Warga menunjukkan situs arkeologi berbentuk arca di desa Ngrejo, Tanggunggunung, Tulungagung. Foto: Ist.
Seorang petani di Desa Ngrejo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur tak sengaja menemukan benda bersejarah berbentuk arca dewa saat membersihkan ladang jagung miliknya di kawasan bekas hutan lindung yang sudah gundul.
Sebagaimana keterangan resmi Kasi Pelestarian Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung Winarto, arca berukuran 50 x 80 centimeter itu ditemukan Surani dalam kondisi terpendam dalam ranah.
“Pak Surani dan beberapa petani sedang duduk-duduk saat tak sengaja melihat ada struktur batu menyerupai kepala manusia tersembul di atas tanah,” kata Winarto menceritakan kronologi penemuan situs, akhir pekan lalu, dikutip Antara Jatim.
Tak menunggu lama, Surani dibantu beberapa petani lain kemudian melakukan penggalian dan mendapati struktur batu berbentuk patung arca dewa. Kabar temuan situs arkeologi itu dengan cepat beredar luas sehingga warga lain, termasuk penggiat Pokdarwis (kelompok sadar wisata) Ngrejo datang dan melakukan penyisiran area temuan benda purbakala itu.
Ada beberapa struktur batuan lain kemudian ditemukan tak jauh dari titik lokasi temuan arca, di antaranya berbentuk `umpak` (fondasi tiang bangunan), sumuran atau petirtan kecil serta sejumlah gerabah kuno. “Kemarin kami dari Dinas Budpar bersama bagian Litbang Bappeda Tulungagung melakukan verifikasi lapangan guna mendata awal temuan tersebut,” ujar Winarto.
Namun ia belum memastikan jenis maupun usia arca yang kini disimpan di rumah Surani di Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung tersebut. Pihak Pemkab Tulungagung masih akan berkoordinasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan guna meneliti lebih lanjut arca dewa itu, sekaligus melakukan eskavasi di sekitar lokasi temuan.
“Semula kami menduga ini jenis arca agastya (dewa agastya) karena strukturnya mirip. Tapi setelah kami diskusikan dengan teman-teman arkeologi, dugaan awal mengerucut ke arca Nandiswara,” kata staf BPCB Trowulan yang bertugas sebagai pengelola Museum Wajakensis Tulungagung, Hariyadi.
Namun ia menegaskan kesimpulan tersebut masih bersifat dugaan awal. Kepastian mengenai jenis arca dan apakah ada situs lain di sekitar lokasi akan diteliti lebih lanjut oleh tim ahli arkeologi dari BPCB Trowulan, seperti sudah dikoordinasikan oleh pihak Pemkab Tulungagung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.
“Sementara menunggu tim BPCB Trowulan ini kami, melalui dinas pariwisata dan pemerintah desa telah meminta Pokdarwis dan warga Desa Ngrejo untuk membantu pengamanan lokasi dari kemungkinan terjadi perusakan ataupun penjarahan benda purbakala yang masih tertinggal,” kata Hariyadi.
Tim pelestari benda Cagar Budaya Kabupaten Tulungagung akhirnya mengevakuasi patung kuno berbentuk menyerupai arca Nandiswara tersebut. Menurut Kasi Pelestarian Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung Winarto, penyerahan situs arca dewa itu dilakukan secara sukarela.
Surani selaku pihak penemu arca mempercayakan penyimpanan patung bersejarah diduga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit itu ke Museum Wajakensis, Tulungagung.
Sebelum dievakuasi, Surani dan perwakilan dinas kebudayaan dan pariwisata lebih dulu menandatangani surat pernyataan bermaterai. Dalam surat itu, Surani menyatakan sukarela menyerahkan benda purbakala hasil temuannya itu ke pihak museum.
“Namun nantinya pemerintah daerah akan tetap memberikan kompensasi atas jasa Pak Surani menemukan benda purbakala ini, jika arca itu asli,” kata Winarto. (ant)
Wayang potehi merupakan budaya dari China. Foto: Liputan6.com/Yanuar H.
Wayang potehi identik dengan wayang khas warga Tionghoa yang kerap dimainkan saat perayaan hari besar Tiongkok, seperti Imlek dan Cap Go Meh. Namun, ada cerita tentang koleksi wayang potehi yang berumur ratusan tahun di Museum Wayang Potehi Gudo, Gudo, Jombang.
Soni Frans Asmara, salah satu penerjemah koleksi wayang potehi Museum Gudo mengatakan, setidaknya ada 200 wayang potehi yang berumur lebih dari 150 tahun saat ini. Wayang ini masih terjaga baik di Museum Gudo Jombang.
“Wayang itu asli dari zaman dahulu, terbuat dari kayu hanya 200 saja. Masih asli,” katanya saat ditemui di pameran wayang potehi PBTY, akhir pekan lalu, dikutip Liputan6.com.
Frans, yang juga dalang wayang potehi, mengaku pernah memiliki pengalaman yang mengejutkan selama hidupnya bersama wayang potehi. Ketika akan mengeluarkan dan memainkan salah satu koleksi wayang potehi terdengar suara petir menyambar pada siang bolong. Koleksi wayang potehi yang dikeluarkan itu adalah wayang dewa petir.
“Waktu itu saya tidak dalang hanya ikut. Pas dewa petir itu dikeluarkan langsung terdengar petir menyambar, padahal tidak mendung. Juru kunci langsung sembahyang, barangkali kurang sesaji. Itu pengalaman sekali selama hidup saya di kelenteng Tegal tahun 2003,” katanya.
Menurut dia, kejadian seperti itu bisa terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya, dalang tidak menyatu dengan wayang yang dimainkan. Sehingga saat pentas, dalang seolah tidak memiliki jiwa dalam memainkan wayang. “Mungkin sama bonekanya tidak in atau mainnya tidak tulus. Juga mungkin karena kurang uang emasnya,” katanya.
Saat bermain wayang potehi, setiap dalang memiliki kebiasaan masing-masing. Seperti dirinya, ia selalu melakukan ritual kecil sebelum dan sesudah acara. Kebiasaan ini tidak pernah ia tinggalkan.
“Biasanya bakar uang emas itu sebelum dan sesudah acara. Ya, istilahnya doa kepada leluhur. Kata bapak saya itu sebagai pesangon leluhur. Jadi kertas sin cua itu melambangkan uang emas agar nanti sampai ke sana,” katanya.
Ritual ini mungkin berbeda setiap dalang wayang potehi. Namun, kebiasaannya membakar uang emas sebelum dan sesudah acara ini juga diperuntukkan agar acara dapat berjalan lancar. “Selama saya dalang belum pernah kejadian macam-macam. Aman,” katanya.
Ia tidak menampik usia wayang potehi juga memengaruhi permainan saat mendalang. Sehingga kebiasaannya itu juga sebagai permintaan izin untuk memainkan wayang tersebut.
“Ada wayang yang usianya 150 tahun ke atas yang original dari Tiongkok dan ini replika produksi dalam negeri kalau 200 biji umurnya 150 tahun lebih,” katanya.
Berbagai cara yang dilakukannya untuk mengenalkan wayang potehi ini kepada generasi selanjutnya. Sebab, budaya asli Tiongkok ini kini sudah tidak bisa ditemui lagi di Tiongkok dan justru hidup di Indonesia.
“Saat ini menurut dari sumber di Tiongkok tidak ada lagi yang ada Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Kita pernah diundang di Tiongkok mendapat predikat original wayang kita,” katanya.
Frans mengaku saat ini pemerintah mengapresiaasi wayang potehi yang merupakan akulturasi budaya Tiongkok Jawa. Frans mengaku merupakan pribumi asli, tetapi siap mempertahankan budaya ini sampai mati.
“Kita akan berjuang mempertahankan potehi. Pemerintah memberikan kesempatan main di kelenteng, mal, pondok pesantren, hingga gereja jadi sekarang sudah bagian dari budaya,” kata dia.
Frans mengaku masih optimistis selama museum wayang potehi masih menyimpan koleksi wayang potehi dari berbagai daerah di Indonesia. Wayang yang ada di Museum Wayang Potehi Gudo, Gudo, Jombang Jawa Timur ini merupakan koleksi langka. “Kebetulan yang punya museum itu cucu dari dalang wayang potehi. Kalau koleksinya ya ribuan produksi dari 2001 sampai sekarang,” katanya.
Museum Wayang Potehi juga membuat wayang potehi terbaru yang sesuai dengan replika dari Tiongkok. Bahkan, saat ini juga mulai banyak jenis tokohnya.
“Kalo kita pamerkan ini sekitar 60 karakter wayang potehi ada Pat Kay, Sun Go Kong, banyak. Kalau koleksi museum ya ribuan tapi memang ada beberapa yang masterpiece,” katanya.
Menurut Frans, wayang Potehi yang saat ini berusia ratusan tahun dan tersimpan di museum tidak ternilai harganya. Sebab, nilai sejarah dan kisah di balik wayang potehi tersebut sangat tinggi. “Wah sudah tidak ternilai dan tidak dijual,” katanya.
Terlebih, salah satu koleksi wayang potehi yang bernama Si Jin Kui, legenda panglima terkenal di Tionghoa. Karena istimewa, ia tidak dibawa saat pameran ataupun acara tertentu. “Dia masternya, bajunya itu istimewa, buatan tangan. Kalau sekarang tidak dibawa, hanya replika,” katanya.
Wayang potehi yang dibawanya tidak memiliki kesulitan saat bermain karena sangat mudah dimainkan. Namun, saat pentas, ia memiliki standar sendiri karena harus menggunakan bahasa Hokkian.
“Cara memainkannya masukan satu jari ke lubang leher kita masukkan jempol untuk tangan kanan dan tiga jari lainnya untuk tangan kiri,” kata Frans sambil menunjukkan cara memainkan wayang itu.
Menurut dia, tidak ada yang sulit untuk memainkan wayang potehi ini. Karena sangat mudah dan bisa digunakan untuk bermain di keluarga. “Ya mudah untuk belajar karena saya dulu juga autodidak, kok,” katanya.
Ia mengaku saat dia mendalang ada kesulitan dalam menggunakan bahasa Hokkian. Sebab, saat ini bahasa Hokkian tidak banyak diketahui, bahkan orang Tionghoa sekali pun. “Kayak bahasa Jawa halus-lah jadi kalau bukan orang China yang dulu pasti enggak tahu-lah,” ujarnya.
Saat ini, ia hanya menggunakan 2 persen saja bahasa Hokian untuk mementaskan wayang potehi. Selebihnya, menggunakan bahasa Jawa ataupun bahasa Indoensia.
“Ya kesulitan kita bahasa ya pakai bahasa Hokkian itu kan kuno. Ini untuk pakemnya padahal bahasa Hokkian itu bahasa halusnya China,” kata dia.
Dia menambahkan untuk mendatangkan wayang potehi dibutuhkan biaya setidaknya Rp 5 juta. Biaya ini tentu bertambah jika dipentaskan di luar kota Jombang.
“Kalau bikin wayang potehi 500 ribu sampai 1 juta. Seni ya tidak bilang bagus, tapi hidup dan bedanya di karakter itu ketika melihat wayang ini seolah berhadapan dengan orang kan,” jelasnya.
Pameran yang dibuat PBTY di Rumah Budaya Ketandan beberapa waktu lalu membuat beberapa pengunjung terkesan. Seperti Supripatmiayati warga Yogyakarta yang ikut dalam workshop mewarnai wayang potehi. “Ya senang, karena untuk melestarikan budaya Tionghoa. Jadi kami tertarik dan mengajari anak saya, tapi dia malu,” katanya.
Mewarnai kepala wayang potehi menurut dia sangat bagus karena mengajarkan anak-anaknya tentang budaya yang ada di Yogyakarta. Sebab, di kota ini tumbuh beragam budaya. “Manfaatnya banyak agar mengajarkan toleransi budaya itu penting,” dia mengatakan.
Ia mengaku baru kali pertama memegang wayang potehi ini. Menurut dia, wayang ini juga bisa disejajarkan dengan wayang lainnya. “Kami sangat mendukung pameran potehi ini,” ujarnya.
Ia mengakui sulit mewarnai kepala wayang potehi, meski terlihat sangat mudah. Namun, saat memulai mewarnainya justru sangat sukar dilakukan.
“Sukanya meramaikan gembira saja anak-anak bisa melihat keramaian ini. Sulitnya membuat lir-lir di mata, kalau tidak biasa kan susah. Kayak saya ini ya untuk remaja seperti ini bisa untuk refreshing,” dia menandaskan. (ist)
Khofifah napak tilas di pertapaan Ken Arok. Foto: Merdeka.com/Mochammad Andriansyah.
Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa napak tilas ke Patirtan Taman Pasupati, Malang yang merupakan pura peninggalan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari. Cagub nomor urut 1 ini ingin cagar budaya yang menjadi kekayaan Jawa Timur tetap lestari.
Ken Arok atau ditulis Ken Angrok dengan gelar Sri Rajasa San Amurwabhumi, memerintah Singasari di tahun 1222 hingga 1227. Dari Ken Arok inilah lahir raja-raja besar di Nusantara. Salah satu keturunan Ken Arok yang terkenal adalah pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya dengan gelar Naraya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana.
“Siapa saja yang datang ke sini (Patirtan Taman Pasupati), pasti sukses. Sudah banyak yang datang ke sini dan sukses. Ibu (Khofifah) di Pilgub ini kalau tidak ada sesuatu akan berhasil,” ucap juru kunci pura, Romo Irwai dikutip dari rilis tim Khofifah-Emil, pekan lalu dikutip Merdeka.com.
Sebelum napak tilas ke pura peninggalan suami Ratu Ken Dedes itu, Khofifah lebih dulu menyapa warga di sejumlah tempat di Malang. Kemudian blusukan ke Desa Jenglong, dan napak tilas ke salah satu cagar budaya di kaki Gunung Kawi pada malam harinya.
Mantan Menteri Sosial ini kemudian menuju tempat hening di lereng Gunung Kawi. Untuk mencapai tempat pertapaan Ken Arok, Khofifah masih harus berjalan menyusuri jalan setapak. Sampai di Pura Patirtan Taman Pasupati, ketua umum PP Muslimat NU ini disambut si juru kunci pura, Romo Irwai.
Pura tempat pengasingan Ken Arok sebelum mendirikan Kerajaan Singasari ini, terdapat candi yang diapit patung khas Hindu. Candi ini bernama Candi Bentar yang lekat dengan warna hitam. Di sisi kanan candi terdapat kolam dan Patung Dewi Sarasvati dengan balutan warna putih.
Melihat keindahan cagar budaya ini, Khofifah mengaku kagum. “Ini berada di hutan, sangat hening dan masih terjaga keorisinilanya,” kata Khofifah penuh kekaguman. (ita)
Tarian asal Sumenep manggung di Bandara Juanda. Foto: Juanda-airpport.com.
Selama bulan Maret-Juni 2018 ini Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur akan dihiasi sejumlah lukisan yang bertema budaya dan kegiatan seni, panorama laut, pantai, hingga air terjun di Jawa Timur.
Salah satu fotografer yang karyanya dipajang, Kang Mahdi, menjelaskan dalam pameran foto yang diselenggarakan oleh Prajurit Pencinta Fotografi dan PT Angkasa Pura I ini bisa menjadi galeri bagi para penumpang yang mendarat di Bandara Juanda untuk mengetahui seperti apa keindahan destinasi wisata yang ada Indonesia, terutama di wilayah Jawa Timur.
“Begitu mereka turun mereka disuguhkan pada banyak sekali tawaran destinasi wisata yang indahnya luar biasa,” ungkap Mahdi, Selasa (13/3), dikutip Jatim Newsroom.
Lebih lanjut ia memastikan jika karya-karya fotografi yang ditampilkan dalam pameran tersebut merupakan karya terbaik dan bisa sekaligus menginformasikan pada masyarakat terkait tempat-tempat yang belum banyak diketahui sebelumnya. “Banyak tempat dengan keindahannya yang mungkin tidak banyak kita tahu, jadi menambah pilihan berwisata bareng keluarga,” jelasnya.
“Foto-foto ini menjadi wakil atas eksploitasi kami mengabadikan keindahan alam Indonesia. Semoga masyarakat makin cinta dengan kekayaan wisata dan budaya bangsanya sendiri. itu yang jadi tujuan kami,” sambung Mahdi.
Bandara Juanda sendiri terus berbenah agar semakin meningkatkan pelayanannya terhadap para pengguna jasa. Terbukti, belum lama ini Bandara Juanda juga meraih prestasi tingkat dunia dalam ajang ASQ Awards 2018 yang diselenggarakan oleh Airport Council International (ACI).
Dalam ajang bergengsi ini Bandara Juanda meraih peringkat ke-3 Best Airport atau Bandara Terbaik pada kategori bandara dengan jumlah penumpang 15-25 juta orang per tahun. (ist)
Adegan di film ‘Tledhek’ karya Vicky Hendri Kurniawan. Foto: Istimewa.
Sebagai negara besar yang menaungi lebih dari 700 suku dimana masing-masing etnis memiliki kultur, budaya dan kesenian tradisi yang spesifik seharusnya menjadi lahan subur bagi pegiat film.
Menggali kekayaan tradisi sebagai sumber garapan menjanjikan para kreator Indonesia bisa memperoleh ruang kompetisi di kelas dunia.
Pemikiran tersebut akan disuguhkan pada para peserta seminar ‘Merayakan Seni Tradisi dalam Film Nasional’ di Hotel Garden Palace, jalan Yos Sudarso, dalam mewarnai Hari Film Nasional, akhir pekan lalu.
Malam harinya digelar pementasan ludruk di Gedung Kebudayaan Balai Pemuda Surabaya oleh Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara menyajikan lakon ‘Guruku Tersayang’, disutradarai oleh Meimura yang mengadaptasi naskah teater ‘Bui’ karya Akhudiat. Format pertunjukkannya, memadukan seni ludruk dengan media film.
Program perayaan Hari Film Nasional 2018 ini dibesut bareng-bareng antara Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara bersama Docnet (Documentary Networking), BanyuCindih Creative Banyuwangi serta Rumah Imaji Surabaya.
Sebagai ponsori adalah Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sementara tempat pertunjukkan ludruk film difasilitasi oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Sebanyak 250 undangan diberikan pada komunitas film, mahasiswa dan siswa sekolah kejuruan. “Melalui momen ini kami ingin memberi referensi kreatif dan dinamis tentang perancangan dan pelaksanaan produksi film seni tradisi bagi komunitas dan pegiat film dokumenter Jawa Timur,” tutur narasumber Vicky Hendri Kurniawan menambahan bahwa seni tradisi merupakan sumber garapan film yang tiada habis.
Sebagai pegiat film, Vicky telah menandai prestasinya sebagai sutradara film dokumenter yang beberapa karyanya berhasil mengail penghargaan.
Satu diantaranya adalah film ‘Tledhek’, mendapat penghargaan khusus-penyutradaraan terbaik Denpasar Film Festival 2016 serta 5 Film Dokumenter Terbaik Apresiasi Film Indonesia 2016.
Pada acara yang dimoderatori Yuslifar ‘Ujang’ M Junus, juga menghadirkan narasumber lainnya, Heru Purwanto yang menggunakan nama popular, Heirosay.
Dari fotografer dia beralih ke sinematografi dan telah melahirkan banyak karya, diantaranya ‘The People of Ludruk’ (2016). Karyanya ‘Menunggu’ berhasil meraih sinematografi terbaik pada Festival Film Jawa Timur 2012.
Berdasar pengalamannya menggarap banyak film dokumenter berlatar seni tradisi, Heirosay akan menggugah paramuda untuk memproduksi film bertema seni tradisi. Di sisi seminar juga ditayangkan karya-karya film berbasis seni tradisi yang diolah filmmaker Jawa Timur. (sak)
Gerakan Rampak Sarinah mendukung gagasan dan bekerjasama dengan komunitas perempuan lain. Foto: Istimewa.
Penutupan Pendidikan Kader Khusus Perempuan Nasional (PKKPN.1) ditandai dengan penandatanganan janji perjuangan menggerakan perempuan nasionalis untuk mewujudkan keadilan sosial, Senin (12/3).
“Hal ini sesuai pesan Ketum Megawati bahwa militansi perjuangan ideologis yang panjang akan mudah kita jalani bila kita ikhlas dan gembira,” kata Eva K Sundari, Sekretaris Badiklatpus DPP PDI Perjuangan.
Selanjutnya, para peserta melakukan joget bersama Maumere dan Jaran Goyang. Kegiatan joget diikuti 150 Sarinah peserta kaderisasi dan seluruh panitia termasuk Sri Rahayu, Ketua Bidang Kesehatan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPP PDI Perjuangan dan Eva K Sundari sendiri.
“Semua menggunakan kebaya putih dan berkain Nusantara serta kerudung bu Fatmawati berwarna merah bagi yang muslim,” jelas Eva K sundari melalui rilisnya.
Rampak Sarinah memilih kebaya sebagai wujud atas amanah Trisakti ketiga yaitu Berkepribadian dalam Kebudayaan. Hasil riset menunjukkan bahwa sudah sejak dahulu kebaya adalah pakaian ibu-ibu berbagai suku di Nusantara.
Gerakan Rampak Sarinah mendukung gagasan dan bekerjasama dengan komunitas perempuan lain untuk mengusulkan kepada pemerintah untuk menetapkan Hari Ibu tanggal 22 Desember sekaligus sebagai Hari Berkebaya Nasional.
“Penetapan Hari Berkebaya Nasional ini akan menjadi salah satu alasan untuk mengusulkan Kebaya sebagai warisan budaya Nusantara/ Indonesia kepada Unesco,” kata anggota DPR RI tersebut.
Usulan tersebut disampaikan Sri Rahayu pada pidato penutupan PKKPN.1 di Kinasih Depok. Penutupan dilaksanakan Wasekjen DPP PDI Perjuangan, Utut Adianto.
“Rampak Sarinah mengajak semua perempuan untuk membangun gerakan perempuan berdasar ideologi negara yaitu Pancasila sekaligus menjalankan tugas peradaban sebagai pendidik pertama dan pembentuk karakter nasionalis kepada anak-anak dan keluarga,” kata Eva.
Sebagaimana pesan Sukarno, lanjutnya, perempuan harus mengatasi ketertinggalan mereka untuk menjadi sama kuat dengan laki-laki agar menjadi 2 sayap Garuda untuk terbang tinggi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (ist)
Hiasan tokoh ludruk dan tipografi parikan bikin warga terhibur. Foto: Surya/Nuraini Faiq.
Ada yang unik saat peluncuran Kampung Parikan di Kampung Bosem, Kelurahan Moro Krembangan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, pekan lalu.
Di ujung kampung sudah disapa Parikan lucu.
Sambel tempe lalap Pete
Lali rupane eleng rasane …
Parikan atau pantun ini sudah menyapa di muka kampung. Kampung berada di sepanjang Bosem (waduk) ini kini disulap jadi Kampung warna-warni berhias Parikan.
Parikan itu dituangkan dalam Tipografi di dinding pos kamling. Di mulut gang itu, tulisan Parikan bercat indah itu tidak saja bikin geli tapi juga mempercantik hiasan kampung. Sebab ditulis indah dan mencolok.
Ida Maulida, seorang warga RT 06 Moro Krembangan mengaku senang dan terhibur dengan hiasan Parikan di banyak dinding kampung. “Lucu dan mendidik,” ucap Ida, dikutip Tribunnews.com.
Tidak hanya parikan, rumah-rumah warga juga dicat cantik berhias parikan. Ada puluhan mural khas Suroboyo, tokoh ludruk, hingga deretan tipografi parikan di kampung berlokasi di sepanjang Bosem Surabaya itu.
Erwin Poedjiono, tim kreatif sekaligus kreator Kampung Parikan Surabaya menyebutkan bahwa kampung unik itu diinisiasi oleh lembaga Hot Line Surabaya. “Ada 30 Parikan dan mural,” katanya.
Kamis sore tadi Kampung Parikan itu diresmikan. Sayang, Wali Kota Tri Rismharini tidak jadi meresmikannya dan diwakilkan Kepala Dinas Pariwisata. Ini semacam kampung budaya pertama di Surabaya.
Erwin menyebut bahwa kampung itu bisa mejadi cikal bakal museum budaya khas Suroboyo. Nantinya kampung ini akan menjadi pelestari budaya khas Suroboyo. Akan ada pembelajaran untuk generasi muda dan anak-anak.
Tidak hanya deretan rumah yang dindingnya dihiasi parikan. Salah satu dinding rumah warga juga behias tokoh ludruk legendaris. Yakni Cak Bambang Gentolet, Cak Markeso, dan Cak Momon.
Diakui bahwa saat ini anak muda dan anak-anak di kampung tidak tahu siapa itu Bambang Gentolet. Mereka juga tak bisa membuat parikan. Di kampung unik ini akan diajari khusus membuat parikan. “Kami menjadi tertantang untuk melestarikan budaya Suroboyo,” kata Suyadi, tokoh budaya Kampung Bosem.
Parikan yang menjadi ciri khas Suroboyo akan mendapat tempat khusus dalam pembinaaan budaya. Puluhan Parikan itu kini menghiasi setiap sudut kampung Bosem.
Namun, parikan yang tertera harus menghibur tapi ada unsur mendidik. Berikut sejumlah parikan itu:
Mlaku mlaku tuku paku
Mampir pasar tuku tumbar
Yen konco nggoleki aku
Yo iki omahe di kembar
Tuku celono nang Cak Bowo
Tukune tekan Persia
Sing rukun Cino Jowo
Kerono kita Indonesia ..
Dalam pembukaan Kampung Parikan sore itu diawali denga perpaduan barongsai dan dorong tokoh punakawan Gareng Petruk semar. Ini menandakan Cino Jowo rukun.
Sementara itu, para pemuda kreatif kampung itu sore tadi juga dilibatkan dalam menuntaskan mural dan tipografi. Warga mengaku senang kampungnya bersih dan terdidik. (ist)
Focus group discussion yang diselenggarakan di Bappeda Jombang. Foto: NU Online.
Pimpinan Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Jombang bersama berbagai pihak melatih sebanyak 30 relawan budaya. Sejumlah pihak yang dimaksud di antaranya 30 kepala desa di Jombang, 30 pengelola Bumdes, serta SKPD, dan beberapa pihak dari kecamatan.
Pelatihan terhadap 30 relawan budaya ini tercermin dalam FGD (focus group discussion) yang diselenggarakan di Ruang Pertemuan Bappeda Jombang, pekan lalu. Dilatihnya sejumlah relawan budaya tersebut untuk mencatat data potensi budaya dan pariwisata, serta mengembangkan data menjadi desain pengembangan potensi budaya dan pariwisata.
“Alhamdulillah, telah dilaksanakan kegiatan pelatihan 30 relawan budaya bisa bersinergi dengan 30 kepala desa 30 pengelola Bumdes serta SKPD dan perwakilan dari kecamatan dalam FGD pemetaan potensi budaya dan pariwisata,” kata Ketua PC Lesbumi Jombang Inswiardi, dikutip NU Online.
Ia berharap, 30 relawan budaya yang sebagian terdiri dari kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ini dapat memaksimalkan peran dan fungsinya di lapangan nantinya.
Sehingga hadirnya mereka dalam proses assesment data, proses komunikasi dengan pelaksana sistem dan proses menyusun desain pengembangan potensi budaya dan pariwisata juga bisa dirasakan masyarakat Jombang. “Semoga jejaring ini bisa menguatkan peran masyarakat dalam pengabdian dan dedikasi,” ucapnya sembari berharap.
Dalam FGD ini, hadir juga dari perwakilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, H Muslimin Abdilla. Di awal forum diskusi tersebut, ia juga menyampaikan materi terkait.
Inswiardi menambahkan, FGD kali ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya dengan Bapedda, IPNU, DPMPD serta Disbudpar.
Sesuai kesepakatan saat itu, pada Maret ini relawan budaya akan turun lapangan melakukan assesment data sekaligus merancang desain pengembangan potensi budaya dan pariwisata.
Selanjutnya pada April mendatang, relawan budaya akan melakukan presentasi hasil pendataan dan rancangan desain mereka di kecamatan masing-masing.
“Dalam proses presentasi ini akan disiapkan dewan kurator untuk menilai desain pengembangan budaya yang terbaik. Desain terbaik akan didorong menjadi pilot project penguatan roadmap SIDA di Salam Baraja Digda, dengan didukung beberapa SKPD terkait dan disinergikan dengan program desa,” jelas dia. (ist)
Situs berupa tumpukan batu bata kuno di Tarik Sidoarjo. Foto: SuratKabar.id.
Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mendadak heboh dan dikunjungi masyarakat dari luar desa. Baru-baru ini warga setempat menemukan sebuah situs berupa bangunan diduga terkait sejarah cikal bakal Kerajaan Majapahit.
Situs tersebut berada di area persawahan yang juga berbatasan dengan makam desa setempat. Untuk menyelamatkan dan melindungi situs, petugas kepolisian dan warga telah memasang garis polisi dan memberi atap terpal, dilansir SuratKabar.id.
Kepala Seksi Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Edhi Widodo menjelaskan bahwa merujuk pada Kitab Pararaton memang disebutkan bahwa Raden Wijaya sebelum mendirikan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, terlebih dahulu tinggal di hutan atau alas Trik.
Widodo mengatakan pihak BPCB Jawa Timur yang berkantor di Trowulan, Mojokerto, akan menindaklanjuti temuan diduga pagar atau dinding dari batu bata kuno di salah satu area persawahan dan makam Dusun Kedungklinter, Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, tersebut.
Situs yang ditemukan berupa bangunan dari tumpukan batu bata kuno seperti pagar atau tembok. Bangunan ini terpendam sekitar satu meter di bawah lahan sawah setempat.
Setelah diukur, bangunan yang sementara sudah digali dan terlihat panjangnya mencapai 13,5 merer dan tinggi 92 sentimeter. Bangunan terdiri dari lima baris atau lima tumpukan batu bata. Setiap batu bata berukuran panjang 32 sentimeter, lebar 21 sentimeter, dan tebal 7 sentimeter.
Mahfud, salah satu warga yang ikut menggali mengatakan, awal penemuan situs tersebut dari juru kunci makam yang akan menanam singkong. Setelah menggali ternyata cangkulnya mengenai sesuatu dan setelah digali bersama warga, atas persetujuan kepala desa ditemukanlah situs tersebut.
Kepala Desa Kedungbocok, Mohamad Ali Ridho mengatakan sesuai cerita dari sesepuh desa dan pelestari cagar budaya bahwa desa setempat memang berada di daerah yang dulu disebut Alas Trik atau Hutan Trik. (ist)
Workshop Mitate Brooch di House of Sampoerna. Foto: Dok HoS.
Walau dikenal sebagai negara maju, Jepang tetap dapat mempertahankan tradisinya hingga kini. Salah satunya tampak dari berbagai karya seni yang walau memiliki tampilan kekinian, namun dibuat dengan teknik yang telah dipergunakan dan tetap terpelihara selama ratusan tahun, dan telah diwariskan secara turun-temurun.
House of Sampoerna (HoS) menjalin kerjasama dengan seniman dari Jepang dalam menggelar pameran bertajuk ‘Japanese Beautiful Art’ yang diselenggarakan di Galeri House of Sampoerna (HoS) pada 9-31 Maret 2018.
Pameran yang menampilkan 35 karya seni khas negeri sakura ini melibatkan 5 seniman dengan latar belakang kesenian yang berbeda. Soho Konishi misalnya, adalah generasi ke empat dari Miyabi School yang terus berupaya aktif mengembangkan Oshie.
Oshie adalah seni tradisional tiga dimensi khas Jepang yang sudah ada sejak jaman Edo (1603-1867), dan terbuat dari hasil penyatuan bahan kimono dan chiyogami (kertas Jepang) yang diisi dengan kapas atau spons.
Seperti halnya Soho, Mikiko Shimizu mempersembahkan jenis kesenian Ikebana, yakni seni merangkai bunga yang berkembang di Jepang sejak abad ke-6. Sedangkan Daiki Matsunaga, pria lulusan Fakultas Seni dari Universitas Kyoto Seika mengangkat Chookoku yaitu seni pahat khas Jepang melalui karyanya yang sangat unik.
Tidak hanya menggambarkan makhluk hidup disekitarnya, karya pahat ciptaannya juga berbentuk figur imajiner, bahkan juga terinspirasi oleh cerita-cerita khayalan negeri dongeng seperti cerita peri yang tinggal jauh di dalam hutan pada karyanya yang berjudul ‘Listen to the trees voices’.
Dengan kekuatan goresan tangan dan fude pen (brush pen), Yuri Fujita menghasilkan karya lukis minimalis berbentuk wajah, seperti pada karya berjudul ‘Tobu’ (terbang).
Dan Guy Hirose, yang mengawali karir sebagai seorang pematung, justru mempersembahkan instalasi yang mengekspos tentang Surabaya dengan judul ‘Surabaya Artiques’ sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat Surabaya.
“Harapan saya pameran ini dapat dinikmati serta diapresiasi oleh masyarakat luas khususnya masyarakat Surabaya. Sehingga masyarakat dapat mengenal lebih jauh kesenian asli Jepang,” ujar Soho Konishi peserta sekaligus koordinator pameran. (ita)