Tersangka Perusak Situs Majapahit Ditahan

foto
Tersangka bersama PPNS BPCB Jatim di Kejari Kabupaten Mojokerto. Foto:SindoNews/Tritus Julan.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan memproses secara hukum seorang warga yang telah melakukan perusakan terhadap salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Bahkan, FA (24), warga yang merusak bangunan kuno di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto itu pun kini ditahan.

FA dinilai bertanggung jawab atas rusaknya bangunan kuno peninggalan Kerajaan Majapahit di areal persawahan milik Tuminah di Dusun Bendo, Desa Kumitir. Bangunan kuno yang terbuat dari batu bata itu rusak saat lahan sewaan tersebut dilakukan penggalian tanah untuk urukan. Bahkan, batu bata kuno hasil pembongkaran itu dihancurkan.

Kasus perusakan situs ini terjadi pada tanggal 9 April 2017. Terjadinya perusakan bangunan kuno ini diketahui setelah salah satu warga mengunggah pembongkaran bangunan kuno tersebut melalui media sosial.

“Kami cek ke lokasi ternyata benar terjadi perusakan situs. Ini langsung kita laporkan ke Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BPCB Jawa Timur,” ungkap Kasi Pemeliharan Perlindungan dan Pelestarian BPCB Jatim Edy Widodo, Senin (22/1/2018), seperti dilaporkan SindoNews.com.

Laporan itu lantas ditindaklanjuti dengan melakukan penyidikan. Beberapa saksi, kata Edy, juga sempat dimintai keterangan. Ia juga menyebut kasus ini juga telah digelar perkara bersama kepolisian beberapa waktu lalu.

“Dan hasil perkara menyimpulkan bahwa FA bertanggung jawab atas perusakan itu. Lalu, kita menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka tunggal,” tambah Edy.

FA dijerat dengan Pasal 105 dan Pasal 102 Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Warga Dusun Bendo, Desa Kumitir itu bisa diancam dengan kurungan penjara minimal satu tahun dan maksimal 15 tahun. “Ancaman dendanya Rp500 juta hingga Rp5 miliar. Ini kasus pertama yang ditangani PPNS BPCB Jatim,” tandasnya.

Edy menambahkan, dari hasil penyidikan, tersangka menyewa sebidang tanah milik Tuminah untuk keperluan tanah uruk. Saat proses penggalian, ditemukan struktur bangunan kuno. Namun sayang, lanjut dia, tersangka tak melaporkan temuan itu kepada petugas. Sebaliknya, tersangka justru merusaknya.

“Tidak dijual. Batu bata kuno itu sebagian dipakai untuk menguruk akses masuk lahan dan sebagain lagi diangkut ke truk dan dihancurkan untuk pengerasan lapangan bola voli,” katanya.

Kasus ini juga telah disampaikan ke Polres Mojokerto dan Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto, Senin (22/01). Oleh Kejari Mojokerto, tersangka langsung dilakukan penahanan.

Dalam penyerahan kasus itu, PPNS BPCB Jatim juga menghadirkan tersangka beserta sejumlah barang bukti, di antaranya sebuah cangkul, linggis, satu blok batu bata kuno dan setengah kantong bubukan batu bata hasil penggilingan blok bata bongkaran dari stuktur bangunan kuno.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Mojokerto Yan Octha Indriana mengatakan, pihaknya telah menerima berkas kasus perusakan situs kuno ini. Setelah menerima berkas, tersangka dan sejumlah barang bukti, pihaknya akan melanjutkan proses selanjutnya hingga persidangan. “Ini kita siapkan untuk persidangan. Tak lama lagi kasus ini akan disidangkan di Pengadilan Negeri Mojokerto,” kata Ochta. (ist)

Saat Mbak Puti Ziarah ke Sunan Ampel

foto
Puti Guntur Soekarno didampingi pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Foto: Pdiperjuangan-jatim.com.

Napak tilas sejarah kebangsaan dan religi dilakukan Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno dalam kunjungannya di Kota Pahlawan, Senin (22/01).

Usai mengunjungi rumah kelahiran Bung Karno dan rumah indekos yang tercatat sebagai kediaman pahlawan bangsa HOS Tjokroaminoto, Mbak Puti, sapaan akrab Puti Guntur Soekarno, ziarah ke makam Sunan Ampel, salah satu wali penyebar agama Islam di Nusantara.

Tiba di Ampel selepas shalat Ashar, Mbak Puti diterima langsung oleh Ketua Takmir Masjid Ampel Mohammad Azmi Nawawi dan sejumlah pengurus masjid. Mereka memanjatkan doa di pusara Sunan Ampel dipimpin langsung oleh Kyai Azmi.

Mbak Puti ditemui wartawan mengatakan, kunjungannya ke Ampel adalah untuk berziarah sekaligus menghormati peran para wali dalam penyebaran agama Islam di Surabaya dan Jawa Timur.

“Saya ke sini untuk ziarah. Berdoa pada Allah setiap saat dan waktu. Sekaligus untuk menghormati para wali. Bagaimanapun, para wali, sunan, adalah leluhur yang mempunyai keterikatan sejarah dengan Surabaya dan Jawa Timur,” kata Mbak Puti.

Kepada para pengurus masjid dan makam Ampel, Mbak Puti juga menanyakan kondisi masjid dan peziarah. “Alhamdulillah, hari ini tadi ada sepuluh ribuan peziarah,” kata cucu dari Bung Karno ini.

Menurut Kyai Azmi, jumlah peziarah akan bertambah banyak jumlahnya pada saat hari libur maupun hari besar keagamaan. Karena membeludaknya jumlah peziarah itu pula Kyai Aswi mengaku kurang bisa maksimal dalam melayani pengunjung.

“Kami sampaikan juga (kepada Mbak Puti) kadang-kadang kami merasa kurang maksimal dalam melayani para tamu. Sebab jumlahnya terus bertambah banyak,” kata Kyai Asmi. (sak)

Bilal, Sang Jagoan Pembuat Kepala Barong

foto
Bilal membuat barong di Lingkungan Karangasem, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Foto: Antara.

SIANG itu cuaca di kawasan Lingkungan Karangasem, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, terlihat mendung. Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangat Mustaqbilal untuk memahat kayu balok menjadi kerajinan kepala Barong Oseng.

Barong Oseng merupakan kesenian adat asli Suku Oseng khas Banyuwangi yang sangat digemari masyarakat setempat. Di depan rumahnya yang berada di dalam gang cukup sempit, Mustaqbilal tampak lihai memahat.

Tangan kanannya yang tidak utuh dan tidak memiliki jari-jari itu diikat pada palu. Untuk mengikat palu itu, dia menggunakan tangan kiri dan mulutnya.

Sementara tangan kirinya memegang berbagai jenis pahat. Lempengan besi berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 20 hingga 30 sentimeter itu digunakan untuk memahat dan mengukir.

Laki-laki berusia 33 tahun itu duduk di depan pintu rumahnya tanpa dibantu siapa pun, meski ia juga tidak memiliki kedua kaki. Kondisi kekurangan fisik itu merupakan bawaan sejak lahir.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dia mencoba untuk belajar memahat secara otodidak dari kakak ketiganya yang bernama Mustakim. Kini, Mustakim juga bekerja sebagai pemahat di Desa Cemetuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.

Seiring berjalannya waktu, laki-laki yang biasa dipanggil Bilal tersebut semakin mengembangkan bakatnya memahat. Dia rajin mencari karakter dari media sosial, kemudian diterapkannya dalam bentuk karya seni pahat hingga sekarang.

Tidak hanya pandai membuat kepala Barong Oseng, Bilal juga dapat membuat beragam kepala Barong Bali, Barong Rejeng, hingga kepala Macan-macanan yang biasa digunakan dalam rangkaian seni jaranan.

Bilal mengaku, saat ini pemasaran hasil karyanya tersebut hanya di area Banyuwangi saja. Itu pun, kata dia, pemasaran hanya sesuai pemesanan. ”Saya hanya mengerjakan kepala barong sesuai pesanan. Karena saat ini pasaran barong sepi yang meminati,” ujar Bilal kepada Jawa Pos.

Dia baru melakukan aktivitas memahat sesuai keinginan pemesan. Selain itu, untuk membeli bahan-bahan, Bilal meminta uang muka terlebih dahulu kepada pemesan karena dia memiliki keterbatasan modal.

Bilal berharap, banyak pihak yang memberikan modal, serta membantu memasarkan karya kerajinannya itu hingga ke luar Banyuwangi. Sementara untuk harga kepala barong berukuran kecil dipatok harga Rp 300 ribu. Sedangkan barong yang berukuran besar bisa mencapai Rp 9 juta, dan itu pun pemesannya hanya para pelaku kesenian dan kelompok kesenian di beberapa desa di Banyuwangi.

Hasil penjualan pahatan kepala barong itu digunakan Bilal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama ibunya, Suniyah. Sedangkan bapaknya, Sutaman sudah meninggal dunia.

Bilal menjelaskan, beberapa tahun silam dirinya telah memahat kayu untuk dibentuk Ogoh-ogoh, semacam kesenian adat masyarakat Bali. Ogoh-ogoh itu kini disewakan kepada masyarakat yang punya hajat seperti khitanan.

Di mana anak yang bersangkutan naik ke atas punggung Ogoh-ogoh sebelum disunat untuk diarak keliling kampung. ”Dan harga sekali sewa sebesar Rp 300 ribu per hari, jika sekalian dengan tenaga pemanggulnya bisa mencapai Rp 750 ribu,” ucap bungsu dari empat bersaudara itu.

Bilal berharap bantuan dari pemerintah atau pihak lainnya untuk memberikan modal. Dia juga mengaku butuh dukungan pemasaran hasil kerajinan kepala barong, supaya seni barong lebih dikenal masyarakat. (jpg)

Rela Begadang Demi Raih Sukses UMKM

foto
Riski saat menularkan ilmu bisnis untuk pengembangan usaha UMKM. Foto: Tribunnews.com.

Usaha keras syarat utama mencapai sebuah keberhasilan. Namun, tidak berarti semua harus dikerjakan sendiri. Pengelolaan manajemen yang baik membuat Riski Rahmadianti sukses mengembangkan usaha.

Pergantian hari tinggal beberapa menit lagi. Untuk sebagian besar orang, waktunya istirahat di rumah. Namun, Riski Rahmadianti masih sibuk di depan komputer jinjing. Sebab, saat tengah malam, dia harus memasang kata kunci di website tempatnya memajang produk.

Riski menggunakan cara itu agar produk yang dijual semakin mudah dicari dalam laman pencarian Google. ”Malam seperti itu memang waktu yang pas untuk meningkatkan search engine optimization (SEO),” ujar perempuan 40 tahun itu kepada Jawa Pos.

Riski sudah sebelas tahun mengelola usaha konfeksi yang diberi label Rira Clothing. Dia merintis usaha itu mulai dari awal. Dari yang hanya menerima jahitan kerudung hingga kini memiliki usaha konfeksi yang mampu memberikan penghidupan bagi 30 penjahit.

Karir cemerlang di sebuah stasiun televisi tidak lantas membuat Riski terlena. Dia mengambil tantangan baru. Ibu tiga anak itu belajar desain di salah satu sekolah fashion.

Dia ingin mengembangkan pengetahuan dan bakatnya di dunia mode. Dia mulai merintis usaha pada 2006 dengan memproduksi hijab. ”Semula ditawarkan ke tetangga dan waktu ada pengajian. Hasilnya lumayan. Ada yang pesan juga,” tuturnya.

Hanya dalam tempo dua tahun, usaha itu semakin berkembang. Dia merekrut seratus penjahit. Namun, banyak yang kinerjanya kurang maksimal. Apalagi, manajemen usaha masih amburadul.

Semua digarap sendiri olehnya. Mulai menggambar desain, berbelanja bahan baku, hingga memotong kain. ”Pernah begadang hingga tiga hari garagara kerjaan numpuk,” ujar alumnus Teknik Elektro Universitas Brawijaya itu.

Manajemen yang amburadul membuat bisnis lesu. Sadar akan hal itu, Riski mulai menata kembali. Rira Clothing berfokus pada pakaian muslimah saja dengan segmen anak-anak di bawah usia 6 tahun.

Selain itu, dia membuka jasa penjahitan. Jadi, Riski menerima jahitan berbagai macam model dari orang lain. ”Saya hanya mengerjakan, sementara merek masih milik pemesan,” katanya.

Dia mengatakan, sebuah usaha memang membutuhkan ketelatenan untuk menata manajemen. Menurut dia, banyak UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), termasuk dirinya, terjebak pada keinginan untuk menangani semua sendiri. Justru itulah yang menjadi penghambat berkembang.

Sekarang Riski juga sering berbagi ilmu dengan UMKM lain. Bagaimana manajemen sebuah bisnis itu berjalan tanpa harus membuat pelaku usaha mumet. Salah satunya di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Surabaya.

Pertengahan 2016, usaha Riski dilirik oleh Google Asia-Pacific sebagai sebuah video inspirasional. Video tersebut mempromosikan layanan baru, yakni Google voice. ”Alhamdulillah kalau bisa menginspirasi orang lain,” ujarnya.

Berbagai penghargaan juga diraih Riski. Di antaranya, runnerup Moslem Ready-to-Wear Surabaya 2010 dan peringkat kedua lomba Pengentasan Kemiskinan Surabaya 2011.

Dia juga aktif di beberapa organisasi. Salah satunya Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Surabaya. Sekarang Riski tengah berfokus pada pengembangan usahanya. Dia ingin meningkatkan kapasitas produksi usahanya. (jpg)

Sensasi Minum Air Situs yang Murni

foto
Pengunjung minum air Sendang Agung yang diyakini peninggalan Majapahit. Foto: Jawapos/Ghoufur Eka.

Sidoarjo memiliki situs sendang yang layak dikembangkan menjadi tempat wisata. Situs Sendang Agung yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit itu ramai dikunjungi wisatawan domestik. Hanya, sarana dan prasarananya masih minim.

Sawah membentang di Kelurahan Urangagung, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo. Beberapa cekungan air terlihat berjajar di tengah areal persawahan. Semilir angin menggerakkan payet-payet yang tergantung di payung emas di sisi kanan dan kiri pintu masuk pendapa Situs Sendang Agung. Suasana sore ketika itu sangat pas untuk menikmati situs yang diyakini menjadi peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut.

Sekilas, situs yang ditemukan pada 2015 itu terlihat tidak istimewa. Pendapanya hanya terbuat dari kayu dan seng yang dicat untuk memberikan kesan rapi. Kolam mata air hanya berpagar kayu. Kecuali situs utama yang ditemukan Sugiantono, juru kunci Sendang Agung, sudah dikelilingi bangunan permanen. Tujuannya, menjaga keamanan.

Pengelola situs Sendang Agung Ahmad Faroq menyatakan, saat ini ada lima titik situs dengan struktur batu bata khas Kerajaan Majapahit di Kelurahan Urangagung. Sumur dengan susunan batu bata kuno itu sudah digali sedalam 1,5 meter. “Prosesnya belum tuntas. Karena masih ada lagi batu bata kuno kalau diteruskan ke bawah,” kata Ahmad seperti dilaporkan Jawa Pos.

Di situs ketiga ditemukan uang koin kuno yang bertulisan Der Indie 1826 yang juga dipertontonkan. Dibalik uang tersebut terdapat gambar lambang Kerajaan Belanda. Di dekatnya, pengunjung bisa menuangkan segelas air sendang dari kendi yang sudah disiapkan. Jawa Pos langsung mencobanya saat bertandang ke sana. Air itu terasa segar dan melegakan.

Saat itu beberapa pemuda dari desa tetangga tampak berkunjung. Mereka meminta izin untuk menciduk sendiri air dari sendang.

David Setya, anggota karang taruna Kelurahan Urangagung yang kala itu berjaga, lantas mempersilakan mereka untuk mengambil air. Meski begitu, David tetap mengawasi tingkah laku para pengunjung.

Suasana pun tetap kondusif. “Soalnya pernah ada yang nekat nyemplung. Dibawa ke rumah langsung sakit dan akhirnya meninggal,” ungkapnya.

Setelah kejadian itu, masyarakat semakin berhati-hati dalam mengelola berkah alam tersebut. Hal itu juga terlihat dari papan tata krama berperilaku yang terpampang di lokasi situs. Salah satunya, tidak merokok di wilayah bibir sendang. “Mas, hati-hati ya rokoknya!” kata David memperingatkan pengunjung.

Beberapa pemuda asal Kecamatan Tarik dan Sukodono pun melipir. “Justru saya ke sini karena dengar keunikan kayak begini,” ucap Dinda Miradea, pengunjung asal Desa Sebani, Tarik.

Beberapa peneliti yang datang ke lokasi sumur Sendang Agung, kata Ahmad, menyatakan bahwa kandungan air di dalamnya memiliki keunikan.

“PH air di atas normal sampai 7,8. Sudah begitu, katanya mudah tersulut api,” paparnya. “Sejak ditemukan situs ini, warga desa bergabung dalam Paguyuban Sendang Agung untuk mengelolanya secara kemasyarakatan,” lanjutnya. (jpg)

Kuncen Merangkap Seniman Ludruk dan Kuda Lumping

foto
Siamin ketika ditemui di rumahnya. Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos.

Sehari-hari Siamin dikenal sebagai juru kunci makam alias kuncen di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Sisi lainnya adalah seniman ludruk dan kuda lumping. Profesi yang sudah puluhan tahun digelutinya.

Usianya sudah tak lagi muda. Sudah menginjak 61 tahun. Orang-orang mengenalnya sebagai juru kunci kuburan Dusun Sukci di Desa Bulusari. Meski usianya sudah lanjut, fisiknya masih sehat. Ini, terlihat dari badannya tetap tegap.

Suami dari Sumarni, 60, ini seringkali berpakaian nyentrik. Entah itu memakai blangkon ataupun baju lurik. Orang-orang lebih sering memanggilnya dengan nama Mbah Min.

“Di kampung, saya dikenal sebagai juru kunci makam dusun. Tapi, juga banyak yang tahu sebagai seniman ludruk dan kuda lumping,” kata bapak tiga orang anak itu seperti ditulis Jawa Pos Radar Bromo.

Seni ludruk maupun kuda lumping, ternyata digelutinya sudah sejak masih muda dulu. Persisnya saat usianya masih 18 tahun. Dia pertama kali bergabung dengan grup ludruk Irama Jaya, di Dusun Legupit, Desa Karangrejo, Gempol. Dia pun pernah bergabung dengan grup kuda lumping Turonggo Sakti Mayang Seto di Desa Carat, di kecamatan yang sama.

“Saya lebih dulu geluti kuda lumping. Saat itu masih membujang. Dua tahun berikutnya atau setelah berumah tangga, baru bergabung menjadi pemain ludruk,” imbuhnya sembari tersenyum.

Saat itu, Siamin muda sering berperan menjadi pemain. Terutama jika memainkan ludruk. Beberapa kali pentas, dia tak pernah ketinggalan ikut tampil ambil bagian. Seperti tanggapan acara sedekah desa, hajatan, dan lain sebagainya.

Tak hanya di sekitaran Pasuruan. Seringkali dia keluar daerah, seperti Mojokerto, Sidoarjo, hingga Malang. Bahkan, di panggung pernah pula tampil bersama sejumlah pemain ludruk ternama lainnya di Jatim. Seperti, Kartolo dan Njoto.

Sebagai pemain ludruk maupun kuda lumping, ia tak memikirkan besaran uang yang ia dapatkan dari pentas. Baginya, yang penting bisa eksis atau tampil di setiap kali ada pementasan.

“Bayarannya sedikit, pernah pula tak dibayar. Saya sih biasa saja. Terpenting tampil karena senang dan sudah menjadi panggilan jiwa. Soal rezeki, ada yang ngantur,” tuturnya.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, tanggapan kuda lumping maupun ludruk juga tak seramai dulu. Hanya momen tertentu saja dan setahun dapat dihitung dengan jari.

Namun, Siamin pilih tetap eksis dan tampil. Apabila dirinya dibutuhkan dan diminta ikut dalam pagelaran maupun hajatan, dia pasti mengiayakan. Itu pun jika ada.

Untuk ludruk, hingga saat ini tetap menjadi pemain. Seringkali dia berpindah-pindah dengan bergabung bersama grup ludruk yang ada dan dikenalinya. Sementara untuk kuda lumping, dia kini lebih banyak berperan menjadi pengarah sekaligus pelatih. “Saya sudah tidak menjadi pemain lagi,” katanya.

Kalau tanggapan sedang sepi, dirinya pilih istiqamah menjadi juru kunci makam di TPU dusunnya tinggal. Ini, digelutinya sejak 1998 lalu hingga sekarang.

“Saya sengaja tetap eksis sebagai seniman ludruk dan kuda lumping. Paling tidak bisa ikut melestarikannya,” ucap penyuka nasi goreng tersebut. Apalagi, eksistensinya yang mantap menjadi pemain ludruk dan juga kuda lumping, didukung luar biasa oleh istri dan ketiga anaknya.

“Kedua kesenian tersebut akan saya geluti terus sampai tua, atau sampai benar-benar fisik ini sudah tak mampu lagi melakukannya,” ungkapnya. (jpg)

Jadikan Balai Pemuda Surabaya Laboratorium Budaya

foto
Pemkot Surabaya terus membenahi kawasab Balai Pemuda. Foto: Humas Pemkot Sby.

Pemerintah Kota Surabaya memiliki konsep untuk menghidupkan kembali bangunan bersejarah Balai Pemuda dengan menjadikannya sebagai laboratorium kesenian dan budaya.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Surabaya, Eri Cahyadi, di Surabaya, Jumat, mengatakan Balai Pemuda diharapkan menjadi tempat berkreasi sekaligus melahirkan seni dan budaya baru yang lebih kreatif.

“Balai Pemuda akan dijadikan sebagai space kebudayaan dan kesenian. Bukan center kesenian dan kebudayaan,” ujarnya seperti dilaporkan AntaraNews.

Eri menegaskan sebagai kota yang ditinggali banyak bangunan bersejarah, pihaknya terus berupaya bagaimana cara mempertahankan bangunan yang memiliki nilai seni dan pariwisata.

Apalagi, lanjut dia, Surabaya selama ini selain dikenal sebagai Kota Pahlawan juga dikenal sebagai kota industri, dagang, maritim dan jasa.

“Untuk itu, kami berharap Balai Pemuda bisa menjadi salah satu tempat pengembangan kesenian dan kebudayaan di Surabaya,” katanya.

Namun, lanjut dia, untuk mewujudkan itu semua, Eri mengharapkan dukungan dari semua pihak terutama keterlibatan masyarakat serta kelompok-kelompok strategis seperti Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan Bengkel Muda Surabaya (BMS).

Harapanya, lanjut Eri, Balai Pemuda Surabaya sebagai space kebudayaan dan kesenian sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Harapan kami Balai Pemuda bisa melahirkan seniman dan budayawan yang bisa menjawab tantangan milineal ke depan,” ujarnya. (ant)

Siapkan 51 Kegiatan Dongkrak Wisata Surabaya

foto
Wisata sungai Kalimas di malam hari. Foto: Humas Pemkot Sby.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya menyiapkan 51 kegiatan selama 2018 dalam rangka mendongkrak wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Konsep acaranya selalu kita kembangkan setiap tahunnya,” kata Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya Widodo Suryantoro di Surabaya seperti dikutip AntaraNews.

Adapun 51 kegiatan tersebut seperti dikutip AntaraNews berupa kegiatan seputar kebudayaan, kreativitas, promosi wisata, kesenian, usaha kecil menengah (UKM) dan olahraga.

Menurut dia, beberapa kegiatan yang akan digelar pada 2018 rata-rata hampir sama dengan 2017. Namun, ia memastikan konsep acaranya akan dikemas lebih bagus dan menarik dibanding tahun lalu.

Ia mencontohkan Festival Sungai Kalimas yang akan digelar berbeda dengan tahun sebelumnya, nanti di kegiatan ini akan diulas kembali berbagai sejarah sungai sepanjang 19 kilometer tersebut.

“Festival Kalimas, nanti akan kami adakan secara tematik, di atas kapal itu ada pementasan, seperti theater yang akan mengulas kembali sejarah Sungai Kalimas,” ujarnya.

Nantinya, lanjut dia, mulai dari Jalan Petekan, Jalan Achmad Jais, Genteng, Taman Prestasi dan berakhir di Monumen Kapal Selam (Monkasel) akan ada pementasan di atas sebuah kapal.

Pementasan itu akan menceritakan masa Airlangga (zaman dulu) yang akan dimanifestasikan ke dalam bentuk theater. “Jadi, dari Jalan Achmad Jais sampai di Monkasel, akan ada pementasan di atas kapal, di Monkasel nantinya akan ada cerita seperti pedagang saudagar-saudagar di masa lampau. Pasti menarik,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, Disbudpar juga berencana menghidupkan kembali Jalan Tunjungan yang melegenda. Caranya, mereka akan menggelar festival kuliner and craft di acara Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan yang rencananya akan digelar sebanyak enam kali selama setahun.

“Kami juga berencana menghidupkan Jalan Kembang Jepun, dengan cara menggelar festival kuliner and craft sebanyak enam kali selama setahun. Tapi ini masih menunggu PAK,” katanya.

Melalui berbagai kegiatan itu, lanjut dia, diharapkan kunjungan wisatawan di 2018 akan semakin meningkat. Ia pun menargetkan kunjungan wisatawan di tahun 2018 ini mencapai 27.270.270 orang.

“Tahun 2017, target wisatawan 19 juta, namun sampai akhir Desember 2017, pengunjung sudah mencapai sekitar 24 juta wisatawan, sehingga melebihi target,” katanya. (ant)

Bantu Ramal Masa Depan Sesuai Tanggal Lahir

foto
Turin mengerjakan rumusan kalender tahun baru 2018. Foto: Dedy Jumhardiyanto/Jawapos.

Membuat kalender hingga 170 tahun bukan perkara mudah. Hal itu dilakukan, Turin, 55, seorang warga Dusun Sukorejo, RT 02/RW 01, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi. Menariknya, rumusan kalender itu ditulis tangan sendiri dalam sebuah buku folio bergaris.

Waktu menunjukkan pukul 13.00. Hujan rintik-rintik mengguyur sejak pagi. Seorang lelaki paruh baya dengan tenang dan santai duduk di balai bengong (gazebo). Lelaki itu tampak serius menulis di atas kertas bergaris. Segelas kopi hitam bersanding tepat di samping kirinya.

Sesekali lelaki itu membuka lembaran kertas yang diletakkan di lantai persis di depan tempatnya duduk. Lelaki itu adalah Turin. Warga Dusun Sukorejo, RT 02 RW 01, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi itu sehari-hari bertugas sebagai juru kunci petilasan Syeh Siti Jenar.

Dibalik kepolosannya sebagai juru kunci, Turin ternyata juga menyimpan bakat yang sungguh luar biasa. Betapa tidak, dengan penuh kesabaran, Turin membuat rumusan kalender. Padahal, rumusan kalender itu juga tidak pernah dicetak untuk kepentingan umum.

Turin mengatakan, menulis rumusan kalender itu dimulainya sejak tahu 2002 silam. “Awalnya saya hanya ingin belajar tentang ilmu menghitung hari dan pasaran jawa,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Dia belajar menghitung hari, bulan, dan pasaran pada sesepuh desa setempat yang bernama (alm) Esdi. Karena ingat manusia terbatas, dia memutuskan untuk menulis ilmu yang dipelajari tersebut dengan menggunakan bolpoin dan kertas. “Jadi saya membuat rumusan kalender ini dipandu oleh guru saya, (alm) Kek (sebutan kakek) Esdi itu,” ujarnya.

Sepeninggal Esdi, dia mulai meneruskan rumusan kalender sejak tahun 1901 tersebut. Kini rumus kalender lengkap dengan hitungan pasaran Jawa itu sudah memasuki tahun 2070.

Pembuatan rumusan kalender itu juga cukup rumit. Yakni menggunakan ilmu Jawa kuno berupa pawukon atau wuku (waktu). Satu wuku umurnya tujuh hari. Sedangkan wuku jenisnya ada 30, mulai Sinto sampai Prabu Watu Gunung.

Berbekal buku pawukon atau wuku itulah, rumusan kalender umum dan Jawa itu bisa dibuat beserta dengan pasaran limo yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Rumusan kalender yang ditulis tangan itu berbentuk lembaran. Satu lembar kertas folio bergaris itu terdapat 12 kolom yang mencantumkan tahun, nama bulan, pasaran, tanggal dan wuku. ”Tanggalnya saya buat berdasarkan hitungan satu wuku atau tujuh hari,” terang suami Susiana ini.

Dia tidak menyangka, niat memperdalam ilmu menghitung hari itu kini justru mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Salah satu manfaatnya adalah membantu seseorang yang lupa hari, tanggal, bulan lahirnya.

“Kalau orang dulu, biasanya hanya ingat hari lahirnya bersamaan dengan momen tertentu. Dari petunjuk awal itu, saya bisa membantu dengan melihat di rumusan kalender dan kebanyakan ketemu hari lahirnya tanggal, bulan apa,” jelas bapak dua anak ini.

Dengan hitungan wuku tersebut, rumusan kalender itu juga bisa membantu meramal atau membuka tabir rahasia seseorang sesuai tanggal lahirnya. Misalnya dalam hal kesehatan, jenis pekerjaan, termasuk mengetahui sejak dini hari nahas atau sial.

Bahkan, dalam buku pawukon dan rumusan kalender tersebut juga bisa mengetahui tentang karakter dan bakat seseorang hanya dari tanggal lahir dan pasaran. Serta dapat mengetahui sejak dini menangkal tolak balak.

“Hitungan kalender wuku ini hanya membantu mengarahkan bakat, pekerjaan, serta untuk lebih waspada dengan hari sial. Tapi segala sesuatunya tergantung dari kehendak Yang Maha Kuasa,” beber pria berkacamata ini.

Salah satu bukti rumusan kalender yang ditulisnya sangat jitu adalah Tahun Baru 2018, jatuh pada hari Senin, pasaran Legi. Jumlah wuku-nya 21, masuk wuku medangkuan. Pada tanggal tersebut baik untuk melaksanakan pernikahan, membangun rumah.

Namun, nahasnya atau sialnya tidak boleh marah dan mudah tersinggung. Jika marah bisa saja terjadi pertengkaran hebat dan bisa timbul peperangan.

Turin menambahkan, jika tahun 2018 ini adalah tahun dengan simbol kas uang. Artinya meski tahun politik, tetapi tahun ini akan terbuka lapangan pekerjaan baru yang memberdayakan masyarakat untuk lebih makmur dan lebih sejahtera.

Berbeda dengan tahun 2017 lalu dengan simbol telepon. Tak heran, jika selama tahun 2017 lalu banyak beredar kabar yang tidak benar sumbernya, alias berita hoax. “Jika dibanding tahun 2017 lalu, tahun 2018 ini akan lebih baik. Masyarakat lebih makmur karena simbolnya adalah kas uang,” tandasnya. (jpg)

Rustuty Rumagesan, Satu-Satunya Ratu di Tanah Papua

foto
Ratu Rustuty Rumagesan mengenakan hiasan Burung Cendrawasih pada sebuah acara. Foto: Istimewa.

Tanah Papua punya sembilan kerajaan yang eksis hingga saat ini. Salah satunya Kerajaan Sekar. Di kerajaan itulah, Rustuty menjadi ratu. Hampir lima tahun dia mengayomi puluhan ribu warga di 23 kampung di wilayah Kerajaan Sekar.

“Mama mati baru anak-anak bisa jadi raja.” Pernyataan sikap warga Kerajaan Sekar pada 2013 itu membuat Rustuty Rumagesan terhenyak. Dia merasa tidak mungkin menjadi raja. Sebab, raja haruslah laki-laki.

Namun, warga tetap mendesak agar dia mau bertakhta. Rustuty tetap pada keputusannya Dia menolak menjadi ratu Kerajaan Sekar. Karena terus didesak, Rustuty akhirnya mengambil jalan tengah. Dia meminta dicarikan gelar baru.

Masyarakat akhirnya menyepakati Rustuty diberi gelar ratu petuanan tanah rata kokoda. Dia pun menerimanya. Sedangkan raja Kerajaan Sekar dipegang keponakannya.

Rustuty berbagi peran dengan keponakannya dalam mengelola kerajaan. Dengan kedudukan tersebut, dia menjadi ratu pertama dan satu-satunya di tanah Papua saat ini.

Dia menjadi representasi Kerajaan Sekar yang hadir dalam audiensi raja-raja Nusantara dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Mengenakan pakaian kebesaran plus mahkota cenderawasih, Rustuty hadir bersama 87 raja maupun sultan dari berbagai kerajaan di tanah air.

Rustuty merupakan putri Raja Al Alam Ugar Pik-Pik Sekar Kokas. Dia adalah anak tunggal. “Tapi, saudara satu ayah ada enam di atas saya (kakak). Saudara satu ibu ada enam di bawah saya (adik),” terangnya saat berbincang dengan Jawa Pos.

Dia menuturkan, sang ayah yang pada 1950-an datang ke Makassar bersama Presiden Soekarno disambut tari-tarian adat. Salah satu penarinya adalah ibunya, Janiba, yang saat itu masih berusia 17 tahun.

Raja Al Alam yang waktu itu sudah sepuh, sekitar 90 tahun, tertarik dan melamarnya. Saat Rustuty masih kanak-kanak, ayahnya menikahkan ibunya dengan laki-laki lain sehingga dia punya adik enam orang.

Kerajaan Sekar merupakan satu di antara sembilan kerajaan yang masih eksis di tanah Papua. Delapan kerajaan lainnya adalah Ati-Ati, Patipi, Rumbati, Papagar, Argumi, Wertuar, Namatota, dan Penisi. Kerajaan Sekar berkedudukan di Kecamatan Kokas, Kabupaten Fak-Fak, Papua Barat.

Meski lebih sering disebut entitas budaya, raja-raja di sembilan kerajaan tersebut tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat. Mereka tetap mendapat penghormatan layaknya seorang raja meski tidak bisa sama dengan saat Indonesia belum merdeka.

Sebagai ratu, aktivitas Rustuty cukup banyak. Dia berkunjung ke kampung-kampung di wilayahnya, ke berbagai daerah, bahkan ke berbagai negara. Baik dalam rangka silaturahmi antar kerajaan maupun untuk pameran dan ekshibisi. Beberapa negara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, hingga Prancis pernah dikunjungi ratu kelahiran 5 Mei 1953 itu.

“Kalau di luar, saya bawa hasil kerajinan tangan warga untuk dijual. Hasilnya saya serahkan tidak dalam bentuk uang, melainkan barang-barang yang mereka butuhkan,” tuturnya.

Di kerajaan, dia berlaku layaknya seorang pemimpin. Rustuty berupaya mendorong rakyatnya agar berdaya secara ekonomi. Tidak hanya mendorong, dia juga membantu mengupayakan permodalan dan pelatihan keterampilan.

Peran lain Rustuty adalah juru damai bila ada warganya yang berkonflik. Peran ayahnya dalam perebutan kembali Irian Barat dari tangan Belanda membuat Rustuty yakin bahwa Indonesia adalah takdir Kerajaan Sekar.

Karena itu, Rustuty aktif menyosialisasikan cara hidup ber-Pancasila kepada warganya. “Kalau mereka berkonflik, saya marah. Kalian itu tidak Pancasila. Jangan mau diadu domba,” tuturnya.

Suatu ketika dia mendapat kabar warganya diserang sejumlah orang dari Ambon dan hendak membalas serangan tersebut. Rustuty langsung mendatangi warganya dan melarang mereka untuk membalas. Dia memerintahkan, begitu ada niat untuk berperang, mereka harus kembali bertafakur sesuai agama dan keyakinan masing-masing.

Diharapkan, dengan bertafakur, niat berperang itu bisa hilang. Bila memang sudah terdesak, lebih baik menghubungi kepolisian. “Biar aparat yang selesaikan, jangan kalian,” lanjutnya.

Lewat perintah tersebut, Rustuty hendak mengajarkan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Bila ada konflik, penyelesaiannya lewat jalur hukum, bukan dengan berperang atau main hakim sendiri. Sebab, bagaimanapun, yang diperangi adalah saudara sendiri.

Dengan cara tersebut, warga pun semakin menghargai tindakan-tindakan yang dilakukan Rustuty. Apalagi, dia kerap memotivasi warga agar melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menopang ekonomi supaya dapur tetap mengepul.

Bila warga hanya mampu membuat koteka, dia meyakinkan bahwa koteka itu bermanfaat. Setiap kali ada tamu datang, koteka akan laris. Saat tamu datang itu pula, dia meminta warganya menyambut secara adat. Itu dilakukan untuk memperke­nalkan daerah tersebut sehingga makin banyak yang ingin berkunjung.

Untuk memberikan contoh, Rustuty pun hidup dari hasil usahanya sendiri. Itu sedikit berbeda dengan para raja lainnya yang masih mendapat bantuan dari pemerintah. Dia membuka salon, tempat menjahit, dan mengajari beberapa warganya untuk ikut berwirausaha. Meski, bukan perkara mudah membuat warga mau berwirausaha.

Saat ini Rustuty menyerahkan hidupnya secara total kepada warga. Empat anaknya sudah dewasa dan bekerja di luar kampung. Ada yang bekerja di perusahaan asal Jepang, di Pertamina Sorong, dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, dan yang terakhir menjadi Kasatpolair Polres Raja Ampat. Dua laki-laki dan dua perempuan.

Sementara itu, sang suami Sri Harijanto Tjitro Soeksoro telah meninggal pada 2006. Rustuty punya kenangan tak terlupakan bersama suaminya, terutama mengenai asal usulnya.

Sebab, sejarah itulah yang membuat putra putri mereka saat ini bergelar raden mas dan raden ayu. Ya, sang suami merupakan keturunan raja di Jawa, Mangkunegara III. “Itu laki-laki Jawa yang paling berani,” kenangnya.

Sebelum menikah, Tjitro menyembunyikan identitasnya sebagai pangeran. Dia langsung jatuh cinta saat kali pertama bertemu dengan Rustuty. Awalnya, pihak keluarga Rustuty menolak karena terikat dengan aturan kerajaan.

Namun, perjuangan yang gigih dari seorang Tjitro meluluhkan hati Rustuty. Dia pun mengiyakan dengan syarat bercerai setelah setahun.

“Tapi, nggak jadi cerai karena begitu nikah, langsung hamil,” ucap perempuan kelahiran Makassar itu. Putra pertamanya baru berusia empat bulan, dia sudah hamil lagi, dan seterusnya.

Rustuty juga baru mengetahui bahwa Tjitro adalah bangsawan setelah datang ke Jawa. Saat itu dia sudah pasrah karena dalam bayangannya, ketika di Jawa, dia akan bertani sebagaimana umumnya masyarakat Jawa kala itu.

Ternyata, mereka disambut secara adat dengan begitu meriah. Marahlah Rustuty karena sang suami menyembunyikan identitasnya. Namun, di luar itu, bagi Rustuty, Tjitro adalah orang yang sangat sabar.

Rustuty punya harapan bagi kelangsungan kerajaan-kerajaan di Nusantara. “Budaya harus kita angkat kembali. Karena lewat budaya, etika akan terbangun kembali,” tuturnya.

Dengan begitu, generasi muda tidak sampai terbawa arus peradaban yang negatif. Mulai tawuran hingga korupsi. Dia yakin, praktik korupsi bisa hilang bila setiap orang mengingat kembali ajaran luhur budayanya.

Sebagai produk budaya, manusia akan berpikir ulang bila hendak berbuat buruk. Sebab, sejak kecil ditanamkan budaya yang luhur bahwa manusia tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain.

“Indonesia kaya akan budaya, dan itu indah, seperti terlihat tadi kita hadir semua,” ujarnya. Kekayaan itulah yang menjadi keunggulan Indonesia, dan harus dijaga.

Mendikbud Muhadjir Effendy menambahkan, sebelum raja-raja tersebut bertemu presiden, Kemendikbud berdialog dengan mereka. Mereka diharapkan bisa memberikan masukan kepada pemerintah tentang bagaimana membangun kebudayaan. “Insya Allah apa yang telah disampaikan kepada kami akan kami tindak lanjuti,” ucapnya. (jpg)