“Tradisi sedekah laut Longkangan dilakukan tiap Selo penanggalan Jawa. Foto: Humas Pemkab Trenggalek
Longkangan merupakan upacara adat masyarakat dan nelayan di Kecamatan Munjungan Kabupaten trenggalek. Upacara adat ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, atas melimpahnya tangkapan hasil melaut.
Tradisi ini juga berfungsi peringatan kepada leluhur yang membuka kawasan Munjungan utamanya Rara Puthut yang konon oleh Ratu Pantai Selatan dipercaya menguasai kawasan Pantai Ngampiran, Blado, Sumbreng, dan Ngadipuro Munjungan.
Adat Longkangan ini rutin diperingati di Pantai Blado yang terletak di desa Munjungan kecamatan Munjungan. Pantai ini terletak di 49 km arah Selatan dari kota Trenggalek, sekitar 230 km dari Surabaya.
Waktu pelaksanaan sedekah laut Longkangan ini dilakukan tiap Selo penanggalan Jawa, tepatnya pada hari Jumat Kliwon. Upacara adat ini biasa dilakukan pada siang hari menjelang sore.
Dengan diawali kirab Tumpeng Agung dari Pendopo Kecamatan Munjungan sampai di Pantai Blado yang dipimpin langsung oleh Camat Munjungan dan semua Kepala Desa se Kecamatan Munjungan.
Kirab ini diiringi oleh dayang-dayang serta rombongan jaranan yang berpakaian adat Jawa. Sesampainya di Pantai Blado prosesi Longkangan dimulai. Seperti Labuh larung sembonyo, dalam tradisi longkangan ini juga wajib ada kesenian tayub untuk pelengkap prosesi ini.
Dipastikan setiap Longkangan ini digelar, masyarakat Munjungan dan sekitarnya maupun wisatawan selalu berduyung-duyung menyaksikan upacara adat ini.
Baik di sepanjang jalan yang dilewati rombongan kirab maupun dilokasi upacara adat ini. Sebagai puncak acara adat longkangan ini dilakukannya prosesi menghanyutkan Tumpeng Agung di tengah lautan Pantai Blado.
Tahun 2016 ini tradisi longkangan ini diselenggarakan pada Hari Jum’at Kliwon 2 September 2016 lalu di Pantai Blado.
Wakil Bupati Trenggalek H Moch Nur Arifin nampak hadir dalam Longkangan. Kehadiran Wakil Bupati Trenggalek ini didampingi istri Novita Hardini, Forkopimda dan beberapa pejabat di lingkup Pemkab Trenggalek.
Dikonfirmasi mengenai Longkangan ini Wakil Bupati Trenggalek menyampaikan bahwa hal ini menunjukkan bahwasannya di Trenggalek utamanya di masing-masing daerah mempunyai sejarah yang akrab dengan ritual-ritual suci. Salah satunya Longkangan ini.
“Yang jelas acara seperti ini perlu kita lestarikan, pasalnya Trenggalek ada karena memang sejarahnya seperti ini. Ini merupakan bentuk perwujudan rasa syukur masyarakat, saya harap Allah berkenan memberikan keselamatan dan kemakmuran khususnya Munjungan dan Kabupaten Trenggalek,” pungkas Wabup. (humas pemkab trenggalek)
“Tradisi ritual Keduk Beji sebagai sarana penghormatan kepada Eyang Ludro Joyo. Foto: ist
Masyarakat Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi mempunyai tradisi tahunan yang cukup unik. Dipercaya sebagai sarana menolak petaka atau “tolak balak”, masyarakat setempat gelar ritual Keduk Beji, yang diadakan sekali dalam setahun, tepatnya pada hari Selasa Kliwon menurut penanggalan Jawa.
Hal ini sebagai sarana penghormatan kepada Eyang Ludro Joyo atas sumber penghidupan Keduk Beji. Prosesi upacara adat ini di awali ratusan peserta berkumpul di sumber berukuran 20 x 30 meter.
Ritual dimulai dengan melakukan pengerukan atau pembersihan kotoran dengan mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori sumber mata air Beji yang berada di Desa Tawun.
Terlihat seluruh peserta yang terdiri atas kalangan anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua tumpah ruah menceburkan diri ke kolam.
Kemudian sesepuh Desa Tawun selaku Juru Silep, Mbah Wo Supomo (67), mengatakan, upacara Keduk Beji ini, merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu.
Tujuan utamanya adalah mengeduk atau membersihkan Sumber Beji dari kotoran. Karena di sumber inilah letak kehidupan penduduk Tawun, ujarnya kepada wartawan.
“Setiap tahun pada hari Selasa Kliwon masyarakat di sini selalu mengadakan ritual semacam ini untuk menolak balak semua petaka yang bakal dihadapi,” terang Supomo, Selasa (27/11).
Menurutnya, inti dari ritual Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi yang berisi air legen di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang terdapat di dalam sumber Beji sendiri.
Ritual ini berawal dari (legenda) warisan Eyang Ludro Joyo yang dulu pernah bertapa di Sumber Beji untuk mencari ketenangan dan kesejahteraan hidup. Setelah bertapa lama, tepat di hari Selasa Kliwon, jasad Eyang Ludro Joyo dipercaya hilang dan timbulah air sumber ini. Ritual ini berawal dari pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji.
Seluruh pemuda desa terjun ke air sumber untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir. Dalam proses ini, diwarnai mandi lumpur oleh para pemuda yang terjun ke air.
Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan penyilepan kendi ke dalam pusat sumber. Setelah itu, penyiraman air legen ke dalam sumber Beji dan penyeberangan sesaji dari arah timur ke barat sumber.
Sesaji tersebut berisi makanan khas Jawa seperti, jadah, jenang, rengginan, lempeng, tempe, yang ditambah buah pisang, kelapa, bunga, dan telur ayam kampung. Selama penyeberangan sesaji, para pemuda yang berada di sekitar sumber Beji berjoged dan melakukan ritual saling gepuk dengan diringi gending Jawa.
Ritual ditutup dengan makan bersama Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon yang telah disediakan bagi warga untuk “ngalap” (meraih) berkah. Warga saling berebut makanan yang dipercaya bisa mendatangkan berkah bagi kehidupannya kelak. (humas pemkab ngawi)
“GONO BAHU adalah sesaji tumpeng raksasa yang dilarung di Telaga Sarangan Magetan. Foto: MagetanKab.go.id
GONO BAHU adalah sebuah sesaji dalam bentuk tumpeng dilarung ke dalam Telaga Pasir atau orang-orang lebih banyak mengenalnya dengan sebutan Telaga sarangan.
Acara yang digelar setiap tahun pada hari Jum’at pon bulan Sya’ban/Ruwah ini menarik antusiasme para wisatawan. Ini terbukti dengan ribuan wisatawan yang datang ingin menyaksikan prosesi adat Larung tumpeng tersebut dari pinggir Telaga Sarangan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan melalui Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Olah Raga (Disparbudpora) menggelar rangkaian kegiatan yang di kemas dengan nama ‘Gebyar Labuhan Sarangan’ pada bulan Mei 2016 lalu.
Upacara Larung ini juga bisa menarik wisatawan karena masih kental dengan adat dan budaya Jawa. Upacara Larung Sesaji ini sangat sakral dan dipercaya oleh warga Kelurahan Sarangan dan sekitarnya sebagai warisan budaya leluhur.
Semua pengikut dan undangan setiap pelaksanaan Larung Sesaji di Telaga Sarangan dilaksanakan berdasarkan adat Jawa dengan memakai pakaian khas orang Jawa atau Kejawen.
Sedangkan pelaksanaan Larung Sesaji di lengkapi dengan Tumpeng Agung setinggi 2 meter. Tumpeng Agung juga dihiasi dengan buah-buahan dan hasil bumi warga Desa Sarangan.
Prosesi larung diawali dengan diaraknya ‘Gono Bahu’ dari Kantor Desa Sarangan menuju Telaga Sarangan dan ditutup dengan acara larung tumpeng ‘Gono Bahu’ dan labuh sesaji di Telaga Sarangan.
Setelah diserahkan kepada bupati Magetan Dr Drs H Sumantri oleh sesepuh dari Kelurahan Sarangan, tumpeng setinggi 2 meter dilarung di tengah Telaga Sarangan oleh Bupati Magetan dan jajaran Forkopimda.
Gebyar Labuhan Sarangan ini diadakan sebagai tradisi dan wujud rasa terima kasih kepada Tuhan YME atas berkah berupa Telaga Sarangan yang mampu memberi kehidupan warga di sekitarnya
Kepala Disparbudpora Drs Siran MM mengatakan tujuan diadakannya Gebyar Labuhan Sarangan adalah untuk melestarikan adat dan budaya masyarakat setempat agar tidak tergerus arus globalisasi.
Disamping itu juga sebagai sarana promosi obyek wisata Telaga Sarangan agar lebih dikenal wisatawan regional, nasional, bahkan mancanegara. (ist)
“Hasnan Singodimayan masih aktif menularkan ilmunya, terutama soal budaya using. Foto: ist
Keriput kulit di pipinya tergurat jelas. Rambutnya berwarna perak. Sebagian giginya sudah tanggal. Tetapi pandangan matanya masih tajam. Ia bisa membaca SMS dari telepon selulernya yang butut.
Semangatnya berbagi imu kepada siapa pun tidak kendur, baik secara lisan maupun tulisan, apaagi menyangkut budaya masyarakat Using.
Untuk transfer ilmu melalui tulisan, Hasnan Singodimayan sedang merampungkan buku berjudul Suluk Muktazilah. Buku ini berisi renungannya bagaimana membangun Islam Indonesia dengan berakar pada Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), dua organisasi mainstream di Indonesia.
“Mudah-mudahan dalam waktu tak lama lagi buku itu bisa terbit,” katanya siperti dikutip Kompas (29/07/2011), saat ditemui di rumahnya di belakang Masjid agung Banyuwangi, Jatim.
Transfer pengetahuannya secara lisan menjadi kehidupannya sehari-hari. Ia bisa diajak berdiskusi berjam-jam. Hampir selalu ada orang datang, mulai dari mahasisa, dosen, seniman, hingga peneliti untuk menimba ilmu, terutama masalah sosial-budaya masyarakat Using.
Budaya Using adalah subkultur masyarakat jatim sebagaimana subkultur Arek, Pendalungan, Mataraman, Tengger, dan Madura. Masyarakat Using adalah mayoritas penduduk daerah semenanjung timur Jatim, Kabupaten Banyuwangi.
Dia juga mendirikan Hasnan Singodimayan Centre, lembaga non proft yang bergerak di bidang penelitian, pengkajian, dan pengembangan sosial-budaya Using Banyuwangi.
Misalnya, mengadakan Bintang Pelajar Pencinta Sastra (BPPS) yang diikuti sastrawan muda. Ini sebagai cara menjaga kesinambungan dinamika budaya Using dari generasi ke generasi.
Praktis tokoh tua yang menjadi referensi hidup soal budaya Using tinggal Hasnan, setelah Hasan Ali, ayah aktris Emilia Contessa, meninggal dunia. Kedua tokoh ini bisa dibilag seperti sepasang sandal, termasuk saat memimpin Dewan Kesenian Blambangan, mulai sekitar 1980.
Hasnan layak dianggap “sumur tanpa dasar” untuk masalah sosial-budaya Using. Sedikitnya tujuh buku dia tulis berkaitan dengan sosial-budaya Using.
Misalnya novel Kerudung Santet Gandrung, yang ditulisnya pada 2003. Ada pula ratusan makalah, esai, cerita pendek (cerpen, dan cerita bersambung (cerbung) yang dia tulis sejak 1950-an sampai kini.
Cerbung Kerudung Baju Selubung yang dia tulis di koran Bali Post diangkat sebagai naskah sinetron di TPI dengan judul Jejak Sinden tahun 1994. Dia menjadi salah satu aktor di sinetron itu.
Di antara makalahnya yang dibukukan adalah Posisi Budaya Using dalam Aneka Kebudayaan Jawa Timur yang diterbitkan PT Tiara Wacana Yogyakarta untuk Yayasan Muhammad Hatta.
Dia mulai menulis selepas dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo. tahun 1960-an, ia bergabung dengan koran Terompet Masyarakat, Surabaya. lantaran bergabung dengan manifesto Kebudayaan (Manikebu), dia dipecat karena koran itu erat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Meski begitu, dia tak berhenti menulis. Karyanya berupa esai, dan cerbung dia kirim ke pelbagai majalah dan koran. Cerpennya Lailtul Qadr menjadi juara tiga cerpen Dewan Kesenian Surabaya, 1973. Puisinya menjadi juara II peulisan puisi Radio BBC London, 1980.
Ia juga juara tiga penulisan kisah kepahlawanan kemerdekaan dari Dewan Angkatan 45 Pusat lewat Perempuan Itu Bingkai Pesawat.
Karya-karya tersebut dia simpan di rumahnya. “Dulu saya taruh di ruangan tamu, tapi kok tak aman, juga bisa membuat saya pamer. Dan, pamer itu bisa jadi sombong. Sikap itu harus saya hindari karena sangat dibenci Allat SWT. Hanya Allah yang berhak menyandang al-mutakabbir ( pemilik segala kebesaran). Sekarang saya simpan di ruang keluarga,” katanya.
Transformasi Budaya
Ia pernah diajak sekelompok masyarakat dan budayawan banyuwangi menggugat secara hukum novelis Putu Praba Darana, sebab buku yang ditulis Putu, Trilogi Blambangan yang terdiri dari Tanah Semenanjung, Gema di Ufuk Timur, dan Banyuwangi, yang menjadi cerbung di Kompas lalu diterbitkan PT Gramdedia, dinilai melecehkan budaya Using.
Ia juga diajak menggugat secara hukum dan mendemo Heru Setya Puji Saputra karena bukunya, Memuja Mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Using Banyuwangi terbitan LkiS, Yogyakarta, 2007 dinilai menyimpang dan menghina masyarakat Using.
“Saya tidak mau menuruti ajakan mereka. Kalau tulisan Putu dan Heru dianggap salah atau menyimpang, cara meluruskan juga harus dengan tulisan. Buatlah novel yang lebih baik dan benar. Dengan demikian nanti akan terjadi diskursus di masyarakat. Mendorong iklim dialog yang brilian, egalitarian, jernih, tanpa prasangka.Cara demikian , membuat kebudayaan dinamis dan berkembang. Menggugat secar hukum dan demo itu bukan cara bijaksana,” katanya.
Menurut dia, keterbukaan, dialogial, adalah akar budaya Using. Masyarakat Using tak menutup diri. Budaya yang masuk akan diserap lalu dipadukan dengan budaya asli hingga seeringkali melahirkan format budaya baru. Di sini ada transformasi budaya.
Dia mencontohkan, masuknya tari jangger Bali yang ‘kawin’ dengan tarian Using, melahirkan tari Gandrung. “Coba lihat, apa tari Gandrung sama dengan tari Jangger? Kan tidak, tetapi ada nuansa Jangger,” katanya.
Masyarakat Using terbuka menyerap budaya bahasa Mataraman. Tetapi tak serta merta mengganti dengan bahasa Mataraman walau di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Menyerap bahasa Mataraman justru menunjukkan martabat masyarakat Using.
Misalnya, kata ‘isun’ untuk aku. Dalam bahasa Mataraman, ‘isun’ menunjukkan derajat tertinggi, yang bisa menggunakan ‘isun’ hanya raja. Tetapi dalam budaya Using, ‘isun’ untuk semua. Ini menunjukkan egalitarianisme masyarakat Using sekaligus egoisme.
Sebaiknya untuk kata kamu, masyarakat Using menggunakan ‘sira’. Istilah ‘sira’ dalam bahasa Mataraman menunjukkan posisi paling rendah dibawah ‘panjenengan’ atau ‘paduka’.
“Makanan pun kalau masuk Banyuwangi mengalami transformasi. Di sini ada rujak-soto, rawon-pecel. Kan, rawon itu dari Surabaya, pecel dari Madiun, ketemu di sini jadi rawon-pecel yang nikmat. Semua itu menunjukkan keterbukaan budaya Using,” ujarnya.
Dia meyakini, dengan nilai-nilai keterbukaan, egalitarian, watak dialogial, akan menjadi landasan budaya Using lestari dan berkembang sesuai generasi dan zamannya.
Paradigma transformasinya adalah al-muhafadhah ala qodimis shalih wal ahdu bil jadidil ashlah (mempertahankan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik) .
Paradigma yang dia serap dari Pondok Darussalam Gontor. “Ada atau tak ada saya, budaya Using tetap lestari dan berkembang. Saya hanya bagian secuil dari budaya Using,” kata kakek enam cucu itu. (ist)
BIODATA
Lahir : Banyuwangi, Jawa Timur, 17 Oktober 1931
Istri : Sayu Masunah
Penghargaan Diantaranya :
– Penghargaan Gubernur Jawa Timur bidang Budaya, 2003
– Pemenang III Penulisan Cerpen Dewan Kesenian Surabaya, 1973
– Pemenang II Penulisan Puisi BBC london, 1980
“Proses Siraman Air Terjun Sedudo”. Foto: Den Maz Hermawan/EastJavaTraveler.com
Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar siraman di obyek wisata Air Terjun Sedudo pada 1 Oktober 2016 lalu.
Dalam acara tersebut, ribuan pengunjung berdatangan ingin melihat langsung prosesi siraman. Ini memang menjadi agenda tahunan bagi Pemkab Nganjuk untuk mempertahankan agar daya tarik air terjun Sedudo bisa tetap terjaga.
Prosesi siraman diawali dengan tabur bunga bunga di tengah-tengah obyek wisata air terjun Sedudo yang dilakukan Bupati Nganjuk Drs H Taufiqurrahman MKP.
Usai menabur bunga, selanjutnya melarung sesaji ke tengah-tengah area air terjun Sedudo. Hal itu sebagai pertanda kalau Pemkab Nganjuk selalu memperhatikan air terjun Sedudo sebagai tempat wisata andalan di Nganjuk.
Ritual Siraman Sedudo kali ini berlangsung meriah dan sakral. Kemasan tari Bedhayan Amek Tirta semakin menambah kesakralan prosesi. Tari itu sendiri merupakan penggambaran rasa wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tari ini dibawakan lima penari cantik. Sedangkan di belakangnya siap sepuluh gadis berambut panjang siap dengan klentingnya dan lima perjaka yang siap mengambil air (amek tirta) dari gerojogan Sedudo.
Sebelum pertunjukan tari dimulai, seorang penunjuk jalan (cucuk lampah) telah memandu jalan menuju air terjun Sedudo. Di belakang berderet lima sesepuh membawa dupa dan sesaji disusul para putri domas, lima penari Bedhayan, dan paling belakang terdiri dari 10 gadis berambut panjang dan 5 perjaka tampan.
Yang menambah suasana menjadi sakral adalah aroma harum yang keluar dari kepulan asap dupa. Ini pertanda prosesi benar-benar dimulai, membacakan mantra-mantra sambil membakar dupa menghadap ke guyuran air terjun Sedudo.
Selanjutnya diikuti ritual larung sesaji ke dalam air Sedudo oleh Bupati Nganjuk. Setelah usai, mereka bersama-sama kembali menuju persiapan pertunjukan tari Amek Tirta.
Di akhir pertunjukan tari, Bupati Nganjuk menyerahkan klenthing ke sepuluh gadis berambut panjang sebagai pertanda proses ritual Amek Tirta dilaksanakan. Semua harus turun di bawah guyuran air terjun Sedudo, yang konon memiliki kekuatan magis dapat menjadikan orang yang mandi awet muda.
Saat itu, para ritual yang menenteng ‘klenthing’ hanya sekadar mengisi air Sedudo yang mengguyur. Kendati harus berbasah-basah, para gadis cantik bertubuh ideal tersebut harus rela demi mendapatkan ‘tirta amerta.’
Menurut mitosnya, gadis yang mengambil ‘tirta amerta’ ini harus masih suci, untuk menggambarkan bahwa air yang diambil juga benar-benar masih suci. Untuk itu tidak sembarang gadis dapat mewakili dalam proses sakral ini.
Bila mitos ini dilanggar, menurut kepercayaan warga setempat dapat mendatangkan sengkala atau bahaya.
Lazimnya, tirta amerta yang dipercaya memiliki kesucian ini, biasa digunakan untuk berbagai keperluan yang berkaitan dengan kegiatan ritual seperti jamasan pusaka, upacara ruwatan, wisuda waranggana, dan sebagainya.
Usai upacara selesai dilanjutkan mandi bersama para pengunjung dan tamu undangan berebut masuk ke pemandian air terjun Sedudo.
Menurut sejarahnya, sebenarnya upacara siraman ini tidak ada. Kendati pun kepercayaan masyarakat tentang mandi air di Sedudo ini sudah turun-temurun – sejak nenek moyang kita.
Baru sekitar tahun 1987, prosesi garapan tari dikemas sebagai kalender budaya dan berlangsung hingga sekarang.
Acara dilanjutkan doa bersama sebagai wujud rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa serta memohon agar Nganjuk kedepan dihindarkan dari segala musibah, bencana marabahaya dan diberikan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Doa dipimpin oleh Wakil Bupati Nganjuk KH Abdul Wachid Badrus MPdI dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama warga Nganjuk. (ist)
“Festival Rontek di Pacitan berawal dari tradisi gugah sahur”. Foto: InfoPacitan.com
Rontek menjadi salah satu tradisi budaya yang melekat bagi masyarakat Pacitan. Bahkan, tiap tahun festival rontek rutin digelar sebagai agenda wisata budaya. Sebanyak 16 grup musik rontek unjuk kebolehan menyajikan pertunjukan rontek, pada Agustus 2016 lalu.
Dalam perlombaan yang diikuti oleh perwakilan grup musik rontek dari 11 kecamatan dan 5 kelurahan tersebut juga ditampilkan beberapa atraksi menggebuk bambu. Mereka beradu skill dan kemampuan bermain musik rontek untuk menjadi yang terbaik. Pun rela merogoh kocek cukup besar untuk tampil.
Camat Ngadirojo Gunawan mengaku mengeluarkan dana lebih dari Rp 10 juta untuk ikut dalam agenda budaya tahunan tersebut. Besarnya dana itu digunakan untuk beberapa kegiatan.
Mulai dari, latihan, sewa pelatih dari ISI Solo dan Jogjakarta, kostum hingga menyewa peralatan rontek serta menghias kendaraan. “Pengeluaran bukan hanya pas lomba saja, sejak persiapan juga butuh dana,” ujarnya.
Gunawan mengungkapkan, persiapan tim rontek yang mewakili wilayahnya dilakukan selama dua minggu. Meskipun membutuhkan persiapan cukup lama dan membutuhkan dana cukup besar, dia mengaku antusias dan mendukung penyelenggaraan festival musik rontek.
Sebuah tradisi yang identik dengan kegiatan gugah sahur tersebut. “Ini sekaligus sebagai upaya melestarikan salah satu budaya lokal yang dimiliki Pacitan,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Pacitan Indartato mengungkapkan, selain nguri-nguri budaya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempromosikan Pacitan kepada masyarakat luas.
Dan menjadikan kesenian rontek sebagai budaya unggulan daerah. “Kegiatan tersebut juga sebagai wadah bagi para pemuda Pacitan menyalurkan kreativitas,” katanya.
Dalam perjalanannya, lomba ini sudah menginjak tahun kesembilan. Dari sepanjang pergelaran tersebut selalu menyedot animo masyarakat. Hanya saja, peserta tahun ini jumlahnya menurun dibanding tahun sebelumnya.
Dalam perlombaan ini, ada beberapa kriteria khusus yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi yang terbaik. Yakni, aransemen, kreativitas, kostum dan kekompakan.
Sekadar diketahui, dahulu rontek merupakan kombinasi instrumen musik tradisional seperti gong, kenong, suling, dan saron.
Dalam perkembangannya dikombinasikan juga dengan alat musik modern seperti saxophone, bass drum, dan pianika.
Tradisi ini mengutamakan kekompakan dan keserasian pemain alat musik, penari, dan pesinden. Selain menarik, tradisi ini juga sebagai media untuk saling bersilaturahmi antar warga. (ist)
“Banyuwangi Ethno Carnival menggerakkan ekonomi rakyat. Foto: Humas Pemkab Banyuwangi
Bupati Abdullah Azwar Anas mengemukakan bahwa ajang Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2016 yang berlangsung sangat megah pada Sabtu mampu menggerakkan ekonomi rakyat.
Anas menyebut, BEC mempunyai tiga tujuan. Pertama, adalah upaya mengenalkan budaya lokal ke publik global. Lewat ajang ini pihaknya ingin menumbuhkan rasa cinta warganya pada budaya lokal.
Kedua, kegiatan pariwisata tersebut adalah ruang untuk mengapresiasi anak-anak Banyuwangi yang bergiat di bidang seni-budaya. “Salah satu problem pengembangan seni budaya kita selama ini adalah minim apresiasi. Latihan terus tapi tidak ditonton ribuan orang. Dengan kegiatan ini, apresiasi dilakukan sekaligus bagian dari regenerasi pencinta seni-budaya,” ujar Anas seperti dikutip Antara.
Tujuan ketiga, kata Anas, untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. “Karena ada kegiatan ini hotel penuh, kuliner laris, oleh-oleh ludes, jasa-jasa penunjang bergerak, seperti jasa transportasi, pemandu wisata dan lain-lain,” katanya.
Ia menegaskan bahw BEC meupakan bagian dari pesta rakyat Banyuwangi, selain kegiatan-kegiatan lainnya yang mampu menggerakkan gairah pariwisata.
“Tujuan utama dari berbagai kegiatan pariwisata yang kami gelar adalah untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Di setiap festival, kami membebaskan trotoar di sekitar lokasi untuk berjualan UMKM karena ini adalah pesta mereka. Ke depannya kami akan terus menguatkan pariwisata daerah, salah satunya menambah infrastruktur wisata. Tahun depan akan ada lima hotel berbintang yang beroperasi di Banyuwangi. Akhir tahun ini juga akan ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Banyuwangi,” ujar Anas.
Sementara itu, kata sebanyak 200 peseta BEC mampu menunjukkan penampilan yang luar biasa. Mereka merupakan anak anak muda Banyuwangi yang penuh dengan ide dan kreativitas tanpa kehilangan semangat tradisi dalam menuangkan segenap potensinya.
“Anak anak ini tidak hanya menampilkan desain pakaian yang kreatif, namun sebagai garda terdepan menyampaikan pesan budaya dan sejarah, yakni dari Banyuwangi untuk dunia,” ujar Anas.
Karnaval yang temanya mengisahkan asal mula berdirinya Banyuwangi ini juga diikuti oleh 40 wisatawan mancanegara yang ikut berparade. Di antaranya berasal dari Rusia, Belarusia, Amerika Serikat, Prancis, dan Italia. Mereka berpakaian layaknya penari Gandrung dan ikut berjalan menyapa masyarakat Banyuwangi. Para wisatawan itu kebetulan sedang berlibur di Banyuwangi lalu ditawari untuk ikut tampil dan mereka menyambut antusias.
“Ini pertama kalinya saya berlibur di Banyuwangi dan langsung terlibat di acara yang unik ini, sangat menyenangkan sekali,” kata Dzmitry Magvay Nedashkouskiy dari Republik Belarusia. (ant)
Candi ini terletak tak jauh dari Kolam Segaran dan Candi Bajangratu. Meski demikian, para ahli masih kesulitan mencari titik terang, hubungan antara Kolam Segaran, Bajangratu, dan Candi Tikus. Yang pasti, ketiganya berada di Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Candi Tikus sendiri berada di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan.
Para ahli juga meyakini, Candi Tikus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki korelasi dengan candi-candi peninggalan Majapahit lainnya.
Sebagai sebuah aset wisata sejarah, Candi Tikus masih berdiri dengan wujud yang relatif utuh. Diperkirakan berdiri pada abad ke-13 atau 14, sejarawan meyakini, berdirinya Candi Tikus berhubungan erat dengan catatan Mpu Prapanca di kitab Nagarakertagama, tentang sebuah tempat yang biasa digunakan mandi para raja, dan sebuah candi yang sering digunakan untuk menjalankan ritual tertentu.
Arsitektur Candi Tikus konon melambangkan keperkasaan dan kesucian Gunung Mahameru yang diyakini sebagai tempat tinggal para dewa. Gunung Mahameru juga diyakini sebagai tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan. Sumber air ini dipercaya memiliki kekuatan magis. Salah satunya, dapat memberi kesejahteraan. Air yang ada di Candi Tikus, konon juga bersumber dari Gunung Mahameru.
Nama Candi Tikus sebenarnya cukup unik. Karena penamaan ini semata gara-gara saat ditemukan, hanya berbentuk gundukan bukit tempat bersarang tikus sawah. Saat itu warga resah, gara-gara sawahnya terus diserang tikus yang jumlahnya sangat banyak. Oleh pemerintah setempat, muncul inisiatif membasmi tikus sampai ke akar-akarnya. Dan ternyata, sumber tikus ada di candi ini.
Tahun 1914, Bupati Mojokerto Kromodjojo Adinegoro berinisiatif membongkar bukit ini. Mereka kaget bukan kepalang, karena di balik gundukan tanah ada tumpukan batu yang menyerupai bangunan candi. Setelah tanah dibersihkan mereka sadar, kalau sudah menemukan sebuah candi baru. Karena banyak tikus, nama Candi Tikus-pun jadi julukan buat candi ini. Lalu tahun 1985-1989, candi ini kembali dipugar. Gara-gara sepanjang perang kemerdekaan, Candi Tikus rusak di beberapa sisi. Upaya merenovasi candi dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati. Karena tim yang dilibatkan dalam proses ini juga berharap agar Candi Tikus bisa terjaga bentuk aslinya.
Beberapa catatan menyebut, salah satu inovasi yang dicapai pemerintahan Kerajaan Majapahit adalah teknologi irigasi. Pada jaman itu, warga hidup dari sawah. Sehingga raja-raja Majapahit sangat memperhatikan kualitas aliran air menuju sawah. Candi Tikus yang memiliki saluran air dan pancuran, seolah melengkapi asumsi itu. Pancuran dan saluran air di Candi Tikus, sepertinya berperan besar sebagai pengatur debit air di Majapahit.
Apapun, candi yang dibangun di atas tanah yang lebih rendah 3,5 meter dan memiliki dimensi 29,5X28,25 meter dan tinggi 5,2 meter ini nampak cantik dan indah dipandang mata. Tak heran jika keberadaannya masih jadi jujukan wisatawan dari dalam dan luar negeri. (*)
Sejumlah pengunjung sedang mengujungi rumah penyelamatan dan pelestarian Situs Ngurawan yang berada di Dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jatim. Di rumah milik Gatot warga desa setempat itu, benda-benda temuan arkeologi di Situs Ngurawan dipertontonkan. (Pelestarian Situs Ngurawan)
Warga di sekitar Situs Ngurawan yang berada di Dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, menggagas pendirian rumah penyelamatan dan pelestarian yang bertujuan untuk menampung benda-benda temuan arkeologi yang banyak terapat di lokasi setempat.
Penggagas pendirian rumah penyelamatan dan pelestarian bagi Situs Ngurawan, Muhammad Masruri di Madiun, Sabtu mengatakan rumah tersebut berfungsi seperti museum mini yang digunakan untuk menyimpan dan mempertontonkan benda-benda temuan arkeologi yang banyak dimiliki oleh warga desa sekitar untuk dinikmati oleh pengunjung yang datang.
“Fungsinya seperti museum mini, namun masih sangat sederhana. Tujuannya adalah agar benda-benda temuan arkeologi yang banyak di desa kami itu tidak hilang dan rusak, namun justru dapat digunakan untuk tujuan yang positif bagi warga desa sekitar dan wisatawan,” ujar Masruri seperti dikutip Antara.
Menurut dia, pendirian rumah penyeamatan dan pelestarian tersebut juga untuk menyongsong rencana Pemerintah Kabupaten Madiun menjadikan Situs Ngurawan sebagai destinasi wisata sejarah di wilayah setempat.
“Warga desa sekitar sini sangat mendukung rencana Pemkab Madiun untuk menjadikan Situs Ngurawan sebagai tempat wisata sejarah,” kata dia.
Ia menjelaskan, rumah penyelamatan dan pelestarian tersebut berada tidak jauh dari Situs Ngurawan yang beberapa waktu lalu digali oleh tim arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta untuk penelitian. Adapun, rumah tersebut adalah milik Gatot Suharto sang pemilik lahan di mana Situs Ngurawan pertama kali ditemukan.
Dalam rumah kecil tersebut terdapat sekitar empat lemari kaca yang digunakan untuk memajang benda-benda temuan arkeolog. Diharapkan Pemkab Madiun memberikan perhatian dengan menambah fasilitas pendukung sehingga Situs Ngurawan semakin dikenal.
“Benda-benda temuan arkeologi yang dipajang tersebut semuanya milik warga. Benda itu dititipkan supaya tidak rusak dan justru malah dapat digunakan untuk keperluan yang postif,” kata dia.
Adapun benda yang dipajang di antaranya, umpak, yoni, fragmen tembikar kuno, ambang pintu, panil relief, dan “jobong sumuran”, arca Nandi (lembu), arca Dewi Parwati, Jaladuwara (saluran air), dan miniatur candi.
Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata (Dikoperindagpar) Kabupaten Madiun Isbani mengatakan, Pemkab Madiun serius menjadikan Situs Ngurawan yang berada di wilayahnya sebagai objek wisata sejarah dan desa wisata. “Hal itu sebagai upaya pemda setempat dalam mengembangkan potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Madiun,” kata Isbani.
Sementara, keberadaan Situs Ngurawan sendiri mulai ramai dikunjungi setelah warga dusun sekitar sering menemukan benda-benda kuno yang diduga merupakan peninggalan bersejarah. Pengunjung kebanakan adalah anak sekolah.
Adapun, temuan yang terbaru dialami oleh warga dusun setempat, Gatot. Dimana ia menemukan susunan batu bata berbentuk fondasi kuno di halaman rumah miliknya. Ia juga menemukan patung yang diduga kuat peninggalan peradaban Kerajaan Majapahit.
Atas temuan tersebut, Balai Arkeologi Yogyakarta juga telah melakukan penelitian dan ekskavasi di kawasan tersebut. Hasilnya disimpulkan bahwa sangat besar kemungkinannya di lokasi tersebut dulunya merupakan pusat peradaban kedua peninggalan Kerajaan Majapahit setelah Trowulan.
“Namun itu masih perkiraan awal. Perlu penggalian dan penelitian lebih dalam lagi untuk mengungkap hal tersebut. Apapun itu nantinya yang ditemukan, Situs Ngurawan sangat istimewa,” ungkap Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto saat melakukan ekskavasi di lokasi setempat akhir September lalu. (ant)
“Turis dari Belanda tengah mengunjungi balai Kota Surabaya disambut kesenian reog. Foto: Humas Pemkot Sby
Surabaya ternyata memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Buktinya semakin sering disinggahi kapal pesiar. Diantaranya MS Volendam yang mengangkut 1.432 penumpang dengan 647 kru yang merupakan kapal kedua selama tahun 2016 ini, Senin (14/11) sandar di Pelabuhan Tanjung Perak.
Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kota (Budparta) Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, sebanyak 108 orang mengikuti paket Surabaya Discovery Tour dengan rute Patung Djoko Dolog – Balai Kota – Monumen Kapal Selam – Pasar Bunga Kayoon – House of Sampoerna.
“Bagi wisatawan yang tidak mengikuti paket reguler, mereka menyebar ke seluruh Surabaya dengan agenda masing-masing. Mereka bisa naik becak dari pelabuhan atau taksi untuk berkeliling kota, karena dari pelabuhan sudah ada tim dari Disbudparta Surabaya memberikan petunjuk. Mereka juga bisa melakukan Wisata Religi di Ampel, atau jelajah Kalimas,” papar Wiwiek.
Setibanya di Balaikota, para wisatawan tersebut disambut dengan Tarian Lenggang Surabaya dan Reog lengkap dengan sepasang Dadak Merak. Selain itu, para wisatawan asing ini juga diberikan sajian khas Surabaya.
Mulai dari Kelepon, hingga minuman Sinom. Sembari menikmati makanan dan minuman tersebut, mereka berkeliling gedung peninggalan Belanda yang kini difungsikan sebagai gedung pemerintahan.
Wiwiek menambahkan, Desember mendatang akan ada kunjungan serupa. Tidak menutup kemungkinan Balaikota tetap menjadi salah satu obyek city tour. Pasalnya, banyak wisatawan yang ingin bertemu Walikota Surabaya Tri Rismaharini.
“Rata-rata para wisatawan ingin bertemu dengan bu Risma,” tambah Wiwiek lagi. Menurut para wisatawan, papar Wiwiek lebih lanjut, nama walikota Surabaya sudah terdengar hingga negara mereka. Jadi, beberapa dari para wisatawan itu sengaja memilih Balaikota agar bisa bertemu dengan walikota.
Umumnya, wisatawan terkesima dengan interior Balaikota. Salah satunya Suzan Wong, wanita asal Canada yang datang bersama suaminya antusias mengeksplorasi Balaikota. “Ini kunjungan pertama saya ke Surabaya. Saya suka bangunan peninggalan Belanda. Saya ingin lekas lihat bangunan di atas (balaikota lantai 2,red),” kata Suzan antusias.
Hingga awal November 2016 sudah sekitar 564.000 wisatawan asing berkunjung ke Kota Pahlawan. Program 2017 mendatang Disbudparta Surabaya menambah tiga rute wisata. Yakni mangrove, kampung lawas, dan melihat tari-tarian di Balai Budaya. (sak)