Menpar Arief Yahya dan Bupati Jember Faida saat meresmikian Jember sebagai Kota Karnaval. Foto: Humas Pemkab Jember.
Menteri Pariwisata Arief Yahya menetapkan Jember sebagai Kota Karnaval. Itu disebabkan, event Jember Fashion Carnaval (JFC) bertaraf nasional dan internasional yang digelar selama ini mampu mengangkat dan menginspirasi banyak karnaval di tanah air. Apalagi, memiliki sederet prestasi Internasional, sehingga sangat layak dipromosikan ke tingkat global.
“Semua orang mengakui JFC berkelas dunia. Untuk mewujudkan itu Kementerian Pariwisata menetapkan Jember sebagai Kota Karnaval,” kata Menpar Arief Yahya di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), pekan lalu.
Menpar Arief mengaku penetapan sebagai Kota Karnaval melalui Surat Keputusan (SK) Menpar itu mengangkat Jember go Internasional. “Jika JFC ingin bersaing di level global harus menyatukan langkah dalam Indonesia Incorporated. Untuk itu Kota Jember harus diset menjadi Kota Karnaval berkelas dunia,” tegasnya seperti dikutip Detikcom.
Selain itu, dari sisi cultural value, kreativitas JFC sudah layak pula dijadikan magnet untuk mendatangkan wisatawan mancanegara (Wisman). Namun dari sisi commercial value and financial value masih belum terlalu menarik karena belum bisa dikapitalisasi dengan baik. “Dengan menjadikan sebagai Kota Karnaval berkelas dunia sisi commercial dan financial valuenya dapat dinaikkan,” tambah Arief Yahya.
Sementara Presiden JFC, Dynand Fariz, mengaku tema JFC ke-16 2017 yang digelara 9-13 Agustus mendatang ini mengambil tema ‘Victory’ yang berarti kemenangan. Sub tema Unity in Diversity adalah Kesatuan dalam Keberagaman. Sekaligus menggambarkan kemenangan Indonesia dalam berbagai kompetisi dunia yang diikuti oleh 50-80 negara atas diraihnya best national costume male dan female peagant.
“Victory menggambarkan pula kemenangan atas keberhasilan bangsa Indonesia menyatukan berbagai perbedaan (bhinneka tunggal ika) dalam bingkai NKRI,” tegas Dynand Fariz, yang juga Ketua Asosiasi Karnaval Indonesia (AKARI).
Dalam pembukaan nanti akan menampilkan defile, penari dan pemain gamelan Sriwijaya yang didukung Pemprov Sumatera Selatan, dilanjutkan dengan JFC international exhibition, JFC international conference, JFC kids carnival, JFC artwear carnival, wonderfull archiphelago carnival Indonesia (WACI) dan ditutup dengan JFC Grand Carnival. (ist)
Mendikbud Muhadjir Effendy memberikan penghargaan ke sejumlah sastrawan nasional saat MUNSI II. Foto: Kemdikbud.go.id.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyadur sebanyak 165 buku cerita rakyat. Buku saduran itu akan digunakan sebagai buku pendamping dari buku teks yang dipergunakan di sekolah, dan masyarakat.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan buku cerita rakyat dapat menjadi sarana Penguatan Pendidikan Karakter. Dengan membaca buku cerita rakyat, para siswa dapat mengambil pesan yang baik dari buku tersebut.
“Saya sangat yakin melalui buku cerita dan karya-karya sastra, pendidikan karakter yang diidamkan oleh seluruh masyarakat bisa tercapai. Salah satu pendekatan itu adalah dengan membaca karya sastra yang mengandung pesan yang baik,” ujar Mendikbud Muhadjir saat Pembukaan Musyawarah Sastrawan Nasional Indonesia (MUNSI) II, beberapa waktu lalu di Jakarta.
Menteri Muhadjir mengungkapkan, buku itu telah melalui pemeriksaan kualitas dari Tim Penilaian Pusat Perbukuan sehingga layak diberikan kepada masyarakat dan peserta didik.
Saat pendistribusian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan bekerjasama dengan Kementerian Sekretariat Negara. “Sekretariat Negara akan menerbitkan 28 judul buku dari 165 buku, dan akan digandakan sebanyak 30.000 eksemplar, untuk dibagikan pada acara kunjungan kerja presiden ke seluruh tanah air dan safari rohani,” ujar Menteri Muhadjir melalui rilis Humas Kemdikbud
Msyawarah Sastrawan Indonesia (MUNSI) II adalah perhelatan yang menghimpun 180 orang sastrawan berprestasi dari seluruh Indonesia, dari 18-20 Juli 2017 lalu. Mereka berasal dari sastrawan hasil seleksi karya, sastrawan penyumbang puisi dalam Antologi Puisi Munsi 2016, dan undangan, pelaksana program Sastrawan Berkarya di Daerah 3T; pemenang penghargaan Badan Bahasa; dan pegiat sastra.
Perhelatan ini membahas tema Sastra sebagai Penjaga Kebhinekaan Indonesia melalui ceramah kesastraan yang terdiri atas tiga panel, diskusi kelompok, dan pentas sastra.
Adapun hasil diskusi berupa langkah-langkah memajukan karya sastra Indonesia yang berkualitas; karya sastra Indonesia sebagai bahan bacaan masyarakat di negeri sendiri; terjemahan karya sastra Indonesia ke berbagai bahasa asing; karya sastra Indonesia tersebar ke kancah internasional; dan karya sastra Indonesia sebagai pengingat dan pengikat keberagaman etnik di Indonesia. (sak)
Menkeu Sri Mulyani saat mengunjungi Pulau Komodo. Foto: Istimewa.
Tulisan berikut diposting oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di akun pribadinya @SMIndrawati:
Hari Sabtu 22 Juli 2017 saya mengunjungi Labuan Bajo, salah satu destinasi Pariwisata nasional yang sangat mengesankan. Saya sempat naik bukit (hiking) hingga mencapai puncak bukit di Padar melihat pemandangan spektakuler tiga teluk – pengalaman menakjubkan yang tidak terkatakan.
Saya juga mengunjungi Pulau Rinca untuk melihat Komodo – reptil istimewa yang merupakan salah satu keajaiban dunia.
Saya juga sempat melakukan snorkeling di Manta Point untuk menikmati keindahan terumbu dan ikan-ikan laut yang sangat indah.
Pengalaman yang mengesankan adalah:
Pemandangan alam yang luar biasa dan masih terpelihara,
Suhu udara, langit biru yang bersih dan sempurna yang sangat menyenangkan karena angin sejuk dari selatan serta kebersihan yang masih terjaga.
Saya mengagumi turis-turis yang menjaga kebersihan.
Saya sempat bertemu dan menyapa kelompok salah satu bank swasta yang melakukan kegiatan kerja bakti membersihkan sampah-sampah di pantai. Luar biasa komitmen dan kerja masyarakat Indonesia yang peduli terhadap alam kita sendiri. Mari kita tiru..!
Masyarakat Flores juga sangat ramah dan welcoming terhadap turis.
Mari kita kunjungi tempat-tempat wisata indah Indonesia dan tetap menjaga kebersihan dan keindahan alam nya dengan tidak merusak dan mengotori.
Labuan Bajo sangat berpotensi untuk menarik wisatawan dari para peserta Pertemuan Tahunan IMF/World Bank di Bali tahun 2018.
Saya berterima kasih pada tim hotel Plataran Komodo yang mengatur perjalanan secara efisien namun dengan kualitas pelayanan dan makanan yang menyenangkan dan bagus.
Jadikan Pariwisata salah satu mesin penggerak ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan membanggakan Indonesia.
Saya berharap APBN dengan dana transfer ke daerah termasuk dana desa, dapat dipergunakan untuk membangun infrastruktur yang meningkatkan Pariwisata Indonesia – menyiapkan masyarakat lokal untuk dapat memperoleh manfaat pengembangan Pariwisata dengan tercipatanya kesempatan kerja dan terjaganya keselarasan sosial dan terpeliharanya lingkungan alam secara berkelanjutan. Text Dan Photo : FB Sri Mulyani Indrawati (http://www.facebook.com/smindrawati). (ist)
Dewan Kesenian Jawa Timur menobatkan sastrawan muda pemenang sayembara sastra. Foto: Antarajatim.com.
Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menobatkan tiga orang sastrawan muda pemenang Sayembara Sastra 2017 bertema “Redifinisi Identitas Jawa Timur” yang berlangsung di Surabaya.
“Mereka adalah sastrawan generasi era digital,” ujar Ketua Komite Sastra DKJT Indra Tjahyadi, seperti dilaporkan Antarajatim usai menobatkan para pemenang.
Dia menjelaskan, sejak tahun 2013 DKJT telah menggelar Sayembara Sastra sebanyak tiga kali. “Setelah tahun 2013, kami gelar lagi di tahun 2015 dan 2017,” katanya.
Ada dua kategori dalam sayembara sastra yang digelar tahun ini, yaitu kategori Manuskrip Antologi Puisi dan Manuskrip Kumpulan Cerita Pendek (Cerpen).
“Semula di tahun 2013 dua kategori itu meliputi manuskrip kumpulan puisi dan manuskrip novel. Sejak 2015 untuk kategori manuskrip novel kami ubah menjadi kumpulan cerpen,” ujarnya.
Indra beralasan perubahan kategori manuskrip novel menjadi kumpulan cerpen untuk mengapresiasi banyaknya cerpenis di Jawa Timur. “Sebab di dewan kesenian lainnya belum ada yang mengapresiasi karya cerpen, kami awali dari Jawa Timur,” katanya.
Menurut dia, antusias sastrawan muda yang mengikuti sayembara tahun ini cukup tinggi dibandingkan penyelenggaraan serupa di tahun sebelumnya.
Dia mencontohkan, pada Sayembara Sastra tahun 2015 yang digelar DKJT, panitia menerima 20 naskah manuskrip kumpulan puisi dan 25 naskah manuskrip kumpulan cerpen.
“Penyelenggaraan tahun ini kami menerima 48 naskah manuskrip kumpulan puisi dan 33 naskah manuskrip kumpulan cerpen,” katanya.
Meningkatnya antusias peserta sayembara sastra tahun ini, menurut dia, karena era digital lebih membuka ruang untuk menggali potensi para penulis.
Dia membandingkan, era dulu para penulis harus saling berlomba mengirimkan karya sastranya ke media cetak dan itupun tidak semua karya penulis yang bisa diterbitkan karena keterbasan ruang halaman koran. “Sekarang setiap orang bisa menulis dan memuat karyanya sendiri di blog pribadi dan media sosial,” ujarnya.
Inilah menurut dia yang menjadi tantangan dewan kesenian untuk mendata para sastrawan generasi sekarang. “Karena di era digital semakin banyak penulis generasi baru yang tidak terlacak, butuh energi besar untuk mendatanya,” ucapnya.
DKJT mengumumkan tiga sastrawan muda yang dinobatkan sebagai pemenang Sayembara Sastra 2017. Mereka adalah Nanda Alifya Rahma asal Surabaya dan Daruz Armadian asal Yogyakarta untuk kategori manuskrip kumpulan puisi. Selain itu Mashdar Zainal asal Malang dinobatkan sebagai pemenang tunggal untuk kategori mansukrip kumpulan cerpen.
Menurut Indra, ketiga pemenang tersebut selama ini dikenal aktif menerbitkan karyanya melalui blog pribadi, media sosial dan laman daring.
Nanda, misalnya, alumnus jurusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya ini mengaku hampir tidak pernah mengirimkan karya puisinya ke media cetak.
“Beberapa perlombaan sastra yang saya menangkan selama ini juga semuanya digelar secara daring. Baru kali ini saya memenangkan lomba manuskrip puisi,” ucap perempuan berusia 23 tahun itu. (ant)
Tari kolosal 1000 Barong menutup acara Pekan Budaya dan Pariwisata Kediri. Foto: Bangsaonline.com.
Tari kolosal 1000 Barong Nusantara menjadi puncak acara Pekan Budaya dan Pariwisata ke 11, Sabtu (15/8) sore. Acara yang diselanggarakan Pemerintah Kabupaten Kediri, yang di gelar di area kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) ini mampu menyedot antusiasme puluhan ribu penonton.
Puncak acara Pekan Budaya dan Pariwisata yang dihadiri Wakil Bupati Kediri, Drs H Masykuri MM dan para pejabat Pemkab itu juga dihadiri tamu undangan Duta kesenian dari Bontang Kalimantan Timur, Semarang, Wonosobo, Nganjuk, Trenggalek, DKI Jakarta, Malang, Blitar, Tulungagung, Boyolali, Salatiga dan Grobokan.
Selain tari kolosal 1000 Barong, para penonton ini juga dihibur kesenian tarian budaya tari perang dari Bontang Kaltim, tari ngincek atau kepang dari Lamongan dan tari Songgo langit dari Kabupaten Kediri. Pemkab Kediri sengaja mengundang seni tari dari luar daerah sebagai bentuk wujud pengenalan seni budaya kepada masyarakat.
“Sengaja kami mengundang tarian dari daerah lain, untuk mengenalkan kesenian budaya dan melekatkan kesenian. Dan nguri-nguri budaya tetap kita lestarikan,” terang Drs H Masykuri seperti diktuip Bangsaonline.com.
Wakil Bupati Kediri ini mengatakan, penari yang terlibat dalam tari seribu barongan yang digelar dari tahun ke tahun ini semakin meningkat. Hal itu terbukti dari tahun sebelumnya berjumlah 1000 kini menjadi 1700 penari barong. “Tari barongan ini adalah khas Kabupaten Kediri. Harapan kami tari kesenian tradisional semakin dikenal,” ujarnya.
Sekedar diketahui, tari kolosal 1000 Barong ini mempersiapkan waktu yang cukup lama untuk memadukan tarian barongan. Pasalnya, peserta yang ikut pentas bukan hanya dari Kabupaten Kediri. “Tamu undangan dari daerah lain juga berpartisipasi menari untuk tari barongan,” papar Ketua Pasjar Kab Kediri Hary Pratondo. (ist)
Pulau baru di pesisir timur Sidoarjo terjadi akibat endapan lumpur. Foto: KKP.go.id.
Sudah 10 (sepuluh) tahun silam bencana semburan lumpur panas terjadi di Porong, Sidoarjo yang mengakibatkan sekitar 19 desa tenggelam.
Selama hampir 5 (lima) tahun lumpur yang meluap dibuang ke Sungai Porong, lalu aliran sungai menghantarkan lumpur yang kemudian membentuk pulau baru di pesisir timur Sidoarjo. Warga sekitar menamakan pulau yang baru terbentuk dengan sebutan Pulau Sarinah atau Pulau Lusi (Lumpur Sidoarjo).
Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Satyamurti Poerwadi, mengatakan pulau yang terbentuk dari hasil sedimentasi lumpur biasanya tidak terdapat tumbuhan di atasnya.
Sehingga hasil kerukan tersebut ditimbun/direklamasi di area pembuangan yang dikelilingi oleh konstruksi Jetty sehingga membentuk hamparan tanah yang berbentuk pulau yang saat ini dikenal dengan Pulau Lumpur Sidoarjo (Pulau Lusi).
Pulau reklamasi hasil timbunan lumpur pengerukan muara Sungai Porong ini memiliki luas total 94,00Ha. Di dalam lahan reklamasi tersebut juga dibangun Tambak Wanamina seluas 4,90Ha yang tujuan awalnya adalah untuk memantau perilaku biota ikan, apakah ada pengaruh lumpur terhadap kehidupan ikan dimuara.
Berdasarkan hasil pengamatan selama 3 (tiga) tahun berjalan, ikan tetap dapat hidup dengan baik bahkan telah berhasil memproduksi ikan bandeng. Sedangkan sisa lahan seluas 89,10 Ha belum dimanfaatkan secara optimal.
Brahmantya menambahkan kegiatan wisata di Pulau Lusi belum terkelola dengan baik karena sejak awal sejarah terbentuknya pulau adalah sebagai lahan pembuangan lumpur porong bukan untuk di desain sebagai destinasi wisata.
Dalam rangka optimalisasi potensi Pulau Lumpur, KKP bekerjasama dengan pemerintah daerah dan masyarakat akan mengelola Pulau Lusi sebagai Kawasan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) yakni pengembangan wisata yang berwawasan lingkungan dengan tema pemanfaatan, penelitian dan pembelajaran serta pelestarian mangrove.
Proses serah terima aset dari BPLS kepada KKP telah dirintis sejak tahun 2015, namun proses tersebut memakan waktu yang cukup lama dikarenakan beberapa kendala proses administrasi terkait penilaian asset pulau serta pengurusan kepemilikan atas tanah Pulau Lusi. Sehingga baru teralisasi resmi pada Januari 2017.
Selama kurun waktu proses serah terima asset tersebut, KKP pada tahun 2015 telah melakukan beberapa sentuhan pembangunan di Pulau Lusi dalam rangka pengembangan PRPM di Pulau Lusi antara lain: pedestrian track, tracking mangrove, gazebo, menara pandang, kantor pengelola, rumah genset, WC dan instalasi pengolahan air.
Namun pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan lanjutan terhenti dan vakum pada tahun 2016 dikarenakan menunggu kejelasan status proses alih fungsi lahan Pulau Lusi dari BPLS kepada KKP secara resmi.
Tahun ini KKP akan melakukan sertifikasi lahan bekerjasama dengan BPN, agar status pemilikan dan penguasaan lahan sebagai aset KKP bisa jelas.
Ditjen PRL KKP juga sedang mempersiapkan kelembagaan pengelolaan dan kelompok masyarakat, berkerjasama dengan Pemda Sidoardjo dan Dinas KP Provinsi Jawa Timur.
“Kelompok ini sebagai pengelola pemeliharaan berbagai flora dan manajemen aset yang sudah ada dan pengembangan ekowisata di Pulau Lusi juga harus memperhatikan kondisi sosial ekonomi budaya masyarakat setempat,” tambahnya.
Informasi keberhasilan pemanfaatan Tambak Wanamina akan menjadi salah satu potensi atraksi wisata yang akan dikembangkan KKP dalam konsep PRPM Pulau Lusi kedepan.
Minawisata di Pulau Lusi dapat dikembangkan dengan memanfaatkan kondisi pasang surut bagi optimalisasi kolam untuk kegiatan pemancingan dan kedepan pola silvofisheries dapat menjadi pilihan sebagai salah satu daya tarik ekowisata Pulau Lusi.
Pulau Lusi saat ini belum memiliki sarana sanitasi dan kebersihan yang memadai, demikian pula dengan keberadaan kios penjual makanan/minuman masih belum tersedia, namun untuk pengembangan ke depan sebagai destinasi ekowisata, akan disediakan sarana dan prasarana sanitasi/kebersihan, kios makanan/minuman, dan air bersih. (sak)
Event Jember Fashion Carnival semakin menasional. Foto: Jemberfashioncarnival.com.
Karnaval busana tiap tahun digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yaitu Jember Fashion Carnival akan diadakan di Jakarta pada 15 dan 17 Agustus 2017 sebagai bagian acara belanja diskon nasional, Hari Belanja Diskon Indonesia.
Hari Belanja Diskon atau HBD Indonesia yang diselenggarakan pelaku industri ritel tergabung dalam Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan lndonesia (HIPPINDO) merupakan pesta belanja diskon di pusat-pusat perbelanjaan berbagai kota di Indonesia, untuk memeriahkan HUT Ke-72 Republik Indonesia.
“Selain menawarkan promosi belanja, HBD Indonesia juga menggelar acara spesial seperti upacara bendera 17 Agustus oleh para anggota Hippindo, perlombaan khas 17 Agustus, bahkan Jember Fashion Carnival akan kami undang ke Jakarta pada 15 dan 17 Agustus 2017 di Gambir Expo Jakarta,” kata Ketua Panitia HBD Indonesia Fetty Kwartati saat konferensi pers di kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Senin (17/7).
Fetty seperti dikutip Antarajatim.com, menjelaskan HBD Indonesia akan diadakan di pusat-pusat perbelanjaan berbagai kota di Indonesia mulai dari mal modern, rumah toko hingga bandara pada 17 sampai 20 Agustus 2017 dengan program dan potongan harga yang sama.
Selain itu, acara juga dimeriahkan festival belanja akbar bertajuk “Happy Birthday Indonesia Festival” dengan beragam hiburan dan acara pada 15-27 Agustus 2017 di Gambir Expo, JI-Expo Kemayoran, Jakarta.
HBD Indonesia ditargetkan menarik 20 juta orang pembeli serta menjadi festival belanja, kuliner, musik dan hiburan ritel terbesar di Indonesia diikuti lebih dari 200 perusahaan yang mengelola 500 merek lokal dan internasional.
Peringatan HUT ke-72 Republik Indonesia menjadi inspirasi para peritel dalam menarik konsumen di HBD Indonesia. Para konsumen akan memperoleh berbagai promosi yang terkait dengan angka 72 yang ditawarkan oleh para peritel agar berpartisipasi, antara lain diskon hingga 72 persen, harga khusus Rp 72.000, hingga beli 2 dengan hanya membayar Rp 72.000.
Bank Mandiri sebagai salah satu sponsor mendukung penuh pelaksanaan HBD Indonesia dengan menyediakan berbagai kemudahan dan keuntungan tambahan untuk pengunjung dan nasabah Bank Mandiri.
Nasabah dapat menikmati tambahan potongan harga menggunakan debit, kartu kredit, e-Money, dan e-Cash, fiestapoin, cicilan bunga 0 persen hingga 12 bulan dengan menggunakan kartu kredit. Acara akbar itu rencananya akan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 15 Agustus 2017. (ant)
Pembukaan Festival Panji Nasional 2017 di Simpang Lima Gumul, Kediri. Foto: Memo.co.id.
Pemerhati budaya I Wayan Dibia menyebut seharusnya cerita Panji bisa masuk ke intra kurikuler sekolah ketimbang ekstra kurikuler, dengan harapan anak-ana lebih paham tentang budayanya.
“Kalau saya justru masuk intra kurikuler. Bacaan itu harus masuk, kan kabupaten punya hak otonomi,” katanya dalam acara seminar nasional budaya Panji di Auditorium Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Senin.
Ia mengatakan, cerita Panji merupakan bagian dari sejarah Indonesia. Namun, ia menyebut naskah cerita Panji bisa dimasukkan dengan catatan jika pemetaannya sudah se-iya se-kata denga masyarakat luas. Dengan itu, cerita Panji bisa masuk.
Untuk saat ini, ia menyebut beragam gerakan untuk mendukung kebudayaan cerita Panji sudah mulai ada. Namun, gerakan itu masih terbatas dan belum kuat. Gerakan masih seperti ego sektoral dimana hanya sekelompok saja yang bergerak. Padahal, untuk berhasil menjadi gerakan yang kuat, harus saling sinergi.
“Kebiasaan di Indonesia, siapa yang tertarik itu saja yang bergerak. Jika gerakan kecil itu didukung pemerintah daerah dan didukung yang lain, ini jadi gerakan yang besar, apalagi kalau bisa artikulasikan,” katanya, seperti dikutip Antarajatim.com.
Cerita Panji, kata dia, merupakan sebuah karya sastra monumental Indonesia. Dengan itu, sudah tidak ada alasan bagi pemerintah Indonesia yang notabene ingin memperkuat budayanya menolak peninggalan cerita Panji ini. Hal itu juga sesuai dengan yang diungkapkan oleh pengamat budaya Wardiman Djojonegoro.
Mantan Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia ini pun menambahkan, sebenarnya saat ini yang paling utama adalah menyalurkan keinginan agar menjadi gerakan yang lebih formal dalam arti didukung pemerintah daerah yang melibatkan seniman dan budayawan, sehingga dengan itu menjadi gerakan yang besar.
Ia juga mendukung adanya kegiatan festival panji nasional yang digelar di Kabupaten Kediri ini. Terlebih lagi, jika ke depannya Pemkab Kediri mau menjadikan ini sebagai megaproyek yang juga didukung para seniman, mapun para guru.
“Jika hanya sektoral tidak akan bisa mencapai satu tujuan yang begitu luasnya. Tapi, jika ada sinergi saya kira pemerintah pasti akan merespon. Persoalan suara-suara kecil dari sini, dari sana, tapi jika itu sudah dibuat apalagi Pemkab Kediri mau menjadikan ini megaproyek dengan didukung seniman, budayawan, guru,” katanya.
Guru Besar ISI Denpasar tersebut juga mengatakan, cerita Panji juga bukan hanya milik Kabupaten Kediri. Cerita Panji di kalangan masyarakat Bali lebih dikenal dengan Malat, yang merupakan salah satu sumber lakon terpenting dalam seni pertunjukan di Bali.
Cerita ini, kata dia, merupakan sumber lakon terbesar ketiga dalam seni pertunjukan Bali setelah epos Mahabharata dan Calonarang. Lebih dari itu, para seniman di Bali juga telah lama menggunakan cerita Panji sebagai sumber inspirasi untuk melahirkan karya-karya seni ciptaan baru.
Dengan tokoh sentralnya Raden Panji Inukertapati, cerita Panji berkisah tentang dinamika dan romantika perjalanan putra maupun putri raja dari empat kerajaan bersaudara di Jawa, yaitu Kahuripan, Daha, Gegelang dan Singasari. Pertemuan, perpisahan, penyamaran, penculikan, serta pertemupuran di antara mereka menjadi daya tarik dari kisah tersebut.
Namun, jika disimak lebih lanjut, cerita Panji banyak berkisah tentang hal yang cukup relevan dengan kehidupan masyarakat di zaman modern seperti nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, kesucian, keberanian, dan sebagainya. Dengan itu, intinya di balik nuansa feodalnya, cerita Panji menyajikan nilai spiritual, sosial, dan kultural yang masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat zaman sekarang.
Dalam seminar tersebut, selain dihadiri oleh I Wayan Dibia, juga pengamat budaya Wardiman Djojonegoro. Acara tersebut juga dihadiri Wakil BUpati Kediri Masykuri, sejumlah kepala satuan kerja, budayawan, maupun para pelajar di Kabupaten Kediri.
Acara Festival Nasional Panji 2017 diawali dengan tarian berbagai tarian panji, Parade Budaya yang menampilkan ragam kekayaan budaya Panji beserta pawai Mobil hias yang akan menampilkan kreativitas dari berbagai instansi baik swasta maupun pemda Kabupaten Kediri yang juga dimeriahkan puluhan booth untuk mengisi kawasan SLG, berbagai stand pameran, yang terdiri dari Pariwisata, Kampung Panji, dan Rumah Peradapan hingga kuliner dalam Kediri Street Food Festival.
Festival Panji Nasional 2017 juga menyajikan pagelaran kesenian panji dan pentas kreativitas yang disuguhkan tidak hanya hiburan biasa, tetapi juga memberikan edukasi tentang kekayaan seni budaya yang ada dinusantara mulai dari Jemblung Panji dari Kediri, Janger dari Banyuwangi, Kinanti Sekar Rahina dari Jogyakarta, Topeng Losari dari Cirebon, Ketoprak Panji Semirang dari Blitar.
Pagelaran yang ditampilkan pada pagelaran Kesenian Panji serta berbagai kreativitas itu mulai Pionering Creativity Contest, Festival Layang Layang Panji, Teater Panji, dan lain lain juga dipersembahkan kepada masyarakat Kediri sekaligus berbagai kalangan agar masyarakat luas dapat berpartisipasi dalam memeriahkan Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri 2017. (ant)
Kelompok Musik Keroncong Persada asal Kab Sumenep. Foto: Twitter.com @pwipamekasan.
Kelompok musik keroncong Persada asal Kabupaten Sumenep di Pulau Madura, berhasil meraih prestasi terbaik dalam “Parade Keroncong Jatim 2017” yang diselenggarakan oleh Paguyuban Artis Musik Keroncong Indonesia (PAMORI) Jatim.
“Kelompok musik Keroncong Persada ini berhasil meraih prestasi terbaik pada Parade Musik Keroncong yang digelar pada tanggal 8 hingga 9 Juli 2017,” kata pembina musik Keroncong Persada Sumenep, asal Pamekasan Yoyok R Effendy kepada Antarajatim.com di Pamekasan.
Parade masuk keroncong se-Jawa Timur kala itu diikuti oleh 61 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur. Pada kegiatan itu, menghasilkan 5 group penyaji terbaik (tingkat dewasa), yaitu kelompok musik keroncong dari Tulungagung, Blitar, Pacitan, Trenggalek, dan kelompok musik Keroncong Persada Sumenep.
Yoyok yang juga pelatih kelompok musik itu, mengapresiasi dan bangga atas prestasi yang diraih anak-anak asuhnya dalam kegiatan bergengsi di Jawa Timur tersebut.
“Mereka punya komitmen untuk tetap eksis di jalur musik keroncong yang merupakan aset budaya bangsa, di tengah maraknya industri musik kekinian yang serba konsumtif dan profit oriented,” ujar Yoyok yang juga Ketua Persatuan Artif Film Indonesia (Parfi) Pamekasan ini.
Ia menambahkan, walaupun kelompok musik keroncong itu kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat, namun mereka tetap semangat penuh idealisme dalam melestarikan dan menumbuh kembangkan musik keroncong dengan style (gaya) irama musik yang lebih progressif dan adaptif dengan selera industri entertainment masa kini.
Pimpinan musik Keroncong Persada Sumenep Bambang Hermawan, menyatakan, keberhasilan kelompok musik yang dipimpinnya itu berkat keseriusan mereka dan peran aktif pembina dan pelatih, meski persiapan persiapan dalam menghadapi lomba sangat mepet dengan jumlah dana terbatas.
“Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan, kami berangkat dengan tim minimalis, waktu persiapan yang begitu mepet, dengan dana yang pas-pasan, semangat dan kekompakan teman-teman yang telah membuahkan prestasi terbaik ini,” ujar Bambang. (ant)
Ardina Kartika Dewi memperlihatkan Desain Buku Pop Art Asal Usul Aksara Jawa. Foto: Sulvi Sofiana/Tribunnews.com.
Bahasa Jawa menjadi mata pelajaran diwajibkan Gubernur Jawa Timur. Sayangnya, peminat bahasa Jawa tidak sebanyak peminat bahasa asing. Bahkan ada yang kesulitan mempelajari bahasa, adat dan aksara Jawa dibandingkan budaya asing.
Melihat hal ini, mahasiswa tingkat akhir jurusan Desain Komunikasi Visual Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS) Ardina Kartika Dewi (25) memutuskan menganalisa budaya jawa, khususnya aksara Jawa.
Melalui studi literatur dan riset, ia melihat masih belum ada media pembelajaan yang menarik untuk aksara Jawa. “Makanya saya ingin membuat media pembelajaran melalui buku bergambar, dan agar lebih menarik. Buku bergambar itu berisikan asal usul aksara Jawa,” ujar anak tunggal pasangan Antonius Robby Robertus (53) dan Ida Nurbuati (53).
Mengenakan baju merah dengan rambut diikat menjuntai hingga punggung, Ardina menunjukkan buku yang berisi 56 halaman yang dia bawa. Buku tersebut terlihat berwarna dan tebal. Bahkan setiap lembarnya memiliki ketebalan hampir 5 milimeter.
“Saya pelajari asal-usul aksara Jawa ini karena anak sekarang lebih suka cerita Jepang atau cerita rakyat global. Saya ingin mengangkat tokoh tradisional Indonesia,” tegas alumnus SMA Katolik Karitas 3 ini.
Buku yang dibuatnya didesain dengan gaya pop art, yaitu setiap halamannya dibuka akan muncul karakter yang dibuat 3 dimensi. Mulai dari berbentuk kapal, karakter tokohnya yang menyerupai wayang hingga beragam latar zaman dahulu.
“Saya menuliskan cerita dari ilustrasi berbentuk pop art dengan bahasa jawa, bahasa indonesia, dan aksara Jawa,” tegasnya seperti dikutip Surya.co.id. Di setiap lembarnya, buku ini menceritakan asal usul Ajisaka bersama 2 abdinya yang bernama Dora dan Sembada.
Tiga karakter ini sengaja ia buat menjadi desain 3 dimensi, bahkan ia juga membuat karakter lain dalam cerita ini, yaitu Patih, mbok Randha Sengkeran dan Prabu Dewata Cengkar.
“Mereka datang ke tanah Jawa dengan tujuan menyebarkan ilmu pengetahuan. Mereka masuk dari desa ke desa dan kota ke kota. Kepergian Ajisaka ini telah membuat kedua abdinya meninggal. Untuk itu dia mengabadikan kesetiaan dua abdinya menggunakan aksara Jawa carakan,” paparnya.
Di akhir buku, terdapat beberapa panduan menulis aksara Jawa layaknya pepak bahasa Jawa. Hanya saja buku ini juga memuat latihan soal untuk mencoba penulisan aksara Jawa.
Dikatakannya, ia membutuhkan waktu 2 tahun menyusun buku impiannya tersebut. Prototype awal yang ia buat memakai art paper membuat tampilan buku tidak maksimal dan terkesan lembek. Akhirnya dia membuat buku kembali menggunakan kertan pensibisi.
“Saya juga kesulitan mencari ketikan aksara Jawa yang cukup langka. Dapatnya dari guru bahasa Jawa sekaligus Kepala Sekolah Citra Berkat,” ujarnya. Meskipun buku yang menjadi tugas akhirnya ini memakan waktu 2 tahun, ia merasa terbantu dengan dukungan orangtua.
Walaupun sempat diminta orangtua mengganti jenis tugas akhirnya, tetapi kedua orangtuanya akhirnya malah membantu mencari percetakan dan sumber untuk melengkapi bukunya.
“Saat ini saya masih cetak mandiri, dan menghabiskan dana hingga Rp 1.500.000. Rencananya saya mau mencari penerbit agar bisa diproduksi massal dan dijual dengan harga yang lebih terjangkau,” harapnya. (ist)