Pemandian Dewi Sri, Diyakini Peninggalan Mataram Kuno di Magetan. Foto: Detikcom/Sugeng Harianto.
Magetan ternyata juga menyimpan sebuah situs sejarah peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Namanya Petirtaan Dewi Sri. Lokasinya terletak di Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan atau sekitar 20 km di timur pusat kota Magetan.
“Lokasi ini disebut petirtaan atau pemandian Dewi Sri. Karena dipercaya sebagai tempat mandi zaman kerajaan dahulu oleh tokoh wanita yang memberi kemakmuran yaitu Dewi Sri,” jelas penjaga Petirtaan Dewi Sri, Sumiran (45) kepada detikcom, pekan lalu. Dalam mitologi masyarakat Hindu-Jawa, Dewi Sri dianggap sebagai tokoh perempuan yang memberikan sumber kehidupan dan kemakmuran.
Sumiran menambahkan, diperkirakan situs ini merupakan jejak peninggalan Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram kuno. Terbukti dari tulisan yang ditemukan di atap miniatur salah satu artefak berbentuk rumah yang bertuliskan angka tahun 905 Saka atau 983 Masehi dan 917 Saka atau 995 Masehi.
Lantas dimana tanda-tanda adanya Dewi Sri di pemandian ini? Jadi di dalam kolam yang berada di tengah area wisata, terdapat sebuah bilik utama di mana berdiri arca yang diyakini warga sebagai Dewi Sri. Namun kolam ini terendam air. Menurut Sumiran, semua miniatur patung Dewi Sri berada di dalam kolam seluas 400 meter persegi dan tinggi 6 meter tersebut.
Untuk turun ke bawah, hanya ada satu jalan berupa tangga selebar 1,5 meter di sebelah tengah sisi timur kolam. Dari 15 anak tangga yang ada itu pun hanya terlihat 3 anak tangga, sisanya tertutup air. Anak tangga ini terbuat dari tumpukan batu bata berukuran panjang 38 cm, lebar 22 cm dan tebal 8 cm.
“Sayang ini pemandangan yang paling indah untuk dinikmati justru tidak bisa dilihat, tertutup air. Hanya seperti melihat kolam saja ini. Sayang sekali, seharusnya ini dibuatkan saluran pembuangan air,” ungkap pengunjung asal Madiun, Wahyu (35) di lokasi.
Tidak hanya pemandian, obyek wisata yang menempati area seluas 1.400 meter persegi ini juga memiliki daya tarik seperti artefak berbahan batu bata berupa miniatur lumbung sebanyak tujuh buah, fragmen arca tujuh buah, miniatur rumah dua buah, dan sebuah belik atau sumber sumur kuno.
Sumiran mengatakan Petirtaan Dewi Sri Magetan telah terdaftar sebagai situs yang dilestarikan oleh Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur sejak tahun 1999. “Situs Petirtaan Dewi Sri sudah terdaftar di BPCB Trowulan Mojokerto, sehingga banyak juga pelajar yang berkunjung karena mendapat tugas di sekolah,” ungkapnya.
Selain pelajar, lokasi situs Petirtaan Dewi Sri ini juga dibuka untuk umum, bahkan tanpa dipungut biaya alias gratis. Pengunjung bisa melihat sebagian benda purbakala yang terlepas dari tempat aslinya di sisi timur kolam, dekat pintu masuk lokasi. (dtc)
Gubernur Jawa Timur, Jawa Barat dan DIY di acara ‘Harmoni Budaya Jawa-Sunda. Foto: Humas Pemprov Jatim.
Rekonsiliasi budaya yang diprakarsai Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo dan Gubernur Jawa Barat Dr H Ahmad Heryawan, menandai berakhirnya 661 tahun permasalahan antara etnis Sunda dengan etnis Jawa pasca tragedi Pasunda Bubat yang terjadi pada tahun 1357 Masehi.
Rekonsiliasi ini diwujudkan melalui penggantian dua jalan arteri di Kota Surabaya dengan menggunakan nama yang menyimbolkan kesundaan. Yakni, Jl Prabu Siliwangi menggantikan Jl Gunungsari, dan Jl Sunda menggantikan Jl Dinoyo. Penggantian nama jalan tersebut menjadikan Jalan Prabu Siliwangi berdampingan dengan Jalan Gajah Mada, sementara Jalan Sunda berdampingan dengan Jalan Majapahit.
“Lewat peristiwa ini, permasalahan antara etnis Jawa dan Sunda yang terjadi sejak 661 tahun lalu, selesai hari ini. Alhamdulillah, baik saya dan Pak Aher akhirnya bisa menemukan satu titik kesamaan” kata Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim pada acara Rekonsiliasi Budaya Harmoni Budaya Sunda-Jawa di Hotel Bumi Surabaya, Selasa (6/3).
Pakde Karwo mengatakan rekonsiliasi ini penting untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya antara etnis Sunda dan Jawa. Pasalnya, akibat tragedi Pasunda Bubat, kedua etnis ini kerap berselisih dalam berbagai hal yang menyangkut hubungan kemanusiaan, seperti perkawinan, pendidikan dasar, dan lainnya.
Tragedi Pasunda Bubat, lanjut Pakde Karwo, adalah perang antara kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda yang terjadi pada abad ke-14 tepatnya pada tahun 1357.
Terjadi akibat kesalahpahaman antara Gajah Mada sebagai patih Kerajaan Majapahit dan Anepaken sebagai patih Kerajaan Sunda dalam mengartikan sebuah pertemuan persuntingan putri kerajaan Sunda, Diah Pitaloka oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk. Kesalahpengertian ini mengakibatkan peperangan, yang mengakibatkan raja sunda, isterinya, serta putri Diah Pitaloka dan pasukannya meninggal.
“Jauhnya jarak antara peristiwa perang Bubat dengan munculnya beberapa naskah kuno hingga 200 tahun berikutnya, seperti kidung sundayana ditengarai sebagai upaya divide et impera oleh penjajah,” ujar Pakde Karwo.
Oleh karena itu, lanjutnya, penting bagi generasi masa kini untuk mendudukkan tragedi Perang Bubat sebagai peristiwa kebudayaan, dan untuk melenyapkan masalah ini diperlukan terobosan-terobosan kebudayaan antara masyarakat Sunda dan Jawa, salah satunya lewat rekonsiliasi harmoni budaya sunda-Jawa ini.
Ditambahkan Pakde Karwo, rekonsiliasi ini akan merekatkan bangsa Indonesia melalui simpul-simpul yang memberikan orientasi nilai perjuangan dan persatuan, dengan bingkai dan landasan keragaman budaya, sebagai sumber kekuatan bangsa Indonesia.
Sambut Baik Rekonsiliasi
Dalam orasinya, Gubernur Jawa Barat, Dr H Ahmad Heryawan menyambut baik rekonsiliasi Sunda dan Jawa yang diwujudkan melalui hadirnya simbul Sunda pada dua ruas jalan di Jawa Timur, tepatnya di Kota Surabaya. Untuk itu, Kang Aher, sapaan akrab Gubernur Jabar ini juga akan melakukan hal serupa di Jabar, tepatnya di Kota Bandung, dengan membuat Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk di Bandung.
“Nama Jalan Majapahit akan menggantikan Jalan Gasibu di tengah kota, kemudian Jalan Kopo diganti Jalan Hayam Wuruk. Estimasinya, penggantian kedua jalan ini dilakukan pada April atau awal Mei 2018 mendatang” katanya.
Senada dengan Pakde Karwo, Kang Aher sepakat rekonsiliasi ini menjadi bagian penting untuk mempererat hubungan antara etnis Sunda dengan Jawa. “Sampai saat ini, ada orang Sunda yang tidak mau disebut orang Jawa, padahal mereka tinggalnya di Pulau Jawa. Nantinya, disebut orang Jawa berbahasa Sunda. Rekonsiliasi ini akan membawa dampak psikologis untuk merekatkan kita,” katanya.
Ditambahkan, rekonsiliasi ini turut menjadi sejarah dan terobosan yang tepat untuk menyatukan Indonesia. Pasalnya, jumlah etnis Jawa mencapai 42% dari seluruh etnis di Indonesia, sedangkan etnis Sunda mencapai 14%.
Jika digabungkan, jumlahnya mencapai 56% atau separuh lebih dari seluruh etnis di Indonesia. “Artinya jika masalah Jawa dan Sunda selesai, maka perkara-perkara besar di Indonesia juga selesai” ujarnya.
Rekatkan Sunda dan Jawa
Dalam orasinya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang disebut Pakde Karwo sebagai Pengageng Budaya Jawa mengungkapkan bahwa pemberian nama-nama jalan ini diharapkan memutus sejarah kelam 661 tahun lalu atas tragedi Bubat yang meretakkan hubungan antara etnik Sunda dengan Jawa.
“DIY telah meletakkan nama Jalan Siliwangi, Pajajaran dan Majapahit menjadi satu kesatuan jalan dalam satu jalur, dari ruas simpang Pelemgurih ke Jombor, diteruskan sampai di simpang tiga Maguwoharjo, dan dilanjutkan lagi hingga simpang Jalan Wonosari,” katanya.
Ditambahkan, penamaan jalan hari ini juga menjadi tonggak awal sejarah baru rekonsiliasi etnik Sunda-Jawa. Demikian pula, kehadiran Kang Aher sebagai representasi rakyat Sunda di Jawa Barat dan Pakde Karwo mewakili rakyat Jawa di Jatim diharapkan semakin memulihkan tali persaudaraan untuk menjadi satu bangsa Indonesia yang bermartabat.
“Dalam agama apa pun kita tidak pernah mengenal adanya dosa turunan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan menunjukkan jalan lurus-Nya, sehingga kita menjadi lebih utuh sebagai satu bangsa,” pungkas Sri Sultan.
Hadir dalam kesempatan ini, Sekdaprov Jatim Dr H Akhmad Sukardi, Pangdam V/Brawijaya, Wakapolda Jatim, bupati walikota se-Jatim, bupati walikota eks Padjajaran, jajaran Komandan Kodim, jajaran Polda Jatim, para Kapolres se-Jatim, Kepala Disbudpar Prov Jatim dan Jabar, tokoh budayawan Jabar dan Jatim, mahasiswa, dan awak media.
Dalam rekonsiliasi ini juga diadakan diskusi panel narasumber berkompeten, yakni Prof Dr Agus Aris Munandar MHum dari UI Jakarta dengan pokok bahasan ‘Bukti-bukti Perekat Sejarah antara Dua Etnik di Masa Silam’, Prof Dr Haryono dari Univ Negeri Malang dengan pokok bahasan ‘Hikmah yang Dapat Diambil dari Pasundan Bubat Menuju Kehidupan Masa Kini’.
Juga ada Dr Undang Ahmad Darsa dari Univ Pajajaran Bandung dengan pokok bahassan ‘Bukti-Bukti Perekat di Budaya Sunda’ , serta Prof Aminudin Kasdi dari Univ Negeri Surabaya dengan pokok bahasan ‘Peran Majapahit di Nusantara’. (ist)
Bupati Abdullah Azwar Anas membuka Banyuwangi Culture Everyday. Foto: Detikcom/Ardian Fanani.
Wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi kini bisa menikmati atraksi seni khas Bumi Blambangan setiap hari. Tidak lagi hanya di akhir pekan, festival budaya akan digelar setiap malam oleh pemkab di Alun-Alun Taman Blambangan.
Seperti ‘Banyuwangi Culture Everyday’ dimulai akhir Februari 2018 lalu yang dibuka Bupati Abdullah Azwar Anas. Menurut Bupati Anas, festival budaya ini akan menjadi atraksi baru yang bisa dinikmati wisatawan setiap hari.
“Kapan pun mereka datang, wisatawan bisa menikmati kesenian Banyuwangi tanpa harus menunggu kalender wisata tertentu,” kata ungkap Anas kepada Detikcom.
Festival ini, lanjut Anas, juga sebagai upaya melestarikan budaya Banyuwangi agar terus tumbuh. Anas ingin generasi muda bisa melestarikan dan mengembangkan kreativitas seni.
“Selain itu, festival budaya ini juga ajang konsolidasi bagi pelaku seni karena secara tak langsung mereka dipacu untuk menampilkan sesuatu yang menarik, bahkan mungkin baru, karena digelar setiap harinya. Jadi ini juga trigger bagi seniman dan calon seniman untuk menemukan kreasi baru,” kata Anas.
Pada pembukaan kemarin malam, ditampilkan Tari Jejer Jaran Dawuk oleh pelajar SMPN I Banyuwangi, yang diiringi gamelan musik gamelan rancak khas Banyuwangi yang juga dimainkan para pelajar. Lalu ada tarian Rhodat Syiiran, kembang pesisir dan kesenian lainnya.
Penampilan perdana tadi malam mendapat antusiasme yang tinggi dari para penonton. Di antara penonton yang memadati panggung Taman Blambangan terdapat wisatawan manca negara. (dtc)
Di Kabupaten Blitar, musik keroncong juga dimintai remaja. Foto: JatimTimes.com.
Musik keroncong yang perlahan menjadi ikon kesenian di Jawa Timur akan diusulkan masuk dalam kurikulum muatan lokal (Mulok) di sekolah-sekolah di Kabupaten Blitar.
Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Blitar, Luhur Sejati, mengatakan sebagai kesenian yang asli berasal dari Indonesia, musik keroncong harus terus dikembangkan, dan diajarkan kepada generasi muda melalui pelajaran-pelajaran muatan lokal dan ekstrakurikuler di sekolah.
“Kami akan berupaya kerjasama dengan Dinas Pendidikan, minimal keroncong masuk ekstrakurikuler dulu. sehingga music keroncong bisa dikenal oleh anak-anak,” kata Luhur Sejati kepada BlitarTimes.
Ditegaskan, Pemkab Blitar melalui Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga berkomitmen mendukung upaya pengembangan dan pelestarian musik keroncong di Kabupaten Blitar. Selain mendorong musik keroncong masuk ke sekolah, pihaknya juga memberikan pelatihan gratis musik keroncong kepada masyarakat yang ingin belajar.
“Kita gencar lakukan pembinaan. Kami akan fasilitasi tempat untuk latihan di Aula Disparbudpora ini. Dan nanti menunggu petunjuk Pak Bupati dan Wakil Bupati kita akan membelikan alat musik keroncong yang bisa mereka gunakan untuk latihan,” tukasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, keroncong tengah menggeliat di Jawa Timur. Kemajuan dibuktikan Jawa Timur dengan menggeser Jawa Tengah sebagai propinsi di Indonesia dengan perkembangan keroncong paling maju. Saat ini di Jawa Timur tercatat ada 167 grup musik keroncong.
“Tentunya kita tak mau ketinggalan. Salah satu kunci memajukan music keroncong adalah dengan mengenalkannya kepada anak-anak sejak dini. Maka mutlak keroncong harus masuk ke sekolah-sekolah,” tuntasnya. (jtm)
Puti Guntur Soekarno bersama Pokdarwis di Tulungagung. Foto: PDI Perjuangan Jatim.
Sertifikasi pemandu wisata menjadi bagian dari program Seribu Dewi (Desa Wisata) pasangan calon gubernur-wakil gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) – Puti Guntur Soekarno (Mbak Puti).
Menurut Puti, pemberian sertifikat bagi pemandu wisata, termasuk untuk pemandu wisata di tempat-tempat wisata berbasis desa, bakal dilakukan setelah dia bersama Gus Ipul dipercaya memimpin Provinsi Jawa Timur.
Rencana pemberian sertifikat ini pun dimasukkan dalam langkah kerja program Seribu Dewi. Komitmen pasangan cagub-cawagub Jatim nomor urut dua ini disampaikan, setelah mendengar keluhan dari kelompok sadar wisata (pokdarwis)
“Kami tengah merancang program, bagaimana guide di tempat-tempat wisata berbasis kemasyarakatan itu juga mendapat sertifikat,” kata Puti Guntur, pekan lalu di Tulungagung.
Sehingga, lanjut Puti, nantinya Jawa Timur akan memiliki guide berkualitas yang bisa menjadi pemandu bukan hanya untuk turis lokal, namun juga mancanegara.
“Tantangan ke depan, memang setelah mengenalkan kepada dunia, tugas kita adalah memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan,” urai mantan anggota Komisi X DPR RI yang di antaranya membidangi sektor wisata ini.
Seiring dengan sertifikasi pemandu wisata, pihaknya juga menyiapkan pelatihan kepada masyarakat, khususnya anak-anak muda yang terlibat dalam kepariwisataan di daerahnya. Langkah itu juga sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas pariwisata di Jawa Timur.
Puti menambahkan, sektor pariwisata memang termasuk salah satu program yang akan menjadi fokus pengembangannya. Untuk program ini, Gus Ipul sudah mempercayakan kepada dirinya terkait pengembangan sektor wisata.
Menurutnya, pengembangan pariwisata di Jawa Timur selama ini belum menjangkau dua hal. Yakni, membangun pariwisata berbasis desa serta meningkatkan kualitas kreasi melalui pemberdayaan masyarakat.
Tak hanya itu, dia juga menyiapkan penguatan modal hingga promosi lewat digital. “Sehingga, nantinya bukan hanya menjadi konsumsi internal dalam negeri, namun juga hingga luar negeri,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Pokdarwis Tulungagung, Karsi Nero Sutamprin mengatakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk sadar wisata sangat diperlukan. Terutama dalam hal memperbanyak pemandu wisata.
Hal ini dia sampaikan di acara pertemuan 40 pokdarwis se-Kabupaten Tulungagung dengan Cawagub Puti Guntur Soekarno di tempat wisata Gunung Budheg, Tulungagung.
“Memang harus ada standarisasi di segala bidang, terutama SDM-nya. Apalagi, saat ini Tulungagung sudah dilirik baik wisatawan nasional maupun internasional,” kata Karsi.
Pihaknya mendukung program Gus Ipul-Mbak Puti yang berfokus dalam penguatan SDM serta standarisasi guiding. “Satu destinasi wisata idealnya memiliki dua guide bersertifikat,” sebutnya. (sak)
Padi Disuburkan Berbagai Mitos. Foto: Nasionalisme.co.
Padi memiliki strata atau kelas tersendiri dalam dunia pertanian. Khususnya di pulau Jawa sebagai daerah agraris dan dipenuhi dengan berbagai mitos yang mengiringinya.
Mitos mengenai padi, tumbuh terus melintasi zaman. Baik yang masih terpelihara dengan berbagai ritual dalam masyarakat, maupun yang kini mengendap di alam bawah sadar.
Tak pelak, setiap panen padi datang, misalnya di Kabupaten Malang, kosmos mitos mengenai padin masih kerap menyeruak. Tertampilkan di depan khalayak umum, seperti yang masih dilakukan oleh para petani di Desa Karangkates, Sumberpucung. Melalui ritual kesenian lokal, baik tarian maupun berbagai sesajian untuk para leluhur desa.
Pun, dalam panen padi, para pejabat teras Pemerintah Kabupaten Malang kerap turun ke sawah bersama para petani. Seperti yang terlihat di Desa Jatikerto, Kromengan pekan lalu. Seperti dirilis JatimTimes.com, Bupati Malang Dr H Rendra Kresna beserta jajaran terkait seperti Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Nasri Abdul Wahid dan Isri Panglima TNI Nanny Hadi Tjahjanto.
Turun sawah para pejabat teras, selain sebagai bentuk kepedulian dalam mewujudkan kedaulatan pangan yang disandangkan di bahu para petani. Tidak lepas juga untuk menguatkan mitologi dalam kehidupan petani dalam memperlakukan profesinya.
“Kebijakan lokal wajib terus dipelihara. Karena di dalamnya selalu ada nilai-nilai positif yang tidak lekang oleh waktu,” kata Rendra Kresna.
Mitologi adalah salah satu warisan leluhur yang menjadi benteng kebijakan saat ini. Dalam konteks padi, mitos mengenai Dewi Sri sang penguasa padi sangat melegenda pada abad XV-XVI sampai saat ini.
Lantas siapakah Dewi Sri yang dijadikan dewi penguasa padi sejak zaman dahulu sampai kini. Banyak versi mengenai mitos Dewi Sri yang dipercaya membawa kesuburan bagi para petani padi.
Dari kitab Tantu Panggelaran (abad XV-XVI) diceritakan hubungan Dewi Sri dengan padi. Pada kitab tersebut, Dewi Sri memiliki burung yang dari temboloknya lahir berbagai biji-bijian atau tumbuh-tumbuhan serupa padi.
Kitab inilah yang juga akhirnya ditafsirkan dalam masyarakat Jawa kuno melalui berbagai bentuk bangunan dengan simbol Dewi Sri. Terutama pada lumbung-lumbung hasil pertanian.
Selain itu, mitos Dewi Sri semakin melegenda karena banyaknya ditemukan arca atau patung yang dianggap dirinya sedang memegang tangkai padi.
Mitos Dewi Sri sebagai penguasa padi, dikentalkan dengan adanya Candi Barong yang terletak di selatan Candi Prambanan dan tidak jauh dari Kraton Baka. Candi Barong merupakan candi tempat pemujaan bagi Dewa Wisnu dan sakti-nya atau isterinya yang bernama Sri.
Di candi Barong, Dewi Sri dalam bentuk arca perunggu digambarkan duduk di atas padmasana dengan sikap sattwaparyangkasana. Tangan kanan bersikap waradahastamudra, sedangkan tangan kiri memegang setangkai padi. Keberadaan unsur padi inilah yang kemungkinan menyebabkan Dewi Sri didudukkan sebagai Dewi Padi.
Dewi penguasa padi ini memiliki beberapa nama yang identik dengan unsur keberuntungan dan kemakmuran. Misalnya, Ardhra yang berarti selalu memberi kesan segar dan hidup seperti tanaman. Atau Kairisin yang berarti selalu melimpahi dengan pupuk (kandang).
Sebutan lain Dewi Sri adalah Bhuti artinya yang selalu diharapkan untuk melimpahkan kemakmuran, serta Jwalantin, yang selalu bersinar terang. Berbagai hal tersebut yang membuat Dewi Sri kemudian dipuja di kalangan masyarakat agraris. Tidak ketinggalan pula di kalangan masyarakat Jawa.
Versi lain Dewi Sri yang cukup terkenal adalah mengenai kisah antara Batara Guru dengan seorang perempuan bernama Ken Tisnawati. Konon, dalam cerita tersebut, Batara Guru jatuh cinta kepada Ken Tisnawati. Sayangnya, Ken Tisnawati menolaknya dengan cara halus yaitu dengan mengajukan syarat yang cukup berat.
Batara Guru yang marah karena cintanya bertepuk sebelah tangan, akhirnya mengutus orang suruhannya untuk mengejar Ken Tisnawati ke mana pun dia pergi. Ken Tisnawati pun merasa tidak tenang hidupnya, sehingga akhirnya dia meninggal.
Dari kuburannya inilah berbagai jenis tanaman tumbuh dan keluar. Padi keluar dari tubuhnya, kelapa dari kepalanya, jagung dari giginya, pisang dari telapak tangannya. (ist)
Mahasiswa Muhammadiyah Ponorogo saat ikut karnaval di Brunei. Foto: pwmu.
Hari itu suasana Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifudien di pusat kota Bandar Seri Begawan Brunei Darussalam tampak meriah. Ada karnaval budaya yang diikuti peserta dari negara tetangga, akhir pekan lalu.
Salah satu peserta karnaval adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo). Perayaan itu memperingati ulang tahun Brunei Darussalam yang ke-34. Acara ini bertajuk Riadah Berbasikal Semangat Kebangsaan 2018 ini.
Mahasiswa Umpo ini tergabung dalam Permai (Persatuan Masyarakat Indonesia). Universitas Muhammadiyah Ponorogo juga menjalin kerja sama dengan Kedutaan Brunei Darussalam.
Aulia Nuha Istiqomah, mahasiswi Fakultas Agama Islam sangat senang bisa berpartisispasi menyukseskan acara ini sekaligus bisa tahu situasi negeri Brunei. “Alhamdulillah, luar biasa. Kontingen Indonesia paling meriah dengan pakaian adat berbagai daerah. Kita juga punya misi mengenalkan budaya Indonesia yang beranekaragam,” ujar mahasiswi yang aktif di UKMI Al Manar ini seperti dilaporkan pwmu.co.
Dia bercerita, kontingen Indonesia paling banyak menyedot perhatian masyarakat di sana. “Kita seperti artis dadakan, menyedot banyak perhatian masyarakat dengan meminta foto bersama karena pakaian adat yang menarik dan beragam,” katanya.
Acara ini dihadiri Sultan Brunei Hasanal Bolkiah. Para mahasiswa Umpo juga merasa istimewa karena juga diundang gowes alias bersepeda bareng Sultan Brunei dan pejabat kerajaan lainnya. (sak)
Perlu tafsir ulang atas Perang Bubat. Foto: sportourism.id.
Gubernur Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kembali melakukan inovasi dalam memperkuat kebhinekaan Indonesia. Satu demi satu Warisan Kolonial Belanda yang melemahkan dan memecah belah Indonesia direkonstruksi dan diruntuhkan keberadaannya.
Sebelumnya telah berhasil melakukan tafsir ulang cerita kepahlawanan dalam setiap lakon yang dipentaskan dalam kesenian ludruk, ketoprak dan drama. Dalam setiap ceritanya berujung pada kemenangan tokoh pahlawan seperti Sarip Tambak Oso, Untung Surapati, Cak Durasim dan Supriyadi yang pada akhirnya menang melawan kolonialisme Belanda dan Jepang.
Kini Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, akan menggelar rekonsiliasi Jawa dan Sunda pasca Perang Bubat yang memiliki kecenderungan memecah kebhinekaan bangsa.
Perang Bubat adalah perang antara kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda yang terjadi pada abad ke-14 tepatnya pada tahun 1357 yang diakibatkan kesalahpahaman antara Gajah Mada (Patih Majapahit) dan Raja Linggabuana (Raja Sunda) dalam mengartikan sebuah pertemuan.
Dalam sejarah yang ditulis dalam Kitab Pararaton dan Kidung Sunda, Hayam Wuruk (Raja Majapahit) ingin mempersunting Diah Pitaloka (Putri Kerajaan Sunda) untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda yang tidak masuk dalam wilayah Majapahit.
Gajah Mada menghadang utusan Raja Linggabuana di wilayah Bubat demi menaklukkan Nusantara yang didengungkan melalui Sumpah Palapa untuk menyatakan tunduknya Kerajaan Sunda dibawah Kerajaan Majapahit.
Raja Sunda menolak, dan alhasil iring-iringan yang saat itu juga membawa Diah Pitaloka gugur ditangan Gajah Mada.
Sejak saat itulah muncul mitos bahwa tidak boleh orang Sunda menikah dengan orang Jawa. Meskipun mitos tersebut sudah tidak lagi menjadi bagian besar dari masyarakat, namun kepercayaan tersebut masih saja muncul di kalangan masyarakat tradisi dan budayawan.
Begitupula dalam aspek pembangunan hingga 2017, tidak ada nama Jalan Hayam Wuruk, Jalan Majapahit dan Jalan Gajah Mada di Jawa Barat dan tidak ada nama Jalan Siliwangi dan Jalan Pajajaran di Jawa Timur.
Menurut Rangga Bisma Aditya, budayawan asal Blitar, narasi perang Bubat yang menyesatkan ini harus segera dihentikan. Hal ini tidak sejalan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika yang kita dengung-dengungkan Pemerintah Indonesia.
“Mempercayai narasi perang bubat akan membuat kita tenggelam dalam sejarah kelam bangsa, dimana saat itu Pemerintah Kolonial Belanda-lah yang memunculkan isu perpecahan ini,” katanya kepada TimurJawa.com.
Hal ini menurut Rangga, didasarkan pada tidak adanya prasasti atau relief sebagai sumber data sejarah primer yang memuat cerita Perang Bubat. Bahkan dapat dikatakan bahwa cerita Perang Bubat yang terkandung dalam Kitab Pararaton dan Kidung Sunda adalah cerita fiktif yang diciptakan untuk memecah belah Nusantara.
“Kitab Pararaton baru ditulis pada abad ke-15, tepatnya 117 tahun setelah peristiwa perang Bubat. Begitupula Kidung Sunda yang baru ditulis pada abad-19 oleh Sejarawan Belanda CC Berg. Tidak mungkin sebuah cerita akan ditulis secara detail, jauh setelah peristiwa itu terjadi. Pasti terdapat motif dibalik maksud dan tujuan agar Jawa dan Sunda tidak dapat bersatu,” imbuh rangga.
Rangga menambahkan, motif munculnya Kidung Sunda yang ditulis CC Berg pada tahun 1927 dan dan terjemahan Bahasa Belandanya di tahun 1928 misalnya, sangat dekat dengan momentum Sumpah Pemuda yang disinyalir agar Bangsa Indonesia tidak bersatu.
“Terlebih lagi Kidung Sunda pernah menjadi bahan ajar wajib di sekolah-sekolah Belanda seperti Algemeene Middelbare School (AMS). Hal ini mengindikasikan memang belanda menjadikan peristiwa Perang Bubat sebagai politik de vide at impera alias politik adu domba bangsa Indonesia,” ujar Rangga.
Kini komitmen untuk mengupayakan rekonsiliasi sejarah perpecahan Jawa dan Sunda berlanjut dipundak Gubernur Jawa Timur yang akrab disapa Pakde Karwo.
Melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, dan Gubernur Jogjakarta, Sultan Hamengkubuwono X akan melakukan rekonsiliasi kebudayaan yang akan digelar 6 Maret 2018 di Surabaya.
Rekonsiliasi ini nantinya akan melibatkan Prof Dr Agus Aris Munandar dari UI Jakarta, Prof Dr Hariono dari UM Malang, Dr Undang Ahmad dari Unpad Bandung serta Prof Dr Aminudin Kasdi dari Surabaya.
Memang rekonsiliasi ini bukan yang pertama kali digelar, Oktober 2017 Gubernur DIY, Sultan Hamengkubuwono X telah meresmikan Jalan Ring Road Utara, Selatan dan Barat Jogjakarta dengan nama Jalan Siliwangi, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Pajajaran dan Jalan Brawijaya.
Selain itu di Bandung, Jawa Barat pada tahun 2018 ini akan dipersiapkan perubahan nama dari Jalan Kopo menjadi Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Sentot Alibasya akan diganti dengan nama Jalan Majapahit. (ist)
Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibaningsih (tengah) di galeri HLB. Foto: dok.
Kementerian Perindustrian RI berkomitmen mendukung perkembangan industri kecil dan menengah (IKM) dengan memfasilitasi kegiatan pameran dan promosi lainnya.
“Kami pasti mendukungnya, terlebih IKM-IKM yang memiliki potensi bagus dan berkembang,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Gati Wibaningsih di sela kunjungannya ke Galeri Huraira Leather Bag (HLB) di Jl Jambi No 3 Surabaya, Selasa (27/2).
Huraira Leather Bag (HLB) satu-satunya IKM produk kulit premium asal Kota Surabaya yang namanya sudah dikenal secara internasional.
Pihaknya berharap dengan keterlibatan IKM-IKM, termasuk yang ada di daerah, berkegiatan di tempat atau bahkan negara lain maka akan makin memperkenalkan produk Indonesia ke internasional.
Selain itu, bentuk fasilitas yang diberikan yakni memasarkannya secara dalam jaringan (online) dan luar jaringan (offline) untuk diperkenalkan lebih luas.
“Salah satunya seperti yang dilakukan HLB ini, pemasarannya sangat luar biasa dengan `offline` maupun `online`. Tapi, manfaat melihat di lokasi bisa mengetahui kualitasnya secara langsung,” ucapnya seperti dilaporkan Antara Jatim.
Menurut dia, produk-produk yang dihasilkan HLB kreatif dan berkualitas karena tak hanya asal membuat, akan tetapi juga berdasarkan desain hampir sempurna.
Pemilik HLB, Siti Huraira mengapresiasi upaya Kemenperin RI mendukung dan memfasilitasi produk-produk IKM agar lebih berkembang sekaligus dikenal di mancanegara.
Dalam waktu terdekat, pihaknya akan mengikuti pameran kelas internasional, seperti Indonesian Taiwan Week 2018 pada 21-27 Maret 2018 di Taiwan dan Mustermesse Basel di Swiss pada April mendatang.
“Di Taiwan, temanya nanti adalah `bridge` atau jembatan. Kami nanti mempromosikan jembatan yang menjadi ciri Jawa Timur, yaitu Suramadu sekaligus sebagai inspirasi,” katanya.
Ia juga menargetkan memperkenalkan sekaligus memasarkan produk-produk karya IKM dalam negeri tidak kalah dengan produk asing serta mampu bersaing. (ist)
Seorang pelajar memilih koleksi buku koleksi Purpustakaan Trotoar di Alun-Alun Kota Malang. Foto: JatimTimes.com.
Perpustakaan umum dan sekolah sudah banyak kita jumpai. Perpustakaan keliling juga sudah tidak asing lagi. Mungkin yang belum akrab dengan kita adalah perpustakaan trotoar.
Nah, perpustakaan trotoar sudah bisa dijumpai di Malang. Namanya Perpustakaan Trotoar Malang. Komunitas sosial ini biasanya buka di Alun-Alun Kota Malang.
Di tempat ramai itu, Perpus Trotoar Malang membeber buku-buku bacaan. Mereka mengajak masyarakat gemar dan sadar akan budaya baca.
Menurut Hasbi, sang koordinator kepada JatimTimes.com mengaku, empat bulan sudah aktivitas itu berjalan di kawasan Alun-Alun Kota Malang.
Sampai saat ini, respons masyarakat sangat baik walaupun hanya Sabtu banyak kalangan pelajar dan mahasiswa serta Minggu masyarakat umum menikmati ide kreatif Perpus Trotoar Malang ini.
Donasi berupa buku dan uang terus mengalir. Dan tentunya itu berdampak pada perkembangan eksistensi komunitas ini agar lebih baik. Selain di alun-alun, para pecinta buku juga bisa berkunjung keb sekretariat Perpus Trotoar Malang di Jl Teluk Cendrawasih 58 B Arojasri Malang.
Hasbi berharap semoga Indonesia, khusunya Kota Malang, semakin bertambah baik kesadaran akan budaya membaca, karena buku adalah jendela informasi dunia. (ist)