TV Brazil Lirik Kesenian dan Budaya di Sumenep

foto
Sejumlah wisatawan mancanegara saat mengunjungi Sumenep. Foto: Mediamadura.com.

Pemerintah Kabupaten Sumenep kian mendapatkan jalan mulus untuk terus mempromosikan wisata, kesenian dan kebudayaan tradisional ke mata dunia. Saat kedatangan wisatawan manca (wisman) beberapa waktu lalu, ternyata ikut serta kru TV Brazil. Mereka bergabung bersama wisman lainnya yang berasal dari negara seperti Australia, Philipina, Kanada dan Jerman.

Dengan adanya kru TV, otomatis Sumenep dapat lebih mudah mempromosikan segala macam potensi sehingga dapat dikenal luas di Brazil khususnya dan dunia umumnya. “Ya, mereka (kru TV Brazil) memang tertarik meliput kesenian dan kebudayaan tradisioal di Sumenep. Tentu, tidak akan kita sia-siakan untuk sambil lalu mempromosikan potensi wisata Sumenep,” ujar Kadisbudparpora Sumenep Sufiyanto seperti dikutip Mediamadura.com, Senin (4/9).

Pada kunjungan wisman kali ini, tercatat ada 29 wisman yang datang dengan kapal pesiar. Mereka diagendakan mengunjungi Pantai 9 di Kecamatan Gili Genting, Masjid Jamik, serta Kraton dan Museum Sumenep.

Karena dianggap tamu spesial, kedatangan mereka disambut dengan musik Ul-Daul dan tarian tradisional, para bule juga disuguhi makanan-minuman tradisional khas Sumenep, seperti Poka’ (air gula merah campur jahe), Apen, Ghetas dan Rengginang Lorjuk.

“Untuk kru TV, mereka memang lebih pada kesenian dan kebudayaan serta warisan budaya, seperti Kraton Sumenep ini. Tapi apapun itu, mereka akan kita manfaatkan sebagai jembatan untuk ‘menjual’ potensi Sumenep, agar semakin dikenal dan semakin banyak wisaman tertarik datang,” tandas Sofi. (sak)

Cak Nur ke Lereng Gunung Penanggungan, Ada Apa?

foto
Cak Nur melakukan diskusi dengan tokoh masyarakat dan budayawan setempat. Foto: Portaltiga.com.

Bakal Calon Gubernur (Bacagub) Jawa Timur Nurwiyatno lereng Gunung Penanggungan melakukan perjalanan ke lereng Gunung Penangggungan. Apa yang dilakukan pria yang akrab dipanggil Cak Nur itu?

Usai menghadiri sidang terbuka ujian doktor, Suko Widodo di Gedung A- FISIP Universitas Airlangga dan saresehan Jurnal Manifesto Trisakti, di Surabaya, Sabtu (9/9) lalu, Cak Nur mengunjungi Petirtaan Jolotundo di lereng Penanggungan.

Di kawasan hutan itu, Cak Nur melakukan diskusi dengan para tokoh masyarakat dan budayawan setempat berkaitan dengan pelestarian budaya Jawa Timur.

Cak Nur yang hanya didampingi oleh tim kecil pemenangannya, seperti dilaporkan Portaltiga.com, menemui beberapa tokoh budaya di sana dan mendiskusikan tentang pelestarian situs bersejarah yang berada di kawasan gunung Penanggungan.

Seperti diketahui bersama bahwa Gunung Penanggungan yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Pasuruan dan Mojokerto, ini merupakan kawasan yang menyimpan banyak peninggalan sejarah sejak era kerajaan Kahuripan hingga Majapahit.

Cak Nur, menerima masukan pemikiran masyarakat untuk menempatkan kawasan gunung Penanggungan sebagai wilayah konservasi sekaligus wisata edukasi yang meliputi sejarah, alam dan budaya Jatim.

“Hingga saat ini peran pemerintah saja tidak akan cukup dalam melestarikan budaya di Jatim tanpa peran serta masyarakat. Hal ini karena Jatim memiliki banyak peninggalan sejarah dan budaya yang mencerminkan kebesaran Jawa Timur pada masa lalu,” ujarnya.

Kepala Inspektorat Jatim ini juga menunjukkan beberapa besar potensi yang dimiliki Jatim ini, sehingga perlu keseriusan memanage pemerintahan dengan baik, benar serta melibatkan para cerdik cendikia untuk ikut merumuskan arah pembangunan ke depan.

Cak Nur merasa terkesan dengan kehadirannya di sana karena secara jelas dapat melihat dan mendengar keluhan masyarakat yang pada dasarnya berujung pada perlunya peningkatan kesejahteraan rakyat guna membawa Jatim menjadi lebih baik.

“Sulit bagi kita dapat melestarikan semua peninggalan sejarah dan budaya nenek moyang kita tanpa keterlibatan masyarakat dan peningkatan kesejahteraannya, karena rakyat tidak akan berpartisipasi dalam pembangunan jika perutnya masih dalam kondisi lapar,” jelasnya.

Karena itulah perlu konsep pembangunan Jatim yang berkelanjutan ini dengan meletakkan masyarakat sebagai ujung tombak pembangunan. Dengan demikian, pembangunan Jatim kedepan akan menjadi lebih kuat.

Salah satu konsep pembangunan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan peninggalan bersejarah gunung Penanggungan ini, menurut Cak Nur adalah dengan menempatkan kawasan Penanggungan ini sebagai kawasan cagar budaya dan wisata edukasi (alam dan budaya) Jatim dengan menempatkan masyarakat sebagai ujung tombak pembangunannya.

“Konsep pemberdayaan masyarakat ini sangat penting bagi kami karena dengan konsep ini, masyarakat akan mendapatkan kemanfaatan ekonomi secara langsung yang pada akhirnya masyarakat akan menjaga, melestarikan dan mengembangkan potensinya wilayahnya demi pelestarian budaya di Jatim,” paparnya. (ist)

Sesaji Bumi Proklamator di Candi Simping Blitar

foto

Dewan Kesenian Jawa Timur bersama Komunitas Seni Budaya Sulud Sukma, akan berkolaborasi menggelar sebuah kegiatan refleksi kebhinekaan dengan tajuk East Java Art Roadshow, pada hari Minggu, tanggal 17 September, pukul 19.00 s/d 22.00.

Acara tersebut akan digelar di Kompleks Candi Simping, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Candi Simping sendiri merupakan tempat abu jenazah Raden Wijaya, Proklamator Kerajaan Majapahit, disemayamkan.

Menurut Ketua Panitia kegiatan kegiatan ini, Rahmanto Adi, acara ini didedikasikan untuk mengenang proklamator Majapahit, Nararya Sanggramawijaya. Banyak orang tak tahu jika tempat perabuan Raja Pertama Majapahit tersebut ada di Candi Simping. “Padahal sangat jelas tertulis dalam Kitab Negarakertagama bahwa makam Raden Wijaya ada disitu,” ujarnya kepada Timurjawa.com.

Dalam kitab Negarakertagama, yang kini menjadi salah satu warisan budaya yang telah ditetapkan oleh UNESCO dalam Memori Dunia, disebutkan bahwa makam Raden Wijaya ada disitu. Berikut adalah petikan dari Kitab Negarakertagama Pupuh XLVII bagian ketiga :

… tahun Saka Surya mengitari bulan (1231 Saka atau 1309 M), Sang Prabu (Raden Wijaya) mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama makam dia, dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa…

Jadi sangatlah jelas jika makam atau tempat perabuan Raden Wijaya ada di Candi Simping.

Masih menurut Rahmanto Adi, acara ini adalah respon untuk mengenang produk Budaya Proklamator Majapahit yang ada di Blitar.

“Tanpa beliau tak akan ada konsep Nusantara, tanpa beliau tak akan ada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Karenanya Pasca kegitan ini kita akan menggelar diskusi budaya rutin di Candi Simping, dengan harapan kita dapat memperkuat basis kebhinekaan yang akhir-akhir ini sering mendapat ujian,” paparnya.

Hadirnya Dewan Kesenian Jawa Timur dalam menyelenggarakan acara ini merupakan bentuk dari program East Java Art Roadshow yang memang difungsikan untuk berkolaborasi dengan komunitas kesenian di 38 kota/kabupaten di Jawa Timur. Sebelum di Blitar, Dewan Kesenian Jawa Timur telah menggelar kegiatan di Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Lumajang.

Nantinya acara ini akan didukung oleh beberapa elemen seperti, Pemerintah Kabupaten Blitar, Graha Bangunan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Pratama, Kebun Kopi Karanganyar dan masih banyak lagi pendukung acara yang lain.

Menurut Rangga Bisma Aditya, pendukung kegiatan ini, sekaligus Ketua PKBM Tunas Pratama, acara seperti ini merupakan acara penting untuk diselenggarakan. “Selain untuk memperkuat basis sejarah dan kebudayaan bangsa, kegiatan seperti ini dapat menjadi wahana edukasi tersendiri bagi masyarakat akan pentingnya Bhineka Tunggal Ika,” ujarnya.

Adapun acara ini akan menghadirkan pertunjukan musik jimbe khas Blitar, kolaborasi tembang macapat oleh Budayawan Blitar dan para pelajar SD-SMP Kota dan Kabupaten Blitar, Tari Ritual Ngabekti, Doa Budaya, Orasi Budaya Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur Taufik Monyong dan ditutup dengan Penandatanganan Deklarasi Simping oleh Bupati Blitar. (ist)

Kerangka Peninggalan Majapahit Kembali ke Sumur Upas

foto
Dinilai melanggar UU Cagar Budaya, kerangka peninggalkan Majapahit dikembalikan. Foto: Jejakkasus.info.

Lima kerangka manusia yang sudah lama ditemukan dan disimpan dalam lima peti di areal situs Sumur Upas akhirnya dikembalikan kembali ke tempat semula. Kelimanya sempat dipindahkan dari situs Sumur Upas di Desa Sentonorejo, ke bangunan Candi Brahu di Desa Bejijong. Keduanya berjarak sekitar 3 kilometer dan masih berada di Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Seperti dilaporkan Tempo.co, pemindahan lima peti berisi kerangka manusia dari Candi Brahu ke tempat asal ditemukan di Sumur Upas itu menggunakan truk. Untuk menjaga kelancaran dan keamanan, aparat kepolisian dan TNI dilibatkan untuk mengawal.

Sebelumnya, pemindahan lima peti tersebut dari situs Sumur Upas ke Candi Brahu diprotes warga dan komunitas pemerhati cagar budaya “Save Trowulan”. Pemindahan yang diduga melanggar aturan perundang-undangan itu dilakukan sekelompok orang dan pejabat pemerintahan serta pemuka agama dari Bali dan Mojokerto pada 5 Mei 2017 lalu.

Foto-foto prosesi dan ritual “Entas-Entas” itu tersebar di media sosial Facebook milik salah satu pemerhati cagar budaya. Prosesi tersebut dihadiri Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP), Bupati Bangli I Made Gianyar, dan salah satu pejabat Kementerian Keuangan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto dan penyelenggara ritual yang melibatkan pemuka agama dan pejabat dari Bali dan Mojokerto itu sudah mengirim surat pemberitahuan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) sebagai pengelola kawasan cagar budaya di Jawa Timur. Namun pihak BPCB tidak tahu jika dalam upacara tersebut ada pemindahan lima peti berisi kerangka manusia yang merupakan aset cagar budaya.

Setelah diprotes warga dan dilakukan musyawarah di balai desa dengan melibatkan pihak BPCB Trowulan, aparat kepolisian, dan TNI, akhirnya kelima peti tersebut dikembalikan ke tempat semula ditemukan yakni di situs Sumur Upas.

Ketua komunitas pemerhati cagar budaya “Save Trowulan” Eko Prasetyo mengatakan pemindahan kembali lima peti berisi kerangka manusia dari Candi Brahu ke situs Sumur Upas itu untuk mengembalikan aset cagar budaya di tempat asal ditemukan.

Menurutnya, pemindahan kelima peti tersebut oleh oknum pejabat dan pemuka agama dari Bali dan Mojokerto itu melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Sebab yang berhak memindah aset cagar budaya hanya lembaga negara atau pemerintah yang diberi wewenang seperti BPCB.

Ia menyayangkan pemindahan aset cagar budaya oleh sejumlah oknum pejabat dan pemuka agama tersebut yang didasarkan atas bisikan gaib. Belum ada penelitian yang memastikan siapa sosok di balik lima kerangka manusia yang ditemukan dan disimpan di situs Sumur Upas.

Kelima kerangka manusia itu ditemukan saat penggalian oleh arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1985. Belum bisa dipastikan apakah kelima kerangka manusia itu hidup di zaman Kerajaan Majapahit atau setelah Majapahit runtuh. (tmp)

Demi Mendapat Emas, Prasasti Kuno Dirusak

foto
Prasasti Kusambyan terletak di jalan setapak. Foto: Komunitas Tapak Jejak Kerajaan.

Bagian atas sebuah prasasti batu tampak tidak utuh lagi. Pecah berkeping-keping. Namun pecahan-pecahan besarnya masih bisa dikumpulkan. Hanya bagian-bagian kecil, mungkin sudah hilang. Saat ini pecahan-pecahan tersebut diletakkan di atas bagian yang masih utuh.

Begitulah kondisi sebuah prasasti batu yang terletak di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Jombang. Prasasti Kusambyan, demikian namanya, sempat dikunjungi oleh Komunitas Tapak Jejak Kerajaan dari Sidoarjo. Komunitas ini memang rajin blusukan, termasuk menyelenggarakan Sinau Aksara Jawa Kuno.

Bagian atas prasasti pecah menjadi sembilan bagian karena ulah seseorang. Konon ia mendapat wangsit bahwa di dalam batu prasasti terdapat emas. Untuk mendapatkan emas, maka ia memecahkan prasasti tersebut sedikit demi sedikit. Rupanya yang bersangkutan tidak memakai nalar. Akibatnya peninggalan kuno tersebut rusak parah hingga sekarang. Demi mendapatkan emas, prasasti kuno dirusak.

Mengapa prasasti itu bisa dirusak? Mungkin karena terletak di alam terbuka. Sejak penemuan pertamanya, prasasti ini berada di kebun Bapak Wadiso. Dalam istilah arkeologi, prasasti ini insitu, atau di tempat aslinya. Saat dikunjungi tim komunitas, tampak kondisi prasasti mengkhawatirkan. Karena terletak di alam terbuka, prasasti ini selalu berganti-ganti menerima terpaan panas dan hujan, bahkan angin. Beberapa bagian prasasti tampak sudah berlumut.

Prasasti Kusambyan terpahatkan pada batu andesit. Pada bagian bawah terdapat sebuah lapik berpadma ganda. Prasasti ini beraksara dan berbahasa Kawi atau Jawa Kuno. Aksara-aksara kuno itu terdapat pada keempat sisinya.

Prasasti Kusambyan disebut juga Prasasti Grogol. Menurut Ninie Susanti dalam bukunya Airlangga, Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI (2010), prasasti ini dikeluarkan pada 959 Saka atau 1037 Masehi, berasal dari masa Raja Airlangga.

Soal mengapa diberi nama Kusambyan, ada beberapa patokan dalam arkeologi. Di antaranya berdasarkan nama tempat yang disebutkan dalam prasasti atau nama tempat penemuan prasasti tersebut. Pada prasasti ini disebutkan wilayah bernama Kusambyan (karaman i Kusambyan) yang dijadikan sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja. Jadilah nama Kusambyan.

Yang menarik dari isi prasasti ini adalah disebutkannya nama tokoh Rahyang Iwak. Nama tokoh ini disebutkan berulang-ulang pada bagian depan prasasti. Tampaknya Rahyang Iwak merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di Kusambyan.

Menurut penelitian Ninie Susanti, Raja Airlangga banyak mengeluarkan prasasti batu. Mungkin hal itu dimaksudkan untuk menegaskan daerah kekuasaan. Prasasti Raja Airlangga tersebar di beberapa tempat. Diperkirakan Desa Kesamben, berasal dari toponimi Kusambyan, merupakan rute perjalanan Raja Airlangga.

Saat ini kemungkinan besar masih banyak prasasti kuno belum ditemukan. Bisa jadi terpendam di dalam tanah atau tertutup hutan belukar. Sebagian, karena ketidaktahuan masyarakat, malah ada yang sudah dihancurkan. Dalam arkeologi prasasti merupakan sumber sejarah kuno bertanggal mutlak. Dengan demikian bisa untuk menanggali temuan-temuan arkeologis lain.

Semoga untuk masa sekarang dan masa kemudian, masyarakat tidak merasa aneh lagi dengan temuan batu-batu besar yang unik. Mungkin itu prasasti atau bahasa awamnya batu tertulis. Nah, laporkanlah pada instansi terdekat, seperti kantor kepolisian, kantor kepala desa, kantor dinas kebudayaan, atau kantor purbakala/arkeologi terdekat. Ini untuk memperkaya penulisan sejarah kejayaan Nusantara. (ist/Djulianto Susantio)

Dukung Penetapan Situs di Kawasan Hutan Bojonegoro

foto
Rembesan minyak di Drenges, Sugihwaras, Bojonegoro yang masuk situs cagar alam geologi. Foto: Slamet AS/Antarajatim.com.

Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, mendukung penetapan tujuh lokasi kawasan hutan di Kabupaten Bojonegoro sebagai situs cagar alam geologi dan “petroleum geopark” karena memiliki kaitan dengan sejarah purba.

Kepala Sub Suksi Perencanaan Hutan Wilayah Perum Perhutani II Jawa Timur, Yaksim kepada Antarajatim.com di Bojonegoro mengatakan Perhutani tidak akan menolak kawasan hutan jati ditetapkan sebagai situs karena justru penetapan itu sesuai dengan program pelestarian hutan.

Bahkan, katanya, Perhutani akan aktif mengamankan kawasan hutan yang ditetapkan sebagai situs tidak hanya oleh lembaga resmi, tetapi juga masyarakat.

Ia mencontohkan, di kawasan hutan jati di Tuban, masyarakat meyakini ada batu yang terdapat bekas tapak kuda milik Ronggolawe. Masyarakat meyakini lokasi itu sebagai tempat berhentinya Rongolawe dengan kudanya, sehingga Perhutani langsung memberi pengaman di lokasi tersebut.

“Situs yang ada di kawasan hutan jati banyak jumlahnya, mulai pemakaman (punden), mata air, juga yang lainnya, termasuk Kahyangan Api,” katanya didampingi Ajun Bisnis KPH Bojonegoro Akhmad Yani.

Oleh karena itu, lanjut dia, sekitar 25 pohon jati di lokasi objek api abadi di Kahyangan Api di Desa Sendanghardjo, Kecamatan Ngasem, tidak ditebang. Padahal, nilai ekonomis kayu jati di lokasi setempat yang masuk situs dengan luas 3,4 hektare bisa mencapai ratusan juta per pohonnya.

Ia menyebutkan luas hutan di KPH Bojonegoro mencapai 50.144 hektare, di antaranya hutan lindung 1,051 hektare dan kawasan perlindungan sekitar 6.000 hektare.

Dari hasil pendataan yang dilakukan situs yang masuk cagar alam geologi dan geopark petroleum di kawasan hutan jati KPH Bojonegoro selain Kahyangan Api adalah situs gigi hiu purba di Desa Jono, Kecamatan Temayang, seluas 1,24 hektare.

Selain itu, Kedung Latung di Desa Ndrenges, Kecamatan Sugihwaras, Kedungmaor di Desa Sugihan, Kecamatan Temayang, Gunung Watu, Watu Gandul, Banyu Kuning, semuanya di Kecamatan Gondang

Sebelumnya, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNV) Yogyakarta mengusulkan 19 geosite masuk cagar alam geologi dan geopark petroleum kepada Badan Geologi Nasional. Selain di KPH Bojonegoro, lokasi geosite lainnya di KPH Cepu, Jawa Tengah dan KPH Parengan, Tuban .

Administratur KPH Bojonegoro Daniel Cahyono menyatakan akan segera mengamankan dengan memberikan tanda lokasi di kawasan hutan jati di wilayahnya masuk situs cagar alam geologi dan geopark petroleum. “Kami akan segera memberi tanda kawasan yang masuk situs,” ucapnya. (ant)

International Gamelan Festival di Inggris

foto
Pengajaran gamelan di Universitas Kingston Inggris. Foto: BBC.com.

Indonesia menggelar “International Gamelan Festival (IGF)” di dua kota di Inggris Raya, yaitu London dan di Glasgow Skotlandia, dengan acara puncak penampilan Setan Jawa film bisu karya Garin Nugroho yang diiringi dengan orkestra gamelan di bawah komposer Prof Rahayu Supanggah berlangsung dari 5- 15 September 2017.

International Gamelan Festival 2017 meliputi kegiatan seminar, workshop, kolaborasi, pemberian penghargaan, pertunjukan Setan Jawa karya Garin Nugroho. Penghargaan khusus oleh Kemdikbud atas nama Bangsa Indonesia, kepada tiga pelopor gamelan Inggris yaitu Alec Roth, Neill Sorrell dan Anne Hunt.

Seperti dilaporkan Lombokita.com, Kasubdit diplomasi budaya luar negeri direktorat warisan dan diplomasi budaya Kemdikbud, Ahmad Mahendra menyebutkan IGF bertujuan untuk melihat eksistensi gamelan dunia, sebagai bagian dari strategi diplomasi budaya Indonesia, dan dalam rangka pemetaan “membawa pulang kembali gamelan” ke Indonesia khususnya gamelan di Inggris.

Dikatakannya, rangkaian kegiatan utama IGF 2017 adalah Workshop tentang bonang, rebab, gender, suling dan lain-lain, dengan narasumber pakar gamelan Prof Rahayu Supanggah, dan Prof Sumarsam, yang diadakan SOAS University of London juga ditampilkan pelatihan tentang Klenengan Provinsi Jawa Tengah, Banyuwangi dan Provinsi Jawa Timur.

Selain itu juga diadakan pementasan dadakan, kelompok gamelan dari Inggris Siswa Sukra pimpinan Peter Smith dan Kelompok Gamelan South Bank pimpinan John Pawson tampil utuh secara grup.

Acara workshop dilanjutkan dengan penampilan Masterclass oleh Prof Rahayu Supanggah serta Workshop gamelan Bali, film, gamelan aliran Isin, dan lain-lain. Serta tabuhan gamelan gaya Bali oleh Lila-Bhawa Lila Chita pimpinan Andy Channing, dan Kelompok Jagat Gamelan pimpinan Manuel Jiminez.

Dikatakannya pembukaan IGF 2017 secara baru akan dilakukan pada Minggu 10 September bertempat di Cadogan Hall London dengan pemberian penghargaan Dirjen Kebudayaan mewakili Kemdikbud kepada tiga pelopor gamelan Inggris: Alec Roth, Neill Sorrell, dan Anne Hunt.

Pada saat yang sama diadakan Pre-Launching IFG 2018 dan pendeklarasian ini penting sebagai sebuah momentum home-coming gamelan ke Indonesia. Semua rangkaian kegiatan ini adalah merupakan persiapan menuju IGF 2018, ujar Ahmad Mahendra Pementasan Setan Jawa Setan Jawa adalah sebuah film bisu karya Garin Nugroho yang diiringi dengan sebuah orkestra gamelan di bawah komposer Prof Rahayu Supanggah. (ist)

Promosikan Tarian Dhangga Pamekasan di Layar Lebar

foto
Dhangga dari kata ‘atangdheng ma ghagha’ atau menari dengan gagah. Foto: Matamaduranews.com.

Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Pamekasan, Jawa Timur mempromosikan kesenian tradisional khas di wilayah itu yakni tari “dhangga”, melalui film layar lebar berjudul ‘Perempuan Berselimut Angin’.

“Kami sengaja mengangkat seni tradisional asli Pamekasan sebagai instrumen musik dan latar di film layar lebar yang kami garap, karena tari dhangga karena merupakan seni budaya khas Pamekasan,” kata Ketua Parfi Pamekasan Yoyok R Efendi kepada Antaranews.com di Pamekasan.

Nama dhangga berasal dari kata ‘atangdheng ma ghagha’ atau menari dengan gagah dan jenis tarian ini hanya ada di Desa Pademawu, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Musik tari dhangga bukan gamelan, ataupun sejenis musik tabuhan lainnya, melainkan dari mulut.

Tarian ini belum diketahui pencetusnya dan kapan dicetuskan, namun yang jelas berasal dari Malangan, Pademawu Timur, Pamekasan. Tarian tersebut tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Pademawu yang secara geografis terletak di pesisir pantai yang mayoritas mata pencahariannya sebagai pelaut.

Begitu juga dengan tari dhangga yang menggambarkan kehidupan pelaut mulai dari proses persiapan melaut, meliputi mendorong pelahu ke laut, mendayung sekaligus mengendalikan ke tempat tujuan dan akhirnya kembali ke tepi pantai.

Sedangkan jumlah personel yang dibutuhkan adalah sembilan atau sepuluh penari. Ditambah properti perahu mainan dan delapan buah dayung yang dipegang oleh masing masing penarinya, dengan posisi satu orang di depan sebagai pemimpin, empat orang di kanan perahu dan empat orang di kiri perahu.

Menurut Yoyok R Efendi, selain musik tradisional dhangga jenis kesenian tradisional lainnya yang juga akan diperkenal di film layar lebar berjuluk ‘Perempuan Berselimut Angin’ itu adalah sejumlah objek wisata di Kabupaten Pamekasan yang menjadi ciri khas atau potensi lokal Pamekasan.

“Ada pantai Jumiang, objek wisata Api Tak Kunjung Padam, serta sejumlah objek wisata lainnya yang ada di Pamekasan dan menjadi pusat ekonomi rakyat Pamekasan,” ujar Yoyok.

Khusus untuk pasir batik, menurut Yoyok, yang akan menjadi bidikan Parfi pada film ‘Perempuan Berselimut Angin’ itu adalah “Pasar Batik 17 Agustus di Kalurahan Bugih” Pamekasan.

Film ‘Perempuan Berslimut Angin’ yang dianggarkan menelan dana Rp 3 miliar ini, mengangkat kisah kemandirian perempuan Madura yang ditinggal suaminya merantau ke Malaysia. Film dengan sutradara tim Kreatif Parfi Pamekasan mulai melakukan pengambilan di Pamekasan pada pertengahan September 2017.

Menurut Yoyok, film ini murni dari dana swasta dan tidak ada sumbangan dari Pemkab Pamekasan, kendatipun misi film untuk membantu mempromosikan potensi wisata dan budaya Pamekasan untuk kemajuan ekonomi masyarakat. “Teman-teman berkomitmen, pengabdian kami untuk Pamekasan melalui pembuatan film layar lebar ini,” jelasnya. (ant)

Ojung, Tradisi Sabet Rotan Meminta Hujan

foto
Pertarungan Sabet Rotan, Ojung, tradisi warga Tongas, Probolinggo meminta hujan. Foto: M Rofiq/Detik.com.

Musim kemarau yang melanda Kabupaten Probolinggo, khususnya Desa Curahtulis, Tongas, membuat warga sekitar menggelar tradisi tarung ojung. Tradisi tarung ojung kerap dilakukan warga untuk meminta hujan turun.

Tradisi tarung ojung ini digelar di lapangan setempat. Ojung sendiri merupakan pertarungan 2 orang dengan menggunakan 2 batang rotan. Mereka bertarung saling sabet dengan rotan tersebut. Namun kedua petarung tidak terluka, jika terkena sabet, peserta hanya mengalami luka memar saja.

Dalam pertarungan tarung ojung, peserta dituntut beradu keterampilan dan keberanian menyabetkan rotan ke pihak lawan secara bergantian. Peraturan tarung ojung cukup sederhana, yaitu peserta diharuskan membuka baju, dan secara bergantian menyabetkan rotan ke pihak lawan.

Perhitungan sabetan rotan dinilai jika rotan yang disabetkan mengenai punggung lawan, sedangkan jika sabetan berhasil ditangkis, maka sabetan tak dihitung. Jika sabetan rotan peserta telah 3 kali mengenai punggung lawan, maka dialah yang menjadi pemenang.

Saat pertarungan dimulai, iringan suara gendang ketipung membuat gelaran tarung ojung semakin khas mengentalkan budaya adat Jawa Timuran. Sejumlah peserta yang dipertandingan awal menjadi pemenang, akan diadu kembali, sebagai penentu calon juara.

Pertarungan tarung ojung kali ini diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai Dusun di Kecamatan Tongas. Sugianto, salah satu peserta ojung mengatakan, sebelum mengikuti ojung ini ia tak memiliki persiapan khusus, dan ia mengikuti ojung ini hanya untuk meramaikan tradisi tarung ojung untuk meminta hujan, karena di Kabupaten Probolinggo, mengalami kekeringan.

“Kalau saya sebagai peserta hanya mengikuti keinginan warga. Dan ini sebuah tradisi warga Probolinggo untuk meminta turunnya hujan, dengan rida dari Allah SWT,” terang Sugianto kepada Detik.com, usai bertarung ojung, Senin (4/9).

Sementara Buradianto, ketua panitia mengatakan hal yang sama, bahwa tradisi ojung ini dimaksudkan untuk meminta hujan dan biasanya setelah tradisi ini dilaksanakan, hujan bakalan turun. Tradisi ini sudah dilakukan oleh nenek moyang hingga saat ini.

“Pertarungan ini dikemas dalam sebuah perlombaan, agar warga semakin semangat untuk menghidupkan tradisi ini. semoga Allah SWT juga mengabulkan permintaan kami,” tambahnya. (dtc)

Koleksi Museum Unair dari Dinasti Tiongkok

foto
DARI kanan Mohammad Faisal Hasan Mujaddin, Ikhsan Rosyid, dan Edy Budi Santoso di Museum Sejarah dan Budaya Unair. Foto: Helmy/PIH Unair.

Koleksi Museum Sejarah dan Budaya Universitas Airlangga bertambah. Museum ini mendapatkan sumbangan barang-barang antik sejak peradaban Cina Dinasti Ming, Jing, Sung, maupun Tang. Jumlah ini menambah barang-barang museum yang sebelumya hanya terbatas koleksi-koleksi dari dalam negeri.

Keluarga Aminuddin yang merupakan profesor peneliti dari Museum Nasional RI memberikan sumbangan barang-barang antik itu. Sang anak, Mohammad Faisal Hasan Mujaddin MA, menyerahkan secara simbolis barang-barang pada Senin, (28/8) di Museum Sejarah dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Unair.

Kepada Unair News, Faisal mengatakan bahwa koleksi itu berasal dari ribuan tahun yang lalu. “Jumlahnya ada 12, meliputi barang dari berbagai macam dinasti, Ming, Jing, Sung, maupun Tang. Semuanya sangat berharga dan masuk katalog cagar budaya,” ucap koordinator Museum Sejarah dan Budaya Unair Edy Budi Santoso SS MA.

Penambahan koleksi ini dikatakan Edy dapat menambah wawasan kepada mahasiswa maupun generasi muda lainnya. Pun memberi wawasan bahwa kini, warisan budaya bukan saja memiliki nilai historis yang tinggi namun juga memiliki nilai nominal yang tidak sedikit.

Benda-benda antik itu memiliki sejarah kepemilikan yang cukup tinggi. Oleh karenanya, jika dinominalkan setara dengan 750 ribu dolar Singapura. Benda-benda itu bisa saja dijual dengan harga murah. Namun karena memiliki keunikan sejarah yang tinggi, kolektor berlomba-lomba memilikinya.

“Barang-barang ini bisa saja murah. Bisa saja dijual hanya satu juta, tergantung keunikan dan sejarah kepemilikan barangnya,” ujar Faisal yang merupakan alumnus program Master of Art, Lasalle College of The Art, Singapore.

Mengapa kita bisa membeli barang-barang antik dengan harga murah sedangkan di luar negeri bisa dijual dengan harga mahal sekali? Itu karena keunikan dan histori yang memiliki peran sangat penting. Faktor historis itu meliputi kepemilikan serta bagaimana benda tersebut bisa ditemukan.

Di luar negeri, seperti di Amerika dan Hongkong misalnya, ada alat pendeteksi tanah yang dapat digunakan dalam memprakirakan umur semuah barang. Alat itu berfungsi untuk mendeteksi umur tanah. Selanjutnya, dari prakiraan umur yang didapat, dapat dilakukan riset mendalam mengenai sebuah benda bersejarah.

Sayangnya, Indonesia belum memiliki peralatan ini. Sehingga ada juga praktik pemalsuan barang antik yang tiruannya banyak beredar di pasaran. (sak)