Lima Artefak Keluarga Risma di Museum NU

foto
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Museum NU. Foto: Humas Pemkot Sby.

Sekitar lima artefak atau benda-benda peningalan bersejarah yang ada kaitannya dengan Nahdlatul Ulama (NU) milik keluarga besar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini disimpan di Museum NU di Jalan Gayungsari Timur Kota Surabaya.

Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Surabaya Muhibin Zuhri, di Surabaya, Senin, mengatakan ada lima artefaknya sudah disimpan di Museum NU yakni keris, ndok bledhek, klak bahu dan dua buah gaman keris tombak.

“Bu Risma berharap supaya Museum NU bisa menjadi salah satu destinasi edukasi sejarah yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” katanya seperti dikutip AntaraNews.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan terus bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya untuk mengembangkan museum yang telah diresmikan K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) pada 2004 itu.

Selain mengembangkan Museum NU, ia bersama wali kota sudah sepakat untuk bekerja sama mengembangkan dan memberdayakan warga nahdliyin, terutama dalam mengangkat harkat dan martabat dalam bidang ekonomi.

“Salah satu pemberdayaannya, nanti akan dibentuk koperasi dari warga nahdliyin dan untuk warga nahdliyin. Mungkin nanti ada ritel atau apa saja yang nanti produknya bisa diisi oleh warga sendiri. Nanti akan kami diskusikan lebih lanjut,” katanya.

Muhibin juga mengaku senang atas kunjungan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ke Museum NU, beberapa waktu lalu untuk melihat langsung beberapa koleksi yang dititipkan keluarganya dan kilas balik sejarah sesepuhnya.

Sebab, lanjut dia, Tri Rismaharini diakui salah satu keturunan dan keluarga besar pendiri NU di era awal.

Risma saat kunjungannya ke Mueseum NU menjelaskan bahwa dirinya masih keturunan pendiri NU, karena kakek buyutnya yang bernama Jayadi merupakan salah satu pendiri NU. Jayadi ini memiliki dua anak, kakeknya Wali Kota Risma dan kakenya Mohammad Nuh (mantan Menteri Pendidikan RI). “Mbah Jayadi itu pendiri NU. Beliau dari nasab bapak saya,” kata Risma

Bahkan, Wali Kota Risma menceritakan bapaknya pernah ikut kakeknya yang rumahnya di Blauran Gang 4. Rumah itu ditempati para santri yang ikut resolusi jihad yang digagas oleh K.H. Wahad Hasbullah. “Para santri-santri itu tidur di sana. Bapakku tahu betul soal ini dan pernah cerita. Jadi, memang saya keturunan NU,” ujarnya. (ant)

Politik Uang dan SARA Diprediksi Bakal Marak

foto
KPU meluncurkan tahapan pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 Juni 2017 lalu. Foto: suara.com/Oke Atmaja.

Politik uang dan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) diprediksi masih marak pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 dan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Hal itu disebabkan oleh sikap politikus atau pendukungnya tidak merasa bersalah dengan perbuatannya tersebut.

“Suka tidak suka, masalah politik uang dan SARA akan menjadi isu yang paling menonjol. Padahal perbuatan politik uang dan SARA merupakan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh UU,” kata Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia, Petrus Selestinus, dalam “Catatan Akhir Tahun 2017 TPDI” kepada wartawan, Sabtu (30/12/2017).

Petrus mengatakan, aparat penegak hukum memahami bahwa politik uang dan SARA adalah pelanggaran dalam berdemokrasi. Namun, tidak adanya keinginan dari aparat tersebut yang menyebabkan pelanggaran tersebut bertahan hingga Pemilu berikutnya.

“Mengapa aparat penegak hukum sulit menindaknya dan terkesan seperti membiarkannya terus terjadi tanpa dapat menahan kehendak para pelaku politik uang dan SARA? Masalahnya, terletak pada tidak adanya political will pembentuk UU untuk mengatur secara komprehensif dengan sanksi hukum yang berat terhadap pelaku kejahatan politik uang dan SARA,” katanya seperti dilaporkan suara.com.

Petrus menilai, kebijakan legislasi dalam pengaturan pasal politik uang dalam UU Pilkada dan Pilpres hanya secara sumir dan dengan ancaman pidana yang ringan sehingga cenderung diskriminatif. Dan hal itupun hanya terhadap pasangan calon dan tim sukses yang melakukan politik uang.

“Lalu bagaimana dengan kejahatan politik uang yang dilakukan oleh mereka yang di luar pasangan calon, timses dan di luar masa kampanye, tidak dijangkau oleh ketentuan ini,” kata Petrus.

“Begitu pula dengan ancaman pidana SARA dalam UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan dalam UU ITE jauh lebih berat, telah dinegasikan oleh ketentuan SARA di dalam Pasal 69 UU Pilkada. Inilah yang menyebabkan subur dan berkembangnya kejahatan politik uang dan SARA yang paling ditakuti,” tambahnya.

Menurut advokat Peradi tersebut, ancaman pidana ringan serta proses hukum yang sederhana membuat orang tidak takut melakukan kejahatan politik uang dan SARA.

Dan hal itu didorong oleh tujuan akhir yang hendak dicapai dalam sebuah pemilihan, yaitu mendapatkan kekuasaan politik yang besar dan menggiurkan.

Karena itu, dia mengatakan, jika dilihat dari dampak yang ditimbulkannya, maka kejahatan politik uang dan SARA, sama-sama menimbulkan daya rusak yang tingggi pada tatanan demokrasi, budaya dan tradisi masyarakat yang pada gilirannya mengancam eksistensi Pancasila sebagai dasar ideologi negara.

“Ancaman pidana yang terlalu ringan terhadap pelaku kejahatan poltik uang dan SARA di dalam UU Pilkada dan UU Pilpres, merupakan sebuah grand design kekuatan politik tertentu di DPR yang berusaha membangun kekuatan politik identitas, melalui Pilkada dan Pilpres untuk tujuan jangka panjang. Sementara pemerintah berada di posisi kecolongan ketika mengesahkan UU Pilkada dan Pilpres,” tutur Petrus.

Petrus memprediksi, isu SARA bisa menimbulkan efek jangka panjang, karena antar pemilih dibenturkan pada persoalan primordial atas dasar ideologi, budaya, asal usul dan lain sebagainya.

Sehingga warga masyarakat, lanjutnya, akan terbelah secara sosial budaya karena pertentangan dalam perbedaan politik identitas yang dipertajam.

“Isu politik uang dan isu SARA dalam Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu, diprediksi memiliki efek domino di berbagai daerah lain dalam Pilkada dan Pilpres mendatang secara dramatis. Sejumlah Pilkada/Pilgub 2018 yang diprediksi akan membanjirnya isu politik uang dan SARA adalah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Papua, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Papua, NTT dan sebagainya,” tutupnya. (ist)

Buka Rahasia Pembahasan UU Lewat Panggung Ludruk

foto
Ludruk gabungan dengan lakon Laskar Wetan. Foto: @claudioakbaryudhistira11.

Pembentukan undang-undang (UU) di tingkat pusat kerap berjalan alot oleh konflik kepentingan dari unsur-unsur yang terlibat dalam pennyusunannya. Hal itu dibeber Anggota Komisi X DPR RI Ridwan Hisjam, awal Desember 2017 lalu di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Jl Soekarno-Hatta Malang.

Ridwan menyontohkan lamanya masa pembahasan rancangan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. UU Nomor 5 Tahun 2017 itu sendiri baru disahkan pada April 2017 lalu.

Ridwan yang merupakan ketua pansus pembahasan RUU Kebudayaan menguraikan, sejak zaman kemerdekaan, baru sekarang Indonesia mempunyai UU yang mengatur soal kebudayaan.

Menurut Ridwan, RUU Kebudayaan ini sudah dipersiapkan sejak dua periode DPR-RI sebelumnya, yaitu periode 2004-2009 serta 2009-2014. Bahkan dicanangkannya sudah sejak 1982 silam.

“Saya sempat takut, apa juga akan gagal terealisasi periode ini. Tapi setelah kami proses selama dua tahun lebih, akhirnya bisa disahkan,” terang pria dari Fraksi Golkar itu seperti dilaporjan JatimTimes.

Dia mengungkapkan, tidak gampang membuat undang-undang bagi negeri yang memiliki sekitar 700 suku bangsa dan lebih dari seribu bahasa ini. Terlebih di tengah anggota DPR RI sendiri banyak memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda terhadap UU ini.

“Banyak pro-kontra, karena jajaran anggota dewan ini beragam, ada yang nasionalis, religius, dan lainnya. Harus didekati sesuai idealisme mereka hingga gol,” jelasnya.

Bukan hanya lama dalam waktu pembahasan, RUU Kebudayaan itu pun sempat sepuluh kali ganti judul. Usulan pertama, yakni UU Kebudayaan. Tetapi judul itu dinilai teralu luas dan akan menyulitkan implementasi di tingkat program kerja.

Lalu dibatasi dengan judul UU Tentang Kebudayaan, UU Pelaksanaan Kebudayaan, dan beberapa usulan lain hingga terakhir UU Pemajuan Kebudayaan.

Saat ini, lanjut Ridwan, sebagian besar masyarakat maupun pemegang kebijakan masih melihat kebudayaan sebagai dekorasi, sebagai asesoris bangsa. Oleh karena itu, terbitnya UU tersebut diharapkan dapat menempatkan kebudayaan sebagai suatu bidang atau suatu sektor tersendiri.

“Kami sudah melakukan pendataan dan untuk sementara sudah mencatat bahwa kita memiliki 90 ribu item warisan budaya. Juga mendorong agar ada penambahan anggaran untuk pengembangan kebudayaan,” terangnya.

Paparan itu mendapat sambutan hangat dari ratusan penonton yang memadati Taman Krida Budaya Jawa Timur. Dalam rangka sosialisasi UU Pemajuan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan pergelaran Ludruk Gabungan Jawa Timur.

Mengangkat judul Laskar Wetan, lakon yang disutradarai seniman Haryanto itu melibatkan seniman-seniman ludruk dari berbagai daerah di Jawa Timur. Di antaranya Agus Kuprit dan Cak Tawar dari Sidoarjo, Hengki Kusuma dan Hariyanto dari Surabaya, Cahyo Sandidea dan Cak Marsam dari Malang, Memed dari Mojokerto, Nono dari Jombang, dan Proborini dari Gresik.

Dibuka dengan penampilan tari remo, jula-juli, dan juga beberapa tembang jawa, ludruk yang disajikan terus-menerus mengocok perut penonton. Misalnya adegan pertama, saat dua orang prajurit kemerdekaan yang bernama Agus Kuprit dan Cak Tawar didatangi oleh Komandan.

Komandan bertanya, mereka berjuang untuk siapa. Agus Kuprit menjawab bahwa dia berjuang untuk rakyat, berjuang bahu membahu dengan rakyat. Sementara Cak Tawar, menjabab dia menjawab berjuang untuk anak istri dan tetangga di rumah.

Sontak jawaban itu membuat marah Komandan. Cak Tawar pun berulang kali ngeles saat ditanya Komandan. Dia menjelaskan bahwa keluarganya juga bagian dari rakyat. Terlebih dia punya enam anak yang semuanya bernama Pi’i.

“Anak pertama, Jipi’i, kedua Ropi’i, ketiga Lupi’i, keempat Patpi’i, kelima Mopi’i, nah, yang nomer enam ini saya nggak tega nyebut namanya, Komandan… Namanya Nem….,” ujarnya yang lalu disambut riuh tawa dan tepuk tangan penonton. (jtt)

Kampung Kristen yang Bertahan Sejak Kolonial

foto
Suasana ibadah dulu di gereja GKJW Mojowarno yang di bangun pada 1845. Foto: gkjw.or.id.

Selalu ada sejarah yang mengikuti setiap peradaban. Baik yang terungkap maupun yang kian samar atau hilang dalam pengetahuan manusia. Salah satunya adalah mengenai permukiman umat Kristen khususnya di Jatim.

Permukiman atau pedukuhan umat Kristen ini walaupun minoritas di Jatim, tetapi secara usia cukup terbilang tua. Yaitu sejak zaman penjajahan Belanda dan bertahan sampai sekarang ini.

Pedukuhan Kristen ini kemudian dikenal sebagai sentra Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dan tercatat berjumlah 41.

Lantas pedukuhan Kristen mana saja yang masih bertahan sampai saat ini di Jatim? MalangTIMES merangkumnya untuk Anda.

Pedukuhan Ngoro, Jombang
Hutan Ngoro dibuka tahun 1827 oleh Coenrad Laurens Coolen, seorang Bos Opzichter (Pengawas Penebangan Kayu) keturunan Rusia dari garis ayah dan ibunya adalah seorang putri keturunan Pangeran Kojaran dari keluarga bangsawan Mataram.

Ngoro sangat subur sehingga mengundang orang banyak untuk datang dan menjadi penggarap di sana. Di kesempatan itulah Coolen mengajak pembantunya dan sekelompok kecil masyarakat, setiap kali akan membuka hutan atau menggarap sawah, untuk meminta berkat Tuhan Yesus.

Ia kemudian mengadakan kebaktian Minggu dan bercerita tentang Tuhan Yesus. Lama kelamaan dia mengajarkan ajaran Kristen dan menghasilkan suatu jemaat Kristen yang khas yang disebutnya sebagai Kristen Jawa.

Pedukuhan Mojowarno, Jombang
Di Mojowarno berdiri Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang beraliran Calvinisme pada tanggal 3 Maret 1881. Ceritanya, suatu hari di pertengahan 1826, Midah seorang Madura yang buta huruf, melihat cetakan Injil Markus dalam huruf Jawa dan Arab.

Karena tak mampu membaca, Midah lalu mendatangi Dasimah, salah satu temannya di Wiyung. Dasimah kemudian berinisiatif mencari arti kutipan Injil tersebut. Bertahun-tahun dia bingung hingga pada 1836 ada orang yang memperkenalkannya dengan Coenraad Louren Coolen, seorang sinder blandhong (pengawas penebangan kayu) di daerah Ngoro. Setelah lima tahun mondar-mandir Wiyung-Ngoro, Dasimah akhirnya ingin dibaptis.

Keberadaan jemaat Gereja Mojowarno tak lepas dari peran Coolen yang memiliki dua orang kepercayaan. Namanya Kiai Ditotruno dan Kiai Singotruno. Kiai Ditotruno inilah yang akhirnya membuka hutan Keracil (babat alas) pada 1844 dan mengawali pembangunan Mojowarno.

Desa Peniwen, Kromengan, Malang
Termasuk 41 Desa Kristen yang ada di Jatim. Dikenal dengan sentra Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), yaitu gereja beraliran Protestan. Dibuka pada tahun 1880 oleh 20 orang yang dipimpin oleh Kiai Sakejus. Kemudian pada 1883, Pendeta Kremer mengunjungi kampung itu untuk mendoakan berdirinya kampung Kristen.

Selain di Desa Peniwen, Kromengan pergerakan ajaran Yesus Kristus ini juga sampai di Desa Suwaru, Sitiarjo, Rowotrate, Tambakasri, Pujiharjo.

Di tahun 1900-an, pergerakan agama Kristen Jawi Wetan menyebar ke Kabupaten Lumajang (Tempursari), Jember (kampung Sidomulyo, Sidoreno, Sidorejo, dan Rejoagung), Banyuwangi, Situbondo (Desa Purwodadi, Purwosari, Tulungrejo, Wonorejo, dan Ranurejo).

Di Jombang muncul pedukuhan kristiani yaitu di Kertorejo dan Bongsorejo. Di Sidoarjo ada dua gereja tua, yakni GKJW Mlaten dan GKJW Luwung.

Para leluhur GKJW juga babat alas di Maron (Blitar), Tumpuk (Tulungagung), Segaran, Sindurejo, Sidorejo, Sambirejo, Tunglur, Jatiwringin, Wonoasri (Kediri), Aditoya (Nganjuk), Ketanggung, dan Wotgalih (Ngawi). (ist)

Lingga Yoni Zaman Hindu Tak Lagi Utuh

foto
Lingga Yoni ditemukan di Lamongan. Foto: Detikcom/Eko Sudjarwo.

Lamongan dikenal menyimpan benda-benda bernilai sejarah. Namun sayang, banyak benda bernilai sejarah tersebut tidak lengkap lagi. Salah satunya, lingga yoni. Data yang dimiliki Pemerhati Budaya Lamongan, Supriyo bahwa lingga yoni peninggalan masa zaman Hindu banyak sekali. Supriyo menyebut setidaknya ada 12 lingga yoni yang tersebar di seluruh Lamongan.

“Data di kami menunjukkan kalau ada sekitar 12 lingga yang tersebar di seluruh Lamongan,” terang Supriyo kepada detikcom di rumahnya Desa Klagen Slamprat, Kecamatan Maduran, Lamongan.

Dari 12 lingga, jelas dia, hanya satu lingga yang saat ini masih lengkap beserta yoni-nya. Yoni itu berada di Kecamatan Sukodadi. Rata-rata, kata Supriyo, lingga tersebut ditemukan sudah tanpa lingga dan sebagian hilang dicuri.

“Lamongan menyimpan beberapa temuan lingga yoni, namun hari ini yang tersisa hanyalah beberapa yoni saja tanpa lingga. Seharusnya dinas terkait bisa memfasilitasi yoni-yoni ini agar aman dan tak terjamah, karena ini adalah peninggalan sejarah,” katanya.

Supriyo menyebutkan, beberapa lokasi lingga yoni tersebut adalah Yoni Kumisik di Dusun Kumisik, Desa Lawangan Agung, Kecamatan Sugio. Saat ini hanya tersisa yoni saja dalam kondisi pecah di sisi-sisinya.

Selain di Dusun Kumisik, 2 Yoni di Desa Dumpi Agung, Kecamatan Kembangbahu, berukuran besar dan kecil, serta Yoni di Dusun Landeyan Desa Kedungwaras Kecamatan Modo.

“Ada juga Yoni dari Sugio berukuran kecil yang saat ini tersimpan di kantor dinas pariwisata. Bahkan konon, ditemukan Yoni di sekitar Desa Gondang,” ungkap Priyo sambil menyebut sejumlah tempat lain tempat ditemukannya Yoni tersebut.

Sementara Kepala Seksi Museum Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Miftah Alamudin mengatakan, pihaknya menyadari banyak lingga Yoni ini yang hilang atau tidak lengkap dan rusak.

Pihaknya berencana membuat museum yang bisa dimanfaatkan untuk menyimpan benda-benda sejarah. “Kami juga akan mendata ulang benda-benda sejarah ini dan memberikan SK bupati terhadap benda-benda purbakala ini,” tegasnya. (dtc)

Mengenal Sosok Puti Guntur Soekarno

foto
Putri, putri sulung Guntur Soekarnoputra. Foto: Istimewa.

Cucu Presiden RI Pertama Ir Soekarno, Hj Puti Guntur Soekarno SPol resmi menjadi calon wakil gubernur Jawa Timur berpasangan dengan Drs H Saifullah Yusuf. Resmi dicalonkan PKB, PDI Perjuangan, PKS dan Gerindra untuk Pilkada 2018, sosok putri sulung Guntur Soekarnoputra ini kurang dikenal masyarakat Jawa Timur. Siapa Puti Guntur Soekarno?

Puti saat ini sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X yang meliputi (Kabupaten Kuningan, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Pangandaran dan Kota Banjar) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Sebelum memasuki kancah politik nasional, Puti aktif belajar dan menjadi relawan budaya melalui Kelompok Swara Mahardhikka serta peduli pada aktifitas pendidikan bagi generasi muda melalui Yayasan Fatmawati Soekarno, bidang-bidang yang saat ini terus diperjuangkannya melalui Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan kebudayaan serta pemuda dan olah raga, pariwisata, ekonomi kreatif serta perpustakaan.

Bagi penikmat dan penggiat lukisan, tari dan musik ini aktif berpolitik di kancah publik tak harus meninggalkan kodratnya sebagai perempuan Indonesia, tetap menjaga harmoni keluarga juga silaturahmi dengan teman dalam persaudaraan demikian ia tak pernah melupakan darimana ia berasal dan apa yang diperjuangkannya.

Berjiwa Muda & Mandiri
Puti tumbuh dalam keluarga terpandang di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Ayahnya adalah Guntur Soekarno putra sulung pendiri negara sekaligus presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno.

Meski tumbuh sebagai cucu presiden pertama Puti diajarkan hidup sederhana dan mandiri sejak kecil. Misalnya untuk kegemarannya membaca buku ia harus menabung dari uang jajan dan membeli buku.

Guntur Soekarno sangat peduli pada nasib dan eksistensi kaum muda dalam berpolitik, meski ia sendiri pada akhirnya tidak dapat terus berpolitik karena keadaan yang membuatnya demikian. Kesadaran untuk pendidikan dan egaliter menghargai kaum muda untuk maju tertanam dalam diri Puti.

Hidup Guyup Rukun
Kelembutan bertutur dan menghormati sikap hidup guyup rukun menjadi ciri khas budaya masyarakat Sunda yang diajarkan kepadanya oleh ibunya Henny Guntur (Henny Emilia Handayani) yang sempat menjadi Ratu Kebaya pada jamannya mewakili Jawa Barat.

Latar belakang tersebut turut membentuk karakternya yang sangat menghargai seni dan tradisi Sunda. Berkepribadian budaya nasional menjadi kepedulian perjuangannya.

Selalu Bersyukur
Masa kecil Puti cukup dekat dengan Ibu Fatmawati Soekarno yang selalu mengajarinya mengaji dan agar jangan meninggalkan sholat fardhu sebagai seorang muslimah. Ibu Fatmawati pintar mengaji. Ia memanggil Sang Nenek dengan panggilan Mbu (baca: embu). Menurutnya suara lantunan saat mengaji Ibu Fat begitu merdu ia selalu menyimaknya saat Magrib tiba.

Dari Sang Nenek ia diajarkan hidup sederhana dan pintar mensyukuri nikmat Allah SWT agar hidup senantiasa bahagia. Neneknya memang berangkat dari keluarga besar Muhammadiyah di Bengkulu, bahkan konon diberikan kehormatan sebagai Anggota Kehormatan KOHATI (Korps HMI-Wati seumur hidup).

Mengabdi Untuk Rakyat

Bagi Puti, berpolitik harus punya prinsip. Prinsip politiknya adalah ideologi dari Bung Karno untuk memperjuangkan masyarakat kecil yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di dalam praktek politik bernegara harus berpegang pada ideologi negara sekaligus Dasar Negara Pancasila.

Terkait pemikiran Bung Karno ia dapatkan langsung dari ayahnya Guntur Soekarno dan kadang juga teman-teman ayahnya sesama alumni GMNI (Gerakan mahasiswa nasional Indonesia). Ayahnya Guntur Soekarno adalah mentor ideologinya.

Apresiasi Terhadap Seni
Sejak SMP perempuan yang memiliki nama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri aktif mengikuti kegiatan kesenian dan budaya termasuk mementaskan tari-tarian. Ia juga seringkali mengiringi paduan suara di SMA 1 Budi Utomo Jakarta dengan memainkan piano. Melukis juga merupakan kegiatan yang disukainya.

Dukungan Keluarga
Usai menyelesaikan kuliahnya di Universitas Indonesia jurusan Administrasi Negara tahun 1994, Puti menikah dengan Joy Kameron pria yang hobi fotografi yang kini menjadi ayah dari kedua anaknya yaitu Rakyan Ratri Syandriasari Kameron dan adiknya Rakyan Danu Syahandra Kameron.
Dukungan keluarga sangat penting dalam politik. Ia sangat peduli pada keluarga dan anak-anak. Hal yang membuatnya semakin bersemangat melakukan perjuangan politik bahwa politik bukan semata diwakili hal-hal besar tetapi keluarga sebagai unsur terkecil politik juga penting.

Pendidikan anak dan kaum perempuan
Ia meyakini pendidikan adalah jembatan untuk membangun manusia Indonesia sebagai modal utama investasi pembangunan Bangsa Indonesia. Untuk itu ia selalu memperhatikan pendidikan anak dan khususnya perempuan di daerah pemilihannya. Keberpihakan pada perempuan dan anak-anak menjadi bumbu penyedap perjuangan politiknya.

Ia selalu bersemangat diantara kaum perempuan dan anak. Baginya perempuan Indonesia bisa memiliki peran perjuangan politik tanpa harus meninggalkan kodratnya, itulah feminisme Indonesia yang ia fahami dari Buku Sarinah karya kakeknya.

Kegemarannya banyak membaca buku membuatnya familiar dengan tokoh-tokoh pemimpin perempuan seperti Ratu Sima, Dyah Pitaloka, Tri Buana Tunggadewi, Indira Gandhi, Aung San Suu Kyi, Bunda Teresa, Siti Khadijah, RA Kartini, Dewi Sartika, hingga sosok politik kontempores seperti Angela Merkel dan Megawati Sukarno Putri bibinya. Penggemar film India ini juga mencermati perkembangan sastra di tanah air.

Tak segan ia tampil dalam sebuah perhelatan membawakan musik regae atau The Beatles yang disukai anak muda. Sosoknya luwes dan ramah bergaul kepada siapapun. (sumber: putiguntursoekarno.org)

Sumbangsih Arsip Indonesia untuk Dunia

foto
Saat Presiden Jokowi mengunjungi objek wisata Candi Borobudur di Magelang. Foto: Setkab.go.id.

Pada 2017, sebanyak tiga warisan dokumenter Indonesia yakni arsip konservasi Borobudur, arsip tsunami Samudra Hindia serta naskah Cerita Panji telah diakui sebagai ingatan kolektif dunia (Memory of the World/MoW) oleh UNESCO.

Warisan dokumenter ini seperti ditulis Antaranews.com sebagai catatan Akhir Tahun Arsip Nasional RI (ANRI), menjadi bukti penting dalam sejarah umat manusia, dokumen-dokumen yang diajukan adalah sebagai warisan budaya yang bersifat global dan memiliki keterkaitan dengan bangsa lain.

Arsip konservasi Borobudur digagas oleh Balai Konservasi Borobudur di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Alasan Balai Konservasi Borobudur mengajukan arsip konservasi Borobudur tersebut karena itu merupakan proyek konservasi terbesar pada abad 20 yang didanai dunia internasional dan merupakan proyek pertama yang menggunakan teknik modern untuk konservasi monumen.

Pengakuan internasional terhadap arsip konservasi Borobudur ini mempunyai peranan penting bagi pengembangan ilmu konservasi terkini dan dapat digunakan untuk menemukan solusi bagi permasalahan konservasi yang ada.

Sementara itu naskah cerita Panji diusulkan oleh Perpustakaan Nasional RI secara nominasi bersama dengan negara Malaysia, Kamboja, Belanda dan Inggris.

Cerita Panji merupakan karya sastra dari abad ke-13 dan menjadi salah satu perkembangan sastra Jawa tanpa dibayangi oleh epos India Ramayana dan Mahabharata.

Kemudian arsip tsunami Samudera Hindia diusulkan oleh Arsip Nasional RI sebagai nominasi bersama dengan Sri Lanka.

Warisan dokumenter ini terdiri atas satu set arsip dalam berbagai media yang mencatat kejadian tsunami Samudra Hindia, tanggap bencana serta sebagian besar tentang rehabilitasi dan rekonstruksi.

Sejauh ini Indonesia telah memiliki beberapa warisan documenter yang diakui internasional sebagai ingatan dunia antara lain naskah La Galigo pada 2011, naskah Nagarakertagama pada 2013, naskah Babad Diponegoro pada 2013 dan arsip Konferensi Asia Afrika pada 2015.

Dokumen-dokumen yang telah diakui tersebut akan dijaga kelestariannya serta dilakukan alih media dan disebarluaskan kepada publik.

Renacananya tahun depan Indonesia akan mengajukan dua dokumen yang memiliki nilai sebagai ingatan dunia, yaitu arsip Gerakan Non Blok dan dokumen Sukarno.

Pengajuan dokumen tersebut digagas oleh ANRI, lembaga tersebut menilai dokumen Sukarno karena pemikiran-pemikirannya yang luas terkait internasionalisme, kemanusiaan dan juga ideologi bangsa, itu sangat penting dan harus diketahui masyarakat, tidak hanya masyarakat Indonesia tetapi juga masyarakat internasional.

Saat ini ANRI bersama beberapa pakar dan sejarawan sedang menyusun dokumen-dokumen apa saja yang akan disertakan dalam Sukarno Papers tersebut. Selain itu, ANRI juga akan menelusuri arsip-arsip mengenai Sukarno ke beberapa negara seperti Serbia, Amerika dan Aljazair.

ANRI optimistis dokumen tersebut dapat diterima sebagai ingatan kolektif dunia. Selain dokumen Sukarno, Indonesia juga akan mengajukan kembali arsip Gerakan Non Blok (GNB) yang sebelumnya telah diajukan namun belum berhasil mendapat pengakuan.

Gerakan Non Blok adalah lanjutan dari Konferensi Asia Afrika, arsip Konferensi Asia Afrika sudah mendapatkan pengakuan sebagai ingatan kolektif dunia. Oleh sebab itu Indonesia berupaya arsip agar Gerakan Non-Blok juga mendapat pengakuan dari UNESCO.

Gerakan Non Blok dibentuk di Yugoslavia (sekarang Serbia) oleh lima pemimpin dunia pada 1961, salah satunya presiden pertama Indonesia Sukarno. Agar dokumen ini diterima oleh UNESCO, Indonesia berencana melengkapi arsip-arsip yang akan diajukan, sebelumnya arsip Gerakan Non-Blok hanya diajukan oleh Indonesia dan Serbia.

ANRI akan berupaya mencari dokumen-dokumen pendukung dari negara-negara lain. Kesulitannya adalah arsip-arsip tersebut tidak disimpan di arsip nasional mereka, tetapi di simpan di Kementerian Luar Negeri negara tersebut.

Jika cara itu tidak berhasil, Indonesia dan Serbia tetap akan mengajukan dokumen Gerakan Non Blok tersebut hanya pada periode awal terbentuknya Gerakan Non-Blok saja.

Selain dokumen-dokumen yang diakui sebagai ingatan dunia tersebut, pada tahun ini Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Pinisi, seni pembuatan perahu di Sulawesi Selatan (Art of boatbuilding in South Sulawesi) sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO melalui Sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage-ICH) UNESCO di Pulau Jeju, Korea Selatan.

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia juga sudah banyak yang diakui UNESCO, mulai dari wayang, keris, batik, pelatihan batik, angklung, noken Papua, hingga tari Saman dan Tari Bali. Secara nasional Indonesia telah mencatat hampir 600 warisan budaya tak benda yang dimiliki negara ini.

CHEADSEA, lembaga pusat evolusi
Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UN for Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) mengesahkan pendirian pusat kategori 2, Pusat untuk Evolusi, Adaptasi dan Penyebaran Manusia di Asia Tenggara (Center for Human Evolution, Adaptation and Dispersal in South-East Asia/CHEADSEA) dalam salah satu acara di Sidang Umum ke-39 UNESCO.

CHEADSEA telah diusulkan Indonesia sejak 2014, namun baru dapat disahkan di tahun ini. CHEADSEA tersebut akan berdiri di bawa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang akan menjadi wadah kerja sama antara peneliti di dunia di bidang evolusi.

Lembaga itu nantinya akan memuat berbagai kegiatan seperti pertukaran ahli, penelitian, publikasi , konferensi dan lainnya, sehingga para ahli evolusi manusia dari berbagai disiplin ilmu dapat bertemu.

Indonesia mengusulkan untuk membangun CHEADSEA karena negara ini memiliki potensi luar biasa sebagai tempat yang memiliki situs-situs evolusi manusia seperti di Sangiran. Indonesia pun menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti Georgia di bidang evolusi manusia.

Tahun ini Indonesia-Georgia menggelar pameran bersama yaitu “Prehistoric Heritage” yang menampilkan Homo Erectus dari Dminasi, Georgia dan fosil Indonesia yang berasal Sangiran, Trinil, Ngandong serta Mojokerto.

Tak hanya menggelar pameran kedua negara berencana saling bertukar duplikasi manusia purba, dan berencana akan mengadakan pertukaran peneliti dibidang evolusi manusia. (ant)

Forum Sastra Luncurkan Antologi Puisi Timur Jawa

foto
Seorang mahasiswa membacakan doa untuk WS Rendra. Foto: Antara/Seno Soegondo.

Forum Sastra Timur Jawa kembali meluncurkan antologi puisi ke-2 “Timur Jawa: Balada Tanah Takat” bersama pakar sastra dan Balai Bahasa Jawa Timur di aula Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjamin Mutu (LP3M) Universitas Jember (Unej), beberapa waktu lalu.

Buku Antologi tersebut terdiri atas puisi-puisi pilihan penyair timur Jawa (Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi) yang dikuratori oleh Akhmad Taufiq, Dwi Pranoto dan Siswanto.

“Sebanyak 50 penyair yang lolos puisinya dimuat dalam antologi itu dan kali ini dterbitkan oleh Balai Bahasa Jatim,” kata Ketua LP3M Unej sekaligus kurator Dr Akhmad Taufiq di Jember seperti dilaporkan Antaranews.com.

Menurutnya, proses penerbitan dan penyelenggaraan peluncuran buku antologi puisi tersebut melibatkan tiga lembaga yakni Pusat Pengembangan Literasi LP3M Unej, Balai Bahasa Jatim, dan Forum Sastra Timur Jawa yang memiliki komitmen kuat dalam pengembangan literasi sastra dan budaya.

“Kami berharap LP3M dapat menjadi wahana dan jembatan kebudayaan di timur Jawa itu dan hal ini merupakan momen kebudayaan yang diharapkan dapat memberikan dampak besar terhadap perkembangan kebudayaan di timur Jawa, sehingga Forum Sastra Timur Jawa telah menandai dengan meluncurkan antologi puisi tersebut,” tuturnya.

Ketua panitia sekaligus Koordinator Pusat Pengembangan Literasi M. Hadi Makmur mengatakan acara peluncuran dan diskusi sastra timur Jawa tersebut dihadiri para penyair dari tujuh kota di kawasan timur Jawa.

“Selain itu, ada juga mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum yang duduk bersama membicarakan dan mengapresiasi perkembangan sastra timur Jawa, sehingga Pusat Pengembangan Literasi bersyukur dan berbahagia dapat menyelenggarakan kegiatan tersebut,” katanya.

Sementara perwakilan Balai Bahasa Jawa Timur Mashuri mengapresiasi peluncuran antologi pusi tersebut, sehingga dalam paparannya menyampaikan hadirnya antologi ke-2 itu sangat luar biasa dan dibutuhkan eksplorasi secara terus-menerus, serta intensif terkait tema-tema yang luar biasa di bentangan alam tanah timur Jawa.

“Karya-karya sastra itu jelas menjadi salah satu peta penting dalam peta sastra Jawa Timur dan nusantara saat ini,” ujarnya.

Dalam diskusi karya sastra itu, Siswanto selaku moderator memberikan penegasan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu ikhtiar forum sastra timur Jawa yang bukan hanya bertujuan untuk mendekatkan sastra pada masyarakat, tetapi di sisi lain juga untuk meneguhkan kesadaran akan tanah timur Jawa baik secara sosio-kultural maupun estetika.

Peluncuran antologi ke-2 itu dibuka dengan penampilan grup musikalisasi puisi Simulakra, Siswa dari Muncar, kemudian Moh Lefand yakni seorang penyair Jember yang sudah melalang buana dalam temu penyair di Singapura dan ditutup dengan pembacaan puisi oleh Halim yang sangat menyentuh dan memesona penonton. (ant)

Emil Dardak Kampanye Budaya Swadesi

foto
Emil Elistyanto Dardak, Bupati Trenggalek yang juga bakal calon Wakil Gubernur Jatim. Foto: ist.

Emil Elistyanto Dardak, bakal calon wakil gubernur Jawa Timur belakangan gencar mengkampanyekan budaya swadesi. Karena bagi dia, budaya swadesi penting ditanamkan kepada generasi millenial sebagai aset bangsa Indonesia.

Budaya swadesi yang dimaksud seperti ditulis Kompas.com adalah budaya bangsa yang cenderung memproduksi sendiri barang-barang yang dibutuhkan, bukan mengandalkan produk dari luar negeri.

Budaya ini, sambung Emil Dardak, erat kaitannya dengan nasionalisme dan ajaran marhaenisme yang mengusung konsep mandiri dan berdikari.

“Jika ada barang baru buatan luar negeri, kita masih cenderung ingin membeli daripada membuat sendiri,” katanya saat presentasi di forum seminar Pemuda Demokrat Indonesia di Surabaya, Rabu (27/12/2017) malam.

Padahal aset paling penting untuk masa depan bukanlah properti atau barang berharga lainnya, melainkan skill dan pengetahuan serta kemauan untuk memproduksi barang sendiri daripada membeli dari luar. “Ini yang penting dimiliki oleh pemuda milenial bangsa ini,” jelas Bupati Trenggalek ini.

Dalam forum seminar tersebut, suami artis Arumi Bachsin itu didaulat menjadi anggota kehormatan ormas Pemuda Demokrat Indonesia, Jawa Timur.

Kata Ketua Dewan Pembina DPD Pemuda Demokrat Indonesia Jatim, Fandi Utomo, Emil Dardak adalah figur milenial yang memegang teguh nilai-nilai nasionalisme di tengah era milenial.

“Kami harap Pak Emil bisa menjadi inspirasi dan terus memberikan penguatan nasionalisme kepada anggota pemuda Demokrat Jatim,” kata Fandi Utomo. (ist)

Temuan Patung Kepala Brahma dan Yoni di Jombang

foto
Warga di Desa Menganto, Mojowarno, Jombang dihebohkan dengan temuan peninggalan Majapahit. Foto iNews TV/Mukhtar B.

Warga di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Jombang dihebohkan dengan ditemukannya dua buah benda cagar budaya, pertengahan Desember 2017 lalu. Benda cagar budaya tersebut adalah potongan patung kepala Brahma dan sebuah Yoni.

Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur seperti dilaporkan SindoNews.com memastikan, lokasi ditemukannya kedua benda cagar budaya tersebut adalah sebuah bekas bangunan suci seperti tempat ibadah atau candi peninggalan zaman Kerajaan Majapahit.

Sejumlah petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur ini mendatangi rumah Jayadi di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Jombang.

Petugas memeriksa dua buah benda cagar budaya yang telah ditemukan Jayadi di sebuah makam yang berada di tengah sawah Desa Menganto. Kedua benda cagar budaya ini adalah potongan patung kepala Dewa Brahma dan sebuah Yoni.

Untuk memastikannya petugas juga mendatangi Makam Pande Gong tempat ditemukannya kedua benda cagar budaya tersebut. Petugas dari tim arkeolog juga mengukur koordinat bangunan dan temuan batu bata kuno di lokasi.

Jayadi sang penemu benda purbakala mengaku menemukan potongan kepala Dewa Brahma dan batu Yoni saat akan menggali tanah di area Makam Pandegong.

Tanpa diduga mata cangkulnya mengenai sebuah benda keras yang setelah diperiksa ternyata berupa potongan kepala patung Dewa Brahma dan potongan Yoni.

Dari hasil penyelidikan sementara BPCB Jawa Timur melalui Kasi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan Benda Purbakala Widodo memastikan, bahwa benda tersebut masuk dalam kategori benda cagar budaya.

Dua benda berupa potongan kepala patung Dewa Brahma dan Yoni itu mengindikasikan bahwa lokasi penemuan ini adalah tempat suci berupa tempat ibadah atau candi.

Selain itu dilihat dari struktur batu bata kuno yang ditemukan di lokasi juga mengindikasikan bahwa bangunan di lokasi ini adalah peninggalan masa Kerajaan Majapahit.

Kedua benda cagar budaya tersebut selanjutnya dibawa oleh pihak BPCB untuk diteliti lebih lanjut. Sedangkan terkait proses eskavasi di lokasi temuan pihak BPCB akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah di Jombang. (sak)