Penabrak Perbaiki Kerusakan Candi Kidal

foto
Mobil KIA Carnival milik Dokter Joko yang menabrak Candi Kidal, Malang. Foto: Detik.com.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur menghitung kerusakan Candi Kidal di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang, akibat diseruduk mobil KIA Carnival BE 2844 GH yang dikemudikan dokter Joko Agus Gunawan (35) beberapa waktu lalu.

Kepala BPCB Jawa Timur Andi Muhammad Said mengatakan, tim yang diterjunkan menghitung jumlah kerusakan dari kecelakaan itu. Penghitungan mengacu kepada struktur awal candi dan keseluruhan dampak dari kecelakaan.

“Mulai pagar, area dalam sampai candi. Ada beberapa batu terkena benturan di mulut tangga. Kami sedang menghitung nilai dan apa saja kerusakannya,” bebernya seperti dikutip Detik.com.

Untuk kerugian, lanjut dia, pastinya akan dibebankan kepada pengemudi kendaraan. Soal bahan baku, kata dia, struktur bebatuan sangat mudah didapatkan.

“Kerugian nanti dibebankan kepada pengemudi,” tegasnya. Hingga kini, puing sisa kecelakaan bisa dilihat di area Candi Kidal. Sisa-sisa benturan kendaraan seakan menjadi saksi kecelakaan penuh mengundang tanda tanya itu.

Proses perbaikan direncanakan mulai akhir pekan dan ditanggung pengemudinya, dokter Joko. “Perbaikan mulai Jumat besok. Kita akan mendahulukan pagar depan, karena lebih penting,” ujar Kepala Unit Penyelamatan dan Keamanan BPCB Trowulan Nugroho Hardjo Lukito, Selasa (1/8).

Nugroho menyebut, proses perbaikan semua dilakukan keluarga dari pengemudi yang bertempat tinggal di Dusun Krajan, Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Pihaknya juga sudah melapor ke Unit Laka Polres Malang yang menangani kasus kecelakaan tunggal itu.

“Semua keluarga pengemudi yang kerjakan, begitu juga dengan biayanya. Mereka sudah setuju dan kami telah sampaikan kepada Unit Laka Polres Malang,” beber Nugroho.

Setelah perbaikan pagar rampung, lanjut dia, akan dilanjutkan dengan memperbaiki taman serta mulut dan anak tangga. Khusus tangga, kata dia, pihaknya yang akan terjun langsung menangani. Demi menjaga kelestarian dari peninggalan masa Kerajaan Singosari itu.

“Anak tangga kita yang tangani. Ada dua batu yang terkena benturan, satu batu bukan asli yang nanti tinggal mengganti saja. Dan satu batu asli yang harus dimodifikasi untuk bisa dipasang kembali,” jelas Nugroho.

Dia mengaku, tingkat kesulitan menata batu asli itu cukup memakan waktu. Butuh kehati-hatian serta melibatkan orang yang mengetahui struktur dari batu serta sejarahnya. “Untungnya di bagian dalam bukan luar dari makara, ukiran naga yang ada di anak tangga. Nanti perbaikan itu yang akan memakan waktu,” tandasnya. (dtc)

Pelajar-Guru Jiran Berlatih Budaya Indonesia

foto
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Prof Ari Purbayanto memasangkan ID Card peserta secara simbolis. Foto: Agus Setiawan/Antara.

Sebanyak 70 guru dan pelajar sejumlah sekolah di Malaysia mengikuti pelatihan seni dan budaya yang diselenggarakan Atase Pendidikan dan Kebudayaan serta Fungsi Pensosbud KBRI Kuala Lumpur.

Acara yang berlangsung di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) tersebut dibuka Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Ari Purbayanto, Sekretaris II Fungsi Pensosbud, Stania Puspawardani dan Kepala SIKL, Drs Agustinus Suharto MPd.

Para peserta menurut laporan Antara, mendapatkan pelatihan tentang angklung, gamelan, tari dan membatik di SIKL hingga 6 September 2017 dari para pelatih yang berasal dari guru-guru sekolah tersebut.

Peserta workshop diantaranya dari Sekolah Menengah (SM) Sains Seri Puteri, Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Seri Bintang Utara, SM Sains Alam Shah, Sekolah Kebangsaan (SK) Setia Wangsa, Aswara, SK Seri Bintang Utara, Islamic International School.

“Bagi saya ini menarik lah, sebab kita boleh belajar Indonesia punya budaya. Saya nanti belajar angklung, tadi sudah mendapat cerita sejarah angklung. Besok baru belajar,” ujar guru dari SK Seri Bintang Utara, Nik Nur Khalidah Bt Nik Ahmad Saidee.

Khalidah mengatakan dirinya juga pertama kali berkunjung ke SIKL dan nampak ada perbedaan dari sekolah tersebut. SK Seri Bintang Utara mengirim delapan orang guru. Lima orang belajar angklung, sedangkan satu orang belajar membatik.

“Penyelenggaraan pelatihan ini untuk memberikan pemahaman terhadap seni dan budaya Indonesia melalui gamelan, angklung, seni tari dan seni membatik kepada generasi muda (Y-Generation) Malaysia yaitu pelajar sekolah menengah dan mahasiswa Malaysia,” tutur Prof Dr Ari Purbayanto.

Dia mengatakan kegiatan ini diikuti sebanyak 70 orang peserta yang akan menjalani pelatihan selama sepuluh kali pertemuan diakhiri dengan pentas kemampuan peserta bersama seniman angklung dari Indonesia pada acara penutupan pelatihan di MATIC Kuala Lumpur.

Ketua Panitia, Nunik Heri Wahyuni SPd MA mengatakan pihaknya sudah menyiapkan sejumlah pelatih dari SIKL sesuai bidang masing-masing untuk memberi pelatihan. Untuk guru gamelan, Djamal Bakir BA, guru angklung, Drs Moch Dadang Soleh MEd, guru tari, Aan Mulyani SPd dan pelatih batik, Andik Setiawan SPd. (ant)

Lukisan di Kepresidenan, Harta Tak Ternilai

foto
Wapres Jusuf Kalla meresmikan pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan. Foto: Setneg.go.id.

Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan ke-72, Sekretariat Negara kembali menggelar pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan bertempat di Galery Nasional Indonesia dengan mengusung tema “Senandung Ibu Pertiwi” dengan menampilkan 48 lukisan karya dari 41 pelukis yang dibuat antara abad 19 dan 20.

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla saat membuka pameran tersebut pada Selasa pagi (1/8) menyatakan bahwa koleksi lukisan Istana Kepresidenan merupakan harta yang tak ternilai harganya.

“Begitu banyak harta-harta yang tidak ternilai yang sebagian besar ada di Istana. Patut diketahui bahwa Bung Karno lah yang mempelopori begitu banyak lukisan-lukisan yang sangat bermutu dan sangat berharga,” ujarnya.

Lebih jauh Wapres mengungkapkan bahwa koleksi lukisan Istana Kepresidenan memiliki makna sejarah serta menggambarkan keindahan alam Indonesia.

“Lukisan ini tentu mempunyai makna, pertama makna sejarah, keindahan alam, perilaku kita ataupun makna yang lain dalam artian bahwa kita menikmati sesuatu ciptaan kita semua yang sangat berharga,” terangnya.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara dalam laporannya yang dibacakan Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan bahwa tujuan penyelenggaran pameran antara lain adalah agar masyarakat dapat ikut serta menikmati karya para seniman yang berkualitas tinggi.

Juga untuk menunjukkan karya-karya unggulan seniman kepada komunitas internasional, serta merupakan perwujudan komitmen Kementerian Sekretariat Negara atas pemeliharaan karya-karya seni unggulan dari masa lalu yang menjadi koleksi di Istana –Istana kepresidenan.

Selain tujuan tersebut diatas, kegiatan pameran ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya kebangsaan dalam menunjukkan Istana Kepresidenan sebagai etalase benda seni budaya bermutu tinggi.

Pameran kali ini merupakan pameran lukisan Istana Kepresidenan kedua, setelah sebelumnya sukses pada penyelenggaraan pameran pertama pada tahun 2016, yang akan dibuka untuk umum mulai 2 hingga 30 Agustus 2017. (sak)

Lestarikan Budaya Lewat Pengabdian Masyarakat

foto
Lomba menari di balai desa Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Foto: PIH Unair.

Sejak Minggu (30/7) pagi, puluhan pelajar dan warga meramaikan balai desa Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Mereka bersiap mengikuti lomba tari tradisional kreasi dan nembang macapat yang dilaksanakan atas kerjasama Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga (FIB Unair) Surabaya dengan Desa Kemloko.

Lomba itu merupakan rangkaian pengabdian masyarakat yang dilakukan Departemen Sastra Indonesia sebagai bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi. Telah empat tahun berjalan, Desa Kemloko menjadi desa binaan Departemen Sastra Indonesia FIB Unair. Komitmen ini dijalankan secara terus menerus dengan mengembangkan Desa Kemloko melalui beragam kegiatan.

Nasrudin Abdul Haris selaku Ketua Panitia Acara mengucapkan terimakasih kepada tim dari UNAIR yang telah memilih Desa Kemloko sebagai desa binaan. Ia berharap, kerjasama yang telah dirintis empat tahun itu dapat terus berlanjut dengan pengembangkan potensi desa yang lain. “Lomba ini kita selenggarakan untuk nguri-nguri budaya. Mudah-mudahan kerjasama ini berkelanjutan,” ucap Nasrudin seperti dirilis PIH Unair.

Sebelum lomba berlangsung, salah satu dosen Drs Tubiyono MSi memberikan sosialisasi tentang pemanfaatkan website untuk melakukan promosikan potensi desa. Dalam kesempatan itu, dirilis website resmi Desa Kemloko yang dapat diakses melalui laman http://www.wisatakemloko.com. Laman itu dikelola langsung oleh Departemen Sastra Indonesia untuk pengembangan bersama.

Selama ini, di Desa Kemloko memiliki tradisi pembacaan serat Ambiya yang dilakukan oleh keluarga yang baru melahirkan. Pembacaan serat ambiya dilakukan semalam suntuk, dengan rentan waktu sesuai permintaan pemilik hajat.

“Pembacaan serat Ambiya di Kemloko ini luar biasa. Berbeda dengan di desa-desa lain, karena dibacakan secara bersama-sama setelah kelahiran bayi. Hari ini dibacakan oleh orang-orang tua. Mudah-mudahan di tahun yang akan datang pengmas bisa dilakukan dengan diikuti generasi junior,” ucap Dr Dra Trisna Kumala Satya Dewi MS selaku pengampu mata kuliah Metode Penelitian Filologi (MPF).

Pengmas kali ini juga diikuti oleh mahasiswa yang mengambil konsentrasi Filologi dengan mata kuliah MPF. Dari tahun-ketahun, Departemen Sastra Indonesia rutin mengadakan pengmas dengan mengajak serta mahasiswa.

Lomba macapat pada siang hari itu diikuti oleh mayoritas warga yang telah berusia senja. Salah satu peserta lomba macapat Sujianto (77) mengaku gembira dapat berpartisipasi dalam lomba macapat. Pensiunan guru itu memiliki lima anak buah. Mereka biasa diundang macapatan ketika ada warga yang bayen (baru melahirkan).

“Kawit alit pun remen. Panggah demen sampek saiki. Sebulan kadang-kadang ping pindho, kadang ping papat. Tergantung enek bayen apa enggak. (Sejak kecil sudah suka dengan macapatan. Tetap suka sampai sekarang. Sebulan bisa ditanggap dua kali, kadang empat kali. Tergantung kalau ada hajatan kelahiran bayi, -red),” ujar laki-laki yang nembang Pangkur dan Dandanggula waktu lomba ini. (sak)

Menjaga Nilai Tradisi Bersama Raja-Sultan se-Indonesia

foto
Pentas seni saat Silaturahmi Nasional Raja dan Sultan Nusantara V 2017. Foto: Kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri, peranan para raja dan sultan sangatlah penting dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Itulah mengapa kehadiran mereka menjadi tak terpisahkan dengan historis Tanah Air.

Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam acara jamuan makan malam Silaturahmi Nasional Raja dan Sultan Nusantara V 2017. Acara ini menghadirkan raja, sultan, pewaris, keluarga kesultanan dan kerajaan dari Sabang hingga Merauke.

Muhadjir Effendy pun menyambut baik kehadiran para raja, sultan dan para penerusnya. Ia mengungkapkan, dengan adanya silaturahmi ini diharapkan dapat menjaga nilai-nilai tradisi yang sudah ada sejak dahulu untuk generasi di masa mendatang. Ini jelas bersinergi dalam mewujudkan bangsa yang berbudi dan berintegritas tinggi serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan di tengah masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mempersilakan para raja dan sultan Nusantara menjadikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai rumah para pelestari tradisi. Sebab mengemban tugas untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan tak hanya selesai jika mengandalkan tangan pemerintah.

Perlu adanya perpanjangan tangan dari berbagai pihak, termasuk melalui kegiatan semacam ini. “Ini adalah pekerjaan kita bersama,” ujar Hilmar Farid mengingatkan, di Gedung A, Plaza Insan Berprestasi, Kemdikbud, Jakarta.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Silaturahmi Nasional Raja Nusantara Indonesia, Raja Samu Samu VI Upu Latu M L Benny Ahmad Samu Samu, mengatakan ada keterkaitan antara pelaku adat istiadat dan budaya yang masih melekat pada masing-masing kerajaan. Di kesempatan ini, Raja Samu Samu juga memperkenalkan satu per satu perwakilan raja dan sultan yang hadir.

Seperti diketahui, Silaturahmi Nasional Raja dan Sultan Nusantara V merupakan agenda yang melibatkan raja dan sultan dari seluruh Nusantara dalam upaya mempertahankan keberagaman adat istiadat dan budaya dari ratusan kerajaan. Selain itu, kegiatan ini juga disemarakkan oleh kehadiran perwakilan kerajaan-kerajaan Amerika Serikat, Jerman, Thailand, Belanda dan Malaysia.

Kegiatan silaturahmi ini juga mengagendakan deklarasi wadah tunggal Raja, Sultan, Datu dan Ratu Nusantara serta melakukan pemilihan Sekjen BP Silatnas Raja dan Sultan Nusantara Indonesia untuk lima tahun mendatang. (sak)

Walikota Risma Pantau Cagar Budaya Surabaya

foto
Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan sidak beberapa cagar budaya. Foto: Humas Pemkot Sby.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan sidak di beberapa lokasi Cagar Budaya yang ada di Surabaya. Bersama dengan jajaran perangkat daerah terkait, Risma meninjau langsung beberapa lokasi seperti, Rumah HOS Cokroaminoto, Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jalan Bubutan, Monumen Tugu Pahlawan, Kampung Kraton di Jalan Kramat Gantung dan Rumah W.R Soepratman Jalan Mundu.

Melalui hasil tinjauan tersebut Walikota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan bahwa dirinya ingin menghidupkan kembali Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan yang nanti bakal dijadikan sebagai tempat pariwisata.

“Kemarin dinas pariwisata sudah saya suruh untuk mendata monumen dan situs-situs yang bisa diangkat menjadi jujukan wisata,” kata Risma ketika memberi keterangan di Gedung Nasional Indonesia, Jumat pagi (28/7).

Melalui hasil sidak yang sudah dilakukan Risma pagi tadi, dirinya bersama jajaran terkait akan melakukan beberapa pembenahan salah satunya di jembatan peneleh yang berdekatan dengan rumah sejarah HOS Cokroaminoto.

“Nanti jembatan tersebut akan dibuat untuk pejalan kaki, agar warga bisa langsung melihat atau berkunjung ke situs-situs bersejarah di Zaman Mojopahit, salah satunya di kampung Kraton,” ungkap Risma.

Khusus untuk kampung Kraton, sambung Risma, tempat itu akan dijadikan sebagai cagar budaya karena baginya kampung itu unik. “Saya sudah mengkondisikan kepada teman-teman Dinas Pariwisata untuk merawatnya,” imbuhnya.

Dengan diperhatikannya lokasi cagar budaya di Surabaya, Risma menargetkan tahun 2018 semua situs dan monumen bersejarah sudah selesai dikerjakan. “Mengingat banyaknya agenda dan tamu internasional yang datang ke surabaya, maka lokasi bersejarah ini bisa dijadikan sebagai tempat wisata baru bagi wisata lokal maupun internasional,” terang Walikota sarat akan prestasi tersebut.

Ditanya soal jumlah monumen, Risma mengatakan ada banyak sekali monumen dan memiliki nilai sejarah tersendiri. Ia kemudian sedikit bercerita sejarah Kota Surabaya sebelum kemerdekaan. “Dulu Surabaya itu pusatnya kerajaan Mojopahit yang memiliki nilai sejarah namun tidak banyak diketahui orang-orang, maka dari itu saya dan teman-teman akan menggali lebih dalam sejarah tersebut,” ujarnya. (sak)

Bila Bangunan Cagar Budaya Tak Dirawat Pemiliknya

foto
Bekas penjara Kalisosok Surabaya yang hingga kini belum jelas nasibnya. Foto: Surya/Habibur Rohman.

Kota Surabaya yang memiliki sebutan Kota Pahlawan memiliki banyak peninggalan bangunan cagar budaya (BCB). Setidaknya, ada sebanyak 160 bangunan lawas yang sudah ditetapkan sebagai BCB oleh Pemkot sebangai bangunan yang harus dilindungi dan dilestarikan.

Kebanyakan dari bangunan tersebut dimiliki oleh swasta. Sehingga perawatan dan pemeliharaan ada di kewajibkan pemilik bangunan. Mereka harus menjaga dan melestarikan BCB agar tidak sampai rusak dan tidak terawat.

Namun agaknya, perlu sejenak menengok salah satu BCB yang ada di kawasan Surabaya, yaitu bangunan bekas rumah tananan atau penjara Kalisosok.

Berdasarkan pantauan Surya, pekan lalu, bangunan cagar budaya tersebut tampak tak terawat, kumuh, rimbun dan fasade bangunan dan pagar Kalisosok tersebut sudah rusak dan tidak terpelihara.

Di bagian depan penjara Kalisosok, tepatnya di bangunan inti Kalisosok genting bangunan tersebut bahkan sudah hilang dan menyisakan angka atapnya saja. Padahal seharusnya, bangunan tersebut harus dijaga dan tidak sampai rusak.

Ketua Surabaya Heritage Freddy H Istanto mengatakan, banyak BCB di Surabaya yang masih membutuhkan perhatian lantaran kurang terawat. Khususnya yang diserahkan kewenangannya ke pihak privat atau pribadi. Kebanyakan pemilik bangunan tidak aware dengan menjaga BCB yang merupakan bangunan yang dilindungi dan harus dilestarikan.

“BCB yang sudah ditetapkan oleh Pemkot harus dirawat oleh pemiliknya, kalau swasta yang mereka yang punya itu harus merawat bangunan tersebut. Kalau sampai rusak tidak terawat itu masuk ke pelanggaran hukum dan masuk pasal pembiaran,” ucap Freddy kepada Surya.co.id.

Dan aturan tersebut sudah ada dalam undang-undang bangunan cagar budaya. Dan jika ada yang melanggar dan membiarkan bangunan cagar budaya rusak maka bisa dilakukan penindakan.

Nah, dalam hal ini, menurut Freddy, Pemerintah Kota Surabaya memiliki peranan penting. Yang harus mengingatkan, memantau dan menindak jika ada pemilik bangunan cagar budaya namun tidak terawat dan tidak dijaga sehingga rusak.

“Bisa jadi sengaja dibiarkan supaya nanti ada alasan bahwa bangunan itu sudah rusak dan layak dibongkar. Pemkot di sini menurut saya masih lemah dan banyak lengah untuk memantau dan menindak privat-privat yang memiliki bangunan cagar budaya,” tandas Freddy.

Sebab disampaikan Freddy Pemkot selama ini masih baru bertindak ketika kejadian sudah terjadi. Misalnya adalah bangunan cagar budaya di Jalan Mawar No 10, yaitu radio Bung Tomo yang sudah dibongkar dan dirobohkan baru sadar ada aset yang hilang.

Termasuk dalam kasus penjara Kalisosok, pembongkaran genteng di bangunan tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2010, bahkan ada informasi akan direnovasi untuk dijadikan rumah kos-kosan. Namun sampai saat ini genteng yang sudah dibongkar itu tidak juga dikembalikan.

“Semua pihak di Pemkot ikut bertanggung jawab. Mulai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hingga Satpol PP sebagai petugas di lapangan harus ikut bertindak tegas. Harus sering mengingatkan pemilik untuk merawat dan menjaga bangunan yang masuk ditetapkan sebagai BCB,” tegas Freddy.

Di sisi lain, Kepala Disbudpar Kota Surabaya Widodo Sumartono mengatakan untuk pengelolaan bangunan cagar yang dimiliki privat memang menjadi kewajiban pemilik untuk mengelola. Pemkot juga sudah berupaya mengingatkan.

“Kami selalu menginngatkan, baik lewat surat maupun sosialisasi. Tapi kalau bangunan yang selain punya privat kita untuk perawatan tidak punya anggaran, melainkan di Balai Pengelolaan Cagar Budaya,” ucap Widodo. (ist)

Bangkalan Kurang Serius Garap Wisata Budaya

foto
Pengerap bersiap memacu sapi kerapnya di Alun-Alun Kota Bangkalan beberapa waktu lalu. Foto: Jawapos.com/Badri Stiawan.

Kerapan sapi salah satu wisata budaya di Bangkalan yang potensial untuk dikembangkan. Buktinya, wisatawan dalam negeri dan mancanegara selalu hadir saat event tradisi Madura itu digelar. Karena itu DPRD Bangkalan mendesak pemerintah untuk menggenjot potensi tersebut.

Anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman berharap ada pengelolaan serius dari pemerintah dalam mengembangkan wisata budaya. Utamanya, dalam memberikan daya tarik kepada wisatawan yang berkunjung ke Kota Salak. Apalagi, setiap tahunnya pengunjung wisatawan ke Bangkalan terus mengalami penurunan.

”Bisa dengan membuat paket kunjungan. Misal mengunjungi wisata A dan B bisa mendapat bonus pertunjukan budaya,” sarannya seperti dikutip Jawapos.com, pekan lalu.

Jika sektor wisata bisa dikelola dengan baik, kata Abdurrahmanmaka akan sangat membantu dari segi pendapatan asli daerah (PAD). ”Sangat besar pendapatan yang bisa didapatkan kalau diperhatikan dengan serius. Kami harap bisa dikelola dengan baik,” harapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Lily Setiawaty Mukti berencana melakukan terobosan. Salah satunya dengan memberikan sambutan kepada pengunjung dengan menghadirkan wisata budaya.

”Bisa juga dengan menghidupkan wisata budaya. Seperti halnya Bali. Jadi bukan hanya tempat wisatanya saja yang jadi daya tarik, tradisi dan budayanya juga,” papar Lily kemarin.

Pihaknya juga sempat menghadirkan wisata budaya kerapan sapi beberapa waktu lalu bagi para tamu kunjungan. Untuk itu, sangat memungkinkan untuk mengolaborasikan wisata budaya dengan potensi kunjungan lainnya.

”Jadi ketika ada pergelaran kerapan sapi, beberapa masakan kuliner dijejer di lokasi yang sama. Untuk pengunjung dengan paket perjalanan tertentu, bisa mendapatkan pelayanan kunjungan wisata ke tempat lain,” paparnya.

Menurut Lily, untuk merealisasikan rencana tersebut memerlukan tahapan. Semua pihak juga harus ikut berperan. ”Kami akan coba bicarakan dengan semua pihak nanti,” pungkasnya. (sak)

Budaya Jawa Diperkenalkan pada Dosen Amerika

foto
International Focus Group Discussion di Hotel Sahid Jaya Solo. Foto: Uns.ac.id.

Sejumlah kekayaan khasanah budaya Jawa diperkenalkan pada 12 akademisi Amerika dalam International Focus Group Discussion on Social and Political Issue in Indonesia, di Hotel Sahid Jaya, pekan lalu. Kegiatan itu antara lain dalam rangka perluasan jaringan diseminasi hasil karya inovatif dari tim Riset Group FISIP Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

Dihadapan dosen dari 10 universitas dari tim The Asia Network United State of America itu, Prof Dr Andrik Purwasita DEA, seperti dilaporkan suaramerdeka.com, mempresentasikan wayang sebagai untuk soft diplomacy yang sudah dia praktikkan ke sejumlah negara seperti Jepang, Rumania, India dan Rusia.

12 akademisi dari 10 universitas di Amerika itu diantaranya adalah Linda Smith (Bidang Humanities dari Hawkeye Community College), Jessie Mills (Bidang Theater dari Wabash Colege), Seungsook Moon (Bidang Sociology dari Vassar College), serta Marjorie Rhine (Bidang Literature dari University of Wisconsin Whitewater).

Menjawab pertanyaan dari akademisi Amerika tentang penggunaan wayang, Ketua Prodi Hubungan Internasional FISIP UNS itu menjelaskan wayang tidak hanya untuk tontonan tetapi juga digunakan untuk tuntunan.

”Penyebaran ajaran Islam pada masa Wali Songo antara lain juga menggunakan media ini. Wayang juga bisa digunakan untuk menyampaikan programprogram pemerintah ke masyarakat,” sambungnya. Dia juga menjelaskan sejumlah filosofi dalam budaya Jawa, yang akan dia bawa ke kancah global.

Sementara Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Sri Hartjarjo PhD, membahas serat Sastra Marunda yang berisi kompetensi komunikasi dalam perspektif Jawa. Ia juga membahas media sosial yang sedang berkembang saat ini. Haryanto MLib menyampaikan hasil penelitian terkait kode etik jurnalistik dalam praktik para jurnalis di media lokal.

Selain budaya, para dosen UNS juga mempresentasikan sejumlah makalah terkait isu gender, environmental issues, decentralization and governance serta social order and social integration .

Sementara itu, Dekan FISIP UNS Ismi Dwi Astuti Nurhaeni menyampaikan bahwa kedatangan para akademisi dari The Asian Network ini merupakan langkah awal menuju pemantapan kerjasama yang telah dilakukan sebelumnya antara UNS dengan beberapa intitusi pendidikan di Amerika.

Dia berharap nantinya dari kunjungan dan kerjasama ini akan terjadi kolaborasi riset yang dapat berkontribusi positif demi kemajuan ilmu pengetahuan. (sak)

Konser 120 Musisi Cilik Banyuwangi yang Memukau

foto
Musisi-musisi cilik Banyuwangi tampil memukau di Lalare Orkestra. Foto: Banyuwangikab.go.id.

Ribuan penonton memadati Gelanggang Seni dan Budaya (Gesibu) Banyuwangi, Sabtu (22/7) malam. Tidak hanya lokal, penonton mancanegara juga tampak antusias. Mereka menyaksikan sebuah konser etnik yang dimainkan 120 anak-anak, Lalare Orkestra.

Saat dibuka, para musikus cilik tersebut langsung menggebrak dengan lagu Banyuwangi, Nandur Gendhing. Tabuhan gendang, pukulan rebana, ketukan angklung dan gesekan biola berpadu dalam sebuah orkestra. 14 komposisi musik etnik yang diaransemen moderen berhasil dimainkan dengan menarik.

Konser ini memang bukan konser musik biasa. Lalare Orkestra ini pemusiknya adalah anak-anak yang masih berusia 3,5 sampai 12 tahun itu, dari yang masih duduk di bangku play group sampai SMP.

Meski belia, mereka berhasil menunjukkan talenta bermusiknya. Bukan hanya lagu Banyuwangi seperti Seblang Lukinto dan Nyerambah Jagat, namun lagu Spanyol Besame Mucho, Ondel-ondel, hingga Yamko Rambe Yamko berhasil dibawakan mereka.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan bahwa konser ini adalah partisipasi anak-anak yang murni tumbuh dari bawah dan mandiri.

“Banyuwangi boleh maju, namun tradisi kami tidak boleh dihilangkan. Konser ini salah satu upaya untuk melestarikan tradisi daerah. Saya bangga dengan anak-anak ini,” kata Bupati Anas saat membuka acara tersebut.

Tahun 2016 lalu, Lalare Orkestra berhasil meraih perhargaan internasional Pasific Asia Travel Association (PATA) kategori heritage and culture.

Ditambahkan Anas, di tengah beragam festival yang bercita rasa moderen, seperti jazz, Indonesia Batik Fashion Week dan international tour de Banyuwangi Ijen, Banyuwangi tetap memberikan ruang musik ethik daerah khusus anak-anak untuk eksis.

“Ada konser lalare yang tetap disuguhkan dalam Banyuwangi Festival. Setiap tahun kita hadirkan dengan tema-tema yang berbeda namun tetap bersumber dan berakar dari budaya Banyuwangi,” imbuh Anas.

Tidak hanya bermain musik, mereka juga menampilkan aksi teatrikal komedi. Sehingga penonton tidak hanya terhibur aksi seni mereka, namun juga ikut tergelak dengan canda celoteh dari drama teatrikal yang dimainkan.

Salah satu pemainnya, Hatan Zukfikar mengaku bangga ikut konser ini. Siswa kelas 3 SMPN I Srono. “Senang banget ditonton banyak orang, jadi nambah semangat ikut lagi tahun depan,” katanya dengan semangat.

Kebanggan tersebut juga dirasakan Ilzam Zulandita (12) SMPN 3 Banyuwangi. “Senang sekali ikut konser lalare. Saya memang tertarik dengan musik etnik karena ingin sesuatu yang berbeda, anak sekarang kan lebih seneng moderen, padahal musik etnik juga tak kalah keren loh,” kata Ilzam yang malam itu menjadi pembaca puisi dan membawakan lagu Besame Muco.

Konser ini juga dihadiri Bupati Sampang Fadhilah Budiono yang kebetulan sedang melakukan studi banding ke Banyuwangi masalah pariwisata dan masalah pengelolaan pemerintahan lainnya.

Meski berlangsung hingga larut malam, konser etnik tetap dipenuhi penonton. Mereka sangat menikmati pertunjukan. Konser ini pun ditutup dengan lagu Maju Tak Gentar, yang menggambarkan tekad untuk memajukan Banyuwangi. (sak)