Enam Destinasi Sumenep yang Wajib Dikunjungi

foto
Kerindangan pohon Cemara Udang di Pantai Lombang, Sumenep. Foto: Kompas/Wawan H Prabowo.

Bagi Anda penyuka wisata bahari, Kabupaten Sumenep di Jawa Timur bisa jadi destinasi terdekat yang Anda kunjungi. Kawasan pesisir lautnya yang kaya, menjadikan wisata baharinya amat beragam.

Dari berbagai destinasi yang dimiliki Sumenep, yaitu wisata budaya, wisata religi, wisata belanja, dan yang lainnya, mayoritas di dominasi wisata bahari. Terdapat 126 pulau yang masuk ke dalam teritori Kabupaten Sumenep.

Mulai dari pulau-pulau yang unik, pantai pasir putih yang cantik, hingga taman bawah laut yang memukau. Semua itu bisa Anda nikmati saat berkunjung ke Sumenep.

Berikut tulisan Kompas.com tentang destinasi wajib yang bisa Anda kunjungi saat berlibur ke Sumenep:

Gili Iyang

Pulau inilah yang menjadi ikon wisata Sumenep. Namanya sudah tersohor hingga mancanegara, terutama Eropa dan China. Yang menarik dari pulau ini, merupakan pulau dengan kadar oksigen tertinggi kedua di dunia, setelah Jordania.
Sehingga mahluk hidup di sini beraktivitas dengan segar. Tak heran banyak warga Sumenep yang berusia 130-140 tahun dan sehat.

“Pasir putih banyak, pantai indah banyak, tapi pulau sehat yang berfungsi bagi pariwisata hanya di Gili Iyang,” ujar Bupati Sumenep, Busyro Karim saat meluncurkan Calendar of Event Sumenep di Jakarta. Untuk menjangkau Gili Iyang hanya perlu waktu 40 menit dari pelabuhan Sumenep menggunakan kapal cepat.

Gili Labak
Salah satu pulau unggulan dengan keistimewaan taman bawah laut yang indah. Di sini terdapat karang yang unik, langka, banyak dicari para penyelam dunia.

Selain karangnya, di Gili Labak juga kaya dengan ikan-ikan karang yang unik nan menggemaskan. Untuk berkunjung ke sini perlu waktu 1,5 jam dari Pelabuhan Tanjung Kota Sumenep.

Gili Genting, Pantai 9

Gili Genting, biasa disebut Pulau Sembilan, di Desa Bringsang, Kecamatan Kepulauan Gili Genting. Pantainya berbentuk angka sembilan, oleh karenanya dinamakan dengan Pantai 9.

Selain keunikan bentuknya, pantai ini juga menyimpan taman laut yang tak kalah indah dari gili-gili lainnya. Banyak dive spot, dan sedang dibangun juga untuk dive centre wisatawan.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraha Kabupaten Sumenep, Sufiyanto, pantai ini jadi salah satu favorit destinasi mancanegara. Hanya butuh 30 menit dari Pelabuhan Tanjung, Kota Sumenep.

Pantai Lombang

Pantai Lombang ini, terbentang sepanjang 12 kilometer. Sepanjang itu pula berjejer hijaunya pohon cemara udang yang rindang.

Hutan di dekat pantai inj masih asri, rindang dengan pepohonan cemara udang yang rapat. Bagus untuk berfoto di darat, maupun bawa lautnya.

Kasur Pasir
Tak jauh dari Pantai Lombang, terdapat satu desa dengan budaya tidur diatas pasir. Jika lazimnya bahan kasur ialah pegas, busa, ataupun kapuk, masyarakat Dusun Pesisir, Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang biasa dengan kasur pasir.

Masyarakat di sana percaya kalau tidur di pasir merupakan warisan budaya leluhur. Juga bisa menjadi sumber terapi kesehatan mereka, agar terhindar dari banyak penyakit.

Keraton Sumenep
Keraton di Sumenep merupakan keraton terakhir yang bertahan di Jawa Timur. Bagian-bagiannya pun masih utuh, mulai penyimpanan prasasti sampai ruangan-ruangannya. Lokasinya yang dekat dari pusat kota, membuat destinasi ini layak jadi tempat wajib Anda berkunjung ke Sumenep. (kmp)

Grebeg Bhinneka di Tulungagung Merawat Keberagaman

foto
Acara Grebeg Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar festival kebudayaan. Foto: Istimewa.

Tulungagung diyakini sebagai kota yang menyimpan jejak-jejak sejarah kegemilangan masa lalu Nusantara. Kota ini termasuk salah satu ‘surga’ arkeologi di Jawa Timur. Hal yang paling menonjol dari bukti-bukti arkeologis tersebut adalah, adanya sintesis-mistis antar-agama dari zaman ke zaman.

Sintesis-mistis itu dibuktikan oleh banyaknya candi dan warisan arkeologi lain yang memadukan simbol dan ornamen Hindu-Buddha. Bahkan, kehadiran Islam dianggap tidak mengusik warisan arkeologi yang ditinggalkan oleh dua agama pendahulu tersebut, tetapi merestorasinya.

Bukti-bukti tersebut juga menguatkan keyakinan bahwa, di masa lalu Tulungagung merupakan kawasan yang dibangun sebagai wilayah spiritual bagi banyak agama. Sebagian besar masyarakat Tulungagung meyakini bahwa pematangan ajaran Bhinneka Tunggal Ika di masa lalu, salah satunya, terjadi di kawasan ini.

Argumentasi ini juga dikaitkan dengan keberadaan pendharmaan Sri Gayatri Rajapatni di kawasan Boyolangu. Ratu Majapahit tersebut dianggap sebagai figur sentral yang menggali dan mewariskan ajaran spiritualitas bhinneka tunggal ika hingga masa kegemilangan Majapahit di tangan cucunya, Hayam Wuruk.

Keyakinan ini dilegitimasi oleh hasil penelitian Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung bertajuk, “Melacak Jejak Spiritualitas Bhinneka Tunggal Ika dan Visi Penyatuan Nusantara di Bumi Tulungagung”.

Hasil penelitian tersebut menegaskan bahwa, di masa lalu kota ini merupakan kawasan spiritual, tempat digali dan dimatangkan dua ajaran sekaligus, yakni ajaran Bhinneka Tunggal Ika dan Cakrawala Mandala Nusantara. Ajaran yang disebut kedua merupakan ajaran tentang penyatuan mandala-mandala di seluruh Nusantara.

Melalui berbagai kegiatan Sarasehan dan Diskusi, seluruh elemen masyarakat Tulungagung akhirnya berinisiatif untuk mewujudkan Grebeg Bhinneka Tunggal Ika. Grebeg bukan sekadar festival kebudayaan.

Tetapi juga cara masyarakat Tulungagung menandai dan meneguhkan identitas sebagai penyokong ajaran Bhinneka Tunggal Ika yang diwariskan dari zaman ke zaman. Melalui acara ini, mayarakat juga menyerukan spirit Bhinneka Tunggal Ika itu harus tetap menjadi identitas nasional Indonesia.

Ketua Panitia Grebeg Bhinneka Tunggal Ika, Akhol Firdaus menyebutkan kegiatan Grebeg Bhinneka Tunggal Ika yang dihelat pada Selasa (26/12) itu dikonsentrasikan di halaman kampus IAIN Tulungagung dan di lokasi Candi Gayatri Boyolangu. Acara dimulai dengan parade kesenian lokal dan orasi kebudayaan yang melibatkan tokoh-tokoh nasional.

“Puluhan organisasi lintas agama/keyakinan terlibat dalam acara ini. Puluhan kelompok kesenian tradisional juga menjadi bagian dari acara,” kata Ketua Pusat Studi Islam Jawa IAIN Tulungagung ini.

Orasi kebudayaan melibatkan Prof Dr Hariyono (UKP-PIP), Eva K Sundari (Kaukus Pancasila DPR RI), Dr Maftukhin (Rektor IAIN Tulungagung), Supriono (Ketua DPRD Tulungagung), Kusnadi (DPRD Jawa Timur), dan Naen Soeryono (Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia).

Agenda Grebeg diharapkan mampu menjadi saran untuk melestarikan wawasan Bhinneka Tunggal Ika sebagai ajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi dan telah membuktikan dirinya sebagai pondasi kebangsaan Indonesia modern. “Juga memupuk kebanggaan dan rasa memiliki terhadap warisan sejarah Nusantara kepada masyarakat lintas generasi,” pungkas Akhol Firdaus. (sak)

Anugerah Sutasoma untuk Meditasi Kimchi

foto
Tengsoe Tjahjono penerima Anugerah Sutasoma. Foto: Jawapos.

KAU titipkan kepala pada pelukis wajah/petikan gitar mencuri senja abu-abu/di panggung-panggung kecil//Ayo menari, katamu//Ah, aku telah berubah jadi merpati/ di tangan pesulap tampan Kimchi.

Puisi berjudul ‘Hongdae Street’ itu adalah salah satu karya dalam kumpulan puisi Meditasi Kimchi. ”Kebetulan tentang Korea,” ujar Tengsoe Tjahjono, sang empunya karya.

Sudah hampir setahun Tengsoe Tjahjono balik ke tanah air. Dia kembali mengajar sastra di Universitas Negeri Surabaya. Selama tiga tahun, sejak 2014 hingga Januari 2017, Tengsoe mengajar di Korea.

Laki-laki kelahiran Jember itu mengajar di Hankuk University of Foreign Studies. Tepatnya di Department of Malay-Indonesian Studies. Tengsoe mengajar S-1 hingga S-3 ”Jadi dosen tamu. Rata-rata mahasiswa Korea,” katanya kepada Jawapos.

Kebetulan, universitas tersebut mencari tenaga pengajar sastra sekaligus native speaker. Nama Tengsoe pun direkomendasikan untuk bisa mengajar di universitas itu. ”Mereka lalu googling saya. Track record saya dilihat,” katanya.

Korea yang jauh dari kampung halaman Indonesia sempat menjadikan Tengsoe berpikir ulang untuk berangkat. ”Awang-awangen (bimbang, Red),” kenangnya. Namun, dari beberapa nama yang disodorkan, pihak kampus tetap meminta Tengsoe datang.

Tiga tahun berselang, Tengsoe merasa sudah saatnya kembali pulang. Dia memang tercatat sebagai dosen di Unesa. Semakin lama di negeri orang, tentu semakin lama dia meninggalkan tugas.

Menurut Tengsoe, para mahasiswa di Korea punya motivasi tinggi. Terutama untuk belajar tentang Indonesia. Sebab, era saat ini kian terbuka. Tidak tertutup kemungkinan kelak mereka ingin bekerja di Indonesia. ”Saya mengajar tiga kelas. Satu kelas bisa 45 mahasiswa,” jelasnya.

Mengajar di Korea adalah pengalaman tersendiri bagi Tengsoe. Dia bisa melihat dari sudut pandang positif. Mahasiswa Korea bisa mengenal budaya Indonesia. ”Kita juga tidak bisa menghindari untuk tidak bersinggungan dengan bangsa lain,” katanya.

Berinteraksi dengan orang asing, bahasa, budaya, dan alam di Korea membuat Tengsoe juga semakin memperkaya rasa. Di negara itu, dia hadir sebagai orang asing. Dia pun menjadi tahu bagaimana posisi bangsa Indonesia dari kacamata mereka.

Suami Sri Mumpuni itu menyebut, hidup di negeri empat musim tersebut menjadi pengalaman yang asyik. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia sastra, Tengsoe juga makin memperkaya rasa dan kosakata. Tak heran, 80 puisi pun lahir.

”Saya lebih banyak menerima pengalaman menarik daripada tidak menarik,” jelasnya. Puisi-puisi itu dikemas dalam buku berjudul Meditasi Kimchi.

Atas karyanya itulah, ayah tiga putri tersebut mendapat penghargaan Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur. Anugerah itu diterima ketika Bulan Bahasa Oktober 2017.

Meditasi Kimchi berisi pikiran kritis tentang Korea. Baik dari segi alam, sosial, maupun budaya. Di dunia puisi, Tengsoe tidak ingin menulis dengan teks yang biasa digunakan. Dia ingin menciptakan sesuatu yang baru meski tak benar-benar baru. Yakni, lebih naratif dan berkisah.

Sosialisasi Pentigraf
Tengsoe memang dikenal lewat puisi-puisinya. Namun, sebenarnya tak melulu puisi. Dia juga penggagas pentigraf alias cerpen tiga paragraf. Dia kini getol mengenalkan pentigraf kepada masyarakat.

Rangga segera mendorong pintu Coffee Bay. Ditutupnya payungnya lalu diletakkan di tempat yang tersedia di dekat pintu. Hujan mengguyur Seoul sejak tadi malam. Bahkan weather forecast dalam smartphone menunjukkan hujan bakal turun selama seminggu ini. Aneh, musim panas, namun hujan jatuh tiap hari.

Sambil menunggu Americano pesanannya, diambilnya posisi meja paling sudut. Dua orang mahasiswi Korea asyik berbincang. Mungkin saja mereka sedang mengerjakan tugas dari profesornya. Memandang gadis-gadis yang berambut pirang itu ia ingat Riou Seung Hee, gadis yang memikat hatinya. Gadis Korea yang sederhana yang tak tergoda untuk melakukan oplas di Gangnam. Namun, ingatannya bukan pada kebersahajaan Seung Hee. Ia tak bisa melupakan kata-kata Seung Hee seminggu lalu di kantin mahasiswa. ”Rangga, jika kamu bisa meyakinkan aku bahwa Tuhan itu sungguh ada, aku mau jadi pacarmu.” Hujan di luar, namun hujan yang lebih lebat sedang bergemuruh dalam dirinya.

”Sungguh, aku meyakini bahwa Tuhan itu ada. Aku sungguh mengalami penyertaan Tuhan dalam hidupku, tapi bagaimana aku menjelaskan konsep Tuhan kepada Seung Hee,” Rangga terpekur. Dipandangnya lagi gadis berambut pirang itu. Siapa yang membuat gadis itu berambut pirang. Tentu saja cat rambut. Siapa yang membuat cat rambut? Tentu pabrik-pabrik kosmetik. Siapa yang menciptakan kosmetik? Tentu saja orang-orang yang digerakkan oleh pikiran-pikirannya. Siapa yang menggerakkan pikiran orang-orang? Tiba-tiba Rangga berdiri. Bergegas menembus hujan. Menemui Seung Hee.

Karya berjudul Hujan di Luar, Hujan di Dalam itu adalah salah satu karya pentigraf Tengsoe. Konsep pentigraf menjadi menarik karena bentuknya hanya tiga paragraf. Yang tidak bisa menulis pun jadi tertarik. Terutama ketika ada kerinduan dan keinginan menulis, namun tidak mampu menulis panjang. ”Dokter, ibu rumah tangga, pensiunan, semua bisa melakukannya,” ujar penulis kumpulan puisi Kisah Kopi yang Menunda Gerimis Reda itu.

Pada 2016, sudah dua antologi pentigraf yang diluncurkan. Yakni, Pedagang Jambu Biji dari Pnom Penh dan Dari Robot Sempurna sampai Alea Ingin ke Surga. ”Sekarang kami sedang menyiapkan konsep yang sama tahun ini,” katanya.

Tengsoe menyatakan, pentigraf bisa membangun budaya literasi. Mengajak masyarakat untuk membaca dan menulis. Pentigraf, kata dia, merupakan bagian dari cerpen pendek.

Sebenarnya, cerpen pendek lebih dahulu ada. Namun, polanya tidak tiga paragraf. ”Kalau tiga paragraf, memang pola yang saya gulirkan. Setengah prosa, setengah puisi. Masuk kategori flash fiction,” tuturnya.

Tentu saja, unsur-unsur narasi dalam pentigraf tetap ada. Ada alur, tokoh, latar, dan tema. Bersama komunitas digital di media sosial, Tengsoe menggagas Kampung Pentigraf Indonesia. Dalam komunitas itu, mereka belajar dan berkarya bersama. Kopi darat juga dilakukan.

Kini literasi melalui cerpen dan puisi terus berkembang. Tak melulu melalui kertas, tapi juga paperless melalui digital. Menurut dia, generasi muda memiliki semangat literasi tinggi.

Bagi laki-laki kelahiran 3 Oktober 1958 itu, menulis adalah rekreasi paling murah. ”Kalau sedang galau, larinya menulis. Daripada ke luar kota atau ke Korea lebih mahal lagi,” katanya.

Menulis juga membuat jiwa menjadi senang. Gembira. Kadang-kadang bisa jadi terapi jiwa. Itu membuat Tengsoe senang menulis. Dia juga jadi punya banyak teman dan jejaring.

Tengsoe tidak menulis puisi untuk komersial, cari uang, apalagi ketenaran. Dia hanya meyakini kalau puisi baik, puisi itu tidak akan lupa pada tuannya. ”Kalau saya dikenal orang, itu bukan saya. Tapi, puisi saya,” ujarnya. Karena itu, imbuh dia, tulislah puisi yang baik. Supaya puisi tersebut selalu ingat kamu.

Supaya baik, harus cinta dan setia. Ya, dua hal itu menjadi kunci menulis yang baik ala Tengsoe. Setiap saat sebaiknya tidak pernah capek menulis. ”Ini harus dijaga. Menumbuhkan kecintaan,” katanya. Dia mengibaratkan, orang yang sungguh-sungguh cinta tentu tidak akan menyerah untuk mendapatkannya.

Kalaupun ada yang bilang puisi Tengsoe jelek, ujar dia, itu tidak jadi masalah. Dia akan membuat lagi yang lebih baik. ”Kalau memang jelek, ya diperbaiki. Jadi santai. Tidak beban,” jelas laki-laki yang menekuni sastra sejak 1978 itu.

Tengsoe tentu mengajak para mahasiswanya menjadi sastrawan. Sebab, sastra itu pilihan. Namun, jika ada yang menjadi guru kelak, dia ingin mereka menjadi guru yang nyastra. Pun demikian insinyur, pengacara, dokter, dan sebagainya. Dokter yang bisa menulis sastra. ”Menyenangi sastra itu penting untuk menghaluskan rasa. Karena sastra itu ibarat cermin dan jendela,” ujarnya. (jpg)

Gitar Bambu ITS, Mencirikhaskan Indonesia

foto
Fany Basa dan dosennya Primaditya SSn MDs bersama gitar bambu butana mereka. Foto: Humas ITS.

Kekayaan material alam Indonesia telah menstimulasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sebagai kampus teknologi untuk bisa menciptakan produk yang inovatif khas Indonesia.

Menanggapi tantangan tersebut, mahasiswa Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS pun terinspirasi untuk menciptakan produk alat musik gitar yang berbahan bambu dan rotan laminasi.

Keunggulan gitar ini adalah karena terbuat dari rotan dan bambu laminasi, sehingga lebih ringan dan tipis dibanding bahan sintetis pada umumnya serta terlihat lebih estetis.

Alhasil, karena menggunakan material beda dari gitar biasanya, suara yang dihasilkan yang berasal dari bahan bambu itu pun terdengar cukup khas.

Primaditya SSn MDs, salah seorang dosen yang ikut membimbing dalam proyek ini menerangkan, tren industri produk kini mulai bergeser ke produk yang menggunakan material alam yang lebih indah dan sustainable.

Dibanding material seperti plastik atau metal. “Selera pasar sekarang ini lebih mengarah ke hal-hal yang eksklusif dan tidak pasaran,” ujarnya.

Hal tersebut yang akhirnya mendorong empat mahasiswa Despro yang didampingi oleh Primaditya untuk berinovasi dengan bambu sehingga terciptalah gitar bamboo tersebut.

“Materialnya memang dipilih khusus supaya mencirikan Indonesia, yaitu rotan dan bambu petung, bambu yang diameternya paling besar dan hanya ada di Indonesia,” jelas dosen yang biasa dipanggil Prima ini.

Sementara untuk teknologi pengolahan bambu dan rotan laminasi dibuat layaknya kerajinan buatan tangan, sehingga tidak menghilangkan ciri khas Indonesia. “Penggunaan teknologi ini untuk mempercepat dan mempermudah proses produksi skala besar,” ungkap Fany Basa, salah satu mahasiswa yang terlibat proyek.

Menurut Fany, salah satu kesulitan pembuatan produk ini terletak pada lengkungan yang harus dibuat dari bambu. Bambu bersifat keras dan memiliki banyak tulang, sehingga rawan pecah atau retak apabila digunakan untuk bagian lengkung.

“Di samping itu, rotan yang berukuran cukup besar juga memerlukan treatment tersendiri agar bisa menciptakan bentuk yang unik,” lanjutnya.

Meskipun terbilang cukup susah, produk buatan Fany Basa dan rekan-rekannya ini sempat berhasil memikat hati Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti ketika pameran dalam rangka Dies Natalis ITS ke-57.

Bahkan Presiden Joko Widodo saat pameran di produk inovasi di Grandcity, Surabaya, beberapa waktu lalu. Mereka benar-benar menyambut baik kehadiran gitar bambu yang dinamai gitar traveller tersebut.

“Setelah dapat tanda tangan Pak Jokowi dan Bu Susi, ternyata Bu Susi tertarik dengan produk ini, jadi beliau memesan dua buah gitar traveller seperti ini,” aku mahasiswa angkatan tahun 2012 itu dengan wajah sumringah.

Bersama dengan gitar bambu, kata Prima, ke depannya tiga produk lainnya akan bekerja sama dengan Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk produksi massal dengan transfer teknologi. “Semoga tahun depan sudah bisa mulai diproduksi massal,” tandasnya penuh harap.

Saat ini, tambahnya, proyek gitar bambu berada di bawah program penelitian Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) yang dinaungi Kemenristekdikti. (ita)

Wisata Jalan Kaki 100 Kilometer di Banyuwangi

foto
Peserta wisata jalan kaki yang digagas Camino De Ijen, Banyuwangi. Foto: Arsip Camino de Ijen.

Camino De Ijen menggagas wisata jalan kaki menyusuri 100 kilometer di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur. Bukan hanya sekadar menikmati pemandangan tapi wisatawan juga diajak untuk menikmati budaya, kuliner dan atraksi seni yang ada desa-desa yang dilalui wisatawan.

Agustina, koordinator Camino De Ijen saat dihubungi Kompas.com mengatakan selama ini para wisatawan jika ingin berkunjung ke destinasi wisata selalu menggunakan alat transportasi sehingga muncul ide untuk mencoba sesuatu yang baru yaitu dengan berjalan kaki.

“Jika berjalan kaki tentunya ada interaksi dan juga pengalaman baru sehingga kita buat trip dengan berjalan kaki di desa-desa sekitar Gunung Ijen, melewati sawah dan perkebunan serta menengok aktivitas warga termasuk menginap di rumah mereka,” kata Agustina.

Untuk hari pertama, jalur yang dilewati wisatawan sejauh 15 kilometer yang diawali dari Pantai Pulau Santen menuju ke desa Macan Putih dan mereka melewati area pantai dan persawahan serta menginap di rumah warga.

Pada hari kedua perjalanan dilanjutkan menuju Desa Banjar dengan jarak tempuh 20 kilometer melewati jalan perdesaan di bawah kaki gunung dan menikmati kuliner khas desa Banjar yaitu kopi uthek dan nasi lemang.

Di hari berikutnya, para pejalan diajak mengunjungi Taman Langit, melewati hutan pinus dan berjalan menuju rest area Jambu di desa Tamansari dengan jarak tempuh 10 kilometer.

“Perjalanan terakhir adalah menuju Ijen untuk melihat blue fire dan sunset. Dan kami juga ajak mereka untuk berkunjung di beberapa tempat perkebunan kopi, karet, cengkeh dan mahoni termasuk juga ke Jawatan yang terkenal dengan hutan lord of the ring-nya Banyuwangi,” katanya.

Untuk paket wisata jalan kaki yang digagas Camino De Ijen dimulai awal Desamber 2017 dan diikut oleh tujuh peserta dari Jakarta dan Sumatera. Mereka mendaftar melalui media sosial. “Saya optimis wisata jalan kaki ini akan berkembang,” cetusnya.

Sebelumnya, rombongan komunitas Sarekat Ngobong Kalori Yogyakarta juga menikmati keindahan Banyuwangi dengan berjalan kaki selama empat hari.

”Kami senang kreativitas terus muncul. Setelah wisata bersepeda, olahraga air, wisata budaya dan sebagainya muncul, kini ada wisata jalan kaki. Terima kasih semua pelaku jasa pariwisata, ini sangat membantu menggerakkan ekonomi warga lewat pariwisata,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

”Wisata jalan kaki ini senang-senang sambil menyehatkan badan. Biasanya kita ini wisata terus kulineran tidak terkontrol, tapi ini ada paket wisata jalan kaki. Luar biasa. Silakan dirasakan. Ini layak dicoba,” imbuh Anas. (kmp)

Pencak Dor, Olahraga Budaya di Blitar Asli Indonesia

foto
Panggung Pencak Dor di Blitar yang dihadiri Menpora Imam Nahrawi. Foto: Kemenpora.go.id.

Sebagai rangkaian dari Acara Kirab Pemuda Nusantara 2017, Menpora Imam Nahrawi di dampingi Istrinya Shobibah Rohmah bersama Bupati Blitar Rijanto menyaksikan pagelaran Pentas Seni Olahraga Budaya Pencak Dor 2017 di lapangan terbuka Blitar, beberapa waktu lalu.

Menpora yang juga didampingi Staf Khusus Komunikasi dan Kemitraan Anggia Ermarini serta Sesepuh Pencak Dor Imam Kasani menyampaikan selamat atas terselenggaranya Pencak Dor yang spektakuler.

“Malam ini saya menyaksikan Pencak Dor dengan mata kepala saya sendiri bahwa Pencak Dor bukan hanya sekedar olahraga tetapi juga sport tourism, dimana pariwisata olahraga sudah betul betul diagungkan,” ujar Menpora diatas ring Pencak.

Menpora mendorong agar olahraga pariwisata Pencak Dor dapat didukung dan disiarkan secara langsung oleh televisi nasional dan dapat dilaksanakan lebih sering.

“Olahraga pariwisata harus terus disorong dan harus didukung oleh televisi nasional secara langsung dan penontonnya sangat luar biasa, even ini saya harap tidak hanya tahunan tetapi kalau perlu per triwulan sekali diadakan,” tutur Menpora disambut tepuk tangan ribuan penonton.

Menurutnya pemerintah akan terus mendukung dan membantu. Pencak Dor menurutnya sesuatu yang luar biasa. Setidaknya menginspirasi dan menyemangati kita semua.

“Dari pada bertengkar di jalan lebih baik berada di ring Pencak Dor seperti sekarang sehingga selain menjadi hiburan tersendiri juga dapat dinikmati bersama,” tambahnya seperti dirilis Kemenpora.go.id.

“Selamat melanjutkan Pencak Dor, terima kasih kepada semua pendekar, silahkan ditularkan ilmu yang bermanfaat ini kepada anak anak dan pemuda pemuda kita agar mereka sehat jasmani dan sehat rohani untuk mengisi pembangunan bangsa Indonesia di masa yang akan datang salam hormat dari Bapak Presiden Jokowi, semoga suatu saat beliau dapat menyaksikan secara langsung Pencak Dor yang sangat spektakuler ini,” harap Menpora.

Pencak Dor merupakan olahraga beladiri semacam Muay Thai atau Tarung Bebas yang dilaksanakan setiap tahun di Blitar, Jawa Timur, diatas arena kayu dan bambu, awalnya Pencak Dor adalah dihelat antar santri dan menjadi tontonan warga sejak 1960-an lalu. (sak)

Candi Kidal, Sumber Inspirasi Lahirnya Lambang Negara

foto
Candi Kidal yang terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpan, Kabupaten Malang. Foto: Malangkab.go.id.

Candi Kidal yang terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kab Malang merupakan candi tertua langgam Jawa Timuran yang berkesan ramping dan dinamis. Merupakan satu-satunya candi yang reliefnya khusus bercerita tentang kisah Garudeya serta memiliki gambaran struktural ikonik Garuda paling lengkap dibandingkan dengan candi-candi lainnya.

Keunikan Candi Kidal adalah adanya unsur ajaran Syiwa dan Wisnu sekaligus dalam satu candi. Di dalam candi terdapat lingga yoni sebagai penanda ajaran Syiwa sementara itu di dinding luar candi terdapat relief Garudeya sebagai penanda ajaran Waisnawa (pemuja Wisnu).

Dalam Negarakretagama pupuh 41 bait 1 disebutkan bahwa Anusapati kembali ke Siwabuddhaloka. Adanya istilah Buddha menandakan bahwa tempat pendarmaan Anusapati (Candi Kidal) juga mengayomi penganut ajaran Buddha.

Atap candi Kidal tidak dihias dengan ratna sebagai ciri khas dari candi Hindu serta tidak dihias pula dengan stupa sebagai ciri khas dari candi Buddha.

Jadi dapat ditafsirkan bahwa Candi Kidal berkarakter sinkretisme antara Syiwa-Wisnu yang dibangun sebagai monumen persatuan nasional serta simbol pengayoman terhadap segenap rakyat Singhasari termasuk para pemeluk ajaran Buddha. Candi Kidal merupakan monumen persatuan pada masa Singhasari.

Keunggulan Relief
Pada candi Kidal terdapat relief Garudeya pada ketiga sisi kaki candi. Ketiga relief tersebut adalah Garuda dan para naga, dimana ibu Garuda masih dalam perbudakan sang Kadru. Garuda membawa tirta amerta, air suci sebagai penebus kebebasan sang ibunda. Dan Garuda bersama ibunya yang telah terbebas dari perbudakan sang Kadru dan para naga.

Keunggulan relief Garudeya di Candi Kidal adalah Garudeya merupakan satu-satunya relief cerita di Candi Kidal, artinya candi Kidal adalah candi yang khusus dibuat untuk menggambarkan kisah Garudeya. Di candi-candi lainnya relief Garudeya bercampur dengan relief- relief cerita yang lain.

Tiga panil relief Garudeya di Candi Kidal merupakan panil-panil yang merupakan kunci cerita yang mampu mengungkapkan keseluruhan cerita secara utuh. Inti cerita jauh lebih jelas terbaca yakni kisah pembebasan ibunda Garuda dari belenggu perbudakan

Kualitas gambar masih sangat bagus hingga bisa menampilkan pahatan secara detail. Tiga panil relief menggambarkan cerita yang berurutan dengan menggunakan cara baca prasawya (berjalan berlawanan dengan arah jarum jam).

Pahatan relief lebih mengarah kepada bentuk tiga dimensional sehingga nampak lebih hidup. Merupakan relief paling lengkap tentang kisah Garudeya.

Pranata Hukum
Bung Karno membentuk Panitia Lencana Negara yang beranggotakan Muhamad Yamin, Moch Hatta, Sultan Hamid II, Ki Hajar Dewantara, MA Pelleupesy, Moh Natsir, RM Ng Poerbatjaraka dan Doellah. Semuanya memiliki peran dalam merumuskan Lambang Negara. Artinya Lambang Negara Garuda Pancasila diciptakan secara kolektif oleh Panitia Lencana Negara bentukan Presiden Soekarno.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara menerangkan bahwa Garuda merupakan burung mitologi yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, serta terdapat di berbagai candi di Indonesia termasuk di Candi Kidal Malang.

PP tersebut kemudian disempurnakan dengan UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Dalam Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1993 tentang Flora dan Fauna Nasional, elang Jawa ditetapkan sebagai satwa nasional karena kemiripan bentuk tubuh elang Jawa dengan Lambang Negara Garuda Pancasila.
Masyarakat Nusantara juga menyebut elang Jawa dengan istilah burung Garuda atau burung rajawali. Elang merupakan jenis satwa yang menempati posisi tertinggi dalam daur rantai makanan.

Lambang negara kita berbentuk Garuda Pancasila, kepalanya menoleh ke sebelah kanan dengan perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher serta kaki yang mencengkeram erat sebuah pita bertuliskan sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

Garuda Pancasila memiliki sayap yang masing-masing berbulu 17 helai, ekor berbulu 8 helai, pangkal ekor berbulu 19 helai dan leher berbulu 45 helai yang merupakan penanda dari hari kemerdekaan kita yaitu 17 Agustus 1945.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36 A menyatakan bahwa ‘Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika’.

Sumber Inspirasi
Pada era Raja Dharmawangsa Teguh (991-1016) telah digubah beberapa bagian daripada kitab Mahabarata diantaranya adalah Adiparwa, Wirataparwa dan Bhismaparwa. Cerita Garudeya yang menokohkan sang Garuda terdapat dalam kitab Adiparwa.

Kisah heroik pembebasan Ibunda sang Garuda dari belenggu perbudakan sebangun dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan Ibu Pertiwi dari belenggu perbudakan.

Dalam kisah mitologi Garuda merupakan wahana dari Dewa Wisnu, sinar Garuda sangat terang sehingga banyak yang mengiranya sebagai Dewa Agni penguasa api. Garuda dimaknai sebagai sang pembebas serta simbol spirit perjuangan yang tak kunjung padam.

Bentuk relief Garudeya di Candi Kidal memiliki banyak kemiripan dengan Garuda Pancasila. Berikut ini adalah beberapa kemiripan tersebut. Paruh sama-sama besar kuat, tajam dan terbuka. Lidah sama-sama melengkung ke atas.

Sama-sama memakai kalung, Garudeya berkalung ulur sedangkan Garuda Pancasila berkalung rantai dengan mata rantai berbentuk kotak dan bulat.

Sama-sama memakai hiasan di dada, Garudeya memakai selempang sedangkan Garuda Pancasila memakai perisai berbentuk jantung. Sama-sama memiliki cakar yang kuat dan besar. Memiliki bentuk sayap yang sangat mirip sekali. Arah muka sama-sama menengok lurus ke kanan.

Sama-sama membawa kain panjang, Garudeya mencengkeram kain selendang sebagai pengikat guci tirta amerta sedangkan Garuda Pancasila mencengkeram pita selendang bertuliskan sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

Urutan arah membaca simbol dalam jantung perisai lambang negara sama dengan arah membaca relief Garudeya yaitu dengan cara prasawya.

Jejak Lambang Negara
Dari waktu ke waktu, burung Garuda seudah dipakai sebagai lambang negara (kerajaan). Era Mataram Kuno, pada masa Dharmawangsa Teguh Garudhamukha dijadikan sebagai cap stempel resmi negara.

Raja Kahuripan, Prabu Airlangga menjadikan Garudhamukha sebagai lambang negara. Airlangga digambarkan sebagai Wisnu yang mengendarai Garuda.

Jaman kerajaan Singhasari, relief Garudeya dipahatkan khusus pada candi resmi negara. Kidal termasuk dalam golongan tempat pendharmaan para raja (dharmahaji).

Raden Wijaya dan penerusnya di Kerajaan Majaphit menggunakan warna merah putih sebagai bendera nasional, dimana merah putih adalah warna kebesaran burung Garuda secara mitologis. Dan lambang Ngayogjakarta Hadiningrat / keraton Jogja menggunakan sayap Garuda.

Pada sketsa rancangan awal Panitia Lencana Negara gambar Garuda sangat mirip dengan relief Garuda di Candi Kidal. Yaitu sama-sama berambut ikal ngore gimbal, sama-sama berdiri di atas padma (bunga teratai), sama-sama menghadap ke kanan, sama-sama memiliki bahu, sama sama memiliki tangan, sama-sama memiliki sayap yang mirip sekali dengan penggambaran Garudeya di Candi Kidal.

Dari berbagai keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa relief Garudeya di Candi Kidal merupakan sumber inspirasi lahirnya Lambang Negara Garuda Pancasila.

Lambang Negara kita tidak menjiplak lambang dari negara lain, melainkan berasal dari akar jatidiri bangsa pada masa kerajaan Singhasari.

Pusparagam dalam kesatuan yang terdapat pada Candi Kidal juga menjadi sumber inspirasi adanya sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Candi Kidal adalah mahakarya terbaik Singhasari untuk bangsa Indonesia. (ist/*)


* Disampaikan pada acara Seminar Literasi Singhasari II dengan tema “Kontribusi Konsepsi Kebhinnekaan dan Kesatuan Nusantara Kerajaan Singhasari bagi Konstruksi Negara dan Bangsa Indonesia” yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Malang pada 13 Desember 2017 di Hotel Grage Singosari – Malang, oleh : Cokro Wibowo Sumarsono.

Calender Of Event Sumenep 2018 Diluncurkan di Jakarta

foto
Launching “Visit And Calender Of Event Sumenep 2018: Intresting and Healthy” di Jakarta. Foto: Istimewa.

Sebagai daerah yang punya potensi wisata yang besar, Kabupaten Sumenep di Pulau Madura Jatim memang kini terus menggenjot sektor pariwisata sebagai sektor unggulan pendulang devisa bagi daerah. Kabupaten Sumenep kini mulai memikirkan cara untuk terus memperkenalkan potensi pariwisatanya.

Salah satunya dengan meluncurkan kalender event pariwisata di tahun 2018 mendatang yang diberi nama “Visit and Calender Of Event Sumenep 2018: Intresting and Healthy”. Launching dilakukan di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Jakarta, awal Desember 2017 lalu.

Bupati Sumenep Busro Karim seperti dilaporkan BeritaSatu.com berharap event ini akan mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisawatan ke Sumenep yang dinilai punya potensi besar dalam destinasi pariwisatanya.

“Sumenep sebagai daerah yang berada di ujung timur pulau Madura memiliki banyak destinasi menarik yang patut dikunjungi. Melalui 39 event yang akan kita selenggarakan selama tahun 2018 mendatang diharapkan Sumenep bisa dikenal luas sebagai daerah tujuan wisata yang menarik,” ujar Busro Karim usai peluncuran acara.

Nantinya akan ada event festival budaya, religi, sejarah, olahraga, serta festival kesehatan. Sumenep merupakan satu-satunya daerah di Indonesia yang mengenalkan destinasi kesehatan dimana Pulau Gili Iyang memiliki kadar oksigen tertinggi kedua di dunia setelah Yordania.

“Ini bisa dibuktikan dengan masih banyaknya orang yang tinggal disana memiliki umur yang panjang bahkan ada yang sampai umur 150 tahun tapi masih sehat dan sanggup bekerja,” ungkap bupati.

Dia berharapan wisatawan akan dapat mengunjungi Sumenep diwaktu-waktu penyelenggarakan event tersebut. Di samping itu, keramahtamahan dan kesiapan masyarakat menyambut wisatawan pun diharapkan membuat wisatawan betah menjelajah Sumenep.

“Kita di Sumenep itu berusaha merubah imej jelek tentang suku Madura. Karena disadari atau tidak imej negatif tentang suku Madura itu memang menjadi kendala berkembangnya pariwisata di sana. Oleh sebab itu, Sumenep berusaha merubah imej itu dengan keramahtamahan masyarakatnya, dengan keasrian budayanya dan juga keindahan alamnya,” jelasnya.

Selain akan ada Festival Karapan sapi Tradiosional, event besar yang akan diselenggarakan di Sumenep akan juga ada festival budaya dan keraton Sumenep yang hingga kini masih dilestarikan. (ist)

Teater Tradisional asal Madiun di Anjungan TMII

foto
Teater Tradisional asal Madiun di Anjungan Jawa Timur TMII. Foto: istimewa.

Cerita “Sultan Madiun Susuhunan Prabu Ing Alogo” dipilih Mas Mamik Wae, pimpinan teater Kota Madiun, dalam pagelaran seni dareah. Pagelaran tahunan ini, diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pekan lalu.

Pagelaran seni daerah ini sebagai ajang silaturohmi antara Pemkot dengan pegiat seni, budaya. “Selain itu, juga sebagai momen untuk berdiskusi,” kata Walikota Madiun H Sugeng Rismiyanto, saat memberikan sambutan sebelum kegiatan dimulai.

Sugeng seperti dikutip BeritaLima.com menuturkan, dengan mendaftar patenkan seni budaya asli dari Kota Madiun, generasi berikutnya dapat menikmati budaya asli Kota Madiun. Menjadi tugas Disbudparpora untuk mendaftarkan seni budaya ataupun lainnya menjadi hak milik mutlak Kota Madiun. “Saya tugaskan dinas kebudayaan untuk mematenkan,” tegasnya.

Sugeng mengajak Paguma (Paguyuban Madiun) yang ada di Jakarta untuk ikut mengembangkan pariwisata di Kota Madiun. “Mari terus menciptakan produk-produk kesenian budaya seperti teater yang ditampilkan tadi,” ajaknya kepada Paguma yang turut diundang dalam acara ini.

Tidak hanya Sultan Madiun, Pemkot Madiun terus mencari sosok yang bisa untuk memberikan inspirasi kepahlawanan bagi masyarakat Kota Madiun. “Pemkot telah bekerjasama dengan UGM untuk terus mengkaji pahlawan-pahlawan dari Kota Madiun,” tuturnya.

Agus Purwowidagdo, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olah Raga Kota Madiun, menceritakan tema teater tradisional ini menampilkan sejarah berdirinya Madiun. Dimana sudah sejak dulu Kota Madiun menjadi sentral politik dan setral kepahlawanan. Agus memberi contoh sosok pahlawan Madiun diantaranya Ronggo Prawirodirjo dan Sentot. (ist)

“Bandar Warisan Majapahit” di HoS Sampoerna

foto
Pengumuman kegiatan seni dan buadaya di House of Sampoerna, Surabaya. Foto: istimewa.

Pada abad 13 hingga 16, wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit di Nusantara berkembang meliputi Sumatera Utara hingga Maluku. Dengan armada laut yang kuat wilayah perniagaannya pun tidak terbatas di Nusantara saja, melainkan juga merambah hingga menuju Samudera Hindia.

Dominasi perdagangan Kerajaan Majapahit diberbagai daerah yang awalnya berada dikekuasaan Kerajaan Sriwijaya, berhasil menempatkan Kerajaan Majapahit sebagai pusat perdagangan baru.

Sejalan dengan perkembangan perdagangan antar Nusantara ini, lahir dan tumbuh beberapa bandar seperti Bandar Kambang Putih (di kota Tuban), dan Bandar Hujung Galuh (Surabaya).

Dalam upaya memperkenalkan kembali kejayaan kota bandar pada masa kerajaan Majapahit, House of Sampoerna (HoS) menggelar rangkaian program dengan tema “Bandar Warisan Majapahit” yang digelar sejak 5 Desember 2017 hingga 7 Januari 2018 mendatang.

Bandar Kambang Putih
Sebagai pusat perdagangan, Kambang Putih atau saat ini dikenal sebagai Kota Tuban, memiliki peranan penting bagi Kerajaan Majapahit yakni sebagai pusat pengumpulan komoditas dari sejumlah daerah di wilayah Nusantara, maupun komoditas yang dibawa masuk oleh pedagang asing.

Komoditas Nusantara yang menjadi daya tarik utama pedagang asing antara lain adalah pala, cengkeh, kayu manis dan lada.

Rempah-rempah yang berasal dari Nusantara bagian Timur ini masuk ke Kerajaan Majapahit dilakukan dengan cara tukar menukar dengan beras dan garam yang merupakan komoditas utama Jawa Timur.

Para pedagang asing ini mendapatkan rempahrempah dengan menukarnya dengan guci, mangkuk, dan piring keramik, kain sari dan dupa yang mereka bawa. Tidak hanya dengan tukar menukar, pedagang dari Cina telah menggunakan mata uang berupa uang Kepeng dalam proses jual beli.

Ramainya pertumbuhan perdagangan juga menumbuhkan masuknya berbagai budaya asing ke Nusantara, berbaur dengan budaya lokal. Interaksi yang terjadi antara masyarakat lokal dengan pedagang asing berdampak pada pembauran kedua budaya dalam kehidupan keseharian masyarakat.

Hal ini bisa ditemui pada motif Lokcan atau burung Hong dari Cina yang terdapat pada batik tenun Gedhog Tuban, maupun pada bentuk Kendi Susu Majapahit yang terinspirasi dari keramik yang dibawa pedagang Cina.

Sedangkan batu nisan dengan menggunakan huruf Arab yang banyak ditemukan di Tuban berasal dari pengaruh budaya Islam yang dibawa pedagang Gujarat India.

Dalam penyelenggaraan pameran museum ini HoS bekerjasama dengan UPTD Museum & Purbakala (Museum Kambang Putih) menghadirkan kurang lebih sekitar 15 koleksi yang diharapkan dapat memberikan gambaran akan kejayaan kota bandar Kambang Putih pada masa Kerajaan Majapahit atau yang saat ini dikenal dengan Kota Tuban.

Bandar di Timur Jawa
Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, kondisi Kota Surabaya yang berperan sebagai jalur perdagangan sangat ramai hingga dijuluki sebagai “Kerajaan Niaga”. Sungai kalimas merupakan sebuah berkah yang menjadikan kota Surabaya berkembang pesat.

Hal ini dirasakan hingga masa pemerintahan kolonial Belanda. Untuk lebih mengenal peran Surabaya sebagai kota bandar serta gerbang utama Kerajaan Majapahit dan collecting center dimasa kolonial Belanda, House of Sampoerna mengajak masyarakat untuk mengenal sejarah bandar dan perkebunan di Surabaya.

Serta mengeksplorasi berbagai lokasi melalui program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) ’Bandar di Timur Jawa’ yang diadakan setiap hari Selasa – Kamis.

Pada tematik tur ini, trackers akan diajak mengunjungi kawasan Kalimas Barat yang menjadi saksi kejayaan Kota Surabaya sebagai kota bandar Kerajaan Majapahit hingga terbentuknya Kota Surabaya sebagai Collecting Center di masa pemerintahan kolonial Belanda.

Fungsi Kota Surabaya sebagai pusat pengumpulan hasil bumi dan komoditas dari berbagai daerah, membuat Surabaya dipenuhi dengan berbagai macam kantor perkebunan, bandar, pabrik, gudang, sarana transportasi baik darat maupun laut.

Selain itu di kawasan Kalimas Barat trackers dapat pula melihat gudang penyimpanan milik Borsumij (Borneo Sumatra Maatschapij), dan Jembatan Petekan yang membantu masuknya kapal – kapal ke Surabaya.

Perjalanan trackers berlanjut ke kantor PTPN XI yang merupakan salah satu kantor perkebunan terbesar di masa kolonial Belanda yang dikenal dengan nama Handels Vereeniging Amsterdam (HVA). HVA mengurusi segala komoditi perkebunan dari berbagai macam daerah yang diterima di Surabaya. (ita)