Penanda makam Sawunggaling di Lakarsantri Surabaya. Foto: Ficcaayu.id.
Keberadaan makam Sawunggaling yang terletak di desa Lidah Wetan Kecamatan Lakarsantri Surabaya menjadi saksi sejarah kebesaran kerajaan Surabaya di eranya. Makam yang ditemukan oleh warga di tahun 1901 itu menandai keberadan tokoh yang sangat diagungkan sebagai pejuang Surabaya.
Pada komplek makam yang selalu ramai didatangi para petinggi Surabaya berisi beberapa nisan. Berhiaskan ubin keramik warna putih dengan kelambu warna senada, komplek makam terlihat bersih dan terawat.
Tampak lima deret makam yang berhias bunga segar tanda didatangi pengunjung. Pada masing-masing makam bertuliskan nama yagn terbuat dari kayu jati.
Pertama tampak makam Raden Karyo Sentono yang nama aslinya Wangsodrono. Kedua tertulis makam R Buyut Suruh. Ketiga tertulis makam Raden Ayu Dewi Sangkrah. Keempat makam bertuliskan Raden Sawunggaling. Kelima bertuliskan Raden Ayu Pandansari. Pada nisan kelima makam juga dibungkus kain warna putih yang tampak selalu dicuci.
Kelima makam ukurannya juga tidak umum. Lebih panjang dari makam kebanyakan. Pada masing-masing makam terdapat karpet warna hijau untuk pengunjung yang bertakjizah dan memanjatkan doa.
Tulus Warsito tokoh masyarakat desa Lidah Kulon mengatakan, pada hari Kamis malam Jumat, makam Sawunggaling didatangi warga dari berbagai penjuru kota. Namun, pada hari-hari terentu tokoh masyarakat Surabaya juga menyempatkan berkunjung. Terlebih jika pada masa pilihan legislatif hingga pilihan walikota.
Tetapi diantara Walikota Surabaya yang pernah menjabat, Sunarto Sumoprawiro merupakan walikota yang paling peduli dengan peninggalan sejarah. “Masa kepemimpinan Pak Narto makam diperbaiki dan kini dirawat seterusnya oleh warga,” kata Warsito seraya menyebutkan satu per satu tokoh Surabaya yang kerap ke makam pendiri kota Surabaya itu.
Bukan lantaran mengaku masih keturunan Sawunggaling jika Cak Narto rela membangun dan memperbaiki lokasi makam. Cak Narto sangat menggumi keberanian Sawunggaling terang-terangan berseberangan dengan penjajah Belanda.
Mengenai wisatawan, Warsito juga menyebut cukup banyak. Untuk menarik wisatawan acara tradisional seperti sedekah bumi dan Kemakmuran diselenggarakan secara rutin. “Upacara ini jadi desitinasi sejarah di wilayah kami. Juga selalu ada sedekah bumi dengan menghadirkan puluhan tumpeng yang dikeluarkan warga secara sukarela,” tambahnya. (ita)
Ratusan peserta mancanegara dan perwakilan kota dari Indonesia meramaikan pembukaan festival Surabaya Cross Culture International bertema Folk Art di sepanjang Jalan Tunjungan, Surabaya, Minggu (15/7) pagi.
Mereka menampilkan atraksi budaya dibalut kostum yang menjadi ciri dari masing-masing negara dan kota.
Tepat pukul 8 pagi, satu per satu peserta unjuk kebolehan dengan menampilkan berbagai macam atraksi budaya dan tarian tradisional dan iringan musik.
Diawali dari negara Uzbekistan, Rusia, New Zealand, Singkawang, Bulgaria, Jerman, Banjarmasin, Polandia, dan ditutup oleh negara Rumania.
Selama acara berlangsung, tampak warga Surabaya terhibur ketika menyaksikan secara langsung budaya tari dan musik dari masing-negara dan kota. Wajah sumringah juga ditampilkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan memberi semangat kepada peserta yang tampil.
Usai menampilkan festival tari-tarian, para peserta menuju balai kota menggunakan becak hias. Wali Kota Risma – sapaan akrabnya mengatakan, acara Surabaya Cross Culture tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal ini membuktikan bahwa Kota Surabaya sudah aman, pasca musibah yang menimpa beberapa waktu lalu. “Ini menunjukkan Surabaya sudah aman dan ke depan jumlah peserta yang ikut semakin banyak,” ujar Risma saat menjamu para tamu mancanegara di lobby balai kota lantai 2.
Meningkatnya jumlah peserta, lanjut Risma, tidak lepas dari persiapan yang lebih baik dibandingkan tahun kemarin.
Dengan persiapan yang matang ini, lanjutnya, mampu menarik sekaligus meningkatkan jumlah wisata mancanegara untuk datang ke Surabaya. “Kalau semakin banyak itu semakin bagus karena Surabaya akan menjadi kota wisata,” tuturnya.
Menurut Risma, warga Surabaya sudah mengerti bahwa kotanya telah menjadi destinasi wisata sekaligus sebagai wadah pertukaran ilmu pengetahuan dan budaya.
“Ini terbukti dengan keramah mereka (negara asing) saat menerima menerima warga Surabaya,” imbuhnya.
Acara tahunan ini mendapat respon positif dari Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mei. Dirinya mengatakan, festival lintas budaya di Surabaya sangat luar biasa.
Bahkan wali kota kelahiran Singkawang tersebut ingin menyelenggarakan sekaligus memperkenalkan budaya singkawang kepada wisata mancanegara.
“Suatu saat kami juga akan melakukan acara semacam ini dengan mengundang negara lain untuk menambah wawasan baik bagi warganya maupun tamu mancanegara tentang budaya lokal yang ada disana,” jelasnya.
Selain Cross Culture, akan ada acara internasional lain yang diselenggarakan Kota Surabaya dalam waktu dekat antara lain, UCLG bulan september yang dihadiri 150 negara serta acara Start Up Nation Summit pada bulan november yang akan dihadiri 100 negara dengan agenda pertemuan teknologi informasi. (ita)
Komunitas Senopati pada sebuah acara di Surabaya. Foto: Sepedakuno.weebly.com.
Keberadaan komunitas maupun paguyuban sepeda ontel di Surabaya semakin banyak. Mulai dari sepeda balap maupun sepeda tua. Salah satu paguyuban sepeda tua yang masih eksis sampai saat ini adalah Paguyuban Senopati atau Sepeda Koeno Patriot Sedjati.
Paguyuban yang diketuai Amirullah ini berdiri pada 20 Mei 2001. Mempunyai moto, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, Kesetiakawanan Sosial, Jer Basuki Mowo Beo, serta Kerukunan dan Persaudaraan. Paguyuban Senopati tetap mempertahankan atribut tempo dulu seperti zaman Belanda.
Totalitas anggota menjadikan paguyuban ini banyak meraih berbagai penghargaan dari kompetisi yang mereka ikuti. Terbukti Paguyuban Senopati hingga saat ini mampu mengumpulkan tropi kejuaraan sekitar 183 piala.
“Kota Surabaya merupakan ikon Kota Pahlawan, sehingga kami mendongkrak bagaimana ikon Kota Pahlawan ini tidak punah. Salah satunya dengan memegang teguh dan tetap mempertahankan atribut tempo dulu yang identik dengan perjuangan Kota Pahlawan,” kata Amirullah saat ditemui Bhirawa di acara Car Free Day Kodam V Brawijaya, Minggu (1/7).
Beranggotakan 70 orang, Amirullah mengaku para anggota Senopati tidak hanya berasal dari Kota Surabaya saja. Melainkan ada yang dari Sidoarjo dan Gresik. Dengan anggota dari kalangan pengusaha, ABRI, Denpom dan pelindung dari Senopati yakni Puspom Jakarta. Kegiatan rutin Paguyuban Senopati yakni mengikuti acara car free day dan berkumpul di eks Museum Mpu Tantular Surabaya.
Kukuhnya mempertahankan atribut tempo dulu yang identik dengan nuansa perjuangan Kota Pahlawan, diakui Amrullah sebagai wujud mempertahankan nuansa tempo dulu. Bagi generasi muda yang hobi dengan sepeda kuno, Amirullah mengajak generasi muda untuk bergabung dengan Senopati. Karena Paguyuban Senopati bukan hanya bersepeda saja, namun memiliki kegiatan beragam.
“Kita juga ada kegiatan fotografi, teatrikal, mocopat (komunitas Jawa), pameran sepeda kuno dan berbagai kegiatan positif,” jelasnya.
Dalam waktu dekat, Amirullah mengaku, Senopati akan mengadakan kegiatan Kirab Kemerdekaan pada 17 Agustus mendatang. Dengan mengambil start di Denpom V/4 Surabaya dan finish di Taman Budaya Jawa Timur atau Gedung Cak Durasim. “Kami juga mengadakan pameran di Gedung Cak Durasim. Yakni pameran sepeda tua, motor tua dan foto-foto perjuangan,” ucapnya.
Paguyuban yang beralamatkan (kantor sekretariat) di Jl Mastrip Gogor III No 8 B Kelurahan Jajar Tunggal Kecamatan Wiyung Surabaya ini berharap generasi muda maupun masyarakat Kota Surabaya mempertahankan budaya di Kota Pahlawan. Pihaknya juga mengharapkan kepada pemerintah hendaknya ikon Kota Pahlawan lebih ditonjolkan.
“Selain sebagai daya tarik wisatawan. ditonjolkannya ikon Kota Pahlawan ini agar siapapun yang mengunjungi Surabaya akan langsung melihat dan merasakan bahwa mereka sedang berada di kota yang dulu banyak para pahlawan gugur dalam mempertahankan kota ini,” pungkasnya. (hbh)
Tokoh adat saat upacara adat Temanten Kopi di Blitar. Foto: Antara/Irfan Anshori.
Pemilik Kebun Kopi ‘Karanganjar’ di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, menggelar ritual ‘Manten Kopi’. Ritual sebagai tanda musim panen dan giling ini sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta kualitas hasil panen biji kopi yang baik.
“Kami menggelar kegiatan ini untuk melestarikan budaya leluhur, sekaligus sebagai permohonan agar panen kopi kali ini bisa melimpah,” kata Wima Bramantya, Pengelola Kebun Kopi ‘Karanganjar’ Kecamatan Nglegok, Blitar, Sabtu (7/7).
Wima Bramantya mengungkapkan, ritual ini sekaligus upaya untuk menarik kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Di tempat ini bukan hanya ada kebun kopi, tapi juga dilengkapi berbagai fasilitas termasuk tempat menginap.
Ritual untuk menandai masuknya musim panen dan giling biji kopi yang sudah dilakukan masyarakat lereng gunung Kelud sejak masa penjajahan kolonial Belanda tersebut sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta kualitas hasil panen biji kopi yang baik.
Ritual ini seperti dikutip Tagar.id, diawali dari depan wisma loji di area kebun. Rombongan pengiring manten membawa berbagai macam sesaji lengkap untuk ritual misalnya bunga.
Rombongan pengiring langsung menuju lokasi perkebunan. Setelah tiba, sesepuh desa meletakkan sesaji di bawah pohon kopi dan memanjatkan doa. Sesepuh desa membakar dupa dan kemenyan, sehingga aroma khas dupa dan kemenyan langsung semerbak ke sekitar lokasi.
Sesepuh desa kemudian memotong dahan kopi yang banyak berisi buah kopi, lalu dibungkus dengan kain berwarna putih. Selanjutnya, para pekerja langsung mengikuti sesepuh itu, saat proses ritual dengan memetik kopi masih berlangsung.
Kegiatan ritual memetik kopi bukan hanya diikuti para pekerja tapi juga wisatawan asing. Mereka tertarik dengan proses ritual yang mereka anggap unik. Bahkan, wisatawan asing sempat memetik kopi.
Seluruh hasil memetik kopi itu ditaruh ke dalam tempat yang terbuat dari bambu. Selanjutnya, kopi yang telah dipetik diarak menuju tempat pesanggrahan untuk diserahkan ke pengelola dan pemilik kebun, sebagai simbol panen raya kopi telah dimulai.
Para wisatawan yang memetik kopi mengaku mayoritas baru pertama kali ikut dan melihat ritual tersebut. Mereka merasa kagum dengan kebudayaan di Indonesia, sehingga sengaja datang untuk mengabadikan. “Ini menarik sekali, jadi saya sengaja datang ke kebun kopi. Saya juga senang minum kopi,” kata Alan Sage, seorang wisatawan asal Inggris.
Hasil petikan tersebut kemudian digiling, sebagai pertanda dimulainya proses penggilingan kopi. Perusahaan juga berterimakasih, sebab kegiatan ritual berjalan lancar.
Luas Kebun Kopi “Karanganjar” di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar itu mencapai 206 hektare. Rata-rata dari hasil kopi yang ditanam perusahaan, bisa menghasilkan hingga 100 ton kopi. Untuk penjualan, selain memenuhi pasar dalam dan luar negeri, juga dikemas sendiri, dijual ke wisatawan yang berkunjung ke kebun kopi. (ist)
Pameran ‘No Limit No Fear’ di House of Sampoerna. Foto: Dok HoS.
Dengan semangat bebas berekspresi dalam menciptakan karya seni, para seniman muda yang tergabung dalam Forum Aliansi berupaya untuk terus mengasah kreatifitas, menghasilkan karya-karya menarik dengan menggunakan beragam media.
Keberanian untuk keluar dari batasan-batasan dalam berkarya tampak pada gelaran karya bertajuk “No Limit No Fear” yang diselenggarakan di Galeri Paviliun House of Sampoerna pada tanggal 13 Juli – 11 Agustus 2018.
Sebanyak 31 karya baik berbentuk 2 maupun 3 dimensi diciptakan untuk merespon tema “No Limit No Fear” yang tersaji secara apik dengan keunikan cerita di baliknya.
Para seniman muda yang turut serta dalam pameran ini menerjemahkan pemahaman akan keberanian melalui beragam cara, seperti menggambarkannya langsung kedalam karya atau dengan cara keluar dari pakem yang selama ini mereka anut.
Yakni pakem menggunakan media selain kanvas dan bereksperimen dengan warna serta teknik yang tidak biasa.
Seperti karya dari Zulfikar Risky dengan karya berjudul “Arena Tinju Pemuja Batu” yang merespon tema pameran ini dengan mengibaratkan seorang seniman sebagai seorang petinju berkepala macan.
Yakni seorang petarung yang harus rutin berlatih dan siap bertempur di medan perang dalam kondisi apapun.
Lain halnya dengan Raka Valdiansyah yang berjudul “Penyet-Penyetan”, baginya berkarya itu bukan melulu hanya soal melukis, melainkan bermain-main dengan media lainpun juga bisa dianggap berkarya.
Karya Raka terbilang sangat unik karena menggunakan media seng, stiker yang dikombinasikan dengan drawing sehingga menghasilkan karya yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain.
Keunikan karya serta cerita dari masing-masing anggota Forum Aliansi inilah yang diharapkan akan menjadi inspirasi dan menumbuhkan jiwa seni pada masyarakat untuk turut ikut berkarya.
Forum Aliansi, yang terbentuk 2017 atas dorongan House of Sampoerna (HoS), awalnya merupakan sekumpulan anggota alumni SMSR yang secara aktif berkegiatan seni.
Kedepannya Forum Aliansi diharapkan menjadi wadah yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi semua seniman Surabaya yang ingin bergabung dan berkarya bersama.
“Dengan terselenggaranya pameran ini kami ingin silaturahmi antar anggota alumni tetap terjalin sehingga tujuan utama kami untuk terus menanamkan nilai-nilai seni di jiwa masyarakat dapat terwujud,” ujar Miftahul Khoir, Ketua Forum Aliansi saat memberikan ulasannya.
Pameran “No Limit No Fear” juga menjadi pameran pertama yang digelar di Galeri Paviliun, yakni ruang galeri baru yang menempati bangunan paviliun Rumah Barat.
Serta memiliki misi pendidikan dalam memperkenalkan seni, budaya dan sejarah dalam berbagai program pameran yang digelar setiap bulannya, dengan melibatkan seniman dari berbagai latar belakang, kolektor, komunitas, institusi pendidikan dan budaya dari dalam maupun luar negeri, yang memiliki kepedulian yang sama dalam perkembangan dan pelestarian seni dan budaya. (ita)
BPCB melakukan penggalian tumpukan batu bata kuno di Situs Semanding, Kediri. Foto: Surya.co.id/Didik Mashudi.
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) melakukan penggalian di lokasi penemuan struktur batu bata purbakala di Dusun Wonorejo, Desa Semanding, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu.
Lokasi penggalian di areal lahan seluas 5 x 7 meter yang saat ini ditanami kacang tanah. Lahan tempat ditemukannya struktur batu bata purbakala ini milik Zainudin (55) warga setempat.
Struktur batu bata kuno ini digali bagian tepinya dengan kedalaman sekitar satu meter. Penggali kemudian membersihkan tanah yang menutupi tumpukan batu bata yang kondisinya sudah tidak utuh lagi.
Tim penggali seperti dilaporkan Tribunnews kemudian melakukan penelitian struktur bangunan yang telah tertimbun tanah. Bangunan yang berupa tumpukan batu bata itu kondisinya tertimbun tanah dengan kedalaman lebih dari satu meter.
Nugroho arkelog dari BPCB menyebutkan, tujuan penggalian untuk melakukan studi kelayakan dan mengetahui keutuhan dari struktur bangunan batu bata merah. Dalam penggalian ini juga dihadiri perwakilan dari Dinas Pariwisata Pemkab Kediri dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan.
Kesimpulan sementara hasil penggalian batu bata merah purbakala strukturnya masih bagus. Bangunan purbakala ini diperkirakan bagian dari peninggalan masa kejayaan Kerajaan Kediri Dhoho Panjalu sekitar abad 12.
Sebelumnya struktur bangunan batu bata merah pernah diteliti Ahmad Khariri juga dari BPCB. Hasil kajiannya ukuran batu bata merah yang ditemukan di situs Semanding ukurannya identik dengan batu bata yang ditemukan di Trowulan, Mojokerto.
Batu bata kuno itu berukuran rata-rata panjang 40 cm, lebar 24 cm dan tebal 8 cm. Namun kondisinya sebagian sudah tidak utuh lagi dan pecahannya berserakan. Lokasi Situs Semanding berdekatan dengan Situs Adan-adan hanya berjarak sekitar 300 meter. Lokasi Situs Adan-adan telah dilakukan penelitian dengan eskavasi dan penggalian dari Puslit Arkenas. (ist)
Penandatanganan nota kesepahaman untuk pendampingan festival budaya 2018. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun ini akan menggelar 13 Festival Budaya sepanjang tahun 2018. Acara tersebut digelar di 9 daerah di tanah air.
“Hari ini para wakil Pemerintah Daerah, para Bupati bertemu dengan bapak Dirjen Kebudayaan untuk bersama menandatangani nota kesepahaman (MOU – Memorandum of Understanding) untuk pendampingan festival,” kata Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid di kantor Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pekan lalu.
Kemendikbud melalui Dirjen Kebudayaan membentuk platform pengembangan tim Indonesiana. Tim ini yang merumuskan kegiatan festival kebudayaan pada tingkat nasional dan daerah, serta pada tataran tata kelola dan penyelenggaraan.
“Setelah melalui proses yang panjang, forum diskusi, timbang pandang dan perumusan bersama antara Kemendikbud melalui Tim Indonesiana, pemerintah daerah dan komunitas, maka untuk tahun 2018 diputuskan akan digelar 13 festival dari 9 wilayah,” jelasnya seperti dilansir Medcom.id.
Menurut Farid, festival budaya berpotensi menjadi ajang untuk menguatkan karakter bangsa. Festival-festival budaya juga dapat menjadi wahana untuk menumbuh kembangkan identitas warga, agar tercipta kepercayaan diri bangsa dan sifat saling menghargai untuk menguatkan persatuan-kesatuan bangsa.
“Selain itu festival budaya memiliki potensi bukan hanya mengangkat keunikan daerah, melainkan juga ketersambungan daerah,” ucapnya.
Lebih jauh, festival budaya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, peningkatan kemampuan dan profesionalisme tingkat individu, aspirasi yang terpenuhi di tingkat komunitas, dan kohesi sosial di tingkat daerah. “Serta pemerataan kesempatan memperoleh pendapatan di tingkat masyarakat, juga perkembangan kebudayaan yang seimbang antara pelestarian dan pemajuan,” pungkasnya. (ist)
Daftar 9 Wilayah Festival Budaya 2018 :
1. Festival Fulan Fehan & Foho Rai: 3 Juli – Oktober 2018 – Belu NTT
2. Festival Budaya Saman: 4 September – 24 November 2018 – Gayo Lues Aceh
3. International Gamelan Festival: 9 – 16 Agustus 2018 – Solo s/d Blora Jateng
4. Bebunyian Sintuvu: 10 Agustus – Oktober 2018 – Sigi s/d Palu Sulawesi Tengah
5. Festival Seni Multatuli: 6 – 9 September 2018 – Lebak Banten
6. Silek Arts Festival: 7 Sept – 30 Nov 2018 – Padang s/d Pesisir Selatan Sumbar
7. Festival Folklor: 12 – 15 September 2018 – Blora Jateng
8. Amboina International Bamboowind Music Festival: 23 – 27 Oktober 2018 – Ambon Maluku.
9. Indonesia Weaving Festival: 14 – 17 Oktober 2018 – Tapanuli Utara Sumut
Dosen Unhasy Agus Sulton menunjukkan manuskrip Alquran di Ponpes Tebuireng, Jombang. Foto: Republika.co.id.
Aceh merupakan tempat lahirnya pujangga penulis naskah-naskah keagamaan. Nama-nama besar seperti Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdurrauf al-Singkili merupakan tokoh-tokoh yang lahir dan bermukim di Aceh.
Karya-karya tokoh tersebut menginspirasi para ulama di Nusantara. Bahkan karya-karyanya mengininspirasi para ulama di Asia Tenggara. Karya para tokoh tersebut tidak sedikit yang menjadi referensi ulama Hijaz Timur Tengah.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badang Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan dari Kemenag RI, Dr Muhammad Zain mengatakan, ironis karya-karya besar para tokoh sebagian besar masih tersimpan dan berserakan di masyarakat.
Ia menyampaikan, bersama tim dari Puslitbang LKKMO pada April 2018 mengunjungi tempat-tempat penyimpanan manuskrip keagamaan di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Tim mengunjungi seorang pemuda yang menyimpan 400 manuskrip.
Manuskrip yang dikoleksinya berjenis mushaf Alquran dari abad ke-16 masehi dan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama. Seperti kitab fiqih, tasawuf, ilmu falaq, ilmu tajwid, sejarah Aceh, obat-obatan dan azimat serta tabir gempa. Tapi manuskrip-manuskrip tersebut belum dikatalogisasi dan digitalisasi.
“Pada umumnya naskah-naskah (manuskrip) tersebut diproduksi antara abad ke-17 sampai 19 masehi, kondisi naskah-naskah ini masih belum mendapatkan perawatan yang baik, keadanannya sudah rusak bahkan terpisah dari jilidan dan koyak-koyak,” ujarnya kepada Republika.co.id.
Dr Zain melanjutkan, kemudian tim menemui seseorang yang memiliki 600 manuskrip. Orang tersebut menyimpan sejumlah karya-karya besar dan penting seperti karya Abdurrauf al-Singkili, Miratut Tullab dan karya-karya pertama Nuruddin Ar-Raniri. Selain itu banyak juga kitab-kitab penting lainnya.
Ia menjelaskan, kondisi manuskrip tersebut sebagian sudah disortir, tapi belum membuat katalog dan didigitalisasi. Meski demikian orang tersebut menjaga baik manuskrip-manuskrip itu. Juga terbuka memberikan kesempatan kepada pengkaji dan penelaah manuskrip. Orang itu juga membuka pintu kerjasama penyelamatan manuskrip dengan lembaga Pemerintah Indonesia.
“Namun dia tidak memberikan fisik atau kopi digital manuskripnya kepada lembaga-lembaga dari luar negeri, baik dalam bentuk kerjasama, menjual menyimpan di lembaga-lembaga tertentu di luar negeri,” jelasnya.
Dr Zain menegaskan, langkah konkret yang mendesak dan harus dilaksanakan segera adalah katalogisasi dan digitalisasi manuskrip. Supaya penyelematan dapat dilakukan setahap demi setahap. Berikutnya melakukan kerjasama dengan lembaga restorasi seperti Perpustakaan Nasional. Kemudian melakukan kajian untuk menelaah isi manuskrip dan melahirkan buku-buku.
“Naskah-naskah yang berbentuk petuah dan sejarah perlu dicetak ulang dan dikemas secara sederhana dan menarik untuk dipersembahkan kepada masyarakat, agar mereka paham dan melek sejarah kekayaan leluhurnya,” ujarnya.
Menurutnya, manuskrip-manuskrip warisan bangsa tersebut perlu menjadi bahan kurikulum muatan lokal di sekolah. Supaya generasi sekarang dan akan datang dapat melek sejarah dan paham pengetahuan masa lampau. (rep)
Candi Tegowangi tegaskan Budaya Panji milik Kediri. Foto: Sureplus.id.
Acara Festival Panji Internasional di Candi Tegowangi kemarin memang istimewa. Bukan hanya menjadi awal dari rangkaian Pekan budaya dan Pariwista Kabupaten Kediri yang pelaksanaannya hingga 14 Juli 2018.
Acara dibuka secara resmi melalui Parade Budaya dan Pawai Mobil Hias di kawasan SLG pada 8 Juli. Festival ini semakin istimewa karena juga diwarnai oleh seniman mancanegara. Baik penari mapun singer.
Bahkan, para seniman asing itu seperti memiliki pertautan dengan cerita panji. Naowarat misalnya, dia langsung teringat dengan satu tarian di negerinya saat melihat pertunjukan Panji.
Meskipun dia tak paham sepenuhnya ucapan sang dalang, dia langsung merasa cerita Panji juga familiar di negaranya. Berwujud pada tarian Inao. “So amazing Panji. I know that story,” ujarnya seperti dikutip Jawapos RadarKediri.
Yuli Marwanto mengatakan hal serupa. Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri itu menyebut ruwatan panji justru besar di negara-negara lain.
Mulai Thailand, Vietnam, Myanmar, hingga Filipina. Bahkan, sangat disakralkan. Seperti tarian Inao di Thailand yang masih berkaitan dengan cerita Panji. “Justru di masyarakat Thailand ini (hanya) bisa dilihat ketika ada hajatan saja,” ungkapnya.
Masih menurut Yuli, tarian Inao erat kaitannya dengan tarian Panji dengan Dewi Kilisuci atau Sekartaji. Secara garis besar Panji adalah seorang kesatria yang selalu kehilangan pasangan hidupnya. Sebelum akhirnya mendapatkannya kembali dengan perjuangan yang luar biasa.
Acara Ruwatan Panji di Candi Tegowangi merupakan rangkaian dari beragam acara Festival Panji Internasional. Rangkaian kegiatan seni sacral ini melibatkan banyak provinsi. Mulai Provinsi Bali, Jawa Timur, dan Jogjakarta.
Adapun pemilihan Candi Tegowangi sebagai lokasi karena tempat tersebut merupakan situs purbakala yang juga terdapat relief yang berkisah tentang Panji. “Panji ini cikal bakalnya dari Kediri,” ungkapnya.
Wahdan MY, penanggungjawab Festival Panji Internasional menyatakan bahwa dengan adanya festival Internasional ini harapannya agar Panji semakin populer. Tak hanya di kalangan orang manca negara. Justru pada generasi muda Indonesia. “Semua dunia tahu Panji milik Indonesia. Bahkan telah dicatat oleh UNESCO juga. Jadi generasi muda hendaknya malah lebih tahu,” paparnya.
Dalam serangkaian Festival Panji Internasional kemarin tak hanya menyajikan pagelaran wayang krucil saja. Juga ada acara penyucian diri atau ruwatan. Ruwatan langsung dipimpin oleh sang Dalang Harjito.
Prosesi ruwatan tak hanya diikuti oleh warga Kediri saja. Tapi juga oleh warga negara asing. Terutama para seniman yang akan tampil di rangkaian acara Festival Panji Internasional. Beberapa orang dari Thailand dan Vietnam terlihat diruwat.
“Ini sekaligus upaya penyucian kita berdoa bersama pada Tuhan Yang Maha Kuasa berharap perlindungan juga,” papar Harjito sebelum akhirnya membasuh kepala salah satu warga Thailand dengan siraman air bunga dan gelang genitri. (jpr)
Lima belas tahun silam, tepatnya 2003, Kementerian Luar Negeri Indonesia mulai menyelenggarakan program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI).
Masih berlangsung hingga saat ini, program tersebut salah satunya bertujuan mencetak ‘duta’ untuk mempromosikan keberagaman Indonesia kepada dunia.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan, program BSBI diinisiasi pada perhelatan South West Pacific Dialogue (SWPD) yang merupakan forum dialog beranggotakan enam negara, yakni Australia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, Fiji, dan Indonesia.
“Tujuan dibentuknya program ini (BSBI) adalah untuk persahabatan. Persahabatan antarmanusia, antarmasyarakat,” kata Retno dalam wawancara khusus dengan Republika.co.id, di Jakarta, Jumat (29/6).
Melalui BSBI, Indonesia mengajak generasi muda dari berbagai negara untuk mempelajari seni dan budaya Indonesia.
Untuk menjadi peserta program ini, para pemuda/pemudi mancanegara yang berminat akan diseleksi terlebih dahulu oleh Kedutaan Besar Indonesia di negara terkait. Setelah proses seleksi, mereka yang terpilih akan dibawa ke Indonesia untuk menjalani program BSBI.
Program BSBI tahun ini diikuti 72 peserta dari 44 negara. Dari jumlah itu, lima peserta di antaranya dari Indonesia. Persisnya, mereka berasal dari Papua Barat, Maluku, Bengkulu, Yogyakarta, dan Jakarta.
Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri selaku pihak yang bertanggung jawab atas program ini, setiap tahunnya memilih daerah-daerah penempatan untuk para peserta. Tahun ini terdapat enam daerah yang dipilih yakni Padang, Kutai Kartanegara, Makassar, Bali, Banyuwangi, dan Yogyakarta.
Para peserta terpilih kemudian disebar ke daerah-daerah tersebut untuk mempelajari seni, budaya, juga bahasa. Menurut Retno, hal yang menarik dari program ini adalah para peserta tinggal di tengah-tengah masyarakat.
“Jadi pemahaman mereka terhadap apa yang dinamakan nilai-nilai dan kearifan lokal juga betul-betul dirasakan,” ujar dia.
Program BSBI tahun ini telah berlangsung sejak 28 Maret lalu dan akan berakhir pada 4 Juli mendatang. Di akhir program, para peserta akan dikumpulkan kembali untuk tampil dalam sebuah acara bertajuk Indonesia Channel.
“Di acara itu mereka akan tampil dan menunjukkan hasil dari mereka belajar (seni dan budaya Indonesia, red) selama tiga bulan,” ungkap Retno.
Mengusung tema “Beautiful Colour of Indonesia”, pergelaran Indonesia Channel tahun ini digelar Rabu (4/7) malam di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Retno mengatakan, sejak kali pertama dilaksanakan hingga kini, BSBI telah menghasilkan 848 alumni dari 74 negara. Menurutnya, tak sedikit dari mereka yang kini menjadi duta bagi Indonesia di negaranya masing-masing.
“Ada yang pada saat kembali (ke negara asal peserta, red) kemudian membentuk seperti sanggar seni untuk Indonesia, ada yang membentuk kelompok gamelan, ada juga yang mengajar Bahasa Indonesia. Pada akhirnya, selain menjadi jembatan kita, mereka juga menjadi mitra bagi kedutaan-kedutaan besar kita di luar negeri untuk mempromosikan Indonesia,” terang Retno.
Selain mencetak duta, menurut dia, program BSBI juga sejalan dengan misi diplomasi Indonesia, yakni diplomasi perdamaian. Ia berpendapat, pecahnya perang atau konflik di dunia kerap bermula dari ketidakpahaman dan ketidaktahuan.
Ia menyebut Fiji sebagai contoh. Kendati letak Fiji cukup dekat dengan Indonesia, tetapi pemahaman masyarakat di sana tentang Indonesia belum tentu memadai. “Indonesia seberapa besar sih, negaranya, budayanya seperti apa, dan sebagainya,” ucapnya.
Nah, melalui BSBI, masyarakat, terutama generasi muda Fiji, berkesempatan mengetahui lebih dalam tentang Indonesia. Selain mempromosikan Indonesia, mereka pula yang akan menjembatani hubungan dengan Fiji.
“Pada akhirnya kalau masyarakat saling kenal, saling paham, ini jadi salah satu alat bagi kita untuk menciptakan perdamaian. Perdamaian bermula dari persahabatan. Jadi grand design-nya adalah untuk perdamaian, tapi kita menggunakan alat berupa budaya, bahasa, dan seni untuk menjembatani,” kata Retno.
Ia juga mengatakan, seni dan budaya merupakan softpower. “Kalau orang bicara mengenai seni, budaya, bahasa, itu lebih mudah. Softpower biasanya lebih mudah digunakan untuk, katakanlah tools (alat), dalam diplomasi,” katanya.
Melalui BSBI, Indonesia pun ingin menunjukkan kepada dunia tentang keberagaman dan kebhinekaan Indonesia. “Kita kan terus mempromosikan keberagaman karena fitrah manusia selalu berbeda. Menghormati perbedaan itu juga nilai yang ingin kita sebarkan,” ucapnya.
Karena itu, program BSBI akan dilanjutkan dan diperbaiki dari tahun ke tahun. Evaluasi pun terus dilakukan agar pelaksanaan BSBI semakin baik. “Dan yang jelas program ini akan terus kita pakai sebagai alat untuk menopang diplomasi perdamaian kita.” (rep)