Panji Merajut Keharmonisan Nusantara

foto
Pembukaan Festival Panji Nasional 2017 di Kediri. Foto: Kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Bertepatan dengan hari lahir Kediri, Kementerian Pendidikan dan kebudayaan bekerja sama dengan Pemerintah Kota dan Kabupaten Kediri menyelenggarakan Festival Panji Nasional 2017.

Acara yang diselenggarakan di Simpang Lima Gumul Kabupaten Kediri ini dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bupati Kediri, Perwakilan Gubernur Jawa Timur, Direktur Kesenian Kemendikbud serta disaksikan ribuan masyarakat Kediri (16/7).

Dalam sambutannya Mendikbud Muhadjir Effendy, sangat mendukung kegiatan yang mengangkat budaya Kabupaten Kediri tersebut karena merupakan salah satu peninggalan kekayaan budaya yang luar biasa. Cerita Panji ini adalah karya cipta simbol pertama kebangkitan sastra lisan di Jawa Timur, sebagai wilayah kerajaan besar yang menyatukan Nusantara.

Selain itu, Menteri kelahiran Madiun itu mengharap cerita Panji ada dalam kurikulum pendidikan sebagai bentuk pelestarian dan penanaman karakter. “Jangan sampai anak-anak didik yang dari Kediri tidak tahu di daerahnya ada kekayaan budaya yang luar biasa,” tambahnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jatim Jarianto mewakili Gubernur Jatim mengatakan bahwa persebaran cerita Panji di berbagai wilayah nusantara merupakan bentuk keberagaman dan kekayaan khasanah budaya Panji.  “Panji, dari Kediri untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk Dunia,” ujarnya. Hal ini senada dengan tema acara ‘Panji Merajut Keharmonisan Nusantara’.

Bentuk keragaman budaya Panji ini diwujudkan dalam pertunjukan seni terpadu berbagai jenis kesenian yang mendapat pengaruh dari cerita Panji antara lain Kethek Ogleng, Reog Ponorogo, Tari Topeng dan Tari Gambuh. Selain itu juga ditampilkan parade karnaval yang mewakili berbagai cerita Panji di Nusantara misal Timun Mas dan Ande-ande Lumut.

Sebagai salah satu upaya melestarikan budaya Panji, Kemendibud melaui Direktorat Jenderal Kebudayaan saat ini juga sedang melakukan upaya pengajuan Cerita Panji sebagai Memmory of the World di UNESCO. (sak)

Ajang Budaya Plus Bisnis di Festival Indonesia Moskow

foto
Festival Indonesia Moscow, gabungan ajang pentas budaya dan kepentingan bisnis. Foto: RMOL.co.

Festival Indonesia kedua akan digelar di Hermitage Garden Moscow, Rusia pada 4-6 Agustus 2017 mendatang. FI Moskow 2017 ini tidak hanya sebagai ajang pentas budaya, tetapi juga ada kepentingan ekonomi.

Demikian disampaikan Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI bidang Diplomasi Ekonomi, Ridwan Hassan, dalam pertemuan persiapan FI Moskow 2017 di kantor Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, kemarin, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima sesaat lalu.

“Hubungan Indonesia dengan Rusia meningkat dari waktu ke waktu. Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia tahun 2016 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, termasuk nilai ekspor Indonesia ke Rusia,” jelasnya seperti dikutip RMOL.co.

Pertemuan di Kemlu itu sekitar 165 orang yang merupakan perwakilan dari berbagai kalangan, baik Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah/Kabupaten/Kota, pelaku usaha dan asosiasi pengusaha yang akan berpartisipasi pada FI Moskow 2017.

Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia M. Wahid Supriyadi mengatakan potensi besar Rusia dapat dimanfaatkan oleh Indonesia, antara lain melalui pelaksanaan Festival Indonesia.

“Tema Festival, yaitu ‘Visit Wonderful Indonesia-Enjoy its Diversity’ difokuskan pada potensi daerah-daerah Indonesia di bidang Pariwisata, Investas dan Perdagangan,” kata M Wahid Supriyadi yang khusus hadir dalam pertemuan tersebut dari Moskow.

Rangkaian kegiatan FI Moskow 2017 berupa forum bisnis, pameran produk Indonesia, fashion show, kuliner, pertunjukan seni dan budaya, dan layanan informasi tentang Indonesia. Selain itu, direncanakan juga peluncuran Paviliun Indonesia di Food City Moscow sebagai tempat Permanent Display untuk komoditas ekspor industri pangan Indonesia di Rusia.

Tiga hari pelaksanaan FI Moskow 2017 pada musim panas dengan keindahan Hermitage Garden Moscow yang dipadukan dengan nuansa Indonesia akan diikuti oleh sekitar 500 peserta dari Indonesia dan diharapkan dikunjungi oleh sekitar 100 ribu orang Rusia dan dari negara-negara di sekitarnya. Pada FI Moskow 2016 yang dilaksanakan selama dua hari, diikuti oleh sekitar 400 peserta dari Indonesia dan dikunjungi oleh sekitar 70 ribu orang.

Sejumlah daerah di Indonesia, baik Pemerintah Daerah, Kota maupun Kabupaten, termasuk KADIN Daerah dan para pelaku usaha akan turut serta menyukseskan FI Moskow 2017.

Daerah-daerah tersebut seperti Aceh, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Bogor, Tengerang Selatan, Jawa Tengah, Semarang, Boyolali, Jawa Timur, Surabaya, Malang, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Bali dan Papua. Selain itu, Menteri Perdagangan RI direncanakan juga akan hadir pada Festival tersebut.

“Pemerintah Kabupaten Boyolali akan mendukung kesuksesan FI Moskow 2017 dengan pengiriman delegasi bisnis dan tim kesenian, antara lain Krakatau Band,” kata Bayu Sahid dari Pemkab Boyolali. Rusia merupakan negara yang memiliki potensi besar dalam kerja sama dengan Indonesia, khususnya di bidang perdagangan, investasi dan pariwisata. (rmol)

Cak Nur Resmi Daftar Cagub lewat Demokrat

Surabaya – Ketua Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur Drs Nurwiyatno MSi akhirnya resmi mendaftar sebagai calon gubernur (Cagub) sekaligus calon wakil gubernur (cawagub) Jatim periode 2018-2023 melalui Partai Demokrat. Cak Nur, sapaan akrab Nurwiyatno,  mengambil formulir di kantor DPD Partai Demokrat Jatim di Jalan Kertajaya Indah dengan diantar ratusan seniman dan pemuda yang mendukungnya, Minggu (16/7) siang.

Cak Nur diarak pendukungnya di depan kantor DPD Partai Demokrat Jatim, Jalan Kertajaya Indah, Surabaya, Minggu (16/7)

Mantan pejabat Walikota Surabaya yang mengenakan hem putih dan bawahan hitam itu diarak dengan menaiki jeep bak terbuka. Dalam arak-arakan pendukung yang mengenakan pin bergambar Cak Nur Gubernur mulai depan Lapangan KONI hingga ke markas Partai Demokrat Jatim itu dimainkan kesenian Barongan sumbangan seniman-seniman asal Tulungagung dan Kediri. Ada pula kesenian Bantengan dari Pandaan dan Mojokerto, musik patrol dari Gresik dan Surabaya, serta penampilan teater puluhan seniman gabungan.

“Kami mohon doa restu ke masyarakat dan menyatakan diri siap maju sebagai bakal calon Gubernur Jatim untuk ikut di Pilkada 2018 ,” ucap Cak Nur kepada wartawan di sela-sela pengambilan formulir pendaftaran cagub-cawagub.

Keinginan maju pilgub ini, lanjut Cak Nur,  karena ingin meneruskan program pembangunan yang sudah 10 tahun dijalankan Gubernur Soekarwo yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Jatim. “Saya banyak belajar dari beliau. Saya hanya ingin meneruskan program pembangunan beliau. Kebetulan kami sama-sama kader GMNI dan berlatar belakang birokrat,” jelas pria yang saat ini menjabat Kepala Inspektorat Provinsi Jatim itu.

Dalam kesempatan itu, Cak Nur menegaskan dirinya siap mundur dari jabatannya apabila resmi dicalonkan sebagai cagub/cawagub dalam Pilgub Jatim 2018. “Saya siap mencopot jabatan saya demi Jawa Timur,” ujar pejabat yang sudah 34 tahun berkarir di birokrasi ini.

Setelah (mendaftar) ini, saya akan membentuk tim untuk mengondisikan (dukungan),” jelasnya. Salah satunya dengan melakukan komunikasi bersama seluruh elemen. Seperti generasi muda, dan beberapa elite partai yang ada di Jatim. Kendati diakui dia, hingga saat ini belum sempurna terbentuk visi dan misi yang bakal diusungnya dalam pertarungan menuju Grahadi-1.

“Soal visi dan misi perlu ada pembahasan antara saya dengan para pendukung. Visi dan misi nanti bagaimana yang baik. Jangan sampai keluar, tapi tidak bagus. Jadi tidak bisa sembarangan, karena menyangkut masyarakat Jatim,” papar birokrat kawakan pemprov itu.

Nurwiyatno adalah orang ketiga yang mendaftar mengambil formulir di Partai Demokrat Jatim. Sebelumnya, Saifullah Yusuf (Wagub Jatim) dan Nur Hayati Aasegaf (Waketum Partai Demokrat) sudah mengambil lebih dulu.

Partai Demokrat Jatim membuka pendaftaran cagub dan cawagub Jatim untuk Pilkada 2018 sejak 12 Juli lalu dan ditutup pada 31 Juli mendatang.

Meriahnya prosesi pendaftaran Cak Nur sebagai cagub ini, lanjut Sekretaris PA GMNI Jatim Ony Setiawan, merupakan wujud dukungan riil para seniman dan pemuda di Jatim. “Mereka menghargai terhadap komitmen Cak Nur terhadap para seniman di Jatim,” jelas Ony.

Penampilan kesenian yang dipimpin Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur Taufik Monyong tersebut menceritakan tentang perjuangan rakyat dalam meraih kemenangan dan merebut kemerdekaan “Tanah Air”.

Ony menerangkan, ada tiga alasan kenapa Cak Nur maju pilgub.
Pertama, Nurwiyatno adalah birokrat senior di pemprov Jatim sehingga sangat paham dengan berbagai persolan pemerintahan daerah di Jatim.
Kedua, Nurwiyatno dinilai mampu melakukan komunikasi politik dengan berbagai parpol di Jatim. Hal ini dapat dibuktikan pada para anggota DPRD provinsi Jatim (sebagai reprentasi parpol yang ada di lembaga legislatif) yang mengenal baik sosok Cak Nur ini.

“Ketiga, Nurwiyatno, adalah mantan aktivis yang tergabung dalam GMNI di Universitas Jember dan sekarang menjadi Ketua PA GMNI Jatim yang diakui memiliki jaringan politik yang cukup luas di Jawa Timur,” tuturnya.

Pria kelahiran Surabaya 10 September 1958 itu telah menyerahkan dan menandatangani sejumlah persyaratan adminitrasi, seperti formulir pendaftaran, daftar riwayat hidup, salinan identitas dan sejumlah dokumen lainnya.

Saat mendaftar Cak Nur diterima Sekretaris PD Demokrat Jatim Renville Antonio, Wakil Ketua selaku Koordinator Divisi Pendaftaran, Adminitrasi dan Koordinasi Wilayah Maskur dan pengurus struktural lainnya.

Sementara itu, Renville Antonio mengapresiasi proses pendaftaran Cak Nur sebagai bacagub dan berharap kelengkapan persyaratan lainnya diserahkan sebelum 31 Juli 2017 atau bersamaan dengan penutupan pendaftaran. “Setelah ini kami akan memproses dan verifikasi kelengkapan, kemudian diserahkan ke majelis tinggi dan selanjutnya menunggu keputusan dari pusat,” kata anggota DPRD Jatim tersebut.

Karir organisasi Cak Nur adalah Ketua PD PA GMNI Jatim 2015-2020. Sebelumnya dia menjabat Wakil Bendahara Pengurus Pusat PA GMNI 2010-2015 yang dipimpin Pakde Karwo. Semasa kuliah, dia aktif sebagai kader GMNI di Universitas Jember.

Sementara di birokrasi Pemprov Jatim, Cak Nur tercatat bertugas selama 24 tahun di Inspektorat mulai menjadi staf hingga sekretaris. Kemudian, 7 tahun pernah menjabat sebagai Kepala Biro Keuangan Pemprov (era Gubernur Imam Utomo) dan Kepala BPKAD Jatim (era Pakde Karwo periode pertama). Cak Nur juga pernah mengincipi menjadi Pj Walikota Surabaya (5,5 bulan) sejak September 2015. Dan, sejak tahun 2015 hingga saat ini menjadi Inspektur Provinsi Jatim.

(Sumber : kompas, antara jatim, radar jawapos)

Kredit Sektor UMKM di Jatim Meningkat Pesat

SURABAYA – Kucuran kredit perbankan di Jawa Timur (Jatim) selama triwulan I/2017 tercatat naik 7,9% dibanding periode sama tahun lalu menjadi sebesar Rp 458 triliun. Sedangkan besaran kredit untuk sektor usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) tercatat Rp127 triliun, naik 22,26% dibanding periode sama tahun lalu.

Dari total kredit UMKM tersebut, data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Jatim menunjukkan, untuk kredit mikro sebesar Rp27 triliun, turun 3,09%, kecil Rp37 triliun, tumbuh 0,89% dan menengah sebesar Rp63 triliun, tumbuh 20,88%.

Kredit UMKM mayoritas didorong dari peningkatan kredit investasi dan kredit modal kerja serta sektor pertanian. “Industri pengolahan dan sektor konstruksi juga berkontribusi besar dalam peningkatan kredit sektor UMKM,” kata Kepala KPBI Jatim, Difi Ahmad Johansyah. Lanjutkan membaca “Kredit Sektor UMKM di Jatim Meningkat Pesat”

Motor Roda Tiga Seliweran di Banyuwangi

Surabaya – Sepeda motor roda tiga kini tengah menjadi perbincangan masyarakat. Selain fitur-fiturnya tergolong “mewah”, mobil ‘rakyat’ ini harganya terjangkau karena hanya dibanderol antar Rp 15-20 jutaan.

Namun sayang, tidak semua penjual motor roda tiga “mewah” benar adanya. Beberapa distributor yang ditelusuri tim redaksi Otomania.com ternyata fiktif, dan dijadikan sebagai aksi penipuan.

Hanya ada satu pedagang yang benar, yaitu penjual motor listrik roda tiga di komplek Pertokoan Sinar Galaxi Pasar Turi, Surabaya, Jawa Timur. Tim Otomania.com pernah berkunjung ke toko tersebut. Lanjutkan membaca “Motor Roda Tiga Seliweran di Banyuwangi”

Miniatur Krucil Panji Dipamerkan Hingga Swiss

foto
Miniatur Krucil Panji dipamerkan hingga Swiss. Foto: Moh Fikri Zulfikar/JawaPos.com.

Serbuk kayu bertaburan di sekitar rumahnya di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Siang itu pria yang juga dalang wayang krucil tersebut sibuk mengukir kayu. Terlihat papan kayu yang mulai membentuk beberapa pola yang menyerupai tokoh-tokoh wayang.

Karyanya itu bukanlah wayang yang akan digunakan dalam pergelaran pentas, melainkan untuk suvenir karena bentuknya lebih kecil. Sang perajin miniatur wayang krucil tersebut adalah Khoirudin atau yang biasa dikenal dengan nama panggung Ki Kondo Brodianto.

Miniatur wayang karya dalang yang biasa dipanggil Brodin itu selalu bertemakan kisah Panji asli Kediri. Di ruang depan rumahnya, terlihat beberapa karyanya berupa miniatur wayang dengan tokoh Pangeran Gunung Sari, Panji Asmara Bangun, hingga Dewi Sekartaji.

Tak heran, suvenir unik tersebut memang cocok untuk oleh-oleh khas Kediri. ”Saya ambil karakter miniatur wayang cerita Panji asli Kediri. Jadi, identik dengan daerah di sini,” ungkapnya, seperti dilaporkan Jawapos.com.

Usaha pembuatan miniatur wayang krucil yang cocok untuk hiasan tersebut dimulai Brodin sekitar tiga tahun yang lalu. Saat itu dia dimintai bantuan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kediri untuk membuat miniatur wayang krucil.

Pembuatan miniatur tersebut awalnya merupakan hal yang baru baginya. Sebab, dari awal, Brodin hanya membuat wayang krucil dalam bentuk kayu. ”Saat itu pesanan disbudpar atas perintah bupati. Sebab, beliau hendak melakukan kunjungan ke NTB,” terangnya.

Karena tertarik, Brodin kemudian membuatkan miniatur wayang yang nanti ditujukan untuk suvenir. Ternyata benar, saat bupati berkunjung ke NTB, karya pertamanya tersebut diberikan untuk kenang-kenangan khas Kabupaten Kediri.

Sejak itu, pesanan suvenir miniatur wayang krucil Panji tersebut terus berkembang. ”Setelah pesanan bupati, saya mendapat pesanan lagi untuk kenang-kenangan tamu luar kabupaten ketika ada event Pekan Budaya 2014,” ujar seniman berumur 37 tahun tersebut.

Pesanan dari disbudpar pun berlangsung hingga Pekan Budaya 2016. Temanya tetap mengambil kisah Panji Balik Kampung. Pesanan itu dibuatnya setiap pekan budaya tiga tahun ini.

Setiap event, Brodin mendapatkan pesanan hingga 60 suvenir. Untuk pekan budaya 2017 –yang diadakan tepat pada Juli akhir ini, dia mendapatkan 60 pesanan lagi. ”Hari-hari ini saya lagi membuat miniatur wayang krucil untuk pekan budaya,” ungkap bapak dua anak tersebut.

Karya Brodin juga mudah ditemukan saat ada event pameran produk kerajinan dari usaha kecil dan menengah (UKM) yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kediri. Di beberapa pameran, dia selalu diundang. Bahkan hingga pameran UMKM di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. ”Ya, selain dipamerkan, kami jual sebagai suvenir,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, karena namanya sudah dikenal antardinas, Brodin juga mendapatkan pesanan dari Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Mojokerto. Mereka memesan lewat Disbudpar Kabupaten Kediri. Dari pemesanan tersebut, dia mengirim 60 miniatur wayang krucil ke sana.

Karena kualitas dan desain karyanya berkualitas, miniatur wayang krucilnya pernah mewakili Disbudpar Provinsi Jawa Timur untuk dipamerkan dan dijual ke Swiss. Itu berlangsung sekitar dua tahun yang lalu. ”Walau pembuatnya tidak pernah ke sana, tapi alhamdulillah karya saya sudah dibawa sampai ke sana,” katanya.

Padahal, tak mudah membuat karya miniatur wayang krucil khas Kediri tersebut. Setelah memotong kayu dalam bentuk batangan, Brodin harus membentuknya menjadi papan. Lalu, dia membuat pola atau biasa disebut dimal. Selanjutnya, pola itu diukir dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan. ”Sebab, miniatur polanya lebih rapat dan kecil. Ini yang sulit,” ungkap pria kelahiran 14 Oktober 1981 tersebut.

Kayu yang digunakan untuk miniatur wayangnya pun tidak sembarangan. Harus kayu mentaos. Brodin memilih kayu tersebut karena memiliki serat yang padat sehingga lebih awet daripada kayu jati. Tujuannya, menjaga kualitas karyanya. ”Saat dipelitur pun, tanpa diwarnai. Kayu mentaos sudah indah setelah diukir polanya,” tuturnya. Dengan kualitas yang prima, miniatur krucil Panji karyanya berharga Rp 170–270 ribu. Sesuai dengan kerumitan pesanan dan ukurannya. (jpg)

Perjuangkan Pesona Budaya Lokal yang Mendunia

foto
Marifatul Kamila berharap pesona budaya lokal Banyuwangi dapat meningkatkan peran serta anak-anak muda di bidang kreatif. Foto: Tribunnews.com.

Dimata seorang seniman, warna bisa dijadikan ikon dan juru bicara kebudayaan yang memiliki kekuatan simbolik. “Alam di sekitar kita menyajikan warna-warni yang sangat kaya. Dari situ kita mengidentifikasi persepsi manusia terhadap warna-warni benda yang ada di alam, kemudian kita tuangkan dalam berbagai bentuk karya, diantaranya melalui seni Batik,” ungkap Marifatul Kamila SH, belum lama ini.

Menurutnya, warna memiliki korelasi dengan karakter individu dan kebangsaan. Sebuah institusi bisnis, misalnya, biasanya mempunyai corporate color. Negara memiliki color of nation yang umumnya tercermin di bendera Nasional mereka.

“Partai-partai politik menggunakan simbol-simbol warna untuk menunjukkan identitas dan eksistensi di benak para pengikutnya,” jelas Marifatul Kamila yang juga anggota DPRD Banyuwangi ini seperti dilaporkan Tribunnews.com.

Perempuan kelahiran 31 Juli 1973 ini, adalah satu dari sekian banyak seniman Batik yang ada di kota paling ujung Timur pulau Jawa. Melalui seni Batik, Ifa, demikian sapaan akrabnya, ingin mengenalkan Banyuwangi pada dunia.

“Batik Banyuwangi harus dikenal dan bahkan harus lebih populer di banding karya Batik dari daerah lain. Saya ingin Batik Banyuwangi di kenal di seluruh dunia,” ujar pendiri dan pemilik Rumah Batik Kharisma Banyuwangi, dengan belasan pengrajin Batik ini.

Batik Kharisma kini tidak hanya di pasarkan di Banyuwangi dan kota-kota di Jawa Timur dan sekitarnya, melainkan juga terdistribusi hingga ke Bali dan Jakarta. Untuk produk-produk tertentu, terang Ifa, Batik Kharisma juga dibeli dan menjadi koleksi warga mancanegara yang berkunjung ke Bali dan Banyuwangi.

Pengukuhan Batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, setidaknya kian membuka peluang pasar Batik di mancanegara. Bagi Ifa, membatik bukan hanya kegiatan bersifat ekonomis, melainkan juga kegiatan budaya, serta dapat dijadikan sarana pembentukan karakter.

Pendidikan karakter bangsa, kata Ifa, harus menjadi dasar bagi terwujudnya spirit kebangsaan. Hal ini salah satunya dapat dihasilkan melalui pemberdayaan kultural (Seni Membatik).

“Sekarang ini teknologi informasi (IT) makin canggih. Pemanfaatan IT tidak bisa ditawar. Tapi tidak boleh melupakan akar budaya. Iptek harus tumbuh berbasis kultural agar menghasilkan kesejahteraan sesuai peradaban bangsa. Salah satunya kami tanamkan melalui kriya Batik,” kata perempuan yang pernah membintangi Film Televisi Produksi Lokal Banyuwangi ‘Tak Selamanya Putih’ dan ‘Sritanjung Sidopekso’ ini.

Apa yang diupayakan Ifa, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Banyuwangi, yang kini terus menggiatkan masyarakatnya melalui berbagai event kebudayaan.

Sejak penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival tahun 2011, kegairahan masyarakat Banyuwangi seakan tak terbendung untuk mengangkat potensi dan budaya daerahnya, baik melalui kegiatan yang bersifat seni, budaya, fesyen, dan wisata olahraga.

Pemberdayaan generasi muda sebagai frontliner untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia sangat dibutuhkan. Hal ini untuk mempercepat kemajuan industri berbasis budaya dan pariwisata Indonesia di masa mendatang.

Oleh karena itu, Ifa berharap pesona budaya lokal Banyuwangi ini dapat meningkatkan peran serta anak-anak muda di bidang kreatif. “Generasi muda harus menjadi elemen penting. Apabila generasi mudanya memiliki kualitas unggul dalam memajukan budaya daerah yang didasarkan pada keimanan dan akhlak mulia, insya Allah bangsa ini akan besar,” ujarnya optimis. (ist)

Ritual Keduk Beji di Ngawi Makin Mentradisi

foto
Ritual budaya Keduk Beji di Ngawi. Foto: Siagaindonesia.com.

Ritual tahunan akan budaya ‘Keduk Beji’ di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang digelar secara turun temurun oleh warga sekitar kali ini dikemas berbeda dari tahun sebelumnya. Salah satu budaya asli bumi orek-orek Ngawi ini terlihat makin mentradisi terbukti cukup diminati para pengunjung untuk melihatnya.

“Adanya ritual adat Keduk Beji ini kita harapkan semua elemen masyarakat harus melestarikan terutama warga Desa Tawun. Karena apa ritual yang sudah turun temurun ini harus diwariskan ke anak cucu kita nanti agar mereka tahu akan budaya yang dimiliki terlebih 2017 ini sebagai tahun kunjungan wisata atau Visit Ngawi Years,” terang Ony Anwar, Wakil Bupati Ngawi yang hadir di lokasi, Selasa (04/07) lalu.

Jelasnya, saat ini potensi budaya lokal memang dirasakan makin minus dan tergerus budaya global. Adanya Keduk Beji sebagai satu wahana budaya yang harus dikedepankan sebagai bagian identitas daerah.

“Setiap daerah mempunyai ikon khas akan budaya seperti grebek suro yang ada di daerah lain. Dan di Ngawi ini setidaknya ada Keduk Beji dan menjadi satu pertanyaan apabila kegiatan yang sudah mentradisi ini terkikis oleh budaya luar. Kewajiban kita tidak lain adalah melestarikanya,” bebernya kepada SiagaIndonesia.com.

Sementara terkait tradisi Keduk Beji dari berbagai sumber yang ada memang menyebutkan selalu digelar pada hari Selasa Kliwon atau yang biasa digelar setiap masa panen raya selesai. Ritual itu digelar sebagai sarana penghormatan kepada Eyang Ludro Joyo atas sumber penghidupan Keduk Beji.

Prosesi upacara adat ini di awali ratusan warga Desa Tawun berkumpul di sumber berukuran 20 x 30 meter. Ritual dimulai dengan melakukan pengerukan atau pembersihan kotoran dengan mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori sumber mata air Beji yang berada di Desa Tawun.

Kemudian Supomo selaku sesepuh Desa Tawun selaku juru silep atau juru selam yang sudah dikenal ini mengatakan, upacara Keduk Beji ini, merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu. Tujuan utamanya adalah mengeduk atau membersihkan Sumber Beji dari kotoran.

Menurutnya, inti dari ritual Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi yang berisi air legen di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang terdapat di dalam sumber Beji sendiri. Ritual ini berawal dari (legenda) warisan Eyang Ludro Joyo yang dulu pernah bertapa di Sumber Beji untuk mencari ketenangan dan kesejahteraan hidup.

Setelah bertapa lama, tepat di hari Selasa Kliwon, jasad Eyang Ludro Joyo dipercaya hilang dan timbulah air sumber ini. Ritual ini berawal dari pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh pemuda desa terjun ke air sumber untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir. (ist)

Perjuangan Komunitas Perupa Jatim Menuju Texas

foto
Perjuangan Komunitas Perupa Jawa Timur untuk menembus pasar dunia sedang diuji. Foto: Jawapos.com.

Para perupa Jawa Timur punya gawe. Karya-karya terus dilontarkan bak amunisi untuk berperang. Lewat karya, 40 perupa Jawa Timur yang tergabung dalam Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati) siap berperang di negeri orang. Bukan sebagai ajang adu kepiawaian menggambar. Tapi, untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia ke dunia.

Tak ada karya yang sempurna. Itulah yang dibahas saat diskusi di sekretariat Koperjati beberapa waktu lalu. Diskusi tersebut berisi agenda evaluasi karya dari 40 seniman yang akan mengikuti pameran Art Culture (@rtcult) di Dallas, Texas.

Artcult merupakan event kerja sama antara Koperjati dan Artists Showplace Gallery, Dallas. Kerja sama terjalin dari relasi yang dibangun antara para seniman di Indonesia, khususnya Jawa Timur, dan galeri tempat acara plus komunitas masyarakat Indonesia di Dallas. Pameran akan dihelat pada 9–23 September 2017.

Sebanyak 40 pelukis sudah melalui tahap seleksi internal yang dilakukan Koperjati. Di antaranya, para pelukis dari Surabaya, Sidoarjo, Singosari (Kabupaten Malang), Malang, Batu, Bondowoso, Ponorogo, dan Lumajang. Mereka merupakan hasil saringan dari sekitar 200 pelukis Jawa Timur yang tergabung dalam komunitas tersebut.

Event tersebut diharapkan bisa menjadi promosi wisata, khususnya tentang seni dan kebudayaan Jawa Timur. ”Masyarakat Indonesia di sana sangat menanti kedatangan kami,” terang Ketua Koperjati Muit Arsa kepada Jawapos.com beberapa waktu lalu.

Pelukis kelahiran 17 Agustus 1971 itu sedang mengupayakan pengajuan dukungan untuk memberangkatkan karya-karya para pelukis Jawa Timur ke Dallas. ”Yang paling berat adalah biaya akomodasi. Kami sedang mengupayakan pengajuan bantuan dari pemerintah kota maupun provinsi. Semoga ada kepedulian,” paparnya.

Selain itu, lanjut dia, Koperjati mengharapkan bantuan dari Dinas Kebudayaan Jawa Timur (Disbudpar Jatim) untuk mengirim delegasi penari guna ditampilkan pada saat acara pembukaan.

Hingga kini persiapan yang telah dilakukan selama empat bulan mulai terlihat. Sembari menyeruput kopi, para seniman berdiskusi. Atas kesadaran diri sendiri, satu per satu mempresentasikan karya. Para seniman yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur itu terlihat sangat antusias mempersiapkan karya terbaik.

”Persiapan terkait bahan yang akan dipamerkan sudah hampir 90 persen,” ujar Muit Arsa. Sebagian karya yang sudah jadi secara fisik dibawa dan didiskusikan. Karya yang masih dalam proses pembuatan dipresentasikan secara digital.

Karya-karya tersebut tentu punya aliran, konsep, dan media yang beragam. Setiap perupa diminta untuk mempresentasikan dua karya. Setelah itu, tim dari komunitas akan menyeleksi dan memilih satu lukisan untuk dikirim ke Dallas. Para pelukis membawa rancangan atau lukisan yang sudah jadi dalam ukuran yang sudah ditentukan.

”Ukuran disesuaikan dengan dimensi ruang pameran. Jadi, para perupa tidak bisa memilih ukuran,” jelasnya. Meski demikian, tema yang diusung harus seragam. Yakni, tentang kebudayaan atau kehidupan di Jawa Timur.

Selain menjadi ketua Koperjati, Muit merupakan pelukis spesialisasi model perempuan. Aliran yang diusungnya adalah exotic art atau exo art. Objeknya perempuan. Hampir semua karyanya mengeksplorasi berbagai sudut pandang tentang perempuan. Termasuk keindahan tubuhnya.

Tak meninggalkan jati diri, dia membawa karya yang berjudul Welcome to Indonesia. Sosok perempuan manis berbalut kostum wayang tampak tersenyum ramah di kanvas berukuran 110 x 140 sentimeter. Mirip sosok Sinta pada kisah pewayangan Ramayana. Sosok tersebut merupakan gambaran seorang dewi dengan keramahannya yang sedang menyambut kehadiran wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

Karya yang lain datang dari Agus Desoe. Lukisan tersebut diberi judul Langit Kembali Biru. Pada kanvas berukuran 90 x 120 sentimeter, tampak sosok elok Patung Liberty. Uniknya, patung kebanggaan Amerika Serikat itu dilukis dengan mengenakan batik parang. Ya, Agus memang terkenal dengan lukisan surealisme yang banyak menghasilkan kejutan.

Patung itu membawa buku yang berjudul Buku Pintar. Judul tersebut multitafsir. Agus membebaskan siapa saja yang melihat untuk mengartikannya. ”Misalnya, buku pintar bisa saja ditafsirkan sebagai buku seribu mimpi, primbon, buku pelajaran, bahkan kamasutra,” papar pria 44 tahun tersebut.

Melalui lukisannya, perupa asal Kota Batu itu bermimpi kelak Indonesia bisa maju seperti Amerika. Itu adalah mimpi yang dia dapatkan ketika tidur. Mimpi tersebut kemudian menjadi inspirasi untuk membuat lukisan itu. ”Kalau toh mimpi itu terlalu jauh, setidaknya kita bisa menjalin relasi dengan baik,” tambahnya, lalu tersenyum.

Sementara itu, pelukis asal Surabaya, Dewi Ulantina, menghadirkan karya dengan karakternya yang khas. Warna-warna ceria tergores di atas kanvas hitam. Dewi menyebut karya-karyanya memiliki aliran naif. Sesuai penafsirannya, dia kerap menghadirkan sosok anak kecil. Pribadi yang dikenal masih lugu dan apa adanya menjadi daya tarik di setiap karya yang dibuat Dewi.

Pada saat diskusi beberapa waktu lalu, karya Dewi masih setengah jadi. Namun, sudah terlihat sosok anak perempuan yang mengenakan kebaya. ”Ini rencananya saya mau bikin si anak membawa mainan tradisional di tangan,” jelasnya. Sebagai seorang seniman, Dewi berharap proyek itu dapat menjadi batu pijakan untuk melangkah lebih jauh. Bukan hanya membawa nama pribadi, yang terpenting mem-branding Indonesia sebagai negara yang kaya budaya di mata dunia. (jpg)

Surabaya Akui Kesulitan Lestarikan Ludruk

foto
Mantan Ketua MK Mahfud MD saat bermain Ludruk bersama Kartolo. Foto: Antara/M Agung Rajasa.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengaku kesulitan melestarikan kesenian tradisonal Ludruk, yang kini mati suri karena ditinggalkan para penggemarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Widodo Suryantoro di Surabaya mengatakan selama ini kebanyakan pemain Ludruk yang masih ada berasal dari luar Kota Surabaya.

“Dulu di Surabaya ada Cak Markeso, Cak Markuat, Cak Kancil tapi sekarang tidak ada penerusnya. Kebanyakan penerusnya alih profesi,” katanya seperti dikutip Antarajatim.

Menurut dia, untuk melestarikan Ludruk sebetulnya pihaknya sudah menyediakan sarana dan prasarana seperti yang ada di Balai Pemuda dan Tempat Hiburan Rakyat (THR).

Bahkan, lanjut dia, Wali Kota Surabaya meminta alat musik gamelan yang selama ini ada di Balai Pemuda untuk dipakai di THR. Itu dilakukan dikarenakan di Balai Pemuda saat ini masih ada pembangunan.

Hanya saja setiap pertunjukan Ludruk di THR selalu sepi tidak ada yang menonton. “Akhirnya kami harus memaksa orang untuk menonton. Tapi kalau memaksa menonton kan ya tidak mungkin,” ujarnya.

Widodo mengatakan Ludruk tetap bisa digandrungi para penonton sampai kapanpun itu karena kepiawaian grup Ludruk yang terus berkreasi di setiap pertunjukan.

Meski demikian, lanjut dia, pihaknya tetap melakukan kerja sama dengan Dinas Pendidikan Surabaya agar ada edukasi kepada siswa didik di tiap-tiap sekolah di Kota Pahlawan. “Paling tidak para siswa mengetahui kalau ada kesenian tradisional Ludurk yang pernah pernah populis di Surabaya,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Masduki Toha sebelumnya menyatakan siap mengawal keinginan warga untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional Ludruk yang dulu sempat berjaya di THR Surabaya. “Saya menilai, selama ini pemkot kurang ada niatan menumbuh kembangkan kesenian di THR,” katanya.

Masduki mengatakan sudah saatnya budaya tradisional diberikan ruang dan anggaran yang cukup. Hal ini merupakan bagian dari upaya menyelematkan generasi muda dari ketidakpedulian terhadap kesenian tradisional. “Mohon masukan agar temen-temen komisi D DPRD Surabaya bisa mengimplementasikan dalam anggaran selanjutnya,” ujarnya. (ant)