Pertapaan Banoclono di Gunung Lawu. Foto: Merdeka.com.
Gunung Lawu bukanlah tempat asing bagi masyarakat Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Terletak di perbatasan antara Jawa Tengah di Kabupaten Karanganyar dan Jawa Timur, di Kabupaten Magetan.
Gunung Lawu tak hanya memiliki panorama alam yang indah, tetapi juga menyimpan obyek sakral bersejarah. Sehingga tak sedikit turis datang mendaki dan menikmati keindahan alam, atau berziarah.
Gunung yang konon dijaga kekuatan gaib Sunan Lawu ini menyimpan kisah misteri yang hingga kini belum terkuak. Salah satunya adalah tempat pertapaan Bancolono, yang kabarnya merupakan petilasan Raja Majapahit terakhir, Raja Brawijaya V.
Pertapaan ini berada di wilayah Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, atau tepatnya di bawah jembatan Bancolono, merupakan tapal batas antara Jawa tengah dan Jawa Timur.
Menurut Mbah Sarju (91), juru kunci pertapaan Bancolono, setelah tumbangnya Kerajaan Majapahit, maka Raja Brawijaya V dan pengawalnya lari hingga lereng Gunung Lawu. Sebelum naik ke puncak Gunung Lawu, raja, kerabat, dan para pengawalnya bersuci (mandi) di sebuah sendang (sumur).
“Para kerabat raja yang putri bersuci di Sendang Wedok (sendang putri) di sebelah timur. Dan yang putra bersuci di Sendang Lanang (putra). Mereka juga diwajibkan minum air suci yang mengalir,” ujar Mbah Sarju, saat ditemui Merdeka.com di lokasi pertapaan.
Mbah Sarju melanjutkan, setelah bersuci, Brawijaya V dan pengawalnya lantas mendaki Gunung Lawu hingga puncak. Sesampainya di sana, mereka mendirikan kerajaan.
Tempat mandi Raja Brawijaya V itu saat ini dikenal sebagai Pertapaan Bancolono. Pertapaan ini masih dianggap keramat oleh banyak orang. Konon, mereka yang tirakat di pertapaan ini, hampir semua permohonannya terkabul.
Sebagai juru kunci, Mbah Sarju sudah sering melihat banyak orang berkunjung ke Bancolono buat berdoa, bersemadi meminta keselamatan, jodoh, kesehatan, pangkat, dan kelancaran rezeki. Bahkan menurut dia, tak sedikit para pejabat datang untuk melakukan meditasi.
Di antaranya Ir Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, Bibit Waluyo sebelum maju sebagai Gubernur Jawa Tengah, serta sejumlah bupati dan wali kota.
“Pak SBY dulu pernah ke sini, tapi yo enggak rame-rame. Bu Megawati, Pak Harto (Soeharto) juga pernah. Terus Pak Bibit Waluyo, sebelum pemilihan gubernur, dan para calon-calon pimpinan daerah lain juga banyak. Tidak hanya dari Jawa, dari luar Jawa juga banyak,” ucap Mbah Sarju.
Sarju menambahkan, kebanyakan para pengunjung melakukan ritual saban malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Selain itu, mereka juga bertapa pada bulan Sura atau saat persembahan, dan Dukutan setiap tujuh bulan sekali. “Setiap 7 bulan sekali, masyarakat di sini ada ritual Dhukutan, ada ayam ingkung dan persembahan lainnya,” ujarnya. (mer)
Pesarean Makam Eyang Kudo Kardono di Jalan Cempaka 25, Surabaya. Foto: Dhimas Prasaja/Liputan6.com.
Sudut di Jalan Cempaka 25, Kota Surabaya ternyata menjadi peristirahatan terakhir Eyang Kudo Kardono. Ia adalah Panglima Perang Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Jayanegara atau Kalagemet.
Sri Poniati selaku juru kunci pesarean atau kompleks makam pun membenarkan bahwa Eyang Kudo Kardono adalah panglima perang di zaman Kerajaan Majapahit. Nama asli sang panglima adalah Raden Kudo Kardono.
“Panglima saat Majapahit diperintah Jayanegara, raja kedua setelah Raden Wijaya, pada masa tahun 1309-1328,” ucap Sri Poniati, saat ditemui Liputan6.com.
Menurut dia, Raden Kudo Kardono merupakan komandan perang kepercayaan Raja Jayanegara atau Kalagemet. Konon, Kudo Kardono merupakan saudara sepupu dari Mahapatih Majapahit, Gajah Mada.
Pada masa pemerintahan Jayanegara ini, sering terjadi pemberontakan di beberapa wilayah kekuasaan Majapahit. Tak ketinggalan di Surabaya, yakni pemberontakan Ra Kuti pada 1319 Masehi.
Jayanegara kemudian mengirim Pangeran Kudo Kardono untuk menumpas pemberontakan yang dipimpin Kuti. Adapun kawasan makam tersebut merupakan daerah di mana Panglima Perang Kerajaan Majapahit itu mendirikan pertahanan untuk melawan pemberontak.
Sementara, penyebutan Panglima Perang Eyang Yudho Kardono sendiri menurut Mbah Poniati adalah sebutan masyarakat setempat sejak pesarean dipugar dahulu pada 1960-an.
“Masyarakat ambil gampangnya, saat itu teringat perang besar yang disebut Bharata Yudha. Akhirnya, ya itu, nama eyang disebut di depannya, Yudho,” tutur Poniati.
Ia pun meyakini tempat yang disinggahi Kudo Kardono alias Yudho Kardono adalah berupa tanah tegal dan banyak tumbuhan gading putih yang dijadikan pertahanan saat perang Majapahit. “Menurut cerita turun-temurun orangtua saya, di sini banyak sekali tumbuh pohon juwet, sawo, dan gading putih kala itu,” katanya.
Hanya saja, seiring berjalannya waktu makam Panglima Perang Kerajaan Majapahit ini dipugar. “Sama Pak Soedjono Hoemardani, asisten Pak Soeharto pada tahun 1960,” ujar Poniati. (ist)
Anggota DPRD Kab Banyuwangi saat sidak lokasi. Foto: Detikcom.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyayangkan pembongkaran cagar budaya di sebuah bangunan lama Kantor Pengadilan Agama (PA), Jalan Jaksa Agung Suprapto. Cagar budaya seluas sekitar 3.000 meter persegi itu direnovasi menjadi kantor PA.
Anas mengaku sesuai kesepakatan sebelumnya, hanya bangunan bagian belakang saja yang akan dibongkar sehingga Izin Mendirikan Bangunan (IMB) diberikan Pemkab Banyuwangi. Namun praktiknya bangunan depan atau bangunan utama turut dibongkar, tidak disisakan seperti yang telah disepakati bersama.
“Saya kecewa, karena kita sudah sampaikan sejak awal bahwa itu bagian dari jejak cagar budaya masa lalu. Jangan-jangan kontraktornya. Saya tidak yakin kepala pengadilannya tahu, jangan-jangan tidak tahu,” kata Anas kepada detikcom, Selasa (4/9/2018).
Anas menyangkan pembongkaran bangunan bersejarah tersebut. Karena beberapa cagar budaya sudah ditetapkan tidak boleh dibongkar. Anas meminta DPRD melakuan sidak terhadap pembangunan gedung pengadilan itu. “Boleh melakukan renovasi tapi tidak membongkar semuanya seperti ini.”
Selang beberapa lama, Ketua Komisi II DPRD Banyuwangi Handoko dan 2 anggotanya, Punjul Ismuwardoyo, dan Andik Purwanto, mendatangi lokasi pembangunan.
Dari pantauan di lapangan, sebagian besar bangunan di bagian belakang sudah berubah menjadi bangunan baru 2 lantai. Sementara bangunan depan batu bata di sebagian besar tembok terlihat karena semen lapisan luarnya telah terkelupas.
Sementara pelaksana pembangunan, PT Rakata Pandu Nusa tampak memperkuat beberapa bagian tembok dengan material cor tegak, kusen jendela baru dan tembok baru di sekeliling kusen. Sementara pintu depan yang memiliki gawang melengkung bagian atas, yang menjadi ciri bangunan lama, terlihat belum dibongkar.
Punjul mengatakan bangunan yang termasuk cagar budaya itu tidak boleh dirubah, sesuai ketentuan dalam Peraturan Daerah (Perda) Cagar Budaya. Dia mengimbau Pemkab Banyuwangi membentuk tim khusus yang bertugas mengawasi pembangunan gedung pengadilan agama tersebut.
“Intinya yang penting jangan ada yang berubah dari bangunan ini, harus dikembalikan seperti semula. Dan kalau ada penambahan, penambahan itu jangan sampai merubah bentuk visual dari depan. Bentuk gentingnya, ornamennya, walaupun sudah tidak bisa lagi memakai genting yang sama,” kata Punjul.
Sementara Mita sang pengawas mengatakan semua proses pembangunan telah mengikuti draft yang menjadi acuan proses pengawasannya. Dia menjelaskan 3 pintu melengkung akan tetap dipertahankan, hanya saja ditambah 4 pilar sebagaimana ciri khas semua kantor pengadilan.
“Kan bisa dilihat sendiri, kan nggak ada (perubahan) kan. Untuk perubahannya filosofinya Mahkamah Agung kan harus ada. Kita kan juga mengikuti draft yang ada. Kalau genting kita menyesuaikan dengan bangunan yang baru, kan nggak nyambung kalau seperti yang lama. Bentuknya sama seperti yang dulu,” kata Mita.
“Temboknya kita bongkar separuh, kan nggak mungkin, kayak penggantian kusen kan nggak mungkin utuh kan bapaknya lihat sendiri. Banyak kusen yang diambil, batanya runtuh. Berarti itu nggak mungkin bangunan Belanda kan, berarti kan harus ditambah lagi, tebal-tebalnya kita mengikuti yang lama,” papar Mita. (dtc)
Tengkorak kuno yang kembali ke Indonesia. Foto: Kemdikbud.go.id.
Australia membantu mengembalikan lima buah benda cagar budaya ke Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di kantor Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta (29/8/2018).
Kelima benda tersebut terdiri dari tiga buah tengkorang Suku Asmat dan dua buah tengkorak Suku Dayak.
Mendikbud Muhadjir Effendy menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Australia serta Kemenlu dan Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia. Karena atas usaha dan kerja kerasnya, lima artefak yang tak terhingga nilainya tersebut telah kembali ke tanah air.
“Terima kasih kepada Bu Menlu dan jajaran yang telah berhasil mengembalikan artefak, cagar budaya yang tak ternilai harganya ke Indonesia. Ini adalah bentuk komitmen yang tak terniai nilainya antar dua negara, yaitu Pemerintah Indonesia dan Australia,” ucapnya.
Ia pun menyampaikan bahwa semenjak Undang-undang Pemajuan Kebudayaan diresmikan, Kemendikbud memiliki payung hukum yang kuat untuk melindungi, melestarikan, dan memelihara berbagai macam artefak dan nilai budaya, baik yang benda maupun yang tak benda.
“Mudah-mudahan kita semakin tumbuh menjadi bangsa yang menghargai cipta karsa dan karya dari pendahulu kita yang telah membangun Indonesia,” tutur mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Menlu Retno Marsudi dalam kesempatan yang sama, juga turut menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah Australia. Karena ini merupakan hasil dari komitmen kerja sama antara Indonesia dan Australia, salah satunya dalam bidang penegakan hukum antara dua negara.
Sebelumnya kelima artefak tersebut diselamatkan dari penyelundupan dan perdagangan ilegal di Australia. Selanjutnya melalui Ministry for The Arts, Pemerintah Australia menyerahkan benda-benda cagar budaya tersebut ke Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia di Canberra.
Kemudian, oleh Duta Besar Indonesia untuk Australia Yohanes Legowo, kelimanya dibawa langsung kelimanya ke Indonesia melalui Kemenlu untuk diserahkan kepada Kemendikbud. (sak)
Makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil di Kediri. Foto: nu.or.id.
Keberadaan pemakaman kuno layaknya sebuah kode yang mengandung banyak informasi baru atau menyisakan sebuah misteri. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penemuan baru terkait makam kuno, entah itu makam kuno dari pejabat penting, buruh, atau bayi.
Berikut deretan makam-makam kuno di Indonesia, seperti dilaporkan Sindonews.com, yang hingga detik ini masih menyimpan teka-teki.
Makam kuno sejarah Islam di Kudus
Makam kuno yang diperkirakan berusia ribuan tahun ditemukan di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Panjang kuburan itu masing-masing berukuran 1,5 x 2 meter, terbuat dari batu bata berbentuk kerucut.
Makam ini diperkirakan merupakan peninggalan sejarah Islam. Selain dari tumpukan batu batanya, model pengukubarannya dihadapkan ke barat atau arah kiblat.
Makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil
Makam ini berada di Kabupaten Kediri, tepatnya di komplek pemakaman Setana Gedong. Makam ini berada di sebelah barat laut Masjid Setana Gedong.
Menurut penelitian Prof Dr Habib Mustopo, guru besar UIN Malang mengatakan bahwa tokoh Syaikh Syamsuddin adalah seorang ulama besar yang hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa kerajaan Kediri.
Makam Fatimah binti Maimun
Makam Fatimah binti Maimun binti Habatallah ini berada di Dusun Leran, Desa Pesucian, Kecamatan Manyar, Gresik. Pada batu nisannya menunjukkan angka 475 H/ 1082 M.
Makam kuno Kerajaan Islam Lamuri di Aceh
Ratusan makam kuno ditemukan di kawasan perbukitan Kreung Raya, Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.
Di perbukitan yang diduga sebagai pusat Kerajaan Islam Lamuri di masa lampau itu, para arkeolog menemukan sekitar 474 makam kuno dengan batu nisan berukir tulisan Arab Jawi.
Saat ditelisik, di batu nisan itu tertulis nama-nama tokoh penting pada Kerajaan Islam Lamuri masa lampau.
Makam Sultan Malikus Saleh
Di Aceh Utara terdapat sebuah peninggalan makam kuno yang bertanggalkan 696 H/1297 M. Nama sang empunya makam tersebut adalah Sultan Malikus Saleh.
Beliau adalah Raja Pasai pertama yang mempunyai peranan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara.
Makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim
Di Gresik terdapat salah satu makam Islam tertua di Indonesia, yaitu makam salah satu waliyullah yang dikenal dengan sebutan Walisongo.
Tepatnya di kampung Gapura di dalam Kota Gresik terdapat makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau dikenal dengan nama Sunan Gresik. Makam ini bertuliskan angka 882 H/ 1419 M.
Makam kuno berusia 500 tahun di Sumenep
Sebanyak tujuh makam kuno yang diperkirakan berusia 500 tahun ditemukan di Dusun Kampung Baru, Desa Pandian, Sumenep Jawa Timur.
Di salah satu nisan makam kuno ditemukan tulisan dalam bahasa Arab yaitu Syeh Sayyid Abdullah, dia berjuluk Maha Pati Raja Anggadipa. Diperkirakan makam-makam tersebut terkait dengan makam raja-raja keraton Sumenep Asta Tinggi. (ist)
Kawasan situs Biting di Sukodono Lumajang. Foto: Hipwee.com.
Kerajaan Majapahit dengan pendirinya Raden Wijaya selama ini masyhur dalam penulisan sejarah Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Namun, tak banyak yang mengenal sosok Arya Wiraraja, dengan Lamajang Tigang Juru-nya yang jejaknya masih kukuh di Lumajang. Padahal, peran Arya Wiraraja sangat strategis dalam perpolitikan Nusantara pada masa itu.
Menempuh jarak puluhan kilometer, tak tampak kelelahan di wajah rombongan itu. Dipimpin Rina Rohmawati, rombongan tersebut merupakan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Jember.
Mereka sengaja datang ke kawasan situs Biting, sebuah situs arkeologis seluas sekitar 135 hektare yang ada di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang.
“Agar mereka lebih mengenal realitas sejarah, termasuk yang ada di sekitarnya. Karena kalau Cuma membaca di kelas, perpustakaan, atau laboratorium sejarah, pemahamannya menjadi utuh,” tutur Rina Rohmawati, dosen pembimbing para mahasiswa tersebut kepada Jawa Pos Radar Jember.
Rina merupakan dosen yang mengampu mata kuliah Sejarah Nasional di Prodi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Jember.
Bersama seorang rekannya, Rina membawa beberapa mahasiswa bimbingannya untuk terjun langsung ke kawasan situs Biting, termasuk berdiskusi dengan kalangan aktivis LSM yang fokus melakukan advokasi kawasan situs Biting.
Rina menuturkan, dari segi bangunan, kawasan situs Biting memiliki keistimewaan tersendiri. Selain karena luasnya, benda-benda arkeologis seperti candi dan reruntuhannya memiliki identitas pembeda dan menunjukkan kemajuan masyarakat setempat pada masa itu.
“Di sini ada 12 jenis motif yang beragam ukurannya. Candi-candi ini bisa kokoh hingga ratusan tahun,” tutur alumnus Jurusan Sejarah FIB Universitas Jember ini.
Ada perbedaan motif yang mencolok antara candi di Jawa Tengah dengan di Jawa Timur. Di Jawa Tengah, kebanyakan candi peninggalan zaman klasik terbuat dari batu andesit.
“Ini karena di sana banyak gunung berapi. Berbeda dengan di Jawa Timur, candinya terbuat dari tanah liat. Dengan kunjungan seperti ini, mahasiswa bisa melihat secara langsung,” jelas Rina.
Kawasan Situs Biting sejatinya merupakan benteng yang mengelilingi sebuah kawasan pusat pemerintahan kerajaan pada masa itu. Tak heran, jika luasnya mencapai ratusan hektare.
“Yang menarik, benteng ini bentuknya melekuk sesuai arah aliran sungai Bondoyudo yang merupakan sungai kuno. Dan di setiap lekukan, terdapat menara pengintai, untuk mengamankan kawasan di dalamnya,” ujar alumnus Magister Sejarah Undip ini.
Hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1982-1991, Kawasan Situs Biting memiliki luas 135 hektare yang mencakup 6 blok/area merupakan blok keraton seluas 76,5 ha, blok Jeding 5 ha, blok Biting 10,5 ha, blok Randu 14,2 ha, blok Salak 16 ha, dan blok Duren 12,8 ha.
Dalam Babad Negara Kertagama, kawasan ini disebut Arnon lalu dalam perkembangan pada abad ke-17 disebut Renong, dan dewasa ini masuk dalam desa Kutorenon yang dalam cerita rakyat identik dengan “Ketonon” atau terbakar.
Nama Biting sendiri merujuk pada kosakata Madura bernama “Benteng”, karena daerah ini memang dikelilingi oleh benteng yang kukuh.
Arti penting kawasan situs Biting ini dikonfirmasi oleh Mansur Hidayat, penggiat sejarah yang juga Ketua Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMT). MPPMT merupakan LSM yang fokus pada advokasi pelestarian peninggalan Kerajaan Majapahit Timur, termasuk kawasan Situs Biting.
Situs tersebut tak bisa dilepaskan dari nama Arya Wiraraja yang merupakan penguasa di wilayah tersebut.
“Kawasan Situs Biting ini diperkirakan merupakan ibu kota Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang wilayah kekuasaannya meliputi daerah di sebelah Gunung Semeru sampai selat Bali atau kalau sekarang disebut Tapal Kuda, ditambah wilayah Madura,” tutur Mansur.
Menurut Mansur, Arya Wiraraja merupakan tokoh besar, bahkan disebut paling jenius pada masanya. Sayangnya, kebesaran dan kiprahnya justru terlupakan dalam penulisan sejarah di Indonesia. Bahkan, nama Arya Wiraraja seolah-olah kalah dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.
“Hubungannya, Arya Wiraraja ini merupakan semacam penasihat politik bagi Raden Wijaya. Kalau zaman sekarang, ibaratnya Arya Wiraraja ini adalah Megawati, dan Raden Wijaya adalah Jokowinya. Jadi, seperti King Maker,” tutur penulis buku Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru ini.
Tak hanya sebagai penasihat politik, Arya Wiraraja juga menjadi donatur saat Raden Wijaya melarikan diri ke Madura usai kalah dari Prabu Jayakatwang, Raja Kediri.
“Yang membuka Hutan Tarik, itu sebenarnya bukan Raden Wijaya, karena dia saat itu masih di Kediri. Yang membuka itu adalah Pasukan Madura atas perintah Arya Wiraraja yang saat itu menjadi Adipati Sumenep,” jelas Mansur.
Salah satu kiprah terbesar dari Arya Wiraraja adalah saat dia merencanakan strategi bagi Raden Wijaya untuk “mengarahkan” Pasukan Mongol mengalahkan Kerajaan Singosari.
“Itu semua strategi dari Arya Wiraraja yang diberikan kepada Raden Wijaya. Karena saat itu Majapahit masih berupa desa dan belum memiliki pasukan sendiri. Jadi, yang dipakai pasukan dari Madura,” tutur mantan dosen sejarah di IKIP PGRI Jember ini.
Dalam penulisan sejarah ditulis, setelah menghancurkan pasukan Jayakatwang, pasukan dari Mongol itu justru dipukul mundur melalui jebakan oleh pasukan Raden Wijaya selaku penguasa Majapahit.
“Sebenarnya, itu yang merencanakan adalah Arya Wiraraja. Dengan iming-iming rampasan perang dan putri-putri cantik sebagaimana kelaziman pada masa itu, pasukan Mongol bersedia melepaskan senjata. Setelah tidak bersenjata, pasukan Mongol justru dipukul mundur oleh pasukan Arya Wiraraja,” tutur penulis buku Membangkitkan Majapahit Timur ini.
Secara resmi, Mansur bersama LSM Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMT) aktif melakukan advokasi kawasan advokasi situs Biting sejak tahun 2010.
“Sayangnya memang di bawah Bupati Lumajang saat ini, perhatian pemerintah amat kurang. Saya harap, di bawah bupati yang baru, kawasan situs Biting ini bisa lebih diperhatikan kelestariannya,” pungkas Mansur. (ist)
Sejumlah peneliti di lokasi goa temuan. Foto: Antaranews.com/Slamet Agus S.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban melarang aktivitas penambangan batu kumbung (karst) di sekitar kawasan goa temuan di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, di atas tanah milik Sumosayu, pada awal Agustus lalu.
“Untuk sementara waktu, penambangan di atas goa harus dihentikan sebelum ada rekomendasi lebih lanjut,” kata Wabup Tuban Noor Nahar Hussein, ketika meninjau goa temua, pekan lalu.
Menurut dia, Dinas Lingkungan Hidup bersama stakeholder dan tenaga ahli, akan membuat peta dan skema areal goa serta lokasi yang dilarang untuk melakukan aktivitas penambangan.
Hal ini dilakukan mengingat banyak warga yang melakukan aktivitas penambangan di lokasi sekitar goa. “Dikhawatirkan terjadi longsor yang dapat memakan korban jiwa,” tuturnya kepada AntaraJatim.
Ia juga menginstruksikan petugas, pemerintah desa (pemdes) juga masyarakat ikut mengamankan keberadaan goa temuan di desa setempat.
Terkait dengan lokasi goa yang berada di lahan warga, ia mengatakan bahwa hal tersebut dapat dibicarakan kemudian setelah semuanya ada kejelasan dari lembaga terkait, baik dari aspek geologi maupun konservasi lahan. “Pemkab akan mendata luas areal goa,” katanya menegaskan.
Menurut dia, pemkab juga akan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan pakar geologi nasional, sebagai langkah menindaklanjuti temuan goa itu untuk langkah selanjutnya dengan mengacu pada kajian ilmiah.
“Bila dinyatakan layak sebagai objek wisata, pemkab akan mendukung penuh pengembangan destinasi wisata goa tersebut,” ucapnya.
Goa yang ditemukan secara tidak sengaja tersebut berada di areal penambang batu kumbung (karst) milik salah seorang warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Sumosayu, yang didalamya ada stalagtit dan stalagmit menjadi kekhasan dari gua ini.
“Goa ini belum pernah terjamah tangan manusia, jadi benar-benar alami. Dengan dijadikan objek wisata dapat meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa Jadi,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Sudariono warga desa Jadi, penemu goa sekaligus pemilik areal tambang menceritakan kronologi penemuan goa yang panjang di dalamnya ratusan meter dengan ketinggian 20 meter lebar sekitar 15 meter.
Pada awalnya, tengah menambang seperti biasanya. Saat memotong batu kumbung, tiba-tiba muncul lubang yang menghembuskan angin dari dalam.
Bersama dengan penambang lain, Sudariono membuat lubang yang lebih besar yang digunakan sebagai pintu masuk. Selanjutnya, ketika turun ke dalam Sudariono terkejut melihat kondisi goa yang memiliki stalagmit dan stalagtit yang menjulang hingga menyentuh atap goa. (ist)
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip), terus melakukan observasi mendalam untuk menggali nilai-nilai sejarah keberadaan Benteng Kedung Cowek.
Bahkan, dalam menggali informasi, Pemkot menggandeng komunitas pemerhati sejarah agar bisa didapatkan data yang akurat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Surabaya Musdiq Ali Suhudi mengatakan, Kota Surabaya tumbuh dan berkembang tidak dengan sendirinya, pastinya tidak lepas dari masa lalu dan sejarah.
Terkait dengan adanya benteng ini, salah satu hal yang menunjukkan masyarakat Surabaya bertempur melawan penjajah. “Keberadaan benteng yang berada di pesisir laut, mencerminkan Surabaya selain dikenal sebagai Kota Pahlawan juga maritim (kelautan),” kata dia, Rabu (01/08).
Disampaikan Musdiq, terkait dengan perkembangan ke depan, benteng kedung cowek bisa menjadi salah satu spot destinasi wisata yang unik. Yakni, perpaduan antara wisata dan sejarah.
Bahkan menurutnya, Benteng Kedung Cowek ini bisa menjadi salah satu dari rangkaian wisata Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya).
Mulai dari timur yakni, Mangrove Gunung Anyar, Mangrove Wonorejo, Pantai Ria Kenjeran, THP Kenjeran, Jembatan Suroboyo, Sentra Ikan Bulak, Cable Card, Lapangan Tembak, Benteng Kedung Cowek dan megastruktur Jembatan Suromadu.
“Kalau obyek-obyek ini bisa saling diintegrasikan, ini akan menjadi salah satu obyek wisata yang kompleks dan orang yang berkunjung ke Surabaya akan mengalami irama yang berbeda-beda,” terangnya.
Menurut Musdiq, dari seluruh obyek tersebut, memang yang perlu penanganan khusus adalah benteng. Karena kondisinya sebagian besar masih tertutup dengan pepohonan.
Selain keberadaan benteng, di area ini juga terdapat sebuah sumber air yang menjadi salah satu bukti otentik digunakannya benteng pada peristiwa perang 10 November.
“Nanti mungkin kedepan akan kita koordinasikan bagaimana benteng ini bisa menjadi obyek wisata yang menarik,” imbuhnya.
Penggalian informasi benteng tidak hanya di lokasi, bahkan Dispursip juga menelusuri beberapa tempat yang ada kaitannya dengan Benteng Kedung Cowek. Kendati demikian, Dispursip masih terus melakukan penelusuran peta yang lama. Pastinya, kata Musdiq, keberadaaan benteng ini ada rangkaiannya dengan bangunan-bangunan di lokasi lain.
“Ini akan kita coba telusuri lebih lanjut, agar obyek ini betul-betul lengkaplah kalau kita pasarkan menjadi sebuah destinasi wisata,” ujar mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya ini.
Sementara itu, salah satu pendiri komunitas pemerhati sejarah, Roode Brug Soerabaia, Ady Setyawan mengungkapkan Benteng Kedung Cowek ini punya peranan penting dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945.
Bukti begitu dahsyatnya pertempuran Surabaya masih terlihat jelas dari bekas bangunan benteng yang rusak imbas dari tembakan senjata. Bahkan dari hasil penelusuran di lokasi, ditemukan beberapa peluru yang masih bersarang di tembok benteng.
“Benteng ini pada perang 10 November, digunakan oleh bekas pasukan Heiho bentukan Jepang, merupakan orang-orang yang berasal dari Sumatera,” ungkap pria yang pernah menulis buku benteng-benteng Surabaya ini.
Bekas pasukan Heiho ini, lanjut ia, sebelumnya bertempur di Pulau Morotai dengan kondisi kalah perang. Ketika pasukan ini sampai di Surabaya, oleh Kolonel Wiliater Hutagalung mereka diminta untuk kembali membantu melawan sekutu.
Dinilai dari sisi lain, benteng ini menjadi salah satu bukti kuat bahwa tahun 1945, rasa satu nusa, satu bangsa, untuk berjuang bersama mempertahankan Indonesia dari para penjajah sudah kuat.
“Tanpa memikirkan berasal dari suku mana, mereka rela berkorban ikut berjuang bertempur di Kota Surabaya,” imbuh Ady.
Ady menambahkan keberadaan dua aset besar di Surabaya, juga menjadi alasan kuat para pejuang dari seluruh pelosok nusantara rela mati-matian mempertahankan Kota Surabaya.
Dua aset tersebut yakni pelabuhan Surabaya, tempat akses keluar dua-pertiga pabrik gula terbesar se Jawa, dan yang kedua yakni keberadaan pangkalan angkatan laut terbesar se Hindia-Belanda.
“Dua aset itu yang menjadi alasan Surabaya dipertahankan oleh deretan perbentengan yang memanjang dari Surabaya, Gresik, dan Bangkalan. Benteng Kedung Cowek ini, yang paling besar dari deretan perbentengan itu,” pungkasnya. (ita)
Gedung Balai Kota Madiun. Foto: Madiunpos.com/Abdul Jalil.
Sebanyak 19 bangunan kuno di Kota Madiun mendapatkan rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai bangunan cagar budaya.
Kasi Pembinaan Sejarah, Nilai-nilai Tradisional, dan Cagar Budaya Diabudparpora Kota Madiun, Sumiati, mengatakan rekomendasi dari Pemprov Jatim terkait usulan 19 bangunan cagar budaya di Kota Madiun sudah turun awal Juli 2018. Dari 19 bangunan yang diusulkan, semuanya mendapatkan persetujuan dari Pemprov Jatim.
Sembilan belas bangunan cagar budaya itu antara lain bangunan Balai Kota Madiun, SDN 01 Kartoharjo, SDN 02 Kartoharjo, Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Gamaliel, Gereja Santo Cornelius, Gereja Santo Bernardus, Bakorwil.
Juga rumah kapiten Cina, SDN 05 Madiun Lor, SMPN 1 Kota Madiun, SMPN 3 Kota Madiun, SMPN 13 Kota Madiun, Stasiun Madiun, Komplek Klenteng, Pabrik Gula Redjo Agung dan rumah dinasnya, menara air Sleko, rumah Andi Wibisono, dan SMAN 1 Kota Madiun. Daftar lengkapnya bisa dilihat disini.
Setelah rekomendasi ini turun, selanjutnya Pemkot Madiun akan membuat SK Wali Kota mengenai benda cagar budaya ini. “SK ini wajib melalui evaluasi bagian hukum terlebih dahulu sebelum ke meja wali kota,” kata Sumiati, seperti dikutip Madiunpos.com, beberapa waktu lalu.
Dia menuturkan pembuatan SK ini juga membutuhkan waktu karena bangunan cagar budaya yang diusulkan cukup banyak. Selain itu, ada satu bangunan yang masih bermasalah mengenai kepemililan yaitu rumah Andi Wibisono di Jl. Kutai. Permasalahan ini terkait sengketa di antara keluarga pemilik.
“Kemungkinan besar hanya 18 bangunan yang akan mendapatkan SK. Tetapi ini masih menunggu perkembangan dari keluarga pemilik,” jelas dia yang dikutip dari siaran pers.
Menurut dia, pemberian status cagar budata tidak bisa sembarangan. Pemberian status ini juga harus melalui persetujuan dari pemilik. Terutama apabila bangunan itu milik pribadi.
Sumiati menyampaikan cagar budaya ini bukan hanya status. Melainkan ada hak dan kewajiban yang melekat setelahnya. Pemilik bangunan akan mendapat reward dari pemerintah. Biasanya, reward tersebut berupa anggaran perawatan hingga pembebasan pajak tahunan.
Dengan status cagar budaya itu, pemilik tidak boleh sembarangan mengubah bentuk bangunan mulai menambah maupun mengurangi. Apabila ada perubahan harus melalui rekomendasi tim ahli. Pemilik harus melapor terlebih dahulu hingga mendapatkan persetujuan.
“Pada prinsipnya boleh mengubah. Tetapi prosesnya menjadi sedikit agak panjang dan belum tentu disetujui,” terangnya.
Lebih lanjut, kata Sumiati, pemilik juga wajib terbuka kepada masyarakat yang ingin melihat atau belajar. Status cagar budaya memberikan kelonggaran bagi yang ingin belajar mengenai bangunan bersejarah. Namun dengan alasan yang wajar dan bisa diterima. (ist)
Situs Peninggalan Kerajaan Kediri. Foto: Merdeka.com/Imam Mubarok.
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengakhiri ekskavasi tahap ketiga terhadap Situas Adan-Adan dan Situs Wonorejo di Kabupaten Kediri beberapa waktu lalu.
Puslitarkenas memastikan dua struktur batu dan bata di dua lokasi berbeda tersebut adalah bangunan candi dan petirtaan yang saling berkaitan pada era Kerajaan Kediri.
Pada ekskavasi tahap tiga ini Puslitarkenas Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan sudah berhasil membongkar denah Situs Adan-Adan Di Kecamatan Gurah dan Situs Wonorejo di Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Pada Situs Adan-Adan, tim peneliti menemukan struktur bangunan candi dari bahan batu dan bata dengan sudut berukuran 8×8 meter.
Ketua Tim Puslitarkenas Sukawati Susetyo, seperti dikutip Merdeka.com mengatakan, terbukanya denah bangunan candi diawali dari penemuan dua buah makara sudut sebagai titik awal pencarian. Temuan lain berupa kepala kala berukuran besar tetapi belum selesai proses pengerjaan atau unfinishing.
Sedangkan di Situs Wonorejo berupa struktur bangunan petirtaan dari bata yang ditengarai tersambung langsung dengan sungai yang ada di sekitarnya.
“Bangunan petirtaan yang disebut sebuah embung ini memiliki keterkaitan langsung dengan candi adan-adan yang letaknya tidak terpaut jauh. Kedua bangunan sejarah ini diyakini peninggalan zaman Kerajaan Kediri atau Mataram Kuno di Abad Ke-9,” kata Sukawati.
Untuk memastikan pereode tahun bangunan tim Puslitarkenas akan melakukan pemeriksaan melalui karbon dating terhadap bahan struktur batu maupun bata . Sementara itu ekskavasi tahap tiga ini dianggap selesai dan akan dilanjutkan pada pereode keempat yang diperkirakan pada bulan Oktober 2018 mendatang .
Fokus penelitian nantinya untuk melanjutkan pencarian denah guna mengungkap bangunan secara utuh, termasuk kemungkinan adanya bangunan wihara yang berada di sekitar candi dan petirtaan. (mer)