ILustrasi gapura Wringin Lawang yang dibuat seniman Yoes Wibowo. Foto: Nusantaranews.co.
Sebagai salah satu situs peninggalan kerajaan Majapahit, Gapura Wringin Lawang menyuguhkan arsitektur bangunan khas ala candi di Jawa Timur. Bangunan ini sekaligus menjadi saksi bagaimana perkembangan dan kemajuan arsitektur era Majapahit sesungguhnya tengah menggeliat.
Komplek bangunan bersejarah ini berada di Dukuh Wingin Lawang, Desa Jati Pasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Corak khas dari bangunan-bangunan peninggalan Majapahit dapat dilihat pada Gapura Wringin.
Sebagaimana ditulis Nusantaranews.co, kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur.
Sampai saat ini situs Gapura Wringin Lawang masih berdiri kokoh. Keberadaan cagar budaya (heritage) ini dilindungi oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur. Selain itu, komplek bangunan yang berada di Desa Jati Pasar ini juga merupakan destinasi wisata sejarah andalan Kabupaten Mojokerto.
Secara fisik bangunan Gapura Wringin Lawang memiliki tinggi 13,79 meter dengan luas lahan sebesar 616 meterpersegi. Corak dari gapura ini disebut model “Candi Bentar” atau “Gapura Gapit” atau “Gapura Belah”.
Sebagaimana candi-candi di Jawa Timur, corak bangunan Gapura Wringin Lawang ini berbahan dari batu bata merah. Pada dasaranya bangunan ini merupakan candi, namun masyarakat sekitar lebih akrab menebutnya sebagai gapura.
Hal ini dikarenakan bangunan candi Wringin menyerupai sebuah gapura raksasa. Sementara itu, model altar depannya berbentuk pintu. Karena itulah, bangunan candi ini diesebut Gapura Wringin Lawang. Dimana dalam bahasa Jawa lawang memiliki arti pintu.
Letaknya yang tak jauh dari pusat kota Mojokerto menjadikan destinasi wisata sejarah ini mudah diakses. Disekitar area candi, tampak ditumbuhi pepohonan yang rindang. Sedangkan disisi kanan dan kiri bangunan terdapat pohon beringin yang tumbuh subur. (nnc)
Tari Remo adalah salah satu tarian khas Jawa Timur. Foto: VOA/Petrus Riski.
Alunan musik mengiringi gerakan rancak yang ditarikan oleh belasan anak usia Sekolah Dasar, yang sedang berlatih tari Remo di Laboratorium Remo, Taman Budaya Jawa Timur, di Surabaya. Sesekali teriakan memberi aba-aba dari sang pelatih membimbing anak-anak untuk bergerak secara benar sesuai pakem tarian.
Tari Remo adalah salah satu tarian khas Jawa Timur, yang berkembang di beberapa kota seperti Surabaya, Mojokerto, dan Jombang. Tarian ini pada awal mulanya merupakan bagian pembuka dari pertunjukan seni tradisional Ludruk, yang berisi parikan dan kidungan, serta seni peran rakyat kelas bawah.
Remo dan Ludruk sudah dikenal sejak jaman perjuangan kemerdekaan, yang digunakan sebagai sarana memompa semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah.
Menurut pegiat seni sekaligus pelatih tari Remo di Sanggar Laboratorium Remo Surabaya, Dini Ariati, semangat juang yang tidak kenal menyerah merupakan nilai yang menjadi inti dari tari Remo.
“Ya itu merupakan ciri atau karakter dari anak Surabaya, arek Suroboyo sendiri, yang dinamis, yang lugas. Tari ini termasuk tari kepahlawanan, tari heroik. Jadi di sini yang bisa kita ambil semangatnya, semangat juangnya,” papar Dini seperti dikutip VOA Indonesia.
Dini Ariati yang menekuni tari Remo selama kurang lebih 20 tahun, merasakan perjuangan mengangkat tari Remo agar semakin disukai banyak orang. Dukungan dari pemerintah menjadi kunci utama seni tradisional ini tetap bertahan, dan semakin diminati oleh masyarakat umum maupun pelaku seni. Banyaknya kegiatan yang menghadirkan seni tradisional diyakini akan semakin memperkokoh posisi tari Remo.
“Untuk lima tahun terakhir ini, karena memang banyak event-event pemerintahan yang melibatkan anak-anak ya, anak-anak usia sokolah terutama ya. Jadi semisal untuk HUT Surabaya itu ditampilkan kolosal tari Remo. Jadi dengan begitu kan menambah minat anak untuk, kok iso nari Remo yo, nari ndok endi (kok bisa menari Remo ya, menari di mana). Jadi kalau pun ada kegiatan yang seperti sister city, dengan Jepang atau yang lain, jadi budaya kita jangan sampai tergerus, tetap harus kita junjung. (Kalau tidak), sayang kan?,” imbuhnya.
Selain dukungan pemerintah, Dini juga berharap masyarakat luas khususnya orang tua, bersedia memperkenalkan budaya tradisional kepada anak-anak mereka. Pengenalan sejak dini kesenian tradisional pada anak akan menjadi fondasi yang kuat dari orang tua untuk mengajarkan anaknya mencintai seni budaya tanah air.
“Saya berharap juga peran serta wali murid atau orang tua untuk menumbuhkan ya, menumbuhkan minat itu dengan mengajak putera-puterinya, entah jalan-jalan ke sanggar, atau memperlihatkan lebih apresiatif menikmati seni-seni yang ada di Surabaya ini, karena memang banyak pagelaran-pagelaran seni yang memang sudah digelar tanpa ada tiket. Jadi harapan saya semoga para orang tua, masyarakat juga, lebih mencintai budaya tradisional, dan akhirnya putera-puterinya juga akan tumbuh perasaan mencintai,” harap Dini.
Meski peminat tari Remo semakin bertambah, jumlah sanggar tari Remo khusus anak di Surabaya baru ada empat, sehingga masih perlu ditambah untuk semakin mengenalkan tari khas Jawa Timur ini kepada anak-anak.
Penari muda sekaligus pelatih remo, Aprilia Rahma Putri mengatakan, dukungan pemerintah yang memberikan ruang dan kesempatan tari Remo untuk ditampilkan harus dimanfaatkan dengan baik. Generasi muda dan anak-anak, harus mau mengangkat tari tradisional dengan mempelajarinya, dibandingkan mempelajari tarian dari negara lain.
“Kalau di Surabaya alhamdulillah sedang banyak yang minat karena memang di Surabaya sedang digalakkan seni budayanya, lagi diangkat. Ya saya harap, anak-anak yang masih kecil, anak-anak yang masih muda-muda itu mengangkat budaya kita sendiri, bukan budayanya orang (bangsa) lain, seperti belajar tari (modern) dance, yang dipelajari sebetulnya tari tradisi dulu supaya tarinya kita tidak hilang diambil oleh orang (bangsa) lain,” tutur Aprilia.
Sementara itu, Maureen Fausta, siswi kelas 1 SDK St. Aloysius Surabaya mengatakan, kegemarannya pada tari Remo bertujuan untuk melestarikan tari tradisional ini hingga dikenal di dunia internasional. “Memang saya suka tari Remo, dan itu tarian tradisional Jawa Timur. Jadi saya ingin melestarikannya,” tandas Maureen. (ist)
Gus Ipul bersama pimpinan DPRD Jatim. Foto: Humas Pemprov Jtm.
DPRD Provinsi Jatim akhirnya menyetujui Rancangan Peraturan Daerah/Raperda tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Jatim Tahun 2017-2032. Dari pandangan kesembilan fraksi-fraksi yang hadir pada rapat paripurna, semua fraksi dapat menerima dan menyetujui Raperda ini.
Persetujuan ini kemudian dituangkan dalam penandatanganan keputusan persetujuan bersama terhadap Raperda tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Jatim Tahun 2017-2032, saat pelaksanaan Sidang Paripurna di Gedung DPRD, Jalan Indrapura Surabaya, beberapa waktu lalu.
Dalam sambutannya, Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan, perda ini sebagai landasan dan dasar hukum dalam melakukan pembangunan sektor pariwisata di Jatim yang memiliki visi terwujudnya Provinsi Jatim sebagai destinasi pariwisata terkemuka di dunia, berdaya saing dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. “Pemprov Jatim terus berupaya mewujudkan hal ini,” katanya.
Gus Ipul menambahkan, pembangunan kepariwisataan Jatim meliputi empat hal. Pertama, destinasi pariwisata yang aman, nyaman, menarik, berwawasan lingkungan dan meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat. Kedua, pemasaran pariwisata yang sinergis, unggul, dan bertanggungjawab untuk meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara.
Ketiga, industri pariwisata yang berdaya saing, kredibel dan menjaga kelestarian kebudayaan dan lingkungan alam. Keempat, kelembagaan pemerintah provinsi, swasta dan masyarakat yang efektif dan efisien untuk mendorong kepariwisataan yang berkelanjutan.
Menurut dia, pengelolaan kepariwisataan harus dilakukan secara serius. Hal ini karena perkembangan jaman membuat semakin tajamnya kompetisi destinasi di tingkat global maupun nasional. Selain itu, masih ada ketimpangan perkembangan destinasi pariwisata di Jatim. “Daya saing pariwisata kita juga harus terus diperhatikan, jangan sampai kalah dibandingnkan provinsi lain,” katanya.
Di akhir, Gus Ipul berharap perda ini mampu memberi petunjuk dan arahan dalam membangun kepariwisataan Jatim yang lebih baik ke depannya. “Saya juga berharap pariwisata kita mempertahankan nilai, norma dan kebudayaan lokal yang tidak tergerus pengaruh budaya asing,” ujarnya.
Agenda sidang paripurna kali ini terdiri dari pendapat akhir fraksi terhadap raperda tentang rencana induk pembangunan kepariwisataan Provinsi Jatim Tahun 2017-2032, pengambilan keputusan terhadap Raperda tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Jatim 2017-2032 dan pendapat gubernur terhadap raperda inisiatif DPRD tentang pengelolaan Barang Milik Daerah. (ist)
Keinginan Cak Nur (Nurwiyatno) untuk melestarikan tradisi Jawa tidak bisa dicegah. Upaya pelestarian budaya bangsa demi tegaknya NKRI, membuat Cak Nur menghadiri undangan masyarakat dalam kegiatan ‘Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo’.
Kegiatan ini, merupakan kegiatan rutin suroan, masyarakat Dusun Biting Desa Adat Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto yang jatuh pada hari Kamis Legi, 7 Suro atau 28 September 2017.
Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo adalah doa yang ditujukan kepada Tuhan YME agar sumber mata air di Desa Seloliman tetap lancar dan bisa menghidupi seluruh warganya. Setiap tahunnya masyarakat Dusun Biting Desa Seloliman mengadakan ruwat sumber sebelum tanggal 10 bulan Suro (pengkalenderan Jawa).
Kegiatan yang dulunya hanya dilakukan oleh masyarakat Dusun Biting, kini telah berkembang menjadi kegiatan rutin Desa Seloliman dan diakui hingga tingkat nasional sebagai salah satu bentuk tradisi, kearifan lokal dalam menjaga pelestarian lingkungan.
Cak Nur (Nurwiyatno) meyakini kegiatan semacam ini harus dijaga kelestariannya karena telah terbukti kemanfaatannya bagi masyarakat luas. Menurut pemahaman Cak Nur, ruwat adalah cara masyarakat Jawa dalam berdoa kepada Tuhan YME (untuk tujuan tertentu) yang dalam prosesinya terdapat beberapa hal (ubo rampe) dan simbol-simbol nilai luhur kehidupan seperti yang telah dilakukan masyarakat Dusun Biting tersebut.
“Seperti yang kita ketahui bahwa, tradisi ruwatan ini bisa ditujukan untuk kepentingan seseorang, kelompok masyarakat maupun lingkungan dan kegiatan Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo ini, dapat kita kategorikan sebagai salah bentuk kegiatan, ruwat lingkungan,” kata Cak Nur kepada TimurJawa.com.
Tradisi (upacara/ritual) ruwatan hingga kini masih dipergunakan orang Jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosa/kesalahannya yang akan berdampak pada kesialan di dalam hidupnya.
Ruwatan di Jawa awalnya diperkirakan berkembang di dalam cerita Jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah penyucian, yaitu agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi (terhindar) dari kesusahan (masalah) dengan cara doa dan mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang yang mengambil tema (cerita) Murwakala.
Ruwat Sumber di Desa seloliman ini ditujukan agar sumber mata air yang berada di sekitar dusun atau desa tersebut tetap lancar dan terus menghidupi masyarakat baik melalui pertanian maupun kebutuhan sehari-hari utamanya untuk minum dan makanan.
Dengan tempat prosesi ruwat sumber yang diadakan di Patirtan Jolotundo, membuat kegiatan ruwat sumber masyarakat Dusun Biting ini lebih dikenal masyarakat luas dengan ‘Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo’.
Sumber mata air di Patirtan Jolotundo selain dipercaya memiliki kekuatan (kemanfaatan tertentu) bagi para pengunjungnya, juga merupakan sember mata air terbesar di areal Gunung Penanggungan dengan kualitas air yang luar biasa. Hal inilah yang menyebabkan hingga saat ini Patirtan Jolotundo ramai dikunjungi baik turis lokal maupun manca negara. (oni)
Kolaborasi jazz dengan musik patrol di Festival Kawitan. Foto: Banyuwangikab.go.id.
Berbagai festival yang digelar Banyuwangi telah memunculkan gairah masyarakat untuk mengangkat potensi yang dimilikinya. Salah satunya warga Kampung Temenggungan Banyuwangi, yang menggelar Festival Kampung Wisata Temenggungan (Kawitan) di depan Pendopo Sabha Swagata.
Pada even yang digelar sepanjang 30 jam lebih itu, warga setempat menampilkan beragam atraksi. Mulai kesenian tradisional hingga konser jazz yang dikolaborasi dengan alat musik patrol yang dimainkan apik oleh musisi nasional maupun international.
Irama musik jazz yang rancak mengalun di atas panggung Festival Kawitan Temenggungan. Perpaduan suara musik tradisional dari permainan alat musik terbuat dari bambu ini berpadu apik dengan alat musik modern.
Ditambah tiupan seruling dan tabuhan perkusi yang dimainkan Aron Djembe Fola, musisi asal Amerika Serikat membuat sajian musik jazz yang disajikan begitu unik dan memikat. Lagu khas daerah seperti Kelangan, Langit Lan Bumi, Lir Pedhote Banyu yang dibawakan oleh penyanyi lokal tampil dengan nuansa yang berbeda.
“Kami sangat bangga warga Temenggungan bisa menggelar festival yang mengangkat potensi lokalnya. Semoga Temenggungan akan menjadi destinasi wisata yang semakin dikenal apalagi lokasinya di kota sangat cocok untuk jadi bagian wisata city tour di Kota Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, secara terpisah.
Tidak hanya Jazz Patrol, warga Temenggungan juga menampilkan drama teatrikal Sritanjung dan Sidopekso yang merupakan cerita legenda Asal mula Banyuwangi. Anak anak muda membawakan kisah asal mula Banyuwangi itu secara apik. Festival juga menampilkan Tari Gandrung dan permainan musik solo dari Ali Gardy yang membawakan alat musik etnik dawai khas Dayak.
Temenggungan merupakan salah satu kampung di Kota Banyuwangi yang dulunya kampung pertama yang dibangun saat pusat pemerintahan Kadipaten Blambangan dipindahkan dari Ulupampang, Muncar pada era Bupati Mas Alit tahun 1774.
Pendopo Kabupaten Banyuwangi dulunya Keraton Kadipaten Blambangan. Dan kampung Temenggungan merupakan area pendukung sebagai tempat bermukim bagi para pejabat (Tumenggung) pemerintahan maupun pengurus rumah tangga pendopo kabupaten.
Potensi wisata spiritual di Temenggungan berupa sumur Sri Tanjung, dipercaya menjadi cikal bakal munculnya nama Banyuwangi. Konon sumur ini memiliki air yang wangi pada saat-saat tertentu. Dan air dari sumur ini dipercaya bisa membuat awet muda.
Potensi seni budaya yang ada seperti pusat kerajinan batik bermotif Gajah Oling juga menjadi ciri khas, di samping kesenian tradisional seperti gamelan, barong Osing, kuntulan, musik patrol dan lain-lain.
Sementara Jazz Patrol masih terus berlanjut meski malam semakin larut. Masyarakat Banyuwangi dan para wisatawan tidak beranjak dari lokasi acara.
Salah satu penonton yang juga wisatawan asal Amerika, Stephen Tranghese mengatakan dirinya sangat senang berkesempatan menonton Festival Kawitan ini.
“Kolaborasi musik etnis yang rancak dipadu dengan musik modernnya menghasilkan nuansa berbeda yang asyik untuk dinikmati. Saya sangat enjoy,” kata Tranghese. (dtc)
Hadi Sunaryo saat membakar besi yang akan dibuat keris di rumahnya. Foto: Jawapos.com/Zaki Jazai.
Terdengar suara nyaring pukulan besi di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek. Setelah mendengar dengan saksama, bunyi nyaring pukulan besi itu berasal dari salah satu rumah di kelurahan tersebut.
Ternyata suara berasal dari tempaan besi yang dilakukan Hadi Sunaryo, seorang empu. Saat itu dia menyelesaikan sebilah keris untuk dijual.
Sebab, pada bulan Muharam penanggalan Islam atau bulan Sura pada penanggalan Jawa, banyak orang membeli keris untuk berbagai keperluan. Karena itu, sang empu harus segera menyelesaikan pembuatan keris tersebut.
“Sebenarnya sebelum Sura ini saya telah menyelesaikan banyak sekali pesanan keris. Sedangkan ini adalah keris untuk diperdagangkan, bukan dari pesanan,” ungkap Hadi seperti dikutip Jawapos.com.
Setelah menyelesaikan sebilah keris itu, pria yang dikenal dengan nama Aryo Pulanggeni oleh para pencinta pusaka di Trenggalek itu mulai bercerita hingga dirinya menjadi seorang empu.
Sebenarnya menjadi empu itu di luar dugaan karena dia tidak memiliki garis keturunan seorang empu, dari sang ayah maupun sang kakek. Almarhum sang ayah seorang pedagang keris saja.
“Karena almarhum ayah pedagang keris, sejak kecil saya mengenal barang dagangan itu hingga secara berangsur suka mengoleksi,” kata Hadi.
Sejak itulah secara berangsurangsur dia senang dengan keris dan mempelajari makna yang terkandung di dalamnya. Sebab, lanjut Hadi, selain senjata, keris merupakan pusaka peninggalan yang harus dilestarikan agar tidak punah seiring dengan perkembangan zaman.
Jadi, proses pembelajaran tersebut dilakukan berdasar sisi seni yang terkandung di dalamnya hingga sisi batin. Pada 2004, dari teman paguyuban pencinta pusaka, dia mengenal seorang empu dari Madura. Sejak saat itulah, dia terus menekuni cara pembuatan keris hingga layak disuguhkan ke masyarakat.
Bukan hanya itu. Karena keinginan yang kuat, dia mencari ilmu dari empu daerah lain, misalnya Magetan, Solo, dan Jogjakarta. Setelah mendapat ilmu pada 2008, dia mulai memberanikan diri membuat keris sendiri di rumahnya.
“Pada beberapa tahun pertama pembuatan, saya melakukannya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak banyak tetangga yang tahu. Sebab, saat itu keris masih dianggap sebagai benda yang tabu,” imbuh pria 40 tahun itu.
Namun, hal itu tidak melunturkan semangatnya. Sebab, bersama paguyuban keris yang diikutinya, dia mulai memperkenalkan bahwa keris merupakan pusaka warisan nenek moyang, tidak ada hal aneh menyelimutinya, dan yang paling penting tidak ada pelanggaran agama ketika membuat maupun memilikinya.
Oleh karena itu, pembuatan keris selalu diiringi doa-doa dari sang empu untuk calon pemilik. Tentu doa tersebut merupakan doa yang baik bagi calon pemilik dengan harapan pemilik bisa memegang amanah yang ditunjukkan dalamnya dan selalu menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa.
Pembuatan keris tidak bisa dilakukan begitu saja. Sebab, bahannya adalah besi pilihan agar kualitas keris terjaga. Pemilihan juga dilakukan pada arang yang digunakan untuk membakar besi sebelum ditempa.
Pada pembakaran dan penempaan tersebut, bagian besi yang jelek akan langsung terkelupas. Dengan demikian, bahan baku seberat dua kilogram hanya menghasilkan keris seberat sekitar setengah kilogram.
Sedangkan tata cara pembuatan keris dimulai dari bahan baku yang didapat dimasukkan dalam tungku api dengan suhu di atas 1.000 derajat Celsius. Setelah itu, jika besi selanjutnya ditempa berkali-kali untuk membentuk pola keris, misalnya bentuk dan lekukannya. Pembakaran sebelum penempaan wajib dilakukan agar serat besi berjalan mengikuti pola keris yang dibentuk.
Biasanya sebilah keris dibuat tiga hari hingga tiga minggu. Sebab, dia tidak asal-alasan dalam membuat keris, melainkan juga menjaga mutu.
“Sebenarnya sehari bisa membuat dua keris. Tetapi, dipastikan bentuknya asal-asalan dan teksturnya tidak halus. Saya tidak mau itu,” ucap bapak dua anak itu.
Sebilah keris buatan Hadi dihargai Rp 650 ribu hingga Rp 4 juta. Perbedaan harga tersebut ditentukan dari kualitas keris yang dihasilkan. Di antaranya, hiasan dan kesulitan dalam membuat.
Kualitas keris buatan Hadi sudah diakui pencinta dari luar daerah. Buktinya, banyak pencinta dari Solo dan Jogjakarta secara rutin memesan keris buatannya. “Karena keterbatasan tenaga dan peralatan, pembuatan keris tidak bisa dilakukan dengan jumlah yang banyak,” jelas suami Tutik ini. (jpg)
Ludruk adalah kesenian tradisional asli Jawa Timur. Merupakan drama tradisional yang dipergelarkan dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari serta cerita perjuangan rakyat Jawa Timur yang terkadang tidak tercatat di dalam buku buku sejarah Nasional Indonesia.
Ludruk yang diawali dengan Tari Remo dan tokoh yang memerankan lakon serta diselingi lawakan dan diiringi musik gamelan ini membuat, seni tradisional ini makin menarik untuk disajikan pada jaman yang serba ‘modern’ seperti sekarang ini.
Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas “Arek” (Jawa Timuran). Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat ludruk mudah diserap oleh kalangan masyarakat bawah.
Beberapa faktor inilah yang membuat Cak Nur (Nurwiyatno) Calon Gubernur Jawa Timur tertarik dan memberi perhatian pada pelestarian Ludruk di Jawa Timur.
Kehadirannya di gedung kesenian Cak Durasim, Jl Gentengkali, Surabaya, Rabu (26/09) malam adalah untuk melihat Festival Ludruk Jawa Timur 2017 yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Jawa Timur.
Dalam kesempatan ini, Cak Nur juga menemui grup kesenian ludruk yang sedang pentas mengikuti festival Festival Ludruk Jawa Timur 2017 ini.
Cak Nur tertarik dengan kesenian Ludruk karena Ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari kalangan wong cilik yang selalu mengingatkan dirinya untuk peduli dan mencari solusi atas problem yang dihadapi wong cilik.
Di UPT Taman Budaya Jawa Timur (Gedung Cak Durasim) Cak Nur menyempatkan bertemu Kepala UPT dan beberapa staf untuk menggali informasi tentang program pemerintah provinsi yang berkaitan dengan pelestarian seni-budaya Jawa Timur.
Beberapa hari lalu, Cak Nur juga menyempatkan diri datang di Javanologi dan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) yang juga berkator di salah satu ruangan gedung Cak Durasim ini.
Dengan pengelola Javanologi Cak Nur mendapat penjelasan tentang program kegiatan Javanologi dalam pelestarian budaya Jawa melalui penyebaran informasi dan pengetahuan tentang budaya Jawa di Jawa Timur.
Dan di kantor DKJT, Cak Nur bertemu pengurus DKJT serta berdiskusi dengan para seniman dan budayawan perwakilan kota/kabupaten se jawa timur seputar pelestarian seni dan tradisi Jawa Timur.
Bukan hanya itu, Cak Nur sebagai Calon Gubernur Jawa Timur, sering menghadiri undangan kegiatan masyarakat pelestari adat budaya di Jawa Timur, termasuk diantaranya kegiatan “Ruwat Sumber Jolotundo” yang akan diselenggarakan Kamis (28/9) oleh masyarakat desa adat Seloliman Kec Trawas Kabupaten Mojokerto.
“Hal ini penting terus dilakukan karena budaya Jawa adalah salah satu akar budaya nasional yang harus terjaga kelestariannya,” kata Cak Nur kepada media.
Komitmen Cak Nur (Nurwiyatno) dalam perjuangan pelestarian seni budaya di Jawa Timur semakin hari semakin menguat karena salah satu pokok pikirannya selaku Calon Gubernur Jawa Timur adalah menjaga keutuhan dan tetap tegaknya NKRI melalui pelestarian seni dan budaya Jawa Timur. (oni)
Mahasiswa asing mengikuti acara games di Universitas Airlangga. Foto: PIH Unair.
Pemandangan tak biasa terlihat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Terlihat sejumlah mahasiswa asing berada di kantor Dinas yang menyatu dengan kantor Satpol PP Prov Jatim di Jl Jagir tersebut.
Mereka tak hanya berkunjung untuk melihat salah satu gedung milik pemerintahan Jatim. Tetapi Mahasiswa asing juga melihat berbagai arsip sejarah bukti perjuangan dan kemerdekaan Indonesia.
Lotte patty, mahasiswa Fontys University of Applied Science, Belanda mengungkapkan tempat penyimpanan arsip yang ia lihat ini cukup tradisional. Sama halnya dengan berbagai hal di Indoensia.
“Di Indonesia semuanya memang serba tradisional, tapi justru itu keunikannya Indonesia yang membuatnya menarik,” jelasnya di sela kunjungan, pekan lalu seperti dikutip Surya.co.id.
Ia bahkan cukup senang melihat sejumlah arsip peninggalan zaman VOC yang menggunakan bahasa Belanda. Hal ini membuatnya serasa dekat dengan rumah setelah melihat arsip peninggalan masa penjajahan dulu.
“Di lingkungan saya juga saya melihat banyak budayabIndonesia, bahkan saya belajar pencak silat di Belanda,” ujar mahasiswa yang mendapat Amerta untuk tinggal di Indonesia selama 6 bulan ini.
Ketertarikan akan budaya Indonesia juga dirasakan Dennis Pohl (25), mahasiswa Universitas Hamburg. Keragaman bahasa dan etnik di Indonesia membuatnya antusias dalam mengunjungi pusat arsip yang ada di Surabaya. Apalagi dirinya sudah cukup banyak berinteraksi dengan orang Indonesia. “Saya bahkan belajar bahasa Jawa agar bisa membaur,” ujarnya.
Alief lutfie. Pendamping dari Airlangga Global Enggagement mengungkapkan kunjungan ke tempat penyimpanan arsip ini juga wujud pengenalan budaya Indonesia.
Menurutnya 26 mahasiswa asing tersebut merupakan mahasiswa dari berbagai program beasiswa dan studi di Univeraitas Airlangga (Unair). “Kami ingin menunjukkan bagaimana sistem penyimpanan arsip di Indonesia dan bagaimana buku dan bukti sejarah disimpan,” ujarnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jatim Sudjono mengungkapkan, kunjungan mahasiswa asing merupakan bentuk kerjasama dalam forum komunikasi sadar arsip di perguruan tinggi.
“Harapannya kami bisa masuk top 40 sisi pelayanan publik. Agar layanan benar-benar membantu mendidik dari TK sampai perguruan tinggi dan masyarakat umum,” jelasnya.
Apalagi, lanjutnya, nilai-nilai sejarah dan kebudayaan akan membentuk karakter. Dengan kunjungan mahasiswa Asing diharapkan bisa menjadi sentilan untuk warga Indonesia agar terus mempelajari sejarah. Karena dalam sejarah juga menunjukkan karakteristik bangsa. (ist)
Kegiatan East Java Art Roadshow, di Candi Simping Blitar. Foto: Beritajatim.com.
Kolaborasi Komunitas Budaya Sulud Sukma bersama Dewan Kesenian Jawa Timur, pekan lalu, berhasil menyulap reruntuhan Candi Simping menjadi sebuah monumen penanda bangkitnya Proklamator Majapahit di Blitar.
Melalui kegiatan East Java Art Roadshow, sebuah kegiatan dengan tajuk Getih-Getah Gulo Klopo Candi Simping, berhasil memukau 500 penonton dan 100 tamu undangan yang hadir.
Kegiatan ini, seperti dilaporkan Beritajatim.com, diawali dari menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza yang dipandu Duta Pariwisata Kabupaten Blitar, dilanjutkan dengan pertunjukan Musik Perkusi Jimbe, yang menggambarkan situasi peperangan antara Raden Wijaya yang memukul mundur tentara tar-tar pulang kembali ke negaranya.
Setelah itu terdapat Doa Budaya yang dibacakan dengan khidmat oleh Seniman Blitar, Redy Wisono, serta tari ritual ngabekti yang diiringi 12 orang penembang macapat lintas generasi yang menggambarkan pengabdian 4 istri Raden Wijaya dalam menginspirasi Raden Wijaya untuk mendirikan dan membesarkan kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Luhur Sejati, dalam sambutannya mewakili Bupati Blitar, menyatakan, Candi Simping menyimpan nilai budaya dan sejarah yang sangat besar, utamanya menyangkut didharmakannya abu proklamator majapahit di lokasi ini.
“Kedepan Blitar akan menjadikan Candi Simping sebagai tonggak kebangkitan bangsa, dimana akan ada event nasional pada 6, 7, dan 8 Desember 2017 dari Kemenpora dengan tajuk Kirab Pemuda Nusantara yang titik nol nya akan ditempatkan di lokasi ini. Selain itu kami berharap ada arsitek yang mampu merekonstruksi reruntuhan candi ini agar tampak megah kembali,” katanya.
Luhur Sejati dalam sambutannya juga mengapresiasi kemauan anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Sulud Sukma dalam menggali nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika dan Gotong Royong. Menurut Luhur.
“Kesadaran untuk membangkitkan nilai budaya, harus diawali sejak dini. Tanpa adanya regenerasi, nilai sejarah dan budaya yang merupakan warisan leluhur kita pasti akan punah. Untuk itu kami akan selalu mendukung kegiatan seperti ini,” kata Luhur.
Acara ini dilanjutkan dengan Orasi Kebudayaan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur dan diakhiri dengan pembacaan serta penandatanganan Deklarasi Simping yang berisikan komitmen untuk mengawal Kebhineka Tunggal Ika-an sebagai dasar persatuan bangsa, pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, serta keberpihakan arah program kebijakan pada nilai budaya, sejarah, dan kesenian bangsa.
“Kami berterima kasih atas gotong royong dari semua pihak atas suksesnya kegiatan ini. Namun yang perlu diingat adalah komitmen mendatang untuk menjadikan candi simping tidak hanya sekedar bangunan cagar budaya. Namun juga sebagai tempat untuk menggali ide, menggali inspirasi, serta menggali ilmu pengetahuan tentang nusantara, khususnya tentang nilai-nilai kebangsaan, nilai kebhinekaan, serta nilai gotong royong yang mulai memudar, harus terwujud,” tutur salah satu penyelenggara kegiatan sekaligus anggota Komunitas Sulud Sukma, Rangga Bisma Aditya.
Tampak hadir dalam kegiatan ini, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota dan Kabupaten Blitar, Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar, Perwakilan dari 6 pemuka agama dan aliran kepercayaan, Balai Pelestari Cagar Budaya Blitar, Dewan Kesenian Kota dan Kabupaten Blitar, Kepala Desa Sumberjati, Camat Kademangan, serta para budayawan senior Blitar. (ist)
Dirut PT Puspa Agro Abdullah Muchibuddin (kanan) bersama tamu-tamunya. Foto: Puspaagrojatim.com.
Pasar Induk Puspa Agro mulai mengembangkan jejaring bisnis produk agrobis ke Sumatera Utara (Sumut) dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Peluang bisnis tersebut telah ditandai dengan kunjungan pejabat dua provinsi minggu yang lalu ke Puspa Agro.
Humas Puspa Agro, Suhartoko kepada media mengatakan, Puspa Agro menyambut baik peluang bisnis, baik dengan Sumut maupun Kalteng. Puspa Agro kini lagi memetakan jejaring dan peluang bisnis yang bisa dikembangkan dengan berbagai provinsi di Indonesia.
Hadirnya perwakilan dari Sumut dan Kalteng setidaknya membuka jalan awal untuk bisa ditindaklanjuti. Ini merupakan awal yang bagus. Moga-moga kedepan bisa terjalin bisnis di sektor agro ini dengan semangat saling menguntungkan.
Pejabat Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kalteng, Jenta mengungkapkan selama ini kebutuhan sektor pangan dan konsumsi masyarakat Kalteng banyak bergantung pada pasokan dari sentra-sentra produksi di Jawa, khususnya Jawa Timur. Oleh karena itu dengan dibukanya komunikasi yang mulai terjalin dengan Puspa Agro, akan membuka peluang bisnis yang lebih luas lagi.
Kalsel selama ini memang banyak bergantung dari Jawa, khususnya Jawa Timur. Itu pun distribusi barang yang datang masih harus melalui kalimantan Selatan (Kalsel) dulu, baru lewat jalur darat masuk ke Kalteng. Hal dilakukan karena Kalteng tidak memiliki pelabuhan.
Sementara kunjungan Pemprov Sumut ke Puspa Agro karena provninsi ini telah menyiapkan pembentukan BUMD yang akan mengelola dan mengembangkan bisnis agro.
Sumatera Utara lagi menyiapkan BUMD berbasis pangan dengan mintakan persetujuan dewan (DPRD.). Sumut sudah mencari informasi ke banyak pihak dan akhirnya mendapat masukan, bhawa Puspa Agro sudah eksis. Oleh karena itu, Sumut akan belajar banyak tentang agro bis ke Puspa Agro.
Para pejabat dua provinsi di Indonesia belajar berbagai hal terkait dengan pengelolaan dan pengembangan bisnis agro. Rombongan dua Pemprov itu diterima langsung oleh Dirut PT Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin.
Berbagai hal terkait dengan pengelolaan dan pengembangan bisnis agro didiskusikan dalam forum ini, di antaranya dari aspek legal formal perusahaan, optimalisasi peran ekonomi untuk meningkatkan nilai tambah petani, termasuk kontribusi untuk menahan laju inflasi.
Sebelumnya, beberapa Pemprov di Sulawesi dan Irian juga berkunjung ke Puspa Agro untuk studi banding. Demikian juga Pemprov Sumatera Barat, Riau, dan Sumatera Selatan. (ist)