Puti Guntur Soekarno saat berada di pondasi rumah yang pernah ditempati Bung Karno. Foto: Istimewa.
Sebagai cucu Bung Karno, setiap kampanye ke berbagai daerah di Jawa Timur, Cawagub Puti Guntur Soekarno selalu menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang terkait erat dengan eyangnya, Ir Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia.
Seperti saat ke Jombang pertengahan April lalu, Puti Guntur mendatangi rumah yang dulunya pernah ditempati Bung Karno saat masih muda. Rumah tersebut terletak di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso.
Tidak seperti bekas tempat tinggal Bung Karno muda di Ndalem Pojok, Wates, Kabupaten Kediri yang sekarang masih berdiri dan terawat dengan baik. Di Ploso Jombang, bekas rumah pendiri republik ini, sekarang tinggal pondasinya dan sudah ditumbuhi tanaman.
Kus Hartono, seorang sejarawan yang mendampingi Mbak Puti di Rejoagung mengatakan, dulunya Kusno (nama Bung Karno saat masih bocah) pindah dari Surabaya ke Jombang sekitar Desember 1901. “Kusno pindah ke Jombang karena ikut ayahnya, Raden Sukemi yang dipindahtugaskan mengajar ke Ploso sini,” jelas Kus Hartono.
Kusno sendiri tinggal di rumah tersebut sampai tahun 1905 dan sempat belajar mengaji kepada KH Abdul Mukti, pengasuh Ponpes Kedungturi. “Dari rumah ini juga penggantian nama Kusno ke Soekarno digagas walaupun resmi digantinya di kota lain,” tambah Kus.
Dia berharap, dengan kedatangan Mbak Puti di kemudian hari ada perhatian lebih kepada rumah tersebut. Misalnya dibuat monumen cagar budaya yang menunjukkan di tempat itu dulunya terjadi peristiwa penting.
Selain di Jombang, Kusno atau Bung Karno pernah tinggal di Ndalem Pojok, Wates, Kabupaten Kediri. Di sini, Bung Karno punya ayah angkat, namanya RM Soerati Soemosewojo.
Di masa muda Kusno sering sakit, sehingga ayah angkatnya mengganti namanya menjadi Soekarno. “Perubahan nama itu dilakukan di Ndalem Pojok,” ungkap kata Kus Hartono.
Sementara itu, Puti Guntur pun berharap bekas rumah Bung Karno di Ploso, Jombang, lebih diperhatikan. “Saya akan sampaikan ini ke Yayasan Bung Karno, karena mereka juga memperhatikan napak tilas dan peninggalan-peninggalan Bung Karno,” katanya. Selain itu Mbak Puti juga berharap Pemkab Jombang lebih memperhatikan rumah peninggalan Bung Karno tersebut. (ist)
Zainul Arifin, penerima program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016. Foto: Tempo.co.
“Jadilah orang Indonesia yang berkearifan lokal, sehingga Anda tahu bahwa nusantara memang benar-benar Bhinneka Tunggal Ika. Yang sama jangan dibedakan, yang beda jangan disamakan,” kata Zainul Arifin di masa penjurian program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016.
Zainul adalah salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards dalam upayanya menanam serta menumbuhkan rasa nasionalis dan cinta kekayaan bangsa melalui seni budaya serta kearifan lokal.
Pria muda asal Lumajang, Jawa Timur ini memiliki gagasan dalam sebuah program yang bertajuk “Pengenalan Pendidikan Kearifan Lokal melalui Sadar Wisata dan Musik Tradisional Daerah.”
Sejak tanggal 10 November 2007, ia bersama warga desa tempat kelahirannya membentuk program desa wisata. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana berbagi kearifan lokal, namun juga menumbuhkan usaha ekonomi baru dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat sekitar.
Tidak mudah bagi Zainul untuk meyakinkan warga setempat tentang program yang ia miliki. Awalnya mengenalkan musik Danglung sebagai musik khas Lumajang sempat ditolak oleh warga karena dinilai sesat.
Perlahan tapi pasti, Zainul pun berhasil mendapatkan kepercayaan warga, bahkan banyak dari warga pun akhirnya mengikuti program gagasannya.
Setelah menerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016, Zainul pun semakin jauh mengembangkan program ini. Ia memanfaatkan dana yang diberikan untuk pembinaan ke kelompok sadar wisata dan pembinaan masyarakat, serta pelestarian seni budaya.
Sejumlah kegiatan pun dilakukan oleh Zainul, antara lain Peluncuran Kampung Kreatif Dingklik Pasinan serta lomba yel budaya anti narkoba yang bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional di Lumajang dan sekitarnya.
Bahkan, Zainul pun melanjutkan kerjasama pengembangan dan pelestarian budaya dengan Raja Ubud Dr Ir Tjokorda Oka, yang telah terjalin sejak tahun 2013.
Kepedulian Zainul Arifin terhadap pengenalan budaya serta pemberdayaan masyarakat desa di tempat asalnya adalah satu di antara banyak cerita para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards.
Pemuda pemudi seperti Zainul masih banyak lagi tersebar di seluruh pelosok tanah air Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut lagi tentang generasi muda kreatif lain dalam program SATU Indonesia Awards, silakan kunjungi website http://www.satu-indonesia.com. (ist)
Tenda rusak membuat situs pemukiman Majapahit ditutup. Foto: Detikcom/Enggran Eko B.
Bangunan tenda raksasa yang menaungi situs pemukiman Majapahit di Museum Majapahit, Trowulan, Mojokerto rusak cukup parah. Akibatnya, para wisatawan tak bisa melihat situs tersebut.
Selain itu, struktur bata kuno di situs ini terancam rusak tergerus air hujan. Situs yang terletak di sisi selatan area Museum Majapahit ini dinaungi 5 tenda raksasa. Di setiap tenda terdapat tangga dari kayu dengan kerangka besi untuk wisatawan menuju ke lantai dua.
Lantai 2 merupakan balkon yang sengaja dibuat agar wisatawan lebih leluasa melihat situs pemukiman dari ketinggian, selain berfungsi sebagai pelindung situs dari panas dan hujan.
Namun, situs yang biasanya ramai dikunjungi itu kini sepi. Sebab tangga untuk melihat situs dari ketinggian di masing-masing tenda ditutup oleh pengelola Museum Majapahit karena banyaknya konstruksi tenda yang rusak.
Kondisi tangga dari kayu juga berlubang lantaran kayu pijakannya banyak yang lepas dan rapuh. Begitu juga kondisi lantai kayu di bagian atasnya. Kerusakan ini terjadi pada kelima tenda.
Atap salah satu tenda di situs pemukiman Majapahit telah terlepas sehingga struktur bata kuno di bawahnya tak terlindungi. Bahkan situs purbakala tersebut hanya ditutupi dengan lembaran seng seadanya.
Kepala Unit Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) Muhammad Ichwan mengatakan, kerusakan 5 tenda pelindung situs pemukiman Majapahit terjadi sejak awal 2017. Lepasnya pijakan kayu pada tangga maupun lantai dua terjadi akibat terpaan hujan dan panas matahari. Sementara lepasnya atap tenda akibat diterjang angin kencang.
“Kami tutup untuk keamanan wisatawan, selain kami tutup juga kami beri tulisan peringatan agar pengunjung tak nekat menerobos,” katanya kepada Detikcom.
Ichwan mengakui, lepasnya atap tenda berpotensi merusak struktur bata kuno situs pemukiman Majapahit. Untuk meminimalisir kerusakan, pihaknya saat ini hanya bisa menutup situs dengan lembaran seng. “Situs di bawahnya kami beri pengamanan sementara dengan seng. Kurang maksimal memang,” tambahnya.
Kerusakan tenda ini, lanjut Ichwan, sudah disurvei dan didata untuk dilaporkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun sampai saat ini belum ada alokasi anggaran untuk perbaikan. “Sudah saya laporkan ke atasan saya. Insya Allah juga sudah dilaporkan ke pusat (Kemendikbud, red),” tandasnya. (dtc)
Potensi geopark Watu Gandul di Bojonegoro. Foto: Okezone/Avirista.
Selain Bukit Tono, Desa Sambongrejo yang terletak di lereng perbukitan Kendeng Selatan ini memiliki satu objek wisata lain yang juga unik. Objek wisata Watu Gandul namanya, berasal dari bahasa Jawa, ‘watu’ berarti batu, sedangkan ‘gandul’ berarti menggantung.
Ya, objek wisata Watu Gandul ini memang terletak seolah-olah menggantung dari daratan. Meski demikian, tak berarti menggantung sepenuhnya namun batu tersebut menggantung di bagian bukit tanpa menyentuh batu di bagian bawahnya.
“Watu Gandul ditetapkan sebagai geopark oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro melalui surat keputusan,” ungkap Kepala Desa Sambongrejo, Eko Prasetiono saat ditemui di Bojonegoro, baru-baru ini.
Terletak di Dusun Kaliasin, Desa Sambongrejo, batu jenis andesit yang terletak di perbukitan Desa Sambongrejo ini menampilkan pemandangan yang eksotis. Deretan perbukitan dengan batuan andesit terhampar berpadu dengan deretan hutan dan persawahan nan hijau.
Tentu yang menarik dari tata letak watu gandul ini yakni batu di atas yang terletak di atas batu besar. Batu tersebut seolah tertata menyerupai sebuah gapura menyambut pengunjung yang datang.
Perpaduan warna batu dengan akar-akaran pohon yang menjulur panjang dan pepohonan hijau di sekitar batuan membuat spot yang diciptakan Tuhan ini sangat kece dan terlihat menakjubkan.
Namun disarankan bila ke sini, saat memasuki musim kemarau, mengingat saat musim hujan medan menuju ‘Watu Gandul’ ini didominasi tanah dan jalanan terjal berbatuan.
Bagi Anda yang ingin mengunjungi Watu Gandul pun tak perlu mengeluarkan biaya tiket masuk karena oleh pihak désa selaku pengelola belum ada tarif resmi yang diberlakukan kepada wisatawan.
“Kita belum pasang tarif tiket. Ini masih proses pengembangan sejak dikenalkan tiga tahun lalu,” tambah Eko.
Ia menambahkan pengembangan ini masih perlu dilakukan terutama untuk menyediakan akses jalan yang layak dan pengelolaan yang lebih profesional. Ia juga mengimbau warga terutama pemuda desa untuk lebih menjaga anugerah Tuhan yang diberikan ke Desa Sambongrejo ini.
Mengingat selama ini kesadaran dari masyarakat untuk menjaga masih kurang. “Kendalanya masyarakat terutama pemuda sulit diajak maju karena terkendala SDM. Padahal Pokdarwisnya (Kelompok Sadar Wisata) sudah dibentuk. Tapi pengelolaannya belum maksimal,” keluhnya.
Meski demikian dengan potensi yang ada bukan tak mungkin Watu Gandul yang telah ditetapkan sebagai geopark bisa menjadi wisata andalan Gondang dan Bojonegoro.
Jika Anda tertarik menjelajah potensi Desa Sambongrejo, Anda dapat menuju arah Jalan Raya Bojonegoro-Nganjuk melalui rimbunnya hutan jati di kawasan Temayang dan Gondang. Sesampainya di pertigaan terminal Gondang anda dapat mengambil jalan lurus menuju pusat kecamatan Gondang.
Dari pertigaan tersebut jarak Desa Sambongrejo dapat ditempuh dengan jarak 6 km atau dengan waktu tempuh 15 menit. Jadi tak ada salahnya kalau berada di Bojonegoro menikmati petualang di wilayah selatan. Selain potensi alamnya yang eksotis, Anda akan disuguhi keramahan masyarakat dan eksotisme budaya. (ist)
Candi Kedaton, salah satu peninggalan kerajaan Majapahit di Probolinggo. Foto: Detikcom/M Rofiq.
Keberadaan Candi Lawang Kedaton atau yang lebih akrab disebut Candi Kedaton ini sungguh memprihatinkan. Salah satunya karena cagar budaya peninggalan kerajaan Majapahit itu tidak dilengkapi fasilitas pendukung bagi wisatawan.
Bahkan sisi samping candi di mana batu reruntuhan candi disimpan juga terlihat tak terawat. Beberapa atap dan kayu penyangga ruang penyimpanan itu sudah tidak layak lagi. Dinding kayunya pun keropos.
Niman (49) salah satu penjaga Candi Kedaton mengatakan, candi tersebut memang banyak dikunjungi, namun fasilitas pendukungnya masih belum tersedia.
“Terutama belum ada pembangunan toilet sehingga kalau ada wisatawan yang berkunjung mereka kesulitan dengan fasilitas tersebut,” katanya saat ditemui Detikcom di lokasi candi, Rabu (18/4).
Tak hanya fasilitas toilet yang perlu untuk dibangun namun juga pos penjagaan untuk keamanan candi. Bagian kaca di pos tersebut sudah mulai hancur berikut langit-langit di pos tersebut.
Niman mengaku sudah mengusulkan penambahan fasilitas tersebut kepada pengelola candi, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Mojokerto. “Kami sudah usulkan untuk ada penambahan fasilitas tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Andung Biru Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo, Sam mengatakan pihaknya sangat mendukung jika sektor pariwisata alam dikembangkan di wilayahnya, di mana Candi Kedaton termasuk di dalamnya.
“Untuk tahun kemarin akses jalan menuju Candi Kedaton sudah ada perbaikan meski hanya 1,5 meter,” ujarnya.
Namun baginya, ini akan mempermudah akses bagi wisatawan menuju ke lokasi candi. “Sebab lokasi candi ini berada di bawah tebing sehingga wisatawan harus turun dengan berjalan kaki menuju ke tempat tersebut,” tutupnya.
Candi Kedaton sendiri berdiri pada abad ke 14, tepatnya pada zaman kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Menurut Niman, candi yang terletak di Desa Andung Biru Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo merupakan tempat persinggahan Dewi Rengganis.
Dewi Rengganis merupakan sepenggal legenda yang tersiar di masyarakat sekitar. Konon, saat dilamar raja Majapahit, ia meminta syarat dibangunkan candi yang sekarang dikenal dengan Candi Kedaton ini serta taman hidup yang ditumbuhi bunga-bunga yang indah, sebagai syarat untuk memiliki Dewi Rengganis yang terkenal akan kecantikannya. (dtc)
Gunung Penanggungan dilihat dari Ubaya Traing Center. Foto: Istimewa
Segepok koin mata uang kuno Tiongkok jadi perhatian banyak orang. Puluhan koin yang masih menumpuk dan berbalut tanah liat tersebut tampak sudah kusam karena lama terpendam.
Puluhan koin mata uang Tiongkok ini ditemukan di salah satu sisi situs gunung Penanggungan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Setelah diteliti, koin mata uang tersebut berasal dari zaman Dinasti Ming saat pemerintahan kaisar Yongle di awal abad 15 masehi.
Koin mata uang ini diduga digunakan sebagai alat perdagangan antara pedagang Tiongkok dengan pribumi.
Selain koin mata uang, benda purbakala yang juga jadi perhatian adalah terakota atau gerabah yang merupakan miniatur sebuah bangunan atau orang.
Koin mata uang Tiongkok dan terakota itu merupakan dua dari banyak benda purbakala temuan tim ekspedisi Universitas Surabaya (Ubaya). Benda-benda tersebut dipamerkan dalam peresmian Ubaya Penanggungan Center (UPC).
UPC adalah lembaga milik Universitas Surabaya (Ubaya) yang bergerak di bidang informasi arkeologi khususnya situs gunung Penanggungan. UPC berada di kompleks Ubaya Training Center (UTC) Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Mojokerto.
Rektor Ubaya, Joniarto Parung mengatakan, UPC diharapkan jadi pusat informasi arkeologi dan sejarah bagi masyarakat khususnya situs Gunung Penanggungan yang kaya dengan temuan arkeologi.
Selain sebagai pusat informasi, UPC juga melakukan kajian atas temuan-temuan arkeologi di gunung Penanggungan.
Sementara itu, salah satu peneliti tim ekspedisi Ubaya, Hadi Sidomulyo, mengatakan sejak ekspedisi yang dilakukan tahun 2012 hingga sekarang sudah ditemukan lebih dari 100 situs.
Peneliti berkebangsaan Inggris bernama asli Nigel Bullough itu berpendapat situs gunung Penanggungan layak jadi situs warisan dunia karena banyak dan beragamnya temuan cagar budaya.
Gunung Penanggungan merupakan gunung suci bagi penganut agama Budha dan Hindu. Di gunung ini banyak ditemukan tempat-tempat pemujaan seperti candi kecil, punden berundak, goa pertapaan, gapura, petirtaan, dan sebagainya.
Situs tertua di Penanggungan adalah petirtaan Jolotundo yang berangka tahun 977 masehi atau abad ke-10.
Temuan mutakhir yang cukup fenomenal adalah jalur pendakian kuno dari tumpukan bebatuan pada 2016 lalu. Jalur atau jalan tersebut ada yang berbentuk melingkar mengitari badan gunung dan berbentuk zig zag menuju puncak gunung.
Jalur pendakian itu diduga sengaja dibangun untuk mempermudah orang yang akan melakukan ritual di beberapa lokasi pemujaan baik di badan maupun puncak gunung. (ist)
Maestro tari, Temu Misti di kediamannya Desa Kemiren, Banyuwangi, Foto: Kompas.com/Ira Rachmawati.
Temu Misti (65), warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah maestro tari Gandrung yang tetap melestarikan tari Gandrung selama 50 tahun lebih. Perempuan sederhana tersebut sudah menjadi Gandrung sejak tahun 1968 ketika berusia 15 tahun.
Kepada Kompas.com, Jumat (21/4/2018), perempuan yang terkenal dengan panggilan Gandrung Temu tersebut bercerita jika dia terlahir dengan nama Misti dan dibesarkan oleh Khatijah, bibinya yang tidak memiliki anak.
Saat usianya 1 tahun, Misti menderita sakit panas dan dibawa ke rumah seorang dukun untuk disembuhkan. Sepulang dari dukun, Misti kecil dan ibu angkatnya mampir ke rumah Mak Tiah, seorang juragan Gandrung dan saat itu memberi makan Misti dengan nasi panas.
“Saat itu Mak Tiah bilang kalau saya sembuh harus diganti nama dengan Temu dan jika besar akan jadi penari Gandrung. Karena sembuh, akhirnya nama saya menjadi Temu Misti. Saat saya kelas 5 SD, Mak Tiah datang ke rumah untuk meminta saya menjadi penari Gandrung. Tapi ibu menolak karena saya masih kecil,” kata Gandrung Temu.
Perempuan kelahiran 20 April 1953 tersebut pertama kali tampil sebagai Gandrung ketika Sutris, seorang juragan Gandrung memintanya untuk bergabung.
Temu pun akhirnya luluh setelah dibujuk oleh Mak Tijah, kakak ipar ibunya yang juga tukang rias Gandrung. Temu yang selama ini belajar secara otodidak dengan memperhatikan penari Gandrung di dekat rumahnya akhirnya tampil di hadapan penonton sebagai Gandrung profesional untuk pertama kalinya. “Saat itu saya nari tanpa pamitan ke ibu,” ceritanya sambil tertawa.
Pada tahun 1970-an, menurut Gandrung Temu, adalah puncak kejayaan kesenian Gandrung. Hampir tiap malam, dia selalu tampil untuk menghibur para penonton.
Bahkan pernah hampir dua bulan lamanya dia tidak pulang dan berkeliling menari bersama grup Gandrung-nya. Bukan hanya di sekitar rumahnya, bahkan hingga ke wilayah Banyuwangi Selatan dan luar kota Banyuwangi. Dalam satu bulan, jadwal menari Gandrung Temu minimal 20 malam.
“Waktu itu dikenal dengan grup Gandrung Temu. Ya itu namanya. Belum ada nama kayak sekarang. Saya pernah tampil sampai ke selatan sana. Jalan kaki terus naik perahu. Ya alat-alatnya dibawa. Dulu kan masih sederhana alatnya dan nggak banyak kayak sekarang,” ceritanya.
Bahkan pada zaman dulu, Gandrung Temu saat menyanyi tidak menggunakan pengeras suara, hingga dia memaksimalkan suaranya. Bahkan untuk melatih napas, dia berendam dan tenggelamkan kepala dalam beberapa menit.
“Jika nggak dilatih gitu, suara saya ya kalah sama panjak atau pemain musik dan penontonnya nggak akan dengar. Pertama nyanyi, besoknya suaranya habis,” kenangnya sambil tertawa.
Pada tahun 1980-an, suara emas Gandrung Temu direkam oleh Smithsonian Folkways, Amerika Serikat dan album “Song before Dawn” yang berisi suara Gandrung Temu dirilis pada tahun 1991. Penari Gandrung asal Jakarta, Bali dan Semarang saat acara meras gandrung di Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur.
Menurutnya, ada 11 lagu Gandrung yang saat itu direkam antara lain Delimoan, Chandra Dewi dan Seblang Lukinto. Dia mengaku hanya dibayar Rp 250.000 tanpa ada kontrak kerja sama. Selain itu, dia hanya mendapatkan sampul album Songs Before Dawn yang di pigura dan sempat dipajang di dinding rumahnya.
Selama bertahun-tahun, dia tidak mengetahui jika suara emasnya dijual di sejumlah situs bisnis di Amerika dan Eropa.
“Saya nggak mau bahas itu. Biar saja. Dulu janjiannya direkam untuk kegiatan penelitian tapi saya sempat dengan katanya dijual. Yang penting saya bisa menghibur banyak orang. Saya nggak masalah nggak dapat apa-apa. Tuhan tidak tidur,” jelasnya.
Gandrung Temu sempat berhenti menjadi Gandrung ketika dia menikah di usia 18 tahun. Namun pernikahan itu hanya bertahan selama dua tahun. Dia kembali menikah pada tahun 1977 namun kembali lagi bercerai karena suami keduanya cemburu dan suka memukul.
Suaminya yang ketiga bernama Adis dan mereka menikah pada tahun 2014. Mbok Temu sendiri tidak memiliki anak, namun dia mengasuh keponakannya yang saat ini duduk di SMA Luar Biasa Banyuwangi.
“Tidak semua orang bisa punya anak tapi saya seneng bisa ngangkat anak dan menyekolahkan hingga SMA. Dia tuna wicara, tapi saya pernah menganggap dia anak angkat,” katanya.
Pada tahun 1982 dia membuka toko kelontong kecil di depan rumahnya dan akhirnya tutup pada tahun 2006 karena penghasilannya sebagai Gandrung berkurang dan modal tidak berputar. Masa kejayaannya meredup awal tahun 2000-an.
Semakin lama, panggilan tanggapan untuk menari semakin sepi karena kalah dengan dangdut electone. Bahkan Gandrung Temu pernah tidak mendapatkan job sama sekali dalam sebulan. Ia kemudian banting setir mengurusi sawah dan memelihara ayam di belakang rumahnya yang sederhana untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
Ayam-ayam peliharaannya tersebut dijual jika ada warga yang akan membuat pecel pitik untuk selamatan. Namun saat ini ayam kampung peliharaannya tinggal 25 ekor karena banyak yang mati karena diserang penyakit.
“Kalau dulu kan buat pecel pitik hanya selamatan atau lebaran sekarang hampir tiap hari ada yang buat karena banyak wisatawan yang datang. Jadi belinya ke saya. Walaupun nggak banyak ya disyukuri saja,” ceritanya.
Selain itu, dia juga mengajari anak-anak menari Gandrung di halaman rumahnya setiap hari Minggu. Bahkan dia juga telah melatih dan mencetak para penari Gandrung profesional seperti dirinya.
Pada tahun 2015, Gandrung Temu sempat menari dan tampil di Jerman mewakili budaya Banyuwangi dan sempat beberapa kali tampil di Jakarta untuk misi kebudayaan.
“Menjadi Gandrung itu nggak gampang. Kita harus bisa jaga diri karena tampil di hadapan orang. Kalau dulu jarak penari dengan penonton bisa satu meter bukan kayak sekarang yang deket-deketan malah kadang saya risih melihatnya,” katanya.
Pada tahun 2015, rumah Gandrung Temu juga menjadi jujugan 15 pelajar dari seluruh Indonesia belajar tari Gandrung pada maestro. Mereka mendaftar secara online pada Kegiatan Belajar bersama Maestro di Program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Selain Gandrung Temu, ada 10 maestro tari di Indonesia yang menjadi tempat belajar para pelajar. Penari nasional Didik Nini Thowok juga pernah belajar menari Gandrung ke Mbok Temu, maestro tari Gandrung asal Banyuwangi, Jawa Timur.
Didik berkunjung ke rumah Mbok Temu yang berada di Desa Kemiren, Desa Glagah, Banyuwangi pada Mei 2017. Walaupun usianya sudah tidak lagi muda, Gandrung Temu masih tetap menerima orderan untuk tampil sebagai Gandrung dan telah memiliki grup Gandrung dengan nama “Sopo Ngiro”.
Namun dia tidak menari sendiri tapi mengajak minimal dua orang Gandrung muda untuk tampil dengannya.
“Gandrung itu bukan hanya bisa menari tapi juga harus bisa bernyanyi serta menghibur penonton semalam suntuk tanpa harus merendahkan diri kita sendiri. Kalau ditanya sampai kapan saya jadi Gandrung ya sampai saya nggak kuat lagi. Menjadi Gandrung itu sudah takdir dan saya nggak mau nanti Gandrung hilang dari Banyuwangi. Semampu saya akan terus saya ajarkan Gandrung ke generasi muda di bawah saya. Biar mereka yang nanti meneruskan jika saya meninggal,” katanya. (ist)
Pentas ‘Legenda Danau Ranu Grati dan Sholeh Semendi’ di TMII. Foto: Istimewa.
Agama kerap menjadi sumber inspirasi bagi para seniman. Menjadi pembangkit daya cipta untuk mewujudkan segala sesuatu yang bernilai seni.
Sejak masa kepercayaan primitif, hingga keyakinan masa millenials, agama telah menginspirasi karya kesenian dalam corak yang khas dan menakjubkan.
Karya dengan stimulus agama inilah yang ditampilkan oleh tim kesenian daerah, dari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Mereka mementaskan seni drama tari bertajuk, ‘Legenda Danau Ranu Grati dan Sholeh Semendi’, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pekan lalu.
Mbah Sholeh Semendi, diceritakan adalah putra dari Sultan Maulana Hasanudin, seorang ulama pejuang yang gigih dari Banten.
Ketika Banten bergejolak, Mbah Sholeh keluar dari Banten dan memilih syiar Islam di Pasuruan. Jasanya cukup besar dalam penyebaran Islam di Pasuruan.
Nama Semendi sendiri tercipta karena Mbah Sholeh memang biasa bersemedi (meditasi-tapa).
“Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Sidogiri. Ini salah satu warisan budaya yang terus berkembang. Sampai sekarang nama mbah Sholeh masih banyak dikenang warga Pasuruan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan Drs Agung Mariyono MSi, usai menyaksikan pertunjukan.
Pondok Pesantren Sidogiri dan Mbah Sholeh Semendi adalah artefak peradaban Indonesia, sebuah interelasi yang dibangun sebagai institusi pendidikan keagamaan bercorak tradisional, unik, dan indigenous; Islam khas Nusantara.
‘Mbah Sholeh Semendi’ adalah simbol sifat kharismatik dan suasana kehidupan keagamaan harmoni, selaras, seimbang, yang abad ini makin sulit ditemukan karena terimbas pragmatisme kepentingan sesaat.
Lakon ini sebenarnya dapat dimaknai lebih mendalam, dari sekedar cerita-cerita legenda yang bersifat mitos.
Pemilihan tema dan aktualisasi cerita menjadi penting agar pertunjukan ini lebih berdaya guna sebagai ajang apresiasi seni dan budaya.
Lakon ‘Mbah Sholeh Semendi,’ sungguh menarik ditampilkan sebagai isu sosial budaya, di tengah model dakwah abad ini yang penuh amuk, kerap menampilkan wajah Islam yang sarkastis.
Dari pergelaran ini, mari belajar toleran dengan Mbah Sholeh Semendi, penyebar ajaran Islam pertama di Pasuruan. Tokoh ulama, yang mengajarkan nilai-nilai Islam dengan mengedepankan hakekat cinta, dan memanfaatkan budaya sebagai sarananya.
Pergelaran yang dibawakan para seniman muda sebagai duta seni daerah Pasuruan ini cukup memikat. Fragmen dengan pendekatan seni tari ini berjalan dinamis, dengan berbagai gerak tubuh indah dan lincah, membawa imajinasi penonton memaknai cerita.
Tata kostum yang penuh warna sekaligus mencirikan karakteristik kultur masyarakat Pasuruan dengan kekayaan alam yang bertopografi daratan yang datar, gunung, dan lautan.
Penulisan dan penyutradaraan lakon ‘Mbah Sholeh Semendi’ dipercayakan kepada Yuli Asmaning Rita. Penata Tari Sugeng Hariyatin, Penata Musik Mochammad Maskur SSn, Penata Artistik dan Setting Panggung Hakim dan Anharul Huda, serta Kostum dan Make-up dipercayakan kepada Dwi Wahyuningsih SPd. (ist)
Mbah Sikin memperlihatkan batu yang katanya tak bisa dihancurkan. Foto: Detikcom/Charolin Pebrianti.
Seorang kakek di Ponorogo menemukan batu yang tak lazim di pekarangan rumahnya. Siapa sangka, batu itu ternyata tak bisa dihancurkan. Batu itu ditemukan saat sang kakek yang bernama Mbah Sikin (75) akan membangun rumah. Saat meratakan tanah, ia menemukan sebuah batu.
“Awalnya saya kira batu biasa, tapi dihancurkan tidak bisa. Dilinggis pun tidak rusak, karena kuat saya simpan,” terang Mbah Sikin kepada detikcom saat dijumpai di rumahnya, Jumat (14/4).
Bukan hanya pria berusia 75 tahun itu saja yang dibuat kebingungan. Suatu ketika, ada tetangga yang bermaksud mengambil batu bata itu.
“Dulu ada tetangga yang ingin mengambil batu bata ini, tapi malah sekeluarga sakit. Saat dikembalikan ke tempatnya, keluarganya sembuh,” papar Mbah Sikin.
Tidak hanya itu, bapak dua anak ini mengaku 8 ternaknya mati secara mendadak. Kata Mbah Sikin, ada 8 ekor sapi miliknya yang mati tanpa diduga-duga.
“Kata orang sepuh (tua, red) karena saya bakar batu bata menghadap ke tumpukan batu yang tadi, jadinya sapi saya yang mati,” lanjutnya.
Akibat kejadian aneh tersebut, Mbah Sikin dan warga sekitar pun tak berani mengutak-atik tumpukan batu bata sekaligus batu yang ditemukan pria ini. Bahkan mereka menganggap benda-benda itu keramat.
Mbah Sikin mengaku menemukannya sejak tahun 1968. Namun karena tak bisa dihancurkan itulah, ia hanya menyimpan batu berbentuk kubus berukuran 40 cm x 40 cm x40 cm itu di rumahnya.
Selama itu pula batu ini dijadikan sebagai penyangga tempat penampungan air oleh warga warga Dusun Tumpuk, Desa Kemiri, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo tersebut.
Tak hanya itu, bapak dua anak ini juga mengungkapkan di sekitar tempat penemuan batu tersebut juga ada tumpukan batu bata. Mbah Sikin dan warga sempat menduga jika tumpukan batu bata adalah bebatuan dari zaman kerajaan.
Hal ini juga terlihat dari bentuknya yang tampak berbeda dari batu bata masa kini karena batunya lebih besar dan tebal.
Namun tumpukan batu bata itu kini juga hanya dibiarkan begitu saja di halaman rumah Mbah Sikin. Sejak ditemukan, baik Mbah Sikin maupun warga di sekitarnya memang tak berani mengutak-atik batu-batu itu karena sama-sama tak bisa dihancurkan.
Sejak saat itu Mbah Sikin menjadikannya penyangga tempat penampungan air. Hingga sekitar sepekan yang lalu, ada seorang pemerhati sejarah dari Madiun bernama Anto Purbo yang mendatangi rumahnya.
Anto mengungkapkan jika batu yang disimpan Mbah Sikin selama bertahun-tahun sebenarnya adalah batu Yoni, salah satu simbol kesuburan pada era kerajaan Hindu kuno.
Anto memaklumi jika Mbah Sikin tak tahu sama sekali jika itu adalah batu bersejarah. “Karena ketidaktahuan Mbah Sikin ini, makanya batunya hanya disimpan begitu saja. Padahal ini batu sejarah,” tandas Anto.
Namun semenjak pertemuan itu, Anto meminta agar Mbah Sikin merawat dan membersihkan batu berbentuk kubus dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm tersebut.
“Setelah didatangi mas Anto itu, saya akhirnya membersihkan batu yoni ini. Tidak saya pakai untuk menyangga tempat air lagi,” tutur Mbah Sikin.
Salah satu petugas dari Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, Wicaksono Dwi Nugroho ketika dimintai pendapatnya juga meyakini bahwa benda tersebut adalah batu Yoni.
Kendati belum melihat secara langsung, namun ia meyakini hal itu sebab sebelum ini timnya pernah menemukan sebuah prasasti di Desa Jenangan, Kecamatan Jenangan. “Kalau nggak salah didirikan lagi (prasastinya, red) tahun lalu,” pungkasnya. (dtc)
Sekdaprov Jatim membuka Festival Karya Tari Jawa Timur. Foto: Humas Pemprov Jatim.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya meningkatkan pembangunan seni budaya bangsa dengan cara bergandeng tangan membangun gerakan penyadaran akan arti penting pembangunan kebudayaan bagi kemajuan dan kelangsungan bangsa.
Upaya tersebut dilakukan mengingat pada dekade pasca reformasi masalah budaya dan kebudayaan merupakan salah satu hal yang mengemuka diberbagai kesempatan. Termasuk masalah politik dan persoalan lain yang menyelimuti perjalanan bangsa.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr H Akhmad Sukardi MM saat membuka Festival Karya Tari Jawa Timur Tahun 2108 di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jl. Gentengkali 85 Surabaya, Jumat (27/4) malam.
“Panggung kehidupan kita berada di kegamangan yang diakibatkan oleh perubahan berbagai aspek kehidupan yang sangat cepat dan radikal,” ungkapnya.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan, budaya merupakan perajut dan penyelaras kehidupan dalam masyarakat. Namun, kini kalah cepat inkubasinya dibandingkan dengan sambaran globalisasi, tsunami ambisi dan emosi serta gelombang liberalisasi.
Bangsa Indonesia yang dulu dikenal santun, ramah, sabar, toleran, berjiwa gotong-royong dan suka menolong, kini menjadi bangsa yang pemarah, individual, dan bahkan vulgar.
“Generasi muda dan remaja kita sebagian besar sudah masuk dalam jaringan yang terbiasa berkomunikasi secara cepat dan instan melalui internet, facebook, twitter, blackberry messenger, whats up dan media sosial lainnya yang berdampak pada kecenderungan berperilaku kurang sabar, kurang ulet, kurang teliti dan kurang siap kerja keras,” ungkapnya.
Untuk menghadapi dan meredam kondisi yang sedemikian itu, Pemprov Jawa Timur mendorong dan memfasilitasi para seniman untuk meningkatkan kemampuan diri.
Mulai dari cara berpikir, berimajinasi, berkreatifitas, menghayati, bereksplorasi dan berekspresi melalui karya-karyanya dengan menghadirkan karya-karya seni yang memiliki kedalaman nilai, mencerahkan dan menginspirasi kehidupan agar lebih bermakna, beretika dan bermartabat.
Sukardi menggambarkan pula sisi positip dari era globalisasi. Yaitu, apabila dicermati bersama sesungguhnya dapat membuka peluang seluas-luasnya bagi pengembangan produk budaya. Oleh karena itu, perlu diberdayakan secara optimal sehingga menjadi salah satu kekuatan budaya yang handal.
“Festival Karya Tari Jawa Timur mempunyai nilai yang sangat strategis di era global, karena merupakan wahana untuk menyuguhkan kembali sifat-sifat pluralistik masyarakat Jawa Timur yang multikultural dan pencitraan kembali kekuatan kebudayaan sebagai aset bangsa yang harus ditangani secara serius,” ujarnya.
Selain itu, dapat pula sebagai upaya untuk memanfaatkan kekuatan dan kekayaan seni budaya bagi peningkatan kesejahteraan pelaku dan masyarakatnya, serta menciptakan peluang untuk dapat bersaing baik di forum nasional maupun internasional.
Sukardi sangat berharap Festival Karya Tari Jawa Timur melahirkan karya-karya seni baru dengan pendekatan kearifan lokal dan kebhinekaan sebagai penyeimbang terhadap hiruk-pikuk dan anomali yang terjadi di negeri ini. “Saya mengajak semua yang hadir untuk mengawal, mencintai dan menghargai kebudayaan kita sendiri, karena jika bukan kita, lalu siapa lagi?” pungkasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Dr H Jarianto MSi mengatakan, Festival Karya Tari Jawa Timur diadakan setiap tahun. Tujuannya untuk melestarikan, mengembangkan dan pemanfaatan serta bagian dari program pengelolaan keragaman seni budaya di Jawa Timur.
Festival Karya Tari Jawa Timur diikuti 28 utusan dari kabupaten/kota se Jawa Timur. Mereka menyuguhkan tari garapan baru yang berpijak pada seni tradisi dengan tema yang bersumber pada kreatifitas adat dan tari kerakyatan. (ita)