Temuan Prasasti di Blitar Tidak Terawat

foto
Salah satu prasasti yang kurang mendapat perhatian. Foto: Tatkalam.blogspot.co.id.

Tidak adanya kewenangan baik dalam hal anggaran dan tenaga untuk merawat temuan-temuan sejarah di Kabupaten Blitar, menjadikan sejumlah temuan sejarah seperti prasasti terbengkalai.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemudan dan Olahraga (Disparbudpora ) Kabupaten Blitar, Luhur Sejati seperti diberitakan JatimTimes.com, menegaskan pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk merawat prasasti itu karena prasasti masuk kategori cagar budaya dan merupakan kewenangan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.

“Sehingga saat ini yang kami bisa hanya sebatas melakukan survey untuk meneliti kondisi dan juga keberadaan prasasti itu. kemudian keberadaan prasasti dilaporkan ke BPCB untuk ditindaklanjuti,” kata Luhur Sejati.

Dijelaskan, saat ini setidaknya ada sekitar tujuh prasasti yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Blitar diantaranya di Kecamatan Kademangan, Wonodadi dan Kanigoro.

Tujuh prasasti itu ada yang dari hasil survey pihak dinas dan juga dari laporan warga, namun menurut Luhur pihaknya tidak bisa berbuat banyak terkait keberadaan tujuh prasati yang mayoritas tidak terurus itu.

“Setelah beberapa waktu lalu sudah dilaporkan ke BPCB tapi sampai sekarang masih belum ada tindaklanjutnya. Apakah keberadaan prasasti itu dipindah ke museum terdekat atau dilakukan tindakan lain,” pungkasnya.(ist)

Rektor ITN Prakarsai Batik Bernuansa Candi

foto
Rektor ITN Dr Ir Lalu Mulyadi MT menggagas batik bernuansa candi. Foto: Itnmalangnews.com.

Rektor ITN Dr Ir Lalu Mulyadi MT, baru saja menandatangani MoU tentang Technology and Innovation Support Center (TISCH). Kerja sama ini dilakukan antara Kementerian Hukum dan HAM dengan 17 universitas di Indonesia, salah satunya ITN Malang.

MoU dilakukan dalam rangkaian kegiatan Pasar Inovasi dan Kreativitas 2017, yang digelar Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Hukum dan HAM. Bertempat di Graha Pengayoman, Gedung Sekretariat Jenderal kementerian Hukum dan HAM, Jakarta Selatan, 31 Oktober-2 November.

Lalu Mulyadi mengungkapkan, ada ide besar yang kini disiapkannya pasca MoU tersebut. Yakni sebuah aksi nyata untuk melahirkan icon batik khas Malang berbasis riset candi. Motif batik bernuansa candi ini diteliti Rektor dan tim pada 2010 lalu.

“Waktu di pasar inovasi itu, saya melihat stand pameran batik Tangerang yang menjual batik dengan sejarahnya. Hal ini mengingatkan dengan karya riset saya tentang relief candi sebagai ide motif batik,” ungkapnya seperti dilaporkan Malang Post.

Rektor kelahiran Lombok, NTB ini menuturkan, dari riset yang kemudian ditulisnya dalam buku itu, ada ratusan motif batik yang bisa dibuat dengan memakai relief yang ada di candi. Sehingga, ia memiliki gagasan untuk menyosialisasikan hasil risetnya itu kepada UKM batik dan juga siswa SMK.

“Saya ingin mengundang siswa SMK terutama yang memiliki jurusan batik untuk sosialisasi hasil riset ini, dan bisa dilombakan untuk membuat motifnya. Kemudian akan mengundang home industri untuk produksinya,” ujarnya bersemangat.

Apalagi, lanjutnya, riset yang ditulisnya tersebut sudah mendapatkan izin hak cipta. Selanjutnya diharapkan bisa melahirkan motif batik baru khas Malangan.

Risetnya sendiri dilakukan selama dua tahun di empat candi yakni Kidal, Jago, Singosari dan Jawi. Di Candi Jago yang disebut sebagai perpustakaan, Lalu mendokumentasikan sejumlah motif menarik.

Di tempat yang menjadi perdarmaan Tunggul Ametung itu ada relief yang bercerita tentang surga dan neraka. Banyak motif indah yang berkisah tentang kerajaan dan juga perilaku manusia di sana. Di Candi Kidal pun demikian, ada motif Medalion yang muncul sebagai hiasan arsitektur pada beberapa masa sesudahnya.

“Riset saya ini sudah memiliki hak cipta, bahkan waktu itu reviewer sempat kagum karena justru yang tertarik meneliti candi untuk motif batik adalah saya yang bukan asli orang Jawa,” imbuhnya.

Ketua Sentra Kekayaan Intelektual ITN Malang Dr Dimas Indra Laksmana yang ikut hadir kemarin menegaskan, MoU DJKI dan ITN Malang ini memberi arti penting. Terutama dalam menyuarakan tentang paten kepada peneliti maupun investor.

Sementara itu, dalam waktu dekat, ITN Malang akan menggelar Rector Cup di kampus 2 Karanglo. Ada lebih dari 100 tim siap berkompetisi dalam lomba sepak bola ini. Kompetisi melibatkan siswa dari SD hingga SMA dan juga perguruan tinggi. (sak)

Waranggono Tuban, Tak Cukup Hanya Modal Cantik

foto
Para seniman waranggono saat menuju ritual siraman di pemandian Bektiharjo. Foto: Tubankab.go.id/Nanang W.

Menjadi seorang pelaku seni tradisional, seperti waranggono (sinden) memang tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Sebab, untuk bisa survive di kancah seni langen tayub tak cukup bermodal cantik dan bodi yang aduhai, serta punya suara yang merdu

Namun banyak sekali proses ritual yang sudah dipakemkan harus dilalui untuk bisa disebut sebagai waranggono sejati, seperti melakukan prosesi siraman.

Tahun ini sedikitnya ada 85 waranggono yang benar-benar bisa disebut tulen. Pasalnya, mereka telah menjalani prosesi wisuda di pemandian air Bektiharjo, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban, pagi pekan lalu.

Tak hanya para sinden, tetapi prosesi wisuda tersebut juga diikuti oleh 65 orang pramugari (pria pendamping waranggono yang mengenakan blankon) dan 47 pengrawit yang mengiringi prosesi.

Mereka berjalan mengelilingi pemandian air guna melakukan prosesi siraman dengan cara membasahi wajah dan kepalanya satu per satu dengan harapan mampu mempertontonkan kepiawaiannya menjadi waranggono semalam suntuk saat pentas. Selain itu, ritual dilakukan agar para seniman tayub terhindar dari musibah.

“Ini (prosesi siraman) kita lakukan secara sakral agar tidak ada peristiwa yang tidak kita inginkan. Tapi, yang jelas ini untuk mengakrabkan para seniman dan sebagai ajang silaturahmi,” tutur Indra, salah seorang seniman tayub seperti dilaporkan Humas Kab Tuban.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Tuban Drs Sulistyadi, agenda ini tidak hanya sebagai prosesi yang sakral bagi pegiat langen tayub, namun juga sebagai agenda wisata budaya Kabupaten Tuban.

Tak cukup itu, kata Didit, sapaan akrab Sulistyadi, tujuan dilaksanakannya siraman seniman langen tayub ini, yakni untuk mengembangkan potensi seni budaya Kabupaten Tuban sebagai salah satu aset terpenting dalam menyumbang pendapatan asli daerah.

“Selain itu, untuk meningkatkan kualitas pelaku seniman, khususnya seniman langen tayub dalam menunjang visi dan misi kepariwisataan Kabupaten Tuban. Dan juga sebagai sarana untuk memeriahkan Hari Jadi Tuban (HJT) yang ke-724,” cetus mantan Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban ini.

Anita Fitria Erawati, salah seorang waranggono muda asal Jatirogo, Tuban ikut prosesi wisuda mengatakan dirinya merasa senang dan lega setelah diwisuda. Sebab, setelah 2 tahun menimba ilmu sebagai waranggono di Tuban semakin membuat dirinya terpacu untuk menjadi seniman langen tayub.

“Setelah diwisuda, rencananya ke depan akan terus meningkatkan kemampuan dan ilmu yang telah dipelajari, serta akan terus belajar dari waranggono senior terkait tembang dan tarinya,” ucap perempuan alumnus SMK Negeri 8 Surakarta, Jawa Tengah, jurusan Seni Karawitan tersebut.

Perempuan 20 tahun yang juga anak Mbarsih, waranggono senior di Kabupaten Tuban tersebut menegaskan, ritual siraman waranggono merupakan wujud regenerasi. Sebab, saat ini sulit mencari dan menemukan perempuan yang mau bergelut dengan profesi sebagai waranggono. (ist)

Koreografer Muda Jatim Berbagi Gagasan

foto
Seorang penari menampilkan tarian solo hasil kreatifitas koreografi. Foto: pepenk26.blogspot.co.id.

Koreografer muda asal berbagai daerah kabupaten/ kota di Jawa Timur berkumpul untuk saling berbagi gagasan dalam Temu Koreografer Muda Jatim 2017 yang berlangsung selama dua hari, pada 30 – 31 Oktober di Surabaya.

“Selama ini koreografer tari bergerak sendiri-sendiri bersama kelompoknya di daerah asalnya masing-masing. Kami harus memberi kesempatan kepada mereka untuk saling bertukar pikiran dan berbagi gagasan,” ujar Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jawa Timur Djoko Prakoso, yang menggagas acara ini, saat dikonfirmasi AntaraNews di Surabaya, pekan lalu.

Dia mengatakan ada sekitar 30 koreografer dari berbagai daerah kabupaten/ kota di Jawa Timur yang diundang dalam Temu Koreografer Muda Jawa Timur 2017.

Sejumlah koreografer tampak berkesempatan menampilkan karyanya selama dua hari penyelenggaraan acara yang berlangsung di Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali Surabaya ini, seperti Sekar Alit dari Surabaya, Winarto dari Malang, dan Rusdi dari Madura.

Selain itu, koreografer lainnya yang turut menampilkan karya tarinya dalam Temu Koreografer Muda Jawa Timur 2017 adalah Makrus Ali, Vita Efilia, dan Yuyun Sulastri asal Malang.

Djoko mengatakan selama ini belum ada kegiatan atau even yang memberi wadah bagi para koreografer di Jawa Timur untuk menampilkan karyanya.

Meski begitu, lanjut dia, para koreografer ini ternyata masih bergeliat di daerah asalnya masing-masing berkat upayanya sendiri-sendiri. “Bahkan saya sampai sekarang tidak bisa menghitung berapa banyak koreografer muda asal Jawa Timur yang tumbuh di daerah,” katanya.

Selama ini, lanjut dia, geliat koreografer di daerah bisa dirasakan karena tiba-tiba secara diam-diam bisa menggelar pentas di luar negeri.

“Seperti koreografer Winarto asal Malang, tiba-tiba menggelar pentas di Singapura, dan itu juga luput dari pemberitaan media. Koreografer asal Jawa Timur lainnya juga banyak yang menggelar pentas di Eropa berkat upayanya sendiri,” ujar dosen Tari di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini.

Karenanya, melalui ajang Temu Koreografer Muda Jawa Timur 2017 ini, dia berharap masing-masing koreografer asal berbagai daerah di Jawa Timur itu bisa saling bertukar pikiran dan berbagi gagasan. “Ya, salah satunya agar masing-masing koroegrafer ini bisa saling menunjukkan jalan bagaimana caranya agar bisa tampil di level nasional dan bahkan internasional,” ucapnya. (ant)

Macapat Gresikan, Khawatir Seni Tradisi Diakui Orang

foto
Seniman macapat Gresikan di Sekolah Macapat yang digagas Sri Wahyuni. Foto: Jawapos.com.

Tembang maskumambang mengalir merdu dari aula gedung dakwah Muhammadiyah. Seorang perempuan berkerudung merah muda melantunkannya dengan penuh penjiwaan. Nada khas tembang Jawa begitu kental.

Bukan hanya maskumambang. Seperti dilaporkan jawapos, Tembang sinom, kinanti, dandanggula, dan balabak juga disuarakan bergantian oleh Sri Wahyuni. Ada 15 penikmat yang mendengarkan dengan khidmat. Salah satunya Mat Kauli, seniman macapat Gresikan.

Begitulah suasana komunitas Sekolah Macapat yang digagas Sri Wahyuni. Guru seni yang akrab disapa Uyun itu menekuni seni sejak SMP. Sri kecil sering pentas ke sana kemari. Pada 1975, dia bergabung dengan grup teater SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Setelah lulus SMA pun, dia mengajar seni di SD Muhammadiyah 2 Gresik.

Kecintaannya pada dunia seni semakin terpupuk. Sri memutuskan bergabung dengan sejumlah grup teater. Sering pentas teater di Kota Pudak. Beberapa grup teater membesarkan namanya. Ada teater mBesali, Melati, dan Teater 13 besutan Soetanto Soepiyadhi. Di grup Teater 13, Sri bertemu Lenon Machali, seniman teater terkenal di Kota Pudak. Mereka menikah.

Pada Juli 2016, perempuan yang juga meraih gelar guru musik terbaik Jawa Timur pada 2014 itu kehilangan sosok suami sekaligus partner terbaiknya. Lenon yang dijuluki Bapak Teater Gresik harus menyerah terhadap serangan gagal ginjal. Dia berpulang pada usia 63 tahun. Perempuan yang sudah dikaruniai tiga cucu tersebut mengaku begitu kehilangan sosok Lenon.

Namun, spirit Sri tidak hilang. Dia tetap bertekad menghidupkan kesenian di Gresik. Pembina Komunitas Cager itu lantas membentuk Sekolah Macapat pada Maret 2017. Semacam pendidikan luar sekolah yang khusus belajar tembang macapat.

Sekolah itu sudah punya beberapa murid. Mereka terdiri atas mahasiswa, dosen, dan guru musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) bahasa Jawa SMP. Mat Kauli, seniman macapat Gresik, menjadi guru utama di sekolah tersebut. Ada juga Sugeng Adipitoyo, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Menurut Sri, guru bahasa Jawa perlu belajar tembang macapat. Sebab, tidak banyak yang bisa melantunkannya. Rata-rata hanya bisa membaca. Dia menilai hal itu sebagai ironi. Sebab, guru ikut bertanggung jawab atas keberlangsungan seni tradisi yang hampir punah. ”Semua orang harus mau menyelamatkan seni tradisi,” tuturnya.

Sepeninggal Lenon, perempuan kelahiran 1959 itu menjadikan Sekolah Macapat sebagai salah satu tempat kaderisasi calon seniman. Yang tidak kalah penting, kata Sri, menumbuhkan kecintaan masyarakat pada warisan dan kekayaan tradisi lokal. Jangan sampai tradisi tersebut diakui negara lain. ”Ini (macapatan, Red) mulai punah. Harus dijaga, jangan sampai malah diambil orang,” tegasnya. (jpg)

BPCB Jatim Turun ke Situs Sendang Agung Sidoarjo

foto
Proses penggalian di Situs Sendang Agung Sidoarjo. Foto: Duta.co/Sodikin.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur langsung turun ke lokasi untuk meluruskan berita di media terkait penggalian situs Sendang Agung di Desa Urang Agung Sidoarjo. BPCB Jatim menilai ada salah paham dengan pihak Paguyuban Sendang Agung yang selama ini sudah melakukan penggalian secara swadaya di situs tersebut.

Selama ini, BPCB yang berada di bawah salah satu direktorat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut seperti dilaporkan duta.co, menyadari keinginan warga maupun para pegiat cagar budaya untuk melakukan penggalian situs Sendang Agung.

Namun, apa yang disampaikan mereka di duta.co dan sosial media itu tidak tepat. Khususnya soal tuduhan pihaknya telah mempimpong para aktivis budaya dan purbakala tersebut. Karena itu BPCB menerjunkan tim Pengkaji Cagar Budaya ke lokasi penggalian di Desa Urang Agung, Sidoarjo, Selasa (24/10).

Salah seorang dari tim Pengkajian Cagar Budaya BPCB, Wicaksono Dwi Nugroho menjelaskan, apa yang sudah disampaikan di media itu tidak tepat.

Karena selama ini apa yang dilakukan para penggali situs tersebut tidak memenuhi syarat mengingat mereka tidak punya kompetensi. Apalagi, lanjutnya, tidak sesuai dengan prosedur tapi masih saja tetap dilakukan penggalian.

Karena itu pihaknya menepis anggapan yang terkesan tidak mengindahkan permintaan Paguyuban Sendang Agung. Padahal hal itu karena apa yang dilakukan warga tidak sesuai aturan mengingat penggalian tidak dapat dilakukan dengan sewenang-wenang.

Menurut Wicaksono, apa yang sudah dilakukan oleh Paguyuban Sendang Agung serta PPI (Perhimpunan Pergerakan Indonesia) Sidoarjo tersebut dapat dikatakan penggalian liar.

“Ada Undang-Undang yang mengatur. Undang-Undang No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya,” ujar Wicaksono saat berdialog dengan warga di lokasi Penggalian Situs Sendang Agung.

Pasal 26 ayat 4 dalam Undang-Undang No.11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, dijelaskan, bahwa setiap orang dilarang melakukan pencarian Cagar Budaya atau yang diduga Cagar Budaya dengan penggalian, penyelaman, dan/atau pengangkatan di darat dan/atau di air sebagaimana dimaksud ayat (2), kecuali dengan izin Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

Sebelumnya, Paguyuban Sendang Agung merasa dipimpong BPCB Jatim. Berita tersebut menjadi viral hingga BPCB menurunkan tim ke lokasi penggalian untuk memberikan penjelasan ke warga.

Paguyuban ini beritikad untuk melakukan penggalian situs sejarah yang diprediksi merupakan peninggalan Kerajaan Jenggolo di Desa Urang Agung, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo.

Sejak tahun 2015 lalu, pihak Paguyuban Sendang Agung sangat mengharap bantuan dari Dinas Pariwisata maupun BPCB agar dapat membantu proses penggalian situs tersebut.

Namun sejak 2015 hingga 2017 mereka belum mendapat bantuan sepeser pun dari pemerintah. Padahal soal pembiayaan penggalian, mereka sudah mengajukan beberapa kali kepada Dinas Pariwisata dan BPCB.

Namun, pihak Dinas Pariwisata maupun BPCB di Trowolan tidak menanggapi. Padahal, pihak Paguyuban sudah lebih dua kali mendatangi dinas terkait.

“Tapi hal itu tidak dipedulikan sama sekali. Hal tersebut, yang membuat Paguyuban kecewa pada Dinas Pariwisata dan BPCB lantaran laporannya selama ini terkesan diabaikan,” kata Devisi Pelestarian dan Pengembangan dari Paguyuban Situs Sendang Agung, Faruq.

Selama ini biaya untuk penggalian sudah menghabiskan kurang lebih Rp. 50.000.000. Dana tersebut didapat dari swasembada warga dan pengunjung yang memberikan sumbangan seikhlasnya. (dta)

Sosok Wanita Madura Dalam Film layar Lebar

foto
Parfi Pamekasan bakal mengangkat sosok wanita Madura sebagai tokoh utama dalam film layar lebar. Foto: Antara Jatim.

Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Pamekasan akan mengangkat sosok wanita Madura sebagai tokoh utama dalam film layar lebar berjudul “Perempuan Berselimut Angin” yang akan diproduksi dalam waktu dekat itu.

“Film layar lebar ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp4 miliar, dan segera memasuki masa pra-produksi. Film ini merupakan lanjutan, setelah sebelumnya Parfi Pamekasan berhasil memproduksi film pendek berjudul ‘Mesa Sape’,” kata Ketua Parfi Pamekasan Yoyok R Effendi kepada AntaraJatim di Pamekasan.

Ia menjelaskan, film berjudul “Perempuan Berselimut Angin” itu, mencoba mengangkat figur utama sosok wanita Madura yang tangguh dan teguh pendirian menghadapi berbagai macam masalah dan konflik yang menerpanya, mandiri dalam bersikap.

Namum, sambung dia, perilakunya tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan budaya setempat. “Jadi tidak sekadar mengeksplorasi eksotika wanita Madura,” ujar Yoyok.

Jenis film yang digagas oleh Parfi Pamekasan itu, menurut dia, merupakan jenis film drama, dengan kekuatan ritme alur cerita dalam naskah film sangat menentukan dalam menciptakan soul film sehingga pesan-pesan yang termuat bisa sampai pada penonton.

Yoyok yang juga Ketua III Dewan Kesenian Pamekasan lebih lanjut menjelaskan, sentimen pasar industri film nasional harus bisa di-distorsi sebelum mencapai titik jenuh pada jenis-jenis film yang lagi trend.

Misalnya dengan karya-karya film kreatif dan unik berbasis kearifan lokal sehingga penonton punya opsi untuk penyegaran hiburan. “Inilah fungsi film yang ideal, yakni dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang baik,” katanya.

Pembuatan film ini, sambung Yoyok nantinya di Pulau Madura dengan pertimbangan, karena ketersediaan sumber daya alam sangat potensial, khususnya destinasi wisata alam, budaya dan kuliner dengan beragam keunikan yang ada di Madura, khususnya di Pamekasan.

“Jadi, ini yang akan kami ekspose, guna menguatkan karakter penokohan dalam film tersebut agar publik penasaran dan ingin menonton film tersebut,” kata Yoyok.

Menurut dia, film tersebut nantinya juka melibatkan aktor aktris papan atas Jakarta, juga Surabaya dan Pamekasan sehingga diharapkan nantinya muncul talenta-talenta daerah yang bisa berkiprah di khasanah perfilman nasional.

“Film ini akan menjadi media promosi potensi daerah, makanya kami akan memaksimalkan kesempatan ini guna mengeksplor dan mengekspos potensi budaya dan wisata,” jelasnya. (ant)

Parade Surabaya Juang di Hari Pahlawan

foto
Atraksi Parade Surabaya juang tahun 2016 lalu. Foto: Himas Pemkot Sby.

Jelang peringatan Hari Pahlawan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar Parade Surabaya Juang, Minggu (5/11) pagi. Agenda tahunan yang memasuki tahun kesembilan ini akan dikemas berbeda dari penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Di sepanjang jalan yang menjadi rute Parade Surabaya Juang, akan ditampilkan teatrikal perjuangan Arek-Arek Suroboyo kala melawan sekutu pada tahun 1945 silam.

Kabid Destinasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Retno Hariati menyampaikan, untuk tahun ini, Parade Surabaya Juang yang menempuh rute dari Jalan Pahlawan menuju kawasan Taman Bungkul, akan lebih banyak menampilkan aksi teatrikal. Sedikitnya ada 28 unsur komunitas yang akan ikut tampil dalam agenda ini.

“Untuk tahun ini, ada pengembangan dibanding tahun lalu. Diantaranya dengan memperbanyak aksi teatrikal. Nuansa kebangsaan yang diciptakan diupayakan lebih semarak,” ujar Retno Hariati di acara jumpa pers di kantor Bagian Humas Pemkot Surabaya, Rabu (1/11).

Menurut Retno, akan ada banyak elemen yang ikut memeriahkan Parade Surabaya Juang tahun ini. Seperti Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), PNS Pemkot Surabaya, komunitas seni, mahasiswa/pelajar.

Bahkan, sambung Retno, gaung agenda Parade Surabaya Juang ini sudah menasional. “Kami berupaya agendakan ini sebagai event nasional. Ini sudah dapat lisensi dari Kementerian Pariwisata,” jelas Retno.

Ketua Komunitas Surabaya Juang, Herry Lentho menyampaikan, Parade Surabaya Juang akan menempuh rute sejauh 6,5 kilometer dari Tugu Pahlawan dan berakhir di Taman Bungkul.

Menurutnya, parade akan diawali dengan teatrikal Sumpah Pregolan (sumpah merdeka atau mati). “Nanti ada yang memerankan tokoh Gubernur Suryo lau memberikan plakat (prasasti perang kemenangan perjuangan Surabaya) kepada Bu Wali,” ujarnya.

Selain di kawasan Tugu Pahlawan, teatrikal juga akan digelar di kawasan Siola, yakni perang TKR laut, kemudian teatrikal perobekan bendera belanda di Hotel Mojopahit yang dilanjutkan pembacaan puisi “Surabaya” karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Kemudian teatrikal perang 10 November di depan Grahadi, lalu di Tugu Bambu Runcing dan Polisi Istimewa-Santa Maria.

“Intinya, yang berbeda tahun ini, kalau dulu parade lebih banyak jalan, sekarang sosiodrama. Ada urutan cerita dari awal hingga akhir. Ada 350 pecinta sejarah yang akan ikut serta. Ada dari Kalimantan, Sulawesi. Ibaratnya, Parade Surabaya Juang ini merupakan hari raya nya pecinta sejarah,” sambung Herry Lentho.

Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional Dishub Surabaya, Subagio Utomo menyampaikan, Dinas Perhubungan akan mengerahkan 75 personel untuk pengaturan lalu lintas karena sepanjang rute Parade Surabaya Juang tentunya akan ditutup untuk kendaraan.

Selain itu, Dishub juga mengerahkan 25 orang untuk penataan parkir. Serta, 150 palang kuda/barrier. “Kami akan bersinergi dengan Satlantas Polrestabes Surabaya. Kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat bila nantinya arus lalu lintas lebih padat dari biasanya,” ujarnya.

Bagus Supriadi Kasi Ketetiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kota Surabaya menyampaikan, akan ada 600 personel Satpol PP dan Linmas yang diterjunkan untuk membantu kelancaran agenda ini. “Kami akan sinergi dengan kepolisian. Harapannya selama acara, pengunjung tidak bercampur dengan peserta parade sehingga bisa lebih tertib,” ujar Bagus. (ita)

Kapal Padewakang Memiliki Jenis Kelamin

foto
Kapal Padewakang tengah dibuat. Foto: Kemdikbud.go.id.

Kapal itu setinggi hampir 3 orang laki-laki dewasa. Panjangnya mencapai 30 meter. Tampak 12 kayu penyangga kapal menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri, menjaga agar badan raksasanya tidak roboh.

Perlu usaha yang agak payah untuk naik menuju buritan kapal yang baru akan selesai dibuat 2 bulan lagi tersebut.

Diatas tampak 3 orang sedang membengkokkan kayu sepanjang 2 meter untuk dipasang di ujung haluan. Salah satu pekerja menjelaskan bahwa tim Kemdikbud.go.id tidak sedang berdiri di geladak utama.

Mengejutkan, rupanya kapal ini akan lebih tinggi lagi. Tempat yang tadinya kami kira geladak utama nantinya akan menjadi restoran di dalam kapal.

Kapal yang sedang digarap oleh Haji Muhammad Djafar dan anaknya ini adalah jenis Padewakang, salah satu model kapal khas Sulawesi Selatan selain Pinisi. Kapal Padewakang berusia lebih tua dari kapal Pinisi.

Haji Muhammad Djafar dijuluki “Panrita Lopi” yaitu tokoh adat yang ahli membuat perahu, di Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Diperkirakan, kapal ini telah dipergunakan oleh orang Makassar pada abad ke-16 untuk mencapai benua Australia. Keunikan dari kapal padewakang adalah layarnya berbentuk segi empat. Bentuk kapal dengan layar seperti ini juga terdapat dalam relief kapal pada candi Borobudur.

Melihat pembuatan kapal tradisional disini cukup mengejutkan. Tidak seperti teknologi modern saat ini dalam membuat kapal, disini semua dilakukan dengan cara yang masih tradisional. Semua peralatan yang digunakan berasal dari kayu. Terlihat hanya sebuah bor dan las listrik alat modern yang digunakan.

Bagi seorang Panrita Lopi, ilmu pasti dalam pembuatan kapal tidak sepenuhnya berlaku. Mereka lebih mengandalkan pengalaman dan perasaan. Perahu yang sedang dibuat sekarang misalnya, Muhammad Djafar tidak membutuhkan design atau gambar.

Hanya mengandalkan perasaan. Demikianlah yang dilakukan nenek moyangnya selama berabad abad dan turun temurun. Kecuali jika ada permintaan design khusus dari si pemesan kapal.

Metode yang bertolak belakang dengan metode modern juga masih lekat dengan tradisi pembuatan kapal di wilayah Tanahberu ini. Bahkan, ritual-ritual khusus sebelum dan sesudah pembuatan masih dilakukan. Misalnya ritual Sambung Lunas, pelarungan lunas dan upacara Selamatan.

Menurut Rahma Djafar, anak keenam dari Muhammad Djafar, para Panrita Lopi memperlakukan sebuah kapal seperti tubuh manusia dan kadang meyakini sebuah kapal memiliki jenis kelamin.

“Berdasarkan perasaannya, seorang ahli kapal dapat mengatakan jenis kelamin sebuah kapal ketika sudah setengah jadi, apakah ini kapal laki-laki atau perempuan,” ujarnya.

Ahmad Abdul, Penyusun Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, bahkan mengatakan dahulu seorang Panrita Lopi dapat mengetahui nasib kapal yang dibuatnya. ”Menurut cerita, mereka bisa tahu kapal yang dibuatnya akan tenggelam oleh apa atau karam dimana”. (ist)

Musik Bambu Pa’beng Pariopo Situbondo Mistis?

foto
Enam personel pelestari Pa’beng Pariopo. Foto: Suarajatimpost.com.

Tim Musik Bambu Dewasesi (DKS/Dewan Kesenian Situbondo) di ajang Festival Musik Bambu Jawa Timur di Hotel Bumi Surabaya menyuguhkan kesan unik. Pasalnya, sesaat setelah MC acara meminta para seniman itu menyiapkan instrumen, mendadak angin bertiup kencang dan petir menggelegar.

Para undangan termasuk dari Konjen RRT (Republik Rakyat Tiongkok), Manajer Hotel Bumi Guntur Tampubolon dan fungsionaris Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), dibikin berhamburan untuk berteduh.

Seperti dilaporkan Suarajatimpost.com, begitu Tim Dewasesi naik ke panggung MC meminta koordinator tim untuk menjelaskan sekilas historis pa’beng. Ketika pertunjukan berjalan sekitar tiga menit, gerimis mulai turun. Penonton di area out door masih belum beranjak. Namun saat gerimis mulai deras, mereka berhamburan mencari peneduh.

Menariknya, pertunjukan terus berlangsung. Pemain musik itu diguyur hujan. Uniknya lagi, Taufik ‘Monyong’ Hidayat Monyong yang merupakan Ketua DKJT terus memberi support. “Ayo, lanjuut,” teriaknya. Bahkan ia juga rela berbasah-basah di kursinya.

Usai penampilan, Taufik menyalami ‘kegigihan’ penyaji pa’beng. Ia menilai itu bukan hujan biasa, karena Surabaya tak diguyur hujan hampir seminggu.

“Ada enam kabupaten di Jawa Timur yang kita undang di hotel bintang lima ini. Pa’beng salah satu temuan alternatif dengan konsep spiritual yang tidak terbatas ruang dan waktu. Gabungan komposif yang layak dibaca. Tidak bisa hanya dinikmati, tetapi harus dengan rasa. Saya merasakan guyuran hujan itu anugerah,” ungkap Taufik.

Sementara itu, seniman penyaji dari Rengel, Tuban, Hewodn merasakan hujan itu sesuatu yang mistis. “Salahnya bawa perangkat ritual memanggil hujan,” kelakarnya.

Berdasarkan catatan suarajatimpost.com, subetnik Pariopo asal pa’beng lestari di jaman dulu, memang kerap menyelenggarakan upacara adat Pojhian Hodo, yaitu untuk memanggil hujan.

“Mungkin ini yang dihubung-hubungkan dengan kejadian ini. Entah, yang pasti ini kehendak Allah. Saya ingat, odheng (ikat kepala, red) yang dipakai vokalis adalah yang juga dipakai para Pamojhi kala melakukan upacara. Apalagi syair yang dibawakan juga memuat nama leluhur Pariopo, Ju’ Modhi’ dan juga tempat-tempat upacara yang dikeramatkan. Wallaahua’lam bisshawaab,” ujar Agung Hariyanto salah satu personel.

Salah satu personel lainnya, Agus Sodu menuturkan pada bahwa pa’beng adalah alat musik tradisional dari bambu yang pada jaman dahulu sering dimainkan oleh para perambah hutan di Dukuh Pariopo, Dusun Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo.

Sementara itu, Marketing DKJT, Mei Margaretha menyatakan bahwa penyajian musik bambu di hotel-hotel di wilayah Jawa Timur akan terus berlanjut.

“Dalam rangka pelestarian kearifan lokal, kita perlu memasarkan musik tradisional milik Jatim sendiri. Kita juga sudah menyiapkan langkah pemasaran dalam bentuk CD (Compact Disc). Untuk itu, kita harap para pelestari musik tradisi dapat merekam karyanya,” harap Mei. (ist)