Reog Ponorogo diupayakan jadi salah satu warisan budaya United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco). Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni tengah berupaya memasukkan reog jadi salah satu warisan budaya bernilai tak benda masuk Unesco.
“Katanya sudah lama daftarnya, sejak 2010. Karena tidak ada kabar, saya coba usulkan lagi tahun 2016 kemarin itupun baru direspon tahun 2017 ini,” tutur Ipong saat dihubungi detikcom, pekan lalu.
Namun sayang, reog baru bisa disidangkan Unesco pada tahun 2020 mendatang. “Karena menangani seluruh dunia, jadi harus antre lama. Bahkan keris dulu ngurusnya butuh waktu hampir 12 tahun,” terang Ipong.
Ditanya terkait kesulitan saat mendaftarkan reog, Ipong mengaku tak ada kesulitan. Namun memang secara teknis butuh waktu lama karena antre.
Kemarin saat pendaftaran yang dibutuhkan mulai dari sejarah, lalu penjelasan mengenai reog sendiri, apa itu reog dan lain sebagainya. “Termasuk dimainkan oleh siapa saja, banyak yang dipersiapkan,” jelas Ipong.
Sementara itu, peneliti kesenian reog, Ridho Kurnianto mengatakan, pendaftaran reog ke Unesco masih langkah awal. “Baru presentasi sekali di Jakarta kapan hari, itu pertama kali kebetulan saya yang presentasi,” tambahnya.
Menurutnya, reog memang pantas masuk warisan budaya tak benda karena memiliki nilai unggul sekaligus ada makna yang bisa diturunkan untuk membangun peradaban. “Apalagi dukungan masyarakat Ponorogo yang menyatu dengan seni reog memang jadi nilai tambah,” pungkas Ridho.
(dtc)
Salah satu panel relief di Candi Borobudur. Foto: borobudurculturalfeast.com.
Nusantara sejak dulu kala memiliki akar yang kuat terkait keberagaman, termasuk di dalamnya keberagam religiositas atau keyakinan spiritualitas. Keberagaman dalam religiositas dan keyakinan ini sesuatu yang niscaya yang memunculkan karakter religiositas sebagai ciri karakter Indonesia.
Jauh sebelum Sutasoma menyebut bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa pada era Majapahit, di candi Borobudur telah bergaung mitreka satata yang melukiskan toleransi antarumat beragama di Nusantara.
Religiositas dan keyakinan sipiritualitas yang lahir di bumi Nusantara ini muncul dalam bentuk agama-agama lokal. Agama-agama lokal tersebut merupakan ungkapan kerinduan kepada Sang Pencipta, Sang Awal, semesta, penyadaran akan kefanaan, sekaligus menjadi tuntunan dalam interaksi sosial, baik dengan sesama maupun dengan semesta, mikrokosmos dan makrokosmos.
Nusantara sebagai entitas budaya memiliki kekayaan yang beragam berkait dengan pandangan dan laku spiritual ini. Sungguhpun demikian keberagaman ini mengalir pada muara yang sama yaitu esensi pencarian dan penghayatan atas Tuhan.
Keberagaman ini pula sejak dulu kala sudah menjadi dasar sebagai dialog, perjumpaan agama-agama lokal dengan agama-agama global dari daratan Hindia, Eropa, dan Timur Tengah.
Islam Nusaantra menjadi contoh paling nyata perjumpaan mesra itu yang tak hanya menggugah aspek spiritual namun juga menciptakan nuansa kultural yang berbasis religi.
Perjumpaan mesra ini juga muncul jauh hari sebelum itu, yaitu perjumpaan spiritual Buddha dengan agama-agama lokal, spiritual Hindu dengan religi lokal, agama Nasrani dan Katolik dengan sipritual lokal, bahkan kelak perjumpaan antaragama global itu, misalnya dialog mesra Hindu dengan Buddha, Buddha dengan Katolik (Nasrani), Islam dengan Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu.
Mesra dan Dialog
Perjumpaan mesra dan dialog mesra ini dimungkinkan tanpa harus mencampuradukkan karena semua religi memiliki benang merah yang sama. Terkait dengan konsep-konsep spiritual, Nusantara sebagai etintas budaya yang berkarakter religi memiliki kekayaan yang berlimpah ruah.
Laku-laku tersebut bisa dilihat pada, misalnya, Parmalim di Batak, Sunda Wiwitan di Jawa Barat (Sunda), berbagai variasi aliran kejawen dari Jawa (misalnya, Pangestu, Sumarah, Sapta Darma, Samin Sedhulur Sikep, dan lain-lain), Kaharingan di Suku Dayak Kalimantan, Lamaholot di Flores, Marapu di Nusa Tenggara Timur, Ugamo Bangso Batek di suku Batak, Mapurondo di Sulawesi Barat, dan masih banyak lagi.
Semua laku tersebut memiliki dua dimensi, yaitu dimensi rohaniah dan dimensi sosial. Agama-agama lokal di Indonesia merupakan sistem keyakinan sipiritual yang dianut, dihayati, dan dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat Nusantara jauh sebelum datangnya agama-agama global, baik dari Hindia, Eropa, maupun Timur Tengah.
Rahmat Subagya (1981) menyebut sebagai agama asli, yaitu sistem sipiritualitas asli yang tidak bercampur dengan agama-agama lain yang datang ke Nusantara kemudian. Secara sosiologis, konsep agama asli adalah realitas spiritualitas yang ditemukan di tengah-tengah masyarakat, hidup dan berkembang di dalamanya secara individual maupun komunal.
Keyakinan dan spiritulitas tersebut diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat Nusantara jauh sebelum agama-agama yang datang kemudian. Kedatangan agama-agama besar lainnya dari India, Eropa dan Timur Tengah semakin menyemarakan kebinekaan religiositas dan spiritualitas Nusantara.
Kemudahan dan kelenturan dalam beradaptasi dengan budaya baru menjadikan tanah Nusantara lahan subur bagi penyerbukan silang budaya. Yudi Latif (2011) menjelaskan ciri khas suku bangsa Nusantara adalah kemampuan dan kesanggupan menerima, mengadopsi, dan menumbuhkan budaya, ideologi, dan religiositas apa pun sejauh dapat dicerna oleh sistem sosial dan nilai-nilai setempat.
Hal ini menunjukan salah satu inklusivitas yang utama pada masyarakat Nusantara adalah kesediaan menerima agama-agama yang datang kemudian karena masyakat Nusantara memiliki karakter religius. Paparan ini menunjukan pula bahwa karakter religius masyarakat Nusantara berkait erat dengan sistem sosial dan nilai-nilai masyarakat Nusantara.
Bagian Penting
Religi menjadi salah satu bagian penting pada suatu komunitas sosial yang berfungsi membentuk sistem ideologi (Leslie dalam Radam; 2001). Religi memiliki dua dimensi, yaitu dimensi individual yang transendental dan dimensi sosial yang horizontal. Setiap religiositas dan sipiritualitas selalu menyakini Zat yang Adi Kodrati. Kehadiran religiositas dan agama-agama pada sebuah komunitas sosial berangkat dari kesadaran bahwa pada kodratnya manusia itu lemah.
Pada situasi semacam itulah mereka secara intuitif mencari sandaran vertikal yang dapat menumbuhkan harapan pertolongan atau perlindungan terhadap kondisi lemah tersebut. Penghayatan atas spiritualitas dan religiositas tertentu bisa memunculkan pengalaman spiritulitas yang berupa pengalaman yang numenous, khusus, dan mysterium tremensdum yang dicitrakan oleh Rudolf Otto dalam buku The Idea of the Holy (dalam Radam; 2001) sebagai pengalaman tentang yang adikodrati, pengalaman yang misterius namun sesuatu yang sakral dan dirindukan.
Dalam penghayatan yang sakral itu mereka menuju dan menemu Zat yang Tertinggi untuk diimani dan dirasakan walau dengan berbagai penyebutan berbeda. Di Jawa digambarkan sebagai tan kena tinaya, tan kena winirasa (sesuatu yang tak bisa dibayangkan, sesuatu yang tak bisa dirasakan) dengan sebutan Hyang Murbeng Dumadi, Hyang Wenang.
Di Sumba Barat disebut sebagai ndapa teki tamo numa ngara (yang tak diberi nama dan tak diberi gelar). Di Tanah Batak disebut sebagai Ompu, Tuan Muala Jadi Nabolon. Di Nias disebut sebagai Lowalangi. Do Bali disebut Hyang Tunggal. Di Sulawesi yang sakral itu disebut sebagai Puang Motoa. Di beberapa suku di Kalimantan disebut sebagai Pahotara, Jubata, atau Mahatala.
Nusantara sebagai bumi yang memiliki karakter religius menyambut kedatangan agama-agama global dari Hindia, Eropa, dan Timur Tengah dengan baik. Terjadi perjumpaan dengan toleransi yang mesra, proses saling belajar dan saling mengisi, yang kesemuanya semakin memperkukuh Nusantara sebagai bangsa yang berkarakter religius. Keberagaman dan semangat pencarian spiritualitas dan religiositas Nusantara tercermin dalam relief-relief Gandawyuha di Candi Borobudur lorong dua, tiga, dan empat yang mencakup 460 panel.
Candi Borobudur
Relief Gandawyuha dianggap puncak nilai-nilai di Candi Borobudur. Relief Gandawyuha merupakan relief-relief yang berdasar pada teks Sutra Gandavyuha pada abad ke-2 Masehi. Disebut juga sebagai Dharmadhatupravesana-parivatra atau Acintavimoksa yang mengisahkan perjalanan Sudhana dalam pengembaraan mencari ilmu pencarian ilmu kebenaran (the ultimate truth).
Pengembaraan Sudhana dalam pencarian ilmu itu melewati 110 kota dan menemui 110 Kalyanamitra atau guru, di antaranya ada 54 guru dengan latar belakang berbeda, antara lain biksu, biksuni, perumah tangga (ratnacuda), pedagang, brahmana, raja (anala), anak laki-laki, anak perempuan, pelaut, perempuan penghibur, tukang emas, dewa-dewi, ratri, dan juga buddhis.
Relief naratif Gandawyuha yang berkisah perjalanan Sudhana ini merefleksikan nilai-nilai religiositas, metta (cinta kasih), karuna (kasih sayang), mudita (simpati), bebas dari belenggu ketamakan, arhat (pemadaman nafsu).
Nilai-nilai yang menonjol adalah semangat belajar tanpa kenal lelah, sikap keterbukaan dalam mencari ilmu dengan berbagai sumber tanpa pandang bulu kedudukan sumber tersebut di masyarakat, dan sikap toleran dalam belajar sipiritualitas.
Sampailah kita pada sebuah kesepakatan bahwa melalui penghikmatan Gandawyuha kita menghayati kembali berbagai ragam religiositas Nusantara untuk merawat Indonesia agar lebih toleran, menghormati pluralisme, dan damai.
Menjadi tugas kita bersama untuk menjadikan nilai-nilai religiositas dan spiritualitas yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara ini menjadi milik bersama yang mengukuhkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkarakter religius. (ist)
*) Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (21/12/2017). Esai ini karya Tjahjono Widarmanto, sastrawan dan dosen di STKIP PGRI, Ngawi, Jawa Timur. Penulis menjadi peserta Borobudur Writers & Cultural 2017. Alamat e-mail penulis adalah cahyont@yahoo.co.id.
Kalimat Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara Garuda Pancasila. Foto: Kemdikbud.go.id.
Sesanti Bhinneka Tunggal Ika diambil dari karya sastra klasik Jawa Kuno Kakawin Sutasoma. Kakawin ini merupakan karya Mpu Tantular yang digubah pada sekitar abad ke-14, tepatnya pada masa Majapahit di bawah kepemimpinan dwitunggal Hayam Wuruk-Gajah Mada.
Ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan ragam puisi jenis metrum. Terdiri atas 148 pupuh (bab) dan 1209 bait. Kakawin ini digubah dengan mengemban misi persatuan nasional rakyat Nusantara di bawah kepemimpinan Majapahit, dimana pada saat itu mayoritas warga menganut ajaran Siwa dan Buddha.
Sutasoma merupakan karya monumental yang melampaui zamannya, berisi ajaran moral guna memperkaya khasanah ruang bathin bangsa kita. Guna membedah sesanti Bhinneka Tunggal Ika yang sesuai dengan hal ihwal kelahirannya, kita harus membaca tuntas jalinan aksara sebelum dan sesudah rangkaian kata mutiara tersebut ditulis.
Dalam pupuh 139 bab 4 baris terakhir dituliskan sebagai berikut: “Hyang Buddha tan pahi lawan Siwa rajadewa” (Tidak ada perbedaan antara Hyang Buddha dan Hyang Siwa, raja para dewa).
Dilanjutkan mutiara kata dalam pupuh 139 bait ke 5 sebagai berikut: “Rwaneka datu winuwus wara Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangkang Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”
(Konon dikatakan bahwa wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda, namun bagaimana kita mengenali perbedaannya dalam selintas pandang. Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda, namun pada hakikatnya sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua)
Dilanjutkan dengan pupuh 139 bait ke 6 sebagai berikut: “Aksobhya tatwa kitang Iswara dewa dibya, Hyang Ratnasambhawa sireki bhatara Datta, Sang Hyang Mahamara sirastam ikamithaba, Sryamoghasiddhi sira Wisnu mahadhikara”
(Hakikat Akshobya tidak berbeda dengan hakikat sebagai dewa agung Iswara. Ratnasambhawa tidaklah berbeda hakikatnya dengan Bhatara Datta. Mahamara tidaklah berbeda dengan Amitabha. Sri Amoghasiddhi dengan dewa Wisnu yang unggul).
Berdasarkan untaian kalimat di atas bisa dimaknai bahwa sesanti Bhinneka Tunggal Ika digali pada saat yang tepat, yaitu pada masa Majapahit sedang giat-giatnya menyatukan dan membangun peradaban Nusantara. Seperti yang kita ketahui bersama, Majapahit adalah sistem tata negara terbesar yang pernah ada di Nusantara. Meliputi wilayah Indonesia dan sekitarnya dengan berpusatkan di Jawa Timur.
Dipilihnya semboyan resmi negara dari sastra klasik era tersebut dimaksudkan guna menyerap energi peradaban besar Majapahit agar mempengaruhi romantika sejarah perjuangan anak bangsa.
Bahwa kita harus bisa kembali menjadi bangsa yang besar seperti saat Majapahit mengendalikan samudera raya beserta gugusan kepulauan yang ada diantaranya. Bahwa kita harus bangkit kembali meskipun telah berkali-kali ditempa oleh beragam gemblengan hingga hampir hancur lebur.
Bahwa hukum dialektika perjuangan harus dipenuhi oleh segenap anak bangsa yang memang secara nashnya telah ginaris dilahirkan secara berdarah-darah di tengah hantaman palu godamnya perjuangan melawan anasir penjajahan.
Bahwa sesanti itu telah terbukti mampu menyatukan fitrah perbedaan menjadi satu kekuatan yang sangat dahsyat. Kekuatan yang bersumberkan pada pemahaman kesatuan hakikat ajaran pengabdian total kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kekuatan yang bermuarakan pada kesetiaan dan kerja keras kolektif untuk kejayaan sebuah bangsa dan negara.
Sesanti tersebut tidak terhenti di kata bhinneka saja tanpa adanya tunggal ika. Tidak berhenti pada sekedar menghargai adanya perbedaan saja, karena itu akan sama halnya dengan ideom pluralisme yang cenderung statis dan mengagungkan kebebasan. Bhinneka Tunggal Ika jauh lebih dinamis dari sekedar pluralisme. Karena dalam sesanti ini mengandung elan romantika kejayaan masa lalu.
Selain itu juga mengandung spirit dasar persatuan guna mencapai cita-cita nasional bersama. Sesanti ini mengandung adanya keberagaman yang diikat oleh kerja perjuangan bersama. Oleh karena itu sesanti tersebut harus dituliskan secara lengkap sebagai Bhinneka Tunggal Ika, karena memang kita sudah selesai dalam frame pemahaman akan adanya perbedaan.
Kita sudah tuntas dalam pengalaman hidup berdampingan yang telah teruji selama ribuan tahun. Yang kita perlukan adalah menjadikan potensi perbedaan tersebut dalam sebuah kesatuan gerak lahir bathin guna melangkah, bekerja dan berjuang bersama.
Pemahaman sesanti yang sesuai dengan kitab Sutasoma mengandung nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Istilah bhinneka mengandung spirit sila kedua dan keempat Pancasila. Peri kemanusiaan mencintai adanya sebuah perbedaan. Adanya perbedaan tersebut diselesaikan dengan konklusi musyawarah mufakat seperti amanat dari sila keempat Pancasila. Istilah tunggal ika mengandung spirit sila ketiga persatuan nasional. Sedangkan tujuan dari sesanti tersebut adalah seperti prinsip kelima kita yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Semoga sesanti tersebut tidak lagi mengalami reduksi makna, apalagi reduksi kata-kata. Karena di tiap aksaranya terdapat spirit pusparagam dalam persatuan nasional. Jangan gunakan perbedaan sebagai pintu masuk memecah-belah persatuan.
Sebaliknya jangan gunakan pula keberagaman sebagai acuan landasan kebebasan tanpa batas moral ala ideom impor kaum liberal. Mari bersama kita kembalikan spirit Bhinneka Tunggal Ika kepada khittahnya yang asli. Bersatu dan berjuang guna meraih kemenangan bersama ! (ditulis: Cokro Wibowo Sumarsono)
Pagelaran Seni Budaya Pandhalungan di Alun-alun Ledokombo. Foto: Humas Pemkab Jember.
Bupati Jember dr Hj Faida MMR menyatakan bakal membawa musik patrol ke Jakarta. Niat ini didorong keinginan agar musik patrol khas Jember terkenal secara nasional, bahkan internasional.
Pernyataan itu disampaikan oleh Bupati ketika memberikan sambutan pembukaan Pagelaran Seni Budaya Pandhalungan di Alun-alun Ledokombo, pekan lalu. “Patrolnya tadi itu luar biasa. Suatu hari akan saya bawa ke Jakarta. Dunia harus tahu kalau musik patrol di Jember begitu hebat,” kata Bupati.
Bupati menjelaskan, musik Patrol Jember sebelumnya telah juara di tingkat propinsi Jawa Timur dan tingkat nasional. “Jika musik patrol tadi dilatih sedikit lagi, saya yakin bisa menjadi prestasi nasional,” tutur Faida seperti dirilis Humas Pemkab Jember.
Sebelum Bupati memberikan pidato sambutan, Komunitas Patrol Sumberjambe (Kompas) tampil memukau dengan dua buah lagu. Selain pementasan seni budaya, Pagelaran Seni Budaya Pandhalungan juga diisi dengan produk unggulan usaha kecil menengah. “Masyarakat membawa kreatifitasnya kesini,” tutur Bupati.
Bupati hadir di pagelaran itu bersama suaminya, drg Abdul Rochim serta sejumlah pejabat. Sementara masyarakat tampak antusias memadati lapangan.
Pakar budaya Cak Ilham menjelaskan, Pandhalungan dalam konsepnya berarti campuran. Konsep Pandhalungan juga diakui oleh kabupaten lain seperti Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Lumajang, maupun Probolinggo.
Daerh lainnya pun termasuk Pandhalungan. Seperti Jakarta. Namun, ternyata Jakarta lebih terkenal dengan budaya Betawi. “Tetapi bupati yang pertama kali menyatakan kota sebagai Pandhalungan adalah Jember,” jelas Cak Ilham. (sak)
Penyerahan bantuan tas sekolah pada siswa dari warga Samin. Foto: Kemenag.
Komunitas Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro menggelar Festival Samin bertema ‘Prasaja Apa Anane’ yang berisi berbagai kegiatan seni budaya khas daerah setempat pada 22 Desember 2017 lalu.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Suyanto kepada OkeZone.com, menjelaskan berbagai kegiatan dalam Festival Samin semuanya merupakan prakarsa warga di Komunitas Samin di Dusun Jepang.
Event ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Jadi Bojonegoro ke-340. Festival Samin 2017 diharapkan menjadi sarana untuk memperkenalkan kearifan lokal masyarakat Samin yang sederhana, apa adanya dan penuh kejujuran.
Kegiatan Festival Samin, lanjut dia, diawali dengan sarasehan yang diikuti warga di komunitas setempat di Balai Budaya Samin, pada 21 Desember malam hari. Sarasehan membahas perjuangan Ki Samin Surosentiko, juga filsafat dalam menjalani hidup melawan penjajahan kolonial Belanda.
“Sarasehan diikuti warga setempat membahas perjuangan Ki Samin Surosentiko melawan penjajah Belanda. Warga dan pihak luar harus tahu bahwa samin bukan mengandung konotasi ‘nyamin’ atau acuh tak acuh,” kata pria yang biasa dipanggil Yanto Munyuk.
Menyusul setelah itu, lanjut dia, pagi harinya digelar jalan santai juga oleh warga setempat, dan kegiatan sosialisasi tentang kesehatan yang dilaksanakan Kementerian Agama (Kemenag). “Kegiatan juga diisi kesenian reog jaran kepang juga karawitan Samin Laras yang semuanya dilakukan warga di komunitas Samin,” jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, juga digelar berbagai kegiatan kesenian lainnya mulai drama Samino-Samini, tari Thengul dan pergelaran Wayang Thengul dengan dalang warga di komunitas Samin.
“Ada kegiatan arak-arakan warga dengan tema ‘Wayah Samin’ yang akan dipimpin Bambang putra Hardjo Kardi trah Samin Surosentiko,” kata Yanto.
Disbudpar, lanjut dia, mendukung kegiatan Festival Samin dengan membagikan film dokumenter dalam bentuk CD dengan durasi 40 menit kepada peserta sarasehan juga warga luar yang hadir dalam kegiatan dalam Festival Samin tersebut.
“Film dokumenter itu berisi berbagai perjalanan Ki Samin Surosentiko dalam melawan penjajah Belanda juga filsafat hidupnya yang berisi ajaran kebajikan,” ujarnya.
Ia menambahkan kegiatan Festival Samin ini bisa menambah agenda pariwisata yang berbasis budaya daerah sebagai usaha menarik pengunjung dari luar daerah, selain lokal. “Kegiatan Festival Samin akan diagendakan setahun sekali,” pungkasnya. (ris)
Ludruk dengan lakon Mutiara dari Timur yang dimainkan Ludruk Nglumpuk di Surabaya. Foto: Dok Kemensos.
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan produk seni budaya bangsa Indonesia terbukti ampuh untuk mempererat dan menguatkan persatuan warga negara yang terdiri dari beragam suku, bahasa, adat istiadat, dan agama.
“Seni budaya adalah sesuatu yang tidak mengenal sekat-sekat. Kita bisa melebur bersama dengan indah dalam bingkai seni dan budaya . Seperti saat menyaksikan kesenian khas Jawa Timur, yakni ludruk,” tutur Khofifah usai menonton ludruk dengan lakon Mutiara dari Timur yang dimainkan oleh Ludruk Nglumpuk di Surabaya.
Oleh karena itu, Khofifah, seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima antaranews.com di Jakarta, mendorong upaya penguatan nasionalisme melalui seni budaya yang ia sebut estetik heroik.
Mensos mengatakan keberagaman merupakan fakta empirik di tatanan masyarakat Indonesia. Tercatat sekitar 714 suku dan budaya dan lebih 200 jenis bahasa daerah, serta ratusan adat budaya tersebar.
Untuk itulah, lanjut Khofifah, HKSN 2017 mengusung tema kesetiakawanan sebagai perekat keberagaman. Hal ini mengandung makna bahwa keberagaman bangsa Indonesia akan dapat dirajut menjadi sebuah persatuan melalui semangat dan langkah nyata kesetiakawanan sosial.
Seiring berjalannya waktu, kata dia, berbagai persoalan bangsa yang harus dicarikan solusi, kompetisi global, daya saing, perbedaan kepentingan, perebutan kekuasaan, provokasi kebencian, dan polarisasi organisasi menjadi hal yang seringkali diperdebatkan.
Isu-isu ini kemudian ada yang memainkan atau ‘menggoreng’ secara masif melalui media sosial yang menjadi viral dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Adu komentar dan opini di media sosial kian hari kian tajam dan sepertinya sudah tidak mengindahkan tata krama sosial nasional. Pihak-pihak yang tadinya netral kini terprovokasi untuk ikut terpolarisasi ke salah satu pihak. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi di negeri kita,” tutur Khofifah.
Karena itu, lanjut Khofifah, warga bangsa ini perlu diingatkan kembali terhadap identitas kebangsaannya, bahwa bangsa yang besar ini memiliki rekam jejak perjalanan yang sangat panjang dan sangat berharga untuk menjadi referensi dunia. Betapa Bhinneka Tunggal Ika yang diikat oleh Pancasila telah terbukti ampuh sebagai pedoman kehidupan warga bangsa.
Oleh karena itu, Kementerian Sosial berupaya memanggil kembali memori kolektif warga bangsa tentang nilai kesetiakawanan sosial, nilai luhur yang mempunyai esensi kepekaan, peka untuk saling mengerti, peka untuk saling bertoleransi dan menghargai berbagai perbedaan, dan peka untuk saling berbagi.
Khofifah mengatakan di pengujung tahun 2017 ini Kementerian Sosial mencoba mencari format bangunan keserasian sosial melalui produk seni budaya. Hal ini tampak dalam peringatan Hari Pahlawan yang mengusung ruh estetik heroik dan dilanjutkan dalam Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN).
“Sungguh indah warna-warni keberagaman seni dan budaya kita. Menyaksikannya akan membuat siapa pun menjadi bahagia. Ketika rasa bahagia muncul maka yang ada dalam benak kita adalah perasaan damai, nyaman, lalu timbul penyadaran bahwa keberagaman itulah yang mempersatukan kita menjadi Indonesia,” ujar Khofifah. (ant)
KPU menggelar diskusi publik refleksi akhir tahun 2017 di Jakarta. Foto: Humas KPU.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar diskusi publik refleksi akhir tahun 2017 dengan tema “Menakar Kesiapan KPU Selenggarakan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019, Jumat (22/12) lalu di Jakarta.
Diskusi tersebut menghadirkan narasumber dari KPU, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Komisi II DPR RI, dan pegiat pemilu dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), serta diikuti oleh para pemangku kepentingan seperti partai politik (parpol), kementerian/lembaga, pegiat pemilu, organisasi masyarakat, dan media massa.
Ketua KPU RI Arief Budiman menyampaikan bahwa KPU butuh masukan-masukan sebagai catatan untuk kinerja KPU selama tahun 2017. Refleksi akhir tahun ini memberi manfaat untuk seluruh komponen bangsa yang beragam dan kontribusi positif bagi kehidupan demokrasi dan pemilu di Indonesia.
“Pilkada serentak 2018 itu bersifat strategis, karena hanya berjarak 10 bulan dari pelaksanaan Pemilu 2019. Apabila pelaksanaan pilkada 2018 berjalan baik, maka meningkatkan kepercayaan masyarakat pada pelaksanaan pemilu 2019, namun apabila pilkada dianggap gagal, maka tingkat kepercayaan akan turun,” tutur Arief.
Anggaran untuk Pilkada 2018 sebanyak 171 daerah sekitar Rp 12 triliun sesuai Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) yang sudah ditandatangani, tambah Arief. Pilkada 2018 tersebut melibatkan 277.555 orang PPK dari 5.551 kecamatan, 323.630 orang PPS dari 64.726 kelurahan/desa.
Sementara Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraeni menguraikan tantangan KPU seperti kompleksitas teknis penyelenggaraan pemilu beban berat bagi KPU dengan desain yang kurang kompatible, contohnya dengan tiga orang PPK.
Kemudian tantangan integritas dan netralitas, uji materi UU pemilu, adaptasi aturan baru berpotensi sengketa hukum, menjaga animo dan stamina pemilih, seleksi penyelenggara yang berhimpitan dengan pilkada 2018 dan pemilu 2019, harapan besar publik pada inovasi, keterbukaan, dan partisipasi yang meningkat.
“Tantangan lain yaitu sinergitas antar penyelenggara pemilu, pusaran politik sektarian dan menguatnya politik identitas dengan defisit programatik, dan konsolidasi hak pilih dan prasyarat administrasi kependudukan di tengah kompetisi yang kompetitif,” tambah Titi.
Pada kesempatan tersebut, Anggota Bawaslu Afifuddin mengungkapkan sebagai lembaga penyelenggara pemilu itu sosial public trust itu penting, terutama KPU. Afif juga mengapresiasi anugerah peringkat pertama untuk KPU atas keterbukaan informasi publik. Tetapi Afif mengingatkan, kalau sudah berada di atas, harus antisipasi jangan sampai turun, karena sudah tidak bisa naik lagi.
“Bawaslu memberikan catatan selama 8 bulan ini, antar lembaga penyelenggara pemilu harus lebih sering koordinasi informal. Bawaslu juga berharap ada hubungan baik antara KPU dan Bawaslu, terutama di provinsi dan kabupaten/kota,” ujar Afif.
Senada, anggota DKPP Alfitra Salam mengusulkan KPU dalam membuat peraturan terlebih dahulu diselesaikan di hulu, hilir dengan stakeholder kemudian, jadi dibicarakan dengan Bawaslu dan DKPP, juga diberdayakan mantan anggota KPU, Bawaslu dan DKPP dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD). Alfitra juga meminta KPU tetap melindungi hak suara warga yang belum mepunyai e-KTP.
“Kami juga mengusulkan agar ada staf ahli yang diberdayakan untuk pendampingan di Papua, mengingat indeks sengketa yang tinggi di Papua, sehingga tidak sering ada pemungutan suara ulang lagi di Papua,” usul Alfitra. (ist)
Widji Utami, sang pelatih tari di Sidoarjo. Foto: Jawapos.
Gending Jawa Timuran memenuhi seisi aula SD Hang Tuah 10. Alunan langgamnya halus. Saat itu terdapat sembilan anak mulai kelas IV hingga VI menari dengan luwesnya. Tangan mereka bergerak gemulai. Mereka menirukan gerakan sang pelatih, Widji Utami.
“Ayo, mendak yang cantik. Kalau jelek, tidak dipakai lagi lho,” ucap Widji memberikan arahan. Para penari pun berupaya menyuguhkan aksi terbaiknya ketika membawakan tari Wasis. Tari karya Widji yang bermakna pintar itu berisi ajakan agar anakanak rajin belajar. “Latar ceritanya tentang sekolah, ya keseharian anakanak lah,” lanjut dia kepada Jawapos.
Tari itulah yang dalam event Sidoarjo Education Expo (Siedex) lalu menyabet juara I kategori Tari Tradisional Tingkat SD. Kemahiran Widji dalam menciptakan tari sudah tidak diragukan lagi. “Berapa ya, sudah lebih dari 50 (tari) mungkin,” katanya.
Lingkungan keluarga sebagai pengelola sanggar seni membuat Widji tidak asing lagi dengan aktivitas mencipta tari. “Saya cuma lulusan SMA. Tetapi, sejak kecil saya ikut Ibu (Muntiana, Red) menari. Jadi, waktu SD ya sudah mengajar buat teman seumuran,” terangnya. Sedangkan sang ayah, Bambang Sumitra, pengelola Sanggar Seni Patrialoka di Blitar.
Bahkan, berkat menari juga, Widji bertemu dengan lelaki yang kini menjadi suaminya, Sapto Hari Utomo. Laki-laki 51 tahun tersebut melatih karawitan di SD Hang Tuah 10.
Bisa dibilang mereka sepaket, satu tim soal mengajar seni. Berawal dari melatih di sanggar swasta sejak 1966, keduanya dipercaya memegang kelas seni untuk sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Hang Tuah di wilayah Sidoarjo. Itu berlangsung sejak 2008.
Prestasi seni di sekolah tersebut melesat. Sebut saja di SD Hang Tuah 10. Dalam berbagai kejuaraan tari, karawitan, dan campur sari, tim dari sekolah tersebut meraih juara.
Misalnya, juara 1 Lomba Tari Kreasi Baru Tingkat Provinsi Jawa Timur 2015 serta juara Lomba Karya Seni Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) Tingkat SD-MI pada 2016.
Saking seringnya ikut lomba dan menang, Widji pernah diprotes oleh koleganya sesama pelatih. “Pernah ada lomba, saya tidak diberi tahu. Padahal, kalau ikut lomba, pesertanya bukan itu-itu saja,” lanjutnya.
Dedikasi pasutri yang menikah pada 1997 itu tidak hanya di sekolah. Mereka juga melatih tari untuk anakanak suku Tengger. Permintaan tersebut datang dari teman kuliah Sapto. “Medannya memang susah. Apalagi, tidak ada bayarannya,” kata Widji. “Tetapi, melihat antusiasme anak-anak berlatih, kami terpanggil untuk melatih,” imbuhnya.
Ada seratus anak yang dilatih. Semua masih kaku. Tidak bisa menari atau karawitan sama sekali. “Kuncinya, telaten,” ungkap ibu empat anak itu.
Dua tahun dia melatih, Pemkab Pasuruan lantas memberikan dukungan penuh. Mereka sama sekali tidak berbakat. Namun, Widji berhasil menggembleng mereka hingga meraih juara tari terbaik dalam event Peningkatan Prestasi Apresiasi Seni (PSST) Jawa Timur 2015.
Cerita legenda asal muasal suku Tengger dibawakan mereka dalam judul tarian Sang Kusuma. Dari event tersebut, terpilih 25 penari terbaik yang dikirim ke Lampung untuk tampil di acara Duta Seni Pelajar Nasional pada tahun yang sama. Berkolaborasi dengan SMPN 6 Kediri, mereka menampilkan drama tari Sangga Langit Patemboyo.
“Itu kali pertama anak-anak Tengger naik pesawat. Mereka takut banget sampai berkali-kali tukar tempat duduk,” kisah Widji, lantas tertawa mengingat memori paling berkesan itu. (jpg)
Sejumlah santri saat mengikuti Festival Santri di Banyuwangi. Foto: Antara/Budi Candra Setya.
Seiring hadirnya era generasi milenial, kemampuan untuk berbahasa Jawa dengan baik semakin ditinggalkan. Bahkan bahasa ibu ini jauh dari penguasaan, kendati oleh kalangan masyarakat (etnis) Jawa sendiri. Di tengah masyarakat Jawa tak terkecuali Jawa Tengah penggunaan Bahasa Jawa yang baik dan benar saat ini, semakin terdistorsi.
Realitas ini kian menggerus penggunaan bahasa Jawa, yang mengenal tingkatan Ngoko (untuk derajat di bawah), Krama Madya (sederajat) serta Krama Inggil (untuk derajat yang lebih tinggi/orang tua) sebagai unggah-ungguh atau bagaimana seharusnya bersikap.
Kecuali Ngoko, dua tingkatan penggunaan bahasa Jawa ini pun semakin lama semakin memudar. Kalangan generasi penerus cenderung fasih untuk menggunakan bahasa Jawa Ngoko, daripada Krama Madya apalagi Krama Inggil.
Berangkat dari persoalan ini, ikhtiar untuk menyelamatkan penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar dilakukan oleh warga Dusun Tapak, Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dalam tiga tahun terakhir, anak-anak hingga orang tua di dusun ini telah akrab dengan bahasa Jawa berikut kepada siapa tingkatan bahasa ini digunakan, melalui Gerakan Sinau Bahasa Jawa dan Tata Krama.
“Setiap hari, para sukarelawan dan warga menggelar pelatihan berbahasa Jawa yang baik dan benar, dan dipusatkan di halaman Masjid Al Mala dan Madrasah Diniyah (Madin) Uswatun Khasanah, Dusun Tapak ini,” kata Sumartinah, guru Madin Uswatun Hasanah seperti dilaporkan Republika.co.id, baru-baru ini.
Sehingga, jelasnya, selain mengaji, diberikan tambahan pelatihan serta pemahaman berbahasa Jawa dan unggah-ungguhnya. Apa yang didapatkan anak-anak ini juga diimplementasikan di dalam lingkungan keluarga serta lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Sehingga saat berkomunkasi di tengah keluarga, antar teman di tempat belajar bahkan dengan para tetangga yang lebih tua pun sudah diaplikasikan oleh anak-anak di lingkungan Dusun ini.
Tujuannya, tidak lain agar sejak dini anak-anak mengenal, untuk selanjutnya terbiasa menerapkan bahasa serta budaya Jawa di dalam kesehariannya. “Alhamdulillah, upaya ini direspon positif oleh anak-anak,” ucap dia.
Ia juga menyebutkan, Gerakan Sinau Bahasa Jawa dan Tata Krama ini juga disambut baik oleh warga Dusun Tapak. “Mulai dari remaja dan orang tua juga pro aktif untuk mendukung gerakan melestarikan bahasa Jawa ini,” katanya.
Setelah tiga tahun berjalan, lanjut Sumartinah, gerakan yang dimulai dari Dusun Tapak ini terus dikembangkan cakupannya. Bahkan mulai diterapkan di dusun lain yang ada di wilayah Desa Kelurahan.
“Bahkan Sinau Bahasa Jawa dan Tata Krama ini telah dimasukkan sebagai muatan lokal (mulok) di seluruh madin (27 madin) yang ada di wilayah Kecamatan Jambu,” lanjutnya.
Agar Tidak Musnah
Upaya untuk melestarikan bahasa Jawa ini di Kecamatan Jambu ini juga direspon positif oleh Balai Pengembangan Seni dan Bahasa Daerah Provinsi Jawa Tengah serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.
Kasi Bahasa Daerah, Balai Pengembangan Seni dan Bahasa Daerah Provinsi Jawa Tengah, Gatot Rustandi menyebut, apa yang dilakukan di Kecamatan Jambu ini merupakan langkah konkrit untuk menyelamatkan bahasa serta budaya Jawa dari kepunahan.
Menurutnya, bahasa daerah khususnya bahasa Jawa, harus dikembangkan sampai membumi, dengan pertimbangan keberadaannya yang sudah semakin mengalami distorsi dan terus terdegradasi di tengah masyarakat Jawa sendiri. “Apa yang telah dilakukan di Kecamatan Jambu ini layak menjadi percontohan bagaimana warisan leluhur ini diperlakukan, agar tidak hilang ditelan zaman,” ucap dia.
Balai Pengembangan Seni dan Bahasa Daerah, lanjutnya, telah menjadikan Dusun Tapak dan Kecamatan Jambu sebagai obyek studi banding sekaligus belajar guru SMA/ SMK sederajat, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pegiat bahasa Jawa dari 35 kabupaten/ kota Jawa Tengah.
Mereka diajak untuk melihat lebih dekat proses dan model pembelajaran bahasa Jawa di Kecamatan Jambu. Harapannya, apa yang diaplikasikan di kecamatan ini bisa ditularkan ke wilayah masing-masing. “Sebab kiat melestarikan bahasa Jawa ini merupakan amanah, Perda Nomor 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa, kata dia.
Terpisah, Camat Jambu, Edi Sukarno menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada elemen masyarakat (relawan) Kecamatan Jambu dalam mendukung Gerakan Sinau Bahasa Jawa dan Tata Krama ini. Karena ini didukung banyak unsur. Seperti Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Taklimiyah (FKDT), Forum Generasi Muda Jambu (FGMJ), Gerakan Pemuda Ansor Jambu, tokoh agama dan tokoh masyarakat hingga sukarelawan Guyub Serasi.
Sebagai rintisan, saat ini sudah berlangsung penerapan aplikasi pembelajaran bahasa Jawa dan tata krama di 27 madin. Pemerintah Kecamatan telah menyiapkan posko relawan di seluruh desa. “Karena apa yang dimulai dari Desa Kelurahan ini, ke depan juga bisa diterapkan di seluruh desa yang ada di kecamatannya. Kami juga ingin membranding Kecamatan Jambu sebagai laboratorium bahasa Jawa,” ujar Edi. (rep)
Beberapa video dangdut koplo di Youtube. Foto: Beritagar.id.
Lagu-lagu dangdut koplo seperti Ditinggal Rabi, Bojoku Galak, Jaran Goyang, Konco Mesra, terdengar di mana-mana. Tanggapan (konser) di pesta hajatan akrab dengan dangdut koplo.
Orkes kelas kampung pun laris manis menghibur tamu undangan di musim kawin. Di tempat-tempat umum, pom bensin, minimarket, terdengar alunan dangdut koplo.
Tema lagu dangdut koplo memang akrab dengan realitas masyarakat. Lagu Bojoku Galak menghasilkan idiom terkenal, kuat dilakoni nek ra kuat ditinggal ngopi (kuat dijalani kalau tidak kuat ditingal minum kopi).
Dangdut koplo sebagai sebuah genre musik memang menarik dan unik. Seperti Nusantara yang mampu mengakulturasi budaya luar, pun demikian dengan dangdut koplo. Semua lagu bisa dibikin koplo, meski lagu dengan irama lembut sekalipun.
Karena karakter ini dangdut koplo sesungguhnya miskin kreasi. Seringkali lagu-lagu pop sendu, pada bagian awal masih seperti lagu aslinya. Baru pada bagian selanjutnya tabuhan gendang masuk dan sahihlah musik pop sebagai dangdut koplo.
Lagu Menghitung Hari-nya Krisdayanti yang liris dan hanya diiringi piano pun, misal, bisa bikin goyang saat dikoplokan.
Fenomena Via Vallen dan Nella Kharisma, setelah sebelumnya demam Sagita dengan seri lagu Ngamen, grup Monata di Jawa Timur, Pantura di Jawa Tengah, memunculkan fenomena pentas dangdut yang selalu dinanti.
Perkembangan dangdut merentang dalam masa yang cukup panjang. Jika Dangdut pada dekade 1960-1970-an lekat dengan citra kampungan, lalu Rhoma Irama (waktu itu masih Oma Irama) memopulerkan dangdut yang tidak lagi berkiblat pada musik gambus dan gendang India.
Lagu-lagu Soneta Grup sendiri sesungguhnya adalah dangdut yang evergreen (abadi). Kejelian Rhoma Irama melintas berbagai tema: cinta, politik, sosial, ekonomi, agama, memang tiada duanya di jagad musik tanah air.
Rhoma Irama berhasil mencangkokkan melodi gitar model Deep Puple, Led Zeppelin, berpadu dengan suara gendang. Karena itu, perkembangan dangdut dapat dipandang sebagai indikator modernitas yang dicapai bangsa ini (Moh Soffa Ihsan, Ulumul Qur’an No 01/XXI/2012: 102).
Dangdut seolah musik yang ditakdirkan untuk adaptif terhadap jenis musik lain. Ketemu keroncong jadi campur sari. Ketemu pop jadi pop jawa a la Didi Kempot, ketemu hip hop jadi dangdut koplo hari ini. Irama dangdut juga tercangkok pada lagu-lagu kasidah, dan nadanya dipinjam untuk melantunkan salawat barzanji.
Dangdut koplo muncul di Jawa Timur pada 1996 di Jawa Timur. Popularitas dangut melesat saat Inul Daratista mencuri perhatian masyarakat dengan goyang ngebor-nya pada 2003.
Televisi swasta menggelar kontes dangdut untuk mengangkat dangdut. Kontes dangdut bahkan dilakukan dalam wilayah regional ASEAN, terutama negara-negara rumpun melayu. Penyanyi-penyanyi dangdut dari pantura berlomba untuk masuk industri televisi yang bergelimang rupiah.
Jika musik adalah cerminan sosiokultural masyarakat, maka dangdut koplo adalah bentuk realitas yang lain. Sebagaimana dikatakan NDX, bahwa patah hati tidak perlu ditangisi, cukup dinyanyikan saja.
Arsendo Atmowiloto (Kalam, edisi 7, 1996: 4) mendedahkan budaya dangdut sebagai “mewakili proses yang terus berlangsung…. memiliki ruh pada proses yang berinteraksi, selalu dinamis, dan karenanya tidak mengabdi pada seseorang atau lembaga… (karena itu) dangdut tidak diakui sebagai budaya yang resmi, yang baik dan yang benar karena menolak kuasa penciptaan selain pada dirinya.” Berbeda dengan kebudayaan wayang untuk menyebut budaya adiluhung, budaya dangdut menunjukkan gejala budaya yang banal.
Pentahbisan Rhoma Irama sebagai Raja Dangdut seolah “mengakhiri” perjalanan dangdut. Hal ini dibuktikan dengan “perseteruannya”dengan Inul Daratista pada 2003. Kubu Rhoma menolak dangdut yang dibawakan Inul dan kawan-kawan bukan termasuk dangdut. Seperti wayang, dangdut-nya Rhoma Irama berusaha membentuk narasi kuasa penciptaan.
Kebudayaan dangdut koplo mengafirmasi watak akulturatif-afirmatif kita pada entitas yang lain. Sekaligus pelan namun pasti menurunkan bendera hak cipta. Kita tidak peduli siapa pemilik signature lagu Ditinggal Rabi, Bojoku Galak.
Sesuai dengan namanya, dangdut koplo, efek yang ditimbulkan membuat orang tertarik untuk bergoyang. Yang malu-malu joged sering tidak sadar hanya menghentak-hentakkan kakinya pelan sambil tetap anteng duduk di kursi, atau bernyanyi-nyanyi kecil.
Proses pembudayaan dangdut koplo ini menggejala dalam ranah digital. Meme dengan caption tertentu, kalimat-kalimat bijak yang dinisbatkan pada tokoh tertentu, video rekaman ponsel pintar, bertebaran memenuhi memori gawai.
Tidak peduli siapa pencipta semua itu, karena kita hanya “peduli” dengan isinya: lucu, bijak, puitis, provokatif. Anasir-anasir yang membuat kita tergoda untuk ikut menyebarkannya di media sosial.
Fenomena dangdut koplo menyimpan moda kebudayaan kita hari ini. Yakni kebudayaan tanpa (tak peduli) pionir. Di media sosial kita akan dengan mudah menemukan pola copy paste dalam foto dan video yang dibuat meme dan diberi caption, -tanpa hak cipta. (ist/*)
*Ditulis oleh Junaidi Abdul Munif, pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Semarang) dan dimuat di Beritagar.id