Presiden RI Joko Widodo dan Puti Guntur Soekarno pada acara Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Foto: Istimewa.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak hanya minta Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno turut aktif menjaga Pancasila. Jokowi juga berpesan agar pendamping Cagub Saifullah Yusuf (Gus Ipul) itu tetap bersemangat untuk turun menyapa seluruh elemen masyarakat Jawa Timur.
Pesan itu disampaikan Jokowi saat Puti Guntur menghadiri undangan peringatan Hari Lahir Pancasila depan Gedung Pancasila Kantor Kemenlu, Jakarta, Jumat (1/6) lalu.
Di sela acara ramah tamah usai Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila itu, Puti dipanggil Jokowi untuk mendekat dan mendampinginya. Dalam kesempatan mengobrol, Jokowi dan Puti juga membahas perkembangan Pilkada Jawa Timur.
Menurut Puti, Presiden Jokowi memberi semangat kepadanya untuk maju terus, hingga garis finish. “Pak Jokowi menanyakan, bagaimana Mbak perkembangan Jawa Timur. Saya ceritakan semua perjuangan Gus Ipul dan saya, sampai hari ini,” kata Puti. Dalam Pilkada Jawa Timur 2018, Gus Ipul dan Puti Guntur merupakan pasangan calon nomor urut 2.
Presiden Jokowi pun berpesan agar Puti tetap bersemangat, dan agar jalan terus untuk menemui warga masyarakat Jawa Timur dari berbagai lapisan dan golongan. “Semangat ya Mbak. Jalan terus,” kata Jokowi dikutip Puti.
Jokowi lantas menceritakan pengalaman dirinya ketika berlaga di Pilkada DKI, tahun 2012. Ia terus bergerak, tanpa lelah, ke berbagai tempat di ibu kota. “Tidak usah tengok kanan-kiri. Terus bergerak, menemui rakyat. Insya Allah cita-citanya terkabul dalam memimpin Jawa Timur,” pesan Jokowi.
“Obrolan terus berlanjut, sampai saya diminta mengantar Presiden Jokowi hingga di pintu mobil, sebelum akhirnya meninggalkan tempat,” tambah Puti.
Dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, Puti diundang sebagai cucu Bung Karno. Putri Guntur Soekarno mendampingi Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri.
Peringatan itu juga dihadiri keluarga-keluarga BPUPKI dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Selain Puti, hadir pula cucu Bung Karno, Menko PMK Puan Maharani. Juga Meutia Hatta dan Halida Hatta putri Proklamator Bung Hatta, mantan Wakil Presiden. Ada pula keluarga A.A. Maramis dan Abdurrahman Baswedan. (ist)
Reog, kesenian tradisional asli Indonesia yang harus dilestarikan. Foto: Istimewa.
Kesenian Reog Ponorogo merupakan warisan leluhur yang sudah sepantasnya dilestarikan. Masyarakat memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan warisan kebudayaan Indonesia, khususnya kesenian Reog Ponorogo.
Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura mengadakan penelitian sekaligus pembuatan film dokumenter tentang kesenian Reog Ponorogo. Yang diteliti Sanggar Paguyuban Reog Singo Mangkujoyo tepatnya di Jl Kertajaya V, Gubeng, Surabaya, pekan lalu
Penelitian sekaligus pembuatan film dokumenter dilaksanakan oleh kelompok budaya yang terdiri atas Aditya Ramadhani Pratama, Ahmad Ali Haidir, Choirul Yahya, Mamnu’atus Syafa’ah, Vera Fadila dan Siti Mariya Ulfa. Agenda ini dilaksanakan untuk pemenuhan sosialisasi kepada anak muda melalui film yang dikemas dalam mata kuliah Sosiologi.
Penelitian berlangsung pada awal Maret dan Mei 2018 dengan agenda pembuatan film dokumenter tentang hasil penelitian kelompok budaya. Pembuatan film dokumenter dilakukan sejak pukul 09.00-15.00 di lingkungan Kertajaya V.
Seperti dilaporkan Tribunnews.com, tim pembuatan film bekerja sama dengan beberapa pihak, salah satunya adalah Sugianto, pimpinan sekaligus budayawan reog di Surabaya.
Film dokumenter dibuat atas dasar pengulasan tentang hasil penelitian yang berjudul “Peran Modal Sosial dalam Meningkatkan Strategi Bertahan Hidup Paguyuban Reog Singo Mangkujoyo di Kota Surabaya”.
Paguyuban Reog Singo Mangkujoyo merupakan paguyuban reog tertua di Surabaya. Pada 1951 paguyuban didirikan dan tahun ini paguyuban dikelola generasi ketiga.
“Sudah saatnya generasi muda melestarikan reog. Mahasiswa harus bisa menjadi pelopor dan penggerak pemuda Indonesia untuk mencintai budaya sendiri, agar reog ini tidak diklaim lagi oleh negara lain,” tutur Sugianto.
Film itu dikemas menarik untuk memperlihatkan uniknya reog. Ahmad Ali Haidir, salah satu tim peneliti mengatakan, ia akan memperlihatkan kepada mahasiswa dan anak muda di Jawa Timur agar tergerak dan mencintai reog. (sur)
Menara jam kuno di atas kantor Gubernur Jatim Jl Pahlawan Surabaya. Foto: Detikcom/Ongq Rifaldy Litualy.
Kantor Gubernur Jawa Timur di Surabaya merupakan salah satu cagar budaya yang dibangun sejak tahun 1929. Dengan kata lain gedung ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda.
Namun gedung ini tentu menyimpan banyak cerita sejarah. Menurut Kepala Bagian Aset dan Rumah Tangga Kantor Gubernur Jatim, Abdul Rozak (57), gedungnya sendiri dibangun oleh arsitek Belanda dengan mengadopsi gaya bangunan di Eropa pada masa itu.
“Jika dilihat sekilas dari depan bakal mirip kapal dari Eropa,” ungkap Abdul saat berbincang dengan detikcom, pekan lalu.
Ditambahkan Abdul, menurut sejarawan, dahulu gedung ini merupakan gedung tertinggi di Surabaya. Rupanya gedung ini memang sengaja dibangun setinggi mungkin agar dapat melihat daerah lain yang letaknya jauh.
Konon orang Belanda suka memperhatikan Pelabuhan Tanjung Perak dari atas kantor gubernur. “Iya ini dulu ceritanya kolonial Belanda itu suka naik duduk di atas sambil lihat kapal-kapal sandar di Tanjung Perak. Wah, jangan salah, dari atas gedung itu bisa lihat Pelabuhan Perak itu,” terang Abdul.
Detikcom pun berkesempatan untuk naik dan menengok bagian atas kantor gubernur. Ternyata bukan perkara mudah sebab untuk mencapai lantai menara jam, pengunjung harus menaiki tangga yang cukup curam.
Namun begitu sampai di atas, pemandangan seperti Pelabuhan Tanjung Perak dan Jembatan Nasional Suramadu dapat dilihat dengan jelas dari atas menara.
Hal menarik lainnya yang ditemukan di atas menara itu adalah ada jam kuno yang ternyata masih berfungsi hingga saat ini. Menara jam ini bukan hiasan, melainkan berperan penting, setidaknya bagi orang Belanda saat itu.
Abdul menjelaskan, menara jam itu dimanfaatkan untuk memantau atau mencatat jam berapa saja kapal-kapal masuk. Tak hanya itu, ada pula sebuah lonceng besar yang akan dinyalakan ketika kapal masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak.
Suara dentang jam kuno ini pun bisa terdengar dari kejauhan. Seperti halnya jam-jam dinding di zaman modern, jam kuno ini juga berdentang sekali di pukul satu, dan 12 kali di pukul 12. “Jam di atas kantor gubernur juga jadi patokan untuk memulai kegiatan misalnya pawai kebudayaan. Kan start pawai biasa dari sini juga,” paparnya.
Ketika ditanya tentang bagaimana merawat jam yang sudah menjadi sejarah dari gedung ini, Abdul mengaku biaya yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Sebab bila terjadi kerusakan maka dibutuhkan teknisi ahli, bahkan tak jarang mereka harus memanggil teknisi khusus dari luar Indonesia.
“Seperti rantai dan mesinnya ini loh. Ini kan mesin Ducati rantai Ducati ini,” jelas Abdul sembari menunjuk mesin penggerak jam di menara jam gedung gubernur jawa timur.
Bagi Abdul, menara jam ini bukan sekadar pengingat bahwa orang Belanda sangat disiplin jika berbicara soal waktu, tetapi lebih dari itu, keberadaan menara ini seharusnya juga mengingatkan kita bahwa waktu adalah salah satu harta yang berharga. (dtc)
Komitmen pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur nomor urut 2, Gus Ipul-Mbak Puti untuk mengangkat budaya Jawa Timur tidak perlu dipertanyakan lagi. Komitmen itu bukan hanya sekedar klaim, janji ataupun pemanis belaka.
Komitmen untuk mengangkat budaya adiluhung yang ada di Jawa Timur itu dibuktikan dalam pagelaran Rampak Barong yang digelar di Stadion Menak Sompal Kabupaten Trenggalek pada Kamis (31/5). Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya pun mencapai 2.797 Rampak Barong.
Belum lagi, ribuan penonton yang hadir memenuhi dalam tribun dan luar stadion. Mereka tumplek blek untuk menyaksikan pagelaran Rampak Barong dari berbagai daerah di Jawa Timur yang diselenggarakan Taruna Merah Putih (TMP) Jawa Timur.
Acara yang dinobatkan masuk Museum Rekor Indonesia sekaligus dikukuhkan sebagai Rekor Dunia oleh MURI itu semakin meriah karena dihadiri langsung oleh Puti Guntur Soekarno, cucu sulung Presiden pertama RI, Soekarno.
Sambutan kehadiran calon wakil gubernur Jatim nomor urut dua pun riuh menggema di dalam dan luar stadion. Termasuk para pemain pun ikut menari berlenggak-lenggok memainkan Rampak Barong dengan diiringi jingle lagu ‘Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur’.
Wasekjen DPP PDI P Ahmad Basarah, Ketua DPD PDI Jatim Kusnadi, Ketua TMP Jatim M Nur Arifin, tokoh masyarakat Trenggalek serta jajaran PDIP dan para kader hadir di acara yang menumbangkan rekor sebelumnya yang dipegang Kediri dengan 2.000 peserta.
Basarah mengajak agar masyarakat Jawa Timur memilih pemimpin yang peduli dan melestarikan budaya Indonesia. “Marilah kita mendukung cucu pertama Bung Karno, Mbak Puti Guntur Soekarno sebagai wakil gubernur Jawa Timur yang peduli dan melestarikan budaya,” ajaknya, seperti dikutip Merdeka.com.
“Jangan sampai salah memilih pemimpin. Pilihlah pemimpin yang nasionalis dan religius, dan itu ada di dalam sosok Gus Ipul dan Mbak Puti,” ungkapnya.
Piagam rekor Muri diserahkan Sri Widayati, perwakilan dari MURI kepada Ketua DPD Taruna Merah Putih Jawa Timur Mohammad Nur Arifin serta Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno.
Puti Guntur Soekarno berpesan, agar kecintaan terhadap budaya dan kesenian tradisional asli Indonesia harus tetap dijaga dan dilestarikan. Ia pun berkomitmen dengan Gus Ipul mempertahankan dan mengangkat potensi kesenian dan budaya di Jawa Timur.
“Potensi itu yang kemudian hari bisa menjadi potensi wisata. Kita harus mencintai dan melestarikan kebudayaan asli Indonesia,” ungkap dia. Selain pagelaran Rampak Barong, acara tersebut juga digelar pengajian dan aksi bagi takjil kepada 5.000 warga.
“Di sini kita sambil ngabuburit dengan menyaksikan pagelaran Rampak Barong,” kata Ketua TMP Jatim M Nur Arifin dengan berucap syukur pagelaran Rampak Barong sukses dan meriah digelar di Kabupaten Trenggalek. (ist)
Tradisi blanggur alias mercon bumbung sudah mulai menghilang. Foto: Gresikpedia.blogspot.co.id.
Banyak tradisi yang dialakukan oleh masyarakat Indonesia dari berbagai daerah saat bulan Ramadhan. Tradisi ini biasanya sudah dilakukan turun temurun. Di Jawa Timur, ada tradisi unik menjelang berbuka puasa. Namanya, Blanggur.
Blanggur seperti ditulis Kompas.com, merupakan sebuah bambu sepanjang kurang lebih 1,5 meter, bergaris tengah 15 cm , memiliki berat kira-kira 8 ons, dan diisi dengan obat peledak.
Nama Blanggur berasal dari suara yang dikeluarkan. Ketika bambu terpental ke atas sekitar 300 meter terdengar bunyi “blaang”, kemudian terdengar suara ledakan “gluur”. Akhirnya, sebutan Blanggur kental dengan tradisi tersebut.
Mercon Blanggur di Jawa Timur dibunyikan sebanyak 40 buah setiap bulan Ramadhan. Tiga buah dibunyikan pada malam pertama menjelang Ramadhan, 30 buah setiap sore selama sebulan, dan tiga buah pada malam terakhir puasa. Sisanya, pada saat selesai salat Ied.
Tradisi Blanggur disaksikan dan dihadiri pengunjung yang menunggu waktu berbuka di Alun-Alun Kota. Seiring bunyi ledakan yang mampu menembus angkasa sejauh radius sekitar 300 meter sebagai isyarat bagi semua langgar, surau, dan masjid untuk menabuh beduk sebagai pertanda masuk waktu untuk Magrib.
Tradisi ini sudah ada sejak zaman Belanda. Perkembangan Blanggur dalam perkembanganya mulai ditinggalkan. Tradisi ini semakin menghilang karena sudah ada media yang menjadi pengingat tibanya waktu buka puasa yang lebih memadai.
Selain itu, adanya imbauan dari kepala daerah dan pemuka agama bahwa blanggur berisiko, maka lama kelamaan tidak lagi dilakukan. Blanggur yang menghempas ke udara seringkali tidak dibarengi dengan ledakan. Akibatnya, ledakan terjadi ketika sudah jatuh ke tanah dan bisa menciderai warga yang melihatnya.
Selain faktor keselamatan, biaya juga menjadi pertimbangan. Saat itu, pembuatan Blanggur dinilai tak lagi murah. Penanda berbuka puasa pun beralih melalui media televisi, radio, serta beduk dan kentungan di berbagai masjid. (ist)
Sendang Made, tempat meditasi Prabu Airlangga. Foto: Gapurajombang.wordpress.com.
Keberadaan Prabu Airlangga di Kabupaten Jombang pada zaman dahulu kala bukan hanya dongeng belaka. Ternyata, sesepuh para raja di tanah Jawa itu memang pernah berdiam cukup lama di daerah yang kini berjuluk Kota Santri.
Hal itu dibuktikan dengan keberadaan Sedang Made di Desa Made, Kecamatan Kudu, Jombang. Konon sendang ini merupakan peninggalan dan tempat peristirahatan Prabu Airlangga dan para raja di tanah Jawa.
Diantara sedikit obyek wisata di Kabupaten Jombang, menikmati sumber air Sendang Made di Desa Made, Kecamatan Kudu, bisa menjadi pilihan menarik untuk menghabiskan hari libur bersama keluarga. Sebab air sendang ini tak pernah kering, kendati musim kemarau.
Jangan heran, sebab, konon menurut sejarahnya sendang ini merupakan bekas peninggalan Prabu Airlangga. Selain Sendang Made masih ada kolam lain yang berukuran lebih kecil di sekitar lokasi. Misalnya Sendang Payung, Sendang Padusan, Sendang Sinden, Sendang Omben dan Sendang Drajat.
Juru kunci Sendang Made Sumono saat ditemui FaktualNews.co beberapa waktu lalu mengatakan, kolam ini merupakan peninggalan Airlangga yang dibuat sekitar tahun 1006 Masehi. Di tempat inilah sang prabu sering melakukan meditasi bersama istrinya Dewi Sekarwati yang juga putri dari Dharmawangsa, raja di Medang.
“Memang sejarahnya di sini merupakan tempat meditasi dan mandinya Prabu Airlangga dan Putri dari Raja Dharmawangsa, saat pelarian. Ketika itu beliau di kejar pasukan Prabu Wora Wari dari Tulungagung,” ujarnya.
Beruntung, Prabu Airlangga dan permaisurinya diselamatkan Prabu Narotama, sempat ke gunung Lawu dan berakhir di sebuah kolam dengan ditemani lima orang wanita dayang-dayang. Sejak saat itu Sendang Made berfungsi sebagai tempat menyepi atau meditasi Prabu Airlangga dan istrinya, sambil dijaga banyak wanita dayang-dayang dan pasukan.
Karena itulah sejak dulu Sendang Made ini menjadi lokasi pilihan bagi para sinden. Ia mengatakan, sebelum dinobatkan menjadi sinden, para perempuan itu harus menjalani wisuda terlebih dahulu.
Mereka melakukan kunkum dan mandi dilokasi sendang. “Ya memang sejak dulu, lokasi pemandian ini lah yang dijadikan tempat untuk wisuda para sinden,” tambahnya.
Namun saat ini tradisi itu sudah mulai hilang. Sudah tidak banyak sinden yang melakukan ritual itu. Minimnya sinden dan semakin terpuruknya kesenian tradisional seperti ludruk, wayang dan lain sebagainya membuat sinden semakin jarang dijumpai. “Kalau sekarang sudah jarang dan hampir tidak ada. Terakhir kalau tidak salah tahun 2012,” tuturnya.
Kendati sudah berusia seribu tahun lebih, saat ini beberapa bangunan di sekitar Sendang Made masih terawat dengan baik. Di tempat ini juga terdapat sebuah ruangan yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan Prabu Brawijaya dan bala tentaranya pada jamannya.
Di dalam kompleks Sendang Made terdapat makam Dewi Pandansari yang konon masih ada keturunan dari Prabu Brawijaya. Makam Dewi Pandansari inilah yang menjadi tempat ziarah sejumlah orang. Pada hari-hari tertentu mereka membawa sesajen, bunga dan kemenyan untuk ditaruh ke dalam makam.
Untuk mencapai lokasi obyek wisata Sendang Made tidaklah sulit. Anda bisa menggunakan aneka jenis kendaraan darat untuk menuju ke lokasi. Saat ini akses menuju lokasi sudah lebih baik ketimbang dua tahun sebelumnya. Pemkab Jombang juga sudah mulai memperbaiki sarana dan prasarana pendukung ke lokasi tersebut.
Kini Sendang Made tak lagi sesunyi dahulu. Para wisatawan lokal sering menggunakan tempat ini untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan. (ist)
Kalpataru peninggalan Sunan Bonang yang berada di Museum Kembang Putih. Foto: SuaraBanyuurip.com/Ali Imron.
Raden Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, bukanlah sosok ulama biasa. Pada masa hidupnya, Sunan Bonang dikenal sebagai pecinta seluruh umat. Tidak hanya dari kaumnya, melain juga mereka yang berbeda keyakinan dengannya.
Sunan Bonang merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, yang dilahirkan pada tahun 1465 Masehi. Salah satu peninggalan yang tak patut lagi diragukan keabsahannya yakni keberadaan Kalpataru. Benda ini menujukan keberagaman yang diajarkan selama hidupnya.
Artefak ini menjadi bukti sejarah yang sudah pernah diuji dengan Karbon-14. Kayu berukir dengan empat cabang pohon ini terbukti dibuat pada masa kehidupan Sunan Bonang, pada rentang waktu 1445 sampai 1525. Benda tersebut kini disimpan di Museum Kambang Putih Tuban.
Secara harfiah Kalpataru berarti pohon keinginan atau pengharapan. Bisa juga Kalpataru diartikan sebagai pohon yang dapat mengabulkan segala keinginan manusia yang memujanya.
Pohon berukir ini merupakan penggambaran kerukunan umat beragama pada masa kehidupan sang wali. Islam, Hindu, Budha, dan Kristen, hidup dalam satu lingkungan damai. Tetap memiliki satu tujuan utama yang sama, yaitu menyembah dzat yang satu, Tuhan Maha Esa.
Pengunjung memadati makam waliullah yang hidup pada masa 1445-an, siang itu. Makam yang dilindungi cungkup kayu berukir itu, menjadi magnet bagi pengunjung. Tak jarang dari mereka yang berasal dari Jawa Timur bahkan luar pulau Jawa.
Sunan Bonang, begitu para peziarah mengenalnya. Salah satu dari sembilan wali Allah yang diperintah untuk menyebarkan syiar Islam di bumi Ronggolawe.
Nuansa multi kultural jelas terlihat sejak pertama kali memasuki area makam. Arsitektur yang digunakan dalam pembangunan makam, seperti halnya pembangunan pura atau tempat peribadatan agama Hindu.
Bangunan ini memiliki tiga halaman utama, dan masing-masing halaman dipisahkan gapura Paduraksa. Bangunan yang menyerupai candi ini merupakan ciri khas bangunan lama pada masa Hindu-Budha.
Sementara pada halaman kedua terletak Masjid Astana dan dipisahkan oleh gapura serupa. Bedanya, pada gapura III yang memisahkan halaman kedua dan halaman ketiga terdapat hiasan dinding berupa keramik.
Keramik yang menempel di dinding ini diperkirakan benda peninggalan jauh setelah masa Sunan Bonang, atau pada masa kependudukan Inggris di tanah di Jawa. Tidak ada catatan pasti siapa yang menempel keramik tersebut di dinding gapura III.
Pada Gapura III pun terdapat Rana yang berfungsi sebagai penghalang pandang. Bangunan semacam ini semakin mencolok mengadopsi bangunan pura.
Pada halaman terakhir, makam sang Wali Allah megah berdiri didampingi empat makam pemangku tahta Kabupaten Tuban pada masa itu. Mereka adalah Adipati Kyai Ageng Gegilang, Adipati Kyai Ageng Botoabang, Adipati Kyai Ageng Ngraseh, dan Adipati Balewod.
Selain itu, benda-benda yang ditemukan di sekitar makam, semakin menguatkan multi kultural di atas tanah yang diberkati sang Wali Allah ini.
Seperti dilaporkan Kumparan.com, Koordinator Juru Pelihara (Jupel) Badan Pelindungan Cagar Budaya (BPCB), Endang Sri Wuryani, saat dijumpai di kantornya, menjelaskan banyak benda-benda cagar budaya yang ditemukan di sekitar area makam.
Beberapa benda ditemukan di sekitar makam yang masuk dalam lindungan BPCB antara lain Rana Gapura III, Gapura III, Pendapa rante barat, Pendapa Rante Timur, Gapura II, Pendapa Barat, Pendapa Timur, dan Gapura I.
Terkait temuan lepas di komplek makam meliputi, Lapik Arca, Batu Dakon, dan dua buah Lingga tanpa pasangannya. Ketiga benda ini tentu merupakan bagian dari alat upacara.
Ada pula 20 fragmen bangunan berbeda, fragmen bangunan berelief, fragmen batu bergores kompleks, dan umpak. Terkahir ditemukan sebuah bak sebagai wadah air.
Sekian banyak artefak yang ditemukan di area makam menunjukkan betapa Sunan Bonang mau menerima perbedaan antar sesama dalam memeluk keyakinan, namun hanya Kalpataru lah satu-satunya benda yang menguatkan keberagaman yang diajarkan oleh Sunan Bonang.
Di lain sisi, bagian Bimbingan dan Edukasi Museum Kambang Putih, Rony Firman Firdaus, mengatakan, tidak semua benda yang ditemukan di sekitar area adalah peninggalan SunanBonang.
Beberapa benda yang ditemukan di area makam memang jauh sebelum ataupun sesudah masa kehidupan sang wali. Justru inilah yang memunculkan warna historis yang indah dalam keberagaman dalam ajaran beliau.
Seperti halnya Lingga-Yoni yang ditemukan di area makam. Kalau benda tersebut dianggap peninggalan Sunan Bonang tentu salah kaprah. Dalam agama Hindu, Lingga yang menyerupai alat kelamin lelaki itu merupakan perwujudan dari Dewa Siwa.
Sementara pasangannya, Yoni adalah bentuk perwujudan Dewi Pavarti atau lebih dikenal dengan sebutan Dewi Sati. “Sebagai tradisi dalam agama tersebut Lingga-Yoni digunakan sebagai tempat menaruh sesaji pada acara keagamaan,” ungkap pria yang hobi membaca buku ini.
Menurut angka tahunnya, setelah dites Karbon 14 kalpatarulah yang mendekati masa hidup beliau. Jadi bisa dipastikan peninggalan Sunan Bonang adalah pohon harapan.
Melalui keberagaman yang ditemukan di area makam Sunan Bonang, dapat dikatakan jika beliau adalah seorang ulama yang pluralis. Artinya orang yang mau menerima keberadan yang lainnya. (aim)
Petilasan Ratu Majapahit di Sooko Mojokerto. Foto: Detikcom/Enggran Eko Budianto.
Dibalik fakta sejarahnya, situs Yoni Klinterejo atau Petilasan Tribhuwana Tunggadewi menyimpan segudang misteri. Tak hanya orang biasa, kalangan pengusaha hingga pejabat di negeri ini disebut-sebut pernah berkunjung ke tempat ini.
Situs purbakala ini terletak di tengah persawahan Desa Klinterejo, Sooko, Kabupaten Mojokerto. Di dalamnya terdapat beberpa bagian terpisah.
Antara lain tempat bersemedi putri Raden Wijaya yang juga raja ke tiga Majapahit Tribhuwana Tunggadewi, petilasan Sabdo Palon dan Naya Genggong yang merupakan guru Damar Wulan, serta petilasan pendeta zaman Majapahit Maha Resi Maudoro.
Sementara bangunan utama berupa Yoni atau tempat pemujaan umat Hindu Siwa zaman Majapahit. Bangunan dari batu berbentuk persegi ini dihiasi ukiran berbentuk kepala naga bermahkota. Di sekelilingnya terdapat parit yang disebut sumber panguripan. Air yang keluar di tempat ini konon mempunyai banyak khasiat.
Juru Kunci situs Yoni Klinterejo Muhammad Zainuri mengetakan, tempat ini tak pernah sepi pengunjung. Para pengunjung datang dari berbagai daerah. Mulai dari Surabaya, Bojonegoro, Probolinggo, Pasuruan, hingga Bali dan Jakarta.
“Pengunjung menggelar ritual di sini dengan berbagai tujuan. Ada yang minta jodoh, mengharap kesembuhan, ada juga yang ingin naik pangkat. Kalangan pengusaha juga sering ke sini,” kata Zainuri kepada Detikcom di situs Yoni Klinterejo.
Tak hanya masyarakat biasa dan kalangan pebisnis, lanjut Zainuri, sejumlah pejabat juga pernah mengunjungi petilasan Ratu Tribhuwana Tunggadewi ini. Salah satunya Presiden pertama RI, Soekarno.
Menurut dia, pada masa pra kemerdekaan, sang proklamator pernah bermeditasi di petilasan Sabdo Palon, Naya Genggo, petilasan Tribhuwana Tunggadewi dan petilasan Maha Resi Maudoro.
“Selain itu Guntur Soekarno Putra, Puan Maharani (Putri Megawati) dan Pak Permadi juga pernah ke sini. Juga Gubernur Jatim Imam Utomo, Pakde Karwo (Soekarwo) sebelum jadi gubernur juga pernah ke sini. Bupati Buleleng dan Denpasar juga. Masing-masing punya tujuan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Kisah misteri
Di balik megahnya situs yang ada saat ini, kata Zainuri, peninggalan purbakala ini banyak menyimpan kisah mistis. Pengalaman itu juga pernah dia alami sendiri. Penampakan itu muncul di bawah pohon besar persis di sisi timur petilasan Sabdo Palon dan Naya Genggong.
“Saya sedang tidur di pendapa sebelah petilasan, tiba-tiba seperti ada yang membangunkan. Saya lihat ternyata sosok orang besar setinggi dua meter memakai pakaian Majapahitan, saya langsung pulang karena saat itu masih belum berani,” ungkapnya.
Penampakan berupa cahaya warna merah dan biru juga kerap dia lihat keluar dari petilasan Maha Resi Maudoro yang pernah digunakan meditasi Presiden Soekarno. Tak hanya itu, pengalaman gaib juga beberapa kali mengganggu warga sekitar situs.
Menurut dia, pada suatu malam seorang petugas pengairan Desa Klinterejo pernah melihat penampakan ular raksasak sebesar pohon kelapa. Namun, sosok ular itu tak pernah nampak kepala dan ekornya.
“Warga sekitar ada yang pernah mencuri bata situs di sisi barat petilasan Tribhuwana Tunggadewi untuk dijual. Dia langsung sakit seperti ditampar orang, mukanya penyok. Setelah bata-bata itu dikembalikan, dia bisa pulih,” terangnya. (dtc)
Sebuah pentas ludruk di Balai Budaya Surabaya. Foto: Humas Pemkot Sby.
Para anggota kelompok ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara tengah berlatih di tobong di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, dua pekan lalu. Kelompok ini merupakan satu dari sedikit kelompok ludruk di Surabaya yang masih rutin pentas.
Membahas nasib ludruk maupun kesenian lainnya di Surabaya tidak akan ada titik akhirnya. Rasanya sulit untuk menyatukan titik pandang, karena antara seniman dan budayawan yang terlibat memiliki sudut pandang yang berbeda.
Tapi dalam menyikapi perbedaan ini ada satu kepentingan yang sama, yakni keinginan untuk melestarikan budaya tersebut.
Esthi Susanti Hudiono bersama sejumlah rekannya seperti Sabrot Malioboro, Desembe Sagita dan banyak seniman lainnya menggagas Forum Budaya Surabaya pada September 2017 lalu.
Salah satu gagasan dari forum ini muncul harapan untuk kembali mengangkat kesenian ludruk, terutama yang ada di Surabaya, menjadi sebuah seni yang memiliki kekhasan dan ciri tersendiri.
Menurut Esthi kesenian ludruk adalah kesenian rakyat yang memiliki nilai nasionalisme. “Ludruk adalah kesenian rakyat warisan budaya nonbendawi,” katanya, seperti dikutip Tribunnews.com.
Di Surabaya seni ludruk ini dipentaskan sebagai bagian dari bentuk perlawanan melawan penjajah. Banyak budaya arek Suroboyo yang yang diwujudkan dalam seni ludruk. Tengok saja parikan yang disampaikan Cak Durasim, saat penjajahan Jepang. Ludruk juga dianggap sebagai salah satu alat pemersatu antarkampung.
Saat pentas ludruk, hampir banyak warga dari kampung-kampung yang datang menyaksikan dan ludruk adalah seni yang mudah diterima di berbagai kalangan di masyarakat. Cerita yang disampaikan juga membawa misi, misalnya perjuangan seorang wanita, orang miskin, seniman.
Bahkan mengenai ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat. “Dari ludruk itu bisa membangun perdamaian dan keadilan sosial,” tukasnya.
Sebagai tempat perjuangan wanita, kata Esthi, bagaimana dalam sebuah ludruk seorang wanita bisa tampil di atas panggung memerankan seorang ibu ada sebuah kebahagiaan tersendiri saat itu. Karena saat itu wanita tidak banyak tampil di depan publik.
Dari gagasan forum ini, mereka yang terlibat di dalamnya bertekad akan mengupayakan agar seniman ini sejahtera dalam kondisi saat ini. Karena seniman adalah juga agen perubahan.
Untuk mengangkat kembali seni ludruk, Forum Budaya Surabaya sudah mengagendakan secara berkala grup ludruk di Surabaya untuk tampil.
“Nanti ada delapan grup ludruk yang siap tampil, sebagai bapak asuh dari semua grup adalah Ludruk Luntas dan Irama Budaya” jelas Esthi. Dalam waktu dekat akan jalan dulu empat grup hingga Agustus 2019. Selanjutnya secara bergantian grup lainnya.
Upaya para seniman ludruk untuk terus tampil di panggung bukan tanpa pengorbanan. Dulu, mereka bisa mendapat sejumput rupiah dari pertunjukan yang digelar. Tapi beberapa tahun belakangan, mereka harus bertahan dengan cara masing-masing. Dengan usaha sendiri-sendiri.
“Gambaran dulu, mereka dapat uang katakanlah Rp 100 dari pertunjukan. Tapi harga beras bisa sepersepuluhnya. Artinya mereka bisa membawa pulang salary dari malam itu. Kalau kemarin-kemarin? Buat naik bemo saja susah,” ungkap Meimura, Sekretaris Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara.
Namun sejak tahun ini, kelompok ludruk itu mendapat dana dari pemerintah kota. Nilainya Rp 250 juta untuk 50 kali pertunjukan dalam setahun. Artinya, kelompok itu mendapat Rp 5 juta sekali pertunjukan.
Nilai yang tak besar tapi lumayan untuk menambah hasil penjualan tiket. “Setidaknya cukup untuk transport pemain,” tambahnya.
Sebelum adanya dana ini, para seniman harus banting tulang untuk berkesenian. Mereka mencari pendapatan dari ladang lain. Menurut Mei, tak sedikit pula yang rela keluar uang supaya pertunjukan rutin tetap berjalan.
Dari kerja keras itu, Irama Budaya masih bertahan hingga kini. Jumlah anggotanya pun tak sedikit: sekitar 70 orang. “Ada suatu militansi dari teman-teman untuk eksistensi ludruk. Boleh dibilang, ini spirit. Ludruk itu spirit hidup,” pungkasnya.
Peran pemerintah
Para seniman ludruk beranggapan perlu peran pemerintah untuk menghidupkan ludruk sebagai kesenian khas Jawa Timur. Selama ini, para seniman sudah mencoba untuk mengangkat pamor ludruk. Tapi hasilnya dirasa belum signifikan.
Menghidupkan pamor ludruk bukan hanya mengenalkan ulang ludruk ke khalayak. Tapi juga mengajak generasi muda untuk mencintai dan mau melestarikan kesenian tersebut. Bagi para seniman, ini tantangan yang terus dihadapi ke depan.
“Sampai detik ini, saya masih bermain di panggung ludruk. Usia saya sudah 56 tahun. Dan saya masih menjadi pemeran sentral (di beberapa pentas). Bagi saya pribadi, saya sadar saya sudah waktunya bukan menjadi tokoh sentral lagi,” kata Hengki Kusuma, pemain ludruk di Surabaya.
Hengki kadang sempat terpikir, masih ada atau tidak generasi muda yang berniat untuk melestarikan kesenian itu. Pasalnya, sepengetahuan dia, anak muda sering memilih-milih jika ingin menonton ludruk. Terutama memilih lakon yang dipentaskan.
“Anak muda yang datang ke sini kebanyakan yang punya kepentingan. Bukan anak muda yang penggemar atau mencintai kesenian tradisional,” kata dia, ditemui di tobong Irama Budaya Sinar Nusantara, Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.
Para seniman ludruk mengaku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghidupkan kesenian tersebut. Hengki menyebut, perjuangan tersebut sudah berdarah-darah. Maka, ia menyebut, peran pemerintah penting untuk membantu para seniman mendorong anak muda menggemari ludruk.
Pemerintah, baik Kota Surabaya maupun Provinsi Jawa Timur, menurut Hengki, dapat berperan mempromosikan secara maksimal setiap kegiatan ludruk digelar.
“Tentu butuh pembinaan ekstra. Saya sering terlibat diskusi dengan pemerintahan. Tapi cara yang mereka lakukan belum maksimal,” ungkap Hengki. Bila pemerintah mau berperan maksimal, ia yakin ludruk masih punya kesempatan untuk kembali besar.
Sabil Lukito (51), pemain ludruk lain menjelaskan, sudah banyak usaha yang seniman lakukan untuk regenerasi. Ia memberi contoh, pembinaan anak-anak hingga remaja untuk berlatih di tabong Irama Budaya Sinar Nusantara di THR. Ia bilang, ada sekitar 15 anak yang bergabung.
“Ada jadwalnya. Seminggu dua kali untuk latihan anak-anak. Jumat dan Minggu. Kalau latihan untuk dewasa, di hari Jumat. Saya ikut juga melatih anak-anak bersama teman-teman yang lain,” katanya.
Untuk anak-anak, lakon ludruk yang dikenalkan dan diajarkan berbeda dengan untuk dewasa. Sabil bilang, lakon yang diangkat untuk mereka meliputi cerita kerajaan burung-burung dan kisah-kisah yang berbau lingkungan.
“Sehingga anak-anak tidak dipaksa untuk berpikir dewasa. Tentunya juga untuk menarik agar anak-anak lainnya mau datang untuk melihat pentas,” ungkapnya.
Pemberian pemahaman bahwa ludruk adalah budaya milik warga Jawa Timur juga harus ditanamkan. Sementara ha-hal yang bersifat teknis bisa menyusul belakangan.
Menurut dia, pemahaman seperti itu lebih mampu memompa semangat. Meski begitu, upaya mengajak anak-anak belajar mengenai ludruk tak bisa dilepaskan dengan kesadaran orangtuanya. Maka pendekatan terbaik, menurut Sabil, adalah lewat orang tua.
“Kalau kita tes dari apa yang sudah kita lakukan, antusiasmennya lumayan. Desember tahun lalu kita pernah mencoba menggelar pentas ludruk untuk anak-anak di Balai Budaya. Dan full 700 anak-anak yang nonton,” kisahnya. (ist)
Kawasan makam Sunan Giri, terkait perkembangan Islam di Malang. Foto: Republika.co.id.
Di antara kota dan kabupaten di Jawa Timur, Malang Raya disebut sebagai salah satu pedalaman mengingat letak geografisnya. Kawasan ini dikelilingi beberapa gunung, seperti Semeru, Bromo, Arjuno, Kawi dan sebagainya. Karena faktor ini, Malang Raya terkenal lebih lamban penyebaran Islamnya dibandingkan daerah-daerah pesisir.
Seperti diketahui, Islam masuk ke Nusantara melalui para pedagang dari wilayah Timur Tengah. Perkembangan yang paling cepat terjadi berada di kawasan pesisir terutama di Pantura.
“Tapi, kalau pantai paling selatan agak akhir sebarannya karena pendaratan para pedagang lebih sering terjadi di pesisir utara,” kata sejarawan dari Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono saat ditemui wartawan Republika.co.id di kediamannya di Malang.
Sementara ihwal penyebaran Islam di Malang Raya, Dwi mengaku, datanya lebih pada tradisi lisan. Sejauh ini, para sejarawan Malang Raya masih belum mampu mendapati data tekstual terkait perkembangan awal Islam di Malang Raya.
Jikalau merujuk pada tradisi lisan, islamisasi di Malang Raya berpusat pada tokoh Gribig atau Gidibig. Adapula yang berpusat pada kerajaan otonom yang sempat berkembang di Malang Raya, Sengguruh atau Tanjung Sengguruh.
“Dan tradisi lisan ini sudah dihimpun dalam literatur yang ditulis oleh Piguet sekitar 1960-an. Piguet memuat berbagai tradisi lisan yang ada di Jawa termasuk di Malang Raya berkenaan tentang Gribig dan Sengguruh,” ujarnya.
Menurut Dwi, tokoh Gribig di sini bukan Ki Ageng Gribig yang dikenal masyarakat Malang saat ini. Tokoh ini lebih dulu muncul meski memiliki nama sama dengan Ki Ageng Gribig. Oleh sebab itu, dia membedakan keduanya dengan sebutan Gribig senior dan junior.
Tokoh Gribig, memiliki peranan penting dalam menyebarkan Islam terutama di Malang bagian Timur. Berdasarkan legenda di masyarakat, tokoh Gribig merupakan murid dari Syekh Manganti. Syekh Manganti dikenal sebagai tokoh Muslim yang berada di Surabaya bagian selatan.
“Dan berdasarkan sumber tradisi yang berkembang di daerah Surabaya dan Gresik, itu masih ada makam kuno beliau. Beliau merupakan paman dari Giri,” ujarnya.
Dwi berpendapat, masa hidup Syekh Manganti belum tentu di masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo. Giri di sini bisa jadi keturunan Walisongo Sunan Giri atau Sunan Prapen. Sebab di era tersebut, Giri bukan lagi pesantren, tapi pusat pemerintahan berkekuatan politik dengan latar keislaman.
Dia menilai, tokoh Syekh Manganti di sini dapat dipastikan hidup setelah masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo. Lalu apa hubungannya Manganti dengan Gribig?
“Gribig itu muridnya yang ditempatkan di Malang dengan mengambil posisi yang sekarang di Kota Malang bagian timur. Dan untuk apa di Malang?” tegas Dwi.
Penempatan Gribig di Malang memiliki dua tujuan. Pertama, untuk mengislamkan daerah pedalaman seperti Malang Raya. Jika legenda ini benar, maka dapat dipastikan asal muasal keislaman di Malang berasal dari Surabaya – Gresik.
Kemudian tujuan penempatan Gribig berikutnya lebih pada masalah politik. Gribig ditugaskan untuk mengontrol Kerajaan Sengguruh yang saat itu masih beragama Hindu. Keberadaan Sengguruh termasuk luar biasa mengingat beberapa tempat di Jatim sudah diislamkan, termasuk Majapahit.
Kerajaan Sengguruh telah berkembang sebelum Majapahit mengalami keruntuhan. Kerajaan otonom ini hadir di masa yang sama dengan Majapahit era Girindrawardhana Wangsa. Dengan kata lain, kerajaan Sengguruh muncul di akhir abad 15 dengan status otonom.
“Statusnya kerajaan otonom walaupun Raja Pramana memiliki kekerabatan dengan raja terakhir Majapahit di Kediri, Patih Udara,” tambah dia.
Dengan kemampuannya, Raja Pramana mampu mengembangkan Sengguruh tanpa harus meminta persetujuan dari Majapahit. Sengguruh berhasil menjadi kerajaan kuat meski berada di lokasi terpencil. Lokasinya, berada di Malang selatan atau saat ini disebut sebagai wilayah Kepanjen di Kabupaten Malang.
Menurut Dwi, Kerajaan Sengguruh tepat berada di pertemuan antara Sungai Brantas dan Kali Metro. Ditambah lagi, lokasinya dikelilingi bukit-bukit kecil sehingga tampak terisolasi. Karena letak ini, Kerajaan Sengguruh tidak mudah ditaklukkan oleh lawan.
Bukan hanya sulit ditaklukkan, Kerajaan Sengguruh juga disebut kuat karena sempat menduduki kesultanan Giri.
“Cuma beberapa lama dan baru berakhir sekitar 1530-an. Ini berakhir karena Pasuruan yang merupakan jalur antara Malang dengan Gresik berhasil dipotong Kerajaan Demak. Karena Pasuruan ditaklukan Kerajaan Demak, pendudukan Giri pun ditarik,” tegasnya.
Dibandingkan kerajaan lainnya di Jatim, Sengguruh disebut sebagai wilayah terakhir yang berhasil ditaklukkan Demak. Pusat Majapahit di Kediri berhasil dikuasai Demak sekitar 1517 sedangkan Pasuruan pada 1530-an.
Sementara Kerajaan Sengguruh berhasil dikuasai sekitar 1545. “Ini petunjuk bahwa kerajaan Sengguruh cukup kuat,” kata dia.
Dari hal ini, Dwi berpendapat, ekspansi Demak ke Sengguruh jelas membutuhkan tim intelijen untuk mengawasi apa yang terjadi di Malang Selatan.
Tokoh Gribig bukan semata-mata menyiarkan Islam tapi juga memiliki maksud politis di dalamnya. Dia diminta Kerajaan Demak yang bekerjasama dengan Giri untuk mengawasi Sengguruh. “Bantuan untuk Demak karena sesama penguasa Islam dan balas dendam juga dari Giri saat penaklukan dulu,” tambah dia.
Dengan adanya penaklukan ini, Sengguruh sudah mulai memasuki babak awal perkembangan Islam. Seluruh kerajaan yang di bawah kekuasan Demak berubah dengan latar Islam termasuk Sengguruh. Dari sini, Ki Ageng Sengguruh menjadi penguasa Islam pertama setelah Raden Pramana.
Di antara berbagai area Malang, Dwi mengungkapkan, bagian barat yang paling terakhir perkembangan Islamnya. Islam berkembang di sana baru terjadi abad 17, itu berarti satu abad berikutnya setelah penaklukan Kerajaan Sengguruh. “Wilayah ini memang lebih pedalaman lagi,” ujar Dwi.
Islamisasi di Malang barat tak lepas dari sosok Raden Trunojoyo yang membangun benteng di Ngantang, Kabupaten Malang. Bersama tokoh handal militer dari Kerajaan Gowa, Karaeng Galesong, mereka bersama-sama melawan Belanda dan Kesultanan Mataram. Dengan mendirikan benteng di atas bukit tinggi Ngantang, mereka dapat memonitor pergerakan lawan dari atas.
Namun sayangnya pada 1679, pertahanan Trunojoyo berhasil dikalahkan Belanda dan Kesultanan Mataram. Trunojoyo ditangkap dan dibunuh oleh Sultan Mataram sekitar 1680.
Sementara Karaeng Galesong mengalami sakit, entah sejak setelah atau sebelum perang terjadi. “Dan tokoh yang terkenal di Gowa ini makamnya ada di pedalaman Malang, Ngantang,” ujarnya.
Setelah digempur Belanda dan Kesultanan Mataram, para laskar Trunojoyo berpencar mencari perlindungan. Hampir sebagian besar termasuk tokoh pentingnya lari ke berbagai desa di Malang barat, termasuk ke Ngantang, Pujon dan beberapa wilayah di Kota Batu.
Penguatan ajaran Islam semakin besar ketika eks laskar Untung Suropati dan Pangeran Diponegoro lari ke Malang Raya. Sekitar 1750-an, mereka memasuki Malang dan memberikan dampak yang kuat pada pemahaman Islam warga setempat. Hal ini lebih tepatnya terjadi di Malang tengah dan selatan.
Seiring perkembangan waktu, Islam pun terus berkembang di Malang Raya. Namun sayangnya, Islam di Jawa lebih kental dengan pengaruh budaya Jawa atau Islam Kejawen. “Itu wajar karena ajarannya dibawa oleh para eks laskar tersebut,” tambah dia.
Gerakan memurnikan Islam di Malang Raya lebih mendapatkan pengaruh dari Bangil dibandingkan Ampel karena kedekatan wilayah. Kemudian semakin kuat saat terjadinya gelombang migrasi besar-besaran dari Yaman ke Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Malang sekitar 1850-
an. Hal ini terlihat jelas dengan adanya kampung Arab di beberapa titik di Malang, seperti di sekitar Masjid Jamik atau Alun-alun Kota Malang. “Dan di sana terlihat warna Islamnya agak berbeda,” tegasnya. (ist)