Juru Pelihara Bersih-Bersih 18 Situs di Batu

foto
Juru pelihara candi se-Malang Raya membersihkan situs Punden Gandung Melati. Foto: Malangtoday.net/Azmy.

Sejumlah 18 situs sejarah yang ada di Kota Batu mendapatkan perawatan oleh Juru Pelihara Candi Se-Malang Raya. Koordinator Juru Candi Se-Malang Raya Haryoto mengungkapkan, giat ini merupakan instruksi langsung dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur.

Haryoto menjelaskan, kegiatan pelestarian benda sejarah ini dilakukan dengan membersihkan situs bersejarah yang ada di Kota Batu. Tampak para juru candi ini membersihkan dengan cara menyapu, menyikat dan mengangkat lumut yang mengerak di dinding candi dan punden.

“Hari ini dari total 18 situs yang ada di Kota Batu, ada dua situs yang kami bersihkan, Makam Mbah Batu dan Pundeng Mbah Gandung Melati,” ungkapnya kepada media MalangTODAY, Rabu (25/10).

Tak hanya di Kota Batu, giat bersih situs bersejarah ini dilangsungkan secara serentak di seluruh situs di Malang Raya. Total ada 36 juru pelihara candi yang tersebar menjadi tiga tim. “Rencananya kegiatan ini menjadi giat rutinan seminggu sekali,” pungkasnya. (mlg)

Situs Sangiran, Dari Jawa Mengungkap Evolusi Dunia

foto
Homo erectus, manusia purba di Sangiran yang ditampilkan di Medan. Foto: Kompas.com/Mei Leandha.

Gustav Heinrich Ralp Von Koenigswald, seorang geolog dan paleontolog Jerman datang ke Sangiran di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk melakukan survei dan penelitian berdasarkan peta geologis yang dibuat geolog asal Belanda, Jean Louis Chretien van Es.

Saat itu, tahun 1928, Jean bekerja di Jawatan Geologi Hindia Belanda di Bandung. Dia melakukan program pemetaan di Jawa untuk kebutuhan pertanian dan eksplorasi mineral Hindia Belanda yang targetnya selesai dalam 15 tahun.

Wilayah penelitian Jean meliputi 13 lapisan tanah di Jawa, sembilan di antaranya dilengkapi lampiran peta geologi, yaitu Baribis, Patiayam, Sangiran, Kaliuter Baringin, Lembah Sungai Bengawan Solo (Trinil), batas selatan dan utara Pengunungan Kendeng dan Gunung Pandan. Dibantu Gustav, Jean mengumpulkan data fosil spesies yang ditemukan dalam penelitiannya.

Di Sangiran, Gustav melakukan survei di Ngebung dan menemukan jejak-jejak keberadaan manusia purba. Di areal seluas 59,21 kilometer persegi pada 1934, dia kembali menemukan artefak hasil budaya manusia.

Puncaknya pada dua tahun kemudian, dia menemukan delapan individu manusia Homo erectus. Di sinilah dunia mencatat, Situs Sangiran di Sragen dan Karanganyar ditemukan pertama kali oleh Gustav.

“Sampai hari ini, sudah ditemukan 120 individu manusia purba Sangiran, atau 50 persen dari populasi Homo erectus di dunia,” kata Syukron Edi, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran kepada Kompas.com di Medan bebeapa waktu lalu.

Dijelaskannya, temuan awal Gustav berupa alat dari batuan kalsedon dan jasper berukuran kecil. Ini menjadi indikasi kuat keberadaan manusia awal di Sangiran. Perkakas batu tersebut punya ukuran dan teknologi pengerjaan yang khas, Gustav menyebutnya sebagai Sangiran Flakes Industry dalam publikasi perdananya.

“Temuan ini langsung menjadi perhatian dunia. Dalam kurun waktu 1936 sampai 1941, sisa-sisa peninggalan manusia purba terus ditemukan. Sangiran menjadi salah satu situs hominid yang penting bagi dunia,” ucap Edi.

Potensi Situs Sangiran dinilai warga dunia penting untuk ilmu pengetahuan. Pada 1977 situs ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya. Dilanjut pada 1996, Situs Sangiran menjadi salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO dengan nomor C593.

Dipaparkan Edi, perbedaan situs Sangiran dengan situs-situs lain adalah, dalam lapisan tanahnya yang berusia 250.000 sampai 2 juta tahun tersimpan rekaman jejak manusia dan lingkungannya.

Kehadiran Homo erectus Sangiran ditemukan di lapisan tanah berusia antara 1,5 hingga 0,9 juta tahun silam. Lapisan tanah ini berupa endapan lempung hitam yang menunjukkan lingkungan rawa.

Ada empat evolusi yang terjadi di Sangiran, pertama adalah evolusi lingkungan tanpa terputus sejak 1,9 sampai 2,4 juta tahun. Masa itu Sangiran adalah laut dalam.

Kemudian pada 1,9 juta – 900.000 tahun, Sangiran sudah berubah dari laut dalam menjadi laut tangkal lalu rawa-rawa. Lalu 900.000 sampai saat ini, menjadi daratan. Evolusi kedua adalah manusia, dimulai sejak Homo erectus tipik hidup pada 800.000 tahun lalu dan Homo erectus progresif yang hidup sekitar 250.000 tahun lalu.

Evolusi ketiga adalah fauna. Terdapat tiga spesies gajah di Sangiran, yaitu mastodon yang hidup 1,5 juta tahun lalu, berevolusi menjadi Stegon trigonocephalus hingga terakhir menjadi Elephas namadicus.

Evolusi terakhir adalah budaya. Arkeolog menemukan alat serpih atau hasil budaya manusia purba berumur 1,2 juta tahun lalu di Situs Dayu.

Tokoh utama cerita Sangiran adalah Homo erectus yang ciri-ciri fisiknya masih primitif, kekar. Saat lingkungan Sangiran berubah menjadi daratan sejak 900.000 tahun lalu, Homo erectus Sangiran pun mengalami perubahan fisik menjadi lebih ramping.

Perubahan fisik menjadi lebih progresif setelah mereka berpindah ke sepanjang aliran Bengawan Solo, di luar daerah Sangiran. “Manusia dan budaya di Situs Sangiran, serta fosil-fosil faunanya yang tersebar di seluruh tingkatan stratigrafi ini yang kita pamerkan di Medan. Ini penting dan sumber ilmu pengetahuan, apalagi bagi para pelajar,” pungkasnya.

Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran melakukan pameran di lima kota besar di Indonesia, mulai dari Kota Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang dan Lampung.

Di Medan, acara dilaksanakan di Focal Point Mall di Jalan Gagak Hitam, Ringroad Medan mulai 18 sampai 22 Oktober 2017. Hasrul Sani dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengatakan, pameran memungkinkan pelajar di Sumatera Utara juga mengenal Sangiran. (kmp)

Menikmati Menu Khas Jawa Sambil Belajar Sejarah

foto
Suasana satu bagian Rumah Makan Inggil Malang. Foto: VIVA.co.id/ Lutfi Dwi Pujiastuti.

Saat tiba di depan rumah makan ini, suasana atmosfer serba Jawa begitu kental. Dari tulisan papan nama rumah makan, tertulis, Inggil, dengan gaya tulisan khas Jawa.

Ya, ini merupakan Rumah Makan Inggil yang terletak di kawasan Gajahmada No.4 Kiduldalem, Malang Jawa, Timur. Tidak mewah, namun saat menginjakkan kaki di teras rumah makan, akan disambut dengan ukiran hiasan khas Jawa dan ada mesin ketik tua.

Bukan hanya sekedar rumah makan, Inggil juga sekaligus sebagai museum mini Kota Malang tempo dulu. Meski tak besar, koleksi-koleksi benda-benda bersejarahnya cukup banyak.

Mulai dari kotak kaset zaman jadul, masuk ke dalam lagi, ada koleksi foto-foto penampakan Kota Malang tempo dulu, cerita-cerita sejarah kabupaten Malang, foto peresmian Tugu Malang 20 Mei 1953 hingga benda-benda bersejarah tua dan unik seperti pengeriting rambut zaman dahulu, radio tempo dulu, mesin jahit tua hingga jam-jam tua.

Saiful Djojosukarto, salah satu karyawan di rumah makan tersebut mengatakan, pemilik warung, Dwi Cahyono seorang sarjana ekonomi, memang suka mengoleksi benda-benda bersejarah.

Ia, bahkan yang memiliki konsep untuk membuat rumah makan dengan konsep Jawa dan sekaligus mengajak pengunjung mengenal sejarah Indonesia, khususnya sejarah kota Malang.

“Beliau ingin ada pelebaran sejarah. Gabungan kuliner dengan budaya. Pak Dwi Cahyono yang punya ya,” terangnya saat ditemui Viva.co.id di acara Jelajah Gizi 2017 bersama Nutricia di Kota Malang.

Saiful juga menjelaskan, benda-benda sejarah dan barang-barang tua yang ada di rumah makan tersebut merupakan koleksi sang pemilik, yang kebanyakan dia beli langsung atau hibah dari beberapa orang.

Setelah puas melihat koleksi-koleksi tua dan sedikit membaca penggalan cerita soal sejarah Malang, barulah Anda masuk ke ruang makan dengan meja yang panjang dengan kursi-kursi kayu panjang yang ditata saling berhadapan.

Mirip sekali dengan tempat makan orang Jawa. Atapnya masih terbuat dari bambu, langit-langitnya terlihat juga dari anyaman bambu. Berada di rumah makan ini, benar-benar terasa seperti di rumah orang Jawa tempo dulu.

Meski begitu, makanan di tempat ini, tidak semuanya memiliki rasa khas Jawa. Namun, ada satu menu yang istimewa, sambal terongnya. Meski menunya sederhana, namun sambal terong favorit warung ini memiliki cita rasa istimewa, diramu dengan cabai, bawang putih, bawang merah, layaknya sambal biasa. Tetapi, agar lebih istimewa, sambal terong ini ditambah dengan kencur dan santan. Benar-benar nikmat dan menambah selera makan Anda.

Jika menikmati santap makan malam di tempat ini, ada juga hiburannya. Tamu di warung ini, tiap malam dihibur musik keroncong dan ada juga nyanyian-nyanyian khas sinden Jawa. Penasaran? Warung ini buka mulai 10.00-22.00, alamatnya Jl Gajahmada No.4, Kiduldalem, Klojen, Kota Malang. (ist)

Jatim Art Forum 2017, Merawat Identitas Kerakyatan

foto
Pembukaan Jatim Art Forum 2017. Foto: Dok DKJT.

Dewan Kesenian Jawa Timur menggelar ‘Jatim Art Forum 2017’ di Monumen Kapal Selam Surabaya, 27-29 Oktober 2017. Perhelatan kesenian bertajuk ‘Spirituality Art dalam Membangun Kebudayaan Indonesia’ menghadirkan sejumlah seniman dan kelompok seni dari Jawa Timur dan luar Jawa Timur. Acara dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Drs Saifullah Yusuf, pada hari pertama menampilkan Gandrung Banyuwangi, dengan bintang utama Monica, didukung musik-musik tradisional.

“Yang menarik adalah Kesenian Kesurupan Massal, yang diasuh Mbah Jali dan Mbah Didik dari Tulungagung, ini mencoba menampilkan bentuk kesenian rakyat yang khas yang tetap hidup sampai sekarang,” tutur Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) Taufik ‘Monyong’ Hidayat.

Dijelaskan Taufik Monyong, panggilan akrabnya, Jatim Art Forum 2017 memberikan penawaran bagi pentas kesenian khas di provinsi ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa identitas kerakyatan yang tetap terpelihara di tengah masyarakat adalah melalui kesenian. Kesenian ini memperoleh dukungan di komunitas-komunitas tradisional, merata di Jawa Timur,” tuturnya.

Sebagaimana sajian musik rakyat, usai acara pembukaan ditampilkan pula kelompok dari Probolinggo pimpinan Abdu, Situbondo pimpinan Jefri, Musik Paglak Kemiren Banyuwangi pimpinan Suhaimi dan musikalisasi puisi bersama Adit.

Pada hari kedua, Sabtu tanggal 28 Oktober 2017, mulai pk 19.00 WIB, dimeriahkan bersama band modern dan musik alternatif. Yang menarik pada malam kedua ini, penampilan sejumlah seniman dari luar Jawa.

Seperti kelompok kesenian yang diasuh Dewan Kesenian Gorontalo, pimpinan Fandi, Dewan Kesenian Sulawesi Selatan pimpinan Asia Ramli, Dewan Kesenian Sulawesi Tengah pimpinan Hapri Poigi dan Dewan Kesenian Kalimatan Timur pimpinan Hamdani.

Sedang pada hari ketiga, Minggu (29/10), mulai pukul 07.00 – 17.00, menghadirkan gebyar band alternatif. “Dilanjutkan dengan penampilan Koreografi dari Jawa Timur, mulai pk 19.00 WIB. Selain itu, juga pertunjukan Sastra Jawa Timur, dan pentas Ludruk Arboyo sebagai bentuk teater rakyat khas Jawa Timur.

Menurut Aliyudin, penanggung jawab Jatim Art Forum 2017, pelibatan seluruh seniman, baik tradional maupun modern, menujukkan betapa perkembangan kesenian di Jawa Timur cukup dinamis. “Apalagi, kami coba berinteraksi dengan kelompok-kelompok seniman di luar Jawa Timur, khususnya di luar Jawa, sebagai bentuk komunikasi di bidang kebudayaan. Dengan begitu, kita bisa membandingkan karya-karya seniman Jawa Timur dengan di luar provinsi ini,” tuturnya.

Ditambahkan Taufik Monyong, kehadiran para seniman dari luar Jawa Timur, khususnya dari luar Jawa, merupakan ikhtiar membangun networking (jejaring) kebudayaan, yang termaknai lewat pentas kesenian karya-karya mereka.

Di zaman kini, membangun jaringan merupakan bagian penting dari ikhtiar menciptakan suasana yang harmonis di tengah-tengah masyarakat. Dengan suasana kesenian dan pementasannya yang khas, masing-masing berusaha mengedepankan identitas kebudayaan, sehingga memperkaya kebudayaan Indonesia.

“Ini kenyataan yang harus dipelihara, kebudayaan Indonesia beraneka ragam namun mewujudkan kesatuan kebangsaan yang utuh dan terpelihara,” tutur Taufik Monyong. Menjadi catatan, tampilnya sejumlah komunitas kesenian tradisional merupakan ikhtiar DKJT untuk menjaga identitas kesenian rakyat sebagai bagian dari kesenian kita.

Seperti Musik Bungkel Per’reng, Situbondo, diproduksi dan dimainkan oleh masyarakat desa pinggiran di daerah tersebut. Pelaku kesenian ini adalah Pak Tutun dan Pak Beng. Musik ini terbuat dari bambu duri. Alat musik tradisional dari bambu yang menghasilkan bunyi mirip kenong, kendang dan gong ini memiliki karakteristik yang unik.

Selain itu, ada Musik Angklung Caruk dari Banyuwangi. Kata “ Caruk” berasal dari bahasa Osing, yang berarti “bertemu”. Pertemuan dua kelompok pemain angklung dan mereka saling mengadu ketangkasan memainkan angklung, disebut dengan angklung caruk. Dua grup tersebut memainkan angklungnya bersama dan saling bersaing ketangkasan.

Untuk penonton biasanya terbagi dalam 3 kelompok : dua di antaranya merupakan rival yang masing-masing mendukung angklung kesayagannya. Sedang yang satu berpihak pada dua pemain angklung dan mereka ingin mengetahui secara keseluruhan permainan. Permainan angklung ini menjadi sangat meriah, karena dukungan masing-masing penonton. (sak)

Pameran Budaya Maritim Indonesia Hadir di Eropa

foto
Kapal Padewakang ukuran mini berhasil dirakit dan dipamerkan di Liege Belgia. Foto: Kemdikbud.go.id.

Salah satu rangkaian kegiatan sebagai Negara Tamu atau Guest Country di Festival Seni Europalia, Indonesia menggelar Pameran Kingdoms of the Sea Archipel di Liege, Belgia.

Pameran dengan tema budaya maritim ini diselenggarakan di Museum La Boverie di Liege, Belgia, dari 25 Oktober hingga 21 Januari 2018.

Seperti dirilis situs Kemdikbud.go.id, sebanyak 248 artefaks dari koleksi Museum Nasional Indonesia dan beberapa museum provinsi, antara lain dari museum di Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Jambi dan Bali, telah dibawa langsung untuk ditampilkan pada pameran ini.

Pameran Kingdoms of the Sea Archipel menjadi kegiatan budaya yang penting, dengan latar belakang bahwa sejarah dan peradaban bangsa Indonesia selalu lekat dan tidak lepas dari budaya maritim yang merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia.

Sebagai negara kepulauan dengan 17.000 pulau dan 81.000 km panjang garis pantai, pameran maritim menjadi sebuah kesempatan penting untuk menampilkan identitas bangsa Indonesia yang penting dan lama terlupakan.

Pameran ini berupaya menggambarkan warisan sejarah maritim yang tersebar di seluruh Indonesia. Pameran menampilkan beberapa tahap sejarah maritim dari periode kuno (3000 SM hingga awal Masehi), periode pramodern (awal Masehi hingga abad ke-16), periode awal modern (abad 16-18 M) hingga periode modern (abad 18 hingga sekarang).

Pada tahap pertama dari pintu masuk pameran ditampilkan berbagai hasil pameran dari masa Austronesia yang menampilkan benda-benda seni dari batu dan perunggu, hasil pertukaran diaspora dari Austronesia dan Melanesia.

Banyak produk budaya yang ditampilkan, antara lain kapal, penggalan lukisan dari dinding gua, seni dari batu, nekara, dan moko.

Masa pramodern yang merupakan kelanjutan ekspansi budaya maritim merupakan hasil interaksi dengan datangnya pedagang dari India. Pada masa ini terjadi akulturasi budaya.

Kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti Kutai, Tarumanegara, Kalingga, Sriwijaya, Mataram menjadi bagian dari akulturasi pada periode ini. Benda budaya yang ditampilkan dari periode ini berupa kapal, patung, musik, peta-peta kuno, prasasti dari kerajaan-kerajaan tersebut.

Masa periode awal modern yang dipengaruhi oleh interaksi dengan pedagang dari China menampilkan berbagai bentuk budaya seperti keramik, sutra, porselain daan arsitektur.

Lebih ke dalam area pameran, ditampilkan periode awal modern yang dipengaruhi oleh interaksi dengan bangsa-bangsa Eropa lewat jalur perdagangan bumbu.

Kota-kota utama di Indonesia yang menjadi pusat yang merekam interaksi ini yaitu Aceh, Banten, Banjarmasin, Ternate, Tidore, Palembang menjadi tempat-tempat yang banyak ditemukan warisan sejarah maritim.

Untuk memeriahkan pameran ini, Indonesia membawa serta sebuah kapal yang dirakit langsung di Museum La Boverie. Adalah Kapal Padewakang, yang dibangun oleh para pembuat kapal tradisional yang didatangkan langsung dari Sulawesi.

Kapal Padewakang ini dipilih sebagai ikon budaya maritim di museum ini karena merupakan cikal bakal dari kapal Pinisi yang telah dikenal luas. Padewakang adalah kapal tradisional hasil budaya maritim Indonesia sebelum akhirnya berkembang oleh pengaruh modern yaitu kapal yang menggunakan mesin.

Kapal dengan ukuran panjang 11 m, tinggi 7 meter, dan lebar 4 meter ini dibangun di Museum La Boverie dan merupakan kapal ketiga yang dibuat untuk ditampilkan di luar Indonesia setelah dua kapal sebelumnya dibangun dan dilayarkan ke Australia.

Keberadaan Kapal Padewakang juga menjadi daya tarik tersendiri pada pameran ini karena nilai sejarah dan keunikan kapal ini menjadi suatu hal yang baru di Eropa yang telah mengambil bagian dalam pembentukan sejarah maritim Indonesia.

Pameran Kingdoms of the Sea Archipel di Liege, Belgia, dibuka pada 24 Oktober 2017. Acara pembukaan dihadiri Walikota Liege, Willy Demeyer, para narasumber dari pihak Indonesia, yaitu mantan Direktur Museum Nasional Indonesia yang bertindak selaku kurator pameran, Intan Mardiana, dan Singgih Tri Sulistiono, peneliti sejarah maritim Indonesia dari Universitas Diponegoro Semarang.

Sementara dari pihak Belgia hadir Koordinator Kurator Europalia International, Dirk Vermaelen, dan konsultan peneliti arkeologi dari Ecole Francaise d’extreme Orient, Pierre Yves Manguin. (sak)

Bertemu Padewakang, ’Ibu Kandung’ Pinisi di Belgia

foto
Usman Jafar (kanan) dan Bahri Jafar merakit kapal padewakang di Belgia. Foto: Jawapos/Hilmi Setiawan.

Di ruang belakang museum itu, suara pukulan palu terdengar bertalu-talu. Potongan kayu berukuran kecil sampai besar juga berserakan di seluruh sudut ruangan.

Sisi belakang Museum La Boverie, Liege, Belgia, Rabu siang pekan lalu (11/10) itu memang tengah berubah menjadi semacam galangan kapal. Muhammad Usman Jafar yang dibantu dua saudaranya, Muhammad Bahri Jafar dan Muhammad Ali Jafar, bergulat dengan waktu menyelesaikan kapal padewakang.

“Tanggal 24 Oktober dimulai dipamerkan soalnya,” kata Usman di sela-sela perakitan, seperti diberitakan Pontianakpost.co.id.

Pameran yang dimaksud bertajuk Archipel yang memajang koleksi sejarah bahari Indonesia. Itulah satu di antara sekian banyak pameran dalam pergelaran Europalia. Dibuka 24 Oktober dan berlangsung sampai 21 Januari mendatang.

Padewakang adalah kapal bersejarah yang terancam punah. Padahal, bisa dibilang kapal jenis tersebut merupakan ’ibu kandung’ pinisi, si penjelajah samudra yang termasyhur itu. Pinisi merupakan hasil evolusi sang ibu.

“Saat ini tinggal dua keluarga yang memiliki garis keturunan membuat kapal padewakang. Kami salah satunya,” tutur Usman, pria kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, 31 Desember 1961, itu.

Menurut Usman, padewakang merujuk pada sebuah nama pulau di Pangkajene, sebuah kepulauan di Sulawesi Selatan. Cerita masyarakat setempat, Sultan Hasanuddin menggunakan padewakang sebagai bagian dari armada perangnya. Bahkan sebagai kapal serbu di barisan depan.

Tapi, kali terakhir padewakang dibuat pada 1987. Pada saat itu ada pesanan khusus dari museum di Darwin. Setelah selesai dibuat tim yang dipimpin Muhammad Jafar, ayahanda Usman, padewakang dibawa menyusuri lautan lepas menuju Australia.

Horst Hebertus Liebner, peneliti kapal yang bertindak sebagai konsultan sejak masa persiapan pameran, menjelaskan, awalnya padewakang tak masuk pertimbangan.

“Pilihannya saat itu adalah kapal pajala, pinisi, atau sandeq,” tuturnya.

Tim kurator dari Museum Nasional Indonesia mencoret pajala karena wujudnya terlalu simpel. Pinisi juga dibatalkan karena menyesuaikan dengan hall tempat pameran.

Dengan tinggi tiang layar yang mencapai 35 meter, tidak mungkin memajang pinisi di Museum La Boverie. Sedangkan sandeq diputuskan tidak jadi karena dinilai kurang wah.

Akhirnya, diputuskan yang dibawa adalah kapal padewakang. “Padewakang itu berjaya pada abad ke-15 sampai ke-18, sedangkan pinisi lahir pada abad ke-19. Relief kapal yang di Borobudur yang selama ini diidentikkan dengan pinisi itu sebenarnya padewakang,” jelas Liebner yang telah 30 tahun meneliti kapal.

Usman mengingat, keluarganya mendapat pesanan pengerjaan padewakang pada April 2016. Tapi, baru beberapa bulan kemudian proses pembuatannya benar-benar dimulai.

Memasuki Ramadan lalu, pengerjaannya sebenarnya sudah mencapai 80 persen. Tapi, setelah itu kapal yang nyaris jadi harus diprotoli seperti semula. Kemudian dikemas untuk dikirim ke Belgia.

Usman yang turut sang ayah mengerjakan padewakang pada 1987 harus mengecek dengan teliti satu per satu bagian kapal itu. Hingga ke yang terkecil.

Kayu yang digunakan adalah kayu khas Sulawesi Selatan bernama bitti (Vitex cofassus). Total ada 400 potong kayu dan lebih dari seribu pasak yang harus dirangkai menjadi satu unit kapal padewakang.

Selain itu, ada lonjoran bambu untuk memasang layar. Keseluruhan bobot kayu dan bambu untuk membuat kapal mencapai 3 ton. Dikirim langsung dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, ke Belgia.

Untuk mengerjakannya di Belgia, selain Usman dan dua saudaranya tadi, salah seorang tetangga membantu mereka. Liebner bertindak sebagai konsultan. Sedangkan seorang rekan kerja perempuan lainnya bertugas khusus memasak.

“Kami tidak cocok makanan Belgia. Untung bawa beras, meski tidak banyak,” ungkap Usman.

Tiba di Belgia pada 10 Oktober lalu, mereka hanya beristirahat sehari. Sesudahnya langsung mengebut perakitan kapal.

“Sebenarnya kami ingin bekerja lembur sampai malam agar cepat selesai. Tapi, pihak museum hanya mengizinkan sampai pukul 5 sore (waktu Liege),” kata ayah dua anak itu.

Padewakang yang dipamerkan di Belgia berdimensi panjang 13 meter; lebar 4 meter; tinggi lambung 1,5 meter; dan tinggi layar 5 meter. Dari sisi panjangnya, panjang kapal dua kali lipat dari panjang di awal kemunculan kapal yang dulu disebut pajala itu.

Seiring berjalannya waktu, panjang kapal menjadi 9 meter dan sebutannya berganti menjadi patorani. Fungsi dan daya jelajahnya pun berubah. Dari semula hanya untuk mencari ikan rambe di pesisir, berganti menjadi pemburu ikan terbang yang kian menjauh dari pantai. “Daya jangkaunya sudah sampai ke Laut Jawa,” tuturnya.

Saat panjangnya bertambah mencapai 15 meter, sebutan patorani pun ditinggalkan. Berganti menjadi padewakang.

Menurut Liebner, padewakang merupakan kapal perahu dagang jarak jauh asli Indonesia sebelum pinisi lahir. Kapal itu sudah mengarungi laut sampai ke Australia, Malaysia, serta Filipina.

Bahkan, ada tulisan yang menyebutkan bajak laut di Persia juga menggunakan kapal padewakang. “Sebelum kapal padewakang, sejatinya sudah ada kapal-kapal dagang yang dibuat di Indonesia. Namun, desainnya sudah terpengaruh kapal-kapal dari Eropa,” katanya.

Siang terus beranjak di Liege. Suara dok, dok, dok pun terus bergaung dari ruang belakang Museum La Boverie itu. Usman, Bahri, dan Ali pun harus berkejaran dengan waktu di hari-hari tersisa.

Selasa (24/10), kapal nan gagah hasil kerja keras mereka tersebut dipajang di ruangan itu juga. Disaksikan ratusan hingga ribuan pasang mata pengunjung.

“Kami sengaja memasang di ruang bagian akhir dari arena pameran. Supaya pengunjung langsung terbelalak dan bilang wow…,” tuturnya sambil memperagakan ekspresi orang terkesima. (jpg)

Menikmati Gunung Ijen Bondowoso dari Udara

foto
Menikmati pemandangan Gunung Ijen dengan paralayang. Foto: Antara Jatim.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur menawarkan paket wisata tandem paralayang untuk menikmati “view” atau pemandangan alam dari udara di kawasan wisata Gunung Ijen.

“Wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Gunung Ijen, Kecamatan Ijen saat ini juga bisa menikmati pemandangan alam dari ketinggian dengan menggunakan paralayang,” ujar Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Bondowoso, Adi Sunaryadi kepada Antara Jatim di Bondowoso.

Ia mengemukakan, wisatawan dapat menikmati pemadangan alam dari udara seperti objek wisata Kawah Wurung (kawah tidak jadi), hamparan perkebunan kopi arabika milik PT Perkebunan Nusantara XII maupun perkebunan kopi rakyat serta pemandangan alam Gunung Ijen dan Gunung Raung.

Selain itu, katanya, pengunjung wisata dapat berswafoto (foto selfie) dari objek wisata Bukit Megasari yang menjadi tempat “take off” atau lepas landas paralayang dengan latar belakang foto pemadangan alam Gunung Ijen dan Kawah Wurung.

Sementara Koordinator Paralayang Bondowoso Ichuk S Widhawarsa mengatakan, paket wisata tandem paralayang di kawasan wisata Gunung Ijen yang terkenal dengan api birunya (blue fire) itu, bekerja sama dengan pilot paralayang asal Malang Jawa Timur.

“Setiap wisatawan cukup membayar paket wisata tandem paralayang Rp 500.000 per orang dalam satu kali terbang menikmati pemadangan alam dari udara, bersama pilot paralayang yang sudah profesional (master tandem),” katanya.

Ia menjelaskan, pembayaran paket wisata tandem paralayang Rp 500.000 itu sudah termasuk biaya transportasi dari tempat pendaratan ke tempat lepas landas paralayang di Bukit Megasari.

“Biasanya wisatawan yang berminat terbang menggunakan paralayang menikmati pemadangan alam dari udara, terlebih dahulu membuat janji dengan kami, dan selanjutnya kami berkoordinasid engan pilot paralayang di Malang yang sudah memiliki sertifikat ‘master tandem’ paralayang,” ujarnya. (ant)

Karapan Sapi Piala Presiden Tetap Pakai “Rekeng”

foto
Joki memacu sapi kerapan perlombaan karapan sapi di Madura. Foto: Indonesia-tourism.com.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparibud) Pemkab Pamekasan, Jawa Timut Akhmad Sjaifuddin menyatakan, karapan sapi memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI 2017 yang akan digelar di Stadion Soenarto Hadiwdjojo Pamekasan pada 29 Oktober 2017 tetap menggunakan pola kekerasan atau menggunakan alat “rekeng”.

“Rekeng” menupakan Bahasa Madura, yakni sebuah alat berupa tongkat kecil yang dipasangi paku, kemudian digarukkan ke pantat sapi agar larinya lebih kencang.

“Tapi alat rekeng untuk karapan sapi kali ini, disediakan oleh panitia, dan ukurannya sama antara satu pasangan sapi dengan pasangan sapi lainnya, bukan olah masing-masing pemilih sapi karapan,” ujar Sjaifuddin kepada Antara Jatim di Pamekasan.

Ukuran, alat ini, sambung dia, lebih pendek dari alat rekeng yang digunakan pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga dipastikan tidak akan menimbulkan luka parah di pantat sapi.

Ia menjelaskan, pihak panitia penyelenggara karapan sapi Piala Bergilir Presiden RI 2017 tetap menetapkan kebijakan memperbolehkan para pemilik sapi karapan menggunakan sistem kekerasan, karena sudah menjadi kesepakatan para pemilik sapi karapan. “Jadi, meskipun tetap menggunakan ‘rekeng’ runcing pakunya tidak begitu panjang,” kata Akhmad Sjaifuddin, menerangkan.

Festival Karapan Sapi yang memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI atau yang disebut “Karapan Sapi Gubheng” itu, akan digelar 29 Oktober 2017. Tahapan seleksi pasangan sapi karapan telah dilakukan di berbagai kecamatan di empat kabupaten di Pulau Madura sejak 29 Agustus 2017.

Di Bangkalan seleksi dilakukan di empat kecamatan, yakni Kecamatan Tanah Merah, Blega, Sepuluh, Kecamatan Socah dan Kecamatan Arosbaya.

Di Kabupaten Sampang seleksi di empat kecamatan, yakni Torjun, Kedungdung, Ketapang dan Kecamatan Kota, Sampang. Di Pamekasan juga di empat kecamatan, yakni Kecamatan Waru, Pegantenan, Kecamatan Galis dan Kecamatan Kota, Pamekasan.

Sedangkan di Kabupaten Sumenep, seleksi pasangan sapi kerap di tingkat kecamatan digelar di enam kecamatan, yakni Kecamatan Bluto, Batuputih, Pasongsongan, Guluk-guluk, Kecamatan Gayam dan Kecamatan Kota, Sumenep. Seleksi pasangan sapi kerap di tingkat kabupaten, menurut Akhmad Sjaifuddin, telah digelar serentak 15 Oktober 2017 lalu. (ant)

Sastra Membuat Ratna Belajar Realita Kehidupan

foto
Sri Ratnawati, dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Foto: Unair News.

“Rasa bahasa yang hadir pada karya sastra selama ini sering menghipnotis pembaca-pembacanya. Rekam jejak sejarah yang dimunculkan dalam karya fiksi membuat orang lain paham tentang apa yang telah terjadi pada masa lampau.”

Begitulah penuturan Sri Ratnawati, dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga saat menjelaskan betapa pentingnya seseorang untuk belajar sastra.

Ratna sapaan karibnya adalah salah satu dosen di FIB yang begitu cinta dengan sastra. Baginya, sastra adalah representasi kehidupan di dunia ini. Apapun yang terjadi pada kehidupan manusia, telah digambarkan jelas dalam karya sastra.

Menurut dosen yang pernah menerbitakn jurnal ilmiah dengan judul Dialektika Hindu-Jawa Islam dalam Serat Mi’raj ini, jika menyinggung perihal sastra, maka perlu untuk diketahui bahwa akan ada sebuah karya dimana sastra mengemas tiga budaya dalam satu wadah, karya itu adalah sastra pesisiran. Akan didapatkan budaya Hindu, Jawa, dan Islam di dalamnya.

Proses penyiaran Islam yang dilakukan di masa silam salah satunya melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk penyiaran agama Islam. Ratna menuturkan, melalui karya-karya sastra pesisiran, penyebaran agama Islam menjadi lebih efektif.

“Apalagi sastra pesisiran lebih kepada membungkus Islam dengan tradisi sebelumnya,” tambah Ratna seperti dilaporkan Unair News.

Dosen asal Madura ini mengatakan bahwa Islam bukanlah anti tradisi, tetapi lebih pada toleransi terhadap tradisi yang hadir sebelum Islam datang. Tentu, adaptasi tradisi itu dengan menggunakan gaya-gaya yang baru.

Dikatakan Ratna, tokoh yang ditulis dalam sastra pesisiran sudah mengarah pada nama-nama Islam. Namun, beberapa masih menyinggung tradisi Hindu dan Budha. Misalnya, nama dewa dan dewi, tokoh khayangan, dan tradisi yang lainnya. Oleh karena itu sastra pesisiran adalah salah satu alat yang digunakan untuk merepresentasikan orang-orang zaman dahulu dalam hal toleransi terhadap sesama.

“Terlihat jelas, orang terdahulu lebih luwes pandangannya terhadap dunia luar dibandingkan orang-orang modern sekarang ini,” tutur dosen yang sedang melakukan penelitian mengenai dongeng Madura ini.

Ratna menambahkan, saat Islam mulai mewarnai agama di Nusantara, tradisi Hindu-Budha tidak serta merta langsung dihapuskan. Namun tetap dibungkus dengan apik agar Islam dapat lebih mudah disebarkan dan diterima oleh masyarakat umum.

“Islam tidak pernah menafikkan tradisi yang lebih tua. Sejarah semacam ini perlu dipelajari oleh setiap orang, tidak hanya orang-orang yang bergelumit di bidang budaya saja, agar setiap pribadi mampu menghargai setiap perbedaan yang ada di muka bumi ini,” ujar Ratna.

“Sastra itu tidak pernah berbohong. Apapun yang dituliskan itu adalah riil. Walaupun memang sastra dikemas dalam bentuk fiksi, namun berangkatnya dari realitas,” tambahnya.

Ratna berujar, sastra pesisiran tidak membicarakan hitam putih atau benar dan salah. Namun, sastra ini menggambarkan bagaimana konsekuensi bagi orang baik dan orang jahat, maupun perbuatan benar dan salah.

Sebagai seorang akademisi, Ratna memiliki harapan kepada masyarakat umum, khususnya kalangan pemuda, agar lebih mencintai sastra. Karena dari sastra, dunia dapat dilihat dalam sekejap.

“Sastra selalu memberikan pelajaran moral untuk bekal hidup, serta memberi tahu kita bagaimana orang-orang terdahulu dalam mengatasi masalah dengan tidak emosional,” tandasnya. (pih)

Petani Bangkalan Kembangkan Wisata Mangrove

foto
Aktivis lingkungan menyiapkan bibit mangrove di Pantai Desa Lembung, Galis, Pamekasan. Foto: Antara/Syaiful Bahri.

Kelompok Tani Cemara Sejahtera Bangkalan, Jawa Timur mengembangan objek wisata mangrove di Pesisir Desa Labuhan, sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan dan keindahan pesisir pantai tersebut.

“Kami terdorong untuk mengembangkan mangrove yang ada di desa kami sebagai objek wisata, karena di sejumlah daerah, hutan mangrove ternyata bisa menjadi objek wista,” kata Sekretaris Kelompok Tani Cemara Sejahtera Moh Syahril di Bangkalan kepada Antara Jatim.

Syahrir menuturkan awalnya ia bersama anggota Kelompok Tani Cemara Sejahtera lainnya hanya ingin menyelamatkan tepi pantai di desanya, Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, agar tidak terjadi abrasi pantai.

Oleh karenanya, masyarakat sepakat untuk menanam pohon mangrove secara bersama-sama. Namun, dalam perkembangannya, pohon mangrove yang ditanam warga terlihat bagus, menghijau dan membuat lingkungan pesisir teduh dan sejuk. “Ketika itu, muncul pikiran teman-teman untuk dikelola lebih bagus lagi agar bisa menarik warga untuk berkunjung ke tempat ini,” ujarnya.

Selanjutnya, katanya, kebetulan ada rombongan dari Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) berkunjung ke pesisir Pantai Labuhan tersebut, dan ia bersama anggota kelompok tani lainnya diajak berdialog seputar pengelolaan hutan mangrove di pesisir pantai itu.

“Dari dialog itu, PHE WMO menyatakan bersedia melakukan pembinaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial dari perusahaan mereka,” ujarnya.

Sejak saat itu, terjalin kerja sama antara Kelompok Tani Cemara Sejahtera dengan PHE WMO. Selain dijadikan objek wisata magrove, pesisir Pantai Desa Labuhan itu, juga disepakati hendak dijadikan taman pendidikan dan objek penelitian.

“Pantai biasanya gersang dan panas. Tapi ini dipenuhi tanaman, sejuk dan segar. Seolah berada di kawasan pegunungan,” kata General Manager (GM) Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) Kuncoro Kukuh.

Untuk itu, ia meminta penerapan aturan penjagaan lingkungan benar-benar dijalankan dengan tegas. Apalagi, Taman Pendidikan Mangrove mulai menjadi destinasi penelitian dan wisata alam pesisir.

PHE WMO mulai menjadi mitra Kelompok Tani Cemara Sejahtera mengelola hutan mangrove di Pesisir Pantai Desa Labuhan itu sejak 2014. Hutan ini, memiliki luas sekitar tujuh hektare, 3,5 hektare diantaranya telah ditanami 17 jenis mangrove.

Di antaranya jenis mangrove Sonneratia Alba (Prapat), Rizhophora Stylosa, Stenggi, Rhizopora Apiculata, Sonneratia Alba, Rhizophora Mucronata, Ceriops Tagal, dan Avicenna Marina. “Beragam jenis tanaman mangrove yang ditanam di pesisir Pantai Labuhan itu juga bantuan dari PHE WMO. (ant)