Ramadan, momentum silaturahmi dan untuk saling memaafkan. Foto: Antaranews/Septianda Perdana.
Halal bi halal hampir menjadi kegiatan wajib masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim, yang dilakukan pada bulan Syawal. Istilah itu sendiri merujuk pada kegiatan dimana masyarakat saling mengajukan maaf dan turut memberikan maaf.
Bentuknya cenderung berbeda di setiap daerah. Ada warga yang singgah dari satu rumah ke rumah lainnya dan ada pula yang dikumpulkan di satu tempat, biasanya disebut open house.
Bertolak dari sejarah, seperti ditulis idntimes.com, sebenarnya halal bi halal adalah bentuk kepentingan politik Soekarno untuk mencegah perpecahan bangsa. Seiring berjalannya waktu, halal bi halal telah menjadi budaya khas Indonesia. Kini, halal bi halal dilakukan oleh setiap elemen masyarakat tanpa mengenal strata sosial, suku, ras, dan agama.
Lantas, bagaimana sesungguhnya gagasan halal bi halal pertama kali muncul di Indonesia? Kemudian, bagaimana halal bi halal yang berawal dari kepentingan elit politik menjadi tradisi unik bangsa Indonesia?
Dilansir dari http://www.nu.or.id, istilah halal bi halal pertama kali digagas oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Sekitar tahun 1948, disintegrasi bangsa menjadi ancaman terbesar Indonesia. Elite politik saling bertengkar, pemberontakan menjamur di banyak daerah, hingga ancaman ideologi komunis. Lebih buruknya, para pemangku kekuasaa yang memiliki beda pandangan enggan duduk bersama di satu forum diskusi.
Pada tahun 1948, bertepatan dengan bulan Ramadan, bapak proklamator bangsa itu memanggil Kiai Wahab ke istana. Sang pemuka agama dimintai pendapat soal cara yang efektif untuk mengatasi situasi bangsa yang tidak kondusif.
Alhasil, ulama kelahiran Jawa Timur itu menyarankan Bung Karno untuk menggelar silaturahmi. Mendengar saran tersebut, Soekarno menjawab “Silaturahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain.”
Mendengar jawaban Soekarno, Kiai Wahab membalas, “Begini, para elite politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal.”
Setelah mendengar saran tersebut, bersamaan dengan merayakan Idul Fitri, Bung Karno menggelar halal bi halal untuk mengkumpulkan seluruh elite politik. Dan benar saja, setelah berkumpulnya seluruh pemangku kebijakan, babak baru integrasi bangsa dimulai.
Selepas itu, berbagai instansi pemerintahan yang notabennya diisi oleh pendukung Soekarno turut melakukan hal yang sama. Halal bi halal mulai menjadi tradisi bagi pemerintah. Peran Kiai Wahab tidak berhenti sampai di situ. Halal bi hala juga dia terapkan di kalangan masyarakat. Buntutnya, masyarakat muslim di pulau Jawa turut meniru hal yang dilakukan oleh ulama-ulamanya.
Dengan kata lain, peran Bung Karno dan Kiai Wahab dalam menyelanggarakan halal bi halal berhasil menyentuh seluruh elemen masyarakat. Sehingga, dampaknya yang dirasa positif menjadikan halal bi halal sebagai tradisi bangsa Indonesia yang dilakukan bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri hingga saat ini.
Kegiatan halal bi halal, secara substansinya, telah ada sejak zaman Pangeran Sambernyawa pada abad ke-18. Kala itu, halal bi halal masih dikenal dengan istlah sungkeman. Sebab, pada masa itu, Idul Fitri dirayakan dengan pertemuan antar prajurit dengan raja di balai istana.
Setiap prajurit secara tertib melakukan sungkem atau meminta dukungan dari para raja dan permaisuri.Tradisi yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa menggambarkan bahwa esensi halal bi halal sudah ada jauh sebelum masa Soekarno.
Ada dua argumentasi yang digunakan oleh Kiai Wahab untuk memperkenalkan istilah halal bi halal kepada Soekarno. Pertama, dia meyakini bahwa mencari penyelesaian masalah harus diawali dengan cara mengampuni kesalahan atau dalam bahasa Arab dibaca thalabu halal bi thariqin halal.
Kedua, Kiai Wahab meyakinkan Bung Karno bahwa pembebasan kesalahan harus dibalas cara saling memaafkan. Dalam bahasa Arab dibaca halal yujza’u” bi hall.
Meski hukum halal bi halal masih diperdebatkan di kalangan ulama karena tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad semasa hidupnya (bid’ah). Halal bi halal dianggap sebagai momentum yang baik agar setiap muslim saling memaafkan. (ist)
Jembatan Suramadu, salah satu ikon Kota Surabaya. Foto: Istimewa.
Saat Lebaran nanti, Kota Surabaya akan menjadi salah satu yang banyak dikunjungi pemudik. Surabaya pun sudah siap menyambut para pemudik. Yaitu melalui #PesonaKulinerLebaran2018 yang dimilikinya. Dan yang pasti bisa bikin ketagihan.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, wisata kuliner Surabaya dikenal dengan rasanya yang sangat khas. Mulai dari kuliner siang hingga kuliner malam, tersedia di Kota Pahlawan. Pemudik yang membawa keluarga ke Surabaya, dipastikan akan mengajak keluarga menikmati kuliner khas Surabaya.
Bahkan Menteri Pariwisata mengaku paling susah menahan wiskul alias wisata kuliner saat kunjungan ke Surabaya. Jenis makanan khas Suroboyoan begitu banyak, dan hampir semuanya enak.
“Saya pernah hidup lama di Surabaya. Kalau soal makanan khas Jawa Timuran, saya rekomendasi ke sana deh. Makanan Surabaya itu tidak ada yang tidak bikin kangen,” kata Menpar Arief Yahya, pekan lalu.
Saat menjadi Kadivre V PT Telkom di Jawa Timur, Arief Yahya lebih banyak menghabiskan waktu di Surabaya. Karena itu, dia bersahabat dengan segala rupa masakan Jawa Timuran yang sangat khas.
“Sensasi makanan khas Surabaya layak dicoba, ketika Anda mudik Lebaran ke Surabaya. Saya mencatat banyak makanan khas, tetapi saya sampaikan 10 top favoritnya yang juga direkomendasikan TripAdvisor,” kata Menpar Arief Yahya, yang asli kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur itu.
Berikut #Top10KulinerLebaran2018 yang bisa dinikmati di Surabaya versi TripAdvisor, seperti ditulis di website Kemenpar:
1. Bebek Goreng Sinjay
Salah satu wisata kuliner Surabaya paling maknyus yang pernah ada yakni Bebek Goreng Sinjay. Kuliner ini terkenal gurih dan juga daging yang empuk. Ditambah lagi rasa sambal yang sangat khas ala Bebek Goreng Sinjay. Dijamin bisa membuat lidah bergoyang.
Sedikit rasa segar bisa anda dapatkan dalam sajian Bebek Goreng Sinjay. Yaitu dari irisan cabe merah dan mangga muda. Jadi, kita akan mendapatkan perpaduan rasa antara pedas dan kecut.
Dengan harga sekitar Rp 23.000, kita sudah bisa mencoba gurihnya Bebek Goreng Sinjay. Lokasinya ada di Kapas Krampung Plaza (KAZA). Harga tersebut sudah temasuk nasi hangat dan teh segar juga.
2. Nasi Goreng Jancuk
Bila kalian sedang berkunjung ke Kota Surabaya, adalah Nasi Goreng Jancuk adalah tempat wajib dkunjungi. Kuliner ini sangat terkenal dengan porsinya yang sangat luar biasa banyak. Juga rasanya yang sangat pedas. Jika kalian berminat untuk mencoba Nasi Goreng Jancuk, silahkan ke surabaya Suites Hotel, Jalan Pemuda 31-37, Surabaya. Satu porsi Nasi Goreng Jancuk ini bisa untuk 4 sampai 5 orang, jadi anda bisa patungan untuk harga berkisar Rp 99.000.
3. Tahu Campur Kalasan
Rekomendasi tempat kuliner Surabaya yang berikutnya adalah Tahu Campur Kalasan. Dari dulu tahu campur adalah sebuah makanan yang banyak sekali penggemarnya. Karena, rasa tahu campur tidak bisa dilupakan dalam sekejap.
Perpaduan antara daging sapi, sop, perkedel, tahu goreng, selada, dan bahan-bahan yang lain tentu membuat lidah ingin mencobanya. Nah, Tahu Campur Kalasan ini Tahu Campur Kalasan ini di banderol dengan harga yang cukup murah yakni kisaran Rp 8.000 saja.
4. Sego Sambel Mak Yeye
Inilah tempat makan di Surabaya yang sangat fenomenal. Sangat populer. Sego Sambel Mak Yeye Surabaya menghadirkan sensasi pedas. Menu andalan dari tempat makan ini adalah nasi sambal atau kalau di sini disebut dengan sego sambel.
Tempat makan ini hanya aktif pada malam hari, mulai jam 22.00 wib. Terdapat beberapa lauk yang bisa dinikmati. Seperti ikan pe, telur dadar, tempe goreng dan masih banyak lagi lauk yang lainnya. Untuk dapat menikmati makanan di sini anda wajib untuk datang ke Jalan Wonokromo Wetan No. 12, Surabaya.
5. Soto Ayam Cak To Undaan
Soto Ayam Cak To Undaan cukup direkomendasikan bagi pecinta soto. Soto Ayam Cak To Undaan lokasinya dekat Rumah Sakit Mata Undaan. Pada jam makan siang di tempat kuliner surabaya yang satu ini tidak pernah sepi dengan pengunjung. Bahkan, banyak yang rela antri untuk dapat menikmati Soto Ayam Cak To Undaan ini.
6. Rawon Pak Pangat
Rekomendasi tempat kuliner yang berikutnya adalah Rawon Pak Pangat. Lokasinya ada di Ruko Lotus, Jlan Ketintang Baru Selatan 1/15. Lokasinya sangat terkenal di daerah Masjid Agung Surabaya. Tempat kuliner ini buka jam 6 pagi sampai dengan 9 malam. Banyak orang yang gemar dengan kuliner ini. Bahkan dibuat ketagihan. Karena, Rawon Pak Pangat disajikan dengan suwiran empal yang sangat khas enaknya.
7. Nasi Empal Pengampon
Kalau ingin menikmati nasi dengan rasa yang sangat khas, Nasi Empal Pengampon bisa dijadikan pilihan. Menu utama Nasi Empal Pengampon, disajikan dengan perpaduan antara nasi putih, lauk empal suwir, kering tempe, tumis kacang, lalapan timun, sambal dan daun kemangi.
Jika anda tertarik untuk mengkonsumsi makanan khas Surabaya ini, silahkan saja untuk langsung menuju ke Jalan Pengampon II No. 3, Surabaya Pusat yang biasanya tempat makan ini di buka setiap hari pada jam 9 pagi sampai dengan jam 9 malam.
8. Nasi Krawu Sufayah
Jika kalian sedang di Kota Surabaya, rasanya sayang sekali apabila anda tidak mencoba Nasi Krawu Sufayah. Kuliner ini merupakan tempat makanan khas Gresik. Namun, cukup populer di Kota Surabaya. Yas pasti karena rasanya yang sangat enak.
Nasi Krawu Sufayah ini mempunyai ciri khas yakni disajikan dengan nasi yang sangat pulen. Dan tentu saja masih ada unsur tradisionalnya. Makanan ini dibungkus dengan menggunakan daun pisang terdapat lauk yakni sayatan semur daging, daging sapi, jeroan sapi, serundeng dan sambal terasi.
Apabila anda ingin mencoba sensasi makanan Nasi Krawu Sufayah ini silahkan untuk segera menuju ke Jalan Manyar Kertoarjo, Surabaya.
9. Sate Klopo Ondomohen Ny Asih
Sate Klopo Ondomohen Ny Asih ini sangat unik. Pasalnya sajian yang ada di tempat ini tidak sama dengan sajian sate yang ada di tempat lain. Sate Klopo Ondomohen Ny Asih ini ditaburi dengan parutan kelapa.
Kita juga bisa pilih bahan satenya seperti udang, sumsum, daging sapi dan daging ayam. Yang pasti, dicampur dengan saus kacang yang khas. Jika anda tertarik dengan sate yang di hadirkan di Sate Klopo Ondomohen Ny. Asih ini silahkan langsung menuju Jalan Walikota Mustajab 36, Surabaya.
10. Zangrandi Ice Cream Surabaya
Siang hari di Kota Surabaya, coba deh mencicipi Zangrandi Ice Cream. Lokasinya ada di Jalan Yos Sudarso. Wisata kuliner surabaya yang satu ini sudah berdiri sejak tahun 1933 dengan nuansa bangunan Eropa, tentunya akan menjadi pengalaman tersendiri. Menu yang paling populer dan menjadi favorit di wisata kuliner Surabaya Zangrandi Ice Cream ini adalah Noodle Ice Cream. (ist)
Lakon Warianti tanding diusung, tentang kepahlawan ksatria perempuan. Foto: Istimewa.
Anggota Rampak Sarinah Kediri Komunitas Seni Budaya, Lilik Suharti melakukan terobosan menarik dalam melakukan kampanye kepemimpinan perempuan sekaligus sosialisasi tentang Puti Guntur Soekarno.
Rampak Sarinah Kediri menyelenggarakan pertunjukan ketoprak gratis pada Senin 12/6) malam di Dusun Tawang, Desa Sumber Bendo, Kec Pare, Kab Kediri.
Group Ketoprak Gajah Mada asal Jombang pimpinan Kang Jari mementaskan lakon serial Sudiro dengan judul WARIANTI TANDING. Cerita tentang kepahlawan seorang ksatria perempuan Warianti dalam membela negaranya dengan cara menumpas para penjahat yang merugikan negaranya.
Pertunjukan yang berlangsung santai dan interaktif tersebut dihadiri sekitar 500 orang dalam gedung sementara berdinding bambu sumbangan penduduk sekitar. Para pemain maupun penabuhnya sudah sepuh-sepuh bahkan pesinden utamanya berusia 70 tahun namun pengunjungnya para muda dan anak-anak yang antusias menunggu babak lawakan dengan tokohnya Budi Jambul.
Eva Sundari dengan didampingi pengurus Rampak Sarinah Kediri membuka pertunjukan dengan memberikan pidato pengantar. “Ini lakon asyik, sesuai trend jaman yaitu meningkatnya kepemimpinan perempuan seperti yang pernah Indonesia punya mulai Ratu Sima, Gayatri hingga Megawati. Kita harus lanjutkan dengan memenangkan Mbak Puti yang cucu Bung Karno demi memenangkan Jokowi,” kata anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini bersemangat.
Eva Sundari selanjutnya menandaskan bahwa berpolitik memang harusnya ada demensi budaya karena sebenarnya politik berisi nilai-nilai mulia. Dengan demikian politik bisa membawa kegembiraan dan perdamain.
“Kita dukung strategi berpolitik Rampak Sarinah yang mengintegrasikan seni budaya untuk memperhalus budi dan mencerdaskan jiwa”, kata Eva Sundari dalam sambutannya. Lilik Suharti menjelaskan bahwa pertunjukan tersebut juga dimaksudkan sebagai partisipasi Rampak Sarinah dalam mengisi Bulan Bung Karno. (ita)
Pemakaian sarung sa’be pada awak kapal Greenpeace saat tradisi penyambutan tamu. Foto: Antaranews/Aji Styawan.
Di daerah yang berbasis NU, pria mengenakan sarung merupakan pemandangan umum. Bukan hanya saat acara resmi, melainkan juga acara santai. Mulai salat di masjid hingga meronda di pos kamling, sarung tak pernah dilepas. Sebab, sarung multifungsi.
Apalagi jika kita berkunjung ke beberapa pesantren di sepanjang Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sarungan ibarat ‘pakaian adat’ dan identitas kebanggaan.
Namun, seperti ditulis di Beritatagar.id, sebenarnya tak hanya di lingkungan NU dan pesantren, masyarakat Indonesia pun sebagian besar akrab mengenakan sarung sebagai busana sehari-hari bukan hanya untuk beribadah.
Bahkan, sarung di luar kain sarung orang NU seperti kain sarung adat banyak digunakan di daerah-daerah luar Jawa seperti Bali, Sulawesi, Palembang, Padang, dan lainnya.
Tentu dalam bentuk sarung yang berbeda baik corak maupun desain. Di hampir setiap daerah memiliki kain sarung khas masing-masing.
Orang NU sendiri sangat akrab dengan kain sarung bahkan sudah identik dengan kain yang banyak diproduksi di Jatem dan Jatim. Kain sarung juga seperti sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Itu artinya, sarung penting untuk dilestarikan. Jangan sampai tergeser oleh pakaian keagamaan dari budaya timur tengah seperti gamis atau jubah dan bahkan celana cingkrang yang akhir-akhir ini mulai banyak dipakai oleh generasi Islam.
Sebenarnya tidak ada yang buruk dari pakaian-pakaian itu. Toh itu hanya pakaian, hanya simbol dan ornamen lahir manusia. Yang lebih penting dari itu adalah pemaknaannya.
Namun demikian, kain sarung juga bukan sesuatu hal yang buruk semisal lantas perlu dibidahkan karena Rasulullah SAW tidak pernah memakai sarung.
Kita hanya menjaga kekayaan tradisi yang memberikan nilai khas tersendiri. Supaya identitas sebagai bangsa Indonesia yang mempresentasikan Islam Nusantara tidak luntur begitu saja.
Ya, kain sarung dan Islam Nusantara adalah bak dua variabel yang saling melengkapi. Mereka berkelindan mempromosikan keislaman yang menghargai tradisi dan ramah bak karakteristik orang desa.
Seperti kata Gus Dur bahwa Islam datang ke Indonesia bukan untuk mengubah budaya leluhur jadi budaya Arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.
Sarung itu tanpa karet, atau atribut resleting dan kancing. Kain sarung bentuknya sangat sederhana. Namun corak kain sarung sangat beragam dan detailnya apik.
Seperti seharusnya pemikiran dalam bersosialisasi di tengah masyarakat yang kompleks seperti corak sarung. Hanya perlu berbuat baik dengan memberi manfaat kepada sesama.
Digambarkan dengan tidak adanya atribut kancing dan ritsleting yang mengekang pergerakan badan. Memestinya bersikap fleksibel, tidak kaku dalam bergaul.
Kemudian adanya ruang ketika kain sarung dipakai adalah sebuah pengibaratan untuk menerima dengan lapang apa yang menjadi permasalahan umat untuk dirasai bersama. Gulungan kain diperut mengisyaratkan supaya tetap kuat menjaga silaturahmi antar sesama.
Filosofi sarung yang penuh makna itu bisa dijadikan kontemplasi akan kehidupan sosial yang makin hari makin gersang oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek.
Dari sebuah kain bahkan bisa belajar akan pentingnya menjaga silaturahmi antarsesama dengan sikap fleksibel. Sehingga memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Dengan penyiratan pesan bahwa mungkin kain sarung tidak semahal permata, namun di balik kain sarung tersimpan kekayaan Nusantara. Semoga tidak sampai lekang oleh zaman. (ist)
Kota Solo memiliki banyak kuliner yang direkomendasi. Foto: Istimewa.
Kota Solo, tanah kelahiran Presiden Joko Widodo dikenal memiliki banyak kuliner lezat. Saking lezatnya, banyak tempat kuliner yang membuat wisatawan harus rela antri selama berjam-berjam.
Tidak ada yang bisa membantah, jika Solo itu Kota Kuliner! Kota ini kaya akan formasi makanan yang setengah mati susahnya kalau dicari di kota lain. Kalaupun ada, sensasi rasanya hambar, seperti ada setitik bumbu yang alpa. Seperti beda tangan, beda rasa, beda selera.
“Karena itu, mumpung mudik ke Solo, jangan sampai kehilangan momentum! Buru 10 kuliner paling khas di Kota Bengawan ini!” kata Menpar Arief Yahya.
Bagi Anda yang asli Solo, lalu pindah ke kota lain, sekalipun di Jakarta, memang sangat terasa ada degradasi rasa yang amat mengganggu ujung lidah.
Wajar, ketika mudik Lebaran, semua restoran dan warung makan ini diserbu orang-orang berlogat “lu-gue” dan berpelat mobil “B”. Apa yang mereka cari? Sampai rela antere lama? Berpanas-panas dan mandi peluh?
Tidak lain, karena rindu akan rasa khas masakan Solo. Itulah mengapa, kuliner dimasukkan dalam kategori karya budaya, cultural value, bersama shopping and fashion, heritage dan seni.
“Kuliner tradisional itu dibuat secara turun temurun. Komposisi bumbu, lama menanak, besaran api, alat masak, sampai derajad kematangan, itu diatur dengan rasa, tidak cukup dengan pikiran di otak kiri,” jelas Arief Yahya.
Traveler boleh penasaran, juga boleh tidak percaya. Langsung datang dan buktikan sendiri. Mulut bisa salah ucap, tapi lidah tak pernah bohong. Rasa tidak bisa ditipu, juga tidak pernah bisa menoleransi.
“Karena produk budaya, maka kekuatan Solo sebagai Kota Pariwisata adalah karya budayanya. Dan kuliner adalah salah satu produknya,” kata Mantan Dirut PT Telkom itu.
Silakan mencoba, bagi yang belum pernah dan silakan bernostalgia, bagi yang sudah familiar dengan. Berikut 10 warung makan yang wajib Anda kunjungi selama libur Lebaran di Solo. Selain juga kerap jadi langganan Prseiden Jokowi, warung makan ini mendapat respon bagus di situs wisata TripAdvisor, yang ditulis di website Kemenpar.
1. Sate Buntel Mbok Galak
Sate buntel ini merupakan olahan daging kambing muda yang dicincang, lalu dililit pada sebilah bambu seperti sate lilit Bali. Dagingnya terasa empuk dan gurih, karena di bagian luarnya dibungkus lemak daging.
Rasanya yahud. Sate Buntel Bu Galak berada tak jauh dari kediaman masa kecil Presiden Jokowi, di Jalan Mangun Sarkoro Nomor 122.
2. Timlo Sastro
Timlo, sup khas Solo ini berisi irisan ati ampela ayam, irisan dadar gulung, irisan, bihun, telur pindang, dan suwiran ayam goreng.
Salah satu tempat untuk menikmati kelezatan hidangan ini terletak di Jalan Kapten Mulyadi Nomor 8, Sudiroprajan. Rumah makan ini merupakan kedai timlo yang terkenal dan pernah dikunjungi Presiden Jokowi lho.
3. Selat Solo Mbak Lies
Selat Solo merupakan makanan adaptasi dari budaya Barat, yakni salad. Hanya saja, rasanya disesuaikan dengan cita rasa tanah air. Makanan ini terdiri dari daging sapi yang direbus dalam kuah encer yang terbuat dari bawang putih, cuka, kecap manis, kecap Inggris, air serta dibumbui dengan pala dan merica.
Kuliner khas Solo yang satu ini terletak di Jalan Yudhistira, Serengan, buka pukul 09.00 sampai 17.30 WIB.
4. Es Dawet Telasih Bu Darmi
Tersembunyi di dalam Pasar Gede Solo Hardjonagoro, hidangan penutup ini begitu segar diminum pada siang hari. Es dawet ini spesial, karena menggunakan biji telasih (selasih), dawet ketan hitam, tape ketan, jenang sumsum, cairan gula Jawa, dan santan dengan tambahan es batu.
Di Pasar Gede Solo, salah satu tempat yang legendaris dan terkenal, yakni Warung Es Dawet Bu Dermi.
5. Nasi Liwet Bu Wongso Lemu
Tak akan lengkap rasanya kunjungan Anda ke Kota Keraton ini tanpa pernah mencicipi kuliner Solo paling khas, yaitu nasi liwet. Hidangan berupa nasi putih gurih dengan tambahan telur rebus, sayur labu, dan suwiran ayam ini adalah kuliner paling favorit masyarakat setempat.
Warung Nasi Liwet Wongso Lemu adalah salah satu penjual nasi liwet terenak yang harus Anda coba di Kota Solo. Selain rasanya yang begitu enak, warung ini ternyata telah dikelola secara turun-temurun sejak tahun 1950 silam.
Bu Wongso Lemu adalah sang pemilik warung nasi liwet yang berlokasi di Jl. Teuku Umar, Keprabon, Solo ini. Kini, warung yang buka setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 01.00 dini hari ini dikelola oleh Mbak Ati yang merupakan cucu dari Bu Wongso Lemu. Bermodal Rp10.000 hingga Rp17.000 saja, sepiring nasi liwet komplit siap menggoyang lidah Anda.
6. Serabi Solo Notokusuman
Kudapan yang satu ini adalah kuliner Solo yang paling dicari, terlebih oleh wisatawan. Tak seperti serabi pada umumnya, kelezatan Serabi Notosuman ini memang tak ada duanya. Paduan santan, susu, dan gulanya memberikan cita rasa manis yang begitu khas, terlebih jika disantap selagi hangat. Serabi Notosuman hadir dalam dua varian rasa, yaitu original dan cokelat.
Cara pembuatan serabi ini pun masih amat tradisional, dengan menggunakan tungku-tungku yang dipanaskan dengan api dari arang. Satu porsi serabi notosuman berisi 10 gulung, harganya mulai dari Rp20.000 tergantung dari varian rasa yang Anda pilih. Gerai serabi ini bisa Anda jumpai di Jl. Mohammad Yamin No.28.
7. Gudeg Ceker Bu Kasno
Lapar tengah malam? Tak perlu bingung, karena Anda bisa bertandang ke warung gedeg ceker milik Bu Kasno. Lokasinya ada di Jl. Monginsidi, Solo, tepatnya di bagian barat gedung SMA Negeri 1 Solo. Meskipun merupakan salah satu kuliner khas Jogja, warung gudeg yang telah ada sejak tahun 1970 silam ini tetap mampu menyihir lidah para pengunjung karena kelezatannya, lho.
Gudeg Ceker Bu Kasno
Warung Gudeg Ceker Bu Kasno buka setiap hari mulai pukul 01.00 hingga 04.00 dini hari. Cukup membayar seharga Rp22.000 saja, Anda sudah bisa mencicipi enaknya sepiring nasi gudeg lengkap dengan ceker, siraman kuah opor ayam, dan telur. Murah dan pastinya mengenyangkan!
8. Soto Gading
Soto ayam layak jadi pilihan sarapan pagimu saat berada di Solo. Dari sekian warung soto yang tersohor, Soto Gading merupakan soto yang paling hits di Solo. Lokasinya berada di Jalan Brigadir Jenderal Sudiarto No. 75 Pasar Kliwon. Atau tepatnya di sekitaran alun-alun selatan Keraton Solo bisa jadi pilihan tepat. Nasi dengan mie soon dan suwiran daging ayam yang disiram kuah bening kaya aroma rempah ini dijamin akan membuat pagi harimu lebih bersemangat.
Telur puyuh, sosis, tempe goreng, jeroan sapi, perkedel kentang, sate uritan, bakwan; berbagai lauk-pauk yang tersaji di meja menjadikan momen sarapan sotomu jadi lebih meriah. Warung Soto Gading sudah ramai pembeli sejak buka jam 6 pagi. Warung ini juga jadi langganan pejabat lho. Beberapa yang pernah mampir antara lain: Joko Widodo, Megawati, Agum Gumelar, dan Mari Elka Pangestu.
9. Warung Pecel Bu Kis
Sekilas Warung Pecel Bu Kis nampak seperti warung-warung pecel lainnya. Namun, warung pecel ini punya satu menu andalan yaitu sambel tumpang. Punya cita rasa gurih, manis, dan sedikit pedas. Sambal tumpang nikmat disantap dengan nasi hangat atau bubur beras yang ditambah bayam segar dan tauge. Paduan irisan tahu putih, tahu goreng, krecek, rempah-rempah dan ‘tempe busuk’ sebagai bumbu memang luar biasa sedap.
Warung Pecel Bu Kis buka setiap hari mulai jam 7 pagi hingga jam 2 siang. Letaknya tepat di belakang Pengadilan Negeri Solo dan dekat dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah.
10. Sumber Bestik Pak Darmo
Makanan yang diadaptasi dari kuliner Belanda ini selalu bikin kangen. Olahan ‘biefstuk’ gaya Jawa ini melestarikan citarasa kolonial yang lezat
Bestik lidahnya disajikan lebih dulu, panas mengepul, berisi irisan lidah sapi rebus dengan genangan kuah kecokelatan encer. Ada sedikit jejak manis kecap manis, sedikit pala dan merica. Karena hanya ditumis maka bumbu tidak meresap ke dalam lidah sapi.
Lidah sapinya empuk lembut dengan rasa gurih. Ditambah dengan acar mentimun rasanya jadi manis, asam segar. Pas buat penghangat badan di malam hari.
Kalau mau mmapir ke warung Sumber Bestik Pak Darmo ini gampang sekali karena di Solo ada 5 cabang, yaitu Jl Dr Rajiman 209, Jl Honggowongso No 94 Serengan, Jl Sri Rejeki Dalam 7, Kompleks Stadion Sriwedari dan Jl Perintis Kemerdekaan. Sementara itu ada juga cabang di Sukoharjo, Semarang, Bandung, Jakarta hingga Denpasar, Bali.
Menpar Arief Yahya paham, masih ada 1001 macam jenis masakan Solo yang tidak masuk dalam 10 top kuliner ini. Tetapi, 10 rekomendasi ini layak Anda coba ketika menikmati liburan ke Solo. Selamat berlibur, Selamat berwisata kuliner! Salam #Genpi #PesonaIndonesia #PesonaKulinerLebaran2018 #10TopPesonaKulinerLebaranSolo. (ist)
Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD saat peresmian Museum Temporary of Ubaya. Foto: Suarasurabaya.net.
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 lalu, Universitas Surabaya (Ubaya) meresmikan museum temporary of Ubaya yang bekerjasama dengan Museum Gubug Wayang Yensen di gedung Perpustakaan Ubaya.
Mengusung konsep ‘Spirit of Majapahit’, Museum Temporary of Ubaya ingin mengajak kembali masyarakat maupun mahasiswa untuk melihat peradaban Indonesia yang pernah berjaya pada masa kerajaan Majapahit dengan multikultural yang tumbuh dalam kerajaan tersebut.
Diungkapkan Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Cyntia Handy bahwa Kerajaan Majapahit dulunya dikenal sebagai kerajaan yang menyatukan Nusantara. Pihaknya menilai jika sudah seharusnya generasi muda maupun masyarakat luas belajar dari nenek moyang yang sudah memiliki keberagaman budaya maupun agama sejak dulu.
“Kerajaan Majapahit banyak sekali keberagamannya mulai dari India, China, Persia bahkan percampuran yang akhirnya membentuk suatu identitas itu. Mereka bahkan memiliki jangkauan wilayah lebih luas karena mereka memiliki ‘Spirit of Majapahit’ yaitu berbudaya, berbangsa dan beragama,” paparnya, seperti dikutip Harian Bhirawa.
Sehingga, lanjut dia mereka memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sekaligus tentu saja mereka mempunyai arahan dari Tuhan yang Maha Esa.
Cynthia Handy yang juga Mahasiswa Psikologi Ubaya ini juga menilai jika apa yang dijaga kerajaan Majapahit waktu itu, sangat linier dengan visi misi Ubaya saat ini. Hal tersebut bisa terlihat dari tag line Ubaya yang sangat menjaga multikultural.
“Dengan adanya Spirit of Majapahit dengan berbagai keberagaman dari Ubaya ini tentu menjadi ikatan yang kuat bagi warga Ubaya,” imbuhnya
Selain itu, tambahnya pihaknya juga ingin mengajak mahasiswa mempunyai spirit kesatuan dan persatuan yang tinggi sehingga bersinergi untuk berinovasi dan berkreasi untuk kedepannya.
Dalam Museum Temporary of Ubaya, mereka menampilkan sebanyak 774 koleksi terakota dari masa Kerajaan Majapahit. Terakota yang terpajang menurut panitia berusia 500 hingga 700 tahun. Selain itu, terakota tersebut di temukan sekitar abad ke 14 dan 15.
“Kenapa terakota? Karena ini adalah pondasi awal mula kita menyelamatkan terakota tertua peninggalan Majapahit. Setelah itu kita akan bergerak ke arah selanjutnya, yaitu wayang, topeng dan sebagainya,” urai Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia.
Ia berharap dengan adanya museum temporary of Ubaya yang mengusung ‘Spirit of Majapahit’ bisa menjadi e-memory bagi generasi muda bangsa maupun masyarakat, untum menjaga keharmonisan dan kesatuan NKRI. “Dengan multikultural yang dimiliki Ubaya salah satunya, saya berharap Ubaya bisa menjadi batu oenhuru untuk menjaga multikuktural bangsa,” pungkasnya.
Ditemui di tempat yang sama, Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD menuturkan jika peresmian museum temporary of Ubaya sebagai bentuk dari kebijakan pemerintah tentang Pengembangan karakter pendidikan.
“Salah satu upaya yang kita lakukan adalah dengan mempelajari budaya asli bangsa Indonesia. Kita bisa belajar dari sejarah bangsa dalam pengembangan karakter ini,” sahutnya.
Prof Joniarto Parung berpesan bahwa setiap masyarakat dari berbagai kalangan harus menghargai budaya asli bangsa Indonesia.
Pihaknya menghimbau agar masyarakat juga belajar mengenai apa yang diperolehnya saat ini yang merupakan hasil dari alkulturasi berbagai budaya yang dimiliki bangsa.
“Jaman dulu bangsa kita aktif berinteraksi dengan berbagai bangsa yang ada di dunia. Kita harus terbuka, hati dan pikiran kita untuk melihat perubahan dunia dan menjalin kerjasama dengan mereka,” tandasnya.
Secara keseluruhan terdapat 774 terakota yang ada di Museum Temporary of Ubaya. Sebanyak 767 terakota asli berasal dari zaman Kerajaan Majapahit.
Sedangkan 7 terakota merupakan hasil replika. Meskipun hanya sebuah replika, namun proses pembuatannya dibuat sama persis oleh pengrajin batu bara yang disebut Linggan dengan terakota yang asli.
Selain menampilkan berbagai artefak, museum temporary of Ubaya juga mendatangkan para Linggan asal Trowulan yang disebut merupakan pusat Kerajaan Majapahit pada zaman dahulu.
Pada Museum temporary of Ubaya, para Linggan menunjukkan keahliannya sebagai pengarajin batu bara dalam mengukir logo Universitas Surabaya (Ubaya)
Adapun berbagai bentuk terakota yang pajang dalam museum temporary of Ubaya adalah kendi air, celengan babi, koin-koin, pondasi sumur, tungku, gerabah, candi, hiasan rumah dan lainnya.
“Harapan saya, museum ini kan seperti media bagi kita untuk refleksi, bagaimana sih keadaan yang terjadi saat masa lalu. Melalui ini kita bisa belajar bersama dan kemudian melestarikan sejarah yang ada. Ubaya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia sama-sama mencari jati diri kita dahulu seperti apa,” ulas Ketua Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Ubaya Aluisius Hery.
Rajut Kembali Multikultural
Kondisi Indonesia yang sedang diguncang isu multikultural secara terus menerus, dinilai beberapa kalangan mengalami penurunan dalam peradaban bangsa.
Penilaian tersebut salah satunya datang dari ketua tim arkeolog Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Christiawan. Menurut Christiawan peradaban bangsa saat ini mengalami penurunan dari berbagai aspek. Misalnya dalam kehidupan beragama, sosial masyarakat, sosial politik dan sebagainya
“Kalau kita membangun mental kita, dan merubah paradigma kita dalam menerima keadaan multikultural bangsa dan mau belajar tentang peradaban bangsa waktu itu, perubahan akan terjadi,” ungkapnya.
Di mana, lanjut dia peradaban bangsa pada masa itu sangat menjaga keseimbangan antar manusia dengan alam.
“Prinsip mengelola alam dan prinsip peradaban sangat dijunjung pada waktu itu. Konteksnya selalu dikembalikan ke alam. Bagaimana ada prosesi yang diperuntukkan oleh alam. Oleh karenanya keseimbangan antara manusia dengan alam, itu yang perlu kita tanamkan pada generasi saat ini,” imbuhnya.
Salah satu media tersebut, katanya adalah artefak. Di mana dalam sebuah artefak masyarakat bisa belajar dan memahami tentang keberagaman bangsa Indonesia pada waktu peradaban kerajaan maupun manusia purba.
Christiawan menjelaskan bahwa banyak hal yang diambil dari sebuah artefak, baik dari sisi sejarah maupun arsitektural. “Beberapa artefak justru menunjukkan harmoni pada abad itu,” tambahnya.
Sebagai arkeolog Christiawan menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia perlu belajar dari ‘Spirit Majapahit’ untuk mengembalikan multikultural yang sudah mulai hilang dalam kehidupan masyarakat.
“Kita bisa belajar dari spirit Majapahit yang menunjukkan semangat dan energi multikultural pada zaman dulu yang cukup substansi dan sederhana terutama dalam perbedaan beragama,” pungkasnya. (bhi)
Warga melihat tumpukan bata di Desa Kedung Bocok, Tarik, Sidoarjo. Foto: Antara.
Puluhan artefak dan cuilan gerabah peninggalan peradaban Kerajaan Majapahit saat ini masih disimpan secara darurat, sehingga belum bisa menjadi sarana edukasi.
Kepala Desa Kedung Bocok Mochamad Ali Ridho di Sidoarjo, mengatakan bahwa saat ini puluhan artefak dan cuilan gerabah itu disimpan di dalam salah satu ruangan balai desa setempat dan dijaga secara bergantian.
Sementara warga Desa Kedung Bocok, Sidoarjo, Jawa Timur, menginginkan adanya pembangunan museum situs Trik di desa setempat supaya bisa sebagai tempat wisata edukasi bagi pelajar di wilayah itu.
Mochamad Ali Ridho mengatakan telah ada rencana pembangunan museum tersebut, yang nantinya bisa dimanfaatkan para siswa untuk mempelajari asal mula berdirinya Kerajaan Majapahit yang berasal dari Desa Kedung Bocok.
“Rencananya pembangunan museum ini akan dibangun di sisi belakang Balai Desa, mengingat saat ini banyak ditemukan artefak dan juga cuilan gerabah penemuan awal peradaban Kerajaan Majapahit,” urainya kepada Tempo.co, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, warga Desa Kedung Bocok menemukan sebuah susunan batu bata yang diduga sebagai situs purbakala peninggalan Kerajaan Majapahit. Mochamad Ali mengatakan bahwa penemuan situs tersebut sudah berlangsung sejak sepekan lalu saat ada warga yang akan menanam ketela.
“Saat itu Paiman, salah seorang warga kami, akan menggali tanah yang akan digunakan untuk menanam ketela. Namun, saat menggali tanah tersebut tiba-tiba cangkulnya mengenai batu bata. Setelah digali, ternyata berupa batu bata yang tersusun rapi,” ucapnya.
Pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur sudah melakukan peninjauan ke lokasi penemuan situs Trik dan menyatakan kalau di tempat tersebut memang ada peradaban manusia dan awal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Penemuan peninggalan Kerajaan Majapahit itu mengundang banyak siswa dari beberapa sekolah yang ada di desa tersebut untuk melihat dari dekat lokasi penemuan situs Kerajaan Majapahit. “Mereka datang secara bergiliran dan juga berkelompok dengan temannya untuk melihat temuan itu,” ujarnya. (ist)
Buku, arsip sejarah, dokumen, maket dan foto pembangunan Gelora Bung Karno dipamerkan. Foto: Kemdikbud.go.id.
Menyambut kemeriahan perhelatan olahraga akbar Asian Games yang jatuh pada Agustus mendatang, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menggelar pameran temporer bertemakan “Dua Presiden RI Tuan Rumah Asian Games 1962-2018”.
Tidak tanggung-tanggung, museum yang berlokasi di kawasan Istana Bogor ini menghadirkan puluhan koleksi yang terdiri dari buku, arsip sejarah, dokumen, maket, foto-foto terkait pembangunan Gelora Bung Karno.
Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dalam rangka menggelorakan kemeriahan Asian Games 2018, sekaligus memperingati empat tahun berdirinya museum pada Oktober mendatang.
Museum yang dikenal sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah makin memperluas fungsinya sebagai tempat menimba ilmu ke masyarakat luas.
Oleh karena itulah, pameran temporer ini digelar agar masyarakat menjadikan museum sebagai sarana belajar yang menyenangkan.
Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, melalui pameran ini setidaknya mampu menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap Asian Games yang pernah digelar di Indonesia pada tahun 1962.
“Bahwa ini memang upaya kecil dari Kemendikbud untuk menggemakan Asian Games 2018 ini. Dan pameran ini mengingatkan kembali di masa itu orang bergotong royong mempersiapkan Asian Games,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Museum Kepresidenan RI Balai Kirti ingin terus mengedukasi para pengunjung dengan melihat langsung bagaimana proses kreatif Presiden Soekarno dan Presiden RI Joko Widodo dalam menyuguhkan sebuah karya seni yang apik di ajang olahraga bertaraf Internasional.
Pemikiran dua Presiden RI inilah yang menjadi objek pameran tersebut, tercermin dari desain-desain dan arsitektur yang dihadirkan.
Yuke Ardianti, Kurator Pameran Temporer Asian Games mengatakan, penampilan GBK saat ini sesuai arahan presiden yang dibuat lebih futuristik.
Sehingga memberi semangat baru GBK sebagai pusat stadion olahraga yang juga sebagai monumen nasional. Koleksi-koleksi proyek revitalisasi GBK pun dideskripsikan dalam bentuk gambar dan rekaman masa lalu.
Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menampilkan berbagai koleksi-koleksi foto hingga arsip sejarah. Diantaranya foto, dokumen, patung, maket hingga buku-buku yang mengulas tentang Gelora Bung Karno.
Oleh karena itu, perkaya pengetahuan sejarah dengan datang langsung ke pameran yang dilaksanakan sejak Mei hingga 31 Agustus 2018. (ist)
Inovasi bidang kesenian hingga menjadi unik, membuka potensi baru destinasi wisata budaya dan ekonomi masyarakat.
Jika selama ini kesenian reog identik dengan pakem laki-laki, tetapi dengan niatan memberdayakan perempuan yang selama ini dinilai belum berkontribusi secara total, di Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo berdiri kelompok kesenian reog perempuan bernama ‘Sardulo Nareswari’.
Fenomena tersebut menarik perhatian Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKMP-SH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Tim yang digawangi oleh Fajri Kurniararasanty, Gita Ayu Cahyaningrum, Isnaini Nur Amalina, semua mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Unair ini, ingin menguak lebih dalam tentang kesenian reog Ponorogo dari sisi yang lain, yaitu potensi perempuan.
Tim PKMP-SH yang diketuai Fajri Kurniararasanty ini menyusun dalam paparan berjudul ‘Paguyuban Sardulo Nareswari: Perempuan dalam Kesenian Reog Ponorogo Menari Diantara Dominasi dan Keberagaman’. Naskah ini berhasil lolos pendanaan dalam Program PKM Kemenristekdikti tahun 2018.
Berbicara kesenian reog, yang muncul dibenak masyarakat langsung tertuju pada Kabupaten Ponorogo. Dicatat oleh Fajri dkk, Ponorogo merupakan kota yang menyajikan suatu keunikan khas dalam seni pertunjukan. Apalagi reog menjadi salah satu warisan budaya yang telah diakui internasional dan menjadi ikon kota yang disebut ‘Bumi Reog’.
”Mengisahkan Reog Ponorogo rupanya tak pernah sepi dari pamrih oleh berbagai pihak demi kepentingan di luar kesenian itu sendiri. Dan reog berada dalam kompleksitas pertentangan di kalangan masyarakat Ponorogo,” tambah Fajri.
Seperti diketahui, pertunjukan reog disajikan dalam bentuk sendratari, suatu tarian dramatik yang tidak berdialog. Dari gerakan-gerakannya diharapkan tarian ini sudah cukup mewakili isi dan tema tarian tersebut.
Hanya, selama ini sajian reog diperankan oleh penari laki-laki kecuali tari jathilan yang dimainkan oleh perempuan.
Dalam sejarahnya, tari jathilan ini semula diperankan laki-laki yang busana perempuan. Ini merupakan penggambaran dari gemblak, laki-laki belasan tahun yang diasuh sang Warok sebagai kelangenan (kesukaannya), sebagai upaya menjaga kesaktiannya.
Namun karena sosok gemblak itu tidak sesuai dengan norma agama, Pemkab Ponorogo tahun 1985 membuat kebijakan dan mengubah tari jathilan oleh penari perempuan. Pergeseran penari jathil oleh perempuan itu bertahan hingga sekarang.
Adanya fenomena itu, Fajri dkk tertantang untuk menguak lebih jauh dari sisi kaum hawa. Selain itu tantangan budaya di masyarakat juga masih memposisikan perempuan berada dalam strata dibawah laki-laki.
”Kami ingin mengkaji kehidupan perempuan dalam dunia kesenian, sebab seni dan perempuan adalah sebuah ambivalensi yang menimbulkan dua pandangan berbeda di masyarakat. Satu sisi perempuan dianggap sebagai korban eksploitasi, disisi lain perempuan dalam seni tradisi diaggap sebagai pendobrak dominasi laki-laki,” kata Fajri melalui rilis PIH Unair.
Potensi Ekonomi & Wisata
Paguyuban seni reog perempuan ‘Sardulo Sareswari’ ini terbentuk dengan niatan untuk memberdayakan perempuan di Desa Sawoo. Menurut penuturan Heni Astuti, pendiri paguyuban reog perempuan ini karena pihaknya ingin membuat gebrakan baru dalam khasanah seni Reog Ponorogo.
Menurut Heni, nama ‘Sardulo Sareswari’ itu memiliki arti filosofis tersendiri. Sardulo berarti macan (harimau), sedang Nareswari berarti perempuan atau bidadari. Kalau selama ini pakem reog adalah laki-laki, dalam inovasi baru ini ingin ditunjukkan sisi yang berbeda dari pakem dominasinya (laki-laki), namun tetap dapat menunjukkan sisi keperempuannya.
Terbentuknya paguyuban ‘Sardulo Nareswari’ ini memberi dampak bagi perempuan Desa Sawoo dan masyarakat sekitarnya. Paguyuban ini telah beberapa kali melakukan pementasan di berbagai daerah, tidak hanya di Ponorogo, tetapi juga diluar Ponorogo.
Pementasan di luar wilayah domisilinya membuat para perempuan ini berani tampil di depan umum. Kontruksi masyarakat yang menyatakan perempuan hanya konco wingking (teman belakang) mampu dikikis dengan adanya kiprah reog perempuan ini.
Kemudian muncul pula nilai-nilai kemandirian dalam perempuan di Desa Sawoo. Ini dibuktikan dengan semakin bertambahnya perempuan berkontribusi dalam pekerjaan diluar sebagai ibu rumah tangga.
Menurut kajian Fajri dkk, keberadaan paguyuban ini jika dikembangkan lebih jauh akan dapat memberikan potensi wisata budaya baru bagi Kabupaten Ponorogo, khusunya Desa Sawoo.
Paguyuban reog perempuan ini mampu berkembang menjadi salah satu ikon baru dan identitas Ponorogo, terutama seni reog yang selama ini dipentaskan oleh laki-laki punya satu sisi unik yang dipentaskan oleh perempuan.
”Destinasi wisata budaya baru ini mampu menarik perhatian masyarakat karena memiliki sisi unik yang dikemas dalam sebuah seni pertunjukan. Terlebih lagi adanya pementasan reog perempuan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kalangan masyarakat dan meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Ponorogo,” demikian Fajri Kurniararasanty Dkk dalam kajian PKMP-SH-nya. (ist)
Gubernur Jatim di panggung bersama perwakilan seniman. Foto: Humas Pemprov Jatim.
Sebagai wujud terimakasih dan bentuk kepedulian, Gubernur Jatim Dr H Soekarwo MHum kembali memberikan apresiasi kepada 500 seniman dan budayawan Jatim berprestasi.
Pemberian apresiasi pada seniman dan budayawan berprestasi dari berbagai daerah di Jatim, dilaksanakan di Graha Wisata, Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, Selasa (5/6) pagi.
“Para budayawan dan seniman telah banyak memberikan kontribusi dalam mengembangkan seni budaya di Jatim secara luar biasa. Mereka inilah yang membuat Jatim selama hampir 10 tahun saya memimpin, menjadi tenang, aman dan nyaman,” terang Dr H Soekarwo MHum.
Menurutnya, kebudayaan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Budaya mampu membuat manusia berbeda dari makhluk yang lain, budaya mampu menghaluskan sesuatu yang kasar, serta budaya mampu membangun peradaban.
“Seorang ahli mengatakan bila suatu negara ingin makmur dan maju maka basis pembangunanya adalah kebudayaan. Maka basis pembangunan Jatim selain spiritual adalah budaya yang menghaluskan peradaban,” kata Pakde Karwo, sapaan lekatnya.
Tidak hanya itu, kebudayaan juga mampu menjadi alat penangkal atau solusi terhadap kekerasan, termasuk masalah terorisme. Masalah terorisme ini harus terus dilawan salah satunya melalui pendekatan budaya dan pendekatan hati.
“Banyak orang-orang yang merasa sepi di tempat ramai, kelihatannya banyak orang tapi mereka disingkirkan dari komunitas. Disingkirkan karena lemahnya budaya dan peradaban. Orang-orang seperti inilah yang harusnya dirangkul,” tegasnya.
Dalam kesempatan sama, Soekarwo juga menyinggung terorisme atau ekstrimisme, yang disebutnya sebagai subyektifitas sangat berlebihan menganggap orang lain sangat ekstrim.
“Disinilah ciri budaya yakni merangkul kemudian menyapa. Ada sentuhan, pundaknya ditepuk-tepuk, hatinya yang disapa. Bila ingin Jatim lebih damai maka doronglah seniman dan budayawan untuk terus berkarya,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.
Ditambahkannya, budaya juga mampu membuat perilaku menjadi egaliter. Kebudayaan pula yang membuat suasana lebih damai dan saling menghargai, dimana kritikan disampaikan lebih lunak.
“Tidak sopo siro sopo ingsun, tapi membuat orang merasa sama. Seperti nonton wayang semua orang sama-sama duduk sehingga tidak emosional,” katanya.
Di akhir sambutannya, Gubernur Jatim berpamitan karena masa jabatannya akan berakhir pada Februari 2019 mendatang.
“Saya menyampaikan maaf dan juga terimakasih kepada bapak ibu semua. Semoga Bulan Ramadhan ini membawa keberkahan untuk kita semua,” pungkasnya.
Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Dr H Jarianto MSi mengatakan, acara pemberian apresiasi ini rutin dilakukan setiap tahun, untuk membangun tali silaturahmi pemerintah dengan seniman dan budayawan, mendorong semangat dan motivasi seniman untuk terus berkarya dan melestarikan seni budaya.
Serta sebagai wujud penghargaan atas dedikasi dan loyalitas para seniman dan budayawan yang telah mengembangkan seni budaya di Jatim.
“Ini hanya salah satu acara, masih ada penghargaan-penghargaan lain yang diberikan terhadap seniman. Pak Gubernur sendiri selalu memberi apresiasi tinggi terhadap teman-teman seniman di Jatim,” katanya.
Dalam acara ini Pakde Karwo secara simbolis memberikan tali asih berupa uang pembinaan dan sembako kepada 10 orang perwakilan seniman dan budayawan berprestasi.
Kesepuluh seniman berprestasi tersebut diantaranya Dian Nova Saputra dari Trenggalek (seni tari), Martina Saraswati dari Banyuwangi (teater) dan Nihayah dari Ponorogo (reog). (ita)