Upacara Kasada: Warisan Masyarakat Tengger pada Dunia

foto
Upacara Kasada kini menjadi daya tarik wisatawan. Foto: Antara

Siapa yang tidak kenal dengan kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Potensi wisata unggulan Jawa Timur yang setiap tahunnya dikunjungi oleh 550.000 wisatawan yang diantaranya terdapat 15.661 wisatawan asing ini, menyimpan potensi alam yang luar biasa.

Selain suasananya yang sejuk, gunung yang memiliki ketinggian 2.329 m/dpl, menyimpan panorama alam yang konon tiada bandingnya di negeri ini. Seperti fenomena sunrise, hamparan padang pasir, dan hamparan padang savana.

Namun dibalik keanggunan Gunung Bromo, tersimpan beberapa tradisi yang membentuk filosofi dan kesejarahan yang pada akhirnya menunjukkan keramahan dan perilaku konservatif pada budaya dan lingkungan masyarakat Tengger, penduduk asli gunung Bromo.

Salah satu tradisi yang hingga kini dipertahankan oleh masyarakat Tengger adalah Upacara Kasada. Upacara yang biasa disebut dengan Yadnya Kasada merupakan hari raya kurban masyarakat Tengger. Upacara ini jatuh pada tanggal 14 malam bulan ke-12 atau Bulan Kasada menurut kalender Tengger.

Yadnya Kasada diikuti seluruh masyarakat Tengger yang tinggal di kawasan Bromo-Tengger-Semeru. Puncak upacara diselenggarakan di Pura Luhur Poten yang menghadap ke Gunung Bromo, di tengah laut pasir atau biasa disebut oleh masyarakat Tengger dengan istilah Segara Wedhi.

Dalam upacara Kasada, masyarakat Tengger pada waktu fajar menyingsing berbondong-bondong menuju kawah Gunung Bromo untuk melemparkan kurban. Kurban yang dilemparkan berupa hasil pertanian dan peternakan yang dilengkapi dengan sajian dalam ongkek, alat sajian yang terbuat dari bambu.

Setelah itu di mereka berbondong-bondong menuju Pura Luhur Poten untuk mengikuti penyelenggaraan ujian untuk para calon dukun Tengger yang disebut mulunen.

Masyarakat Tengger
Menurut Prof Ayu Sutarto dalam bukunya ‘Inventarisasi Upacara Adat Provinsi Jawa Timur’, masyarakat Tengger merupakan salah satu dari 10 sub-kultur kebudayaan yang memiliki turunan tradisi terlengkap.

Selain Upacara Kasada, terdapat beberapa tradisi yang masih dipertahankan turun-temurun sebagai pemertahan keyakinan dan identitas seperti diantaranya upacara karo, unan-unan, pujan-pujan, peturon penganten, hingga upacara nyadran/sedekah panggonan.

Kondisi masyarakat Tengger sangat aman dan damai. Segala permasalahan selalu dapat diselesaikan dengan mudah atas peranan orang yang berpengaruh pada masyarakat tersebut dengan sistem musyawarah mufakat.

Setiap pelanggaran yang dilakukan cukup diselesaikan oleh petinggi adat dan kepala desa. Mereka sangat patuh dan menjunjung tinggi apapun keputusan yang dikeluarkan oleh orang-orang tersebut.

Apabila cara ini tidak juga menolong, maka pelaku pelanggaran itu cukup disatru (tidak diajak bicara) oleh seluruh penduduk. Mereka juga sangat patuh dengan segala peraturan yang ada, seperti kewajiban membayak pajak, kerja bakti dan sebagainya.

Hal tersebut tidak terlepas dari peranan ajaran yang hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat Tengger seperti terkandung dalam ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti Panca Setia.

Yaitu setya budaya artinya, taat, tekun, dan mandiri; setya wacana artinya setia pada ucapan; setya semya artinya setia pada janji; setya laksana artinya patuh, tuhu, dan taat; serta setya mitra artinya setia kawan.

Namun dari kesekian ajaran dan tradisi yang dianut oleh masyarakat Tengger, upacara Kasada-lah yang dianggap sebagai puncak perekat dari seluruh ritualitas masyarakat Tengger dalam mensyukuri nikmat dari Sang Maha Pencipta.

Hal tersebut diperkuat dengan adanya cerita rakyat yang mengisahkan tentang asal muasal leluhur masyarakat Tengger dalam upacara Kasada.

Joko Seger dan Roro Anteng
Cerita rakyat tersebut tentang Joko Seger dan Roro Anteng, yang juga merupakan pelarian masyarakat kerajaan Majapahit yang mengalami serangan.

Pada saat itu penduduk Majapahit kebingungan untuk mencari tempat tinggal hingga pada akhirnya mereka terpisah menjadi dua bagian, yang pertama menuju ke Gunung Bromo, dan rombongan kedua menuju Pulau Bali.

Gunung Bromo dipilih sebagai tempat pelarian karena dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyebutnya sebagai Gunung Brahma. Orang Jawa kemudian menyebutnya Gunung Bromo.

Diceritakan dalam cerita rakyat, pasca pelarian dari Kerajaan Majapahit pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger. Sebutannya Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya ‘Penguasa Tengger Yang Budiman’.

Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga ‘Tenggering Budi Luhur’ atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumah tangga belum juga dikaruniai keturunan.

Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Sang Hyang Widhi agar dikaruniai keturunan. Tiba-tiba muncul suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat. Bila kelak telah mendapatkan keturunan, maka anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya. Hingga pada akhirnya mereka memiliki 25 orang putra-putri, dengan anak bungsu bernama Raden Kusuma. Namun naluri orangtua tetaplah tidak tega bila harus mengorbankan Raden Kusuma ke dalam kawah gunung.

Hingga akhirnya pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger memutuskan untuk ingkar janji, hingga pada akhirnya Dewa menjadi marah dengan menimpakan malapetaka kepada seluruh masyarakat desa. Seketika itu juga suasana menjadi gelap gulita hingga pada akhirnya, kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Raden Kusuma anak bungsunya lenyap dari pandangan seketika terjilat selendang api, kemudian masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kusuma terdengarlah suara gaib.

”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orangtua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Syah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan ritual kirim sesaji yang berupa hasil bumi kemudian dipersembahkan kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.”

Mulai saat itulah masyarakat Tengger selalu menjalankan upacara Kasada, sebagai rasa syukur mereka atas kedamaian yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi. Mereka berbondong-bondong datang ke kawah gunung Bromo untuk berkurban, dengan harapan mereka dijauhkan dari malapetaka serta diberikan kemakmuran.

Kasada Warisan Dunia
Dalam mengapresiasi tradisi masyarakat Tengger, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencatat dan meregistrasikan upacara Kasada dalam warisan kebudayaan tak benda Indonesia. Namun dalam perjalanannya, tidaklah mustahil Kasada akan didaftarkan pemerintah dalam warisan kebudayaan tak benda dunia yang digawangi oleh UNESCO.

Adapun beberapa upacara adat dunia sudah didaftarkan, diantaranya Upacara adat Xooy dari Senegal, Upacara adat pembersihan anak laki-laki Lango dari Uganda, Upacara Nan Pa’ch dari Guatemala, Upacara Adat Rumah Suci Kangaba dari Mali, Upacara Mevlevi Sema dari Turki, serta Upacara Yamahoko dari Kyoto Jepang.

Sudah saatnya pemerintah Indonesia mendaftarkan upacara adat Kasada sebagai warisan budaya mengingat tradisi tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lamanya. Selain itu jika mengacu kepada syarat yang ditetapkan UNESCO, Upacara Adat Kasada sudah memenuhi kriteria diantaranya traditional, contemporary and living at the same time (tradisional, kontemporer, dan hidup pada saat yang sama).

Juga Inclusive (berkontribusi untuk memberikan rasa identitas dan kontinuitas serta menyediakan hubungan dari masa lalu); Representative (tumbuh subur pada dasar dalam masyarakat); serta Community-based (berbasis masyarakat). Tentunya hal tersebut juga disertai dengan acuan dan respon pemerintah Indonesia ketika melihat Upacara Kasada sebagai peluang dalam memberikan sumbangsih pada wasisan budaya dunia. (rba)

Dari Ujub Tumpeng Hingga Banteng Ketaton (3)

foto

Ruwat Sumber Partirtan Jolotundo dibagi menjadi tiga tahapan, sebelum, pada saat dan sesudah.

5. Sumaningah Ujub Tumpeng
Masyarakat pedesaan khususnya di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Malang serta Jombang, setiap ada acara (ritual) yang bernuansa adat, memakai ujub lokal yang rata rata hampir sama.

Namun untuk Desa Seloliman dimana ada Petirtan Jolotundo yang setiap saat dikunjungi para wisatawan religi untuk keperluan ritual, akhirnya model-model ujub berkembang di Seloliman, menjadi model Mataram berbagai versi, juga model Tengger.

Ujub Tumpeng (doa jawa) dipanjatkan oleh tetua / tokoh adat atau dusun. Untuk ujub lokal karena sangat dipahami kata kalimat dan makna para warga-warga nyenggaki: nggeh……… nggeh…… sampai selesai tenpa mengurangi khidmad.

Setelah ujub tumpeng selesai, dilanjutkan dengan doa oleh ulama. Selama ini dipanjatkan oleh ulama Islam dari warga Dusun Biting sendiri. Pihak panitia tetap mempersilakan kepada ulama dari agama lain Kristen, Budha dan Hindu untuk berkenan memmanjadkan doa juga.

Pada saat sumaningah ujub tumpeng dipanjatkan, beberapa tetua atau tokoh dusun sambil berkeliling memercikkan air suci (air yang telah diruwat), yaitu air-air dari berbagai sumber yang sudah disatukan (manunggal) di dalam kemaron, kepada semua yang hadir. Sebagian warga dan undangan (tamu) membawa pulang, disamping untuk diminum keluarganya, juga dipercikkan ke sawah, tegal dan ternak.

Setelah selesainya ujub dan doa, panitia mempersilahkan para tamu dan segenap yang hadir untuk menikmati tumpeng-tumpeng yang telah disediakan/yang telah diberkati dalam ruwat.

6. Beksan
Beksan atau tandaan oleh masyarakat Jawa Timur, khususnya di wilayah pedesaan Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Malang dikenal sebagai tari pergaulan muda-mudi / pria-wanita dan umumnya disebut Saweran.

Tarian wanita-pria ini sekilas memang nampak beraroma sedikit porno, dengan gerakan-gerakan sedikit erotis. Namun bagi yang memahami bahwa penampilan wanita-wanita dan gerakan sedikit erotis itu melambangkan (simbol) dari Lingga Yoni. Apapun yang bermakna Lingga Yoni, adalah sesuatu yang magis dan sakral, yang tidak boleh dibuat main-main, apalagi disalahgunakan.

Beksan disebut juga saweran, karena si pria yang umumnya tamu, sebelum naik panggung (arena), harus memberi tip berupa sejumlah uang kepada pimpinan panjak (wiyogo), sambil meminta gending (lagu). Tampilnya si pria keatas panggung, disamping karena ditunjuk kemlandang, juga atas kemauannya sendiri, tetapi tetap harus seijin (memberitahu) Kemlandang. Kemlandang adalah pembawa acara khusus saweran sekaligus mengatur jalannya saweran.

Di Patirtan Jolotundo, beksan ditempatkan di depan kolam pojok barat. Karena beksan merupakan salah satu persyaratan dalam ruwat, dan berlangsungnya beksan tidak lama, yakni antara 15- 30 menit. Selesai beksan dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit ruwat.

7. Wayang Ruwat
Gebyar (pentas) wayang kulit (ruwat) sebagai rangkaian yang tak terpisahkan dari prosesi ruwat harus digelar pada saat itu juga. Oleh karena itu dalam tekhnis pelaksanaannya, ada dua cara yang dilakukan selama ini, pertama digelar sampai selesai saat itu juga, biasanya dengan lakon ruwat singkat.

Kedua digelar sepintas, yang disebut dengan Mucuki dan dilanjutkan pada malam hari di rumah Kepala Dusun, sebagaimana umumnya gebyar warang kulit semalam suntuk.

Adapun lakon (ceritera) yang ditampilkan, menurut pendapat tetua adat dusun Biting, antara lain Dewa Ruci (Tirta Perwita Sari), Pandawa Tambak atau Pendawa Tani, karena erat kaitannya dengan air, dan erat pula dengan pertanian atau kehidupan para petani.

8. Bantengan
Seni Bantengan merupakan ikon Mojokerto, keberadaannya di Dusun Biting Seloliman cukup eksis dan patut dibanggakan setidak-tidaknya menyangkut gamelannya. Paguyuban Bantengan di wilayah Mojokerto awalnya tumbuh di desa-desa lereng bawah dan lembah Gunung Penanggungan, Gunung Wirang dan Gunung Anjarmoro.

Adapun seni tari bantengan itu sendiri diilhami beberapa hal. Konon di hutan-hutan pulau Jawa, hidup berkelompok-kelompok sapi liar. Manakala di tengah-tengah kelompok tersebut lahir seekor sapi yang mempunyai ciri berbeda dengan yang lain, yakni keningnya putih sampai kemoncong, pantatnya putih, keempat kakinya juga berwarna putih sampai batas lutut. Secara naluri, seluruh anggota kelompok melindungi dengan ketat padat yang memiliki ciri khas tersebut.

Menginjak masa remaja sampai dewasa, keistimewaan sapi tersebut mulai nampak. Tubuhnya ramping dan kekar, cenderung lebih kecil. Itulah yang oleh masyarakat Jawa disebut ‘Banteng’ secara naluri pula, dia diangkat sebagai pemimpin kelompok/tampil sebagai pemimpin kelompok.

Dalam pengembarannya di hutan, pada suatu saat bertemu dengan harimau. Harimau tidak langsung menerjang dan menerkam. Karena kelompok sapi tersebut dikawal oleh banteng. Sang harimau mulai berhitung dan mulai memaknai siasat sebelum menyerang. Pertama harimau mulai beraksi, kaki banteng dicakar-cakar. Sang banteng tidak melayani, dan menggiring kelompoknya untuk menghindar. Tapi Sang Raja Hutan terus membuntuti.

Strategi harimau mulai ditingkatkan. Harimau melompat naik ke pantat banteng, ke punggung banteng sambil mencakar dan menggigit. Sang banteng berusaha melepaskan diri dan banteng yang nalurinya ‘lamban panas’ menggiring kembali kelompoknya menjauhi sang pemangsa sambil berlari.

Harimau masuk ke belukar, namun tetap mengintai mangsanya. Kelompok sang banteng merasa sudah berada jauh diluar jarak terkam hHarimau. Sampai di padang rumput hijau. Sang banteng bersama kelompoknya santai sambil menikmati makanan rumput, Sang Banteng tidur-tiduran sambil mengawasi anggota kelompoknya.

Mendadak, muncul dari semak-semak harimau dan langsung menerkam banteng yang sedang santai. Kali ini sasaran serangan harimau yang dipilih leher (tenggorokan/ kerongkongan) dan kepala. Sang banteng tidak bisa menghindar dan mengalah lagi.

Banteng dalam keadaan kesakitan yang amat sangat, sakit fisiknya sakit perasaannya. Tenaga banteng muncul, sang harimau dilempar Sang Banteng mengamuk, menerjang, menyerang siapa saja dan apa saja yang dianggap sebagai lawannya.

Inilah yang disebut dengan BANTENG KETATON, tidak takut siapapun dan apapun. Inilah yang mendasari Bung Karno, menancapkan Kepala Banteng pada dada Garuda Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai salah satu simbul bangsa Indonesia : Lamban panas, senang mengalah, tapi kalau sudah kesakitan (sakit martabatnya, sakit fisiknya) akan mengamuk ibarat (lir kadyo) Banteng Ketaton.

Kesenian Bantengan tidak ada kaitannya dengan partai politik manapun, demikian pula dengan kesenian Bantengan Dusun Biting Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto, lereng timur laut Gunung Penanggungan (Bukit Bekal).

Pada saat atraksi Bantengan, sampai pada atraksi Bantengan Ketaton, hampir semua pemain menjadi trans (kesurupan). Kalau salah satu dari dua orang pemain Bantengan kesurupan, cirinya tanduk dari kepala banteng itu ditancapkan ketanah.

Setelah banteng ketaton berhasil menaklukkan harimau sang pengganggu, banteng-banteng yang mulai tenang, satu persatu para pemain yang trans (kesurupan/ndadi) itu disadarkan oleh para pawang. Disini cambuk sudah tidak boleh dicambukkan lagi, sebab bunyi cambuk atau bahasa Jawanya Pecut memberikan sugesti kepada para pemain untuk trans (ndadi). (ist/3 dari 3-habis)

Tulisan pertama klik disini

Lakon Brotoseno Mencari Air Suci (2)

foto

Ruwat Sumber Partirtan Jolotundo dibagi menjadi tiga tahapan, sebelum, pada saat dan sesudah.

Persiapan Ruwat
Menginjak bulan syawal, sesepuh dusun (tetua adat) yang dipimpin Mbah Jari mulai menentukan waktu pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo dengan pendoman pasaran Legi sepuluh hari pertama (sebelum tanggal 10 jawa). Untuk kemudian membentuk panitia Ruwat Sumber.

Panitia menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk kepentingan ruwat. Pengambilan air/ mengumpulkan air dari sumber – sumber yang akan diruwat. Obyek air yang diruwat tidak terbatas pada sumber jolotundo, tapi sumber-sumber air di seputar gunung penanggungan

Pengadaan pohon tahun, biasanya pohon beringin, buluh dan burung (burung apa saja asal bukan burung hama pertanian).

Cok bakal atau tumpeng sesaji lengkap berikut ikung ayam kampung jantan. Disertai polo kependem, polo gumantug atau buah umumnya pisang ayu dan sepasang buah kelapa, dan bunga minimal 3 warna (kembang telon, 5 warna 7 warna atau kembang setaman).

Kesenian wajib: Wayang kulit dengan lakon yang berkaiatan dengan ruwat dan tandaan serta batengan. Dipersiapakan pula gamelan alusan seperti rebab, siter, gender, gambang dan suling. Selama ini yang sering ditampilkan adalah gendr dan rebab dan disertai dengan vocal dalam bentuk puisi.

Dupa, kendi disiapkan 20-30 buah, kemaron minimal 2 buah berikut sewur secukupnya, bambu jawa 2 lembar dalam keadaan utuh akar dan rantingnya. Ancak atau lincak atau disebut juga amben, yakni kursi panjang dari bambu, untuk meletakan asahan (tumpeng) dari warga.

Prosesi Ruwat
Sekitar jam 08.00 petugas mulai mengambil asahan (tumpeng) dari warga, disisir mulai dari utara dengan dimuat pick-up. Semua tumpeng dikumpulkan di luar area Jolotundo + 50 meter dibawah patirtan, persis di bumi perkemahanan (pendopo).

Setelah semua tumpeng dari warga terkumpul, tumpeng-tumpeng dipanggul, diarak dengan berbaris menuju patirtan dengan dikawal pasukan Banteng. Dibelakang diiringi beberapa warga, tamu dan beberapa petugas, laksana barisan istimewa dengan kawalan khusus diiringi alunan gembing irama sakral. Tabuhan Bantengan Jimo, Malangan dan Gedek.

Sampai di areal Jolotundo, pasukan tumpeng bersama semua pengiring masuk ke Patirtan Jolotundo. Tumpeng-tumpeng ditata ditempat yang sudah disiapkan di depan kolam. Lokasi/areal mulai dari tempat tumpeng sampai Siti Hinggil tetap disterilkan kecuali petugas.

Dengan berhentinya alunan suara gamelan bantengan maka acara Ruwat Sumber Jolotundo dimulai.

1. Panyuwunan
Dalam bahasa jawa lama yang sampai sekarang masih dipakai oleh masyarakat Tengger Gunung Bromo adalah Sumaningah / ngaturi meningga (dalam bahasa jawa Mataraman disebut Ngaturi pirsa). Sesuai dengan mantra yang sumare di tlatah Jolotundo dan sekitarnya, yang sudah kundur kealam kelanggengan, tentang maksud dan tujuan para anak cucu beliau, warga Dusun Biting dating ke Patirtan Jolotundo, yakni:

– Ngaturaken sembah sungkum dumateng para leluhur ingkang sampun kundur dumateng alam kelanggengan, kang sumare wonten tlatah Patirtan Jolotundo lan sakpiturute.

– Ngaturaken matur sembah nuwun, kepada para leluhur yang telah menata sumber-sumber dan aliran-aliran air Jolotundo yang manfaatnya sangat dirasakan oleh anak cucunya. Warga dusun Biting dan sekitarnya, untuk minum, rumah tangga, terutama untuk pertanian sawah, petegalan (kebun) dan peternakan. Dan kesanggupan untuk mempertahankan, melestarikan, mengembangkan dan mengawal semuanya itu demi kemakmuran bersama. Meruwat dan merawat.

– Nyenyuwun (memohon) kepada Kang Akarya Jagad (Hyang Akar ya Jagad) Tuhan Yang Maha Pencipta, untuk selalu diberikan petunjuk bimbingan dan perlindungan. Diakhiri dengan doa agar arwah para leluhur diampuni segala dosanya diterima semua amalnya dan terima disisiNya.

Demikian ritual sumanginah Ujub Sesaji, dengan ngaweruhi pula keberadaan anasir baik di dalam mikro maupun makro, sebagaimana dilambangkan dalam sesaji tumpeng lengkap berikut polo kependem, polo gumantung, bunga setaman dan asap pedupaan.

– Sumaningah (Ngaweruhi) ujub sesaji lengkap dilakukan di Siti Hinggil pelataran atas Patirtan yang dipimpin oleh tetua adat dengan didampingi Kepala Dusun dan beberapa tetua / tokoh dusun. Dan Untuk menambah khusuk dan heningnya sumaningah, di pelataran bawah dilantunkan suara gamelan alusan (rebab, siter, gender, gambang dan suling).

2. Manunggaling Tirta
Yang dimaksud dengan manunggaling tirta adalah menyatukan antara air yang berasal dari sumber-sumber sekitar Patirtan Jolotundo dengan air Jolotundo yang keluar dari pencuran-pancuran di Patirtan untuk dirawat. Kendi-kendi yang jumlahnya antara 9 s/d 33 yang tertata pinggiran kolam, berisi air-air dari sejumlah sumber.

Selanjutnya para pelaku ruwat dengan dipimpin oleh seseorang tetua adat terjun ke kolam bawah yang dangkal, juga naik ke Padmanasa mengambil air Jolotundo dari semua pancuran. Dan ‘semua air–air itu dijadikan satu dalam kemaron yang telah disediakan’.

Setelah semua air–air itu bercampur menjadi satu dalam satu kemaron, air dalam kemaron itu dengan khidmat dituang kembali ke dalam kendi kendi satu persatu, dan ditata sebagimana para tetua adat dan para pelaku ruwat terjun ke kolam menyebar mengambil air dari semua pancuran, berikut mendengarkan suara gamelan alusan yang berpadu dengan suara gemericiknya air.

Bergeloranya air kolam diaduk oleh kaki kaki para pelaku ruwat, mengingatkan kita (bagi penggemar wayang kulit) pada lakon (ceritera) wayang Dewa Ruci-Ruci atau disebut juga Terta perwita (Pawitra Sari). Brotoseno (warkudara) mencari air suci (sarisaino banyu), yakni ceritera sakral yang reliefnya terpampang di Patirtan Jolotundo dan Candi Kendalisodo.

Memang prosesi manunggaling tirta suci, kalaudi pertajam semaningah TIRTA PERWISA SARI. Yang mempunyai makna yang sangat dalam mikro dan makro, disamping makna menyangkut pelestarian lingkungan.

3. Sumaningah Penaman Pohon dan Pelepasan Burung
Sumaningah ini juga merupakan bagian penting dari prosesi dari prosesi ruwat. Walau ruwat tidak secara harfiaf artinya bersih, namun meruwat jelas mengandung arti membersihkan.

Pohon dan burung (flora & fauna) adalah pendamping kehidupan manusia. Ketiganya saling tergantung dan saling membutuhkan. Ketiganya adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Seringkali manusia bersikap egois, mengganggu keberadaan mereka, bahkan dengan sadar membunuh mereka. Pada saat ruwat inilah kita merenung, kembali menyadari terhadap prilaku kita terhadap para beliau Pohon dan Hewan.

Penanaman pohon dan pelepasan burung, tetap diiringi dengan alunan gamelan alusan. Pelaku ruwat yang melakukan penanaman pohon dan pelepasan burung, juga dilakukan dengan hati-hati dan kehalusan juga disertai sesaji pembakaran dupa (Gondo Arum).

4. Sambutan–Sambutan
Sambutan–sambutan ini dilihat dari kerangka ritual ruwat, bukan termasuk pokok acara. Tapi dipandang dari penyelenggaraan kegiatan dusun secara umum, sambutan–sambutan itu harus ada dan merupakan bagaian dari rangkaian ruwat. (ist/2 dari 3-bersambung)

Tulisan ketiga klik disini

Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo (1)

foto

Gunung Penanggungan
Gunung Penanggungan (Gunung Pawitra) (1.653 mdpl) terletak di Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur) Jawa Timur memiliki ratusan peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur.

Gunung Penanggungan, dikelilingi oleh delapan bukit besar kecil secara berseling-seling, (empat bukit tinggi dan empat bukit pendek) sehingga penampang Gunung Penanggungan selalu nampak sama bila dipandang dari delapan penjuru mata angin.

Keberadaan Gunung Penanggunan yang demikian itu menurut konsep atau Doktrin Cosmogoni Brahman Hinduisme atau Jawaisme merupakan MINIATUR JAGAD RAYA. Mandala ditengah–tengah dengan dikelilingi 8 Samudra dan 8 Benua. Merupakan MAHA MERU dengan MANDALA ALAMI.

Gunung Penanggungan, adalah satu-satunya gunung yang menyimpan bukti-bukti arkeologi paling banyak tentang sejarah masa lampau Bangsa Indonesia. Berdasarkan studi selama dua tahun (2012-2014) ditemukan 116 situs percandian atau objek kepurbakalaan, mulai dari kaki sampai mendekati puncak gunung.

Patirtan Jolotundo
Patirtan Jolotundo berada di lereng barat Gunung Penanggungan, terletak di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.

Desa Seloliman terdiri dari tiga dusun dengan keindahan alam dan adat budayanya. Dusun Biting dalah salah satu dusun yang tepat berada di kawasan Patirtan Jolotundo.

Pada Bulan Suro, sebagian besar warga Dusun biting selalu mengadakan ruwat sumber, sejak puluhan tahun lalu. Sumber air Jolotundo adalah sumber air purba, artinya sumber air yang tidak bisa dideteksi pangkalnya.

Puncak Gunung Penanggungan yang dikelilingi oleh delapan bukit besar kecil secara berseling-seling, disepanjang musim penghujan merupakan tandon air raksasa, kawasan jebakan kabut, dan merupakan areal resapan, yang akan menarik air dipermukaan, masuk ke dalam perut gunung.

Proses demikian berlangsung jutaan tahun sudah barang tentu akan membentuk tandon air raksasa di perut gunung (minimal sebesar tandon dipermukaan) dan dapat disimpulkan bahwa tandon di perut gunung merupakan percampuran atau pertemuan antara air dari sumber purba dengan air resapan hujan dan kabut.

Gorong-gorong yang membawa air dari tandon raksasa di perut gunung ke delapan penjuru setelah melewati anak gunung, Patirtan Jolotundo yang menerima pasokan air terbesar. Pasokan air dari perut gunung, tidak semuanya muncul (dimunculkan) di Patirtan Jolotundo. Sebagian muncul dan dimunculkan (sumber-sumber lain) di kawasan bawah Patirtan Jolotundo.

Oleh karena itu Desa Seloliman khususnya Dusun Biting, konon namanya Dusun Benteng, karena posisinya berada di bawah areal Patirtan Jolotundo, dengan banyak ditemui sumber-sumber air.

Adalah Gatot Hartoyo, seorang ‘budayawan Embongan’ yang pada tahun 2009 mendata sumber-sumber air di Dusun biting bersama tim kecil Karang Taruna Dusun Biting dan memprakarsai agar budaya ruwat sumber di Patirtan Jolotundo, terus dilestarikan dan dikembangkan.

Patirtan Jolotundo adalah salah satu situs yang dibangun oleh Raja Udayana untuk menyambut kelahiran putranya, Airlangga pada tahun 899 saka. Konon, Patirtan Jolotundo, digunakan Raja (Prabu) Airlangga untuk bersuci sebelum melakukan ritual.

Dari sudut pandang alami maupun cerita sejarahnya, membuat keberadaan Patirtan Jolotundo menjadi sangat penting, bagi masyarakat Desa Biting pada khususnya dan Desa Seloliman pada umumnya.

RUWAT SUMBER
RUWAT merupakan salah satu unsur budaya masyarakat Jawa yang dilakukan sejak jaman dahulu kala, turun temurun hingga sekarang. Ruwat, bagi masyarakat Jawa bukan sekedar budaya, namun sudah masuk dalam Ritual & Religi.

Ruwat pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu Ruwat Perorangan dan Ruwat Kelompok atau Komunitas. Namun kedua bentuk ruwat itu pada hakekatnya tetap sama, maksud dan tujuannya sama, yang membedakan hanya pada obyek yang diruwat.

Sejarah, Latar Belakang Dan Motivasi Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo
Dilihat dari kwalitas air dan kebutuhan manusia, air dibedakan menjadi tiga, air minum, air besih, dan air irigasi. Bagi warga masyarakat Dusun Biting Seloliman, air dari sumber Jolotundo menyangkut ketiga-tiganya.

Tentang air Jolotundo, pengertiannya tidak hanya air yang ada di Patirtan Jolotundo, tapi menyangkut juga air dari sumber-sumber yang ada di bawah Jolotundo, karena sumber-sumber tersebut merupakan limpahan dari Jolotundo.

Karena Ruwat Sumber Jolotundo ini menyangkut kepentingan pertanian perkebunan (tegalan) dan peternakan, selain kepentingan minum berikut kepentingan rumah tangga yang lain, maka Ruwat Sumber Jolotundo bisa diartikan sebagai Ruwat Pertanian dan sangat penting artinya bagi masyarakat, khususnya Dusun Biting Seloliman.

Ruwat Sumber Jolotundo bagi masyarakat Dusun Biting, menyangkut besar kecilnya debit air yang keluar dari sumber-sumber Jolotundo, menyangkut lancar dan tidak lancarnya, menyangkut keluar dan mampetnya sumber. Lengah atau absen dalam ruwat, akan berakibat mengecilnya debit air yang keluar, bahkan bisa mampet.

Penyelenggaran Ruwat Sumber Jolotundo, adalah demi (dengan harapan) lancar dan melimpahnya debit air yang keluar di seluruh sumber-sumber tersebut. Hal semacam ini sangat diyakini kepada bukti-bukti lewat N I T E N I. Oleh karena itu warga masyarakat Dusun Biting, tidak berani absen dalam pelaksanaan ruwat sumber ini.

Warga Dusun Biting Seloliman dengan antusias selalu aktif dan mengambil bagian dalam pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo, sejak puluhan tahun yang lalu.

Kemudian sejak 2008 warga berinisiatif meningkatkan acara ruwat sumber ini dari lingkup dusun ditingkankan menjadi lingkup desa, dari kegiatan dusun menjadi kegiatan desa. Dan dalam perjalannya penyelenggaraan Ruwat Sumber Jolotundo terus dibenahi, direnovasi dan kian disempurnakan sesuai kebutuhan dan tuntutan jaman.

Waktu pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo oleh warga masyarakat Dusun Biting Seloliman dilaksanakan pada bulan Suro, jatuh pada pasaran Legi sepuluh hari petama (sebelum tanggal 10 jawa).

Bulan Suro adalah bulan pertama jawa tahun (faham) aboge dan tahunnya berdasarkan tahun saka (tahun jawa ).

Sedangkan pasaran Legi didasarkan kepada pitungan jawa tentang kejayaan, bahwa Jolotundo berada di sebelahan timur Dusun Biting. Warga masyarakat Dusun Biting untuk ke Jolotundo arahnya ke timur sesuai dengan pitungan jawa, bahwa pada pasaran Legi kejayaan ada di arah timur. Pitungan semacam itu bagi masyarakat jawa selalu diperhitungkan sejak jaman kuno hingga sekarang.

Adapun mengambil sepuluh hari pertama (sebelum tanggal 10), diperoleh dari hasil pengamatan yang diyakini bahwa bahwa mulai tanggal satu sampai dengan supuluh adalah saat-saat berkumpulnya enerji (kekuatan) di Jolotundo.

Penyelenggaraan Ruwat Sumber Jolotundo, kian tahun kian dibenahi dan kian disempurnakan dengan tidak merubah pakem, tetap berpegang kepada tradisi dan memegang teguh esensi ideologis.

Setelah tahun 2010 gagasan ini didukung Kepala Dusun Biting, Kepala Desa Seloliman, Karang Taruna dan didukung penguyuban kesenian Dusun Biting. Kegiataan ruwat memperkokohkan posisi ruwat dan lebih semarak gebyar pelaksanannya dan melibatkan masyarakat luar Dusun Biting. (ist/1 dari 3-bersambung)

Tulisan kedua klik disini