Saat Seni Indonesia ke Pentas Dunia

foto
Wakil Kepala Bekraf Ricky Josep Pesik saat jumpa media di Jakarta. Foto: Bekraf.go.id.

Pameran seni rupa kontemporer Indonesia kini semakin berkembang. Di beberapa kota di Indonesia tiga biennale akan hadir dalam waktu berdekatan, Jakarta Biennale, Jogja Biennale, dan Makassar Biennale.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendukung hadirnya biennale ini di berbagai kota sebagai kesadaran pemerintah untuk mengangkat seni budaya kontemporer Indonesia di pentas dunia.

“Penyelenggara sepakat menyajikan acara ini secara simultan karena sangat efektif dan memudahkan Indonesia untuk menarik tamu-tamu internasional,” ujar Wakil Kepala Bekraf Ricky Josep Pesik di jumpa pers tiga kota biennale di Senayan City, Jakarta.

Menurut Ricky pameran ini penting dihadirkan ke publik untuk mengangkat peran seni kontemporer Indonesia di dalam konstelasi dunia seni rupa saat ini, hal ini senada dengan arahan Presiden Jokowi agar menyajikan Indonesia lebih komprehensif. Ia juga menambahkan jika acara ini sukses, maka hal yang sama dapat dijadikan agenda rutin dua tahunan.

Secara berurutan Jogja Biennale akan dibuka pada tanggal 2 November dengan melanjutkan seri “Equator”nya. Kali ini akan hadir Equator #4 dengan tema utama STAGE of HOPELESSNESS. Acara ini akan berlangsung hingga 10 Desember di Museum Nasional Jogja dan menghadirkan 27 seniman Indonesia yang telah dikurasi dan 12 seniman Brasil.

Sementara itu Jakarta Biennale akan dibuka pada tanggal 4 November-10 Desember dengan mengangkat tema “JIWA” yang akan berlangsung di tiga tempat yaitu Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Seni Rupa dan Keramik dan Museum Sejarah Jakarta. Acara ini akan melibatkan 51 seniman Indonesia dan mancanegara.

Sedangkan Makassar Biennale akan hadir pada 8-28 November di Menara Pinisi, Makassar dengan menghadirkan tema “Maritim”. Seniman dari Aceh hingga Papua direncanakan akan berpartisipasi dalam acara yang digelar untuk kedua kalinya ini.

Anwar ‘Jimpe’ Rachman, selaku Direktur Makassar Biennale 2017 menjelaskan bahwa Makassar Biennale menetapkan Maritim sebagai tema abadi. “Ini ajang seni rupa kontemporer terbesar di Indonesia Timur, dan mungkin termasuk Biennale terbesar di dunia yang berbasis Maritim,” ujarnya.

Di dalamnya pula bukan hanya jaringan seni rupa nasional dan internasional yang mengemuka. Makassar Biennale membuka ruang bagi warga berjejaring dengan menampilkan dan memamerkan karya-karya UKM rintisan (maksimum berusia 2 tahun).

Ini menandakan bahwa bukan hanya antar seniman dan seniman yang “bertransaksi”, warga (yang ketika Biennale berakhir) pun akan terus bergeliat dengan usaha-usahanya.”

Biennale saat ini tampaknya menjadi sebuah prasyarat bagi negara mana pun yang ingin bergabung pada peta seni budaya kontemporer dunia. Indonesia, melalui ketiga Biennale yang hadir adalah salah satu peserta dunia yang penuh dengan rasa optimis untuk mensinyalkan kedatangannya di kancah seni budaya dunia. (sak)

Presiden Jokowi Minta ‘10 Bali Baru’ Dipercepat

foto
Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas ‘Pengembangan 10 bali Baru’. Foto: Biro Setpres.

Presiden Joko Widodo mengemukakan, adanya pergeseran orang untuk tidak belanja barang, tidak belanja merk, tetapi senang traveling, senang wisata, senang mencoba restoran baru, senang mencoba Kafe, senang mencoba makanan-makanan yang khas.

“Ini sebuah kesempatan yang harus kita manfaatkan,” kata Presiden Jokowi saat menyampaikan pengantar pada Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Pengembangan 10 Bali Baru, yang digelar di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/11) siang.

Kepala Negara juga menunjuk terjadinya lonjakan turis Tiongkok, dimana sesuai data terakhir adalah sebesar kurang lebih 125 juta, yang akan berkembang dalam lima tahun ini kemungkinan menjadi 180 juta, dan itu akan naik terus.

Itu, lanjut Presiden, hanya baru dari satu negara. Dari Tiongkok saja itu, menurut Presiden, hampir separuhnya masuk ke ASEAN. Separuh dari 125 juta, artinya 62 juta masuk ke ASEAN.

Presiden Jokowi meyakini, dari angka itu, kalau kita memiliki destinasi 10 Bali baru yang digarap secara cepat, disiapkan secara baik, tentu saja dengan diferensiasi yang berbeda antara destinasi satu dengan destinasi yang lain, maka ini akan menjadi sesuatu yang menarik.

“Sehingga orang datang ke Indonesia bisa datang karena ketertarikan keindahan pantainya, bisa juga karena keindahan budayanya misalnya Borobudur, bisa juga datang karena keindahan goanya, bisa datang karena keindahan geopark-nya, bisa datang karena keindahan danaunya yang sangat besar seperti Toba, bisa datang karena ingin diving dan surfing misalnya,” ujar Presiden.

Menurut Presiden, kira kita harus memiliki pembeda-pembeda seperti itu, sehingga diharapkan dari 62 juta yang hanya dari satu negara itu, misalnya separuh saja atau sepertiganya saja datang ke kita, berarti sudah 20 juta.

“Ini baru dari satu negara. Sehingga kalau target yang kita berikan kepada Menteri Pariwisata tahun 2019 itu angkanya adalah 20 juta, itu juga bukan sesuatu yang, menurut saya, bukan sesuatu yang amat sulit untuk kita capai,” tutur Presiden.

Untuk penuhi target itu, Presiden Jokowi menekankan, agar 10 Bali Baru ini harus cepat dirampungkan. Ia meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Kementerian Lingkungan Hidup, Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), dan Kementerian Koperasi dan UKM, semuanya harus siap terintegrasi dalam sebuah program pengembangan yang sudah diputuskan.

Bangunan Adat
Kepala Negara memberikan contoh, misalnya kita ingin mengembangkan Mandalika atau Danau Toba, ya lingkungannya harus disiapkan. Ia menunjuk contoh misalnya Mandalika, bagaimana bukit-bukit yang ada di kanan kiri itu gundul semuanya segera ditanam. Kemudian bangunan-bangunan adat, jangan sampai di situ malah bangunan adatnya dihilangkan, diganti dengan arsitektur yang Spanyol atau Mediterania, misalnya.

“Bangunan adat ini harus betul-betul kita perhatikan,” tutur Kepala Negara.

Sementara di Danau Toba misalnya, Presiden mempertanyakan, kenapa rumah-rumah yang sangat bagus, warna warni seperti itu tidak dipakai menjadi sebuah brand untuk Danau Toba. Ia menunjuk contoh restoran misalnya, menurut Presiden, Bekraf bisa mengintervensi, atau Kementerian Pariwisata bisa mengintervensi, sehingga seperti di Toba restorannya bisa di-upgrade bersama-sama. Entah dari sisi desain, entah dari sisi fasad depan.

Kemudian juga lingkungannya, Presiden mengaku sudah menyampaikan ke Menteri PUPR misalnya, untuk pasar cenderamata, bisa Menteri Perdagangan atau Menteri PU, kawasan parkir, kawasan dekat pantai.

Sebab kalau tidak, menurut Presiden, nanti akan kedahuluan oleh pedagang-pedagang kaki lima yang bertebaran dimana-mana. “Kita siapkan satu tempat untuk mereka, sudah berjualan di situ, pasar cenderamata,” tutur Kepala Negara.

Untuk Mandalika, Presiden menyarankan untuk minta saja 2 hektar atau 3 hektar untuk pasar cenderamata, yang bangun bisa Kementerian Perdagangan bisa Kementerian PUPR, dengan desain-desain arsitektur lokal yang baik.

Kemudian tempat pemberhentian bus dan lain-lain atau restoran-restoran kecil milik masyarakat, Presiden menyarankan untuk disiapkan. Jangan sampai dibiarkan masyarakat secara sendiri-sendiri membikin sehingga yang terjadi adalah PKL (pedagang kaki lima) yang bertebaran dimana-mana.

“Penghijauan, saya harapkan, misalnya di Toba, di Mandalika, betul-betul digarap secara baik sehingga benar-benar lingkungan yang ada itu sebuah lingkungan yang baik, tidak gundul,” kata Presiden.

Inilah, tutur Kepala Negara, yang menarik untuk segera dikerjakan. Kepala Negara mengingatkan, ini memerlukan kecepatan dalam merespon perkembangan pariwisata global yang begitu sangat cepatnya. (sak)

Keteguhan Harmony Boen Bio di Jalur Musik Religi

foto
Anggota Harmony, grup musik Boen Bio, setelah berlatih di ruang musik kelenteng. Foto: Salman Muhiddin/Jawa Pos.

SPIRIT Wong Feihung, tokoh legendaris bela diri, ulama, sekaligus tabib, asal Tiongkok, merebak di Kelenteng Boen Bio, Minggu (5/11). Semangat itu menggelora dari ruangan sempit, berukuran 2 x 5 meter, di belakang kelenteng.

Nan er dang zi qiang, lagu tema film Once Upon a Time in China sedang dimainkan grup musik Harmony. Film yang dibintangi Jet Li tersebut memang tontonan populer pada tahun 90-an. Filmnya legendaris, lagu temanya juga legendaris. Mendengarkannya seperti bernostalgia.

Siang itu, sejumlah umat kelenteng belum pulang. Ada arisan. Mereka yang belum pulang mendekat seperti terseret magnet. Dentuman floor tom drum dan suara pecah simbal yang digebuk Lim Tiong bikin merinding. “Ciamik,” ujar salah seorang perempuan lanjut usia sambil manggut-manggut.

Penonton dadakan itu mengintip dari pintu dan jendela ruang musik tersebut. Sengaja tidak disebut studio musik. Sebab, setengah ruangan itu adalah gudang. Lemari penyimpanan dan perkakas di dalam kardus harus berdesak-desakan dengan alat musik beserta pemainnya.

Di dalamnya ada sembilan pemain musik yang ditemani dua kipas angin. Mereka berpeluh, tapi tidak mengeluh. Yang ada malah raut gembira karena bisa berkumpul dan berlatih.

Saat itu vokalis yang datang hanya satu. Yakni, Jefferson. Vokalis perempuan berhalangan hadir untuk latihan. ”Enggak masalah. Saya bisa suara laki-laki dan perempuan,” ucap pria yang mampu menyanyikan lagu-lagu dengan nada tinggi tersebut setengah berkelakar.

Di dalam ruangan itu, ada pemain drum, keyboard, gitar, dan bas. Ada juga empat pemain alat musik tradisional Tionghoa. Alat musik modern berpadu dengan tradisional.

Alat musik paling besar, yangqin, dimainkan Chung Hian. Alat musik yang punya banyak dawai itu dimainkan dengan cara dipukul secara lemah lembut. Alat pemukulnya terbuat dari bambu tipis dengan ujung berlapis karet.

Indira Agustin memainkan guzheng. Kotak cembung dengan 21 dawai itu dimainkan dengan cara dipetik. Dawai-dawai tersebut disetel pada nada pentatonis yang terdiri atas do, re, mi, sol, dan la. Sudah ada empat kuku palsu yang terpasang di jemari arsitek perempuan itu.

Djin Meng menjadi tukang tiup. Dia adalah pemain dizi, seruling tradisional Tionghoa yang mengisi nuansa romantis dan kalem. Sebelum dimainkan, dia sibuk memasang membran tipis di salah satu lubang dizi. Sangat tipis. Setipis kulit ari buah salak. Tersenggol sedikit bisa robek.

Yang terakhir adalah erhu. Hampir sama dengan biola. Bedanya, alat musik gesek tersebut hanya memiliki dua senar. Sedangkan biola punya empat. ”Kalau di sini kayak yang dipakai tukang arum manis. Tapi, mereka pakai kaleng susu,” ujar Bing Slamet Wijaya, pencetus grup musik Boen Bio kepada Koran Jawa Pos.

Erhu yang dia pakai menggunakan tabung kayu. Di bagian depan terdapat sisik ular yang berfungsi menyalurkan getaran dari senar erhu. Semakin besar sisik ular itu, semakin merdu suara yang dihasilkan. Sisik besar biasanya diambil dari bagian kepala ular.

Lagu-lagu pop memang sering digunakan untuk latihan. Namun, yang terpenting pada latihan setiap pekan adalah mematangkan lagu-lagu rohani. Misalnya, lagu Sinar Pancaran atau Doaku yang biasa dimainkan sebelum doa. Beberapa lagu pujian baru juga harus dimatangkan.

Setelah berlatih, para pemain menyantap gorengan tahu isi dan es blewah. Mereka mengisi kembali tenaga setelah dua setengah jam berlatih. Sambil duduk di lorong gedung di belakang kelenteng, Bing menceritakan kisah terbentuknya grup musik.

Menurut dia, musik adalah elemen penting ritual umat Khonghucu. Nabi Kongzi sangat suka dengan musik. Karena itu, lagu-lagu pujian selalu dilantunkan ketika beribadah. Terutama saat hari-hari besar keagamaan Khonghucu.

Namun, Kelenteng Boen Bio tidak memiliki grup musik hingga awal 1980-an. Pada 1981, Bing menginisiatori terbentuknya grup musik untuk peringatan hari lahir (harlah) Nabi Kongzi.

”Saya bikin drum dari timba,” ujarnya sambil terus meringis karena mengingat peristiwa itu. Karena keterbatasan, drum pun tidak terbeli. Simbalnya dari seng bekas yang digunting. Hi-hat drum diganti tamborin alias icik-icik. Pemukul bas drum yang diinjak dia bikin sendiri dari kayu dan pegas. Kreatif. Kepepet.

Drum bikinan sendiri itu diiringi musik gitar dan organ. Jemaat kelenteng yang melihat saat itu kaget. Namun, Bing dan kawan-kawannya cuek saja. Yang penting, tujuan dan niatnya mulia. Tentu Tuhan tidak mempermasalahkan cara umatnya beribadah meski dalam keterbatasan.

Pertolongan lalu datang secepat kilat. Salah seorang jemaat yang melihatnya merasa iba. Dia memberikan sejumlah uang untuk membeli drum buat kelenteng. ”Untuk beli drum butuh berapa?” ujar Bing yang menirukan salah seorang pengusaha dermawan itu.

Bing menyebut Rp 50 ribu. Itu sudah sangat banyak. Bing lantas pergi ke Praban, pusat alat musik paling lengkap pada zaman itu. Ternyata harga drum cuma Rp 35 ribu. Susuknya (uang kembalian) Rp 15 ribu dia gunakan untuk membeli gitar dan kabel-kabel untuk pertunjukan selanjutnya. Gairah bermusik pun semakin berkobar.

Di grup musik tersebut, Bing dianggap sebagai nyawanya. Sebab, Bing bisa segala alat musik. Dia juga merekrut pemain-pemain baru dan mengajari mereka.

Di antara seluruh personel grup musik itu, hanya Bing yang berprofesi sebagai guru musik. ”Saya tekuni gitar. Alat musik lainnya sekadar bisa lah, ” ujar pria asal Sidoarjo tersebut merendah.

Bing mengabdikan sebagian waktunya untuk grup musik kelenteng. Hidupnya memang dari musik. Kisah masa kecilnya mirip film August Rush. August, seorang bocah yang tiba-tiba mahir bermain musik dan menjadi komposer genius.

Saat Bing duduk di bangku TK nol besar, dia bisa menirukan permainan piano gurunya. Gurunya kaget karena Bing belum pernah belajar piano sebelumnya. Di rumah, kemampuan bermusiknya diasah dengan seruling Jawa dan harmonika.

Saat kelas I SD, penglihatannya menurun. Setelah diperiksakan ke dokter mata, kondisinya bertambah parah. Sebab, dokter salah memberi dia kacamata. Namun, di tengah keterbatasan melihat, kemampuan mendengar Bing semakin terasah.

Saat itu suasana politik sedang genting. Bing yang masih SD terpaksa putus sekolah. Memang, ketika itu pemerintahan Orde Baru membatasi praktik budaya Tionghoa. Sekolah-sekolah Mandarin pun ditutup.

Lagi-lagi, ada hikmahnya. Bing lebih fokus belajar musik di rumah. Hingga kini dia bisa memainkan lebih dari 12 alat musik. Dia juga memiliki kemampuan sebagai komposer lagu. Mengingat sulitnya kehidupan saat itu, dia miris melihat minimnya minat penerus grup musik kelenteng.

Padahal, saat ini sudah 17 tahun etnis dan budaya Tionghoa diakui negara. Dahulu, jangankan bergabung di grup musik kelenteng, beribadah saja dibatasi. Pertunjukan musik Tionghoa tidak boleh secara terang-terangan atau ditampilkan di muka umum.

Saat ini hak-hak warga Tionghoa telah dikembalikan. Namun, para pemuda masih ogah melirik hal-hal yang berbau tradisional. ”Malah orang Jawa yang suka saat lihat kami tampil,” jelas Bing.

Secercah harapan muncul setelah Doni, 15, dan Erwin Suwanto, 13, bergabung. Keduanya adalah murid les Bing. Dua kakak adik tersebut mengisi posisi drum dan keyboard di grup musik Harmony. Sudah diajak manggung bareng. Memang, selain di kelenteng, Harmony sering menerima undangan untuk tampil di berbagai tempat.

Dua remaja tersebut juga terus berlatih alat-alat musik tradisional. Mereka tidak terlihat canggung saat berlatih. ”Awalnya memang minder karena yang main senior-senior,” jelas Doni, putra Candra Suwanto.

Doni kini belajar erhu dan guzheng. Begitu pula adiknya. Dia mengaku tertarik dengan musik tradisional karena keunikannya. Selain itu, di Indonesia pemain musik tradisional Tionghoa belum banyak.

Doni pernah mengajak teman-temannya untuk bergabung. Ada yang mau. Tapi, di tengah perjalanan, mereka memutuskan untuk keluar. Alasannya, tugas sekolah menumpuk. Siswa kelas XI SMK St Louis Surabaya itu juga punya banyak tugas. Agar bisa berlatih di Boen Bio, dia harus menuntaskan seluruh PR-nya pada Sabtu.

Seluruh pemain musik di grup itu memang harus punya komitmen saat berlatih atau tampil. Yang sekolah harus menyelesaikan PR, yang bekerja sebagai pedagang harus meninggalkan dagangannya, dan yang bekerja di perusahaan harus izin ke bos.

Sebelum mengakhiri pertemuan sore itu, pemain yangqin, Chung Hian, menitipkan pengumuman untuk dikorankan. Maklum, sangat susah mencari peminat alat musik tersebut.

Di Kelenteng Boen Bio, hanya dia yang bisa. ”Dicari pemain yangqin, nanti ada hadiah menarik. Kira-kira begitu bunyi pengumumannya,” jelas pria yang pandai melawak itu. (jpg)

Kompak Berbaju Hitam, Sempat Dikira Cari Orang Hilang

foto
Kapalasastra FIB UGM saat berada di Gunungsari, Surabaya. Foto: Guslan Gumilang/Jawa Pos.

SUNGAI Brantas menjadi saksi kejayaan Kerajaan Majapahit. Membentang sejauh 320 kilometer membelah Jatim, tentu ada banyak peninggalan yang bisa ditelusuri di sepanjang sungai tersebut.

Itulah yang berusaha dicari sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Kapalasastra, kegiatan mapala Fakultas Ilmu Budaya UGM Jogjakarta.

Selama tujuh hari, mereka menyusuri Sungai Brantas. Tidak semua disusuri, hanya sepanjang 200 kilometer. Dengan kekuatan mendayung perahu secara manual, mereka berhasil menuntaskan ekspedisi pada 29 Oktober itu.

Dari 13 anggota tim, tidak semua turun ke sungai. Hanya empat orang yang menjadi bagian dari tim arung sungai. Sisanya menjadi tim peneliti dan tim support.

Nurdin Nasyir Gusfa dipercaya sebagai ketua tim ekspedisi kali ini. Dia sendiri ikut mendayung di sungai, mulai Blitar hingga Surabaya. Mengapa Sungai Brantas?

“Karena sungai ini merupakan cerminan dari kemegahan Majapahit zaman dulu. Kami ingin melihat bagaimana kondisinya sekarang,” jelas Nurdin kepada Koran Jawa Pos ketika baru tiba di Gunungsari, Surabaya.

Sambil beristirahat setelah mendayung tujuh hari, Nurdin dan kawan-kawannya menceritakan ekspedisi mereka. Sejak berangkat dari Blitar, aliran Sungai Brantas cukup tenang. Saking tenangnya, mereka harus mengerahkan tenaga ekstra jika ingin cepat sampai di tujuan.

Nurdin dan ketiga kawannya menaiki perahu serupa kano. Tidak ada mesin. Dalam sehari, mereka membatasi waktu mendayung selama delapan jam saja. “Berangkat pukul 08.00. Pukul 16.00 sudah sampai di kamp,” tutur mahasiswa asal Banjarnegara, Jawa Tengah, itu.

Tempat peristirahatan atau kamp mereka bisa di mana saja, asal ada tempat lapang untuk istirahat. Sembari melepas lelah, biasanya ada saja orang-orang yang mampir dan bertanya apa yang mereka lakukan. Ketika masih di daerah Blitar hingga Kediri, warga sering mengira mereka sedang mencari orang hilang.

“Cuma satu-dua kali. Hampir semua tanya begitu. Nyari orang hilang ya, Mas, Mbak?” tutur Hanung Galih Wigati, satu-satunya perempuan dalam tim arung sungai.

Gara-garanya, mereka memang kompak memakai baju warna hitam selama mendayung. Selama pengarungan sungai, Nurdin dan kawankawan melakukan plotting atau pemetaan. ” Yang kami petakan adalah jumlah penambangan,” ujar Nurdin.

Sebab, lanjut dia, berdasar literatur, penambangan atau perahu tambang menjadi salah satu penggerak ekonomi penting zaman Kerajaan Majapahit. Dulu saja, sudah ada 34 penambangan di sepanjang sungai.

“Menariknya, desa yang punya penambangan itu bebas pajak,” lanjut Nurdin sebagaimana yang dia baca dari teks tentang Prasasti Nitipradesa.

Saat ini, berdasar hasil penelusuran Kapalasastra, Sungai Brantas punya kurang lebih 60 titik penambangan. Mereka sendiri belum bisa menarik kesimpulan dari hasil ekspedisi tersebut. “Dilaporkan dulu ke dosen, kemudian didiskusikan,” jelas Nurdin. (jpg)

Wayang Airlangga, Biar Gak Hanya Tahu K-Pop

foto
Wagub Jatim bersama Rektor ITS diatas panggung. Foto: Unair News.

Pertunjukkan wayang orang sebagai rangkaian penutup kegiatan Dies Natalis Universitas Airlangga (Unair) ke-63 digelar di Balai Pemuda, akhir pekan lalu.

Seni peran yang ditampilkan kali ini mengangkat tema Prabu Airlangga. Tema tersebut diambil untuk lebih mengenalkan generasi millienial akan budaya Indonesia, dalam hal ini sejarah Prabu Airlangga.

“Seni panggung wayang orang yang menarik akan memberikan efek positif bagi para penonton. Khususnya, bagi anak muda. Agar lebih tertarik melestarikan budaya Indonesia,” ucap Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, yang hadir dalam acara tersebut.

Rektor Unair Prof Moh Nasih seperti dilaporkan Unair News mengatakan, apa yang dilakukan oleh Prabu Airlangga, baik perjuangan maupun perannya dalam sejarah, memiliki banyak nilai moral. Semua itu dapat menjadi teladan dalam aspek kepemimpinan.

“Gaya kepemimpinannya dalam mensejahterakan rakyat terangkum dalam lakon ini. Hal itu harus diketahui oleh generasi sekarang,” ucap Prof Nasih dalam sambutannya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair yang juga penanggung jawab acara, Diah Arimbi PhD mengatakan generasi milineal dapat menjadikan Prabu Airlangga sebagai contoh kongkret.

“Airlangga berhasil menyatukan kerajaan-keraajaan kecil untuk membangun kerajaan yang lebih besar, dan itu terbukti bisa terealisasi dan berjalan dengan baik,” ucap Diah. “Belajar sejarah itu tidak hanya monoton lewat buku. Namun juga bisa lewat media seni,” lanjutnya.

Selama ini, lakon dan tokoh sejarah yang ditampilkan di wayang orang umumnya Ramayana dan Mahabarata. Yang sifatnya fiksi. Mahabarata pun berasal dari India, sehingga bisa dikatakan sebagai cerita pinjaman. Padahal, banyak tokoh di Indonesia yang memiliki “aura” super hero, seperti halnya, Prabu Airlangga.

Diah menambahkan, mengakarkan identitas bangsa adalah salah satu tujuan seni pertunjukan ini. Berusaha mengajak untuk menggali budaya sendiri. “Sehingga, generasi kekinian tidak hanya akrab dengan budaya K-Pop. Tokoh Airlangga dengan Patih Narotama yang setia, bisa jadi teladan yang menarik dalam perspektif kearifan lokal,” paparnya. (ita)

Kisah Juru Rias Hajatan Jokowi Mantu

foto
Harini dan suaminya M Topo Broto. Foto: Fahmi Samastuti/Jawa Pos.

WAJAH Harini terlihat cemas. Bersama suaminya, M Topo Broto, dilihatnya lagi daftar nama anggota keluarga yang harus dicek. ”Piye iki (bagaimana ini) kok belum banyak yang rias?” tanya Harini.

Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Di lantai 5 Hotel Alila, Solo, Selasa (7/11) itu, baru terlihat beberapa orang. Jadilah ke-12 perias Harini lebih banyak mondar-mandir dan mengobrol di sekitar ruang rias.

Padahal, setelah magrib, mempelai lelaki Bobby Nasution dan keluarga yang jadi tanggung jawab Harini dan tim untuk dirias sudah harus berangkat menuju kediaman sang calon mertua, Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Di sana akan berlangsung seserahan sekaligus mengambil ageman untuk akad nikah dan resepsi hari ini (8/11). ”Baru sedikit yang ke sini. Padahal, total (yang harus dirias, Red) ada 70 orang lebih,” imbuhnya, seperti dilaporkan Koran Jawapos.

Pernikahan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution ini bukan pengalaman pertama Harini terlibat dalam hajatan mantenan kepala negara. Dua tahun lalu, perempuan kelahiran Lumajang, 1 Mei 1952, itu juga menangani tata rias untuk pernikahan Gibran Rakabuming, putra sulung Jokowi, dengan Selvi Ananda.

Harini memang salah seorang penata rias tradisional yang tergabung di Chilli Pari, usaha wedding organizer yang dirintis Gibran. ”Pokoknya, kalau mau merias (siapa saja), harus bersiap, nggak bisa cuma asal rias,” tuturnya.

Harini mengaku selalu berpuasa setiap akan melakukan rias. Kadang-kadang puasa Senin-Kamis. Kadang-kadang puasa Daud. ”Begitu diminta, saya langsung bersiap puasa. Supaya Yang Kagungan Kersa berkenan dan hasil riasnya juga baik,” ungkapnya.

Bukan hanya Harini yang bersiap. Mantan pegawai di Dinas Perhubungan Kota Solo itu juga selalu berpesan kepada kedua calon pengantin. ”Lakune dijaga. Kalau bisa, sama puasa dan salat Tahajud,” tuturnya.

Menurut Harini, ‘ritual’ tersebut merupakan salah satu ajaran yang dia dapat dari kelas Pawiyatan Keraton. Di tempat itulah nenek tiga cucu tersebut belajar ilmu seputar rias dan tata cara upacara adat.

Masuknya Harini ke dunia rias berawal dari keinginannya mengisi waktu luang. Sebab, dia merasa masih banyak waktu setelah jam kantor yang bisa dimanfaatkan. Apalagi, sang suami ketika itu masih bekerja di pelayaran sehingga jarang di rumah.

Harini pun memutuskan ikut ‘kelas’ yang diadakan Pawiyatan Keraton. Tiga kali dia mengikuti babaran atau pembukaan kelas. Yakni babaran 2, 8, dan 11. Kini Pawiyatan Keraton sudah memasuki babaran 30-an. ”Baru lolos yang (babaran) 11. Karena sebelumnya saya masih sibuk di kantor,” ungkapnya.

Di kelas itu Harini mempelajari banyak hal tentang adat Jawa, khususnya Surakarta. Mulai menjadi pamuwicara alias membawakan acara dengan bahasa Jawa inggil. Hingga tata rias.

Harini juga mengambil kelas tata rias beragam riasan pengantin dari daerah lain di Nusantara lewat sekolah tata rias yang dibuka dinas pendidikan kala itu. ”Rumit, karena harus ngapalin banyak paes (tata rias),” kenangnya.

Yang tersulit bagi Harini adalah paes ala Keraton Jogjakarta dan Surakarta. ”Dua itu dan riasan pengantin Bali. Banyak detailnya, sementara kalau Bali, sesajinya banyak,” papar Harini.

Debutnya pun dilakoni pada 1989. Dari awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, layanan riasnya berkembang sampai bertemu dengan banyak klien dari kalangan pejabat. Dia pernah merias untuk pernikahan anak pertama Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo. Juga beberapa artis. ”Ya nggak hafal satu per satu. Cuma, yang saya ingat, paling jauh dari Palembang. Masih temannya Pak Jokowi,” lanjutnya.

Klien begitu banyak, tapi ketika putri tunggalnya, Heni Ariati, menikah, justru bukan dia yang menangani. ”Sebenarnya ya boleh, cuma nggak saya lakoni. Saya merias waktu ijab kabul saja,” ucapnya.

Seiring jarum jam yang terus bergulir, satu per satu keluarga Bobby pun berdatangan. Dengan terampil Harini dan tim merias mereka. Pukul 18.00 tepat, rombongan pun meninggalkan hotel menuju kediaman Jokowi di kawasan Banjarsari, Solo.

Di sana jalannya acara pun jadi tanggung jawab rekan kerja Harini, Umijatsih. ”Saya sama Bu Umi (sapaan Umijatsih) itu plek. Sama-sama di (wedding organizer) punyanya Mas Gibran,” papar Harini tentang sahabatnya yang telah 35 tahun menjadi pamuwicara alias pembawa acara tersebut.

Umi setahun lebih tua daripada Harini. Lahir pada 24 Januari 1951. Tapi, saat menuntut ilmu di Pawiyatan, Harini adalah kakak kelasnya.

Berbeda dengan pernikahan modern, dalam adat Jawa, pembawa acara tidak hanya dituntut komunikatif. ”Harus tahu unggah-ungguh dan berkoordinasi dengan pemandunya. Apa maksud acaranya juga harus tahu,” ujarnya.

Terlebih, lanjut Umi, banyak bagian upacara pernikahan yang merupakan perlambang percumbuan. Misalnya tradisi menginjak telur di acara panggih. Kaki mempelai lelaki akan dibasuh mempelai perempuan, sebelum dan sesudah menginjak telur.

”Itu kan menandakan putih bercampur dengan merahnya telur. Sudah bercampur, suami istri nantinya akan bersatu,” terangnya.

Karena itu, jelas perempuan yang tinggal di kawasan Laweyan, Solo, tersebut, dalam adat, deretan acara panggih itu hanya disaksikan pihak keluarga mempelai perempuan. ”Besan tidak boleh masuk,” ucap dia.

Dalam acara pernikahan Kahiyang-Bobby, selain acara seserahan tadi malam, Umi terlibat dalam prosesi penyiapan kembar mayang di rumah mempelai perempuan. Hari ini Umi juga bakal memandu acara temu manten serta resepsi pagi.

Sudah pasti urut-urutan acara itu telah nglontok di kepalanya. Meski demikian, untuk jaga-jaga, dia tetap membawa naskah. ”Biar marem,” katanya. (jpg)

Kisah Garudeya Menyelamatkan Ibu Pertiwi

foto
Corak keramik bersumber dari relief Candi Kidal karya Ponimin. Foto: Liputan6.com/Zainul Arifin.

Sedikitnya 40 keramik berderetan rapi terpajang di dalam Gedung Dewan Kesenian Kota Malang, Jawa Timur. Keramik berbentuk dasar kendi (gerabah tempat air minum) dihiasi lilitan garis sampai tempelan figur manusia dan binatang.

Seluruh keramik itu karya Ponimin, keramikus yang juga Dosen Seni Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Ia tengah menggelar pameran tunggal bertema ‘Kendi Patirtan Kehidupan’ akhir Oktober lalu di Gedung Dewan Kesenian Kota Malang.

Karya itu bergaya deformatif figurative dan bercerita tentang kehidupan manusia dan alam sekitar. Ia membuat keramik dengan teknik pinching atau pijat dan tempel dengan dua kali proses pembakaran.

Pewarnaan dengan teknik lelehan glasir yang tebal tak beraturan. “Membuat keramiknya itu mudah, paling sulit adalah mencari ide untuk konsep keramik,” kata Ponimin kepada Liputan6.com di Malang.

Tema pameran ‘Kendi Patirtan Kehidupan’ itu bersumber dari relief Garudeya di Candi Kidal. Relief menggambarkan seekor garuda menyangga kendi berisi air suci (tirta amerta). Menurut mitos, itu menceritakan seorang anak yang berusaha menyelamatkan ibunya dari perbudakan.

Kisah itu diibaratkan penyelamatan ibu pertiwi sekaligus menyelamatkan sumber kehidupan. Keramik karya Ponimin itu diberi beragam judul seputar air dan kehidupan. Misalnya, ‘Menggapai Patirtan Suci’, ‘Siklus Patirtan Kehidupan’ sampai ‘Elang Kembar Penjaga Keagungan Patirtan’.

“Air dalam kendi sebagai simbol kehidupan. Ada banyak kebudayaan kita yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam berkarya,” ujar Ponimin.

Keramik berbentuk dasar kendi itu sekaligus bentuk keprihatinan dengan semakin tergerusnya budaya lokal berupa kendi itu. Masyarakat Indonesia kalah dengan masyarakat Tiongkok maupun Jepang yang masih merawat budaya minum teh dengan teko untuk penyajiannya. “Secara tak langsung, tradisi di Tiongkok dan Jepang itu turut melestarikan perajin keramik,” ucap Ponimin.

Indonesia memiliki budaya lokal ngunjuk tuyo wening atau minum air bening dengan kendi sebagai wadahnya. Tapi, tradisi itu kalah dengan kehidupan modern yang meminum air dari gelas atau wadah berbahan plastik dan kaca. Minum air dari kendi diyakini lebih menyehatkan. “Kendi punya pori–pori yang bisa menyerap racun, menghigieniskan air tanpa perlu dimasak,” kata Ponimin. (ist)

Upacara Adat Pojhian Hodo di Situbondo

foto
Proses penggalian di Situs Sendang Agung Sidoarjo. Foto: Beritalima.com.

Tetua adat masyarakat Pariopo Nyi Sarwiyah alias Bu’ Madhi membuka rangkaian upacara adat Pojhian Hodo di Dukuh Pariopo, Dusun Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, pekan lalu.

Menurut Nyi Sarwiyah, sejumlah titik tempat yang dikeramatkan di seputar Dukuh Pariopo secara bergiliran akan digelar upacara adat. “Tempat pertama yang harus dilakukan selamatan ya di Ghunong Masali dan Sombher, lalu dilanjut di rumah saya,” ujar Nyi Sarwiyah seperti dilaporkan PortalIndonesia.co.id.

Upacara adat yang dimaksudkan untuk meminta turunnya hujan serta menolak marabahaya itu menurut pengurus Komunitas Adat Pariopo Ke Tohasan alias Ustad Nining, dilanjutkan di empat titik keramat berikutnya.

“Berikutnya adalah Ghunong Bhata, Ghunong Cangkreng dan terakhir di Tapak Dangdang. Namun di luar pedukuhan kita menggelarnya atas undangan warga, bukan inisiatif kita,” terang Ke Tohasan.

Rangkaian upacara adat tersebut meliputi persembahan sesajen, yang dibarengi dengan pembacaan doa yang kemudian dilanjutkan dengan kidung disertai musik mulut.

Sementara itu, Irwan Rakhday, peneliti Upacara Pojhian Hodo membagi klasifikasi tata cara upacara tersebut. “Dari penelitian saya sejak tahun 2015 hingga tahun ini, ada hal menarik yang bisa diungkapkan. Ada dua versi upacara adat ini, pertama versi musik mulut alias orsinil. Yang kedua versi musik tradisional alias hiburan,” ucap Irwan.

Versi musik mulut dilakukan secara turun temurun sejak Ju’ Modhi’ dan kawan-kawan membuka hutan dan berdiam di Pariopo. Sedangkan versi musik tradisional dilakukan sejak tahun 2005 atas saran dan masukan dari pegiat budaya, Chandra Noratio dan kawan-kawan.

“Saat ini ,kedua versi ini sama-sama berjalan. Untuk versi musik tradisional diberi tumpeng dan dilaksanakan di Bato Tomang, yaitu sebuah situs tiga bongkah batu raksasa yang menyerupai tungku,” terang Irwan.

Ditambahkan bahwa versi musik tradisional ini juga merevisi syair serta memasukkan kalimat-kalimat toyyibah. “Ada kalanya versi musik tradisional ini dipakai di tempat lain sesuai situasi dan kondisi. Namun dari pengamatan pada hari ini (2 November, red) lokasi upacara di Ghunong Masali dan Sombher memakai versi musik mulut.Tambahan di rumah Nyi Sarwiyah, memakai versi musik tradisional,” pungkas Irwan. (ist)

Lima Kesenian Jawa yang Dinilai Berbau Mistis

foto
Kesenian Kuda Lumping disertai atraksi yang nyaris tak masuk akal. Foto: Cahayailmuku1315.blogspot.co.id.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan seni dan budaya warisan nenek moyang. Hingga saat ini, hal itu masih terus dilestarikan dan sering ditampilkan dalam berbagai kesempatan. Salah satunya kesenian Jawa yang sangat khas pada budaya dan adat istiadatnya.

Selain itu, kesenian Jawa juga terkenal berbau mistis, hal ini tidak lepas dari kepercayaan animisme dan dinamisme nenek moyang. Bentuknya tergambar dari setiap pertunjukan kesenian itu sendiri. Seperti dilaporkan PortalMadura.com, berikut lima kesenian Jawa yang dinilai berbau mistis:

Kesenian Tari Ronggeng
Tari yang berasal dari Jawa Barat ini disebut-sebut memiliki kemistisan tarian, karena digunakan untuk membalas dendam, sehingga berhubungan dengan kematian.

Salah satu versi cerita mengenai awal mula Tari Ronggeng berkisah tentang seorang puteri yang ditinggal mati oleh kekasihnya. Sang puteri pun meratapi kematian orang yang dicintainya itu setiap hari, hingga jenasah kekasihnya itupun mulai membusuk dan menyebarkan bau menyengat. Untuk menghibur sang putri, beberapa orang pun menari mengelilinginya sambil menutup hidung karena bau busuk mayat.

Karena terbawa nada yang melankolis, sang puteri pun kemudian terbawa suasana, hingga kemudian ikut menari dan menyanyi dengan suara yang menyayat hati. Dalam Tari Ronggeng ini, biasanya memang diperagakan oleh seorang perempuan sebagai penari utama, dengan diiringi oleh gamelan dan kawih pengiring.

Kesenian Debus
Kesenian ini terkenal dengan beragam atraksinya yang berbahaya, seperti mengiris tangan atau tubuh dengan golok, menusuk perut dengan tombak, menusukkan jarum kawat ke kulit hingga tembus, berguling di atas beling, membakar tubuh, dan memakan api. Hebatnya, semua itu dilakukan tanpa terluka atau berdarah sedikit pun.

Menurut kepercayan masyarakat, itu semua bisa dilakukan karena ada bantuan dari dunia gaib seperti jin. Atraksi kesenian yang mempertunjukkan kemampuan kekebalan tubuh ini diperkirakan mulai muncul sejak abad ke-16, yang saat itu menjadi ajang memompa semangat juang rakyat Banten.

Hingga sekarang, kesenian ini terus dipertontonkan, seperti dalam acara kebudayaan atau upacara adat. Bahkan kesenian debus ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Banten, sehingga ditonton banyak orang, hingga para turis asing sekalipun.

Kesenian Kuda Lumping
Kesenian Kuda Lumping atau disebut juga jathilan ini mengisahkan tentang prajurit. Kisah warok pada zaman dahulu tersebut menggambarkan kehidupan yang mencari makan dengan cara berburu.

Diceritakan, seseorang pergi berburu babi hutan bersama anjing peliharaan. Tanpa disadarinya, prajurit itu tiba-tiba terperosok ke dalam kubangan lumpur, bersama anjing dan babi hutan yang sedang dikejarnya, sehingga mereka pun bertarung di sana. Dalam kesenian Kuda Lumping sendiri, juga terdapat kubangan lumpur untuk para penari yang bermain dalam kesenian ini.

Dalam penampilannya, semua penari itu pun kemudian mengalami kesurupan dan bergulat di dalam kubangan lumpur. Makanya, wajar saja jika yang banyak orang menganggap kesenian ini mengandung hal-hal mistis, yang menyatu antara tarian tradisional dengan hal gaib, sehingga para penari mengalami kesurupan.

Kesenian Reog Ponorogo
Kesenian yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur ini menjadi salah satu yang paling mistis di Indonesia. Reog biasanya dipentaskan dalam upacara adat dan acara pernikahan, dengan dua atau tiga tarian.

Tarian utamanya adalah penampilan penari yang memakai topeng kepala singa seberat 50-60 kilogram. Meski berat, tapi penarinya terlihat enteng membawanya. Pada adegan inilah diyakini terdapat peran “makhluk halus” yang memberikan kekuatan tambahan.

Kesenian Tari Sintren
Kesenian Jawa lainnya yang berbau mistis adalah tari tradisional masyarakat pesisir utara Pulau Jawa. Aroma magis dalam Tari Sintren ini bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

Sintren sendiri diperankan seorang gadis. Dalam penampilannya, tidak jarang si penari mengundang roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam tubuhnya, agar terlihat lebih cantik dan bisa membawakan tarian yang mempesona. (ist)

Orang Jawa Memiliki Banyak Leluhur

foto
Orang Jawa disebut-sebut memiliki banyak leluhur. Foto: ist.

Membahas asal-usul suku-suku di Indonesia selalu menarik, termasuk Jawa. Akibat modernisasi sulit melihat perbedaan antara orang Jawa dan suku lain.

Buku Asal-usul dan Sejarah Orang Jawa mencoba menjawab siapa orang Jawa. Buku ini ditulis Sri Wintala Achmad. Buku setebal 264 halaman ini diterbitkan Araska pada tahun ini dan mendapat nomor ISBN: 978-602-300-386-0.

Didalamnya juga ditulis berbagai budaya Jawa yang sarat falsafah hidup. Hal ini sebagai pijakan dan bekal orang Jawa mengarungi kehidupan.

Banyak pandangan tentang asal-usul orang Jawa. Para sejarawan mengatakan, sejak 3.000 sebelum Kristus hingga era kerajaan-kerajaan Jawa, orang Jawa bukan hanya penduduk lama yang tinggal di tanah Jawa, tetapi juga para pendatang dari suku Lingga, Tiongkok Daratan, Yunan atau Funan.

Ada juga dari Kasi (India Selatan), Dinasti Kusana (India), keturunan Thailand (Siam), Turki, Arab, dan Campa. Dalam perjalanannya, orang-orang Jawa didominasi keturunan Tiongkok dan India.

Pendapat ini bisa dibuktikan secara ilmiah dari tes deoxyribonucleic acid (DNA). Di mana DNA orang Jawa tidak jauh berbeda dengan DNA orang Tiongkok dan India (hal 19-22).

Selain itu, meskipun masih dalam perdebatan, definisi orang Jawa tidak terbatas hanya pada orang yang lahir dan bertempat tinggal di Pulau Jawa, khususnya Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur yang senantiasa berbahasa, berbudaya, berfilsafat, dan berkepribadian Jawa.

Seseorang berkelahiran di Jawa atau keturunan orang Jawa, namun tinggal di luar wilayah Jawa tetap dianggap orang Jawa. Asalkan, orang tersebut memiliki kepribadian Jawa, yang senantiasa menerapkan bahasa, budaya, dan filsafat Jawa.

Namun, orang yang sekadar lahir dan bertempat tinggal di wilayah Jawa, tetapi tidak berkepribadian Jawa dianggap bukan orang Jawa sesungguhnya (hal 9).

Bila menilik sejarah, orang-orang Jawa tidak hanya berasal dari satu wilayah, bahkan negara, sehingga menghasilkan salah satu ciri kepribadian orang Jawa bisa berbaur dengan orang-orang dan bangsa lain, tanpa memerhatikan suku, agama, dan ras. Contoh, dari kepribadian ini salah satunya dapat ditemukan di Yogyakarta.

Di wilayah yang dikenal sebagai miniatur Indonesia itu, orang Jawa dapat berbaur dan bersaudara dengan orang-orang dari Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain. Bahkan, orang-orang Jawa bisa bergaul dengan para pelancong mancanegara (hal 42).

Budaya Jawa warisan para leluhur, tidak bersifat menggurui. Sebab budaya Jawa mengandung banyak tanda penuh makna yang menggambarkan pandangan hidup. Hal itu dapat ditemukan antara lain dalam kesenian, seperti pertunjukan tari serimpi yang dimainkan empat wanita.

Secara filosofis, jumlah empat penari wanita dalam tarian ini melambangkan empat arah mata angin: utara, timur, selatan, dan barat. Selain itu, juga melambangkan empat unsur alam: api, udara, air, dan tanah (hal 170).

Sajian kuliner pun tak lepas dari simbol yang memberikan pengajaran hidup, salah satu contohnya jajanan pasar, lemper. Lemper hampir selalu ada dalam setiap acara besar, mulai dari resepsi pernikahan, khitanan, hingga pengajian.

Oleh masyarakat Jawa, lemper dimaknai yen dialem atimu aja memper (kalau dipuji, kau jangan sombong). Dengan demikian, lemper memiliki ajaran kepada setiap manusia agar tidak mudah sombong saat dipuji orang lain (Hal 201).

Selain makna yang terkandung dalam kesenian dan kuliner, buku ini menjabarkan bermacam-macam makna di balik kesusastraan, peribahasa, aliran kepercayaan, bahasa, upacara adat, arsitektur, busana adat, dan lain-lain.

Penjelasan dalam buku ini, tidak bermaksud mengkotak-kotakan antara suku Jawa dengan suku lainnya, sebab negara ini dibangun dari persatuan seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia, yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama. (Resensi oleh Yatni Setianingsih, lulusan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dan sudah dipublikasikan di Koran Jakarta)