Napak Tilas, Puti Ingatkan Pesan Bung Karno

foto
Puti Guntur Soekarno saat mengunjungi kawasan Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Foto: Istimewa.

Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Puti Guntur Soekarno napak tilas di Mojokerto. Cucu Soekarno ini mengingatkan supaya generasi muda tidak lupa terhadap sejarah-sejarah yang ada di Indonesia.

“Saya selalu ingat kata-kata Bung Karno, Jas Merah ‘jangan sekali-kali meninggalkan sejarah’. Itulah pesan beliau,” kata Puti dalam kunjungannya ke Mojokerto bersama rombongan, Minggu (27/5).

Puti menuturkan, dalam kunjungan ke Mojokerto memilik kesempatan untuk jalan-jalan melihat situs-situs Majapahit. Hal ini dilakukan sembari menunggu buka puasa yang dilakukan di Mojokerto.

Bagi Puti, Mojokerto memiliki nilai historis yang sangat luar biasa menuju berdirinya Indonesia. Negara Indonesia, ujar Puti merupakan negara yang unik dengan berbagai suku, etnis, bahasa yang merupakan tarikan kesejarahan yang tidak bisa dilupakan dahulu kala.

Nusantara Majapahit telah menancapkan dasar negara dengan adanya ‘sumpah amukti palapa’ yang diucapkan Gajah Mada. Sebuah sumpah kesetiaan yang dimiliki Gajah Mada untuk kerajaan Majapahit kala itu.

Dari sebuah sejarah itu, Bung Karno menarik ke dalam sebuah negara ke dalam Negara Indonesia. Keberadaan simbol-simbol Indonesia dan nilai-nlai yang terkandung didalam Pancasila sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, Majapahit.

Dimana nilai-nilai sudah tertuang dan tertulis didalam kitab ‘negarakertagama’. “Masa lalu merupakan kaca benggala masa depan. Indonesia mempunyai peradaban tinggi, buktinya Majapahit,” ujar Puti.

Majapahit, lanjut dia, merupakan negara maritim yang menguasai wilayah kelautan. Fakta ini kembali akan diwujudkan dengan menghidupkan Negara Indonesia sebagai negara Maritim. Kemaritiman ini nantinya akan membuat Indonesia semakin jaya, dan disegani negara-negara lain.

Indonesia ungkap Puti bak negara terpendam, ketika dipoles dengan baik maka negara ini akan bergeliat menjadi negara besar. Karena sejarah membuktikan bagaimana Majapahit mampu menjadi kerajaan besar yang sudah menguasai nusantara. “Seni dan budaya Indonesia juga sangat luar biasa. Tinggal bagaimana kita mempertahankan dan melestarikan seni dan budaya itu,” tuturnya.

Untuk itu, sebagai bentuk tanggung jawab bersama, para seniman dan tokoh budaya harus berupaya untuk terus melestarikan kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Karena seni dan kebudayaan merupakan warisan leluhur yang harus dipertahankan hingga penghabisan.

“Maka adalah tanggung jawab kewajiban kita semua para tokoh, seniman dalam menjaga seni budaya lokal dan kearifan. Ini pencerminan trisakti Bung Karno ke dalam tiga pembangunan karakter yang didasari kebudayaan Bangsa Indonesia,” ucap Puti. (arf)

Bondowoso Punya Musik Tradisional ‘Tong-Tong’

foto
Grup musik ‘Tong-Tong’ asal Bondowoso saat pentas di TMII Jakarta. Foto: Galamedianews.com/Eddie Karsito.

Apa sebenarnya yang menjadi sense (rasa) dari dinamika musik? Setidaknya banyak aspek bernilai estetis dari musik. Mulai dari kontur (naik turun melodi), timbre (warna suara), reverberasi (akustik ruang), irama, hingga style (gaya), dan sebagainya.

Ada hal menarik dari musik ‘Tong-Tong’ yang dipergelarkan di acara Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), beberapa waktu lalu.

Grup musik ‘Tong-Tong’ ini hadir memperkuat pertunjukan seni drama tari bertajuk ‘Legenda Gunung Putri’ dan tarian ‘Molong Kopi,’ yang dipersembahkan kelompok duta seni dari Bondowoso, Jawa Timur. ‘Tong-Tong’ tampil inspiratif dan berhasil memadukan harmoni sekaligus menguatkan tematika cerita yang dibawakan.

Musik ‘Tong-Tong’ sebenarnya tak beda dengan musik ‘Patrol’, yang juga berkembang di sejumlah daerah di Jawa Timur. Seperti Jember, Banyuwangi, Jombang dan kota-kota lainnya.

Namun kelompok seniman dari Bondowoso ini, tidak menyebut olah keseniannya sebagai musik ‘Patrol’. “Kalau Patrol sudah identik dengan daerah lain, seperti Jember. Kami ingin Bondowoso juga punya musik tradisional yang khas, yaitu ‘Tong-Tong,” ujar Endah Listyorini SSn, sutradara pertunjukan ini sekaligus wakil seniman dari Kabupaten Bondowoso, seperti dikutip Galamedianews.com.

Musik ‘Tong-Tong’ menggunakan alat musik sederhana berupa kentongan. Terbuat dari kayu dan bambu dengan berbagai skala ukuran, yang menimbulkan beragam bunyi-bunyian. Semua jenis kentongan ini dikolaborasikan menjadi satu sajian suara yang indah dan enak didengar.

Keindahan musik ‘Tong-Tong’ Bondowoso, menciptakan berbagai sensasi nada. Membawa penikmatnya seakan-akan menyatu dengan alam. Musik ini memiliki nilai-nilai filosofis ke-alam-an dalam setiap dentuman bunyinya. Memberi ruang penyadaran, bahwa manusia dan alam adalah satu dan bersifat mutualisme.

“Keduanya memiliki kesamaan yang padu. Hubungan manusia dengan alam harus seimbang. Artinya, manusia tidak boleh merusak alam jika tidak ingin dirusak oleh alam,” kata Ryan, penata musik pertunjukan ini.

Seni drama tari ‘Legenda Gunung Putri’ mengisahkan cerita rakyat dari daerah Bondowoso. Sebagian masyarakat meyakini tentang adanya seorang putri yang bertapa di sebuah gunung tertelak di Desa Pelinggihan Wringin. Dalam pertapaannya, sang putri akhirnya tertidur selamanya. Sejak itu hingga kini gunung tersebut diberi nama ‘Gunung Putri.’

Cerita lakon ini ditulis Junaidi, dan disutradarai sekaligus penata tari, Endah Listyorini SSn. Musik digarap Ryan dan Kelompok Musik Tong-Tong. Kemudian tata panggung dan property dipercayakan kepada Em Syahri dan Emi Puji Astuti.

Di kabupaten Bondowoso ada belasan situs Megalitik, antara lain; Dolmen (batu sesaji), Punden berundak (tempat pemujaan), Sarkofagus (penyimpan jenazah/kubur batu), batu Menhir, batu Kenong, Pelinggih dan Stunchambers (batu ruang).

Ada juga Goa Buto, Ekopak, Abris Sous Roche (goa ceruk batu karang), dan kekayaan alam lain, yang merupakan potensi destinasi pariwisata Bondowoso. Kekayaan alam ini juga dipresentasikan dan menjadi bagian dari pertunjukan yang mereka tampilkan melalui empat pelawak pemain ‘Kentrung.’ (ist)

Peduli Pemajuan Kebudayaan di OMJ Blitar

foto
Acara Obralan Malam Jemuah di Dewan Kesenian Kabupaten Blitar. Foto: Istimewa.

Pasca terbitnya UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, hampir bisa dipastikan perspektif pembangunan kebudayaan di Indonesia akan makin berkembang.

Untuk mempersiapkannya butuh ekosistem kebudayaan yang melibatkan berbagai sektor masyarakat untuk membahas bagaimana peradaban masyarakat dapat terbangun secara terintegrasi.

Dewan Kesenian Kabupaten Blitar menginisiasi program baru dengan tajuk OMJ (Obrolan Malam Jemuah). Program tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem kebudayaan yang mampu mempertemukan lintas sektor dan lintas generasi.

Ketua Acara OMJ Rahmanto Adi menyatakan OMJ hadir dalam menjawab problem kenapa Kebudayaan di Kabupaten Blitar sulit berkembang. Ada Ritual Jamasan Gong Kyai Pradah, Reyog Bulkiyo, Larung Sesaji Desa Tambakrejo, dan masih banyak kebudayaan di Kabupaten Blitar yang hanya sekedar menjadi destinasi.

“Belum lagi problem lintas generasi, dimana anak-anak muda saat ini belum peduli dengan hadirnya kebudayaan sebagai bagian dari proses pembangunan. Semacam ada keterputusan antara generasi pewaris dengan generasi yang akan mewarisi kebudayaan tersebut. Untuk itulah OMJ hadir dengan format diskusi setiap satu bulan sekali di Sekretariat Dewan Kesenian Kabupaten Blitar ini,” kata Rahmanto Adi.

Dalam launching OMJ, hadir sebagai pemantik diskusi, Rangga Bisma Aditya, Direktur PKBM Tunas Pratama. Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJ) 2014-2016 ini memaparkan materi ‘Mau Kemana Kebudayaan Kita?’.

Dalam materinya, Rangga memaparkan tentang problem utama tantangan perubahan kebudayaan global yang memang mengerucutkan kepada kebutuhan terhadap Pokok Pemikiran Kebudayaan Derah di Kabupaten Blitar. “Salah satu amanah UU dalam memajukan kebudayaan daerah adalah dengan merumuskan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah (PPKD),” tutur Rangga.

Kedepan menurut Rangga, PPKD inilah yang dijadikan acuan dalam merumuskan Strategi Kebudayaan Nasional dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, objek kebudayaan serta membina SDM Kebudayaan. “Nantinya Strategi Kebudayaan Nasional dapat menciptakan ekosistem kebudayaan seperti di Korea Selatan dengan Korean Wave atau Amerika Serikat dengan Industri Budaya Pop-nya,” tegasnya.

Lebih lanjut Rangga menjelaskan bahwa Pemkab Blitar harus membentuk Tim Perumus PPKD, dimana tim tersebut harus melibatkan akademisi, budayawan, seniman, dewan kesenian, perwakilan komunitas dan organisasi seni budaya, pemangku adat, serta orang yang kompeten dalam kajian pemajuan kebudayaan.

“Karena hanya dengan hal tersebut, tantangan pembangunan kebudayaan di Kabupaten Blitar Dapat diwujudkan dengan beberapa gagasan seperti pembentukan desa budaya, perumusan teknis implementasi kurikulum berbasis kebudayaan masyarakat, hingga pembaharuan tampilan kebudayaan melalui paradigma millennial,” papar Rangga.

Acara yang digelar, Kamis (24/05) malam itu juga dihadiri Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Blitar Hartono, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar Wima Brahmantya, Ketua Umum ASIDEWI Andi Yuwono, serta beberapa komunitas lintas sektor.

Seperti D’Traveller, ICB Korwil Kanigoro, BPK OI Kabupaten Blitar, Komunitas Beatbox, Komunitas Pelestari Candi Mleri, Sanggar Teater Waseso Nugroho, dan UKM Teater Unisba Tali Usil.

Mayoritas para peserta mengapresiasi acara tersebut dan diharapkan dengan perumusan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah akan mengurai problem utama kebudayaan kabupaten blitar seperti keterputusan antar generasi dapat menjadikan kebudayaan sebagai Way Of Life di lingkungan masyarakat. (ist)

Darah Seni Bung Karno, Puti Ketagihan Melukis

foto
Puti menyaksikan lukisan dirinya pada sebuah pameran lukisan di Surabaya. Foto: Istimewa.

Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Puti Guntur Soekarno mewarisi darah sang kakek, Soekarno sebagai seniman. Puti ketagihan untuk melukis didepan seniman-seniman lukis Jawa Timur.

Keahlian Puti dalam melukis terlihat dalam pameran dan lelang lukisan Perjuangan Jawa Timur pada event di Hotel Bumi Surabaya. Puti sangat menikmati menuangkan ide melalui lukisan diatas kanvas putih yang telah disediakan.

Pelan tapi pasti, goresan tinta diatas kanvas terus melaju, hingga jadilah lukisan yang menarik. Hasil lukisan Puti langsung mendapatkan sambutan hangat dari seniman Jawa Timur, mereka terkagum-kagum dan tidak menyangka bisa melihat ketrampilan Puti dalam melukis.

“Kami ingin Mbak Puti kembali melukis untuk menunjukan keahliannya,” kata Heri Purwanto, Koordinator Relawan Bakti Puti Jawa Timur, seperti dikutip Merdeka.com.

Heri mengatakan, relawan Bakti Puti melihat, Puti merupakan sosok mutitalenta dalam kesenian. Cucu Bung Karno itu akan melukis, menari, bermain musik dan menyanyi.

Acara bertajuk kesenian ini akan dilakukan dalam sebuah acara bernama ‘Gelar Ragam Ekspresi Seni’ di Pendopo Agung Trowulan Mojokerto, Sabtu (26/5) mulai pukul 14.30 WIB.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Relawan Bakti Puti Jawa Timur ini melibatkan seniman dari kota Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang.

Mereka akan melukis bersama, menyajikan karya tari dan juga pertunjukan musik, semua acara nantinya akan melibatkan sosok Puti.

“Kita bukan kampanye, karena Mbak Puti pada dasarnya memang seniman multitalenta, kami hanya mempertemukan Mbak Puti dengan komunitas seniman agar dia dapat berinteraksi dengan bahasa seni-budaya,” jelas Heri.

Untuk itu, Heri meminta supaya masyarakat yang ingin melihat kemampuan Puti dalam hal kesenian tidak diperkenankan memakai atribut partai. Hal ini bertujuan untuk menjaga marwah acara seni budaya.

Dalam acara nanti, Sutradara acara dipercayakan kepada Nugrah Wijaya alumni ISK Jogjakarta, penata tari Triyas Kustanto, musik oleh Pathak Warak Kustik, dan sebanyak 45 pelukis akan melukis on the spot.

“Selain semua atraksi kesenian itu, Mbak Puti juga akan menyampaikan pokok-pokok pikirannya mengenai seni budaya dalam sebuah orasi budaya, dan diakhiri dengan berbuka bersama,” ujarnya.

Bukan hanya itu, untuk menunjukkan komitmennya yang kongkrit dalam seni budaya, Puti juga akan memberikan apresiasi kepada sejumlah seniman dan pelestari seni tradisi. Hal ini semakin mengokohkan kalau Puti benar-benar mewarisi darah Soekarno sebagai sosok yang memakai kebudayaan untuk pendekatan politik.

Pendamping Gus Ipul ini meyakini kalau kebudayaan mampu menyatukan orang-orang dengan caranya sendiri.

“Bicara seni lukis, terus terang saya bukan kolektor. Tapi saya tahu dan selalu melihat koleksi lukisan dari kakek saya (Bung Karno) yang ada di istana di Indonesia. Dari cerita ayah saya bahwa memang Bung Karno sering mengundang seniman makan pagi di istana untuk berdiskusi,” kata Puti. (ist)

Jejak Jepang di Makam Keramat di Bangkalan

foto
Komplek makam keramat Syeh Magribi di Bangkalan Madura. Foto: Liputan6.com/Musthofa Aldo.

Salah satu makam keramat di Kabupaten Bangkalan adalah makam Raden Jakandar. Letaknya di Desa Ujung Piring, sekitar 2 kilometer setelah Pasarean Syaikhona Cholil di Desa Martajesah.

Raden Jakandar dijuluki “Syekh Magribi’. Menurut Rofiqi, pemuda setempat, dijuluki begitu karena konon tiap waktu Magrib tiba, pusaranya memancarkan cahaya.

Fauzi, seorang peziarah yang ditemui Liputan6.com usai berdoa, menuturkan konon makam syekh Magribi ditemukan orang buta. Lewat mata batinnya, orang tua buta itu kerap melihat cahaya di pesisir pantai Desa Ujung Piring.

Setelah ditengok oleh warga, ditemukanlah satu komplek pemakaman kuno dan salah satunya diyakini sebagai pusara Raden Jakandar yang juga disebut Sunan Bangkalan keturunan dari Kerajaan Pelajaran.

Kuburan ini menarik tidak hanya karena sosok Raden Jakandarnya, tetapi juga karena di sekeliling komplek makam terdapat bunker peninggalan zaman penjajahan Jepang.

Kodim 0829 Bangkalan mencatat total ada 20 bungker. Tersebar di lahan seluas 1 hektare sekitar makam. Kondisi bunker banyak yang rusak. Pintu besinya raib.

Satu bungker, kondisinya masih utuh, terletak dekat pintu masuk makam. Hanya 50 meter dari tempat parkir. Tertutup rimbun perdu, pohon pisang dan rumput gajah. Dari jauh hanya tampak atap saja, seolah menyembul dari gundukan tanah.

Pintu masuk bungker di sisi timur, baru terlihat setelah menyibak tanaman liar. Suasana gelap pekat, untuk masuk harus jongkok. Di langit-langit ada potongan besi tembus ke atas. Di satu dindingnya ada tulisan huruf Jepang.

“Bungker ini dulunya buat pembangkit listrik, pipa besi di atapnya itu berfungsi sebagai cerobong udara,” kata Teriyanto, seorang musafir yang bermukim di makam Raden Jakandar dan kerap menyepi dalam bungker itu.

Sekitar 500 meter dari bunker pertama, ada bungker lain, juga masih utuh. Bentuknya lebih besar, kemungkinan untuk penyimpanan senjata. Ada juga benteng, dengan lubang di tengahnya mengarah ke laut, diduga untuk lubang meriam.

Tak jauh dari benteng, ada bungker lain, kondisi hancur, hanya menyisakan fondasi saja, ada kubangan besar di tengahnya. Juga tampak lubang di dinding, seperti bekas tembakan. Menandakan pernah terjadi pertempuran sengit di situ.

Sayangnya, situs bersejarah ini tak terawat. Akses jalan menuju kawasan makam keramat itu ditumbuhi pohon liar. Padahal bunker merupakan situs penting, bisa dijadikan wisata edukasi sejarah perjuangan di Pulau Madura. (ist)

Ada Nuansa Majapahit Kuno di Jiwanggo Resto Jogja

foto
Jiwanggo Resto, sebuah rumah makan di Kalasan Jogja terinspirasi dari Majapahit Kuno. Foto: NusantaraNews.co/Romandhon.

Pulau Jawa pernah mencapai puncak kejayaannya ketika dua kerajaan besar yakni Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Majapahit di Jawa Timur lahir. Kedua situs ini kini hanya tinggal menyisakan nama besarnya.

Namun ada sebuah rumah makan unik di Kalasan, Jogja yang menyuguhkan nuansa kuno ala kerajaan khas di Jawa. Tempat yang memiliki nama Jiwangga Resto ini sengaja didesain sang pemilik yakni Gayuh Handoko dengan memakai konsep bangunan Majapahit Kuno.

Karena terinspirasi dari nama besar Majapahit, maka banyak bangunan berupa rilief dan stupa yang menjadi khas kerajaan yang pernah menguasai Asia Tenggara itu terdapat di destinasi ini.

Rosalya Sri Wulandari, istri owner Jiwangga Resto mengatakan bahwa dipilihnya konsep kerajaan Majapahit Kuno ini tak lain karena memang kekagumannya terhadap sejarah kerajaan yang berpusat di Mojokerto tersebut.

Ia juga berharap dengan mengangkat konsep bangunan Majapahit Kuno bisa berdampak terhadap bisnis kuliner yang ia jalani sekarang. Ia ingin resto yang ia geluti bisa besar, laiknya Majapahit yang mampu merajai Asia Tenggara di masa lampau.

“Sebenarnya ini bermula dari hobi sih, karena kami sekeluarga sukanya makan, dan kebetulan kami mengagumi sejarah Majapahit,” kata Wulan sapaan Rosalya Sri Wulandari, seperti dilaporkan NusantaraNews.co di Jogja.

Rumah makan dengan luas mencapai 1,5 hektar itu mulanya dibangun untuk rumah tinggal biasa. Namun teman-teman yang pernah singgah ke tempatnya menyarankan untuk dijadikan rumah makan. Sehingga pada awal tahun 2017 lalu, lahirlah Jiwangga Resto.

Dengan konsep yang berbeda serta didukung lokasi yang masih asri di tepian Kali Kuning, resto satu ini berhasil menyita perhatian pengunjung. Banyak pengunjung yang bertandang ke tempat ini mengaku sekadar hanya untuk berburu view menarik di lokasi tersebut.

Menurut pengakuan Wulan, restoran gaya vintage ini sudah banyak dikunjungi para wisatawan asing dan tentu saja wisatawan lokal. Setiap weekend, lokasi ini dipadati para pengunjung.

Risma (25) salah seorang pengunjung yang datang ke Jiwangga Resto mengaku mendapat informasi dari Instagram. Ia tertarik dengan konsep bangunan yang disuguhkan di tempat ini.

Meski demikian, secara menu tempat ini bisa dibilang tak jauh berbeda dengan tempat-tempat kuliner lainnya. Tak ada pembeda mengenai suguhan menu. Hanya saja, yang membuat tempat ini terasa istimewa ada nuansa vintage yang kental sehingga orang tertarik untuk berburu foto di tempat ini. (ist)

Serial Film Grisse, Kolaborasi Timur dan Barat

foto
Salah satu adegan di film serial Grisse. Foto: Dok HBO Asia.

Berangkat dari sejarah Kota Gresik, serial Grisse menyelesaikan proses shooting di Infinite Studios, Batam. Serial ini menghadirkan ensambel pemain dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Jepang. Dikemas dalam delapan episode, Grisse merupakan produksi orisinal HBO Asia. Direncanakan, Grisse akan tayang akhir 2018 nanti.

Sutradara dan showrunner Grisse Mike Wiluan di Infinite Studios, Senin 14 Mei 2018 mengungkapkan, serial ini tidak akan tercipta tanpa dukungan HBO. Lewat Grisse, Mike ingin mengkolaborasikan budaya barat dan timur.

Pasalnya hal ini berkaitan dengan perspektif global tentang sejarah Indonesia. Untuk Grisse, Mike juga menulis skenario bersama Rayya Makarim.

“Judul Grisse merupakan nama Kota Gresik, dekat Surabaya di Jawa Timur. Orang Belanda dulu menyebut Gresik dengan Grisse. Serial ini tentang gerakan revolusi lewat karakter perempuan yang kuat,” tutur Mike, seperti dikutip pikiran-rakyat.com.

Di Infinite Studios, tim produksi membangun set yang detail untuk Grisse. Selama enam minggu, mereka membuat suasana perkampungan Indonesia di era 1800-an. Tak hanya dalam bentuk bangunan, tapi juga kostum, dan unsur artistik lainnya.

Cerita Grisse berlatar belakang dari era 1800-an atau ketika masa kolonial Hindia Belanda. Serial ini berkisah tentang sekelompok masyarakat dalam penindasan yang memberontak melawan gubernur bengis. Mereka berhasil mengambil alih kendali di markas tentara Belanda bernama Grisse.

Didukung sejumlah karakter unik, mereka bersatu dengan latar belakang dan keyakinan berbeda. Tujuan mereka sama, yaitu untuk memperbaiki keadaan dan nasib mereka dari penjajahan.

Para pemain yang memperkuat Grisse di antaranya Adinia Wirasti, Marthino Lio, Michael Wahr, Edward Akbar, Jamie Aditya, Toshiji Takeshima, Joanne Kam, Zack Lee, Tom Dejong, Ully Triani, Rick Paul Van Mulligen, Alexandra Gottardo, Hossan Leong, dan Jimmy T.

Salah seorang aktor asal Jepang, Toshiji Takeshima yang berperan sebagai Ryuichi mengungkapkan, dia sangat antusias bisa terlibat dalam Grisse. Pasalnya, baru kali ini dia bekerja sama dengan aktor asal Indonesia.

Menurut Toshiji, salah satu alasan dia mau bergabung dengan Grisse adalah tim produksi dan pemain yang berasal dari berbagai bangsa. Hal ini membuat dia bisa mengenal aneka budaya. “Buat saya, kisah Grisse sangat kaya dan sarat konflik. Ini adalah sebuah cerita sejarah Indonesia. Saya belajar lagi sejarah Indonesia di era ini,” ungkap Toshiji.

Menurut Toshiji, karakter yang dia mainkan adalah seorang samurai yang sadis. Sebelum shooting, dia belajar intensif menggunakan pedang. Dia juga memasukan elemen Jepang pada karakter Ryuichi. “Selama shooting banyak hal yang tak terduga. Saya juga melakukan semua adegan tanpa stunt man,” ujar Toshiji.

Aktor asal Indonesia Marthino Lio yang berperan sebagai Maran mengaku, tidak menemukan kesulitan selama shooting. Dengan dasar taekwondo yang dia punya, Lio cepat berlatih koreografi laga untuk Grisse.

“Sosok Maran adalah seseorang yang nasionalis. Dia kaku dan menjadi pemimpin kelompok pemberontak. Menurut saya, cerita yang disajikan Grisse sangat relate dengan situasi Indonesia saat ini,” ujar Lio.

Sementara pemain asal Malaysia, Joanne Kam yang berperan Chi mengatakan, naskah sangat membantu dia untuk mengeksplorasi karakter. Menariknya, kata Joanne, sebagai pemain, dia juga harus mengerti karakter setiap lawan mainnya. Menurut Joanne, sangat menyenangkan bisa kolaborasi dengan aktris Indonesia, Adinia Wirasti.

“Saat pertama datang ke lokasi shooting, hanya ada saya dan Zack Lee. Kami langsung menyelesaikan adegan laga selama tiga jam. Ini berat untuk saya, tapi saya berusaha profesional dan tak ingin menyerah,” ujar Joanne. (ist)

Jejak Masa Muda Ken Arok di Situs Karuman

foto
Arca Lembu Nandi di Situs Karuman yang dibangun atas perintah Ken Arok. Foto: Liputan6.com/Zainul Arifin.

Sore di sudut kampung Tlogomas, Kota Malang. Tembok setinggi 1 meter mengelilingi sepetak lahan. Rimbun pepohonan dengan dedaunan rontok berserakan di tempat yang mirip pekuburan itu. Kampung hanya berjarak puluhan meter dari Sungai Brantas.

Warga setempat lebih mengenal tempat itu sebagai Punden Karuman. Beruntung ada sebuah papan informasi dipasang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Papan itu menjelaskan bahwa itu adalah Situs Karuman, sebuah situs purbakala penting bernilai sejarah tinggi.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengatakan situs itu sekaligus menjadi penegas bahwa kawasan itu merupakan desa kuno yang sudah ada sejak masa Kerajaan Kanjuruhan di abad VIII.

“Kawasan ini juga tempat bersejarah, keberadaannya dicatat dalam Kitab Pararaton,” kata Dwi Cahyono di Malang, seperti dilaporkan Liputan6.com.

Nama Karuman disebut beberapa kali dalam Kitab Pararaton, sebuah kitab yang mengisahkan Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Singasari. Menjadi tempat tinggal Ken Arok semasa kecil hingga tumbuh remaja saat tinggal bersama ayah angkatnya yang kedua, yakni Bango Samparan.

“Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak. Dicocokkannya anak itu dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok. Dibawa pulang ke Karuman, diakui anak oleh Bango Samparan,” demikian bunyi kutipan Kitab Pararaton.

Usia Ken Arok saat itu sebaya anak gembala. Ia ikut Bango Samparan hingga tumbuh remaja. Arok meninggalkan rumah, saat mulai tak cocok dengan anak–anak ayah angkatnya. Pergi berkelana, ia menjadi berandalan hingga mengabdi pada Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

Kitab Pararaton juga menuliskan, di sela masa pengabdiannya pada Tumapel, Ken Arok kembali pulang ke Karuman. Meminta pertimbangan Bango Samparan saat hendak membunuh sang akuwu dari kekuasaannya sekaligus memperistri Ken Dedes. Melalui ayah angkatnya itu pula, Ken Arok tahu tentang Mpu Gandring dan memesan senjata untuk mengkudeta Tunggul Ametung.

Kampung Tlogomas Kota Malang merupakan desa kuno sejak masa Hindu–Buddha abad VIII hingga era Kesultanan Mataram Islam abad XVII. Maka, di kampung ini selain ada situs Karuman juga ada Makam Mbah Aruman, seorang penyebar Islam dari Mataram.

Situs Karuman itu sendiri bukan punden biasa. Sebenarnya situs itu adalah sebuah candi yang dibangun atas perintah Ken Arok di awal berdirinya Kerajaan Singasari. Sebagai balas budi terhadap Bango Samparan, sekaligus menetapkan statusnya sebagai desa sima atau bebas pajak. “Karena itulah kuat dugaan masih banyak peninggalan arkeologis yang terpendam di dalam tanah di kawasan ini,” kata Dwi Cahyono.

Sedangkan bukti artefak yang masih bisa dilihat di kawasan ini adalah fragmen arca Durga dan arca Siwa yang sudah hilang bagian kepalanya. Ada pula batu sima, penanda penetapan status desa bebas pajak. Benda purbakala itu diletakkan di areal Makam Mbah Aruman

Sedangkan di Situs Karuman sendiri ada arca Lembu Nandi yang sudah pecah bagian kepalanya, yoni dan lingga berbeda ukuran. Ada pula beberapa balok batu dan bata kuno. Tak jauh dari situs ini, dekat Sungai Brantas pernah ada sebuah patirtan atau taman pemandian kuno.

Di sekitar patirtan itu dahulu ada beberapa jaladwara berbahan batu andesit yang berfungsi sebagai pancuran. Air mengalir dari arung atau saluran bawah tanah melalui jaladwara dan ditampung dalam patirtan. Sayangnya, jaladwara maupun patirtan sudah lenyap tak tersisa.

Hanya aliran air dari arung yang masih bisa dijumpai. Di bekas lokasi patirtan itu kini hanya berdiri tempat pemandian umum untuk warga. Sedangkan air juga diambil sebuah kolam pemandian wisata dengan jumlah besar. “Patirtan jadi tempat penyucian diri sebelum melakukan pemujaan di candi. Menunjukkan betapa pentingnya kawasan ini,” ujar Dwi Cahyono.

Warga Tlogomas sendiri masih sering menemukan sisa batu bata kuno saat menggali tanah sekitar. Termasuk di bekas lokasi patirtan yang kini jadi tempat pemandian umum. Mereka juga memanfaatkan bata kuno temuan itu untuk pemugaran jalan di pemandian umum itu.

“Kata kakek saya, dulu juga sering menemukan arca saat menggali tanah. Karena takut, ditanam lagi ke dalam tanah,” kata Imam Musyafak, Ketua RT 4 RW 5 Tlogomas, Kota Malang.

Perlahan tapi pasti, warga mulai sadar menyelamatkan temuan-temuan itu. Tembok di Situs Karuman, misalnya, baru dibangun warga di awal tahun 2000-an. Dahulu, cagar budaya itu dibiarkan dalam ruang terbuka. Situs kini dianggap memiliki nilai penting untuk sejarah desa. “Kalau pemerintah hanya pasang papan informasi itu. Perawatan dan pemeliharaan situs sehari-hari ya dari warga,” ujar Imam.

Warga juga ada keinginan membongkar kolam pemandian dan memindahkannya. Di tempat itu ingin dibangun patirtan tiruan, setidaknya mengingatkan warga bahwa kampung mereka adalah desa kuno. Air yang keluar dari arung juga akan dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH). “Kami tak ingin memutus sejarah kawasan ini dan juga memanfaatkan airnya agar ada nilai lebih untuk warga,” ucap Imam. (ist)

Motif Batik ‘Jonegoroan’ Diperagakan di China

foto
Batik “Jonegoroan” ditampilkan dalam peragaan di Beijing, China, Kamis (17/5). Foto: Istimewa.

Empat motif batik “Jonegoroan” Bojonegoro, Jawa Timur, yaitu motif Surya salak Kartika, Pari Sumilak, Rancak Thengul dan Sekar Rosela, produksi Marely Jaya mengikuti peragaan batik bersama sejumlah negara di Beijing, China.

Desainer asal Jakarta Martini Suarsa, dari Beijing, Kamis, menjelaskan peragaan batik di Beijing yang diselenggarakan “United Nation Association Of Asian Culture Artist” dalam acara “The 21th Beijing Internasional Science and Technology Expo” berlangsung sejak 16 Mei. “Acara berakhir hari ini dengan diikuti peserta dari China, Sri Lanka, Singapura, India, Vietnam,” tuturnya, seperti dikutip Antaranews Jatim.

Dalam peragaan di acara itu melibatkan tiga modeling asal Bojonegoro yaitu Regina Aprillya Febrianda (duta wisata Bojonegoro 2018), Regita Wardani (Putra Putri Batik Bojonegoro 2018) dan Alma Alyzia Yasmin (Putra Putri Batik Bojonegoro 2018). “Mereka menampilkan karya busana berbahan batik Bojonegoro dan “Painting” Bojonegoro karya Zahida dari ‘MS Collection’,” kata dia, menjelaskan.

Ia mengharapkan dengan kegiatan peragaan batik “Jonegoroan” di Beijing itu, agar negara lain tahu tidak hanya batik Indonesia, tapi juga dengan keberagamannya sesuai ciri khas daerah masing-masing.

Selain itu, ia juga meminta bagi para penggiat batik yang menyuarakan batik Indonesia bukan hanya mengambil dari sisi fashion semata, tapi juga harus bisa mengedepankan warisan budaya Bangsa untuk dibanggakan di luar Indonesia. “Semoga setelah acara ini masyarakat makin berani menunjukkan eksistensinya di manca negara dengan memamerkan budaya kita,” ucapnya menegaskan.

Menurut dia, China bukan negara pertama untuk mempromosikan batik “Jonegoroan”, karena sebelumnya juga pernah digelar pameran di ajang Internasional “Fashion Week Malaysia dan Singapore pada 2017.

Kepala Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Disbudpar Bojonegoro Enggarini Mukti, di Bojonegoro, yang dimintai konfirmasi membenarkan empat motif “Jonegoroan” mengikuti pameran modeling di Beijing. “Ajang promosi di Beijing itu karena kecintaan desainer asal Jakarta Martini Suarsa kepada batik “Jonegoroan”,” ucapnya menegaskan.

Dalam acara itu Martini Suara bekerja sama dengan Disbudpar Bojonegoro, dan “WIldazzling Scholl”-Sekolah Modelling Bojonegoro yang dipimpin Wilda Wahyu dan perajin batik “Jonegoroan” Bojonegoro Marely Jaya yang dipimpin Ny. Pudji Rahayu. (ant)

In Memoriam: Dalang Nyentrik Ki Enthus Susmono

foto
Almarhum bisa menciptakan karakter wayang kontemporer. Foto: Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho.

Ki Enthus Susmono, bupati petahana Kabupaten Tegal yang juga dalang nyentrik, tutup usia pada Senin malam, 14 Mei 2018, sekitar pukul 19.15 WIB di RSUD Soeselo Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Setelah menjabat bupati saat periode pertamanya pada 2014-2018, saat ini suami dari Nur Laela itu mencalonkan diri kembali bersama wakilnya, Umi Azizah, dalam Pilkada Kabupaten Tegal.

Seperti dilaporkan Liputan6.com, pasangan Enthus-Umi diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan didukung empat partai lain, yakni Gerindra, PKS, PAN, dan Hanura. Dengan gabungan lima partai itu, artinya Enthus-Umi membawa gerbong partai yang memiliki jumlah 25 kursi di DPRD Kabupaten Tegal.

Berdasarkan dokumen pencalonan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tegal, ayah empat anak itu lahir di Tegal pada 21 Juni 1966. Maka itu, usianya kini nyaris 52 tahun.

Enthus menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Tegal. Pada kurun waktu 1983- 1986, dia duduk di bangku SMA Negeri 1 Tegal.

Enthus juga aktif mengikuti berbagai organisasi. Dia pernah menjadi Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tegal, dan Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PBNU. Ki Enthus juga pernah aktif di lembaga bela diri Inkai dan Perisai Diri Kabupaten Tegal.

Wayang dalam hidup Ki Enthus sudah mendarah daging. Ia merupakan anak satu-satunya Soemarjadihardja, yang merupakan dalang wayang golek Tegal, dengan istri ketiga bernama Tarminah.

Dari garis keturunan ayah, kakek moyang Ki Enthus juga dikenal sebagai dalang ternama bernama RM Singadimedja yang sering dipercaya tampil pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram.

Gemblengan sang ayah dan konsistensinya mendalami wayang tecermin dalam karyanya yang dikenal kreatif, inovatif, serta eksplorasi yang tinggi. Tak heran bila murid dari dalang kondang Ki Manteb Sudarsono itu dinilai sebagai salah satu dalang terbaik yang dimiliki Indonesia.

Buktinya pada 2005, dia terpilih menjadi dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia yang diselanggarakan di Taman Budaya Jawa Timur. Kemudian pada 2008, Ki Enthus mewakili Indonesia dalam Festival Wayang Internasional di Denpasar, Bali.

Gaya sabetannya yang khas, kombinasi sabet wayang golek dan wayang kulit membuat pertunjukannya berbeda dengan dalang-dalang lainnya. Ki Enthus juga memiliki kemampuan dan kepekaan dalam menyusun komposisi musik, baik modern maupun tradisional.

Selain banyolan dan kecakapannya menampilkan cerita pewayangan, Ki Enthus juga mahir menghidupkan suasana menjadi lebih atraktif dan bersemangat. Kekuatannya mengintrepretasi dan mengadaptasi cerita serta kejelian membaca isu-isu terkini membuat gaya berceritanya menjadi hidup dan interaktif.

Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artistik kelir menjadikannya lakon-lakon yang ia bawakan bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual, dan menghibur.

Sebagai dalang, ia selalu membawakan dua karakter wayang golek yang melegenda, Lupid dan Slentenk. Di mana pun ia tampil, ia selalu membawa dua ikon itu untuk menyampaikan beragam pesan, termasuk berbagai program pemerintah, kepada masyarakat seperti kampanye anti-narkoba, anti-HIV/AIDS, HAM, pemanasan global hingga pemilu damai.

Bagi Ki Enthus, mendalang bukan hanya media komunikasi isu-isu terkini, tapi juga sarana dakwah. Maka itu, ia aktif mendalang di beberapa pondok pesantren melalui media Wayang Wali Sanga.

Dikutip dari buku Ki Enthus Susmono, kemahiran dan kenakalannya mendesain wayang-wayang baru atau kontemporer seperti wayang George Bush, Saddam Hussein, Osama bin Laden, Gunungan Tsunami Aceh, Gunungan Harry Potter, Batman, wayang alien, wayang tokoh-tokoh politik, dan lain-lain membuat pertunjukannya selalu segar, penuh daya kejut, dan mampu menembus beragam segmen masyarakat.

Deretan kreasi wayang Ki Enthus terwujud dalam berbagai bentuk sajian wayang, seperti wayang planet (2001-2002), Wayang Wali (2004-2006), Wayang Prayungan (2000-2001), Wayang Rai Wong (2004-2006), dan Wayang Blong (2007). Museum Rekor Dunia Indonesia-pun (MURI) menganugerahi dirinya sebagai dalang terkreatif dengan kreasi jenis wayang terbanyak, yakni 1.491 wayang.

Tak hanya itu, beberapa wayang kreasinya telah dikoleksi oleh beberapa museum besar di dunia, antara lain Tropen Museum di Amsterdam Belanda, Museum of Internasional Folk Arts (MOIFA)New Mexico, dan Museum Wayang Walter Angts Jerman. Semuanya tak lain dimuarakan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat luas terhadap wayang, penajaman pasar, dan membumikan kembali wayang kulit di Tanah Air. (ist)