yang kanan kirinya ditumbuhi tanaman tebu. Jalanan tersebut menuju Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Ksbupaten Tulungagung

Tibalah di sebuah rumah yang meski masih pagi sudah ramai tamu. Di depan rumah terdapat beberapa alat musik belum jadi, misalnya kendang yang belum dipasang selaput, gong yang belum diampelas, dan sambung yang belum dipasang lempengan besi. Ternyata rumah tersebut milik Hadi Purwoko, seorang pembuat gamelan.

“Tetapi, Pak Hadi baru kena flu karena beberapa hari kirim pesanan keluar kota kehujanan terus. Sekarang demam dan hanya di kamar,” ungkap Mujiono, salah seorang pekerjanya.

Meski begitu, Hadi senang ketika ditemui wartawan saat berada di kamar. Nada bicaranya tetap terdengar semangat ketika menceritakan hasil kreasinya yang mengubah pir bekas truk menjadi gamelan memiliki kualitas lebih baik.

Jenis gamelan yang terbuat dari per itu demung, saron, dan peking. Yakni, gamelan menyerupai piano yang mempunyai nada dan cara memainkannya dipukul dengan menggunakan palu kayu.

“Bedanya, suaranya lebih nyaring dan tak berubah meski sudah lama dipakai. Sebab, bahan baku per truk ini baja. Jadi, lebih keras dan lebih tahan lama jika dibandingkan dengan yang terbuat dari kuningan atau tembaga,” ungkap Hadi (27/9) seperti ditulis Koran Jawa Pos.

Dia menggeluti usaha membuat gamelan sejak dua tahun lalu. Itu bermula ketika kakeknya yang merupakan pembuat gamelan meninggal dunia. Daripada tidak ada yang meneruskan, dia meneruskan usaha kakeknya tersebut.

“Teknik membuat gamelan dari pir itu rahasia dari kakek saya. Daripada tidak ada yang meneruskan, saya teruskan. Yang saya tekuni kini pesanannya sudah sampai mancanegara,” ucapnya.

Cara membuat gamelan tidak begitu sulit, hanya melalui 4 tahapan. Yang pertama adalah memotong pelat per truk menjadi potongan kecil sesuai dengan pelat contoh. Setelah itu, dilakukan penyelarasan nada sesuai dengan pelat patokan nada. Setelah sesuai, pelat dihaluskan, lalu diwarnai dengan menggunakan cat warna emas khas gamelan.

Cara membuat gamelan tidak begitu sulit, hanya melalui 4 tahapan. Yang pertama adalah memotong pelat per truk menjadi potongan kecil sesuai dengan pelat contoh. Setelah itu, dilakukan penyelarasan nada sesuai dengan pelat patokan nada. Setelah sesuai, pelat dihaluskan, lalu diwarnai dengan menggunakan cat warna emas khas gamelan.

“Bagian tersulit pada penyelarasan nada. Sebab, yang bisa melakukan itu harus tahu nada dan telinganya harus peka. Kalau nada tidak sama dengan patokannya, pelat dikikis dikit-dikit, lalu dilaras lagi. Sebab, keluarnya nada bergantung kepada panjang pelat yang harus tepat dengan patokannya,” jelasnya.

Hal seperti itu sangat dia perhatikan. Sebab, gamelan dinilai dari bagus tidaknya suara yang dihasilkan.

Lantaran buatannya dikenal masyarakat yang bukan hanya dari Tulungagung, melainkan juga kota-kota lain, luar pulau, dan bahkan mancanegara, Hadi sangat menjaga kualitas produknya. Apalagi, Oktober nanti dia berangkat ke Amerika Serikat (AS).

“Kami disuruh pentas di suatu universitas di sana dengan membawa gamelan saya. Lalu, ketika pulang, gamelan ditinggal di sana. Sekarang ini masih memproses visa,” paparnya.

Menurut dia, selain kualitas yang bagus. Saron, demung, dan peking dari per buatannya itu juga dipatok dengan harga murah. Untuk demung, dia patok sekitar Rp 1,5 juta, saron 1,3 juta, dan peking dihargai sekitar Rp 1 juta. Itu pun bisa lebih murah kalau kayu penyangganya tidak diukir alias polos.

“Di Tulungagung hanya saya yang membuat ini. Pemesan banyak datang dari luar pulau, misalnya Sumatera dan Masamba. Bahkan, ini orang Ponorogo menjadi pelanggan tetap kami. Banyak yang menyukai gamelan buatan saya,” ujar Hadi. (jpg)