Kutuk Teror, Puti: Rakyat Jatim Tidak Takut!

foto
Puti Guntur Soekarno saat berdoa di acara Festival Sholawat Bunda Sahto. Foto: Istimewa.

Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno mengutuk keras aksi terorisme yang menyerang sejumlah tempat ibadah di Surabaya, Minggu (13/5)lalu.

“Warga Jawa Timur tidak takut pada terorisme. Masyarakat Jatim adalah masyarakat pemberani yang sejak era penjajahan selalu berdiri di garis terdepan membela republik ini,” kata Puti.

Saat menghadiri Festival Sholawat Bunda Sahto di Ngantru Tulungagung, Puti mengajak ratusan ibu-Ibu anggota Muslimat dan Fatayat peserta festival menundukkan kepala untuk mendoakan korban teror Surabaya.

Selain itu, untuk berdoa agar kejadian yang mengoyak perikemanusiaan ini tidak terulang kembali.

“Tundukkan hati, untuk mengetuk langit dengan sholawat, berdoa kepada Allah SWT untuk mereka dan keselamatan kita semua,” tuturnya.

“Meski para korban beda keyakinan, tapi mereka adalah saudara-saudara sebangsa kita,” tambah Puti.

Islam, kata dia, tak menoleransi segala bentuk aksi kekerasan. “Justru Islamlah yang harus merangkul, dan memberi rasa aman bagi umat lain,” tuturnya.

Teror yang diluncurkan para teroris hari ini, jelas Puti, tidak akan membuat masyarakat Jawa Timur mundur sejengkal pun untuk terus berjuang mewujudkan bangunan masyarakat yang makmur dalam keberagaman dan bahagia dalam harmoni.

Puti mengajak seluruh warga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk mendukung seluruh kekuatan negara guna memberantas segala bentuk aksi terorisme yang merongrong persatuan Indonesia.

“Para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat selalu bersama dan mendukung penuh semua kebijakan negara untuk melawan segala bentuk terorisme,” ujarnya.

Kepada para korban dan keluarga, Puti menyampaikan duka dan empati yang mendalam. “Kita berdoa sepenuh hati untuk mereka. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk korban dan keluarga,” ucapnya.

Pendamping Cagub Saifullah Yusuf ini mengatakan, negara harus memastikan bahwa kejadian di Surabaya adalah peristiwa menyedihkan terakhir yang terjadi berkaitan dengan tindakan terorisme.

Ke depan, Puti mengajak seluruh warga masyarakat mempererat tali solidaritas untuk tidak memberi ruang bagi tumbuhnya gerakan radikal. Sikap gotong royong dan saling memiliki harus terus dijaga dan ditumbuhkan di seluruh jiwa masyarakat.

“Satu warga Jatim terluka, kita semua merasa sakit,” ucap dia. (ist)

Langen Tayub, Tarian yang Memanggul Konten Rohani

foto
Pergelaran ‘Langen Tayub dan Musik Campursari’ dari Tuban. Foto: Istimewa.

Tari sebagai cara menghiasi dan memperkaya kehidupan itu penting. Di dunia kaum sufi ada tari sebagai bentuk ritual suci. Tari menjadi semacam pernyataan puji syukur tanpa kata-kata.

Setidaknya inilah makna yang tergambarkan ketika menyaksikan ‘Tari Tayub’ yang digelar pada acara Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (29/04).

Kesenian ‘Tayub’, adalah tari yang memanggul konten rohani; ekspresi ketulusan dan kejujuran. Tayub : “Ditata kanti guyub” (ditata hingga menyatu, selaras, serasi, seimbang). Artinya, melalui seni tari ini ada upaya pemberdayaan agar masyarakat makin bersatu dalam kebersamaan.

Gerak tidak hanya diberi arti dari sudut estetikanya, melainkan menemukan filsafatnya. Sebuah tarian pergaulan yang disajikan dalam rangka menjalin hubungan sosial masyarakat dalam kesetaraan.

Kesenian ‘Tayuban’ asal Tuban ini memang relatif populer, ketimbang kesenian serupa dari kota-kota lainnya, misalnya Tayub Blora, Tayub Tulungagung, Tayub Bojonegoro, Tayub Malang, Tayub Surabaya dan lain-lain.

Tayub Tuban memiliki ciri khas tersendiri. Dari busana penarinya, gending atau lagu, tempo musik yang lebih pelan, dan masih banyak kekhasan lainya,” terang Ariesman SE, salah satu seniman yang bertindak sebagai Penata Musik, Penata Tari, Penata Panggung, dan penyutradaraan ini.

Tayub di daerah Tuban, lanjut Ariesman, masih banyak diminati, terutama oleh masyarakat pedesaan. Masyarakat Tuban kerap memeriahkan pesta pernikahan dan sunatan, dengan mengundang kelompok Tayub sebagai hiburan. Bahkan secara eksklusif, masyarakat kerap memesan Waranggono (Sinden), yang digemari jauh sebelum acara.

“Karena larisnya kadang masyarakat bisa nunggu setahun baru dapat jadwal pentas Waranggono yang disukainya. Bahkan yang punya hajat sampai menyesuaikan jadwal pentasnya Waranggono,” ujarnya seperti dikutip Galamedianews.com.

Kesenian Tayub sudah ada sejak zaman Kerajaan Singosari, sekitar tahun 1200 M. Kemudian Tayub berkembang di Kerajaan Kediri dan Majapahit. Meski sudah ratusan tahun kesenian ini tetap bertahan hingga kini, walau ada sebagian orang pesimis kesenian ini makin terpinggirkan.

Kesenian Tayub adalah bentuk ritual ketika terjadi peristiwa penting. Cerita kedewatan (dewa-dewi), saat dewa-dewi mataya ( berjoget berjajar) dengan gerak yang guyub (serasi). Di masa para Wali (Wali Sanga), kesenian ini justru menjadi salah satu sarana dakwah, dengan berbagai pola tarian yang disesuaikan berdasarkan syariat Islam.

Kesenian Tayub terus berkembang menjadi tarian pergaulan yang disajikan untuk menjalin hubungan sosial masyarakat. Digelar pada acara pernikahan, khitan, atau acara hari-hari besar, misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia, perayaan pemilihan Kepala Daerah, dan acara lainnya.

“Termasuk menjadi ajang festival, seperti Ritual Siraman Waranggono, yang rutin digelar di Tuban,” terang Titik Hariyani SE, Penata Kostum dan Rias, pergelaran Langen Tayub dan Musik Campursari dari Tuban ini menambahkan.

Ikut menyaksikan pertunjukan ini, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tuban, Sunaryo SPd dan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo SS MM.

Para Juri Pengamat, Juri Pengamat, Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII), dan Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), dan Munarno SE (Praktisi, Analis Kesenian dan Budaya Daerah Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur), di Jakarta.

Pergelaran Langen Tayub dan Musik Campursari dari Kabupaten Tuban ini, menutup rangkaian acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, selama bulan April 2018. Bulan berikutnya, Anjungan Jawa Timur akan menampilkan paket acara khusus dari Kabupaten Madiun, Sabtu (05/05).

Sebagai bentuk penghormatan selama bulan suci Ramadhan tidak ada pergelaran. Setelah Idul Fitri Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, kembali digelar dengan menampilkan kesenian daerah dari Kabupaten Pacitan. (ist)

Cerita Tugu Nol Kilometer Surabaya yang Terlupakan

foto
Tugu Nol Kilometer Kota Surabaya yang terlupakan. Foto: Detik.com/Ongq Rifaldy Litualy.

Titik nol kilometer merupakan titik awal pengukuran antara kota yang satu dengan kota yang lain. Biasanya titik ini ditandai dengan sebuah monumen yang dijadikan kebanggaan bagi warga. Lalu bagaimana dengan Surabaya?

Titik nol kilometer (titik nol) Kota Surabaya terletak di halaman depan gedung kantor Gubernur Jawa Timur. Monumennya diletakkan di bawah pepohonan rindang di depan kantor orang nomor satu di Jawa Timur tersebut.

Namun nyatanya, banyak orang yang tidak tahu-menahu tentang keberadaan monumen ini. Salah satunya Dinda, warga Kota Surabaya. Ketika ditanya dimana letak titik nol, dara berusia 26 tahun ini justru menyebut Tugu Pahlawan sebagai titik nol kota.

Warga lain yang ditanya menyebut letak titik nol Kota Surabaya berada di Gedung Balaikota, bahkan ada juga yang mengatakan titik nol itu berada di Bundaran Waru.

Mantan Kepala bagian Aset dan Pemeliharaan Kantor Gubernur, Supardi mengatakan bahwa Tugu Titik Nol Kilometer adalah salah satu cagar budaya Kota Surabaya yang penting.

“Titik nol itu ya sesuatu yang penting, sebagai penanda di mana sebuah kota memulai perkembangannya,” terang Supardi kepada Detikcom.

Ditambahkan Supardi, letak titik nol itu sudah ada sejak zaman pendudukan Belanda. “Itu sejak zaman Belanda patokan itu, misalnya Wonokromo Surabaya Tujuh, makin kesini Surabaya ke Enam, Surabaya ke Lima dan nolnya itu ya disini Mas dan itu sejak dulu,” paparnya.

Sayangnya menurut Supardi, letak monumen yang berada di bawah pepohonan, membuatnya tak mudah terlihat dari luar. Selain itu, bila warga ingin melihat monumen tersebut, mereka harus meminta izin agar bisa masuk ke halaman kantor Gubernur yang dijaga ketat.

“Saya itu sempat ada keinginan bagaimana jika kita masukkan pagar itu ke dalam, agar Nol Kilometer itu di luar sendiri kemudian dibangun tetenger yang bagus agar dikenali masyarakat,” tandasnya.

Bahkan Supardi mengungkapkan, rencana untuk membuatkan spot tersendiri bagi monumen itu agar tidak menyatu dengan halaman gedung kantor Gubernur itu pernah digaungkan bersama. Namun sejumlah kendala pun menghadang upaya ini.

Sebab untuk merealisasikannya, harus ada pembicaraan dengan banyak pihak seperti ahli sejarah serta Pemkot Surabaya.

“Pembicaraan itu juga batal dilakukan karena saya dipindah,” tutur pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Kearsipan Kantor Gubernur Jawa Timur tersebut.

Rio (21), salah satu pengunjung Titik Nol Kilometer mengatakan seandainya monumen tersebut berada di luar halaman kantor, pasti lebih indah dilihat ketimbang tersembunyi di halaman kantor Gubernur Jawa Timur.

“Iya Mas, jika dibuatkan di luar halaman kantor ini saya setuju, akan sangat bagus mas untuk dikenali, saya setuju mas,” ujar Rio.

Senada dengan Rio, Sumanto (29) penjual bakso yang biasa mangkal di seputaran kantor Gubernur Jawa Timur sering melihat warga berfoto bersama Tugu Titik Nol Kilometer, terutama anak muda. Namun Sumanto menyayangkan karena tugu tersebut cenderung tertutup pepohonan.

“Banyak didatangi masyarakat untuk berfoto, namun kelihatannya tidak terurus mas. Soalnya tertutup pepohonan jadinya tidak dihiraukan masyarakat jadinya,” papar Sumanto.

Sebagai warga asli Surabaya, Supardi berharap Tugu Titik Nol Kota Surabaya dibangun dengan baik dan menjadi kebanggaan warga, apalagi jika bisa dijadikan bahan pembelajaran sejarah, baik oleh warga Surabaya sendiri maupun wisatawan yang tertarik dengan sejarah Surabaya.

Terlepas dari itu, penelantaran Tugu Titik Nol Kota Surabaya ini juga dipicu oleh kurangnya wawasan masyarakat tentang keberadaan tugu ini sendiri.

“Titik nol merupakan simbol sejarah yang seringkali dilupakan melihat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang history dan tata letak Nol Kilometer Surabaya,” pungkasnya. (dtc)

Harmoni Budaya Mampu Rukunkan Jawa-Sunda

foto
Gubernur Jatim dan Jabar pada acara Harmoni Budaya di Bandung. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Gubernur Jatim Dr H Soekarwo optimis pendekatan budaya mampu mengakhiri permasalahan Jawa-Sunda yang terjadi sejak 661 tahun lalu pasca tragedi Pasunda Bubat.

Oleh sebab itu Pakde Karwo sapan akrab Gubernur Jatim bersama Gubernur DIY Sri Sultan HamengkuBuwono X, dan Gubernur Jawa Barat Dr H Ahmad Heryawan menggagas rekonsiliasi budaya untuk menghilangkan sekat-sekat antara Jawa dan Sunda.

“Budayalah yang bisa menjernihkan dan membersihkan yang kotor. Lewat pendekatan budaya maka tidak akan yang terluka dan merasa benar atau salah,” ungkap Pakde Karwo pada acara Harmoni Budaya Jawa-Sunda dan Peresmian Jalan Majapahit dan Hayam Wuruk, di Gedung Sate, Jl. Diponegoro No. 22, Bandung, akhir pekan lalu.

Menurut Pakde Karwo, jauhnya jarak terjadinya Pasunda Bubat dengan munculnya berbagai cerita yang ada di buku-buku merupakan upaya divide et impera oleh penjajah. Karenanya, para tokoh meliputi budayawan, sejarawan, akademisi dan pemerintah sepakat untuk meluruskan hal itu, sehingga tidak menjadi konflik yang berkepanjangan.

“Dengan harmoni budaya ini maka akan bisa menjadikan Jawa-Sunda ini bersatu dan memperkokoh NKRI seperti yang dicita-citakan para pendiri republik,” jelasnya.

Pakde Karwo menambahkan, bersatunya Jawa-Sunda memberikan kontribusi ekonomi nasional mencapai hampir 40 persen. Hal ini tentunya akan memberi dampak yang luar biasa pada kesejahteraan masyarakat.

Oleh sebab itu, harmoni budaya ini akan ditinjaklanjuti dengan berbagai kerjasama baik di bidang pariwisata, perdagangan, ekonomi maupun politik.

“Banyak hal yang bisa ditumpangkan pada pertemuan budaya kali ini. Saya kira ini pintu yang sangat bagus serta halus untuk pertumbuhan bersama,” tukasnya.

Terkait peresmiaan Jl. Majapahit dan Hayam Wuruk, Pakde Karwo mewakili masyarakat Jatim merasa senang dan bangga. Ini penting karena penamaan jalan selain simbolik, dan tempat berlangsungnya transportasi orang, barang dan jasa juga menyimpan nilai sejarah.

“Posisi Jalan ini sangat bagus dan cukup strategis, namun sebenarnya substansi utamanya yakni bahwa ini merupakan sumbangan besar bahwa budaya solusi atas berbagai konflik,” pungkasnya.

Sementara Gubernur Jabar Dr H Ahmad Heryawan selaku tuan rumah menyampaikan, harmoni budaya akan bisa menghadirkan persatuan dan kesatuan. Selain itu, senada dengan yang disampaikan Pakde Karwo budaya bisa menjernihkan yang kotor, mengindahkan yang belum indah, serta merapikan semuanya.

“Lewat kegiatan harmoni budaya pada hari ini, mari kita ciptakan cara pandang yang sama, tidak perlu mempermasalahkan lagi siapa yang salah dan benar,” ujar Kang Aher sapaan akrab Gubernur Jabar.

Kang Aher menegaskan, bahwa harmoni budaya ini turut menjadi sejarah dan terobosan yang tepat untuk menyatukan Indonesia.Pasalnya, jumlah etnis Jawa mencapai 42% dari eluruh etnis di Indonesia, sedangkan etnis Sunda mencapai 14%.

Jika digabungkan, jumlahnya mencapai 56% atau separuh lebih dari seluruh etnis di Indonesia.“Artinya jika masalah Jawa dan Sunda selesai, maka perkara-perkara besar di Indonesia juga selesai” imbuhnya.

Ditambahkan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rekonsiliasi budaya Sunda-Jawa yang digelar di Surabaya pada Maret lalu. Pada waktu itu ditandai dengan digantinya nama dua jalan arteri di Surabaya dengan simbol kesundaan yakni Jl. Prabu Siliwangi menggantikan Jl Gunungsari, dan Jl Sunda menggantikan Jl Dinoyo sisi utara.Sedangkan untuk penamaan Jl Majapahit di Bandung menggantikan Jl Gasibu dan Jl Hayam Wuruk menggantikan Jl Cimandiri.

“Saat di Surabaya maupun DIY judul besarnya yakni rekonsiliasi budaya Sunda-Jawa, namun disini kami mengangkat tema harmoni budaya Jawa-Sunda. Ini merupakan bentuk saling penghormatan diantara kami,” tukasnya.

Kang Aher menjelaskan, bahwa penamaan jalan ini sudah melewati musyawarah dan diskusi dengan berbagai pihak mencakup sejarawan, budayawan, dan akademisi.

Pihaknya juga akan segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat Bandung sehingga tidak akan ada masalah kedepannya. “Mari kita membangun harmoni secara bersama-sama, sehingga secara psikologis akan menghilangkan sekat antara Jawa dan Sunda,” harapnya. (ita)

Lestarikan Budaya Lewat Festival Pertunjukan Rakyat

foto
Festival Pertunjukan Rakyat yang digelar Pemkot Surabaya. Foto: Humas Pemkot Surabaya.

Dalam upaya melestarikan budaya dan kesenian lokal, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo), menggelar acara yang bertajuk Festival Pertunjukan Rakyat (Pertura).

Acara yang dikemas dalam sebuah ajang pertunjukkan seni budaya ini, bertujuan untuk mencari bakat generasi muda dalam upaya melestarikan budaya dan kesenian lokal.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji mengatakan bahwa saat ini eksistensi budaya lokal sudah semakin tergerus dan punah dengan datangnya budaya asing.

Maka dari itu, Pemkot Surabaya berupaya bagaimana agar budaya dan kesenian lokal tetap lestari. Salah satunya yakni melalui acara yang bertajuk Festival Pertunjukkan Rakyat.

“Melalui acara ini, kita ingin agar budaya kita tetap terus dilestarikan. Ini yang sebenarnya menjadi titik berat kami,” kata Agus, disela-sela acara Pertura yang bertempat di Balai RW II Kelurahan Medokan Semampir Surabaya, akhir pekan lalu.

Budaya asing secara tidak langsung akan mempengaruhi pola hidup maupun lifestyle masyarakat. Seperti yang dicontohkan Agus, saat ini anak-anak muda lebih cenderung meniru gaya Korea.

Mulai dari makanan hingga gaya berpakaian, pastinya hal ini akan berdampak juga pada perekonomian lokal. Karena anak-anak muda lebih cenderung untuk membeli produk ataupun makanan olahan dari luar.

“Maka dari itu, program Wali Kota Risma pada tahun 2016-2021 ingin bagaimana menguatkan karakter lokal Kota Surabaya,” imbuhnya.

Acara yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB ini, menampilkan delapan kelompok seniman yang kemudian diadu dalam sebuah ajang pertunjukkan. Selain itu, berbagai dinas dan unit pelayanan di Surabaya juga tampak dihadirkan untuk memberikan pelayanan secara langsung kepada masyarakat.

Seperti pelayanan mobil keliling dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) yang memberikan pelayanan pengurusan KK maupun E-KTP. Hadir pula perpustakaan keliling dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Surabaya.

Disampaikan Agus, dengan turut serta dihadirkannya dinas terkait, Pemkot Surabaya ingin memberikan pelayanan jemput bola secara langsung kepada masyarakat. Disamping itu, cara ini dinilai cukup efektif dalam mengatasi berbagai problematika yang ada di sekitar masyarakat.

“Kita juga ingin berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Selain itu, kita juga ingin melayani langsung kepada masyarakat,” ujarnya.

Acara yang berlangsung meriah tersebut, juga dihadiri Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan), warga sekitar, dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Surabaya larut melihat pertunjukan yang cukup menghibur ini.

Selain bertujuan untuk melestarikan budaya tradisional, gelaran ini juga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian lokal dengan menghadirkan para pelaku UKM (Usaha Kecil Menegah).

Camat Sukolilo Surabaya Kanti Budiarti yang juga hadir ditengah-tengah masyarakat mengatakan selain pagelaran seni dan budaya, beberapa produk UKM turut pula dihadirkan dalam acara ini.

Sebanyak 20 UKM unggulan dari Kecamatan Sukolilo turut serta meramaikan event yang bertajuk Festival Pertunjukkan Rakyat ini.

“Selain beberapa produk UKM, kesenian jaranan dari warga asli Medokan Semampir juga turut kita kenalkan dan tampilkan disini,” kata dia.

Dengan adanya acara semacam ini, menurut Kanti, pastinya masyarakat sangat antusias untuk hadir. Secara tidak langsung dengan hadirnya para pelaku UKM, otomatis juga akan berdampak pada peningkatan omset penjualan produk mereka.

“Kalau ada festival semacam ini banyak dinikmati oleh warga. Tidak hanya orang dewasa namun juga anak-anak,” pungkas perempuan berkerudung ini. (ita)

Keindahan Budaya di ‘Blitar Goes to Los Angeles’

foto
Bupati Blitar Rijanto bersama Livi Zheng. Foto: Istimewa.

Blitar hanyalah salah satu kota kecil, yang terletak sekitar 167 kilometer barat daya Kota Surabaya, Jawa Timur di Indonesia. Namun, karena sejarahnya, potensi keindahan pariwisata, keragaman agama, dan budaya serta seninya, kabupaten ini dikenal hingga ke luar Indonesia. Bahkan, hingga Los Angeles, Amerika Serikat.

Melalui kemampuan sutradara berbakat Hollywood, Livi Zheng, yang berasal dari Blitar, sejarah, keindahan, keragaman agama, budaya dan seni kota yang dijuluki ‘1000 Candi’ itu, ditampilkan dalam sebuah karya film-nya berjudul ‘Blitar’.

Film yang mengangkat ‘Triangle Diamond’ atau tiga sudut pandang Berlian di kabupaten Blitar, yang terdiri dari Pantai Serang, Perkebunan Teh Sirah Kencong, juga Candi Penataran, premiernya ditayangkan di Los Angeles, Amerika Serikat, Rabu (2/5) malam pukul 19.00 waktu setempat.

Tayangan film ‘Blitar’ ini seperti dilaporkan Balipost.com, melengkapi sebuah konser, pentas seni dan budaya dari tim kesenian Pemerintah Kabupaten Blitar, yang bertajuk ‘Amazing Blitar’.

Tim kesenian Pemkab Blitar ini tidak hanya mementaskan seni dan budaya masyarakat setempat, tetapi juga membawa pengunjung dan penonton di LA, AS, seolah ikut dan merasakan ritual, estetika dan keindahan panorama serta penghormatan sebuah bangsa atas sejarah kota yang pernah ditinggalkan oleh bangsa asing yang pernah menduduki Blitar.

Secara khusus, konser, pentas seni dan film premiere ‘Blitar’ memiliki nilai tersendiri karena langsung dihadiri oleh Bupati Blitar, Drs Rijanto yang membawa tim keseniannya sebanyak 17 orang. Mereka langsung membawa ‘oleh-oleh’ kisah dari tanah perjuangan, ritual, keindahan dan estetika serta keragaman kultur dan budaya Blitar yang menjadi ciri sebuah wilayah.

Salah satu seni budaya itu berupa sejumlah tarian di antaranya Tari Emprak, Tarian Remo dan Tari Jaranan di antara sejumlah tarian yang akan ditampilkan dalam Amazing Blitar. Tari Emprak yang dibawakan secara kolosal sebelumnya tercatat pernah dipentaskan di Eropa.

Sedangkan Tari Jaranan biasanya ditampilkan sebagai bagian dari kegiatan ritual atau upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat. Tarian ini melambangkan jiwa yang tangguh.

Tari ini dilaksanakan sampai para penari dalam keadaan ‘trance’, berjalan dan berguling di atas pecahan kaca tanpa terluka sedikit pun. Tarian Remo merupakan tarian selamat datang yang menyambut kedatangan para tamu di awal acara.

Uniknya, konser, pentas seni dan film premiere ‘Amazing Blitar’ dilaksanakan tepat pada tanggal 2 Mei lalu, yang di Indonesia diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Pada tanggal tersebut, seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang terus berjuang dan memberdayakan bangsa Indonesia yang terbelakang akibat penjajahan kolonial untuk berpikir maju dan memiliki ilmu dan pengetahuan.

Kebetulan juga, Bupati Blitar Rijanto merupakan mantan Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten Blitar yang kemudian dipercaya menjadi Wakil Bupati, dan akhirnya menjadi Bupati Blitar.

Meskipun jauh dari Blitar, Livi dan Julia serta Bupati Rijanto ikut memberikan pendidikan mengenai sejarah dan seni mengenai sebuah kota bersejarah dan kaya dengan berbagai potensi alam, pariwisata dan seni budaya.

Kehadiran Bupati Blitar juga tak hanya sekadar menemani Tim Kesenian dan memimpin rombongan Pemkab Blitar ke LA, AS. Bupati Rijanto juga mendampingi Livi dan seorang bankir di AS, yang berasal dari Jawa Timur, Julia Gouw, menjadi dosen tamu di University of California Los Angeles (UCLA) bagian Asian Languages and Cultures.

Dalam kesempatan menjadi dosen mereka berbagi tentang keunggulan Blitar dan Indonesia, mulai dari potensi alam sampai potensi sumber daya manusianya.

Tak ketinggalan Livi Zheng juga menampilkan film garapannya yang berjudul ‘Blitar’. Mahasiswa yang diajarkannya itu berasal dari berbagai negara.

Saat sesi dialog, para mahasiswa sangat antusias mengetahui lebih jauh mengenai Blitar dan Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya berencana juga untuk berkunjung ke Blitar.

Selanjutnya, Bupati Rijanto dan Livi Zheng juga memenuhi undangan untuk menjadi narasumber di salah satu kelas musik ethnomusicology UCLA.

Topik pembahasan Livi dan Bupati adalah tentang kebudayaan dan kesenian Indonesia yang sebetulnya sudah mendunia. Contohnya, gamelan Indonesia sudah dipakai dalam film Star Trek, Avatar, dan Akira.

Konser, pentas seni dan film premiere Amazing Blitar juga semakin lengkap karena selain Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, juga hadir di LA, AS, mantan Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyo Dino Patti Djalal. Kedua tokoh ini bahkan mendukung Amazing Blitar dengan memberikan sambutan dan promosi.

Gubernur Anies yang pernah membuka premiere film Livi ‘Brush with Danger’ di Jakarta–film layar lebar Livi, yang masuk dalam seleksi nominasi Piala Oscar 2015– menyampaikan rasa bangganya atas karya tim kesenian Blitar.

Menurut Anies, pentas Amazing Blitar adalah salah satu upaya promosi budaya Indonesia di luar negeri yang sangat menakjubkan.

Ia berharap agar pentas dan premiere film ini bisa menjadi jembatan persahabatan antara Indonesia dan AS. Adapun Dino Patti Djalal yang merupakan Founder Indonesian Congress of Diaspora menyatakan bahwa Livi Zheng adalah salah satu sutradara favoritnya dan yakin bahwa penonton akan menikmati acara ‘Amazing Blitar’, termasuk film ‘Blitar’-nya.

Lebih jauh, acara ‘Amazing Blitar’ selain diisi dengan sejumlah tarian nusantara, yang menunjukan kekayaan budaya Indonesia dan sekaligus menunjukan Bhinneka Tunggal Ika atau Unity in Diversity, juga sambutan oleh Julia Gouw, selaku sponsor acara konser, pentas seni dan film premiere. Sambutan lainnya dilakukan oleh Konsul Jenderal RI di LA serta Bupati Rijanto. (balipost)

Terjunkan Arkeolog Teliti Batu Neolithikum di Banyuwangi

foto
Tim BKX mengecek Watu Lumpang di Desa Aliyan, Banyuwangi. Foto: BKX for TIMES Indonesia.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur akan segera menerjunkan arkeolog dan tim cagar budaya ke lokasi penemuan batu Neolithikum berupa Watu Gong dan Watu Lumpang.

“Ya. Kita akan menurunkan tim cagar budaya dan arkeolog staf bidang kebudayaan untuk menindaklanjuti temuan batu tersebut. Apakah memang benar keberadaannya, dan akan menentukan langkah selanjutnya,” kata Sekretaris Disbudpar Banyuwangi, Choliqul Ridho dikutip TIMESIndonesia.co.id, Senin (30/4).

Tim cagar budaya dan arkeolog, kata Ridho, dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan akan segera datang ke Desa Wonosobo, Kecamatan Srono dan Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, tempat ditemukannya dua batu tersebut oleh tim Blambangan Kingdom X-plorer.

Secara khusus, Disbudpar mengapresiasi semangat komunitas pecinta sejarah Blambangan, BKX yang telah peduli terhadap pelestarian benda-benda atau situs peninggalan sejarah.

Seperti diberitakan sebelumnya, komunitas pegiat sejarah Blambangan Kingdom X-plorer (BKX) melakukan ekspedisi di wilayah peradaban kuno di Dusun Watugong, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono dan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, pada Minggu (22/4) lalu.

Komunitas yang aktif melakukan penelitian sejarah di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur ini sebelumnya telah mendapat informasi tentang keberadaan situs batu Neolithikum di dua desa tersebut. (ist)

Hari Ini, Pesan Kebangsaan Guntur Soekarno Putra

foto
Puti Guntur Soekarno diapit ayah dan ibunya. Foto: Istimewa.

Sedikitnya 1.500 kalangan soekarnois, marhaenis dan nasionalis se-Jawa Timur bakal menegaskan dukungannya kepada pasangan Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno di Grand City Convention Centre Surabaya, Jumat (11/5).

Penegasan dukungan para pengagum Bung Karno itu disampaikan langsung di depan Guntur Soekarno Putra, yang juga ayahanda Puti Guntur Soekarno. Putra pertama Presiden pertama RI itu bakal hadir di acara Temu Kangen Barisan Soekarnois Jawa Timur bersama Guntur Soekarno Putra.

Informasi dari panitia, acara itu akan dihadiri 1.500-an tokoh dari eksponen barisan Soekarnois di Jawa Timur. Di antaranya dari elemen organisasi kaum nasionalis, budayawan, akademisi, elemen GMNI, dan kalangan relawan.

Ketua Tim Pemenangan Internal PDI Perjuangan untuk Gus Ipul-Mbak Puti, Ahmad Basarah, memastikan Guntur akan hadir di Grand City untuk bertemu dengan para pencinta Soekarno se-Jawa Timur.

“Sejak menghilang dari panggung politik nasional awal tahun 1970-an, baru kali ini Mas Tok (sapaan akrab Guntur) mau tampil lagi di hadapan publik,” kata Ahmad Basarah, Kamis (10/5) malam.

Politisi yang juga Wakil Ketua MPR RI itu menyebutkan, Guntur diagendakan akan menyampaikan pidato kebangsaan. Selain itu, Guntur juga bakal minta doa restu dan dukungan kepada masyarakat Jatim, khususnya kaum Soekarnois, atas pencalonan putri semata wayangnya, Puti di Pilkada Jatim 2018.

Sementara itu, Ketua Panitia Temu Kangen Barisan Soekarnois Jawa Timur Eddy Wahyudi mengungkapkan, pihaknya sudah mendapat kepastian antara 1.500 hingga 2.000 Kaum Soekarnois yang bakal hadir. Menurutnya, mereka terdiri dari 34 simpul organisasi yang berbasis nasionalis.

Mas Tok, jelas Eddy, ingin menyapa dan bertemu Barisan Soekarnois serta Front Marhaenis secara langsung. Gaya pidato Guntur yang mirip Bung Karno, sebut Eddy, akan mengobati rasa kangen kalangan nasionalis terhadap Bapak Pendiri Bangsa.

Sejak zaman orde baru, imbuh Eddy, Guntur jarang terlihat di muka umum. Padahal, imbuh Eddy, pria kelahiran Jakarta 3 November 1944 ini sempat diharapkan masyarakat bisa menggantikan Bung Karno sebagai pemimpin nasional. (sak)

Candi Badut ‘Lepas’ dari Pemkab Malang

foto
Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi, kewenangannya kini berada di Pemprov Jatim. Foto: Ist.

Candi Badut yang terletak di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, secara resmi beralih status sejak dikeluarkannya Keputusan Gubernur Jawa Timur (Jatim) Nomor 188/734/KPTS/013/2017 yang menetapkannya sebagai cagar budaya peringkat provinsi.

Keputusan gubernur Jatim ini ditindaklanjuti dengan surat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim kepada bupati Malang tertanggal 11 April 2018.

Beralihnya status Candi Badut yang awalnya berada dalam pengelolaan Pemkab Malang melalui Perda No 11 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya tentu juga berdampak pada proses pengelolaannya sejak ada Keputusan Gubernur Jatim. Pengelolaan beralih dari tingkat pemerintah daerah ke pemerintah provinsi.

Dalam Perda No 11 Thn 2011 Pasal 75 dan 76 mengenai pendanaan dan pengawasan Candi Badut yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah beralih ke pemerintah provinsi.

Seperti tercatat dalam Peraturan Gubernur Nomor 66 tahun 2015 tentang Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur, khususnya di pasal 3 tentang tugas dan wewenang.

Salah satu poinnya menyatakan, pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap pelestarian cagar budaya. Serta, diikuti dengan frasa lain di poin (h) mengenai pengalokasian dana bagi kepentingan pelestarian cagar budaya.

Peralihan pengelolaan Candi Badut dari cagar budaya peringkat kabupaten menjadi provinsi diharapkan mampu menjadikan berbagai nilai yang terkandung menjadi semakin tersampaikan kepada khalayak umum secara utuh.

Baik mengenai sejarah, struktur candi yang diperkirakan ditemukan oleh pakar arkeologi tahun 1923 tersebut serta hal lainnya. Selain tentunya keberadaan fisik candi yang juga disebut Candi Liswa ini semakin terjaga.

“Untuk mencapai hal itu, tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang benar memahami hal tersebut. Terutama di tataran juru kunci candi yang secara regenerasi belum terlihat ada pergerakan masif. Ini yang kita harapkan kepada pemerintah provinsi setelah Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi,” kata Made Arya Wedanthara, Kadisparbud Kabupaten Malang dikutip MalangTimes.com.

Made Arya melanjutkan, juru kunci candi memiliki peran vital dalam pelestarian cagar budaya, khususnya yang ada di Kabupaten Malang.

Dengan adanya peralihan status tersebut, pihaknya berharap banyak adanya berbagai program dari pemerintah provinsi dalam meningkatkan SDM dan hal lainnya berkaitan dengan situs tersebut.

“Kita mengetahui juru kunci candi sudah sepuh-sepuh (tua, red). Sedangkan geliat pariwisata trennya semakin meningkat. Tentunya membutuhkan anak muda yang memahami dan mampu menyampaikan sejarah serta hal lainnya secara lengkap kepada masyarakat atau wisatawan nantinya,” ujarnya.

Candi Badut menempati luas lahan sekitar 52,4 x 52,4 meter. Ukuran bangunan panjang dan lebar 11 m dan tingginya 3,62 m. Untuk deskripsinya, Candi Badut terdiri dari tiga halaman, yaitu halaman inti yang masuk sebagai tempat cagar budaya, serta halaman II dan III.

Berbahan dasar batu andesit dan menghadap ke barat yang ditandai dengan pintu masuk pada sisi barat bagian candi. Sedangkan untuk bagian tubuh candi terdapat relung-relung sebagai tempat arca yang kini hanya berisi arca Durga Mahasasuramardini di relung sebelah utara. Pada bilik candi terdapat lingga yang masih utuh, sedangkan yoni sudah rusak. (ist)

Lestarikan Budaya, Warga di Gresik Gelar ‘Udik-Udikan’

foto
Warga berebut uang koin saat ‘Udik-Udikan’ saat tradisi Sedekah Bumi. Foto: TIMES Indonesia/Akmal.

Ratusan masyarakat Desa Dukuhkembar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik menggelar kegiatan Sedekah Bumi. Hal itu bertujuan untuk melestarikan budaya dan tradisi.

Sejak Kamis (3/5) pagi, warga sudah berkumpul di makam sesepuh desa, tua, muda, anak-anak berkumpul. Sebelum memulai tradisi, mereka menggelar tahlil dan mendoakan orang – orang yang sudah meninggal.

Masih di makam sesepuh desa yang juga tokoh agama, para warga berkumpul, mereka membawa ratusan jajanan dari rumah yang didoakan oleh tokoh agama desa. Setelah didoakan, mereka makan bersama.

Suasana akrab terjadi, mereka percaya, keberkahan akan selalu didapat usai mengikuti tradisi tersebut. Uniknya, diakhir kegiatan tersebut, mereka juga menggelar “Udik-Udikan” atau membagikan uang logam.

Menurut Kepala Desa (Kades), Dukuhkembar, Asikin mengatakan, kegiatan tersebut sudah dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun silam. Hingga kata dia, para warga mempercayai bahwa Sedekah Bumi dapat mendatangkan keberkahan.

“Sudah bertahun-tahun. Ya, harus selalu diadakan, ini dilakukan untuk mengakrabkan warga sekaligus melestarikan adat istiadat,” katanya dikutip TIMESIndonesia.co.id, Kamis (3/5).

Asikin membeberkan, kegiatan tahunan itu tiap kali dilakukan saat satu bulan sebelum Bulan Ramadan. Dirinya berharap, tradisi ini tak pernah hilang dan tetap dilestarikan oleh warga.

Dikatakan dia, kegiatan ini juga sebagai sarana warga untuk berkumpul. “Ya, semua warga desa berkumpul. Bahkan yang merantau mereka pulang,” tutur dia.

Keunikan lain, jika biasanya juru masak adalah perempuan. Khusus dalam Sedekah Bumi, kaum hawa tak dilibatkan, semua urusan dapur dikerjakan oleh kaum adam.

Mulai dari memotong daging, memasak, hingga menyajikan semua dilakukan oleh kaum laki-laki. “Tak tahu persis alasanya apa, pokoknya kalau waktu Sedekah Bumi, yang memasak adalah laki-laki,” tambah juru masak, Mat Sukri (56).

Salah satu warga Sudiman mengaku, jika kegiatan Sedekah Bumi merupakan salah satu sarana untuk berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Dia mengaku, mencari berkah. “Selalu ikut setiap tahunnya,” jelas dia. (ist)