Paket wisata serunya sehari menjadi peternak sapi perah di Kampung Susu Kalipucang. Foto: Detik.com/Muhajir Arifin.
Sekitar 28 km arah selatan dari pusat Kabupaten Pasuruan, ada sebuah desa yang menyimpan banyak potensi, baik pertanian, peternakan hingga keindahan alam. Namanya Desa Kalipucang.
Desa yang terletak di Kecamatan Tutur ini tak hanya menghasilkan kopi, cengkeh tetapi juga susu sapi. Potensi ini kemudian terangkum dalam eduwisata Kampung Susu Kalipucang.
Eduwisata Kampung Susu Kalipucang memfokuskan pada edukasi sapi perah dari hulu ke hilir. Tiap pengunjung akan diajak merasakan menjadi peternak sapi perah dalam sehari, mulai dari merawat sapi, memerah susu, mengolah susu plus menikmati susu segar.
Namun tak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati wisata alam di kampung ini. Kebun kopi dan cengkeh, bahkan kebun bunga krisan yang menjadi komoditas kampung ini akan memberikan sensasi wisata yang berbeda.
Setelah lelah menyusuri kebun kopi, cengkeh dan krisan, pengunjung juga bisa memanjakan diri di air terjun Sumber Nyonya dan air terjun Sumber Telogo. Mau berenang boleh atau sekadar bermain air juga tak jadi soal.
Masih ada lagi. Pengunjung yang hobi hiking bisa melanjutkan petualangan naik ke Bukit Tumang. Lokasi bukit ini berjarak 2 km dari pusat desa.
“Bukit Tumang kami gadang-gadang bisa saingi Bukit Paralayang di Batu. Sama-sama berada di ketinggian tapi bukit ini masih alami, udaranya segar dan murni,” kata Kepala Desa Kalipucang Hariono, Rabu (28/3), dikutip Detik.com.
Untuk mencapai Bukit Tumang, pengunjung dapat menempuh dengan kendaraan roda dua atau memanfaatkan ojek setempat. Setelah sampai di lokasi, pengunjung harus berjalan kaki untuk bisa sampai ke puncak bukit.
Selain dapat menikmati pemandangan Kabupaten Pasuruan dari atas ketinggian, ada juga taman bunga dan beberapa tempat istirahat yang menambah semarak suasana. “Bukit Tumang ini masih dalam pengembangan. Pemdes rencananya membangun wisata flying fox,” tambahnya.
Hariono memastikan, pengunjung yang datang ke Kampung Susu Kalipucang dijamin puas karena banyaknya destinasi yang bisa dinikmati. “Perpaduan antara eduwisata sapi perah dan wisata alam jadi unggulan desa kami. Pengujung pasti ketagihan,” seloroh Hariono. Anda penasaran? (dtc)
Salah satu sumur milik warga yang ambles di Kediri. Foto: Jatim Newsroom.
PUKUL 02.00 DINI HARI, tidur Sunarti dikejutkan oleh gemuruh suara dari sumur di bagian belakang rumahnya. Begitu diperiksa, alangkah kagetnya, air bercampur lumpur tiba-tiba naik dari dalam sumur. Dinding sumur yang terbuat dari batu bata pun serentak runtuh. Bersamaan dengan itu, dinding rumah retak.
Peristiwa aneh itu tidak hanya dialami keluarga Sunarti. Dalam rentang seminggu terakhir, sejak 24 April 2017, ada 152 sumur yang tiba-tiba ambles di Desa Manggis Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. Warga tidak tahu penyebabnya. Pun tidak ada gejala aneh sebelumnya. Sumur begitu saja ambles.
Kepala Desa Manggis Mujiran mengatakan bahwa jumlah sumur di Desa Manggis yang terbagi di 5 dusun, yakni Dusun Nanas, Jambean, Dorok, Manggis dan Ringinbagus. Dari 5 dusun terdapat sebanyak 1.198 sumur. Dari jumlah tersebut terdapat 957 sumur yang berkondisi normal dan 110 sumur keruh.
Sebagai orang Jawa, amblesnya sumur yang secara tiba-tiba dan dalam jumlah yang banyak, itu dipahami sebagai tanda. Ketika hal-hal aneh terjadi dan sulit diterima oleh nalar manusia, ingatan dan bayangan pun melambung ke irasionalitas. Tentang mitos, tentang kegaiban, dan tentang kehendak Allah SWT.
Kediri. Masa silam wilayah ini lekat dengan keberadaan Raja Jayabaya yeng memerintah kerajaan Kadiri alias Daha. Seorang raja waskita yang menelurkan banyak ramalan. Beragam ramalan yang masih sering dipakai untuk menjelaskan berbagai peristiwa puluhan atau bahkan ratusan tahun setelahnya, bahkan sampai saat ini.
Kediri juga mengingatkan pada akhir dari petualangan sosok Lembu Sura. Konon, jasad Lumbu Sura dibuang ke kawah gunung Kelud. Dan sebelum meninggal, Lembu Sura mengeluarkan kutukan dahsyat: Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung.
Dalam versi yang lain, kutukan dari Lembu Sura berbunyi seperti ini: Seksenono yo, para danyang sing mbaurekso gunung Kelud, iki yen Kelud njeblug, Blitar bakale dadi latar, Tulungagung bakale dadi kedung, Kediri bakale dadi kali, Sidokare (Sidoarjo) bakale dadi rawa, lan Ujung Galuh (Surabaya) mbalik nyang asale.
Riwayat Lembu Sura memang kental dengan kisah tentang perjuangan, pengkhianatan, cinta, dan putus asa. Kesemuanya lantas terkubur dalam mistis gunung Kelud.
Satu versi mengisahkan bahwa Lembu Sura adalah salah satu pengikut setia Raden Wijaya yang turut serta berjibaku mendirikan kerajaan Majapahit. Suatu ketika, oleh sebab ketidakpuasan, Lumbu Sura memberontak. Dia dihadapi oleh mahapatih Gajahmada.
Pasukan Majapahit yang dipimpin Gajahmada mengejar Lembu Sura sampai ke lereng gunung Kelud. Konon, kehebatan pertempuran antara Gajahmada dengan Lembu Sura ini sampai menggegerkan alam manusia dan alam lelembut. Akhirnya Lembu Sura tewas oleh tikaman keris Gajahmada. Dan, kutukan pun diikrarkan.
Pada versi yang lain, Lembu Sura digambarkan sebagai sosok setengah manusia setengah makhluk halus. Badannya manusia tetapi kepalanya lembu, maka bernama Lembu Sura.
Kisah bermula dari keinginan Lembu Sura melamar wanita cantik bernama Dewi Kilisuci putri dari Jenggolo Manik. Ada pula yang menyebut, Lembu Sura melamar wanita cantik bernama Dyah Ayu Pusparani, putri dari Raja Brawijaya. Intinya, lamaran Lembu Sura sebenarnya hendak ditolak namun dengan cara tidak langsung.
Lembu Sura boleh memperistri wanita pujaannya asalkan bisa membuat sumur sangat dalam di gunung Kelud. Waktunya dibatasi hanya semalam. Lembu Sura menyanggupi.
Semalaman Lembu Sura mengeduk tanah menggali sumur. Begitu sumur telah sangat dalam dan hampir selesai, sang raja ternyata memerintahkan para prajurit untuk melemparkan batu-batu ke dalam sumur. Padahal di dalam sumur, Lembu Sura masih berpeluh keringat dan terus menggali.
Melihat batu-batu jatuh dari atas dan bahkan mengenai tubuhnya, Lembu Sura menyadari kalau dia telah tertipu. Tapi apa daya. Dia terlanjur terjebak di dalam sumur. Dan batu-batu terus berjatuhan. Menjelang tewas, dalam amarahnya, Lembu Sura pun mengeluarkan kutukan.
Apakah fenomena 152 ambles berkaitan dengan kutukan Lembu Sura? Tidak ada yang bisa memastikan. Mitos hadir seperti bayang-bayang. Lain orang lain pula bayangannya. Beda arah cahaya berbeda pula wujudnya. Ketika cahaya datang dari segala penjuru, bayang-bayang justru sirna.
Lepas dari benar tidaknya, mitos senantiasa bergelibat dalam 3 dimensi sekaligus. Dimensi sosial, transendental, dan ekologi. Mitos bermanfaat untuk menjaga kerukunan di masyarakat. Mitos mengingatkan manusia akan kebesaran Sang Pencipta. Mitos juga mengajari manusia untuk selalu merawat lingkungan.
Tetapi sebagai makhluk Tuhan yang dianugerahi akal budi pekerti, manusia tentu saja tidak berhenti begitu saja mempercayai mitos secara apa adanya. Fenomena sumur ambles di Kediri saat ini sedang dalam penelitian Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung. Penelitian dilakukan bersama Ahli Tanah dari Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur.
Tim Tanggap Darurat Pergerakan Tanah PVMBG melakukan penelitian terhadap permukaan air, struktur tanah, amblesan dan busa yang ditimbulkan. Dari pengamatan sementara PVMBg, fenomena alam ini biasa terjadi di daerah vulkanik sekitar gunung. Hal ini sesuai karena Kecamatan Puncu, berada di Lereng Gunung Kelud.
PVMBG meneliti lapisan tanah untuk mengetahui seberapa besar rongganya. Kemudian bersama Tim Hydrogeologi, tim akan mengkaji seberapa besar aliran air di dalam tanah. Seluruh sumur ambles akan didata dan dipetakan. Kemudian dianalisis dan dimodelkan. (ist/sumber: Beritajatim.com)
Petugas BPCB memeriksa benda purbakala di Situs Calon Arang di Sukorejo, Gurah, Kediri. Foto: Kompas/M Agus Fauzul Hakim.
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto menata ulang cagar budaya di Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu. Tempat berisi aneka macam benda purbakala itu selama ini dikenal sebagai Situs Calon Arang oleh warga setempat.
Calon Arang dikisahkan sosok janda yang menebar penyakit kepada masyarakat di era Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Raja Airlangga pada abad 10 Masehi. Ulahnya itu membuat kekacauan hingga kemudian bisa ditangani oleh Mpu Baradah sebagai orang kepercayaan Raja Airlangga.
Penataan ulang itu dilakukan dengan membersihkan berbagai macam benda purbakala dari campuran material lain. Setelah itu diletakan ke tempat yang lebih aman, teduh, dan estetik.
Benda-benda purbakala tersebut meliputi ambang pintu atau doorpel, umpak, lumpang, beberapa balok batu, hingga beberapa fragmen arca. Salah satunya, arca agastya. Tempat tersebut sudah diketahui sejak lama, lengkap dengan benda-benda purbakalanya.
Namun sempat terjadi pembangunan yang kontradiktif dari perilaku pelestarian. Misalnya benda purbakala yang disemen juru pelihara.
Bahkan benda purbakala tersebut sempat menjadi korban vandalisme. Orang tak bertanggung jawab itu mengacak-acak lokasi tersebut. “Jadi kita tata kembali,” ujar Wagiman atau akrab disapa Gituk, satu dari 2 orang BPCB yang menata ulang lokasi, dikutip Kompas.com.
Tempat itu berada agak jauh dari jalan raya. Akses menuju lokasi, sebagian masih berupa tanah karena melewati areal sawah warga. Lokasinya sendiri ada di tengah-tengah tanaman tebu.
Warga setempat turun temurun memercayai lokasi tersebut sebagai situs Calon Arang. Bahkan lokasi situs seluas 250 meter persegi itu sering mendapat kunjungan dari pengunjung luar kota seperti Jawa Tengah hingga Bali untuk berziarah. “Terutama pada musim bulan syuro dalam penanggalan Jawa,” ujar Supandi, Kepala Desa Sukorejo.
Kepala Seksi Museum dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Kediri Eko Priatno mengungkapkan, lokasi tersebut sebelumnya pernah menjadi bahan penelitian para arkeolog.
Selain benda purbakala, peneliti juga menemukan adanya struktur bebatuan berupa batu bata kuno di kedalaman 1,5 meter di bawah permukaan tanah.
Pemeriksaan awal, komposisi dan struktur batu bata itu berasal dari masa Majapahit. Hanya saja belum diketahui struktur tersebut merujuk pada suatu bagian dari bangunan tertentu. “Struktur merupakan komponen yang masih umum jadi gak tahu itu pagar atau bangunan apa,” ujar Eko Priatno.
Penelitian itu, menurutnya, masih merupakan pemeriksaan awal sehingga dibutuhkan tindak lanjut. Dia mendasari argumennya dari beberapa benda purbakala lainnya yang diduga lebih tua usianya.
Soal asal-usul penyebutan situs, Priatno menambahkan, dari beberapa penelitian tidak ditemukan peninggalan atau data otentik yang menyebut lokasi tersebut peninggalan Calon Arang. Namun dia menegaskan, kepercayaan yang telah secara turun temurun hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai kearifan lokal juga patut dihormati.
Pendekatan lain yang bisa digunakan sebagai pijakan, sambung Priatno, adalah pendekatan toponimi atau asal-usul nama tempat. Kata Gurah yang digunakan sebagai nama daerah tersebut cocok dengan nama Walunatung Girah sebutan lain dari Calon Arang. (ist)
Heppy menunjukkan wayang kulit kreasinya menyesuaikan zaman. Foto: Radar Jember/Dwi Siswanto.
Ternyata, di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan Jember ada perajin wayang kulit yang kerap menerima pesanan dari dalang top. Inovasi baru Heppy Firman Handika inilah yang membuat wayang ‘kekinian’ ciptaannya itu mendapatkan hati dari para pemesannya.
Nama perajin wayang kulit ini adalah Heppy Firman Handika. Usianya baru 26 tahun, namun inovasinya dalam dunia pewayangan tak diragukan lagi.
Pria ini biasa membuat wayang di samping rumahnya. Bangunan sederhana itu sengaja dipakai sebagai ‘pabrik wayang’ oleh pemiliknya. Sekaligus, sebagai tempatnya menyimpan semua koleksinya. ”Saya hampir tiap hari ada di bengkel wayang ini,” seloroh laki-laki berperawakan tinggi besar ini, dikutip Jawapos.com.
Saat ditemui, laki-laki yang akrab disapa Heppy ini kebetulan sedang mengerjakan kerajinan wayang. Beberapa di antaranya sudah rampung. Namun, masih banyak tumpukan wayang setengah jadi yang belum dia apa-apakan. ”Alhamdulillah, sekarang lagi kebanjiran pesanan,” jelasnya.
Saat ini, dia memang sedang mendapat pesanan wayang dari salah satu dalang terkemuka di Jawa Tengah. Dia enggan menyebutkan namanya. “Tidak boleh disebut mas,” katanya sembari membereskan wadah cat yang sebelumnya dia gunakan untuk mewarnai wayang hasil kreasinya itu.
Namun yang berbeda, wayang kulit bikinannya tidak seperti wayang umumnya yang lebih menonjolkan tokoh pewayangan pada zaman kerajaan dulu. Wayang ciptaan Heppy lebih ke karakter zaman now yang ada di lingkungan sekitar.
Seperti tokoh Pak Haji, Satpam, sampai figur ibu-ibu rumah tangga. Wayang ini lebih mencolok dengan corak pakaian seperti yang digunakan manusia pada umumnya. Heppy menyebut, wayangnya itu adalah wayang kontemporer.
“Ini gaya kontemporer. Saya buat sesuai dengan apa yang diminta pemesan,” ujarnya. Beberapa memang sengaja dimodifikasi sendiri. Seperti tokoh pemuda desa yang dia buat seperti karakter seorang santri yang lengkap dengan sarung dan kopiah.
Selain karakter itu, rupanya Heppy pernah menciptakan wayang kulit berbeda lainnya. Seperti menaruh wajah si pemesan dalam karakter wayang. Bukan hanya ditempel, namun wajah si pemesan juga diukir menjadi karakter wayang. Semisal, dipasang di badannya Gatot Kaca.
”Konsep itu bisa dikatakan konsep kekinian,” selorohnya. Namun, belakangan Heppy jarang memproduksi wayang jenis itu. Alasannya, butuh waktu lebih lama. Apalagi, sekarang dia lebih konsentrasi pada wayang kulit kontemporer dan wayang kulit kreasi. ”Wayang kulit kreasi itu sama seperti wayang kulit pada umumnya, hanya saja dikreasikan dengan banyak warna,” jelasnya.
Heppy mengaku, tidak terkonsentrasi pada seni wayangnya saja. Dia lebih tertarik pada seni ukir dan menggambar karakter wayang itu sendiri. “Sebenarnya ketertarikan saya pada wayang itu ada pada seni ukir dan pewarnaan. Karena selain membuat wayang saya juga hobi melukis,” akunya. Tidak heran jika wayang kulit buatannya terlihat lebih berwarna.
Heppy mengakui, perkembangan zaman saat ini memang cenderung meninggalkan budaya wayang. Minimnya anak muda yang intensif mempelajari wayang juga jadi penyebabnya. Hanya sepersekian persen saja yang mau melestarikan wayang. Apalagi, di Kabupaten Jember hampir bisa dibilang tidak ada penerus perajin wayang kulit yang sedianya menekuni wayang dari hulu sampai ke hilirnya.
Bahkan, beberapa di antaranya hanya mengetahui secuil saja tentang seni membuat wayang. “Istilahnya hanya gaya-gaya saja,” ungkapnya.
Membuat wayang kulit tidak bisa dilakukan asal jadi saja. Perlu teknis khusus untuk mengukir dan memberi warna pada wayang itu sendiri. “Apalagi jika membuat wayang klasik, semua dilakukan dengan sangat detail,” tambahnya.
Baginya, wayang kulit saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Para Dalang sekalipun sudah banyak berubah. Mereka menginginkan karakter wayang yang diterima oleh banyak kalangan. Sehingga, perajin seperti dirinya harus berani berubah agar tidak termakan zaman.
“Kalau persaingan sih minim ya. Tapi perajin wayang seperti saya ini perlu melakukan inovasi baru agar wayangnya tetap diminati oleh masyarakat,” ungkapnya. (jpr)
Spot Sumenep sebagai Kota Keris. Foto: MediaMadura.com.
Julukan untuk Kabupaten Sumenep kian bertambah banyak, mulai dari Kota Batik, Kota Ukir, Kota Sumekar sampai yang terbaru Kota Keris. Julukan yang terakhir tentu tidak lepas dari diresmikannya Desa Aeng Tong-Tong, Kecamatan Saronggi sebagai Desa Keris beberapa waktu lalu.
Konon, di Kabupaten memiliki empu atau pengrajin keris sebanyak 640 orang dan Sumenep juga udah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai daerah pemilik pengrajin keris terbanyak di dunia.
“Dari jumlah tersebut, memang paling banyak berada di Desa Aeng Tong-Tong Saronggi ini,” terang Bupati Sumenep, Busyro Karim, Selasa (27/3), dikutip MediaMadura.com.
Menurut Busyro, hal itu patut dibanggakan, namun tantangan bagaimana semua pihak mampu memanfaatkan keunggulan di bidang keris. Karena eksistensi keris tidak hanya diakui di nusantara, tetapi juga di dunia. “Pada tahun 2005 lalu, PBB telah menetapkan keris sebagai salah satu benda pusaka warisan dunia kategori non bendawi,” ungkapnya.
Ia menceritakan, pada saat itu, ada lima karya budaya Indonesia yang mendapat pengakuan sebagai warisan budaya Dunia dari UNESCO, yaitu wayang, keris, angklung, batik, dan tari saman gayo. “Nah, konsekuensi dari pengakuan UNESCO tersebut, kita memiliki kewajiban melestarikan dan mengembangkan keris agar tetap lestari,” imbuhnya.
Busyro berujar, dari lima karya budaya tersebut, keris adalah warisan budaya paling sulit dipertahankan kelestariannya. Berbeda dengan batik, wayang angklung maupun tari.
Keris memiliki nilau luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia. Selain berakar dalam dalam tradisi budaya dan sejarah masyarakat Indonesia, keris juga memiliki filosofi dan makna kejayaan, keuletan kesabaran keberanian dan keluhuran budi. “Filosofi semacam ini masih sangat relevan diterapkan dalan kehidupan berbangsa saat ini,” tandasnya. (ist)
Mari belajar bahasa Jawa Kuno dengan Komunitas Sutasoma. Foto: Ist.
Tak banyak komunitas berbasis budaya yang tumbuh dan berkembang meneguhkan kembali budaya leluhur. Salah satu komunitas yang tak banyak adalah komunitas Sutasoma.
Sesuai namanya yang diambil dari pujangga lama, komunitas Sutasoma bergerak di bidang pembelajaran budaya, khususnya bahasa Jawa Kuno.
Komunitas Sutasoma yang berdiri sejak 2012 ini menitikberatkan pada pembelajaran bahasa Jawa Kuno yang kini mulai pudar dan teramat jarang diajarkan di bangku-bangku sekolah.
“Komunitas Sutasoma ini berdiri pada 2012 karena prihatin dengan kondisi bahasa Jawa Kuno yang banyak dipelajari oleh warga asing, sementara warga kita sendiri tidak pernah tahu atau bisa membacanya,” kata A’ang Pambudi Nugroho dari komunitas Sutasoma yang ditemui Detik.com saat mengajar membaca bahasa Jawa kuno di Lamongan di acara Jambore Komunitas Seni dan Budaya se-Jatim di Gedung Handayani, Disparbud Lamongan.
A’ang menuturkan, banyak prasasti yang ditemukan di Indonesia menggunakan bahasa Jawa kuno, tapi masyarakat sendiri tidak paham apa dan bagaimana membaca tulisan-tulisan yang terpahat di banyak prasasti tersebut. Di sekolah pun, kata A’ang, belum ada pelajaran Jawa kuno ini.
“Kami lebih banyak menggali atau membaca naskah sebuah prasasti untuk menggali nilai-nilai budayanya untuk ditanamkan di jaman sekarang, jadi tidak hanya untuk sekedar dibaca atau ditulis saja,” tutur A’ang.
A’ang mengaku proses pembelajaran yang mereka lakukan selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Komunitas yang berasal dari Kediri ini mengaku selalu berpindah tempat mengajar sesuai jadwal yang ada atau memang ada panggilan untuk belajar di tempat-tempat lainnya.
“Kami selalu berpindah-pindah, sesuai kebutuhan,” tutur A’ang yang memiliki mimpi untuk bisa memasukkan bahasa Jawa kuno ke dalam mata pelajaran sekolah ini.
Siapa saja siswa pembelajaran membaca dan menulis huruf Jawa kuno ini? A’ang menuturkan jika siswanya berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah, mahasiswa, bahkan guru dan dosen juga menjadi siswa komunitas ini.
Bahkan, komunitas ini sekarang juga menjalin kerjasama dengan sebuah perguruan tinggi di Ponorogo untuk mengajarkan bahasa Jawa kuno yang diambil dari prasasti kuno untuk diambil nilai-nilai budayanya.
“Yang paling berkesan selama mengajarkan membaca dan menulis huruf Jawa kuno saya dapatkan ketika menterjemahkan prasasti yang ada di Ampelgading Malang, karena di prasasti dari abad 15-an ini lengkap mengajarkan tentang darma dan ganjaran setiap perbuatan manusia,” akunya.
A’ang menuturkan, anggota komunitasnya memang tak banyak, yaitu hanya 10 orang. Namun, dari 10 orang ini selalu menjalin kerjasama dengan komunitas-komunitas lain yang bergerak di bidang budaya yang ada di seluruh Indonesia untuk mengajarkan membaca dan menulis Jawa kuno ini.
“Anggota kami menyebar dan anggota komunitas lain juga menjadi anggota komunitas kami, kami tidak membatasi anggota untuk harus di komunitas kami saja,” ujar A’ang yang menyebut hal ini dilakukan untuk lebih menyebarkan Jawa Kuno di banyak tempat.
Banyaknya bahan terjemahan bahasa Jawa kuno, membuat komunitas Sutasoma ini juga berniat untuk membukukannya menjadi sebuah karya. Namun karena terkendala waktu, selama ini mereka hanya bisa menuliskan di sejumlah jurnal budaya.
“Untuk saat ini, kami sedang menyiapkan silabus pembelajaran di kampus dan juga tengah melakukan penelitian sebuah prasasti di Madiun,” paparnya.
Untuk Lamongan, A’ang mengaku antusiasme mereka cukup tinggi. Pasalnya, saat proses pembelajaran ini dilakukan, ternyata tidak hanya orang dewasa dan mahasiswa, tapi pelajar juga tertarik untuk belajar bahasa jawa kuno. Saat di Lamongan, komunitas Sutasoma ini belajar membaca sebuah prasasti yang terpahat pada sebuah lonceng kuno.
“Secara sekilas, ini menceritakan tentang lonceng yang dibuat pada tahun 1277 yang diperdagangkan dan dipesan khusus oleh seseorang,” jelas A’ang menjelaskan lonceng yang tertera huruf dan kata-kata dalam bahasa Jawa Kuno. (dtc)
Dua dalang wayang beber yang masih muda, Kuncoro dan Adhi (kanan) di Pacitan. Foto: Lppkesenian.org.
Pergelaran wayang beber di pendopo Kabupaten Pacitan Senin (26/3) berlangsung unik karena dilakukan oleh dua dalang di atas pentas. Yang menarik, satu dalang sudah senior, yaitu Rudhi Prasetya, sedangkan dalang satunya adalah anak muda, Handika Adi Kuncoro, siswa SMK kelas XII (tiga).
Acara diselenggarakan UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPP Kesenian) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur dengan nama program ‘Pergelaran Revitalisasi Kesenian Daerah Wayang Beber 2018’.
Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, dalam acara tersebut dihadirkan penonton dari beberapa sekolah Sekolah Dasar (SD) hingga SMA/K.
Sebelum gelar wayang beber, acara diawali seni pertunjukan berjudul ‘Sekartaji, Sekartaji’ oleh siswa SMKN 1 Pacitan yang pernah menjadi Juara Pertama Apresiasi Seni Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) di Surabaya tahun lalu.
Cerita yang disajikan adalah fragmen dari cerita Jaka Kembang Kuning pada saat adegan di pasar, ketika Raden Panji mencari Dewi Sekartaji dan sempat saling melihat namun tidak sempat bertemu. Karya ini digarap penata tari Iswinedar dan penata musik Tri Gangsar Wicaksono serta sutradara Pandu Sadeka.
Dalang muda yang tampil pergelaran wayang beber itu adalah Handika Adi Kuncoro, lahir 21 Juli 1999 siswa kelas XII SMK Negeri Kebonagung, Pacitan.
Anak pertama dari empat bersaudara ini mengaku tidak berasal dari keturunan seniman. Ayahnya petani. Dia mengaku baru belajar dalang belum genap satu tahun. Sebelum pentas di pendopo kali ini Kuncoro, panggilannya, latihan serius di sekolah seharian penuh.
Tetapi Kuncoro pentas pertama kali di desanya sendiri, yaitu lapangan Ketro saat acara Agustusan tahun lalu. Belajar mendalang dilakukannya di Sanggar Lung asuhan Rudhi Prasetya atas dorongan kepala sekolahnya.
“Saya mendapat dukungan dari guru-guru dan kepala sekolah serta dorongan dari Rudhi sendiri dan juga orangtua,” jelas anak muda yang tinggal di Dusun Wonojoyo, Desa Ketro, Kecamatan Kebonagung ini, dikutip LPPKesenian.org.
Dalam pergelaran itu Kuncoro duduk sejajar dengan Rudhi. Kuncoro hanya membawakan cerita dua gulungan, selanjutnya diteruskan Rudhi. Pola ini sengaja dibuat agar diketahui sejauh mana Kuncoro mampu melakukan perpindahan gulungan yang ternyata belum sepenuhnya trampil. Kuncoro mengaku tidak bisa bermain gamelan, masih belajar. Saat pergelaran pun masih membaca catatan, meski tidak semuanya.
Ditanya pendapatnya soal anak didiknya, Rudhi mengaku bangga dengan Kuncoro, karena mau menjadi dalang wayang beber dan serius belajar tentang Panji dalam wayang beber. “Yang penting dia mau terus berlatih menjadi dalang wayang beber untuk meneruskan generasi pewaris budaya bangsa,” katanya.
Kuncoro adalah satu-satunya siswa Sanggar yang sudah berani pentas dalang Wayang Beber, sementara masih ada 5 siswa lainnya yang siap menjadi generasi muda dalang wayang beber. (ist)
Batu oktagonal yang ditemukan di Semanding, Kecamatan Pagu, Kediri. Foto: Kompas.com/M.Agus Fauzul Hakim.
Benda purbakala yang diduga struktur candi ditemukan di Kediri, Jawa Timur. Temuan tersebut dianggap tidak lazim karena benda itu bentuknya oktagonal atau segi delapan. Benda tersebut terbuat dari batu andesit dengan lubang pada bagian tengahnya.
Ada 2 batu dengan model sejenis namun berbeda ukuran. Masing-masing batu itu mempunyai ukuran tinggi 53 centimeter, lebar bawah 44 centimeter, lebar atas 35 centimeter, diameter lubang bawah 21 centimeter, kedalaman lubang bawah 12 centimeter, serta diameter lubang atas 13 centimeter.
Sedangkan batu ke dua berukuran tinggi 57 centimeter, lebar bawah 35 centimeter, lebar atas 33 centimeter, kedalaman lubang bawah 13 centimeter, diameter lubang atas 11 centimeter, kedalaman lubang atas 10 centimeter, serta diameter lubang bawah 13 cenimeter.
Kepala Seksi Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Eko Priatna mengaku baru pertama kalinya mengetahui adanya benda berbentuk oktagonal itu meski sudah kerapkali di Kediri ditemukan benda purbakala. “Kalau untuk jenis purbakala bentuk oktagon ini saya belum ada referensi,” ujar Eko Priatna saat ditemui Kompas.com, awal pekan.
Lebih jauh Eko mengatakan, pihaknya sudah berupaya mengontak beberapa koleganya yang berkecimpung di bidang arkeologi dan kepurbakalaan, namun juga belum ada kesamaan identifikasi. Beberapa menurutnya berspekulasi sebagai batu umpak penyangga tiang hingga doorpel atau ambang pintu.
Oleh sebab itu, dia menunggu tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian itu diharapkan dapat mengungkap fungsi dan latar belakang fase sejarah penggunaan benda tersebut. “Tim BPCB besok datang ke Kediri,” imbuhnya.
Batu berbentuk oktagonal itu ditemukan bersama beberapa benda purbakala lainnya. Diantaranya batu balok andesit berelief dengan ukuran panjang 80 centimeter x lebar 42 centimeter serta tebal 21 centimeter.
Penemuan itu terjadi saat para pekerja melakukan pengerukan tanah sawah seluas sekitar 1 hektar milik Zainudin, warga setempat. Penggalian yang berlangsung dalam sebulan ini bukan bagian dari ekskavasi benda purbakala, melainkan keperluan pengambilan tanah bahan bangunan.
Ironisnya, penggalian itu menyebabkan batu bata kuno menjadi banyak yang rusak, bahkan serpihannya berserakan. Ini diduga karena ketidaktahuan mereka atas penanganan benda purbakala itu.
Pengungkapan benda tersebut, menurut Eko, memerlukan penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto. Dari penelitian itu juga nantinya akan turun rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan terhadap kawasan temuan dan benda purbakala itu.
Di Kediri, terutama di Kecamatan Pagu dan Kecamatan Gurah, kerap ditemukan penemuan benda purbakala. Itu tidak lepas dari sejarah panjang Kediri yang dikenal sebagai bekas wilayah kerajaan tua. Hingga saat ini, hampir setiap tahun, ada eskavasi yang dilakukan oleh para ahli untuk meneliti situs-situs tersebut.
Hanya saja, kalau dilihat dari konteks lokasi, lanjut dia, kebetulan di wilayah Kecamatan Pagu dan Kecamatan Gurah kerap ditemukan benda purbakala. Di wilayah itu pula terdapat dua situs besar yang telah ditemukan lebih dulu, yaitu situs Adan-adan dan Tondowongso.
Situs Tondowongso yang berisi struktur bangunan suci berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi penemuan benda purbakala itu. Situs tersebut terhampar luas sekitar 12 kilometer yang diyakini sebagai kompleks permukiman Hindu kuno yang diduga pada masa kekuasaan Sindok (929 M) hingga Kertajaya (1222 M).
Situs Tondowongso yang ditemukan pada 2006 dan situs Adan-adan yang diekskavasi pada 2016 hingga saat ini masih kerap dijadikan obyek penelitian oleh para ahli. “Sehingga, diduga kuat temuan tersebut berkaitan dengan struktur dua situs besar itu,” tambah Eko. (kmp)
Ketika Komunitas dan Pegiat Budaya Berkumpul di Lamongan. Foto: Detik.com/Eko Sudjarwo.
Beberapa koleksi artefak cagar budaya ditampilkan di ruang pameran. Yoni, genta dan uang gobok, serta potongan candi dan juga foto situs dipamerkan puluhan komunitas pegiat sejarah dan budaya se-Jatim.
Kegiatan bertajuk ‘Jambore Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Jawa Timur’ di Lamongan ini menelurkan sejumlah deklarasi kebudayaan Jatim. Apa isinya?
Para pegiat budaya dan sejarah se-Jatim ini selama 2 hari ini membicarakan sejarah dan budaya sebagai wujud kepedulian, keprihatinan serta perjuangan budaya Jawa Timur.
“Kami berasal dari lebih dari 20 komunitas di Jatim, jadi yang berkumpul di sini lebih dari 140 pegiat budaya dan sejarah dari seluruh Jatim,” kata Supriyo, panitia lokal dari Lamongan yang juga menyebut pertemuan ini agenda rutin tahunan pegiat budaya Jatim, awal pelan.
Priyo mengatakan pegiat budaya ini juga berkumpul untuk membangun sinergi dan langkah konkret dalam perjuangan melestarikan cagar budaya Jawa Timur yang masih terserak.
“Kegiatan ini untuk merumuskan konsep advokasi dan mendorong pelestarian Cagar Budaya di Jatim,” tuturnya, dikutip Detik.com.
Dalam kegiatan ini, lanjut Priyo, untuk Lamongan didukung oleh sejumlah pihak. Beberapa pihak diantaranya LPAPS, Pikulan, Laskar Airlangga dan Dahanapura serta Pemkab Lamongan.
Bahkan, selain diskusi mengenai sejarah dan budaya, lokasi acara yang berada di gedung Sasana Budaya Lamongan juga dijadikan tempat pameran sekaligus tempat Lokakarya dan Seminar.
“Beberapa koleksi artefak cagar budaya kami tampilkan di ruang pameran, ada yoni, genta dan uang gobok, serta potongan candi dan juga foto situs di Lamongan dan beberapa kota lain,” kata Priyo sambil menunjukkan kalau mereka juga memamerkan tosan aji atau keris dari berbagai daerah.
Sementara isi deklarasi di antaranya pegiat budaya dan sejarah siap melestarikan warisan budaya dan berkomitmen membangun sinergitas antara pemerintah dan masyarakat dalam pelestarian cagar budaya.
“Ini adalah berkumpulnya pegiat budaya dari generasi jaman old dan zaman now, guyup rukun dan berbekal semangat yang sama datang dari seluruh penjuru Jawa Timur,” tukasnya.
Sementara salah seorang pesrta, Nafis mengungkapkan, kegiatan ini untuk merumuskan konsep advokasi dan mendorong pelestarian cagar budaya. Nafis yang menjadi ketua panitia jambore ini mengaku diupayakan jambore ini menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang akan disampaikan ke pusat.
“Kerelaan menyisihkan waktu, tenaga, pikiran bahkan dana, mereka secara konsisten telah bekerja baik sendiri-sendiri maupun bersama komunitasnya untuk berkomitmen melestarikan cagar budaya,” pungkas Nafis. (dtc)
Acara ‘Pentas Budaya Jawa Timur’ di Bumiaji Kota Batu. Foto: Malangpost.com.
Hari Teater sedunia diperingati dengan antusias oleh puluhan seniman dan dikemas dalam ‘Pentas Budaya Jawa Timur’ di Dusun Tlogorejo Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji Kota Batu, pekan lalu.
Musik tradisi kotekan sore dan tari dolanan disajikan secara apik oleh anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Seni Krama Wijaya dari Dusun Banaran Kecamatan Bumiaji.
Terdengar irama musik mulai dimainkan secara serempak. Begitu juga dengan tari dolanan yang diperagakan secara serasi oleh para pemuda itu mendapat applause meriah dari tamu undangan dan masyarakat yang menjubeli gedung seluas 30 meter persegi.
Kepala Desa Bumiaji Edy Suyanto menjelaskan, penampilan kesenian ini merupakan potensi yang dimiliki oleh masyarakat Bumiaji yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan. Sehingga kebudayaan yang telah diwariskan secara turun menurun kepada anak cucu tetap terjaga.
“Dengan diadakannya kirab budaya dan seremonial pentas budaya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Pasalnya saat ini untuk tetap menjaga warisan budaya tidaklah mudah. Terlebih dengan masuknya kebudayan dari luar,” ujar Edy Suyanto, dikutip Malang Post.
Ditegaskannya, dengan tetap melestarikan kebudayaan tersebut identitas suatu daerah dan bangsa akan tetap terjaga. “Selain tetap melestarikan kebudayaan, dengan menjaga tradisi secara tidak langsung, kesenian dan budaya tetap terjaga di Bumiaji, juga akan menarik wisatawan dan menjadikan desa wisata,” bebernya.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono yang hadir dalam pembukaan mengatakan, pentas budaya yang terlaksana sesuai dengan visi misi Wali Kota Batu.
“Desa berdaya adalah awal dari pembangunan dari berbagai bidang. Apakah itu wisata, kesenian hingga budaya. Karenanya harus ditingkatkan melalui potensi setiap desa. Salah satunya di Dusun Tlogorejo yang bertemakan seni. Ini yang harus digalakkan budayanya,” bebernya.
Dengan teman yang dimiliki tiap desa, lanjut Imam harus dikembangkan lagi melalui digital tourism. Yang dimaksud adalah melakukan promosi secara masif di dunia maya. Sehingga akan banyak wisatawan, tidak hanya domestik tetapi mancanegara yang akan berkunjung ke Dusun Tlogorejo.
“Bumiaji harus tumbuh menjadi desa mandiri dan maju. Maka dari itu, dengan potensi yang telah dimiliki harus terus dikembangkan. Untuk pengembangan tersebut juga dibutuhkan kemitraan, agar target menjadi desa budaya bisa dicapai,” pungkasnya. (mp)