Tarian Ratoh Jaroe saat pembukaan Asian Games 2018. Foto: Asiangames2018.id.
Pembukaan Asian Games 2018 berlangsung gegap gempita. Pujian pun banyak mengalir. Karena konsep yang diusung sangat luar biasa. Apalagi #OpeningCeremonyAsianGames2018 juga menghadirkan banyak budaya Indonesia. Salah satunya Tari Ratoh Jaroe asal Aceh.
Atraksi Tari Ratoh Jaroe ditampilkan secara kolosal. Koreografer tarian ini adalah Denny Malik, mantan dancer dan penyanyi yang pernah bikin heboh dengan lagu Jalan-Jalan Sore (JJS). Kemegahan tarian ini bisa dilihat dari jumlah penari yang dilibatkan. Mencapai 1.600 penari yang terdiri dari siswa SMA se-DKI Jakarta.
Di tangan Denny Malik, penampilan 1.600 dancer ini benar-benar memukau. Berbagai gerakan dan tarian yang disajikan mampu membentuk koreografi indah. Kekompakan para penarinya juga menawan. #PesonaAsianGames2018 memang luar biasa.
Tari Ratoh Jaroe mirip dengan Tari Saman yang lebih dikenal luas. Gerakannya pun serupa. Namun, ada perbedaan mendasar dari kedua tarian asal Aceh ini.
Umumnya Tari Saman dilakukan pria dalam jumlah ganjil. Tarian ini mengkombinasikan tepukan tangan dan tepukan dada. Selain itu, penari Saman dipimpin oleh beberapa penari yang duduk di tengah. Saman adalah tarian yang murni diiringi oleh syair yang dilantunkan para penarinya.
Sedangkan Tari Ratoh Jaroe pada umumnya dilakukan oleh perempuan dalam jumlah genap. Gerakan Tari Ratoh Jaroe tak banyak melibatkan tepukan dada. Selain itu, Tari Ratoh Jaroe dikendalikan oleh dua orang yang duduk di luar formasi penari. Sedangkan Tari Ratoh Jaroe mendapatkan iringan musik eksternal, atau di luar para penarinya.
Terlepas dari hal tersebut, keberhasilan menyajikan Tari Ratoh Jaroe dalam balutan kolosal membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya bangga. Menurutnya, tarian tersebut mempromosikan kekayaan budaya Indonesia.
“Tarian ini sangat luar biasa. Dibawakan dengan sangat indah dan kompak. Dan menjadi cermin kekayaan budaya Indonesia yangan sangat beragam. Tarian Ratoh Jaroe menjadi pembuka yang luar biasa. Apalagi kemudian tarian-tarian lain ikut ditampilkan,” paparnya.
Menurut Menpar, dalam kegiatan akbar seperti ini, Indonesia harus mampu menggerakkan semua sektor. “Termasuk pariwisata. Sebab, inilah saatnya menjual, mempromosikan kekayaan pariwisata Indonesia ke pentas dunia,” paparnya. (sak)
Penampilan Kahitna digelaran JTF sebelumnya. Foto: SS Media.
Pada 25 dan 26 Agustus 2018, lebih dari 400 musisi akan menampilkan lebih dari 50 pertunjukan musik terbaik di panggung Jazz Traffic Festival (JTF) 2018. Even digelar di Grand City Surabaya.
Mereka adalah musisi dari berbagai generasi yang akan tampil tidak hanya untuk menyapa dan menghibur pecinta musik jazz, tapi untuk semua pecinta musik di Tanah Air.
Errol Jonathans Chairman IndiHome Jazz Traffic Festival 2018 yang juga Direktur Utama Suara Surabaya (SS) Media, sebagai entitas penyelenggara JTF sejak 2011 silam, mengatakan, regenerasi musik jazz sedang terjadi.
“Saya menyebutnya, The Future is Now. Masa depan musik jazz dan masa depan JTF sebagai ajang musik jazz Tanah Air sudah terlihat dari sekarang,” ujarnya.
Ada Jazz Traffic All Stars berisi musisi-musisi senior seperti Indra Lesmana, Idang Rasjidi, Dewa Bujana, dan Syaharani, serta musisi muda seperti Sri Hanuraga, Indra Gupta, dan Sandy Winarta menampilkan pertunjukan “Tribute to Bubi Chen”.
“Ini akan menjadi momen spesial di JTF 2018. Bubi Chen adalah ikon jazz Tanah Air yang berperan besar mengasuh program Jazz Traffic di Radio Suara Surabaya selama kurang lebih 25 tahun,” ujarnya.
Sejak 1985 silam, Bubi Chen melalui salah satu program jazz di radio, yang tergolong paling konsisten di Tanah Air, memikirkan regenerasi musik jazz Tanah Air: Bagaimana mendekatkan jazz ke anak muda?
“Jazz Traffic berdiri sebagai bentuk konsistensi SS memilih musik bermutu. Tapi Bubi Chen pernah bilang, tidak ada musik bagus atau jelek. Yang ada musik yang kamu suka atau tidak kamu suka,” ujarnya.
Melalui jazz traffic, perjuangan Bubi Chen meregenerasi musik jazz cukup panjang. Edukasi dan sosialisasi dimulai dengan mengenalkan jazz rock dan fussion sebagai pendekatan kepada anak muda.
Pelan-pelan, program ini mulai mengenalkan apa itu jazz mainstream, jazz alternatif, serta genre-genre jazz yang bisa dikatakan lebih “serius”, dan mulai bisa diterima khalayak musik Surabaya.
Helatan JTF pertama kali pada 2011 lalu menjadi wujud mimpi Bubi Chen mengenalkan musik jazz kepada pecinta musik di Surabaya. Bahkan, almarhum, yang saat itu kondisi fisiknya mulai menurun, tampil untuk merayakannya.
“Waktu itu, saya ingat, Bubi Chen sudah sakit. Beliau tampil di panggung JTF pertama itu dengan kaki yang sudah diamputasi,” kata Errol membuka kembali sejarah JTF.
Jazz Traffic All Star tribute to Bubi Chen seolah menjadi perwujudan mimpi Bubi Chen untuk memunculkan generasi-generasi baru musik jazz di Tanah Air.
Tidak hanya tiga nama musisi muda yang sudah disebut di atas, bintang musisi jazz muda lainnya juga akan mewarnai panggung JTF kali ini. Dia adalah Barry Likumahuwa.
Pada JTF 2017 lalu, Barry tampil bersama Benny Likumahuwa ayahnya. Dua entitas mewakili dua zaman itu menjadi bukti, regenerasi musisi jazz tanah air memang sudah terjadi.
“Kali ini ada Shadu Rasjidi yang tampil dengan grupnya. Shadu itu anaknya Idang Rasjidi, musisi jazz senior. Jadi, regenerasi itu berjalan smooth, sangat alami,” kata Errol.
Sejumlah musisi muda lainnya akan tampil dalam Jazz Muda Indonesia. Musisi muda juga tergabung dalam band pemenang MLD Jazz Wanted 2018 yang akan mengiringi Abdul dan Marion Jola, dua penyanyi Indonesian Idol.
Errol Jonathans berpendapat, JTF telah berhasil menjadikan jazz sebagai Ikon Suara Surabaya dan menjadi salah satu ikon Kota Surabaya.
Dari program siaran ikonik Jazz Traffic, sampai perhelatan JTF yang sudah kedelapan kalinya akan digelar, Suara Surabaya dia anggap berhasil meyakinkan generasi muda bahwa jazz adalah sesuatu.
“Saya hanya berharap, lebih banyak musisi jazz Tanah Air yang mulai world wide, Go International. Dulu ada Bubi Chen yang secara mengejutkan tampil di Berlin Jazz Festival tahun 1965. Mustinya lebih banyak lagi,” ujarnya.
Ada grup Krakatau yang digawangi Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, dan kawan-kawan, yang juga sudah melanglang buana. Sampai Joy Alexander musisi jazz belia peraih dua nominasi Grammy Award yang kini tinggal di Amerika Serikat.
“JTF saya yakin juga berperan untuk ini. Pada Jazz Traffic berikutnya kami akan menyertakan lebih banyak lagi musisi-musisi internasional,” ujar Errol.
Namun, ada beberapa hal yang tidak dia harapkan terjadi di masa depan. Jazz jangan sampai menjadi sekadar brand atau status sosial seperti yang telah terjadi pada 1980-an silam.
Pada tahun 1980-an lalu, ada masa di mana orang menganggap jazz sebagai musik yang berkelas, tapi tidak tahu bagaimana cara mengapresiasinya.
“Istilahnya snob (sombong). Penikmat jazz saat itu menganggap musik lain selera rendah, tapi mereka tidak tahu apa itu jazz. Perkembangan pesat sekarang jangan sampai seperti itu,” ujarnya.
Maka misi JTF yang lain adalah membangun daya apresiasi masyarakat terhadap musik jazz. Seiring bergulirnya perhelatan JTF dari tahun ke tahun, Errol melihat daya apresiasi itu sudah mulai terbangun.
Tentang Jazz Traffic
Jazz Traffic adalah sebuah program siaran di Radio Suara Surabaya yang mengudara sejak tahun 1983. Adalah Bubi Chen sang virtuoso musik jazz internasional dari Surabaya pernah ikut mengasuh siaran Jazz Traffic sejak tahun 1985 sampai wafat pada tahun 2012. Om Bubi, sapaan Bubi Chen, diberi slot siaran program Jazz Traffic “Bubi Chen Show” seminggu sekali.
Siaran Jazz Traffic kini tidak hanya memperdengarkan komposisi-komposisi jazz, tapi juga mengapresiasi musisi dan mengenalkan sub genre Jazz Tradisional hingga Free Jazz dan Acid Jazz.
Selama 35 tahun mengudara, Jazz Traffic telah membentuk komunitas-komunitas jazz yang solid, tidak hanya di Kota Surabaya, tapi juga kota-kota lain di Indonesia.
Sementara itu event Jazz Traffic Festival (JTF) digelar Suara Surabaya sejak tahun 2011, berturut-turut setiap tahun hingga 2018 ini. (ita)
Artis di JTF 2018, 25 Agustus 2018:
Nayra Dharma – Bintang Indrianto – Dwiki Dharmawan feat Trisouls – Tom Grant – Idang Rasjidi – Kayoon – Sheryl Sheinafia – Metta Legita – Fussion Stuff – Ita Purnamasari – Rasvan Aoki meet Nelly Lawson – Pusakata – GAC – HiVi! – Barry Likumahuwa with Rima Funk – Via Vallen – Adhitia Sofyan – Gilang Ramadhan – MLD Jazz Wanted Winner – Isyana Sarasvati
Artis di JTF 2018, 26 Agustus 2018:
Jazz Muda Indonesia – Stars And Rabbit with String Quartet – Indra Lesmana Surya Sewana – Sandy Winarta – Sri Hanuraga – Jazz Traffic All Stars – Sentimental Moods – Saxx In The City – Rahmania Astrini – Syaharani – Reza Artamevia – Kunto Aji – Yura Yunita – Indihome – Tulus – Padi Reborn – Jaz – MLD Jazz Project Session 3 – ILP – Raisa.
Kawasan situs Biting di Sukodono Lumajang. Foto: Hipwee.com.
Kerajaan Majapahit dengan pendirinya Raden Wijaya selama ini masyhur dalam penulisan sejarah Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Namun, tak banyak yang mengenal sosok Arya Wiraraja, dengan Lamajang Tigang Juru-nya yang jejaknya masih kukuh di Lumajang. Padahal, peran Arya Wiraraja sangat strategis dalam perpolitikan Nusantara pada masa itu.
Menempuh jarak puluhan kilometer, tak tampak kelelahan di wajah rombongan itu. Dipimpin Rina Rohmawati, rombongan tersebut merupakan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Jember.
Mereka sengaja datang ke kawasan situs Biting, sebuah situs arkeologis seluas sekitar 135 hektare yang ada di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang.
“Agar mereka lebih mengenal realitas sejarah, termasuk yang ada di sekitarnya. Karena kalau Cuma membaca di kelas, perpustakaan, atau laboratorium sejarah, pemahamannya menjadi utuh,” tutur Rina Rohmawati, dosen pembimbing para mahasiswa tersebut kepada Jawa Pos Radar Jember.
Rina merupakan dosen yang mengampu mata kuliah Sejarah Nasional di Prodi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Jember.
Bersama seorang rekannya, Rina membawa beberapa mahasiswa bimbingannya untuk terjun langsung ke kawasan situs Biting, termasuk berdiskusi dengan kalangan aktivis LSM yang fokus melakukan advokasi kawasan situs Biting.
Rina menuturkan, dari segi bangunan, kawasan situs Biting memiliki keistimewaan tersendiri. Selain karena luasnya, benda-benda arkeologis seperti candi dan reruntuhannya memiliki identitas pembeda dan menunjukkan kemajuan masyarakat setempat pada masa itu.
“Di sini ada 12 jenis motif yang beragam ukurannya. Candi-candi ini bisa kokoh hingga ratusan tahun,” tutur alumnus Jurusan Sejarah FIB Universitas Jember ini.
Ada perbedaan motif yang mencolok antara candi di Jawa Tengah dengan di Jawa Timur. Di Jawa Tengah, kebanyakan candi peninggalan zaman klasik terbuat dari batu andesit.
“Ini karena di sana banyak gunung berapi. Berbeda dengan di Jawa Timur, candinya terbuat dari tanah liat. Dengan kunjungan seperti ini, mahasiswa bisa melihat secara langsung,” jelas Rina.
Kawasan Situs Biting sejatinya merupakan benteng yang mengelilingi sebuah kawasan pusat pemerintahan kerajaan pada masa itu. Tak heran, jika luasnya mencapai ratusan hektare.
“Yang menarik, benteng ini bentuknya melekuk sesuai arah aliran sungai Bondoyudo yang merupakan sungai kuno. Dan di setiap lekukan, terdapat menara pengintai, untuk mengamankan kawasan di dalamnya,” ujar alumnus Magister Sejarah Undip ini.
Hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1982-1991, Kawasan Situs Biting memiliki luas 135 hektare yang mencakup 6 blok/area merupakan blok keraton seluas 76,5 ha, blok Jeding 5 ha, blok Biting 10,5 ha, blok Randu 14,2 ha, blok Salak 16 ha, dan blok Duren 12,8 ha.
Dalam Babad Negara Kertagama, kawasan ini disebut Arnon lalu dalam perkembangan pada abad ke-17 disebut Renong, dan dewasa ini masuk dalam desa Kutorenon yang dalam cerita rakyat identik dengan “Ketonon” atau terbakar.
Nama Biting sendiri merujuk pada kosakata Madura bernama “Benteng”, karena daerah ini memang dikelilingi oleh benteng yang kukuh.
Arti penting kawasan situs Biting ini dikonfirmasi oleh Mansur Hidayat, penggiat sejarah yang juga Ketua Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMT). MPPMT merupakan LSM yang fokus pada advokasi pelestarian peninggalan Kerajaan Majapahit Timur, termasuk kawasan Situs Biting.
Situs tersebut tak bisa dilepaskan dari nama Arya Wiraraja yang merupakan penguasa di wilayah tersebut.
“Kawasan Situs Biting ini diperkirakan merupakan ibu kota Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang wilayah kekuasaannya meliputi daerah di sebelah Gunung Semeru sampai selat Bali atau kalau sekarang disebut Tapal Kuda, ditambah wilayah Madura,” tutur Mansur.
Menurut Mansur, Arya Wiraraja merupakan tokoh besar, bahkan disebut paling jenius pada masanya. Sayangnya, kebesaran dan kiprahnya justru terlupakan dalam penulisan sejarah di Indonesia. Bahkan, nama Arya Wiraraja seolah-olah kalah dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.
“Hubungannya, Arya Wiraraja ini merupakan semacam penasihat politik bagi Raden Wijaya. Kalau zaman sekarang, ibaratnya Arya Wiraraja ini adalah Megawati, dan Raden Wijaya adalah Jokowinya. Jadi, seperti King Maker,” tutur penulis buku Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru ini.
Tak hanya sebagai penasihat politik, Arya Wiraraja juga menjadi donatur saat Raden Wijaya melarikan diri ke Madura usai kalah dari Prabu Jayakatwang, Raja Kediri.
“Yang membuka Hutan Tarik, itu sebenarnya bukan Raden Wijaya, karena dia saat itu masih di Kediri. Yang membuka itu adalah Pasukan Madura atas perintah Arya Wiraraja yang saat itu menjadi Adipati Sumenep,” jelas Mansur.
Salah satu kiprah terbesar dari Arya Wiraraja adalah saat dia merencanakan strategi bagi Raden Wijaya untuk “mengarahkan” Pasukan Mongol mengalahkan Kerajaan Singosari.
“Itu semua strategi dari Arya Wiraraja yang diberikan kepada Raden Wijaya. Karena saat itu Majapahit masih berupa desa dan belum memiliki pasukan sendiri. Jadi, yang dipakai pasukan dari Madura,” tutur mantan dosen sejarah di IKIP PGRI Jember ini.
Dalam penulisan sejarah ditulis, setelah menghancurkan pasukan Jayakatwang, pasukan dari Mongol itu justru dipukul mundur melalui jebakan oleh pasukan Raden Wijaya selaku penguasa Majapahit.
“Sebenarnya, itu yang merencanakan adalah Arya Wiraraja. Dengan iming-iming rampasan perang dan putri-putri cantik sebagaimana kelaziman pada masa itu, pasukan Mongol bersedia melepaskan senjata. Setelah tidak bersenjata, pasukan Mongol justru dipukul mundur oleh pasukan Arya Wiraraja,” tutur penulis buku Membangkitkan Majapahit Timur ini.
Secara resmi, Mansur bersama LSM Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMT) aktif melakukan advokasi kawasan advokasi situs Biting sejak tahun 2010.
“Sayangnya memang di bawah Bupati Lumajang saat ini, perhatian pemerintah amat kurang. Saya harap, di bawah bupati yang baru, kawasan situs Biting ini bisa lebih diperhatikan kelestariannya,” pungkas Mansur. (ist)
Ucapan terima kasih dalam berbagai bahsa di Indonesia. Foto: Victorynews.id.
Sejumlah bahasa daerah di Indonesia mulai terancam. Bahkan sudah ada yang dinyatakan punah. Perlu mendokumentasikan dan merevitalisasi.
Kepala Bidang Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ganjar Harimansyah mengatakan, dari data terakhir tahun 2017, sebanyak 11 dari 625 bahasa daerah telah dinyatakan punah.
“Ada 11 bahasa yang punah, di antaranya bahasa Tandia dan Mawes di Papua,” ujar Ari di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (13/8), seperti dilaporkan jawapos.com.
Selain dua bahasa daerah Papua, beberapa bahasa daerah Maluku juga punah. Di antaranya yakni Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila.
Ganjar menuturkan, punahnya bahasa daerah bisa diakibatkan oleh beberapa alasan. Seperti meninggalnya kelompok yang menggunakan bahasa itu.
Selain itu, ada pula faktor gengsi karena tidak mau menggunakan bahasa daerah seperti di kota-kota besar. “Banyak penyebabnya, misal meninggal, bencana alam, pindah tempat tinggal, ada juga persilangan kawin, ada pula gengsi,” lanjutnya.
Bahasa-bahasa daerah besar seperti Jawa, Sunda hingga Melayu pun terancam mulai ditinggalkan dalam 200 tahun ke depan jika tidak dilestarikan dengan baik.
“Kami memperkirakan bahasa besar seperti Jawa, Sunda, Aceh, Melayu dalam hitungan 200 tahun bisa terancam,” imbuh Ganjar.
Sementara itu langkah yang telah diambil oleh Kemendikbud dalam pelestarian bahasa agar tidak ada lagi yang punah yaitu dengan cara mendokumentasikannya. Atau melakukan revitalisasi bahasa daerah dengan sejumlah metode.
“Jadi, bahasa yang kritis kita dokumentasikan. Kalau yang terancam punah kita segera revitalisasi seperti dengan sample model keluarga. Atau bisa juga sekolah kita jadikan model untuk konservasi dan revitalisasi bahasa daerah,” pungkasnya. (jp)
Sidang penetapan WBTB Tahun 2018 di Jakarta. Foto: Wartabromo.com.
Sebanyak 8 (delapan) warisan karya budaya yang berasal dari Jawa Timur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Hal ini diputuskan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2018 yang dilaksanakan di Hotel Millenium Sirih Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya masing-masing provinsi melakukan presentasi dihadapan dan dinilai oleh 15 Tim Ahli berbagai bidang dan 3 Narasumber yang dipimpin langsung oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dr Najamudin Ramli.
Acara yang digelar Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya tersebut diikuti oleh 31 dari 34 provinsi di Indonesia. Dalam keputusan sidang yang dibacakan oleh Ketua Tim Ahli WBTB Indonesia Pudentia MPSS, sebanyak 225 karya budaya berhasil ditetapkan dari 264 karya budaya yang lolos administrasi.
Sedangkan jumlah karya budaya yang diusulkan sebanyak 416 karya budaya.
Hasil penilaian ini setelah melewati tahap seleksi administrasi, rapat penilaian oleh Tim Ahli, kunjungan verifikasi ke daerah-daerah dan pemaparan oleh masing-masing provinsi.
Sedangkan 39 karya budaya yang tidak lolos atau ditangguhkan disebabkan tidak layak secara administrasi dan substansi serta perbaikan yang tidak tepat waktu.
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dalam sambutan penutupannya menyatakan bahwa jumlah penetapan karya budaya pada tahun ini mengalami peningkatan. Dengan hadirnya berbagai elemen dalam sidang penetapan ini menunjukkan bahwa hal ini semakin berwibawa.
“Penetapan ini bukan sekadar membuat daftar tetapi bagaimana tindak lanjutnya itu yang penting. Hasil-hasil penetapan ini akan menjadi dokumen penting untuk merumuskan strategi kebudayaan,” kata Hilmar Farid seperti dilaporkan Brangwetan.com.
Adapun 8 Warisan Budaya Tak Benda asal Jawa Timur tersebut adalah:
– Janger Banyuwangi
– Clurit (Are’) Madura
– Rawon Nguling Probolinggo
– Upacara Adat Manten Kucing Tulungagung
– Reog Cemandi Sidoarjo
– Sandur Bojonegoro – Tuban
– Wayang Thengul Bojonegoro
– Wayang Topeng Jatiduwur Jombang
Selama berlangsungnya sidang penetapan, Provinsi Jawa Timur diwakili Hari Tunariono (Kasi Pelestarian Tradisi Disbudpar Jatim), Sujito (Dinas Parporabud Kab Probolinggo) yang didampingi pemilik Rumah Makan Rawon Nguling, H Rofiq Ali Pribadi.
Juga hadir Kartini (Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab Sidoarjo), Suparno (Disbudpar Kab Jombang) yang mengajak Mochamad Ya’ud (dalang Wayang Topeng Jatiduwur), Susetyo dan Adi Sutarto (Disbudpar Kab Bojonegoro), Choliq Ridho (Disbudpar Kab Banyuwangi), Heru Santoso (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Tulungagung) yang didampingi Ariani (Kepala Bidang Nilai Budaya dan Kesenian Disbudpar) dan narasumber Muhamad Reyhan Florean.
Juga hadir Henri Nurcahyo, pengurus Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur selaku stakeholder Disbudpar Jawa Timur. Disamping itu juga didampingi Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, dimana Jatim, Jateng dan DIY berada dalam wilayah kerjanya.
Pada 10 Oktober mendatang hasil penetapan kali ini akan dikukuhkan di Gedung Kesenian Jakarta secara formal oleh Mendikbud.
Penetapan 8 warisan budaya asal Jatim ini melengkapi daftar WBTB Jatim yang sudah diakui secara nasional sejak 2013, sehingga berjumlah total 36 karya budaya. (ist)
Pintu masuk ke kota Lumajang tempo dulu. Foto: Jawatimuran.wordpress.com.
Secara kultural Jawa Timur merupakan sebuah mozaik kebudayaan dengan subkultur yang sangat beragam. Namun justru dengan adanya keberagaman tersebut yang menjadi tali pengikat adanya jiwa persatuan.
Buktinya Jawa Timur adalah satu-satunya propinsi yang belum pernah memekarkan diri sejak masa awal kemerdekaan. Hal ini dapat terjadi karena kematangan budaya yang sudah mengakar kuat di relung hati masyarakat Jawa Timur.
Sejarah mencatat bahwa pendirian Kerajaan Majapahit dilakukan secara bersama-sama oleh suku Jawa subkultur Jenggala-Singhasari di bawah kepemimpinan Raden Wijaya yang dibantu oleh masyarakat Jawa subkultur Panjalu-Kadiri dan suku Madura dibawah pimpinan Aria Wiraraja.
Tiga kekuatan utama di Jawa Timur tersebut memiliki saham yang sama dalam proses pendirian Majapahit. Perselisihan berkepanjangan antara pewaris klan Jenggala dan klan Panjalu yang diteruskan oleh klan Kadiri dengan klan Singhasari berhasil dipersatukan oleh Raden Wijaya dalam sistem tatanegara baru bernama Majapahit.
Suku Madura yang sebelumnya kurang mendapatkan peran, pada masa awal Majapahit mendapatkan kepercayaan yang sangat besar dari Negara. Patih Nambi dan Menteri Mancanagari Ranggalawe menempati posisi kunci dalam pemerintahan.
Sedangkan Aria Wiraraja memimpin daerah otonom luas di wilayah Tapal Kuda yang disebut dengan tlatah Lamajang Tigang Juru yang berpusat di Tempuran Kali, Bondoyudo Lumajang.
Persatuan antar subkultur tersebut dipupuk sejak Raja Kertanegara Singhasari mencanangkan konsepsi Cakramandala Dwipantara. Sebuah doktrin persatuan nasional dalam menyatukan pulau-pulau di Nusantara guna menghadapi ancaman nyata kekuatan Tartar Mongol yang ketika itu telah menguasai separuh belahan dunia.
Persatuan antar subkultur tersebut dipupuk semakin hebat lagi dengan digalakkannya tradisi Panji, yaitu wiracarita asli Jawa Timur yang menceritakan kisah romantika dan perjuangan Raden Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji Candrakirana dengan latar belakang dinamika pasang surut hubungan antara Jenggala dan Panjalu beserta kerajaan-kerajaan lainnya di Jawa Timur.
Saat itu wiracarita Panji mengalahkan kepopuleran Ramayana dan Mahabarata, menyebar hingga ke seluruh penjuru Asia Tenggara.
Hingga saat ini wiracarita Panji telah bermetamorfosis menjadi banyak ragam kesenian tradisi seperti Wayang Topeng Dalang Malang, Wayang Beber Pacitan, Wayang Krucil, Wayang Gedhog serta puluhan cerita rakyat.
Persatuan antar subkultur tersebut terus berlanjut pada saat pusat kuasa bergeser ke tengah pulau Jawa hingga melahirkan istilah Bang Wetan atau Brang Wetan untuk menandai masyarakat Jawa Timuran.
Pada masa kolonialisme persatuan antara subkultur kembali mengerucut. Trunojoyo dan Untung Suropati berhasil menyatukan etnis Jawa dan Madura guna melawan Belanda.
Selanjutnya Jawa Timur selatan mulai dari Pacitan hingga Banyuwangi dipenuhi oleh sisa-sisa pejuang Diponegaran paska berakhirnya Perang Jawa tahun 1830 M.
Mereka mendirikan ratusan perkampungan baru di daerah-daerah terpencil untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang ditopang oleh infrastruktur modern yaitu jalan raya pos Anyer-Panarukan di sepanjang pantai utara pulau Jawa.
Dalam formasi pasukan Diponegoro terdapat ratusan Kyai, puluhan haji belasan penghulu serta banyak guru ngaji yang ikut bertempur melawan Belanda.
Rajutan antara sisa-sisa kekuatan Laskar Diponegaran dengan pesantren-pesantren kuno yang dipelopori oleh Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo menghasilkan sebuah pola perjuangan berbasis pesantren.
Mengubah strategi perjuangan bersenjata menjadi perjuangan pendidikan karakter, moral dan agama sekaligus.
Spirit religiusitas ditanamkan secara bersamaan dengan nilai-nilai patriotisme yang kelak memunculkan gagasan national staat (negara bangsa) secara massal di kalangan pesantren.
Meledak secara heroik pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya paska diumumkannya fatwa Resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh Hasyim Asyari. Sekali lagi persatuan antar subkultur di Jawa Timur kembali dibuktikan secara nyata di lapangan.
Subkultur Panjalu untuk selanjutnya bermetamorfosis menjadi subkultur Mataraman, yaitu daerah yang dipengaruhi secara kuat oleh kultur budaya Mataram Islam.
Daerah ini merupakan daerah terluas yang meliputi wilayah eks Karesidenan Madiun dan Kadiri serta daerah-daerah di pesisir selatan Jawa basis pertahanan Laskar Diponegaran.
Subkultur Jenggala untuk selanjutnya bermetamorfosis menjadi subkultur Arek, meliputi bekas wilayah inti Panjalu dan Singhasari yaitu wilayah Malang Raya, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan sekitarnya. Disebut subkultur Arek karena masyarakat di daerah ini menggunakan istilah arek guna menyebut istilah bocah.
Subkultur Pendalungan menempati daerah bekas wilayah kekuasaan Lamajang Tigang Juru dan Blambangan. Merupakan daerah percampuran antara etnis Jawa dan Madura yang melahirkan corak kebudayaannya sendiri.
Menempati wilayah ujung timur Jawa Timur, sering diistilahkan dengan daerah Tapal Kuda karena jika dilihat dari atas wilayah di sebelah timur kawasan Bromo Tengger Semeru ini mirip dengan ladam tapal kuda.
Sementara itu pulau Madura tetap menjadi basis tradisional berkembangnya budaya asli Madura. Di kawasan Bromo berdiam subkultur Tengger, pewaris tradisi Majapahitan yang masih eksis dengan segala ritual adatnya.
Di bekas wilayah Jipang Panolan, tepatnya di tapal batas Jawa Tengah dengan Jawa Timur bagian utara berdiam subkultur Samin atau Sedulur Sikep. Di pantai utara berdiam subkultur Jawa Pesisiran yang banyak bekerja sebagai nelayan dan petani tambak.
Keberagaman subkultur tersebut telah ada sejak lama, hidup rukun berdampingan hingga saat ini. Tumbuh berkembangnya beragam seni tradisi bisa menjadi penanda cakupan luasan persebaran subkultur di era modern.
Daerah-daerah yang masih gemar menggelar pertunjukan wayang kulit gagrak Mataraman (Jogja-Solo) merupakan daerah persebaran subkultur Mataraman.
Daerah-daerah yang masih gemar menanggap pagelaran Wayang Kulit gaya Jawa Timuran merupakan daerah persebaran subkultur Arek. Kekhasan dialek dan logat bahasa juga menjadi penanda yang paling mudah bagi para penutur bahasa masing-masing pendukung subkultur yang ada.
Wong Mataraman menjunjung etika sopan santun dan sering menggunakan bahasa simbolik dalam menyampaikan maksudnya, menjalankan ritual keagamaan dengan balutan tradisi Jawa yang unik.
Subkultur Arek terkenal dengan sifat keterbukaan dan kedinamisan geraknya. Subkultur Pendalungan terkenal dengan budaya santri dan kecepatannya dalam beradaptasi dengan lingkungan. Subkultur Tengger dan Samin terkenal sebagai penjaga kelestarian adat dan tradisi asli.
Masyarakat Madura terkenal dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, selain sebagai santri yang taat dalam menjalankan syariat agama. Sedangkan subkultur Jawa Pesisiran memiliki karakter terbuka dan mampu beradaptasi dengan perubahan dari luar secara cepat.
Pemetaan budaya diperlukan sebagai landasan awal bagi perumusan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Propinsi Jawa Timur sebagai langkah kongkrit dalam melaksanakan amanat UU No 5 Thn 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta menjalankan Perpres No 65 Thn 2018 tentang Tata Cara Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah dan Strategi Kebudayaan yang baru diundangkan pada 14 Agustus 2018 kemarin.
Semoga Perpres tersebut dapat menjadi kado istimewa bagi segenap anak bangsa yang gandrung akan bangkitnya Kebudayaan Nasional di tengah-tengah peringatan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-73. Dirgahayu Indonesia ! (ist/ditulis Cokro Wibowo Sumarsono)
Tari Langen Putri Gandasari di Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta. Foto: Tribunnews.com.
Bismillah. Rahayu; slamet saka kersa neng Allah (Atas nama Allah. Berkah keselamatan sebab kehendak Allah). Membaca karya tari Langen Putri Gandasari, adalah membaca budaya Jawa yang bersifat ’momot’ (serba memuat; mengisi).
Berbagai ornamen budaya yang dipengaruhi tradisi keagamaan ditampilkan secara sakral, dan cukup menarik. Tarian ini tampil sebagai pembuka acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, beberapa waktu lalu.
Seperti dilaporkan Tribunnews.com, Langen Putri Gandasari, seakan menjelaskan teks historik budaya Jawa yang banyak menyerap nilai-nilai Hinduisme-Budhaisme, melalui proses akulturasi dan sinkretisme; penyatuan nilai-nilai agama, yang menjadi falsafah hidup.
Menggambarkan pandangan hidup orang Jawa yang mengarah pada pembentukan kesatuan numinous (suci), antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap kramat.
Dirilisnya putri Raja pewaris takhta Kahuripan, Kerajaan Airlangga, Dewi Kilisuci, dalam cerita ini, sekaligus menggambarkan Raja dan Keraton adalah simbol puncak peradaban pada masa itu.
Sang Dewi digambarkan melakukan ritual dengan mengadakan sesaji agar masyarakat di sekitar lereng gunung Kelud , terhindar dari malapetaka alam. Bersama rakyat beliau mengadakan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Inilah manifestasi agama yang diintegrasikan dalam kepentingan kekuasaan, dengan konsep; raja-dewa (titising dewa).
Rakyat harus tunduk pada raja untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Agama dijadikan alat legitimasi bagi kekuasan (Kerajaan). Era Wali Songo, budaya Nusantara ini kemudian bergeser dan banyak diwarnai nilai-nilai dan budaya ke-Islam-an.
Jadilah repertoar karya tari; Langen Putri Gandasari ini penuh warna. Ada sesaji, anglo tempat membakar dupa, yang dipersembahkan para gadis-gadis cantik yang menjadi wiraga.
Serta mantra yang dilafazkan sosok pria yang membawa ‘Gunungan’ (wayang) sebagai simbol kehidupan. Persembahan ini menggambarkan bersatunya (akulturasi) budaya Islam dan budaya sebelumnya.
Percampuran kebudayaan ini kemudian diserap menjadi pandangan, pemikiran, amalgamasi, falsafah hidup, dan budaya Nusantara.
Simaklah mantra ini, Bismillah; kalawan nyebut asmaning Allah, kang Maha Welas lan Maha Asih (Dengan menyebut nama Allah; yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Siro-lah, zat Allah, sifat Allah, sifat langgeng, langgeng awit kersaneng Allah. (Engkau-lah, zat Allah, sifat Allah, sifat kekal, kekal selamanya dari yang maha berkehendak, yaitu Allah).
Ingsun nenuwun kersaneng Gusti (Kami memohon kerindhaan-Mu ya Allah). Rahayu, slamet saka kersa neng Allah (Berkah keselamatan sebab kehendak Allah).
“Dengan berpondasikan budaya penuh filosofi, estetika dan etika ini, mari kita gunakan sebagai pijakan untuk menciptakan ayem tenteram, Kediri masyhur, gemah ripah loh jinawi,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Patarina SHut menyampaikan sambutan.
Duta Seni Kabupaten Kediri menampilkan 5 repertoar, tiga diantaranya utuh karya tari; Langen Putri Gandasari, Suran Pamenang, dan Gagahan Topeng Panji Alus.
Kemudian disusul satu penampilan dalam bentuk musik dan lagu, Kediri Lagi yang dibawakan secara kolaboratif. Diakhiri dengan penampilan drama tari bertajuk, Panji Asmarantaka Badar.
Tari Langen Putri Gandasari, menggambarkan upacara sesaji sebagai rasa syukur kepada Tuhan. Sementara Tari Suran Pamenang, merupakan ritual arak-arakan yang kerap diadakan pada 1 Suro (bulan Muharram), simbol kemasyhuran Sri Aji Jayabaya dengan anugerah Jangka Jayabaya. Ritual tersebut sebagai upaya reresik diri (menyucikan diri), ngalab berkah (mencari keberkahan), serta sejahtera dalam hidup.
Tari Gagahan Topeng Panji Alus menggambarkan ketangkasan para prajurit Panji dalam bela Negara. Terampil, sigap, cakap, tegas, dan berwibawa, merupakan karakter dari prajurit Panji.
Selanjutnya duta seni Kabupaten Kediri ini menyajikan dramatari Panji Asmarantaka Badar sebagai tema utama pergelaran.
Dikisahkan, ketika kedua bersaudara Galuh Ajeng dan Galuh Candrakirana berebut boneka emas yang berakhir dengan Galuh Candra Kirana diusir dari kerajaan. Candrakirana selanjutnya menyamar menjadi pria.
Menguasai ilmu perang dan beladiri yang tangguh, dengan nama samaran Panji Asmarantaka. Panji Asmarantaka sengaja melakukan kekacauan untuk memancing perhatian.
Namun hal ini dapat diatasi Panji Inukertapati, sehingga berujung terbongkarnya penyamaran Panji Asmarantaka yang sebenarnya adalah Galuh Candrakirana. Galuh Candrakirana akhirnya menikah dengan Panji Inukertapati dan hidup bahagia.
Hadir di acara ini Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Bapenda Provinsi Jatim Samad Widodo SS MM. Juga pengurus Pawarta Jatim dan jajaran pejabat Pemkab Kediri.
Seniman yang terlibat adalah Eko Priatno TSS (Penulis Cerita) Nur Setyani SSn (Sutradara), Rama Panji SSn (Asisten Sutradara), Sugeng SSn (Penata Musik), Agmarila May Rizki (Penata Tari), Sandhi Tyas (Artistik), Dinar Ringgit (Penata Kostum dan Penata Rias), serta puluhan pengrawit, penyanyi dan penari.
Para Juri Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur adalah Suryandoro SSn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Dra Nursilah MSi (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), dan Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII). (ist)
Sejumlah peneliti di lokasi goa temuan. Foto: Antaranews.com/Slamet Agus S.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban melarang aktivitas penambangan batu kumbung (karst) di sekitar kawasan goa temuan di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, di atas tanah milik Sumosayu, pada awal Agustus lalu.
“Untuk sementara waktu, penambangan di atas goa harus dihentikan sebelum ada rekomendasi lebih lanjut,” kata Wabup Tuban Noor Nahar Hussein, ketika meninjau goa temua, pekan lalu.
Menurut dia, Dinas Lingkungan Hidup bersama stakeholder dan tenaga ahli, akan membuat peta dan skema areal goa serta lokasi yang dilarang untuk melakukan aktivitas penambangan.
Hal ini dilakukan mengingat banyak warga yang melakukan aktivitas penambangan di lokasi sekitar goa. “Dikhawatirkan terjadi longsor yang dapat memakan korban jiwa,” tuturnya kepada AntaraJatim.
Ia juga menginstruksikan petugas, pemerintah desa (pemdes) juga masyarakat ikut mengamankan keberadaan goa temuan di desa setempat.
Terkait dengan lokasi goa yang berada di lahan warga, ia mengatakan bahwa hal tersebut dapat dibicarakan kemudian setelah semuanya ada kejelasan dari lembaga terkait, baik dari aspek geologi maupun konservasi lahan. “Pemkab akan mendata luas areal goa,” katanya menegaskan.
Menurut dia, pemkab juga akan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan pakar geologi nasional, sebagai langkah menindaklanjuti temuan goa itu untuk langkah selanjutnya dengan mengacu pada kajian ilmiah.
“Bila dinyatakan layak sebagai objek wisata, pemkab akan mendukung penuh pengembangan destinasi wisata goa tersebut,” ucapnya.
Goa yang ditemukan secara tidak sengaja tersebut berada di areal penambang batu kumbung (karst) milik salah seorang warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Sumosayu, yang didalamya ada stalagtit dan stalagmit menjadi kekhasan dari gua ini.
“Goa ini belum pernah terjamah tangan manusia, jadi benar-benar alami. Dengan dijadikan objek wisata dapat meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa Jadi,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Sudariono warga desa Jadi, penemu goa sekaligus pemilik areal tambang menceritakan kronologi penemuan goa yang panjang di dalamnya ratusan meter dengan ketinggian 20 meter lebar sekitar 15 meter.
Pada awalnya, tengah menambang seperti biasanya. Saat memotong batu kumbung, tiba-tiba muncul lubang yang menghembuskan angin dari dalam.
Bersama dengan penambang lain, Sudariono membuat lubang yang lebih besar yang digunakan sebagai pintu masuk. Selanjutnya, ketika turun ke dalam Sudariono terkejut melihat kondisi goa yang memiliki stalagmit dan stalagtit yang menjulang hingga menyentuh atap goa. (ist)
Patung Dwarapala, patung asli Tulungagung. Foto: JatimTimes.com/Anang Basso.
Tahukah kalian, di Tulungagung beberapa arca tampak mirip dengan patung Retjo Pentung sebuah merk rokok yang pernah berjaya di era nya. Nah, patung itu akan diketahui jika kita masuk ke wilayah Kota Tulungagung.
Tiap masuk wilayah yang sudah dikatakan kota, maka kita akan disambut sepasang patung yang bernama Dwarapala.
Patung raksasa ini berada di empat penjuru pintu masuk Kota Tulungagung. Di sisi utara berada di Kedungwaru, tepatnya di depan Masjid Baiturahman di Jalan Pahlawan.
Di sisi timur di Jalan Mayor Sujadi, Kelurahan Jepun, tepatnya di depan bekas pabrik rokok Retjo Pentung.
Di selatan ada di batas desa Beji, Kecamatan Boyolangu dan Kelurahan Tamanan.
Sedangkan di barat berada di sebelah barat Jembatan Lempupeteng, berjarak sekitar 100 meter.
Di masing-masing lokasi ini, ada dua arca yang mengapit jalan akses ke Kota Tulungagung. Namun banyak warga Tulungagung yang tidak arti penting arca ini.
“Banyak yang mengira arca ini peninggalan Pabrik Rokok Retjo Pentung. Padahal bukan,” ujar pengelola Museum Wajakensis, Hariyadi, seperti ditulis JatimTimes.com.
Patung ini bahkan sudah ada jauh sebelum berdirinya pabrik rokok yang sudah tutup ini. Dwarapala Tulungagung ini unik karena tidak mewakili dwarapala kerajaan yang pernah ada, seperti Kediri maupun Majapahit.
Dari sisi bentukpun ada yang memakai kuncir, dan posisinya saling berhadapan.
“Karena bentuknya yang unik itu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan sempat turun meneliti,” tutur Hariyadi.
Penelitian untuk mengungkap, dari mana asalnya arca di batas kota ini dan akhirnya disimpulkan jika arca-arca ini memang bukan dari era kerajaan, namun arca asli Tulungagung.
Sekitar tahun 1900 terjadi pemindahan ibu kota Kabupaten Ngrowo dari Kauman ke Kuto Anyar (Tulungagung) dan pada tahun 1901 barulah patung ini ada dan sengaja dipasang sebagai tolak bala di empat penjuru kota.
“Filosofi patung ini memang untuk tolak bala. Jadi mungkin maksudnya agar ibu kota kabupaten yang baru bisa terbebas dari mara bahaya,” terangnya.
Pendapat lain arca ini sebagai sengkolo atau penanda hari. Keberadaan arca ini untuk menandakan pemindahan ibu kota kabupaten dari Kauman ke Tulungagung.
Lanjut Hariyadi, apa pun fungsi dari arca itu namun sudah termasuk cagar budaya lokal Tulungagung. Karena itu keberadaannya wajib dilindungi oleh masyarakat dan pemerintah setempat.
“Menurut Undang-undang lebih dari 50 tahun, punya ciri tertentu dan mewakili budaya lokal sudah dianggap cagar budaya lokal, bukan nasional,” pungkasnya. (ist)
Tur tematik di PT Boma Bisma Indra. Foto: House of Sampoerna.
Museum House of Sampoerna (HoS) Surabaya merilis program tematik yaitu tur Surabaya Heritage Track (SHT) ‘Surabaya Kota Industri’ yang diadakan pada 14 Agustus hingga 13 September 2018.
Trackers akan diajak untuk menyaksikan kekuatan industri Surabaya di masa lalu dengan berkunjung ke PT Boma Bisma Indra.
Serta menyaksikan berkembangnya industri kebutuhan konsumsi yang tercermin pada perjalanan bisnis PT HM Sampoerna dengan berkunjung ke Museum House of Sampoerna.
Tur tematik SHT diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan sejarah kota Surabaya serta berbagai bangunan dan kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Tur SHT dapat dinikmati oleh wisatawan secara cuma-cuma. Melalui berbagai tur SHT, trackers tak hanya dapat menikmati berbagai bangunan cagar budaya, namun juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru.
Kota Industri
Surabaya merupakan salah satu kota kolonial yang memiliki letak geografis yang strategis. Karenanya Surabaya berkembang menjadi kota pelabuhan yang sibuk.
Sekaligus pusat perekonomian yang diperhitungkan karena ditunjang oleh perindustrian modern yang tumbuh pesat.
Menariknya, penanda awal kebangkitan industri modern di Surabaya adalah dengan didirikannya pabrik senjata Artilleri Constructie Winkel oleh Gubernur Jendral Daendels di tahun 1808. Sebagai upaya melindungi kota Surabaya dan pulau Jawa dari serangan Inggris.
Pemberlakuan tanam paksa sejak 1830 telah memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan industri modern di Surabaya.
Pabrik-pabrik gula di masa itu mulai beralih menggunakan tenaga mesin demi meningkatkan kapasitas produksi, sehingga permintaan akan mesin-mesin produksi pun meningkat.
Perkembangan industri modern Surabaya semakin pesat seiring dengan diterapkannya Undang-undang Agraria pada tahun 1870 yang membuka peluang bagi swasta untuk berinvestasi.
Sayangnya, iklim positif tersebut terhambat lantaran pecahnya Perang Dunia I (1914-1918) yang berujung pada depresi ekonomi dan memberikan pukulan pada sektor industri, khususnya industri mesin-mesin berat.
Ditengah situasi yang lesu, industri barang kebutuhan konsumsi / barang siap pakai justru menunjukkan geliat dengan bermunculannya pabrik es batu, rokok, minyak goreng, roti dan lainnya. (ita)