Karya seni rupa kreasi murid Santa Clara dipamerkan di Taman Budaya Jatim. Foto: Surya/Achmad Pramudito.
Sebanyak 300an karya seni rupa kreasi murid Sekolah Katolik Santa Clara Surabaya dipamerkan di Galer Prabangkara Taman Budaya Jatim, Kamis (7/12) hingga 16 Desember 2017.
Anak-anak ini masih usia TK, SD, dan SMP. Bahkan ada pula yang playgroup. Tetapi, mereka sudah menghasilkan beragam karya seni yang patut diapresiasi.
Dan untuk pertama kalinya, apresiasi itu digeber Sekolah Katolik Santa Clara Surabaya lewat pemeran seni rupa bertajuk Sanclar Cinta Budaya Bangsa. Sedikitnya 300 karya dari 260 murid dipajang di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur 7-16 Desember 2017.
Selain karya lukis, Sanclar Cinta Budaya Bangsa ini juga memamerkan kreasi berupa topeng, dan baju dari bahan daur ulang. Yang tak kalah menarik, diantara karya lukis yang dipajang adalah lukisan kaca hasil goresan murid tingkat SMP.
“Saya kerjakan di saat luang pulang sekolah. Itu pun nggak setiap hari. Kalau pas ada ulangan atau ada tugas ya berhenti dilanjutkan nanti kalau sudah selesai ulangan atau selesai mengerjakan tugasnya,” kata Ellyana Handoko saat ditemui Surya.
Murid kelas 8A SMP Santa Clara Surabaya ini mengaku biasa melukis di atas kanvas memakai acrylic. Namun, khusus untuk pameran ini dia mencoba kemampuannya melukis di atas kaca.
“Belum puas. Masih harus belajar lebih keras lagi agar hasilnya bisa lebih bagus,” ujar Ellyana mengenai karya yang dia beri judul ‘Barong’ itu.
Ellyana beruntung, sebab Kamis (7/12) petang, di area gazebo Taman Budaya Jatim itu digelar workshop melukis kaca. Kusdono, pelukis kaca dari Cirebon didatangkan langsung untuk membagikan teknik melukis kaca yang benar.
“Bagi pemula, sebaiknya menggambar di kertas kalkir lebih dulu sebelum mengaplikasikannya ke atas kaca,” ungkap Kusdono sebelum acara workshop.
Sketsa di atas kertas kalkir itu kemudian diletakkan di bawah kaca. “Selanjutnya meng-copy sketsa itu pakai drawing pen di atas kaca sebelum ke proses pewarnaan,” paparnya.
M Hoiri Hidayat, Ketua Pelaksana ‘Sanclar Cinta Budaya Bangsa’, sebagai wadah bagi para siswa yang punya bakat di bidang seni. “Kami melihat banyak murid yang punya potensi, dan ini harus diberi kesempatan untuk memamerkan karyanya sehingga bisa diapresiasi masyarakat luas,” cetusnya kepada Surya.
Pria yang akrab disapa dengan nama Heri ini menekankan, kesempatan yang diberikan pada siswa ini sebagai upaya penyaluran bakat yang dimiliki oleh murid sehingga tidak terpaku pada bidang akademik. “Kegiatan kesenian ini kan untuk penyeimbang otak kiri dan kanan. Agar tidak gampang stres,” ucapnya.
Menurut Heri, perlu waktu lima bulan untuk pameran karya seni rupa tersebut. Murid yang punya bakat diminta mengumpulkan karya terbarunya. “Tak ada paksaan untuk ikut acara ini. Hanya yang menyerahkan karyanya yang kami libatkan dalam pameran kali ini,” urainya.
Pameran seni rupa ini juga dimeriahkan atraksi marching band, pentas Tari Orek-Orek Jawa Tengah, Modern Dance Etnik Nusantara, serta parade busana daur ulang bertema ‘Pesona Indonesia’. Selain itu, juga digelar workshop Melukis Kaca yang dipandu Kusdono dari Cirebon. (pra)
Melukis massal di Pantai Kutang. Foto: Detikcom/Eko Sudjarwo.
Alam memang memberi banyak inspirasi, tak terkecuali bagi para pelukis. Pantai Kutang dan Pohon Trinil atau Taman ‘Harry Potter’ Lamongan, rupanya mampu mengekspresikan keindahan alam 100 pelukis asal Jawa Timur.
Menyebar di hampir seluruh penjuru pantai, para pelukis ini mengekspresikan keindahan Pantai Kutang melalui kanvasnya. Hal yang sama juga dilakukan pelukis saat di Taman ‘Harry Potter’.
Ketua Umum Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati), Muit Arsa mengatakan kegiatan melukis massal yang bertajuk On The Spot Exhibition ‘@RTVENTURE#7’ Jelajah Jatim ini sebagai bentuk kepedulian terhadap seni rupa dan memfasilitasi para pencinta seni lukis dan budaya di Jawa Timur.
“Agenda kita lebih mempromosikan wisata budaya Jawa Timur ke kancah yang lebih luas,” kata Muit kepada Detikcom di sela melukis, Senin (11/12).
Muit mengaku, ratusan pelukis ini datang dari berbagai kota di Jawa Timur dan melukis massal di Pantai Kutang, Desa Labuhan dan Pohon Trinil atau Taman Harry Potter di Dusun Widhe, Desa Sendangharjo, Kecamatan Brondong.
“Lamongan merupakan tempat ke-7 yang telah dijamah oleh Koperjati pada kegiatan melukis massal setelah di 6 tempat lainnya di Jawa Timur,” aku Muit yang mengaku sengaja memilih lokasi wisata sebagai bagian dari promosi wisata ke masyarakat luas.
Muit menuturkan, sengaja memilih Pantai Kutang dan Taman Harry Potter sebagai lokasi melukis massal karena memiliki keindahan dan keunikan tersendiri. “Dua lokasi ini sangat unik dan menarik. Apalagi ini lokasi wisata baru, yang juga kita promosikan melalui bidang seni rupa,” jelasnya.
Dari catatan panitia, ratusan seniman yang ikut melukis berasal dari Kabupaten Tuban, Bondowoso, Batu, Kediri, Jombang, Surabaya dan Probolinggo dan daerah lainnya.
“Ada 120 dari berbagai kota di Jawa Timur yang tergabung, namun karena kesibukan teman-teman juga ada yang tidak datang, ada juga yang tidak daftar tapi ikut datang, yang datang sekitar 40-an,” ucapnya.
Bahkan, lanjut Muit, selain seniman dewasa, tampak pula puluhan pelajar ikut menorehkan tinta cairnya di atas kanvas putih di bibir pantai. “Agenda ini juga diikuti para pelajar dari SMKN Kabuh, Jombang,” ujarnya. (sak)
Gathering BFI Finance di Hotel Swiss Bell Airport Sidoarjo. Foto: Istimewa.
Sebagai perusahaan yang senantiasa berkomitmen untuk berkontribusi terhadap perkembangan usaha yang dimiliki oleh nasabah dan mitra bisnis, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) kembali menyelenggarakan acara Customer Gathering.
Melalui tema ‘We are Big Family with Millions Opportunity’, BFI Finance ingin terus memberikan informasi bahwa nasabah tidak hanya menjadi pengguna produk yang harus melakukan pembayaran angsuran, tetapi juga memiliki peluang bisnis dan berkesempatan mendapatkan berbagai fasilitas yang disediakan BFI Finance untuk nasabahnya.
Acara yang digelar di Hotel Swiss Bellin Airport Sidoarjo, Jawa Timur, ini dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai kalangan seperti pengusaha, pegawai dan profesional.
Acara yang dikemas dengan interaksi aktif dari BFI Finance dan nasabah ini tidak hanya memberikan informasi terkait profil dan produk Perusahaan, namun juga membimbing para nasabah untuk bagaimana mereka dapat memanfaatkan peluang usaha yang diberikan oleh BFI Finance.
“Customer Gathering yang digelar kali ini merupakan salah satu wadah yang disediakan BFI Finance untuk menjalin hubungan yang erat kepada semua nasabah dan mitra bisnis. Melalui kesempatan ini juga kami ingin terus menginformasikan kepada para nasabah tentang tips dan sharing motivasi untuk dapat memanfaatkan berbagai macam peluang bisnis yang ditawarkan BFI Finance,” jelas Area Manager 7B (Area Sidoarjo 2), Nana Indrayana.
Melalui terselenggaranya acara ini, Perusahaan juga mengharapkan agar hubungan dengan para nasabah dan mitra bisnis dapat terus terjalin dengan erat dan baik, serta bermanfaat sebagai sarana untuk meningkatkan skala bisnis melalui sinergi yang baik untuk terciptanya peluang bisnis baru antara nasabah, mitra bisnis dan kalangan pengusaha UMKM BFI Finance, tambah Nana Indrayana.
Hal ini sejalan dengan visi BFI Finance yakni menjadi mitra solusi keuangan yang terpercaya dengan turut berkontribusi terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat serta lingkungan.
Tidak hanya melalui acara kebersamaan dengan nasabahnya, BFI Finance juga terus meningkatkan kontribusi perusahaan untuk masyarakat melalui berbagai kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) seperti penanaman bibit mangrove di Tangerang, Undian Berhadiah Milyaran (UBER Milyaran), serta BFI RUN yang akan diselenggarakan pada April 2018.
BFI Finance berkomitmen akan selalu berusaha menjadi yang terdepan untuk menghadirkan solusi keuangan dan memberikan apresiasi atas kesetiaan nasabah dan mitra bisnisnya.
Hingga akhir September 2017, BFI Finance secara nasional telah menyalurkan pembiayaan baru senilai Rp 10,25 triliun atau tumbuh 34% dibandingkan periode yang sama di 2016. Laba bersih tumbuh 52% mencapai Rp 842 miliar, dan piutang bersih meningkat 33% menjadi Rp 14,4 triliun dibandingkan periode yang sama di 2016.
BFI Finance memiliki jaringan operasional luas berjumlah 321 outlet yang terdiri dari 211 kantor cabang dan 110 gerai, tersebar di 33 dari 34 provinsi seluruh Indonesia. (ita)
Batik koleksi galeri Sayu Wiwid di Banyuwangi. Foto: Kontan.co.id.
Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia. Perajinnya pun sudah tersebar di banyak wilayah, terutama di wilayah Pulau Jawa. Uniknya, setiap lokasi mempunyai motif berbeda-beda sesuai dengan adatnya.
Di Banyuwangi, Jawa Timur misalnya. Batiknya memakai motif flora dan fauna, gajah oleng, uler buntung, sekar jagad, kangkung setingkes, dan lainnya. Kelirnya khas, yakni menggunakan warna menyala seperti merah, hijau dan lainnya.
Kampung Temenggungan yang berada tak jauh dari pusat kota Banyuwangi ini dikenal sebagai pusat produksi batik. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun transportasi umum untuk menuju Temenggungan. Dari bandara Blimbingsari. lokasi itu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dengan kendaraan pribadi.
Saat KONTAN menyambangi Temenggungan pada September lalu, terlihat deretan bangunan rumah tua yang menjadi penanda keberadaan pusat batik itu. Pemukiman ini merupakan kampung pertama yang dibangun, saat pemindahan pusat pemerintahan Kadipaten Blambangan dari Ulupampang ke hutan Tirtaganda (saat ini menjadi wilayah Kota Banyuwangi), pada era Bupati Mas Alit, tahun 1774.
Sampai sekarang, rumah-rumah kuno peninggalan jaman penjajagan serta kediaman Bupati ke-5 Raden Temenggung Pringgokusumo masih kokoh berdiri. Alhasil, selain menjumpai perajin batik, para pengunjung juga dapat menikmati suasana atau sekedar jeprat-jepret mengabadikan diri dengan latar bangunan bersejarah.
Meski dikenal sebagai pusat produksi, tak terlihat suasana sibuk para perajin. Lantaran, pembuatan batik dikerjakan didalam atau dihalaman belakang rumah.
Perajin batik Temenggungaan didominasi oleh orang-orang dewasa dan tua. Ada lebih dari 10 perajin batik. Kebanyakan mereka yang bertahan saat ini adalah para generasi kedua.
Kulsum, pembatik senior di pusat batik itu menceritakan, bila tempatnya sudah dikenal sebagai sentra batik sejak jaman penjajahan Jepang. Dia sendiri, sudah menjalani profesi tersebut sejak kelas lima Sekolah Dasar.
“Dulu, duduk di kelas lima sudah dianggap besar, saya diminta berhenti sekolah untuk membatik. Orang tua dan seluruh saudara saya juga pembatik,” katanya.
Meski kini usianya sudah lanjut, perempuan yang lebih akrab disapa Mak Kulsum ini tetap setia menggambar kain lembaran kain putih dengan malam. Dalam sehari dia bisa menyelesaikan satu lembar penuh kain batik.
Untuk desainnya, dia hanya membuat motif kuno seperti uler buntung, sekar jagad, dan lainnya. Seakan tak kenal lelah, dia melakukan semua tahapan dari desain hingga pewarnaan seorang diri.
Pembatik lainnya adalah Fonny Meilyasari pemilik galeri batik Sayu Wiwid. Usaha batik ini dia dapatkan dari almarhum ayahnya. Sejak tahun 2010 dia resmi menjalankan bisnis tersebut.
Berbeda dengan sebelumnya, dia tidak hanya membuat batik tulis tapi juga batik cap, serta batik kombinasi cap dan tulis dengan motif kontemporer. Dia mengaku melakukan pengembangan motif untuk mengundang minat pasar dan memperkaya koleksinya.
Membatik telah menjadi salah satu pencaharian bagi sebagian warga Kampung Temenggungan, Banyuwangi. Kebanyakan yang menekuni pekerjaan ini adalah kaum perempuan. Maklum, menggoreskan canting berisi malam diatas kain memang membutuhkan kesabaran.
Fonny Meilyasari, pemilik batik Sayu Wiwid mengatakan, membatik butuh mood yang baik. Makanya, dia hanya memberlakukan jam kerja mulai pukul 08.00-13.00 WIB. Alasannya, agar para perajin tidak lelah, hingga hasil akhir tidak sempurna.
Seringkali, bagi perajin yang mau, bisa meneruskan pekerjaannya dirumah, sembari menjaga anaknya. Saat ini, Onny, panggilan Fonny mempekerjakan 20 orang untuk membantunya ditahap produksi.
Saban bulan, Onny bisa memproduksi 100-150 lembar kain batik baik, tulis, cap, dan campuran. Seluruh hasilnya, dipasarkan sendiri melalui butiknya yang berada tidak jauh dari tempat produksi.
Sebagian besar batiknya diborong oleh warga lokal. Selain itu, banyak pula pelancong yang menentengnya sebagai oleh-oleh saat berkunjung ke Banyuwangi. Tidak hanya itu, dia juga sering mendapatkan pesanan dari instansi pemerintah dan swasta setempat.
Onny membanderol kain batiknya mulai dari Rp 80.000-Rp 1,5 juta per lembar. Dalam sebulan, dia bisa menjual lebih dari 100 lembar kain batik.
Momen hari besar seperti, hari raya Idul Fitri, menjadi waktu panen para pembatik. Pasalnya, jumlah permintaan pun bakal meningkat sekitar 30% dari biasanya.
“Kebanyakan membeli sebagai oleh-oleh atau menjadi pelangkap bingkisan bagi karyawan,” kata Onny kepada KONTAN, Rabu (15/11). Untuk menjaga persediaan tetap aman pada momen tersebut, dia mengatakan tidak menghentikan proses produksi.
Bahan baku yang dibutuhkan untuk produksi batik, Onny pasok dari wilayah Solo, Jawa Tengah dan Malang, Jawa Timur. Tak langsung datang ke sana, Onny cukup bertransaksi melalui sambungan telepon. Dia sudah punya langganan pemasok bahan baku.
Dia mengaku tidak pernah ada masalah dengan belanja bahan baku. Karena, kepercayaan dengan penjual bahan baku sudah terjalin sejak almarhum ayahnya menjalankan usaha batik ini. Usaha yang dijalankan Onny memang warisan dari sang ayah.
Berbeda dengan Onny, Kulsum, perajin batik lainnya belanja bahan baku dari toko-toko yang ada disekitar Kota Banyuwangi. Bila sedang tidak sibuk, dia memilih untuk berbelanja sendiri. Tidak jarang pula dia meminta sang cucu untuk berbelanja bila sedang sibuk membatik.
Dalam sebulan, perempuan yang nampak anggun dengan rambut putihnya ini bisa menghabiskan sekitar 5 kilogram (kg) malam. Total produksinya mencapai 30 lembar batik tulis per bulan.
Sekedar info, perempuan yang lebih akrab disapa Mak Kulsum ini membatik tanpa menggambar desain terlebih dahulu. Canting pun digoreskan langsung diatas kain putih polos. Dia mengaku tak lagi menggambar menggunakan pensil karena sudah hafal dengan motif, sehingga proses menjadi lebih cepat.
Untuk harganya dipatok Rp 300.000 per lembar. Selain melayani pembelian ritel, dia juga banyak mendapatkan pesanan dari pemasok batik yang berasal dari Banyuwangi atau luar kota seperti Jakarta.
Selain sabar dan telaten, membatik juga butuh ketrampilan dalam menggambar aneka motif. Pembatik pun harus terus berlatih supaya tangan bisa luwes menggambar pola motif dalam secarik kain.
Namun, lantaran ketrampilan inilah, banyak anak muda di Kampung Temenggungan, enggan menjadi pembatik. Selain rumit, mereka menganggap bayarannya kurang menarik.
Kondisi ini banyak dikeluhkan oleh perajin. Fonny Meilyasari, pemilik galeri Sayu Wiwid pun mengalami kesulitan mengajak anak muda bergabung dengannya. Padahal, dia sudah menyediakan ruang belajar secara cuma-cuma untuk mereka.
Kendala lainnya yang kerap dia temui adalah tak stabilnya harga bahan baku. Perempuan yang lebih akrab disapa Onny ini kepada KONTAN mengaku meski tak pernah terjadi kekosongan barang, namun adakalanya harga melonjak naik tanpa ada penyebab pasti.
Onny pun terpaksa memangkas margin, lantaran biaya produksi meningkat. Dia memang tak mau mengerek harga jual supaya konsumen tak kecewa.
Untuk mendukung penjualan tetap tinggi, dia mulai menggunakan media sosial untuk mempromosikan produknya. Selain itu, Onny juga rajin mengikuti pameran agar lebih dekat dengan konsumen.
Meski makin banyak bermunculan penjual batik, dia tidak khawatir. “Memang ada yang harga jualnya lebih murah, tapi tidak membuat sampai perang harga,” tegasnya.
Supaya pelanggan tetap bertahan, Onny rajin meluncurkan desain baru. Selain membuat batik dengan motif pakem Banyuwangi, Onny juga memproduksi batik kontemporer.
Idenya pun banyak terinpirasi dari batik-batik asal daerah lainnya seperti Solo, Yogyakarta dan lainnya. Selain itu, dia selalu mengikuti tren fesyen melalui media digital.
Kulsum, perajin batik lainnya, justru tak menemui kendala dalam tahap produksi. Karena, pekerjaan ini sudah dilakukannya sejak puluhan tahun lalu.
Hanya, dia mengeluhkan para generasi muda yang tidak mau membatik. “Daripada menganggur di rumah, kan lebih baik membatik. Tapi, mereka bilang menbatik itu capek dan sulit,” tuturnya.
Kulsum pun tak terlalu risai dengan persaingan yang terjadi dipasaran saat ini. Dia mengaku hanya memberikan harga murah kepada supplier agar seluruh hasil karyanya cepat terserap pasar.
Lainnya, seluruh pembatik disana masih menggunakan pewarnaan sistetis untuk membuat kainnya tampak menarik. Agar tidak mencemari lingkungan, Onny mengaku telah membuat tangki pembuangan khusus untuk menampung limbah air pewarnaan.
Di penampungan itu, dia melakukan pemrosesan sehingga air yang dikeluarkan dari tangki ke parit-parit sudah dalam kondisi aman dan berwarna bening. (ktn)
Bangsa Indonesia masih jauh dari pengetahuan masa lalu. Foto: Koran Jakarta/Eko S Putro.
Sejumlah bukti visual kejayaan Kerajaan Majapahit yang berupa foto, replika, bahkan puing pondasi Kerajaan Majapahit. Kerajaan besar pemersatu Nusantara, seperti kehilangan esensi dan masa lalunya.
Untuk itu melalui seminar yang bertema 724 tahun Majapahit, para sejarawan, arkeolog, praktisi cagar budaya, maupun spiritual, berkumpul untuk merumuskan esensi Kerajaan Majapahit.
Studi sejarah maupun arkeologi mengenai bagaimana kita hidup dan mencapai kejayaan di masa lalu, memang sudah banyak dikaji sejarawan, terutama asing. Namun jumlah yang tampaknya banyak itu pun ternyata masih sangat jauh dari yang diperlukan untuk menyusun kembali dan mengambil pelajaran dari masa lalu.
Demikian sedikit yang terungkap dalam Seminar Peringatan 724 Tahun Majapahit yang diselenggarakan Mandala Majapahit di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), pekan lalu.
Forum seminar yang dipandu Djoko Dwianto seperti dilaporkan Koran Jakarta, menghadirkan narasumber Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djojohadikudumo (YAD) Catrini Pratihari Kubontubuh dan dosen Arkeologi FIB UGM J Susetyo Edy Yuwono, pada sesi pertama, serta tiga narasumber di sesi kedua, yaitu Fahmi Prihantoro, Tjahjono Prasodjo, keduanya dosen Departemen Arkeologi FIB UGM, dan mantan Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur M Romli. Forum dihadiri arkeolog, sejarawan, praktisi cagar budaya, maupun spiritualis dari seluruh Indonesia.
Pada sesi pertama, Susetyo Edy Yuwono mengatakan betapa masih sangat terbatasnya penelitian mengenai situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur yang menjadi ibu kota Majapahit yang didirikan pada 1293 atau 724 tahun lalu.
Selama ini, menurut Susetyo, penelitian mengenai Majapahit terutama berfokus hanya pada temuan-temuan gerabah yang sangat susah untuk menjangkau pengetahuan mengenai bagaimana kehidupan di era itu diselenggarakan.
Menurutnya, selama ini kita terjebak pada rutinitas penelitian gerabah dan melupakan pendekatan makro seperti kanal-kanal yang ditemukan sejak 1983 oleh seorang peneliti.
“Kita perlu merancang ulang strategi penelitian arkeologis atas seluruh masa lalu kita. Terutama karena penelitian gerabah sangat terbatas jangkauan penglihatannya dan juga perubahan lanskap Trowulan secara keseluruhan yang menyulitkan untuk merekonstruksi pusat peradaban Majapahit,” katanya.
Pada sesi kedua, M Romli mengungkapkan keprihatinan senada. Saat ia menjabat pada 1988, usaha untuk menyelamatkan batu bata berserakan di Trowulan mulai disusun dan ditandai. Namun, awal 2000-an saat ia kembali ke Trowulan, batu bata kuno peninggalan Majapahit mayoritas sudah hilang dan seluruh situsnya tak tersisa lagi.
“Trowulan ini memang sangat sulit karena peninggalannya memakai batu bata dan sekarang juga sudah padat penduduknya. Perlu usaha sangat besar dari negara untuk melacak semuanya atau minimal mempertahankan sisa-sisa peninggalan yang masih ada,” katanya.
Sementara Catrini mengatakan memang masalah utama Trowulan sebagai cagar budaya adalah kepemilikan lahan pemerintah yang sempit. Dalam studi dan pelestarian cagar budaya, dunia barat berkonsentrasi pada pengembalian situs secara fisik dan visual secara lengkap karena surplus ekonominya memungkinkan. Sementara di negara berkembang dengan dana terbatas, perlu mengembangkan strategi yang lain.
“Misalnya rekonstruksi nilai. Bagaimana dengan seluruh resource yang ada fokus pada rekonstruksi nilai peninggalan peradaban yang jejaknya ada pada manusianya, ekspresi budayanya, atau melihat pola hubungan dengan daerah lain seperti Trowulan-Bali misalnya,” papar Catrini.
Perlindungan Cagar Budaya
Trowulan sebagai cagar budaya baru ditetapkan Pemerintah pada 2013. Maka dari itu regulasi yang mengatur mengenai itu masih sangat terbatas. Catrini mengharapkan regulasi yang mengatur upaya pelestarian benda atau kawasan cagar budaya bisa terus diperbaiki Pemerintah.
Sebab, pemahaman UNESCO mengenai cagar budaya pun juga terus berkembang, dari single objek menjadi kawasan, pemahaman situs dari struktur situs atau usia, dan juga pemahaman signifikansinya di tingkat nasional.
Terkait regulasi yang sudah ada, Undang-Undang (UU) No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, masih banyak bias dalam implementasinya yang disebabkan ketiadaan Peraturan Pemerintah (PP) untuk menjalankan UU tersebut.
Sehingga, selama tujuh tahun terakhir sejak diberlakukannya UU tersebut, implementasinya masih merujuk pada PP No. 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang diturunkan dari UU sebelumnya, yaitu UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
“Penelitian menjadi terhambat karena tidak ada PP baru. Jadi, selama tujuh tahun komunitas, masyarakat, dan akademisi selalu mengingatkan. Tapi, pemerintah mungkin banyak PR lain, misalnya dengan kelahiran UU Pemajuan Kebudayaan. Itu masalah pertimbangan atau prioritas di pemerintah, makanya kita musti terus ingatkan bahwa ini juga penting,” pungkas Catrini.
Kajian Konsep Nilai
Dalam sesi kedua, Tjahjono Prasodjo menawarkan pendekatan Perspektif Transregional untuk membaca Majapahit. Kajian transregional akan membantu misalnya bagaimana melihat ekspresi kekuasaan Majapahit maupun pola hubungan dengan kawasan.
Sebab, penguasaan Majapahit atas seluruh wilayah Nusantara seperti yang kita yakini selama ini sebenarnya sampai saat ini belum diketahui benar bagaimana pola kekuasaannya dibentuk.
Tjahjono mengatakan awal abad 10 hingga pertengahan abad 13 terjadi booming perdagangan di wilayah Samudra Indonesia dan Laut China Selatan dengan jalur perdagangan utama menghubungkan India – Asia Tenggara – Tiongkok.
Pelacakan Majapahit bisa didorong melalui kajian-kajian kerajaan di sekitar era itu di seluruh kawasan sehingga banyak bahan yang bisa dilalui untuk mendekati kenyataan Majapahit.
“Seberapa jauh pendekatan ini dapat dilakukan tentu bisa didiskusikan atau diuji dalam praktik penelitian. Yang jelas kita tidak bisa lagi terus menerus fokus penelitian pada situs dan artefak, karena Majapahit ini situs dan artefaknya memakai batu bata dan sudah sangat sulit untuk membayangkan Trowulan saat ini, dulu pernah menjadi ibu kota kerajaan terbesar di Asia Tenggara,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang peserta seminar Arkeolog UGM, Profesor Timbul Haryono mengatakan pentingnya mengkaji konsep- konsep nilai atau ideologis melalui naskah-naskah sastra di era Majapahit. Karena menurutnya, penelitian selama ini hanya membatasi pada tindakan dan hasil tindakan seperti gerabah, kanal, maupun hal-hal lainnya.
“Padahal itu kan ekspresi saja dari konsep atau ideologi yang menjadi dasar dari seluruh tindakannya kemudian. Konsep Dewa Raja misalnya, konsep Mandala, itu semua juga belum banyak dikaji,” katanya.
Baik pembicara maupun peserta, diantara banyak perbedaan pandangan dan skala prioritas sama-sama menyepakati bahwa ada kebutuhan makin penting untuk memahami masa lalu kita.
Sebab, dunia modern yang salah satunya ditandai rusaknya alam dan kekayaan dunia yang dimiliki, hanya sebagai kecil populasi memerlukan masa lalu umat manusia sebagai tempat berkaca. Adakah peradaban hari ini telah melaju ke jalan yang semestinya? (ist)
Pertunjukan kesenian bersama pererat persahabatan Indonesia-Tiongkok. Foto: Kemdikbud.go.id.
Suasana Ciputra Artpreneur, Ciputra World I mendadak ramai. Pasalnya, akhir pekan lalu diadakan Pertunjukkan Kesenian Persahabatan Indonesia – Tiongkok yang menampilkan ragam kesenian dari masing-masing negara.
Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Perdana Menteri Tiongkok Madame Liu Yandong, Wakil Menteri Kebudayaan Tiongkok Dong Wei, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid dan Sesmenko PMK Mr YB Satyasananugraha.
Dalam sambutannya, Dong Wei mengatakan bahwa kegiatan Pertunjukkan Kesenian Persahabatan Indonesia – Tiongkok ini merupakan langkah lanjutan dari kerjasama yang sudah dijalin sebelumnya.
“Acara hari ini merupakan salah satu langkah untuk semakin mempererat kerjasama antar negara Indonesia – Tiongkok, khususnya di bidang kebudayaan. Semoga ke depan, tali persaudaraan diantara kedua negara dapat semakin baik,” ujar Dong Wei.
Pada kesempatan yang sama, Hilmar Farid turut mengapresiasi kegiatan diplomasi kesenian ini. “Kegiataan ini merupakan ajang bagi para seniman di kedua belah pihak untuk saling bertukar kebudayaan. Juga membuka kesempatan residensi seniman untuk saling bertukar dan mempelajari seni budaya,” ucap Hilmar Farid.
Lebih lanjut, Beliau berharap agar kerjasama diantara Indonesia – Tiongkok tidak hanya sebatas di bidang kesenian semata.
“Semoga dengan terselenggaranya Pertunjukkan Kesenian Persahabatan Indonesia – Tiongkok ini kerjasama dan pertukaran tidak hanya sebatas pada kesenian, namun juga dapat saling bertukar di lever cagar budaya, museum, dan penelitian arkeologi manusia purba,” tukasnya.
Pertunjukkan Kesenina Persahabatan Indonesia – Tiongkok dimeriahkan dengan berbagai kesenian dari kedua belah negara. Diantaranya pertunjukkan tari Bali, seni akrobatik memutar piring dari Tiongkok, lagu Sing Sing So dari Sumatera Utara yang dinyanyikan dalam bahasa Mandarin, Pencak Silat, Wushu, dan ditutup dengan alunan musik kolaborasi gamelan Indonesia dan musik khas Tiongkok membawakan lagu Ayo Mama dari Maluku. (sak)
Foto bersama sebelum pagelaran wayang kulit dimulai. Foto: Tribunnews.com.
Perlu konsep pembangunan kebudayaan nasional untuk melestarikan kebudayaan Indonesia yang berbasis pada kepribadian asli Indonesia.
Dalam kaitan itulah MPR menjadikan seni budaya tradisional seperti wayang kulit sebagai salah satu metode Sosialisasi 4 Pilar MPR RI untuk menyampaikan nilai-nilai luhur serta menyebarluaskan Pancasila kepada seluruh masyarakat Indonesia.
4 Pilar dimaksud adalah Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.
Sekretariat Jenderal MPR RI seperti dilaporkan Tribunnews, menyelenggarakan pagelaran seni budaya wayang kulit di Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.
Pagelaran ini ditonton ratusan masyarakat yang datang beramai-ramai dari berbagai daerah Malang dan sekitarnya untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit bersama dalang Ki Ardhi Purboantono yang menampilkan lakon “Wahyu Mangkuthoromo”.
Pagelaran wayang kulit dibuka Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Dr Ahmad Basarah ditandai dengan penyerahan tokoh wayang kepada Ki Ardhi Purboantono.
Turut hadir Kepala Biro Humas Setjen MPR Siti Fauziah SE MM, Kepala Bagian Pemberitaan Setjen MPR Muhamad Jaya SIP MSi, Ketua DPRD Kabupaten Malang Drs Haris Sasongko, Ketua DPRD Kota Malang Drs Abdul Hakim, dan para Kepala Desa dari Kecamatan Tumpang, Kapolsek dan para Muspika Kecamatan Tumpang.
Dr Ahmad Basarah yang mewakili Pimpinan MPR RI mengatakan bangsa Indonesia, pasca reformasi mulai meminggirkan Pancasila dengan menghilangkan P4, BP7 hingga mata pelajaran PMP disekolah-sekolah dihapus karena dituding sebagai alat kekuasaan Orde Baru.
Proses tersebut kini turut diperparah oleh masuknya ideologi fundamentalisme pasar dan agama yang beroperasi secara agresif di tengah masyarakat kita saat ini.
Basarah melanjutkan, masuknya ideologi asing tersebut membuat bangsa Indonesia mengalami serangan politik adu domba sebagai satu strategi memuluskan ideologi asing untuk masuk.
Tujuannya, agar bangsa Indonesia meminggirkan dan mengganti Ideologi Pancasila dengan ideologi lain. Kampanye propaganda liberalisme dan radikalisme kini memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dengan sasaran para generasi muda.
Bahkan, lingkungan masyarakat luas kini menjadi target bagi bersemainya bibit-bibit paham radikalisme, komunisme, lndividualisme dan liberalisme seperti fenomena deklarasi khilafah, LGBT, gaya hidup bebas, penyebaran kebencian, narkoba dan lain-lain, tuturnya.
“Untuk itulah, MPR menyosialisasikan nilai-nilai Empat Pilar MPR ke seluruh penjuru Indonesia melalui seni budaya dengan tujuan agar bangsa Indonesia memiliki daya tahan ideologis menghadapi masuknya ideologi-ideologi asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia,” sambung Ketua Badan Sosialisasi MPR RI ini.
Seni budaya asli Indonesia, sudah seharusnya menjadi solusi dalam menjawab tantangan zaman. Masyarakat seni budaya harus berada di garda terdepan mengawal, mengamankan dan menyebarluaskan ideologi Pancasila ke seluruh rakyat Indonesia.
“Berada di depan, mencegah paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila agar tidak masuk ke lingkungan masyarakat. Sehingga, generasi muda bangsa ini adalah generasi-generasi yang nasionalis, patriotik dan berjiwa Pancasila,” pungkas Basarah. (ist)
Ribuan warga saat mengikuti ritual Gugur Gunung dalam peresmian Desa Budaya Ramban Kulon. Foto: Suarajatimpost.com.
Dinobatkannya Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, sebagai Desa Budaya pertama di Kabupaten Bondowoso, diharapkan bukan ceremonial semata. Namun, diharapkan mempunyai potensi untuk mendongkrak sektor pariwisata.
“Saya optimis Desa Budaya Ramban Kulon bisa menjadi destinasi wisata baru di Bondowoso. Karena, di sana masih banyak ditemukan peninggalan budaya seperti sumur majapahit, jembatan manting dan rumah adat,” terang Harry Patriantono, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) kepada Suarajatimpost.com di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, Desa Budaya merupakan pintu masuk menuju objek wisata batu so’on Solor yang harus dikembangkan dengan dukungan dari beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Harus ada sinergi lintas sektor. Sehingga, bukan hanya budayanya saja yang dikembangkan, tetapi bagaimana bisa mengemas desa tersebut sebagai tujuan wisatawan yang bakal mengunjungi stonehenge van java di Desa Solor,” tambahnya.
Namun, dirinya sedikit kecewa, mengingat saat peresmian, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tidak melibatkan beberapa OPD yang bisa mendukung pengembangan Desa Budaya.
“Seharusnya ada beberapa OPD yang dilibatkan, agar pengembangan dari berbagai sisi bisa tercapai. Semisal Disparpora dalam hal promosi wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Diskoperindag untuk meningkatkan UKM warga setempat sebagai pusat oleh-oleh dan akses jalan bisa dibenahi oleh Dinas PMD,” urainya.
Desa Budaya Ramban Kulon secara langsung diresmikan oleh Bupati Bondowoso Amin Said Husni, pada 6 November 2017 lalu. Dalam peresmian tersebut, ribuan warga begitu semarak mengikuti ritual ngideri dan gugur gunung yang sudah menjadi tradisi turun temurun. (ist)
Batik Madura koleksi Kibas dipamerkan di House of Sampoerna. Foto: Kabarsurabaya.com.
Batik indentik dengan budaya Jawa. Namun sekarang batik sudah mendunia. Tak heran jika batik kini memiliki banyak motif dan warna dan tak jarang juga kini semua daerah memiliki motif batik sendiri, bahkan daerah yang luar Jawa sekalipun.
Perkembangan batik yang kini pesat, membuat industri batik pun menggeliat dan corak batik pun kini ikut mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan pasar. Ini membuat batik menjadi minati semua kalangan mulai generasi lawas hingga anak zaman now pun ikut menyukai busana batik.
Batik yang sudah sangat membumi ini, membuat warisan budaya bangsa ini dijamin tak akan hilang oleh kemajuan zaman. Hanya saja perkembangan motif batik yang terus melesat ini membuat motif batik klasik atau motif kuno dikhawatirkan bisa hilang, karena setiap harinya pebatik di tanah air selalu membuat motif batik yang baru sesuai selera pasar.
Kekhawatiran ini ditangkap oleh para pecinta batik di Jawa Timur dengan membuat sebuah perkumpulan dengan nama Komunitas Batik Surabaya (Kibas) yang digawangi oleh Lintu Tulistyantoro, dosen UK Petra dan kini anggotanya sudah lebih dari 600 orang dan berasal dari pebatik, kolektor batik hingga pengguna batik muda se Jawa Timur.
“Dan salah satu kegiatan Kibas ini adalah seperti hari ini dimana kami berkunjung ke rumah kolektor Retno Nagayomi Soedomo. Didalam kunjungan ini kami menelaah batik-batik yang menjadi koleksi tuan rumahnya dan juga batik yang dipakai para anggota yang mengikuti acara kunjungan ini,” ucap Lintu kepada Beritajatim.com, yang diikuti sekitar 30 anggota Kibas, Sabtu (25/11).
Dikatakan, Kibas memang mengkhususkan diri untuk para pecinta batik jawa-timuran saja. Dan dalam kunjungan kali ini lebih banyak menelaah tentang batik gentongan dari Tanjungbhumi Bangkalan, Madura.
Batik gentongan ini tak hanya memiliki motif yang berbeda dari batik yang ada di daerah Madura lainnya, tetapi proses pembuatan batik gentongan yang memakan waktu tahunan ini juga membuat batik ini begitu istimewa bagi pecinta dan kolektor batik sendiri.
“Saya memang punya puluhan batik gentongan, tetapi karena saya juga menyukai batik berbahan dasar sutera, akhirnya saya sengaja memesan batik gentongan dari kain sutera. Proses pembuatannya cukup lama hampir 2 tahun, tetapi hasilnya ternyata jauh lebih bagus,” ungkap Retno Nagayomi Soedomo yang memiliki 3.000 koleksi batik dari berbagai daerah di Indonesia di rumahnya di kawasan Rungkut Surabaya itu.
Bagi wanita yang sudah memiliki cucu ini, motif batik memang menjadi salah satu point utama dalam melengkapi koleksi batiknya. Semakin kuno dan klasiknya corak dan proses pembuatan batik, membuat Retno semakin menyukai karya batik yang ditawarkan.
Tak jarang, Retno mendatangi rumah pembatik lokal demi mendapatkan batik yang klasik. Bagi Retno harga batik jutaan bahkan hingga belasan juta untuk selembar batik klasik akan dikeluarkannya demi melengkapi koleksinya.
Hal yang sama juga diakui oleh Drh Joko Sakti Laksono, anggota Kibas yang rela hunting kain batik kuno ke rumah-rumah warga yang ada disekitar keraton Jogjakarta demi mendapatkan selembar kain batik.
Bahkan saking tertariknya dengan batik, dokter hewan yang juga pelukis pun membuat batik kotemporer sendiri dengan cara membatik dengan menggunakan kuas untuk melukis. “Hasilnya abstrak dan bagus, tapi saya belum berniat menjualnya,” tandasnya. (ist)
Penari Jaran Goyang saat tampil di pembukaan cafe di Banyuwangi beberapa waktu lalu. Foto: Kompas.com/Ira Rachmawati.
“Apa salah dan dosaku, sayang. Cinta suciku kau buang-buang. Lihat jurus yang kan kuberikan. Jaran goyang, jaran goyang…“Lirik lagu Jaran Goyang yang dibawakan oleh penyanyi dangdut Nella Karisma sangat populer di kalangan masyarakat.
Lagu itu bukan hanya diputar di radio dan televisi namun juga menjadi lagu yang wajib dinyanyikan di acara hajatan. Namun tidak banyak yang mengetahui jika Jaran Goyang adalah salah satu nama mantra pengasihan yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Hasnan Singodimayan (86), budayawan Banyuwangi kepada Kompas.com, Senin (27/11) menjelaskan jika nama Jaran Goyang adalah mantra yang menjadi bagian dari sastra lisan yang dimiliki oleh masyarakat Suku Osing Banyuwangi.
Menurut laki-laki kelahiran Banyuwangi, 17 Oktober 1931, berbeda dengan masyarakat Jawa lainnya yang hanya mempercayai ilmu hitam untuk menyakiti dan ilmu putih untuk menyembuhkan, masyarakat Osing mempercayai adanya empat ilmu yaitu, ilmu merah, ilmu kuning, ilmu hitam, da ilmu putih.
“Ilmu merah ini berkaitan dengan perasaan cinta, ilmu kuning tentang jabatan, ilmu hitam untuk menyakiti dan ilmu putih untuk menyembuhkan. Nah Jaran Goyang ini masuk dalam kategori ilmu merah atau dikenal dengan santet,” jelas Hasnan.
Hasnan dengan tegas mengatakan santet bukanlah ilmu yang menyakiti atau membunuh tapi merupakan akronim dari “mesisan gantet” yang berarti sekalian bersatu atau bisa juga “mesisan bantet” atau sekalian rusak.
Hal ini merujuk dari fungsi sosial mantra santet Jaran Goyang untuk menyatukan dua orang agar bisa menikah atau memisahkan kedua orang yang mencintai agar bisa menikah dengan pasangan pilihan keluarganya.
“Saat Kerajaan Blambangan diambang kehancuran, rakyatnya terpisah dan agar keturunan mereka tidak tercampur, mereka menikah dengan dasar kekerabatan. Biasanya kan ada yang saling suka tapi ternyata nggak disetujui oleh orang tua. Nah di sini fungsi mantra Jaran Goyang untuk menyatukan mereka. Niatnya baik. Bukan untuk hal-hal yang nggak jelas. Ini adalah ilmu pengasihan,” ungkap penulis buku novel “Kerudung Santet Gandrung” tersebut.
Selain Jaran Goyang, ada beberapa mantra lain yang berkaitan dengan hubungan asmara seperti Kucing Gorang dan kebo bodoh. Nama-nama mantra ilmu merah yang berkaitan dengan asmara, memang paling banyak menggunakan binatang liar yang menjadi peliharaan.
Namun, menurut Hasnan, di antara banyaknya mantra pengasihan, mantra Jaran Goyang yang paling ampuh. “Nggak perlu waktu lama, kalau sudah dirapalkan bisa langsung jatuh cinta,” katanya sambil tersenyum.
Ia juga menjelaskan nama Jaran Goyang diambil dari perilaku kuda yang sulit dijinakkan, namun jika sudah jinak maka kuda sangat mudah dikendalikan.
“Sama dengan perasaan cinta. Awalnya susah dikendalikan tapi kalau sudah jatuh cinta bisa bisa semua baju miliknya dibawa pulang ke rumah pasangannya seperti orang gila dan memang korban terbanyak adalah perempuan walaupun tidak menutup kemungkinan laki-laki juga bisa terkena santet Jaran Goyang,” kata Hasnan.
Ia menambahkan masyarakat Banyuwangi khususnya Using sangat terbuka dan tidak menutup diri. Budaya yang masuk akan diserap dan dikawinkan dengan budaya asli sehingga melahirkan budaya baru.
Selain menjadi tarian, Jaran Goyang juga menginspirasi sebuah lagu dalam bahasa Osing yang berjudul Jaran Goyang yang sempat populer pada tahun 2000-an dan dinyanyikan oleh penyanyi Banyuwangi Adistya Mayasari.
“Saat itu lagu Jaran Goyang juga populer dinyanyikan di mana-mana sampai sekarang tapi menggunakan bahasa daerah Using,” kata Hasnan.
Dengan berjalannya waktu, terinspirasi dari Santet Jaran Goyang, maka terciptalah tari Jaran Goyang. Slamet Menur (75), seniman tari Banyuwangi kepada Kompas.com beberapa waktu lalu menjelaskan Jaran Goyang pertama kali ditarikan pada 1966 oleh penari bernama Darji dan Parmi dari Lembaga Kesenian Nasional (LKN) milik Partai Nasional Indonesia yang saat itu ada di wilayah Kecamatan Genteng Banyuwangi.
Berbeda dengan tari Jaran Goyang saat ini yang ditarikan oleh dua orang yaitu laki-laki dan perempuan, pada masa itu Jaran Goyang ditarikan banyak orang walaupun ada dua penari utama.
“Tari Jaran Goyang adalah tari pergaulan yang menceritakan seorang pria yang mencintai seorang gadis, namun ditolak. Akhirnya sang pria merapalkan mantra jaran Goyang lalu melempar bunga kepada sang gadis hingga dia jatuh cinta dan tergila-gila pada sang pria,” cerita Slamet Menur.
Menurutnya, tari tersebut muncul dari fenomena mantra Jaran Goyang yang tumbuh subur di kalangan masyarakat Suku Osing saat itu.
Tarian tersebut sempat dipentaskan di luar Kota Banyuwangi beberapa kali oleh LKN kemudian disempurnakan kembali gerakannya oleh pencipta tari Banyuwangi Sumitro Hadi dan dikembangkan oleh pencipta tari Subari Sofyan.
“Pada tahun 1966, saya sudah jadi pelatih tari termasuk yang melatih Darji dan Parmi. Sayangnya saya sudah tidak pernah bertemu lagi dengan mereka. Kabar terakhir saya dengar mereka menikah. Itu pasangan yang pertama kali menarikan tari Jaran Goyang,” kata Slamet Menur.
Hingga saat ini, mantra Jaran Goyang yang menjadi bagian dari sastra lisan masih memiliki fungsi sosial di lingkungan masyarakat Banyuwangi khususnya Suku Osing. Termasuk juga tari Jaran Goyang yang masih sering ditampilkan di pementasan kesenian di Kabupaten Banyuwangi. (kmp)