Banyuwangi ke Ajang ‘Kota Wisata Bersih’

foto
Kawasan Batu Dodol kini menjadi bersih dan semakin indah. Foto: Banyuwangikab.go.id.

Kabupaten Banyuwangi ditunjuk Kementerian Pariwisata untuk mewakili Indonesia dalam kompetisi Kota Wisata Bersih tingkat ASEAN (ASEAN Clean Tourist City Award – ACTC) 2017.

Dalam kompetisi tersebut, destinasi wisata Banyuwangi akan bersaing dengan kota lain di Asia Tenggara untuk meraih penghargaan tertinggi bidang pariwisata di tingkat ASEAN tersebut.

“Ini kebanggaan sekaligus tugas berat bagi kami sebagai salah satu wakil Indonesia dalam kompetisi wisata bersih se-Asia Tenggara. Meskipun tergolong pemain baru di bidang pariwisata, kami terus berupaya membenahi destinasi wisata kami, terutama kebersihannya,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi.

Ia mengatakan Banyuwangi terpilih sebagai nominator kota wisata bersih karena sektor pariwisata di kabupaten berjuluk “The Sunrise of Java” itu terus bergeliat dengan mengusung konsep ekoturisme.

Banyuwangi berhasil mengembangkan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya, dan ekonomi masyarakat lokal.

Selain itu, lanjutnya, Banyuwangi lima kali berturut-turut meraih Adipura, lambang supremasi kebersihan kota di Indonesia karena pariwisata tidak dapat dipisahkan dari faktor kebersihan lingkungan.

“Kalau lingkungan kotor, mustahil wisatawan akan masuk, sehingga kami selalu mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan, termasuk di tempat-tempat wisata. Bahkan tiga tahun terakhir, kami terus menggelar festival toilet bersih sebagai bentuk kampanye kebersihan kami,” tuturnya.

Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pariwisata MY. Bramuda mengatakan sejumlah objek wisata Banyuwangi akan bersaing dengan ratusan objek wisata lain di Asia Tenggara, sehingga wisata bahari Bangsring Undewater di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo dan Grand New Watudodol (GWD), Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro yang dipilih untuk mengikuti kompetisi ACTC Award 2017.

“Dua objek itu kami pilih karena pengelolanya memiliki visi yang sama dalam masalah kebersihan. Contohnya wisata Bangsring, secara periodik mereka mengajak masyarakat di sekitar lokasinya untuk kerja bakti membersihkan sampah lewat pengeras suara, terutama saat pengunjung ramai. Ini juga sebagai edukasi ke pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan,” tuturnya.

Pengelola wisata Bangsring Underwater yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Samudra Bhakti pada tahun 2017 berhasil meraih penghargaan Kalpataru bidang penyelamat lingkungan karena kelompok nelayan itu dinilai sebagai pelopor dalam konvervasi laut, kemudian berhasil mengubah perilaku dan budaya tangkap ikan para nelayan.

“Saat ini, kawasan perairan Pantai Bangsring yang menjadi basis kelompok nelayan itu telah menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Banyuwangi,” katanya.

Ia mengatakan penilaian kota wisata bersih itu didasarkan pada tujuh indikator yakni pengelolaan lingkungan, kebersihan, pengelolaan limbah, dan pembangunan kesadaran mengenai perlindungan lingkungan dan kebersihan, kemudian tersedianya ruang hijau, keselamatan, kesehatan, dan keamanan perkotaan, serta infrastruktur dan fasilitas pariwisata.

“Lomba kota wisata bersih ASEAN tidak hanya fokus pada masalah sampah, namun juga masalah penunjang wisata lainnya di antaranya tata ruang kota yang rapi, pencegahan polusi, serta bebas dari gelandangan/pengemis,” ujarnya, menambahkan. (ist)

Ngripto Raras Tuban Juara Festival Pertura

foto
Penampilan tim seni Ngripto Raras di ajang Pertura 2017. Foto: Tubankab.go.id.

Tim seni Ngripto Raras Kabupaten Tuban meraih dua penghargaan terbaik dalam Festival seni Pertunjukan Rakyat (Pertura) pada Pekan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) ke-IX tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Kominfo Jatim di Taman Chandra Wilwatikta Pasuruan, akhir pekan lalu.

Tim seni Pertura Ngripto Raras Tuban mampu meraih kategori tim terbaik dan Sutradara terbaik yang dinilai oleh tiga tim juri dari praktisi dan pengamat seni drama, yaitu Dr Autar Abdillah Msi, Rohmat Djoko Prakoso dan Subiyantoro dalam penutupan Festival Partura Pekan KIM ke-IX .

Dari sembilan peserta Festival Pertura, Tim Ngripto Raras mampu memperoleh nilai tertinggi, 1043. Urutan kedua ditempati oleh tim pertura Chandra Kirana Kabupaten Nganjuk, terbaik ketiga diraih tim Omah Panji Kota Kediri dan tim terbaik keempat diraih oleh Bhakti Praja Kabupaten Jombang. Dan tim terbaik tersebut akan diberi kesempatan untuk tampil di Pekan Informasi Nasional.

Eko Kasmo, pimpinan Sanggar Teater Ngripto Raras mengatakan, anak asuhnya menampilkan drama teater yang berjudul ‘Indahnya Pelangi Pertiwiku’, berisi pesan moral tentang kemajuan zaman era digital. Meskipun demikian, menurutnya, kemajuan itu jangan sampai menggerus kearifan adat istiadat, budaya dan warisan leluhur yang senantiasa perlu dilestarikan serta dijaga.

“Era digital yang serba canggih perlu kita ambil sisi positifnya, jangan digunakan untuk memecah belah dengan peredaran berita hoax,” tutur seniman yang diundang ke Istana Merdeka oleh Presiden Joko Widodo pada malam perayaan HUT RI ke 72 Agustus lalu.

Untuk penghargaan kategori Aktor Pria terbaik diraih oleh Sujiman dari tim Seni Omah Panji Kota Kediri dan Kategori Aktor Wanita diberikan kepada Rusmini dari Tim Seni Bhakti Praja Kabupaten Jombang. Sementara penulis naskah terbaik diraih oleh Biso Warno dari tim Chandra Kirana Kabupaten Nganjuk.

Dr Autar Abdillah salah satu juri mengatakan pada festival Pertura tahun ini secara keseluruhan tim peserta rata-rata memberikan penampilan yang baik. “Yang dipilih sebagai pemenang kali ini bukan berarti yang lain berpenampilan jelek, namun kami harus memilih yang terbaik dari seluruh penampilan peserta yang baik tersebut,” ujarnya.

Sedangkan Djoko Rahmat Prakoso menilai hampir seluruh peserta memberikan pertunjukkan yang menarik. Namun seluruh peserta masih demam panggung.

Penutupan Festival Pertura kemarin malam berlangsung sangat meriah, dengan penampilan dua tim terakhir yaitu seni Pertura Kabupaten Situbondo yang menampilan seni drama berjudul ‘Sayembara Purbawati’ dan tim seni Omah Panji Kediri yang menampilkan seni Kentrung berjudul ‘Panji Asmorobangun Bareng Jantur’.

Selain itu penutupan semakin meriah tatkala penonton, peserta dan Mahasiswa dari seni Teater UNESA Surabaya berjoget bersama dengan iringan music ‘Padhang Howo’ dari Pasuruan. (ist)

Gerindra Incar Khofifah Maju Pilgub

foto

Di tengah suasana Pilgub Jatim 2018, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebut dirinya intens berkomunikasi dengan lima ketua umum Parpol, namun belum menyebut nama Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Spekulasi politik pun berkembang, kalau Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut-sebut belum menyetujui Khofifah maju sebagai Cagub Jatim bersama Gerindra, imbas dari perseteruan hebat Jokowi-Prabowo di Pilpres 2014. Bahkan berpotensi lebih keras lagi di Pilpres 2019.

Namun spekulasi itu dibantah Ketua DPD Partai Gerindra Jatim, Soepriyatno. “Jangan salah Pak Prabowo dan Pak Jokowi itu bersahabat. Berteman-lah gitu, jadi kita ini bersama-sama,” katanya usai Rakor Pemenangan Pilkada di Surabaya, Minggu (17/9), seperti dilaporkan BarometerJatim.com.

“Kalau tidak berteman ya dari dulu kita ini bermusuhan. Kita ini sama-sama membangun bangsa. Saat dipersepsikan apa-apa, Pak Prabowo kan tenang-tenang saja. Begitu Pak Jokowi terpilih (sebagai presiden) beliau datang dengan menghormati.”

Jadi Prabowo dan Gerindra akan benar-benar mengusung dan mendukung Khofifah yang notabene ‘orangnya Jokowi’ di Pilgub Jatim 2018?

“Jadi gini ya, jangan ada salah persepsi, misunderstanding. Orang sekarang mengatakan ini orangnya ini, ini orangnya itu. Kita lihat nanti lima tahun lagi berubah. Terpenting bagi Gerindra dalah kepentingan daerah, jangan anggap persepsi bahwa dia orangnya ini itu,” ujarnya.

Lantaran tak ikut-ikutan arus melihat kandidat tertentu orangnya ini itu, Gerindra tetap menempatkan Khofifah sebagai bidikan utama Gerindra. Terlebih dalam konteks Pilgub Jatim 2018, satu hal yang diutamakan Gerindra yakni kepentingan rakyat Jatim.

“Kira-kira (dari kandidat yang ada) lebih cocok mana, jangan kepentingan sempit-lah. Ini kadang kita terpojok kepentingan sempit, akhirnya digoreng kesana-kemari,” ujar Soepriyatno.

Minimal Posisi Wakil
Selain Pilgub Jatim, tambah Soepriyatno, dalam Pilkada serentak 2018 di Jatim Gerindra menargetkan lebih banyak lagi kemenangan dibanding Pilkada serentak sebelumnya.

“Dulu kan dari 17, kita menang kira-kira di 13 kabupaten/kota. Sekarang ini saya berharap lebih banyak lagi karena banyak kader partai yang maju. Misalnya di Bondowoso, Nganjuk, Bangkalan, Sampang dan banyak lagi lainnya,” katanya.

Karena itu, Gerindra memasang target minimal wakil bupati atau wakil wali kota. Kalaupun tak terwujud, Soepriyatno berharap Parpol lain yang menang masih ‘teman politik’ Gerindra. “Supaya kita tidak diganggu di Pileg dan Pilpres,” tandasnya.

Soepriyatno tak memungkiri kalau Pilkada serentak tahun depan berkaitan erat dengan Pileg dan Pilpres 2019. “Sebagai orang partai, saya nggak mungkin bilang ini tidak ada kepentingan dengan Pilpres,” katanya.

Di sisi lain, dia juga bersyukur karena hasil survei terbaru menunjukkan elektabilitas Gerindra sangat tinggi. “(Dalam survei) kita partai kedua, masih kalah dari PDIP tapi tipis sekali. Head to head dengan PDIP di seluruh daerah di Indonesia, tapi belum perlu sebut persentase,” ujar Soepriyatno.

“Kita berjuang dulu. Walaupun ujung-ujungnya nomor dua, tetap masih naik kelas karena sekarang kita di nomor tiga. Kita tetap berharap jadi pemenang tapi harus berjuang dan yang penting Gerindra menjadi harapan masyarakat,” tambahnya. (bar)

Presiden Jokowi: Rawat Aset Budaya Keraton

foto
Presiden Joko Widodo saat menutup Festival Keraton Nusantara ke XI di Gua Sunyaragi, Cirebon. Foto: Setkab.go.id.

Presiden Joko Widodo meminta para Sultan, para Raja, para Pangeran, dan Permaisuri serta pemangku adat keraton bersama-sama elemen bangsa yang lainnya untuk menggalang persatuan menjaga kerukunan menjadi perekat kebhinekaan Republik Indonesia yang kita cintai bersama-sama.

Permintaan ini disampaikan disampaikan Presiden Joko Widodo saat menutup Festival Keraton Nusantara ke XI di Gua Sunyaragi, Kota Cirebon, Jawa Barat, Senin (18/9) malam.

Presiden juga meminta agar para Sultan, para Raja, para Pangeran, dan Permaisuri serta pemangku adat keraton agar terlibat dalam pembangunan karakter bangsa, sehingga kita memiliki manusia manusia Indonesia yang berbudi luhur dan tangguh serta inovatif dan kreatif.

Presiden juga minta seluruh kekayaan budaya keraton dipelihara dengan baik. “Saya minta aset-aset budaya Keraton mulai dari naskah-naskah kuno, benda-benda pusaka, karya-karya arsitektur sampai dengan karya-karya seni dijaga dan dirawat dengan baik,” tegasnya.

Menurut Kepala Negara, banyak negara yang sektor pariwisatanya berkembang dengan pesat dengan mengangkat kekayaan tradisinya, mengangkat narasi atau cerita yang menarik tentang peninggalan sejarah, baik itu istana, benteng yang mengitari istana, seni istana maupun kuliner istana.

Sehingga banyak wisatawan yang tertarik dan berbondong-bondong untuk datang mengunjungi peninggalan sejarah tersebut. Sehingga memberikan kontribusi ekonomi bagi negara dan mensejahterakan masyarakatnya.

“Inilah yang harus kita kembangkan bersama-sama ke depan antara keraton-keraton bersama-sama dengan pemerintah sehingga aset-aset budaya Keraton Nusantara juga memberikan manfaat bagi kesejahteraan, bukan hanya bagi para Sultan dan Keraton saja tetapi juga bagi masyarakat di sekitar Keraton yang ada dari Sabang sampai Merauke,” tutur Jokowi.

Selain menutup Festival Keraton Nusantara, pada kesempatan tersebut Jokowi juga meluncurkan portal Keraton Nusantara milik Perpustakaan Nasional, dan meresmikan dan menandatangani prasasti Museum Pusaka Keraton Kasepuhan. (sak)

Pemkab Sidoarjo Serius Garap Kompleks Candi Pari

foto
Candi Pari di Porong Sidoarjo kerap dikunjungi wisatawan. Foto: istimewa.

Keinginan publik agar kompleks Candi Pari dipoles lebih ciamik bakal terwujud. Pemkab Sidoarjo betul-betul serius menjadikan candi di wilayah Kecamatan Porong itu sebagai salah satu ikon andalan Kota Delta. Tahun depan wajah baru Candi Pari sudah bisa dinikmati para wisatawan.

Untuk membuat kawasan Candi Pari makin eksotis, pemkab mengucurkan dana Rp 4,5 miliar. Perinciannya, Rp 523 juta untuk membangun gapura dan Rp 4 miliar untuk memperbaiki akses jalan ke kawasan tersebut.

Ada dua candi di kompleks Candi Pari. Yakni, Candi Pari dan Candi Sumur. Masih di kawasan itu, ada pula Candi Pamotan. Jaraknya 1 kilometer ke arah selatan dari Candi Pari.

“Nah, fasilitas dan akses menuju tiga candi tersebut yang akan kami benahi,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemkab Sidoarjo Sigit Setyawan seperti dikutip jawapos.com.

Menurut Sigit, gapura akan dibangun di halaman masuk Candi Pari dan Candi Sumur. Konsepnya mirip zaman kerajaan pada masanya. Adapun, untuk akses jalan, pemkab akan memperbaiki dan menambahkan saluran.

Kebijakan tersebut merupakan bentuk keseriusan pemkab untuk meningkatkan destinasi wisata budaya. Candi Pari merupakan suatu bangunan persegi empat dari batu bata, menghadap ke barat dengan ambang serta tutup gerbang dari batu andesit.

Dahulu, di atas gerbang ada batu dengan angka tahun 1293 Saka = 1371 Masehi. Merupakan peninggalan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk 1350-1389 M.

Menurut Laporan J Knebel dalam ‘Rapporten Van De Comissie In Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek Op Java en Madoera’ 1905-1906, Candi Pari dan Candi Sumur dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat/adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu. (jpg)

Cak Nur: Kembangkan Wisata Religi Pantura

foto
Cak Nur (Nurwiyatno), Cagub Jatim di kawasan Sunan Giri Gresik. Foto: Istimewa.

Dalam beberapa hari terakhir ini Cak Nur (Nurwiyatno), Calon Gubernur Jawa Timur 2018, mengunjungi wisata religi di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Timur. Wilayah Pantura merupakan wilayah yang menarik perhatian, lebih dari sekedar objek wisata religi.

Sebab di wilayah ini menyimpan banyak sejarah yang dapat dipelajari dari para wali sebagai penyebar agama Islam di Jawa Timur pada era abad 16. Juga potensi ekonomi yang masih bisa dikembangkan dalam rqngka peningkatan kesejahteraan perekonomian rakyat.

Hal inillah yang membuat Cak Nur mendatangi objek objek wisata religi seperti Sunan Ampel dan Sunan Bungkul (Surabaya), Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Makam Leran dan Bukit Surowiti (Gresik), serta Sunan Drajat (Lamongan) beberapa hari lalu.

Cak Nur melihat ada hal lebih yang bisa dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengembangkan potensi wilayah Pantura kedepan.

Selain terdapat masyarakat yang berhubungan erat dengan pewaris budaya religi, di kawasan sekitar objek wisata, pemerintah daerah masih dapat berperan lebih untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Beberapa program yang bisa dikerjakan, antara lain :

1.Pelatihan guide local, yakni sebuah pendidikan pemandu wisata bagi para pemuda-pemudi di sekitar wilayah pembahasan berupa kecakapan tata bahasa pendamping wisatawan, baik bahasa lokal daerah Jawa Timur, bahasa Indonesia maupun bahasa internasional. Sehingga pengelola bisnis traveling bisa bersinergi dengan pengelola guide local yang ada dalam satu atap.

2. Peningkatan home industry, berupa pelatihan terkait potensi lokal yang belum banyak dikembangkan oleh masyarakat sekitar, misalnya cetak sablon pakaian yang berisi kata-kata filosofi para tokoh religi.

3. Makanan khas lokal yang disajikan dalam model lebih menarik, dengan memberikan ruang keikutsertaan para chef (ahli masak) untuk membantu pelatihan penyajian makanan lokal dengan daya tarik model baru.

4. Pelatihan pembuatan miniatur bangunan cagar budaya yang ada dalam wisata religi tersebut. Misalnya berupa gapura makam, masjid atau keunikan lainnya dalam model mini handycraft.

5. Pelatihan pengembangan produk lokal yang ada, seperti kerajinan gerabah yang ada di wilayah Laren-Lamongan. Gerabah bisa diberi unsur seni sehingga masyarakat sekitar bisa diberi pelatihan pengembangan nilai-nilai seni untuk peningkatan nilai jual gerabah.

6. Serta peningkatan dan perluasan ruang informasi publik berkaitan dengan potensi wisata dan kekayaan budaya Pantura Jawa Timur. Peningkatan ruang informasi publik di tempat tempat istirahat dan parkir, juga dapat berfungsi sebagai peningkatan informasi sejarah beserta pengenalan produk lokal.

Cak Nur mengakui bahwa beberapa program diatas adalah hasil diskusi dirinya dengan beberapa teman alumni GMNI Jawa Timur, khususnya yang berlatar belakang pendidikan sejarah.

Namun demikian setiap hasil diskusi dengan tim pemenangannya, Cak Nur selalu mengujinya dengan turun lapang.

Tujuannya untuk lebih memahami realita dan potensinya, sehingga gagasan yang telah didiskusikan dengan tim pemenangannya dapat dirangkum dan dipertanggungjawabkannya sebagai visi misi Cak Nur kedepan. (oni)

Pesinden dari Hungaria, Penggendangnya Amerika

foto
Dalang Dimas Wijayasena memainkan lakon Dewaruci. Insert, sinden asal Hungaria Agnes Serfozo. Foto: Jawapos.com.

Wayang kerap diidentikkan hal kuno. Kesukaan orang tua. Ketinggalan zaman. Namun, pergelaran wayang di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya membuktikan hal sebaliknya. Wayang adalah sesuatu yang global. Sindennya dari Hungaria, sedangkan ada penggendang dari Amerika Serikat.

Acara wayang di parkir timur Untag itu seperti dilaporkan jawapos.com mengundang banyak penonton. Banyak hal unik dalam pertunjukan kesenian khas Jawa tersebut. Dimulai dari wayang cilik. Cilik di sini bukan hanya dalang dan pemainnya yang anak kecil. Melainkan juga ukuran wayangnya. Pertunjukan oleh anak-anak Sanggar Baladewa Surabaya itu mampu memukau penonton.

Mereka menikmati lakon Dewaruci yang dibawakan dalang Dimas Wijayasena dengan gayeng. Para penonton juga menyimak alunan cerita dari dalang berusia 10 tahun tersebut.

Bukan hanya orang dewasa dan kaum tua yang hadir. Rupanya, banyak pula anak kecil yang betah melekan demi nonton wayang. Salah satunya Tohjiwo Kukuh Utomo. Sambil memegangi wayang dari kertas, bocah empat tahun itu memperhatikan pertunjukan yang berlangsung. Sambil ditemani ibunya, Kukuh terlihat antusias.

Selesai dengan wayang cilik, saatnya ke pertunjukan utama. Yakni, penampilan Ki Purbo Asmoro dengan lakon Wahyu Cakraningrat. Dalang ternama dari Solo itu memang ditunggu-tunggu para penonton. Tak heran, suasana semakin ramai saat menginjak pukul 21.00. Sesaat sebelum pertunjukan Ki Purbo dimulai.

Cerita yang dikisahkan Ki Purbo adalah tentang pencarian Wahyu Cakraningrat. Yakni, roh dari Batara Cakraningrat. Keberadaan Cakraningrat dapat memberikan kekuasaan bagi siapa pun yang memilikinya. Karena itu, para kesatria berbondong-bondong mencarinya.

Namun, di sela-sela cerita, tak jarang Ki Purbo menyelipkan komentar dan celetukan tentang permasalahan saat ini. Terutama soal hebatnya kekuasaan. ”Yen berkuasa, nyolong, korupsi, ning penjara mek 3 bulan,” celetuknya, menyampaikan kritik sosial yang disambut sorakan para penonton.

Namun, yang paling menjadi perhatian adalah kehadiran sejumlah pemain asing. Yang pertama adalah sinden impor asal Hungaria bernama Agnes Serfozo. Wajah bulenya di antara empat sinden yang lain memang kentara.
Namun, ketika Aggy –sapaan akrab Agnes– berbicara, logat dan pelafalannya tak berbeda. Njawani. ”Sampun kerasan teng Jawi,” ucapnya dalam bahasa Jawa krama inggil.

Tidak hanya ada satu wajah bule dalam pertunjukan tersebut. Ada pula Kathryn Emerson. Wajahnya memang paling berbeda di antara pemain karawitan yang lain, maklum asalnya dari Amerika Serikat.

Aggy tidak punya darah keturunan seni. Dia menyatakan, ibunya adalah sarjana ekonomi. Sementara itu, ayahnya merupakan ahli bangunan pencakar langit. Namun, dia mengaku tertarik pada kesenian tersebut. Maklum, lanjut dia, kesenian itu tak ada di negara asalnya.

Lalu, ketika menyanyi, suara Aggy begitu merdu. Tak kalah oleh empat sinden lain. Lagu dengan lirik bahasa Jawa dinyanyikan Aggy, panggilan akrab Agnes Serfozo, dengan fasih. (jpg)

Warga Sidoarjo Temukan Mata Uang Kuno

foto
Warga Beciro Sidoarjo Epin Sujadi menunjukkan mata uang kuno temuannya. Foto: Metrotvnews.com.

Epin Sujadi kaget. Saat menggali tanah untuk fondasi rumah, pemuda 36 tahun itu mendapati setumpuk koin kuno. Jumlahnya ribuan keping. Kabar itu pun cepat menyebar. Sejumlah warga berkerumun di rumah Epin. Yakni, di Dusun Beciro, Desa Jumputrejo, Sukodono.

Mereka ingin melihat temuan tersebut. Diperkirakan uang tersebut berasal dari era dinasti Ming (1368-1644) dan dinasi Ching (1644-1911).

Logam itu berwarna kehijauan. Di bagian tengah terdapat lubang yang berbentuk kotak. Di dua sisinya terdapat motif layaknya tulisan Tionghoa. Kepingan logam itu bisa jadi mata uang kuno yang tertanam selama ratusan tahun. “Orang tua lama tinggal di sini. Belum ada yang pernah melihat koin itu,” ujarnya seperti dilaporkan jawapos.com.

Epin bercerita, penemuan benda kuno tersebut berawal ketika dirinya membuat fondasi rumah. Saat jarum jam menunjukkan pukul 11.00, cangkul yang dipakai untuk menggali tanah mendadak membentur benda keras di kedalaman sekitar 1 meter. “Prang! Logamnya menggumpal seperti bola,” katanya.

Bapak dua anak tersebut lantas lebih berhati-hati saat menggali tanah. Tidak lama, dia mendapat kepastian bahwa logam itu merupakan kumpulan mata uang koin kuno. Epin lantas mengabarkan temuan tersebut ke tetangga sekitar. “Informasinya cepat menyebar,” ungkapnya.

Warga yang tinggal tidak jauh dari rumahnya spontan tertarik untuk melihat. Koin yang ditemukan diperkirakan mencapai ribuan. “Belum dihitung semua. Tadi sempat menghitung ada 400 keping. Itu pun tidak ada setengahnya,” jelasnya.

Ternyata, temuan itu bukan yang pertama. Epin mengatakan pernah menemukan dua guci kuno sekitar delapan tahun lalu. Guci itu setinggi setengah meter. Warnanya juga hijau. “Waktu itu buat fondasi untuk dapur. Jaraknya dengan titik penemuan logam sekitar 25 meter,” ucapnya.

Tanpa tahu nilai guci tersebut, dia menjualnya dengan harga murah. “Saya kira guci biasa. Ada yang mau beli, ya saya jual saja. Waktu itu laku Rp 1,5 juta,” katanya.

Hingga kini, ratusan keping logam yang diduga logam China kuno tersebut berada dalam pengawasan Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Sidoarjo.

Uang logam tersebut diduga berusia ratusan tahun karena menyerupai uang logam kuno China yang sudah beredar saat masa dinasti Ming dan dinasti Ching. Hal ini terlihat dari bentuk, ukuran dan hurufnya yang sama persis. (jpg)

Kelir 120 Meter di Ngawi Pecahkan Rekor Muri

foto
115 dalang cilik memecahkan rekor saat tampil bersama pada pergelaran wayang di Ngawi. Foto: Satriyo JW/Jawapos.com.

Bumi Orek-Orek –julukan Kabupaten Ngawi– kembali mencatatkan namanya di Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri). Sebanyak 115 dalang wayang kulit bocah berduet dengan 30 sinden yang masih anak-anak tampil bersama di Alun-Alun Merdeka Ngawi.

Nampak ratusan dalang cilik duduk berjejer menghadap layar putih sepanjang seratusan meter. Mereka terdiri dari dalang laki-laki dan perempuan yang rata-rata masih duduk di bangku SD.

Sambil melihat layar, tangan para dalang ini memegang satu buah wayang kulit. Selain penampilan 115 dalang cilik ini, Pemerintah Kabupaten Ngawi menyajikan tontonan seni tari yang disaksikan ribuan penonton. Salah satu seni tari yang dimainkan adalah tari bulus.

Pemkab Ngawi berhasil mematenkan daerah tersebut sebagai pemrakarsa pergelaran wayang kulit (dalang bocah) dengan kelir terpanjang. “Panjangnya mencapai 120 meter,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Ngawi Yulianto Kusprasetyo.

Yulianto Kusprasetyo mengatakan, kegiatan itu untuk mensukseskan Ngawi Visit 2017. Selain itu kegiatan ini diharapkan dapat memberikan ruang kepada seniman remaja dan anak untuk mengembangkan kreativitasnya di bidang kesenian.

“Kami ingin tunjukkan Ngawi kreatif dan produktif serta mampu menampilkan pagelaran kolosal,” tutur Yulianto. Tak hanya dalang cilik, acara ini diramaikan Festival Dalang Remaja Nasional yang diikuti 12 kabupaten/kota.

Wakil Bupati Ngawi, Ony Anwar mengatakan, pagelaran ini memecahkan rekor Muri sebelumnya yang dipegang Pemkot Solo. Pemecahan rekor Muri ini juga kado ulang tahun Ngawi ke-659.

“Lewat acara ini kami mengukuhkan Ngawi kota pusaka dan budaya sebagai barometer di Jawa Timur. Dengan demikian bisa jadi contoh kabupaten lain,” jelas Ony.

Bagi Ony, menumbuhkembangkan pewayangan mengajarkan pendidikan karakter pada anak sejak dini. Pasalnya, anak akan belajar berbagai karakter tokoh-tokoh pewayangan.

Sementara itu Kepala SDN Kedungharjo II Mantingan Ngawi, Erwanto mengatakan, pagelaran dalang cilik akan membantu mengembangkan seni pewayangan agar tidak punah.

Tak hanya itu, pagelaran dan festival akan menumbuhkan minat anak terhadap pewayangan sejak dini. “Dua anak didik saya, Farel dan Roby ikut pagelaran ini meski baru empat bulan berlatih. Mereka sangat semangat berlatih karena menyenangi seni pewayangan,” tutupnya. (ist)

Serunya Tradisi Karapan Sapi Brujul Probolinggo

foto
Meski aturan dan aksesori tak beda jauh, tetap ada perbedaan karapan sapi Brujul. Foto: Dian K/Liputan6.com.

Kota Probolinggo Jawa Timur mempunyai tradisi dan budaya yang sangat unik, yakni karapan sapi Brujul. Tradisi lokal ini menjadi destinasi wisata budaya andalan Kota Probolinggo, karena perhelatannya selalu dibanjiri penonton.

Karapan sapi brujul adalah tradisi balapan sapi pembajak sawah para petani memasuki masa tanam. Karapan ini berbeda dengan karapan sapi merah di pulau Madura, karena menggunakan sapi pembajak sawah.

Perbedaan lainnya adalah arena balapan menggunakan tanah berlumpur. Sementara, peraturan dan aksesoris lainnya tidak beda dengan karapan sapi Madura.

“Seru karena arena yang dipergunakan dalam karapan sapi brujul menggunakan area persawahan yang berlumpur dan berair sebagai arena balapan. Sementara, karapan sapi Madura dilombakan di tanah lapang yang kering,” tutur Chintya Mahardika, penonton asal Surabaya kepada Detik.com.

Keunikan itu juga menjadi buruan sejumlah fotografer dari berbagai daerah. Mereka datang untuk memburu foto-foto unik, menarik dan eksotis dengan latar sawah berlumpur dan objek sapi pembajak sawah. “Bagi kami itu, memiliki nilai artistik yang sangat unik di dunia fotografi,” kata Mahdi, dari komunitas Prajurit Pecinta Photography (PPP).

Meski sapi-sapi ini hanya pembajak sawah, sapi-sapi itu akan diperlakukan berbeda sebelum karapan digelar. Mereka akan diberi makan ekstra hingga pemberian jamu khusus hewan agar memiliki tenaga optimal.

“Sapi yang mengikuti perlombaan ini dipastikan memiliki kualitas yang cukup baik. Sebelum ikut lomba dilatih dan diberi jamu-jamuan,” ucap Edi Jembrot, salah satu pemilik sapi kerapan brujul.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kota Probolinggo Agus Efendi menuturkan mulanya karapan sapi brujul hanya dilakukan para petani secara sederhana. Yakni, aaat sedang membajak sawah pada waktu memasuki masa tanam.

Namun saat ini, karapan sapi brujul justru banyak dikenal masyarakat, karena telah mengikuti berbagai festival pada event budaya. “Kami rutin menggelar festival karapan sapi brujul, seperti dalam perhelatan event Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo, red) tahun ini. Tujuannya untuk melestarikannya tradisi dan budaya petani ini,” tutur Agus. (dtc)

foto
Dinilai melanggar UU Cagar Budaya, kerangka manusia peninggalkan Majapahit dikembalikan ke tempat semula. Foto: Jejakkasus.info.