Puluhan Artefak Majapahit Ditaruh di Balai Desa

foto
Warga melihat tumpukan bata di Desa Kedung Bocok, Tarik, Sidoarjo. Foto: Antara.

Puluhan artefak dan cuilan gerabah peninggalan peradaban Kerajaan Majapahit saat ini masih disimpan secara darurat, sehingga belum bisa menjadi sarana edukasi.

Kepala Desa Kedung Bocok Mochamad Ali Ridho di Sidoarjo, mengatakan bahwa saat ini puluhan artefak dan cuilan gerabah itu disimpan di dalam salah satu ruangan balai desa setempat dan dijaga secara bergantian.

Sementara warga Desa Kedung Bocok, Sidoarjo, Jawa Timur, menginginkan adanya pembangunan museum situs Trik di desa setempat supaya bisa sebagai tempat wisata edukasi bagi pelajar di wilayah itu.

Mochamad Ali Ridho mengatakan telah ada rencana pembangunan museum tersebut, yang nantinya bisa dimanfaatkan para siswa untuk mempelajari asal mula berdirinya Kerajaan Majapahit yang berasal dari Desa Kedung Bocok.

“Rencananya pembangunan museum ini akan dibangun di sisi belakang Balai Desa, mengingat saat ini banyak ditemukan artefak dan juga cuilan gerabah penemuan awal peradaban Kerajaan Majapahit,” urainya kepada Tempo.co, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, warga Desa Kedung Bocok menemukan sebuah susunan batu bata yang diduga sebagai situs purbakala peninggalan Kerajaan Majapahit. Mochamad Ali mengatakan bahwa penemuan situs tersebut sudah berlangsung sejak sepekan lalu saat ada warga yang akan menanam ketela.

“Saat itu Paiman, salah seorang warga kami, akan menggali tanah yang akan digunakan untuk menanam ketela. Namun, saat menggali tanah tersebut tiba-tiba cangkulnya mengenai batu bata. Setelah digali, ternyata berupa batu bata yang tersusun rapi,” ucapnya.

Pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur sudah melakukan peninjauan ke lokasi penemuan situs Trik dan menyatakan kalau di tempat tersebut memang ada peradaban manusia dan awal berdirinya Kerajaan Majapahit.

Penemuan peninggalan Kerajaan Majapahit itu mengundang banyak siswa dari beberapa sekolah yang ada di desa tersebut untuk melihat dari dekat lokasi penemuan situs Kerajaan Majapahit. “Mereka datang secara bergiliran dan juga berkelompok dengan temannya untuk melihat temuan itu,” ujarnya. (ist)

Cerita Jam Kuno di Atas Kantor Gubernur Jatim

foto
Menara jam kuno di atas kantor Gubernur Jatim Jl Pahlawan Surabaya. Foto: Detikcom/Ongq Rifaldy Litualy.

Kantor Gubernur Jawa Timur di Surabaya merupakan salah satu cagar budaya yang dibangun sejak tahun 1929. Dengan kata lain gedung ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda.

Namun gedung ini tentu menyimpan banyak cerita sejarah. Menurut Kepala Bagian Aset dan Rumah Tangga Kantor Gubernur Jatim, Abdul Rozak (57), gedungnya sendiri dibangun oleh arsitek Belanda dengan mengadopsi gaya bangunan di Eropa pada masa itu.

“Jika dilihat sekilas dari depan bakal mirip kapal dari Eropa,” ungkap Abdul saat berbincang dengan detikcom, pekan lalu.

Ditambahkan Abdul, menurut sejarawan, dahulu gedung ini merupakan gedung tertinggi di Surabaya. Rupanya gedung ini memang sengaja dibangun setinggi mungkin agar dapat melihat daerah lain yang letaknya jauh.

Konon orang Belanda suka memperhatikan Pelabuhan Tanjung Perak dari atas kantor gubernur. “Iya ini dulu ceritanya kolonial Belanda itu suka naik duduk di atas sambil lihat kapal-kapal sandar di Tanjung Perak. Wah, jangan salah, dari atas gedung itu bisa lihat Pelabuhan Perak itu,” terang Abdul.

Detikcom pun berkesempatan untuk naik dan menengok bagian atas kantor gubernur. Ternyata bukan perkara mudah sebab untuk mencapai lantai menara jam, pengunjung harus menaiki tangga yang cukup curam.

Namun begitu sampai di atas, pemandangan seperti Pelabuhan Tanjung Perak dan Jembatan Nasional Suramadu dapat dilihat dengan jelas dari atas menara.

Hal menarik lainnya yang ditemukan di atas menara itu adalah ada jam kuno yang ternyata masih berfungsi hingga saat ini. Menara jam ini bukan hiasan, melainkan berperan penting, setidaknya bagi orang Belanda saat itu.

Abdul menjelaskan, menara jam itu dimanfaatkan untuk memantau atau mencatat jam berapa saja kapal-kapal masuk. Tak hanya itu, ada pula sebuah lonceng besar yang akan dinyalakan ketika kapal masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak.

Suara dentang jam kuno ini pun bisa terdengar dari kejauhan. Seperti halnya jam-jam dinding di zaman modern, jam kuno ini juga berdentang sekali di pukul satu, dan 12 kali di pukul 12. “Jam di atas kantor gubernur juga jadi patokan untuk memulai kegiatan misalnya pawai kebudayaan. Kan start pawai biasa dari sini juga,” paparnya.

Ketika ditanya tentang bagaimana merawat jam yang sudah menjadi sejarah dari gedung ini, Abdul mengaku biaya yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Sebab bila terjadi kerusakan maka dibutuhkan teknisi ahli, bahkan tak jarang mereka harus memanggil teknisi khusus dari luar Indonesia.

“Seperti rantai dan mesinnya ini loh. Ini kan mesin Ducati rantai Ducati ini,” jelas Abdul sembari menunjuk mesin penggerak jam di menara jam gedung gubernur jawa timur.

Bagi Abdul, menara jam ini bukan sekadar pengingat bahwa orang Belanda sangat disiplin jika berbicara soal waktu, tetapi lebih dari itu, keberadaan menara ini seharusnya juga mengingatkan kita bahwa waktu adalah salah satu harta yang berharga. (dtc)

Sendang Made, Tempat Meditasi Airlangga di Jombang

foto
Sendang Made, tempat meditasi Prabu Airlangga. Foto: Gapurajombang.wordpress.com.

Keberadaan Prabu Airlangga di Kabupaten Jombang pada zaman dahulu kala bukan hanya dongeng belaka. Ternyata, sesepuh para raja di tanah Jawa itu memang pernah berdiam cukup lama di daerah yang kini berjuluk Kota Santri.

Hal itu dibuktikan dengan keberadaan Sedang Made di Desa Made, Kecamatan Kudu, Jombang. Konon sendang ini merupakan peninggalan dan tempat peristirahatan Prabu Airlangga dan para raja di tanah Jawa.

Diantara sedikit obyek wisata di Kabupaten Jombang, menikmati sumber air Sendang Made di Desa Made, Kecamatan Kudu, bisa menjadi pilihan menarik untuk menghabiskan hari libur bersama keluarga. Sebab air sendang ini tak pernah kering, kendati musim kemarau.

Jangan heran, sebab, konon menurut sejarahnya sendang ini merupakan bekas peninggalan Prabu Airlangga. Selain Sendang Made masih ada kolam lain yang berukuran lebih kecil di sekitar lokasi. Misalnya Sendang Payung, Sendang Padusan, Sendang Sinden, Sendang Omben dan Sendang Drajat.

Juru kunci Sendang Made Sumono saat ditemui FaktualNews.co beberapa waktu lalu mengatakan, kolam ini merupakan peninggalan Airlangga yang dibuat sekitar tahun 1006 Masehi. Di tempat inilah sang prabu sering melakukan meditasi bersama istrinya Dewi Sekarwati yang juga putri dari Dharmawangsa, raja di Medang.

“Memang sejarahnya di sini merupakan tempat meditasi dan mandinya Prabu Airlangga dan Putri dari Raja Dharmawangsa, saat pelarian. Ketika itu beliau di kejar pasukan Prabu Wora Wari dari Tulungagung,” ujarnya.

Beruntung, Prabu Airlangga dan permaisurinya diselamatkan Prabu Narotama, sempat ke gunung Lawu dan berakhir di sebuah kolam dengan ditemani lima orang wanita dayang-dayang. Sejak saat itu Sendang Made berfungsi sebagai tempat menyepi atau meditasi Prabu Airlangga dan istrinya, sambil dijaga banyak wanita dayang-dayang dan pasukan.

Karena itulah sejak dulu Sendang Made ini menjadi lokasi pilihan bagi para sinden. Ia mengatakan, sebelum dinobatkan menjadi sinden, para perempuan itu harus menjalani wisuda terlebih dahulu.

Mereka melakukan kunkum dan mandi dilokasi sendang. “Ya memang sejak dulu, lokasi pemandian ini lah yang dijadikan tempat untuk wisuda para sinden,” tambahnya.

Namun saat ini tradisi itu sudah mulai hilang. Sudah tidak banyak sinden yang melakukan ritual itu. Minimnya sinden dan semakin terpuruknya kesenian tradisional seperti ludruk, wayang dan lain sebagainya membuat sinden semakin jarang dijumpai. “Kalau sekarang sudah jarang dan hampir tidak ada. Terakhir kalau tidak salah tahun 2012,” tuturnya.

Kendati sudah berusia seribu tahun lebih, saat ini beberapa bangunan di sekitar Sendang Made masih terawat dengan baik. Di tempat ini juga terdapat sebuah ruangan yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan Prabu Brawijaya dan bala tentaranya pada jamannya.

Di dalam kompleks Sendang Made terdapat makam Dewi Pandansari yang konon masih ada keturunan dari Prabu Brawijaya. Makam Dewi Pandansari inilah yang menjadi tempat ziarah sejumlah orang. Pada hari-hari tertentu mereka membawa sesajen, bunga dan kemenyan untuk ditaruh ke dalam makam.

Untuk mencapai lokasi obyek wisata Sendang Made tidaklah sulit. Anda bisa menggunakan aneka jenis kendaraan darat untuk menuju ke lokasi. Saat ini akses menuju lokasi sudah lebih baik ketimbang dua tahun sebelumnya. Pemkab Jombang juga sudah mulai memperbaiki sarana dan prasarana pendukung ke lokasi tersebut.

Kini Sendang Made tak lagi sesunyi dahulu. Para wisatawan lokal sering menggunakan tempat ini untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan. (ist)

Artefak Kalpataru Sunan Bonang, Simbol Kurukunan

foto
Kalpataru peninggalan Sunan Bonang yang berada di Museum Kembang Putih. Foto: SuaraBanyuurip.com/Ali Imron.

Raden Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, bukanlah sosok ulama biasa. Pada masa hidupnya, Sunan Bonang dikenal sebagai pecinta seluruh umat. Tidak hanya dari kaumnya, melain juga mereka yang berbeda keyakinan dengannya.

Sunan Bonang merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, yang dilahirkan pada tahun 1465 Masehi. Salah satu peninggalan yang tak patut lagi diragukan keabsahannya yakni keberadaan Kalpataru. Benda ini menujukan keberagaman yang diajarkan selama hidupnya.

Artefak ini menjadi bukti sejarah yang sudah pernah diuji dengan Karbon-14. Kayu berukir dengan empat cabang pohon ini terbukti dibuat pada masa kehidupan Sunan Bonang, pada rentang waktu 1445 sampai 1525. Benda tersebut kini disimpan di Museum Kambang Putih Tuban.

Secara harfiah Kalpataru berarti pohon keinginan atau pengharapan. Bisa juga Kalpataru diartikan sebagai pohon yang dapat mengabulkan segala keinginan manusia yang memujanya.

Pohon berukir ini merupakan penggambaran kerukunan umat beragama pada masa kehidupan sang wali. Islam, Hindu, Budha, dan Kristen, hidup dalam satu lingkungan damai. Tetap memiliki satu tujuan utama yang sama, yaitu menyembah dzat yang satu, Tuhan Maha Esa.

Pengunjung memadati makam waliullah yang hidup pada masa 1445-an, siang itu. Makam yang dilindungi cungkup kayu berukir itu, menjadi magnet bagi pengunjung. Tak jarang dari mereka yang berasal dari Jawa Timur bahkan luar pulau Jawa.

Sunan Bonang, begitu para peziarah mengenalnya. Salah satu dari sembilan wali Allah yang diperintah untuk menyebarkan syiar Islam di bumi Ronggolawe.

Nuansa multi kultural jelas terlihat sejak pertama kali memasuki area makam. Arsitektur yang digunakan dalam pembangunan makam, seperti halnya pembangunan pura atau tempat peribadatan agama Hindu.

Bangunan ini memiliki tiga halaman utama, dan masing-masing halaman dipisahkan gapura Paduraksa. Bangunan yang menyerupai candi ini merupakan ciri khas bangunan lama pada masa Hindu-Budha.

Sementara pada halaman kedua terletak Masjid Astana dan dipisahkan oleh gapura serupa. Bedanya, pada gapura III yang memisahkan halaman kedua dan halaman ketiga terdapat hiasan dinding berupa keramik.

Keramik yang menempel di dinding ini diperkirakan benda peninggalan jauh setelah masa Sunan Bonang, atau pada masa kependudukan Inggris di tanah di Jawa. Tidak ada catatan pasti siapa yang menempel keramik tersebut di dinding gapura III.

Pada Gapura III pun terdapat Rana yang berfungsi sebagai penghalang pandang. Bangunan semacam ini semakin mencolok mengadopsi bangunan pura.

Pada halaman terakhir, makam sang Wali Allah megah berdiri didampingi empat makam pemangku tahta Kabupaten Tuban pada masa itu. Mereka adalah Adipati Kyai Ageng Gegilang, Adipati Kyai Ageng Botoabang, Adipati Kyai Ageng Ngraseh, dan Adipati Balewod.

Selain itu, benda-benda yang ditemukan di sekitar makam, semakin menguatkan multi kultural di atas tanah yang diberkati sang Wali Allah ini.

Seperti dilaporkan Kumparan.com, Koordinator Juru Pelihara (Jupel) Badan Pelindungan Cagar Budaya (BPCB), Endang Sri Wuryani, saat dijumpai di kantornya, menjelaskan banyak benda-benda cagar budaya yang ditemukan di sekitar area makam.

Beberapa benda ditemukan di sekitar makam yang masuk dalam lindungan BPCB antara lain Rana Gapura III, Gapura III, Pendapa rante barat, Pendapa Rante Timur, Gapura II, Pendapa Barat, Pendapa Timur, dan Gapura I.

Terkait temuan lepas di komplek makam meliputi, Lapik Arca, Batu Dakon, dan dua buah Lingga tanpa pasangannya. Ketiga benda ini tentu merupakan bagian dari alat upacara.

Ada pula 20 fragmen bangunan berbeda, fragmen bangunan berelief, fragmen batu bergores kompleks, dan umpak. Terkahir ditemukan sebuah bak sebagai wadah air.

Sekian banyak artefak yang ditemukan di area makam menunjukkan betapa Sunan Bonang mau menerima perbedaan antar sesama dalam memeluk keyakinan, namun hanya Kalpataru lah satu-satunya benda yang menguatkan keberagaman yang diajarkan oleh Sunan Bonang.

Di lain sisi, bagian Bimbingan dan Edukasi Museum Kambang Putih, Rony Firman Firdaus, mengatakan, tidak semua benda yang ditemukan di sekitar area adalah peninggalan SunanBonang.

Beberapa benda yang ditemukan di area makam memang jauh sebelum ataupun sesudah masa kehidupan sang wali. Justru inilah yang memunculkan warna historis yang indah dalam keberagaman dalam ajaran beliau.

Seperti halnya Lingga-Yoni yang ditemukan di area makam. Kalau benda tersebut dianggap peninggalan Sunan Bonang tentu salah kaprah. Dalam agama Hindu, Lingga yang menyerupai alat kelamin lelaki itu merupakan perwujudan dari Dewa Siwa.

Sementara pasangannya, Yoni adalah bentuk perwujudan Dewi Pavarti atau lebih dikenal dengan sebutan Dewi Sati. “Sebagai tradisi dalam agama tersebut Lingga-Yoni digunakan sebagai tempat menaruh sesaji pada acara keagamaan,” ungkap pria yang hobi membaca buku ini.

Menurut angka tahunnya, setelah dites Karbon 14 kalpatarulah yang mendekati masa hidup beliau. Jadi bisa dipastikan peninggalan Sunan Bonang adalah pohon harapan.

Melalui keberagaman yang ditemukan di area makam Sunan Bonang, dapat dikatakan jika beliau adalah seorang ulama yang pluralis. Artinya orang yang mau menerima keberadan yang lainnya. (aim)

Petilasan Sang Ratu Banyak Dikunjungi Orang Penting

foto
Petilasan Ratu Majapahit di Sooko Mojokerto. Foto: Detikcom/Enggran Eko Budianto.

Dibalik fakta sejarahnya, situs Yoni Klinterejo atau Petilasan Tribhuwana Tunggadewi menyimpan segudang misteri. Tak hanya orang biasa, kalangan pengusaha hingga pejabat di negeri ini disebut-sebut pernah berkunjung ke tempat ini.

Situs purbakala ini terletak di tengah persawahan Desa Klinterejo, Sooko, Kabupaten Mojokerto. Di dalamnya terdapat beberpa bagian terpisah.

Antara lain tempat bersemedi putri Raden Wijaya yang juga raja ke tiga Majapahit Tribhuwana Tunggadewi, petilasan Sabdo Palon dan Naya Genggong yang merupakan guru Damar Wulan, serta petilasan pendeta zaman Majapahit Maha Resi Maudoro.

Sementara bangunan utama berupa Yoni atau tempat pemujaan umat Hindu Siwa zaman Majapahit. Bangunan dari batu berbentuk persegi ini dihiasi ukiran berbentuk kepala naga bermahkota. Di sekelilingnya terdapat parit yang disebut sumber panguripan. Air yang keluar di tempat ini konon mempunyai banyak khasiat.

Juru Kunci situs Yoni Klinterejo Muhammad Zainuri mengetakan, tempat ini tak pernah sepi pengunjung. Para pengunjung datang dari berbagai daerah. Mulai dari Surabaya, Bojonegoro, Probolinggo, Pasuruan, hingga Bali dan Jakarta.

“Pengunjung menggelar ritual di sini dengan berbagai tujuan. Ada yang minta jodoh, mengharap kesembuhan, ada juga yang ingin naik pangkat. Kalangan pengusaha juga sering ke sini,” kata Zainuri kepada Detikcom di situs Yoni Klinterejo.

Tak hanya masyarakat biasa dan kalangan pebisnis, lanjut Zainuri, sejumlah pejabat juga pernah mengunjungi petilasan Ratu Tribhuwana Tunggadewi ini. Salah satunya Presiden pertama RI, Soekarno.

Menurut dia, pada masa pra kemerdekaan, sang proklamator pernah bermeditasi di petilasan Sabdo Palon, Naya Genggo, petilasan Tribhuwana Tunggadewi dan petilasan Maha Resi Maudoro.

“Selain itu Guntur Soekarno Putra, Puan Maharani (Putri Megawati) dan Pak Permadi juga pernah ke sini. Juga Gubernur Jatim Imam Utomo, Pakde Karwo (Soekarwo) sebelum jadi gubernur juga pernah ke sini. Bupati Buleleng dan Denpasar juga. Masing-masing punya tujuan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Kisah misteri
Di balik megahnya situs yang ada saat ini, kata Zainuri, peninggalan purbakala ini banyak menyimpan kisah mistis. Pengalaman itu juga pernah dia alami sendiri. Penampakan itu muncul di bawah pohon besar persis di sisi timur petilasan Sabdo Palon dan Naya Genggong.

“Saya sedang tidur di pendapa sebelah petilasan, tiba-tiba seperti ada yang membangunkan. Saya lihat ternyata sosok orang besar setinggi dua meter memakai pakaian Majapahitan, saya langsung pulang karena saat itu masih belum berani,” ungkapnya.

Penampakan berupa cahaya warna merah dan biru juga kerap dia lihat keluar dari petilasan Maha Resi Maudoro yang pernah digunakan meditasi Presiden Soekarno. Tak hanya itu, pengalaman gaib juga beberapa kali mengganggu warga sekitar situs.

Menurut dia, pada suatu malam seorang petugas pengairan Desa Klinterejo pernah melihat penampakan ular raksasak sebesar pohon kelapa. Namun, sosok ular itu tak pernah nampak kepala dan ekornya.

“Warga sekitar ada yang pernah mencuri bata situs di sisi barat petilasan Tribhuwana Tunggadewi untuk dijual. Dia langsung sakit seperti ditampar orang, mukanya penyok. Setelah bata-bata itu dikembalikan, dia bisa pulih,” terangnya. (dtc)

Jejak Jepang di Makam Keramat di Bangkalan

foto
Komplek makam keramat Syeh Magribi di Bangkalan Madura. Foto: Liputan6.com/Musthofa Aldo.

Salah satu makam keramat di Kabupaten Bangkalan adalah makam Raden Jakandar. Letaknya di Desa Ujung Piring, sekitar 2 kilometer setelah Pasarean Syaikhona Cholil di Desa Martajesah.

Raden Jakandar dijuluki “Syekh Magribi’. Menurut Rofiqi, pemuda setempat, dijuluki begitu karena konon tiap waktu Magrib tiba, pusaranya memancarkan cahaya.

Fauzi, seorang peziarah yang ditemui Liputan6.com usai berdoa, menuturkan konon makam syekh Magribi ditemukan orang buta. Lewat mata batinnya, orang tua buta itu kerap melihat cahaya di pesisir pantai Desa Ujung Piring.

Setelah ditengok oleh warga, ditemukanlah satu komplek pemakaman kuno dan salah satunya diyakini sebagai pusara Raden Jakandar yang juga disebut Sunan Bangkalan keturunan dari Kerajaan Pelajaran.

Kuburan ini menarik tidak hanya karena sosok Raden Jakandarnya, tetapi juga karena di sekeliling komplek makam terdapat bunker peninggalan zaman penjajahan Jepang.

Kodim 0829 Bangkalan mencatat total ada 20 bungker. Tersebar di lahan seluas 1 hektare sekitar makam. Kondisi bunker banyak yang rusak. Pintu besinya raib.

Satu bungker, kondisinya masih utuh, terletak dekat pintu masuk makam. Hanya 50 meter dari tempat parkir. Tertutup rimbun perdu, pohon pisang dan rumput gajah. Dari jauh hanya tampak atap saja, seolah menyembul dari gundukan tanah.

Pintu masuk bungker di sisi timur, baru terlihat setelah menyibak tanaman liar. Suasana gelap pekat, untuk masuk harus jongkok. Di langit-langit ada potongan besi tembus ke atas. Di satu dindingnya ada tulisan huruf Jepang.

“Bungker ini dulunya buat pembangkit listrik, pipa besi di atapnya itu berfungsi sebagai cerobong udara,” kata Teriyanto, seorang musafir yang bermukim di makam Raden Jakandar dan kerap menyepi dalam bungker itu.

Sekitar 500 meter dari bunker pertama, ada bungker lain, juga masih utuh. Bentuknya lebih besar, kemungkinan untuk penyimpanan senjata. Ada juga benteng, dengan lubang di tengahnya mengarah ke laut, diduga untuk lubang meriam.

Tak jauh dari benteng, ada bungker lain, kondisi hancur, hanya menyisakan fondasi saja, ada kubangan besar di tengahnya. Juga tampak lubang di dinding, seperti bekas tembakan. Menandakan pernah terjadi pertempuran sengit di situ.

Sayangnya, situs bersejarah ini tak terawat. Akses jalan menuju kawasan makam keramat itu ditumbuhi pohon liar. Padahal bunker merupakan situs penting, bisa dijadikan wisata edukasi sejarah perjuangan di Pulau Madura. (ist)

Jejak Masa Muda Ken Arok di Situs Karuman

foto
Arca Lembu Nandi di Situs Karuman yang dibangun atas perintah Ken Arok. Foto: Liputan6.com/Zainul Arifin.

Sore di sudut kampung Tlogomas, Kota Malang. Tembok setinggi 1 meter mengelilingi sepetak lahan. Rimbun pepohonan dengan dedaunan rontok berserakan di tempat yang mirip pekuburan itu. Kampung hanya berjarak puluhan meter dari Sungai Brantas.

Warga setempat lebih mengenal tempat itu sebagai Punden Karuman. Beruntung ada sebuah papan informasi dipasang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Papan itu menjelaskan bahwa itu adalah Situs Karuman, sebuah situs purbakala penting bernilai sejarah tinggi.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengatakan situs itu sekaligus menjadi penegas bahwa kawasan itu merupakan desa kuno yang sudah ada sejak masa Kerajaan Kanjuruhan di abad VIII.

“Kawasan ini juga tempat bersejarah, keberadaannya dicatat dalam Kitab Pararaton,” kata Dwi Cahyono di Malang, seperti dilaporkan Liputan6.com.

Nama Karuman disebut beberapa kali dalam Kitab Pararaton, sebuah kitab yang mengisahkan Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Singasari. Menjadi tempat tinggal Ken Arok semasa kecil hingga tumbuh remaja saat tinggal bersama ayah angkatnya yang kedua, yakni Bango Samparan.

“Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak. Dicocokkannya anak itu dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok. Dibawa pulang ke Karuman, diakui anak oleh Bango Samparan,” demikian bunyi kutipan Kitab Pararaton.

Usia Ken Arok saat itu sebaya anak gembala. Ia ikut Bango Samparan hingga tumbuh remaja. Arok meninggalkan rumah, saat mulai tak cocok dengan anak–anak ayah angkatnya. Pergi berkelana, ia menjadi berandalan hingga mengabdi pada Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

Kitab Pararaton juga menuliskan, di sela masa pengabdiannya pada Tumapel, Ken Arok kembali pulang ke Karuman. Meminta pertimbangan Bango Samparan saat hendak membunuh sang akuwu dari kekuasaannya sekaligus memperistri Ken Dedes. Melalui ayah angkatnya itu pula, Ken Arok tahu tentang Mpu Gandring dan memesan senjata untuk mengkudeta Tunggul Ametung.

Kampung Tlogomas Kota Malang merupakan desa kuno sejak masa Hindu–Buddha abad VIII hingga era Kesultanan Mataram Islam abad XVII. Maka, di kampung ini selain ada situs Karuman juga ada Makam Mbah Aruman, seorang penyebar Islam dari Mataram.

Situs Karuman itu sendiri bukan punden biasa. Sebenarnya situs itu adalah sebuah candi yang dibangun atas perintah Ken Arok di awal berdirinya Kerajaan Singasari. Sebagai balas budi terhadap Bango Samparan, sekaligus menetapkan statusnya sebagai desa sima atau bebas pajak. “Karena itulah kuat dugaan masih banyak peninggalan arkeologis yang terpendam di dalam tanah di kawasan ini,” kata Dwi Cahyono.

Sedangkan bukti artefak yang masih bisa dilihat di kawasan ini adalah fragmen arca Durga dan arca Siwa yang sudah hilang bagian kepalanya. Ada pula batu sima, penanda penetapan status desa bebas pajak. Benda purbakala itu diletakkan di areal Makam Mbah Aruman

Sedangkan di Situs Karuman sendiri ada arca Lembu Nandi yang sudah pecah bagian kepalanya, yoni dan lingga berbeda ukuran. Ada pula beberapa balok batu dan bata kuno. Tak jauh dari situs ini, dekat Sungai Brantas pernah ada sebuah patirtan atau taman pemandian kuno.

Di sekitar patirtan itu dahulu ada beberapa jaladwara berbahan batu andesit yang berfungsi sebagai pancuran. Air mengalir dari arung atau saluran bawah tanah melalui jaladwara dan ditampung dalam patirtan. Sayangnya, jaladwara maupun patirtan sudah lenyap tak tersisa.

Hanya aliran air dari arung yang masih bisa dijumpai. Di bekas lokasi patirtan itu kini hanya berdiri tempat pemandian umum untuk warga. Sedangkan air juga diambil sebuah kolam pemandian wisata dengan jumlah besar. “Patirtan jadi tempat penyucian diri sebelum melakukan pemujaan di candi. Menunjukkan betapa pentingnya kawasan ini,” ujar Dwi Cahyono.

Warga Tlogomas sendiri masih sering menemukan sisa batu bata kuno saat menggali tanah sekitar. Termasuk di bekas lokasi patirtan yang kini jadi tempat pemandian umum. Mereka juga memanfaatkan bata kuno temuan itu untuk pemugaran jalan di pemandian umum itu.

“Kata kakek saya, dulu juga sering menemukan arca saat menggali tanah. Karena takut, ditanam lagi ke dalam tanah,” kata Imam Musyafak, Ketua RT 4 RW 5 Tlogomas, Kota Malang.

Perlahan tapi pasti, warga mulai sadar menyelamatkan temuan-temuan itu. Tembok di Situs Karuman, misalnya, baru dibangun warga di awal tahun 2000-an. Dahulu, cagar budaya itu dibiarkan dalam ruang terbuka. Situs kini dianggap memiliki nilai penting untuk sejarah desa. “Kalau pemerintah hanya pasang papan informasi itu. Perawatan dan pemeliharaan situs sehari-hari ya dari warga,” ujar Imam.

Warga juga ada keinginan membongkar kolam pemandian dan memindahkannya. Di tempat itu ingin dibangun patirtan tiruan, setidaknya mengingatkan warga bahwa kampung mereka adalah desa kuno. Air yang keluar dari arung juga akan dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH). “Kami tak ingin memutus sejarah kawasan ini dan juga memanfaatkan airnya agar ada nilai lebih untuk warga,” ucap Imam. (ist)

Terjunkan Arkeolog Teliti Batu Neolithikum di Banyuwangi

foto
Tim BKX mengecek Watu Lumpang di Desa Aliyan, Banyuwangi. Foto: BKX for TIMES Indonesia.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur akan segera menerjunkan arkeolog dan tim cagar budaya ke lokasi penemuan batu Neolithikum berupa Watu Gong dan Watu Lumpang.

“Ya. Kita akan menurunkan tim cagar budaya dan arkeolog staf bidang kebudayaan untuk menindaklanjuti temuan batu tersebut. Apakah memang benar keberadaannya, dan akan menentukan langkah selanjutnya,” kata Sekretaris Disbudpar Banyuwangi, Choliqul Ridho dikutip TIMESIndonesia.co.id, Senin (30/4).

Tim cagar budaya dan arkeolog, kata Ridho, dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan akan segera datang ke Desa Wonosobo, Kecamatan Srono dan Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, tempat ditemukannya dua batu tersebut oleh tim Blambangan Kingdom X-plorer.

Secara khusus, Disbudpar mengapresiasi semangat komunitas pecinta sejarah Blambangan, BKX yang telah peduli terhadap pelestarian benda-benda atau situs peninggalan sejarah.

Seperti diberitakan sebelumnya, komunitas pegiat sejarah Blambangan Kingdom X-plorer (BKX) melakukan ekspedisi di wilayah peradaban kuno di Dusun Watugong, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono dan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, pada Minggu (22/4) lalu.

Komunitas yang aktif melakukan penelitian sejarah di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur ini sebelumnya telah mendapat informasi tentang keberadaan situs batu Neolithikum di dua desa tersebut. (ist)

Candi Badut ‘Lepas’ dari Pemkab Malang

foto
Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi, kewenangannya kini berada di Pemprov Jatim. Foto: Ist.

Candi Badut yang terletak di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, secara resmi beralih status sejak dikeluarkannya Keputusan Gubernur Jawa Timur (Jatim) Nomor 188/734/KPTS/013/2017 yang menetapkannya sebagai cagar budaya peringkat provinsi.

Keputusan gubernur Jatim ini ditindaklanjuti dengan surat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim kepada bupati Malang tertanggal 11 April 2018.

Beralihnya status Candi Badut yang awalnya berada dalam pengelolaan Pemkab Malang melalui Perda No 11 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya tentu juga berdampak pada proses pengelolaannya sejak ada Keputusan Gubernur Jatim. Pengelolaan beralih dari tingkat pemerintah daerah ke pemerintah provinsi.

Dalam Perda No 11 Thn 2011 Pasal 75 dan 76 mengenai pendanaan dan pengawasan Candi Badut yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah beralih ke pemerintah provinsi.

Seperti tercatat dalam Peraturan Gubernur Nomor 66 tahun 2015 tentang Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur, khususnya di pasal 3 tentang tugas dan wewenang.

Salah satu poinnya menyatakan, pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap pelestarian cagar budaya. Serta, diikuti dengan frasa lain di poin (h) mengenai pengalokasian dana bagi kepentingan pelestarian cagar budaya.

Peralihan pengelolaan Candi Badut dari cagar budaya peringkat kabupaten menjadi provinsi diharapkan mampu menjadikan berbagai nilai yang terkandung menjadi semakin tersampaikan kepada khalayak umum secara utuh.

Baik mengenai sejarah, struktur candi yang diperkirakan ditemukan oleh pakar arkeologi tahun 1923 tersebut serta hal lainnya. Selain tentunya keberadaan fisik candi yang juga disebut Candi Liswa ini semakin terjaga.

“Untuk mencapai hal itu, tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang benar memahami hal tersebut. Terutama di tataran juru kunci candi yang secara regenerasi belum terlihat ada pergerakan masif. Ini yang kita harapkan kepada pemerintah provinsi setelah Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi,” kata Made Arya Wedanthara, Kadisparbud Kabupaten Malang dikutip MalangTimes.com.

Made Arya melanjutkan, juru kunci candi memiliki peran vital dalam pelestarian cagar budaya, khususnya yang ada di Kabupaten Malang.

Dengan adanya peralihan status tersebut, pihaknya berharap banyak adanya berbagai program dari pemerintah provinsi dalam meningkatkan SDM dan hal lainnya berkaitan dengan situs tersebut.

“Kita mengetahui juru kunci candi sudah sepuh-sepuh (tua, red). Sedangkan geliat pariwisata trennya semakin meningkat. Tentunya membutuhkan anak muda yang memahami dan mampu menyampaikan sejarah serta hal lainnya secara lengkap kepada masyarakat atau wisatawan nantinya,” ujarnya.

Candi Badut menempati luas lahan sekitar 52,4 x 52,4 meter. Ukuran bangunan panjang dan lebar 11 m dan tingginya 3,62 m. Untuk deskripsinya, Candi Badut terdiri dari tiga halaman, yaitu halaman inti yang masuk sebagai tempat cagar budaya, serta halaman II dan III.

Berbahan dasar batu andesit dan menghadap ke barat yang ditandai dengan pintu masuk pada sisi barat bagian candi. Sedangkan untuk bagian tubuh candi terdapat relung-relung sebagai tempat arca yang kini hanya berisi arca Durga Mahasasuramardini di relung sebelah utara. Pada bilik candi terdapat lingga yang masih utuh, sedangkan yoni sudah rusak. (ist)

Tenda Rusak, Situs Pemukiman Majapahit Ditutup

foto
Tenda rusak membuat situs pemukiman Majapahit ditutup. Foto: Detikcom/Enggran Eko B.

Bangunan tenda raksasa yang menaungi situs pemukiman Majapahit di Museum Majapahit, Trowulan, Mojokerto rusak cukup parah. Akibatnya, para wisatawan tak bisa melihat situs tersebut.

Selain itu, struktur bata kuno di situs ini terancam rusak tergerus air hujan. Situs yang terletak di sisi selatan area Museum Majapahit ini dinaungi 5 tenda raksasa. Di setiap tenda terdapat tangga dari kayu dengan kerangka besi untuk wisatawan menuju ke lantai dua.

Lantai 2 merupakan balkon yang sengaja dibuat agar wisatawan lebih leluasa melihat situs pemukiman dari ketinggian, selain berfungsi sebagai pelindung situs dari panas dan hujan.

Namun, situs yang biasanya ramai dikunjungi itu kini sepi. Sebab tangga untuk melihat situs dari ketinggian di masing-masing tenda ditutup oleh pengelola Museum Majapahit karena banyaknya konstruksi tenda yang rusak.

Kondisi tangga dari kayu juga berlubang lantaran kayu pijakannya banyak yang lepas dan rapuh. Begitu juga kondisi lantai kayu di bagian atasnya. Kerusakan ini terjadi pada kelima tenda.

Atap salah satu tenda di situs pemukiman Majapahit telah terlepas sehingga struktur bata kuno di bawahnya tak terlindungi. Bahkan situs purbakala tersebut hanya ditutupi dengan lembaran seng seadanya.

Kepala Unit Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) Muhammad Ichwan mengatakan, kerusakan 5 tenda pelindung situs pemukiman Majapahit terjadi sejak awal 2017. Lepasnya pijakan kayu pada tangga maupun lantai dua terjadi akibat terpaan hujan dan panas matahari. Sementara lepasnya atap tenda akibat diterjang angin kencang.

“Kami tutup untuk keamanan wisatawan, selain kami tutup juga kami beri tulisan peringatan agar pengunjung tak nekat menerobos,” katanya kepada Detikcom.

Ichwan mengakui, lepasnya atap tenda berpotensi merusak struktur bata kuno situs pemukiman Majapahit. Untuk meminimalisir kerusakan, pihaknya saat ini hanya bisa menutup situs dengan lembaran seng. “Situs di bawahnya kami beri pengamanan sementara dengan seng. Kurang maksimal memang,” tambahnya.

Kerusakan tenda ini, lanjut Ichwan, sudah disurvei dan didata untuk dilaporkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun sampai saat ini belum ada alokasi anggaran untuk perbaikan. “Sudah saya laporkan ke atasan saya. Insya Allah juga sudah dilaporkan ke pusat (Kemendikbud, red),” tandasnya. (dtc)